44 BAB III
KERANGKA PENELITIAN
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka Konsep dalam penelitian ini menjelaskan variabel yang akan diamati dan diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. Kerangka konsep ini bertujuan untuk mengidentifikasi dukungan yang diberikan oleh keluarga dalam pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent.
Berdasarkan tujuan penelitian dapat digambarkan kerangka konsep penelitian sebagai berikut:
DukunganKeluarga: 1. Dukungan
Informasional 2. Dukungan
Penilaian 3. Dukungan
Instrumental 4. Dukungan
Emosional
Skema 3.1 Kerangka penelitian dukungan keluarga dalam pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent.
3.2 Definisi Operasional
Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur
Skala Dukungan
Keluarga
Dukungan keluarga adalah segala bentuk perilaku dan sikap positif yang diterima pasien penyakit jantung koroner terpasang stent dari keluarga dalam pencegahan
sekunder. Dukungan berupa:
1. Dukungan informasional adalah bantuan yang diberikan oleh keluarga meliputi komunikasi tentang pemberian informasi, usulan, petunjuk, nasehat, ide, dan
saran mengenai pencegahan sekunder.
2. Dukungan penilaian
adalah bantuan yang diberikan oleh keluarga dalam memberikan dorongan (support),
penghargaan, ataupun balasan atas apa yang dilakukan pasien penyakit jantung koroner setelah terpasang stent dalam
upaya pencegahan sekunder.
3.Dukungan instrumental adalah bantuan yang diberikan oleh keluarga dalam memberikan atau menyediakan bantuan
Kuesioner
46
nyata akan kebutuhan individu yaitu bantuan dalam materi, tenaga, dan sarana untuk pencegahan sekunder.
4.Dukungan emosional adalah bantuan yang diberikan oleh keluarga dalam memberikan perhatian, simpati, empati,
4.1.Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat gambaran fenomena pada sekumpulan objek (Notoadmodjo, 2010).Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dukungan keluarga dalam pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent di RSUP H. Adam Malik Medan.
4.2.Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Poli Jantung RSUP H. Adam Malik Medan. Adapun peneliti memilih rumah sakit ini sebagai lokasi penelitian karena rumah sakit ini merupakan rumah sakit tipe A rujukan untuk wilayah Sumatera bagian utara dan sekitarnya serta merupakan rumah sakit pendidikan,sehingga memudahkan peneliti untuk menemukan kasus dan jumlah responden yang memenuhi syarat dalam penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2017.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi
48
tindakan IKP pada bulan Januari sampai dengan bulan Oktober 2016 diperoleh jumlah 189 pasien. Pasien tersebut akan melakukan kunjungan kontrol jantung minimal sekali dalam satu bulan.
4.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian unsur populasi untuk dijadikan objek penelitian (Arikunto, 2010). Pengukuran sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus Slovin. Maka sampel pada penelitian ini adalah:
�= N
1 + N(�2)
Keterangan: n : besar sampel N : besar populasi
d : tingkat kepercayaan/ketepatan yang digunakan 15% (0,15)
�= N
1 + N(�2)
�= 189
1 + 186(0,152)
�= 189
1 + 189(0,0225)
�= 189 5,2525
�= 35,9
Teknik sampel pada penelitian ini menggunakan accidental sampling yang dilakukan dengan mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo, 2010).
4.4 Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik medan.Dalam penelitian ini ada beberapa pertimbangan etik yang harus diperhatikan, yaitu: memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan penelitian. Apabila calon responden bersedia, maka calon responden dipersilahkan untuk menandatangani informed consent. Tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka calon responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri. Responden juga berhak mengundurkan diri selama proses pengumpulan data berlangsung. Kerahasiaan catatan mengenai data responden dijaga dengan cara tidak menuliskan nama responden pada instrumen penelitian, tetapi menggunakan inisial. Data-data yang diperoleh dari responden juga hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
4.5 Instrumen Penelitian
50
Kuesioner dibagi menjadi 2 bagian yaitu, kuesioner demografi dan kuesioner dukungan keluarga. Kuesioner data demografi digunakan untuk mengkaji data demografi responden yang meliputi nama (inisial), umur, jenis kelamin, suku, pendidikan, pekerjaan, riwayat penyakit, jaminan kesehatan, dan lama terpasang stent. Kuesioner dukungan keluarga terdiri dari 25 buah pertanyaan meliputi 4 komponen dukungan yaitu: 6 pernyataan dukungan informasional, 6 pernyataan dukungan penilaian, 7 pernyataan dukungan instrumental, dan 6 pernyataan dukungan emosional. Keseluruhan pernyataan merupakan pernyataan positif dan tertutup.
