NICOLLO MACHIAVELLI : POLITIK
KEKUASAAN NEGARA
Oleh : Johan Andres Serhalawan
Abstract
Nicollo Machiavelli terkenal dengan “semboyannya” menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Teori-teorinya politiknya selalu disalahpahami dan disalahartikan oleh sebagian sarjana, maka tak jarang ia dianggap sebagai seorang pemikir sinis, yang hanya berkepentingan untuk mengabdikan kekuasaan para pemimpin. Semua anggapan tersebut tidaklah benar adanya. Sebenarnya Machiavelli merindukan suatu Negara yang sehat, kuat dan tidak korup. Atas dasar inilah teori-teori politik kekuasaannya selalu menhalalkan “cara-cara binatang” untuk melindungi Negara.
Keywords: Machiavelli, Politik, Kekuasaan dan Negara
A. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial dan oleh karenanya masyarakat adalah elemen penting dalam kehidupannya. Menurut para filsul, manusia menurut kodratnya adalah “makhluk politik”. Artinya, ia tidak bisa berbuat tanpa himpunan sosial, yang menurut para filsuf disebut “kota” (polis). “Kota” dalam politika aristoteles adalah “Negara”. Dikatakan di sini, bahwa hidup bermasyarakat tidak hanya perlu, tetapi juga “kodrati”, artinya timbul dari hakekat manusia itu sendiri. Manusia tidak mungkin mampu untuk mencukupi kebutuhannya, pun kebutuhan primer yang perlu untuk hidup tanpa manusia lain. Bahkan tak munkin pula mempertahankan eksistensinya tanpa masyarakat. Kehidupan bermasyarakat tidak hanya bermaksud untuk mencukupi kebutuhan biologis, tetapi juga untuk menjamin keamanan. Manusia adalah mahkluk yang membutuhkan kekuasaan politik dalam masyarakat, karena melalui kekuasaan politik itulah, stabilitas masyarakat dapat terjamin dan pula dapat melindungi manusia dari agresi sesamanya.1
Kekuasaan politik yang semula adalah untuk menjaga dan melindungi, sekarang diganti dengan kekuasaan untuk memerintah di atas yang lain secara semena-mena.2 Manusia mulai
mempergunakan kekuasaan politik sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Kekuasaan politik menjadi alat yang begitu berbahaya, sehingga kekuasaan politik menjadi kontrol atas manusia. Manusia menjadi budak kekuasaan. Sadar akan dampak dari kekuasaan politik, maka manusia mulai menciptakan suatu sistem yang berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan kekuasaan itu. Hal ini dapat dilihat secara jelas pada bentuk Negara dan sistem politik penyelenggaraan Negara (entah demokorasi, aristokrasi, monarki, dll).
Berhubungan dengan berbagai hal di atas, maka Negara Indonesia memilih dan menggunakan kekuasaan politik Negara lewat suatu sistem demokrasi.3 Hal ini dimaksudkan
agar rakyat secara langsung berperan aktif dalam pemerintahan, serta rakyatlah yang mengatur jalannya pemerintahan tersebut lewat wakil-wakilnya yang duduk di anggota dewa atau parlemen. Maka dalam hal ini, kekuasaan politik Negara secara langsung di kontrol oleh rakyat.4 Selama pemerintahan Orde Lama (ORLAM) kekuasaan politik negera diatur dengan
cukup baik, tetapi keadaan berbalik ketika lengsernya Soekarna dan digantikan oleh Soeharto (Orde Baru = ORBA). Kekuasaan politik Negara yang dinafasi oleh rakyat mulai kehilangan tempatnya. Kekuasaan rakyat diganti dengan kekuasaan individu dan segelintir orang saja.5
Kewenangan rakyat dicabut dan keinginan rakyat dibungkamkan. Rakyat hanya menjadi bonekanya sang penguasa.
2 Bandingkan Weinata Sairin, J.M. Pattiasina (peny.), Hubungan Gereja dan Negara dan Hak-Hak Asasi Manusia, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1996), hlm. 16. Yang mengatakan bahwa manusia tidak hanya puas untuk memiliki “kemauan untuk hidup” (will-to-live), tetapi juga didorong oleh “kemauan untuk berkuasa” (will-to-power).
3 Demokrasi dari bahasa Yunani demos = rakyat dan cratos = pemerintahan). Bandingkan dengan pengertian demokrasi yang digunakan oleh Abraham Lincoln pada pidatonya di Gettysburg tahun 1863, yakni : government of people, by people, for the people (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Saut Sirait, Politik Kristen Di Indonesia, Suatu Tinjauan Etis, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 29
4 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan Termasuk Intepretasi Undang-Undang, Vol. I, Pemahaman Awal, (Jakarta : Kencana, 2009), hlm. 15, Bandingkan pula dengan Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, Pasca Reformasi, (Jakarta : Bhuana Ilmu Populer (BIP), 2008), hlm. 2
Hal ini berbeda jauh dengan keadaan yang terjadi pada masa hidupnya Nicollo Machiavelli di Itali. Yang mana, Italia pada masa itu sedang mengalami masa Renaissans6 (kela hiran
kembali). Selain itu pula, Italia sedang mengalami pergolakan atau peperangan baik dari pihak luar (Jerman, Perancis, dll), tetapi juga dari pihak dalam (keluarga-keluarga kaya yang ingin menguasai kerajaan atau Negara). Dalam keadaan inilah hadir seorang Machiavelli untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi perkembangan politik saat itu. Machiavelli melihat bahwa seorang penguasa haruslah mengutamakan kepentingan dan tujuan Negara. Seorang penguasa tidak boleh menggunakan kekuasaan untuk memperoleh kekayaan bagi dirinya sendiri. Kekuasaan hannya boleh digunakan untuk tujuan Negara. Untuk maksud inilah Machiavelli menghalalkan “cara-cara binatang” dalam pelaksanaan pemerintahan dan untuk mempertahankan Negara. Hal itu patut dilakukan untuk menjaga Negara dari serangan musuh, serta bertujuan untuk mensejahterahkan kehidupan rakyat.
Lewat cara pandang yang demikian, maka Machiavelli sering disalahpahami, seakan-akan ia adalah seorang pemikir yang sinis, yang hanya berkepentingan untuk mengabdikan kekuasaan para pemimpin. Sebenarnya ia hanya mengaggumi Republik Roma Kuno yang keras dan tinggi dalam tuntunan etika politik. Ia menderita karena ketidakberdayaan politik Italia yang untuk sebagaian dikuasai oleh Perancis, Jerman dan Spanyol, serta sebagian lagi terpecah belah ke dalam Negara-negara kota. Machiavelli merindukan suatu Negara yang sehat, kuat dan tidak korup. Ia mengharapkan semangat tak mau kalah dan menuntut kesiagapan militer para warga Negara.
Sepertinya para pemerintah (penguasa) bangsa Indonesia menerapkan cara-cara Machiavelli dalam praktek pelaksanaan kehidupan demokrasi di Indonsia. Agakanya mereka menggunakan teknik atau metode yang ditawarkan oleh Machiavelli seperti : menggunakan kekuasaan yang despotik7, yang diramu dan diperkaya dengan kepura-puraan, kemunafikan,
kelicikan, kejahatan, penghianatan, dan semua itu katanya dilakukan demi “kepentingan Negara”.8
6 Renaissans
7 Despotik berasal dari kata Yunani Despotike (of a master) untuk menunjukkan penyelenggaraan kekuasaan yang dilakukan oleh seorang tuan terhadap budaknya.
Praktek-praktek inilah yang menimbulkan masalah etis teologis. Mengapa? Karena tanpa disadari oleh para penguasa atau pemerintah, tindakan-tindakan mereka telah bertentangan dengan tugas utamanya yakni melindungi, memelihara, menjaga serta menggembalakan masyarakat (Kej. 1:28; 45:5; 11:2. Sam. 5:2; Yoh. 21:15-17). Mereka hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek dari kekuasaan Negara.
