• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Keadaan Geografis Kecamatan Cepu 1. Letak Geografis

Kecamatan Cepu terletak di Blora, wilayah Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki jarak terjauh dari kota Kabupaten Blora ke timur lebih kurang 38 KM, dengan ketinggian 28 M dari dataran laut dan suhu maksimum 320C, serta minimum 280C.

Kecamatan Cepu dikelilingi oleh beberapa kecamatan lain yang merupakan batas wilayah, yaitu :

- Di sebelah barat keterbatasan dengan kecamatan Kedung Tuban

kabupaten Blora.

- Di sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Pandangan kabupaten

Bojonegoro.

- Sebelah utara berbatasan kecamatan Sambong kabupaten Blora.

- Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Pandangan dan

kecamatan Kedung Tubban.

Berdasarkan data monografis tahun 2003, wilayah kecamatan Cepu terdiri dari 17 kelurahan dan desa, yaitu :

- Desa Gadon

(2)

- Desa Jipang - Desa Kapuan - Desa Getas - Desa Sumberpitu - Desa Nglanjuk - Desa Kentang - Desa Cabean - Desa mereneung - Desa Mulyorejo - Kelurahan Tambakromo - Kelurahan Balun - Kelurahan Cepu - Desa Karangbowo - Desa Ngroto

2. Keadaan Sosial Ekonomi

Sebagai mana telah dikemukakan di atas bahwa keadaan wilayah Cepu dikenal sebagai penghasil gas bumi, namun pada kenyataannya penduduk atau masyarakatnya mayoritas pedangang. Dari jumlah total penduduk 71.205 jiwa, yang berpencaharian sebagai pedangang, mencapai 4.603 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut :

(3)

Tabel I

Jumlah Penduduk Menurut Umur

No Umur Jumlah Prosentase

1 0 – 4 Tahun 6.150 8,50 2 5 – 9 tahun 7.903 10,92 3 10 – 14 tahun 6.503 8,99 4 15 – 20 tahun 9.084 12,57 5 20 – 24 tahun 9.329 12,90 6 25 – 29 tahun 6.071 8,39 7 30 – 34 tahun 5.845 8,08 8 35 – 39 tahun 5.244 7,25 9 40- ke atas 16.170 22,36 Jumlah 72.309 100% Tabel 11

Julah Penduduk Menurut Pekerjaannya

No Umur Jumlah Prosentase

1 Petani 3.813 15,30

2 Nelayan - -

3 Pengusaha 852 3,41

(4)

5 Buruh tani 682 2,73 6 Buruh industri 3.627 14,55 7 Buruh Bangunan 3.744 15,02 8 Buruh Pertambangan 478 1,91 9 Perkebunan Besar/Kecil 71 0,28 10 Pedangan 4603 18,47 11 Pengangkutan 771 3,09

12 Pegawai Negeri Sipil 4.012 16,10

13 ABRI 163 0,65

14 Pensiun (PNS / ABRI) 1.463 5,87

Jumlah 24.919 100%

Dari jumlah penduduk kecamatan Cepu berpencaharian tertinggi adalah pedagang dengan jumlah 4.603 orang (18,47%) dan Pegawai Negeri Sipil mencapai 4,012 orang (16,10%) kemudian pertanian mencapai 3.813 (15,30%). Hal ini menunjukkan bahwa hampir 20% penduduk Cepu sebagai pedagang dan dari taraf ekonomi mapan.

3. Keagamaan

Masyarakat Cepu mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil beragama non Islam seperti kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

(5)

Tabel III

Jumlah Penduduk Menurut Agama

No Agama Jumlah 1 Islam 65.893 2 Katolik 2.188 3 Kristen 2.720 4 Hindu 11 5 Budha 702

6 Penganut aliran kepercayaan Kepada

Tuhan Yang Masa Esa

795

Jumlah 72.309

Kemudian dari tempat dan prasarana untuk ibadahnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel IV

Jumah Tempat Ibadah Menurut Jenisnya

No Nama Tempat Ibadah Jumlah

1 Masjid 46

2 Suratu / Musholla 175

3 Gereja 13

(6)

Dari kedua tabel di atas menunjukkan bahwa masyarakat Cepu mayoritas beraga Islam dan mempunyai tempat ibadat yang terbanyak. Tapi bila dihitung dengan jumlah penduduk yang beraga Islam, jumlah prasarana ibadah tersebut terbilang kurang, karena setiap tempat ibadah harus menampung 290 orang, ini sangatlah tidak mungkin.

