• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktikum Riset Pemasaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Praktikum Riset Pemasaran"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pemasaran merupakan suatu proses sosial dimana individu dan kelompok dapat memperoleh kebutuhan mereka dengan saling menciptakan penawaran satu sama lain. Terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak.

Di dalam pemasaran produk tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar sesuai keinginan perusahaan. Banyak permasalahan yang timbul dalam bentuk keluhan, komentar, kritik, saran atau masukan dari konsumen. Permasalahan produk meliputi banyak aspek seperti kualitas produk, harga, ukuran produk dan kemasan, dan sebagainya, dimana berbagai permasalahan tersebut tidak akan dapat diselesaikan secara sendiri tanpa bantuan konsumen. Oleh karena itu untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap suatu produk diperlukan suatu penelitian yang dinamakan riset pemasaran.

(2)

1.2. Rumusan Masalah

1. Faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap minat beli produk olahan cokelat di kecamatan Semarang Selatan?

2. Bagaimana tingkat konsumsi produk olahan cokelat di kecamatan Semarang Selatan?

1.3. Hipotesis

Ho : Faktor produk, harga, tempat, dan promosi tidak berpengaruh ....terhadap minat beli produk olahan cokelat di kecamatan Semarang

…Selatan.

H1 : Faktor produk, harga, tempat, dan promosi berpengaruh terhadap minat beli produk olahan cokelat di kecamatan Semarang Selatan.

1.4. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, dapat diketahui bahwa tujuan praktikum riset pemasaran adalah :

1. Untuk mengetahui faktor bauran pemasaran yang paling berpengaruh terhadap minat beli produk olahan cokelat di kecamatan Semarang Selatan

(3)

1.5. Manfaat

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Produk Olahan Cokelat

Cokelat merupakan produk pangan hasil olahan derivat biji kakao yang berasal dari tanaman kakao atau Theobroma cacao L. Biji kakao mengandung 35-50% minyak/lemak, 15% pati, 15% protein, 1-4% theobromin dan 0,07-0,36% kafein (Rizza et al., 2000). Cokelat merupakan produk pangan olahan yang bahan ingrediennya terdiri dari campuran kombinasi dari pasta cokelat (chocolate liquor), gula, lemak kakao dan beberapa jenis bahan tambahan citarasa (Kelishadi, 2005). Saat ini, cokelat banyak dikonsumsi hampir di seluruh dunia dan banyak dipelajari atau diteliti karena secara in vivo memiliki sifat-sifat sebagai antioksidan dan antiradikal dari kostituen kandungan senyawa fenoliknya, yang terdiri dari asam fenolik, procianidin dan flavonoid yang merupakan senyawa komponen bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan manusia (Sudibyo, 2012).

2.2. Tingkat Konsumsi Olahan Cokelat

(5)

sangat dipengaruhi oleh aktivitas, teman-teman dan pengetahuan konsumen (Hermanianto, 2002).

Citra merek memiliki pengaruh positif dalam menciptakan suatu komitmen terhadap pembelian suatu produk atau merek yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas konsumen terhadap produk atau merek tersebut (Zhenzhen Tan, 2009). Konsumen memiliki pengaruh terhadap keinginan konsumen untuk membeli dan pada akhirnya menghasilkan minat beli (Anoraga, 2004.). Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pola konsumsi seseorang yang disebabkan oleh pola pikir dan pengalamannya (Nurmansyah, 2006).

2.3. Bauran Pemasaran

(6)

2.3.1. Produk

Produk adalah barang atau jasa yang bisa ditawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian, atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan (Fuad et al., 2000). Produk atau barang dapat dibedakan menjadi barang konsumsi yaitu barang yang dibeli oleh konsumen akhir untuk dikonsumsi dan barang industri yaitu barang yang dibeli dan diolah kembali (Umar, 2000). Kemasan produk bukan sekedar wadah atau pembungkus produk, namun memiliki beberapa tujuan lain yakni melindungi produk, meningkatkan penampilan, sebagai sarana promosi, mengamankan distribusi dan mempermudah perhitungan (Suprapti, 2005). Pemberian merek lebih baik dibuat semenarik mungkin agar mudah diingat. Pemberian merek adalah proses menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan ciri produk tertentu yang dibuat oleh produsen tertentu supaya mudah diingat oleh konsumen (Griffin and Ebert, 2006).

