BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Discharge Planning
1.1 Defenisi Discharge Planning
Discharge planning adalah suatu proses perencanaan yang disusun untuk
klien, yang merupakan suatu pendekatan interdisipliner meliputi pengkajian
kebutuhan klien tentang perawatan kesehatan diluar rumah sakit, disertai
kerjasama dengan klien dan keluarga klien dalam mengembangkan rencana
perawatan setelah perawatan di rumah sakit (Brunner & Sudart, 2002). Sedangkan
Kozier (2004) mendefenisikan discharge planning sebagai suatu proses
mempersiapkan pasien untuk meninggalkan suatu unit pelayanan kepada unit
yang lain didalam atau diluar suatu agen pelayanan kesehatan umum.
Discharge planning seharusnya dilakukan sejak pasien diterima dalam suatu
agen pelayanan kesehatan, khususnya di rumah sakit dimana rentang waktu pasien
untuk menginap semakin diperpendek. Discharge planning yang efektif
seharusnya mencakup pengkajian berkelanjutan untuk mendapatkan informasi
yang komprehensif tentang semua kebutuhan pasien yang dapat berubah-ubah,
pernyataan diagnosa keperawatan, perencanaan untuk memastikan kebutuhan
pasien sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemberi pelayanan kesehatan
(Kozier, 2004).
1.2 Tujuan Discharge Planning
Discharge planning bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien
pasien pulang dari rumah sakit (Capernito, 1999). Discharge planning juga
bertujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien untuk menjamin
pelayanan asuhan keperawatan yang berkelanjutan dan berkualitas selama
dirumah sakit dan dikomunitas dengan memfasilitasi komunikasi yang efektif
(Discharge Planning Association, 2008).
Tujuan dari rencana pemulangan pasien adalah:
a.) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang masalah
kesehatan, kemungkina komplikasi dan segala keterbatasan yang menjadi
perhatian bagi pasien setelah berada dirumah.
b.) Mengembangkan kemampuan merawat pasien dan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan pasien dan memberikan lingkungan yang aman bagi
pasien dirumah.
c.) Meyakinkan bahwa rujukan yang diperlukan untuk perawatan selanjutnya
dibuat dengan tepat. The Royal Marsden Hospital (2004) menyatakan
bahwa tujuan dilakukannya discharge planning antara lain untuk
mempersiapkan pasien dan keluarganya secara fisik dan psikologis untuk
ditransfer kerumah atau suatu lingkungan yang dapat disetujui,
menyediakan informasi tertulis dan verbal kepada pasien dan pelayanan
kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan mereka dalam persiapan
pemulangan, memfasilitasi proses pemindahan yang nyaman dengan
memastikan bahwa semua fasilitas pelayanan kesehatan yang diperlukan
telah dipersiapkan untuk menerima pasien, mempromosikan tahap
kemandirian yang tertinggi kepada pasien, teman-teman, dan keluarga
1.3 Struktur Discharge Planning
Menurut Mc. Kecnan dan Coulton (1970) yang dikutip oleh Jackson (1994)
menyatakan bahwa struktur dari perencanaan pemulangan terdiri dari strtuktur
formal dan informal. Model informal adalah model tradisional dimana perawat
harus berkonsultasi dengan dokter atau pekerja sosial dan menyusun dalam
sebuah perencanaan pemulangan dan belum adanya suatu dokumentasi tertulis
dalam pelaksanaannya. Struktur formal yaitu suatu perencanaan pemulangan
dibuat secara tertulis yang berisikan tentang uraian peran, proses seleksi, penilaian
sistem dokumentasi serta metode evaluasi yang berkelanjutan.
Dugan dan Mossel (1992) yang dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan
bahwa saat ini telah terjadi perubahan dalam pelaksanaan perencanaan
pemulangan dengan struktur tersendiri dimana perawat sebagai koordinasi dalam
pelaksanaannya dan selalu berkonsultasi dengan klien dan keluarga serta para
profesional lainnya dalam perencanaan pemulangan pasien yang baik serta dalam
pelaksanaannya.
1.4 Prinsip Discharge Planning
Menurut Anne Angela (2000) prinsip dari perencanaan pemulangan terdiri
dari penemuan kasus, pengkajian, koordinasi, dan implementasi.
a.) Penemuan kasus adalah kegiatan yang dilakukan dengan kerjasama antar
profesi kesehatan yang meliputi profesi keperawatan, medis, dan profesi lain
untuk mengidentifikasi faktor resiko yang akan dapat diatasi oleh pasien
selama perawatan dirumah. Faktor resiko tersebut adalah status kognitif atau
tempat tinggal yang dapat mendukung perawatan pasien, lingkungan
masyarakat yang aman, faktor kultur, dan usia.
b.) Pengkajian adalah dimulainya mencari dan mengidentifikasi kebutuhan dari
pasien dengan mencari informasi melalui wawancara dengan pasien dan
keluarga. Serta pemeriksaan fisik dan lingkungan yang dapat membantu
untuk menentukan tingkat ketergantungan dari pasien. Hasil pengkajian
tersebut untuk selanjutnya akan didiskusikan dengan tim kesehatan lainnya
untuk menyusun perencanaan pemulangan pasien ke rumah.
c.) Koordinasi adalah komunikasi dan kerjasama antar tim dari multidisiplin
profesi dan ilmu termasuk kerjasama dengan klien dan keluarga dalam
menyusun dan melaksanakan rencana pemulangan
d.) Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana pemulangan yang berisi
rujukan, pelaksanaan dan evaluasi dari perencanaan pemulangan yang
dikerjakan sesuai bidang ilmu keperawatan.