4. Pendidikan

Adapun dalam bidang pendidikan masyarakat di kecamatan Cepu mempunyai kesadaran yang baik. Tabel dibawah ini menunjukkan tingkat pendidikan.

Tabel V

Jumlah Lembaga Pendidikan

No Pendidikan Jumlah 1 TK 37 2 SD / Sederajat 48 3 SMP/ Sederajat 9 4 SMA/ Sederajat 14 5 SLB 1 6 Perguruan Tinggi 2 Jumlah 132

(7)

Tabel VI

Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan

No Pendidikan Jumlah 1 Belum Sekolah 4.408 2 Tidak Tamat SD 3.215 3 Tamat SD/ Sederajat 32.118 4 Tamat SLTP/Sederajat 14.786 5 Tamat SLTA/Sederajat 11.825 6 Tamat Akademik/Sederajat 3.079

7 Tamat Perguruan Tinggi 2.878

8 Buta Huruf -

Jumlah 72.309

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa ternyata masyarakat Cepu dari sektor pendidikan sangat baik, dari seluruh jumlah penduduk hanya 3.215 (0,04%) yang tidak tamat Sekolah Dasar.

B. Data-Data Perjudian

1. Macam-Macam Perjudian

Perjudian yang sering dilakukan oleh masyarakat Cepu berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan Sumarno, seorang tokoh agama Mulyorejo (5/7).

(8)

a. Remi, adalah permainan yang menggunakan kartu dan sistem permainannya beragam, yakni ada yang menengerai dengan tujuh kelaper, kwe-kwe, sanggong. Permainan ini biasa dilakukan di sudut pasar, orang punya hajatan, dan tempat yang dianggap teduh.

b. Pla Station, adalah permainan yang menggunakan teknologi canggih,

yakni sistem permainannya dengan mempermainkan gambar-gambar yang seperti di televisi, tinggal memencet tombol yang telah ada. Permainan ini biasa dilakukan usia remaja dan anak-anak. Adapun tempat yang biasa dilakukan di rumah yang ada usaha permainan tersebut dan di sudut pasar Cepu sebelah utara bagian timur.

c. Bilyar, adalah permainan yang dulu merupakan permainan “the have”, namun sekarang setiap orang akan dapat menikmati permainan ini, yakni hanya memasukkan bola yang bernomor dan menghabiskan bola terlebih dahulu. Adapun yang biasa bermain bilyard ini mulai usia anak-anak (8-12 tahun), remaja, dewasa. Sementara tempat yang digunakan ialah rumah orang yang mempunyai usaha tersebut dan di bawah pohon yang rindang tepatnya menurut pengamatan penulis di depan stasiun kereta api.

d. Togel Singapura, adalah permainan ini hanya melihatkan kalangan”the have”, untuk itu dalam hal ini penulis tidak bisa menjelaskan proses permainan ini, karena permianannya menurut Muslim (7/3) dalam Harian Suara Merdeka melalui telepon.

(9)

2. Para Pelaku Judi a. Kondisi Sosial

Pelaku perjudian ini kebanyakan dari para pemuda pengangguran, anak-anak, kuli bangunan, pedangang kecil, sebagian ibu-ibu rumah tangga dan adapun dari aparat pemerintahan juga terlibat dalam perjudian tersebut. b. Tingkat Pendidikan

Dilihat dari tingkat pendidikan para pelaku perjudian ini kebanyakan bependidikan cukup, bahkan ada yang sampai ke perguruan tinggi, ada juga yang tidak berpendidikan sama sekali, ini dikarenakan seringnya berkumpul dan melihat permainan judi akhirnya terampil dan ikut bermain judi.

c. Tingkat Perekonomian

Orang yang berjudi adalah kelompok ekonomi pas-pasan atau menengah ke bawah, ada juga yang dari kelompok ekonomi menengah ke atas melakukan perjudian tersebut mempunyai angan-angan yang tidak sesuai dengan kenyataan dan malas bekerja.

d. Tingkat Umur

Perjudian ini biasa dilakukan oleh orang dewasa akan tetapi menurut pengamatan penulis dan wawancara dengan tokoh masyarakat bahwa kebanyakan yang terlibat dalam perjudian itu berkisar kelompok umur 10-40 tahun.

