SEKILAS HUKUM ISLAM DI ASEAN
( INDONESIA, MALAYSIA DAN BRUNEI DARUSSALAM )
Pendahuluan
ASEAN ( Assosiation of South East Asian Nations ) merupakan suatu organisasi perhimpunan bangsa-bangsa asia tenggara yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus196. Di ASEAN (Asia Tenggara) mayoritas penduduknya ialah umat muslim. Seperti di Negara Federasi Malaysia, Islam menjadi agama resmi. Kerajaan Brunei Darussalam, Negara Indonesia penduduknya mayoritas atau sekitar 90% beragama Islam), Burma (sebagian kecil penduduknya beragama Islam), Republik Filipina, Kerajaan Muangthai, Kampuchea, dan Republik Singapura. Dari segi jumlah, hampir terdapat 300 juta orang di seluruh Asia Tenggara yang mengaku muslim. Berdasar kenyataan ini, ASEAN (Asia Tenggara) merupakan satu-satunya wilayah Islam yang terbentang dari Afrika Barat Daya hingga Asia Selatan, yang memiliki penduduk muslim terbesar. Asia Tenggara dianggap wilayah terbanyak pemeluk agama lslamnya. Termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur lndia sampai lautan Cina dan mencakup lndonesia, Malaysia dan Filipina.
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarkan melalui kegiatan kaum pedagang. Berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarkan melalui penaklulan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.1
Kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat dengan para pedagang baik dari Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Sekitar abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi inilah yang dimanfaatkan para pedagang muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.
1. Hukum Islam di Indonesia
Islam di Indonesia (Asia Tenggara) merupakan salah satu dari tujuh cabang peradaban Islam (sesudah hancurnya persatuan peradaban Islam yang berpusat di Baghdad tahun 1258 M). Ketujuh cabang peradaban Islam itu secara lengkap adalah peradaban Islam Arab, Islam Persia, Islam Turki, Islam Afrika Hitam, Islam anak Benua India, Islam Anak Melayu, dan Islam China. Kebudayaan (peradaban) yang di sebut Arab Melayu tersebar di wilayah Asia Tenggara memiliki ciri-ciri universal menyebabkan peradaban itu tetap mempertahankan bentuk integralitasnya, tetapi pada saat yang sama tetap mempunyai unsur-unsur yang khas di kawasan itu.
Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat pada umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politik suatu kerajaan kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan dengan pedagang-pedagang Muslim yang posisi ekonominya kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan. Apabila kerajaan Islam sudah berdiri, penguasannya melancarkan perang terhadap kerajaan non-Islam. Hal itu bukanlah persoalan agama tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Pada semua system hukum telah memiliki sarana yang disebut dengan sumber-sumber hukum yang berperan untuk memberikan solusi yang dapat menjadikan system tersebut aksereratif dengan segala peristiwa dan pembuat system tersebut semakin berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan dan peradaban manusia. Hukum di Indonesia dapat dilihat dari beberapa hal, pertama, hukum yang berasal dari adat- istiadat dan norma- norma masyarakat yang diterima secara turun temurun. Kedua, hukum yang berasal dari ajaran agama. Dalam sejarah sejumlah orang yang mengklaim menerima pesan ilahi atau hikmah sudah ada sejak dulu. Dan ketiga, adalah hokum sebagai keleruhan antara kehidupan bersama yang berasal dari legislator resmi yang disertai dengan saksi tertentu.
dari suatu proses pertumbuhan yang berlangsung terus menerus sejak awal kelahirannya hingga kini. Perkembangan dilakukan melalui beberapa proses atau periode- periode sebagai berikut:
a. Proses permulaan hokum islam atau biasa disebut periode Rosul ( Antara tahun XIII SH XI H)
b. Periode Persiapan Hukum Islam / Periode Sahabat atau Khulafaurrosyidin (atara tahun XI H 101 H)
c. Periode Penyempurnaan/ Periode Pembinaan Hukum Islam (Antara abad II abad IV H)
d. Periode Kemunduran Hukum Islam / Periode Kebekuan Hukum Islam (Antara abad IV- XIII H)
e. Periode Kebangkitan ( dimulai awal abad ke XIV hingga kini)
Hukum islam sebagai salah satu hukum yang berlaku juga di Indonesia memiliki kedudukan dan arti yang sangat penting dalam rangka pelaksanaan dan pembangunan dunia maupun akhirat dan baik bidan materil maupun spiritual. Sebagai contoh perkawinan yang ada di Indonesia, pencatatan perkawinan sangatlah perlu, dan batas usia nikah yang di berlakukan yakni pria 18 dan wanita 16 tahun yang kemudian diatur dalam KHI disebutkan bahwa seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada isterinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada pengadilan agama yang mewilayahi tempat tinggal isteri
Di Indonesia diatuangkan dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2008, merupakan penegasan ulang terhadap Perma sebelumnya yaitu Nomor 2 Tahun 2003
Sebenarnya dengan dilaksanakannya rukum islam yang pertama, yakni mengucap dua kalimat syahadat, maka secara otomatis Hukum Islam berlaku bagi orang yang melafalkannya, artinya pada tiap muslim itu telah berlaku hokum islam. Sebagaimana digagas oleh beliau H. A. R. Gibb, bahwa orang yang telah menerima islam sebagai agamanya berarti ia telah menerima otoritas hokum islam atas dirinya. 1. Selain itu juga
ada teori yang dikembangkan oleh Lodelijk willem Christian Van den Berg (1845- 1927) menurutnya bahwa orang islam Indonesia telah melakukan resepsi hokum ilsam dalam keseluruhannya dan sebagai satu kesatuan atau dengan kata lain bahwa hukum mengikuti agama yang dianut seseorang.