2.3.2. Harga

(7)

(Engel dan Blackwell, 2004). Harga berdampak pada kinerja keuangan dan berpengaruh penting pada nilai penempatan posisi merk di benak pelanggan (Suyanto, 2007). Produk akan mudah mendapatkan respons yang bagus dari masyarakat apabila didukung harga yang terjangkau (Kartajaya, 2006).

2.3.3. Tempat

Tempat yang strategis membuat konsumen lebih mudah dalam menjangkau dan juga keamanan yang terjamin. Lokasi memegang peranan yang penting dalam melakukan usaha, karena berkaitan dengan dekatnya lokasi usaha dengan pusat keramaian, mudah dijangkau (aksesbilitas), aman, bersih dan tersedianya tempat parkir yang luas, pada umumnya lebih disukai konsumen (Lupiyoadi, 2001). Tempat meliputi masalah pemasaran seperti jenis penyaluran, paparan, transportasi, distribusi dan lokasi. Sebuah produk harus tersedia untuk konsumen kapan dan dimana

konsumen inginkan. Pemasar menggambarkan ini sebagai “penyaluran”. Penyaluran

menjelaskan setiap perusahaan (individu) yang berpartisipasi dalam aliran produk dari produsen ke konsumen (Nitisemito, 2002).

2.3.4. Promosi

(8)

hubungan masyarakat, penjualan personal, dan pemasaran langsung (Kotler dan Amstrong, 2003). Beberapa bentuk promosi seperti promosi personal selling, mass selling, promosi penjualan, public relation, direct marketing. Cara promosi yang dapat dilakukan antara lain dengan promosi mouth by mouth, mengikuti even-even tertentu, mengadakan diskon khusus pada saat tertentu, memberi member card pada pelanggan (Rina, 2011). Tujuan promosi adalah menginformasikan (information), membujuk pelanggan sasaran (persuading), dan mengingatkan (reminding) (Sofjan, 2011).

2.4. Keputusan Pembelian

(9)

BAB III

METODOLOGI

3.1. Materi

Praktikum Riset Pemasaran dilaksanakan pada tanggal 15 April 2016 di kecamatan Semarang Selatan. Pengujian dilakukan kepada 30 responden dengan menggunakan alat bantu kuisioner dalam melakukan wawancara.

3.2. Metode

(10)

3.2.1. Metode Penentuan Sampel

Sampel penelitian harus ditentukan berdasarkan tujuan penelitian dan kondisi populasi, seperti luas, sebaran, dan sebagainya. Berikut ini akan diuraikan mengenai pengertian sampel serta cara pengambilan sampel (sampling) yang digunakan dalam penelitian ini.

3.2.1.1. Sampel

Penelitian dilakukan pada sampel karena masalah keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak memungkinkan untuk meneliti keseluruhan populasi warga di kecamatan Semarang Selatan. Sampel adalah bagian dari populasi. Menurut Harianti et al. (2012), sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap yang dianggap bisa mewakili populasi. Sampel yang digunakan dalam riset pemasaran ini sebanyak 30 sampel. Alasan pemilihan sampel antara lain adalah obyek penelitian yang homogen, mudah rusak, penghematan biaya, masalah ketelitian, ukuran populasi dan faktor ekonomis. Sampel yang baik harus memenuhi dua syarat yaitu representatif dan memadai (Arifin, 2008).

3.2.1.2. Sampling

(11)

sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi.