(10)

3. Motivasi Bermain Judi

Dalam melakukan perjudian para penjudi memiliki motivasi berbeda-beda seperti yang diungkapkan oleh Wiji Kadus Nglanjuk (2/7)

a. Sebagai hiburan

Bermain judi dilakukan sebagai hiburan, biasanya ada di tempat-tempat hiburan atau suasana yang banyak didatangi oleh orang seperti pada dangdutan dan acara sunatan.

b. Pengisi waktu luang

Bermain berjudi dengan motif ini biasa dilakukan oleh mereka pemuda pengangguran, tukang becak, sopir yang menunggu penumpang biasanya mangkal di stasiun dan terminal.

c. Sebagai salah satu mata penaharian

Bermain judi dengan motif ini dilakukan oleh mereka yang berpenghasilan sangat kecil dan hampir-hampir tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari maka mereka mendapatkan pertaruhan dengan memiliki harapan yang sangat besar untuk menang, sehingga dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

4. Dampat negatif perjudian a. Bagi pelaku

Dampak perjudian bagi pelaku berdasarkan wawancara dengan Suryanto camat Cepu (12/9)

(11)

1) Mempengaruhi mental

Kecanduan bermain judi mempengaruhi mental individu menjadi ceroboh, malas dan cepat mengambil resiko tanpa pertimbangan. Seperti halnya yang terjadi dikecamatan Cepu mulai dari anak-anak sampai orang dewasa karena sering bergaul dengan sesama pemain akhirnya mentalnya menjadi rusak, sejak dari perkataannya, maupun perilaku sehari-hari yang sukar dikendalikan.

2) Membuat pelaku malas dalam bekerja

Kebiasaan berjudi akan membuat orang malas untuk melakukan aktivitas yang lain karena selalu mempunyai angan-angan kosong dan selalu digoda oleh harapan-harapan yang tidak menentu sehingga pekerjaan jadi terlantar.

3) Mempengaruhi dalam beribadah.

Mayoritas masyarakat kecamatan Cepu beragama Islam, begitu pula orang yang melakukan judi itupun beragama Islam. Karena pikirannya selalu terpusat hanya pada permainan judi tersebut akhirnya lambat laun mau meninggalkan kewajibannya yaitu shalat.

4) Teledor dalam mengurusi rumah tangga.

Seseorang yang sudah kecanduan bermain judi tidak dapat mengontro; dirinya sehingga segala urusan mulai dari pekerjaan sampai pada anak, istri, dan rumah tangga tidak lagi diperhatikan karena segenap waktunya hanya tercurah pada keasyikan berjudi.

(12)

b. Bagi masyarakat umum

perjudian merupakan penyakit masyarakat yang sulit untuk dihilangkan. Apabila tidak ada usaha pencegahan secara kontinue akan membuat sejak dari keluarga sampai pada masyarakat luas yang mengakibatkan sulitnya dalam perkembangan menjunjung kehidupan masyarakat. Juga terjadi pergeseran norma dengan dampaknya, krisis sopan santun, individualitas, tanggung jawab sosial kurang sehingga mengakibatkan kenakalan dan kejahatan –kejahatan.

Upaya Penanggulangan Perjudian di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora

Perjudian merupakan tindakan atau perbuatan yang dilarang atau dicela oleh hukum, baik itu hukum negara ataupun hukum Islam. Oleh karena itu sebagai warga masyarakat diharapkan turut berpartisipasi dalam mengatasi perjudian yang ada dilingkungan kecamatan Cepu, agar perjudian dapat diberantas atau setidaknya dapat berkurang jumlahnya maka perlu adanya upaya penanggulangan secata optimal.

