• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Discharge Planning Dalam Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Ibu Pasca Operasi Sectio Caesarea Di Ruang Tanjung II RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Program Discharge Planning Dalam Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Ibu Pasca Operasi Sectio Caesarea Di Ruang Tanjung II RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Discharge Planning

1.1 Defenisi Discharge Planning

Discharge planning adalah suatu proses perencanaan yang disusun untuk

klien, yang merupakan suatu pendekatan interdisipliner meliputi pengkajian

kebutuhan klien tentang perawatan kesehatan diluar rumah sakit, disertai

kerjasama dengan klien dan keluarga klien dalam mengembangkan rencana

perawatan setelah perawatan di rumah sakit (Brunner & Sudart, 2002). Sedangkan

Kozier (2004) mendefenisikan discharge planning sebagai suatu proses

mempersiapkan pasien untuk meninggalkan suatu unit pelayanan kepada unit

yang lain didalam atau diluar suatu agen pelayanan kesehatan umum.

Discharge planning seharusnya dilakukan sejak pasien diterima dalam suatu

agen pelayanan kesehatan, khususnya di rumah sakit dimana rentang waktu pasien

untuk menginap semakin diperpendek. Discharge planning yang efektif

seharusnya mencakup pengkajian berkelanjutan untuk mendapatkan informasi

yang komprehensif tentang semua kebutuhan pasien yang dapat berubah-ubah,

pernyataan diagnosa keperawatan, perencanaan untuk memastikan kebutuhan

pasien sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemberi pelayanan kesehatan

(Kozier, 2004).

1.2 Tujuan Discharge Planning

Discharge planning bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien

(2)

pasien pulang dari rumah sakit (Capernito, 1999). Discharge planning juga

bertujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien untuk menjamin

pelayanan asuhan keperawatan yang berkelanjutan dan berkualitas selama

dirumah sakit dan dikomunitas dengan memfasilitasi komunikasi yang efektif

(Discharge Planning Association, 2008).

Tujuan dari rencana pemulangan pasien adalah:

a.) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang masalah

kesehatan, kemungkina komplikasi dan segala keterbatasan yang menjadi

perhatian bagi pasien setelah berada dirumah.

b.) Mengembangkan kemampuan merawat pasien dan keluarga untuk

memenuhi kebutuhan pasien dan memberikan lingkungan yang aman bagi

pasien dirumah.

c.) Meyakinkan bahwa rujukan yang diperlukan untuk perawatan selanjutnya

dibuat dengan tepat. The Royal Marsden Hospital (2004) menyatakan

bahwa tujuan dilakukannya discharge planning antara lain untuk

mempersiapkan pasien dan keluarganya secara fisik dan psikologis untuk

ditransfer kerumah atau suatu lingkungan yang dapat disetujui,

menyediakan informasi tertulis dan verbal kepada pasien dan pelayanan

kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan mereka dalam persiapan

pemulangan, memfasilitasi proses pemindahan yang nyaman dengan

memastikan bahwa semua fasilitas pelayanan kesehatan yang diperlukan

telah dipersiapkan untuk menerima pasien, mempromosikan tahap

kemandirian yang tertinggi kepada pasien, teman-teman, dan keluarga

(3)

1.3 Struktur Discharge Planning

Menurut Mc. Kecnan dan Coulton (1970) yang dikutip oleh Jackson (1994)

menyatakan bahwa struktur dari perencanaan pemulangan terdiri dari strtuktur

formal dan informal. Model informal adalah model tradisional dimana perawat

harus berkonsultasi dengan dokter atau pekerja sosial dan menyusun dalam

sebuah perencanaan pemulangan dan belum adanya suatu dokumentasi tertulis

dalam pelaksanaannya. Struktur formal yaitu suatu perencanaan pemulangan

dibuat secara tertulis yang berisikan tentang uraian peran, proses seleksi, penilaian

sistem dokumentasi serta metode evaluasi yang berkelanjutan.

Dugan dan Mossel (1992) yang dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan

bahwa saat ini telah terjadi perubahan dalam pelaksanaan perencanaan

pemulangan dengan struktur tersendiri dimana perawat sebagai koordinasi dalam

pelaksanaannya dan selalu berkonsultasi dengan klien dan keluarga serta para

profesional lainnya dalam perencanaan pemulangan pasien yang baik serta dalam

pelaksanaannya.

1.4 Prinsip Discharge Planning

Menurut Anne Angela (2000) prinsip dari perencanaan pemulangan terdiri

dari penemuan kasus, pengkajian, koordinasi, dan implementasi.

a.) Penemuan kasus adalah kegiatan yang dilakukan dengan kerjasama antar

profesi kesehatan yang meliputi profesi keperawatan, medis, dan profesi lain

untuk mengidentifikasi faktor resiko yang akan dapat diatasi oleh pasien

selama perawatan dirumah. Faktor resiko tersebut adalah status kognitif atau

(4)

tempat tinggal yang dapat mendukung perawatan pasien, lingkungan

masyarakat yang aman, faktor kultur, dan usia.

b.) Pengkajian adalah dimulainya mencari dan mengidentifikasi kebutuhan dari

pasien dengan mencari informasi melalui wawancara dengan pasien dan

keluarga. Serta pemeriksaan fisik dan lingkungan yang dapat membantu

untuk menentukan tingkat ketergantungan dari pasien. Hasil pengkajian

tersebut untuk selanjutnya akan didiskusikan dengan tim kesehatan lainnya

untuk menyusun perencanaan pemulangan pasien ke rumah.

c.) Koordinasi adalah komunikasi dan kerjasama antar tim dari multidisiplin

profesi dan ilmu termasuk kerjasama dengan klien dan keluarga dalam

menyusun dan melaksanakan rencana pemulangan

d.) Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana pemulangan yang berisi

rujukan, pelaksanaan dan evaluasi dari perencanaan pemulangan yang

dikerjakan sesuai bidang ilmu keperawatan.

