PENGARUH PROFITABILITAS DAN LEVERAGE
TERHADAP CASH DIVIDEND PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI TAHUN 2011-2013
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Oleh Aliy Rasyid NIM 201210325106
JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
DAFTAR ISI
Daftar isi ...1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...2
B. Identifikasi Masalah ...4
C. Batasan Masalah ...5
D. Perumusan Masalah ...5
E. Tujuan Penelitian ...5
F. Manfaat Penelitian ...6
BAB II LANDASAN TEORI A. Cash Deviden ...7
B. Profitabilitas ...21
C. Laverage ...23
D. Penelitian Terdahulu ...24
E. Kerangka Teoritis ...24
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kebijakan dividen kas sebuah perusahaan memiliki dampak penting bagi banyak pihak yang terlibat di masyarakat (Suharli, 2004). Bagi para pemegang saham atau investor, dividen kas merupakan tingkat pengembalian investasi mereka berupa kepemilikkan saham yang diterbitkan perusahaan lain. Bagi pihak manajemen, dividen kas merupakan arus kas keluar yang mengurangi kas perusahaan. Oleh karenanya kesempatan untuk melakukan investasi dengan kas yang dibagikan sebagai dividen tersebut menjadi berkurang. Bagi kreditor, dividen kas dapat menjadi signal mengenai kecukupan kas perusahaan untuk membayar bunga atau bahkan melunasi pokok pinjaman. Kebijakan dividen kas yang cenderung membayarkan dividen dalam jumlah relatif besar akan mampu memotivasi pemerhati untuk membeli saham perusahaan. Perusahaan yang memiliki kemampuan membayar dividen diasumsikan masyarakat sebagai perusahaan yang menguntungkan.
Berdasarkan agency theory, pihak manajemen adalah agen (agents) pemilik, sedangkan pemilik perusahaan merupakan principal. Pihak manajemen akan membatasi arus kas keluar berupa dividen kas yang berjumlah terlalu besar dengan alasan mempertahankan kelangsungan hidup, menambah investasi untuk pertumbuhan atau melunasi hutang (Suharli dan Oktorina, 2005). Ketiga pertimbangan tersebut dikatakan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Namun pihak manajemen umumnya tetap mempertahankan kebijakan pembayaran dividen, sekurang-kurang pembagian dividen saham (stockdividend) untuk menjaga kestabilan harga saham. Kebijakan stabilitas dividen tentu memiliki daya Tarik tersendiri yang dapat menjaga harga pasar saham pada kondisi terbaik. Pertimbangan pada kondisi terbaik ini yang disebutkan pihak manajemen sebagai upaya peningkatan kesejahteraan pemegang saham.
Berbagai pertimbangan mengenai penetapan jumlah yang tepat untuk dibayarkan sebagai dividen adalah sebuah keputusan finansial yang sulit bagi pihak manajemen (Ross, 1977). Keputusan suatu perusahaan mengenai dividen terkadang diintegrasikan dengan keputusan pendanaan dan keputusan investasi. Semakin rumit kegiatan perusahaan maka konflik kepentingan antara pemegang saham dan pihak manajemen semakin banyak. Perusahaan memiliki pemisahan yang jelas antara kepemilikan (ownership), pengoperasian (operation), dan pengendalian (control). Pemisahan antara fungsi kepemilikan, pengoperasian, dan pengendalian memungkinkan manajemen lebih mementingkan kepentingan mereka daripada kepentingan perusahaan atau para pemilik
ini merupakan pengembangan penelitian penulis terdahulu mengenai faktor yang mempengaruhi kebijakan jumlah dividen. Penelitian ini membatasi penelitian terhadap faktor yang dianggap mempengaruhi kebijakan jumlah dividen, yaitu profitabilitas dan leverage. Penelitian ini mengambil sampel dari perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek harga Indonesia. Rentang waktu laporan keuangan yang digunakan sebagai objek penelitian ini adalah periode yang berakhir tanggal 31 Desember 2011 sampai dengan 31 Desember 2013. Perusahaan yang diteliti bergerak dalam berbagai bidang industri, pernah membagikan dividen pada periode penelitian dan dipilih untuk tujuan penelitian (purposive sampling).
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik untuk meneliti pengaruh profitabilitas (ROE),leverage (DER), terhadap jumlah dividen tunai, dengan judul:
PENGARUH PROFITABILITAS DAN LEVERAGE TERHADAP CASH DIVIDEND PADA 6 PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI TAHUN 2011-2013
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, penulis mengidentifikasikan masalah-masalah yang ada dalam penelitian sebagai berikut.