Sebenarnya payung hukum soal pemberantasan perjudian sudah cukup memadai, Pasal 303 KUHP, selain itu larangan perjudian sudah dimunculkan dalam bentuk Undang No. 7/1974 tentang penertiban perjudian. Undang-Undang memuat beberapa perubahan mengenai sanksi terhadap pelaku perjudian. Belum lagi hukum lokal, seperti di Nagroe Aceh Darussalam, yakni penjudi kelas teri menjalani hukuman cambuk (Suara Merdeka, 3 : 2005).

(13)

Memang bukan rahasia lagi, kalau perjudian bagaikan jamur. Hal ini disebabkan bos judi memperoleh perlindungan dari oknum anggota serta perijinan polisi, untuk memutus beking tersebut perlu ketegasan dari pimpinan. Sikap tegas dan konsisten berbagai pihak itulah yang perlu ditunggu, sebab sesuai tuntutan yang ada semua komponen perlu ikut menanggulangi perjudian.

Adapun penelitian ini akan ditemukan upaya yang sudah dan perlu dilakukan oleh warga masyarakat setempat, yakni :

1. Mengadakan pendekatan terhadap pelaku judi

Upaya ini merupakan langkah unutk mendekati pelaku judi karena melalui pendekatan terhadap pelaku judi lama kelamaan akan merasa sungkan dan akan berhenti dengan sendirinya. Namun tentunya kedatangannya tidak terkesan menggurui atau sebagai musuh akan tetapi betindak sebagai teman. Hal ini pernah dilakukan oleh bapak Saelan (12/7), ia sering mengadakan pendekatan terhadap pelaku judi sedikit demi sedikit ia memberikan masukan/wejangan kepada pelaku judi, yakni ikut berpartisipasi dengan penjudi.

Menurut Saelan menambahkan bahwasannya para pelaku judi seharusnya tidak perlu dijauhi ataupun diasingkan, akan tetapi perlu adanya pendekatan dari berbagai pihak agar mereka merasa ada yang memperhatikan.

(14)

Memberikan pekerjaan yang baik secara sosial dapat mengurangi nafsu-nafsu berspekulasi dan kecenderungan mau untung-untungan dengan menyertakan peraturan karena para penjudi rata-rata dari kalangan rendah dengan tujuan mendapat untung besar dan cepat. Untuk itu aparat terkait perlu peduli terhadap kesejahteraan.

3. Menetapkan undang-undang

Dalam menanggulangi tindakan patologis diharapkan adanya aturan yang berlaku seperti di dalam menanggulangi perjudian, yakni dengan meberlakukan Undang-Undang yang telah ada , dengan ancaman 10 tahun penjara atau denda Rp. 25 juta (lihat suara merdeka, 3/7).

Dengan demikian inti penanggulangan perjudian, yakni membatasi sampai titik minimal, sedangkan mengenai kegerahan bermain judi dapat dicari kebijakan dari yang berwenang.

Gambar

Tabel III
Tabel VI

Referensi

Dokumen terkait

Variabel terikat, adalah “variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas” (Sugiyono, 2008 : 39). Dalam penelitian ini yang menjadi

[r]

Muhammadiyah tanggal 1-7 Agustus 2015. Struktur Sintaksis Media Online Detik.com tentang Pemberitaan Muktamar NU dan Muhammadiyah. Struktur sintaksis pada pemberitaan

Reic (2010) menyatakan bahwa pelatihan team building adalah salah satu intervensi pelatihan untuk meningkatkan kohesivitas tim kerja yang ditandai timbulnya sikX

Menrut Abdul Wahab Khallaf, Ijma’ dengan definisi tersebut tidak mungkin terjadi, Ijma’ akan mungkin terjadi apabila masalahnya diserahkan kepada pemerintah, karena

Kepada orangtua penulis, terima kasih atas bantuan, dukungan, semangat, pengorbanan, doa serta perhatian yang telah diberikan dari awal perkuliahan hingga skripsi yang

masing-masing bagian merupakan salah satu usaha perusahaan dalam mengendalikan biaya, karena apabila ada biaya yang berlebihan maka kepala produksi atau kepala

Hal ini sejalan dengan pendapat Borg and Gall (Nursyaidah, t.t) bahwa ciri kedua dari penelitian dan pengembangan adalah “Mengembangkan produk berdasarkan temuan