2. Hukum Islam di Brunei Darussalam
Masuknya islam ke Brunei Darussalam sejalan dengan masuknya islam ke Nusantara, yakni setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M. Sebelum datangnya Inggris, undang-undang yang digunakan ialah undang-undang islam yang telah dikonunkan dengan hukum qonun Brunei. Dalam mukadimah Hukum Kanun Brunei disebutkan bahwa isi hukum ini adalah adat yang dijunjung tinggi dan diwariskan secara turun temurun. Tujuan dibuatnya hukum ini sebagai panduan dan teladan bagi para sultan, wazir, cheteria, hingga menteri dalam menjalankan pemerintahan untuk kepentingan rakyat. Selain itu, hukum ini juga mengatur tentang hukuman bagi orang-orang yang telah melanggar aturan Kesultanan Brunei Darussalam. Hukum Kanun Brunei mencerminkan bahwa Hukum Islam ditegakkan di wilayah Kesultanan Brunei Darussalam, bahkan menjadi azas dan dasar pemerintahan. Hukum Islam yang dipadukan dengan unsur hukum adat Melayu ini senantiasa diwariskan kepada setiap Sultan yang memerintah Brunei Darussalam.
Perkembangan Islam di Brunai tidak bisa terlepas dari Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafii. hal ini terlihat dari mazhab resmi Negara tersebut, yaitu mazhab SyafiI 2. Sekalipun Brunei telah menerima Islam sebagai agama resmi sejak
pemerintahan Sultan Mahmud Syah, yang diperkirakan sejak 1368, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Ahmad, dan diteruskan oleh Sultan Sharif Ali, Islam diperkirakan telah tersebar di Brunei jauh sebelum itu, karena Brunei merupakan daerah transit dan persinggahan pedagang-pedagang Islam yang mengembangkan Islam ke wilayah ini3.
Perkembangan islam semakin maju setelah pusat penyebaran dan kebudayaan Islam, Malaka jatuh ketangan portugis (1511) sehingga banyak ahli agama Islam pindah ke Brunei. Kemajuan dan perkembangan Islam semakian nyata pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, seluruh Pulau Kalimantan (Borneo), Kepulauan Sulu, Kepulauan Balakac, Pulau Banggi, Pulau Balambangan, Matanani, dan Utara Pulau Pallawan sampai ke Manila. Pemerintahan Negara Brunei, sebagaimana tercatat dalam Kanun Brunei dan pernah
2Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, ( Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2008), hal. 230
dijalankan sebelum menyebarluasnya sistem atau gaya pemerintahan ala Barat (Inggris), adalah suatu pemerintahan yang terdiri dari Sultan, Jemaah perunding, dan Penasihat. Dimulai pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad Hasan (1582-1598) Brunei mempunyai pemerintahan yang berbentuk piramida, dengan Sultan berada pada puncaknya, sedang dibawahnya adalah empat orang wazir4.
