1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasang antara laki-laki dan perempuan, yang dilindungi secara hukum dalam ikatan perkawinan yang sah sesuai dengan syari’at Islamiyah yang benar, dengan tujuan yntuk membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :
&' نإ *+,ر و ةد12 34567 89: و ;<6=ا ا154?@= ;:وزأ 34?CDأ E2 34= FGH نأ I@Jا E2 و
نوK4C@J م1M= NJO P=ذ
Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannya diantara kamu kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir”. (Q. S Ar-Rum : 21) 1
Akan tetapi dalam kenyataan tujuan tersebut tidak sepenuhnya dapat terlaksana sebagaimana yang diinginkan, adakalanya muncul sebab-sebab tertentu kasih sayangnya hilang, yang mengakibatkan perkawinan harus putus ditengah jalan. Ikatan perkawinan terpaksa harus diputuskan akibat adanya perbedaan pendapat atau perselisihan antara suami istri tersebut. Jika perselisihan diantara keduanya tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai atau kekeluargaan, maka solusi terakhir yang ditempuh keduanya adalah dengan jalan perceraian.
1 DEPAG RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: Gema Risalah Pers), 644.
2
Setelah ikatan perkawinan putus, ternyata perpisahan tidak berakhir begitu saja, ternyata muncul permasalahan baru yang timbul akibat perceraian tersebut, salah satunya adalah masalah harta bersama (harta gono-gini).
Setiap perkawinan mengkondisikan adanya harta bersama antara suami dan istri. Sebagaimana tertuang dalam pasal 35 (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, pada pasal tersebut dijelaskan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama suami istri diikat dalam perkawinan.2 Namun tidak berarti dalam perkawinan yang dilalui hanya terdapat harta bersama. Sebab berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 85 dinyatakan bahwa “Adanya harta bersama dalam perkawinan tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau istri”.3 Sehingga harta benda dalam perkawinan ada tiga macam yaitu harta bawaan, harta bersama, dan harta perolehan.
Dalam Kompilasi Hukum Islam sebagai salah satu hukum terapan dalam lingkungan Pengadilan Agama harta bersama disebut dengan istilah harta kekayaan dalam perkawinan. Sebagaimana disebutkan harta kekayaan dalam perkawinan atau syirkah adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama selama dalam ikatan perkawinan berlangsung dan selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun.4
2 Arso Sosroatmojo dan Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia (Jakarta: Bulan
Bintang, 1975), 86.
3 Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia
(Jakarta: Gema Insani Press, 1994), 77.
4 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: Akademika Presindo,
3
Dengan demikian, perlu ditegaskan lagi bahwa harta bersama (harta gono-gini) merupakan harta yang diperoleh secara bersama oleh pasangan suami istri. Harta bersama tidak membedakan asal usul yang menghasilkan. Artinya harta yang dihasilkan atau diatasnamakan oleh siapapun diantara mereka, asalkan harta itu diperoleh selama masa perkawinan (kecuali hibah dan warisan), maka tetap dianggap sebagai harta bersama.
Selama perkawinan berlangsung, harta bersama dikelola secara bersama-sama oleh suami isteri. Bila salah satu pihak ingin melakukan perbuatan hukum terhadap harta tersebut maka dia harus mendapat persetujua dari pihak lainnya. Arinya, mereka berdua sama-sama berhak menggunakan harta tersebut dengan syarat harus mendapat persetujuan dari pasangannya. Jika suami yang akan menggunakan harta bersama dia harus mendaptkan izin dari isterinya, demikian juga sebaliknya isteri harus mendapatkan izin dari suaminya jika akan menggunakan harta bersama. Konsep ini sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 36 ayat 1 menyebutkan bahwa “Mengenai harta bersama suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak”.5
Pembagian harta bersama termasuk masalah yang rumit dipecahkan dalam sebuah perkawinan yang berujung pada perceraian. Masalah ini bersifat sangat sensitif karena berkenaan dengan soal harta benda oleh suami dan isteri.
Jika pasangan suami isteri terputus hubungannya karena perceraian diantara mereka, pembagian harta bersama diatur berdasarkan hukumnya
5 Wahyu Widiana, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Dalam Lingkungan
4
masing. Ketentuan ini diatur dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 37, “Jika operkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing”.6 Yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing adalah mencalup hukum agama, hukum adat, dan sebagianya. Bagi umat islam ketentuan pembagian harta bersama diatur dalam KHI.
Berdasarkan KHI pasal 97 dinyatakan bahwa, “Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan”.7 Artinya, dalam kasus perceraian, jika ada perjanjian perkawinan, penyelesaian dalam pembagian harta bersama ditempuh berdasarkan ketentuan didalamnya. Jika tidak ada perjanjian perkawinan, penyelesaiannya berdasarkan pada ketentuan dalam pasal 97 yaitu masing-masing berhak mendapat seperdua dari harta bersama.
Jika dicermati pada dasarnya didalam KHI mengatur bahwa jika terjadi perceraian, harta bersama dibagi dua, masing-masing mendapatkan bagian 50:50. Pembagian harta bersama ini bisa diajukan bersamaan dengan gugatan cerai, tidak harus menunggu terlebih dahulu putusan cerai dari pengadilan.
Ketentuan mesti “dibagi dua” ini dalam tataran aplikasi di Pengadilan Agama sampai saat ini juga dilaksanakan oleh para hakim dalam menyelsaikan sengketa harta bersama. Hal ini didasarkan pada suatu pemikiran bahwa dalam
6 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono Gini Saat Terjadi Perceraian (Jakarta:
Visimedia, 2008), 39.
5
suatu perkawinan itu baik pihak istri maupun suami mempunyai kedudukan yang seimbang dalam kehidupan rumah tangga.8
Akan tetapi dalam kenyataan yang ada di Pengadilan Agama Magetan terjadi penyelesaian sengketa harta bersama antara suami istri dikarenakan perceraian pada putusan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt dengan cara pembagian harta sepertiga (1/3) untuk suami dan dua per tiga (2/3) untuk istri. Dan putusan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt merupakan satu-satunya putusan yang ada di Pengadilan Agama Magetan yang memutuskan perkara pembagian harta bersama 1/3 untuk pihak tergugat dan 2/3 untuk pihak penggugat. Dengan pertimbangan hakim bahwa suami yang seharusnya bertanggung jawab mencukupi kebutuhan rumah tangga lainnya justru tidak mempunyai andil, akan tetapi sebaliknya semua kebutuhan keluarga dicukupi oleh istri dengan bekerja diluar negeri.9 Namun dalam kenyataan yang ada suami juga mempunyai pekerjaan yang tetap walaupun hanya sebagai buruh tani dan dia mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
Dari latar belakang diatas, penulis merasa perlu mengkaji kembali putusan hakim yang membagi harta bersama dengan pembagian 1/3 untuk suami dan 2/3 untuk istri. Apakah putusan hakim tersebut sudah menciptakan rasa keadilan untuk semua pihak yang terkait ? Keadilan yang dimaksud mencakup pada pengertian bahwa pembagian tersebut tidak mendiskriminasikan salah satu pihak.
8 Mahkamah Agung RI, Suara Uldilag (Jakarta: Pokja Perdata Agama MA-RI, 2005), 105. 9 Putusan Nomor: 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt Tentang Pembagian Harta Bersama. Berkas
6
Berangkat dari pemikiran tersebut penulis akan mengkaji masalah dalam sebuah penelitian yang tertuang dalam bentuk skripsi dengan judul “TINJAUAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN AGAMA MAGETAN NOMOR : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt TENTANG PEMBAGIAN HARTA BERSAMA”.
B. Penegasan Istilah
Untuk mempermudah dalam memahami dan mengetahui konsep yang dimaksud oleh penulis, maka penulis memberikan penegasan istilah dalam penulisan skripsi ini :
- Hukum Perkawinan di Indonesia yang dimaksud disini adalah hukum yang berlaku di Pengadilan Agama bagi orang-orang yang beragama Islam, yang meliputi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. - Putusan Pengadilan Agama Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt adalah sebuah
putusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Magetan untuk memutuskan perkara perceraian dan pembagian harta bersama.