Masalah etis teologis lainnya adalah ketika usaha-usaha penguasa untuk mencapai tujuan dengan menggunakan metode Machiavelli (cara-cara binatang) yang mana berusaha ditempatkan dalam konteks dan situasi Indonesia, maka hal ini tidak dapat ditolelir. Cara-cara Machiavelli tepat pada situasi dan konteks masa hidupnya. Sedangkan dalam kehidupan bangsa Indonesia hal itu tidak tepat. Oleh sebab itu, jikalau teknik atau metode Machiavelli diterapkan dalam konteks Indonesia, maka hal tersebut akan menjadi sebuah permasalah.
Selain praktek-praktek machiavellianisme yang diterapkan dalam Negara, maka tidak dapat dipungkiri bahwa pola atau cara yang demikian juga, justru sedang dan sementara dipraktekkan dalam gereja. Para pejabat-pejabat gereja mengambil alih tindakan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan ditempak semuanya itu di dalam gereja. Sejarah telah membuktikan bahwa praktek-praktek kekuasaan untuk merebut dan memperoleh kedudukan dalam gereja telah berlangsung selama bertahun-tahun dan hal tersebut dapat kita temui dalam sejarah gereja mulai dari katolik kuno hingga pada masa reformasi. Pola atau cara yang dipraktekan oleh para pejabat gereja justru lebih diperhalus dengan trik dan intrik yang dibungkus “kekudusan semu”. Artinya, tindakkan untuk meraih suatu jabatan atau kedudukan mereka laksanakan dengan berdalil demi kemuliaan Tuhan, padahal dibalik semuanya itu, hanya untuk kemuliaan pribadi.
B. Politik Kekuasaan Negara Menurut Machiavelli
1) Machiavelli sebuah pengantar
Sebelum Machiavelli lahir, kota Florence sudah mengalami apa yang dinamakan Zaman Renaissance. Zaman ini menggantikan zaman atau Abad Pertengahan, yang bagi “masyarakat renaissance” merupakan “zaman atau abad gelap”, dan zaman terbelakang, zaman ketika “tidak ada pengetahuan di Italia, ketika orang berbicara kasar dan tidak mengenal bahasa Latin”.9
Tampilnya zaman renaissance telah mengakhiri “zaman gelap” abad pertengahan sehingga manusia renaissance adalah manusia yang bebas berprestasi. Manusia renaissance adalah manusia yang tidak lagi dikendalikan oleh pejabat-pejabat gereja yang selalu menuntut kepatuhan untuk menerima “segala kebenaran” yang telah ditetapkan oleh gereja. Dengan kata lain, dogma gereja digantikan oleh kebebasan penelitian ilmiah.10 Manusia pada zaman
renaissance berupaya untuk melihat dunia klasik sebagai suatu kebudayaan tersendiri. Telaah kebudayaan ini kemudian dinamakan humanisme.11
Kunci untuk memahami keterpikatan akan dunia klasik terletak pada kehidupan ekonomi serta politik Negara-negara Italia. Kehancuran Romawi telah mencerai-beraikan kesatuan politik semenanjung tersebut. Kunci kehidupan politik yang hendak dikembangkan oleh “manusia renaissance” dapat kita temui di dalam kota Florence. Florence adalah Negara–kota yang paling maju pada saat itu. Dan kota Florence ini dapat disebut sebagai kota pusatnya renaissance. Tak dapat disangkal atau dipungkiri bahwa ada begitu banyak tokoh ternama yang lahir dan dibesarkan di Florence, diantaranya Michelangelo, Galileo, Rossini dan Machiavelli.
Nicollo Machiavelli dilahirkan di kota Florence, pada tanggal 3 Mei 1469. Ia merupakan putra kedua dari Bernardo Machiavelli, seorang pengacara yang berasal dari keluarga bangsawan.12 Kendatipun Bernardo Machiavelli merupakan keluarga bangsawan, namun
mereka tidak sekaya bangsawan-bangsawan lainnya, tetapi tidak semiskin rakyat biasa di kota Florence, sehingga Bernardo masih dapat menyekolahkan Nicollo, bahkan memperlengkapinya dengan pendidikan yang baik.13
Walaupun sedikit yang diketahui tentang masa muda Machiavelli, namun dari jabatan-jabatan yang dipercayakan kepadanya, dapat disimpulkan bahwa Machiavelli pada masa muda diperlengkapi dengan pendidikan yang terbaik pada saat itu. Ketika ia mulai menginjak dewasa, kota Florence telah menjadi kota yang sangat terkenal. Di kota inilah Machiavelli sempat merasakan bagaimana suasana politik di bawah tiga penguasa yang berbeda yakni Girolamo
10 Rapar, Op.cit, hlm. 388
11 Jhon R. Hale, Op.cit, hlm. 13. Humanisme berasal dari kata Latin humanus yang mempunyai akar kata homo yang berarti “manusia”. Humanus berarti “bersifat manusiawi”, sesuai dengan kodrat manusia. Mangunhardjana A, Isme-Isme Dalam Etika, dari A sampai Z, (Yogyakarta : Kanisius, 1996), hlm. 93
12 Rapar, Op.cit, hlm. 389
Savonarola, Keluarga Soderini dan Keluarga Medici. Pada saat Savanarola berkuasa di Florence, Machiavelli sudah cukup dewasa untuk mengamati setiap tindakan yang dilakukan oleh Savanarola. Tetapi pada waktu itu, Machiavelli tidak terlibat secara aktif dalam masa pemerintahan Savanarola.
Ketika Savonarola digulingkan oleh Piero Soderini (1498), maka Machiavelli pun mulai melibatkan dirinya sebagai aktivis politik. Hal ini terlihat ketika ia diangkat menjadi konselor kedua (second chancellor) republic Florence dan juga ditunjuk sebagai sekretaris komisi “Ten of Balia” yaitu komisi tentang kebebasan dan perdamaian Republik Florence. Dalam jabatan-jabatan tersebut, Machiavelli membidangi kegiatan luar negeri, pertahanan dan keamanan (military establishment) dan perdagangan luar negeri.14 Dari pengalaman perjumpaan dengan
berbagai tokoh-tokoh besar pada masa itu, maka pengetahuan Machiavelli akan dunia politik makin bertambah dan semakin luas.
Machiavelli mencapai kesuksesan dalam karir politiknya di bawah pemerintahan Piero Soderini. Kesuksesan itu ditunjukkan Machiavelli lewat penaklukan Pisa dan membawanya kembali ke dalam pemerintahan kota Florence. Tetapi ketika Piero Soderini digulingkan oleh keluar Medici (1512, berkat bantuan dari pasukan Spanyol), maka Machiavelli menerima imbasnya. Ia dicurigai berkomplot untuk menggulingkan pemerintahan keluarga Medici (1513). Akibatnya, ia dipenjarakan dan disaksa untuk beberapa minggu.15 Berkat bantuan dari para
teman-temannya, maka Machiavelli dibebaskan. Bahkan sesudah Giovanni de’ Medici menjadi Paus, nama baiknya direhabilitasi dan kemudian dipensiunkan.16 Machiavelli menjalani masa
pensiunnya di sebuah kebuh di luar kota Florence. Pada saat itulah Machiavelli banyak meluangkan waktunya untuk menulis karya-karyanya, dan yang paling terkenal ialah The Prince.
