• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TELAAH PUSTAKA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

9

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1 Strategi

Organisasi atau lembaga sekolah memerlukan strategi untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Dessler (2008:12) mendefinisikan strategi sebagai rencana jangka panjang organisasi berkenaan dengan bagaimana organisasi itu menyelaraskan kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman eksternal untuk mempertahankan keunggulan kompetitif. Strategi yang tepat dapat mengantarkan organisasi pada keberhasilan mencapai tujuannya dan tetap memiliki keunggulan yang kompetitif. Strategi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada agar lebih efisien dan efektif.

Menurut Hardjosoedarmo (2004:81) strategi adalah pengarahan menyeluruh sumber daya untuk mengendalikan situasi dan ruang guna mencapai tujuan yang digariskan. Bagaimana tujuan strategi hendak dicapai. Lebih lanjut Edward dalam Umar (2002) strategi merupakan rencana yang dilakukan oleh para manager paling atas dan menengah untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih luas. Dalam penerapan di sekolah, kepala sekolah perlu membuat

(2)

10 suatu strategi yang mana dikoordinasikan dengan para guru untuk dijalankan bersama demi mencapai tujuan yang diharapkan dari sekolah.

Untuk memperoleh strategi yang tepat, lembaga sekolah memerlukan pengenalan dan penguasaan terhadap berbagai informasi lingkungan strategisnya. Lingkungan strategis lembaga sekolah akan selalu berubah dan mempengaruhi eksistensinya. Lembaga sekolah perlu melakukan analisis yang cermat untuk mengenali kekuatan dan kelemahan internal lembaga serta memahami peluang dan ancaman eksternalnya, sehingga lembaga dapat melakukan antisipasi terhadap perubahan yang mungkin terjadi. Analisis lingkungan juga dimaksudkan untuk memberikan informasi yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengambil langkah-langkah dalam jangka panjang (Akdon, 2006:12).

Berdasarkan beberapa pengertian strategi diatas, bahwa strategi yang dimaksud yaitu rencana yang digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Rencana penetapan dan pemanfaatan sumber-sumber daya secara terpadu akan dilakukan secara efesien dan efektif dalam mencapai tujuan.

(3)

11

2.2 Mutu

Secara umum mutu merupakan gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan. Pengertian mutu menurut Sallis (2012:51) adalah konsep yang absolut sekaligus relatif. Mutu dalam konsep absolut memiliki pengertian bahwa mutu merupakan suatu idealisme yang tidak dapat dikompromikan. Produk yang bermutu adalah sesuatu yang dibuat sempurna dengan biaya mahal. Dalam konsep relatif mutu merupakan sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan kebutuhan pelanggan (quality in perception). Dalam dunia pendidikan mutu merupakan sebuah filosofi dan metodologi yang membantu sekolah untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.

Definisi mutu menurut Sagala (2013:169) adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh jasa pelayanan pendidikan secara internal maupun

eksternal yang menunjukkan kemampuannya memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat.

Pengertian mutu menurut Hardjosoedarmo (2004:49) adalah penilaian subyektif daripada customer.

(4)

12 Penilaian ditentukan oleh persepsi customer terhadap produk atau jasa. Lebih lanjut Amtu (2011:120) mutu merupakan layanan produk berupa barang atau jasa yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan, harapan dan harganya mampu dijangkau oleh pelanggan. Mutu tidak sekedar pada barang atau jasa, melainkan pada aspek estetika, penampilan, kenyamanan, praktis, tahan lama, kesopanan dalam pelayanan, ketepatan waktu, serta disesuaikan dengan harapan dan keinginan pelanggan baik pelanggan

internal maupun eksternal.

Berdasarkan berbagai pendapat yang diungkapkan tentang definisi mutu, maka dapat disimpulkan bahwa mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh jasa pelayanan secara internal maupun eksternal yang menunjukkan kemampuannya memuaskan kebutuhan yang diharapkan.

2.3 Mutu Pendidikan

Mutu sangat ditentukan oleh faktor kepuasan pelanggan sebagai pengguna produk/layanan. Oleh karena itu, institusi/lembaga pendidikan sebagai penyedia layanan jasa ilmu pengetahuan juga memperhatikan pentingnya kepuasan dari pelanggannya, baik pelanggan eksternal (siswa, orang

(5)

13 tua dan masyarakat) maupun pelanggan internal (guru dan staf administrasi).

