• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Penelitian ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Penelitian ISSN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Jurnal Penelitian

ISSN 1412-1948

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH

Vol.15 No. 1, Januari 2016

DEWAN PENYUNTING

Penanggung Jawab : Direktur Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Redaktur : Kepala Pusat Peneltian dan Pengabdian Kepada

Masyarakat

Penyunting : 1. Dr. Ir. Agustamar, M.P. 2. Dr. Ir. Naswir, M.Si. 3. Dr. Ir. Muzakir, M.P. Redaktur Pelaksana : 1. Auzia Asman, S.P., M.P. Staf Administrasi : Yenni, S.E.

Annita, S.P.

ALAMAT REDAKSI

Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Tanjung Pati-Kabupaten Lima Puluh Kota Telp. 0752-7754192 Fax. 0752-7750220

E-mail : [email protected]

JURNAL PENELITIAN LUMBUNG diterbitkan pertama kali Januari 2002 oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Politeknik

(3)

Jurnal Penelitian

ISSN 1412-1948

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH

Vol. 15. No.1, Januari 2016

DAFTAR ISI

Halaman

1. Identifikasi Dan Koleksi Klon Durian Unggul Lokal Kabupaten Lima Puluh

Kota Dan Sekitarnya (Sentot Wahono) …... 1 - 7

2. IbIKK Produksi Jagung Varietas Sukmaraga Dengan Pupuk Bioorganik Politani

Payakumbuh (Nelson Elita, Rinda Yanti, Siska Fitrianti dan Jakfar) ... 8 - 12

3. Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) Untuk meningkatkan Produksi Kacang

Hijau (Phaseolus radiatus L.) (Nofriyeni) ... 13 - 18

4. Pengeringan Benih Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan Metode Oven Pada

Berbagai Suhu dan Waktu Pengeringan (Ritawati, Aswaldi Anwar, Raudha

Thaib) ………... 19 - 25

5. Isolasi Rhizobakteria Tanaman Karet (Havea brasiliensis Muell.Arg) Yang

Berpotensi Sebagai Pupuk Hayati (Musfitra) ... 26 - 32

6. Efektifitas Rhizobacteria Indigenus Untuk Meningkatkan Mutu Fisiologis dan

Patologis Benih Yang Terinfeksi Penyakit Bercak Coklat Oleh Jamur

Helminthosporium maydis (Yulensri, Agustamar, Misfit Putrina, dan

Adrialis) ………...………. 33 - 39

7. Penggunaan Trichompos Kotoran Ayam untuk Meningkatkan Pertumbuhan

dan Produksi Padi Varietas Sijunjung (Muflihayati dan Fri Maulina) ... 40 - 45

8. Pengolahan Otak-Otak Ikan Lele Kaya Serat Dengan Memanfaatkan Wortel

Out Off Grade (Lily Muliani, Bayu Riska Ramadhani, Irma Oktaviani, Nelva

Roza, Mia Sandria Rafles, dan Rahzarni) ...

46 - 51

9. Analisis Pengembangan Agroindustri Makanan Ringan Berbasis Ubi Kayu Di

Kota Payakumbuh (Hidayat Raflis, Nofialdi, dan Ira Wahyuni Syarfi) ……... 52 - 61

10 Analisis Pelaksanaan Program Kemitraan Pemeliharaan Broiler Di Kabupaten

Lima Puluh kota (Sri Nofianti, Asdi Agustar, dan Yonariza) ... 62 - 77

11. Usaha Meningkatkan Pendapatan Kelompok Wanita Tani Dengan

Pengembangan Peternakan Berorientasi Agribisnis Selama 20 Minggu (Nilawati, Prima Silvia Noor, dan Yurni Sari Amir) ...

78 - 86

12. Gambaran Unvolusi Uterus Sapi Retensi Plasenta Diterapi Dulfidiazine 100 mg

dan Trimethoprim 200 mg Berbentuk Bolus (Reni Novia, Ligaya ITA

Tumbelaka, dan Amrozi) ...