1. Kemampuan perusahaan dalam memberikan Deviden cash kas merupakan arus kas keluar yang mengurangi kas perusahaan kesempatan untuk melakukan investasi dengan kas yang dibagikan sebagai dividen tersebut menjadi berkurang. 2. Sulitnya mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi kebijakan dividen kas
perusahaan. C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak terlalu luas, maka diberikan batasanbatasan masalah sebagai berikut:
2. Waktu pengamatan dibatasi yaitu hanya tahun 2011 sampai tahun 2013.
3. Karena adanya berbagai macam industri di BEI, maka penelitian ini hanya terbatas pada 6 perusahaan industri manufaktur.
D. Perumusan Masalah
Penelitian ini bermaksud menguji pengaruh profitabilitas dan leveragesuatu perusahaan dengan kebijakan jumlah dividen kas perusahaan publik di Jakarta. Profitabilitas diukur dengan return on equity (ROE) dan leverage diindikasikan dengan debt to equity ratio (DER) di Bursa Efek Indonesia .
Berdasarkan uraian di atas maka masalah dalam penetian ini dirumuskan sebagai berikut
1. Apakah profitabilitas (ROE) memiliki pengaruh terhadap cash dividend perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah leverage (DER) memiliki pengaruh terhadap cash dividend perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia ?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mempelajari faktor yang menjadi pertimbangan dalam kebijakan manajemen tentang jumlah pembagian dividen pada perusahaan manufaktur. Penelitian ini mempelajari 3 variabel yaitu: profitabilitas (ROE), leverage (DER), dan cash dividend (DPR) . Maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas (ROE) terhadap cash dividend perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruh leverage (DER) terhadap cash dividend perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi para investor, calon investor, analis, dan pemerhati investor Hasil penelitian ini dapat memberikan acuan pengambilan keputusan investasi terkait dengan tingkat pengembalian yang berupa dividen perusahaan.
2. Bagi pihak manajemen perusahaan
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan pengambilan keputusan investasi untuk menentukan besarnya dividen yang dibayarkan terutama dalam bentuk dividen tunai bagi perusahan yang sahamnya terdaftar dan aktif di BEI. 3. Bagi akademisi dan peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembayaran dividen tunai sehingga dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang lebih mendalam serta sebagai rujukan pengembangan ilmu akuntansi maupun keuangan mengenai kajian pembayaran dividen tunai.
BAB II
LANDASAN TEORI A. Deskripsi Konseptual
1. Cash Dividend
Black’s Law Dictionary dalam Irham Fahmi (2012:83) Dividen adalah: “The distribution of current of accumulated earning to shareholders of corporation pro
Nikiforos K. Laopodis (2013:300) Dividen adalah pembayaran tunai yang dibayarkan oleh perseroan kepada pemegang saham. Di Amerika Serikat, dividen diijinkan dan biasanya dibagikan pada triwulanan berdasarkan kebijaksanaan dewan direktur perusahaan. Dividen itu merepresentasikan pemegang saham terhadap penerimaan pengembalian langsung atau tidak langsung atas investasi mereka di perusahaan.
Paul D. Kimmel, Jerry J. Weygandt dan Donald E. Kieso (2011:584) Dividen adalah distribusi oleh perusahaan kepada para pemegang sahamnya secara pro rata (proporsional dengan dasar kepemilikan). Pro rata berarti bahwa jika investor memiliki, katakanlah, 10% dari saham biasa, investor akan menerima 10% dari dividen. Dividen dapat mengambil empat bentuk: uang tunai, properti, warkat (surat pengakuan utang untuk membayar tunai), atau saham. Dividen kas, yang mendominasi dalam praktek, dan dividen saham, yang dinyatakan dengan beberapa frekuensi.
Maka dengan demikian dapat saya sintesiskan bahwa kebijakan deviden merupakan suatu kebijakan untuk menetapkan beberapa bagian dari laba bersih yang akan dibagikan sebagai deviden kepada para pemegang saham dan seberapa besar bagian laba bersih itu akan ditanamkan kembali sebagai laba yang ditahan untuk reinvestasi.
1. Jenis-Jenis Dividen
saham sebagai dividen atau ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang”. Menurut Tampubolon (2005 :191) “Kebijakan dividen adalah keputusan keuangan yaitu dengan mempertimbangkan apakah pembayaran dividen akan meningkatkan kemakmuran pemegang saham”. Stice et. al. (2005) dan Suharli (2006) mengartikan dividen sebagai pembagian laba kepada para pemegang saham perusahaan sebanding dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik. Dividen dapat berupa uang tunai maupun saham. Terkait dengan dividen terdapat 3 tanggal penting, yaitu pengumuman, pencatatan, dan pembayaran/pembagian. Dividen tunai (cash dividend) umumnya lebih menarik bagi pemegang saham dibandingkan dengan dividen saham (stock dividend).
Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau sebagai saldo laba untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Berdasarkan keterangan tersebut, proksi yang digunakan untuk mengukur kebijakan dividen dalam penelitian ini dipresentasikan dalam bentuk rasio. Jenis rasio yang digunakan dalam peneliian ini adalah Dividend Payout Ratio (DPR).
