• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci : Perencanaan Saluran Transmisi, Etap 12.6.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata Kunci : Perencanaan Saluran Transmisi, Etap 12.6."

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERENCANAAN SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) 36 kV PADA PT PAMA 1 KALIMANTAN TENGAH

, , ¹Mahasiswa, Pembimbing I², Pembimbing II³

Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi industri

Universitas Bung Hatta Email : [email protected]

Intisari - Energi listrik sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat diiringi dengan konsumsi energi listrik yang meningkat. Oleh karena itu perlu langkah semaksimal mungkin untuk memenuhi hal tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu merencanakan saluran transmisi dari pembangkit agar energi listrik dapat tersalur secara maksimal. Pada penelitian ini direncanakan pembangunan transmisi dari PLTU Puruk Cahu menuju puncak beban PT PAMA Kalimantan Tengah dengan panjang saluran 100 km. Dari penelitian ini diperoleh dasar peralatan penyaluran melalui jaringan udara transmisi. Saluran udara transmisi tersebut menggunakan tegangan 36 kV terdiri dari 1000 menara transmisi dengan jarak antar gawang rata - rata 100 m. Konduktor yang digunakan adalah AAAC (All Aluminium Alloy conductor) dengan ukuran 240 mm2, andongan yang timbul 12,3 cm. Sedangkan drop tegangan maksimal 1,98% dan losess pada saluran selama satu bulan sebesar 11340,265 W.

Kata Kunci : Perencanaan Saluran Transmisi, Etap 12.6.

Abstract - Electrical energy is very important role in human life. Rapid population growth is accompanied by increased electricity consumption. Therefore it is necessary steps as much as possible to meet it. One of the steps is to plan the transmission line from the plant so that the electrical energy can be channeled optimally. In this study planned the construction of transmission from Puruk Cahu power plant to the peak load of PT PAMA Central Kalimantan with a channel length of 100 km. From this research is obtained the basic of distribution equipment through air transmission network. The air transmission line uses a 36 kV tension comprising 1000 transmission towers with an average goal-spacing of 100 m. The conductor used is AAAC (All Aluminum Alloy conductor) with size 240 mm2, raised 12.3 cm. While the maximum voltage drop of 1.98% and losses in the channel for one month of 11340.265 W.

(2)

2

Keywords: Transmission Channel Planning, Etap 12.6. I. PENDAHULUAN

Pertumbuhan penduduk yang pesat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan energy listrik. Apalagi dengan merebaknya fenomena pemadaman listrik diberbagai daerah di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Tengah khususnya. Hal ini, dengan tegas menunjukkan bahwa adanya ketidak optimalan PT PLN dalam mengelola pasokan ketersediaan listrik bagi pelanggan (masyarakat) di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu PT PAMA yang sejalan dengan program pemerintah daerah Kalimantan Tengah yaitu program “Kalteng Terang” PT Pama Persada Nusantara melalui anak perusahaannya PT Energia Prima Nusantara membuat pembangkit mulut tambang yang memiliki kapasitas 2 x 18 MW yang mana listrik tersebut digunakan untuk kebutuhan internal PAMA Group dan kelebihan listrik tersebut dikirim ke Gardu Induk PLN di Puruk Cahu yang nantinya akan disalurkan ke pelanggan (masyarakat). Untuk memenuhi kebutuhan internal PAMA Group, listrik tersebut akan disalurkan menggunakan jaringan Transmisi 36 kV.

Khusus untuk tegangan 36 kV dalam praktek saat ini disebut sebagai saluran udara tegangan tinggi (SUTT). Setelah tenaga listrik disalurkan, maka sampailah

tegangan listrik ke gardu induk (GI) PAMA, lalu diturunkan tegangannya menggunakan transformator step-down menjadi tegangan menengah yang juga disebut sebagai tegangan distribusi primer. Kecenderungan saat ini menunjukan bahwa tegangan distribusi primer PLN yang berkembang adalah tegangan menengah 20 kV. Setelah tenaga listrik disalurkan melalui jaringan distribusi primer atau jaringan tegangan menengah (JTM), maka tenaga listrik kemudian diturunkan lagi tegangannya dalam gardu-gardu distribusi menjadi tegangan rendah, yaitu tegangan 380/220 volt, lalu disalurkan melalui jaringan tegangan rendah (JTR) ke rumah-rumah pelanggan (konsumen) PLN. Pelanggan-pelanggan dengan daya tersambung besar tidak dapat dihubungkan pada jaringan tegangan rendah, melainkan dihubungkan langsung pada jaringan tegangan menengah, bahkan ada pula pelanggan yang terhubung pada jaringan transmisi, tergantung dari besarnya daya tersambung. Setelah melalui jaringan tegangan menengah, jaringan tegangan rendah dan sambungan rumah (SR), maka tenaga listrik selanjutnya melalui alat pembatas daya dan kWh meter II. TINJAUAN PUSTAKA