87 - 92

13. Perencanaan Strategi Sistem Informasi Pada Politeknik Pertanian Negeri

(4)

KATA PENGANTAR

Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa telah terbit Jurnal Ilmiah LUMBUNG yang

berisikan hasil penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kajian pustaka di bidang

pertanian. Penerbitan Jurnal Ilmiah ini merupakan tuntutan seluruh staf pengajar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh guna memudahkan penyebarluasan hasil penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kajian-kajian pustaka dalam usaha menjawab masalah- masalah pertanian secara nyata di lapangan.

Jurnal Ilmiah ini diterbitkan secara berkala sesuai dengan banyaknya naskah atau tulisan ilmiah yang masuk, minimal dua kali dalam setahun, namun sangat disayangkan artikel ilmiah yang masuk sangat ditentukan oleh periode kenaikan pangkat staf pengajar, sehingga kontinuitas penerbitan jadi agak terganggu. Disamping itu, kesibukan yang begitu tinggi akhir-akhir ini telah menyebabkan keterlambatan penerbitan. Redaksi sangat mengharapkan kiriman artikel ilmiah dan sumbangan fikiran dari pembaca demi kesempurnaan Jurnal Ilmiah ini.

Semoga Jurnal Ilmiah ini menjadi sarana yang baik dalam menghubungkan antara peneliti dengan pengguna dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak.

Tanjung Pati, Januari 2016

(5)

19

Pengeringan Benih Kakao (Theobroma cacao L.)

Dengan Metode Oven Pada Berbagai Suhu dan Waktu Pengeringan Ritawati1], Aswaldi Anwar2], Raudha Thaib2]

ABSTRAK

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan komoditi ekspor non migas yang cukup berarti bagi perekonomian Indonesia. Pengembangan tanaman kakao terkendala benihnya yang tidak tahan disimpan lama. Benih kakao tergolong benih rekalsitran, mempunyai masa hidup yang singkat dan sukar untuk disimpan, karena kadar airnya yang tinggi menyebabkan benih cepat mengalami kemunduran. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa persen penurunan kadar air benih setelah dikeringkan dengan suhu dan waktu sesuai perlakuan dan mengetahui berapa suhu pengeringan yang aman untuk menjaga viabilitas benih tetap tinggi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama yaitu suhu pengeringan yang terdiri dari 4 taraf : 30oC, 35oC, 40oC, 45oC. Faktor kedua adalah lamanya pengeringan yang terdiri dari 4 taraf : 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, 2,5 jam. Total kombinasi perlakuan adalah 16 kombinasi dan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Masing-masing satuan percobaan terdiri dari 5 benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih yang paling banyak untuk semua perlakuan suhu adalah setelah dikeringkan selama 2,5 jam, yaitu 4,58%

pada suhu 30oC, 5,39% pada suhu 35oC, 8,55% pada suhu 40oC, dan 11,9% pada suhu

45oC. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu yang dipakai untuk pengeringan

benih, maka semakin banyak air yang keluar dari benih. Pengeringan dengan suhu

30oC lambat menurunkan kadar air benih, sedangkan pengeringan dengan suhu 40oC

dan 45oC cepat menurunkan kadar air benih, tetapi berakibat buruk terhadap daya

berkecambah benih. Oleh karena itu suhu yang aman untuk pengeringan benih adalah 35oC.

Kata kunci : kakao, benih rekalsitran, kadar air, pengeringan benih, suhu, metode oven PENDAHULUAN

Tanaman kakao merupakan

komoditi ekspor non migas yang cukup berarti bagi perekonomian Indonesia.

Potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi dan distribusi

pendapatan cukup terbuka.

Permasalahan yang dihadapi untuk meningkatkan produksi kakao nasional adalah tanaman kakao yang ada saat ini sebagian besar sudah berumur sekitar 30

tahunan, sehingga produktivitasnya

sudah menurun.

