• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan kesan dalam public relations politik kandidat di pilakda DKI: studi pada pasangan Anies-Sandi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengelolaan kesan dalam public relations politik kandidat di pilakda DKI: studi pada pasangan Anies-Sandi"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms.. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP.

(2) PENGELOLAAN KESAN DALAM PUBLIC RELATIONS POLITIK KANDIDAT DI PILKADA DKI: STUDI PADA PASANGAN ANIES-SANDI. Diajukan kepada Universitas Multimedia Nusantara, Program Studi Ilmu Komunikasi sebagai Bagian dari Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.). Billy Tri Wicaksono 10120110263. PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI MULTIMEDIA PUBLIC RELATIONS FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA TANGERANG 2017.

(3) HALAMAN PENGESAHAN Skripsi dengan judul “PENGELOLAAN KESAN DALAM PUBLIC RELATIONS POLITIK KANDIDAT DI PILKADA DKI” (Studi Pada Pasangan Anies-Sandi) oleh Billy Tri Wicakosono telah diajukan pada hari Jumat 3 Februari 2017, pukul 13.00 – 14.30 WIB dan dinyatakan lulus dengan susunan penguji sebagai berikut:. Ketua Sidang. Penguji Ahli. Dr. Bertha Sri Eko., M.Si.. Hanif Suranto, M.Si. Dosen Pembimbing. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si Disahkan oleh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi – UMN. Inco Hary Perdana, M.Si. iv.

(4) HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul “PENGELOLAAN KESAN DALAM PUBLIC RELATIONS POLITIK KANDIDAT DI PILKADA DKI” (Studi Pada Pasangan Anies-Sandi) oleh Billy Tri Wicaksono telah disetujui untuk diajukan pada Sidang Ujian Skripsi Universitas Multimedia Nusantara. Tangerang, 16 Januari 2017 Dosen Pembimbing. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi. Inco Hary Perdana, M.Si.. iii.

(5) HALAMAN PERNYATAAN. Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya ilmiah saya sendiri, bukan plagiat dari karya ilmiah yang ditulis oleh orang lain atau lembaga lain, dan semua karya ilmiah orang lain atau lembaga lain yang dirujuk dalam skripsi ini telah disebutkan sumber kutipannya serta dicantumkan di Daftar Pustaka. Jika di kemudian hari terbukti ditemukan kecurangan/ penyimpangan, baik dalam pelaksanaan skripsi maupun dalam penulisan laporan skripsi, saya bersedia menerima konsekuensi dinyatakan TIDAK LULUS untuk mata kuliah Skripsi yang telah saya tempuh.. Tangerang, 16 Januari 2017. ( Billy Tri Wicaksono ). ii.

(6) PENGELOAAN KESAN DALAM PUBLIC RELATIONS POLITIK KANDIDAT DI PILKADA DKI (Studi Pada Pasangan Anies-Sandi) ABSTRAK Oleh: Billy Tri Wicaksono Pengelolaan kesan dikembangkan oleh Erving Goffman pada tahun 1956. Menurut Goffman (1956, h. 8) impresi atau kesan yang individu perlihatkan untuk pertama kali di depan orang lain akan sangat menentukan bagaimana kualitas hubungan orang lain dengan dirinya, karena ketika seseorang individu mempersiapkan dirinya untuk terlihat bagi orang lain, individu tersebut sudah pasti memiliki banyak motif untuk mencoba mengendalikan kesan bagi mereka para penerima atau audiens. Perspektif yang digunakan dalam penelitian ini adalah perspektif pertunjukan teater, dimana prinsip – prinsipnya bersifat dramaturgis. Bagaimana pasangan Anies-Sandi menampilkan dirinya dan aktivitasnya kepada orang lain, serta memandu dan mengendalikan kesan yang dibentuk orang lain terhadapnya dan segala hal yang mungkin atau tidak mungkin Anies-Sandi lakukan untuk menopang pertujukan sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Dengan metode studi kasus, peneliti akan melihat bagaimana panggung pasangan Anies-Sandi dalam kontestasi Pilkada DKI 2017 serta teori performa komunikatif, menjadi indikator yang membantu menganalisis pendekatan public relations politik yang digunakan oleh Anies-Sandi. Dengan pendekatan kualitatif, peneliti melakukan observasi partisipan, studi dokumen dan wawancara dengan narasumber terkait (Anies-Sandi, juru bicara, tim sosialisasi kampanye, dan pakar Komunikasi Politik terkait teori Dramaturgi). Hasilnya mengatakan bahwa penelitian ini dapat menganalisis 8 (delapan) pendekatan public relation politik pasangan Anies-Sandi. Narasi sebagai pemimpin yang mempersatukan dan mengajak warganya untuk berpartisipasi terlihat di slogan “Maju Kotanya, Bahagia Warganya.” Dalam bingkai dramaturgi, kelemahan penelitian ini ialah tidak mempunyai akses ke panggung belakang.. Kata Kunci: Dramaturgi, Perfroma Komunikatif, Pendekatan Public Relations Politik, Pilkada DKI 2017.