1.5 Pemberi dan penerima layanan discharge planning
1.5.1 Pemberi layanan discharge planning
Proses discharge planning harus dilakukan secara komprehensif
dan melibatkan multidisiplin, mencakup semua pemberi layanan
kesehatan yang terlibat dalam memberi layanan kesehatan kepada
pasien (Potter dan Perry, 2006). Discharge planning tidak hanya
melibatkan pasien tapi juga keluarga, teman-teman, serta pemberi
layanan kesehatan dengan catatan bahwa pelayanan kesehatan dan
sosial dapat bekerja sama (Nixon et al, 1998 dalam The Royal Marsden
Seseorang yang merencanakan pemulangan atau koordinator
asuhan berkelanjutan (continuing care coordinator) adalah staf rumah
sakit yang berfungsi sebagai konsultan untuk proses dischard planning
bersamaan dengan fasilitas kesehatan, menyediakan pendidikan
kesehatan, dan memotivasi staf rumah sakit untuk merencanakan dan
mengimplementasikan dischard planning (Discharge Planning
Association, 2008).
1.5.2 Penerima layanan discharge planning
Semua pasien yang dihospitalisasi memerlukan discharge planning
(Discharge Planning Association, 2008). Beberapa kondisi yang
menyebabkan pasien beresiko tidak dapat memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan yang berkelanjutan setelah pasien pulang, seperti
pasien yang menderita penyakit terminal atau pasien dengan kecacatan
permanen (Riece, 1992 dalam Potter dan Perry, 2005). Pasien dan
seluruh anggota keluarga harus mendapatkan informasi tentang semua
rencana pemulangan pasien (Medical Mutual of Ohio, 2008).
1.6 Proses pelaksanaan discharge planning
Proses pelaksanaan discharge planning mencakup semua kebutuhan fisik
pasien, psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Potter dan Perry (2006) membagi
proses discharge planning dalam tiga fase yaitu fase akut, fase transisional, dan
fase pelayanan yang berkelanjutan. Pada fase akut perhatian utama para medis
berfokus pada usaha discharge planning, sedangkan pada fase transisional
kebutuhan pelayanan akut selalu terlihat, tetapi tingkat urgensinya semakin
merencanakan kebutuhan perawatan masa depan. Pada fase pelayanan
berkelanjutan pasien mampu untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan
pelaksanaan aktivitas perawatan berkelanjutan yang dibutuhkan setelah
pemulangan.
Potter dan Perry (2005) menyusun format discharge planning sebagai berikut:
1.6.1 Pengkajian
a.) Sejak pasien masuk ke rumah sakit, kaji semua kebutuhan pemulangan
pasien dengan menggunakan riwayat keperawatan, berdiskusi dengan
pasien dan care giver, fokus pada pengkajian berkelanjutan terhadap
kesehatan fisik pasien, status fungsional, sistem pendukung sosial,
sumber-sumber finansial, nilai kesehatan, latar belakang budaya dan
etnis, tingkat pendidikan, serta kendala yang mungkin dihadapi terhadap
asuhan keperawatan.
b.) Kaji kebutuhan pasien dan keluarga terhadap pendidikan kesehatan
berhubungan dengan bagaiman menciptakan terapi di rumah,
penggunaan alat-alat medis dirumah, larangan akibat suatu gangguan
kesehatan, dan kemungkinan terjadinya komplikasi. Kaji cara
pembelajaran yang lebih diminati pasien (seperti membaca atau
menonton video), jika materi tertulis yang digunakan, pastikan agar
materi tertulis yang layak tersedia bagi pasien. Tipe materi pendidikan
yang berbeda-beda dapat mengefektifkan cara pembelajaran yang
berbeda-beda pada pasien.
c.) Kaji bersama-sama dengan pasien dan keluarga terhadap setiap faktor
diri seperti ukuran ruangan, kebersihan ruangan dan jalan menuju pintu,
lebar jalan, fasilitas kamar mandi, ketersediaan alat-alat yang berguna
(seorang perawat dapat dirujuk untuk melakukan perawatan dirumah).
d.) Berkolaborasi dengan dokter dan staf profesi lain (seperti dokter pemberi
terapi) dalam mengkaji kebutuhan untuk rujukan yang terlatih atau
fasilitas perawatan yang lebih luas.
e.) Kaji persepsi pasien dan keluarga terhadap perawatan kesehatan yang
berkelanjutan diluar rumah sakit, mencakup pengkajian terhadap
kemampuan keluarga untuk mengamati care giver dalam memberikan
perawatan kepada pasien. Sebelum mengambil keputusan, mungkin perlu
berbicara secara terpisah dengan pasien dan keluarga untuk mengetahui
kekhawatiran yang sebenarnya atau keraguan diantara keduanya.
f.) Kaji penerimaan pasien terhadap masalah kesehatan yang berhubungan
dengan pembatasan aktifitas fisik.
g.) Konsultasikan tim pemberi pelayanan kesehatan yang lain tentang
kebutuahan setelah pemulangan seperti ahli gizi, pekerja sosial, perawat
klinis spesialis, perawat pemberi perawatan kesehatan dirumah. Tentukan
kebutuhan rujukan pada waktu yang berbeda dan tempat rujukan seperti
puskesmas.
