BAB I Pendahuluan
1.1 Pengertian Dan Macam-Macam Abortus (Keguguran) Serta Penyebabnya
Saat ini Aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari tingginya angka aborsi yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta. Angka yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Selain itu, ada yang mengkategorikan aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.
Sering sekali wanita hamil mengalami abortus atau keguguran. Tapi banyak orang yang belum mengetahui apa itu pengertian abortus/keguguran, macam-macam abortus/keguguran dan penyebab abortus/keguguran.
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar rahim (< 500 gram atau < 20-22 minggu) sedangkan seorang embrio mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. Berakhirnya suatu kehamilan ( oleh akibat – akibat tertentu ) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan / kehamilan yang tidak dikehendaki atau
diinginkan. Aborsi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aborsi spontan dan aborsi buatan. Aborsi spontan adalah aborsi yang terjadi secara alami tanpa adanya upaya - upaya dari luar ( buatan ) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Sedangkan aborsi buatan adalah aborsi yang terjadi akibat adanya upaya - upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan.
kandungan, dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat anak kurang dari 500 gram.
Abortus pun dibagi bagi lagi menjadi beberapa bagian, antara lain : 1. Abortus Komplet
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
2. Abortus Inkomplet
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal.
3. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah mendatar, sedangkan hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim. 4. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam, sedangkan jalan lahir masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim.
5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.
Kita tidak harus bisa membedakan jenis jenis abortus diatas. Tentu saja harus dilakukan pemeriksaan intensif agar bisa membedakan jenis abortus diatas karena penangannnya pun berbeda beda. Ada yang memerlukan obat obatan, istirahat atau malah kuretase. Untuk memeriksa pasien dengan abortus, dokter biasanya menggunakan bantuan alat Dopler untuk mendeteksi denyut jantung janin dan atau USG untuk menentukan secara langsung keadaan janin apakah masih hidup atau sudah meninggal.
Klasifikasi abortus Klasifikasi :
“keluarnya hasil konsepsi tanpa adanya intervensi medis maupun mekanis” 2. Abortus buatan (Abortus Provocatus : disengaja, digugurkan) :
a. Menurut kaidah Ilmu (abortus provocatus artificalis atau abortus theurapeuticus) : Indikasi abortus untuk kepentingan ibu. Misalnya : penyakit jantung, hipertensi esensial, dan karsinoma serviks.
b. Criminal (abortus provocatus criminalis) : Pengguguran tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum
Berdasarkan gambaran Klinisnya :
- Kram perut bagian bawah perbolehkan aktivitas berlebih (jika masih perdarahan)
- Bila hasil USG : meragukan ulangi USG 1-2 minggu. - Rujuk ke fasilitas yang ada PONEKnya.
Abortus insipiens
Keguguran membakat ini tidak dapat diberhentikan, karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi.
• Dasar diagnosis
- Buah kehamilan masih dalam rahim, belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi - Ketuban utuh
c. Penanganan - < 16 mgg : Evakuasi dgn AVM
Jika evakuasi tdk dpt dilakukan:
o ergometrin 0,2 mg IM dpt ulang tiap 15’atau misoprostol 400 mcg/oral (dpt diulang stlh 4 jam k/p)
o segera lakukan persiapan pengeluaran hasil konsepsi dari uterus - >16 mgg :
Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi kemudian evakuasi sisa hasil konsepsi Memberikan cairan infus 20 U oksitosin dlm 500 mg (fisiologis atau RL) dengan
kecepatan 40 tts/mnt
- Tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan - Antibiotika (ampicillin atau derivatnya 3 x 500 mg) - Uterotonika (metil ergometrin 3 x 0,125 mg)
Abortus Incomplite
Sebagian hasil konsepsi telah lahir dan sebagian lagi (biasanya plasenta) masih tertinggal didalam rahim.
• Gejala dan tanda :
Perdarahan dari jalan lahir, biasanya banyak Demam
Nyeri diatas simpisis atau di perut bawah Adanya kontraksi abdomen
Bila perdarahan
1.2 etika dan abortus
Etik adalah termilogi dengan berbagai makna.Etik berhubungan dengan bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana mereka melakukan hubungandengan orang lain.Etik tidak hanya menggambarkan sesuatu,tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan norma atau standar kehidupan seseorang dan yang seharusnya dilakukan.Etik dititikberatkan pada pertanyaan atas apa yang baik dn buruk,karakter,motif,atau tindakan yang benar dan salah.
Dunia tidak hanya telah diporak - porandakan oleh peperangan politis, keberingasan kriminal ataupun ketergantungan akan obat bius, tetapi juga datang dari jutaan ibu yang mengakhiri hidup janinnya. Aborsi telah menjadi penghancur kehidupan umat manusia terbesar sepanjang sejarah dunia.