1.5 Pemberi dan penerima layanan discharge planning

1.5.1 Pemberi layanan discharge planning

Proses discharge planning harus dilakukan secara komprehensif

dan melibatkan multidisiplin, mencakup semua pemberi layanan

kesehatan yang terlibat dalam memberi layanan kesehatan kepada

pasien (Potter dan Perry, 2006). Discharge planning tidak hanya

melibatkan pasien tapi juga keluarga, teman-teman, serta pemberi

layanan kesehatan dengan catatan bahwa pelayanan kesehatan dan

sosial dapat bekerja sama (Nixon et al, 1998 dalam The Royal Marsden

(5)

Seseorang yang merencanakan pemulangan atau koordinator

asuhan berkelanjutan (continuing care coordinator) adalah staf rumah

sakit yang berfungsi sebagai konsultan untuk proses dischard planning

bersamaan dengan fasilitas kesehatan, menyediakan pendidikan

kesehatan, dan memotivasi staf rumah sakit untuk merencanakan dan

mengimplementasikan dischard planning (Discharge Planning

Association, 2008).

1.5.2 Penerima layanan discharge planning

Semua pasien yang dihospitalisasi memerlukan discharge planning

(Discharge Planning Association, 2008). Beberapa kondisi yang

menyebabkan pasien beresiko tidak dapat memenuhi kebutuhan

pelayanan kesehatan yang berkelanjutan setelah pasien pulang, seperti

pasien yang menderita penyakit terminal atau pasien dengan kecacatan

permanen (Riece, 1992 dalam Potter dan Perry, 2005). Pasien dan

seluruh anggota keluarga harus mendapatkan informasi tentang semua

rencana pemulangan pasien (Medical Mutual of Ohio, 2008).

1.6 Proses pelaksanaan discharge planning

Proses pelaksanaan discharge planning mencakup semua kebutuhan fisik

pasien, psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Potter dan Perry (2006) membagi

proses discharge planning dalam tiga fase yaitu fase akut, fase transisional, dan

fase pelayanan yang berkelanjutan. Pada fase akut perhatian utama para medis

berfokus pada usaha discharge planning, sedangkan pada fase transisional

kebutuhan pelayanan akut selalu terlihat, tetapi tingkat urgensinya semakin

(6)

merencanakan kebutuhan perawatan masa depan. Pada fase pelayanan

berkelanjutan pasien mampu untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan

pelaksanaan aktivitas perawatan berkelanjutan yang dibutuhkan setelah

pemulangan.

Potter dan Perry (2005) menyusun format discharge planning sebagai berikut:

1.6.1 Pengkajian

a.) Sejak pasien masuk ke rumah sakit, kaji semua kebutuhan pemulangan

pasien dengan menggunakan riwayat keperawatan, berdiskusi dengan

pasien dan care giver, fokus pada pengkajian berkelanjutan terhadap

kesehatan fisik pasien, status fungsional, sistem pendukung sosial,

sumber-sumber finansial, nilai kesehatan, latar belakang budaya dan

etnis, tingkat pendidikan, serta kendala yang mungkin dihadapi terhadap

asuhan keperawatan.

b.) Kaji kebutuhan pasien dan keluarga terhadap pendidikan kesehatan

berhubungan dengan bagaiman menciptakan terapi di rumah,

penggunaan alat-alat medis dirumah, larangan akibat suatu gangguan

kesehatan, dan kemungkinan terjadinya komplikasi. Kaji cara

pembelajaran yang lebih diminati pasien (seperti membaca atau

menonton video), jika materi tertulis yang digunakan, pastikan agar

materi tertulis yang layak tersedia bagi pasien. Tipe materi pendidikan

yang berbeda-beda dapat mengefektifkan cara pembelajaran yang

berbeda-beda pada pasien.

c.) Kaji bersama-sama dengan pasien dan keluarga terhadap setiap faktor

(7)

diri seperti ukuran ruangan, kebersihan ruangan dan jalan menuju pintu,

lebar jalan, fasilitas kamar mandi, ketersediaan alat-alat yang berguna

(seorang perawat dapat dirujuk untuk melakukan perawatan dirumah).

d.) Berkolaborasi dengan dokter dan staf profesi lain (seperti dokter pemberi

terapi) dalam mengkaji kebutuhan untuk rujukan yang terlatih atau

fasilitas perawatan yang lebih luas.

e.) Kaji persepsi pasien dan keluarga terhadap perawatan kesehatan yang

berkelanjutan diluar rumah sakit, mencakup pengkajian terhadap

kemampuan keluarga untuk mengamati care giver dalam memberikan

perawatan kepada pasien. Sebelum mengambil keputusan, mungkin perlu

berbicara secara terpisah dengan pasien dan keluarga untuk mengetahui

kekhawatiran yang sebenarnya atau keraguan diantara keduanya.

f.) Kaji penerimaan pasien terhadap masalah kesehatan yang berhubungan

dengan pembatasan aktifitas fisik.

g.) Konsultasikan tim pemberi pelayanan kesehatan yang lain tentang

kebutuahan setelah pemulangan seperti ahli gizi, pekerja sosial, perawat

klinis spesialis, perawat pemberi perawatan kesehatan dirumah. Tentukan

kebutuhan rujukan pada waktu yang berbeda dan tempat rujukan seperti

puskesmas.