3.2.2. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu metode survei dengan melakukan wawancara kepada warga di kecamatan Semarang Selatan berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disiapkan sebelumnya. Survei adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan instrumen untuk meminta tanggapan dari responden tentang variabel yang diteliti. Pada dasarnya survei terdiri atas wawancara dan kuesioner (Gulo, 2010).

3.2.2.1. Sumber Data

(12)

3.2.2.2. Skala Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel 4p dilakukan dengan menggunakan skala likert yaitu dengan cara memberikan opsi jawaban berdasarkan pilihan sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Skala likert merupakan skala yang mengukur kesetujuan atau ketidaksetujuan seseorang terhadap serangkaian pertanyaan berkaitan dengan keyakinan atau perilaku mengenai suatu obyek tertentu (Oktavia, 2015).

Menurut Hermawan (2009), skala likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda yang umumnya menggunakan skor tertentu yaitu :

1. sangat tidak setuju diberi skor 1 2. tidak setuju diberi skor 2

3. netral diberi skor 3 4. setuju diberi skor 4

5. sangat setuju diberi skor 5

3.2.2.3. Variabel Penelitian

(13)

3.2.2.4. Definisi Operasional Variabel

Variabel harus didefinisikan secara operasional agar lebih mudah dicari hubungannya antara satu variabel dengan lainnya dan pengukurannya. Definisi operasional ialah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan. Operasionalisasi variabel bermanfaat untuk mengidentifikasi kriteria yang dapat diobservasi yang sedang didefinisikan dan menunjukkan bahwa suatu konsep atau objek mungkin mempunyai lebih dari satu definisi operasional (Zulfikar dan Budiantara, 2014).

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel 4p dan variabel minat beli. Terkait dengan variabel ada yang dinamakan atribut dan indikator. Atribut adalah nilai spesifik dari variabel. Indikator adalah ukuran, yakni hal-hal yang menunjukkan keterwakilan dari nilai sebuah variabel.

1. Variabel Independen a. Produk

Indikator yang menunjukkan kualitas produk antara lain : - Merek (Brand)

- Tampilan produk (bentuk, ukuran, dan kemasan) - Kualitas produk (rasa dan kandungan gizi) b. Harga

(14)

- Potongan harga

- Harga berdasarkan variasi produk - Harga jual produk pesaing

c. Tempat

Indikator yang menentukan tempat : - Kemudahan mendapatkan produk - Lokasi pembelian

- Lokasi mudah dijangkau d. Promosi

Indikator yang menentukan promosi : - Media promosi

- Frekuensi dan penyebarluasan iklan

- Adanya promosi penjualan, misalnya diskon dan bonus pembelian. 2. Variabel Dependen

a. Minat beli

Indikator dari minat beli antara lain : - Pencarian informasi

- Evaluasi alternatif

(15)

3.3. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam praktikum ini adalah uji korelasi Spearman. Korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya hubungan di antara kedua variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat yang berskala non parametrik (Tifani, 2011). Perhitungan koefisien korelasi Spearman dilakukan dengan merangking setiap data pada setiap variabel kemudian menghitung selisih rangking dari setiap pasangan data pada dua variabel yang ada dan kemudian dikuadratkan. Hasil-hasil kuadrat selisih rangking itulah yang kemudian digunakan untuk menghitung (Suharjo, 2008; Hidayatulloh, 2012).

Secara sistematis korelasi Spearman dinotasikan sebagai berikut:

rs ∑

d1 = Selisih rangking pada setiap pasangan data n = Banyaknya pasangan data

Tabel 1. Interpretasi terhadap Nilai rs Hasil Analisis Korelasi (Budi, 2006)

Interval Nilai rs Interpretasi

0,001 – 0,200 Korelasi sangat lemah 0,201 – 0,400 Korelasi lemah

(16)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Obyek Riset

Objek riset penelitian ini adalah warga masyarakat di kecamatan Semarang Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan memilih 30 responden di kecamatan Semarang Selatan dengan sistem purposive random sampling, yang terdiri dari responden laki-laki sebanyak 12 responden atau 40%, sedangkan jumlah responden perempuan sebanyak 18 responden atau 60%. Pendidikan masing–masing responden adalah SMP, SMA, dan Mahasiswa. Gambaran perolehan data mengenai sebaran pendidikan dan jenis kelamin dijelaskan pada ilustrasi 1. dan ilustrasi 2.