Jenis skala pengukuran yang digunakan yaitu skala likert. Setiap pernyataan memiliki nilai yang berbeda, yaitu 4= selalu, 3= sering, 2= jarang, 1= tidak pernah. Untuk penentuan kategori digunakan rumus:
p = rentang banyak kelas
dimana p merupakan panjang kelas, dengan rentang (nilai tertinggi dikurang nilai yang terendah). Untuk kuesioner dukungan keluarga nilai tertinggi yang diperoleh adalah 100 dan nilai terendah adalah 25 maka rentang yang diperoleh adalah 75 dan banyak kelas ada 3 (baik, sedang, dan kurang) maka didapat panjang kelas sebesar 25. Menggunakan panjang kelas sebesar 25 dan nilai terendah 25 maka dukungan keluarga dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.Dukungan Keluarga
2.Komponen Dukungan Keluarga a.Dukungan Informasional
Skor 19-24 : Baik Skor 13-18 : Sedang Skor 6-12 : Kurang b.Dukungan Penilaian
Skor 19-24 : Baik Skor 13-18 : Sedang Skor 6-12 : Kurang c.Dukungan Instrumental
Skor 22-28 : Baik Skor 15-21 : Sedang Skor 7-14 : Kurang d.Dukungan Emosional
Skor 19-24 : Baik Skor 13-18 : Sedang Skor 6-12 : Kurang
4.6Validitas dan Reabilitas Instrumen
4.6.1 Validitas Instrumen
52
peneliti menggunakan metode validitas isi yaitu dengan menguji instrumen yang mengacu pada isi dan meminta dua orang yang ahli, dalam hal ini peneliti mengkonsultasikannya dengan dosen keperawatan keluarga di Departemen Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan perawat ahli bidang jantung di RSUP H. Adam Malik Medan.
4.6.2 Reliabilitas Instrumen
Kuesioner dukungan keluarga dibuat sendiri oleh peneliti dan disesuaikan dengan tinjauan pustaka.
Menurut Azwar (2003), uji reliabilitas dilakukan terhadap 10 orang yang memiliki karakteristik dan kriteria yang sama dengan responden penelitian. Uji reabilitas dilakukan di Poli Jantung RSUP H. Adam Malik. Pada instrumen penelitian ini, uji reabilitas dilakukan sebelum pengumpulan data dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha, denganhasil uji memiliki nilai reabilitas 0,933, sehingga dapat disimpulkan bahwa kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel.
4. 7 Pengumpulan Data
calon responden dan yang bersedia berpartisipasi diminta untuk menandatangani surat persetujuan sebagai responden/informed consent. Responden diminta mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Selama pengisian kuesioner responden diberi kesempatan untuk bertanya pada peneliti bila ada pertanyaan yang tidak dipahami. Selanjutnya data yang diperoleh dikumpulkan untuk dianalisa.
4. 8 Analisa Data
Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisa data melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama editing, yaitu mengecek nomor responden, kelengkapan (semua pertanyaan sudah terisi) sesuai petunjuk. Tahap kedua coding, yaitu melakukan peng”kodean” yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah peneliti saat memasukkan data (data entry).Tahap yang ketiga processing, yaitu memasukkan jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang sudah diberi kode ke dalam program atau software komputer. Tahap keempat adalah cleaning, yaitu mengecek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi (Notoatmodjo, 2010).
54 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
Bab ini akan menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan mengenai dukungan keluarga dalam pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent di RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian dilakukan pada 28 April - 18 Mei, dengan jumlah responden sebanyak 36 responden.