Hasil riset Allan Guttmacher Institute ( 1989 ) melaporkan bahwa setiap tahun sekitar 55 juta bayi digugurkan. Angka ini memberikan bukti bahwa setiap
ABORTUS TERAPETIK
Indikasi dan frekuensi
Sumber: Van Look & von Hertzen, 1990
Alasan medis 12.0% Gawatdarurat
25.0%
Atas permintaan
hari 150.658 bayi dibunuh, atau setiap menit 105 nyawa bayi direnggut sewaktu masih dalam kandungan. Banyak hukum yang telah mengatur abosri salah satunya diatur dalam pasal 15 ayat 2 Undang - undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Aborsi merupakan masalah yang kompleks, mencakup nilai-nilai religius, etika, moral dan ilmiah serta secara spesifik sebagai masalah biologi.
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tertulis : “Setiap dokter senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.” Namun dalam sumpah dokter, terdapat pernyataan: “Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.” Namun karena masih terdapat pertentangan maksud pasal dan sumpah dokter yang berkaitan dengan waktu dimulainya suatu awal kehidupan, maka dalam etika kedokteran, pelaksanaan aborsi dalam kasus ini diserahkan kembali kepada hati nurani masing-masing dokter.
Untuk menangani pasien abortus, ada beberapa langkah yang dibedakan menurut jenis abortus yang dialami, antara lain:
1. Abortus Komplet
Tidak memerlukan penanganan penanganan khusus, hanya apabila menderita anemia ringan perlu diberikan tablet besi dan dianjurkan supaya makan makanan yang mengandung banyak protein, vitamin dan mineral.
2. Abortus Inkomplet
Bila disertai dengan syok akibat perdarahan maka pasien diinfus dan dilanjutkan transfusi darah. Setelah syok teratasi, dilakukan kuretase, bila perlu pasien dianjurkan untuk rawat inap.
3. Abortus Insipiens
Biasanya dilakukan tindakan kuretase bila umur kehamilan kurang dari 12 minggu yang disertai dengan perdarahan.
4. Abortus Iminens
Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan karena cara ini akan mengurangi rangsangan mekanis dan menambah aliran darah ke rahim. Ditambahkan obat penenang bila pasien gelisah.
5. Missed Abortion
Terbukanya jalan lahir akibat abortus dan akibat dari tindakan kuretase tentu tidak terlepas dari komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi yaitu infeksi, perforasi/robekan/lubang pada dinding rahim. Tapi bila dikerjakan sesuai prosedur dan pasien cepat tanggap akan keluhan yang diderita maka kemungkinan terjadinya komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin.
Setelah tahu tentang apa itu abortus, mulailah sekarang kita membahas, apa yang menyebabkan terjadinya abortus. Abortus pada wanita hamil bisa terjadi karena beberapa sebab diantaranya :
1.
Setelah tahu tentang apa itu abortus, mulailah sekarang kita membahas, apa yang menyebabkan terjadinya abortus. Abortus pada wanita hamil bisa terjadi karena beberapa sebab diantaranya
lingkungan tempat menempelnya hasil pembuahan yang tidak bagus atau kurang sempurna dan pengaruh zat zat yang berbahaya bagi janin seperti radiasi, obat obatan, tembakau, alkohol dan infeksi virus.
2. Kelainan pada plasenta. Kelainan ini bisa berupa gangguan pembentukan pembuluh darah pada plasenta yang disebabkan oleh karena penyakit darah tinggi yang menahun.
3. Faktor ibu seperti penyakit penyakit khronis yang diderita oleh sang ibu seperti radang paru paru, tifus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus toxoplasma.
4. Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut rahim, kelainan bentuk rahim terutama rahim yang lengkungannya ke belakang (secara umum rahim melengkung ke depan), mioma uteri, dan kelainan bawaan pada rahim.
Nah, itulah 4 hal yang paling sering menyebabkan keguguran atau abortus pada ibu hamil sehingga untuk pencegahannya harus dilakukan pemeriksaan yang komprehensif atau mendetail terhadap kelainan kelainan yang mungkin bisa menyebabkan terjadinya abortus. Sumber : Buku Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. ( http://ummukautsar.wordpress.com/2009/09/11/pengertian-dan-macam-macam-abortus-keguguran-serta-penyebabnya/)
1.3 Hukum Aborsi Dalam Islam
للول ااوللتلقاتل سلفاننللا يتتلنلا ملرنلحل هللنلا لنلإت قنتحللابت
“ Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. “ ( Q.S. Al Israa’: 33 )
mengkawatirkan. Ini akibat hilangnya nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat, ditambah dengan gencarnya mass media yang menawarkan kehidupan glamor, bebas dan serba hedonis yang menyebabkan generasi muda terseret dalam jurang kehancuran.