Dividend Payout Ratio dapat diukur sebagai dividen yang dibayarkan dibagi dengan laba yang tersedia untuk pemegang saham umum. Perusahaan yang mempunyai risiko tinggi cenderung untuk membayar Dividend Payout Ratio lebih kecil supaya tidak memotong dividen jika laba yang diperoleh turun.
Terkait dengan dividen terdapat 5 tanggal penting, yaitu pengumuman, cum dividend, pencatatan, ex dividend dan pembayaran atau pembagian. Terdapat beberapa tanggal penting yang menjadi perhatian dalam prosedur pembagian dividen. Yaitu sebagai berikut:
a. Tanggal pengumuman (declaration date) adalah tanggal pada saat direksi mengumumkan dividen. Pada tanggal tersebut dividen menjadi kewajiban perusahaan dan dicatat pada buku perusahaan. Tanggal pengumuman ini biasanya beberapa minggu sebelum tanggal pembayaran dividen.
b. Cum Dividend adalah tanggal dimana seluruh pemegang saham perusahaan sampai batas tanggal tersebut berhak mendapatkan dividen.
c. Tanggal pencatatan (date of record) merupakan tanggal yang dipilih oleh dewan direksi untuk mendaftar para pemegang saham yang 27 berhak menerima dividen. Karena waktu yang tersita untuk menyususn daftar para pemegang saham, maka tanggal pencatatan biasanya dua atau tiga minggu setelah tanggal pengumuman dividen, namun sebelum tanggal pembayaran dividen.
d. Ex Dividend yaitu tanggal dimana pemegang saham tidak lagi berhak mendapat dividen.
e. Tanggal Pembayaran (date of payment) adalah tanggal dividen benarbenar dibayarkan. Pembayaran biasanya berlangsung beberapa minggu setelah tanggal pengumuman dividen.
Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002:230-231), kebijakan pembayaran dividen yang ditempuh perusahaan yaitu,
1) Stable Dividend Policy (Kebijaksanaan Pembayaran Dividen yang Stabil) Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan selalu stabil dalam jumlah yang tetap, stabil yang semakin naik dan stabil yang semakin menurun. Jadi besarnya dividen yang dibayarkan dalam jumlah yang selalu stabil walaupun terjadi fluktuasi dalam net income.
Keuntungan pembayaran yang stabil yaitu:
a) Harga saham umumnya naik, maka saham-saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang menganut kebijaksanaan pembayaran dividen stabil tingkat kenaikannya akan lebih tajam.
b) Jika harga saham pada umumnya turun, maka penurunan harga saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang menganut kebijaksanaan pembayaran dividen stabil tingkat penurunannya lebih lambat.
c) Lebih mudah diakui oleh Badan Pembina Pasar Modal sebagai go public, sehingga penjualan sahamnya akan lebih mudah dan mudah untuk masuk legal list.
2) Fluctuating Dividend Policy (Kebijaksanaan Pembayaran Dividen yang Berfluktuasi) Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan mendasarkan pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi maka besarnya dividen yang dibayarkan relatif tinggi, dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah maka besarnya dividen yang dibayarkan juga rendah, atau dapat dikatakan besarnya selalu proporsional dengan tingkat keuntungannya.
operasinya didapatkan bagian dari keuntungan. Bagian dividen yang bersifat proporsional besarnya tidak sama dengan dividen yang menggunakan kebijakan fluktuatif .
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan dalammembagikan dividen menurut Agus Sartono (2002:293-294) yaitu:
1) Kebutuhan Dana Perusahaan
Kebutuhan dana bagi perusahaan dalam kenyataannya merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen yang akan diambil. Aliran kas perusahaan yang diharapkan, pengeluaran modal dimasa datang yang diharapkan,kebutuhan tambahan piutang dan persediaan, pola (skedul) pengurangan utang dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi posisi kas perusahaan harus dipertimbangkan dalam analisis kebijakan dividen
2) Likuidasi
Likuidasi perusahaan merupakan pertimbangan utama dalambanyak kebijakan dividen. Karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan likuidasi perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan dan profitable akan memerlukan dana yang cukup besar guna membayar investasinya, oleh karena itu mungkin akan mengurangi likuid karena dana yang diperoleh lebih banyak diinvestasikan pada aktiva tetap dan aktiva lancar yang permanen. Likuidasi perusahaan sangat besar pengaruhnya terhadap investasi perusahaan dan kebijakan pemenuhan kebutuhan dana. Keputusan investasi akan menentukan tingkat ekspansi dan kebutuhan dana perusahaan, sementara itu keputusan pembelanjaan (keputusan pemenuhan kebutuhan dana) akan menentukan pemilihan sumber dana untuk membiayai investasi tersebut.