5.1.1. Karakteristik Responden
Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik responden yang meliputi, umur, jenis kelamin, suku, pendidikan terakhir, pekerjaan, riwayat penyakit, jaminan kesehatan dan lama terpasang stent.
sudah terpasang stent lebih dari satu tahun yaitu 32 orang (88.9%). Distribusi frekuensi karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 5.1.1 berikut ini.
Tabel 5.1.1 Distribusi frekuensi dan persentasi karakteristik demografi responden (n=36) 6. Riwayat Penyakit
Hipertensi 10 27.8
Diabetes Melitus 7 19.4
Tidak ada 17 47.2
Hipertensi dan Diabetes Melitus 2 5.6 7. Jaminan Kesehatan
Ya 36 100
8. Lama Terpasang stent
≤ 1 tahun 4 11.1
56
5.1.2 Gambaran Dukungan Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Distribusi frekuensi dukungan keluarga di RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.1.2Distribusi Dukungan Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
No Dukungan Keluarga Frekuensi %
1 Baik 0 0
2 Sedang 29 80.6
3 Kurang 7 19.4
Total 36 100
Hasil penelitian dari 36 responden yang diteliti menunjukkan bahwa distribusi frekuensi dan persentase dukungan keluarga dalampencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent dikategorikan sedang, yaitu sebanyak 29 responden (80.6%).
Gambaran umum dari komponen dukungan keluarga dalam pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stentdijelaskan pada tabel 5.1.2.1 di bawah ini
Tabel 5.1.2.1 Distribusi Frekuensi Komponen Dukungan Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Kategori Frekuensi Persentase (%) Dukungan Informasional
Baik 1 2.8
Sedang 20 55.6 Kurang 15 41.7 Dukungan Penilaian
Dukungan Instrumental
Baik 0 0
Sedang 16 44.4
Kurang 20 55.6
Dukungan Emosional
Baik 3 8.3
Sedang 30 83.3
Kurang 3 8.3
5.1.3 Gambaran Dukungan Informasional Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Hasil penelitian pada36 responden,dukungan informasional dalam pencegahan sekunder yang diberikan oleh keluarga kepada pasien penyakit jantung koroner terpasang stent, menunjukkan bahwa 24 responden (66,7%) menjawab keluarga tidak pernah mencari informasi tentang penyakit jantung koroner dan kondisi tubuh setelah terpasang stent dan sebanyak 21 responden (58.3%) menjawab keluarga sering menganjurkan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran dalam melakukan pencegahan sekunder penyakit jantung koroner setelah terpasang stent.
Untuk lebih lengkap, hasil dari jawaban responden pada setiap pernyataan untuk dukungan informasional keluarga disajikan dalam tabel dibawah ini.
5.1.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Dukungan Informasional Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent
No Pertanyaan Selalu Sering Jarang Tidak Pernah 1. Keluarga mencari informasi
tentang penyakit jantung koroner dan kondisi tubuh setelah terpasang stent/ring.
1
2. Keluarga menjelaskan kepada saya tentang bahaya
58
makanan berlemak bagi kesehatan jantung.
3. Keluarga menganjurkan saya mengkonsumsi buah-buahan 4. Keluarga menganjurkan saya
berolahraga ringan dan teratur. 5. Keluarga mengingatkan saya
untuk tidur tepat waktu / tidak tidur larut malam. 6. Keluarga menjelaskan
kepada saya bahaya merokok dan bahaya terpapar asap rokok bagi kesehatan jantung.
5.1.4 Gambaran Dukungan Penilaian Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Hasil penelitian pada36 responden,dukungan penilaiandalam pencegahan sekunder yang diberikan oleh keluarga kepada pasien penyakit jantung koroner terpasang stent, menunjukkan bahwa 24 responden (66,7%) menjawab keluarga selalu membantu untuk tetap berpikir positif terhadap diri sendiri dan sebanyak 23 responden (63.9%)menjawab keluarga sering mengingatkan untuk mematuhi anjuran petugas kesehatan dalam melakukan pencegahan sekunder penyakit jantung koroner setelah terpasang stent.