Tabel 2. Distribusi Responden

Pendidikan Jenis Kelamin

SMP SMA Mahasiswa Laki-Laki Perempuan

10 9 11 12 18

(17)

Ilustrasi 1. Sebaran Pendidikan Warga Masyarakat Kecamatan Semarang Selatan

(18)

4.2. Gambaran Umum Data

Berdasarkan data yang diperoleh, merk cokelat yang paling digemari responden (Ilustrasi 3.) adalah merk Silver Queen dengan persentase sebanyak 45%, sedangkan posisi kedua diduduki oleh Cadburry 26%, disusul oleh Beng-beng 15%, Choki-choki 11% dan Chacha 3%.

Ilustrasi 3. Grafik Merk Cokelat Paling Digemari

Alasan responden memilih merk Silverqueen karena dipengaruhi oleh faktor produk. Hal tersebut dibuktikan oleh data yang diperoleh pada Ilustrasi 4. bahwa sebanyak 43% responden memilih merk tersebut karena faktor rasa. Menyusul 29% memilih produk tersebut karena harganya yang terjangkau, kemudian 15% menjawab kandungan gizi produk, 9% memilih karena kemasan produk yang unik dan menarik, dan 4% lainnya memilih bentuk dan ukuran produk. Tidak ada responden yang menjawab kemudahan produk tersebut didapat. Ini berarti distribusi produk bukan merupakan faktor penting dalam minat beli konsumen.

(19)

Ilustrasi 4. Grafik Alasan Pembelian Merk Cokelat

Responden mendapatkan informasi mengenai merk-merk cokelat tersebut sebagian besar dari televisi sebanyak 71% yang tergambar pada Ilustrasi 5. Selain itu, sebanyak 16% responden mendapat informasi mengenai cokelat dari teman atau kenalan, 10% dari internet dan media sosial, dan 3% sisanya dari majalah dan media cetak lainnya.

(20)

4.3. Analisis Data

Hasil uji korelasi Spearman mengenai hubungan antara variabel 4p terhadap minat beli produk hasil olahan cokelat menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap minat beli produk hasil olahan cokelat adalah variabel produk dengan nilai rs sebesar 0,462. Hubungan antara variabel produk dengan minat beli adalah cukup kuat. Variabel harga, tempat, dan promosi penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli.

4.4. Hasil Penelitian

Hubungan antara variabel 4p (product, price, place, dan promotion) terhadap minat beli produk hasil olahan cokelat diperoleh berdasarkan uji korelasi Spearman yang dijelaskan pada sub bab berikut ini.

4.4.1. Hubungan Produk (X1) dengan Minat beli (Y)

Tabel 3. Korelasi Produk dengan Minat Beli

Variabel Koefisien Korelasi Signifikansi

X1 (produk) 0.462 0.010

Sumber : Data Primer Praktikum Riset Pemasaran, 2016.

(21)

maka hubungan kedua variabel signifikan. Jika angka signifikansi hasil riset >0,05, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan. Hubungan antara variabel produk dengan minat beli cukup erat yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,462. Hal ini sesuai dengan pendapat Budi (2006) yang menyatakan bahwa rs memiliki nilai interval antara lain 0,001-0,200 interpretasi korelasi sangat lemah, 0,201-0,400 menunjukkan interpretasi korelasi lemah, 0,401-0,600 menunjukkan interpretasi korelasi cukup kuat, 0,601-0,800 menunjukkan intrepetasi korelasi kuat, 0,801-1,000 menunjukkan interpretasi korelasi sangat kuat. Hal ini didukung oleh pendapat Rahayu et al. (2013) yang menyatakan bahwa koefisien korelasi semakin mendekati nilai 1 maka korelasinya semakin kuat.