A.Tenaga listrik dibangkitkan dipusat – pusat listrik ( power station) seperti

(3)

3 PLTA, PLTU, PLTD, PLTP dan PLTG kemudian disalurkan melalui saluran transmisi setelah terlebih dahulu dinaikkan tegangannya oleh transformator penaik tegangan yang berada di pusat listrik. Saluran transmisi tegangan tinggi kebanyakan mempunyai tegangan 30 kV, 66 kV, 150 kV dan 500 kV. Khusus untuk tegangan 500 kV dalam prakteknya sering disebut tegangan ekstra tinggi. Setelah melalui saluran transmisi maka tenaga listrik sampai ke gardu induk ( sub station ) untuk diturunkan menjadi tegangan menengah atau tegangan distribusi primer yang bertegangan 6 kV, 12 kV atau 20 kV. Yang terakhir di sebutkan adalah yang cenderung di gunakan di Indonesia. Jaringan setelah keluar dari gardu induk biasa di sebut jaringan distribusi, sedangkan jaringan antara pusat listrik dan gardu induk biasa disebut jaringan transmisi, baik saluran transmisi atau pun saluran distribusi ada yang berupa saluran udara dan ada yang berupa kabel tanah.

Setelah melalui jaringan distribusi primer maka kemudian tenaga listrik diturunkan tegangannya dalam gardu – gardu distribusi menjadi tegangan rendah atau jaringan distribusi sekuder dengan tegangan 380 V atau 220 V. Melalui jaringan tegangan rendah untuk

selanjutnya disalurkan ke rumah–rumah pelanggan (konsumen) melalui sambungan rumah hingga ke alat pengukur dan pembatas di rumah– rumah pelanggan atau biasa di sebut kWh Meter.

B.Konsep Perencanaan Jaringan Transmisi

Perencanaan saluran udara tegangan tinggi terdiri dari :

a. Survey, pengukuran dan pemetaan rute dari saluran. b. Pengujian tanah tempat

menara-menara, dan berdasarkan keadaan tanah setempat direncanakan pondasi menara. c. Perencanaan dari menara beserta

traversnya.

d. Penentuan dari jarak-jarak antara kawat-kawat.

e. Pemilihan dari kawat (konduktor) yang ekonomis. f. Penentuan jumlah isolator. g. Perhitungan tegangan tarik dan

andongan (sag and tensioncalculation) dari kawat yang dibentang.

Pusat-pusat listrik tenaga itu umumnya terletak jauh dari tempat-tempat dimana tenaga listrik itu digunakan atau pusat-pusat beban (load centers), karena itu tenaga listrik yang dibangkitkan harus disalurkan melalui kawat-kawat atau

(4)

4 saluran transmisi kemudian dengan menggunakan transformator daya tegangan yang tadinya rendah yaitu 6 kV sampai 24 kV ditingkatkan ke tegangan yang lebih tinggi hingga 30 kV sampai 500 kV (bahkan di negara maju sampai 1000 kV).

C.Komponen Utama Jaringan Transmisi

a. Menara transmisi.

Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran transmisi yang dapat berupa menara baja, tiang baja, tiang beton bertulang dan tiang kayu. Tiang baja, beton atau kayu umumnya digunakan pada saluran-saluran dengan tegangan kerja relatif tinggi dan extra tinggi digunakan menara baja. Menara baja dibagi sesuai dengan fungsinya, yaitu : menara dukung, menara sudut, menara ujung, menara percabangan dan menara transposisi.

Konstruksi tower besi baja merupakan jenis konstruksi saluran transmisi tegangan tinggi (SUTT) ataupun saluran transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang paling banyak digunakan di jaringan PLN, karena mudah dirakit terutama untuk pemasangan di daerah pegunungan dan jauh dari jalan raya, harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan penggunaan saluran

bawah tanah serta pemeliharaannya yang mudah.

Suatu menara atau tower listrik harus kuat terhadap beban yang bekerja padanya, antara lain yaitu:

- Gaya berat tower dan kawat penghantar (gaya tekan).

- Gaya tarik akibat rentangan kawat.

- Gaya angin akibat terpaan angin pada kawat maupun badan tower.