1.6.2 Diagnosa keperawatan

Penentuan diagnosa keperawatan secara khusus bersifat individual

berdasarkan kondisi atau kebutuhan pasien.

(8)

Hasil yang diharapkan jika seluruh prosedur telah lengkap dilakukan adalah

sebagai berikut:

a.) Pasien atau keluarga sebagai care giver mampu menjelaskan bagaimana

kelanjutan dari pelayanan kesehatan dirumah atau fasilitas lain,

penatalaksanaan dan pengobatan apa yang dibutuhkan, dan kapan

mencari pengobatan akibat masalah yang timbul.

b.) Pasien mampu mendemonstrasikan aktivitas perawatan diri atau ada

anggota keluarga yang mampu melakukan perawatan kepada anggoat

keluarga yang lain.

c.) Hambatan terhadap pergerakan pasien dan ambulasi telah diubah dalam

lingkungan rumah yang kondusif, hal-hal yang dapat membahayakan

pasien akibat kondisi kesehatannya telah diubah sesuai keamanan pasien.

1.6.4 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dapat dibedakan kedalam dua bagian, yaitu

penatalaksanaan yang dilakukan sebelum hari pemulangan dan penatalaksanaan

yang dilakukan pada hari pemulangan pasien.

I.) Persiapan sebelum hari pemulangan pasien

a.) Menganjurkan cara untuk merubah keadaan rumah yang lebih kondusif dan

aman untuk memenuhi kebutuhan pasien.

b.) Mempersiapkan pasien dan keluarga dalam memberikan informasi tentang

sumber-sumber pelayanan kesehatan komunitas, dan rujukan dapat

dilakukan sekalipun pasien masih dirumah.

c.) Setelah menentukan segala hambatan untuk belajar serta kemauan untuk

(9)

mungkin selama dirawat dirumah sakit seperti tanda dan gejala terjadinya

komplikasi, kepatuhan terhadap pengobatan, kegunaan alat-alat medis,

perawatan lanjutan, diet, latihan, serta pembatasan yang disebabkan oleh

penyakit. Video atau buku-buku penjelasan dapat diberikan kepada klien

dan keluarga, serta dapat juga diberitahu tentang sumber-sumber informasi

yang ada di internet.

d.) Komunikasikan respon pasien dan keluarga terhadap penyuluhan dan

usulan perencanaan pulang kepada anggota tim kesehatan lainyang terlibat

dalam perawatan pasien selama dirumah.

II.) Penatalaksanaan pada hari pemulangan

Beberapa aktivitas berikut ini dapat dilakukan sebelum hari pemulangan,

perencanaan yang dilakukan akan lebih efektif, adapun aktivitas yang dapat

dilakukan pada hari pemulangan adalah :

a.) Biarkan pasien dan keluarganya bertanya dan berdiskusi tentang isu-isu

yang berhubungan dengan perawatan dirumah. Kesempatan terakhir untuk

mendemonstrasikan kemampuan perawatan yang bermanfaat dirumah.

b.) Periksa instruksi pemulanagn dari dokter, kebutuhan terapi atau kebutuhan

akan alat-alat medis khusus. Persiapkan kebutuhan dalam perjalanan dan

siapkan alat-alat yang dibutuhkan pasien sebelum sampai dirumah (seperti

tempat tidur rumah sakit, oksigen, atau feeding pump).

c.) Tentukan apakah pasien dan keluarga telah dipersiapkan dalam kebutuhan

(10)

d.) Tawarkan bantuan untuk memakaikan baju pasien dan merapikan semua

barang milik pasien dan jaga privasi pasien sesuai dengan kebutuhan

pasien.

e.) Periksa seluruh ruangan dan laci untuk memastikan barang-barang pasien.

Dapatkan daftar pertinggal barang-barang berharga yang telah

ditandatangani oleh keluarga dan pasien, dan instruksikan penjaga atau

administrator yang tersedia untuk menyampaikan barang-barang berharga

kepada pasien.

f.) Persiapkan pasien dengan prescription atau resep pengobatan pasien sesuai

dengan yang dinstruksikan oleh dokter. Lakukan pemeriksaan terahir

untuk kebutuahan informasi atau fasilitas pengobatan yang aman.

g.) Berikan informasi tentang petunjuk untuk janji atau pertemuan follow up

ke praktek dokter ataupun pelayanan kesehatan lain seperi puskesmas.

h.) Hubungi kantor agen bisnis untuk menentukan apakah pasien

membutuhkan daftar pengeluaran untuk kebutuhan pembayaran. Anjurkan

pasien atau keluarga untuk mengunjungi kantornya.

i.) Dapatkan kontak untuk memindahkan barang-barang pasien. Kursi roda

untuk pasien yang tidak mampu berjalan ke mobil atau ambulans, pasien

yang pulang dengan ambulans harus diantarkan oleh petugas ambulans

dari rumah sakit.

j.) Bantu pasien menuju kursi roda dan gunakan sikap tubuh dan tekhnik

pemindahan yang aman dan sopan. Dampingi pasien memasuki unit

(11)

pindah ke mobil atau kendaraan untuk transportasi dan bantu

menempatkan barang-barang pribadi pasien kedalam kendaraan.

1.6.5 Evaluasi pelaksanaan discharge planning

a.) Minta pasien dan anggota keluarga menjelaskan tentang penyakit,

pengobatan yang dibutuhkan, tanda-tanda fisik atau gejala yang harus

dilaporkan kepada dokter.

b.) Minta pasien atau anggota keluarga mendemonstrasikan setiap

pengobatan atau perawatan yang akan dilanjutkan dirumah.

c.) Perawat yang melakukan perawatan dirumah perlu memperhatikan

keadaan rumah pasien, mengidentifikasi hambatan yang dapat

membahayakan pasien, dan menganjurkan perbaikan kepada keluarga.