Spanbauer dalam Gaspersz (2005:57) menyatakan bahwa mutu pendidikan adalah menciptakan kesadaran akan kebutuhan pelanggan dan secara signifikan meningkatkan mutu pelayanan dan memenuhi dan melampaui harapan. Lebih lanjut mutu pendidikan menurut Arcaro (2007:76) adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin.

Mutu pendidikan menurut Amtu (2011:138) adalah berbagai indikator dan komponen pendidikan yang saling berkaitan. Komponen dan variabel yang menentukan terwujudnya mutu pendidikan yang baik secara umum masih dikaitkan dengan sistem, kurikulum, tenaga pendidik, peserta didik, proses belajar mengajar, anggaran, sarana prasarana pendidikan, lingkungan belajar, budaya organisasi, kepemimpinan dan lain sebagainya.

Sementara Sallis (2012:67) menyatakan bahwa mutu pendidikan yaitu memberikan layanan pendidikan yang bermutu. Setiap institusi perlu memperhatikan bangunan yang terpelihara dengan baik, guru yang berkompeten, nilai-nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang baik, keahlian, dukungan orang tua, hubungan dengan kelompok bisnis dan

(6)

14 masyarakat, sumber daya yang memadai, penerapan teknologi terbaru, kepemimpinan yang kuat dan terarah, kepedulian dan perhatian kepada siswa dan kurikulum yang seimbang atau kombinasi terhadap faktor ini.

Menurut Zahroh (2014:35) mutu pendidikan harus mengutamakan siswa atau perbaikan program sekolah yang dilakukan secara kreatif dan konstruktif oleh pihak pendidikan. Lembaga pendidikan dikatakan bermutu jika input, proses, dan ouput dapat memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan. Input yaitu segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya

proses seperti SDM, sarana prasarana, program dan

harapan (visi misi dan tujuan). Proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses proses lainnya. Output yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses sekolah. Output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi yaitu: (1) prestasi akademik, berupa nilai ulangan umum, Ujian Nasional, karya

(7)

15 ilmiah, lomba akademik; dan (2) prestasi non-akademik, seperti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, sekolah perlu melakukan perbaikan secara berkesinambungan. Berikut adalah bagan penyempurnaan kualitas secara berkesinambungan menurut Lewis & Smith (dalam Tjiptono dan Diana, 2003).

Gambar 2.1

Penyempurnaan Kualitas Berkesinambungan

Sumber: Lewis & Smith (dalam Tjiptono dan Diana, 2003)

Proses penyempurnaan kualitas dalam sistem pembelajaran ditentukan oleh:

1. Input

Input merupakan segala sesuatu yang harus

tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya Penyempurnaan Kualitas

Berkesinambungan

Input Proses Ouput

Transformasi

(8)

16 proses pendidikan. Input pendidikan meliputi kemampuan dasar siswa, sumber daya finansial, fasilitas, program dan jasa pendukung. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu

input dapat diukur dari tingkat kesiapan input.

Semakin tinggi tingkat kesiapan input, semakin tinggi pula mutu input tersebut.

Menurut Scheeren (2003) salah satu input dalam sistem sekolah adalah siswa dengan berbagai karakteristik tertentu yang ada pada mereka. Hal ini dipertegas oleh Sanjaya (2006) menjelaskan bahwa siswa adalah organisme unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Selain faktor lain yang mempengaruhi proses belajar adalah kemampuan dasar, pengetahuan, sikap latar belakang siswa meliputi jenis kelamin, tempat kelahiran, tempat tinggal, tingkat sosial ekonomi, latar belakang keluarga.

2. Proses

Proses merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Proses meliputi kemampuan guru, desain pembelajaran, metode pembelajaran, fasilitas belajar, kurikulum, media, dan evaluasi.

Sanjaya (2006) menjelaskan terdapat 4 hal penting dalam proses pendidikan. Pertama, proses pendidikan adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan. Kedua, proses

(9)

17 pendidikan yang terencana diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.