Menurut bentuk konstruksinya, jenis-jenis menara / tower listrik dibagi atas 4 jenis, yaitu:

1. Lattice tower

2. Tubular steel pole

3. Concrete pole

4. Wooden pole

Gambar 2.1 Jenis-jenis menara jaringan distribusi

(5)

5 (a)

(b)

Gambar 2.2 (a) Lattice tower, (b) Tubular steel pole

Tower harus kuat terhadap beban yang bekerja padanya yaitu:

 Gaya berat tower dan kawat penghantar (gaya tekan)

 Gaya tarik akibat rentangan kawat  Gaya angin akibat terpaan angin pada kawat maupun badan tower

Menurut fungsinya menara jaringan distribusi di klasifikasikan sebagai berikut:

1. Dead end tower, yaitu tiang akhir yang berlokasi di dekat Gardu induk, tower ini hampir sepenuhnya menanggung gaya tarik.

2. Section tower, yaitu tiang penyekat antara sejumlah tower penyangga dengan sejumlah tower penyangga lainnya karena alasan kemudahan saat pembangunan (penarikan kawat), umumnya mempunyai sudut belokan yang kecil.

3. Suspension tower, yaitu tower penyangga, tower ini hampir sepenuhnya menanggung gaya berat, umumnya tidak mempunyai sudut belokan.

4. Tension tower, yaitu tower penegang, tower ini menanggung gaya tarik yang lebih besar dari pada gaya berat, umumnya mempunyai sudut belokan.

5. Transposision tower, yaitu tower tension yang digunakan sebagai tempat melakukan perubahan posisi kawat fasa guna memperbaiki impendansi transmisi. 6. Gantry tower, yaitu tower berbentuk portal digunakan pada persilangan antara dua Saluran transmisi. Tiang ini dibangun di bawah Saluran transmisi existing. 7. Combined tower, yaitu tower yang

(6)

6 transmisi yang berbeda tegangan operasinya.

Menurut susunan/konfigurasi kawat fasa tower dikelompokkan atas:

 Jenis delta digunakan pada konfigurasi

horizontal/mendatar.

 Jenis piramida digunakan pada konfigurasi vertikal/tegak  Jenis zig-zag yaitu kawat fasa

tidak berada pada satu sisi lengan tower

b. Komponen-komponen Menara / Tower listrik.

1. Pondasi, adalah konstruksi beton bertulang untuk mengikat kakitower (stub) dengan bumi. Jenis pondasi tower beragam menurut kondisi tanah tempat tapak tower berada dan beban yang akan ditanggung oleh tower. Pondasi tower yang menanggung beban tarik dirancang lebih kuat/besar dari pada tower tipe suspension.

2. Stub, bagian paling bawah dari kaki tower, dipasang bersamaan dengan pemasangan pondasi dan diikat menyatu dengan pondasi. Pemasangan stub paling

menentukan mutu pemasangan tower, karena harus memenuhi syarat yaitu jarak antar stub harus benar, sudut kemiringan stub harus sesuai dengan kemiringan kaki tower, dan level titik hubung stub dengan kaki tower tidak boleh beda 2 mm (milimeter)

3. Leg, adalah kaki tower yang terhubung antara stub dengan body tower. Pada tanah yang tidak rata perlu dilakukan penambahan atau pengurangan tinggi leg. Sedangkan body harus tetap sama tinggi permukaannya. Pengurangan leg ditandai: -1 ; -2; -3 dan Penambahan leg ditandai: +1; +2; +3.

4. Common Body, badan tower bagian bawah yang terhubung antara leg dengan badan tower bagian atas (super structure). Kebutuhan tinggi tower dapat dilakukan dengan pengaturan tinggi common body dengan cara penambahan atau pengurangan. Super structure, badan tower bagian atas yang terhubung dengan common body dan cross arm kawat fasa maupun kawat petir. Pada tower jenis delta tidak dikenal istilah super structure namun digantikan dengan “K” frame dan bridge.

(7)

7 5. Cross arm, bagian tower yang

berfungsi untuk tempat menggantungkan atau mengaitkan isolator kawat fasa serta clamp kawat petir. Pada umumnya cross arm berbentuk segitiga kecuali tower jenis tension yang mempunyai sudut belokan besar berbentuk segi empat.

6. “K” frame, bagian tower yang terhubung antara common body dengan bridge maupun cross arm. “K” frame terdiri atas sisi kiri dan kanan yang simetri. “K” frame tidak dikenal di tower jenis pyramid.

7. Bridge, penghubung antara cross arm kiri dan cross arm tengah. Pada tengah-tengah bridge terdapat kawat penghantar fasa tengah. Bridge tidak dikenal di tower jenis pyramida.