Walaupun Machiavelli sudah tidak dilibatkan secara langsung dalam kancah perpolitikan kota Florence, tetapi ia tetap menjadi pengamat politik yang baik. Hal ini terbukti ketika ia menulis The Prince yang ditujukan kepada Lorenzo de Medici sebagai masukkan untuk
14 Band. Rapar, Op.cit, hlm. 395., dan Machiavelli Introduction dalam www.people.brandies.edu. Diakses pada tanggal, 12 Agustus 2012
15 Band. Machiavelli dalam www.english.literatur.org., diakses pada tanggal 14 Agustus 2012
penerapan dan pertahanan kekuasaan Negara, dan supaya dirinya dapat diterima kembali bekerja pada keluarga Medici.17 Machiavelli mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap bisa
mengabdi kepada Negara. Ia pernah mengatakan kepada sahabatnya bahwa ia mengasi negerinya melebihi jiwanya (I love my country more that my soul).18
Karena semangat yang tak pernah kunjung padam itulah, maka menjelang akhir hidupnya, Machiavelli masih sempah diutus untuk melaksanakan beberapa misi khusus. Pada tahun 1519, Leo X meminta nasehat kepada Machiavelli mengenai beberapa masalah politik. Dan berkat pengaruh Cardinal Guilio do’ Medici (yang kemudian diangkat menjadi Paus Clement VII), pada tahun 1520, Machiavelli ditugaskan untuk menulis buku Sejarah Florence dengan gaji yang cukup tinggi. Kemudia pada tahun 1526, Machiavelli ditugaskan oleh Paus Clement VII untuk mengawasi benteng-benteng pertahanan Florence. Machiavelli meninggal dunia pda tahun 1527 (tanggal 20 Juni). Machiavelli meninggalkan seorang istri bernama Marietta Corsini dan enam orang anak.19
2) Karya-Karya Machiavelli
Di bawah ini adalah karya-karya yang ditulis oleh Machavelli semasa hidupnya :
Discorso sopra le cose di Pisa, 1499;
Del modo di trattare I popoli della Valdichiana ribellati, 1502; Del modo tenuto dal duca Valentino nell’ ammazzare Vitllezo Vitelli, Oliverotto da Fermo, etc, 1502;
Discorso sopra provisione del danaro, 1502; Decennale primo (pem in terza rima), 1506; Il Principe (The Prince), 1513; dll.
Sehubungan dengan topik yang telah dipilih oleh saya mengenai Politik Kekuasaan Nicollo Machiavelli, maka saya akan lebih menitikberatkan perhatian pada karya The Prince, karena karya ini dipakai oleh saya untuk melihat bagaimana praktek kekuasaan Negara yang dilakoni oleh para penguasa.
17 Band. Machiavelli dalam www.pareto.org., diakses pada tanggal 14 Agustus 2012
18 Rapar, Op.cit, hlm. 396
Sebenarnya The Prince dipresentasikan kepada Giuliano de’Medici, tetapi karena ia meninggal, maka The Prince dipersembakan kepada Lorenzo de’ Medici.20 Tak dapat dipungkiri
bahwa The Prince ditulis untuk membujuk keluarga Medici agar Machiavelli dapat diterima kembali dalam pemerintahan mereka. Namun itu tidak berarti bahwa The Prince berisikan rayuan gombal belaka, melainkan Machiavelli benar-benar mengarahkan segala kemampunannya yang didukung oleh pendidikan dan pengalamannya untuk menyelesaikan buku tersebut.
The Prince (Sang Pangeran) ditulis pada ujung tahun 1513 (dan barangkali awal tahun
1514) tetapi secara formal diterbitkan pada tahun 1532 (setelah kematian Machiavelli). The
Prince secara garis besar membicarakan tentang bagaimana seorang penguasa atau pangeran
merebut, memperoleh dan mempertahankan Negara, dan juga bagaimana seorang pangeran itu mempraktekkan kekuasaan Negara berdasarkan tujuan Negara. Yang melatarbelakangi penulisan buku The Prince oleh Machiavelli adadalah tentang moral dan otoritas penguasa. Machiavelli sama halnya dengan para penulis lain yang hidup di abad pertengahan dan zaman renaissance yang banyak menulis buku mengenai wujud atau tampak penguasa (mirror of princes). Buku-buku tersebut biasanya dipakai sebagai pegangan (nasehat) atau kritikan terhadap moral para pemegang kekuasaan Negara.
Biasanya buku-buku yang berisikan nasehat sering menegaskan bahwa jika para penguasa ingin berhasil, maka mereka harus menginginkan suatu pemerintahan yang aman dan damai yang mengarahkan mereka kepada kekuasaan untuk bertindak menurut standar kebaikan etis tradisional. Dalam beberapa hal, jika para penguasa ingin dihargai dan dihormati, maka mereka harus mempunyai budi pekerti luhur dan dalam segala kebijakan harus dilakukan secara etis.21
Lewat pandangan otoritas yang moralistik inilah, maka Machiavelli mengkritik secara panjang lebar di dalam risalah terbaiknya yakni The Prince. Bagi Machiavelli sebenarnya tidak ada standar moral yang dipakai untuk mengukur dan menilai perbedaan antara kekuasaan yang sah dan haram. Jika seorang mempunyai kekuasaan (power), maka ia berhak untuk memerintah.
20 Band. Machiavelli dalam www.plato.stanford.edu., diakses pada tanggal 14 Agustus 2012
Disinilah dapat kita temuai bahwa sebenarnya Machiavelli mengkritisi tentang praktek kekuasaan yang sering dilandaskan oleh moral, yang baginya jika hal ini dipertahankan justru akan menjurus pada kehancuran. Mengapa? Karena apabila dalam setiap pengambilang keputusan oleh seorang penguasa, yang sering mengedepankan pertimbangan moral, maka keputusan itu tidak akan berjalan dengan baik. Contohnya apabila seorang penguasa menginstruksikan pembunuhan kepada para pengacau, dan ia diberatkan oleh pertimbangan etis, maka itu sangat tidak layak. Keputusan yang diambil harus didasarkan pada kepentingan negera, agara Negara bisa diamankan dan diselamatkan. Pendapat ini dibuat oleh Machiavelli bukan sekedar sebuah teori kosong. Melainkan kenyataan di kota Florence yang mengharuskannya untuk mengatakan demikian.
Isi buku The Prince mencerminkan pengakuan pribadi Machiavelli berdasarkan realitas politik. Dalam buku inilah Machiavelli memberikan pengajaran atau masukkan kepada Lorenzo de’ Medici tentang ketentuan-ketentuan kekuasaan politis. Bagi Machiavelli, gambaran karateristik kekuasaan politik adalah terletak pada bagaimana seorang penguasa sukses atau berhasil untuk mengetahui dan menerapkan kekuasaan sesuai dengan yang diharapkan. Akibat munculnya teori-teori ini, maka Machiavelli dianggap sebagai seorang yang licik, curang, hipokrit, busuk dan tak bermoral. Alhasil, pada tahun 1559, seluruh karya Machiavelli dimasukkan ke daftar buku yang dilarang baca dan tidak boleh disebar luaskan untuk umum. Di inggris pada abad XVII, Machiavelli disamakan dengan iblis atau setan. Old Nick (Nick Tua) yang berasal dari nama Machiavelli (Nicollo) adalah salah satu istilah yang popular pada masa itu untuk menyebutkan Machiavelli atau iblis.
3) Pandangan Umum & Machiavelli Tentang Politik Kekuasaan Negara a. Kekuasaan
tidak lain dari pada kekuasaan belaka.22 Sebenarnya, kekuasaan adalah gejala lumrah yang
terdapat dalam setiap masyarakat, dalam semua bentuk kehidupan manusia.23 Ketika seseorang
mulai mengenal lingkungan, sesungguhnya ia mulai mengenal apa itu kekuasaan. Mulai dari lingkungan mikro, yaitu kekuasaan orang tuanya atas dirinya, guru atas dirinya, hingga dalam lingkungan makro., yaitu kekuasaan pemerintah terhadap rakyatnya.24
Karena itu, kekuasaan merupakan fenomena yang wajar dan inheren dalam sejarah perkembangan masyarakat. Sejak adanya sekolompok orang yang mulai hidup bersama, kemudian menimbulkan masalah menyangkut peraturan dan pengawasan, sejak itulah masalah-masalah mengenai lingkup serta batasan penerapan kekuasaan. Dengan begitu hampir tidak ada struktur masyarakat yang tidak bersinggungan dengan kekuasaan.25 Jadi kekuasaan merupakan
stimulator manusia untuk berbuat sesuatu.