- Pengadilan Agama Magetan adalah nama satuan unit penyelenggara Kekuasaan Kehakiman dalam menerima, memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan perkara-perkara perdata khusus orang Islam yang wilayah yuridisnya adalah berada di wilayah kabupaten Magetan.
- Harta bersama adalah harta yang berhasil dikumpulkan selama berumah tangga sehingga menjadi hak berdua suami dan isteri.
7
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tinjauan Kompilasi Hukum Islam terhadap dasar hukum hakim Pengadilan Agama Magetan dalam membagi harta bersama dalam putusan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt ?
2. Bagaimana tinjauan Kompilasi Hukum Islam terhadap putusan Pengadilan Agama Magetan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt tentang pembagian harta bersama ?
D. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah diatas, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa dasar hukum Hakim Pengadilan Agama Magetan dalam membagi harta bersama dalam perkara Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt.
2. Untuk mengetahui tinjauan Kompilasi Hukum Islam terhadap putusan Pengadilan Agama Magetan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt.
E. Kegunaan Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian maka penelitian ini diharapkan dapat berguna :
1. Kepentingan Ilmiah, diharapkan berguna sebagai sumbangsih pemikiran penulis dalam rangka menambah khazanah ilmu tentang pembagian harta bersama.
8
2. Kepentingan terapan, diharapkan menjadi sumbangan yang berarti bagi masyarakat umum dan semoga dapat digunakan sebagai kajian lebih lanjut oleh para peminat mengenai masalah harta bersama.
F. Telaah Pustaka
Karya tulis yang membahas tentang pembagian harta bersama secara umum banyak ditemukan, akan tetapi menurut pengetahuan penulis belum ada karya tulis yang membahas tentang pembagian harta bersama dengan pembagian 1/3 untuk suami dan 2/3 untuk istri.
Diantara penelitian yang mengkaji tentang pembagian harta bersama adalah penelitian dari Yulfia Lutfiani yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Keputusan Pengadilan Agama Ponorogo Tentang Status Harta Usaha Isteri”. Dalam skripsi tersebut Yulfia Lutfiani membahas tentang hasil usaha isteri dalam hukum Islam, dan tinjauan hukum Islam terhadap harta hasil usaha isteri. Disini dijelaskan tentang harta yang dihasilkan oleh seorang isteri (masa perkawinan) menjadi harta bersama, kecuali bila isteri dianggap nusyus maka segala yang dihasilkan dari pekerjaannya bukan berstatus harta bersama namun menjadi harta pribadi isteri. Dan apabila harta hasil usaha isteri dalam keluarga dianggap harta bersama maka harta tersebut harus dibagi separo-separo.
Penelitian yang lain dilakukan oleh Imam Rohadi dengan judul “Penyelesaian Sengketa Harta Bersama Akibat Perceraian di Pengadilan Agama Ponorogo Dalam Perspektif Hukum Islam”. Dimana dalam penelitian ini dibahas
9
tentang upaya yang ditempuh Pengadilan Agama Ponorogo guna menyelesaikan sengketa harta bersama akibat perceraian dan pembagiannya. Yang mana dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa jika terjadi perceraian antara suami dan isteri maka bagian masing-masing adalah separo-separo. Dasar hukum yang digunakan dalam pembagian harta bersama adalah dari nas al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 32 dan KHI pasal 97.
Dalam karya tulis Elvina Mawaddah Shanti dengan judul “Analisa Fiqh Islam Terhadap Putusan Pengadilan Agama Tuban No. 770/Pdt.G/1997/PA Tbn Tentang Pemisahan Harta Waris, Harta Bersama, dan Harta Asal”. Didalam penelitiannya ternyata dia juga sepakat dengan apa yang dijelaskan oleh Yulfia Lutfiani dan Imam Rohadi, bahwa antara suami dan isteri apabila terjadi perceraian maka masing-masing mendapatkan harta bersama seperdua (50:50).
Jadi sejauh pengamatan penulis belum ada karya tulis yang membahas tentang tinjauan kompilasi hukum Islam terhadap putusan hakim yang membagi harta bersama untuk suami 1/3 dan untuk isteri 2/3. Dari bahasan-bahasan yang ada pelaksanaan pembagian harta bersama adalah separo-separo. Maka menurut peneliti, penelitian tersebut patut untuk dikaji kembali.
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Dalam hal ini metode penelitian yang penulis pakai adalah jenis penelitian lapangan. Penelitian lapangan adalah penelitian yang datanya diambil atau dikumpulkan dari lapangan dimana tempat kasus itu berada,
10
termasuk dokumen-dokumen yang memuat kasus pembagian harta bersama, mengadakan interview dengan hakim-hakim atau pejabat lain yang berkompeten di Pengadilan Agama Magetan.
2. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian yang penulis ambil adalah Pengadilan Agama Magetan yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat Utara No 10 Magetan.
3. Jenis Data
Data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Salinan surat putusan Pengadilan Agama Magetan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA. Mgt tentang perkara cerai gugat dan pembagian harta bersama.
b. Data mengenai landasan hukum yang dipakai hakim Pengadilan Agama Magetan dalam memutus perkara Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA. Mgt tentang pembagian harta bersama.
c. Data tentang upaya yang ditempuh Pengadilan Agama Magetan guna menyelesaikan sengketa harta bersama akibat perceraian.
4. Sumber Data
Adapun data yang penulis pakai dalam penyusunan skripsi ini bersumber dari data empiris serta buku-buku yang relevan yang ada kaitannya dengan permasalahan ini untuk dapat dipertanggung jawabkan.
11
a. Sumber Data Primer
Yaitu sumber data yang diperoleh dari penelitian lapangan yang meliputi informasi dari:
1) Informan : Penulis juga mengadakan wawancara secara langsung dengan pihak yang menangani kasus tersebut atau pihak-pihak yang yang ada di Pengadilan Agama Magetan. Dalam hal ini hakim ketua Bapak Drs. Moh. Syafruddin, selaku ketua majelis yang memutus perkara, Bapak Isro’ Jauhari, S.Ag, selaku Panitera Pegadilan Agama Magetan, dan Bapak Drs. H. Sumasno, SH, M.Hum selaku ketua Pengadilan Agama Magetan.
2) Dokumen : Penulis juga mencari data-data yang bersifat dokumenter di Pengadilan Agama Magetan yaitu berupa keterangan-keterangan yang ada kaitannya dengan perkara Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt. b. Sumber Data Sekunder
Yaitu sumber data yang diperoleh dari buku-buku yang meliputi : a) Kompilasi Hukum Islam, Abdurrahman
b) Pembagian harta gono gini saat terjadi perceraian, Happy Susanto c) Aplikasi hak dan kewajiban suami isteri dalam penjaminan harta
bersama pada putusan MA, Abdul Manaf
d) Kedudukan, Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, Yahya Harahap
12
5. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:
a. Metode Interview, yaitu wawancara yang dilakukan kepada subyek penelitian berdasarkan pada tujuan penelitian
b. Metode Dokumentasi, yaitu mencari data dengan cara mengumpulkan dan mengamati data-data yang berupa salinan surat putusan Pengadilan Agama dan catatan-catatan yang valid yang berhubungan dengan obyek penelitian.
6. Metode Pengolahan Data
Dalam pembahasan permasalahan skripsi ini penulis menggunakan metode pengolahan data sebagai berikut:
a. Editing : Pemeriksaan kembali semua data yang diperoleh terutama dari segi perlengkapannya, keselarasan satu dengan yang lainnya.
b. Organizing : Penyusunan data secara sistematika dalam bentuk paparan sebagaimana yang telah direncanakan sesuai dengan rumusan masalah.
c. Penemuan Hasil : Penganalisaan lanjutan terhadap hasil pengorganisasian data sehingga diperoleh kesimpulan yang merupakan jawaban dari rumusan masalah.