Ketiga, suasana belajar dan pembelajaran diarahkan

agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya.

Keempat, akhir proses pendidikan adalah kemampuan

anak memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan.

Proses pendidikan yang bermutu perlu didukung oleh personalia seperti guru, konselor, dan tata usaha dan administrasi yang bermutu dan profesional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas, media dan sumber belajar yang memadai baik mutu maupun jumlahnya serta manajemen strategi dan lingkungan yang mendukung (Mulyasa, 2006).

Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (siswa) dan proses (kemampuan guru, fasilitas belajar, kurikulum, metode pembelajaran, media belajar dan evaluasi) dilakukan secara harmonis, sehingga menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan, juga mendorong motivasi dan minat belajar siswa sehingga mampu mengembangkan dirinya (Rozari, 2011).

(10)

18 3. Output

Ouput pendidikan merupakan kinerja yang

dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya.

Sanjaya (2006) menjelaskan ketika siswa sudah mengalami proses pembelajaran maka akan terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Hal ini juga dipertegas oleh Scheeren (2003) yang mengatakan bahwa kinerja sekolah dapat diukur dengan prestasi rata-rata siswa pada akhir masa pendidikan formalnya disekolah.

Menurut Maswir (2009) mengukur prestasi sebuah sekolah bisa dilihat dari Ujian Nasional (UN) sekolah tersebut, ataukah dengan membandingkan input dengan ouputnya. Mutu output sekolah dikatakan bermutu tinggi jika prestasi sekolah khususnya prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian tinggi dalam: (1) prestasi akademik, berupa ulangan, UN, karya ilmiah, lomba akademik, dan (2) prestasi non akademik, seperti IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Berdasarkan berbagai pendapat yang diungkapkan tentang definisi mutu pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah

(11)

19 menciptakan kesadaran pada kebutuhan pelanggan dengan mengupayakan peningkatan mutu layanan yang memenuhi atau melampaui keinginan dan harapan pelanggan (siswa dan orang tua), melalui keunggulan sumber daya, hasil yang memuaskan, hubungan kerjasama, kepemimpinan yang terarah pada mutu, serta empati.

2.4 Strategi Peningkatan Mutu Sekolah

Perlu suatu proses perencanaan agar terjadinya mutu. Mutu menjadi bagian penting dari strategi institusi yang harus dilakukan secara sistematis dengan menggunakan proses perencanaan strategi. Tanpa adanya arahan yang jangka panjang yang jelas, sekolah sebagai sebuah institusi tidak dapat merencanakan peningkatan mutunya. Peningkatan mutu sekolah merupakan suatu proses yang sistematis yang secara terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, dan faktor-faktor yang berkaitan, dengan tujuan agar target sekolah dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien (Zamroni, 2007). Usman (2002) menjelaskan bahwa strategi peningkatan mutu sekolah dalam pelaksanaannya tidak lepas dari manajemen peningkatan mutu sekolah. Manajemen peningkatan mutu memiliki prinsip antara lain: (1) peningkatan mutu harus dijalankan di sekolah,

(12)

20 (2) peningkatan mutu hanya dapat dilaksanakan dengan adanya kepemimpinan yang baik, (3) peningkatan mutu didasarkan pada data dan fakta baik bersifat kualitatif dan kuantitatif, (4) peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di sekolah, (5) peningkatan mutu memiliki tujuan bahwa sekolah dapat memberikan kepuasan kepada siswa, orang tua dan masyarakat.

Menurut Sallis (2012:212) strategi peningkatan mutu pada sekolah didasarkan pada kelompok-kelompok pelanggan dan harapan-harapan mereka yang bervariasi. Selanjutnya dengan mengembangkan kebijakan-kebijakan serta rencana-rencana yang dapat mengantarkan sekolah pada pencapaian visi dan misi. Strategi sekolah merinci tolak ukur yang kelak digunakan untuk mencapai misinya.

Berdasarkan pendapat diatas maka strategi peningkatan mutu sekolah dalam penelitian ini adalah perencanaan strategi peningkatan mutu dalam input,

proses dan output sekolah dengan perbaikan secara

terus menerus, menentukan standar mutu, budaya organisasi yang menghargai mutu dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan.