5.1.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Dukungan Penilaian Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent
No Pertanyaan Selalu Sering Jarang Tidak Pernah 1. Keluarga membantu saya
untuk tetap berpikir positif terhadap diri sendiri.
24 2. Keluarga mengingatkan saya
untuk mematuhi anjuran petugas kesehatan. 3. Keluarga tanggap terhadap
setiap masalah yang saya alami. 4. Keluarga memberi semangat
kepada saya melakukan diet makanan teratur untuk mencapai berat badan ideal/seimbang.
5. Keluarga membantu dalam menyeleksi makanan yang tidak sesuai untuk kesehatan saya.
6. Keluarga memberi pujian kepada saya bila menjalani pengobatan dan kontrol jantung dengan teratur.
1
5.1.5 Gambaran Dukungan Instrumental Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
60
Untuk lebih lengkap, hasil dari jawaban responden pada setiap pernyataan untuk dukungan instrumental keluarga disajikan dalam tabel dibawah ini.
5.1.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Dukungan Instrumental Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent
No Pertanyaan Selalu Sering Jarang Tidak Pernah 1. Keluarga menemani saya
melakukan kontrol jantung ke rumah sakit.
8 2. Keluarga menyediakan
obat-obatan yang saya perlukan, terutama saat akan
melakukan perjalanan.
3. Keluarga menyediakan makanan yang tidak digoreng. 4. Keluarga menyediakan
makanan rendah garam.
0 5. Keluarga menyediakan sayur
dan buah-buahan yang tidak bertentangan dengan
6. Keluarga memberi empati kepada saya dengan menyediakan dana khusus untuk biaya berobat.
0 7. Keluarga memfasilitasi saya
untuk berolahraga.
0 (0%)
3 (8.3%)
5.1.6 Gambaran Dukungan Emosional Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
responden (66.7%)menjawab keluarga sering menunjukkan wajah yang menyenangkan saat membantu atau melayani saya. dalam melakukan pencegahan sekunder penyakit jantung koroner setelah terpasang stent.
Untuk lebih lengkap, hasil dari jawaban responden pada setiap pernyataan untuk dukungan emosional keluarga disajikan dalam tabel dibawah ini.
5.1.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Dukungan Emosional Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent
No Pertanyaan Selalu Sering Jarang Tidak Pernah 1. Keluarga menunjukkan
wajah yang menyenangkan saat membantu atau
melayani saya.
2. Keluarga memahami perasaan saya dan saya merasa berharga karena keluarga mencintai saya.
3
3. Keluarga mendengarkan keluhan-keluhan yang saya rasakan. 4. Keluarga mengingatkan
untuk kontrol jantung karena keluarga mengetahui jadwal kontrol jantung saya ke rumah sakit.
5. Keluarga membantu saya dalam mengatasi stres yang saya alami. 6. Keluarga menciptakan
suasana tenang dan nyaman kepada saya di rumah.
62
5.2 Pembahasan
5.2.1 Dukungan Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Hasil penelitian pada36 responden menunjukkan bahwa dukungan keluarga dalam pencegahan sekunder yang diberikan oleh keluarga kepada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent dikategorikan sedang, yaitu sebanyak 29 orang (80.6%) seperti yang tertera pada tabel 5.1.2. Hasil penelitian yang dilakukan memperlihatkan keluarga kurang memberikan dukungan seperti dukungan instrumental yang rendah, maupun dukungan informasional, penilaian, dan emosional keluarga yang hanya memberikan kontribusi nilai di level sedang.