13
7. Metode Analisa Data
Adapun metode pembahasan yang penulis pakai dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:
a. Metode Deduktif : Proses analisa yang diawali dengan cara mengemukakan fenomena yang bersifat umum guna mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.
b. Metode Induktif : Proses analisa yang diawali dengan cara mengemukakan kenyataan yang bersifat khusus (dari hasil riset) untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum berupa generalisasi.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyusunan skripsi ini, maka penulis akan menguraikan pembahasan ini kedalam beberapa bab yang sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Merupakan pola dasar yang mencakup dari keseluruhan isi skripsi, maka disini penyusun kemukakan tentang: Latar Belakang Masalah, Penegasan Istilah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Telaah Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Pembahasan.
14
BAB II : TINJAUAN UMUM HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN
Bab ini merupakan landasan teori sebagai pijakan masalah dalam skripsi, sehingga perlu mengetengahkan : a) Konsep harta bersama dalam perkawinan yang meliputi pengertian harta bersama, klasifikasi harta dalam perkawinan, asal usul harta bersama, ruang lingkup harta bersama serta jenis-jenis harta bersama, b) Ketentuan hukum tentang harta bersama yang meliputi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, kompilasi hukum Islam, dan Hukum Islam, c) Ketentuan hukum harta bersama yang meliputi pengurusan harta bersama dan penggunaan harta bersama, d) Pembagian harta bersama.
BAB III : PUTUSAN PENGADILAN AGAMA MAGETAN NOMOR : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt
Bab ini memuat sajian hasil penelitian di Pengadilan Agama Magetan yang diawali dengan kasus posisi, prosedur dan duduk perkara dan landasan hukum yang dipakai hakim Pengadilan Agama Magetan dalam putusan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt. dan Putusan.
BAB IV : ANALISA HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN AGAMA MAGETAN NOMOR : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt
Bab ini membahas tentang: Analisa terhadap Dasar Hukum Pengadilan Agama Magetan putusan Nomor:
15
254/Pdt.G/2007/PA.Mgt dalam pembagian harta bersama, dilanjutkan dengan Analisa terhadap putusan Pengadilan Agama Magetan Nomor : 254/Pdt.G/2007/PA.Mgt. dalam pembagian harta bersama.
BAB V : PENUTUP
Bab ini adalah akhir dari pembahasan skripsi yang berisi : kesimpulan sebagai jawaban permasalahan dan saran.
16
BAB II
TINJAUAN UMUM
HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN
A. Konsep Harta Bersama Dalam Perkawinan
1. Pengertian Harta Bersama Dalam Perkawinan
Sebelum sampai kepada pembicaraan harta benda perkawinan, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu arti perkawinan itu sendiri. Karena pengertian perkawinan dalam tatanan hukum mempunyai akibat langsung terhadap harta benda dalam perkawinan. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seseorang pria dan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia menyatakan : “Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.10
Perkawinan seperti yang dijelaskan di atas mempunyai tujuan untuk memperoleh keturunan, juga untuk dapat bersama-sama hidup pada suatu masyarakat dalam satu perikatan kekeluargaan. Guna keperluan hidup bersama-sama inilah dibutuhkan suatu kekayaan duniawi yang dapat
10 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 114.
17
dipergunakan oleh suami isteri untuk membiayai ongkos kehidupan mereka sehari-harinya. Kekayaan duniawi inilah yang disebut “harta perkawinan”, “harta keluarga” ataupun “harta bersama”.
Harta bersama merupakan salah satu macam dari sekian banyak harta yang dimiliki seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari harta mempunyai arti penting bagi seseorang karena dengan memiliki harta dia dapat memenuhi kebutuhan hidup secara wajar dan memperoleh status sosial yang baik dalam masyarakat. Arti penting tersebut tidak hanya dari segi kegunaan (aspek ekonomi) melainkan juga dari segi keteraturannya, tetapi secara hukum orang mungkin belum banyak memahami aturan hukum yang mengatur tentang harta, apalagi harta yang di dapat oleh suami isteri dalam perkawinan.
Ketidakpahaman mengenai ketentuan hukum yang mengatur tentang harta bersama dapat menyulitkan untuk memfungsikan harta bersama tersebut secara benar. Oleh karena itu terlebih dahulu perlu dikemukakan beberapa pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan harta bersama. Secara bahasa, harta bersama adalah dua kata yang terdiri dari kata harta dan bersama. Menurut kamus besar bahasa Indonesia “Harta dapat berarti barang-barang (uang dan sebagainya) yang menjadi kekayaan dan dapat berarti kekayaan berwujud dan tidak berwujud yang bernilai. Harta bersama berarti harta yang dipergunakan (dimanfaatkan) bersama-sama.11
11 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
18
Sayuti Thalib dalam bukunya hukum kekeluargaan di Indonesia mengatakan bahwa : “Harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan di luar hadiah atau warisan”.12 Maksudnya adalah harta yang didapat atas usaha mereka atau sendiri-sendiri selama masa perkawinan. Pengertian tersebut sejalan dengan bab VII tentang harta benda dalam perkawinan pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang secara lengkap berbunyi sebagai berikut :
(1) Harta benda yang dieroleh selama perkawinan menjadi harta benda bersama.
(2) Harta bawaan dari masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain-lain.
Mengenai hal ini kompilasi hukum Islam memberi gambaran jelas tentang harta bersama, yang dijelaskan dalam pasal 1 huruf f :
“Harta kekayaan dalam perkawinan atau syirkah adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama-sama suami isteri selama dalam ikatan perkawinan berlangsung, dan selanjutnya disebut harta bersama tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun”.
Menurut Abdul Manan harta bersama adalah harta yang diperoleh selama ikatan perkawinan berlangsung tanpa mempersoalkan terdaftar atas
19
nama siapapun.13 Dalam Yurisprudensi Peradilan Agama juga dijelaskan bahwa harta bersama yaitu harta yang diperoleh dalam masa perkawinan dalam kaitan dengan hukum perkawinan, baik penerimaan itu lewat perantara isteri maupun lewat perantara suami. Harta ini diperoleh sebagai hasil karya-karya dari suami isteri dalam kaitan dengan perkawinan. 14
Menurut hukum adat bahwa harta benda perkawinan itu adalah harta benda yang dimiliki suami isteri dalam ikatan perkawinan, baik yang diperoleh sebelum perkawinan berlangsung (harta gawan/harta bawaan) maupun harta benda yang diperoleh selama dalam ikatan perkawinan, yang hasil kerja masing-masing suami isteri ataupun harta benda yang didapat dari pemberian/hibahan atau hadiah serta warisan. Jadi suatu asas yang sangat umum berlakunya hukum adat di Indonesia adalah bahwa mengenai harta kerabatnya sendiri yang berasal dari hibahan atau warisan, maka harta itu tetap menjadi miliknya salah satu suami atau isteri yang kerabatnya menghibahkan atau mewariskan harta itu kepadanya.
Memperhatikan beberapa pendapat dan analisa di atas bahwa harta bersama adalah harta yang didapat atau diperoleh selama perkawinan. Masalahnya adalah apakah semua harta yang didapat atau diperoleh selama perkawinan dinamakan sebagai harta bersama?
13 Abdul Manan, Beberapa Masalah Tentang Harta Bersama (Jakarta: Mimbar Hukum No
33 Tahun VIII, 1997), 59.
14 Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam Departemen Agama, Yurisprudensil
20
Harta tersebut akan menjadi harta bersama jika tidak ada perjanjian mengenai status harta tersebut sebelum ada pada saat dilangsungkan perkawinan, kecuali harta yang didapat itu diperoleh dari hadiah atau warisan, atau bawaan dari masing-masing suami isteri yang dimiliki sebelum dilangsungkan perkawinan sebagaimana dijelaskan di atas seperti yang tercantum pada pasal 35 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
2. Klasifikasi Harta Dalam Perkawinan
Ikatan perkawinan menjadikan adanya harta bersama antara suami isteri, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 35 ayat 1. namun, bukan berarti dalam perkawinan yang diakui hanya harta bersama. Sebab, berdasarkan KHI pasal 85 dinyatakan bahwa “Adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri”.