Selain itu penurunan produktivitas kakao juga disebabkan oleh meluasnya serangan hama dan penyakit (Penggerek

Buah Kakao/PBK dan Vascular Streak

Dieback/VSD). Pada perkebunan rakyat

penurunan produktivitas diindikasikan

terjadi karena mutu benih yang

digunakan rendah, banyak petani yang

1) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Andalas

2) Staf Pengajar jurusan Agroekoteknologi Universitas Andalas

(6)

20 menggunakan benih tidak bersertifikat dan teknik budidaya tidak sesuai standar. Untuk mendapatkan benih bermutu dan bersertifikat, para petani harus membeli kepada produsen benih yang telah ditetapkan pemerintah, dimana lokasinya belum merata di seluruh Indonesia. Proses pendistribusian benih menjadi

suatu masalah, karena benih

penanganan lebih lanjut agar benih tidak kehilangan viabilitasnya selama dalam pengiriman.

Benih kakao tergolong benih

rekalsitran tidak memiliki masa

dormansi, sehingga setelah dikeluarkan

dari buahnya benih harus segera

dikecambahkan. Menurut Susanto

(1994), penyimpanan benih kakao yang baik adalah di dalam buahnya sendiri. Namun itupun hanya bertahan sekitar 20 hari saja dan bila untuk dikirim ke tempat yang jauh cara ini kurang menguntungkan, karena butuh tempat yang banyak dan terlalu berat. Hal inilah yang menjadi masalah ketika benih harus dikirim ke suatu tempat yang jauh dari

tempat benih diproduksi. Berbagai

kemungkinan resiko dapat terjadi dalam

proses pendistribusian benih. Oleh

karena itu perlu dipikirkan suatu cara agar benih kakao lebih tahan disimpan

dan tidak kehilangan viabilitasnya

selama pengiriman atau penyimpanan.

Kandungan air benih sangat

menentukan lamanya penyimpanan.

Oleh karena itu untuk benih kakao yang kandungan kadar airnya tinggi pada saat

penen (lebih kurang 40%) perlu

dilakukan penurunan kadar air. Berbagai

penelitian telah dilakukan untuk

menurunkan kadar air benih seperti

dengan menggunakan kipas angin

(Mudarismen, 1998 dalam Syaiful, 2007), memakai bahan desikan (silika gel) (Esrita, 2000). Menggunakan kipas

angin untuk menurunkan kadar air benih tentunya tidak mempunyai standar yang jelas dan dikhawatirkan penyebaran anginnya tidak merata mengenai seluruh benih, sehingga penurunan kadar air benih menjadi tidak seragam. Jika memakai silica gel, tentunya butuh biaya tambahan untuk membeli bahan desikan tersebut. Oleh karena itu metode oven merupakan cara yang baik, mudah, murah dan standarisasinya jelas.

Berapa suhu dan waktu yang diperlukan untuk menurunkan kadar air benih kakao dengan metode oven belum ada informasi yang jelas. Namun ada hasil penelitian terhadap komoditas lain yang mungkin bisa dijadikan acuan. Hasil penelitian Supriyanto (2000), pada pengeringan benih cabe dan tomat menunjukan bahwa pada temperature

pengeringan 35oC dapat menurunkan

kadar air benih dari 23,7% menjadi 10,7% (cabai) dan 43,5% menjadi 10,7%

(tomat) dalam waktu 5,5 jam.

Peningkatan temperature pengeringan

menjadi 40oC mampu menurunkan kadar

air benih cabai dari 23,2% menjadi 9% dalam waktu 2,5 jam, sedangkan pada benih tomat dibutuhkan waktu 3,5 jam untuk menurunkan kadar air dari 46,7% menjadi 10,4%.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa persen penurunan kadar air benih setelah dikeringkan dengan suhu dan waktu sesuai perlakuan dan mengetahui berapa suhu pengeringan yang aman untuk menjaga viabilitas benih tetap tinggi.

BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kakao klon ICS 60, abu gosok, air steril (aquades), pasir sebagai media kecambah. Alat yang digunakan adalah neraca analitik,

(7)

21 oven, pisau, label, alat tulis, kalkulator, amplop kertas, dan seedbed.