Dalam konteks itu, sesungguhnya wajar jika kekuasaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam wacana politik. Kekuasaan adalah kenyataan yang kekal dalam kehidupan politik. Dimana ada politik, disitu ada kekuasaan.26
Yang menarik adalah ketika kekuasaan itu telah diindentifikasi sebagai suatu entitas yang melekat dalam politik, politik pun menjadi wilayah yang dianggap perlu berorientasi pada kekuasaan an sich. Artinya, kekuasaan telah mengalami redusir makna yang tidak lebih dari hal yang berkaitan dengan hasrat meraih kekuasaan. Cara pandang ini kemudian menjadi terkukuhkan oleh pratek di lapangan yang diperagakan secara telanjang oleh politisi saat meraih kekuasaan melalui cara-cara yang dianggap tidak bermoral. Implikasinya sering muncul idiom-idiom stigmatic dan steriotipe yang menganggap politik sebagai kegiatan amoral, kotor, licik, penuh dengan intrik dan tipu daya, dan seterusnya, yang mengandung konotasi negative, karena itu harus dijauhi.27
22 Budiarjo M, Konsep Kekuasaan : Tinjauan Kepustakaan, dalam buku Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, (Jakarta : Sinar Harapan, 1984), hlm.9
23 Budiarjo M, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia,1991), hlm.10
24 J.H.Rapar, Filsafat Politik Plato, (Jakarta : Rajawali Press, 1991),hlm. 95
25 S.P.Varma, Teori Politik Modern, (Jakarta : Rajawali Press, 1990), hlm.3
26 Clymjer Carlton. dkk, Pengantar Ilmu Politik, (Jakarta : Rajawali Press,1993), hlm.3
Dalam perspektif realism politik, munculnya persepsi minor terhadap politik dengan anggapan politik hanya berorientasi pada kekuasaan an sich, tidak sepenuhnya keliru. Dalam wujudnya yang kongkret dan praktis, politik merupakan aktivitas individual atau kolektif yang berkaitan dengan upaya meraih dan mempertahankan kekuasaan, yang dalam perwujudanya memang cenderung sering mengabaikan prinsip moral atau etika. Karena itu, yang membuat politik menjadi negatif disebabkan begitu sering dijumpainya praktek politik untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan dengan cara mengabaikan prinsip-prinsip moral dan etika. Deviasi praktek politik sebagai intrik, intimidasi, terror, money politic, adalah sejumlah contoh politik yang tidak sehat sehingga mencerminkan bagaimana kekuasaan politik itu diraih. Konsekuensinya, sebagaimana seks, politik menjadi satu pokok yang dihindari dalam masyarkat yang sopan.28
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Kekuasaan berasal dari kata dasar kuasa, yang artinya mencakup :
“Kuasa untuk mengurus, kuasa untuk memerintah, kemampuan, kesanggupan; kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau kelompok lain; fungsi menciptakan dan memanfaatkan keadilan serta mencegah pelanggaran keadilan”.29
Arti dari fungsi untuk menciptakan dan memanfaatkan keadilan serta mencegah pelanggaran keadilan, merupakan arti kekuasaan dalam bidang politik. Kalimat ini memuat idealism dan nilai positif dari kekuasaan itu sendiri. Tetapi dalam praktek belum tentu demikian. Justru bisa jadi fungsi dari kekuasaan yang bersifat positif tersebut berubah menjadi destruktif (negatif). Mengapa demikian? Karena kekuasaan (power) mempunyai hubungan erat dengan kekerasan (coercion) dan keabsahan (legitimacy).30 Untuk mengatasi itu, maka kekuasaan harus
diatur dan dijalankan dengan sistem.31
28 David E. Apter, Pengantar Analisis Politik (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1988), hlm.5., Bandingkan pula Manan Munarizal, Pentas Politik Indonesia Pasca Orde Baru, (Yogyakarta : Ire Press, 2005), hlm. 286
29 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1990) hlm. 452
30 Santoso Thomas, Teori-Teori Kekerasan, (Jakarta : UKP& Ghalia Indonesia, 2002), hlm. 170
Soemardi Soelaeman mengutip pendapat dari Wright Mills bahwa kekuasaan itu adalah dominasi, yaitu kemampuan untuk melaksanakan kemauan kendati pun orang lain menentang.32
Max Webber dalam bukunya “The Theory Sosial and Economic” mengatakan kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya dalam satu hubungan sosial yang ada termasuk kekuatan atau tanpa menghiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.33
Serta M.G. Smith mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk bertindak secara efektif terhadap orang atau barang, dengan mempergunakan cara-cara yang berkisar dari bujukan (persuasi) sampai kekerasan.34
Apa arti dan hakekat kekuasaan bagi seorang Machiavelli? Berbicara mengenai kekuasaan dalam pemikiran filosofi politik Machiavelli, maka orang sering beranggapan bahwa kekuasaanlah yang menjadi pangkal pemikirannya. Itu tidak ada salahnya. Tetapi hal yang menduduki urutan pertama dalam pemikiran Machiavelli bukanlah pertama-tama kekuasaan, melainkan Negara. Kekuasaan hanyalah alat atau dasar bagi Negara untuk menyelamatkan dan mempertahankan eksistensinya. Selain kekuasaan yang menjadi alat dan dasar bagi Negara, maka hukum pun menjadi alat dan dasar bagi kepentingan Negara itu sendiri.