4.4.2. Hubungan Harga (X2) dengan Minat beli (Y)

Tabel 4. Korelasi Harga dengan Minat Beli

Variabel Koefisien Korelasi Signifikansi

X2 (harga) 0.302 0.105

Sumber : Data Primer Praktikum Riset Pemasaran, 2016.

(22)

Diketahui bahwa koefisien korelasi sebesar 0,302 (bernilai positif) menandakan adanya hubungan yang searah antara kedua variabel. Artinya, apabila X2 (harga) semakin baik (semakin murah) maka minat beli konsumen juga akan meningkat atau semakin baik pula. Koefisien korelasi antara variabel harga dengan minat beli menunjukkan hubungan yang lemah antara kedua variabel. Hal ini sesuai dengan pendapat Budi (2006) yang menyatakan bahwa rs memiliki nilai interval antara lain 0,001-0,200 interpretasi korelasi sangat lemah, 0,201-0,400 menunjukkan interpretasi korelasi lemah, 0,401-0,600 menunjukkan interpretasi korelasi cukup kuat, 0,601-0,800 menunjukkan intrepetasi korelasi kuat, 0,801-1,000 menunjukkan interpretasi korelasi sangat kuat.

4.4.3. Hubungan Tempat (X3) dengan Minat beli (Y)

Tabel 5. Korelasi Tempat dengan Minat Beli

Variabel Koefisien Korelasi Signifikansi

X3 (tempat) -0.244 0.193

Sumber : Data Primer Praktikum Riset Pemasaran, 2016.

(23)

sebesar -0.244, maka nilai ini menandakan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan terbalik. Artinya, jika distribusi produk (place) tinggi, maka minat beli konsumen akan menjadi rendah, begitu pula sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahayu et al. (2013) yang menyatakan bahwa Jika koefesien korelasi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan searah. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefesien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan menjadi rendah (dan sebaliknya).

4.4.4. Hubungan Promosi (X4) dengan Minat beli (Y)

Tabel 6. Korelasi Promosi dengan Minat Beli

Variabel Koefisien Korelasi Signifikansi

X4 (promosi) 0.082 0.666

Sumber : Data Primer Praktikum Riset Pemasaran, 2016.

(24)
(25)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil riset pemasaran produk olahan cokelat di kecamatan Semarang Selatan dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran produk merupakan yang paling signifikan mempengaruhi minat beli produk olahan cokelat pada masyarakat di kecamatan Semarang Selatan, sedangkan bauran pemasaran yang lain seperti harga, tempat, dan promosi berpengaruh tidak signifikan (tidak nyata) terhadap minat beli masyarakat di sekitar Semarang Selatan. Sesuai dengan hipotesis penelitian, maka H0 ditolak dan H1 diterima, namun yang mempengaruhi minat beli secara signifikan hanya produk saja.

5.2. Saran

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, P. 2004. Manajemen Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta.

Arifin, J. 2008. Statistik Bisnis Terapan dengan Microsoft Excel 2007. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Budi, T.P. 2006. SPSS 13.0 Terapan Riset Statistik Parametrik. Andi, Yogyakarta. Engel, J dan R, Blackwell. 2004. Consumer Behavior. Andi, Yogyakarta.

Fuad, M. et al. 2000. Pengantar Bisnis. Gramedia, Jakarta.

Griffin, R.W. dan Ronald, J.E. 2006. Bisnis Edisi ke Delapan Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Gulo, W. 2010. Metodologi Penelitian. Grasindo, Jakarta. Harianti, A., et al. 2012. Statistika II. Andi, Yogyakarta.

Hermanianto, J. dan R.Y. Andayani. 2002. Studi perilaku konsumen dan identifikasi parameter bakso sapi berdasarkan preferensi konsumen di wilayah DKI Jakarta. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. 13 (1) : 1-10.

Hermawan, A. 2009. Penelitian Bisnis. Grasindo, Jakarta. Kartajaya, H. 2006. Seri 9 Elemen Marketing. Mizan, Bandung.