Raja Brunei Darussalam telah mengesahkan serta mengumumkan hukum Jinayah Syariah 2013 sebagai hukum materil dan hukum formil pelaksanaan syariat Islam di Brunei Darussalam. Hukum tersebut resmi diamalkan dalam Negara enam bulan setelah disahkan dan diumumkan kepada publik, yaitu tepat pada 22 April 2014 lalu. PBB bereaksi keras dan melarang perberlakuan hukum tersebut. Juru bicara PBB untuk hak asasi manusia (HAM) Rupert Colville mengatakan, hukuman mati bagi semua kesalahan adalah bertentangan dengan hukum internasional. Ia meminta agar Brunei Darussalam menangguhkan pelaksanaan hukum Islam sehingga peraturan tersebut tidak bertentangan dengan HAM. Mahkamah syari'ah Brunei hanya dibenarkan melaksanakan Undang-undang Islam yang berkaitan dengan perkara-perkara kawin, cerai, dan ibadah (khusus). Sedangkan masalah yang berkaitan dengan jinayah diserahkan kepada Undang-undang Inggris yang berdasarkan Common Law England. Untuk seterusnya peraturan dan perundang-undangan di Brunei terus-menerus mengalami perombakan. Membandingkan hokum perkawinan yang berlaku di Indonesia, di Negara ini pernikahan tidak dicatat tidak masalah dan batasan umur bagi pria yang telah baligh dan bagi wanita yang telah datang udzur. Jika perempuan dicerai sebelum disetubuhi, maka ia tidak boleh dikawinkan dengan orang lain kecuali oleh suaminya.
Sedangkan hukum jinayah syariah yang menjadi dasar Implementasi syariat Islam di Brunei Darussalam yang sangat ditakuti oleh dunia barat, Amerika Serikat dan juga organisasi PBB mengandung poin-poin jinayah yang diatur dalam Alquran dan Al-Sunnah, di antaranya: Hirabah (perampokan), perampok akan dikenakan hukuman qishash kalau yang dirampok mati atau potong tangan kalau hanya mengambil harta saja dan tidak membunuh korban. Bagi pelaku zina yang muhshan (sudah menikah) akan dirajam sampai mati dan pezina ghairu muhshan (belum menikah) disebat 100 kali. Hukuman bagi pelaku liwath (homoseksual) yang sudah menikah adalah denda tidak lebih dari 14,000 dolar Brunei, penjara tidak lebih tiga tahun atau kedua-duanya sekaligus
dan disebat tidak melebihi 20 sebatan. Kalau ia belum menikah didenda tidak lebih dari 8,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi dua tahun atau kedua-duanya sekaligus dan disebat tidak melebihi 10 sebatan. Dalam Bab 197 diatur tentang peringatan untuk para pemuda dan orang tua yang tidak ada hubungan sah di sisi agama (perbuatan tidak senonoh yang menjejaskan imej Islam) didenda tidak melebihi 2,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi dari enam bulan atau kedua-duanya sekaligus. Perlu diketahui bahwa implementasi syariat Islam di negara kaya sumber daya alam berpenduduk 408.786 jiwa itu, sudah berlaku sebelum Inggris menjajah negara tersebut.
Bagi yang hamil di luar nikah hukumannya adalah: yang statusnya sudah menikah denda tidak melebihi 8,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi dua tahun atau kedua-duanya sekaligus. Kalau dia belum menikah denda tidak melebihi 4,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi satu tahun atau keduanya sekaligus. Bagi yang menggugurkan janin didenda tidak melebihi 20,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi lima tahun atau keduanya sekaligus. Bagi penduduk Brunei Darussalam yang menjejaskan imej Islam seperti berpakaian yang tidak Islami akan didenda tidak melebihi 2,000 dolar Brunei, dihukum penjara tidak melebihi enam bulan atau keduanya sekaligus.
6. Hukum Islam di Malaysia
Malaysia adalah negara yang berdiri pada 31 agustus 1957 dipimpin oleh perdana menteri pertamanya Tengku Abdul Rahman. Malaysia merupakan negara federasi yang terdiri dari 13 negara bagian dengan ketentuan 11 di semenanjung Malaysia dan 2 lagi di pulau kalimantan, negara ini juga merupakan negara bekas jajahan inggris yang penduduknya meliputi campuran aneka latar belakang, warna kulit, suku bangsa dan budaya yang separuh lebih masyarakatnya beragama islam dengan berlatar belakang melayu. Federasi ini terbentuk pada tanggal 16 September 1963. Kepala negara Malaysia adalah seorang raja dengan gelar Yang Dipertuan Agung. Pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri yang berhak membentuk Kabinet.
Gujarat. Proses Islamisasi ini berjalan baik dengan berdirinya kerajaan Islam yang pertama di Semenanjung .
