BAB 4
PERTANIAN, KEHUTANAN, KEHEWANAN DAN PERIKANAN
I. Pe n d a h u l u n a n .
Lapangan pertanian dalam arti jang luas, terdiri dari pertanian rakjat, perkebunan besar, kehewanan, kehutanan dan perikanan. P h a t i a n dan usaha-usaha Pemerintah dalam lingkungan ini tidak mengenai hatsilnja (produknja) semata-mata, melainkan djuga mengenai orang-orang jang menghatsilkan produk tadi, jaitu tani, si-nelajan dan lain-lain, serta masjarakatnja, satu dan lain diarahkan agar supaja dapat berdjalan seimbang dengan kepen-tingan pertumbuhan negara.
Sebagian terbesar dari tugas Pemerintah dalam
lapangan-lapangan tadi terletak ditangan Kementerian Pertanian, jang dibagi-bagi dalam
a. Kementerian Pusat.
b. Djawatan-djawatan : Kehutanan, Pertanian Rakjat, Perke-bunan, Karet Rakjat, Kehewanan, Hewan, Balai Besar Penjelidikan Pertanian, Balai Penjelidikan Penjakit Mulut dan Kuku, Balai Penjelidik-an PeternakPenjelidik-an, Balai PenjelidikPenjelidik-an Perikanan Darat dan Kantor Perantjang Tata Bumi.
Untuk lengkapnja perlu dikemukakan disini, bahwa masih ada balai-balai besar-ketjil. jang diatas tidak disebut oleh karena tidak berdiri sendiri dan termasuk , dalam Djawatan-djawatan jang bersangkutan (Kehutanan; Perkebunan Rakjat dari Pertanian Rakjat).
Pada lapangan pertanian ini sebenarnja dalam tahun 1947 telah diadakan rentjana pembangunan pertama (rentjana Kasimo), jang dilandjutkan dalam tahun 1951 dan diperluas dalam tahun 1954.
dalam tahun 1947 tadi, meskipun pada permulaan masih setjara ketjil-ketjilan dan oleh karena keadaan, sering terputus-putus.
Dalam penjelenggaraan selandjutnja dihadapi beraneka-warna kesukaran-kesukaran, diantara mana jang terbesar ialah fang mengenai pembelanjaannja.
Naik turun djatah pembejaan dari tahun ketahunpun dalam gambarannja sangat kasar sadja,
tidak diketahui sebelumnja.
Ke-tjuali itu djatah jang akan diterima untuk tahun jang bersangkut-an belum diketahui pada permulaan tahun itu, djika kemudian telah diketahui, masih selalu berobah-robah, perobahan mana pada umumnja berarti pengurangan.
Sistim bekerdja jang didjalankan pada sektor pertanian ini tetap masih akan diselenggarakan, setidak-tidaknja ditjoba, djika menurut perhitungan risiko tidak akanterlalu besar.Mengingat hal sedemikian itu maka tidak mengherankan bahwa lalu banjak pekerdjaan jang terbengkalai ditengah djalan. Meskipun demikian telah banjak pekerdjaan jang terselenggara,
Tjara bekerdja fang banjak mengandung risiko ini dari semula didjalankan dengan tudjuan supaja pada suatu saat djika peker-djaan-pekerdjaan telah mulai dapat diselenggarakan dengan lebih sistimatis, maka dasar jang telah diletakkan itu merupakan dasar jang luas.
Bagi tahun-tahun jang akan datang mulai kelihatan lebih terang batas-batas kemungkinan kekuatan keuangan dan kesanggupankesanggupan serta kemampuan bekerdja dari seluruh aparatir dan bagian-bagiannja, sehingga rentjana pekerdjaan lebih dapat disesuaikan dengan keadaan, dan
penjelenggaraan dapat
didjalan-kan dengan lebih sistimatis.
Ketjuali itu maka untuk sebagian dari rentjana-rentjana jang telah disiapkan, fang sangat penting, pembiajaannja ditetapkan untuk djangka waktu lima tahun.
Rentjana tersebut telah disesuaikan dengan anggaran belandja jang disediakan serta pegawai jang ada dan dikoordinasikan dengan rentjana umum pembangunan ekonomi jang dipersiapkan oleh bagian-bagian lain dari Biro Perantjang Negara.
Pengambilan projek dari rentjana Kementerian seluruhnja didasarkan atas ukuran-ukuran berikut:
2. Projek-projek jang sangat dibutuhkan untuk memperkuat produksi pertanian,
3. Projek-projek jang terang akan berhasil melihat peng-alaman-pengalaman dalam masa lampau,
Projek-projek baru: dan belum..pernah didjalankan,
masing-masing dibatasi dengan sebuah projek.pertjobaan (pilot project) untuk memperoleh pen.galaman terlebih dahulu dalam melaksanakannja sebelum dapat memperbanjak projek-projek tersebut.
Pada umumnja dapat dikemukakan, bahwa telah sedjak bebe-rapa tahun kapasitet dad sebagian besar aparatir . Kementerian Pertanian tidak dapat dipergunakan untuk 100%; oleh karena kekurangan pembiajaan. Kementerian Pertanian djuga dapat dipergunakan sebaikbaiknja.
Achirnja perlu agaknja dikemukakan disini, bahwa tjorak pengeluaran untuk pembangunan d'ilingkungan pertanian ini sedikit berlainan dari lapangan lainnja umpamanja perindustrian. Dalam perimbangannja „belandja modal”, terutama mengenai pertanian rakjat, tidak mengambil bagian jang besar, dan untuk tahun-tahun permulaan ini bagi sementara sektor-sektor masih agak sukar memisah-misahkan pembangunan seluruhnja dan pembangunan chusus lima tahun ini.
H. A. D j a w a t a n P e r t a n i a n R a k j a t .
Sifat, pokok dasar pekerdjaan Djawatan Pertanian Rakjat adalah sebagai berikut :
1. Menjelenggarakan penjelidikan, pengumpulan danpengolahan bahan-bahan jang bersangkut pant dengan pertanian rakjat chususnja dan perekonomian masjarakat tani umumnja.
2. Merantjangkan pembangunan dalam pertanian rakjat setingkat dengan hatsil-hatsil penjelidikan dan sesuai dengan keadaan alam serta kesanggupan dan aliran masjarakat.
3. Memberikan penerangan, bimbingan dan bantuan, baik
ma-sjarakat jang mempunjai minat besar terhadap kemadjuan
pertanian rakjat.
4. Menjelenggarakan berdirinja kursus-kursus untuk memperluas dan mempertinggi pertanian.
Dari tugasnja jang amatleas itu didalamlima tahun jang akan datang tugas Djawatan Pertanian Rakjat jang terpenting ialah menambah hatsil bahan makanan sebanjak-banjaknja, termasuk sajur-sajuran dan buah-buahan. Disamping itu tidak dapat
dilu-pakan memperhatikan tanaman perdagangan (ketjuali karat rakjat) untuk memperkuat tenaga pembeli dari rakjat dan menambah devisen Negara. Diantara tanaman perdagangan, maka rami dan kapas hendaknja mendapat perhatian istimewa berhubung sampai sekarang kebutuhan bahan pakaian di Indonesia masih 98% tergantung dari import luar negeri.
Selain dari itu kemungkinan untuk menanam rami dan kapas setjara besar-besaran dan pengolahannja sekarang lebih luas dari beberapa tahun jang lalu.
Untuk merealisir usaha-usaha kearah penambahan
hatsil
pro-duksi jang dimaksudkan diatas, maka ikut sertanja rakjat adalah sjarat mutlak. Dar' itu maka pendidikan setjara chusus dan masaal serta penjuluhan seluas-luasnja adalah suatu keharusan.
