• Tidak ada hasil yang ditemukan

COMING IN (PENERIMAAN DIRI ) DAN EKSISTENSI DIRI SEORANG LESBIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "COMING IN (PENERIMAAN DIRI ) DAN EKSISTENSI DIRI SEORANG LESBIAN"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

BAB Tiga

COMING IN (PENERIMAAN DIRI ) DAN

EKSISTENSI DIRI SEORANG LESBIAN

Pengantar

Setiap perjalanan kehidupan manusia selalu dinamis, bahwa manusia selalu berpikir dan berdialog dengan diri tentang proses menuju kehidupan ke depan. Bisa saja terjadi penurunan dan peningkatan pada pola pemikiran, batin, kesadaran dan penerimaan atas kehidupannya. Salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan setiap manusia adalah proses pencapaian nilai atau makan atas diri. Nilai dan makna atas diri merupakan satu perdebatan batin yang terjadi dalam diri manusia, dan ini adalah nilai refleksi puncak yang cukup memerlukan proses yang sangat dialogis. Dalam proses pencapaian eksistensi seorang manusia, penting sekali menurut penulis melukiskan bagaimana eksitensi diri seorang lesbian, ketika begitu banyak lapisan ketidakadilan dan diskriminasi yang masih didapatkan oleh homoseksual (lesbian).

Penulis merasa perdebatan yang selama ini muncul di kalangan masayarakat masih berada pada diskusi mengenai normal, tidak normal, dosa, penyimpangan dan seksual yang sempit sebatas aktivitas seksual dan relasi yang tidak semestinya saja. Kondisi pemikiran dan penilaian sebagian masyarakat yang belum berubah tersebut, terkadang memunculkan begitu banyak problematika dalam diri sebagian lesbian. Jika memahami benar, bahwa kehidupan yang dijalani oleh lesbian penuh dengan perjuangan sama halnya dengan seorang heteroseksual. Memperjuangkan diri hingga mencapai proses penerimaan diri dengan apa yang ada di dalam dirinya dan juga memperjuangkan hak serta

(2)

eksistensi dirinya sebagai bagian dari kehidupan. Lebih dari itu seorang lesbianpun memiliki proses menuju pada aktualisasi diri yang diharapkan, baik kesadaran akan diri, kekritisan, menggembangkan batin dan proses menuju pada kehidupan sesuai dengan konsep nilai yang terbangun pada dirinya.

Tulisan dalam bab tiga ini akan membahas bagaimana seorang lesbian menunjukkan dinamika kehidupan menuju pada proses penerimaan diri. Dimana dalam diri seorang manusia pasti memiliki modal dalam pencapaian eksistensi diri. Modal tersebut akan sangat berpengaruh dalam diri untuk proses menyadari, mengkritisi dan menganalisis proses yang telah dilalui di dirinya yang kemudian akan memunculkan sebuah refleksi untuk proses menerima dirinya dan berlanjut pada eksistensi diri. Ketika proses menganalisis atau mengetahui benar apa yang ada dalam diri “berada” dengan segala usahanya, maka akan muncul sebuah kesadaran kritis untuk terus memahami diri. Dalam setiap dinamika yang dilalui oleh seorang lesbian, pasti menghadirkan banyak hal yang dapat menjadi sebuah loncatan untuk mencapai kesadaran. Dimana dengan kesadaran diri tersebut seorang lesbian akan mampu menentukan pilihan dan keputusan akan dirinya. Prosesnya terus berkembang dan berjalan, dengan refleksi panjang dari setiap pengalaman kehidupannnya, maka dia akan terus berkembang, menjadi diri yang dia inginkan.

Meskipun tidak sederhana, namun haruslah di pahami bahwa fenomena lesbian merupakan sebuah bagian dari kehidupan, bukan hanya masalah diterima atau tidak diterima, melainkan banyak problematika yang masih coba diselesaikan dengan baik oleh lesbian. Diri lesbian membutuhkan proses mengetahui dan memahami setiap konsep yang terkait dengan dirinya. Pengetahuan akan seksualitas, tubuh, penerimaan diri, eksistensi diri dan mengembangkan diri dalam kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang tetap terus dilakukan.

Dalam pembahasan mengenai eksistensi diri, penulis akan memaparkan fakta empiris tentang proses dan dinamika diri seorang

(3)

lesbian mencapai pada sebuah tahapan penerimaan diri dan cara membangun eksitensi dirinya. Bagaimana pengetahuan yang dimiliki seorang lesbian dapat menjadi modal awal dalam proses eksistensi dirinya. Penulis menggunakan beberapa konsep yang akan membantu dalam memahami bagaimana proses eksistensi diri seorang lesbian dicapai. Beberapa konsep yang dipakai akan sangat membantu penulis dalam memaparkan dan menganalisis hasil temuan dilapangan.

Eksistensi Diri “Aku adalah Aku”

Eksistensi diri seorang lesbian, bukan merupakan proses perjalanan pencapaian material dan pengakuan saja, melainkan lebih pada nilai atas dirinya. Proses pencapaian atas nilai manusia bisa digambarkan dengan bagaimana diri seorang lesbian haruslah didefinisikan oleh dirinya sendiri, bukan oleh konsep yang dipahami orang lain. Sartre membuat perbedaan antara pengamat dan yang diamati dengan membagi Diri kedalam dua bagian, yaitu Ada untuk dirinya sendiri (pour-soi) dan Ada dalam dirinya sendiri (en-soi). Ada dalam dirinya sendiri mengacu kepada kehadiran material repetitif yang dimiliki oleh manusia dengan binatang, sayuran dan mineral. Ada untuk dirinya sendiri mengacu kepada kehadiran yang bergerak dan berkesadaran, yang hanya dimiliki oleh manusia. Perbedaan antara Ada dalam dirinya sendiri dan Ada untuk dirinya sendiri berguna dalam melakukan analisis tentang manusia, terutama untuk mengasosiasikan Ada dalam dirinya sendiri dengan tubuh (Tong, 1998:255).

Pandangan kritis yang diperlukan untuk memahami bahwa lesbian ada untuk dirinya sendiri, seseorang lesbian menyadari bahwa tubuh dan pilihan atas hidupnya adalah bagian dari ke-Aku-annya diidentifikasikan oleh dirinya, bahwa tubuh dan pilihannya adalah bagian dari dirinya bukan bagian tubuh atau pilihan orang lain. Kita dapat melihat bagaimana orang lain, atau masyarakat sosial selalu memahami bahwa pilihan atas diri bahkan tubuh seorang lesbian dapat mereka identifikasikan menurut apa yang mereka yakini dan pahami.

(4)

Sehingga “Aku” lesbian tidak mampu menunjukkan ke-Aku-annya dalam proses kehidupan yang dijalaninya.

Namun dengan Ada yang ketiga, yaitu Ada untuk yang lain, Sartre kadang-kadang menggambarkan modus ke-Ada-an ini dalam dua bentuk. Secara positif sebagai Mit-Sein, sebagai ada yang komunal. Meskipun demikian Sartre lebih sering menggambarkannya secara negatif, yaitu Ada yang melibatkan “konflik personal karena setiap Ada untuk dirinya sendiri berusaha untuk menemukan Ada-nya sendiri dengan secara langsung atau tidak langsung menjadikan lain sebagai obyek. Karena setiap Ada untuk dirinya sendiri membangun dirinya sendiri sebagai subyek, sebagai Diri, tepat dengan mendefinisi Ada Liyan sebagai obyek, sebagai Liyan, tindak kesadaran membentuk sistem yang secara fundamental merupakan relasi sosial yang konfliktual. Dengan demikian, proses definisi diri adalah proses untuk menguasai Liyan (Tong, 1998: 256).

Dengan demikian “Aku” masih menjadi sebuah kuasa atas Aku. Dimana Aku (sosial) mendefinisikan “Aku” (lesbian) sebagai yang lain. Bukan merupakan diri yang secara sadar dapat mendefinisikan dirinya dengan kebebasannya. Dalam pencapaian eksistensi lesbian yang penuh dengan nilai dan makna akan mengalami hambatan ketika lesbian masih dianggap sebagai Liyan, yang masih menjadi obyek definisi dan nilai oleh konstruksi sosial masyarakat saat ini. Pemahaman yang berkembang di masyarakat atas tubuh, seks, gender dan seksualitas yang utuh belum menjadi sebuah budaya yang dapat dideskonstruksikan untuk memahami dan menghargai apa yang ada pada diri orang lain. Bahwasanya mendefinisikan diri atas tubuh, seks, gender dan seksualitas adalah sebuah kesadaran yang ada dalam Aku dan dimiliki oleh masing-masing dari diri.

Sehingga muncul satu rangkaian yang penting, bahwa pemahaman atas tubuh, seks, gender dan seksualitas adalah penting. Dengan pemahaman tersebut, seorang lesbian akan mampu memahami dan menyadari tentang orientasi penuh atas tubuh dan dirinya. Sehingga kemudian akan muncul kesadaran dan kekritisan pada diri

(5)

untuk menganalisis dan merefleksikan tentang makna atas eksistensi diri sebagai Aku lesbian, bukan Aku sosial. Pola pendidikan kritis akan membantu seorang lesbian dalam menyadari dan memahami orientasi atas tubuh dan dirinya sendiri dalam proses penerimaan diri. Proses untuk benar-benar memahami diri sendiri sebagai Ada untuk dirinya sendiri akan terus berkembang untuk mencapai pemaknaan atas eksistensi dirinya.