3) Kemampuan Meminjam
tersebut akan meningkatkan fleksibilitas likuiditas perusahaan. Selain itu fleksibilitas perusahaan juga dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk bergerak di pasar modal dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan yang semakin besar dan sudah establish akan memiliki akses yang lebih baik di pasar modal. Kemampuan meminjam yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar dividen. Dalam menentukan dividen payout ratio banyak perusahaan membandingkannya dengan industri, khususnya dengan perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang sama. Meskipun belum tentu sama, namun akan lebih mudah untuk melihat posisi perusahaan dalam industri. Akhirnya perusahaan juga harus menilai pengaruh informasi atas dividen, dalam kaitan ini maka analis surat berharga sangat membantu. 4) Keadaan Pemegang Saham
Jika perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen biasanya mengetahui dividen yang diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan tepat. Jika hamper semua pemegang saham berada dalam golongan high tax dan lebih suka memperoleh capital gains, maka perusahaan dapat mempertahankan dividen payout yang rendah. Dengan dividen payout yang rendah tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan menahan laba untuk kesempatan investasi yang profitable. Untuk perusahaan yang jumlah pemegang sahamnya besar hanya dapat menilai dividen yang diharapkan pemegang saham dalam konteks pasar . 5) Stabilitas Dividen
Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002:230-231), kebijakan pembayaran dividen yang ditempuh perusahaan yaitu,
1) Stable Dividend Policy (Kebijaksanaan Pembayaran Dividen yang Stabil)
Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan selalu stabil dalam jumlah yang tetap, stabil yang semakin naik dan stabil yang semakin menurun. Jadi besarnya dividen yang dibayarkan dalam jumlah yang selalu stabil walaupun terjadi fluktuasi dalam net income. Apabila pada suatu saat kondisi perusahaan mengalami kerugian, pembayaran dividen akan diambilkan dari cadangan stabilisasi dividen.
Keuntungan pembayaran yang stabil yaitu:
a) Harga saham umumnya naik, maka saham-saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang menganut kebijaksanaan pembayaran dividen stabil tingkat kenaikannya akan lebih tajam.
b) Jika harga saham pada umumnya turun, maka penurunan harga saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang menganut kebijaksanaan pembayaran dividen stabil tingkat penurunannya lebih lambat.
c) Lebih mudah diakui oleh Badan Pembina Pasar Modal sebagai go public, sehingga penjualan sahamnya akan lebih mudah dan mudah untuk masuk legal list.
2) Fluctuating Dividend Policy (Kebijaksanaan Pembayaran Dividen yang Berfluktuasi)
Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan mendasarkan pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi maka besarnya dividen yang dibayarkan relatif tinggi, dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah maka besarnya dividen yang dibayarkan juga rendah, atau dapat dikatakan besarnya selalu proporsional dengan tingkat keuntungannya. 3) Kombinasi Stable Dividend Policy dan Fluctuating Dividend Policy
para pemegang saham masih mendapatkan dividen tetap dan apabila didapatkan keuntungan dari hasil operasinya didapatkan bagian dari keuntungan. Bagian dividen yang bersifat proporsional besarnya tidak sama dengan dividen yang menggunakan kebijakan fluktuatif .
Menurut Baridwan (1997) ada beberapa jenis dividen yaitu sebagai berikut: a) Dividen Tunai (cash dividend)
Dividen Tunai merupakan dividen yang dibagikan dalam bentuk kas. Yang perlu diperhatikan oleh manajemen sebelum membuat pengumuman adanya pembagian dividen tunai adalah jumlah uang kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen tersebut.
b) Dividen Aktiva selain Kas (Property dividend)
Merupakan dividen yang dibagikan dalam bentuk aktiva selain kas. Aktiva yang dibagikan dapat berbentuk surat-surat berharga perusahaan yang dimiliki perusahaan, barang dagangan, real estate, atau investasi atau bentuk lain yang dirancang oleh dewan direksi.
c) Dividen dengan Utang Wesel (Script Dividend)
Dividen utang wesel timbul apabila perusahaan tidak membayar dividen sekarang dikarenakan saldo kas yang ada tidak mencukupi, sehingga manajemen perusahaan akan mengeluarkan script dividend yaitu janji tertulis untuk membayar jumlah tertentu diwaktu yang akan datang. Script dividend ini mungkin berbunga mungkin tidak.
d) Dividen Likuidasi (Liquidating Dividend)
Merupakan dividen yang sebagian merupakan pengembalian dari investasi / modal pemegang saham. Apabila perusahaan membagi dividen likuidasi, maka para pemegang saham harus diberitahukan mengenai berapa jumlah pembagian laba dan berapa yang merupakan pengembalian modal sehingga para pemegang saham bisa mengurangi investasinya. Dengan demikian transaksi identik dengan penarikan modal sendiri oleh pemegang saham.
