• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riset Pemasaran Mi Instan di Tembalang, Kota Semarang

N/A
N/A
neisyayusuf amelia

Academic year: 2024

Membagikan " Riset Pemasaran Mi Instan di Tembalang, Kota Semarang"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Riset Pemasaran Mi Instan

Pada penelitian ini dilakukan adanya riset pemasaran mi instan dengan bertujuan untuk mengetahui pemasaran atau penjualan mi instan yang di swalayan yang berada di Tembalang, Kota Semarang untuk mengetahui mi instan manakah yang sangat diminati oleh masyarakat Tembalang kota Semarang. Hasil riset pemasaran mi instan dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Hasil Riset Pemasaran Mi Instan

No Kode Sampel Nilai Pemasaran

1. G2 4

2. G1 5

3. R1 3

4. R2 3

5. SL1 2

6. SL2 2

7. AP1 3

8. AP2 2

Keterangan Nilai Pemasaran:

1 = Tidak disukai 2 = Kurang disukai 3 = Cukup disukai 4 = Disukai 5 = Sangat disukai

Hasil dari riset pemasaran mi isntan yang dijual di swalayan semarang, Mi Instan G1 memiliki nilai pemasaran yang tertinggi yaitu 5 sedangkan mi instan SL1, SL2, AP2, memiliki nilai pemasaran yang terendah nilai yang diperoleh yaitu 2. Dikarenakan mi instan G1 mudah didapat, rasanya pun lebih disukai di kalangan anak kecil hingga orangtua dibandingkan dari 4 mi instan tersebut.

Walaupun dari mi instan tersebut memiliki kandungan yang sama, tidak semua orang menyukainya. Kondisi tersebut dapat dilihat semakin bervariasi rasa mi

(2)

instan maka standar rasa mi instan juga lebih berbeda. Selain karena rasanya mi isntan juga menjadi salah satu makanan pokok yang sering dikonsumsi oleh masyarakat karena untuk mengkonsumsinya mi instan hanya butuh waktu sebentar untuk dimasak yaitu sekitar 6-7 menit. Dari ketiga mi instan tersebut juga memiliki kandungan natrium yang tinggi memberikan rasa asin yang kuat, tidak semua orang menyukainya. Ketentuan mengkonsumsi natrium tidak lebih dari 2.300 miligram (mg) sehari. Namun, konsumsi mi instan yang populer dapat mencapai 1.000 mg hingga 1.200 mg, yang dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan masalah kesehatan.

Makanan cepat saji dikonsumsi karena harganya yang terjangkau, mudah didapatkan, memiliki berbagai macam pilihan rasa, praktis dalam pengolahan dan sifatnya yang tahan lama (Arza et al., 2018). Manfaat optimum dari mie instan, konsumsi yang sesuai dan ditambah dengan pelengkap gizi seperti sayuran, telur, dan daging (Kencana, 2020).

4.2 Analisia APCI – MS

Analisis etilen oksida dalam mi instan Atmospheric Solids Analysis Probe (ASAP) merupakan teknik analisis langsung ini mempunyai potensi untuk digunakan dalam berbagai analisis kimia, termasuk deteksi cepat residu, kontaminan, dan bahan pencemaran dalam makanan (Fussell et al., 2010). APCI merupakan metode ionisasi untuk aplikasi MS.

Gambar 4.1 Skema Analisis APCI-MS

(3)

Pada penelitian ini menggunakan APCI-MS dilakukan persiapan sampel mi instan untuk uji yaitu langkah awal sampel dihaluskan dengan cara digerus,kemudian setelah sampel dihaluskan dimasukkan ke alat untuk injek agar dianalisis. Dalam teknik ASAP, sampel dimasukkan langsung ke dalam spektrometer massa menggunakan kapiler kaca titik leleh (probe) tertutup yang panjangnya kira-kira 10 cm. Probe dimasukkan ke dalam spektrometer massa dan sampel diuapkan oleh gas yang dipanaskan (nitrogen), seperti pada Gambar 4.1 Sampel dalam fase gas selanjutnya diionisasi melalui lucutan korona pada tekanan atmosfer menggunakan tegangan standar untuk atmosfer. ionisasi kimia tekanan (APCI).