Machiavelli sebenarnya tidak sependapat dengan para pemikir politik zaman dahulu, yang mengatakan bahwa kekuasaan itu berkaitan erat dengan kebaikan, kebijakan, keadilan dan kebebasan. Atau dapat dikatakan bahwa kekuasaan itu berhubungan dengan Tuhan, maka dengan demikian kekuasaan tidak boleh dilepaskan dari etika dan religi. Bagi Machiavelli kekuasaan haruslah terlepas dari belenggu etika dan religi. Kekuasaan bukanlah alat untuk mengabdi kepada kebaikan, keadilan, kebebasan dan Tuhan. Melainkan kekuasaan itu harus mengabdi pada Negara itu sendiri. Kepenentingan Negara haruslah dinomorsatukan. Dengan demikian, bagi Machiavelli sumber kekuasaan tidak terletak pada Tuhan, melainkan kekuasaan itu sendiri bersumber pada Negara itu. Negara adalah sumber kekuasaan politik yang sesungguhnya.35
32 S. Seomardi, Cara-Cara Pendekatan Terhadap Kekuasaan Sebagai Suatu Gejala Sosial, dalam buku Budiarjo M, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, (Jakarta : Sinar Harapan, 1984), hlm. 31
33 Martin Rederick, Sosiologi Kekuasaan, (Jakarta : Radja Grafindo Persada, 1993), hlm. 71
34 Georges Balandier, Antropologi Politik, (Jakarta : Rajawali Press, 1994), hlm. 44
b. Negara
Lorenz Bagus dalam bukunya Kamus Filsafat, mengatakan bahwa :
Negara adalah suatu entitas kolektif dengan batas-batas wilayah dan organisasi politik yang menjalankan kekuasaan yang berdaulat. Istilah ini boleh jadi berasal dari “estate of realm” (golongan-golongan) feudal seperti biarawan, bangsawan dan awam. Wakil-wakil estate yang merupakan badan legislatif yang pertama, kemudian dinamakan “states” (misalnya, States-General Holland).36
Aristoteles memandang negara sebagai ciptaan alam, karena manusia yang hidup tidak dapat mencukupi dirinya sendiri dan dengan demikian harus dianggap sebagai suatu bagian dalam hubungan dengan keseluruhan.37 Tentang Negara juga, Hobbes berpendapat bahwa
Negara sebagai “makhluk buatan” hasil karya manusia dan mewakili kekuasaan-kekuasaan manusia besar, yang sesungguhnya adalah “ Allah yang dapat mati”. Namun, Negara tidak bersifat organic tetapi menyeluruh agregrat (gerombolan) bagian-bagiannya.38 Bagi Kant,
Negara adalah suatu yang berlandaskan prinsip legislasi universal Negara-negara dalam satu kongres parlemen bangsa-bangsa.39 Hegel lebih jauh menenkankan tentang kehidupan,
pemikiran dan kesadaran sebagai karateristik Negara. Ia juga berpendapat bahwa Negara harus dihormati sebagai yang ilahi di bumi, dan “gerakan Allah” di dunia. Negara kemudian, menurutnya menjadi suatu organisme yang hidup dan ilahi.40
Bentuk-bentuk Negara menurut J. Verkuyl pada dasarnya adalah oligarchi, Negara dictator, Negara totaliter, dan demokrasi.41 Sistem pemerintahan Negara atau sistem politik
Negara yang dikenal ada begitu banyak. Contohnya Aristoteles memberikan lima jenis pemerintah Negara, yakni monarki, aristokrasi, politea, oligarki dan demokrasi.42
36 Bagus Lorenz, Kamus Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 2002), hlm.691
37Ibid
38Ibid
39Ibid
40Ibid
41 Verkuyl J, Etika Kristen Ras Bangsa Gereja dan Negara, cet.ke-6, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 117
Harus dikatakan secara tegas bahwa Machiavelli sebenarnya dalam buku The Prince tidak menaruh perhatian dan pokok pembicaraannya pada bentuk-bentuk Negara. Malah bisa dikatakan bahwa persoalan-persoalan mengenai bentuk-bentuk Negara itu dinomor-duakan oleh Machiavelli.43 Bentuk Negara dijelaskan oleh Machiavelli terletak dalam bab I, buku The
Prince. Menurut Machiavelli adalah dua bentuk Negara yang telah ada dari dulu yakni republik
dan Kerajaan (Monarchies, Prinpality).
All States, all powers, that have held and hold rule over men have been and are either republics or principalities.44
Atau “
All State and Dominios which hold or have held sway over making are either republics or monarchies.45
Pemikiran bentuk Negara dari Machiavelli juga dapat kita jumpai dalam bukunya Discorsi, yang mana Machiaveli mengakui bahwa sejak dari dahulu sudah ada bentuk Negara monarki, aristokrasi dan demokrasi.
I say, that some who have written of Republics say there are (one of) three states (goverments) in them called by them Principality (monarchy), of the best (aristocracy), and popular (democracy), and that those men who institute (laws) in a city ought to turn to one of there, according as it seems fit to them. Some others (and wiser according to the opinion of many) believe there are six kinds of Goverments, of which those are very bad, and those are good in themselves, but may be so easily corrupted that they also become pernicious. Those that are good are three mentioned above : those that are bad, are three others which derive from those (first three), and each is so similar to them that they easily jump from one to the other, for the Principality easily becomes a tyranny, autocracy easily become state of the Few (oligarchies), and the Popular (democracy) without difficulty is converted into a licentious one (anarchy).46
43 Tetapi itu tidak berarti bahwa Machiavelli mengabaikan Negara. Karena bagi J.H. Rapar, pusat filosofi politik Machiavelli terletak pada Negara.
44 Roland Jhon, penerjamah, The Prince, dalam www.constitution.society.org, diakses tanggal 14 Agustus 2012
45 Band. Ricci Luigi (penerj.), The Prince, (New York : American Library, 1980), p. 33
Machiavelli menaruh perhatian pada bentuk Negara Monarki.47 Selain itu, Machiavelli juga
melihat apa itu tujuan Negara. Walaupun ada beberapa sarjana yang mengatakan bahwa Machiavelli tidak membicarakan tujuan Negara, yang ia bicarakan adalah kekuasaan Negara. Tetapi bagi saya, Machiavelli sebenarnya cukup serius membicarakan tentang tujuan Negara itu sendiri. Tujuan Negara yang paling awal adalah untuk mempertahankan diri. Kemudian setelah terbentuk Negara, maka tujuan itu pun berubah yakni ketertiban, keamanan dan ketentraman.48
Hal yang serupaya pula disampaikan oleh J.J. von Schmid, yang mengatakan bahwa sebenarnya Machiavelli pun menurut turut menaruh perhatian pada tujuan Negara itu sendiri. Bagi von Schmid, tujuan Negara menurut Machiavelli adalah Negara itu sendiri. Artinya, Negara ada untuk kepentingannya sendiri dan seharusnya mengejar tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingannya sendiri dengan cara yang dianggapnya paling tepat. Oleh sebab itu, orang menamakan ajaran Machiavelli itu ajaran tentang “Kepentingan Negara” (staatraison) karena kepentingan Negara dijadikan ukuran tertinggi untuk perbuatan-perbuatan manusia.49
Dengan demikian, maka setiap penguasa dalam menjalankan tugasnya, makanya tujuan Negara haruslah menjadi prioritas utama. Setiap kebijakan-kebijakan yang dibuat dan ditempuh oleh penguasa haruslah berdasarkan tujuan Negara itu. Hal ini menjadi suatu keharusnya, sehingga tatkala Machiavelli mengatakan bahwa apabila untuk menjaga keamanan dan ketertiban Negara, maka seorang penguasa tidak tanggung-tanggung untuk hal-hal yang jahat demi kebaikan Negara itu sendiri.
c. Hubungan Kekuasaan dan Negara
Berbicara mengenai hubungan antara kekuasaan dan Negara bagaikan dua sisi dari satu mata uang (two sides of one coin). Kekuasaan tidak dapat dilepas-pisahkan dari Negara. Karena
47 Mengingat buku The Prince ini ingin dipersembahkan oleh Machiavelli kepada Lorenzo de’ Medici yang notabene menjadi penguasa (raja) di kota Florence.
48 Rapar, Op.cit., hlm. 417, bandingkan pula dengan tujuan Negara pada abad pertengahan yakni keadilan, kebijakan, kebebasan, kesempurnaan hidup atau bagi kemuliaan Allah, yang turut mempengaruhi pemikiran Machiavelli.
kekuasaan itu ada karena Negara. Negara menjadi sumber kekuasaan. Paham ini dikenal sebagai ajaran kedaulatan Negara.50 Karena negaralah yang menjadi sumber kekuasaan, maka daripada
itu kekuasaan dalam prakteknya harus sejalan dengan tujuan Negara. Apa itu tujuan Negara? Tujuan Negara adalah mensejahterahkan kehidupan rakyat, keamanan, ketertiban, keharmonisan dalam Negara. Kekuasaan harus dilandaskan pada tujuan ini.