1.6.2 Diagnosa keperawatan
Penentuan diagnosa keperawatan secara khusus bersifat individual
berdasarkan kondisi atau kebutuhan pasien.
Hasil yang diharapkan jika seluruh prosedur telah lengkap dilakukan adalah
sebagai berikut:
a.) Pasien atau keluarga sebagai care giver mampu menjelaskan bagaimana
kelanjutan dari pelayanan kesehatan dirumah atau fasilitas lain,
penatalaksanaan dan pengobatan apa yang dibutuhkan, dan kapan
mencari pengobatan akibat masalah yang timbul.
b.) Pasien mampu mendemonstrasikan aktivitas perawatan diri atau ada
anggota keluarga yang mampu melakukan perawatan kepada anggoat
keluarga yang lain.
c.) Hambatan terhadap pergerakan pasien dan ambulasi telah diubah dalam
lingkungan rumah yang kondusif, hal-hal yang dapat membahayakan
pasien akibat kondisi kesehatannya telah diubah sesuai keamanan pasien.
1.6.4 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dapat dibedakan kedalam dua bagian, yaitu
penatalaksanaan yang dilakukan sebelum hari pemulangan dan penatalaksanaan
yang dilakukan pada hari pemulangan pasien.
I.) Persiapan sebelum hari pemulangan pasien
a.) Menganjurkan cara untuk merubah keadaan rumah yang lebih kondusif dan
aman untuk memenuhi kebutuhan pasien.
b.) Mempersiapkan pasien dan keluarga dalam memberikan informasi tentang
sumber-sumber pelayanan kesehatan komunitas, dan rujukan dapat
dilakukan sekalipun pasien masih dirumah.
c.) Setelah menentukan segala hambatan untuk belajar serta kemauan untuk
mungkin selama dirawat dirumah sakit seperti tanda dan gejala terjadinya
komplikasi, kepatuhan terhadap pengobatan, kegunaan alat-alat medis,
perawatan lanjutan, diet, latihan, serta pembatasan yang disebabkan oleh
penyakit. Video atau buku-buku penjelasan dapat diberikan kepada klien
dan keluarga, serta dapat juga diberitahu tentang sumber-sumber informasi
yang ada di internet.
d.) Komunikasikan respon pasien dan keluarga terhadap penyuluhan dan
usulan perencanaan pulang kepada anggota tim kesehatan lainyang terlibat
dalam perawatan pasien selama dirumah.
II.) Penatalaksanaan pada hari pemulangan
Beberapa aktivitas berikut ini dapat dilakukan sebelum hari pemulangan,
perencanaan yang dilakukan akan lebih efektif, adapun aktivitas yang dapat
dilakukan pada hari pemulangan adalah :
a.) Biarkan pasien dan keluarganya bertanya dan berdiskusi tentang isu-isu
yang berhubungan dengan perawatan dirumah. Kesempatan terakhir untuk
mendemonstrasikan kemampuan perawatan yang bermanfaat dirumah.
b.) Periksa instruksi pemulanagn dari dokter, kebutuhan terapi atau kebutuhan
akan alat-alat medis khusus. Persiapkan kebutuhan dalam perjalanan dan
siapkan alat-alat yang dibutuhkan pasien sebelum sampai dirumah (seperti
tempat tidur rumah sakit, oksigen, atau feeding pump).
c.) Tentukan apakah pasien dan keluarga telah dipersiapkan dalam kebutuhan
d.) Tawarkan bantuan untuk memakaikan baju pasien dan merapikan semua
barang milik pasien dan jaga privasi pasien sesuai dengan kebutuhan
pasien.
e.) Periksa seluruh ruangan dan laci untuk memastikan barang-barang pasien.
Dapatkan daftar pertinggal barang-barang berharga yang telah
ditandatangani oleh keluarga dan pasien, dan instruksikan penjaga atau
administrator yang tersedia untuk menyampaikan barang-barang berharga
kepada pasien.
f.) Persiapkan pasien dengan prescription atau resep pengobatan pasien sesuai
dengan yang dinstruksikan oleh dokter. Lakukan pemeriksaan terahir
untuk kebutuahan informasi atau fasilitas pengobatan yang aman.
g.) Berikan informasi tentang petunjuk untuk janji atau pertemuan follow up
ke praktek dokter ataupun pelayanan kesehatan lain seperi puskesmas.
h.) Hubungi kantor agen bisnis untuk menentukan apakah pasien
membutuhkan daftar pengeluaran untuk kebutuhan pembayaran. Anjurkan
pasien atau keluarga untuk mengunjungi kantornya.
i.) Dapatkan kontak untuk memindahkan barang-barang pasien. Kursi roda
untuk pasien yang tidak mampu berjalan ke mobil atau ambulans, pasien
yang pulang dengan ambulans harus diantarkan oleh petugas ambulans
dari rumah sakit.
j.) Bantu pasien menuju kursi roda dan gunakan sikap tubuh dan tekhnik
pemindahan yang aman dan sopan. Dampingi pasien memasuki unit
pindah ke mobil atau kendaraan untuk transportasi dan bantu
menempatkan barang-barang pribadi pasien kedalam kendaraan.
1.6.5 Evaluasi pelaksanaan discharge planning
a.) Minta pasien dan anggota keluarga menjelaskan tentang penyakit,
pengobatan yang dibutuhkan, tanda-tanda fisik atau gejala yang harus
dilaporkan kepada dokter.
b.) Minta pasien atau anggota keluarga mendemonstrasikan setiap
pengobatan atau perawatan yang akan dilanjutkan dirumah.
c.) Perawat yang melakukan perawatan dirumah perlu memperhatikan
keadaan rumah pasien, mengidentifikasi hambatan yang dapat
membahayakan pasien, dan menganjurkan perbaikan kepada keluarga.
