Pengaruh Kualitas Akrual Terhadap Biaya Utang
dan Biaya Ekuitas: Studi pada Perusahaan
Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2005-2011
EKA DELI FITRIANI TJIOE
ABSTRACT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kualitas akrual terhadap biaya utang dan biaya ekuitas. Kualitas akrual dibagi menjadi dua komponen yaitu kualitas akrual bawaan dan kualitas akrual diskresioner. Penelitian ini juga membedakan pengaruh kedua komponen kualitas akrual terhadap biaya utang dan biaya ekuitas. Dalam penelitian ini terdapat beberapa perusahaan keuangan yang datanya di ambil mulai dari tahun 2005-2011.
Kualitas akrual diukur dengan menggunakan model kualitas akrual dari Francis et al. (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas akrual yang tidak hanya kualitas akrual bawaan, namun juga kualitas akrual diskresioner, hanya berdampak pada biaya ekuitas. Hasil lainnya adalah pengaruh kualitas akrual bawaan lebih tinggi daripada kualitas akrual diskresioner hanya pada biaya ekuitas. Temuan ini mungkin karena perusahaan memiliki proporsi utang swasta yang lebih tinggi daripada utang publik.
Pendahuluan
Dalam PSAK No. 1 laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas. Laporan keuangan menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada manajemen. Laporan keuangan yang dibuat haruslah relevan agar tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan dalam membuat suatu keputusan, salah satunya yaitu keputusan investasi. Keputusan investor mengenai investasi ke suatu perusahaan berdasarkan berbagai pertimbangan, salah satunya yaitu laba. Investor cenderung lebih memilih untuk berinvestasi ke perusahaan yang memperoleh laba positif. Namun belum tentu laba yang terdapat di laporan keuangan sepenuhnya mencerminkan keadaan yang sebenarnya, misalnya karena ada insentif manajemen untuk memanipulasi laba agar kinerja dan nilai perusahaan tetap baik. Berdasarkan hal itulah, diperlukan hal lain yang dapat digunakan untuk melihat dan menilai kinerja perusahaan, salah satunya yaitu kualitas laba.
Dechow dan Schrand (2004) mendefinisikan kualitas laba sebagai suatu ukuran untuk melihat apakah laba yang dilaporkan di laporan keuangan dapat merefleksikan kinerja perusahaan yang sebenarnya. Kualitas laba perusahaan yang lebih baik, dapat menyediakan informasi yang lebih baik pula mengenai kinerja keuangan perusahaan yang akan relevan untuk digunakan dalam membuat keputusan terkait perusahaan. Francis et al. (2005) menggunakan kualitas akrual sebagai ukuran dari risiko informasi yang berkaitan dengan laba. Alasannya yaitu dengan menggunakan kualitas akrual dapat dilihat seberapa besar ketepatan working capital accruals menjadi realisasi arus kas operasi sehingga dapat dilihat kualitas laba yang dilaporkan perusahaan.
Hasil penelitian lainnya dari Francis et al. (2005) yaitu mengenai komponen kualitas akrual yang terdiri dari dua yaitu faktor diskresioner dan faktor innate. Faktor diskresioner merupakan komponen kualitas akrual yang merefleksikan pilihan kebijakan manajemen, misalnya berupa praktik manajemen laba untuk memanipulasi laba perusahaan dalam pelaporan laporan keuangan. Sedangkan faktor innate merupakan komponen kualitas akrual yang merefleksikan faktor lingkungan, fundamental ekonomi, atau model bisnis perusahaan. Salah satu contoh faktor innate yaitu ketika ada peningkatan pendapatan perusahaan debitur, maka perusahaan bisa saja mengubah dan melakukan penyesuaian estimasi pengakuan piutang tak tertagih terhadap piutang debitur tersebut. Hasil penelitian Francis et al. (2005) mengenai perbedaan kedua komponen kualitas akrual tersebut terhadap biaya modal yaitu kualitas akrual innate lebih besar pengaruhnya dibandingkan kualitas akrual diskresioner terhadap biaya modal, baik biaya utang maupun biaya ekuitas.