Dukungan keluarga adalah dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga (suami, istri, anak, saudara kandung dan orang tua) sehingga individu yang diberikan dukungan merasakan bahwa dirinya diperhatikan, dihargai, mendapatkan bantuan dari orang-orang yang berarti serta memiliki ikatan keluarga yang kuat dengan anggota keluarga yang lain (Friedman, 1998). Hasil penelitian Pratiwi (2009) mengatakan berbagai dampak fisik dan masalah psikologis dialami oleh mereka yang menderita penyakit jantung koroner. Hal ini membuat dukungan keluarga sangat dibutuhkan dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
sebelum usia 60 tahun. Estimasi jumlah penderita PJK negara Indonesia, laki-laki sebanyak 1.416.557 (0,5 %) dibanding jenis kelamin perempuan yaitu 1.146.009 (4%) (Infodatin, 2003). Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh American Hearth Assosiation(2014), faktor resiko yang tidak dapat diubah yaitu: usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga (genetik). Insidensi terkena PJK meningkat tajam seiring penambahan usia dimulai pada usia 40 tahun. Usia membawa perubahan yang tidak bisa dihindari termasuk pada sistem kardivaskuler.Morbiditas PJK pada laki-laki dua kali lebih besar dibandingkan dengan wanita dan kondisi ini terjadi hampir 10 tahun lebih dini pada laki-laki daripada perempuan, hal ini dikarenakan estrogen endogen bersifat protektif pada perempuan, namun setelah menopouse insiden PJK meningkat dengan pesat, tetapi tidak sebesar insiden PJK pada laki-laki.
64
Mayoritas reponden sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit yaitu sebanyak 17 orang (47.2%) seperti tertera pada tabel 5.1.1. Riwayat penyakit seperti hipertensi dan diabetes melitus, merupakan faktor resiko penyebab terjadinya penyakit jantung koroner. Hipertensi dan DM dapat meningkatkan resiko gangguan peredaran darah yang menyebabkan kerusakan pada sistem pembuluh darah dengan perlahan-lahan. Namun menurut Chung (2010) penyakit jantung koroner tidak selalu didahului oleh suatu penyakit, seperti Hipertensi, DM atau penyakit kronis lainnya. Pengaruh negatif gaya hidup modern yang identik dengan kurang konsumsi serat dalam makanan setiap harinya, pola makan sarat lemak, merokok, dan stres menjadi faktor resiko terjadinya PJK. Sejalan dengan hasil penelitian Hermansyah, dkk (2012) mengatakan tingginya prevalensi penyakit PJK diakibatkan oleh sejumlah faktor yang berhubungan dengan pola hidup dan perilaku masyarakat yang cenderung mengalami pergeseran misalnya merokok, minum alkohol, makan makanan berlemak, stres, dan kurangnya aktivitas fisik.
diperlukan, selain itu keluarga juga memiliki peranan penting dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan anggota keluarga serta membantu keberhasilan suatu tindakan pengobatan dan meningkatkan rasa nyaman dan sikap positif dari keluarga. Seseorang dengan dukungan yang tinggi akan lebih berhasil menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan yang kurang diberikan dukungan.
5.2.2. Dukungan Informasional Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
66
keluarga. Mungkin saja karena keluarga sendiri kurang memahami manfaat dalam mencari informasi untuk pencegahan sekunder pada anggota keluarga setelah terpasang stent.
Dukungan informasi lainnya yang diberikan keluarga kepada pasien seperti sering menjelaskan bahaya makanan berlemak bagi kesehatan jantung. Keluarga sudah menganjurkan untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. Keluarga juga menganjurkan berolahraga ringan dan teratur, dan mengingatkan untuk tidur tepat waktu atau tidak tidur larut malam. Tetapi Keluarga kurang menjelaskan akan bahaya merokok dan bahaya terpapar asap rokok bagi kesehatan jantung, sehingga beberapa responden masih merokok dan kurang dalam penjagaan diri terhadap asap rokok seperti tertera pada tabel 5.1.3. Didukung oleh penelitian Handayani dkk (2013) mengatakan usaha penghentian merokok baik aktif dan pasif tidak saja dibutuhkan keinginan dan motivasi dari individu yang bersangkutan, namun faktor dukungan keluarga juga berperan sangat penting.
yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi (Kuntjoro, 2002).
5.2.3. Dukungan Penilaian Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Hasil penelitian berkaitan dengan dukungan penilaian dalam pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent di RSUP H. Adam Malik Medan mayoritas pada kategori sedang, sebanyak 29 responden (80.6%) seperti yang tertera pada tabel 5.1.2.1. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa dalam memberi dukungan keluarga sudah membantu pasien untuk tetap berpikir positif terhadap diri sendiri. keluargajuga sering mengingatkan untuk mematuhi anjuran petugas kesehatan dan tanggap terhadap setiap masalah yang dialami pasien. keluarga sering memberi semangatmelakukan diet makanan teratur untuk mencapai berat badan ideal/seimbang. Keluarga juga sering membantu dalam menyeleksi makanan yang tidak sesuai untuk kesehatan dan keluarga sering memberi pujian bila menjalani pengobatan dan kontrol jantung dengan teratur seperti tertera pada tabel 5.1.4.