1.7 Unsur-unsur discharge planning
Unsur-unsur yang harus ada pada sebuah form perencanaan pemulangan
(Discharge Planning Association, 2008), antara lain :
a.) Pengobatan dirumah mencakup resep baru, pengobatan yang sangat
dibutuhkan dan pengobatan yang perlu dihentikan.
b.) Daftar nama obat harus mencakup nama, dosis, frekuensi, dan efek
samping yang umum terjadi.
c.) Kebutuhan akan hasil test laboratorium yang dianjurkan dan pemeriksaan
lain, dengan petunjuk bagaimana untuk memperoleh atau tempat
pemeriksaannya.
d.) Bagaimana melakukan pilihan gaya hidup dan tentang perubahan
aktivitas, latihan, diet yang dianjurkan serta pembatasan makanannya.
f.) Kapan dan bagaimana perawatan atau pengobatan selanjutnya yang akan
dihadapi setelah dipulangkan. Nama pemberi layanan, waktu, tanggal, dan
lokasi setiap janji untuk control atau follow up.
g.) Apa yang harus dilakukan pada keadaan darurat dan nomro telepon yang
bias dihubungi untuk melakukan peninjauan ulang petunjuk pemulangan.
h.) bagaimana mengatur perawatan lanjutan, jadwal pelayana dirumah,
perawat yang menjenguk, alat bantu jalan seperti walker, beserta dengan
nama dan nomor telepon setiap institusi yang bertanggung jawab untuk
menyediakan pelayanan.
2. Sectio Caesarea
2.1 Defenisi sectio caesarea
Seksio sesaria merupakan prosedur operatif, yang dilakukan dibawah
anastesi sehingga janin, plasenta, dan ketuban dilahirkan melalui insisi dinding
abdomen dan uterus, prosedur ini biasanya dilakukan setelah viabilitas tercapai,
misalnya: usia kehamilan lebih dari 24 minggu (Myles, 2003).
Seksio sesaria adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan
uterus yang masih utuh dengan berat janin > 1000gr atau umur kehamilan > 28
minggu (Manuaba, 2012).
2.2 Indikasi sectio caesarea
Indikasi sectio cesarea menurut Sofian (2012), adalah:
a.) Faktor ibu
Indikasi tindakan sectio caesarea yang dipengaruhi oleh faktor ibu seperti:
sefalopelvik, rupture uteri mengancam, partus lama (prolonged labor), partus tak
maju (Obstructed Labor), distosia serviks, preeklamsi dan hipertensi.
b.) Faktor janin
Indikasi tindakan sectio cesarea yang dipengaruhi oleh faktor janin seperti:
letak janin, letak bokong, presentasi dahi dan muka, dan gemeli jika janin pertama
letak lintang.
2.3 Komplikasi sectio caesarea
Menurut Sofian (2012) komplikasi sectio caesarea dapat dibagi menjadi
empat macam yaitu:
a.) Infeksi puerperal (nifas).
b.) Ringan, dengan kenaikan suhu hanya beberapa hari saja.
c.) Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut
sedikit kembung.
d.) Berat, dengan peritonitis, sepsis, dan ileus paralitik.
2.4 Proses penyembuhan luka
Menurut Morison (2012), proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi
kedalam 4 fase utama, yaitu:
I.) Fase inflamasi (0-3 hari)
Jaringan yang rusak dan sel mast akan melepaskan histamine dan mediator
lain, sehingga menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang
masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah kedaerah tersebut, sehingga
II). Fase destruktif (1-6 hari)
Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami devitalisasi dan
bakteri oleh polimorf dan macrofag. Polimorf menelan dan mengahncurkan
bakteri. Tingkat aktivitas polimorf yang tinggi hidupnya singkat saja dan
penyembuhan dapat berjalan terus tanpa keberadaan sel tersebut.
III). Fase proliferatif (3-24 hari)
Fibroblas meletakkan substansi dasar dan serabut-serabut kolagen serta
pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka, begitu kolagen diletakkan maka
terjadi peningkatan yang cepat pada kekuatan regangan luka.
IV). Fase maturasi
Dalam setiap cedera yang mengakibatkan kehilangan kulit, sel epitel pada
pinggir luka dari sisa-sisa folikel rambut, serta glandula sebasea dan glandula
sudorifera, membelah dan mulai bermigrasi diatas jaringan baru.
3. Masa nifas
3.1 Defenisi masa nifas
Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa Latin, yaitu puer yang artinya
bayi dan parous yang artinya melahirkan atau masa sesudah melahirkan
(Maryunani, 2008). Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus
selesai atau plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil, yang berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari
(Eny dan Diah, 2008).
3.2 Tahapan masa nifas
I.) Puerperium dini
Masa kepulihan, yakni saat ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
II.) Puerperium intermedial
Masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ genitalia kira-kira 6-8
minggu.
III.) Remot puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama apabila
ibu selama persalinan mempunyai komplikasi.