Selanjutnya, Gray, Koh, dan Tong (2009) mereplikasi penelitian yang telah dilakukan oleh Francis et al. (2005) dengan data yang berbeda yaitu menggunakan perusahaan di Australia, sedangkan Francis et al. (2005) menggunakan perusahaan di Amerika Serikat. Kedua penelitian tersebut secara umum menghasilkan hasil yang sama yaitu kualitas akrual memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya utang dan ekuitas. Namun ada satu hal yang berbeda di antara kedua penelitian tersebut. Berdasarkan penelitian Gray, Koh, dan Tong (2009) biaya utang hanya dipengaruhi oleh kualitas akrual innate. Perbedaan tersebut diduga dikarenakan sebagian besar sumber modal perusahaan-perusahaan di Australia berasal dari private debt dibandingkan public debt. Private lenders lebih memiliki keistimewaan dalam akses terhadap informasi bisnis dan finansial perusahaan dibandingkan public lenders, sehingga tingkat asimetri informasi di Australia lebih rendah dibandingkan di Amerika Serikat. Selain itu private lenders juga cenderung memiliki hak lebih untuk melakukan pengawasan kepada borrowing firm sehingga mengurangi kemungkinan adanya oportunisme manajemen dalam pelaporan laporan keuangan. Hal-hal tersebut menyebabkan risiko informasi berkurang sehingga mengurangi efek kualitas akrual diskresioner pada biaya utang.
dan Thailand, maka Indonesia adalah negara yang paling besar tingkat manajemen labanya. Untuk skor legal enforcement Indonesia mendapat skor 2,9 yang merupakan skor terendah dan dapat diartikan bahwa perlindungan hukum di Indonesia paling lemah dalam tingkat proteksinya terhadap investor diantara 31 negara tersebut.
Utami (2005) melakukan penelitian tentang pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal pada perusahaan manufaktur Indonesia. Jika investor menyadari bahwa praktik manajemen laba dilakukan oleh manajemen laba dengan biaya modal, sedangkan penelitian ini meneliti hubungan kualitas akrual dengan biaya modal. Perilaku oportunis dan insentif manajemen untuk membuat laporan keuangan, terutama laba, yang tidak sesuai dengan kinerja aktual perusahaan, akan meningkatkan risiko informasi dan akan menurunkan kualitas akrual. Jadi manajemen laba merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas akrual, khususnya kualitas akrual diskresioner.
Pada penelitian ini digunakan model yang mereplikasi penelitian Francis et al. (2005) dan Gray, Koh, dan Tong (2009). Hal yang membedakannya yaitu pada penelitian ini digunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai sampel penelitian, kecuali perusahaan dari industri jasa keuangan dan investasi. Perbedaan lainnya yaitu data yang digunakan pada beberapa variabel dalam model penelitian Francis et al (2005) menggunakan data t-10, sedangkan pada penelitian ini menggunakan data t-5 sesuai penelitian Gray, Koh, dan Tong (2009).
Tinjauan Teoritis
Penelitian Francis et al. (2005) dan Gray, Koh, dan Tong (2009) memberikan bukti empiris bahwa perusahaan dengan kualitas akrual yang buruk akan memiliki biaya modal yang lebih tinggi. Dengan demikian hipotesis penelitian ini dibentuk berdasarkan pada kedua penelitian tersebut:
H1A: Kualitas akrual berpengaruh negatif terhadap biaya utang. H1B: Kualitas akrual berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.
Pada hipotesis pertama tersebut tidak membedakan sumber dari risiko informasi. Pada model penelitian pertama tidak membedakan pengaruh dari faktor innate, yaitu faktor yang berasal dari model bisnis dan
lingkungan operasional perusahaan, dengan faktor diskresioner, yaitu faktor yang berasal dari subjektifitas manajemen dalam pilihan atau estimasi implementasi kebijakan akuntansi.
Oleh karena itu Francis et al. (2005) dan Gray, Koh, dan Tong (2009) mengembangkan penelitian dengan membedakan kualitas akrual menjadi dua yaitu kualitas akrual diskresioner dan innate.
Penelitian ini akan menguji apakah ada perbedaan pengaruh antara kualitas akrual innate dengan kualitas akrual diskresioner, terhadap biaya modal perusahaan:
H2A: Kualitas akrual innate berpengaruh lebih besar dibandingkan kualitas akrual diskresioner terhadap biaya utang perusahaan.