Teori kekuasaan Negara merupakan teori Negara yang menyatakan bahwa kekuasaan Negara harus mutlak. Ia memegang peranan mutlak dalam menentukkan apa yang baik dan seharusnya bagi rakyatnya. Pemikiran ini pertama kali dikemukakan secara sistematis oleh pemikir besar Yunani kuno yaitu Plato yang dilanjutkan oleh muridnya, Aristoteles. Bagi Plato dan Aristoteles kekuasaan yang besar pada Negara merupakan hal yang sepatutunya. Individu akan menjadi liar dan tak terkendali bila Negara tidak memiliki kekuasaan yang besar.51
Pandangan Machiavelli mengenai hubungan antara kekuasaan dan Negara adalah bahwa kekuasaan adalah alat dan dasar bagi Negara. Kekuasaan dipakai oleh Negara untuk memenuhi keinginan dan cita-citanya. Dengan begitu, kekuasaan tidak dapat dilepas-pisahkan dari Negara. Maka, bagi Machiavelli seyogianya Negara itu adalah Negara kekuasaan. Dalam Negara kekuasaan, kedaulatan berada di tangan Negara itu sendiri.52 Hal ini dikatakan oleh Machiavelli
berhubungan dengan keadaan kota Florence saat itu, yang kacau dan porak-poranda akibat perebutan tahta kekuasaan.
Kekuasaan harus diterapkan demi menjaga keamanan dan ketertiban Negara. Atas dasar inilah, Machiavelli mengajarkan cara-cara binatang dalam pemerintahan Negara, mengingat cara-cara manusia yang beradab (hukum) tidak memadai. Cara-cara kotor disukai oleh Machiavelli guna demi keamanan Negara. Machiavelli mengatakan bahwa bukan hanya bersifat a priori saja, melainkan ia belajar dari tokoh idolanya yakni Cesare Borgia, yang telah mendemonstrasikan kekuasaan (cara-cara kotor) dengan baik pada saat yang tepat pula.
Dalam hubungan kekuasaan dan Negara, maka alat-alat Negara (hukum dan militer) bagi Machiavelli harus dipakai. Menurutnya, hukum boleh dipakai untuk tempat atau Negara yang
50 Pello, J.M., Kekuasaan Menurut Alkitab, (Manado : t.p. 2000), hlm. 28
51Tinjauan Umum Kekuasaan Priseden RI, www.wikipedia.co.id, diakses tanggal 12 Agustus 2012
sedang dalam keadaan aman, tentram dan makmur. Tetapi ketika suatu Negara yang sedang dalam keadaan kacau balau serta porak-poranda, ketika hukum tidak lagi mampu untuk membendungnya, maka kekuasaan (militer) yang harus menanganinya. Militer bagi Machiavelli adalah wujud kekuasaan fisik dalam Negara. Oleh karena itu, sudah menjadi suatu keharusan bahwa Negara harus mempunyai tentara (kekuatan militer)
And to make this quite clear I say that I consider those are able to support themselves by their own resources who can, either by abundance of men or money, raise a sufficient army to join battle against any one who comes to attack them; and I consider those always to have need of others who cannot show themselves against the enemy in the field, but are forced to defend themselves by sheltering behind walls. The first case has been discussed, but we will speak of it again should it recur.53
Bagi Machiavelli dalam hubungan kekuasaan Negara dan penguasa, maka etika tidak boleh dilibatkan dalam kebijakan-kebijakan politik. Machiavelli sangat menegaskan bahwa etika sama sekali tidak boleh dipersandingkan dengan politik oleh sebab itu, alangkah salahnya apabila seseorang mengatakan bahwa filosofi politik Machiavelli adalah “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan”. Karena etika tidak dapat dimasukkan ke dalam politik, maka kata menghalalkan itu sangat berbau etis, dan itu tidak layak untuk dimasukkan dalam filosofi politik Machiavelli. Dalam dunia politik tidak ada yang namanya halal dan haram. Keduanya sama saja dan apabila diperlukan untuk menjaga kestabilan Negara, maka cara-cara haram pun harus dilakukan.
Bagi Machiavelli, sang penguasa harus bertekad hanya menganut sistem nilai politik yang semata-mata tertuju bagi kepentingan Negara, sedangkan sistem nilai-sistem nilai lainnya harus diabaikan. Machiavelli membangun suatu teri politik yang dikenal dengan istilah “Kepentingan Negara” (reason of state atau staatsraison). Dalam teori “kepentingan Negara” Machiavelli, seluruh tindakan dan perbuatan yang bersifat kriminal, amoral, licik, jahat dan kejam yang dilakukan oleh penguasa dapat dibenarkan.54 Dengan berkata demikian, maka konsekuensi yang
harus diterima oleh Machiavelli ialah ia dicap sebagai seorang yang amoral dan tidak beretika.
53 Roland Jhon, Op.cit.,
Walaupu Machiavelli memisahkan antara politik dan etika, itu bukan berarti bahwa Machiavelli membuat sikap acuh tak acuh pada etika dan moralitas. Memang ia menyetujui tindakan-tindakan criminal, amoral, keji, kejam, dsb., tetapi bagi Machiavelli hal itu hanya dapat dibenarkan dalam keadaan darurat, serta demi kepentingan Negara semata-mata. Kejahatan tidak boleh menjadi tujuan dari segala tindakan dan perbuatan penguasa. Walaupun etika harus dipisahkan dari politik, tetapi para penguasa harus memiliki standar atau ukuran moralitas tertentu. Artinya ialah seorang penguasa seharusnya memiliki moralitas tertentu yang berbeda dari rakyatnya, karena penguasa dapat berperan sebagai manusia atau sebagai “binatang” sedangkan rakyat tidak demikian.
Selain etika, agama pun bagi Machiavelli harus ditiadakan dalam politik. Untuk pengambilan suatu kebijakan oleh seorang penguasa, maka faktor pertimbangan agama tidak boleh berada di dalamanya.55 Agama hanya salah satu faktor dalam masyarakat dan merupakan
salah satu kekuatan yang perlu digunakan oleh para penguasa untuk memperkuat Negara atau untuk melayani kepentingan Negara. Jadi walaupun agama memiliki tempat yang istimewa dalam Negara, tetapi bukan berdasarkan kebenaran agama itu, melainkan karena nilai-nilai politis yang dimilikinya.56
Machiavelli pun tidak tanggung-tanggung untuk melihat agama Kristen bukan secara filsafat maupun teologis, tetapi ia melihatnya dari sudut pandang pragmatis dan politik. Apabila agama Kristen diperbandingkan dengan agama Romawi kuno, maka yang terlihat adalah kehampaan dan kekosongan. Oleh sebab itu, bagi Machiavelli kekosongan dan kehampaan itu ada karena kekristenan terlalu menyanjung dan memuliakan orang-orang yang sederhana serta senang berkontemplasi dari pada bertindak (men of action). Kekristenan hanyalah mendorong dan merangsang orang untuk mengejar kepuasan rohani belakan dan secara pribadi mengabaikan Negara sebagai persekutuan politik, terbengkalai, tak terurus dan terpecah-belah. Dengan demikian peran agama yang paling penting bagi Machiavelli ialah menjadi alat
55 Ungkapan ini dilantorkan oleh Machiavelli, sebab pada abad pertengahan setiap kebijakan yang hendak diambil oleh seorang pangeran atau penguasa, pertama-tama harus didasarkan pada emosional agama. Selain itu, setiap pengangkatan seorang penguasa, maka agama yang harus memilihnya. Hal ini bagi Machiavelli akan berakitab fatal bagi kehidupan dan perkembangan politik ke depan. Di sisi lain, pandangan Machiavelli inipun telah dipengaruhi oleh humanisme yang hendak mengembalikan otonomi manusia seradikal mungkin, tanpa ada intervensi dari luar, khususnya agama (gereja katolik pada saat itu lewat Sri Paus)
kekuasaan politik, dan agama harus menjadi abdi politik. Oleh karena pendirian tersebut, Machiavelli pada abad ke-16 dicap sebagai rasul setan.57
C. Pandangan Biblis Mengenai Politik Kekuasaan Negara
a. Menurut Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, kekuasaan Negara atau kekuasaan kerajaan khususnya bangsa Israel tidak “berkumandang”. Hal ini disebabkan karena pada awalnya ketika Yahwe yang memperkenalkan diri kepada bangsa Israel tidak langsung mempunyai tujuan untuk menjadikan Israel sebagai suatu Negara.