Kelishadi, R.M.D. 2005. Cacao to Cocoa to Chocolate : Healthy Food?. ARYA Journal. 1 (1) : 28-34.

Kotler P. 2004. Manajemen Pemasaran Perspektif Asia. ANDI, Yogyakarta. Kotler P. dan Kelvin L.K. 2009. Manajemen Pemasaran. Erlangga, Jakarta.

Lupiyoadi, R. 2001. Manajemen Pemasaran Jasa Teori dan Praktek. Rinerka Cipta, Jakarta.

Nitisemito, A.S. 2002. Marketing. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Nurmasyah, A. 2006. Analisis Perilaku Konsumen dalam Minat beli Kartu IM3 di Bandar Lampung. Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Skripsi.

(27)

Oktavia, N. 2015. Sistematika Penulisan Karya Ilmiah. Deepulish, Yogyakarta Priyatno, D. 2010. Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS. Media Com, Jakarta. Rahayu, A., S.A. Santosa, dan A. Susanto. 2013. Evaluasi mutu genetik sapi perah

menggunakan catatan produksi susu harian dan centering date method (cdm). 1 (1) : 236-243.

Rizza, R.A et al. 2000. Encyclopedia of Foods : A Guide to Helathy Nutrition. Academic Press, London.

Sarwono, J. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Simamora, B. 2003. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan Profitabel. Gramedia, Jakarta.

Simamora, B. 2008. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Gramedia, Jakarta.

Suardika, P., Ambarwati, dan Sukaatmadja. 2014. Analisis perilaku konsumen terhadap minat beli sayur organik cv golden leaf farm bali. Jurnal Manajemen Agribisnis. 2 (1) : 1-10.

Sudibyo, A. 2012. Peran Cokelat sebagai Produk Pangan Derivat Kakao yang Menyehatkan. Jurnal Riset Industri. 6 (1) : 23-40

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta, Bandung.

Suprapti, M.L. 2005. Aneka Olahan Beligu dan Labu. Kanisius, Yogyakarta.

Sutisna. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Suyanto, M. 2007. Marketing Strategy Top Brand Indonesia. Andi, Yogyakarta. Umar, H. 2000. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Gramedia, Jakarta.

Wahab, S.A. 2012. Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Bumi Aksara, Jakarta.

Zhenzhen Tan. 2009. Exploring the impact of brand image on customer loyalty and commitment in China. Journal of Technology Management in China. 4 (2) : 132-144.

(28)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Kuisioner

A. IDENTITAS RESPONDEN

Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang sesuai pendapat Anda!

1. Nama :

1. Kurang dari Rp. 2.000.000 2. Rp. 2.000.000 – Rp. 7.000.000 3. Rp. 7.000.001 – Rp. 11.000.000 4. Rp. 11.000.001 – Rp. 15.000.000 5. Lebih dari Rp. 15.000.000

8. Berapa pengeluaran yang digunakan untuk mengkonsumsi coklat per bulan? 1. Kurang dari Rp. 20.000

2. Rp. 20.000 – Rp. 30.000 3. Rp. 30.001 – Rp. 40.000 4. Rp. 40.001 – Rp. 50.000 5. Lebih dari Rp. 50.000

(29)

Lampiran 1. (lanjutan)

10. Apa alasan Anda tertarik mengkonsumsi coklat merek tersebut? 1. Bentuk dan ukuran produk 2. Harga terjangkau

11. Darimana anda mendapatkan informasi mengenai coklat tersebut? 1. Televisi

2. Iklan media cetak 3. Internet

4. Teman/kenalan 5. Lainnya, sebutkan

12. Jenis rasa coklat apa saja yang sering anda konsumsi ? 1. Vanila

2. Strawbey 3. Coklat original 4. Lainnya, sebutkan

13. Seberapa sering anda mengkonsumsi coklat dalam seminggu ? 1. 1 kali

(30)

Lampiran 1. (lanjutan)

B. BAURAN PEMASARAN

Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang sesuai pendapat Anda pada kolom jawaban yang telah disediakan.