Pacaran sudah menjadi aktivitas yang lumrah, bahkan sebagian orang tua mlinder dan merasa malu jika anaknya tidak mempunyai pacar, karena menurut pandangan mereka orang yang tidak pacaran, adalah orang yang tidak bisa bergaul dan masa depannya suram,serta susah mencari jodoh. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya melakukan hubungan seks di luar pernikahan dan hamil, kemudian berakhir dengan pengguran kandungan dengan paksa.
Data statistis BKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menunjukkan bahwa sekitar 2.000.000 kasus aborsi terjadi setiap tahun di Indonesia. Untuk kasus aborsi di luar negeri – khususnya di Amerika – data-datanya telah dikumpulkan oleh dua badan utama, yaitu Federal Centers for Disease Control (CDC) dan Alan Guttmacher Institute (AGI) yang menunjukkan hampir 2 juta jiwa terbunuh akibat aborsi. Jumlah ini jauh lebih banyak dari jumlah nyawa manusia yang dibunuh dalam perang manapun dalam sejarah negara itu. Begitu juga lebih banyak dari kematian akibat kecelakaan, maupun akibat penyakit. Dengan demikian, aborsi secara umum merupakan perbuatan keji, tidak berperikemanusiaan dan bertentangan hukum dan ajaran agama.
Walaupun demikian, hukum Aborsi secara khusus perlu dikaji secara lebih mendalam, karena Aborsi bukanlah dalam satu bentuk, tetapi mempunyai berbagai macam. Sementara itu Islam bukanlah agama yang kaku, tetapi agama yang memandang kehidupan manusia ini dari berbagai sudut, sehingga ditemukan di dalamnya solusi ats segala problematika yang dihadapi oleh manusia.
Sebelum menjelaskan secara mendetail tentan hukum Aborsi, lebih dahulu perlu dijelaskan tentang pandangan umum ajaran Islam tentang nyawa, janin dan pembunuhan, yaitu sebagai berikut :
Pertama: Manusia adalah ciptaan Allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik dengan merubah ciptaan tersebut, maupun mengranginya dengan cara memotong sebagiananggota tubuhnya, maupun dengan cara memperjual belikannya, maupun dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu dengan membunuhnya, sebagaiman firman Allah swt : .
ملدلآ ينتبل انلمارنلكل داقلللول
“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia “ ( Qs. al-Isra’:70) Kedua: Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang. Allah berfirman dalam Al Quran pada Surah Al Maidah ayat 32 tang artinya :
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya.” (Qs. Al Maidah:32)
Ketiga: Dilarang membunuh anak ( termasuk di dalamnya janin yang masih dalam kandungan ) , hanya karena takut miskin. Sebagaimana firman Allah swt :
ارريبتكل اءرطاخت نلاكل ماهلللتاقل ننلإ مكلاينلإتول ماهلقلزلرانل نلحاننل ققلماإت ةليلشاخل ماكلدللواأل ااوللتلقاتل للول
Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (Qs al Isra’ : 31)
الرفاطت ماكلجلرتخانل منلثل ىمنرسلمنل لقجلأل ىللإت ءاشلنل امل متاحلراأللاا يفت رنلقتنلول
Artinya : “Selanjutnya Kami dudukan janin itu dalam rahim menurut kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi.” (QS al Hajj : 5)
Kelima : Larangan membunuh jiwa tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt :
قنتحللابت لنلإت هللنلا ملرنلحل يتتلنلا سلفاننللا ااوللتلقاتل للول
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan alasan yang benar “ ( Qs al Isra’ : 33 )
1.2 Hukum Aborsi Dalam Islam.
Di dalam teks-teks al Qur’an dan Hadist tidak didapati secara khusus hukum aborsi, tetapi yang ada adalah larangan untuk membunuh jiwa orang tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt :
yang artinya:“ Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, dan dia kekal di dalamnya,dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan baginya adzab yang besar( Qs An Nisa’ : 93 )
Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwasanya Rosulullah saw bersabda yang artinya :
terbentuklah segumlah darah beku. Ketika genap empat puluh hari ketiga , berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang bahagia. “ ( Bukhari dan Muslim )
Maka, untuk mempermudah pemahaman, pembahasan ini bisa dibagi menjadi dua bagian sebagai
``````````````````````````````````````````````````````````````````````````````berikut : 1.3.1 Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh
Dalam hal ini, para ulama berselisih tentang hukumnya dan terbagi menjadi tiga pendapat :
Pendapat Pertama :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya boleh. Bahkan sebagian dari ulama membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. ( Hasyiat Al Qalyubi : 3/159 )
Pendapat ini dianut oleh para ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’I, dan Hambali. Tetapi kebolehan ini disyaratkan adanya ijin dari kedua orang tuanya,( Syareh Fathul Qadir : 2/495 )
Mereka berdalil dengan hadist Ibnu Mas’ud di atas yang menunjukkan bahwa sebelum empat bulan, roh belum ditiup ke janin dan penciptaan belum sempurna, serta dianggap benda mati, sehingga boleh digugurkan.