3.3 Perubahan-perubahan fisiologis masa nifas
I.) Perubahan uterus
Sampai hari kedua uterus masih membesar, dan setelah itu berangsur-angsur
menjadi kecil. Kalau diukur tinggi fundus uteri pada waktu nifas setelah buang air
kecil pada hari ke-tiga kira-kira 2 atau 3 jari dibawah pusat, hari ke-lima pada
pertengahan antara pusat dan simphysis, hari ke-tujuh kira-kira 2-3 jari diatas
simphysis, dan setelah hari kesepuluh biasanya uterus tersebut tidak teraba lagi
dari luar (Maryunani, 2008).
Perubahan-perubahan yang normal dalam uetrus selama masa nifas:
Bobot uterus Diameter uterus Palpasi serviks
Pada akhir persalinan 900 gram 12.5 cm Lembut/lunak
Pada akhir minggu ke-1 450 gram 7.5 cm 2cm
Pada akhir minggu ke-2 200 gram 5.0 cm 1 cm
Sesudah akhir 6 minggu 60 gram 2.5 cm Menyempit
II.) Lochea
Lochea adalah darah atau cairan yang keluar dari vagina selama masa nifas.
Lochea mempunyai reaksi basa atau alkalis yang dapat menyebabkan organisme
berkembang biak lebih cepat daripada vagina normal. Tiga jenis lochea sesuai
dengan warnanya adalah sebagai berikut:
a.) Lochea rubra atau kruenta /merah
Lochea ini berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, selsel darah
desidua (Desidua yakni selaput tenar rahim dalam keadaan hamil), venix caseosa
(yakni palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam noda dan sel-sel
epitel yang mnyelimuti kulit janin), lanugo (yakni bulu halus pada anak yang baru
lahir), dan mekonium (yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri atas getah
kelenjar usus dan air ketuban berwarna hijau).
b.) Lochea serosa
Lochea ini mengandung cairan darah dengan jumlah darah yang lebih
sedikit dan lebih banyak mengandung serum dan leukosit. Lochea serosa
berwarna kecoklatan atau kekuning-kuningan dan keluar dari hari ke-lima sampai
hari ke-9 berikutnya.
c.) Lochea alba /putih
Lochea yang terdiri dari leukosit, lendir leher rahim (serviks), dan
jaringan-jaringan mati yang sudah lepas dalam proses penyembuhan. Lochea alba ini
berwarna lebih pucat, berwarna kekuning-kuningan, dan keluar selama 2-3
minggu.
III.) Perubahan pada vagina dan perienum
Pada sekitar minggu ke-tiga vagina akan mengecil dan timbul rudae
kembali. Vagina yang semula sangat teregang dan akan kembali secara bertahap
seperti ukuran sebelum hamil pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah melahirkan.
b.) Perineum
Perineum adalah daerah antara vulva dan anus. Setelah melahirkan
perineum menjadi agak bengkak atau edema.
IV.) Perubahan pada sistem pencernaan
Biasanya ibu mengalami konstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini
disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan
yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan
pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, hemorroid, laserasi jalan lahir.
Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diit atau makanan yang
mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil
dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau gliserin
spuit atau diberikan obat laksan yang lain.
V.) Perubahan pada sistem perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu,
tergantung pada 1) keadaan/status sebelum persalinan 2) Lamanya partus kalla II
yang dilalui 3) Bersarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan.
VI.) Perubahan tanda-tanda vital
Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu tubuh mungkin naik sedikit, antara
37,2ºC-37,5°C, bila kenaikan mencapai 38°C pada hari kedua sampai hari-hari
berikutnya, harus diwaspadai infeksi atau sepsis nifas.
b.) Denyut nadi
Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 kali per menit, yakni pada
waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh. Ini terjadi
utamanya pada minggu pertama postpartum.
c.) Tekanan darah
Tekanan darah <140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa meningkat dari
pra persalinan pada 1-3 hari postpartum.
d.) Pernafasan
Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal, karena ibu dalam
kedaan pemulihan/dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat postpartum
(>30x per menit) mungkin karena adanya tanda-tanda syok.
3. 4 Kebutuhan dasar ibu nifas
a.) Gizi
Ibu nifas dianjurkan untuk: makan dengan diet berimbang, cukup,
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, mengkonsumsi makanan
tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500
kalori dan tahun kedua 400 kalori. Asupan cairan 3 liter/hari, 2 liter di dapat dari
air minum dan 1 liter dari cairan yang ada pada kuah sayur, buah dan makanan
mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam bentuk
suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh
dan meningkatkan kelangsungan hidup anak (Danuatmaja, 2007).
b.) Ambulasi
Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada kontraindikasi.
Pada proses operasi cesarea digunakan anastesi agar pasien tidak merasakan nyeri
saat dibedah, namun setelah operasi selesai pasien mulai sadar dan efek anastesi
habis bereaksi, sehingga pasien akan merasakan nyeri pada bagian tubuh yang
mengalami pembedahan, yang menyebabkab pasien tidak mampu untuk
melakukan mobilisasi (Maryunani, 2008). Pada ambulasi pertama sebaiknya ibu
dibantu oleh keluarga.
c.) Kebersihan diri (personal hygiene)
Ibu nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, mengajarkan
ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, menyarankan ibu
mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/BAK, paling tidak dalam waktu 3-4
jam, menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum
menyentuh kelamin, anjurkan ibu tidak sering menyentuh luka episiotomi dan
laserasi, pada ibu post sectio caesaria (SC), luka tetap di jaga agar tetap bersih dan
kering.
d.) Istirahat dan tidur
Ibu nifas dianjurkan untuk: istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan,
secara perlahan-lahan, mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan
waktu untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam. Kurang
istirahat pada ibu nifas dapat berakibat: mengurangi jumlah ASI, memperlambat
involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan, depresi.
e.) Eliminasi
BAB dan BAK. Buang air kecil (BAK) dalam enam jam ibu nifas harus
sudah BAK spontan, kebanyakan ibu nifas berkemih spontan dalam waktu 8 jam,
urine dalam jumlah yang banyak akan di produksi dalam waktu 12-36 jam setelah
melahirkan, ureter yang berdiltasi akan kembali normal dalam waktu 6 minggu.