Rancangan percobaan yang

digunakan adalah Faktorial dalam

Rancangan Acak Lengkap. Faktor

pertama yaitu suhu pengeringan yang terdiri dari 4 taraf : 30oC, 35oC, 40oC,

45oC. Faktor kedua adalah lamanya

pengeringan yang terdiri dari 4 taraf : 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, 2,5 jam. Total

kombinasi perlakuan adalah 16

kombinasi dan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Masing-masing satuan percobaan terdiri dari 5 benih. Data dianalis dengan uji F, terhadap hasil yang berpengaruh nyata, dilakukan uji lanjut dengan DNMRT pada taraf nyata 5%.

Pelaksanaan penelitian persiapan

Benih dibersihkan dari pulp

(daging buah) dengan abu gosok, testa benih (kulit bagian dalam) dibuang,

dicuci bersih, kemudian dikering

anginkan dengan kipas angin selama 2 jam dan diukur kadar air awalnya. Benih yang telah kering angin, ditimbang berat basahnya untuk mengetahui kadar air

awal sebelum dioven, kemudian

dimasukkan ke dalam kantong kertas (amplop). Satu kantong berisi 5 benih. Pemberian perlakuan

Benih yang telah dimasukkan ke dalam amplop kertas dioven sesuai perlakuan.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap kadar air awal benih (%), kadar air

setelah di oven (%), dan daya

berkecambah benih (%).

HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Air Benih Awal (%)

Tabel 1 memperlihatkan bahwa rata-rata kadar air benih kakao yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sekitar 49,24%. Benih kakao merupakan benih rekalsitran, ketika masak fisiologis kadar airnya tinggi, yakni lebih dari 40 %.

Tabel 1. Kadar air benih sebelum dioven (%) Berat

Basah

Berat

Kering Penurunan Kadar Air Kadar Air Benih

Ulangan 1 9,17 6,22 2,95 47,43

Ulangan 2 10,11 6,82 3,29 48,24

Ulangan 3 8,94 5,88 3,06 52,04

Rata-rata 49,24

Persentase Penurunan Kadar Air Benih Setelah dioven (%)

Hasil sidik ragam (Lampiran a), menunjukan bahwa interaksi faktor suhu dan waktu pengeringan benih kakao berbeda sangat nyata terhadap persentase penurunan kadar air benih setelah

dikeringkan. Pengaruh interaksi kedua

faktor tersebut terhadap persentase

penurunan kadar air benih setelah dikeringkan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 memperlihatkan bahwa penurunan kadar air benih setelah

dikeringkan dengan oven pada suhu 30oC

selama 2,5 jam tidak berbeda nyata

(8)

22 dengan pengeringan selama 2 jam dan 1,5

jam, tetapi berbeda nyata dengan

pengeringan selama 1 jam. Pada

pengeringan dengan suhu 35oC selama 2,5

jam tidak berbeda nyata dengan

pengeringan selama 2 jam, tetapi berbeda nyata dengan pengeringan selama 1 dan

1,5 jam. Suhu pengeringan 40oC

memperlihatkan pengaruh yang berbeda nyata pada semua waktu pengeringan.

Pengeringan dengan suhu 45oC selama

2,5 jam tidak berbeda nyata dengan pengeringan selama 2 jam, tetapi berbeda nyata dengan pengeringan selama 1 dan

1,5 jam. Pada pengeringan selama 1 jam,

suhu 45oC menunjukan pengaruh yang

berbeda nyata dengan suhu 40 oC, 35 oC,

da 30 oC, tetapi pengeringan dengan suhu

40 oC, 35 oC, da 30 oC tidak berbeda nyata

sesamanya. Pengeringan selama 1,5 jam,

suhu 45oC berbeda nyata dengan suhu 40

oC, 35 oC, da 30 oC. Pengeringan dengan

suhu 40oC berbeda nyata dengan suhu 45

oC dan 35 oC, tetapi tidak berbeda nyata

dengan suhu 30 oC. Pengeringan selama

2,5 jam berbeda nyata pada semua suhu pengeringan.