Analisis juga yang sudah dilakukan oleh pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk analisis kandungan ethylene oxside didalam mi instan dengan metode QuEChERS singkatan dari (Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged, and Safe) yang merupakan teknik analisa dengan GC-MS/MS yaitu metode pemisahan sampel dengan Gas Chromatography lalu dianalisis dengan Mass Spectromerty dilengkapi dengan larutan standar ethylene oxside sebagai batas uji kadar residu ethylene oxside yang tedapat pada sampel yang dianalisis.

Kondisi optimasi Parameter ASAP yang perlu dioptimasi untuk mendapatkan respon analit terbaik antara lain: (1) kebersihan probe; (2) posisi ujung probe relatif terhadap pintu masuk MS; dan, (3) suhu gas desolvasi. Sebelum digunakan, probe harus dikondisikan untuk menghilangkan sisa kontaminasi. Hal ini biasanya dicapai dengan memanaskan probe pada suhu 500°C selama minimal 30 detik, (Zhu, 2014)

(4)

Gambar 4.2 Alat LC MS Advion

Pada penelitian analisis APCI-MS dilakukan menggunakan Advion LC MS dengan spektrometri massa yang dilengkapi dengan sumber APCI. Gas pembawa adalah helium dengan suhu pemanasan sampai 400°C dengan lama waktu resistensi selama 10 menit. APCI melibatkan dua mekanisme ionisasi transfer muatan dan transfer proton. Transfer muatan membentuk ion molekul (M+) melalui reaksi analit dengan ion plasma nitrogen (N2+, N4+) yang dihasilkan lucutan jarum korona. Transfer proton membentuk molekul terprotonasi ([M+ H]+) melalui reaksi analit dengan ion gugus pelarut (Saito-Shida et al., 2020). Karena ionisasi dilakukan pada tekanan atmosfer, ion-ion yang dibentuk oleh APCI didinginkan secara tumbukan, sehingga membatasi fragmentasi berturut-turut.

Dalam persiapan sampel metode APCI tidak memerlukan pelarut polar (Wesdemiotis et al., 2023).

APCI digunakan dalam ASAP yang memanfaatkan gas nebulisasi untuk ionisasi bahan sampel di bawah tekanan sekitar dengan adanya corona. Gas nebulisasi (N2) dapat dipanaskan hingga ~400°C untuk menyebabkan desorpsi termal dan degradasi termal sampel, yang diterapkan pada kapiler kaca.

Peningkatan suhu gas nebulisasi menyebabkan molekul teradsorpsi dari kapiler kaca dan menawarkan kemampuan untuk mendapatkan profil titik didih untuk komponen yang mudah menguap. Degradasi termal komponen non-volatil terjadi dan ditingkatkan dengan peningkatan suhu gas nebulasi. Molekul netral yang teradsorpsi dan produk degradasi termal diionisasi in situ oleh APCI dan dikirim

(5)

ke penganalisis massa untuk pengukuran dan identifikasi m/z etilen oksida sebeasar 44.1.

Dalam analisis mass Spectrum, parameter yang penting adalah nilai m/z (mass-to-charge ratio), yang merupakan rasio antara massa partikel dalam sampel dengan muatan listriknya (Wesdemiotis et al., 2023). Pada hasil analisis ini didapatkan TIC (Total Ion Chromatogram) waktu dan intensitas tiap sampel serta spectrum m/z terhadap intensitas(%). Dalam menentukan keberadaan etilen oksida dalam sampel harus mencari puncak pada spektrum massa yang sesuai dengan massa etilen oksida.

4.3 Hasil Pengujian Etilen Oksida Menggunakan APCI 4.3.1. Sampel Mi G1

(6)
(7)

4.3.2. Sampel Mi G2

(8)

4.3.3. Sampel Mi R1

(9)
(10)

4.3.4. Sampel Mi R2

(11)

4.4 Analisis Etilen Oksida

Analisis etilen oksida dalam sampel mi instan dilakukan dengan metode ionisasi APCI dalam ASAP menggunakan alat LC/MS analisis MS. Analisis semi kuantitatif terhadap etilen oksida dalam mi instan dengan metode APCI dalam ASAP dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan etilen oksida dalam sampel mi instan.