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya makruh. Dan jika sampai pada waktu peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram.
Dalilnya bahwa waktu peniupan ruh tidak diketahui secara pasti, maka tidak boleh menggugurkan janin jika telah mendekati waktu peniupan ruh , demi untuk kehati-hatian . Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam Romli salah seorang ulama dari madzhab Syafi’I . ( Hasyiyah Ibnu Abidin : 6/591, Nihayatul Muhtaj : 7/416 )
Pendapat ketiga :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya haram. Dalilnya bahwa air mani sudah tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum wanita sehingga siap menerima kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan kejahatan . Pendapat ini dianut oleh Ahmad Dardir , Imam Ghozali dan Ibnu Jauzi ( Syareh Kabir : 2/ 267, Ihya Ulumuddin : 2/53, Inshof : 1/386)
Adapun status janin yang gugur sebelum ditiup rohnya (empat bulan) , telah dianggap benda mati, maka tidak perlu dimandikan, dikafani ataupun disholati. Sehingga bisa dikatakan bahwa menggugurkan kandungan dalam fase ini tidak dikatagorikan pembunuhan, tapi hanya dianggap merusak sesuatu yang bermanfaat. Ketiga pendapat ulama di atas tentunya dalam batas-batas tertentu, yaitu jika di dalamnya ada kemaslahatan, atau dalam istilah medis adalah salah satu bentuk Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu jika bertujuan untuk kepentingan medis dan terapi serta pengobatan. Dan bukan dalam katagori Abortus Profocatus Criminalis, yaitu yang dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar hukum yang berlaku, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Secara umum, para ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya haram. Peniupan roh terjadi ketika janin sudah berumur empat bulan dalam perut ibu, Ketentuan ini berdasarkan hadist Ibnu Mas’ud di atas. Janin yang sudah ditiupkan roh dalam dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia telah menjadi seorang manusia, sehingga haram untuk dibunuh. Hukum ini berlaku jika pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat.
Namun jika disana ada sebab-sebab darurat, seperti jika sang janin nantinya akan membahayakan ibunya jika lahir nanti, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat:
Pendapat Pertama :
Menyatakan bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap haram, walaupun diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan keselamatan ibu yang mengandungnya. Pendapat ini dianut oleh Mayoritas Ulama. Dalilnya adalah firman Allah swt :
قنتحللابت لنلإت هللنلا ملرنلحل يتتلنلا سلفاننللا ااوللتلقاتل للول
“ Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. “ ( Q.S. Al Israa’: 33 )
Kelompok ini juga mengatakan bahwa kematian ibu masih diragukan, sedang keberadaan janin merupakan sesuatu yang pasti dan yakin, maka sesuai dengan kaidah fiqhiyah : “ Bahwa sesuatu yang yakin tidak boleh dihilanngkan dengan sesuatu yang masih ragu.”, yaitu tidak boleh membunuh janin yang sudah ditiup rohnya yang merupakan sesuatu yang pasti , hanya karena kawatir dengan kematian ibunya yang merupakan sesuatu yang masih diragukan. ( Hasyiyah Ibnu Abidin : 1/602 ).
Pendapat Kedua :
Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya, jika hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan dari pada menjaga kehidupan janin, karena kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum yakin dan keberadaannya terakhir.( Mausu’ah Fiqhiyah : 2/57 )
Prediksi tentang keselamatan Ibu dan janin bisa dikembalikan kepada ilmu kedokteran, walaupun hal itu tidak mutlak benarnya. Wallahu A’lam.
Dari keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama sepakat bahwa Abortus Profocatus Criminalis, yaitu aborsi kriminal yang menggugurkan kandungan setelah ditiupkan roh ke dalam janin tanpa suatu alasan syar’I hukumnya adalah haram dan termasuk katagori membunuh jiwa yang diharamkan Allah swt.
Adapun aborsi yang masih diperselisihkan oleh para ulama adalah Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu aborsi yang bertujuan untuk penyelamatan jiwa, khususnya janin yang belum ditiupkan roh di dalamnya.
BAB II
2.1 Mengapa Aborsi di Haramkan dalam Hukum Al-Quran?
menyatakan bahwa janin dalam kandungan sangat mulia. Dan banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa hukuman bagi orang-orang yang membunuh sesama manusia adalah sangat mengerikan. Berikut ini merupakan alasan dalam Al-Quran yang mengharamkan tindakan aborsi.