Keterangan :

1 = Sangat Tidak Setuju (STS)

2 = Tidak Setuju (TS)

1 Alasan saya mengkonsumsi coklat karena kandungan gizinya tinggi

2 Saya akan mengkonsumsi coklat karena rasanya enak

3 Saya akan mengkonsumsi coklat karena bentuk dan ukuran produknya ekonomis

(31)

Lampiran 1. (lanjutan)

Faktor Harga (Price)

No Pertanyaan

Tingkat Persetujuan

STS TS N S SS

1 2 3 4 5

1 Saya mengkonsumsi coklatkarena harganya yang terjangkau

2 Saya mengkonsumsicoklat karena harga yang ditawarkan sebanding dengan kualitas produk yang didapatkan

3 Saya mengkonsumsicoklat karena harganya yang bervariasi sesuai dengan ukuran

Faktor Tempat (Place)

No Pertanyaan

Tingkat Persetujuan

STS TS N S SS

1 2 3 4 5

1 Saya mengkonsumsi coklat karena produk mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal

2 Saya mengkonsumsi coklat karena produk yang mudah

(32)

Lampiran 1. (lanjutan)

1 Saya memilih produk coklat karena iklan di media elektronik yang kreatif dan menarik

3 Saya memilih produk coklat karena tertarikdengan iklan yang ditawarkan lewat media cetak

4 Saya memilih produk coklat karena iklan yang cukup sering muncul di berbagai media

5 Saya mengkonsumsi coklat karena kemasannya yang menarik

6 Saya mengkonsumsi coklat karena mereknya sudah terkenal (branded)

Keputusan Pembelian (Y)

No Pertanyaan STS TSTingkatPersetujuan

E

N S SS

1 2 3 4 5

1 Saya akan mengkonsumsi coklat setiap hari

2 Saya sudah yakin dengan keputusan membeli coklat

3 Saya tidak akan beralih kepada produk coklat merek lain kecuali jika coklat yang biasa saya konsumsi tidak tersedia di tempat pembelian

(33)

Lampiran 2. Analisis Data SPSS

Ilustrasi 6. Uji Korelasi One-Sample Kolmogorof-Smirnov

(34)

Lampiran 2. (lanjutan)

(35)

Lampiran 3. Input Data ke dalam Microsoft Excell

(36)

Lampiran 4. Dokumentasi

Ilustrasi 10. Foto Responden Siswi SMP

(37)

Lampiran 4. (lanjutan)

Gambar

Tabel 1. Interpretasi terhadap Nilai rs Hasil Analisis Korelasi (Budi, 2006)
Tabel 2. Distribusi Responden

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melakukan pemantauan yang benar maka bisa menggunakan Jasa Riset Pemasaran yang akan membantu menghitung persentase pencapaian kualitas produk di masyarakat.. Ini bisa

Riset Pemasaran: Implementasi dalam Bauran Pemasaran. Jakarta

Perusahaan-perusahaan kecil dapat menyewa jasa perusahaan riset pemasaran atau Perusahaan-perusahaan kecil dapat menyewa jasa perusahaan riset pemasaran atau

Abstrak – Penelitian dengan judul Pengaruh Perencanaan Produksi dalam Mencapai Optimalisasi Bauran Pemasaran Makanan Olahan terhadap Strategi Pemasaran (Studi Kasus

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran adalah seperangkat pemasran yang memiliki keterkaitan antar indikator meliputi produk, penentuan harga, atau

Riset pemasaran didefinisikan sebagai rancangan sistematis dari mengumpulkan, analisis dan pelaporan data yang relevan tentang situasi pemasaran spesifik. Informasi dari hasil

Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Konsumen Membeli Produk Olahan Ayam Di Rumah Makan Resto Gama Malang..

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan lokasi secara bersama-sama berpengaruh signifikan