(13)

21

2.5 Strategi Peningkatan Mutu Berdasarkan

Analisis SWOT

Sallis (2012:221) menyebutkan salah satu alat analisis yang baik untuk mengetahui hal-hal dalam membuat rencana strategis adalah analisis SWOT. SWOT adalah singkatan dari Strengths, Weaknesses,

Opportunities, and Threats (Kekuatan, Kelemahan,

Peluang, dan Ancaman) yang digunakan untuk perencanaan strategi pendidikan dan merupakan alat yang efektif untuk menempatkan potensi institusi.

Menurut Rangkuti (2009:19) Strengths adalah beberapa hal yang merupakan kelebihan dari sekolah yang bersangkutan. Hal-hal yang memiliki potensi yang positif jika dikembangkan dengan baik. Weaknesses adalah komponen-komponen yang kurang menunjang keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang ingin dicapai sekolah. Kelemahan merupakan kondisi riil yang ada dan terjadi di sekolah. Opportunities adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai apabila potensi-potensi yang ada di sekolah mampu dikembangkan secara optimal oleh sekolah. Peluang juga dapat didefinisikan sebagai kemungkinan yang dapat digunakan oleh sekolah untuk mempromosikan sekolah dengan pola yang bijak. Threats adalah kemungkinan yang dapat terjadi atau berpengaruh terhadap kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan

(14)

22 penyelenggaraan sekolah. Secara sederhana analisis SWOT adalah pengujian terhadap kekuatan dan kelemahan internal sekolah, serta peluang dan ancaman lingkungan eksternalnya.

Gambar 2.2

Diagram Analisis SWOT

Sumber: Rangkuti, 2009

Selain empat komponen dasar ini, terdapat asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan yang ada dalam sekolah selalu ada KELEMAHAN INTERNAL (W) BERBAGAI PELUANG (O) KEKUATAN INTERNAL (S) BERBAGAI ANCAMAN (T)

1. Mendukung Strategi Agresif 2. Mendukung Strategi

Turn-Arround

3. Mendukung Strategi Defensif

4. Mendukung Strategi Diversifikasi

(15)

23 kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka untuk sekolah selalu ada ancaman yang harus diwaspadai oleh sekolah.

Matriks dibawah ini menjelaskan empat set kemungkinan alternatif strategi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.3 berikut ini.

Gambar 2.3 Matrik SWOT IFAS EFAS STRENGTHS (S)  Menentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal WEAKNESSES (W)  Menentukan 5-10 faktor-faktor kelemahan internal OPPORTUNITIES (O)  Menentukan 5-10 faktor-faktor peluang eksternal STRATEGI SO Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI WO Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang THREATS (T)  Menentukan 5-10 faktor-faktor ancaman eksternal STRATEGI ST Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman STRATEGI WT Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber: Rangkuti, 2009

Berdasarkan matrik SWOT diatas yang dimaksud dengan strategi SO (strategi agresif) yaitu strategi yang dilakukan dengan memanfaatkan seluruh kekuatan sekolah untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi ST (strategi diversifikasi) yaitu strategi yang dilakukan dengan memanfaatkan

(16)

24 kekuatan yang dimiliki sekolah untuk mengatasi ancaman. Selanjutnya, strategi WO (strategi

turn-arround) adalah strategi yang dilakukan dengan

meminimalkan kelemahan yang ada di sekolah untuk menangkap peluang, sedangkan strategi WT (strategi

defensif) adalah strategi yang dilakukan dengan

meminimalkan kelemahan yang ada di sekolah untuk menghindari ancaman.

Apabila analisis ini digunakan dengan tepat maka sekolah akan mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai situasi sekolah dalam hubungannya dengan masyarakat, lingkungan sekitar, lembaga pendidikan lain, dan jenjang lanjutan yang akan dimasuki siswa. Pemahaman mengenai faktor internal dan eksternal tersebut akan membantu pengembangan visi masa depan serta membuat program yang inovatif dan relevan.