8. Rambu tanda bahaya, berfungsi untuk memberi peringatan bahwa instalasi SUTT/SUTET mempunyai resiko bahaya. Rambu ini bergambar petir dan tulisan

“AWAS BERBAHAYA

TEGANGAN TINGGI”. Rambu ini dipasang di kaki tower lebih kurang 5 meter diatas tanah sebanyak dua buah, dipasang disisi yang mengahadap tower nomor

kecil dan sisi yang menghadap nomor besar.

9. Rambu identifikasi tower dan penghantar / jalur, berfungsi untuk memberitahukan identitas tower seperti: Nomor tower, Urutan fasa, Penghantar / Jalur dan Nilai tahanan pentanahan kaki tower.

10. Anti Climbing Device (ACD),

berfungsi untuk menghalangi orang yang tidak berkepentingan untuk naik ke tower. ACD dibuat runcing, berjarak 10 cm dengan yang lainnya dan dipasang di setiap kaki tower dibawah Rambu tanda bahaya.

11. Step bolt, baut panjang yang dipasang dari atas ACD ke sepanjang badan tower hingga super structure dan arm kawat petir. Berfungsi untuk pijakan petugas sewaktu naik maupun turun dari tower.

12. Halaman tower, daerRencana

pemerintah untuk meningkatan kesejahteraan rakyat melalui industrialisasi tampaknya merupakan suatu rencana yang patut didukung oleh semua pihak.

(8)

8 III. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini secara rinci peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan sebagai berikut :

Sumber bahan Penelitian terbagi menjadi dua yaitu :

 Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama).

 Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah

ada.

 Software Etap adalah suatu software yang mendukung sistem tenaga listrik. software ini mampu bekerja dalam keadaan offline maupun online. offline untuk melakukan simulasi tenaga listrik, online untuk pengelolaan data real-time atau digunakan untuk mengendalikan sistem secara real-time. Fitur didalamnya pun beragam, antara lain fitur yang digunakan untuk menganalisa aliran daya pada pembangkitan tenaga listrik, sistem transmisi maupun sistem distribusi.

Alur Penelitian

Alur penelitian yang dilakukan adalah :

a. Identifikasi masalah

Untuk lebih awal perlu dilakukan identifikasi masalah apa yang timbul sehingga penulis mengangkat judul studi komparatif secara teknis perencanaan jaringan transmisi 36 kV.

b. Studi literatur, yaitu cara menelaah, menggali, serta mengkaji teorema-teorema yang mendukung dalam pemecahan masalah yang diteliti. Teorema-teorema tersebut didapat baik dari jurnal ilmiah, hasil penelitian sebelumnya, maupun dari buku-buku referensi yang mendukung penelitian ini. Selain itu, studi literatur dilakukan untuk mendapatkan data-data yang diinginkan.

c. Observasi, yaitu mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk penelitian yang didapatkan dari lapangan. Data-data tersebut didapat dari hasil survey yang dilakukan di PT. PAMA kalimantan tengah.

d. Diskusi, yaitu melakukan konsultasi dan bimbingan dengan dosen di Jurusan Teknik Elektro, Universitas Bung Hatta dan juga pembimbing di PT. PAMA, dan pihak-pihak lain yang dapat

(9)

9 membantu terlaksananya penelitian ini.

e. Pengolahan data, Semua data-data lapangan dan data yang dikumpulkan diolah dan dilakukan analisa untuk studi kasus teknis pada perencanaan jaringan transmisi. Untuk metoda pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik penelitian kuantitatif dari data yang didapat. Serta dengan mengumpulkan semua data yang dibutuhkan langsung dari sumbernya.

Langkah Penelitian

Langkah-langkah yang sistematis dalam penelitian harus diperhatikan. Hal tersebut berguna untuk memberikan arahan untuk mempermudah pemahaman tujuan yang ingin dicapai dalam proses penelitian. Langkah-langkah penelitian tersebut digambarkan pada diagram alir penelitian dibawah ini :

Gambar 3.1. Flowchart Metode Penelitian Lakukan Analisis Dan Pembahasan Hasil Pembuatan Laporan Selesai Mulai

Pengambilan Data Di Lapangan

Verifikasi

Data Lengkap

Melakukan Analisa Secara Manual

Melakukan Simulasi menggunakan Software ETAP

(10)

10 IV. DESKRIPSI SISTEM DAN ANALISIS

4.1 Deskripsi Penelitian

Energi listrik sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang pesat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan energi listrik. Oleh karena itu PT Energia Prima Nusantara membuat pembangkit mulut tambang yang memiliki kapasitas 2 x 18 MW yang mana listrik tersebut digunakan untuk kebutuhan internal PAMA Group. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu dengan mendistribusukan listrik ke berbagai Daerah secara merata. Salah satu bagian yang mengambil peranan penting dalam pendistribusian tersebut adalah pembuatan saluran transmisinya. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan penyaluran energi listrik yaitu melalui saluran transmisi (SUTT) yang direncanakan akan menyalurkan tegangan sebesar 36 kV sepanjang ± 100 km.