Setelah mengemukakan keterangan ringkas ini, dapatlah kiranja disusun urgensi plan lima tahun
jang akan datang dengan
meng-ingat keuangan jang terbatas. Urgensi plan itu djagung, katjangkatjangan, sajuran, umbi-umbian dan lain-lain dan bibit-bibit tanaman buah-buahan.
b. pemupukan.
c. perluasan tanah pertanian setjara mekanis. d. pentjegahan tanah larut dan usaha
penambahan kesuburan tanah. e. pertanian tjampuran (pertanian +
peternakan).
3. Usaha memperluas tanaman dan selandjutnja mengolah bahan rami, kapas dan lain-lain.
Sekarang ini tiap-tiap Propinsi mempunjal sebuah S.P.M.A. antara mana empat buah baru jaitu di Sumatera Selatan, Kalimantan, Maluku dan Lombok. Untuk sementara djumlah S.P.M.A. ini tidak perlu ditambah, karena dengan 10 sekolahan ini kebutuhan akan tenaga menengah ahli untuk
djawatan-djawatan dan perusahaan-pegusahaan Pemerintah telah akan dapat dipenuhi, sedangkan.penambahan S.P.M. A. berarti penambahan tenaga-tenaga guru jang sekarang sukar sekali dapat dipenuhi.
Berhubung dengan itu adalah bidjaksana bilamana seko- lahan-sekolahan jang ada ini disempurnakan gurunja dan peralatannja.
Untuk ini hendaknja didalam waktu 5 tahun disediakan uang Rp, 50 djuta untuk pembelian tanah, gedung-gedung, peralatan sekofa6, traktor dan mesin-mesin lain jang perlu, misalnja pompa air.
b. Kursus-kursus dan Sekolah-sekolah Usaha Tani. Pendidikan jang sifatnja masaal ini umumnja telah diinsjafi oleh rakjat tani, akan tetapi belum dirasakan ditiap-tiap Propinsi terutama di Luar Djawa. Untuk me-njempurnakan ini perlu diadakan penjuluhan-penjuluhan, pertjontohan, perlombaan-perlombaan, pertundjukan-pertundjukan, darma-wisata dan lain-lain.
Untuk objek tersebut ditaksir akan diperlukan persediaan djumlah uang Rp. 20 djuta dalam lima tahun.
c. Balai Pendidikan Masjarakat Desa.
Djika di Djawa tiap-tiap tahun diadakan djuta = Rp. 5,58 djuta.
Untuk lima tahun djumlah ini mendjadi Rp. 27,9 djuta, bulat Rp. 28 djuta.
2. a, Penjiaran benih dan bibit murni.
perlombaan dan para penangkar bibit. Fungsi dari balai-balai benih dan kebun-kebun benih ini adalah pertjontohan, penjuluhan dan penjiaran. Untuk objek-objek ini dibutuhkan djumlah tiap-tiap tahun Rp. 2 djuta sehingga untuk lima tahun perlu disediakan beaja
Rp. 10 djuta. Untuk bantuan balai bibit jan telah ada Rp. 12.000,— per balai dibutuhkan uang Rp. 2,7 djuta atau Rp. 13,5 djuta dalam lima tahun. Djumlah untuk keperluan bibit dan benih semua dalam lima
tahun adalah
Rp. 10 djuta + Rp. 13,5 djuta = Rp. 23,5 djuta. b. Untuk pemupukan dikira-kirakan djumlah Rp.
17,5 djuta untuk bantuan, perlombaan, pertjobaan ditempat-tempat baru dan sebagainja.
c. Perluasan tanah Pertanian setjara mekanis. Diperlukan uang Rp. 45 djuta untuk pembelian 100 buah traktor, peralatan dan eksploitasinja untuk ± 12.000 ha,
d. Untuk pentjegahan tanah larut dan penambahan kesuburan tanah seluas -!-140.000 ha. dalam lima tahun dibutuhkan uang 140.000 X Rp. 250,— = Rp. 35 djuta. e. Untuk pemberantasan hama dalam lima tahun
ditaksir pengeluaran sedjumlah Rp. 20 djuta. f. Pertanian tjampuran, pertjobaan 5 tempat a
Rp. 500.000,—Rp. 2,5 djuta dalam lima tahun Rp. 12,5 djuta.
Djumlah jang disediakan untuk Djawatan Pertanian Rakjat dibulatkan adalah Rp. 275 djuta.
B. Balai Besar Penjelidikan Pertanian.
Balai Besar Penjelidikan Pertanian meliputi Balai-Balai Penjeli-dikan
kebun jang dimiliki sekarang mendjadi 35 buah, jang dengan sendirinja membutuhkan penambahan
pe-gawai dan tempat-tempat bekerdja.
Penjelidikan dalam segala lapangan masih perlu diperluas, baik jang dipusat maupun didaerah (kebun-kebun pertjobaan regional),
Dalam pada itu disamping menutup kebutuhan akan bahan makanan (padi, djagung, kekatjangan, umbi) diperhatikan pula tanaman perdagangan (rosella, ramie, tjengkeh, tjoklat, kelapa, kopi, tembakau dan lain-lain).
Mengenai penjelidikan tanah perlu diselesaikan survey dan pemetaan tanah jang perlu didjadikan dasar keterangan-keterangan/kerdja bagi transmigrasi, irrigasi dan perusahaan pertanian atau perkebunan. Sedang diselesaikan survey di Djawa jang telah dimulai sebelum perang, dan kini telah dimulai penindjauan-penin-djauan di Sumatera dan di Nusa Tenggara. Untuk mempertjepat pemeriksaan tanah di laboratoria diperlukan
pembaharuan
alat-alat.
Sebagai usaha memberantas penjakit kuning pada lada di Bang-ka dan Belitung perlu dilandjutkan research tentang pengaruh batang bawah terhadap batang atas.
Hama tikus, penggerek padi, Artona, Sexava pada kelapa, Phaedonia pada kedelai, penjakit-penjakit phytophtora dan bakteri memerlukan pertatian setjukupnja. Begitupun pemeriksaan impor dan ekspor bahan tumbuh-tumbuhan sangat bertambah jang menghendaki perluasan Dinas Karantina sesuai dengan perkembangan lalu-lintas dilautan dan diudara. Gedung B.P. Hama Tumbuh-tumbuhan tidak mempunjai ruangan dan perlengkapan jang memenuhi sjarat untuk penjelidikan penjakit-penjakit bakteri.
Adapun kebun-kebun pertjobaan jang masih membutuhkan rehabilitasi dan investasi adalah : a. Balai Penjelidikan Kelapa di Mapanget (Menado)
agar supaja dapat bekerdja kembali untuk daerah
kelapa jang terpenting
di Indonesia;
b. Kebun seleksi di Rapang (Sulawesi Tengah); c. Kebun seleksi padi di Bandjarmasin;
d. Kebun seleksi padi di Djakenan (Pati).
pegawai-pegawai jang menjelenggara-kan dan membuat pentjatatan-pentjatatan
seperlunja dari
pertjo-baan, seperti dahulu dikerdjakan dalam lapangan „geintensiveerde rijstselectie”.
Disamping itu direntjanakan tempat-tempat
pertjobaan jang
tetap (permanente proefvelden).