H2B: Kualitas akrual innate berpengaruh lebih besar dibandingkan kualitas akrual diskresioner terhadap biaya ekuitas
Metode Penelitian
1. Model Penelitian: Kualitas Akrual, Kualitas Akrual Innate, dan Kualitas Akrual Diskresioner
Tujuan penelitian ini berdasarkan hipotesis 1A dan 1B yaitu untuk menguji adanya hubungan antara kualitas akrual dengan biaya utang dan biaya ekuitas. Kualitas akrual dalam penelitian ini dihitung dari model penelitian Francis et al. (2005). Kualitas akrual dihitung dengan regresi tahunan dari total current accruals periode 2005-2011. Nilai kualitas akrual dihitung dari standar deviasi nilai error yang dicari selama tahun t-4 sampai tahun t. Pada penelitian ini digunakan nilai decile rank accruals quality dibanding dengan nilai raw accruals quality untuk
mengurangi adanya kemungkinan outlier. Perhitungan decile rank digunakan dengan melakukan pemeringkatan nilai raw accruals quality per tahun dari nilai tertinggi hingga terendah, setelah itu dibagi menjadi sepuluh kelompok dan diberi nilai yang sama (satu hingga sepuluh) untuk di setiap kelompoknya. Kelompok dengan nilai raw accruals quality tertinggi diberi nilai decile rank 1 dan kelompok dengan nilai accruals quality terendah diberi nilai decile rank 10. Dengan demikian nilai variabel kualitas akrual yang semakin tinggi akan mencerminkan kualitas akrual yang semakin baik. Francis et al. (2005) menyatakan bahwa biaya utang dan biaya ekuitas akan lebih tinggi pada kualitas akrual perusahaan yang lebih buruk. Dengan demikian diekspektasikan bahwa kualitas akrual berpengaruh negatif terhadap biaya utang dan biaya ekuitas, sesuai dengan hipotesis 1A dan 1B.
Berikut ini merupakan model kualitas akrual yang digunakan dalam penelitian berdasarkan Francis et al. (2005). Seluruh variabel dibagi
Δ CA : Perubahan aset lancar tahun t-1 dengan t. Δ CL : Perubahan liabilitas lancar tahun t-1 dengan t. Δ Cash : Perubahan kas tahun t-1 dengan t.
Δ STDEBT : Perubahan utang tahun t-1 dengan t. CFO : Arus kas operasi.
PPE : Aset tetap kotor.
Selanjutnya pada hipotesis 2A dan 2B, yaitu untuk menguji hubungan antara kualitas akrual innate dan kualitas akrual diskresioner dengan biaya utang dan biaya ekuitas, juga digunakan model kualitas akrual dari Francis et al. (2005). Predicted value model tersebut merupakan pendekatan untuk nilai kualitas akrual innate, sedangkan nilai residual dari model tersebut merupakan pendekatan untuk nilai kualitas akrual diskresioner. Pada variabel kualitas akrual innate dan kualitas akrual diskresioner juga digunakan nilai decile rank.
AQ j,t = β0 + β1Size j,t + β2 σCFO j,t + β3 σSales j,t + β4OpCycle j,t + β5NegEarn j,t +μ j,t (3)
Size : Ukuran perusahaan yang dihitung dari natural log total aset.
σ CFO : Standar deviasi dari arus kas operasi yang dihitung dari data lima tahun terakhir. σ Sales : Standar deviasi dari penjualan yang dihitung dari data lima tahun terakhir.
OpCycle : Siklus operasi yang dihitung dari log penjumlahan days of account receivables dan days of inventory.
NegEarn : Jumlah tahun dengan pendapatan yang negatif (NIBE < 0) pada data lima tahun terakhir.
2. Model Penelitian: Pengujian Hipotesis
Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian yang mereplikasi penelitian Francis et al. (2005) dan Gray, Koh, dan Tong (2009). Untuk menguji hipotesis 1A yaitu pengaruh kualitas akrual terhadap biaya utang digunakan persamaan regresi 4. Pengujian hipotesis 1A dilakukan dengan melihat p-value pada variabel TAQ Rank dan koefisien variabel TAQ Rank. Jika nilai p-value lebih kecil dari alpha, maka ada pengaruh signifikan kualitas akrual terhadap biaya utang. Selain itu dilihat koefisien variabel TAQ Rank. Jika koefisien bernilai negatif, maka ada pengaruh negatif antara kualitas akrual dengan biaya utang.