Sebelum pembangunan saluran transmisi diatas dilakukan, tentu saja harus memperhatikan hal -hal yang mempengaruhi perancangan peralatan tegangan tinggi (transmisi) yang nantinya digunakan dalam proses penyaluran energi listrik misalnya kondisi tanah di lokasi titik-titik tower, jarak antar kawat-kawat (konduktor), pemilihan kawat (konduktor)

yang ekonomis, jumlah isolator, perhitungan tegangan tarik andongan dari kawat yang dibentang, pentanahan kaki tower transmisi dan penentuan kawat pelindung petir. Sehingga hasil yang diharapkan dari perencanaan peralatan tegangan tinggi adalah dapat menghasilkan proses penyaluran energi listrik yang efektif dan efisien.

4.2. Pengumpulan Data

Berikut ini data yang didapatkan setelah melakukan penelitian di PT PAMA dan diperoleh data sebagai berikut:

4.2.1. Data-data Sistem a. Data Generator

PLTU memiliki 2 unit generator sebagai pembangkit dengan kapasitas 18 MW.

Name plate generator :

Output yang jelas : 21176 kVA Nilai daya : 18000 kW Tegangan terukur : 10,5 kV Arus terukur saat ini : 1164.4 A Faktor daya : 0,85 Nilai frekuensi : 50 Hz Kecepatan terukur : 3000 r / menit

Tempretur udara udara : 40 ℃ Ketinggian : <1000 m Arus eksitasi tanpa beban : 146.5 A Tegangan eksitasi tanpa beban : 42V

(11)

11 Nilai arus eksitasi : 320,4 A

Nilai tegangan eksitasi : 133,6 V Rasio sirkuit pendek : 0,71

b. Data Transformator

Perencanaan jaringan transmisi menggunakan 2 jenis transformator yaitu transformator step up dan step down.

 Nampe plate transformator step up.

Merk : Schneider Tahun : 2017 Kapasitas : 25 MVA Frekuensi : 50 Hz

Sistem pendingin : ONAN Vektor group :

Rating tegangan: 10./150kV Pentanahan :  Nampe plate transformator

step down.

Merk : Schnenider Tahun : 2017 Kapasitas : 25 MVA Frekuensi : 50 Hz

Sistem pendingin : ONAN Vektor group :

Rating tegangan: 150/36 kV Pentanahan :

c. Single Line Diagram

Gambar 4.1 Single Line Diagram d. Data Denah Dan Lokasi

Perencanaan Jaringan Transmisi

Gambar 4.2 Denah dan lokasi Perencanaan Jaringan Transmisi 36 kV

Dalam bab ini akan dibahas tentang hal-hal yang perlu direncanakan pada saluran transmisi PT PAMA dengan tegangan kerja yang digunakan sebesar 36

(12)

12 kV dengan jarak diukur berdasarkan peta total jarak tempuh transmisi adalah 100 km.

4.3. Perhitungan dan analisa A. Perencanaan Menara

Jenis menara yang digunakan pada perencanaan ini adalah jenis menara Steel Pole. Tubular Steel Pole merupakan tower listrik yang berbentuk pipa-pipa dengan diameter berbeda yang saling disambung.

Gambar 4.3 Menara Transmisi Steel Pole Single Circuit

Gambar 4.4 Menara Transmisi Steel Pole Double Circuit

B. Jumlah Menara

Untuk menentukan berapa jumlah menara yang akan digunakan dalam perencanaan jaringan transmisi menggunakan perhitungan berdasarkan persamaan 3-7 :

Diketahui total jarak tempuh saluran transmisi adalah 100 km dan tegangan kerja yang digunakan adalah 36 kV, jarak antar gawang yang digunakan rata-rata 100 m.

Jadi, jumlah menara yang dibutuhkan adalah :

=

= 1000 menara

C. Konduktor

Untuk mengetahui ukuran dan tipe konduktor transmisi terlebih dahulu

(13)

13 harus mengetahui berapa besar arus yang mengalir. Berdasarkan persamaan 3-8 maka menggunakan rumus :

Daya yang dialirkan yang digunakan 25 MVA × 0,8 % = 20.000 kVA

Rating arus = √

Arus yang mengalir pada saluran transmisi sebesar 400 A maka dipilih konduktor AAAC 240 mm.