Mengungkap ke-Aku-an

Untuk mengungkap bagaimana proses penerimaan dan eksistensi diri seorang lesbian, penulis menggunakan studi kasus dari Kris untuk menemukan dinamika yang berkembang pada dirinya. Unit amatan dalam bagian pembahasan ini adalah Kris seorang lesbian, dan Roh seorang heteroseksual. Studi kasus dari keduanya akan menggambarkan bagaimana proses penerimaan diri dan proses pencapaian eksistensi diri seseorang lesbian dan heteroseksual. Kemudian yang menjadi unit analisis adalah modal yang dimiliki di dalam diri serta dialog yang terjadi dalam diri lesbian maupun heteroseksual, memahami dan berproses dalam penerimaan diri. Selain itu bagaimana Kris dan Roh memahami konsep atas orientasi tubuh, seks, gender dan seksualitas akan menjadi sebuah proses awal dalam dirinya untuk mencapai penerimaan dan eksistensi dirinya. Apa yang penulis temukan dalam dialog bersama dengan Kris dan Roh akan menjadi temuan yang dapat dianalisis untuk melihat eksistensi dirinya. Proses penerimaan diri dan eksistensi diri seorang Kris dan Roh yang penuh dengan dinamika dan problematikanya merupakan sebuah fakta yang unik untuk diungkapkan. Pola-pola yang dipakai dalam pemahaman atas konsep tubuh dan seksualitas, sampai pada titik kesadaran yang menghasilkan kekritisan dalam diri dan lingkungan sekitarnya menjadi penting untuk diketahui. Berbagai dialog serta refleksi atas dirinya akan membantu penulis dalam menggambarkan bagaimana Kris melampaui proses penerimaan dan eksistensi dirinya.

(6)

Tidak dapat dipungkiri ketika Kris menyadari bahwa dirinya dengan orientasi seksualnya masih belum dapat diterima oleh masyarakat akan menjadi salah satu faktor yang menjadi hambatan bagi Kris untuk membangun eksistensi dirinya. Dari hal tersebut akan memperlihatkan bagaimana kesadaran diri yang dibangun Kris untuk dapat berdialog dan berstrategi dalam proses pencapaian Aku, menyadari bahwa Ada-nya Kris untuk dirinya sendiri sebagai subyek atas diri dan bukan obyek atas orang lain. Banyak lesbian yang mampu membangun eksistensi diri dengan cara masing-masing, namun masih banyak juga lesbian yang belum dapat mencapai proses penerimaan diri dan membangun eksistensi dirinya. Sehingga dalam bab ini penulis ingin menunjukkan bagaimana pentingnya seorang lesbian membangun eksistensi dirinya dengan tantangan yang tergambar diatas.

Pembahasan proses penerimaan dan eksistensi diri seorang lesbian ini akan dibagai ke dalam empat pembahasan untuk melihat deskripsi diri dari seorang lesbian. Dibagian pertama (1) akan dijelaskan tentang deksripsi diri seorang lesbian dan heteroseksual, (2) deskripsi modal penegetahuan seorang lesbian dan heteroseksual, (3) deskripsi modal pengetahuan praksis seorang lesbian dan heteroseksual, dan yang keempat (4) sejarah penerimaan diri seorang lesbian dan heteroseksual.

Life Historis Kris dan Roh

Proses panjang yang dengan dinamika kehidupan yang naik turun, mungkin inilah yang tergambar dari sebuah proses coming in atau penerimaan diri seorang lesbian. Penerimaan diri menjadi sebuah pondasi penting dalam pencapaian eksistensi diri. Proses memahami nilai dan makna diri secara sadar sehingga menjadikan diri lebih mampu mengaktualisasikan diri, dan kembali kehakikatnya sebagai manusia.

(7)

Pembebasan diri atas dogma dan nilai yang dilebelkan pada lesbian adalah sebuah proses berat bagi seorang lesbian.Namun seberapa beratnya proses tersebut, akan terus dijalani sampai pada titik dimana seorang lesbian menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki hak atas kehidupannya. Nilai tertinggi dari segala aspek kehidupan dalam diri seorang manusia bukan hanya nilai material saja, melainkan nilai spiritual dan ideology dalam hidupnya.

Penerimaan diri dalam hidup seorang lesbian maupun heteroseksual membutuhkan proses yang berbeda dari masing-masing individu. Membutuhkan kesabaran diri, analisis dan reflesi atas setiap pikiran dan tindakan. Dibawah ini akan menceritakan sebuah proses perjalanan panjang seorang lesbian, dengan proses perjalanan panjang kehidupannya sampai pada titik dimana terdapat sebuah kesadarn akan nilai dirinya, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menghargai dan menjadi seseorang yang memiliki nilai dan berguna untuk orang lain.

Kris besar disebuah kota di daerah Jawa Tengah, bersama kakak, adik dan kedua orang tuannya. Kedekatan dengan orang tua membuat dia merasa disayangi sebagi bagian dari keluarga.Cerita ini berawal dari dimulainya Kris membangun relasi dengan seorang perempuan dikelasnya bernama Ayu saat SMA ditahun 2000. Kris adalah seorang yang pemalu, komunikasi yang dijalin dengan Ayu diwaktu itu melalui berbalasan surat, karena ditahun itu belum banyak orang yang menggunakan telepon genggam. Dengan surat itu, Kris menyatakan ketrtarikannya terhadap Ayu, dan dibalas dengan sebuah penerimaan. Relasi yang mereka bangun terjalin dengan baik. Hal ini dikarenakan tidak adanya permasalahan atas mana yang normal dan tidak normal. Pemahaman yang berkembang adalah ketika mencintai siapapun dan apapun gender mereka, bukanlah menjadi masalah yang rumit seperti yang terlihat diwaktu sekarang ini.

Hingga tibalah di tahun 2000 disaat kelulusan, Kris memutuskan untuk bekerja di Semarang tepatnya di sebuah pabrik roti sembari menungguu ijasah sekolah dikeluarkan.Setelah menunggu

(8)

beberapa waktu, ijasah pun didapatkan,kemudian Kris merantau ke ibukota untuk mencari pekerjaan.Dan Ayu pun saat itu juga sudah berada di ibukota untuk bekerja.Namun mereka bekerja dipabrik yang berbeda, dan komunikasi masih berjalan dengan baik.

Sampai pada tahun 2001 Kris memutuskan untuk datang ke Ungaran mencari dan memulai pekerjaan yang baru disebuah pabrik.Tak selang berapa lama, Ayu menyusul Kris ke Ungaran.Berjalannya waktu, setelah mereka sama-sama bekerja di Ungaran, konflik antara Kris dan Ayupun terjadi. Masalah pertama yang muncul adalahtanpa disadari ternyata kakak laki-laki Kris juga tertarik pada Ayu sejak mereka masih di SMA dan masih tinggal di daerah asal mereka yaitu, Purwodadi.Ayu menjalin hubungan dengan kakak laki-laki dan juga masih menjalin hubungan dengan Kris.Namun Kris menyadari bahwa hubungan itu tidak sehat, sehingga Kris memutuskan untuk mengakhiri relasinya dengan Ayu. Sampai pada akhirnya Ayu resmi menjadi kakak ipar Kris. Berat namun begitulah proses kehidupan yang dijalani Kris.

Di tahun 2005 Kris keluar dari pekerjaannya disebuah pabrik di Ungaran.Ditahun itu Kris memiliki pasangan bernama Titi dan keduanya memutuskantinggal bersama.Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Titi mengajak Kris untuk mencari pekerjaan di Bali.Dan sebelum mereka ke Bali, orang tua Kris datang ke Ungaran untuk menjenguk Kris.Namun diwaktu itu orangtua Kris tidak dapat bertemu dengannya, maka orang tua Kris menitipkan pesan melalui sebuah surat pada Titi. Namun ternyata pesan-pesan yang disampaikan oleh orang tua Kris pada Titi tidak pernah disampaikan.

Akhirnya mereka berdua berangkat ke Bali. Di kota itu mereka berdua mendapat pekerjaan tetapi mereka bekerja ditempat yang berbeda. Proses kehidupan mereka jalani, sampai dengan munculnya konflik karena kondisi ekonomi yang pas-pasan yang sebenarnya tidak diharapkan oleh Titi. Titipun kerap melakukan kekerasan fisik pada Kris.“Kekerasan ini nyaris terjadi setiap hari. “ Kekerasan lain muncul ketika aku menolak ajakan Titi untuk berhubungan seksual. Titi tidak

(9)

pernah mau mengerti kondisiku.Pulang kerja semua terasa capek tapi Titi tidak mau tahu, “cerita Kris saat obrolan kami mengenai kekerasan yang dialaminya. Tidak ada komunikasi yang terjalin dengan baik ketika hal-hal itu terjadiHal lain yang muncul dan menjadi masalah adalah rasa cemburu Titi ketika melihat Kris diantar seorang teman laki-laki disaat pulang kerja.Hal ini juga menimbulkan tindakan kekerasan bagi Kris.Umpatan dan pukulan sering diterima oleh Kris ketika Titi marah dan tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Karena Kris merasa tidak ada perubahan yang baik dalam perekonomin dan juga relasinya dengan Titi, Kris memutuskan untuk kembali ke Ungaran bersamadengan Titi.Akhirnya mereka berdua kembali ke Ungaran, dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan di Ungaran.Mereka bekerja di pabrik yang berbeda.Satu hal yang cukup menrik disini adalah gambaran tentang identitas relasi yang dibangun oleh Titi. Ada dua kondisi yang berbeda yang terjadi ketika mereka berada dalam lingkungan pabrik yang berbeda.Pertama, Titi memunculkan Kris sebagai seorang laki-laki dihadapan teman-teman dilingkungan pabrik tempatnya bekerja.Dan untuk memperkuat bentukan Titi dalam lingkungan tempatnya bekerjanya, Titi meminta Kris berfoto layaknya pernikahan heteroseksual dengan pakaian umumnya laki-laki.Yang kedua, kondisi berbeda ditunjukkan oleh Kris pada lingkungan dan tempat ia bekerja. Temen-teman pabriknya mengetahui benar bahwa relasi Kris dan Titi adalah relasi lesbian. Hal inilah yang menimbulkan sebuah pertanyaan ketika teman-teman Kris melihat foto dikamar kosnya dengan pakaian pernikahan dan Kris diperankan sebagai laki-laki dengan tata rias da busana layaknya pengantin laki-laki.

Proses terus berjalan tetapi kondisi tidak kunjung membaik.Di Ungaran kekerasan fisik, ekonomi dan seksual pun terus terjadi kepada Kris .Hal itu membuat Kris selalu berupaya untuk membuat Titi merubah kebiasaan kasarnya kepada Kris.Namun Kris belum dapat membuat Titi menyadari dan merubah perilaku kasarnya.Sampai pada suatu hari di tanggal 17 Agustus 2008 terjadi konflik besar antara Kris

(10)

dan Titi. Karena kemarahan yang luar biasa, Titi nyaris melenyapkannyawa Kris dari muka bumi. Kris hampir terbunuh karena kemarahan Titi yang tak terbendung. Namun teman-teman Effort segera datang untuk menengahi masalah mereka.Salah satu teman Effort sudah mengenal Kris dari tahun 2000 ketika Kris masih bekerja di Semarang.

Hingga akhirnya keduanya dibawa ke basecamp Effort dengan dua motor. Di Basecamp dilakukan dialog untuk menyelesaikan masalah ini. Karena hubungan yang mereka jalin sudah tidak baik, maka disarankan agar mereka introspeksi dan tidak berdekatan dalam waktu yang cukup untuk menimbang relasi mereka. Dengan berbagai pertimbangan, Kris dan Titi akhirnya mengambil keputusan untuk menyudahi relasinya pada akhir Agustus 2008.

Sebelum relasi antara Kris dan Titi berakhir, Kris mengenal seorang teman dipabrik tempat dia bekerja dan perempuan itu bernama Sila. Setelah hubungan Kris dengan Titi berakhir, Kris menjalin relasi dengan Sila.Relasi ini hanya berjalan selama 1 tahun.Kris memberikan ruang untuk Sila belajar bersama dengan komunitas di Effort. Kris dan Sila selalu menghadiri kegiatan dan diskusi secara bersama-sama dengan komunitas yang di bangun Effort. Hubungan Kris dan Silapun berakhir genap diusia 1 tahun mereka membangun relasi. Disaat-saat terakhir relasinya dengan Sila, Kris kembali mengenal sosok perempuan bernama Nia. Krispun mengikuti perasaannya untuk menjalin hubungan spesialnya bersama Nia.Alasan inilah yang membuat Kris memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Sila.

Di sisi lain Krisselalu punya kebiasaan untuk memperkenalkan pasangannya pada keluarganya. Memperkenalkan pasangan pada keluarga, bagi Kris adalah upaya untuk mendekatkan pasangannya pada keluarga Kris. Tak jarang pasangan Kris juga menginap di rumah orang tua Kris. Menurut Kris, Nia adalah pasangan yang berbeda dari pasangan-pasangan sebelumnya.Nia mempunyai cara pendekatan yang baik dengan orang tua Kris,sehingga Nia cukup dekat dengan orang tua

(11)

Kris. Namun berbeda dengan orang tua Kris, orang tua Nia menolak hubungan mereka. Sampai pada akhirnya Nia dipaksa pulang oleh orangtuanya dan kembali ke kota asalnya, Pacitan. Keputusan orangtua Nia membuat panik dan tanpa berpikir panjang, Kris menggadaikan BPKB motor untuk menemui Nia di Pacitan. Kedatangan Kris ke Pacitan adalah untuk menanyakan tentang keseriusan Nia menjalin hubungan dengan Kris.

Waktu itu salah satu teman di Effort mengetahui bahwa Kris pergi ke Pacitan, dimalam hari saat Kris sampai di Pacitan,Kris mendapat telepon dari teman Effort yang menawarinya sebuah pekerjaan. Krispun langsung menerima tawaran tersebut, meski sebenarnya ia masih dalam kondisi limbung. “ Disaat itu aku hanya berpikir bahwa manakah yang terbaik untukku dan Nia, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerima pekerjaan dan kembali ke Ungaran. Disaat orangtua Nia tidak menyetujui relasi ini, aku menimbang bahwa, ketika menyayangi seseorang, tidak berarti harus mengikat orang yang kita disayangi. Setiap hubungan atau relasi apapun haruslah saling membebaskan, dan menghargai setiap proses masing-masing untuk saling berkembang” ungkap Kris ketika menceritakan proses pembebasan relasinya dengan Nia.

Menurut Kris relasinya dengan Nia, sampai keputusan akhir yang diambilnya adalah proses dimana dia memahami makna menyayangi yang sesungguhnya. Relasi inilah yang sangat membuat Kris merasa bahwa inilah sebuah relasi yang penuh dengan nilai. Bukan saling mengikat, saling merugikan, penuh dengan kekerasan, namun membebaskan satu dengan yang lainnya untuk menjalani proses kehidupannya dengan lebih baik.

Malam itupun di tahun 2009 Kris pulang ke Ungaran dan menerima tawaran pekerjaan yang diberikan padanya.Dan setelah itu Kris mulai aktif mengikuti kegiatan dan diskusi dengan Effort.Komunitas membantu setiap proses dalam kehidupan Kris untuk penerimaan dirinya, atas orientasi seksualnya, dan bagaimana mengelola gejolak batinnya karena sering diolok-olok oleh kakaknya

(12)

karena orientasi seksualnya. Dengan pengalamnannya bersamateman-teman Kris belajar banyak hal. Disaat ingin membangun relasi, Kris sangat hati-hati dan menimbang banyak hal. Semua dia hitung dan pertimbangkan karena pengalaman berelasi sebelumnya telah memberi pelajaran tersendiri bagi Kris.

Di akhir tahun 2009 Kris menjadi peserta pelatihan yang diadakan rutin setiap satu tahun sekali oleh Effort untuk komunitas.Pelatihan itu bertema HIV/AIDS, diproses itulah Kris bersedia bercerita dan sharing didepan teman-teman komunitas tentang kekerasan yang dia alami saat menjalin relasi dengan pasangannya.Pada tahun 2009 kegiatan Effort masih bersama dengan kelompok heteroseksual dan belum ada teman lesbian yang bergabung selain Kris. Sore itu Kris mulai menceritakan kisahnya, proses kehidupan yang dia alami bersama dengan mantan pasangannya dulu yang penuh dengan kekerasan. Selesai bercerita, bukan penolakan yang Kris dapatkan dalam forum itu, tapi empati dari peserta pelatihan.Testimony Kris menjadi pengalaman dan pelajaran berharga bagi peserta pelatihan.Bahwa kekerasan dalam hubungan apapun, dan orientasi apapun adalah tindakan yang harus ditolak bersama. Teman-teman pun akhirnya saling berbagi atas atas apa yang dilihat maupun yang dialami, termasuk pengalaman peserta pelatihan yang lain yang juga mengungkapkan fakta di keluarganya ada juga yang berorientasi seks pada sesama jenis.Testimony yang dilakukan Kris, akhirnya membuat teman-teman pelatihan yang lain terbuka bahwa tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu ditolak dari relasi lesbian karena itu adalah pilihan orientasi seksual dan merupakan hak asasi setiap orang. Yang harus ditolak adalah bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap manusia tanpa melihat latar belakang, orientasi seksual, pendidikan dan lain sebagainya.

Kini Kris sudah menerima dirinya sebagaimana adanya dirinya dan orientasi seksualnya.Kris ingin belajar banyak hal, terus berupaya untuk menjadi lebih baik dan dapat melakukan sesuatu bagi orang lain disekitarnya. Proses belajardi Effort dan apa yang ia dapatkan selalu ia

(13)

bagikan kepada teman-teman di pabriknya tempat dia bekerja. Kepada ibu-ibu ditempatnya bekerja dia membagi banyak hal, termasuk tentang HIV/AIDS, PMS, Kesehatan, dan lain-lain. Proses itulah yang membuat teman sekerja yang mayoritas adalah ibu-ibu, menjadikan Kris sebagai sumber informasi. Disinilah aktualisasi diri Kris sebagai seorang manusia mencapai eksistensinya.Bukan dengan pemenuhan atas materi semata, namun dengan niali-nilai yang dapat bermanfaat bagi orang lain disekitarnya.

Penerimaan diri adalah bagian terawal dalam sebuah proses aktualisasi diri. Dengan penerimaan diri, maka seseorang akan terus melakukan apa yang menjadi tujuan baik baginya. Jadi, aktualisasi diri adalah bagian dimana kehidupan seorang dapat berguna dan bermanfaat bagi mahkluk lainnya. Satu hal yang Kris sampaikan, ” Ketika aku merasa dihargai sebagai seseorang dengan apa adanya diriku, aku merasa bermanfaat dan berguna bagi lingkungan disekitarku, itulah titik kenyamanan dan kebahagiaanku.” Kenyamanan dan kebahagiaan inilah yang disebut sebagai eksistensi diri seorang lesbian.

Dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Effort “ Membangun Ruang Kemanusian Tanpa Batas ( Sebuah Proses Pengorganisasian ) “ Kris menuliskan kisah kehidupannya. Di bawah ini, sepenggal cerita yang disampaikan oleh Kris.

“ Pada pertengahan tahun 2012, ada perubahan yang luar biasa yang kurasakan di diriku. Aku putus dengan pacarku, dan hari kedua idul fitri tahun 2012 aku pergi ke Yogyakarta bersama teman dari Effort, dan pada saat itulah aku merasa menjadi manusia merdeka karena nggak ada lagi pacar yang melarang aku pergi. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki diri dan belajar serius. Terimakasih kepada teman-teman karena aku dikennalkan pada banyak hal yang selama ini aku tidak tahu.

Dari hari ke hari aku semakin punya semangat dan aku tambah tahu apa yang harus aku lakukan dalam hisup ini. Tehnik dan strategi dalam menjalankan peranku sebagai seorang CO (Community

(14)

Organizer) semakin bertambah. Beberapa kali melakukan pendekatan dengan komunitas buruh lesbian bersama dengan teman-teman Effort membuat aku semakin mengerti dan memahami bagaimana melakukan pendekatan pada komunitas. Dari semua ini, aku jadi tahu kesabaran dari teman-teman Effort dalam mengorganizer lesbian. kesulitan ini juga aku alami. Tetapi ini juga yang aku alami dulu, susah diajak berkembang karena belum beres dengan diri sendiri. Aku sadar masih banyak yang harus aku pelajari untuk meningkatkan kemampuanku sebagai seorang CO.

Ada yang membuatku paling senang adalah aku tetap menjadi diriku sendiri, apapun keadaannya. Dan ini selalu aku sampaikan pada teman-temn siapapun mereka dan apapun orientasi seksualnya. Jadilah diri sendiri dan berdamailah dengan diri sendiri. Aku sering menyesali kebodohan masa laluku, tetapi aku tahu penyesalan ini harus aku tebus dengan semangat belajar agar hidupkubisa lebih berarti. Dan terus mengisi pikiran karena sekarangaku tahu pikiran adalah pelopor dunia”. (Widiawati, 2013:66)

Inilah cerita singkat tentang Kris, dan tulisan Kris juga adalah gambaran tentang nilai dirinya dan pencapaian eksistensinya. Pergeseran makna dan pandangan tentang tujuan dan hakikat atas dirinya. Proses pembebasan diri yang terus diupayakan dari saat ke saat untuk sampai pada proses penerimaan diri,proses aktualisasi diri dengan tujuan hidup yang penuh dengan nilai.

Setiap proses didalam perjalanan kehidupan seseorang, siapapun itu pasti mengalami sebuah dinamika, ada titik dimana diri merasa sangat frustasi, namun tetap akanada titik dimana dia menyadari dirinya “ada” dalam sebuah makna atas dirinya didunia ini. Cerita singkat kehidupan Kris diatas juga merupakan sebuah proses panjang tentang memaknai dirinya sebagai yang “ada” dikehidupan ini. Eksistensi diri akan dicapai oleh siapapun orang itu ketika seseorang menyadari benar tentang potensi dan bahwa dirinya berharga. Untuk melihat sebuah proses lain dibawah ini akan digambarkan singkat sebuah perjalanan kehidupan seseorang yang memiliki pilihan lain

(15)

atas hidupannya. Dan dengan cerita ini kita akan melihat bagaimana proses eksistensi diri seorang heteroseksual dalam perjalanan panjangnya dan akhirnya menjatuhkan pilihan hidup demi kenyamanan dan kebahagiaanya.

---

Roh adalah seorang perempuan yang lahir di pinggiran kota Salatiga, kini usianya 43 tahun. Hampir setengah abad proses kehidupan yang dia jalani. Bukan lagi usia muda, namun kematangan diri yang nampak dengan proses perjalanan kehidupan yang panjang. Selama 43 tahun proses demi proses dilalui olehnya untuk menemukan nilai atau makna tertinggi atas diri dan proses hidupnya. Berbagai nilai spiritual, bagaimana memahami materialismedan nilai -nilai hidup yang berarti tidak hanya bagi diri Roh sendiri,tetapi berarti bagi penulis, dan sebagaian besar orang yang mengenalnya.

Roh adalah bagian dari anggota kelompok yang selalu menyediakan diri untuk terus belajar bersama dengan teman lain di lembaga Effort. Proses perkenalan dengan teman di Effort diawali dari banyaknya pengurus Effort ditahun 2000an yang berasal dari lembaga Yasanti (sebuah lembaga perempuan tertua di Indonesia yang concern pada isu Buruh Perempuan), dan banyak juga buruh pabrik diwaktu itu yang sering belajar bersama dengan lembaga yasanti. Ditengah-tengah proses bersama dengan yasanti, Roh sebenarnya mulai mengenal teman-teman Effort, karena beberapa teman dari Yasanti mendirikan Effort. Cerita perkenalan ini dimulai dari seorang teman bernama Lia, seorang buruh pabrik yang bekerja dengan Roh dipabrik yang sama. Lia sering mengikuti kegiatan diluar bersama teman-teman Effort, dan apa yang didapatkan dalam kegiatan dan perjumpaanya dengan teman Effort selalu diisampaikan kepada beberapa teman dipabrik termasuk Roh.

Sampai pada suatu hari di tahun 2004 Lia di PHK dari pabrik. Beberapa waktu setelah itu Lia memutuskan untuk bekerja di Surabaya. Namun Lia berpikir bahwa dia akan merasa sangat bersalah ketika Roh dan beberapa temannya tidak diperkenalkan dengan

(16)

teman-teman di Effort karena beberapa alasan. Dari sinilah awal perkenalan dan kedekatan Roh dengan Effort. Disebuah malam setelah pulang dari pabrik sekitar tahun 2004, Roh dan seorang temannya memutuskan untuk berkunjung ke Effort. Pada waktu itu di tahun 2004 Effort belum terbentuk, namun beberapa teman sudah aktif bersama dalam kegiatan dan gerakan social. Dimalam itu Roh dan temannya bertemu dengan beberapa teman Effort. Diawal perjumpaan itu, terjadi banyak diskusi beberapa diantaranya adalah tentang kesehatan seksual, menstrurasi dan sampai pada obrolan mengenai tujuan hidup seseorang. Di awal salah seorang teman Effort membahas mengenai pilihan atas menikah atau tidak menikah. Karena Roh juga adalah orang yang sudah berpikir lama tentang proses pilihan itu, Roh menyampaikan bahwa menikah itu adalah ibadah dan sunah, sehingga menikah bukanlah suatu kewajiban. Sebuah pilihan yang tentu saja didasari oleh argumen yang cukup kuat tentunya.

Hingga proses-proses lain bergulir ditahun-tahun berikutnya. Samapi pada Effort resmi berdiri di tahun 2007, tahun yang sama ketika Roh memutuskan untuk keluar dari pabrik tempatnya bekerja. Ada beberapa alasan yang cukup menarik dan berbeda dari keputusan Roh untuk keluar kerja. Alasan-alasan itu diantaranya adalah pekerjaan menjadi seorang buruh pabrik itu tidak ada seninya. Tuntutan sift dan bekerja selama 8 jam bahkan lebih tidak menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda bagi Roh. Sebuah keputusan yang sulit dilakukan oleh orang lain, yaitu berhenti bekerja. Cukup unik dan menarik, bahwa pilihan adalah salah satu proses kehidupan yang penuh dengan seni untuk menjalankannya.

Roh mengikuti kegiatan pertama di Effort pada tahun 2009 yaitu di kegiatan pelatihan HIV/AIDS. Ditahun yang sama juga ketika Kris mulai mengikuti kegiatan pelatihan bersama Effort. Setelah pelatihan itu, Roh rutin berproses dan belajar bersama dengan teman-teman kelompok lainnya di Effort. Proses yang cukup lama hingga tahun 2014 ini belajar, berbagi, saling mengerti dan menerima sesama.

(17)

Sejak SMP, Roh sudah memiliki pola pikir yang berbeda dengan remaja lain seusianya. Di usia SMP Roh sudah memiliki pemikiran yang bergejolak tentang sebuah relasi pernikahan, hingga pemikiran untuk tidak menikah.Dan pilihan itu terus diperkuatnya hingga sekarang. Bukan sebuah keputusan yang mudah karena banyak kendala dan penolakan dari eksteral seperti keluarga dan juga lingkungan terdekat Roh. Ketika melihat bagaimana kakaknya membina sebuah hubungan pernikahan, dan bukan menuju pada kebaikan bersama, tapi justru sebaliknya.Yang terjadi dalam pandangan Roh adalah proses yang cukup berat dengan kehadiran 5 orang anak. Bukan hanya itu, bagi Roh menikah bukanlah satu-satunya solusi yang terbaik bagi proses kehidupan. Tentu pemikiran ini sangat bertolak belakang dengan pemikiran mayoritas orang. Proses kenyamanan, kebahagiann terkadang tidak selalu diwujudkan dalam proses perkawinan.Tidak bisa diingkari bahwa banyak fakta menunjukkan bahwa perkawinan merupakan proses saling mengekang, tidak ada kemandirian bagi masing-masing pasangan dan akhirnya menjadi sumber penderitaan yang baru.

Roh menyampaikan gagasan dan pemikirannya dalam sebuah obrolan bahwa “jalani saja proses kehidupan ini dengan baik, yang terjadi biarlah terjadi, pikirkan apa yang sekarang kita hadapi, jangan pikirkan esok hari, karena esok hari belum tentu ada”. Proses pemikiran inilah yang menjadi dasar bagaimana Roh menjalani hidupnya secara pribadi dan dilingkungan sekitarnya. Sehingga ketika banyak orang membicarakan dirinya atas pilihannya untuk tidak menikah, Roh hanya menanggapinya dengan sikap yang biasa saja dan cukup memaklumi cara pandang yang berbeda dengannya. Bahkan cenderung tidak medengarkan apa yang dinilaikan pada dirinya oleh orang lain. Inilah bentuk perlawanan Roh atas penilaian orang yang seringkali tidak bisa memahami ruang privat kehidupan orang lain.

Orang tua Roh dulu sangat mendorong Roh untuk menikah, hingga ditahun 2013 sebelum bapak Roh meninggal, bapaknya masih mendorong Roh untuk menikah. Ibu Roh pun memiliki keinginan

(18)

yang sama untuk melihat Roh menikah, namun seiring dengan proses dialog yang dibangun oleh Roh di keluarga, akhirnyakeluarga bisa memahami dan menerima keinginan Roh.Ibu Roh kini hanya menyerahkan seluruh kehidupan dan pilihan kehidupan pada Roh. Roh selalu memaknai sebuah “kenormalan” yang ada dimasyarakat dengan cara yang berbeda-beda. Karena Bagi Roh,“kenormalan” bisa ia maknai secara pribadi yang bisa saja berbeda dengan orang lain.Artinya, tergantung pada siapa dan bagaimana orang itu akan menjalani hidupnya.

Latar belakang bapak Roh adalah seorang tokoh NU, dansosok ibu yang punya prinsip kuat disepanjang perjalanan hidupnya. Transformasi nilai-nilai spiritual menjadi sebuah dasar yang kuat mengapa Roh berdiri dan “ada” seperti apa adanya saat ini. Pondasi kekuatan diri dan independensi yang ditunjukkan ketika usia remaja adalah sebuah prinsip dasar dimana pencarian makna akan diri telah dimulai dan dilaluinya. Setiap ideology yang ada di kedua orang tua Roh juga erat menjadi latar belakang proses menjalani kehidupan Roh sampai saat ini.

Roh berasal dari keluarga yang taat dalam beragama, namun ketika dihadapkan dalam proses keputusan untuk tidak menikah dan menghadapi respon orang disekitarnya tentang pilihannya, Roh menyampaikan bahwa ajaran agama adalah sebuah konsep. Tinggal bagaimana kita melihat dan mengambil nilai yang diyakini dan mana yang baik untuk masing-masing diri. Penafsiran orang boleh berbeda mengenai ajaran agama, yang terpenting adalah demi kebaikan diri dan tentunya tidak merugikan orang lain.

Suatu ketika Roh pernah dijodohkan dengan seorang laiki-laki pilihan keluarganya. Namun Roh menolak, karena Roh sudah berpikir untuk tidak menikah. Namun Roh mencoba menolak dengan alasan yang baik. “Kalaupun aku menikah, itu adalah dengan orang pilihanku sendiri, dan bukan karena perjodohan” begitu yang disampaikan Roh pada orangtuanya. Saat ia dijodohkan, Roh memilih untuk pergi dari rumah, dan memilih tinggal dikost di daerah Ungaran dekat dengan

(19)

tempat dia bekerja. Kepergiannya dari rumah adalah sebuah proses untuk membebaskan diri dari pernikahan beserta dengan belenggunya. Selain itu keputusan untuk pergi juga adalahbagian dari penguatan akan prinsip yang sudah ada semenjak dia masih duduk dibangku SMP. Sampai akhirnya ditahun 1994 Roh kembali kerumah, untuk mengahadiri pernikahan adiknya dengan laki-laki yang pernah dijodohkan orangtuanya pada Roh. Roh tetap bersikap tenang dan sangat menerima. Bahkan dia menyediakan diri untuk mengambil bagian sebagai orang yang mengurus segala pesiapan pernikahan adiknya, dan mengabadikan setiap proses pernikahan adiknya. Orang-orang dilingkungan Roh sangat merasa kasihan terhadap Roh karena pernikahan adiknya dengan laki-laki yang pernah dijohkan denganya. Rasa haru dari orang disekitarnya membuat Roh juga merasa terharu saat itu. Dan kini Roh hidup berdampingan rumah dengan adik dan suaminya.

Keputusan untuk tidak menikah yang diambil Roh bukan lantaran karena sakit hati dengan laki-laki atau pengalaman tidak baik dengan laki-laki. Roh pernah bercerita”aku dulu juga punya pacar, aku juga membuka diri dengan teman lawan jenis, dan kalaupun aku putus dengan pacarku aku merasa sangat biasa dan tidak pernah merasa sakit hati, karena memang begitulah proses yang harus dijalani kan”.

Roh adalah anak ketiga dari lima bersaudara dan sejaki dulu Roh sudah nampak berbeda dengan saudara lainnya. Roh selalu punya prinsip dan independensi diri yang kuat dalam setiap keputusan yang diambilnya. Sampai pada titik memaknai orangtua dia pun berbeda dengan yang lain. Dia tidak ingin mengorbankan diri pada keluarga, dalam artian menghabisi dirinya demi keluarga. Tetapi bukan berarti Roh tidak perduli dengan keluarganya. Ada ruang yang paling pribadi yang mampu ia jaga. Bahkan Roh sempat mengatakan, “ kalau orang tuaku meninggal karena memikirkan aku tidak menikah, itu bukan karena kesalahan atas keputusnku yang menyebabkan mereka meninggal, itu hanyalah takdir yang harus dijalani setiap orang sampai

(20)

pada waktunya. Yang menjalani kehidupan ini adalah diri sendiri, dengan setiap pemikiran dan keputusannya, bukan orang lain.”

Proses-proses yang dilalui Roh bersama teman-teman di Effort menjadikan sebuah pengalaman belajar kedepan untuk sebuah perjalanan panjang hidupnya. Roh menyampaikan bahwa Effort adalah bagian dari support dan kekuatan untuk dirinya. Tidak ada penilaian, tetapi terus membebaskan manusia dari berbagai kungkungan apapun.Proses untuk saling membebaskan dan memanusiakan manusia, adalah hal yang didapat dan selalu dibawa Roh dalam menjalani kehidupannya. Itu nampak dari kehadiran seorang lesbian didalam kegiatan bersama Effort. Roh dan teman-teman lain tidak pernah menilai baik atau tidak, salah atau benar, bahwa setiap orang sama dan yang terpenting adalah toleransi dan saling menghargai. Bahwa proses belajar bersama ini adalah ruang yang di buka bagi semua orang.

Sebelum penulis mengakhiri perbincangan dengan Roh, ada satu hal lain yang Roh sampaikan. “ Hidup akan mati, harta dan benda termasuk orang tua bukanlah milik kita selamanya. Yang paling penting dan utama adalah perbuatan kita didalam kehidupan ini, bahwa perbuatan kita itulah yang akan melekat pada orang dan yang akan kita bawa sampai mati. Hidup kita harus penuh dengan motivasi sama seperti yang aku sampaikan, jangan pernah merasa minder, karena kita semua pasti mampu. Dan jangan perdulikan omongan orang lain ketika itu hanya akan menghambat proses kita”. Inilah nilai yang diterus dipegang oleh Roh dalam memaknai pencapaian tertinggi atas dirinya, inilah eksistensi dirinya. Hal itulah yang terus dia jalankan dalam prosesnya untuk sebuah aktualisasi diri.

Deskripsi Diri Seorang Lesbian dan Heteroseksual

Setiap proses yang berkembang pada diri seorang manusia merupakan sebuah afeksi yang terus dinamis. Kedinamisan tersebut bukan hanya jalan untuk menuju pemenuhan atas kebutuhan biologis

(21)

saja, melainkan mencoba untuk memenuhi kebutuhan spiritualitas seorang diri. Dimana dialog terhadap proses yang telah dijalani menjadi sebuah refleksi untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Dari setiap tahapan yang dijalani oleh seseorang, ada sebuah tahapan terpenting yang terkadang kurang menjadi perhatian, yaitu proses penjalanan penerimaan dan eksistensi diri. Penerimaan diri dan eksistensi diri merupakan sebuah proses yang penting untuk dideskripsikan agar memahami benar konflik serta dinamika perjuangan diri seorang manusia. Bahwa dirinya harus menyadari benar keber-Ada-annya sebagai mahkluk yang memiliki kebebasan atau hak atas dirinya, menentukan dirinya sendiri, menerima setiap resiko yang ada dan penuh tanggung jawab terhadap pilihan akan hidupnya.

Eksistensi diri adalah proses yang dilalui setiap manusia, siapapun itu, dan apapun orientasi seksualnya. Tidak ada batasan bagi heteroseksual ataupun homoseksual. Namun demikian kita memahami bagaimana heteronormatifitas menjadi nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat, sehingga homoseksual termasuk lesbian memerlukan upaya yang cukup keras untuk mencapai eksistensi drinya. Problematika bahkan diskriminasi yang berlapis bagi lesbian menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi lesbian untuk berstrategi dalam pencapaian eksistensi dirinya sebagai seorang manusia. Ada dua hal yang menjadi problematika bagi lesbian yang harus terselesaikan untuk mencapai eksistensi dirinya, yang pertama adalah penerimaan diri, yang bersifat internal dalam diri seorang lesbian. Dan yang kedua adalah kemampuan untuk mendeskripsikan dirinya yang menitikberatkan pada kesadaran diri yang kritis untuk mencapai haknya sebagai manusia yang bertanggung jawab atas dirinya.

Untuk lebih memahami bagaimana eksistensi diri seorang lesbian dan heteroseksual, dalam sub bab ini penulis akan lebih menggambarkan mulai dari proses mengenal diri seorang lesbian dan hetersoseksual. Dalam proses mengenal siapakah lesbian dan

(22)

heteroseksual ini, akan difokuskan pada deskripsi awal yang penting untuk diketahui bersama, yaitu deskripsi diri dari seorang Kris (lesbian) dan Roh (heteroseksual). Deskripsi lesbian dan heteroseksual disini bukan untuk membandingkan, tetapi untuk membantu menggambarkan bagaimana seorang diri membangun eksistensinya. Bahwa eksistensi setiap orang adalah relatif, proses dan capaiannya tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lain. Namun pemaparan eksistensi diri seorang lesbian dan heteroseksual disini adalah untuk melihat bagaimana proses penerimaan diri dari seseorang atas diri dan pilihan kehidupannya. Pada bagian ini penulis akan memaparkan identitas dan latar belakang dari Kris dan Roh. Dengan dua studi kasus ini diharapkan akan menemukan pola eksistensi diri seorang manusia yang beragam, dan apapun orientasi seksualnya. Studi kasus yang pertama adalah mengenal siapa Kris, dan apa yang melatar belakangi kehidupan Kris dan keluarganya.

“Aku lahir di kota Purwodadi, kini usiaku sudah jalan 33 tahun. Di Purwodadi aku tinggal bersama kakak, adik dan kedua orang tua ku. Aku dulu sangat dekat dengan orang tua, kedekatan itu membuat aku merasa disayangi sebagai bagian dari keluarga. Aku sangat dekat dengan ibu ku sampai sekarang, mungkin karena ibu ku selalu dirumah dan sangat memperhatikan anak-anaknya. Dengan bapak juga cukup dekat tetapi karena bapak ku bekerja di PJKA, jadi aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu ku, kami sering bersama sampai aku lulus SMA. Setelah lulus SMA tahun 2000 aku ke Semarang untuk cari pekerjaan. Pertama kali aku bekerja dipabrik roti di Semarang. Tapi pekerjaan di pabrik roti itu hanya untuk mengisi waktu luang sampai ijasah SMA ku bisa diambil. Nah pas ijasah ku sudah keluar dan aku ambil, aku keluar kerja dari pabrik roti, lalu aku ke Jakarta untuk cari kerja yang lain, karena aku sudah bisa pakai ijasah ku untuk mencari pekerjaan”.

Dari profil diri singkat yang disampaiakan oleh Kris diatas dapat menjadi sebuah awalan untuk mengenal Kris. Melihat bagaimana latar belakangnya dan bagaimana kehidupan Kris bersama dengan keluarganya. Tumbuh dalam keluarga yang terbangun kedekatan dan kasih sayang. Dengan usia yang sudah dewasa, dan pendidikan sampai pada jenjang sekolah menengah atas yang ia selesaikan. Pengalaman

(23)

kerja yang dia miliki hingga saat ini adalah dilingkungan pabrik, tempat dimana Kris memulai proses dalam dirinya di usia dewasa.

Dalam studi kasus yang kedua ini akan membahas juga mengenai deskripsi diri seorang Roh. Untuk memahami bagaimana diri Roh, penulis mencoba mendeskripsikan diri dan latar belakang keluarga Roh.

“ Saya asli Salatiga, usia ku kini 43 tahun. Aku menjalani hidupku selama 43 tahun dengan banyak pengalaman baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan tempat aku kerja. Aku anak ketiga dari 5 sodara. Mungkin aku yang beda dari yang lain, lulus SMP aku merasa diriku sudah berbeda. Bapakku itu tokoh NU, dan semua orang tau. Aku tau bapak ku orang yang punya prinsip dalam hidupnya. Mungkin itu yang menurun di aku. Ya tentunya pemikiran bapak yang cukup terbuka melatar belakangi apa yang ada pada diriku sekarang”.

Usia yang hampir setengah abad, dengan proses perjalanan kehidupan yang panjang telah di lalui oleh Roh. Latar belakang keluarga NU, memperkuat prinsip dan keyakinan Roh dalam menjalani setiap proses dalam hidupnya. Pendidikan yang hanya diselesiakan pada jenjang sekolah menengah pertama tidak menjadi sebuah halangan bagi Roh untuk menjadi orang yang terus membangun kediriannya.

Deskripsi Modal Pengetahuan Seorang Lesbian dan Heteroseksual

Memahami diri adalah sebuah proses yang terus dinamis dan berkembang. Namun dalam perkembangannya membutuhkan sebuah pemahaman atas pengetahuan akan konsep yang terkait dengan pilihan atas hidup masing-masing. Seorang lesbian maupun seorang heteroseksual memiliki sebuah cara untuk memahami apa yang ada di dalam dirinya. Pilihan atas kehidupannya, bersama dengan seorang perempuan atau laki-laki, atau bahkan pilihan untuk menjalani hidup tanpa pasangan adalah proses dialog yang tentunya membutuhkan pemahaman atas beberapa hal yang terkait dengan seksualitas. Pada

(24)

sub bab ini penulis akan menggambarkan bagaimana Kris dan Roh memahami istilah-istilah yang lekat dalam pilihan kehidupan mereka.

Ada beberapa istilah yang akan coba dideskripsikan oleh Kris dan Roh untuk melihat pengetahuan yang telah mereka miliki sebagai sebuah modal untuk berproses dalam kesadaran kritis akan makna pilihan hidup masing-masing untuk sampai pada penerimaan diri dan pencapaian eksistensi diri.

“Kalau menurutku seks itu lebih kepada jenis kelamin biologis, kalau seksualitas itu lebih luas bukan hanya sebatas hubungan seksual. Seksualitas itu di dalamnya juga menyangkut masalah cinta, mengekspresikan diri, emosi, kemudian termasuk perspektif dan bagaimana memahami diri dan tubuh kita. Gender itu lebih kepada pemahaman atas pembedaan sifat peran dan posisi antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial di masyarakat, tetapi dengan pembedaan sifat tersebut akan muncul ketidakadilan. Sedangkan istilah lesbian itu adalah seorang perempuan yang tertarik dengan perempuan lainnya, tetapi tidak hanya masalah cinta atau melihat dari fisik saja, tetapi juga hal lain seperti emosi dan seksual.

Dari apa yang aku ketahui homoseksual itu adalah rasa tertarik, seperti perasaan, emosi, kasih sayang, bisa berhubungan fisik ataupun tidak pada sesama jenis. Kalau heteroseksual ya ketertarikan dengan lawan jenis. Dulu sebelum aku ikut diskusi di Effort ya aku sering mendengar istilah-istilah itu. Aku tau tentang istilah itu, tetapi saat bergabung dikomunitas, ada banyak diskusi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut, dan itu membuatku menjadi lebih paham karena ternyata bukan maslah suka atau cinta tetapi ketertarikannya bisa dalam berbagai hal yang luas”.

Dari pemaparan di atas, Kris dan Roh cukup memahami benar istilah-istilah yang lekat dengan pilihan atas kehidupan mereka. Konsep seksualitas yang digambarkan diatas menjadi sebuah modal dalam diri untuk terus membangun keyakinan akan hidup masing-masing. Dengan memahaminya pun akan membantu dalam proses berdialog dengan diri. Hal tersebut pun akan mempengaruhi bagaimana kesadaran diri, dan kekritisan diri dalam menghadapi pemahaman yang telah menjadi konstruksi sebagian masyarakat tentang lesbian dan heteroseksual yang memutuskan untuk tidak

(25)

menikah. Sehingga Kris dan Roh akan berproses untuk mencari makna atas seksualitas mereka masing-masing, bukan karena pemahaman orang lain melainkan atas pemahaman yang dimiliki oleh diri.

Deskripsi Modal Pengetahuan Praksis Seorang Lesbian dan

Heteroseksual

Dari deskripsi yang ada pada sub bab tentang pengetahuan formal pada Kris dan Roh diatas, akan terkait dengan deskripsi praktis. Konsep yang ada saling berkaitan, istilah yang berkembang dan penamaan yang dipakai dalam mendeskripsikan diri mereka juga menjadi penting untuk dipahami. Pemahaman atau pemaknaan atas penamaan yang melabeli masing-masing sebagai lesbian ataupun heteroseskual juga menjadi sebuah modal bagaimana Kris dan Roh memahami apakah ada perbedaan yang signifikan atas orientasi seksual. Ataukah penamaan yang selama ini mereka ketahui dan yang berkembang di lingkungan dan komunitas memiliki deskripsi yang berbeda atau hanya sebagai sebuah alat untuk benar membedakan manusia sesuai dengan kotaknya masing-masing.

“Dari dulu sampai sekarang ya lesbian yang aku pakai untuk mengidentifikasikan perempuan yang tertarik terhadap sesama perempuan. Dari dulu penamaan itu yang dipakai, tetapi sebenarnya aku merasa penamaan itu tidak terlalu penting. Dengan teman-temanku ditempat kerja aku rasa semua memakai istilah itu, direlasi dan dikomunitas pun untuk menamakan dan memahami perempuan yang tertarik dengan perempuan ya dengan istilah atau penamaan lesbian.

Kalau maknanya sendiri lesbian adalah ketertarikan secara banyak hal dari seorang perempuan pada perempuan lainnya bukan hanya masalah seksual, tetapi bagaimana aku mengekspresikan serta mengaktualisasikan diri ku dengan pilihanku. Tapi bagiku maknanya tidak harus dibedakan, atau bisa dikatakan sama saja, karena intinya menjalin hubungan dengan siapapun itu kan sama saja. Mau dengan laki-laki atau perempuan sama, yang penting tidak saling menyakiti dan merugikan satu sama lain.

(26)

Istilah atau definisi tentang lesbian itu kan masing-masing, dikomunitas kita belajar banyak hal termasuk memahami benar tentang kehidupan dan juga orientasi seksual, tetapi bukan untuk mencari kesepakatan tapi mencoba menghargai berbagai keragaman yang ada disekitar kita kan”.

Istilah yang dipakai oleh Kris, komunitas maupun lingkungan sekitarnya adalah sama yaitu lesbian. Bahwa yang terpenting adalah memaknai dirinya sebagai seorang perempuan yang tertarik pada perempuan lainnya bukan hanya karena masalah seksual, melainkan bagaimana seorang diri mengaktualisasikan dirinya dengan baik tanpa merugikan dan menyakiti orang lain. Dan komunitas cukup membantu Kris untuk lebih memahami tentang orientasi seksualnya dan memahami bahwa keberagaman orientasi seksual apapun itu harus dihargai.

Demikian juga dibawah ini Roh akan mendeskripsikan pemahaman dan penggunaan istilah atau penaman yang dia pakai dalam mendeskripsikan dirinya. Tidak hanya deskripsi dari Roh dengan pemahamannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana penamaan yang dipakai di komunitas dan lingkungan sekitranya.

“Istilah yang aku dengar dan sering aku pakai untuk menamai seorang yang tertarik dengan lawan jenis ya heteroseksual. Dikomunitas pun sama, penamaan yang dipakai juga heteroseksual dan lesbian. Tetapi mungkin ketika kita berdialog bersama dengan teman heteroseksual maupun lesbian, kita tidak menggunakan istilah itu, karena akan membuat pembedaan. Tapi satu hal yang coba aku pikirkan adalah sepertinya siapapun orangnya mau tertarik dengan siapapun, yang sama adalah proses membangun relasi dengan sesama haruslah tanpa kekerasan dan tidak saling merugikan.

Di dalam komunitas dengan setiap kegiatan atau obrolan, kita sering juga mendiskusikan tentang keberagaman orientasi seksual, dan istilah atau penamaannya sama. Menurutku penamaan itu masing-masing, bukan menjadi kesepakatan, tetapi karena dilingkungan manapun memakai istilah itu, kita juga mempermudah dengan memakai istilah itu”.

Istilah atau penaman yang dipakai oleh Roh dalam menamai ketertarikan atau relasi dengan lawan jenis adalah heteroseksual,

(27)

begitu juga dengan komunitas. Namun istilah tersebut jarang dipakai dalam diskusi dengan komunitas maupun kelompok 2 lesbian, karena akan membuat pembedaan. Proses membangun relasi yang coba digambarkan Roh adalah proses yang tanpa kekerasan dan membangun tanpa merugikan satu sama lain apapun orientasi seksualnya. Menurut Roh istilah atau penamaan hanya untuk mempermudah dalam berdiskusi.

Uraian Kris dan Roh diatas menggambarkan bahwa istilah atau penamaan lesbian maupun heteroseksual dipakai disemua kalangan, bukan hanya diri pribadi, tetapi komunitas dan lingkungan sekitar mereka. Bagi Roh dan Kris istilah tersebut tidak memiliki makna tertentu, hanya untuk menjelaskan ketertarikan mereka kepada seorang laki-laki atau perempuan. Komunitas cukup membantu Kris dan Roh memahami tentang keberagaman orientasi seksual. Tetapi bukan kesepakatan istilah yang coba untuk dicapai melainkan memahami benar makna keberagaman.

Kris mendefinisikan istilah perempuan yang memiliki ketertarikan kepada perempuan lainnya adalah lesbian. Bahwa istilah lesbian sebagai sebuah varian orientasi seksual dia ketahui tidak hanya ketika bergabung dan berkegiatan bersama komunitas. Istilah tersebut sudah Kris ketahui dari dulu. Tidak ada beda antara pemahaman istilah sebelum dan sesudah Kris bergabung dikomunitas. Kris menyatakan bahwa istilah lesbian bukanlah kesepakatan didalam komunitas, melainkan penamaan yang dia kenal dari dulu untuk mendeskripsikan perempuan yang memiliki ketertarikan kepada perempuan lainnya. Hampir sama dengan Kris, Roh menyatakan bahwa diskusi dengan komunitas sangatlah beragam, bahwa keberagaman orientsi seksual juga menjadi bahan diskusi. Walaupun sebelumnya Roh juga cukup memahami tentang istilah yang dipakai untuk mendefinisikan ketertarikan dengan lawan jenis adalah heteroseksual.

Namun dalam obrolan bersama dengan Kris dan Roh terdapat sebuah hal yang cukup penting dan berbeda. Bahwa rasa ketertarikan dengan siapapun dan apapun jenis kelaminnya, itu adalah relasi yang

(28)

harus dijalani dengan baik, tidak ada yang berbeda karena relasi itu dibangun oleh sesama manusia. Di komunitas setiap individu sama-sama belajar banyak hal bukan untuk mencari sebuah kesepakatan, melainkan untuk menghargai berbagai keragaman yang ada disekitar dan mencoba memahami kehidupan yang luas.

Sejarah Penerimaan Diri Seorang Lesbian dan Heteroseksual

Dari beberapa uraian pada bagian diatas, adalah modal yang dimiliki oleh seorang lesbian dan heteroseksual untuk mencapai penerimaan dan eksistensi diri. Akan ada banyak dialog dalam mendeskripsikan bagaimana seorang lesbian dan heteroseskual menjalani prosesnya atas apa yang menjadi pilihan hidupnya. Proses berpikir, menyadari, dan bertanggung jawab penuh atas pilihan adalah bagian dari perjalanan yang penting. Penerimaan dan eksistensi diri ini erat kaitannya dengan pola dialog dengan diri sendiri untuk lebih mengenali dan memahami diri.

Yang menjadi penting dalam menggambarkan bagaimana dinamika penerimaan dan eksistensi diri adalah dengan mendeskripsikan hal yang terkait langsung dengan diri lesbian dan heteroseksual. Termasuk di dalamnya adalah keputusan untuk berelasi atau tidak, menikah atau tidak, dan tentunya pola dialog yang dibangun dengan relasi maupun lingkungan disekitarnya. Penerimaan diri juga erat kaitannya dengan latar belakang diri dan pasangan. Selain itu konflik atau problematika yang muncul dalam setiap keputusan akan pilihan yang diambil juga merupakan sebuah proses untuk membangun dan mencapai penerimaan dan eksistensi diri.

Dalam setiap tindakan yang dijalankan atas dasar pemikiran yang matang baik lesbian maupun heteroseksual pasti memiliki tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan tersebut bisa saja untuk diri, ataupun relasi yang dibangun dengan pasangan atau lingkungan sekitar. Hal yang terpenting lainnya dalam proses ini adalah dialog tentang seksualitas

(29)

yang utuh, tidak terpecah hanya pada urusan berpasangan atau tidak berpasangan saja. Melainkan proses memahami dan menerima diri sebagai bagian dari pemenuhan ruang privat seorang diri.

Proses penerimaan dan eksistensi diri dari seorang lesbian maupun heteroseksual juga merupakan sebuah proses yang tidak dapat terlewatkan dari bagaimana dialog tentang diri dan kegiatan bersama dengan komunitas. Proses dialog dengan diri, keluarga dan komunitas juga menjadi sebuah gambaran dinamika penerimaan diri. Yang menjadi point penting dalam sub bab ini adalah deskripsi tentang proses dialog dengan diri tentang orientasi seksual lesbian dan keputusan tidak menikah bagi seorang heteroseksual. Dua hal yang berbeda tetapi menghadirkan problematika di dalam diri dan lingkungan sekitar masing-masing individu.

Menuju pada proses eksitensi diri membutuhkan begitu usaha keras dari masing-masing individu. Ada banyak harapan dari diri seorang lesbian dan heteroseksual yang memutuskan untuk tidak menikah, harapan yang ditujukan pada diri dan lingkungan sekitarnya. Pengaruh lain yang tidak bisa dilewatkan dalam dinamika eksistensi diri ini adalah bagaimana agama dan budaya memiliki andil yang cukup besar. Bahwasanya agama dan budaya tidak akan pernah terlepaskan dari diri dan lingkungan sosial dalam memahami diri seorang lesbian dan heteroseksual yang tidak menikah. Karena didalam lembaga Effort ada dua kelompok yang berdiskusi didalam forum yang sama, dialog menjadi sangat beragam. Proses-proses tersebut juga erat dengan membangun penerimaan dan eksistensi diri. Proses dialog diri seorang lesbian dengan heteroseksual dalam forum diskusi yang sama akan cukup menarik untuk dideskripsikan. Tanggapan dan juga persoalan yang ada pada proses interaksi lesbian dan heteroseksual juga dapat menjadi sebuah proses untuk lebih mematangkan diri dalam penerimaan dan eksistensi dirinya.

Pembahasan pada bagian ini akan mendeskripsikan bagaimana diri seorang Kris berproses dalam penerimaan diri dan eksistensi dirinya sebagai seorang lesbian. Proses dialog dengan diri, pasangan,

(30)

komunitas dan dengan lingkungan sekitarnya. Setiap orang pasti memiliki proses berdialog dengan diri atas apa yang dipikirkan, dirasakan dan diinginkan. Termasuk proses dialog diri yang dilakukan oleh Kris, atas kehidupannya, ketertarikannya dan proses lain didalam hidunya. Proses dialog dengan diri yang dilakukan oleh Kris juga merupakan sebuah tahapan untuk proses penerimaan diri dan eksistensi dirinya. Penggalan cerita dari Kris dibawah ini akan menggambarkan bagaimana proses dialog yang telah dilakukan untuk memahami dan menerima dirinya.

“Berdialog dengan diri sendiri membuatku lebih banyak belajar tentang bagaimana aku menjalani hidup. Sampai pada titik dimana akhirnya aku juga berpikir untuk lebih hati-hati ketika mau menjalin relasi atau berpasangan, karena aku tidak mau kekerasan yang terjadi padaku terulang.

Aku menjalani hidupku dengan ketertarikanku mungkin tidak mudah, banyak hal yang belum bisa diterima oleh banyak orang yang belum mengenalku. Jika masyarakat masih menilai karena agama yang mereka pahami masih menolak lesbian, itu tidak menjadi pengaruh buat ku. Aku cukup merasa bersyukur karena teman-teman di Effort, khususnya yang kelompok 1 heteroseksual menerima ku apa adanya, termasuk orientasi seksualku. Mungkin karena dikomunitas dibangun budaya untuk tidak saling menilai, namun hanya menghargai bahwa setiap orang yang datang dikomunitas adalah untuk belajar bersama tentang banyak hal, jadi ya biasa saja.

Ada beberapa hal yang selalu ingin aku sampaikan pada teman-teman lesbian lainnya, Jadilah diri sendiri apa adanya, hargai diri sendiri, dan teruslah banyak belajar, karena kita akan memahami banyak hal termasuk diri kita sendiri dan tentunya kehidupan harus terus berjalan dengan baik.

Di akhir tahun 2009 aku ikut pelatihan di Effort. Itu pelatihan tentang HIV/AIDS, disitu aku diberi kesempatan untuk bercerita tentang kekerasan yang aku alami waktu aku berpasangan. Aku cerita pengalamanku berpasangan yang sering sekali ada perlakuan kasar dari pasanganku. Di kesempatan itulah secara tidak langsung teman-teman kelompok di Effort mengetahui bahwa aku lesbian. Mereka sangat mengerti, mereka juga tidak menyalahkan atau menolakku. Dari apa yang aku sampaikan akhirnya menjadi sebuah dialog. Seorang teman bercerita kalau saudaranya ada yang lesbian, dan proses itu menjadi sebuah diskusi dan dialog

(31)

untuk kita semua. Sampai pada akhirnya ada satu orang teman yang bilang bahwa pilihanku adalah hakku.

Dialog yang terjadi antara aku dan teman-teman di pelatihan itu, maupun kegiatan lain setelah pelatihan itu membuat kita lebih saling menghargai, membangun dan membebaskan. Tidak ada pengaruh negatif, karena setiap kehidupan teman-teman adalah sumber belajar yang baik bagi kita”.

Dalam proses kehidupan yang dijalani oleh Kris, relasi yang terbangun dengan pasangan juga menjadi sumber dialog bukan hanya dengan pasangan maupun komunitas saja. Namun relasi yang terbangun dengan pasangannya menjadi sumber dialog bagi diri, untuk lebih memahami makna atas relasi yang dibangunnya.

“Beberapa pasanganku dulu mengenal teman-teman di Effort, bahkan terkadang mereka ikut, tapi aku belum sampaikan pada keluarga ku tentang kegiatan ku di Effort, karena kita jarang sekali ketemu dan tinggal dikota yang beda. Tapi ada beberapa teman dari Effort yang pernah ke rumah dan berkenalan dengan keluargaku. Sampai saat ini aku masih terus belajar menerima diriku dengan orientasi seksual ku. Aku mau belajar banyak hal, agar aku jadi orang yang lebih baik. Aku juga mau melakukan sesuatu yang berguna bagi orang disekitarku. Aku tidak memiliki banyak keinginan, aku hanya ingin dihargai sebagaimana adanya diriku, itu saja sudah membuat ku senang. Kini aku hanya berpikir bahwa aku harus melakukan yang terbaik, dan tetap aku terus banyak belajar.

Aku membangun relasi dengan pasanganku bukan karena suatu hal yang melatarbelakanginya. Yang aku pikirkan ketika berpasangan hanyalah masalah kenyaman diri. Dulu aku berpasangan bukan karena melihat fisiknya, tetapi berpikir tentang kenyamananku dan kenyamanan pasanganku. Awalnya aku berpasangan atau berpacaran dengan seorang perempuan dikelasku dulu, namanya Ayu. Proses itu terjadi saat aku SMA kelas 3 ditahun 2000. Aku dulu seorang yang pemalu, jadi waktu aku mau bilang suka pada Ayu aku kirim surat. Dan Ayu juga membalasnya dengan surat. Pada waktu aku SMA belum ada siswa yang menggunakan handphone, jadi aku menggunakan surat. Dan alasan lain adalah karena aku pemalu jadi aku pakai surat, akau bilang kalau aku tertarik dengan Ayu, mungkin dulu isi suratnya aku bilang bahwa aku suka sama dia. Dan aku tidak perlu menunggu lama untuk tau jawaban dari Ayu, karena setelah itu Ayu membalas suratku

(32)

dan bilang kalau dia juga suka dengan aku. Setelah itu kita resmi berpacaran.

Saat masih SMA aku merasa tidak ada permasalahan diantara aku dan teman-teman ketika meraka tau bahwa aku berpasangan dengan Ayu, karena mungkin orang belum tau banyak tentang lesbian. Jadi cukup berbeda dengan kondisi yang sering aku dengar sekarang ini. Begitu banyak maslah ketika orang lain mengetahui orang disekitarnya memiliki orientasi seksual lesbian. Teman-teman disekolahku tau kalau kami berpacaran, dan mereka biasa saja, layaknya melihat teman-teman lain yang berpacaran. Mungkin karena dulu kita belum begitu paham dan tau apa itu lesbian atau heteroseksual. Jadi yang kita tau dulu kalau kita sama suka bisa saja jadi berpacaran. Jadi dulu aku berpacaran dengan Ayu ya biasa-biasa saja”.

Proses demi proses dilalui oleh Kris, pengalaman menjadikan sumber belajar untuk menjadi seorang yang lebih baik. Dalam relasi yang Kris bangun dengan pasangannya juga akan menumbuhkan refleksi atas seluruh proses yang telah dilaluinya. Dari pemaparan Kris dibawah ini, akan menunjukkan bagaimana seorang Kris memahami makna relasi yang dia bangun ketika dia menyadari makna yang sebenarnya atas relasi berpasangan.

“Cerita yang lain dalam hubunganku dengan pasangan adalah ketika aku membangun relasiku dengan Nia. Dengan relasi ini aku merasa banyak sekali berdialog dengan diriku sendiri. Ketika aku dan Nia harus berpisah, aku hanya berpikir kira-kira apa yang terbaik untukku dan Nia. Karena waktu itu aku tau orang tua Nia tidak bisa menerima hubungan ku dengan Nia. Saat itu orang tua Nia datang dan menjemput Nia untuk pulang ke Pacitan karena orang tua Nia mengetahui hubunganku dengan Nia. Dan aku merasa sangat panik, aku ingin menyusul Nia ke Pacitan dan menayakan tentang hubungannya denganku. Tanpa berpikir panjang aku mengadaikan BPKB motorku untuk biaya perjalananku, ya karena waktu itu aku tidak punya cukup uang untuk menyusul Nia ke Pacitan. Saat itu aku memang baru saja keluar dari pekerjaan, dan ada beberapa teman di Effort yang mengetahui itu. Malam disaat aku sampai ke Pacitan, ada salah seorang teman Effort yang menelepon ku dan menawari pekerjaan di salah satu pabrik di Ungaran. Dari hal itu aku mulai berpikir keras, antara aku tetap di Pacitan untuk bertemu dengan Nia, ataukah aku kembali ke Ungaran untuk menerima pekerjaan itu.

(33)

Setelah aku berpikir dengan mempertimbangkan banyak hal, malam itu juga aku memutuskan untuk kembali ke Ungaran. Yang mejadi proses dialog dengan diriku sendiri wakku itu adalah memang aku sayang dengan Nia, tapi tidak selalu aku harus mengikat atau memiliki orang yang aku sayangi. Aku hanya berpikir kalau aku sayang dengan seseorang, haruslah saling membebaskan, saling menghargai proses kita masing-masing. Kita harus saling berkembang. Ya itulah kenapa waktu itu aku memutuskan untuk kembali ke Ungaran.

Persoalan dalam relasi berpasangan pastilah dialami oleh setiap orang. Seperti halnya dengan Kris ketika membangun relasi berpasangan. Banyak problematika yang uncul ditenga-tengah kehidupan yang dia jalani. Dinamikanya sangat komplek, tidak hanya maslah ekonomi, komunikasi, aktivitas seksual, namun terkadang juga terdapat kekerasan yang terjadi didalam relasi yang dibangunnya.

“Masalah lain dalam hubunganku berpasangan waktu aku berelasi dengan Titi. Waktu aku keluar dari pabrik, Titi mengajakku pergi ke Bali untuk bekerja. Tapi sebelum aku pergi ke Bali ternyata orangtuaku datang kekostanku, karena mereka tidak ketemu aku dan waktu itu hanya ada Titi dikost, ibuku titip surat pada Titi untukku. Tapi surat itu sampai sekarang belum pernah aku baca. Dan itu aku baru tau setelah aku putus sama Titi.

Ketika di Bali aku dapat pekerjaan, tapi tidak satu tempat dengan Titi, kami kerja ditempat yang berbeda. Kami jalani kehidupan bersama, tinggal dikost yang sama juga. Tidak lama setelah kami di Bali banyak masalah yang muncul. Pertama karena Titi menanggap kita kekurangan dari segi ekonomi. Kalau pas Titi marah karena masalah uang, dia sering kali memaki dan bahkan memukul ku. Dia sering lakukan itu padaku. Malah hampir setiap hari dia berlaku kasar padaku. Tidak hanya karena masalah uang, masalah seksual juga menjadi problem dalam hubunganku. Kalau aku menolak ajakan Titi untuk melakukan hubungan seksual, Titi selalu marah dan berlaku kasar padaku. Titi tidak mau mengerti kondisiku. Biasanya setelah selesai kerja aku sangat merasa capek, tapi dia selalu mengajak untuk berhubungan seksual, dan kalau aku menolak karena aku capek, di selalu marah. Ya memang aku tidak pernah bilang dengan Titi tentang kondisiku. Aku merasa Titi tau kalau seorang pulang kerja pasti akan merasa capek. Tidak cuma karena itu saja, karena aku gak

Referensi

Dokumen terkait

Analisis data yang digunakan adalah analisis reliability dan analisis biaya penggantian pisau cane cutter untuk mengetahui interval waktu optimum penggantian pisau

Apabila konversi dimulai maka counter akan naik dari 0000 ke 0001 karena mendapatkan pulsa masuk dari Clock oscillator dimana saat itu keluaran Comparator = 1, karena

Berdasarkan angka 1 s.d 2 diatas, Pokja Jasa Konsultansi dan Jasa Lainnya pada ULP Kabupaten Bengkulu Utara Mengumumkan Peringkat Teknis peserta seleksi umum paket

Karyawan yang telah gagal mempersepsikan pengembangan karirnya maka akan berakibat pada turunnya keterlibatan karyawan dalam pekerjaannya yang nantinya akan menimbulkan kerugian

Dari hasil analisis saya pada video tersebut menunjukan bahwa sepasang suami istri yang sedang terpisah oleh jarak namun disisi lain sang istri sedang mengandung yang tak lama

Dari hasil penelitian tahun 2012 diketahui bahwa pengawasan keuangan yang dilakukan dewan perwakilan rakyat daerah kota Medan masih ada yang belum sesuai dengan

Hasil percobaan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Euclidian kuadrat cenderung memiliki waktu eksekusi yang lebih cepat dan jumlah node yang diperiksa lebih

As above mentioned that the EPM and MWM tests performed to the rats during this study could increase serum corticosterone level and lead decrease the prefrontal cortex