(7) KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, kasih dan anugrah-Nya, penulis dapat menyelesaikan proses penyusunan skripsi yang berjudul “Pengelolaan Kesan dalam Public Relations Politik Kandidat di Pilkada DKI (Studi pada Pasangan Anies-Sandi)” Skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk menerima gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom), Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara. Dalam menjalankan proses penyusunan skripsi, peneliti mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak- pihak yang selalu menyediakan waktu, tempat dan tenaga serta mendukung peneliti selama proses penyelesaian skripsi ini, 1. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., selaku dosen pembimbing peneliti yang selalu sabar dalam memberikan arahan, waktu, tenaga, nasihat, serta dukungannya kepada penulis selama proses pengerjaan skripsi dari awal hingga akhir. Terima kasih banyak bapak. 2. Inco Hary Perdana, M.Si., selaku Kepala Program Ilmu Komunikasi yang telah mengesahkan laporan penelitian ini. 3. Dr. Bertha Sri Eko M., M.Si., selaku Ketua Sidang yang memberikan banyak masukan pada penelitian ini. 4. Papa, Mama, mas Didit, mba Puri, dan Kunto selaku keluarga inti yang selalu memberikan dukungan dan semangat melalui doa serta nasihat kepada peneliti. Tidak ada yang lebih berharga daripada dan semangat kalian untuk menyelesaikan penelitian ini. 5. Dr. Anggawira, Dr. Lely Arrianie, Dedi Wijaya, Revi Majiza yang sudah bersedia menjadi informan peneliti. Terima kasih atas waktu, kesempatan dan pelajaran hidupnya. Memberikan inspirasi bagi peneliti. 6. Vianca Aprinno, Harmando Taufik Gemilang, Jordan Haikal, Mario Lasse, Pasha Rionovan selaku sahabat yang selalu menemani dan memberikan dukungan moral untuk menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih banyak kawan.. v.

(8) Semoga dengan adanya skripsi ini, peneliti dapat memberikan manfaat bagi pihakpihak terkait. Diantaranya untuk mendukung perkembangan pengetahuan civitas akademika Universitas Multimedia Nusantara khususnya dibidang komunikasi. Peneliti menyadari skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang terkait agar skripsi ini dapat memberikan manfaat secara nyata. Tangerang, 16 Februari 2017. Billy Tri Wicakono. vi.

(9) DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERNYATAAN ................................................................................ ii HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iv KATA PENGANTAR ............................................................................................ v ABSTRAK ............................................................................................................ vii DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiv BAB I ...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah .................................................................................. 9 1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 9 1.4. Kegunaan Penelitian ................................................................................. 9 1.4.1. Kegunaan Penelitian Akademis ........................................................ 9. 1.4.2. Kegunaan Penelitian Praktis ........................................................... 10. BAB II ................................................................................................................... 11 viii.