Selama 48 jam pertama nifas (puerperium), terjadi kenaikan dueresis sebagai
berikut: pengurasan volume darah ibu, autolisis serabut otot uterus. Buang air
besar (BAB) biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena edema persalinan, diet
cairan, obat-obatan analgetik, dan perenium yang sangat sakit, bila lebih 3 hari
belum BAB bisa diberikan obat laksantia, ambulasi secara dini dan teratur akan
membantu dalam regulasi BAB, Asupan cairan yang adekaut dan diet tinggi serat
sangat dianjurkan.
f.) Pemberian ASI atau laktasi
Hal-hal yang diberitahukan kepada ibu nifas yaitu: menyusui bayi segera
setelah lahir minimal 30 menit bayi telah disusukan, ajarkan cara menyusui yang
benar, memberikan ASI secara penuh 6 bulan tanpa makanan lain (ASI eklusif),
menyusui tanpa jadwal, sesuka bayi (on demand), diluar menyusui jangan
bertahap meningkatkan frekuensi makanan dan menurunkan frekuensi pemberian
ASI.
g.) Keluarga berencana (KB)
Idealnya setelah melahirkan boleh hamil lagi setelah 2 tahun. Pada dasarnya
ibu tidak mengalami ovulasi selama menyusui ekslusif atau penuh 6 bulan ibu
belum mendapatkan haid (metode amenorhe laktasi). Meskipun setiap metode
kontrasepsi beresiko, tetapi menggunakan kontrasepsi jauh lebih aman. Jelaskan
pada ibu berbagai macam metode kontrasepsi yang diperbolehkan selama
menyusui. Metode hormonal, khususnya oral (estrogen-progesteron) bukanlah
pilihan pertama bagi ibu yang menyusui.
4. Asuhan bayi baru lahir
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir atau keluar dari rahim seorang
ibu melalui jalan lahir (liang vagina) atau melalui tindakan medis dalam kurun
waktu 0 smpai 28 hari. Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang
diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar
bayi yang baru lahir akan menunjukan usaha pernapasan spontan dengan sedikit
bantuan atau gangguan. Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi yang baru
lahir adalah: Jagalah bayi tetap hangat dan kering dan usahakan adanya kontak
antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin. Beberapa hal yang bisa
diperhatikan dalam perawatan bayi baru lahir adalah:
4.1 Menyusui bayi
Berikan hanya ASI saja sampai berumur enam bulan (ASI Eksklusif).
pertama setelah lahir. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan
gizi bayi. Kolostrum jangan dibuang tetapi harus segera diberikan pada bayi.
Walaupun jumlahnya sedikit, namun sudah memenuhi kebutuhan gizi bayi pada
hari-hari pertama. Pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun.
Waktu dan lama menyusui tidak perlu dibatasi dan frekuensinya tidak perlu
dijadwal (diberikan pagi, siang dan malam hari). Serta sebaiknya jangan
memberikan makanan atau minuman (air kelapa, air tajin, air teh, madu, pisang,
dan lain-lain) pada bayi sebelum diberikan ASI karena sangat membahayakan
kesehatan bayi dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2005).
I.) Cara menyusui yang baik dan benar:
Cara menyusui sangat mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap air susu.
Petugas kesehatan perlu memberikan bimbingan pada ibu dalam minggu pertama
setelah persalinan (nifas) tentang cara-cara menyusui yang sebenarnya agar tidak
menimbulkan masalah yaitu dengan langkah-langkah berikut ini:
a.) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit demi sedikit kemudian
dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini bermanfaat
sebagai desinfektan san menjaga kelembaban puting susu. Bayi diletakkan
menghadap perut ibu/payudara:
b.) Ibu duduk atau berbaring santai. Bila duduk lebih santai lebih baik
menggunakan kursi yang lebih rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan
punggung ibu bersandar pada sandaran kursi
c.) Bayi dipegang satu lengan, kepala bayi terletak pasa lengkung siku ibu dan
bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu. Posisi tangan bayi
diletakkan dibelakang ibu dan yang satu di depan
d.) Perut bayi menempel pada perut ibu, kepala bayi menghadap payudara
(tidak hanya membelokkan kepala bayi)
e.) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. Ibu menatap bayi
dengan penuh kasih sayang
f.) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang
dibawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja.
Gambar 1: Cara meletakkan bayi dan cara memegang payudara
g.) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara
Gambar 2: Cara merangsang mulut bayi
h.) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke
payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi:
i.) Usahakan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi sehingga puting
susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar
dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola, setelah bayi
mulai menghisap, payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi
Gambar 3: Tekhnik menyusui yang benar
i.) Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya
ganti menyusui pada payudara yang lain. Cara melepas isapan bayi: 1) jari
kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi; 2) dagu ditekan ke bawah
j.) Menyusui berikutnya mulai dari payudara yang belum terkosongkan (yang
dihisap terakhir)
k.) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada
puting susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering dengan sendirinya
l.) Menyendawakan bayi. Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan
udara dari lambung supaya bayi tidak muntah setelah menyusui. Ketika
tidak enak sebelum ia menyelesaikan minumnya. Menyendawakan bayi
sangat penting dan merupakan bagian dari proses menyusui. Lakukan
setidaknya setidaknya setelah lima menit bayi menyusui atau paling sedikit
saat bayi berpindah payudara.