Implementasi hukum Islam di Malaysia, tampak dari kodifikasi yang dilakukan yang telah melewati tiga fase, yaitu5:
a. Periode Melayu
Kodifikasi hukum paling awal termuat dalam prasasti Trengganu yang di tulis dalam aksara Jawi, berisi daftar singkat mengenai sepuluh aturan dan bagi siapa yang melangarnya akan mendapat hukuman. Selain kodifikasi hukum tersebut, terdapat juga buku aturan hukum yang singkat, satu diantaranya adalah Risalah Hukum Kanun atau buku Hukum Singkat Malaka yang memuat aturan Hukum Perdata dan Pidana Islam. b. Periode penjajahan Inggris
Pada fase penjajahan Inggris, posisi hukum Islam sebagai dasar negara berubah. Administrasi hukum Islam dibatasi pada hukum keluarga dan beberapa masalah tentang pelanggaran agama.
c. Periode kemerdekaan
Pada awal kemerdekaan Malaysia, pengaruh serta pakar hukum Inggris masih begitu kuat, tetapi di beberapa negara bagian telah diundangkan undang-undang baru mengenai administrasi hukum Islam. Ini bertujuan untuk memberikan pendasaran konstitusi pada Majelis Agama Islam, Departemen Agama, dan Pengadilan Syariah.
Pada dekade 80-an telah diupayakan perbaikan hukum Islam di berbagai negara bagian. Untuk itu, sebuah konferensi nasional telah diadakan di Kedah untuk membicarakan hukum Islam, khususnya yang berkaitan dengan masalah hukum pidana. Maka dibentuklah sebuah komite yang terdiri dari ahli hukum Islam dan anggota bantuan hukum, kemudian mereka dikirim ke berbagai negara Islam untuk mempelajari hukum Islam dan penerapannya di negara-negara tersebut. Sebagai wujud perhatian pemerintah federal kepada hukum Islam, maka pada saat yang sama dibentuk beberapa komite yang
5
tujuannya untuk menelaah struktur, yuridiksi, dan wewenang Pengadilan Syariah dan merekomendasikan pemberian wewenang dan kedudukan yang lebih besar kepada hakim Pengadilan Syariaah, mempertimbangkan suatu kitab UU hukum keluarga Islam yang baru guna mengantikan yang lama sebagai penyeragaman UU di negara-negara bagian.
Sejak tahun 1980-an Islam di Malaysia mengalami kebangkitan yang ditandai dengan semaraknya kegiatan dakwah dan kajian Islam oleh kaum intelektual. Hal ini mulai dirintis oleh seorang antropolog Canada Juqith Nagata dalam karyanya The Flowering of Malaysian Islam. Serta beberapa karya lain seperti Islamic Resurgence oleh Candra Muzaffar, Islamic Revivalisme in Malaysia oleh Zainal Anwar.
Upaya melaksanakan hukum Islam selain bidang ibadah dan kekeluargaan (perkawinan, perceraian, kewarisan) di negara-negara Asia Tenggara saat ini merupakan fenomena kultural umat yang latar belakangnya dapat dilihat dari berbagia segi. Diantaranya ialah bahwa hukum Islam telah menjadi hukum yang hidup di dalam masyarakat yang beragama Islam di Asia Tenggara, karena hukum Islam berkembang bersamaan dengan masuknya Islam di kawasan ini. Sebagai contoh seperti diatas bahwa pemerintah mewajibkan untuk mencatat setiap perkawinan yang terjadi dan jika tidak itu tidak mumbuat perkawinan menjadi tidak sah akan tetapi perkawinan tersebut tidak akan diakui oleh Negara. Batas usia nikah pria dan wanita jika telah sesuai syarat islam. Jika perempuan ditalak maka suami harus adanya permohonan terhadap pengadilan.
Sebagai hukum yang hidup yang inheren dalam kehidupan umat Islam, maka hukum Islam telah menjadi bagian dari kehidupan umat, sehingga hukum Islam tidak lagi dirasakan sebagai norma-norma hukum yang dipaksakan dari luar diri masing-masing pemeluknya. Jika diamati, maka implementasi hukum Islam di Malaysia, tampak dari kodifikasi yang dilakukan yang telah melewati tiga fase, masing-masing periode Melayu, penjajahan Inggris, serta fase kemerdekaan. Kodifikasi hukum paling awal termuat dalam prasasti Trengganu yang di tulis dalam aksara Jawi, memuat daftar singkat mengenai sepuluh aturan dan bagi siapa yang melangarnya akan mendapat hukuman. Selain kodifikasi hukum tersebut, juga terdapat buku aturan hukum yang singkat, salah satu diantaranya adalah Risalah Hukum Kanun atau buku Hukum Singkat Malaka yang memuat aturan Hukum Perdata dan Pidana Islam.