Harta benda dalam perkawinan ada tiga macam sebagai berikut : a. Harta Bersama
Sebagaimana telah dijelaskan, harta bersama dalam perkawinan adalah “harta benda yang diperoleh selama perkawinan”. Suami dan isteri mempunyai hak dan kewajiban yang sama atas harta bersama. Harta yang dihasilkan bersama oleh suami isteri selama masa perkawinan dikuasai bersama suami isteri. Sesuai namanya yakni harta bersama suami isteri, maka selama mereka masih terkait dalam perkawinan, harta itu tidak
21
dibagi. Harta itu sama-sama mereka manfaatkan hasilnya dan dibagi apabila mereka bercerai, baik cerai hidup atau cerai mati.15
b. Harta Bawaan
Harta bawaan adalah “harta benda milik masing-masing suami isteri yang diperoleh sebelum terjadinya perkawinan atau yang diperoleh sebagai warisan atau hadiah”16. Tentang macam harta ini, KHI pasal 87 ayat 1 mengatur, “harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.17
Harta bawaan bukan termasuk dalam klasifikasi harta bersama. Suami atau isteri berhak mempergunakan harta bawaanya masing-masing dan juga dapat melakukan perbuatan hukum terhadapnya. Dasarnya adalah Undang-Undang Perkawinan pasal 36 ayat 2, yang mengatakan bahwa, “mengenai harta bawaan masing-masing suami atau isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya”.18 Hal senada juga dinyatakan dalam KHI pasal 87 ayat 2, “Suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sedekah atau
15 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer (Jakarta:
Gema Insani, 2003), 127.
16 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Saat Terjadinya Perceraian (Jakarta: Visi
Media, 2008), 15.
17. Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 135.
22
lainnya”.19 Artinya, berdasarkan ketentuan ini, harta bawaan yang dimiliki secara pribadi oleh masing-masing pasangan tidak bisa diotak-atik oleh pasangan yang lain.
Harta bawaan bisa saja menjadi harta bersama jika pasangan adalah pengantin menentukan hal demikian dalam perjanjian perkawinan yang mereka buat, atau dengan kata lain perjanjian perkawinan yang mereka sepakati menentukan adanya peleburan (persatuan) antara harta bawaan dan harta bersama.20
c. Harta Perolehan
Harta perolehan adalah “harta benda yang hanya dimiliki secara pribadi oleh masing-masing pasangan (suami isteri) setelah terjadinya ikatan perkawinan”.21 Harta ini umumnya berbentuk hibah, hadiah dan sedekah. Harta ini tidak diperoleh melalui usaha bersama mereka berdua selama terjadinya perkawinan. Bedanya dengan harta bawaan yang diperoleh sebelum masa perkawinan, harta macam ini diperoleh setelah masa perkawinan.
Sebagaimana halnya harta bawaan, harta ini juga menjadi milik pribadi masing-masing pasangan, baik suami maupun isteri, sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Dasarnya adalah KHI pasal 87 ayat 2, “suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk
19 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 135.
20 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono Gini Saat Terjadi Perceraian, 15. 21 Ibid.,15.
23
melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sedekah atau lainnya”.
Harta perolehan sama dengan harta bawaan, keduanya bukan merupakan obyek dari harta bersama, yang hanya disebut dengan harta perolehan adalah harta milik masing-masing suami isteri setelah menikah, tetapi bukan diperoleh dari usaha bersama atau usaha masing-masing.
Dalam kedudukannya sebagai modal kekayaan untuk membiayai kehidupan rumah tangga suami, maka harta perkawinan itu dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu :
a. Harta yang diperoleh atau dikuasai suami atau isteri sebelum perkawinan yaitu harta bawaan
b. Harta yang diperoleh atau dikuasai suami dan isteri bersama-sama selama perkawinan yaitu harta pencaharian.
c. Harta yang diperoleh atau dikuasai suami atau isteri secara perseorangan sebelum atau sesudah perkawinan yaitu harta penghasilan.
d. Harta yang diperoleh suami isteri bersama ketika upacara perkawinan sebagai hadiah yang kita sebut hadiah perkawinan.22
3. Ruang Lingkup Harta Bersama
Ruang lingkup harta bersama, mencoba memberi penjelasan bagaimana cara menentukan, apakah suatu harta termasuk atau tidak sebagai obyek harta bersama antara suami isteri dalam perkawinan. Memang benar
24
baik pasal 35 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 maupun dalam Kompilasi Hukum Islam telah menentukan segala harta yang diperoleh selama perkawinan dengan sendirinya menurut hukum menjadi harta bersama.
Gambaran ruang lingkup harta bersama dalam suatu perkawinan, diantaranya adalah sebagai berikut :23
a. Harta Yang dibeli Selama Perkawinan
Patokan pertama untuk menentukan apakah suatu barang termasuk obyek harta bersama atau tidak, ditentukan pada saat pembelian. Setiap barang yang dibeli selama perkawinan, harta tersebut menjadi obyek harta bersama suami isteri tanpa mempersoalkan apakah isteri atau suami yang membeli, apakah harta tersebut terdaftar atas nama isteri atau suami dimana harta itu terletak. Apa saja yang dibeli selama perkawinan berlangsung otomatis menjadi harta bersama. Tidak menjadi soal siapa diantara suami isteri yang membeli, juga tidak menjadi masalah atas nama isteri atau suami harta itu terdaftar, dan juga tidak peduli apakah harta itu terletak dimanapun, yang penting harta itu dibeli dalam masa perkawinan, dengan sendirinya menurut hukum menjadi obyek harta bersama. 24
Lain halnya jika uang pembeli barang berasal dari harta pribadi suami atau isteri, jika uang pembeli barang secara murni berasal dari harta
23 Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama (Jakarta : Sinar
Grafika, 2003), 275-278.
25
pribadi, barang yang dibeli tidak termasuk obyek harta bersama. Harta yang seperti itu tetap menjadi milik pribadi suami atau isteri.
b. Harta Yang dibeli dan dibangun Sesudah Perceraian Yang dibiayai Dari Harta Bersama
Patokan untuk menentukan sesuatu barang termasuk obyek harta bersama, ditentukan oleh asal usul uang biaya pembelian atau pembangunan barang yang bersangkutan, meskipun barang itu dibeli atau dibangun sesudah terjadi perceraian.25 Misalnya suami isteri selama perkawinan berlangsung mempunyai harta dan uang simpanan, kemudian terjadi perceraian. Semua harta dan uang simpanan dikuasai suami, belum dilakukan pembagian. Dari uang simpanan tersebut suami membeli atau membangun rumah. Dalam kasus yang seperti ini, rumah yang dibeli atau dibangun suami sesudah terjadi perceraian, namun jika uang pembeli atau biaya pembangunan berasal dari harta bersama, barang hasil pembelian atau pembangunan yang demikian tetap masuk kedalam obyek harta bersama.