1.7 Unsur-unsur discharge planning

Unsur-unsur yang harus ada pada sebuah form perencanaan pemulangan

(Discharge Planning Association, 2008), antara lain :

a.) Pengobatan dirumah mencakup resep baru, pengobatan yang sangat

dibutuhkan dan pengobatan yang perlu dihentikan.

b.) Daftar nama obat harus mencakup nama, dosis, frekuensi, dan efek

samping yang umum terjadi.

c.) Kebutuhan akan hasil test laboratorium yang dianjurkan dan pemeriksaan

lain, dengan petunjuk bagaimana untuk memperoleh atau tempat

pemeriksaannya.

d.) Bagaimana melakukan pilihan gaya hidup dan tentang perubahan

aktivitas, latihan, diet yang dianjurkan serta pembatasan makanannya.

(12)

f.) Kapan dan bagaimana perawatan atau pengobatan selanjutnya yang akan

dihadapi setelah dipulangkan. Nama pemberi layanan, waktu, tanggal, dan

lokasi setiap janji untuk control atau follow up.

g.) Apa yang harus dilakukan pada keadaan darurat dan nomro telepon yang

bias dihubungi untuk melakukan peninjauan ulang petunjuk pemulangan.

h.) bagaimana mengatur perawatan lanjutan, jadwal pelayana dirumah,

perawat yang menjenguk, alat bantu jalan seperti walker, beserta dengan

nama dan nomor telepon setiap institusi yang bertanggung jawab untuk

menyediakan pelayanan.

2. Sectio Caesarea

2.1 Defenisi sectio caesarea

Seksio sesaria merupakan prosedur operatif, yang dilakukan dibawah

anastesi sehingga janin, plasenta, dan ketuban dilahirkan melalui insisi dinding

abdomen dan uterus, prosedur ini biasanya dilakukan setelah viabilitas tercapai,

misalnya: usia kehamilan lebih dari 24 minggu (Myles, 2003).

Seksio sesaria adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan

uterus yang masih utuh dengan berat janin > 1000gr atau umur kehamilan > 28

minggu (Manuaba, 2012).

2.2 Indikasi sectio caesarea

Indikasi sectio cesarea menurut Sofian (2012), adalah:

a.) Faktor ibu

Indikasi tindakan sectio caesarea yang dipengaruhi oleh faktor ibu seperti:

(13)

sefalopelvik, rupture uteri mengancam, partus lama (prolonged labor), partus tak

maju (Obstructed Labor), distosia serviks, preeklamsi dan hipertensi.

b.) Faktor janin

Indikasi tindakan sectio cesarea yang dipengaruhi oleh faktor janin seperti:

letak janin, letak bokong, presentasi dahi dan muka, dan gemeli jika janin pertama

letak lintang.

2.3 Komplikasi sectio caesarea

Menurut Sofian (2012) komplikasi sectio caesarea dapat dibagi menjadi

empat macam yaitu:

a.) Infeksi puerperal (nifas).

b.) Ringan, dengan kenaikan suhu hanya beberapa hari saja.

c.) Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut

sedikit kembung.

d.) Berat, dengan peritonitis, sepsis, dan ileus paralitik.

2.4 Proses penyembuhan luka

Menurut Morison (2012), proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi

kedalam 4 fase utama, yaitu:

I.) Fase inflamasi (0-3 hari)

Jaringan yang rusak dan sel mast akan melepaskan histamine dan mediator

lain, sehingga menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang

masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah kedaerah tersebut, sehingga

(14)

II). Fase destruktif (1-6 hari)

Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami devitalisasi dan

bakteri oleh polimorf dan macrofag. Polimorf menelan dan mengahncurkan

bakteri. Tingkat aktivitas polimorf yang tinggi hidupnya singkat saja dan

penyembuhan dapat berjalan terus tanpa keberadaan sel tersebut.

III). Fase proliferatif (3-24 hari)

Fibroblas meletakkan substansi dasar dan serabut-serabut kolagen serta

pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka, begitu kolagen diletakkan maka

terjadi peningkatan yang cepat pada kekuatan regangan luka.

IV). Fase maturasi

Dalam setiap cedera yang mengakibatkan kehilangan kulit, sel epitel pada

pinggir luka dari sisa-sisa folikel rambut, serta glandula sebasea dan glandula

sudorifera, membelah dan mulai bermigrasi diatas jaringan baru.

3. Masa nifas

3.1 Defenisi masa nifas

Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa Latin, yaitu puer yang artinya

bayi dan parous yang artinya melahirkan atau masa sesudah melahirkan

(Maryunani, 2008). Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus

selesai atau plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti

keadaan sebelum hamil, yang berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari

(Eny dan Diah, 2008).

3.2 Tahapan masa nifas

(15)

I.) Puerperium dini

Masa kepulihan, yakni saat ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.

II.) Puerperium intermedial

Masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ genitalia kira-kira 6-8

minggu.

III.) Remot puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama apabila

ibu selama persalinan mempunyai komplikasi.

3.3 Perubahan-perubahan fisiologis masa nifas

I.) Perubahan uterus

Sampai hari kedua uterus masih membesar, dan setelah itu berangsur-angsur

menjadi kecil. Kalau diukur tinggi fundus uteri pada waktu nifas setelah buang air

kecil pada hari ke-tiga kira-kira 2 atau 3 jari dibawah pusat, hari ke-lima pada

pertengahan antara pusat dan simphysis, hari ke-tujuh kira-kira 2-3 jari diatas

simphysis, dan setelah hari kesepuluh biasanya uterus tersebut tidak teraba lagi

dari luar (Maryunani, 2008).