Gambar 4.3 Struktur Kimia Etilen Oksida

Gambar 4.4 m/z Etilen Oksida

(12)

Gambar 4.5 Hasil Spektrum Sampel Keberadaan Etilen Oksida

(13)

Dari hasil penelitian ini spektrum yang menunjukkan tidak ada keberadaan etilen oksida pada semua sampel mi instan, bahwa hasil spektrum tidak ada yang melebihi m/z etilen oksida yaitu sebesar 45.1 m/z.

Penetapan kadar etilen oksida menggunakan spektrum massa yang telah didapatkan dari m/z dan intensitas dalam sampel mi instan digunakan untuk menghitung kadar etilen oksida dalam sampel. Mass spectrum senyawa etilen oksida terdapat pada gambar 4.4, etilen oksida memiliki berat molekul (m/z) 44,1 dengan rumus kimia C2H4O.

Hasil analisis etilen oksida menurut penelitian Min & Jin, (2022) menggunakan Shimazu GCMS-TQ8050 NX, Technology Brief ini mengkaji metode analisis residu EO dan 2-CE pada mi instan ramen berdasarkan EURL- SRM (Metode analisis EO dan 2-CE pada wijen) Koefisien determinasi (R2) dari kurva kalibrasi untuk EO dan 2-CE adalah >0,999. Dalam uji pemulihan, tingkat pemulihan rata-rata dikonfirmasi masing-masing sebesar 98,9% dan 106,3%

untuk EO dan 2-CE, sedangkan %RSD adalah 4,7% dan 3,4%, secara berurutan.

Hasil analisis etilen oksida menurut penelitian Ting & Lahey, (2024) metode standar internal yang dikembangkan untuk analisis etilen oksida pada mi instan menggunakan HS-20 Nxdengan GCMS-TQ8050 NX. Teknik headspace dinamis digunakan, mengurangi kerumitan preparasi sampel. Linieritas pada nilai R2 >

0,999 dan recovery dalam 70% sampai 130% dipenuhi oleh semua sampel yang dianalisis.

Pada penelitian terdahulu analisis etilen oksida pada mi instan menggunakan GCMS, dimana harus menggunakan larutan standar dari etilen oksida dan melakukan preparasi sampel yang mana merupakan faktor penting dalam penelitian karena sangat berpengaruh terhadap kualitas penelitian yang dihasilkan.

Kesalahan-kesalahan dalam preparasi sampel harus diminimalkan untuk menghasilkan analisis yang tingkat akurasi, validitas dan reliabilitasnya tinggi (A.

Adib Abadi, 2006). Berikut merupakan hasil analisa sampel mi instan pada penelitian ini :

No. Kode Sampel Hasil EtO Keterangan

1 G1 0,003 Sudah sesuai SNI

(14)

2 G2 0,003 Sudah sesuai SNI

3 R1 0,003 Sudah sesuai SNI

4 R2 0,004 Sudah sesuai SNI

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Kadar Ethylene Oxside

Pada penelitian ini hasil analisis etilen oksida sudah sesuai dengan maksimal residu pada pangan olahan untuk etilen oksida sebesar 0,01 mg/kg (uniform limit).

Dimana hasil tersebut aman dalam makanan yang sudah sesuai. Batas maksimal residu pada pangan olahan untuk EtO sebesar 0,01 mg/kg (uniform limit) (Radhica & Wibisana, 2023). Batas berapa banyak etilen oksida yang terdapat pada makanan setiap hari yang dapat diterima dan dicerna setiap hari sepanjang hayat tanpa mengalami risiko kesehatan.

Sedangkan pada penelitian ini tidak memiliki konsentrasi yang dihasilkan karena kadar ethylene oxside yang tidak terdeteksi kebradaannya di dalam semua sampel mi instan yang di uji. Perbedaan hasil kadar residu etyhlene oxside disebabkan karena menggunakan alat pengujian yang berdeda yaitu pada peneletian ini menggunakan APCI-MS (Atmosfer Pressure Chemical Ionization- Mass Spectromertry), sehingga metode dan cara kerjanya juga berbeda. Selain itu juda dapat dikarenakan dengan kondisi penyimpanan bahan baku mi instan yang berbeda. Banyaknya kadar EtO jika disimpan ditempat yang terbuka dan tidak ada pengecekan dalam penyimpanan maka dari itu paparan EtO akan semakin meningkat dan tinggi terkontaminasi dengan residu berbahaya seperti ethylene oxsida yang dikonsumsi dapat membahayakan kesehatan ketika di perjualbelikan sehingga dikonsumsi secara terus menerus oleh konsumen.