Tabel 2. Persentase penurunan kadar air benih setelah dikeringkan (%)

Perlakuan 1 jam 1,5 jam 2 jam 2,5 jam

30oC 2,73 b 3,77 bc 3,59 c 4,58 d B AB AB A 35oC 2,03 b 3,51 c 5,02 c 5,39 c C B A A 40oC 3,25 b 4,97 b 7,49 b 8,55 b D C B A 45oC 5,63 a 7,65 a 9,72 a 11,9 a C B A A

Angka-angka pada baris yang sama, diikuti oleh huruf besar yang sama dan angka-angka pada lajur yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT 5%

Penurunan kadar air benih

tertinggi terjadi pada pengeringan

dengan suhu 45oC selama 2,5 jam yaitu

11,9%. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu pengeringan yang diberikan, maka semakin banyak air yang keluar dari benih. Menurut Sutopo (2002), waktu yang dipergunakan untuk

pengeringan benih ditentukan oleh

beberapa faktor antara lain, (1) kondisi benih yang akan dikeringkan. Benih dengan kadar air awal yang tinggi dan diperlukan kadar air yang rendah sesudah pengeringan akan memakan waktu pengeringan yang lama, (2) tebalnya timbunan benih, jenis, besar, bentuk dan berat benih, (3), temperatur

udara. Semakin tinggi temperatur makin

cepat pengeringan. Sebaiknya

temperatur untuk pengeringan benih

diatur antara 95o-104oF (35o-40oC),

temperatur yang terlalu tinggi akan merusak benih, (4) kelembaban nisbi udara, makin tinggi kelembaban nisbi makin lama pengeringan berlangsung, (5), aliran udara, angin mengangkut uap air dari benih sehingga mempercepat proses pengeringan. Kalau kecepatan angin besar, maka pengeringan dapat berlangsung lebih cepat.

(9)

23

Daya Berkecambah Benih (%) Hasil sidik ragam (Lampiran b),

menunjukan bahwa

interaksi faktor suhu dan waktu pengeringan benih kakao tidak berbeda nyata terhadap daya berkecambah benih

setelah dikeringkan. Secara tunggal

perlakuan waktu pengeringan juga tidak berbeda nyata, tetapi perlakuan suhu

menunjukan perbedaan yang nyata.

Pengaruh faktor suhu terhadap daya berkecambah benih setelah dikeringkan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 memperlihatkan bahwa

suhu pengeringan benih 30 oC, 35 oC, dan

40 oC tidak berbeda nyata sesamanya,

suhu 40 oC juga tidak berbeda nyata

dengan suhu 45 oC, tetapi suhu 30 oC dan

35 oC berbeda nyata dengan suhu 45 oC

terhadap daya berkecambah benih setelah

dikeringkan. Rata-rata daya berkecambah benih tertinggi terjadi pada pengeringan

dengan suhu 30oC yaitu 100% dan

terendah pada suhu 45oC yaitu 88,33%.

Terjadinya penurunan daya berkecambah benih setelah dikeringkan disebabkan

karena proses pengeringan telah

menyebabkan kerusakan pada benih.

Daya berkecambah yang menurun,

mengindikasikan bahwa benih telah mengalami kemunduran. Menurut Robi (1996), kemunduran benih rekalsitran yang disebabkan oleh penurunan kadar air dapat diindikasikan secara fisiologis dengan menurunnya daya berkecambah benih.

Tabel 3. Daya Berkecambah Benih Kakao setelah dikeringkan (%)

Perlakuan 1 jam 1,5 jam 2 jam 2,5 jam Rata2

30oC 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 a

35oC 100,00 100,00 100,00 93,33 98,33 a

40oC 93,33 93,33 93,33 86,67 91,67 ab

45oC 93,33 93,33 86,67 80,00 88,33 b

Angka-angka pada lajur yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata menurut DNMRT 5%

Penurunan daya berkecambah

dengan lama pengeringan 2,5 jam mulai terlihat pada pemberian perlakuan suhu

35oC, tetapi penurunannya masih sedikit.