Manusia berapapun kecilnya adalah ciptaan Allah yang mulia. Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang. Umat Islam dilarang melakukan aborsi dengan alasan tidak memiliki uang yang cukup atau takut akan kekurangan uang. Aborsi adalah membunuh. Membunuh berarti melawan terhadap perintah Allah. Sejak kita masih berupa janin, Allah sudah mengenal kita. Tidak ada kehamilan yang merupakan “kecelakaan” atau kebetulan. Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan rencana Allah. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan aborsi. Bahkan dalam kasus hamil diluar nikah sekalipun, Nabi sangat menjunjung tinggi kehidupan.
Dalam buku “ Emansipasi Adakah Dalam Islam” karangan Al Baghdadi, Abdurrahman tahun 1998 disebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan setelah atau sebelum ruh ditiupkan pada janin. Semua ulama ahli fiqih sepakat bahwa melakukan aborsi setelah kandungan berusia lebih dari empat bulan hukumnya haram. Sedangkan melakukan aborsi sebelum kandungan berusia empat bulan masih menimbulkan kontroversi, karena sebagian ulama berpendapat bahwa kegiatan aborsi yang dilakukan sebelum ruh ditiupkan ( kandungan belum berusia 4 bulan) diperbolehkan melakukannya. Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa melakukan aborsi sebelum ditiupkannya ruh ke dalam janin itu hukumnya haram. Namun disini akan diperjelas mengapa aborsi itu hukumnya diharamkan.
“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk ‘alaqah’
selama itu pula, kemudian dalam bentuk ‘mudghah’ selama itu pula,
kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi)
Dengan ditiupkannya ruh kedalam janin maka pada usia tersebut janin merupakan makhluk yang telah bernyawa. Oleh karena itu, apabila aborsi dilakukan setelah usia kehamilan empat bulan, sama saja melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa suatu makhluk. Sehingga aborsi hukumnya haram.
a. AyatAlAn’aam
151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu
oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan
Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi
rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]."
2.2 Aborsi Menurut Pandangan Agama di Indonesia 2.2.1 Aborsi Menurut Pandangan Agama Kristen
Sama halnya dengan Islam, agama Kristen pun melarang keras tindakan aborsi. Kitab suci umat kristiani menjelaskan beberapa hal mengenai tindakan aborsi diantaranya : • Jangan pernah berpikir bahwa janin dalam kandungan itu belum memiliki nyawa. • Hukuman bagi para pelaku aborsi sangat keras. • Aborsi karena alasan janin yang cacat tidak dibenarkan Tuhan. • Tuhan tidak pernah memperkenankan anak manusia dikorbankan. Apapun alasannya. • Anak-anak adalah pemberian Tuhan. Jagalah sebaikbaiknya.
2.2.2 Aborsi Menurut Pandangan Agama Katholik
Gereja mengajak pengikutnya untuk menghormati hidup manusia sejak dari awal, oleh karena itu dapat dikatakan dengan tegas, Katholik pun menolak adanya pengguguran. • Katolik menolak dengan tegas abortus atau pengguguran dengan cara dan alasan apa pun. Sekalipun aborsi itu dilakukan dengan alasan kesehatan dari si ibu. Atau karena rasa belas kasihan karena melihat anak yang akan dilahirkan itu nanti cacat (cacat fisik atau cacat mental) sehingga dianggap tidak memiliki masa depan yang baik kecuali penderitaan. Bahkan katolik juga menolak aborsi terhadap bayi yang dikandung akibat kecelakaan (ibu diperkosa atau hasil pergaulan bebas dan sebagainya). Tidak ada satu orang pun yang berhak mengambil jiwa seseorang, sekalipun ia masih manusia kecil dalam kandungan. • Sanksi aborsi termuat dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja no. 1398, yaitu berupa ekskomunikasi otomatis, atau pengucilan dari kehidupan Gereja.
tubuh manusia. • Dalam Hindu perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan nyawa. Kitabkitab suci Hindu antara lain Rgveda 1.114.7 menyatakan: “Ma no mahantam uta ma no arbhakam” artinya: Janganlah mengganggu dan mencelakakan bayi. Atharvaveda X.1.29: “Anagohatya vai bhima” artinya: Jangan membunuh bayi yang tiada berdosa. Dan Atharvaveda X.1.29: “Ma no gam asvam purusam vadhih” artinya: Jangan membunuh manusia dan binatang.