Untuk menjelenggarakan rentjana ini disebutkan urutan urgensi projek-projek sebagai berikut:
1. a. Penjelesaian Balai Padi Bogor,
b. Gudang, pendjemuran, kantor dan rumah pengurus di Pusakanegara,
c. Rumah pengurus di Singamerta,
d. Pendjemuran, gudang, kantor dan rumah pengurus di Kendalpajak,
e. Kantor, gudang, rumah pengurus di Djakenan, f. Kantor, rumah pengurus di Genteng.
2. Penjelesaian rehabilisasi di Mapanget (Menado), 3. Kelderwerkruimte di Balai Penjelidikan Tanah
dan alat-alat laboratorium.
4. Stekkast di B.P. Tumbuh-tumbuhan.
5. Kantor dan sel-sel fumigasi Dinas Karantina. 6. Bagian bakteriologi di B.P.H.T.
7. Rehabilisasi kebun seleksi path di Rappang (Makasar) investasi kebun seleksi padi di Bandjarmasin.
8. Tempat-tempat pertjobaan menetap, dua di Djawa dan lima di Sumatera.
C. D j a w a t a n P e m b a n g u n a n U s a h a T a n i .
Rentjana ditudjukan untuk mentjiptakan lapangan seluas-luasnja bagi perkembangan oto-aktivitet rakjat desa, termasuk pula kaum wanita dan pemuda tani, agar mereka lambat laun setjara teratur
dan organisatoris dapat turut serta mengerdjakan dan mempertanggung-djawabkan segala sesuatu, sesuai dengan tjara mereka berfikir dan tjara mereka melihatkan inisiatipnja. Adalah suatu keharusan bagi Pemerintah untuk setjara bidjaksana mengadakan sistimatiseering dalam tjara memelihara, membimbing, membantu dan melindungi tiap-tiap perkembangan kegiatan rakjat untuk disalurkan kearah pembangunan.
Memperpadukan oto-aktivitet rakjat dengan
rentjana
pemerin-tah adalah suatu kebidjaksanaan jang djuga sangat meringankan pembelandjaan rentjana itu sendirl.
desadesa, negeri atau marga suatu sifat jang
umumnja dikenal oleh
rakjat Indonesia, dalam tingkat pertama sebagai
formasi sosial
jang merupakan tempat untuk menumbuhkan organisasi-organisasi usaha tani menurut kemampuannja sendiri-sendiri.
Projek-projeknja meliputi
1. perkembangan kerukunan tani
2. pendidikan kader tan!, laki-laki maupun wanita 3. perkembangan seksi wanita
4. pendidikan organisasi pemuda tani 5. rentjana sokongan kepada kerukunan 6. rentjana perkreditan
7. pendidikan pegawai D. D j a w a t a n P e r k e b u n a n .
Djawatan ini mempunjai tugas mengawasi, dalam arti jang luas. perkebunan-perkebunan besar chususnja dan produksi tanaman pertanian export (ketjuali karat rakjat) umumnja.
Untuk mendapat gambaran tentang arti perkebunan besar dapat dikemukakan disini bahwa ± 30% dari seluruh penghasilan de-visen negara berasal dari sektor ini.
Pengawasan mengenai perkebunan besar ini ketjuali mengenai pemeliharaan dan perkembangan kebunnja djuga mengenai soal perkebunan jang spesialisasi kedjurusan perkebunan di S.P.M.A. dan pendidikan ahli gula di College Gula Negara.
Sedjalan dengan haluan termaksud maka banjak tenaga dan pikiran ditjurahkan untuk membimbing dan membantu pertumbuhan pertanian perdagangan dari rakjat dan jang telah didjalan--kan ialah mengenai tembakau dan tebu rakjat.
Untuk kedua matjam tanaman ini sedjak beberapa tahun telah didirikan Perkebunan Rakjat Indonesia (Perrin) untuk tembakau dan Jajasan Tabu Rakjat (Jatra) untuk tebu rakjat.
Sebagai gambaran kasar mengenai kebutuhan kredit ini dapat dikemukakan disini, bahwa untuk kedua jajasan ini permintaan kredit tadi berkisar pada Rp. 200 djuta.
E. D j a w a t a n K a r a t R a k j a t.
Keadaan kebun-kebun karet rakjat sangat menjedihkan lebih kurang 20% telah rusak, sebagian besar lag' telah terlalu tua, sedang pohon-pohonnja seluruhnja bermutu rendah. Djika tanam-an ini dibiarkan begitu sadja, dan tidak diambil tindakan-tindakan seperlunja maka hatsilnja akan merosot, seperti halnja sekarang
Perlu diperingatkan disini, bahwa karet rakjat sekarang rnenghatsilkan lebih dari 30% dari seluruh devisen negara.
Usaha pembangunan karet rakjat dalam rentjana lima tahun terutama di tudjukan kepada :
a. Pembaharuan tanaman seluas 260.000 ha. jang merupakan lebih kurang 20% dart djumlah tanaman jang sudah tidak produktip lagi. Pembaharuan ini harus tertjapai dalam djangka 10 tahun mulai tahun 1956 sjd 1965 dengan „uitloop” 2 tahun untuk pembikinan pembibitan hingga praktis tahun penghabis-an tanaman dari rentjana in' ialah tahun 1967.
Dalam rentjana pembaharuan ditekankan mempertinggi mutu tanaman dengan mempergunakan djenis-djenis jang bermutu tinggi dengan penghatsilan paling sedikit 1 tonjha.
rentjana 10
tahun ini dibutuhkan berturut-turut : Tahun 1956 195 : Rp. ,, 1958 195 : „ ,, 1960 196 : „ ,, 1962 196 : „
„ 1964
Ongkos pembibitan dan bantuan ongkos tanaman pembaharuan dimasukkan dalam anggaran belandja Rentjana Pembangunan Lima Tahun. (Diperhitungkan kebutuhan sedjumlah ± Rp. 832.000.000,--buat ongkos pembibitan dan bantuan ongkos tanaman dalam djangka 10 tahun).
b. Mempertinggi mutu hasil karet rakjat jang sekarang hanja mentjapai mutu R.S.S. V dan IV, blanket D dan C, Flatbark atau slab.
untuk ini perlu diadakannja dalam djangka pendek usaha perbaikan dan dapat dimasukkan dalam Rentjana Pembangun-an Lima Tahun. c. Mempertinggi mutu ketjakapan petani karet
rakjat jang pada hakekatnja memegang pokok-peranan dalam proses pembangunan.
d. Memperluas dan memperdalam penerangan serta bimbingan pada petani karet pada umumnja. e. Memperluas bantuan kredit dalam lapangan
memperbaiki tanaman, pengolahan dan pendjualan basil.
Untuk sektor ini disediakan Rp. 60 djuta, dengan tjatatan bahwa pembeajaan ini telah termasuk mengatur kehutanan, tetapi djuga bertindak sebagai suatu badan jang mendjalankan salah satu perusahaan jang terbesar di Indonesia ialah perusahaan hutan negara.
Karena itu dimasa lampau usaha ini memerlukan lebih dari setengah dari pengeluaran-pengeluaran anggaran belandja Kementerian Pertanian, jang sebagian besar mengalir kembali ke Kas Negara sebagai penerimaan Djawatan.
Hutan-hutan Indonesia sebagian besar terdiri atas kaju-kajuan alam jang sedikit sekali mengandung djenis-djenis jang
njai nilai ekonomis fang tinggi. Selain itu sebaglan besar dari hutan-hutan itu terdapat di daerah-daerah jang letaknja ekonomis tidak baik, umpamanja hutan-hutan jang berada diluar Djawa --Madura. Berhubung dengan hal-hal tersebut, maka pengusahaanpengusahaan hutan itu hingga sekarang sangat terbatas pada daerah-daerah jang terletak dekat sungai-sungai jang dapat di-pakai untuk keperluan pengangkutan.