c. Harta Yang Dapat dibuktikan dan diperoleh Selama Perkawinan Patokan ini sejalan dengan kaidah hukum harta bersama. Semua harta yang diperoleh selama perkawinan dengan sendirinya menjadi harta bersama. Namun kita sadar, dalam sengketa perkara harta bersama, tidak semulus dan sesederhana itu. Pada umumnya, pada setiap perkara harta bersama pihak yang digugat selalu mengajukan bantahan bahwa harta
26
yang digugat bukan harta bersama, tetapi milik pribadi. Hak pemilikan Tergugat bisa didalihkannya berdasar atas hak pembelian, warisan atau hibah, apabila Tergugat mengajukan dalih yang seperti itu, patokan untuk menentukan apakah suatu barang termasuk harta bersama atau tidak, ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilan penggugat membuktikan bahwa harta-harta yang digugat benar-benar diperoleh selama perkawinan berlangsung, dan uang pembeliannya tidak berasal dari uang pribadi.26 d. Penghasilan Harta Bersama Dan Harta Bawaan
Penghasilan yang tumbuh dari harta bersama atau berasal dari harta bersama akan menjadi harta bersama. Akan tetapi, bukan hanya yang tumbuh dari harta bersama yang jatuh menjadi obyek harta bersama diantara suami isteri juga termasuk penghasilan yang tumbuh dari harta pribadi suami isteri akan jatuh menjadi obyek harta bersama.27 Dengan demikian fungsi harta pribadi dalam perkawinan, ikut menopang dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sekalipun hak dan kepemilikan harta pribadi mutlak berada di bawah kekuasaan pemiliknya, namun harta pribadi tidak terlepas dari fungsinya dari kepentingan keluarga. Barang pokoknya memang tidak diganggu gugat, tetapi hasil yang tumbuh daripadanya jauh menjadi obyek harta bersama. Ketentuan ini berlaku sepanjang suami isteri tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan, jika dalam perjanjian perkawinan tidak diatur mengenai hasil
26 Ibid., 277. 27 Ibid., 277.
27
yang timbul dari harta pribadi seluruh hasil yang diperoleh dari harta pribadi suami isteri jatuh menjadi harta bersama. Misalnya, rumah yang dibeli dari harta pribadi bukan jatuh menjadi harta pribadi, tetapi jatuh menjadi harta bersama. Oleh karena itu, harus dibedakan harta yang dibeli dari hasil penjualan harta pribadi dengan harta yang diperoleh dari hasil yang timbul dari harta pribadi. Dalam hal harta yang dibeli dari hasil penjualan harta pribadi, tetapi secara mutlak menjadi harta pribadi.28 e. Segala Penghasilan Pribadi Suami Isteri
Segala penghasilan suami/isteri, baik yang diperoleh dari keuntungan melalui perdagangan masing-masing ataupun hasil perolehan masing-masing pribadi sebagai pegawai menjadi yurisdiksi harta bersama suami/isteri. Jadi sepanjang mengenai penghasilan pribadi suami/isteri tidak terjadi pemisahan, bahkan dengan sendirinya terjadi penggabungan kedalam harta bersama. Penggabungan penghasilan pribadi suami/isteri ini terjadi demi hukum, sepanjang suami/isteri tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.
4. Jenis-Jenis Harta Bersama
Mengenai jenis harta bersama, muncul pertanyaan, apakah benar semua harta yang didapat dalam perkawinan antara suami isteri selama berumah tangga adalah merupakan harta bersama ?
28
Kalau memperhatikan asal-usul harta yang didapat suami isteri dapat disimpulkan dalam empat sumber :
a. Harta hibah dan harta warisan yang diperoleh salah seorang dari sumai atau isteri.
b. Harta hasil usaha sendiri sebelum mereka menikah. c. Harta yang diperoleh pada saat perkawinan.
d. Harta yang diperoleh selama perkawinan selain dari hibah khusus untuk salah seorang dari suami isteri dan selain dari harta warisan.29
Harta bersama yang dimiliki suami isteri dari segi hukum diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 35 dan 36 sebagai berikut :
Pasal 35 :
(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta benda bersama ;
(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing si penerima para pihak tidak menentukan lain ;
Pasal 36 :
(1) Mengenai harta bersama suami isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak ;
29 Damanhuri, Segi-segi Hukum Perjanjian Perkawinan Harta Bersama (Bandung : CV
29
(2) Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya ;
Pasal 85 KHI menyatakan bahwa “adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri.”
Adapun Jenis-jenis harta bersama di dalam pasal 91 KHI dinyatakan sebagai berikut :
(1) Harta bersama sebagaimana tersebut dalam pasal 85 di atas dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud
(3) Harta bersama yang berwujud dapat meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak, dan surat-surat berharga.
(4) Harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban. (5) Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu
pihak atas persetujuan pihak lainnya.30
Dalam ketentuan pasal 91 KHI di atas yang pada intinya menentukan bahwa harta bersama itu dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud. Benda berwujud disini dapat meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak dan surat-surat berharga, sedangkan benda tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban.
30
Berdasarkan rincian tersebut, maka harta bersama itu termasuk dalam kategori benda, yang secara yuridis adalah segala sesuatu yang dapat menjadi obyek hak milik. Secara katagoris ada beberapa macam benda, yakni benda berwujud (lichamelijk) dan benda tidak berwujud (onlichamelijk), benda bergerak dan benda tidak bergerak, benda yang dapat dipakai habis, dan benda yang tidak dapat dipakai habis, benda yang sudah ada (tegen woordigde zaken) dan benda yang akan ada (toekomstige zaken), benda dalam perdagangan (zaken in de handle) dan benda di luar perdagangan (zaken buiten de handle), serta benda yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi.31
Memperhatikan pasal 91 KHI di atas bahwa yang dianggap harta bersama adalah berupa benda milik suami isteri yang mempunyai nilai ekonomi dan nilai hukum, yaitu mempunyai nilai kegunaan dan ada aturan hukum yang mengatur. Harta bersama dapat berupa benda berwujud yang meliputi benda bergerak dan tidak bergerak serta harta bersama dapat berbentuk surat-surat berharga dan harta bersama dapat berupa benda tidak berwujud berupa hak dan kewajiban.
B. Ketentuan Hukum Tentang Harta Bersama
Sebagaimana telah dibahas di bab sebelumnya, harta bersama diatur dalam hukum positif, baik Undang-Undang Perkawinan maupun KHI. Dengan demikian, segala urusan yang berkenaan dengan harta bersama perlu didasari
31 Abdul Manaf, Aplikasi Equalitas Hak dan Kedudukan Suami Isteri Dalam Penjaminan
31
ketiga sumber hukum positif tersebut. Sebagai contoh, jika pasangan suami isteri ternyata harus bercerai, pembagian harta bersama mereka harus jelas didasari pada ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam hukum positif tersebut.
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Tentang harta bersama dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pada bab VII diberi nama dengan judul “Harta Bersama Dalam Perkawinan”, yang terdiri dari tiga pasal yakni pasal 35, 36 dan 37.32 pasal-pasal tersebut menyatakan :
a. Pasal 35
1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri, dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
b. Pasal 36
1) Mengenai harta bersama, suami isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.
2) Mengenai harta bawaan masing-masing suami isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.
32
c. Pasal 37
1) Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.
Dalam ketentuan pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jelas terbaca bahwa harta dalam perkawinan itu terdiri dari harta bersama dan harta bawaan. Harta bersama adalah harta benda yang diperoleh selama ikatan perkawinan berlangsung dan oleh karena itu ia menjadi milik bersama suami atau isteri. Karena demikian sifatnya, maka terhadap harta bersama suami atau isteri dapat bertindak hanya atas persetujuan bersama. Sedangkan harta bawaan adalah harta yang diperoleh masing-masing suami atau isteri sebagai hadiah atau warisan selama dalam ikatan perkawinan, dan oleh karena itu ia menjadi hak dan dikuasai sepenuhnya oleh masing-masing suami atau isteri.
Pengaturan harta bersama yang demikian sesuai dengan hukum adat, dimana dalam hukum adat itu dibedakan dalam harta gono-gini yang menjadi milik bersama suami isteri, dan bawaan menjadi milik masing-masing pihak suami atau isteri. Diikutinya sistem hukum adat oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagai hukum nasional adalah sebagai konsekwensi dari politik hukum Indonesia yang telah menggariskan bahwa pembangunan hukum nasional haruslah berdasarkan hukum adat sebagai hukum kepribadian bangsa Indonesia yang bedasarkan Pancasila. 33
33 Purwoto, Renungan Hukum (Jakarata: Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia, 1998),
33
2. Kompilasi Hukum Islam
Berbeda halnya dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang harta bersama secara singkat hanya dalam tiga pasal, yaitu pasal 35 sampai pasal 37, maka dalam KHI tentang harta bersama diatur secara lebih enumeratif mulai pasal 85 sampai pasal 97.