Merupakan pembagian tambahan saham tanpa dipungut pembayaran kepada para pemegang saham sebanding dengan saham-saham yang dimilikinya. Dividen saham kurang lebih merupakan penyusunan kembali modal perusahaan (rekapitalisasi), sedangkan proporsi kepemilikan tidak mengalami perubahaan.
Sutrisno (2000:304) mengemukakan faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham antara lain:
a) Posisi solvabilitas perusahaan
Apabila perusahaan dalam kondisi insolvensi atau solvabilitasnya kurang menguntungkan, biasanya perusahan tidak membagikan laba. Hal ini disebabkan laba yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk memperbaiki struktur modalnya.
b) Posisi likuiditas perusahaan
Dividen kas merupakan arus kas keluar bagi perusahaan, oleh karena itu bila perusahaan membayarkan dividen berarti harus bias menyediakan uang kas yang cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat likuiditas perusahaan. Bagi perusahaan yang likuiditasnya kurang baik, biasanya dividend payout ratio nya kecil, sebab sebagian besar laba digunakan untuk menambah likuiditas. Namun perusahaan yang sudah mapan dengan likuiditas yang baik cenderung memberikan dividen lebih besar.
c) Kebutuhan untuk melunasi hutang
harus diganti. Alternatif mengganti dana hutang bisa dengan mencari hutang baru atau me roll-over hutang, dan juga bisa dengan sumber dana intern dengan memperbesar laba ditahan. Hal ini tentunya akan memperkecil dividend payout ratio.
d) Rencana perluasan
Perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan perusahaan, dan hal ini bisa dilihat dari perluasan yang dilakukan oleh perusahaan. Semakin pesat pertumbuhan perusahaan, juga semakin pesat perluasan yang
e) Kesempatan investasi
Investasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya dividen yang akan dibagi. Semakin terbuka kesempatan investasi semakin kecil dividen yang akan dibayarkan sebab dananya digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi. Namun bila kesempatan investasi kurang, dananya lebih banyak digunakan untuk membayar dividen.
f) Stabilitas pendapatan
Bagi perusahaan yang pendapatannya stabil, dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham lebih besar disbanding dengan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil. Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyediakan kas yang banyak untuk berjaga-jaga, sedangkan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang kas yang cukup besar untuk berjaga-jaga.
g) Pengawasan terhadap Rencana perluasan
Oleh karena itu perusahaan cenderung tidak membagi dividennya agar pengendalian tetap berada ditangannya.
Kebijakan Dividen
A.1. Tujuan Pembagian Dividen
Adapun tujuan dari pembagian dividen adalah sebagai berikut:
1) Untuk memaksimumkan kemakmuran bagi para pemegang saham, karena tingginya dividen yang dibayarkan akan mempengaruhi harga saham. 2) Untuk menunjukkan likuiditas perusahaan. Dengan dibayarkannya
dividen, diharapkan kinerja perusahaan dimata investor bagus dan dapat diakui bahwa perusahaan mampu menghadapi gejolak ekonomi dan mampu memberikan hasil kepada investor.
A.2. Teori Kebijakan Dividen
Brigham dan Houston (2004) mengartikan kebijakan dividen yang optimal adalah kebijakan dividen yang menciptakan keseimbangan diantara saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang yang memaksimumkan harga saham perusahaan. Ada beberapa teori yang dapat digunakan Sebagai landasan dalam menentukan kebijakan dividen untuk perusahaan, sehingga dapat dijadikan pemahaman mengapa suatu perusahaan mengambil kebijakan tertentu.
Teori-teori tersebut adalah: 1) Residual Theory
dibayarkan jika ada laba yang “tersisa”. Jika ada sisa dana internal setelah investasi dilakukan, bayar dividen pada investor. Tapi, jika semua modal internal dibutuhkan untuk mendanai bagian modal investasi yang diusulkan, tidak perlu membayar dividen.
2) Bird In The Hand Theory
Teori ini menyatakan bahwa pemegang saham menganggap kebijakan dividen adalah relevan terhadap nilai saham. Hal ini didasar pada pendapat bahwa pemodal lebih menyukai dividen karena penerimaan dividen merupakan penghasilan yang pasti dibanding capital gain. Pemegang saham akan menilai bahwa dividen yang diterima mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding laba yang ditahan (retained earnings). Sehingga perusahaan sebaiknya menetapkan dividen dengan pay out ratio dan menwarkan dividen yield yang tinggi.
3) Dividend Irrelevance Theory
Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen bukan faktor yang relevan terhadap nilai saham. Hal ini karena nilai saham ditentukan oleh earning power dan resiko bisnis perusahaan, dan tergantung pada laba yang dihasilkan dari aktiva yang digunakan, bukan pada laba yang diperoleh antara dividen dan laba ditahan. Oleh karena itu menurut teori ini, dengan asumsi tidak ada biaya emisi, dividen dibayar atau tidak dibayar, tidak ada pengaruhnya bagi kemakmuran para pemegang saham.