Dapat disimpulkan hasil analsia sampel G1, G2, R1 dan R2 terdeteksi adanya EtO (ethylene oxide) pada mi instan dari hasil analisis menggunakan APCI-MS (Atmosfer Pressure Chemical Ionization) artinya, pengujian menggunakan metode analisis kimia yang canggih, dengan teknologi ionisasi kimia pada tekanan atmosfer, tidak menghasilkan bukti keberadaan zat kimia ethylene oxside di sampel mi instan tersebut. Hal ini dapat dianggap sebagai hasil uji positif karena ada senyawa EtO yang ditemukan dalam sampel tersebut.

4.5 Hasil Analisis Bahan Baku

(15)

Pada penelitian ini dilakukan adanya analisis bahan baku yang menggunakan uji semi kuantitatif pada etilen oksida dengan bertujuan untuk mengetahui dan memastikan adanya senyawa etilen oksida di dalam sampel mi instan yang dianalisis. Untuk mengetahui adanya senyawa etilen oksida dalam sampel yaitu dengan cara menginjectkan sampel dengan ASAP kedalam alat LC/MS dalam metode APCI dan dianalisis oleh mass spectrometry. Penetapan kadar etilen oksida menggunakan spektrum massa yang telah didapatkan dari m/z dan intensitas dalam sampel mi instan digunakan untuk menghitung kadar etilen oksida dalam sampel. Pada penelitian ini, hasil analisis bahan baku menujukkan bahwa dalam mi instan tidak ada yang mengandung etilen oksida sesuai pada Tabel 4.3.

Gambar 4.6 Analisis Sampel Tabel 4.3 Hasil Analisis Bahan Baku

No. Kode Sampel Hasil EtO Kesimpulan

1 C1 0,003 Positif

2 C2 0,003 Positif

3 K1 0,003 Positif

4 K2 0,004 Positif

*Not Detected

4.6 Analisis Kesesuaian Mutu Mi Instan

Pada penelitian ini, diambil salah satu sampel mi instan untuk di analisis kesesuaian mutu mi instan yaitu kode sampel G1. Dimana mi instan G1 memiliki pemasaran yang cukup banyak terjual dan disukai oleh banyak orang, oleh karena itu mi instan G1 akan dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah kandungan

(16)

mi instan G1 sudah sesuai SNI atau belum. Hasil analisis kesesuaian mi instan dapat dilihat pada tabel

Tabel 4.4 Hasil Analisis Kesesuaian Mutu Mi Instan No Jenis Uji Standar Hasil Analisis

1 Tekstur Normal Normal

2 Aroma Khas mi Khas mi

3 Rasa Khas mi Khas mi

4 Warna Kuning Kuning

5 Benda asing Tidak boleh ada Tidak ada

6 Kadar air Maks 10% 9%

Hasil Analisa menunjukan tidak adanya kadar etilen oksida yang berada didalam sampel yang di uji bahwa hasilnya tidak lebih dari limit deteksi yang ditentukan. Mi instan x dinyatakan sudah memenuhi persyaratan mengenai batas kadar senyawa ethylene oxside dibawah ambang batas yang sudah ditentukan.

Berdasarkan penelitian ini juga dapat diperoleh hasil bahwa seluruh produk yang berada di pasar swalayan/ supermarket di Semarang sudah memenuhi persyaratan SNI 3551:2018. Kadar ethylene oxside mi instan x yang tidak ada hasil jika terdapat EtO disebabkan bahan baku pembuatan mi instan x ini dijaga agar tidak terkena paparan EtO.