Satu-satunja djalan untuk memungkinkan hutan-hutan itu mendjadi sumber-sumber bahan jang berharga, hutan-hutan itu harus diubah mendjadi hutan-hutan jang terdiri atas djenis-djenis kaju jang telah njata mempunjai nilai ekonomis jang tinggi, jang dapat digunakan sebagai bahan mentah
untuk industri. Usaha kearah
itu telah dimulai setjara besar-besaran di Djawa, antara lain telah ditanam djenis-djenis pohon jang berserat pandjang, jalah djenis coniferae, jang kajunja baik buat kertas dan pulp.
Pada masa jang lampau perhatian Pemerintah
dipusatkan
ke-pada hutan-hutan djati di Djawa. Hutan-hutan jang sudah tua ditebang habis, dan kemudian diadakan penghutanan kembali, hingga dengan djalan diadakan tanaman-tanaman pertjobaan dari beberapa djenis kaju selain djati, jalah antara lain djabon, kemiri, Albissia falcata, Agathis, Pinus merkusli, Acacia decurrens, dan lain-lain.
Di bagian Timur dari Indonesia, jang muslin kemaraunja agak keras, terdapat banjak bambu, jang selain untuk bahan bangunanbangunan, djuga dapat dipakai sebagai bahan untuk kertas.
Lebih landjut dapat diterangkan bahwa luas hutan
Dengan tidak memperdulikan peraturan-peraturan kehutanan, karena hausnja akan tanah,
penduduk telah mempertanikan
lereng-lereng jang seharusnja berada dibawah lindungan hutan. Penghutanan kembali tanah-tanah
gundul ini, jang mendjadi
tan-dus karena erosi, membutuhkan banjak waktu dan biaja.
Hutan mempunjai 2 fungsi : fungsi pelindung dan fungsi produksi. Tudjuan pelindung ialah memperbaiki soal-soal hydrologi
dan orologi, supaja djangan sampai timbul petaka dan/atau ben-tjana alam. Oleh karena hasil-hasil
dari fungsi pelindung ini tak
dapat dinilai dengan uang, maka pengeluaran-pengeluaran buat penanaman modal finansiil tak dapat ditutup dengan pendapatan.
Tudjuan fungsi produksi ialah memperoleh sebanjak-banjaknja hasil-hasil jang berupa kaju, kulit kaju, getah, minjak dan sebagainja, dengan digabungkan, sebab banjak djenis-djenis kaju jang ditanam itu merupakan hutan jang memenuhi sjarat-sjarat pelindung, jang kebaikannja dapat disama-kan dengan fungsi hutan alam.
Rentjana Lima Tahun Djawatan Kehutanan bertudjuan setjara sistematis mengubah susunan hutan alam (jang bertjampuran dje-nis-djenis kajunja dan tidak berharga itu) dengan menanam hutanhutan dengan djenis-djenis kaju jang
mempunjai nilai ekonomis
jang tinggi.
Pada permulaan pelaksanaan rentjana tersebut sudah tentu tidak dapat segera diharapkan basil fiskal jang baik, tetapi lambat laun hutan-hutan itu nanti merupakan suatu perusahaan pemerin-tah jang akan dapat memberikan keuntungan jang besar untuk Negara.
keperluan-keper-luan lain akan kertas dan karton-karton sebagai bahan pembungkus, dan sebagainja.
2. Industri kimia fang menggunakan serat kaju atau cellulose
untuk membuat plastik, benang-henang tenun dan sedjumlah bahan-bahan kimia jang agak penting.
3. Perusahaan-perusahaan bangunan dan perumahan, termasuk perusahaan-perusahaan jang menghasilkan perabot-perabot
rumah-tangga atau gedung-gedung perdagangan dan bangunan-bangunan umum.
4. Industri jang dalam beberapa hal mempergunakan kaju sebagai bahan dasar atau bahan tambahan dari hasilnja; misalnja; korek api, bahan bangunan dan perabot rumah-tangga dari sisa-sisa kaju, bahan pembungkus, triplex, industri-industri jang menghasilkan bagian-bagian untuk perkakas dan alat perlengkapan, dimasukkan kedalam sektor industri dari Rentjana Lima Tahun.
Sebelum dewasa hutan-hutan itu sudah dapat menghasilkan kaju berasal dari pendjarangan, sehingga didalam keadaan jang mendesak persediaan bahan-bahan mentah sudah dapat disediakan, dalam wakttt jang agak tjepat. Penanaman kaju-kaju perdagangan dimasa lampau oleh Djawatan telah dapat dipergunakan sebagai permulaan dari persediaan bahan-bahan mentah untuk beberapa perusahaan fang berukuran sedang dan perusahaan-perusahaan pertjobaan, sambil menanti persediaan tambahan bahan-bahan mentah dari penanaman baru. Berkenaan dengan djangka pandjang jang harus diperhitungkan diwaktu memulai projek-projek pemerintah, rentjana untuk pembangunan kehutanan haruslah meliputi waktu sepuluh tahun.
Berdasarkan atas pandangan jang telah digambarkan diatas untuk rentjana penghutanan kembali jang telah didjalankan sadja harus dikeluarkan Rp. 250 djuta dan dengan demikian diperoleh „hutan produksi” seluas 225.000 ha.
Selain itu akan dipergunakan djuga biaja untuk penanaman kaju-kaju perdagangan didaerah-daerah „bukan daerah hutan” terutama ditanah-tanah negara, didesa-desa atau tanah kosong untuk memperoleh kaju bakar, bahan-bahan pembungkus dan bungun-bangunan.
tersedia tjukup, djadi tidak perlu ditambah; hanja penempatannja jang harus ditindjau kembali, agar dapat diadakan pergeseran/pemindahan, untuk rasionalisasi didalam pemakalan tenaga jang terdidik dan berpendidikan rendah jang besar djumlahnja.
Untuk mengusahakan hutan-hutan jang ada setjara baik, diperlukan Iori atau pengangkutan melalui kabelbaan (telepheric transportation). Sebagian dari ini, baik traktor-traktor, maupun Indonesia dan adanja kantor-kantor kehutanan jang dapat dikatakan tjukup tenaga pegawai dan
pengalamannja, jang
sekira-nja dapat melaksanakan kewadjiban-kewadjiban jang ditentukan didalam rentjana.
Lain dari pada itu sebagian ketjil dari ternak sapi menduduki tempat tersendiri, jaitu chusus sebagai penghasil bahan susu. Achirnja tak sedikit pula
kan dalam tiga tudjuan jang luas, jaitu :
a. memperhatikan perkembangan peternakan, mengenai djumlah serta mutunja.
b. pemberantasan dan penghindaran penjakit hewan menular.
c. memperhatikan kesehatan bahan-bahan
makanan manusia
Ketiga tudjuan tersebut diatas satu sama lain mempunjai hubungan erat dan tak dapat dipisah-pisahkan.
Perkembangan ternak tidak akan dapat didjamin apabila berdjenis-djenis penjakit hewan menular jang senantiasa timbul di Indonesia setiap tahun tidak dapat diberantas setjara efektip.
Disamping itu impor hewan dari luar negeri senantiasa diawasi dengan tjermat (peraturan-peraturan karantina) dengan tudjuan agar djangan sampai Indonesia kemasukan sesuatu penjakit hewan menu]ar.
Kedua usaha tadi diselenggarakan oleh para Dokter hewan dari Djawatan Kehewanan.