D. Isolator

Isolator yang digunakan adalah jenis String Set 70 kN. Dengan 4 piringan isolator. Satu piringan mempunyai kekuatan tegangan 20 kV.

Gambar 4.5 Isolator String set 70 kN

Diameter pin isolator 16 mm, jarak rambat minimum 320 mm,

tegangan impulse kering nya 100 kV.

E. Andongan  Simetris

Andongan simetris adalah andongan yang jarak dan tinggi menara transmisi sama.

Berdasarkan persamaan 3-9 maka perhitungan rumus andongan simetris adalah : Panjang konduktor = 100,123 m  Tidak Simetris

Andongan tidak simetris adalah andongan yang tinggi menara transmisi berbeda.

Berdasarkan persamaan 3-10 maka perhitungan rumus andongan tidak simetris adalah :

H = 5 m (beda tinggi) ( ) ( )

(14)

14 Panjang konduktor = 110,32 m

 Perhitungan andongan akibat pengaruh tekanan angin

Berdasarkan persamaan 3-11 dan 3-12 maka perhitungan rumus andongan akibat pengaruh tekanan angin adalah :

( )

Berat total kawat

√ Andongan  Perhitungan andonan akibat

pengaruh temperature Berdasarkan persamaan 3-13, 3-14, 3-15, 3-16 maka perhitungan rumus andongan akibat pengaruh temperature adalah Suhu = ℃ ( ) ( ) ( ) ( ) Andongan F. Analisa Drop Voltage dan Losses

Menggunakan Load Flow Analysis pada Etap 12.6

Perhitungan drop voltage dan losses dalam perencanaan jaringan transmisi ini adalah melakukan perhitungan losses dan drop tegangan pada masing masing beban yang ada pada PT PAMA. Adapun bus-bus yang dihitung :

(15)

15 1. Gardu Mess Pama Asmi

2. CPP Asmin

3. Gardu Port Paring Lahung 4. GI Desa Buhut

5. GI Bus Pama Top Buhut 6. GI Workshop Top

Gambar 4.6 Hasil Runing Losses Single Line Diagram Sistem 36 kV

PT PAMA Menggunakan Etap 12.6

Perhitungan losses dan drop tegangan dituangkan dalam bentuk tabel report dari Load Flow Report Manager pada Etap 12.6 untuk mempermudah menentukan nilai dari losses dan drop tegangan. Hasil Runing Load Flow Report Manager (Losses) Analysis Etap 12.6 :

Tabel 4.3Analysis Load Flow

 Analisa drop voltage dan losses pada beban A Beban A1  Tahanan konduktor stranded ( )

(16)

16 018315 , 0 2 03663 , 0 2    n r k 26498 , 0 19 944 , 4 ) 018315 , 0 1 ( ) 1 (  1     N r k R

 Losses pada beban A1 Berdasarkan persamaan 3-8 dan 3-18 maka perhitungan losses adalah : A kW MW I 23,31029 938 , 52 1234 85 , 0 . 36 . 3 234 , 1  26498 , 0 . 31029 , 23 2  P 26498 , 0 . 36962 , 543  P W P143,982

 Drop tegangan pada beban A1

Berdasarkan persamaan 3-17 maka perhitungan drop tegangan adalah : ) 52 , 0 . 161 , 0 85 , 0 . 07 , 0 .( 7 , 2 . 31029 , 23 . 73 , 1   Vd ) 08372 , 0 0595 , 0 ( 88237 , 108   Vd 14322 , 0 . 88237 , 108  Vd V Vd 15,594133 % 04 , 0 100 36 01559 , 0 %Vdx  Beban A2  Tahanan konduktor stranded ( ) 018315 , 0 2 03663 , 0 2    n r k 21594 , 0 19 029 , 4 ) 018315 , 0 1 ( ) 1 (  1     N r k R

 Losses pada beban A2 Berdasarkan persamaan 3-8 dan 3-18 maka perhitungan losses adalah : A kW MW I 28,391704 938 , 52 1503 85 , 0 . 36 . 3 503 , 1    21594 , 0 . 391704 , 28 2  P W P174,067

 Drop tegangan pada beban A2

(17)