II.) Posisi menysuui dengan kondisi khusus
Ada posisi menyusui secara khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu
seperti menyusui pasca operasi caesar, menyusui pada bayi kembar dan meyusui
dengan ASI yang berlimpah (penuh) (Kristiyanasari, 2009).
a.) Posisi menyusui pasca operasi caesar
Ada dua posisi menyusui pasca operasi caesar, diantaranya posisi berbaring
miring dan posisi football atau mengepit.
b.) Posisi menyusui dengan bayi kembar
Posisi football atau mengepit sama dengan ibu yang melahirkan melalui
seksio caesaria, posisi football juga tepat untuk bayi kembar, di mana kedua bayi
disusui bersamaan kiri dan kanan, dengan cara: 1) kedua tangan ibu memeluk
masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola; 2) letakkan tepat di
bawah payudara ibu; 3) posisi kaki boleh dibiarkan menjuntai keluar; 4) untuk
memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki
ketinggian kurang lebih sepinggang ibu; 5) dengan demikian, ibu cukup
menopang kepala kedua bayi kembarnya saja; 6) cara lain adalah dengan
Gambar 4: Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan
4. 2 Memandikan bayi
Mandi adalah kegiatan yang menyenangkan untuk bayi, hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam memandikan bayi adalah:
Persiapan:
I.) Cuci tangan dengan sabun dan air bersih
II.) Siapkan keperluan mandi seperti: Pakaian bersih, popok, handuk , sabun, bak
mandi berisi air hangat, dan kasa steril.
III.) Prosedur Memandikan Bayi
a.) Mandikan bayi ditempat yang aman, tepat, serta yang memudahkan anda
bergerak leluasa (tidak perlu membungkuk).
b.) Atur suhu ruangan sedikit hangat, hangatkan ruangan dengan
menempatkan air panas dan membiarkan uapnya memenuhi ruangan
tersebut.
c.) Jika tali pusat atau bekas sunat masih belum sembuh, bayi tidak boleh
mandi berendam. Mandikan bayi dengan menggunakan lap atau handuk
basah.
e.) Siapkan semua keperluan mandi dan pakaian sebelum baju bayi
dilepaskan, seperti sabun, sampo bayi, lap pembasuh, gumpalan kapas
steril untuk membersihkan mata, handuk, popok, dan pakian bersih, salep
atau krim jika perlu, dan kasa steril untuk tali pusat.
f.) Lepaskan baju bayi secara bertahap.
g.) Mulailah membasuh tubuh bayi dari bagian terbersih hingga yang
terkotor.
h.) Sabuni tubuh bayi dengan tangan dan lap pembasuh. Gunakan lap bersih
untuk membersihkannya.
i.) Membersihkan kepala bayi. Gunakan sabun dan sampo bayi, lalu basuh
dengan bersih. Peganglah kepala bayi seperti memegang bola dan
tinggikan sedikit. Sebelum membersihkan bagian lain, keringkan kepala
bayi dengan handuk.
j.) Membersihkan wajah. Basahi kapas dengan air hangat untuk
membersihkan mata. Gunakan kapas berbeda untuk setiap mata. Jangan
menggunakan sabun untuk membersihkan wajah. Lap perlahan dari hidung
kearah luar. Pada bagian telinga, yang boleh dibersihkan hanya bagian
luar. Keringkan semua bagian wajah.
k.) Leher dan dada. Tidak diperlukan sabun kecuali jika sangat kotor.
Bersihkan bagian lipatan lalu keringkan.
l.) Membersihkan lengan. Rentangkan lengan agar lipatan bisa dibersihkan.
Tekan telapak tangan bayi agar kepalannya terbuka. Bagian ini
dibersihkan dan dikeringkan karena bayi suka memasukan tangannya ke
mulut.
m.) Bagian punggung. Balikkan tubuh bayi dengan kepala yamg dimiringkan,
lalu basuh punggungnya. Tungkai bayi sering menolak merentangkan
kakinya, namun penting untuk membersihkan bagian belakang lutut.
n.) Kemudian angkat tubuh bayi dengan menggunakan kedua tangan
hati-hatilah karena tubuh bayi licin. Selimuti bayi dengan handuk. Kemudian
keringkan bayi dengan cepat secara perlahan-lahan,dan perhatikan daerah
lipatan kulit. Kemudian pakaikan popok dan pakaian bayi yang bersih.
Kemudian tempatkan bayi ditempat tidur dan hangat.