Menurut Christop Barth dalam bukunya Theologi Perjanjian Lama 2, bahwa pengangkatan raja-raja di Israel sebenarnya menandakan bahwa Israel sudah menetapkan atau memproklamasikan diri mereka sebagai suatu Negara. Tetapi yang yang dimaksudkan tidak seperti Negara-negara yang ada pada saat itu (contohnya Babel, Amon, dsb).58 Lebih jauh Barth
mengatakan bahwa bangsa Israel memproklamirkan diri mereka sebagai Negara ketika diangkatnya raja-raja disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Umat Israel pernah tampil sebagai persekutuan yang tidak mempunyai raja; mereka tetap ingat dan sadar akan hal itu. Persekutuan mereka rada longgar, dengan suku-suku itu hidup lepas yang satu daripada yang lain.
2. Keadaan ini berubah ketika suku-suku Israel mulai bercocok tanam di Kanaan. Bangsa-bangsa penduk asli hamper semuanya mempunyai rajanya masing-masing. Untuk pertama kalinya di sinilah suku-suku Israel belajar dan mengenal sistem pemerintahan yang rapih dan kuat itu; dan di sini pula, barulah mereka sadar akan kelemahan mereka sendiri yang tidak mempunyai raja.
3. Perkembangan suku-suku Israel di Kanaan ternyata tidaklah seperti yang diharapkan, malah sebaliknya semakin dibahayakan oleh bangsa-bangsa penduduk asli dan tetangga. Amelek dan Median menekan dari Selatan, Moab dan Amon dari Timur. Keadaan ini membuat posisi Israel terjepit dan membuat Israel terkukung.
57 Bandingan dengan Machiavelli dalam www.plato.edu, diakses pada tanggal 15 Agusutus 2012
4. Karena terjadinya penindasan yang begitu hebat oleh bangsa Filistin atas bangsa Israel, sehingga kita tiba-tiba melihat suku-suku itu menerima Saul sebagai rajanya yang pertama; hanya suku Yehuda rupanya belum tergabung di dalam kerajaan nasional yang bernama Israel ini (2 Sam. 2,9). Kemudian terbentuklah kerajaan Yehuda dibawah pemerintahan Daud (2 Sam. 2 : 1-7).
5. Sistem pemerintahan yang baru ini menyebabkan perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat Israel. Keamanan dan ketertiban menjadi lebih terjamin, baik ke dalam maupun ke luar.
6. Sistem kerajaan baru, sedikit mengadopsi sistem dari bangsa-bangsa asing, tetapi ciri khas Israel tetap melekat dan tidak dapat dihilangkan.
7. Sistem umat Israel tidak mempunyai raja-raja, demikianlah pernah datang waktunya, dimana mereka tidak mempunyai raja lagi. 59
Nyatalah bahwa tujuan didirikannya ‘negara’ Israel diakibatkan oleh dorongan-dorongan factor dari dalam (bangsa Israel sendiri dan bangsa Kanaan) dan juga dari luar (Amon, Moab, Median, dll).
Satu hal yang patut diingat bahwa hadirnya “Negara” Israel dengan diangkatnya raja-raja bukan berarti Allah telah seratus persen memberikan kekuasaan kepada raja-raja tersebut. Tetapi dengan adanya Negara Israel dalam bentuk kerajaan justru Allah secara langsung terlibat di dalam Negara itu. Contoh keterlibatan Allah Nampak dalam sistem Negara kerjaan Israel, yakni sistem teokrasi. 60
Israel menggunakan bentuk Negara-kerajaan dan sistem politiknya ialah Teokrasi, maka secara pasti raja adalah pengemban tugas kerajaan. Raja di Israel bukanlah penguasa mutlak.61
Kekuasaan politik absolut kerajaan tidak terletak di tangan raja, tetapi terletak di tangan Yahwe atau Tuhan. Bagi bangsa Israel, raja-raja merupakan alat yang berada di dalam tangan Tuhan, penggunaan lembaga itu di dalam kebijaksanaanNya selaku penguasa tertinggi atas umat-Nya
59Ibid, hlm. 62
60 Akar kata Teokrasi berasal dari bahasa Yunani, Theos (Allah, dewa-dewa) dan Cratos (pemerintahan). Jadi Teokrasi adalah pemerintahan Allah. Bandingkan pula Saut Sirait, Op.cit, hlm. 80
dan manusia seluruhnya.62 Lebih daripada itu, Yahwe memberika raja “hati yang lain”
kepadanya “Roh Tuhan berkuasa atasnya (1 Sam.10 : 9).63 Dengan keyakinan bahwa Yahwe
mengharapkan suatu pemerintahan yang berjalan adil, jujur dan tetap berlandaskan pada hukum Tuhan (Dasatitah/Ten Commandments).64
Ketetapan dan ketegasan yang telah diberikan oleh Allah kepada raja-raja Israel sebagai ‘penguasan’ untuk tetap memerintah dengan baik, jujur dan tetap bersandar pada hukum Tuhan, terkadangpun mengalami pasang surut. Hal ini dapat kita lihat pada masa kepemimpinan Saul-Daud-Salomo. Kejayaan bangsa Israel terletak pada ketika orang ini. Pada saat-saat tertentu, ketika orang ini dipuja-puja oleh bangsa Israel, tetapi pada saat tertentu pula mereka bertiga menerima hukuman Tuhan karena melakukan kesalahan.65
Jadi berbicara mengenai kekuasaan Negara/kekuasaan kerajaan dan ‘penguasa’ atau raja-raja dalam bangsa Israel semuanya terpusat pada Yahwe atau Tuhan. Kekuasaan keraja-rajaan diberikan oleh Yahwe untuk Israel adalah dalam rangka untuk mereka tetap dapat mempertahankan eksistensi mereka dalam dunia ini. Dan juga kekuasaan diberikan oleh Yahwe adalah dalam rangka Israel tetapi setia kepada Yahwe, dan yang lebih penting ialah supaya Israel dapat saksi kebenaran tentang Yahwe bagi bangsa-bangsa lain.
Hal pengangkatan ‘penguasa’ atau raja-raja oleh Yahwe adalah merupakan suatu kesaksian bahwa Yahwe mengikut sertakan tokoh-tokoh manusia dalam pemerintahanNya sendiri atas umat itu. Semua raja dan pemerintah di bumi memperoleh kuasanya dari atas; raja-raja Israel selebihnya diangkat sebagai saksi Kerajaan Allah yang akan datang. Raja-raja atau ‘penguasa’ Israel diangkat oleh Yahwe dengan fungsi mereka sebagai penyelamat, pembela keadilan dan pembawa damai sejahtera di bumi, pertama-tama dalam lingkungan itu sendiri.
b. Menurut Perjanjian Baru
62Ibid, hlm. 59
63 Saut Sirait, Op.cit, hlm. 101
64 Barth C, Op.cit, hlm.59
Dalam Perjanjian Baru, ada begitu banyak perkataan-perkataan yang menyinggung masalah kekuasaan. Tetapi tidak semua masalah kekuasaan yang disebutkan menunjukkan pada kekuasaan yang bersifat politik. Bahkan lebih ekstrim lagi, Guthrie mengatakan bahwa “Perjanjian Baru bukanlah perwujudan politik.66 Baginya ajaran mengenai kerajaan justru
bersifat rohaniah. Tetapi sebagai gantinya suatu pola bagi masyarakat yang didasarkan atas perancaan politik, Perjanjian Baru mencurahkan perhatian pada suatu masyarakat yang ditebus, yang ciri-cirnya tampak ideal bagi orang yang berada di luar iman Kristen. Dengan demikian Guthrie berbicara mengenaga ‘negara’, maka sebenarnya kita membicarakan hal kerohanian.