Perubahan-perubahan yang normal dalam uetrus selama masa nifas:

Bobot uterus Diameter uterus Palpasi serviks

Pada akhir persalinan 900 gram 12.5 cm Lembut/lunak

Pada akhir minggu ke-1 450 gram 7.5 cm 2cm

Pada akhir minggu ke-2 200 gram 5.0 cm 1 cm

Sesudah akhir 6 minggu 60 gram 2.5 cm Menyempit

(16)

II.) Lochea

Lochea adalah darah atau cairan yang keluar dari vagina selama masa nifas.

Lochea mempunyai reaksi basa atau alkalis yang dapat menyebabkan organisme

berkembang biak lebih cepat daripada vagina normal. Tiga jenis lochea sesuai

dengan warnanya adalah sebagai berikut:

a.) Lochea rubra atau kruenta /merah

Lochea ini berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, selsel darah

desidua (Desidua yakni selaput tenar rahim dalam keadaan hamil), venix caseosa

(yakni palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam noda dan sel-sel

epitel yang mnyelimuti kulit janin), lanugo (yakni bulu halus pada anak yang baru

lahir), dan mekonium (yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri atas getah

kelenjar usus dan air ketuban berwarna hijau).

b.) Lochea serosa

Lochea ini mengandung cairan darah dengan jumlah darah yang lebih

sedikit dan lebih banyak mengandung serum dan leukosit. Lochea serosa

berwarna kecoklatan atau kekuning-kuningan dan keluar dari hari ke-lima sampai

hari ke-9 berikutnya.

c.) Lochea alba /putih

Lochea yang terdiri dari leukosit, lendir leher rahim (serviks), dan

jaringan-jaringan mati yang sudah lepas dalam proses penyembuhan. Lochea alba ini

berwarna lebih pucat, berwarna kekuning-kuningan, dan keluar selama 2-3

minggu.

III.) Perubahan pada vagina dan perienum

(17)

Pada sekitar minggu ke-tiga vagina akan mengecil dan timbul rudae

kembali. Vagina yang semula sangat teregang dan akan kembali secara bertahap

seperti ukuran sebelum hamil pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah melahirkan.

b.) Perineum

Perineum adalah daerah antara vulva dan anus. Setelah melahirkan

perineum menjadi agak bengkak atau edema.

IV.) Perubahan pada sistem pencernaan

Biasanya ibu mengalami konstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini

disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan

yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan

pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, hemorroid, laserasi jalan lahir.

Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diit atau makanan yang

mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil

dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau gliserin

spuit atau diberikan obat laksan yang lain.

V.) Perubahan pada sistem perkemihan

Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu,

tergantung pada 1) keadaan/status sebelum persalinan 2) Lamanya partus kalla II

yang dilalui 3) Bersarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan.

VI.) Perubahan tanda-tanda vital

(18)

Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu tubuh mungkin naik sedikit, antara

37,2ºC-37,5°C, bila kenaikan mencapai 38°C pada hari kedua sampai hari-hari

berikutnya, harus diwaspadai infeksi atau sepsis nifas.

b.) Denyut nadi

Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 kali per menit, yakni pada

waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh. Ini terjadi

utamanya pada minggu pertama postpartum.

c.) Tekanan darah

Tekanan darah <140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa meningkat dari

pra persalinan pada 1-3 hari postpartum.

d.) Pernafasan

Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal, karena ibu dalam

kedaan pemulihan/dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat postpartum

(>30x per menit) mungkin karena adanya tanda-tanda syok.

3. 4 Kebutuhan dasar ibu nifas

a.) Gizi

Ibu nifas dianjurkan untuk: makan dengan diet berimbang, cukup,

karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, mengkonsumsi makanan

tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500

kalori dan tahun kedua 400 kalori. Asupan cairan 3 liter/hari, 2 liter di dapat dari

air minum dan 1 liter dari cairan yang ada pada kuah sayur, buah dan makanan

(19)

mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam bentuk

suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh

dan meningkatkan kelangsungan hidup anak (Danuatmaja, 2007).

b.) Ambulasi

Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada kontraindikasi.

Pada proses operasi cesarea digunakan anastesi agar pasien tidak merasakan nyeri

saat dibedah, namun setelah operasi selesai pasien mulai sadar dan efek anastesi

habis bereaksi, sehingga pasien akan merasakan nyeri pada bagian tubuh yang

mengalami pembedahan, yang menyebabkab pasien tidak mampu untuk

melakukan mobilisasi (Maryunani, 2008). Pada ambulasi pertama sebaiknya ibu

dibantu oleh keluarga.

c.) Kebersihan diri (personal hygiene)

Ibu nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, mengajarkan

ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, menyarankan ibu

mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/BAK, paling tidak dalam waktu 3-4

jam, menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum

menyentuh kelamin, anjurkan ibu tidak sering menyentuh luka episiotomi dan

laserasi, pada ibu post sectio caesaria (SC), luka tetap di jaga agar tetap bersih dan

kering.

d.) Istirahat dan tidur

Ibu nifas dianjurkan untuk: istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan,

(20)

secara perlahan-lahan, mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan

waktu untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam. Kurang

istirahat pada ibu nifas dapat berakibat: mengurangi jumlah ASI, memperlambat

involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan, depresi.

e.) Eliminasi

BAB dan BAK. Buang air kecil (BAK) dalam enam jam ibu nifas harus

sudah BAK spontan, kebanyakan ibu nifas berkemih spontan dalam waktu 8 jam,

urine dalam jumlah yang banyak akan di produksi dalam waktu 12-36 jam setelah

melahirkan, ureter yang berdiltasi akan kembali normal dalam waktu 6 minggu.