Adapun pengaturan harta bersama secara lebih lanjut , menyatakan : a. Pasal 85
Adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri.
b. Pasal 86
1) Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan.
2) Harta isteri tetap menjadi hak isteri dan dikuasai penuh olehnya demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya
c. Pasal 87
1) Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.
34
2) Suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, sadaqah, atau lainnya.
d. Pasal 88
Apabila terjadi perselesihan antara suami isteri tentang harta bersama, maka penyelesaian perselisihan itu diajukan kepada Pengadilan Agama. e. Pasal 89
Suami bertanggungjawab menjaga harta bersama, harta isteri maupun hartanya sendiri.
f. Pasal 90
Isteri turut bertanggungjawab menjaga harta bersama, maupun harta suami yang ada padanya.
g. Pasal 91
1) Harta bersama sebagaimana tersebut dalam pasal 85 di atas dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud.
2) Harta bersama yang tidak berwujud dapat meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak an surat-surat berrharga.
3) Harta bersama tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban. 4) Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu
35
h. Pasal 92
Suami atau isteri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama.
i. Pasal 93
1) Pertanggungjawaban terhadap hutang suami atau isteri dibebankan pada harta masing-masing.
2) Pertanggungjawaban terhadap hutang yang dilakukan untuk kepentingan keluarga, dibebankan pada harta bersama.
3) Bila harta bersama tidak mencukupi, dibebankan pada harta suami. 4) Bila harta suami tidak ada atau tidak mencukupi dibebankan kepada
harta isteri. j. Pasal 94
1) Harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai isteri lebih dari seorang masing-masing terpisah dan berdiri sendiri.
2) Pemilikan harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mepunyai isteri lebih dari seorang sebagaimana tersebut ayat (1) dihitung pada saat berlangsungnya akad perkawinan yang kedua, ketiga, atau yang keempat.
k. Pasal 95
1) Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 24 ayat (2) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan pasal 136 ayat (2), suami atau isteri dapat meminta Pengadilan Agama untuk meletakkan
36
sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama seperti judi, mabuk, boros, dan sebagainya.
2) Selama masa sita dapat dilakukan penjualan atas harta bersama untuk kepentingan keluarga dengan izin Pengadilan Agama.
l. Pasal 96
1) Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama.
2) Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau isteri yang isteri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar keputusan Pengadilan Agama.
m. Pasal 97
Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.
Menurut Abdul Manaf ketentuan KHI tersebut antara lain menjelaskan bahwa 34:
1) Dalam perkawinan terdapat harta bersama, disamping harta pribadi masing-masing suami isteri. Harta pribadi tersebut sepenuhnya berada dalam penguasaan masing suami/isteri, dan bagi
34 Abdul Manaf, Aplikasi Asas Equalitas Hak dan Kewajiban Suami Isteri Dalam
37
masingnya itu berhak untuk melakukan tindakan hukum terhadap harta dimaksud. Suami, sesuai dengan fungsinya, bertanggungjawab untuk menjaga harta bersama, harta isteri, dan hartanya sendiri. Demikian juga isteri, sesuai dengan fungsinya, turut bertanggungjawab untuk menjaga harta bersama dan harta suami yang ada padanya.
2) Harta bersama dapat berupa benda berwujud dan tidak berwujud. Harta bersama yang tidak berwujud meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak, dan surat-surat berharga. Sedang harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak dan kewajiban.
3) Harta bersama dapat dijadikan sebagai jaminan oleh suami atas persetujuan isterinya. Demikian juga sebaliknya, harta bersama dapat dijadikan jaminan oleh isteri atas persetujuan suaminya.
4) Tanpa persetujuan isteri, suami tidak diperbolehkan menjual, membebani, atau memindahtangankan harta bersama. Demikian juga sebaliknya, isteri tidak diperbolehkan menjual, membebani, atau memindahtangankan harta bersama tanpa persetujuan suaminya. Pertanggungjawaban terhadap hutang pribadi suami/isteri dibebankan pada harta masing-masing, sedang pertanggungjawaban hutang yang diperlukan untuk kepentingan keluarga, dibebankan pada harta bersama. Bila harta bersama tidak mencukupi, pertanggungjawaban itu dibebankan pada harta suami. Bila harta suami tidak ada atau tidak mencukupi pertanggungjawabannya dibebankan kepada harta isteri.
38
5) Harta bersama dari hasil perkawinan serial atau poligami, masing-masing terpisah dan berdiri sendiri, dan itu terhitung mulai saat berlangsungnya aqad perkawinan yang kedua, ketiga, atau yang keempat.
6) Suami/isteri dapat meminta pengadilan agama untuk meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu pihak, suami/isteri, melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama seperti judi, mabuk, boros dan sebagainya. Selama masa sita, dapat dilakukan penjualan atas harta bersama untuk kepentingan keluarga dengan izin Pengadilan Agama. 7) Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak
pasangan yang masih hidup lebih lama. Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau isteri yang isteri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai ada kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar keputusan Pengadilan Agama.
8) Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.35
3. Harta Bersama Dalam Hukum Islam
Hukum Islam tidak mengatur tentang harta bersama dan harta bawaan kedalam ikatan perkawinan, yang ada hanya menerangkan tentang adanya hak milik pria atau wanita serta maskawin ketika perkawinan berlangsung, di dalam al-Qur’an disebutkan dalam Surat An-Nisa” ayat 32 :
39
789:آا =>? @ABC ء=9EFG و اI89:آا =>? @ABC ل=KLFG “……….. bagi pria ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan”.36
Ayat tersebut bersifat umum tidak ditujukan terhadap suami atau isteri. Jadi bukan ditujukan kepada suami isteri saja, melainkan semua pria dan wanita. Jika mereka berusaha dalam kehidupannya sehari-hari, maka hasil usaha mereka itu merupakan harta pribadi yang dimiliki dan dikuasai oleh pribadi masing-masing. Untuk hukum waris ayat tersebut mengandung pengertian bahwa setiap pria atau wanita mempunyai hak untuk mendapat bagian harta warisan yang ditinggalkan atau diberikan orang tua.37
Dalam hubungan dengan perkawinan, ayat tersebut dapat dipahami, bahwa ada kemungkinan dalam suatu perkawinan akan ada harta bawaan dari isteri yang terpisah dari harta suami, dan masing-masing suami dan isteri menguasai dan memiliki hartanya sendiri-sendiri. Sedangkan harta bersama (harta pencaharian) milik bersama suami isteri tidak ada, dan harta bawaan isteri itu kemudian bertambah dengan maskawin yang diterimanya dari suami ketika berlangsungnya perkawinan.
Pandangan hukum Islam yang memisahkan harta kekayaan suami isteri sebenarnya memudahkan pemisahan mana yang termasuk harta suami dan mana harta isteri, mana harta bawaan suami dan mana harta bawaan isteri
36 DEPAG RI, AL-Qur’an dan Terjemahannya, 122.
37 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum
40
sebelum terjadinya perkawinan, mana harta suami/isteri yang diperoleh secara sendiri-sendiri selama perkawinan, serta mana harta bersama yang diperoleh secara bersama selama terjadinya perkawinan. Pemisahan harta tersebut akan sangat berguna dalam pemisahan antara harta suami atau harta isteri jika terjadi perceraian dalam perkawinan mereka.