COD j,t+1 = β0 + β1 TAQrank j,t + β2 Size j,t + β3 ROA j,t + β4 IntCov j,t + β5 σ(NIBE) j,t + β6 Leverage j,t + μ j,t (4)
Untuk pengujian hipotesis 2A yaitu perbedaan pengaruh kualitas akrual diskresioner dan kualitas akrual innate terhadap biaya utang, digunakan persamaan regresi 5. Untuk menguji hipotesis 2A dilakukan uji beda koefisien. Jika nilai p-value lebih kecil dari alpha 0,05, maka kualitas akrual innate lebih besar pengaruhnya dibanding kualitas akrual diskresioner terhadap biaya utang.
COD j,t+1 = β0 + β1 InnAQrank j,t + β2 DisAQrank + β3 ROA j,t + β4 IntCov j,t + β5 σ(NIBE) j,t + β6 Leverage j,t + β7 Size j,t + μ j,t (5)
Ekspektasi tanda: β1 < 0, β2 < 0, β1 < β2 (H2A), β3 < 0, β4 < 0, β5 > 0, β6 > 0, β7 < 0
COD : Cost of debt atau biaya utang, yang dihitung dari rasio beban bunga pada periode t+1 dengan rata-rata total utang periode t dan t+1.
TAQrank : Nilai decile rank dari kualitas akrual. InnAQrank : Nilai decile rank kualitas akrual innate. DisAQrank : Nilai decile rank kualitas akrual diskresioner.
ROA : Return on asset yang dihitung dari rasio laba bersih dengan total aset.
IntCov : Interest coverage yang dihitung dari rasio laba operasi dengan beban bunga.
σ NIBE : Standar deviasi dari data 5 tahun terakhir dari laba bersih sebelum pos luar biasa dibagi dengan rata-rata aset.
Untuk menguji hipotesis 1B yaitu pengaruh kualitas akrual terhadap biaya ekuitas digunakan persamaan regresi 6. Pengujian hipotesis 1B dilakukan dengan melihat p-value pada variabel TAQ Rank dan koefisien variabel TAQ Rank. Jika nilai p-value lebih kecil dari alpha, maka ada pengaruh signifikan kualitas akrual terhadap biaya ekuitas. Selain itu dilihat koefisien variabel TAQ Rank. Jika koefisien bernilai negatif, maka ada pengaruh negatif antara kualitas akrual dengan biaya ekuitas.
COE j,t= β0 + β1TAQrank j,t + β2Leverage j,t + β3Beta j,t + β4Size j,t + β5Growth j,t + μ j,t …(6)
Ekspektasi tanda: β1 < 0 (H1B), β2 3 4 5 > 0, β> 0, β< 0, β< 0
Untuk pengujian hipotesis 2B yaitu perbedaan pengaruh kualitas akrual diskresioner dan kualitas akrual innate terhadap biaya ekuitas, digunakan persamaan regresi 7. Untuk menguji hipotesis 2B dilakukan uji beda koefisien. Jika nilai p-value lebih kecil dari alpha 0,05, maka kualitas akrual innate lebih besar pengaruhnya dibanding kualitas akrual diskresioner terhadap biaya utang.
Pada penelitian ini menggunakan industry-adjusted earnings-to-price ratio (IndEP ratio) untuk menghitung biaya ekuitas seperti pada penelitian Francis et al. (2005). IndEP dihitung dengan earnings-to-price ratio perusahaan dikurangi median dari earnings-to-price industri. Untuk menghitung earnings-to-price industri dihitung dengan median earnings-to-price ratio seluruh perusahaan di setiap industrinya yang memiliki nilai laba positif (minimal 5 perusahaan dengan laba positif setiap tahun di setiap industri), kecuali nilai earnings-to-price perusahaan tersebut.