pelanggaran agama. Pada fase awal kemerdekaan Malaysia, pengaruh serta pakar hukum Inggris masih begitu kuat, namun di beberapa negara bagian telah diundangkan undang-undang baru mengenai administrasi hukum Islam. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pendasaran konstitusi serta wewengan pada Majelis Agama Islam, Departemen Agama, dan Pengadilan Syariah
Di Asia Tenggara, Islam merupakan kekuatan sosial yang patut diperhitungkan, karena hampir seluruh negara yang ada di Asia Tenggara penduduknya, baik mayoritas ataupun minoritas memeluk agama Islam. Dari segi jumlah, hampir terdapat 300 juta orang di seluruh Asia Tenggara yang mengaku sebagai Muslim. Berdasar kenyataan ini, Asia Tenggara merupakan satu-satunya wilayah Islam yang terbentang dari Afrika Barat Daya hingga Asia Selatan, yang mempunyai penduduk Muslim terbesar.
Perkembangan hukum islam di asia tenggara meliputi berbagai aspek dari hukum pidana, perdata, yaitu: fiqih Ahwalusaskia, muamalah, dan fiqih ibadah dari hukuman orang yang minum-minuman keras, hukuman criminal dan keluarga. Didalam perkembanganya peran kerajaan Islam dalam menanamkan semangat untuk menerapkan hukum Islam sangat tinggi hal ini dipengaruhi faktor penghambat yang kecil dan belum masuknya ide-ide kaum barat untuk itu pengaruh kerajaan Islam dalam perkembangan dan penerapan hukum Islam sangatlah memainkan peranan penting.
Sedikit perbedaan hukum islam di 3 negara diatas
Masalah Indonesia Brunei Darussalam Malaysia
Perbedaan hukum keluarga islam dalam membahas Pernikahan System presidensial Dipimpin presiden
System monarki dipimpin oleh raja
System politik parlementer dipimpin
oleh pedana mentri
Hukum undang-undang menjadi bagian sehari-hari
dan KHI menjadi tambahannya
Hukum adat Melayu sebagai dasar hidup
sehari-hari
Hukum Islam telah menjadi bagian dari
kehidupan umat,. Penghukuman masyarakat
bersalah dihukum berdasar undang-undang
Penghukuman masyarakat bersalah dihukum berdasar hukum
islam
Penghukuman masyarakat bersalah dihukum berdasar hukum
islam Pencatatan sangat perlu
Batas usia nikah pria 18 dan wanita 16 tahun KHI disebutkan bahwa Seorang suami yang akan
menjatuhkan talak kepada isterinya mengajukan permohonan
baik lisan maupun tertulis kepada pengadilan agama yang
mewilayahi tempat tinggal isteri
Tidak dicatat tidak masalah Bagi pria yang telah baligh dan bagi wanita yang telah datang udzur
Jika perempuan dicerai sebelum disetubuhi, maka ia tidak boleh dikawinkan dengan orang lain kecuali dengan suaminya yang
terdahulu dalam masa idah kecuali dibenarka oleh Kadi yang berkuasa
Pemerintah mewajibkan untuk mencatat Batas usia nikah pria dan
wanita jika telah sesuai syarat islam Jika perempuan ditalak maka suami harus adanya permohonan terhadap pengadilan
Di Indonesia diatuangkan dalam PERMA Nomor 1
Tahun 2008, merupakan penegasan ulang terhadap
Perma sebelumnya yaitu Nomor 2 Tahun 2003.
dimana dia tinggal Jika selau terjadi perselisihan, ,maka kadi mengangkat 2 orang juru
DAFTAR PUSTAKA
http://www.wikipwdia.com.html
Muchsin, A.Misri. 2004. Studi Islam Kawasan. Banda Aceh: Ar-Raniry Press Putusan, Surin. 1989. Islam di Muangthai , Nasionalisme Melayu Masyarakat
Patani, Jakarta: LP3ES.
Asikin, Zainal. 2008. Hukum Islam Indonesia dari Nalar Partisipasi hingga
Emansipatoris. Magelang: Jawa Pers
Syaifullah, Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010Sutrisno dkk. 2008. Sejarah Kebudayaan Islam. Mojokerto: CV. Sinar Mulia
Fuad, Mahsun. 2005. Hukum Islam Indonesia. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta Amal, Taufik Adnan dan Samsul Rizal Panggabean. 2004. Politik Syariat Islam
dari Indonesia sampai Nigeria. Jakarta: Pustaka Alfabet
Ahmad, Amrullah. 1996. Dimensi Hukum Islam. Jakarta: Gema Insani Press
Manan, Abdul. 2007. Reformasi Hukum Islam Indonesia. Jakarta: PT Raja Gragindo Persadu.
Supriyad, Dedi . Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2008.