A.3. Kebijakan Pemberian Dividen
a) Kebijakan pemberian dividen stabil
Kebijakan ini artinya dividen akan diberikan secara tetap per lembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh perusahaan berfluktuasi. Dividen stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun, dan kemudian bila laba yang diperoleh meningkat dan peningkatannya mantap dan stabil, maka dividen juga akan ditingkatkan untuk selanjutnya dipertahankan selama beberapa tahun. Kebijakan pemberian dividen stabil ini banyak dilakukan oleh perusahaan karena beberapa alasan (1) bisa meningkatkan harga saham, sebab dividen yang stabil dan dapat diprediksi dianggap mempunyai resiko yang kecil. (2) bisa memberikan kesan kepada para investor bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang. (3) akan menarik investor yang memanfaatkan dividen untuk keperluan konsumsi, sebab dividen selalu dibayarkan.
b) Kebijakan dividen meningkat
Dengan kebijakan ini, perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan dan peningkatan pendapatan dari perusahaan yang stabil. Misalnya perusahaan akan membayarkan dividen sebesar Rp 600,- per lembar dengan pertumbuahn 5% , sehingga tahun depan bisa diprediksikanbesarnya dividen akan naik menjadi RP. 630,- per lembarnya.
c) Kebijakan dividen dengan ratio konstan
payout ratio. Misalnya ditentukan dividen payout rationya sebesar 60% , maka bila tahun ini perusahaan memperoleh laba per lembar sahamnya Rp. 1.500,-maka yang dibayarkan sebagai dividen adalah 60% x Rp. 1.500,- = Rp. 900,-per lembar.
d) Kebijakan pemberian dividen yang rendah ditambah ekstra
Kebijakan pemberian dividen dengan cara ini, perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen perlembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan ekstra dividen bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.
2. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Kondisi profitabilitas yang baik akan mendorong para investor untuk melakukan investasi kedalam perusahaan tersebut. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar-benar akan diterima dalam bentuk dividen (Sartono, 2001:122).
Kasmir (2011:196) , yang menyatakan bahwa rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.
laba selama periode tertentu (biasanya semesteran, triwulanan dan lain-lain) untuk melihat kemampuan perusahaan dalam beroperasi secara efisien.
Naim (1998) mengukur profitabilitas menggunakan 2 rasio, yaitu: Return on Investment (ROI) dan Return on Equity (ROE). ROI merupakan tingkat pengembalian investasi atas investasi perusahaan pada aktiva. ROI sering disebut juga Return on Assets (ROA). Nilai ROI/ (ROA) sebuah perusahaan diperoleh dengan rumus :
ROA =
Return On Equity (ROE) merupakan tingkat pengembalian atas ekuitas pemilik perusahaan. Ekuitas pemilik adalah jumlah aktiva bersih perusahaan, sehingga perhitungan ROE sebuah perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
ROE =
Penelitian ini menggunakan proksi ROE sebagai ukuran profitabilitas perusahaan. Pertimbangan karena ROE merupakan turunan dari ROI sehingga hasilnya merupakan hasil yang dapat lebih menggambarkan profitabilitas.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disintesiskan bahwa rasio profitabilitas adalah rasio untuk mengukur tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan yang ditunjukan oleh jumlah keuntungan yang dihasilkan dari penjualan dan investasi.
3. Leverage
perusahaan untuk membayar utang – utangnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Menurut Harahap (2009:306), rasio leverage merupakan rasio yang mengukur
seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh kewajiban atau pihak luar dengan kemampuan
perusahaan yang digambarkan oleh ekuitas. Setiap penggunaan utang oleh perusahaan
akan berpengaruh terhadap rasio dan pengembalian. Rasio ini dapat digunakan untuk
melihat seberapa resiko keuangan perusahaan.
Syahril (2009:83) mengemukakan bahwa: Perusahaan menggunakan operating dan financial leverage dengan tujuan agar keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya aktiva dan sumber dananya, dengan demikian akan meningkatkan keuntungan pemegang saham. Sebaliknya leverage juga meningkatkan variabilitas (risiko) keuntungan, karena jika perusahaan ternyata mendapatkan keuntungan yang lebih rendah dari biaya tetapnya maka penggunaan leverage akan menurunkan keuntungan pemegang saham.Debt to Equity Ratio dihitung menggunakan rumus :
DER =
Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disintesiskan Rasio laverage adalah rasion yang digunakan perusahaan untuk membayar beban bunga periode tertentu dengan jaminan laba operasi yang diperolehnya pada periode tertentu.
B. Penelitian Terdahulu
sedangkan profitabilitas diproksikan dengan Return On Equity dan leverage yang diproksikan dengan debt to equity ratio hasilnya tidak signifikan.