2.6 Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan yang dilakukan Anna Maria De Rozari (2011) tentang rencana strategis peningkatan mutu sekolah dengan analisis SWOT di SMAK St. Petrus Comoro Dili Timor Leste. Hasil analisis SWOT menunjukkan SMAK St. Petrus berada pada kuadran SO, dengan strategi agresif yang memanfaatkan kekuatan internal untuk menangkap

(17)

25 peluang eksternal sekolah yaitu membuat program bimbingan konseling untuk mempersiapkan diri siswa, memberdayakan guru untuk menggunakan media atau teknologi pembelajaran dalam PBM, penambahan jam belajar, remedial teaching, dan evaluating.

Penelitian lainnya yang menggunakan analisis SWOT dilakukan Deliyanti (2009) penelitian di SD Laboratorium Kristen Satya Wacana Salatiga, Adepoju dan Famade (2010) pada program pendidikan kejuruan dan teknik di Nigeria, Sumarni (2011) pada SMP Kristen Satya Wacana Salatiga, dan Mariyatun (2012) di SMA Katolik Augustinus Kediri, hasilnya sama-sama memberikan strategi agresif dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan.

2.7 Kerangka Pikir

Kerangka Pikir dari Strategi Peningkatan Mutu Sekolah di SMP Muhammadiyah 5 Wonosegoro sebagai berikut:

(18)

26 Gambar 2.4

Kerangka Pikir Analisis SWOT

Strategi peningkatan mutu sekolah merupakan suatu rencana yang komprehensif dengan melibatkan semua sumber kemampuan untuk meningkatkan mutu proses belajar, mencapai target-target sekolah, dan memenangkan persaingan. Mengidentifikasi visi, misi dan tujuan sekolah merupakan bagian yang penting

Identifikasi Visi, Misi dan Tujuan Analisis Lingkungan Internal Analisis Lingkungan Eksternal Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan

Identifikasi Peluang dan Ancaman

Rumusan Strategi Peningkatan Mutu

Implementasi Strategi

(19)

27 untuk mewujudkan strategi peningkatan mutu sekolah. Selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menganalisis lingkungan internal dan eksternalnya untuk mengidentifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Faktor-faktor tersebut jika dianalisa secara komprehensif akan menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun strategi peningkatan mutu sekolah. Jika strategi tersebut dilaksanakan, akan ada monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan untuk memperbaiki strategi di masa yang akan datang. Dalam penelitian ini penulis hanya sampai pada merumuskan strategi, tidak membahas sampai dengan monitoring dan evaluasi.

(20)

Gambar

Gambar 2.3   Matrik SWOT  IFAS  EFAS  STRENGTHS (S)   Menentukan   5-10  faktor-faktor kekuatan internal  WEAKNESSES (W)   Menentukan   5-10  faktor-faktor kelemahan internal  OPPORTUNITIES (O)    Menentukan  5-10  faktor-faktor  peluang eksternal  STRA

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan yang didapat pada penelitian ini adalah dengan tingkat akurasi aplikasi ini dalam mendeteksi kantuk, aplikasi ini dapat diimplementasikan secara nyata

Pengertian siklus akuntansi diatas menggambarkan bahwa siklus akuntansi merupakan suatu proses yang sangat penting dan harus dilalui oleh suatu perusahaan dan dilakukan

Sifat kuantitatif yang diamati yaitu: (1) Panjang badan, diukur dari jarak garis lurus dari tepi tulang processus spinocus pertama sampai benjolan tulang tapis

Menurut Heidjrahman dan Suad husnan (1990 : 231), konflik mempunyai arti ketidak setujuan, antara dua atau lebih anggota organisasi yang timbul karena mereka harus menggunakan

Perusahaan cenderung lebih memilih penarikan dari dalam perusahaan, dengan alasan mengenal keperibadian, kemampuan, dan keterampilan karyawan secara lebih mendalam,

• Penyelenggaraan pelatihan mutu yang baik dapat meningkatkan kemampuan personal pengelola mutu tingkat unit kerja dan mendukung peningkatan mutu rosesdata capaian

Untuk membangun suatu bisnis, lokasi juga mengambil peran penting dalam kelangsungan bisnis tersebut.Karena faktor lokasi merupakan faktor yang.. 36 penting yang

Menganalisis pertahanan dan keamanan menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun Menganalisis pertahanan dan keamanan menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 1945