2.2.4 Aborsi Menurut Pandangan Agama Budha • Dalam pandangan agama Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang ibu. Dari sudut pandang Buddhis aborsi bisa di toleransi dan dipertimbangkan untuk dilakukan. • Umat Buddha terdiri dari dua golongan yaitu pabbajita dan umat awam. Seorang pabbajita mutlak tidak boleh melakukan aborsi karena melanggar vinaya yaitu parajjika. Tetapi sebagai umat awam aborsi boleh dilakukan dengan alasan yang kuat. Misal janin dalam kandungan dalam kondisi abnormal yang dapat membahayakan kesehatan ibu bahkan dapat mengancam keselamatan ibu. • Aborsi boleh dilakukan dengan kondisi yang sangat sulit akan tetapi seminimal mungkin untuk menghindari terjadinya aborsi karena dalam agama buddha aborsi merupakan suatu pembunuhan yang tidak diperbolehkan karena menghilangkan nyawa suatu mahluk yang mengakibatkan karma buruk.
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Oleh sebab itu, yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini adanya perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar.
Efek Samping Aborsi, Efek Jangka Pendek rasa sakit yang inten Terjadi kebocoran uterus Pendarahan yang banyak Infeksi Bagian bayi yang tertinggal di dalam o Shock/Koma o Merusak organ tubuh lain o Kematian
Efek Jangka Panjang tidak dapat hamil kembali Keguguran Kandungan Kehamilan Tubal Kelahiran Prematur Gejala peradangan di bagian pelvis Hysterectom.
BAB III
UNDANG – UNDANG MENGENAI ABORSI
.Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61/2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuai reaksi beragam. Pasalnya dalam PP tersebut, disebutkan pula bahwa aborsi bisa dilakukan oleh perempuan dengan alasan darurat medis maupun alasan pemerkosaan. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, PP 61/2014 ini tentu saja bertentangan dengan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Karena di Undang-undang itu disebutkan, anak yang masih di dalam kandungan secara hukum juga harus dilindungi oleh negara.
"Kalau ingin melindungi korban perkosaan lewat PP ini, saya setuju sekali. Tetapi harus hati-hati juga apakah berbenturan dengan Pasal 1 Undang-undang Perlindungan Anak," tegasnya.
Selain itu, PP ini menurutnya juga bisa memberi peluang pada orang-orang yang berprilaku seks bebas untuk melakukan aborsi karena dianggap legal. "PP ini sebaiknya dikaji ulang, karena perkosaan itu umumnya tidak ada saksi. Kalau begitu, siapa yang nantinya menentukan dia adalah korban perkosaan?"
Beban psikologis akibat perkosaan memang sangat tinggi. Namun di sinilah peran negara dibutuhkan. "Janin korban perkosaan jangan dibunuh, tetapi justru pemerintah harus melindungi. Ini tanggung jawab pemerintah," tegasnya lagi. Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Gizi & Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, dr Anung Sugihantono, M.Kes mengatakan, PP tersebut sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai aturan yang melegalkan aborsi, melainkan pelayanan kesehatan dalam tatanan aborsi. Karena pasal tersebut juga mengatur tentang hal-hal apa saja yang harus dipatuhi sebelum melakukan aborsi.
"Dalam PP tersebut memang diatur kejadian kehamilan karena hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya perkosaan yang memang harus diakhiri kehamilannya karena pertimbangan ibu dan anak. Ini yang harus dipahami, jadi bukan melegalkan aborsinya,". PP 61/2014 juga mengatur bahwa tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 mengenai pelegalan aborsi bagi perempuan korban pemerkosaan sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai tindakan aborsi. Fatwa MUI mengenai aborsi menjadi tidak dilarang apabila keberadaan si bayi megancam keselamatan jiwa dan raga ibunya. Sementara jika tindakan itu dilakukan tanpa ada dasar dan alasan jelas, aborsi adalah ilegal. Melanggar hukum Islam dan hukum negara.
MUI," jelas Menag di Jakarta, Senin (18/8/2014). Ia menyebutkan, salah satu butir dalam PP itu menyatakan tindakan aborsi menjadi legal dalam kondisi tertentu tetap mengacu pada UU Kesehatan. Pasal 75 ayat (1) menyebutkan setiap orang dilarang aborsi kecuali berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan yang dapat menimbulkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
Sekretaris Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Muhammadiyah Amin menambahkan, PP aborsi tak perlu direvisi, seperti permintaan Komisi IX, karena sudah mengacu pada fatwa MUI.