COE j,t = β0 + β1 InnAQrank j,t + β2DisAQrank j,t + β3Leverage j,t + β4Beta j,t + β5Size j,t + β6 Growth j,t + μ j,t (7)
Ekspektasi tanda: β1 < 0, β2 < 0, β1 < β2 (H2B), β3 > 0, β4 > 0, β5 < 0, β6 < 0 COE : Biaya ekuitas yang dihitung dengan pendekatan industry-adjusted
earnings-to-price ratio.
InnAQrank : Nilai decile rank kualitas akrual innate. DisAQrank : Nilai decile rank kualitas akrual diskresioner. Leverage : Rasio total utang terhadap total aset.
Beta : Nilai beta dihitung dengan menggunakan regresi dari return saham mingguan perusahaan terhadap return saham mingguan pasar (IHSG).
Growth : Log dari satu ditambah nilai pertumbuhan perusahaan dari nilai buku ekuitas periode t dengan periode t-1
3. Data dan Sampel
Dalam penelitian ini digunakan sampel perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari periode 2005-2011. Namun karena ada beberapa variabel yang dihitung dengan menggunakan periode t-4 hingga t, maka data perusahaan yang digunakan yaitu dari tahun 2000-2012. Perusahaan yang dijadikan sampel penelitian adalah perusahaan dengan kelengkapan data keuangan minimal selama 7 tahun karena untuk menghitung kualitas akrual dibutuhkan 5 periode (periode t-4 hingga t) dan juga 2 tahun untuk perhitungan model regresi kualitas akrual untuk arus kas operasi (t-1, t, t+1).
Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling, yang artinya sampel dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu. Adapun kriteria untuk pemilihan sampel yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan publik tercatat di BEI pada tahun 2005 hingga 2011 dengan data keuangan yang lengkap selama 7 tahun.
2. Tidak termasuk perusahaan dalam jasa keuangan dan investasi karena industri tersebut memiliki regulasi yang cukup ketat. Perusahaan yang memiliki regulasi yang cukup ketat tidak dimasukan sebagai sampel dalam penelitian ini karena perusahaan tersebut memiliki karakteristik yang khas sehingga tidak dapat dibandingkan dengan jenis perusahaan lainnya.
3. Nilai ekuitas perusahaan tidak negatif.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Jumlah sampel perusahaan yang digunakan pada model penelitian ini yaitu 237 perusahaan dan jumlah observasi yang digunakan yaitu 1.110 firm-years observations. Jumlah observasi pada peneltian ini jauh
berbeda dengan penelitian Francis et al. (2005) yaitu 76.196 firm-years untuk model biaya utang dan 55.092 firm-year observations untuk model biaya ekuitas. Perbedaan tersebut karena periode pada penelitian
Francis et al. (2005) lebih panjang yaitu 32 tahun (1970-2001) dan
jumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Amerika yang jauh lebih banyak.
Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kualitas akrual memiliki pengaruh terhadap biaya utang dan biaya ekuitas perusahaan dan untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh antara kualitas akrual innate dengan kualitas akrual diskresioner terhadap biaya utang dan biaya ekuitas. Model kualitas akrual yang digunakan dalam penelitian mereplikasi model penelitian Francis et al. (2005). Dari hasil pengujian pada sampel sebanyak 237 perusahaan dengan total observasi 1.110 pada periode 2005-2011 dapat diperoleh kesimpulan yaitu:
• Kualitas akrual, kualitas akrual innate, dan kualitas akrual diskresioner tidak berpengaruh terhadap biaya utang. Juga ditemukan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara kualitas akrual innate dan kualitas akrual diskresioner terhadap biaya utang. Hasil penelitian ini berbeda dengan Francis et al. (2005) namun konsisten dengan Gray, Koh, dan Tong (2009). Perbedaan hasil penelitian tersebut menurut Gray, Koh, dan Tong (2009) dapat dikarenakan sebagian besar sumber modal perusahaan yang berasal dari private debt dibandingkan public debt. Private lenders cenderung memiliki hak lebih untuk melakukan pengawasan kepada borrowing firm sehingga menyebabkan risiko informasi yang terkait dengan kebijakan pelaporan manajerial berkurang dan mengurangi efek kualitas akrual terhadap biaya utang. Selain itu kemungkinan penyebab lainnya yaitu pasar utang di Indonesia tidak sebesar pasar modal. Persentase jumlah perusahaan publik yang mengeluarkan obligasi hanya sebesar 24,74% dari total seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu pasar utang di Indonesia kurang merespon akan adanya informasi, termasuk informasi akrual, dibandingkan pasar modal. • Kualitas akrual memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap biaya
ekuitas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Francis et al. (2005) dan Gray, Koh, dan Tong (2009). Semakin buruk kualitas akrual mencerminkan adanya risiko informasi yang semakin tinggi pada pelaporan laporan keuangan sehingga required return investor dan biaya ekuitas meningkat. Dengan demikian kualitas akrual berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas.