Kebutuhan sera dan vaccin ditjukupi oleh Lembaga Penjakit Hewan di Bogor.
Selain dari ketiga tudjuan usaha seperti diuraikan diatas jang bersifat teknis, Djawatan Kehewanan
menentukan pula tudjuan
dan besarnja alokasi ternak potongan untuk berbagai tempat.
Perhatan Djawatan Kehewanan untuk memperkembangkan peternakan diwudjudkan dalam rangkaian berbagai-bagai usaha, dan jang terpenting ialah :
1. menjediakan ternak bibit jang bermutu tinggi berasal dari
luar negeri (sapi perahan, kuda, babi, kambing, domba, ajam)
dan ternak bibit berasal dari dalam negeri untuk dikawinkan
dengan ternak rakjat. 2. seleksi ternak rakjat.
3. melindungi stock ternak bibit betina (sapi dan kerbau) ter-hadap pemotongan.
Persediaan bibit ternak berasal dari luar negeri belum dapat ditjukupi sebagaimana mestinja.
Oleh karena itu antaranja kemerosotan penghasilan susu tidak dapat diatasi dengan semestinja. Dipandang perlu untuk meng-impor bibit-bibit ternak jang dimaksudkan dalam waktu sesingkat mungkin.
Dalam hubungan ini direntjanakan pemasukan : 200 ekor sapi perahan (melkvee).
25 ekor kuda Arab. 100 ekor babi.
1000 ekor ajam.
Adapun jang mengenai persediaan bibit ternak jang terdapat dalam negeri direntjanakan pembelian :
5000 ekor sapi Bali.
Perbaikan makanan ternak.
Perlu diakui, bahwa persediaan bahan makanan untuk ternak dipulau Djawa (dimana peternakannja
merupakan 70% 80%
Milik tanah jang sangat ketjil dan penduduknja jang amat padat mengakibatkan bahwa hampir semua tanah milik rakjat chusus senantiasa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan bag! manusia belaka. Dan oleh karenanja pula kemungkinan untuk memperbesar djumlah ternak terbatas sekali.
Sungguhpun demikian namun dibeberapa tempat masih terdapat tanah-tanah jang luas, tandus dan usaha itu mempu-njai pengaruh jang amat berguna.
Berkenaan dengan itu dalam rangka pembangunan
direntjana-kan mempergunadirentjana-kan tanah-tanah itu untuk menambah persediaan makanan ternak. Pembuatan
tempat pembenihan
bermatjam-matjam rumput fang bernilai tinggi dan tumbuhan lainnja seperti leguminosa dan sebagainja difokstation-difokstation jang tersebar diseluruh Indonesia dimaksudkan untuk menjediakan bibit bagi rakjat.
Disamping itu disana-sini masih terdapat pula tanah-tanah jang luas fang tidak dapat dipergunakan untuk pertanian (rawa-rawa), sedangkan pada tanah ini senantiasa terdapat rumput. fang baik. Dengan djalan,. mengawetkan (hay-making) rumput ini maka persediaan makanan ternak sedikit banjak dapat pada musim hudjan senantiasa tersedia rumput jang baik dalam djumlah jang amat luas, sedangkan sebaliknja dimusim kemarau keadaan makanan ternak biasanja menghadapi kesulitan. Projek urgensi di Sumba ini dimaksudkan untuk per-sediaan makanan bagi ternak fang diekspor fang setiap tahun berdjumlah kurang lebih 7.500 ekor.
Perlengkapan sentrale susu.
Pada beberapa sentrale susu milik Pemerintah belum dapat diusahakan penjempurnaan perlengkapannja. Oleh sebab itu
penghasilan dan pengumpulan air susu ditempat tersebut belum dapat diperbesar seperti diharapkan semula.
Sebagai tjontoh dapat dikemukakan bahwa sentrale susu Grati (Djawa Timur) kini baru dapat
menghasilkan 1.500 liter
sehari-nja, Dan djika projek tersebut dapat diperlengkapi dengan alat-alat pengawetan air susu (pasteurisasi,
kondensasi susu dan
sebagai-nja) maka kiranja dapat didjamin perkembangan produksi jang lebih besar.
Perentjanaan projek-projek ini ditudjukan pula terhadap usaha rakjat jang bersifat koperatip.
H. P u s a t B a l a i P e n j e l i d i k a n P e t e r n a k a n .
Pusat Balai Penjelidikan Peternakan di Bogor merupakan pusat dimana pekerdjaan penjelidikan untuk praktek dilakukan.
Tjabangnja merupakan aparat produksi dan djika perlu, mengerdjakan penjelidikan jang tidak mungkin dilakukan dipusat karena keadaan tanah dan iklim. Semua itu atas petundjuk-petundjuk dari pusat.
Objek dan pekerdjaan jang sementara dalam penjelidikan dan jang selandjutnja akan dilakukan oleh tiap-tiap balai ialah :
a. Balai Tehnik Peternakan Umum : 1. Penjelidikan aklimatisasi ternak, 2. „ masalah padang rumput, 3. „ perkandangan ternak,
4. ,, melakukan inseminasi buatan dan
penjelidikan/pembuatan larutan untuk mengentjerkan
ma. Pengawetan sperma dengan djalan deepfreeze.
5. Membuat tjontoh-tjontoh padang rumput ditempat-tempat
jang mungkin.
e. Balai Penjelidikan Bahan-bahan dari Ternak dan
Perindus-trian.
f. Balai Penjelidikan Usaha Peternakan Tani (Mixed Farming).
g. Balai Penjelidikan Kimia Peternakan. h. Tjabang B.P.P. di Grati.
Dengan kerdja sauna dengan lain-lain djawatan dan instansi mengadakan penjelidikan mengenai kombinasi pertanian dan peternakan '(mixed farming).
1. Lembaga pusat penjakit Hewan
Tugas dari lembaga ini sedjak didirikan adalah menjelidiki, mentjegah dan memberantas penjakit hewan menular di Indonesia.
Pentjegahan (wering) penjakit menular berarti bukan sadja mendjaga supaja penjakit dari luar negeri tidak dapat masuk kewilajah Indonesia, tetapi djuga harus diusahakan agar hewanhewan mendjadi kebal terhadap penjakit-penjakit jang berdjangkit di Indonesia, dengan djalan vaccinasi.
Pemberantasan dilakukan antara lain dengan suntikan serum dan chemotherapeutica serta antibiotica. Selain dari itu lembaga berusaha mentjari djalan dan tjara-tjara untuk mempermudah menentukan penjakit-penjakit dengan djalan serologis, membuat diagnostica seperti malleine, tuberculine dan lain-lain. menerus meningkat dari tahun ketahun.
Produksi serta penjerahan dari antisera dan vaccin baik untuk daerah-daerah dimana penjakit berdjangkit (guna pemberantasan), maupun untuk daerah-daerah dimana penjakit timbul berkala (guna pentjegahan) berdjalan dengan lantjar.
Dan pseudo-pest kita ketahui, bahwa sebelum perang dunia ke II penjakit ini mendatangkan korban ratusan ribu ajam jang menjebabkan kerugian berdjuta-djuta rupiah pada perekonomian rakjat, hingga hampir semua perusahaan ajam terpaksa ditutup. Setelah perang berachir, berkat disediakan obat suntikan vaccin, maka perusahaan ajam dapat berkembang lagi,
Pemberantasan penjakit andjing gila (rabies) sebelum perang terdiri hanja dari peraturan polisi sadja.