68
adanya penyakit dan menjalani terapi dalam waktu yang panjang akan menjadi suatu fungsi strategis dalam menurunkan angka kekambuhan.
Hasil penelitiana ini juga didukung oleh penelitian Karlina (2012) yang mengatakan dukungan penilaian cenderung lebih mengarah perhatian orang terdekat terhadap segala upaya yang harus dilakukan pasien untuk melakukan pencegahan sekunder. Bentuk bimbingan tersebut biasanya lebih dominan dilakukan oleh anggota keluarga seperti suami/istri. Tentunya membimbing atau mengarahkan pasien dalam segala tindakannya dalam pencegahan sekunder dibutuhkan pengetahuan yang baik, dan biasanya dapat dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya yang strategis untuk meningkatkan upaya pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner terpasang stent.
5.2.4. Dukungan Instrumental Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Dukungan instrumental adalah bentuk dukungan nyata yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap pencegahan sekunder penyakit jantung koroner setelah terpasang stent. Pemasangan stent bukan jaminan pembuluh darah tidak tersumbat lagi, karena restenosis masih menjadi kekhawatiranjangka panjang sehingga dapat dilakukan IKP ulang dengan pemasangan stent baru (Chung, 2010). Untuk itu perubahan apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga (Setiadi, 2006).
Hasil penelitian didapat keluarga jarang menemani melakukan kontrol jantung ke rumah sakit sebanyak 11 responden(30.6%)seperti tertera pada tabel 5.1.5. Berdasarkan jawaban dari responden, sebahagian besar mengatakan kontrol jantung ke rumah sakit sering datang sendiri untuk pemeriksaan kesehatan tanpa ditemani keluarga. Hasil penelitian Pratiwi (2009) mengatakan dengan menemani responden kontrol jantung, keluarga mengetahui kemajuan dan masa pemulihan dari penyakit jantung koroner yang responden derita. Sehingga untuk meningkatkan dukungan keluarga dapat dilakukan dengan meningkatkan konseling petugas kesehatan kepada keluarga pada saat pasien melakukan pencegahan sekunder melalui pemeriksaan kesehatan. Sehingga informasi penting bagi keluarga dapat didengarkan langsung oleh keluarga.
70
dan memadai bagi penderita, menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan, dan lain-lain (Setiadi, 2008). Menurut Davidson (2003) keluarga berperan penting untuk mengingatkan minum obat rutin secara terus-menerus sebagai penatalaksanaan jangka panjang, dan mengingatkan untuk selalu membawanya ketika anggota keluarga yang menderita PJK akan melakukan perjalanan. Keluarga perlu untuk mendukung responden dalam hal meningatkan minum obat dan penyediaan obat sehingga minum obat dapat dikonsumsi secara rutin dan teratur.
upaya pencegahan sekunder seperti asupan makanan yang sesuai dengan diet yang sehat. Keluarga berperan dalam menyeleksi makanan yang mengandung lemak kurang jenuh serta pengurangan konsumsi makanan yang kaya kolesterol lebih,serta mengurangi makanan yang mengandung banyak garam.
Hasil penelitian didapat mayoritas keluarga tidak pernah memfasilitasi fasilitas yang dibutuhkan untuk berolahraga yaitu sebanyak 25 orang (69.4%) seperti tertera pada tabel 5.1.5. Berdasarkan dari jawaban responden, terlihat bahwa olahraga bukanlah suatu kebutuhan bagi keluarga sehingga tidak ada yang mengingatkan untuk berolahraga. Penelitian yang dilakukan oleh Suryanto dan Suharjana (2004) menunjukkan bahwa perilaku hidup sehat lansia dalam kategori tidak baik. Kemungkinan para lansia dan keluarga belum atau kurang memahami manfaat memiliki kesegaran jasmani yang baik. Padahal berbagai penelitian memperlihatkan bahwa olahraga yang teratur dapat membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak endorphin yang membuat rasa bahagia dalam mengurasi stres, dimana stres menjadi salah satu pemicu untuk terjadinya restenosis.