Pandangan yang berbeda dengan Guthrie justru datang dari seorang teolog raksasa yakni Karl Barth. Baginya “Injil bernada politik sejak awal mulanya”.67 Barth menggambarkan
bagaimana dua lingkaran bernada politik konsentris : pusatnya ialah Kristus dan Kerajaan Allah, lingkaran dalam adalah gereja dan lingkaran luar adalah negera. Maka dalam hal Negara. Barth tidak membuat suatu Negara ideal menurutnya (Negara teosentris atau Negara Kristen). Oleh sebab itu, baginya suatu system politik manapun dikembangkan manusia dan perlu diuji secara praktis untuk melihat apakah melalui undang-undang (UU) dan tata tertib tersedia suatu ruang yang secara lahiriah, relative dan sementara orang dapat hidup secara manusiawi. Maka gereja bertugas untuk bersaksi kepada Negara bahwa kegiatannya merupakan suatu “perumpamaan tentang kerajaan Allah” sehingga kebijaksaan manusia dan kebijaksanaan Allah berjalan sejajar, sekalipun berjauhan.68
Dengan demikian, teori Barth berdasarkan fakta bahwa Allah menjadikan manusia dalam Yesus Kristus menuju pada suatu Negara yang menomorsatukan manusia secara kongkrit dan bukan usaha yang abstrak: pembenaran diumpamakan dalam Negara hukum: bahwa Kristus mencari mereka yang hilang diumpamakan dalam Negara yang bertanggung jawab atas warganya yang miskin, yang lelah secara ekonomi dan sosial; persekutuan gereja sejajar dengan suatu masyarakat yang tdaik bersifat individual maupun kolektif: ketuhanan yang mahaesa tercermin dalam Negara, dimana semua warganya memiliki kemerdekaan dan tanggung jawab
66 Guthrie Donal, Teologi Perjanjian Baru 3, Eklesiologi, Eskatologi, Etika, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1998), hlm. 308
67 Green Clifford, Karl Barth : Teologi Kemerdekaan, Kumpulan Cuplikan Karya Karl Barth, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1998), hlm. 330
yang sama, yang mana orang-orang tidak dibatasi karena agama, kelas dan rasa, maupun jenis kelamin.69
D. Penutup
Dari berbagai penjelasan di atas mengenai teori-teori kekuasaan Negara dan penguasa, maka kita menyadari bahwa kekuasaan merupakan sesuatu hal yang sangat penting di dalam kehidupan manusia, karena kekuasaan selalu hadir dalam bentuk yang cukup kongkret. Kekuasaan selalu memainkan peran ganda, yang mana pada satu sisi ia dapat bersifat negatif (kasar) dan di sisi lain ia dapat memberikan manfaat yang positif (lembut). Kedua sisi ini harus dipahami dan dimengerti dengan baik oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan.
Kita mengamini bahwa kekuasaan pada mulanya bersumber dari Allah, yang mana Allah telah memberikan kekuasaan tersebut untuk menjaga, memelihara dan melindungi ciptaanNya. Kekuasaan mulai menjadi momok yang menakutkan ketika sumber kekuasaan itu tidak lagi berasal dari Tuhan. Akhirnya banyak orang yang mulai menafsirkan kekuasaan sebagai pemaksaan kehendak pribadi kepada orang lain. Akibat dari beralihnya sumber kekuasaan dari Allah kepada yang lain, maka sudah selakyaknya kekuasaan itu harus diatur dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar seorang penguasa tidak semena-mena dalam menjalankan kekuasaannya.
Akhir dari semua hal mengenai kekuasaan, maka penulis memberikan suatu tekanan pada teori-teori politik kekuasaan Machiavelli, bahwa teori-teori tersebut harus dikritisi sedemikian rupa agar jangan sampai kita terjebak dalam kesalahpahaman, sebab banyak sekali orang yang salah dalam menafsirkan pandangan-pandangan politik kekuasaan Machiavelli.
Kepustakaan
Achmad Ali, Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan Termasuk Intepretasi Undang-Undang, Vol. I, Pemahaman Awal, (Jakarta : Kencana, 2009)
Budiarjo M, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia,1991)
Budiarjo M, Konsep Kekuasaan : Tinjauan Kepustakaan, dalam buku Aneka Pemikiran
Tentang Kuasa dan Wibawa, (Jakarta : Sinar Harapan, 1984)
Bagus Lorenz, Kamus Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 2002)
Barth C, Teologi Perjanjian Lama 2 (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000)
Bakker F, L., Sejarah Kerajaan Allah 1, Perjanjian Lama, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000)
Clymjer Carlton. dkk, Pengantar Ilmu Politik, (Jakarta : Rajawali Press,1993) David E. Apter, Pengantar Analisis Politik (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1988)
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1990)
Georges Balandier, Antropologi Politik, (Jakarta : Rajawali Press, 1994)
Guthrie Donal, Teologi Perjanjian Baru 3, Eklesiologi, Eskatologi, Etika, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1998)
Green Clifford, Karl Barth : Teologi Kemerdekaan, Kumpulan Cuplikan Karya Karl Barth, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1998)
Hoselitz Bert F (ed), Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial : Pendekatan Antara Disiplin dan Bacaan Awal Sebelum Memilih Spesialisasi, terjemahan Achmad F, dkk. (Jakarta : Rajawali Press, 1998)
Jhon, R. Hale, Zaman Renaissance, (Jakarta : Tira Pustaka, 1984)
J.H. Rapar, Filsafat Politik Plato, Aristoteles, Agustinus, Machiavelli (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001)
J.H.Rapar, Filsafat Politik Plato, (Jakarta : Rajawali Press, 1991)
Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, Pasca Reformasi, (Jakarta : Bhuana Ilmu Populer (BIP), 2008)
Mangunhardjana A, Isme-Isme Dalam Etika, dari A sampai Z, (Yogyakarta : Kanisius, 1996)
Manan Munarizal, Pentas Politik Indonesia Pasca Orde Baru, (Yogyakarta : Ire Press, 2005)
Martin Rederick, Sosiologi Kekuasaan, (Jakarta : Radja Grafindo Persada, 1993) Pello, J.M., Kekuasaan Menurut Alkitab, (Manado : t.p. 2000)
Ricci Luigi (penerj.), The Prince, (New York : American Library, 1980), p. 33
Schimd von J.J., Ahli-ahli Pikir Besar Tentang Negara dan Hukum, (Jakarta : PT. Pembangunan, 1980)
Saut Sirait, Politik Kristen Di Indonesia, Suatu Tinjauan Etis, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001)
Santoso Thomas, Teori-Teori Kekerasan, (Jakarta : UKP& Ghalia Indonesia, 2002) Suseno F. M, Kuasa dan Moral (Jakarta : Gramedia, 1988)
S. Seomardi, Cara-Cara Pendekatan Terhadap Kekuasaan Sebagai Suatu Gejala Sosial, dalam buku Budiarjo M, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan Wibawa, (Jakarta : Sinar Harapan, 1984)
Seri Driyakara 4, Sebuah Bunga Rampai Dari Sudut-Sudut Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1977), hlm. 94
S.P.Varma, Teori Politik Modern, (Jakarta : Rajawali Press, 1990)
Tom Therik, Hegemoni Pemerintah dan Registensi Masyarakat, dalam Zakaria J. Ngelow (ed.), Seberkas Cahaya di Ufuk Timur : Pemikiran Teologi dari Makasar
(Makasar : STT Intim Makasar, 2002)
Verkuyl J, Etika Kristen Ras Bangsa Gereja dan Negara, cet.ke-6, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993)
www.extext.literatur.org www.people.brandies.edu www.english.literatur.org
www.pareto.org