Agus Sihono (2008) meneliti pengaruh profitabilitas, likuiditas dan leverage terhadap dividen payout ratio pada perusahaan manufaktur di BEI .Berdasarkan pengujian hipotesisnya variabel profitabilitas diproksikan dengan Return On Equity dan likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap dividen payout ratio, sedangkan leverage yang diproksikan dengan debt to equity ratio hasilnya tidak signifikan terhadap dividen payout ratio.
C. Kerangka Teoritis
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini berangkat dari adanya anggapan bahwa kebijakan dividen dalam perusahaan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : Pertama, Profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan oleh Return On Equity (ROE) yang berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Laba inilah yang akan menjadi dasar pembagian dividen perusahaan, apakah dividen tunai ataupun dividen saham. Hermi (2004) mengungkapkan laba diperoleh dari selisih antara harta yang masuk (pendapatan dan keuntungan) dan harta yang keluar (beban dan kerugian). Laba perusahaan tersebut dapat ditahan (sebagai saldo laba) dan dapat dibagi (sebagai dividen). Sehingga secara sederhana dapat ditarik simpulan bahwa perusahaan yang tidak mampu menghasilkan
Variabel Independen Variabel Dependen
23 Profitabilitas (ROE)
(X1)
Deviden PayOut Ratio ( Y)
( Gambar 2.1 Rancangan Kerangka Pemikiran )
1. Pengaruh hubungan Profitabilitas dan Cash dividend
Return On Equity (ROE) merupakan tingkat pengembalian atas ekuitas pemilik perusahaan. Ekuitas pemilik adalah jumlah aktiva bersih perusahaan. Penelitian ini menggunakan proksi ROE sebagai ukuran profitabilitas perusahaan. Pertimbangan utama karena ROE merupakan turunan dari ROI sehingga hasilnya merupakan hasil yang dapat lebih menggambarkan profitabilitas. Penelitian ini hendak menguji dugaan bahwa profitabilitas perusahaan memiliki pengaruh terhadap kebijakan cash dividend. Tingkat profitabilitas mempengaruhi dividen secara positif diungkapkan Oleh karena itu, hipotesis pertama penelitian ini adalah semakin tinggi profitabilitas maka semakin besar jumlah dividen tunai yang dibayarkan.
2. Pengaruh hubungan Leverage dan Cash dividend
D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara tentang rumusan masalah penelitian yang belum dibuktikan kebenarannya. Di dalam penelitian ini diduga terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi cash dividend yaitu: profitabilitas (ROE) dan leverage (DER).
Maka disusunlah hipotesis sebagai berikut.
H0 = Profitabilitas tidak berpengaruh pada Cash deviden H1 = Profitabilitas berpengaruh pada Cash deviden H0 = Leverage tidak berpengaruh pada Cash deviden H1 = Leverage berpengaruh pada Cash deviden
BAB III
METODE PENELITIAN 1. Tempat Dan Waktu Penelitian
1.1. Tempat Penelitian
Guna memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan Skripsi yang berjudul “Pengaruh Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Cash Dividend Pada 6 Perusahaan Manufaktur Di Bei Tahun 2011-2013, maka penulis mengadakan penelitian pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) periode 2011-2013 di Bursa Efek Indonesia,mJl. Jendral Sudirman Ka 52-53 Senayan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
1.2. Waktu Penelitian
Data diolah, disajikan, dan dianalisa untuk melihat hubungan / korelasi antara variabel independen dan variabel dependen dan metode penelitian kuantitatif
Menurut Sugiyono dalam bukunya “Metode Penelitian Bisnis” (2009:14) menyatakan bahwa: Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan.
Jadi berdasarkan pengertian di atas metode deskriptif kuantitatif adalah metode yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara sistematis, faktual dan akurat melalui pendekatan kuantitatif dan tes statistik, sehingga hasil akhir penelitian merupakan verifikasi dari suatu teori, apakah teori tersebut diterima atau ditolak. Hasil penelitian berupa generalisasi, untuk kesimpulan umum yang dibuat atas dasar fakta empiris tentang sampel penelitiannya. Sedangkan desain penelitian yang digunakan oleh penulis di dalam penelitian ini adalah studi kasus, yang melihat unit sosial sebagai suatu keseluruhan, apakah unit tersebut adalah perseorangan ataupun kelompok sosial lainnya.
Penelitian yang dilakukan mempunyai maksud memberikan penjelasan dengan cara melakukan pengukuran secara cermat terhadap fenomena tertentu dan menjelaskan hubungan antara variabel-variabel dengan menganalisis melalui pendekatan kuantitatif dan menggunakan statistika untuk pengujian hipotesis.