Hasil dari analisis kesesuaian mutu mi instan, mi instan G1 memiliki warna kuning, tekstur normal, serta aroma dan rasanya yaitu khas mi instan. Untuk hasil kadar air dari mi instan G1 sebesar 9% sedangkan persyaratan SNI yaitu sebesar maks. 10%. Berdasarkan penelitian ini juga dapat diperoleh hasil bahwa seluruh produk yang berada di pasar swalayan/ supermarket di Semarang sudah memenuhi persyaratan SNI 3551:2018. Dari hasil analisis keseluruhan dengan parameter uji warna, tekstur, aroma, rasa dan kadar air, mi instan G1 sudah sesuai persyaratan SNI 3551:2018, yang artinya mi instan G1 sudah layak dipasarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat terutama masyarakat Semarang.

(17)

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Etilen oksida merupakan Etilen oksida (C2H4O) merupakan zat kimia yang berbentuk gas tidak berwarna, mudah terbakar, dan berbau agak manis. Dalam jumlah lebih kecil etilen oksida dapat digunakan sebagai pestisida. Etilen oksida berfungsi untuk mensterilkan peralatan bedah dan produk medis lainnya.

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis mi instan yang banyak disukai oleh masyarakat dan mengetahui serta memastikan adanya senyawa etilen oksida di dalam sampel mi instan yang dianalisis. Adapun metode ionisasi APCI dengan alat LC/MS dianalisis dengan Mass Spectrometry dengan tidak perlu melakukan preparasi sampel. Hasil dari penelitian ini yaitu pada riset pemasaran mi instan yang dijual di swalayan Semarang, mi instan G1 memiliki pemasaran yang cukup tinggi yang artinya banyak masyarakat semarang yang menyukai mi instan G1. Dari hasil penelitian ini spektrum yang menunjukkan tidak adanya keberadaan etilen oksida pada sampel mi instan G1, bahwa hasil spektrum tidak melebihi m/z etilen oksida yaitu bernilai 44.1 m/z.

Sampel mi instan lain tidak terdeteksi adanya keberadaan etilen oksida yang mana nilai m/z dari spektrum tidak menunjukkan lebih dari m/z etilen oksida.

Pada penelitian ini hasil analisis etilen oksida sudah sesuai dengan maksimal residu pada pangan olahan untuk etilen oksida sebesar 0,01 mg/kg (uniform limit). Dimana hasil tersebut aman dalam makanan yang sudah sesuai Batas maksimal residu pada pangan olahan untuk EtO sebesar 0,01 mg/kg.

Hasil dari analisis kesesuaian mutu mi instan, analisis keseluruhan dengan parameter uji warna, tekstur, aroma, rasa dan kadar air, mi instan G1 sudah sesuai persyaratan SNI 3551:2018, yang artinya mi instan G1 sudah layak dipasarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat terutama masyarakat Semarang.

5.2 Saran

Pada penelitian ini perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi mutu produk mi instan yang beredar dipasaran dari aspek karakteristik kimia,

(18)

cemaran logam mineral dan mikrobiologi. Perlunya analisis menggunakan larutan standar etilen oksida agar hasil lebih baik dan efektif.

Referensi

Dokumen terkait

USAHA PADA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH MAKANAN DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG.

Tujuan penelitian untuk mengamati aktivitas enzim monooksigenase pada populasi nyamuk Aedes aegypti di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.. Penelitian dilaksanakan

Tujuan penelitian untuk mengamati aktivitas enzim monooksigenase pada populasi nyamuk Aedes aegypti di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.. Penelitian dilaksanakan

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrit pada air yang berasal dari beberapa sumur di kelurahan Meteseh, Kecamatan tembalang, Kota Semarang diketahui bahwa terdapat beberapa

Hasil pengukuran kadar nitrit pada air yang berasal dari beberapa sumur di kelurahan Meteseh, Kecamatan tembalang, Kota Semarang diketahui bahwa terdapat beberapa sampel air

Penerapan Teknologi Pemasaran Produk Menggunakan Media Online Bagi UMKM Di Desa Meteseh Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Pendampingan Legalitas Usaha Melalui Sistem Online Single

Hasil penelitian ini adalah faktor penentu implementasi program beras miskin (raskin) di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang disebabkan oleh faktor sikap

Tujuan penelitian untuk mengamati aktivitas enzim monooksigenase pada populasi nyamuk Aedes aegypti di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.. Penelitian dilaksanakan