Hukum Islam juga berpendirian bahwa harta yang diperoleh suami selama perkawinan menjadi hak suami, sedangkan istri hanya berhak terhadap nafkah yang diberikan suami kepadanya.38 Namun, al-Qur’an dan hadits tidak memberikan ketentuan yang tegas bahwa harta benda yang diperoleh suami selama berlangsungnya perkawinan sepenuhnya menjadi hak suami, dan isteri hanya terbatas atas nafkah yang diberikan suaminya. Bagaimana dengan posisi harta bersama menurut Islam? berikut ini akan dikemukakan pemetaan pandangan hukum Islam tentang harta bersama. Moh. Indris Ramulyo dalam bukunya Hukum Perkawinan Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat Menurut Hukum Islam membagi pandangan hukum Islam tentang harta bersama kedalam dua kelompok sebagai berikut :39
a. Kelompok Yang Memandang Tidak Adanya Harta Bersama Dalam Lembaga Islam Kecuali Dengan Konsep Syirkah
Pandangan ini tidak mengenal percampuran harta kekayaan antara suami dan isteri karena perkawinan. Harta kekayaan isteri tetap menjadi
38 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono Gini Saat Terjadi Perceraian, 52.
39 Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan
41
milik isteri dan dikuasai sepenuhnya. Demikian pula harta suami tetap menjadi milik suami dan dikuasai sepenuhnya. Dalam pandangan kelompok ini, isteri tetap dianggap cakap bertindak meskipun tanpa bantuan suaminya dalam soal apapun, termasuk dalam hal mengurus harta benda sehingga dianggap bahwa isteri dapat melakukan segala perbuatan hukum dalam kehidupan masyarakat.
Kelompok ini memandang bahwa suami tidak berhak atas harta isterinya karena kekuasaan isteri terhadap harta adalah tetap dan tidak berkurang sedikitpun, meskipun mereka berdua diikat dalam hubungan perkawinan. Oleh karenanya, suami tidak boleh mempergunakan harta isteri untuk keperluan belanja rumah tangga kecuali mendapat izin dari isterinya. Bahkan, menurut pandangan kelompok ini, jika suami mempergunakan harta isteri tanpa persetujuan darinya, harta itu menjadi utang suami yang wajib dibayarkan kepada isteri kecuali jika isterinya itu bersedia membebaskan tanggungan itu.
Meskipun demikian kelompok ini memandang bahwa dalam hubungan perkawinan isteri menjadi “syarikatur rajuli filhayati”, yaitu kongsi sekutu bagi suami dalam manjalani bahtera hidup. Artinya, hubungan suami isteri merupakan suatu bentuk syirkah (kongsi, kerjasama, persekutuan).40
42
Harta kekayaan suami dan isteri bisa bersatu (harta bersama) karena adanya pengertian syirkah semacam itu. Harta ini seakan-akan dianggap sebagai harta tambahan karena usaha bersama suami isteri selama masa perkawinan mereka. Jika terjadi perceraian, harta syirkah ini dibagi antara suami siteri menurut pertimbangan siapa diantara mereka lebih banyak dalam berinvestasi.
b. Kelompok Yang Memandang Adanya Harta Bersama Dalam Hukum Islam
Disamping mengakui ketentuan yang berlaku dalam undang-undang perkawinan bahwa harta bersama itu diakui dan diatur dalam hukum positif, kelompok ini juga memandang ketentuan tentang harta bersama itu sesuai dengan kehendak dan aspirasi hukum Islam. Harta bersama yang dimaksud adalah harta yang diperoleh oleh pasangan suami isteri setelah hubungan perkawinan mereka berlangsung dan atas usaha mereka berdua atau usaha salah seorang dari mereka.
Dasar hukum Islam tentang ketentuan ini adalah surat an-Nisa’ ayat 21 yang menyebut perkawinan sebagai suatu perkawinan yang suci, kuat dan kokoh (mitsaqah ghalizhan). Artinya perkawinan yang telah dilakukan melalui ijab qabul dan memenuhi syarat dan rukun perkawinan lainnya, seperti saksi, mahar dan pemberitahuan perkawinan merupakan syirkah antara suami dan isteri. Oleh karena itu hal-hal yang berkenaan
43
dengan hubungan perkawinan mereka, termasuk masalah harta benda, menjadi milik bersama.
Berdasarkan dua pemetaan pandangan tersebut, sesungguhnya harta bersama bisa ditelusuri dalam hukum Islam, baik itu melalui konsep syirkah maupun berdasarkan kehendak atau aspirasi hukum Islam itu sendiri.
C. Ketentuan Umum Hukum Harta Bersama
Ketentuan umum dibagian ini merupakan pengembangan dari dasar hukum positif tentang harta bersama, yaitu bagaimana memperlakukan harta bersama sebelum harta ini dibagi. Atau dengan kata lain, ketentuan umum mencakup pengaturan hukum bagi suami isteri yang masih memiliki hubungan perkawinan terhadap harta bersama mereka.
1. Pengurusan Harta Bersama
Dibagian ini akan dijabarkan bagaimana ketentuan hukum tentang pengurusan harta bersama. Menurut KUH Perdata, suami sendirilah yang berhak mengurus harta bersama, termasuk berwenang melakukan berbagai perbuatan terhadap harta tersebut. Isteri tidak berhak mencampuri kewenangan suami. Dasar ketentuan ini adalah bahwa suami yang merupakan kepala rumah tangga yang bertanggungjawab terhadap segala urusan yang
44
berkenaan dengan kehidupan rumah tangga, termasuk dalam hal pengurusan harta bersama.41
Ketentuan tersebut diatur dalam KUH Perdata pasal 124 ayat 1, “Hanya suami saja yang boleh mengurus harta bersama itu. Dia boleh menjualnya, memindahtangankannya dan membebaninya tanpa bantuan isterinya, kecuali dalam hal yang diatur dalam pasal 140”. Artinya, suami memiliki kewenangan dalam mengurus harta bersama karena dia merupakan kepala rumah tangga, termasuk dalam hal menjualnya, memindahtangankannya, dan membebaninya. Namun suami tidak diperbolehkan mengurus sebagaimana dinyatakan dalam pasal 140 ayat 3 yaitu, “Mereka juga berhak membuat perjanjian, bahwa meskipun ada gabungan harta bersama, barang-barang tetap, surat-surat pendaftaran dalam buku besar pinjaman-pinjaman negara, surat-surat berharga lainnya dan piutang-piutang yang diperoleh atas nama isteri, atau yang selama perkawinan atau dibebani oleh suaminya tanpa persetujuan si isteri”.42
2. Penggunaan Harta Bersama
Kebersamaan harta kekayaan antara suami isteri, maka harta bersama menjadi milik keduanya. Untuk menjelaskan hal ini sebenarnya ada dua macam hak dalam harta bersama, yaitu hak milik dan hak guna. Harta bersama suami isteri memang telah menjadi hak milik bersama, namun jangan
41 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Saat Terjadi Perceraian, 26.
42 R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Jakarta : Pradnya Paramita,
45
dilupakan bahwa disana juga terdapat hak gunanya. Artinya, mereka berdua sama-sama berhak menggunakan harta tersebut dengan syarat harus mendapatkan paersetujuan dari pasangannya. Jika suami yang akan menggunakan harta bersama, dia harus mendapat persetujuan dari isterinya dan sebaliknya.43 Undang-Undang Perkawinan pasal 36 ayat 1 menyebutkan, “Mengenai harta bersama suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak”.
Sebagai contoh, selama masa perkawinan salah satu pihak dari pasangan suami isteri membeli rumah atau tanah atas nama suami/isteri. Kedua harta tersebut merupakan bagian dari harta bersama yang dimiliki secara bersama. Jika ada salah satu pihak yang ingin menjualnya, harus mendapat persetujuan dari pasangannya.
Jika penggunaan harta bersama tidak mendapat persetujuan dari salah satu pihak dari keduanya, tindakan tersebut dianggap telah melanggar hukum karena merupakan tindak pidana yang bisa dituntut secara hukum. Dasarnya adalah KHI pasal 92, “Suami atau isteri tanpa persetujuan pihak lain diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama”.44
Suami isteri juga diperbolehkan menggunakan harta bersama sebagai barang jaminan asalkan mendapat persetujuan dari salah satu pihak. Tentang hal ini, KHI pasal 94 mengatur, “Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu pihak atas persetujuan pihak lainnya”. Pasal 93
43 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Saat Terjadi Perceraian, 34. 44 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia , 136.