Sebelumnya, Komisi IX mendesak PP aborsi segera direvisi. Anggota Komisi IX Zuber Safawi menegaskan pada prinsipnya Undang-Undang (UU) Kesehatan melarang tindakan aborsi. Dia mengatakan, aborsi dilarang dan pelakunya dipidana dengan penjara sepuluh tahun dan denda Rp1 miliar. Klausul ini yang harusnya lebih dikedepankan. Zuber mengungkapkan hal tersebut merujuk pada pasal 75 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
Pasal tersebut jelas-jelas melarang tindakan aborsi serta pemberian sanksi pidana yang berat bagi pelakunya terdapat pada pasal 194. “Syarat adanya Indikasi kedaruratan medis ataupun trauma akibat korban perkosaan harus benar dan jelas. Bukan menjadi alasan yang dibuat-buat untuk melegalkan aborsi,” ujarnya.
pengecualian aborsi bagi korban perkosaan dalam PP 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi terus bergulir. Termasuk, penolakan yang datang dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Seperti diketahui, IDI berkeyakinan jika pengecualian tersebut sangat bertentangan dengan sumpah dan kode etik dokter. Namun, Menteri Kesehatan dr Nafsiah Mboi mengatakan bahwa dokter tetap harus mengikuti undang-undang.
tersebut. "Kalau saya sendiri, seorang dokter Katolik, tidak akan pernah melakukan aborsi. Tetapi, dia boleh merujuk kepada dokter lain yang bagi dia tidak merupakan hambatan sesuai dengan peraturan undang-undang," terangnya.
Seperti diketahui, salah satu bab di PP No 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi memerbolehkan aborsi untuk kehamilan akibat perkosaan. Kendati demikian, untuk melakukan hal tersebut harus dengan peraturan berlaku, mulai dari penentuan usia kehamilan dengan kejadian perkosaan, keterangan penyidik, serta psikolog dan ahli mengenai adanya dugaan perkosaan.
Pasal 229
1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wwanita atau menturuhnya supaya diobati,dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan ,bahwa karena pengobatan itu hamil nya dapat digugurkan , diancam dengan hukuman penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. 2) Jika yang bersalah,berbuat demikian untuk mencari keuntungan ,atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan,atau jika dia seorang dokter, bidan atau juru obat , pidananya dapat ditambah sepertiga. 3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan
pencarian maka dapat dicabut hak nya untuk melakukan pencarian itu.
Bab XIV KUHP: Pasal 346 KUHP:
“ seorang wanita yang sengaja mengugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan nya, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”.
1) Barang siapa dengan sengaja mengugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan nya diancam pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut , dianacam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 KUHP:
1) Barang siapa dengan sengaja menggunakankan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan nya diancam pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut , dianacam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun tahun.
Pasal 349 KUHP:
Jika seorang dokter,bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346 ,atau membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348,maka pidanya yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencahariandalam mana
kejahatan dilakukan”.
Dengan disahkan nya undang-undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan yang menggantikan undang-undang No.23 tahun 1992,maka permasalahan aborsi memperoleh legitimasi dan penegasan. Secara explisit , dalam undang-undang ini terdapat pasal-pasal yang membahan tentang aborsi, meskipun dalam praktek medis mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontoversi diberbagai lapisan
masyarakat .meskipun undang-undang melarang praktek aborsitetapi dalam keaadaan tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam undang-undang No.36 tahun 2009 dituangkan dalam pasal 75,76,77,dan pasal 194.berikut ini adalah uraian lengkap mengenai peraturan aborsi yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut :
1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi
2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan :
a) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
yang tidak dapat diperbaiki sehingga penyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan : atau
b) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
3) Tindakan sebagaimana dimaksud di ayat (2)hanya dapat dilakukan setelah melalui koseling dan atau penasehat para tindakan yang di akhiri dengan konseling paskah tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi dihitung dari pertama haid terakhir, kecuali dalam kedaruratan medis dan perkosaan,sebagaimana dimaksud pada ayat(2&3) diatur oleh peraturan pemerintah.
Pasal 76:
Aborsi sebagaimana dimaksud dengan pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. Sebelum kehamilan berumur 6 minggu:
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh mentri :
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan: d. Dengan izin suami kecuali korban perkosaan dan
e. Penyediaan layanan kesehtan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh mentri.
Pasal 77:
bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
Pasal 194:
Setiap orang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp.1.000.000.000.