Dalam tahun-tahun terachir ini, dengan mengikuti perkembangan-perkembangan pengetahuan diluar negeri, Lembaga Pusat Penjakit Hewan telah berhasil membuat suatu vaccin, sehingga dapat diadakan suntikan pendjagaan pada andjing dalam rangkarangka terbatas, oleh sebab peralatan belum memungkinkan pembuatan vaccin dalam djumlah besar-besaran.
dipenuhi.
Dengan diusahakannja mendirikan Institut Virus (jang telah dimulai achir tahun ini) diharapkan banjak kesulitan-kesulitan akan dapat diatasi.
J. B a l a i P e n j e l i d i k a n P e n j a k i t M u l u t /
K u k u .
Penjakit mulut dan kuku adalah suatu penjakit terutama dari hewan pemamah biak, jang tiap-tiap tahun berdjangkit di Djawa dan Madura. Sesudah perang djuga di Sumatera.
Kerugian ini tidak dapat dinjatakan dengan angka-angka jang pasti akan tetapi hanja dapat dikira-kirakan seperti ternjata pada taksiran sebagai berikut:
a. Kerugian kematian dan kerugian pada anak-anak ternak (ka-rena induknja kehilangan daja memberi susu dan oleh karenanja tidak dapat memberi makanan pada anaknja disebabkan oleh penjakit ini), kerusakan karena hewan betina tidak bisa bunting sesudah menderita sakit, dan pematjuk-pematjuk mendjadi mandul, pula kerugian petani karena terlambat mengolah sa-wahnja, kehilangan beribu-ribu liter susu jang berharga diperusahaan-perusahaan susu tiap-tiap tahun, tidaklah dapat dihitung.
b. Kerugian langsung pada ternak jang diakibatkan oleh penjakit ini karena kehilangan berat timbangan badan pada sebagian ternak
a. pembikinan vaccin untuk penjakit mulut-kuku dan usaha-usaha untuk mentjari tjara-tjara pembikinan jang lebih sempurna dan lebih ekonomis.
b. penetapan "typen" penjakit mulut dan kuku jang terdapat di Indonesia.
Untuk usaha tersebut tahun ini akan dikirimkan kenegeri Belanda dua orang dokter hewan Indonesia jang bekerdja-sama dengan B.P.P.M.K, atas biaja F.A.O., sehingga mereka dapat mempeladjari pembikinan vaccin dan penetapan djenis-djenis virus (virus-stammen).
Satu-satunja djalan untuk menambah hatsil ikan taut dengan tjepat ialah menambah penangkapan tiap-tiap nelajan dengan djalan memotorisir perahu-perahunja.
Oleh karena hal tadi harus didjalankan setjara besar-besaran, maka ini berarti usaha merobah kultur, ja'ni dari kultur perahu lajar kekultur perahu bermotor.
Menghadapi pekerdjaan besar-besaran ini kesukaran-kesukaran kelihatannja semula akan tidak dapat atau sangat sukar diatasi oleh karena pertama kali Djawatan jang bersangkutan sangat muda usianja dan tidak mempunjai pengalaman dalam persoalanpersoalan jang dihadapinja, kedua oleh karena keuangannja sangat terbatas.
Usaha-usaha motorisasi ini mulai direntjanakan dalam tahun 1949 di Djokja, dan 20 buah perahu bermotor pertama.dapat diselesaikan dalam tahun 1951. Sekarang djumlah perahu bermotor ± 700 buah, dari djumlah mana separoh atau 350 buah pembikinannja dibiajai oleh pemerintah.
Dibawah ini disadjikan beberapa angka untuk mendapat gambaran tentang situasi produksi perikanan laut. dan berdasar keilmuan. Hal ini dapat ditjapai djika dalam lapangan tehnik perikanan dilakukan penjelidikan-penjelidikan jang seksama dengan disusul oleh pertjobaan-pertjobaan jang teliti dimana diperlukan pangkalan-pangkalan (stasiun-setasiun) per-ikanan laut jang tjukup baik perlengkapannja dan tersebar dise-luruh Nusantara.
akan dipekerdjakan dilapangan perikanan laut harus djuga diutamakan, karena dewasa ini djumlah tenaga jang ah1i sangat sedikit.
Lain dari pada itu, mengingat lemahnja kedudukan nelajan maka diperlukan bantuan material dari Pemerintah untuk mem-bawa mereka dalam perusahaan-perusahaan jang lebih tinggi tingkatnja.
Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa bantuan jang dapat disalurkan oleh Pemerintah berupa kredit, hingga kini djauh dari mentjukupi kebutuhan.
Disamping usaha-usaha untuk memadjukan hasil penangkapan ikan, termasuk pula sebagai tugas dari Djawatan Perikanan Laut usaha-usaha kearah pembangunan masjarakat nelajan jang sedjah-tera dan makmur. Oleh karena itu pertumbuhan organisasi ne-lajan, terutama dalam bentuk koperasi, senantiasa mendapat dorongan serta bimbingan. Koperasi jang sekarang djumlahnja sudah mendekati 250 buah, mempunjai peranan perhubungan, alat pengangkutan dan pengawetan. Djelaslah bahwa usaha intensivering atau modernisasi jang menghasilkansurplus ikan disuatu tempat, dengan tidak tersedianja alat-alat untuk mengangkat surplus tadi dengan tjepat kedaerah-daerah
jang membutuhkannja, bukan sadja sama sekali tidak berarti bagi masjarakat, akan tetapi merugikan kepentingan para nelajan ditempat-tempat tadi. Demikianlah usaha pembukaan sumber-sumber perikanan ditempat-tempat jang potensiil mungkin sangat kaja, (umpamanja sadja daerah Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan lain-lain) tidak dapat dilakukan sebagaimana diharapkan, selama kekurangan alat perhubungan dan pengangkutan belum dapat dipetjahkan.
Salah satu djalan untuk menghindarkan kesulitan-kesulitan tadi, ialah mengadakan pengawasan dari hasil ikan. Segi dari usaha pembangunan ini telah dimasukkan pula dalam pelaksanaan ren- tjana-rentjana dimasa jang silam.
meliputi sedjumlah besar usaha-usaha jang merupakan suatu rangkaian lengkap, antara lain berupa: cannery, pabrik es, galangan, pengasinan
dan pengeringan ikan, pembuatan djala dan sebagainja. Disamping itu akan didirikan pula ditempat tersebut sebuah vocational train-ing centre sehtrain-ingga Projek Kota Baru itu dapat dipakai pula
sebagai pusat latihan, baik bag! tenaga-tenaga dari Djawatan, maupun bagi para nelajan. Diharapkan bahwa beberapa bagian dari projek tersebut, misalnja cannery, sudah dapat berdjalan sebelum achir tahun ini.
Perlu diketahui bahwa investasi Pemerintah kedalam sektor perikanan laut tidak berarti peninggian produksi bahan-makanan. primair semata-mats, tetapi djuga membawa akibat baik -dalam fungsi-adisionil perikanan laut kearah kepentingan maritiem dan pertahanan (defensief) perekonomian Negara dalam segi sumbersumber perairan dilautan, jang senantiasa membuka pembangunan lima tahun hal-hal jang diutamakan ialah sebagai berikut ;
1. Didapatnja saluran untuk memberikan kredit kepada perusahaan-perusahaan perikanan jang telah ada untuk melantjarkan usahanja serta membentuk dan membimbing organisasi-organi-sasi nelajan.
2. Mekanisasi perusahaan perikanan.
3. Mendirikan projek-projek untuk mempertjepat perkembangan perikanan seperti canneries, pabrik-pabrik pendingin, pabrikpabrik tepung ikan, pengangkutan dan sebagainja.