Selama 48 jam pertama nifas (puerperium), terjadi kenaikan dueresis sebagai

berikut: pengurasan volume darah ibu, autolisis serabut otot uterus. Buang air

besar (BAB) biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena edema persalinan, diet

cairan, obat-obatan analgetik, dan perenium yang sangat sakit, bila lebih 3 hari

belum BAB bisa diberikan obat laksantia, ambulasi secara dini dan teratur akan

membantu dalam regulasi BAB, Asupan cairan yang adekaut dan diet tinggi serat

sangat dianjurkan.

f.) Pemberian ASI atau laktasi

Hal-hal yang diberitahukan kepada ibu nifas yaitu: menyusui bayi segera

setelah lahir minimal 30 menit bayi telah disusukan, ajarkan cara menyusui yang

benar, memberikan ASI secara penuh 6 bulan tanpa makanan lain (ASI eklusif),

menyusui tanpa jadwal, sesuka bayi (on demand), diluar menyusui jangan

(21)

bertahap meningkatkan frekuensi makanan dan menurunkan frekuensi pemberian

ASI.

g.) Keluarga berencana (KB)

Idealnya setelah melahirkan boleh hamil lagi setelah 2 tahun. Pada dasarnya

ibu tidak mengalami ovulasi selama menyusui ekslusif atau penuh 6 bulan ibu

belum mendapatkan haid (metode amenorhe laktasi). Meskipun setiap metode

kontrasepsi beresiko, tetapi menggunakan kontrasepsi jauh lebih aman. Jelaskan

pada ibu berbagai macam metode kontrasepsi yang diperbolehkan selama

menyusui. Metode hormonal, khususnya oral (estrogen-progesteron) bukanlah

pilihan pertama bagi ibu yang menyusui.

4. Asuhan bayi baru lahir

Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir atau keluar dari rahim seorang

ibu melalui jalan lahir (liang vagina) atau melalui tindakan medis dalam kurun

waktu 0 smpai 28 hari. Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang

diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar

bayi yang baru lahir akan menunjukan usaha pernapasan spontan dengan sedikit

bantuan atau gangguan. Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi yang baru

lahir adalah: Jagalah bayi tetap hangat dan kering dan usahakan adanya kontak

antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin. Beberapa hal yang bisa

diperhatikan dalam perawatan bayi baru lahir adalah:

4.1 Menyusui bayi

Berikan hanya ASI saja sampai berumur enam bulan (ASI Eksklusif).

(22)

pertama setelah lahir. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan

gizi bayi. Kolostrum jangan dibuang tetapi harus segera diberikan pada bayi.

Walaupun jumlahnya sedikit, namun sudah memenuhi kebutuhan gizi bayi pada

hari-hari pertama. Pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun.

Waktu dan lama menyusui tidak perlu dibatasi dan frekuensinya tidak perlu

dijadwal (diberikan pagi, siang dan malam hari). Serta sebaiknya jangan

memberikan makanan atau minuman (air kelapa, air tajin, air teh, madu, pisang,

dan lain-lain) pada bayi sebelum diberikan ASI karena sangat membahayakan

kesehatan bayi dan mengganggu keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2005).

I.) Cara menyusui yang baik dan benar:

Cara menyusui sangat mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap air susu.

Petugas kesehatan perlu memberikan bimbingan pada ibu dalam minggu pertama

setelah persalinan (nifas) tentang cara-cara menyusui yang sebenarnya agar tidak

menimbulkan masalah yaitu dengan langkah-langkah berikut ini:

a.) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit demi sedikit kemudian

dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini bermanfaat

sebagai desinfektan san menjaga kelembaban puting susu. Bayi diletakkan

menghadap perut ibu/payudara:

b.) Ibu duduk atau berbaring santai. Bila duduk lebih santai lebih baik

menggunakan kursi yang lebih rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan

punggung ibu bersandar pada sandaran kursi

c.) Bayi dipegang satu lengan, kepala bayi terletak pasa lengkung siku ibu dan

(23)

bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu. Posisi tangan bayi

diletakkan dibelakang ibu dan yang satu di depan

d.) Perut bayi menempel pada perut ibu, kepala bayi menghadap payudara

(tidak hanya membelokkan kepala bayi)

e.) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. Ibu menatap bayi

dengan penuh kasih sayang

f.) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang

dibawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja.

Gambar 1: Cara meletakkan bayi dan cara memegang payudara

g.) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara

(24)

Gambar 2: Cara merangsang mulut bayi

h.) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke

payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi:

i.) Usahakan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi sehingga puting

susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar

dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola, setelah bayi

mulai menghisap, payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi

Gambar 3: Tekhnik menyusui yang benar

i.) Melepas isapan bayi

Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya

ganti menyusui pada payudara yang lain. Cara melepas isapan bayi: 1) jari

kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi; 2) dagu ditekan ke bawah

j.) Menyusui berikutnya mulai dari payudara yang belum terkosongkan (yang

dihisap terakhir)

k.) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada

puting susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering dengan sendirinya

l.) Menyendawakan bayi. Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan

udara dari lambung supaya bayi tidak muntah setelah menyusui. Ketika

(25)

tidak enak sebelum ia menyelesaikan minumnya. Menyendawakan bayi

sangat penting dan merupakan bagian dari proses menyusui. Lakukan

setidaknya setidaknya setelah lima menit bayi menyusui atau paling sedikit

saat bayi berpindah payudara.