KUHP tidak membolehkan aborsi dengan alasan apapun juga dan oleh siapapun juga. Ketentuan ini sesuai dengan sejarah diundangkan nya dizaman pemerintahan hindia-belanda sampai dengan sekarang ini tidak pernah berunbah dan ketentuan ini berlaku umum bagi siapapun yang melakukan , bahkan bagi dokter yang melakukan dikenakan pemberatan pidana pengguguran kandungan yang di sengaja melanggar berbagai ketentuan hukum ( abortus provocatus criminalis ) yang terdapat dalam KUHP mengaut prinsip “ ilegal tantap kecualu “ dinilai sangat memberatkan paramedis dalam melakukan tugas nya. Pasal tentang aborsi yang diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana juga bertentangan dengan pasal 75 ayat 2 UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan.dimana pada prinsip nya tindakan pengguguran kandungan atau aborsi dilarang ( pasal 75 ayat 2 ), namun larangan tersebut dapat di kecualikan berdasarkan :
a) Indikasi kedaruratan medis yang didetecsi sejak usia dini kehamilan , baik yang mengancam nyawa ibu atau janin,yang menderita penyakit genetik berat atau cacad bawaan,maupun yang ti
b) dak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan : atau
KESIMPULAN
Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang. Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik, membahas pula masalah kesehatan, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Annas. G.J. 2002. Coning n the U.S CONGRES. N ENG MED VOL.346,NO.20. Artus centre.2008.patient information.royal universitas hospital saskatoon SK. Assisted reproduction unit.2005.information on i vitro Fertilization & embryo
transfer ( IVF/ET ) Treatment department of obstetric and gynaecology UNIVERSITA of hongkong.
Beauchamp,G.R. 1999. The application of bioethice,principles to resolve conflicts in values.JK science 1:2 (40-43).
Bongso,A.dan lee,E.H.2005.stem cell from bench to bedside.singapure:world scientific publishing
Chang,W.2009.bioetika sebuah pengantar.yongyakarta kanisius.
Center for bioethics.2004.ethics of organ transplantation faried,A.cancer ,stem cells,and cancer stem cells.
Fauziyah,y.2012.obstetri patologi: untuk mahasiswa kebidanan dan keperawatan.yongyakarta:nuha medika.
Hanafiah,M,J. Dan amir ,A.2008.etika kodekteran & hukum kesehatan.jakarta : EGC Jaenisch.R.2004.human cloning-the science and ethics of nuclear transplantation .
N EnglJ MED 251:27.
Juita,S.R dan heryanti,B.R.2010.abortus provocatus pada korban perkosaan dan perspektif hukum pidana ( suatu kajian normatif ) fakultas hukum universitas semarang.
Kingston,H.M.1997.petunjuk penting genetika klinik.alih bahasa: hartono.edt: widayati D.wulandari.jakarta:EGC.
Lani,M.2003.ketika kloning usik persoalan etika dalam bioreproduksi : imperialisme modal & kejahatan globalisasi. Penyuting : hesty W dan ika
N.K.yongyakarta : insist press.
McCormick T.R.1998.principle of bioethics in medical university of washington school of medicine.
Moeloek.F.A.2005.etika dan hukum teknik reproduksi buatan.bagian obstetri dan ginekologi fakultas kedokteran universitas indonesia.
Pamungka,K. 2002.” Tinjauan yuridis mengenai proses dan prosedur pelaksanaan teknologi bayi tabung dan masalah nya”.tesis.program pascasarjana ilmu hukum universitas diponegoro semarang.
Pinkert,Carl A.2002.transgenic animal technology a laboratory handbook.second edition.california :academic press.
Pratimarati,U.2008.” kebijakan hukum pidana di bidang reproduksi ( kloning ) “. Tesis . universitas diponegoro,tidak diterbitkan.
Sadler,T.W.2009.lagman embriology kedokteran.alih bahasa: bram U.edit : adintanovrianti jakarta.EGC.
Saputra,V.2006. dasar-dasar stem cell dan potensi dan aplikasi nya dan ilmu kedokteran.cermin dunia kedokteran. Nomor 153.
Soejipto,P.2010.transplantasi organ manusia .program pascasarjana fakultas kesehatan masyarakat universitas indonesia.
Sofan ,L.T.2010.”peran sel punca di bidang kedokteran gigi”, skripsi.fakultas kedokteran gigi .universitas Sumatra utara, medan , tidak diterbitkan.
Syafruddin.2003.abortus povocatus dan hokum.fakultas hokum universitas Sumatra utara.
Tutik,T.T analisi hokum islam terhadap praktik aborsi bagi kehamilan tidak diterapkan dalam KTD akibat perkosaan menurut undang-undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan.fakultas syari’ah IAIN sunan ampel Surabaya. Wahono ,R.A.2007. “ eunathansia dan hak untuk menentukan diri sendiri
berdasarkan kitab undang-undang hokum pidana dan hak asasi manusia ( penelitian hokum normative terhadap pasal 344/KUH pidana pada pasien stadium terminal )”, tesis program pascasarjana unika soegijiapranata semarang.
World health organitation .2010.who guilding principles on human cell,tissue and organ transplantation.
Widiana,A.2010.bioetika : sekolah ilmu dan technology hayati.institut teknilogy bandung.
Yulianty,A.B.2009. bioetika tranplantasi dan penjualan organ tubuh manusia . sekolah ilmu dan technology hayati institute technology bandung.