4. Service terhadap usaha-usaha tersebut diatas.
Adapun Djawatan mengutamakan
memperlengkapi organisasi dan penjelidikan pertjobaan dan pendidikan (termasuk latihan) adalah semata-mata untuk dapat memberikan arah jang kuat guna membimbing dan mengawasi pembangunan jang dimaksudkan.
Untuk Djawatan ini disediakan bagi lima tahun Rp. 80 djuta.
L. D j a w a t a n P e r i k a n a n D a r a t .
Djika diingat bahwa Danau Tempe pada tahun-tahun terachir rata-rata dapat menghasilkan 600 a 700 kg tiap ha, sedangkan kolam air tawar haAilnja tiap ha. setahun lebih dad 1.000 kg maka basil rata-rata seluruh Indonesia seperti tersebut diatas adalah
sangat rendah dan belum sesuai dengan kemampuan untuk menghasilkan than dari bumf Indonesia jang sangat subur itu.
Disamping tjara-tjara pengusahaan jang telah sangat madju terdapat pula tjara-tjara pengusahaan jang inasih sederhana dan djustru oleh karena itu masih memberi kemungkinan jang sangat besar untuk mengadakan perbaikan.
Mengingat luas tanah jang baik untuk usaha
Penangkapan ikan setjara besar-besaran umumnja banjak dilakukan didaerah-daerah jang tipis penduduknja sehingga hasilnja merupakan kelebihan dan perlu diangkut kedaerah-daerah jang sangat padat penduduknja.
Pemeliharaan ikan umumnja banjak diusahakan didaerah-daerah jang penduduknja amat padat,
Berhubung dengan keadaan sebagalmana digambarkan diatas, maka walaupun kemungkinan kenaikan produksi dari daerah penangkapan lebih besar, kedua hal tadi dianggap sama pentingnja terutama dipandang dari sudut sosial-ekonomis jang tidak boleh diabaikan.
Soal-soal dan usaha-usaha jang berhubungan dengan penangkapan ialah : pembukaan perairan umum, perlindungan sumbersumber ikan, penebaran, penangkapan, pengawetan, peredaran, diseluruh kepulauan dianggap sangat penting artinja guna membagikan bibit serta mempertjontohkan djenis-djenis ikan jang baru. Denali lebih banjaknja bibit jang tersedia, produksi dapat diperbesar.
M. B a l a i P e n j e l i d i k a n P e r i k a n a n D a r a t .
Bertugas mendjalankan penjelidikan dalam lapangan biologi, hydrologi dan perikanan darat. Bala' ini antara lain
kan dan mempersiapkan bahan bagi pekerdjaan Djawatan Per-ikanan Darat.
Dari basil pertjobaan-pertjobaan dan penjelidikan-penjelidikan jang dilakukan oleh ahli-ahli biologi jang' tjakap dan berpeng-alaman, pengetahuan dan petundjuk praktis untuk memperbaiki hasil dalam segala lapangan perikanan darat diberikan kepada Djawatan Perikanan Darat untuk diteruskan kepada
petani-petani ikan jang memelihara ikan dikolam, tambak
dan sawah
dan kepada para nelajan diperairan bebas.
Balai ini perlengkapannja masih djauh mentjukupi. Maka disamping tugasnja, perhatian akan dipusatkan djuga guna perlengkapan alat-alat penjelidikan, pendirian stasiun-stasiun baru (Sumatera-Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan) dan alat-alat pengangkutan.
N. L e m b a g a P u s a t P e n j e l i d i k a n A l a m . Lembaga Pusat Penjelidikan Alam meliputi dua belas lembagalembaga ilmu pengetahuan jang masing-masing berdiri sendiri dan djuga mempunjai sedjarahnja sendiri-sendiri, jakni :
1. Lembaga Herbarium Bogoriense. 2. Lembaga Flora Malesiana,
3. Lembaga Botani Llmum Treub. 4. Lembaga Mikrobiologi,
5. Lembaga Hortus Botanicus (di Bogor, Tjibodas dan Purwodadi).
6. Lembaga Museum Zoologicum Bogoriense. 7. Lembaga Penjelidikan Laut.
8. Lembaga Kepustakaan Bibliotheca Bogoriensis. 9. Lembaga Pengawetan Alam.
10. Lembaga Pemotretan dan Penggambaran. 11. Akademi Biologi,
12. Lembaga Ilmu Pengetahuan Alam "Setiamulja" (dekat Pa-dang).
pengawetan alam, kehewanan, perikanan dan kedokteran).
Dalam melaksanakan tugas keilmuan, Lembaga Pusat Penjelidikan Alam bersandar pula pada adanja goodwill internasional
jang bersifat sukarela semata-mata, dengan mana dapat dilakukan tukar-menukar bahan tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan maupun publikasi-publikasi, dan didapatkan pula sumbangan sedjumlah
besar tenaga-tenaga sardjana dari lembaga-lembaga ilmu pengetahuan alam diseluruh dunia.
Tugas tersebut merupakan landjutan jang kontinu darl pada pelaksanaan suatu tradisi jang sudah tua semendjak didirikannja Lembaga ini pada tahun 1817, jaitu menerbitkan buku-buku dan publikasi-publikasi jang bermutu internasional, mengenai Flora
dan Fauna baik dari daratan maupun dari perairan wilajah Indo-nesia dan daerah-daerah sekitarnja. Setjara tetap dilangsungkan tukar-menukar madjalah-madjalah maupun karangan-karangan standard dengan sedjumlah besar lembaga-lembaga diseluruh dunia.
Anggaran belandja untuk research (penjelidikan) berdjumlah Rp. 3.924.500 setahunnja atau Rp. 19.622.500 dalam waktu lima tahun.
Selain itu dalam rangka pembangunan tahun 1956,1960 sangat perlu mendapat prioritet pelaksanaan projek-projek jang tersebut sebagai berikut :
1.Melandjutkandan menjelesaikan bangunan gedung-gedung Akademi
Biologi Rp.
4. Melandjutkan pembetulan gedung
Museum 320.000
5. Pembetulan beratpada
ruangan-ruangan 495.000
6. Mendirikan rumah-rumah untuk
Berhubung dengan keadaan keuangan negara mungkin hanja sebagian sadja dari rentjana ini'dapat di selenggarakan.
O. K a n t o r P e r a n t j a n g T a t a B u m i .
Pertukaran dan pemakaian tanah dinegeri ini belum teratur sebagaimana mestinja, dan merupakan suatu masalah jang sangat berbelit-belit. Peruntukan jang tidak sesuai dengan keadaan alam (physis) dan pemakaian jang tak teratur telah menimbulkan diberbagai-bagai daerah kerusakan sumber-sumber tanah, air dan hutan berupa erosi tanah, sedimentasi, kesulitan-kesulitan menge-nai drainage, kekeringan sungai-sungai, dan selainnja, jang makin lama makin meluas dan karena itu menambah besarnja bandjir dimusim hudjan atau kekurangan air disungai-sungai diwaktu kemarau.
Pemeliharaan sumber-sumber ini sangat panting artinja, karena sumber-sumber itu merupakan faktor pokok guna pembangunan dan perkembangan perusahaan pertanian dan industri serta perkembangan ekonomi nasional pada umumnja.
Sebagai akibat dari peruntukan jang tak teratur dan tjara pemakaian fang memboros, maka tanah-tanah jang baik untuk pertanian makin lama makin berkurang luasnja. Disamping itu baik tanah-tanah jang sampai sekarang tetap dipergunakan untuk bertjotjok tanam maupun jang tetap dipergunakan untuk penggembalaan hewan banjak jang sudah turun daja hasilnja karena "overexploitatie" atau "overbegrazing", Selandjutnja tanah-tanah tjadangan pada umumnja tidak begitu
subur, sedangkan
diberba-gai-bagai tempat hares diadakan perbaikan lebih dahulu sebelum tanah itu dapat dipergunakan untuk perusahaan pertanian.