II.) Posisi menysuui dengan kondisi khusus

Ada posisi menyusui secara khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu

seperti menyusui pasca operasi caesar, menyusui pada bayi kembar dan meyusui

dengan ASI yang berlimpah (penuh) (Kristiyanasari, 2009).

a.) Posisi menyusui pasca operasi caesar

Ada dua posisi menyusui pasca operasi caesar, diantaranya posisi berbaring

miring dan posisi football atau mengepit.

b.) Posisi menyusui dengan bayi kembar

Posisi football atau mengepit sama dengan ibu yang melahirkan melalui

seksio caesaria, posisi football juga tepat untuk bayi kembar, di mana kedua bayi

disusui bersamaan kiri dan kanan, dengan cara: 1) kedua tangan ibu memeluk

masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola; 2) letakkan tepat di

bawah payudara ibu; 3) posisi kaki boleh dibiarkan menjuntai keluar; 4) untuk

memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki

ketinggian kurang lebih sepinggang ibu; 5) dengan demikian, ibu cukup

menopang kepala kedua bayi kembarnya saja; 6) cara lain adalah dengan

(26)

Gambar 4: Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan

4. 2 Memandikan bayi

Mandi adalah kegiatan yang menyenangkan untuk bayi, hal-hal yang perlu

diperhatikan dalam memandikan bayi adalah:

Persiapan:

I.) Cuci tangan dengan sabun dan air bersih

II.) Siapkan keperluan mandi seperti: Pakaian bersih, popok, handuk , sabun, bak

mandi berisi air hangat, dan kasa steril.

III.) Prosedur Memandikan Bayi

a.) Mandikan bayi ditempat yang aman, tepat, serta yang memudahkan anda

bergerak leluasa (tidak perlu membungkuk).

b.) Atur suhu ruangan sedikit hangat, hangatkan ruangan dengan

menempatkan air panas dan membiarkan uapnya memenuhi ruangan

tersebut.

c.) Jika tali pusat atau bekas sunat masih belum sembuh, bayi tidak boleh

mandi berendam. Mandikan bayi dengan menggunakan lap atau handuk

basah.

(27)

e.) Siapkan semua keperluan mandi dan pakaian sebelum baju bayi

dilepaskan, seperti sabun, sampo bayi, lap pembasuh, gumpalan kapas

steril untuk membersihkan mata, handuk, popok, dan pakian bersih, salep

atau krim jika perlu, dan kasa steril untuk tali pusat.

f.) Lepaskan baju bayi secara bertahap.

g.) Mulailah membasuh tubuh bayi dari bagian terbersih hingga yang

terkotor.

h.) Sabuni tubuh bayi dengan tangan dan lap pembasuh. Gunakan lap bersih

untuk membersihkannya.

i.) Membersihkan kepala bayi. Gunakan sabun dan sampo bayi, lalu basuh

dengan bersih. Peganglah kepala bayi seperti memegang bola dan

tinggikan sedikit. Sebelum membersihkan bagian lain, keringkan kepala

bayi dengan handuk.

j.) Membersihkan wajah. Basahi kapas dengan air hangat untuk

membersihkan mata. Gunakan kapas berbeda untuk setiap mata. Jangan

menggunakan sabun untuk membersihkan wajah. Lap perlahan dari hidung

kearah luar. Pada bagian telinga, yang boleh dibersihkan hanya bagian

luar. Keringkan semua bagian wajah.

k.) Leher dan dada. Tidak diperlukan sabun kecuali jika sangat kotor.

Bersihkan bagian lipatan lalu keringkan.

l.) Membersihkan lengan. Rentangkan lengan agar lipatan bisa dibersihkan.

Tekan telapak tangan bayi agar kepalannya terbuka. Bagian ini

(28)

dibersihkan dan dikeringkan karena bayi suka memasukan tangannya ke

mulut.

m.) Bagian punggung. Balikkan tubuh bayi dengan kepala yamg dimiringkan,

lalu basuh punggungnya. Tungkai bayi sering menolak merentangkan

kakinya, namun penting untuk membersihkan bagian belakang lutut.

n.) Kemudian angkat tubuh bayi dengan menggunakan kedua tangan

hati-hatilah karena tubuh bayi licin. Selimuti bayi dengan handuk. Kemudian

keringkan bayi dengan cepat secara perlahan-lahan,dan perhatikan daerah

lipatan kulit. Kemudian pakaikan popok dan pakaian bayi yang bersih.

Kemudian tempatkan bayi ditempat tidur dan hangat.

4. 3 Merawat tali pusat bayi

Tali pusat dipotong dan diikat segera setelah dilahirkan. Tujuan perawatan

tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat pemisahan

tali pusat dari perut. Pada umumnya tali pusat bayi akan terlepas sekitar 7 hingga

14 hari. Merawat tali pusat dengan benar dan tepat juga akan membuat proses

penyembuhan lebih cepat dan terhindar dari ancaman infeksi. Berikut hal penting

yang harus diperhatikan bunda dalam merawat tali pusat pada bayi baru lahir

untuk menghindari infeksi.

a.) Gunakan kasa steril untuk membersihkan perdarahan sebelum atau sesudah

puput. Rutinlah mengganti kain kasa pada tali pusat bayi setiap kali selesai

mandi. Dan segeralah untuk menghubungi dokter jika perdarahan yang

(29)

b.) Untuk memandikan bayi baru lahir, sebaiknya menggunakan washlap

dengan menggunakan air hangat. Usahakan untuk tidak memandikan bayi

baru lahir dengan posisi berendam apabila tali pusat bayi belum puput atau

belum terlepas.