Peningkatan suhu dari 30oC menjadi 45oC

pada proses pengeringan menyebabkan semakin turunnya daya berkecambah benih. Pengeringan pada suhu tinggi umumnya menyebabkan kerusakan benih lebih besar dibanding dengan pengeringan

bersuhu rendah. Basharudin (1994)

menunjukan bahwa benih kakao yang

dikeringkan dengan oven 40oC hingga

benih berkadar air 20% (berdasarkan

berat basah) daya berkecambahnya hanya 9,3%. Benih kakao yang dikeringkan

dengan oven bersuhu 38-40oC hingga

kadar air benih sekitar 28%, 25%, dan

21% masing-masing daya

berkecambahnya 58%, 32%, dan 13%. Suhu yang paling cepat menurunkan

kadar air benih adalah 45oC, namun

berdampak buruk terhadap daya

berkecambah benih. Pengeringan benih

dengan suhu 40oC dan 45oC

menyebabkan terjadinya penurunan daya berkecambah, mulai dari pengeringan 1

(10)

24 jam sampai 2,5 jam. Hal ini menunjukkan

bahwa suhu 40oC dan 45oC kurang aman

untuk menurunkan kadar air benih. Jika waktu pengeringan ditambah, tentu akan semakin menurunkan daya berkecambah benih. Berdasarkan uji daya berkecambah suhu yang paling aman untuk pengeringan

benih adalah 30oC, setelah dikeringkan

2,5 jam daya berkecambahnya masih tinggi yaitu 100%, namun persentase penurunan kadar airnya paling sedikit

dibanding suhu 35oC, 40oC, dan 45oC.

Pengeringan benih dengan suhu 35oC,

terjadi sedikit penurunan daya

berkecambah yang dimulai setelah

pengeringan selama 2,5 jam yaitu sekitar 1,77%. Penurunan kadar air benih dengan

suhu 35oC lebih cepat dibanding suhu

30oC oleh karena itu sebaiknya suhu yang

dipakai untuk pengeringan benih dengan

metoda oven adalah 35oC.

Terjadinya penurunan daya

berkecambah benih pada suhu 45oC,

mungkin karena terganggunya kinerja enzim di dalam benih. Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Menurut Tranggono & Setiadji (1989), enzim

memiliki suhu optimum yaitu sekitar 18o

-23oC atau maksimal 40oC karena pada

suhu 45oC enzim akan terdenaturasi

karena merupakan salah satu bentuk protein.

King dan Roberts (1980)

mengemukakan bahwa kerusakan

membran yang terjadi selama pengeringan mengakibatkan pelepasan enzim-enzim hidrolitik selama absorbsi air. Oleh sebab itu pengeringan yang berlebihan dapat mempercepat penurunan viabilitas benih. Menurut Bewley dan Black (1994), penurunan kadar air benih yang cukup tinggi akan menyebabkan terjadinya pengeringan di bagian embrio sehingga

menekan aktivitas ribosom dalam

mensintesis protein. Kadar air yang terlalu

rendah akan mengakibatkan kerusakan komponen sub seluler, yaitu perubahan struktur enzim, struktur protein, dan penurunan integritas membran sel.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : penurunan kadar air benih yang paling banyak untuk semua perlakuan suhu adalah setelah dikeringkan selama 2,5 jam, yaitu 4,58% pada suhu

30oC, 5,39% pada suhu 35oC, 8,55% pada

suhu 40oC, dan 11,9% pada suhu 45oC.

Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu yang dipakai untuk pengeringan benih, maka semakin banyak air yang keluar dari benih. Pengeringan dengan

suhu 30oC lambat menurunkan kadar air

benih, sedangkan pengeringan dengan

suhu 40oC dan 45oC cepat menurunkan

kadar air benih, tetapi berakibat buruk terhadap daya berkecambah benih. Oleh karena itu suhu yang aman untuk

pengeringan benih adalah 35oC.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan penelitian penurunan kadar air benih dengan suhu 35oC.

DAFTAR PUSTAKA

Basharudin, M. 1994. Studi Rekalsitransi Pada Berbagai Fase Perkembangan

Benih Kakao (Theobroma cacao

L.). Skripsi. Faperta IPB. Bogor. 61

hal

Bewley, J.D.and M. Black. 1994. Seeds: Physiologi of Development and

Germination. 3rd Edition. Plenum

Press. London. 445 p.

Esrita. 2000. Pengaruh Kecepatan

Pengeringan dan Tingkat Kadar

(11)

25

Air Terhadap Viabilitas dan

Tingkat Kadar Air Kritis Benih

Kakao (Theobroma cacao L.).

Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

King, M.W and E.H. Robert. 1980. Maintenance of Recalcitrant Seed in Storage in Chin H.F. and E.H Robert (Eds). Tropical Press. SDN. Malaysia.

Robi, A 1996. Pengaruh Kadar Air Awal terhadap Penurunan Vigor dan

Upaya Invigorisasi terhadap

Viabilitas Benih Kakao

(Theobroma cacao L.). Skripsi.

Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Supriyanto. 2000. Studi Pengeringan

Benih Tomat dan Cabai dengan Pengeringan Tipe “Fluidized bed”.

Tesis. Program pascasarjana

Institut Pertanian Bogor. Bogor. Susanto, F.X. 1994. Tanaman Kakao,

Budidaya dan Pengolahan Hasil. Kanisus. Yogyakarta.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Cetakan ke-5. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Syaiful, Syatrianty A., M. Amin Ishak, dan Jusriana. 2007. Viabilitas

Benih Kakao (Theobroma Cacao

L.) Pada Berbagai Tingkat Kadar Air Benih Dan Media Simpan Benih. Jurnal Agrivigor 6(3): 243-251, Agustus 2007; Issn 1412228. Tranggono, B. S. (1989). Petunjuk

Laboratorium Biokimia Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Yogyakarta.

(12)

Gambar

Tabel  1  memperlihatkan  bahwa  rata-rata  kadar  air  benih  kakao  yang  dijadikan  sampel  dalam  penelitian  ini  adalah  sekitar  49,24%
Tabel 2. Persentase penurunan kadar air benih setelah dikeringkan (%)
Tabel 3. Daya Berkecambah Benih Kakao setelah dikeringkan (%)

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu asas penting yang wajib diperhatikan adalah bahwa hakim wajib mengadili semua bagian tuntutan dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut

Suatu foto udara diambil dari ketinggian 6000 ft di atas permukaan rata-rata dengan fokus kamera 6 in (152.4 mm) dan format ukuran 9 in (23 cm).. INTERPRETASI FOTO UDARA.  Definisi

Ketidakbermaknaan korelasi tingkat gejala adiksi internet dengan aktivitas yang dilakukan jika tidak tersedia dana, dapat dijelaskan karena sebagian besar

Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a bersama V Alat/Bahan/Sumber Belajar:.. A Kerja logam,

Semasa pemain daripada pasukan lawan yang dibenarkan berada dalam kawasan itu membuat hantaran percuma, bola tidak boleh dibaling melebihi kawasan gelanggang

Maka pelu dilakukan penelitian mengenai : keanekaragaman jenis, serta kelimpahan teripang dan kondisi lingkungan pendukung kehidupan teripang di pesisir desa

Infrastruktur yang ada pada organisasi/perusahaan, telah mencakup lapisan transport yang merupakan lapisan yang menyediakan kemampuan jaringan/networking dan

Pengaruh ion-ion pengganggu dengan membuat larutan Mn(II), Fe(II), dan Ni(II) 0-0,1 ppm yang masing-masing ditambahkan dengan kompleks ion logam Cr-asam tanat