Berhubung dengan usaha-usaha pembangunan dewasa ini dan dimasa datang, djelas kiranja akan pentingnja diadakan persiapan dalam lapangan penjelidikan keadaan dan kemungkinan pemakaian tanah dinegara kita ini.
Pengetahuan dalam potensi dari daja hash tanah adalah sjarat mutlak untuk perentjanaan.
Berhubung dengan sangat mendesaknja kebutuhan akan keterangan-keterangan pokok untuk perentjanaan, sedangkan tenaga-tenaga ahli jang diperlukan sangat terbatas, maka dalam penjelidikan itu mau tidak mau ketelitian perlu dikorbankan
termaksud, sekalipun setjara kasar (globaal) sadja. Langkah pertama dalam penjelidikan itu merupakan inven-tarisasi dan pemetaan tanah, jang diperlengkapi dengan keterang-an-keterangan jang diperlukan untuk menentukan:
1. Tanah mana jang harus tetap ditumbuhi hutan dan tanah mana diperuntukkan bagi pertanian dan/atau peternakan.
2. Tanah mana jang merupakan „critical areas” jang akan hilang bagi pertanian dan peternakan disebabkan erosi, karena pemakalan jang tak sesuai dengan keadaan alam (physis).
3. Didalam lingkungan (complex) tanah-tanah pertanian dan
peternakan itu menentukan tjara pemakaian bidang-bidang
tanah jang sesuai dengan daja produksinja dan pemeliharaan
tanah jang sebaik-baiknja (landcapability classification).
Penentuan tanah-tanah demikian dan penjusunan rentjana perbaikan dan pemeliharaan hendaknja selekas mungkin dapat disiapkan. Ini berarti pengumpulan keterangaa-keterangan ten-tang persediaan tanah untuk pertanian, peternakan, perikanan darat dan kehutanan.
Projek-projek jang direntjanakan sebagian ditudjukan kepada penjelidikan tentang peruntukan dari tanah-tanah jang dimaksud-kan diatas guna menimbulkan lagi kerusakankerusakan atas sumber-sumber tanah, hutan dan air. Pula
projek-Sebagian lagi ditudjukan kepada penjelidikan tentang perbaikan dan pemakaian jang sebaik-baiknja dari tanah-tanah kering, berdasarkan prinsip-prinsip pengawetan tanah dan air (Soil and Waterconservation).
Tata Bumi bekerdja sama dengan djawatan-djawatan tadi serta bekerdja setjara koordinasi
menge-nai projek-projek itu. III. P e n d i d i k a n ,
1. Perlu sekali diadakan Konsolidasi dari sekolah-sekolah dan kursus-kursus jang dimiliki oleh Djawatan-Djawatan didalam lingkungan Kementerian Pertanian, jang meliputi perlengkapanperlengkapannja.
2. Menambah sebanjak mungkin :
a. Sekolah-sekolah Usaha Tani diluar Djawa/Madura.
b. Kursus-kursus jang langsung dapat meninggikan mutu dari golongan-golongan petani/nelajan dan lain-lain.
3. Membuka pendidikan-pendidikan barn, diantaranja :
a. Sekolah Perikanan Laut Menengah Atas/Akademi Per-ikanan Laut.
b. Sekolah Perikanan Darat Menengah Atas/Akademi Per-ikanan Darat.
c. Sekolah Menengah Usaha Tani.
4. Mengadakan usaha-usaha lain, diantaranja:
Kementerian Pertanian dan Kementerin P.P. dan K. hendaknja selekas mungkin melaksanakan rentjana pendidikan pertanian
di Sekolah Rakjat d'an Sekolah-sekolah landjutan
seperti
ter-sebut dalam laporan dari Panitya Perantjang Pendidikan Pertanian.
Peladjaran-peladjaran disekolah landjutan perlu disesuaikan dengan kebutuhan untuk mengikuti pendidikan di Universitas dan kepada siswa-siswa lulusan sekolah landjutan diberi kesempatan untuk melandjutkan peladjarannja sesudah mem-peroleh pengalaman praktek.
5. Untuk menutup kekurangan akan tenaga jang tjakap jang dibutuhkan dalam pelaksanaan rentjana setjara efektip, dise-diakan dana guna :
a. mendatangkan ahli-ahli pengetahuan, pengadjar-pengadjar serta tenaga-tenaga jang tjakap.
b. mengirimkan pemuda-pemuda Indonesia keluar negeri untuk mengikuti pendidikan jang lamanja lebih dari dua tahun,
IV. P e r k r e d i t a n .
Sistim perkreditan jang baik serta teratur merupakan faktor jang utama dalam pembangunan lapangan pertanian dan perikanan.
waktunja atau kegagalan hasil karena serangan penjakit.
Begitu pula berhubung dengan sifat pekerdjaannja jang kapitalintensip serta banjak membawa risiko, lapangari perikanan mem-butuhkan badan perkreditan tersendiri.
Disamping itu badan-badan koperasi dalam kedua lapangan tersebut, sebagai usaha fihak petani serta nelajan jang berkepentingan akan mendapat bimbingan setjukupnja dari Pemerintah.
V. K o o r d i n a s i .
I. Mengingat keperluannja supaja selalu dapat menjesuaikan tindakan-tindakan dengan pertumbuhan masjarakat dan kemadjuan zaman, masalah research baik jang bersifat basic maupun jang bersifat applied perlu diperhatikan/dipergiat dan diselenggarakan dengan segala kesungguhan. njata tentang kerdja sama Jang telah lama akan tetapi masih perlu disempurnakan adalah sebagai berikut:
a. Masalah makanan ternak dipulau Djawa, Madura dan
pulau-pulau lainnja jang kekurangan makanan dan air.
b. Masalah mempergunakan alat-alat dan bahan pertanian.
c. Masalah mixed farming (perusahaan pertanian tjampuran).
d. Masalah pendjagaan kesuburan tanah (soil -- and
water-conservation). VI. P e n u t u p .
Oleh karena pekerdjaan-pekerdjaan Kementerian Pertanian itu merupakan kelandjutan dari pekerdjaan fang sudah-sudah dan sebagian besar pekerdjaan tengah berdjalan, maka dalam memilih projek-projek jang ditudjukan untuk pembangunan lima tahun harus disesuaikan dengan keadaan ini.
Pemerintah dengan rakjat. Ketjuall itu perimbangan in-vestasi dan pengeluaran lainnja agak berbeda dengan sektor-sektor lainnja.
Dari seluruh anggaran belandja untuk sektor Pertanian jang berdjumlah Rp. 1.044 djuta, telah dapat ditetapkan dengan pasti anggaran belandja Djawatan Pertanian Rakjat sebesar Rp. 275 djuta, Djawatan Kehutanan Rp. 300 djuta, Djawatan Perikanan Laut Rp. 80 djuta dan Lembaga Pusat Penjelidikan Alam Rp. 32 djuta, sedang untuk lain-lain Djawatan, Balai dan Kantor, baru
merupakan taksiran belandja modalnja dan masih akan ditetapkan lebih landjut.
Untuk kebutuhan devisen disediakan anggaran sebesar Rp. 208 djuta, jaitu ± 20% dari seluruh anggaran belandja Rentjana Pembangunan Lima Tahun untuk sektor ini.