17 Berdasarkan persamaan

3-17 maka perhitungan drop tegangan adalah : ) 52 , 0 . 161 , 0 85 , 0 . 07 , 0 .( 2 , 2 . 391704 , 28 . 73 , 1   Vd ) 08372 , 0 0595 , 0 ( 0588 , 108   Vd 1496 , 0 . 0588 , 108  Vd V Vd 16,1656 % 04 , 0 100 36 0161656 , 0 %Vdx

 Analisa drop voltage dan losses pada beban B Beban B1  Tahanan konduktor stranded ( ) 018315 , 0 2 03663 , 0 2    n r k 47755 , 6 19 8599 , 120 ) 018315 , 0 1 ( ) 1 (  1     N r k R

 Losses pada beban B1 Berdasarkan persamaan 3-8 dan 3-18 maka perhitungan losses adalah : A kW MW I 4,42027 938 , 52 234 85 , 0 . 36 . 3 234 , 0    47755 , 6 . 42027 , 4 2  P W P126,563

 Drop tegangan pada beban B1

Berdasarkan persamaan 3-17 maka perhitungan drop tegangan adalah : ) 52 , 0 . 161 , 0 85 , 0 . 07 , 0 .( 66 . 42027 , 4 . 73 , 1   Vd 1496 , 0 . 7647 , 3241  Vd V Vd 75,5041 % 2 , 0 100 36 0755 , 0 %Vdx  Beban B2  Tahanan konduktor stranded ( )

(18)

18 018315 , 0 2 03663 , 0 2    n r k 79054 , 5 19 0414 , 108 ) 018315 , 0 1 ( ) 1 (  1     N r k R

 Losses pada beban B2 Berdasarkan persamaan 3-8 dan 3-18 maka perhitungan losses adalah : A kW MW I 17,66217 938 , 52 935 85 , 0 . 36 . 3 935 , 0  79054 , 5 . 66217 , 17 2  P W P1806,372

 Drop tegangan pada beban B2

Berdasarkan persamaan 3-17 maka perhitungan drop tegangan adalah : ) 52 , 0 . 161 , 0 85 , 0 . 07 , 0 .( 59 . 66217 , 17 . 73 , 1   Vd 1496 , 0 . 777 , 1802  Vd V Vd 269,696 % 7 , 0 100 36 269 , 0 %Vdx  Beban B3  Tahanan konduktor stranded ( ) 018315 , 0 2 03663 , 0 2    n r k 79054 , 5 19 0414 , 108 ) 018315 , 0 1 ( ) 1 (  1     N r k R

 Losses pada beban B3 Berdasarkan persamaan 3-8 dan 3-18 maka perhitungan losses adalah : A kW MW I 41,55805 938 , 52 2200 85 , 0 . 36 . 3 2 , 2    79054 , 5 . 55805 , 41 2  P W P10000,6767

 Drop tegangan pada beban B3

(19)

19 Berdasarkan persamaan

3-17 maka perhitungan drop tegangan adalah : ) 52 , 0 . 161 , 0 85 , 0 . 07 , 0 .( 59 . 55805 , 41 . 73 , 1   Vd 1496 , 0 . 8301 , 4241  Vd V Vd 634,5778 % 76 , 1 100 36 634 , 0 %Vdx

 Analisa drop voltage dan losses pada beban C Beban C  Tahanan konduktor stranded ( ) 018315 , 0 2 03663 , 0 2    n r k 47755 , 6 19 8599 , 120 ) 018315 , 0 1 ( ) 1 (  1     N r k R

 Losses pada beban B1

Berdasarkan persamaan 3-8 dan 3-18 maka perhitungan losses adalah : A kW MW I 41,8414 938 , 52 2215 85 , 0 . 36 . 3 215 , 2    47755 , 6 . 8414 , 41 2  P W P11340,265

 Drop tegangan pada beban B1

Berdasarkan persamaan 3-17 maka perhitungan drop tegangan adalah : ) 52 , 0 . 161 , 0 85 , 0 . 07 , 0 .( 66 . 8414 , 41 . 73 , 1   Vd 1496 , 0 . 4777  Vd V Vd 714,7067 % 98 , 1 100 36 7147 , 0 %VdxV. Kesimpulan 5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian mengenai perencanaan saluran udara tegangan tinggi pada PT PAMA dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) PT PAMA dengan sistem penyaluran listrik dengan tegangan 36 kV melalui kawat hantaran udara direntang diatas tiang konstruksi.

(20)

20 2. Konstruksi tiang yang dipakai

adalah jenis tiang steel pole panjang tiang rata-rata 17 m dan jarak antar tiang rata-rata 100 m. 3. Jenis kawat penghantar yang

digunakan adalah kawat konduktor jenis AAAC dengan penampang 240 mm2, dengan kuat hantar Arus 510 Ampere.