72
membantu proses pengobatan meskipun mayoritas responden menggunakan asuransi sebagai pembayaran. Namun bukan berarti responden tidak lagi perlu diberikan dukungan nyata tersebut, sebab kebutuhan pribadi pasien seperti kebutuhan biaya perjalanan, biaya makan, dan sebagainya tidaklah menjadi tanggungan dari asuransi tersebut, mengingat banyak responden juga berasal dari luar kota Medan. Sehingga keluarga berupaya memberikan dukungan nyata dalam pencegahan sekunder ini secara maksimal.
5.2.5. Dukungan Emosional Keluarga dalam Pencegahan Sekunder pada Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner Terpasang Stent di RSUP H. Adam Malik Medan
Hasil penelitian ini didapat sebanyak 28 responden (77.8%) menjawab keluarga jarang memahami perasaan mereka dan jarang merasa berharga karena dicintai keluarga seperti tertera pada tabel 5.1.6. Berdasarkan jawaban, responden mengatakan keluarga biasa-biasa saja dalam memahami perasaan setelah beberapa waktu terpasang stent. Niven (2009) berpendapat bahwa jika seorang pasien yang menjalani terapi dalam jangka waktu yang lama akan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi sehingga ia memiliki perasaan kurang dimiliki dan dicintai oleh keluarganya. Oleh sebab itu, dukungan emosional dapat menggantikannya atau menguatkan perasaan-perasaan yang baik.
74
6.1. Kesimpulan
Hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa dukungan keluarga dalam kategori sedang (80.6%). Dilihat dari komponen dukungan keluarga, 3 komponen dalam kategori sedang yaitu: dukungan infomasiona l keluarga (55.6%), dukungan penilaian keluarga (80.6%), dan dukungan emosional (83.3%), sedangkan dukungan instrumental keluarga masih dalam kategori kurang (44.4%). Kurangnya dukungan nyata yang diberikan keluarga akan meningkatkan resiko faktor prediktor berulangnya kembali pasien terkena angina sampai serangan jantungakibat restenosis setelah terpasang stent. Untuk itu dukungan keluarga pada setiap komponen harus lebih dimaksimalkan, terkhusus pada dukungan instrumental. Seseorang dengan dukungan yang tinggi akan lebih berhasil menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan yang kurang diberikan dukungan.
6.2 Saran
6.2.1 Bagi Pendidikan Keperawatan
76
6.2.2 BagiTenaga Kesehatan (Perawat)
Perawat sebagai bagian dari tim kesehatan, menjadi sumber informasi yang tepat bagi keluarga tentang pentingnya dukungan keluarga bagi pasien penyakit jantung koroner terpasang stent yang sedang melakukan kunjungan rawat jalan di rumah sakit, seperti memberikan konseling secara khusus kepada keluarga dan pasien mengenai penyakit jantung koroner secara detail, memberi pendidikan kesehatanmengenai hal yang harus dilakukan, memotivasi keluarga untuk tetap memberikan dukungan kepada pasiensaat berada di rumah, dan membagikan leafleat tentang pencegahan sekunder penyakit jantung koroner, sehingga keluarga dan pasien mendapat semangat untuk terus melakukan pencegahan sekunder menghindari penyumbatan berikutnya.
6.2.3 Bagi Rumah Sakit
a. Membuat program rehabilitasi kardiovaskular rawat jalan yang komprehensif baik sebelum dikeluarkan dari rumah sakit atau selama kunjungan follow-up.Sehingga pasien juga dapat berkomunikasi dalam suatu group bersama dengan pasien penyakit jantung koroner yang telah terpasang stent lainnya. b. Peningkatan sosialisasi dan upaya promosi kesehatan secara rutin
6.2.4 Bagi Penelitian Keperawatan