c.) Saat memakaikannya popok atau diapers, sebaiknya ibu memasangnya di

bawah perut bayi atau pada bagian bawah tali pusatnya. Hal ini bertujuan

untuk menghindari agar tali pusat tidak terkena kotoran atau pipis bayi.

d.) Gunakan pakaian longgar dan nyaman pada bayi baru lahir hingga tali

pusatnya puput dengan tujuan supaya tidak mengganggu sirkulasi udara yang

ada di sekitar tali pusatnya.

e.) Tidak disarankan memberikan ramuan-ramuan tradisional lain pada

pangkal tali pusat bayi baru lahir dengan tujuan segera puput jika tanpa ada

ijin dari dokter.

f.) Saat tali pusat bayi sudah puput, biarkan sekitar tali pusat tersebut sembuh

dan kering dengan sendirinya dan bunda tidak dianjurkan untuk memplester

atau menutupinya.

4. 4 Pencegahan kehilangan panas

Kehilangan panas tubuh bayi dapat dihindarkan melalui beberapa upaya

berikut:

a.) Keringkan bayi secara seksama

Segera setelah lahir, segera keringkan permukaan tubuh sebagai upaya

untuk mencegah kehilangan panas akibat evaporasi cairan ketuban pada

permukaan tubuh bayi.

(30)

Segara setelah tubuh bayi dikeringkan dan tali pusat dipotong, ganti handuk

atau kain yang telah dipakai kemudian selimuti bayi dengan selimut atau kain

hangat, kering dan bersih. Jika selimut bayi harus dibuka untuk melakukan suatu

prosedur, segera selimuti kembali dengan handuk atau selimut kering segera

setelah prosedur tersebut selesai.

c.) Tutupi kepala bayi

Pastikan bahwa bagian kepala bayi ditutup setiap saat. Bagian kepala bayi

memiliki luas permukaan yang cukup besar sehingga bayi akan cepat kehilangan

panas tubuh jika bagian kepalanya tidak tertutup.

d.) Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI

Memeluk bayi akan membuat bayi tetap dan merupakan upaya pencegahan

kehilangan panas yang sangat baik. Dan anjurkan sesegera mungkin ibu untuk

menyusui bayinya setelah lahir.

4. 5 Pola makan bayi dan balita

Adapun polamakan bayi dan balita menurut Kementerian Kesehatan RI

(2010) adalah:

a). Usia 0 6 Bulan

Diberikan hanya air susu saja sesuai keinginan anak, paling sedikit 8 kali

sehari pagi, siang maupun malam.

b.) Usia 6 9 bulan

Teruskan pemberian ASI, mulai memberikan MP ASI, seperti, bubur susu,

pisang, pepaya lumat halus, air jeruk, air tomat saring, dll. secara bertahap sesuai

(31)

/ tahu / daging sapi / wortel / bayam / kacang hijau / santan/ minyak setiap hari

makan.

c.) Usia 9 – 12 bulan

Teruskan pemberian ASI, MP ASI diberikan lebih padat dan kasar seperti

bubur nasi, nasi tim, nasi lembek, tambahkan telur / ayam / ikan / tempe/ tahu /

bayam / santan / kacang hijau /santan / minyak. Setiap hari pagi, siang dan malam

diberikan makan. Berikan makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan

(buah, biskuit, kue).

d.) Usia 12 24 bulan

Teruskan pemberian ASI, berikan makanan keluarga, secara bertahap sesuai

dengan kemampuan anak. Porsi makan sebanyak 1/3 orang dewasa terdiri dari

nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Makanan selingan kaya gizi sebanyak 2 kali

sehari diantara waktumakan.Makanan harus bervariasi.

e.) Usia lebih dari 24 bulan

Berikan makanan keluarga 3 kali sehari sebanyak 1/3 – ½ porsi makan

dewasa terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah. Berikan makanan selingan

kaya gizi 2 kali sehari diantara waktu makan.

4. 6 Imunisasi

Imunisasi adalah Memberikan kekebalan pada bayi dan balita dengan

suntikan atau tetesan untuk mencegah agar anak tidak sakit atau walaupun sakit

tidak menjadi parah. Imunisasi dapat diberikan di Posyandu, Polindes/Poskesdes,

Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya.

(32)

Umur bayi Jenis imunisasi

0-7 hari Hb0

1 bulan BCG, Polio 1

2 bulan DPT/Hb1, Polio 2

3 bulan DPT/ Hb2, Polio 3

4 bulan DPT/ Hb3, Polio 4

9 bulan Campak

Tabel 2. Jadwal pemberian dan jenis imunisasi

Manfaat imunisasi adalah: Hepatitis B untuk Mencegah hepatitis B

(kerusakan hati), BCG untuk menmcegah TBC, DPT/Hb untuk Mencegah: Difteri

(penyumbatan jalan nafas), Pertusis/ batuk rejan/ batuk seratus hari, dan

mencegah tetanus, Polio untuk Mencegah polio (lumpuh layu pada tungkai, kaki

dan lengan), dan campak untuk mencegah campak (Kementerian Kesehatan RI,

Gambar

Tabel 1. Perubahan-perubahan yang normal dalam uterus selama masa nifas
Gambar 1: Cara meletakkan bayi dan cara memegang payudara
Gambar 3: Tekhnik menyusui yang benar
Gambar 4: Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari permasalahan yang ada, penulis merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre, intra dan post operasi sectio caesarea

mengetahui tingkat pengetahuan klien, maka tindakan keperawatan yang dilakukan adalah memberi pendidikan kesehatan tentang mobilisasi dini yaitu pengertian

Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah2. perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan