• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Love Style Ditinjau Dari Gender

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perbedaan Love Style Ditinjau Dari Gender"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN LOVE STYLE DITINJAU DARI GENDER

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

Oleh : MUHTADI F100130013

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2018

(2)
(3)
(4)
(5)

1

PERBEDAAN LOVE STYLE DITINJAU DARI GENDER

Abstrak

Cinta seperangkat emosi yang kompleks pada invidu terhadap rangsangan tertentu yang mempengaruhi cara berpikir dan tingkah laku individu. Hal tersebut menunjukan, cinta dikenal dengan kasih sayang, kepedulian, dan kebahagiaan ternyata memiliki beberapa gaya cinta (love style) yang menguras emosi bahkan menyebabkan individu teresebut tertekan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik tentang perbedaan love style mahasiswa ditinjau dari gender. Penelitian ini dilakukan dengan metode Kuantitatif dengan 150 subjek yang dibagi 75 laki-laki 75 perempuan dan sesuai dengan kriteria dewasa awal. Hasil penelitian ditemukan adanya perbedaan yang siginifikan pada aspek ludos (cinta main-main), storage (cinta kawan baik), dan Agape (cinta tanpa pamrih) dengan nilai signifikan < 0,05 (dibawah 0,05). Sedangkan aspek eros (cinta romantik), mania (cinta posesif), pragma (cinta realitas) memiliki skor > 0,05 (diatas 0,05) yang artinya tidak ada perbedaan love style antara laki-laki dan perempuan.

Kata kunci : Cinta, Dewasa Awal, Love Style

Abstract

Love is set of complex emotions in invidu to certain stimuli that affect thinking and behavior of individuals. Love that is known as affection, care and happiness have several styles of love that emotionally draining and even cause people depressed. The purpose of this research is examine empirically about differences of student’s love style in terms of gender. This study was conducted by quantitative method with 150 subjects divided 75 male 75 female that according to the criteria of early adulthood. The research found significant differences in the aspect Ludos (love messing around), storage (good friend love), and Agape (selfless love) with significant value <0.05 (below 0.05). While aspects of eros (romantic love), mania (possessive love), Pragma (love reality) has a score of > 0.05 (above 0.05), which means there is no love style differences between men and women.

Keywords: Love, Early Adulthood, Love Style 1. PENDAHULUAN

Percintaan atau Cinta akan selalu menjadi topik yang hangat bagi setiap kalangan muda maupun yang tua, dapat dilihat dari drama, lirik lagu, film, puisi, komik, novel, bahkan gosip tentang cinta (Wisnuwardhani & Mashoedi, 2012). Sehingga pada saat ini cinta menjadi tema populer pada riset ilmiah (Taylor, Shelley , Sears, dan Peplau 2009). Antonucci mengatakan bahwasanya, kelompok yang tidak

(6)

2

lepas dari masalah percintaan adalah seseorang yang sedang dalam tahap perkembangan dewasa awal (Saragih dan Irmawati, 2006). Dibandingkan dengan masa remaja kehiduapan psikososial dewasa awal lebih komplek apalagi yang memilih ke pendidikan yang lebih tinggi. Mencari dan menemukan pasangan hidup yang serius menuju jenjang pernikahan adalah salah satu tugas perkembangan dewasa awal (Hurlock, 2004). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan peneliti dengan 50 subjek didapati hasil laki-laki cinta pada pandangan pertama 65 % sedangakan wanita 35 % selain itu cinta yang berorientasi pada pernikahan dan komitmen skor pada laki-laki dan perempauan seimbang dengan skor masing-masing 50 %. Selain itu hasil riset juga menunjukkan ada perbedaan seks dalam gaya percintaan, laki-laki lebih cenderung pada gaya bercinta romantik, main-main atau egosentric, sementara perempuan cenderung pada gaya cinta persahabatan, obsesive atau inscure atau pragmatik (Dayakisni & Hurdaniah, 2009). Berdasarkan latar belakang diatas dan permasalahan yang dialami oleh mahasiswa, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan rumusan masalah “apakah ada perbedaan tentang love style apabila ditinjau berdasarkan gender?”. Melihat dari rumusan masalah diatas, peneliti lebih lanjut

dengan mengadakan penelitian yang berjudul “Perbedaan Love Style ditinjau dari

Gender”.

Menurut Robert Sternberg (1988) cinta bukanlah suatu kesatuan tunggal, melainkan gabungan dari berbagai perasaan, hasrat, dan pikiran yang terjadi secara bersamaan sehingga menghasilkan perasaan global yang dinamakan cinta. Sternberg menjelaskan bahwa ada tiga komponen cinta, yaitu : keintiman (intimacy), gairah (passion) dan komitmen (commitment). Keintiman Yang meliputi perasaan keterikatan, kedekatan, keterhubungan, Passion Yang meliputi antara cinta yang romantis dan daya tarik seksual. Komitmen Yakni keputusan untuk tetap bersama pasangan dalam waktu yang panjang (Baron & Byrne, 2004). Zick Rubin (1970) mengakatakan bahwa cinta sebagai sikap terhadap orang lain dalam bentuk sekumpulan pikiran yang berbeda terhadap orang yang dianggap istimewa, yang mempengaruhi cara berpikir dan bertingkah laku. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa cinta adalah seperangkat emosi yang kompleks pada individu terhadap rangsangan tertentu yang mempengaruhi cara berpikir dan tingkahlaku individu tersebut.

(7)

3

Hendrick & Hendrick (1986) mengungkapkan bahwasanya tidak ada satupun yang dapat mengambarkan apa itu cinta. Pada akhirnya cinta merupakan keadaan emisioanal dan mental yang kompleks. Hasil penelitian Kanin, Davidson, dan Sheck menujukan bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan mengalami perasaan-perasaan yang bersifat psikologi dan diikuti oleh beberapa reaksi fisiologis (Irmawati dan Saragih, 2005). reaksi tersebut yang dinamakan Love Style. Menurut Jhon Lee (1973) Love Style merupakan dorongan atau reaksi kepada orang yang dicintai atau tanggapan yang terjadi saat rangsangan emosi itu ada. Jhon Lee mengungkapkan 6 gaya cinta yaitu eros (cinta romantis), ludos (cinta main-main),stronge (cinta persahabatan),mania (cinta posesif), pragma (cinta realistis), agape (cinta tanpa pamrih). Faktor yang mempengaruhi Love style menurut Hendrick & Hendrick (1986) adalah pengalaman, usia, lingkungan dan jenis kelamin.

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik tentang perbedaan love style mahasiswa ditinjau dari gender. Hipotesis dari penelitian ini adalah ada perbedaan Love style ditinjau dari gender.

2. METODE

Jenis penelitian ini yaitu menggunakan penelitian kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas X Surakarta, yang berjumlah 150 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proposive random sampling. Alat pengumpulan data berupa skala Love attitude scale (Hendrick & Hendrick, 1986) yang teradpatasi untuk mengukur gaya cinta mahasiswa. Skala ini berjumlah 35 aitem yang mengukur enam gaya aspek Love Style. Skala LAS disusun berdasarakan aspek Love Style menurut Jhon lee (1973) yaitu : 1.cinta romantic (eros), 2. Cinta main-main ( Ludos), 3. Cinta kawan baik (storange), 4. Cinta posesif (mania), 5. Cinta pragmatis (pragma), 6. Cinta tanpa pamrih (agape). Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui keakuratan sebuah data sesuai dengan maksud ukurnya. Pengujian terhadap validitas dilakukan dengan menggunakan validitas isi. Validitas isi merupakan pengujian terhadap isi tes dengan melibatkan analisis dari beberapa expert atau penilai yang berkompeten (expert judgement) untuk memutuskan kelayakan suatu aitem (Azwar, 2012).

(8)

4

Penghitungan uji validitas dilakukan dengan menggunakan formula Aiken’s V yang digunakan untuk menghitung content validity coefficient. Penghitungan ini didasarkan pada hasil analisis dari beberapa penilai terhadap suatu aitem dari segi dimana aitem tersebut relevan dengan konstruk yang diukur.

Dari hasil penilaian expert judgement dan perhitungan dengan formula Aiken’s V, skala Love style menggunakan standar validitas sebesar 0,667. Untuk aitem dengan hasil validitas dibawah 0,667 (<0,667) maka dinyatakan tidak layak dimasukkan sebagai alat ukur penelitian. Sedangkan aitem dengan hasil validitas sama atau lebih besar dari 0,667 (≥0,667) maka dinyatakan layak dimasukkan dalam skala penelitian. Berdasarkan hasil penghitungan dengan formula Aiken’s V diperoleh 31 aitem pada skala love style yang dinyatakan layak untuk digunakan dalam penelitian dengan koefisien validitas dari 0,687 sampai dengan 0,875. Konsep dari pengujian reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2012). Alat ukur yang reliabel memiliki konsistensi hasil ukur yang relatif sama apabila digunakan untuk mengukur sekelompok subjek yang sama secara berulang kali. Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Alpha Cronbach dan dihitung dengan menggunakan program SPSS 15 for windows. Hasil koefisien reliabilitas berada dalam rentang angka dari 0 sampai dengan 1,00. Apabila koefisien reliabilitas semakin mendekati angka 1,00 maka aitem tersebut dianggap semakin reliable atau bisa dikatakan reliabilitas baik.

Berdasarkan pengujian reliabilitas menunjukkan hasil bahwa skala love style memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,687. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik t-test dihitung dengan bantuan program SPSS 16 for windows.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Data penelitian ini normal, pada variabel Love Style diperoleh nilai Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 1,096 dan signifikasi (2-tailed) sebesar 0,181 (p > 0,05). Uji homogenitas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,426 (p>0,05). Hasil tersebut menujukan bahwa nilai signifikansi laki-laki dan perempuan memiliki varian yang sama dan selanjutnya dapat dilanjutkan untuk menganalisis indipendent Sampel T Test. Berdasarkan hasil analisis menggunakan independent sample t-tes

(9)

5

dengan bantuan SPSS 16 for windows diperoleh nilai sig. (2-tailed ) sebesar 0,000 (p < 0,05) serta rata-rata skor Love Style pada laki-laki sebesar 83,45 sedangkan rata-rata skor Love Style pada perempuan sebesar 77,41 (83,45 < 77,41). Hasil tersebut menunjukkan ada perbedaan love style pada laki-laki dan perempuan. Sehingga hipotesis yang diajukan peneliti dapat diterima. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hipotesis yang diajukan oleh peneliti terbukti yaitu ada perbedaan love style ditinjau dari gender. Dari hasil riset (Dayakisni & Hurdaniah, 2009) menunjukkan ada perbedaan seks dalam gaya percintaan, laki-laki lebih cenderung pada gaya bercinta romantik, main-main atau egosentric, sementara perempuan cenderung pada gaya cinta persahabatan, obsesive atau inscure atau pragmatik. Kemudian Penelitian lain juga menemukan bahwa laki-laki lebih memiliki gaya cinta ludos (cinta main-main) dan agape (cinta tanpa pamrih) dibandingkan perempuan (Arianti & Nuqul, 2016). Dan hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumya dimana ada perbedaan pada aspek ludos dan agape dimana skor laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dan yang tidak pada penelitain sebelumnya adalah dengan hasil ada perbedaan pada aspek storage dimana skor laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan.

Hasil analisis dari variabel Love style diperoleh rerata empirik (RE) sebesar 80,43 dan rerata hipotetik (RH) sebesar 77,5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel Love style termasuk dalam kategori sedang.

4. PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan Ada perbedaan love style pada mahasiswa Universitas X Surakarta. Menunjukan terdapat perbedaan pada gaya cinta ludos (cinta main-main), storage (cinta persahabatan) dan agape (cinta tanpa pamrih) antara laki-laki dan perempuan, dan hasil menujukan bahwa laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan. Sedangkan love style eros (cinta romantik),mania (cinta posesif), dan pragma (cinta realitas) tidak memiliki perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan kesimpulan diatas, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1) Bagi mahasiswa, dapat menjadi kajian mahasiswa dalam tahap dewasa awal mengenai pentingnya megetahui gaya cinta mahasiswa dalam tugas

(10)

6

perkembanganya. 2) Bagi peneliti selanjutnya. 3) Bagi penelitian selanjutnya, hendaknya peneliti menggali lagi mengenai sejumlah faktor yang mungkin saling terkait satu sama lain terhadap Love style , seperti pengelaman, pola asuh, lingkungan, budaya, dan sebagainya. Serta dapat mengumpulkan data yang lebih bervariasi lagi, seperti rentang dewasa awal seperti kuota subjek setiap usia. DAFTAR PUSTAKA

Anshori , M & Iswati, S. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif. Surabaya : Airlangga University Press

Ariyati & Nuqul. (2016). Gaya Cinta (Love Style) Mahasiswa. Jurnal Psikologi Islam (JPI) copyright © 2016 Pusat Penelitan dan Layanan Psikologi. Volume 13 Nomor 2 Tahun 2016

Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan Validitas Edisi 4. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Baron, R. A & Byrne, D. (2004). Psikologi Sosial jilid 1 Edisi Sepeluh. Jakarta:

Penerbit Erlangga

Cannary, D.J, Faulkner, S & Emmers-Sommer, T.M. (1997). Sex and gender differences in personal relationship. New York: The Guilford Press

Dayakisni, T & Hudaniah.( 2009). Psikologi sosial. Malang: UMM Press.

Dewinta, Tiara (2011) Kesiapan Menikah Pada Wanita Usia Dewasa Awal. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Fitriani, R. (2014). Gaya cinta remaja akhir. Jurnal Online Psikologi Universitas

Muhammadiyah Malang. Vol 02, No 01, 1-16

http://www.kompasiana.com/riskyananda/mengenal-lebih-jauh-mengenai-gaya-cinta-love-style_5529e263f17e61c435d623c6

Fromm, E. (2005). The Art Of Loving. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Hazan, C. & alat cukur, P. (1987). Cinta romantis dikonseptualisasikan sebagai proses lampiran. Jurnal kepribadian dan psikologi sosial, 52, 511-524.

Haack, R & Falcke Denise. 2014. Love and Marital Quality in Romantic Relationships Mediated and Non-Mediatedby Internet. jan-apr. 2014, Vol. 24, No. 57, 105-113. doi:10.1590/1982-43272457201413

Hatfield, E., & Rapson, R. (2005). Love and sex: Cross-cultural perspectives. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.

(11)

7

Hendrick, C. & Hendrick, S. (1986). Teori dan metode cinta. Jurnal kepribadian dan psikologi sosial, 50, 392-402

Hurlock, E. B. 2004. Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan(Terjemahan Istiwidayanti dan Soedjarwo). Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.

Irmawanti, J. I. (2005). Fenomena Jatuh Cinta Pada Mahasiswi. Jurnal Psikologi , Vol. 01 No. 01.

Kartono, K. & Dali Gulo. 2003. Kamus Psikologi. Bandung : Pionir Jaya

Lange, Houran, Li. 2014. Dyadic Relationship Values in Chinese Online Daters: Love American Style? . Sexuality & Culture (2015) 19:190–215 DOI 10.1007/s12119-014-9255-0

Lam Zando K.W. (2014). Narcissm and Romantic relationship: The Mediating Role Of Perception Discrepency. Discovery- SS Student E-Jurnal. Vol. 1,2012, 1-20

Lee JA. (1973). Colours of love: an exploration of the ways of loving. Toronto: New Press

Markey M & Markey N.(2007).Romantic ideals, romantic obtainment and relationship experiences:The complementarity of interpersonal traits among romantic partners. Journal of Social and Personal Relationships.

Vol. 24(4): 517–533.

Myers, D.G. (2012). Psikologi Sosial: Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika Prasetyo, B & Jannah, LM. (2012). Metode Penelitian Kuantiatatif. Jakarta :

Rajawali Pers

Putri, A.P. (2010). Cinta Dan Orientasi Masa Depan Hubungan Romantis Pada Dewasa Muda Yang Berpacaran. Skripsi S1 FPSI Universitas Indonesia Depok : tidak diterbitkan

Rubin, Z. (1970). Measurement Of romantic love. Journal Of Personality and Social Psychology,16, 265-273

Riggio,weiser.velenzuela,Priscilla,Hever. (2013). Self-Efficacy in Romantic

Relationships:Prediction of Relationship Attitudes and Outcomes. The

Journal of Social Psychology,. 153(6), 629–650

(12)

8

Saragih, J.I. & Irmawati. (2006). Bentuk-bentuk cinta berdasarkan tringular theory of love. www.repository.usu.

Sarwono, J. (2011). Mixed Methods: Cara Menggabung Riset Kuantitatif dan Riset Kualitatif Secara Benar. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Sarwono, S & Meinarno, EA. (2009). Psikologi. Jakarta : Salemba Humanika Setyorini, E.W. (2007). Perbedaan gaya cinta pada remaja akhir ditinjau dari

peran gender Jurnal Universitas Muhammadiyah Malang. www.digilib.umm.ac.id. (diakses tanggal 9 Juni 2017)

Sears, D. O, Freedman, J.L, & Peplau, L.A. (1994). Psikologi Sosial. Edisi 5. Jakarta Erlangga.

Schudlich, Stettler, Stouder, and Harrington. (2013). Adult Romantic Attachment and Couple Conflict Behaviors: Intimacy as a Multi-Dimensional Mediator.

Interpersona, 2013, Vol. 7(1), 26–43, doi:10.5964/ijpr.v7i1.107 Stenberg, RJ. (1988). The Triangle Of Love. New York: Basic Book, Inc Soto, C. J., Kronauer, A., & Liang, J. K. (2016). Five-factor model of personality.

In S. K.Whitbourne (Ed.), Encyclopedia of adulthood and aging (Vol. 2, pp. 506-510). Hoboken, NJ:Wiley.

Papalia, D, Old SW, Feldman RD. (2008). Human Development: Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup

Priyatno, D. (2012). Belajar Cepat Olah Data Statistik dengan SPSS. Yogyakarta: ANDI

Taylor, Shelley E, Sears, D.O dan Peplau. L.A. (2009). Psikologi sosial edisi kedua belas. Jakarta: Kencana Perdana Media Group

Wisnuwardani, D & Mashoedi, S F. (2012). Hubungan Interpersonal. Jakarta: Salemba Humanika

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kinerja antara dosen laki-laki dan perempuan yang diproksikan ke dalam komitmen, motivasi,

Selain itu, baik siswa laki-laki dan perempuan keduanya sama-sama menggunakan kemampuan spasialnya dalam menentukan kedudukan dua bidang dalam ruang dan mampu

Siswa laki-laki melakukan kesalahan ketika membuat pemodelan dikarenakan kurang memahami soal, sedangkan siswa perempuan kurang teliti ketika menyederhanakan model dan

Siswa dituntut untuk menemukan sendiri strategi yang sesuai untuk memecahkan masalah, sehingga dibutuhkan intuisi. Siswa laki-laki dan perempuan memiliki intuisi yang berbeda dalam

kemampuan representasi visual dalam membuat gambar siswa laki-laki lebih tinggi daripada. siswa

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh informasi bahwa peserta didik perempuan dan laki-laki mampu dengan benar menuliskan informasi terkait konteks isi

perempuan dalam memecahkan masalah matematika, sehingga peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir

Kemampuan spasial subjek bergender laki-laki dan subjek bergender perempuan diperoleh bahwa dalam mengamati suatu bangun ruang atau bagian bangun ruang, subjek