(opportunistic component), sehingga ketika diobservasi kedua komponen akrual diskresioner tersebut saling menyeimbangkan (offset) pengaruh terhadap risiko informasi. Oleh karena offset effect tersebut, Francis et al. (2005) mengatakan bahwa kualitas akrual diskresioner akan memiliki pengaruh yang lebih kecil dibandingkan kualitas akrual innate terhadap risiko informasi dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap biaya ekuitas.
Saran
Pada penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, oleh karena itu ada beberapa saran yang dapat dilakukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya yaitu:
• Pada penelitian ini hanya menggunakan satu model kualitas akrual yaitu Francis et al. (2005). Diharapkan pada penelitian selanjutnya dalam meneliti tentang kualitas akrual dapat membandingkannya dengan model kualitas akrual lainnya, misalnya model Dechow dan Dichev (2002)
• Dalam perhitungan biaya utang, digunakan cara beban bunga dibagi dengan rata-rata utang dengan periode t+1 karena diekspektasikan terdapat time lag dalam pengaruh variabel-variabel terhadap biaya utang. Pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan cara lain untuk perhitungan biaya utang misalnya menggunakan bond yield-spread yang dihitung dari yield of bond dikurang dengan yield treasury security yang durasi maturitas terdekat (Elyas, Jia, dan Mao, 2007). • Pada penelitian ini dalam menghitung biaya ekuitas menggunakan
pendekatan industry-adjusted earnings-to-price ratio. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan pendekatan biaya ekuitas lainnya, misalnya dengan menggunakan pendekatan Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Dechow, P., & Schrand, C. (2004). Earnings Quality. The Research Foundation of CFA Institute.
Easley, D. & M. O'Hara. (2004). Information and Cost of Capital. Journal of Finance, 59 (4), 1553-83.
Francis, J., Lafond, R., Olsson, P., & Schipper, K. (2005). The Market Pricing of Accruals Quality. Journal of Accounting and Economics, 39, 295-327.
Gray, P., Koh Ping-Sheng, & Tong Yen H. (2009). The Accruals Quality, Information Risk, and Cost of Capital : Evidence from Australia. Journal of Business Finance and Accounting, 36 (1) & (2), 51-72.
Guay, W., Kothari, S.P., & R. Watts. (1996). A Market-Based Evaluation of Discretionary Accruals Models. Journal of Accounting Research, 34 (supplement), 83–105.
Healy, P., (1996). Discussion of a market-based evaluation of discretionary accrual models.
Journal of Accounting Research, 34 (supplement), 107–115.
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). (2009). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta : Salemba Empat.
Lambert, R.A., Leuz, C., & Verrecia, R. (2007). Information Asymmetry, Information Precision, and The Cost of Capital. Working Paper, University of Pennsylvania dan University of Chicago.
Leuz, C., Nanda, D., & Wysocki, P.D. (2003). Earnings Management and Investor Protection: an International Comparation. Journal of Financial Economics, 69, 505-527.
Susanto, Siswardika. (2012). Corporate Governance, Kualitas Laba, dan Biaya Ekuitas : Studi Empiris Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Indonesia Tahun 2009. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Tampubolon, Maria S.H. (2012). Pengaruh Kualitas Akrual terhadap Premi Risiko. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Utami, Wiwik. (2005). Pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas. Simposium Nasional Akuntansi 8, Solo.
Yunior, William S. (2010). Pengaruh Kualitas Informasi sebagai Risiko Informasi terhadap Biaya Modal. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Triningtyas, Irene A., & Sylvia V. S (2014). Pengaruh Kualitas Akrual Terhadap Biaya Utang dan Biaya Ekuitas: Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2011. Universitas Indonesia