4. 3 Merawat tali pusat bayi
Tali pusat dipotong dan diikat segera setelah dilahirkan. Tujuan perawatan
tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat pemisahan
tali pusat dari perut. Pada umumnya tali pusat bayi akan terlepas sekitar 7 hingga
14 hari. Merawat tali pusat dengan benar dan tepat juga akan membuat proses
penyembuhan lebih cepat dan terhindar dari ancaman infeksi. Berikut hal penting
yang harus diperhatikan bunda dalam merawat tali pusat pada bayi baru lahir
untuk menghindari infeksi.
a.) Gunakan kasa steril untuk membersihkan perdarahan sebelum atau sesudah
puput. Rutinlah mengganti kain kasa pada tali pusat bayi setiap kali selesai
mandi. Dan segeralah untuk menghubungi dokter jika perdarahan yang
b.) Untuk memandikan bayi baru lahir, sebaiknya menggunakan washlap
dengan menggunakan air hangat. Usahakan untuk tidak memandikan bayi
baru lahir dengan posisi berendam apabila tali pusat bayi belum puput atau
belum terlepas.
c.) Saat memakaikannya popok atau diapers, sebaiknya ibu memasangnya di
bawah perut bayi atau pada bagian bawah tali pusatnya. Hal ini bertujuan
untuk menghindari agar tali pusat tidak terkena kotoran atau pipis bayi.
d.) Gunakan pakaian longgar dan nyaman pada bayi baru lahir hingga tali
pusatnya puput dengan tujuan supaya tidak mengganggu sirkulasi udara yang
ada di sekitar tali pusatnya.
e.) Tidak disarankan memberikan ramuan-ramuan tradisional lain pada
pangkal tali pusat bayi baru lahir dengan tujuan segera puput jika tanpa ada
ijin dari dokter.
f.) Saat tali pusat bayi sudah puput, biarkan sekitar tali pusat tersebut sembuh
dan kering dengan sendirinya dan bunda tidak dianjurkan untuk memplester
atau menutupinya.
4. 4 Pencegahan kehilangan panas
Kehilangan panas tubuh bayi dapat dihindarkan melalui beberapa upaya
berikut:
a.) Keringkan bayi secara seksama
Segera setelah lahir, segera keringkan permukaan tubuh sebagai upaya
untuk mencegah kehilangan panas akibat evaporasi cairan ketuban pada
permukaan tubuh bayi.
Segara setelah tubuh bayi dikeringkan dan tali pusat dipotong, ganti handuk
atau kain yang telah dipakai kemudian selimuti bayi dengan selimut atau kain
hangat, kering dan bersih. Jika selimut bayi harus dibuka untuk melakukan suatu
prosedur, segera selimuti kembali dengan handuk atau selimut kering segera
setelah prosedur tersebut selesai.
c.) Tutupi kepala bayi
Pastikan bahwa bagian kepala bayi ditutup setiap saat. Bagian kepala bayi
memiliki luas permukaan yang cukup besar sehingga bayi akan cepat kehilangan
panas tubuh jika bagian kepalanya tidak tertutup.
d.) Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI
Memeluk bayi akan membuat bayi tetap dan merupakan upaya pencegahan
kehilangan panas yang sangat baik. Dan anjurkan sesegera mungkin ibu untuk
menyusui bayinya setelah lahir.
4. 5 Pola makan bayi dan balita
Adapun polamakan bayi dan balita menurut Kementerian Kesehatan RI
(2010) adalah:
a). Usia 0 – 6 Bulan
Diberikan hanya air susu saja sesuai keinginan anak, paling sedikit 8 kali
sehari pagi, siang maupun malam.
b.) Usia 6 – 9 bulan
Teruskan pemberian ASI, mulai memberikan MP ASI, seperti, bubur susu,
pisang, pepaya lumat halus, air jeruk, air tomat saring, dll. secara bertahap sesuai
/ tahu / daging sapi / wortel / bayam / kacang hijau / santan/ minyak setiap hari
makan.
c.) Usia 9 – 12 bulan
Teruskan pemberian ASI, MP ASI diberikan lebih padat dan kasar seperti
bubur nasi, nasi tim, nasi lembek, tambahkan telur / ayam / ikan / tempe/ tahu /
bayam / santan / kacang hijau /santan / minyak. Setiap hari pagi, siang dan malam
diberikan makan. Berikan makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan
(buah, biskuit, kue).
d.) Usia 12 – 24 bulan
Teruskan pemberian ASI, berikan makanan keluarga, secara bertahap sesuai
dengan kemampuan anak. Porsi makan sebanyak 1/3 orang dewasa terdiri dari
nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Makanan selingan kaya gizi sebanyak 2 kali
sehari diantara waktumakan.Makanan harus bervariasi.
e.) Usia lebih dari 24 bulan
Berikan makanan keluarga 3 kali sehari sebanyak 1/3 – ½ porsi makan
dewasa terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Berikan makanan selingan
kaya gizi 2 kali sehari diantara waktu makan.
4. 6 Imunisasi
Imunisasi adalah Memberikan kekebalan pada bayi dan balita dengan
suntikan atau tetesan untuk mencegah agar anak tidak sakit atau walaupun sakit
tidak menjadi parah. Imunisasi dapat diberikan di Posyandu, Polindes/Poskesdes,
Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya.
Umur bayi Jenis imunisasi
0-7 hari Hb0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT/Hb1, Polio 2
3 bulan DPT/ Hb2, Polio 3
4 bulan DPT/ Hb3, Polio 4
9 bulan Campak
Tabel 2. Jadwal pemberian dan jenis imunisasi
Manfaat imunisasi adalah: Hepatitis B untuk Mencegah hepatitis B
(kerusakan hati), BCG untuk menmcegah TBC, DPT/Hb untuk Mencegah: Difteri
(penyumbatan jalan nafas), Pertusis/ batuk rejan/ batuk seratus hari, dan
mencegah tetanus, Polio untuk Mencegah polio (lumpuh layu pada tungkai, kaki
dan lengan), dan campak untuk mencegah campak (Kementerian Kesehatan RI,