4. Andongan yang timbul pada tiang sama tinggi 12,3 cm, andongan yang timbul pada tiang beda tinggi 1032 cm, andongan yang timbul akibat pengaruh tekanan angin 72 cm.

5. Drop tegangan maksimal 1,98% dan losess pada saluran sebesar 11340,265 W.

5.2 Saran

Mengingat terbatasnya waktu dan biaya yang diperlukan dalam penelitian ini penulis menyarankan kepada pembaca yang berminat dalam hal ini :

1. Dalam perencanaan ini dapat dilanjutkan untuk merencanakan pembangunan trafo distribusi, jaringan tegangan rendah yang akan diperlukan untuk melayani pada calon konsumen dalam jangka waktu jangka panjang ( ± 30 tahun)

2. Karena masalah pemadaman atau gangguan listrik umumnya terjadi pada jaringan, maka diharapkan

saat setiap pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan SOP dan waktu yang telah dijadwalkan dengan berkodinasi kepada pengawas lapangan guna untuk menghindari lamanya pemadaman dan kecelakaan kerja.

Daftar Pustaka

1. Arfita Yuana Dewi Rachman, Fauzan (2012), jurnal skripsi : “Perencanaan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 20 kV”.

2. Widen Lukmantono, Ir.Syariffuddin Mahmudsyah, M.Eng (2006), jurnal skripsi: “Studi Perencanaan Saluran Transmisi 150 Kv Bambe Incomer”. 3. Fery Fivaldi, Ir. Yani Ridal, MT, Ir. Cahayahati, M.T, (2014) jurnal skripsi : “Perencanaan Saluran Udara Transmisi Tegangan Tinggi Aplikasi Tanjung Jabung - Sabak Jambi”.

4. Hari Anna Lastya, (2016), jurnal skripsi : “Analisa Pengaruh Eksternal Dan Internal Terhadap Andongan Dan Tegangan Tarik Pada Saluran Transmisi 150 Kv”.

5. DR. A. Arismunandar, DR. S. Kuwahara, (2004), buku : “Buku Pegangan Teknik Tenaga Listrik Jilid II”. 6.http://www.kabelindo.co.id/katalog/Bare &Twisted.pdf

(21)

21 Biodata penulis Nama lengkap AL QADRI Lahir di Bukittinggi, Tempat tinggal di Alai Barat No 08 Padang

Menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN 42 korong gadang pada tahun 2000. sampai 2006, kemudian melanjutkan ke Sekolah menengah pertama di SMP 28 Padang pada tahun 2006 sampai 2009, kemudian melanjutkan ke jenjang sekolah menengah kejuruan di SMKN 8 Padang pada tahun 2009 sampai 2012, kemudian melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi di Universitas Bung Hatta Padang Pada tahu 2013 sampai 2017 dengan jurusan Teknik Elektro.

Gambar

Gambar 2.1 Jenis-jenis menara jaringan  distribusi
Gambar 2.2  (a) Lattice tower, (b)  Tubular steel pole
Gambar 3.1. Flowchart Metode Penelitian Lakukan Analisis Dan Pembahasan Hasil Pembuatan Laporan Selesai Mulai
Gambar 4.2 Denah dan lokasi  Perencanaan Jaringan Transmisi 36 kV
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tugas Akhir dengan judul “ANALISIS TAHANAN PENTANAHAN TOWER SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) 150 KV TRANSMISI PALUR - SRAGEN” ini telah dipertahankan dan

hanya diperhitungkan faktor teknis saja, yaitu tipe konstruksi tower yang digunakan adalah bentuk lattice tipe Aa dan Bb saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kV dengan

N.N , 2003 “ Saluran Udara Tegangan Tinggi(SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET)- Nilai Ambang Batas Medan Listrik dan Medan Magnet” SNI-04-6950- 2003,

Sebelum pembangunan saluran transmisi diatas tentu saja harus memperhatikan hal -hal yang mempengaruhi perancangan peralatan tegangan tinggi yang nantinya digunakan

Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) adalah sarana untuk menyalurkan energi listrik dari pusat beban dengan

Komponen utama dari Fungsi structure pada sistem transmisi SUTT / SUTET adalah Tiang ( Tower ).Tiang adalah konstruksi bangunan yang kokoh untuk menyangga /

Medan listrik atau medan magnet di dalam ruangan antara lain berasal dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), Saluran

Laporan tugas besar mata kuliah Struktur Baja I tentang desain menara saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) listrik menggunakan aplikasi