46
KHI mengatur ketentuan hukum harta bersama yang terkait dengan utang. Ayat 1 pasal itu menyebutkan bahwa, “Pertanggungjawaban terhadap utang suami atau isteri dibebankan kepada hartanya masing-masing”. Maksudnya, utang yang secara khusus dimiliki suami/isteri menjadi tanggungjawab masing-masing.45
Berdasarkan uraian di atas, maka hak dan kewajiban suami isteri atas harta bersama adalah seimbang atau hak-hak isteri sama dengan hak suami. Maksudnya adalah :
1) Isteri dapat bertindak atas harta bersama setelah ada persetujuan dari pihak suami.
2) Suami dapat bertindak atas harta bersama setelah ada persetujuan dari pihak isteri.
Pada prinsipnya harta bersama itu harus diurus bersama suami isteri dan dipergunakan bersama dan dalam segala sesuatunya atas persetujuan bersama.
Prinsip di atas bertolak belakang dengan prinsip yang diatur oleh KUH Perdata dimana pada pasal 124 ayat (1) menentukan bahwa harta bersama/persatuan berada dibawah urusan suami secara mutlak bahkan pada ayat (2) menyatakan bahwa suami dapat menjual, memindah tangankan dan
47
membebani harta bersama tersebut tanpa persetujuan dan campur tangan isteri, kecuali sebelumnya ada perjanjian perkawinan.46
D. Pembagian Harta Bersama
Harta bersama antara suami isteri baru dapat dibagi apabila hubungan perkawinan itu sudah terputus. Hubungan perkawinan itu dapat terputus karena kematian, perceraian dan juga oleh keputusan pengadilan. 47
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pada pasal 37 dikatakan “Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing”. Dalam penjelasan pasal tersebut dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “hukumnya masing-masing” ialah hukum agama, hukum adat, dan hukum lainnya. Sekiranya penjelasan pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tersebut dihubungkan dengan ketentuan pasal 96 dan 97 KHI, penerapan Hukum Islam dalam soal pembagian harta bersama baik dalam cerai mati dan cerai hidup, sudah mendapatkan kepastian positif. Karena baik dalam cerai mati pasal 96 ayat (1) menegaskan “Separuh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama”. Status kematian salah seorang pihak, baik suami maupun isteri, harus jelas terlebih dahulu agar penentuan tentang pembagian herta bersama jadi jelas. Jika salah satu dari keduanya hilang harus ada ketentuan tentang kematian dirinya secara hukum melalui Pengadilan Agama. Hal ini diatur dalam KHI pasal 96 ayat (2), “Pembagian harta bersama bagi
46 R. Subekti, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, 48.
47 Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, hukum Kewarisan ; Hukum Acara Peradilan
48
seorang suami atau isteri yang isteri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama”. Begitu juga dalam cerai hidup, pasal 97 KHI menegaskan “Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Artinya, dalam kasus cerai hidup, jika tidak ada perjanjian perkawinan, penyelesaian pembagian harta bersama ditempuh berdasarkan ketentuan didalamnya, yaitu masing-masing berhak mendapat seperdua dari harta bersama.
Menurut apa yang dirumuskan dalam Kompilasi Hukum Islam, penerapan pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 suami isteri masing-masing berhak mendapat setengah bagian dari harta bersama apabila perkawinan pecah. Tidak menjadi soal apakah pecahnya karena cerai mati atau cerai hidup. Pendirian yang digariskan dalam Kompilasi Hukum Islam sejalan dengan pandangan orientasi makna syarikat yang ditentukan dalam hukum Islam sendiri.48
Pendapat dan penerapan yang demikian juga telah merupakan yurisprudensi tetap dalam hukum adat. Sejak masa perang dunia kedua, sudah dipertahankan ketetapan hukum yang memberi hak dan kedudukan yang sama antara suami isteri terhadap harta bersama apabila perkawinan mereka pecah. Ambil contoh putusan mahkamah agung tanggal 9 Desember 1959 Nomor 424
48 Dalam uraiannya Isma’il Muhammad Syah menyatakan bahwa harta bersama termasuk
dalam syirkah Abdan atau syirkah mufawadah. Karena memang pengkongsian antara suami isteri itu sifatnya tidak terbatas. Artinya apa yang dihasilkan pasangan suami iateri selama perkawinan merupakan harta bersama, adalah patut untuk memberi hak dari bagian yang sama apabila perkawinan mereka pecah.
49
K/STP/1959, dalam putusan ini ditegaskan : “Menurut yurisprudensi Mahkamah Agung dalam hal terjadi perceraian barang gono-gini harus dibagi antara suami dan isteri dengan masing-masing mendapat separoh bagian”.49
Masalah penerapan pembagian harta bersama dalam cerai hidup, tidak begitu menimbulkan persoalan, karena pembagian dapat dilangsungkan secara tunai dan langsung antara suami isteri, masing-masing mendapat setengah bagian. Lain halnya dalam pembagian harta bersama dalam keadaan cerai mati. Dalam masalah ini bisa timbul berbagai masalah yang memerlukan penerapan tersendiri. 1. Cerai mati tanpa anak
Dalam hal cerai mati tanpa anak yang dilahirkan dalam perkawinan, penerapannya berdasarkan hukum adat terdapat beberapa variasi. Misalnya suami meninggal dunia tanpa anak, sehigga yang tinggal hanya janda. Dalam kasus yang seperti ini ada yang berpendapat, harta bawaan suami maupun harta bersama jatuh menjadi warisan janda. Pendapat yang seperti ini dapat dibaca dalam putusan Mahkamah Agung tanggal 2 Nopember 1960 No. 302K/SIP/1960. Dalam putusan ini terdapat uraian pertimbangan yang menjelaskan :
“Menurut hukum adat di seluruh Indonesia, seorang janda perempuan merupakan ahli waris terhadap barang asal dari suami dalam arti, bahwa sekurang-kurangnya dari barang asal itu sebagian harus tetap ditangan janda sepanjang perlu untuk hidup secara pantas sampai ia meninggal atau kawin lagi, sedang di beberapa daerah di Indonesia
49 Abdul Manann, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta : Kencana,
50
disamping ketentuan ini mungkin dalam hal barang-barang warisan amat banyak harganya, janda berhak atas bagian warisan seperti seorang anak kandung”. 50
Jika putusan di atas diuraikan secara lanjut, terdapat beberapa penggarisan hukum yang berkenaan dengan harta bersama. Pertama, dalam hal suami meninggal dunia tanpa keturunan, janda akan menguasai dan menikmati harta bersama selama ia hidup atau selama ia tidak kawin dengan lelaki apabila harta bersama yang ditinggalkan hanya sedikit jika dia kawin dengan laki-laki, maka harta bersama dibagi dua. Setengah bagian untuk janda dan setengah bagian untuk ahli waris mendiang suami. Terlepas dari putusan di atas, kita lebih setuju penerapan yang lebih bersifat tuntas, yaitu segera menyelesaikan pembagian harta bersama antara janda dengan ahli waris mendiang suami. Cara yang demikian terasa lebih adil, dan lebih sesuai dengan ajaran Islam yang menyuruh penyelesaian harta pennggalan sesegera mungkin pada saat harta peninggalan terbuka untuk dibagi.51
Uraian di atas, sekalipun masalah harta bersama yang hendak diterapkan dalam Lingkungan Peradilan bertitik tolak dan bersumber dari ‘urf atau hukum adat yang sudah berkembang di masyarakat dan praktek Peradilan, dalam hal tersebut Peradilan Agama harus mampu dan berani mengadakan “modifikasi” ke arah yang lebih sesuai dengan maslahat dan jiwa hukum Islam. Khusus menghadapi kasus harta bersama yang tidak dikaruniai
50 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, 280. 51 Ibid., 281.