3. Populasi Dan Sampel Penelitian 3.1. Populasi
manufaktur karena perusahaan manufaktur memiliki populasi paling besar dan hampir semua perusahaan manufaktur melaporkan laporan keuangan di BEI.
3.2. Sampel
Metode Pengambilan data sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai 2013. Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel 6 Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik pengambilan sampel dilakukan secara Purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representative sesuai dengan kriteria yang ditentukan.Adapun kriteria yang digunakan untuk memilih sampel adalah sebagai berikut:
a. Perusahaan perbankan yang sudah go public atau terdaftar di Bursa EfekI ndonesia (BEI) periode2011-2013.
b. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang menyampaikan datanya secara lengkap sesuai dengan informasi yang diperlukan, yaitu profitabilitas (ROE), dan leverage (DER) serta Dividen payout ratio (DPR).
c. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang secara konsisten membagikan dividen kas selama tahun penelitian yaitu tahun 2011-2013.
4. Teknik Pengumpulan Data 4.1. Teknik Pengumpulan Data
Dokumentasi, yaitu dengan mengadakan catatan berupa Summary of Financial Statement dan annual report yang tercantum dalam Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dari masing-masing perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan mempelajari buku-buku, karya tulis lainnya dan informasi yang diperoleh dari internet yang berkaitan dengan penelitian ini.
Cash Deviden
Cash deviden merupakan suatu kebijakan untuk menetapkan beberapa bagian dari laba bersih yang akan dibagikan sebagai deviden kepada para pemegang saham dan seberapa besar bagian laba bersih itu akan ditanamkan kembali sebagai laba yang ditahan untuk reinvestasi.
b. Definisi Operasional
Cash deviden merupakan suatu kebijakan untuk menetapkan beberapa bagian dari laba bersih 6 perusahaan manufaktur yang ada pada bursa efek indonesia yang akan dibagikan sebagai deviden kepada para pemegang saham dan seberapa besar bagian laba bersih itu akan ditanamkan kembali sebagai laba yang ditahan untuk reinvestasi.
Profitabilitas
a. Definisi Konseptual
rasio profitabilitas adalah rasio untuk mengukur tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan yang ditunjukan oleh jumlah keuntungan yang dihasilkan dari penjualan dan investasi
b. Definisi Operasional
rasio profitabilitas adalah rasio untuk mengukur tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan 6 perusahaan manufaktur yang ada pada bursa efek indonesia yang ditunjukan oleh jumlah keuntungan yang dihasilkan dari penjualan dan investasi
Laverage
a. Definisi Konseptual
5. Teknis Analisis Data
Metode yang digunakan adalah metode regresi linier berganda, untuk menguji pengaruh profitabilitas (ROE) dan leverage (DER) terhadap cash dividend perusahaan
manufaktur. Analisis datanya menggunakan SPSS versi 17.00. Tujuan pengujian regresi
adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh profitabilitas (ROE) dan leverage (DER), terhadap cash dividend perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia.
5.1. Uji Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah yang digunakan untuk mengenalisa yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagai mana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Yang termasuk dalam statistik deskriptif antara lain adalah penyajian data melalui table,grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean (pengukuran tendensi sentral ), perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi.
5.2. Uji Asumsi Klasik dalam Regresi a. Uji Normalitas Data
5.3. Uji Analisis Regresi
Uji regresi merupakan suatu teknik untuk regresi digunakan untuk membangun persamaan dan menggunakan persamaan tersebut untuk membuat perkiraan.Adapun bentuk persamaan regresi linear di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Y = a + b1 X1 + b2 X2 Dimana :
Y = Cash Deviden ( Deviden payout ratio) a = Konstanta atau nilai Y, apabila X1 = X2 = 0 b1, b2, b3 = Koefisien regresi
X1 = Proitabilitas ( ROE )
X2 = Leverage (Debt to Equity Ratio) 5.4. Uji Hipotesis ( Ha)
a. Uji Parsial (Uji t)
Pengujian ini digunakan untuk membuktikan apakah koefisien regresi tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak secara parsial antara variabel independent (X) terhadap variable dependent (Y).
Dasar pengambilan keputusan
a. Jika t hitung > t table, maka mempunyai pengaruh yang signifikan. b. Jika t hitung < t table, maka tidak mempunyai pengaruh yang signifikan.
atau
c. Jika Sig. > α (0,05), maka koefisien regresi tidak signifikan. d. Jika Sig.< α (0,05), maka koefisien regresi signifikan.
b. Uji Simultan (Uji F)
Pengujian ini digunakan untuk mengetahui apakah koefisien regresi tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak secara bersama-sama antara variabel independen (X) terhadap variable dependen (Y).Dasar pengambilan keputusan :
a. Jika F hitung > F table, maka mempunyai pengaruh yang signifikan. b. Jika F hitung < F table, maka tidak mempunyai pengaruh yang signifikan.
Atau