(10) LANDASAN TEORI ............................................................................................ 11 2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................................... 11 2.2 Teori dan Konsep .................................................................................... 20 2.2.1. Dramaturgi ...................................................................................... 20. 2.2.1.1. Pertunjukan Panggung Depan dan Panggung Belakang .......... 24. 2.2.1.2. Kontrol Terhadap Informasi .................................................... 28. 2.2.1.3. Pengelolaan Kesan ................................................................... 30. 2.2.2. Teori Performa Komunikatif ........................................................... 32. 2.2.3 Konseptualisasi Komunikasi .............................................................. 36 2.2.3.1. Tujuan Komunikasi.................................................................. 37. 2.2.3.2. Proses Komunikasi .................................................................. 38. 2.2.3.3. Komunikasi Verbal .................................................................. 39. 2.2.3.4. Komunikasi Nonverbal ............................................................ 40. 2.2.4. Komunkikasi Politik ....................................................................... 43. 2.2.4.1. Ciri Komunikator Politik ......................................................... 45. 2.2.4.2. Politikus sebagai Komunikator Politik .................................... 46. 2.2.5. Public Relations Politik ................................................................... 47. 2.2.6. Hubungan Teori dan Konsep .......................................................... 52. ix.

(11) 2.3 Kerangka Pemikiran................................................................................ 53 BAB III ................................................................................................................. 54 METODOLOGI PENELITIAN ............................................................................ 54 3.1 Sifat dan Jenis Penelitian ........................................................................ 54 3.2 Metode Penelitian ................................................................................... 55 3.3 Key Informan dan Informan ................................................................... 56 3.4 Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 57 3.5 Teknik Keabsahan Data .......................................................................... 61 3.6 Teknik Analisis Data............................................................................... 62 BAB IV ................................................................................................................. 65 ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN .............................................................. 65 4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian ...................................................... 65 4.1.1. Gambaran Anies Baswedan ............................................................ 67. 4.1.2. Gambaran Sandiaga Uno................................................................. 73. 4.2 Pengelolaan Kesan Pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI .................... 76 4.2.1. Panggung Depan dan Panggung Belakang ..................................... 76. 4.2.2. Kontrol Terhadap Informasi ............................................................ 79. 4.2.3. Pengelolaan Kesan .......................................................................... 81. 4.3 Pendekatan Public Relations Politik Pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI ......................................................................................................... 85. x.

(12) 4.3.1. Relasi Politik dengan Publik ........................................................... 86. 4.3.2. Paradigma Politik Grunigian ........................................................... 87. 4.3.3. Hype Politik .................................................................................... 88. 4.3.4. Persuasi Politik ................................................................................ 89. 4.3.5. Manajemen Hubungan Politik......................................................... 89. 4.3.6. Manajemen Reputasi Politik ........................................................... 90. 4.3.7. Hubungan Publik Politik ................................................................. 92. 4.3.8. Pembangunan Komunitas Politik .................................................... 93. 4.4 Performa Komunikatif Pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI .............. 93 4.4.1. Performa Ritual ............................................................................... 93. 4.4.2. Performa Hasrat .............................................................................. 95. 4.4.3. Performa Sosial ............................................................................... 96. 4.4.4. Performa Politis............................................................................... 97. 4.4.5. Performa Enkulturasi ...................................................................... 98. BAB V................................................................................................................. 101 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 101 5.1 Simpulan ............................................................................................... 101 5.2 Saran ..................................................................................................... 102. xi.

(13) xii.

(14) DAFTAR GAMBAR. xiii.

(15) DAFTAR TABEL. xiv.

(16) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dinamika politik saat ini menuntut keharusan proses demokrasi dijalankan dalam segala aspek atau bidang. Proses persaingan kekuasaan menjadi ciri dominan politik di era demokrasi membutuhkan berbagai faktor. Bukan lagi ditentukan oleh kemampuan personal atau kapasitas organisasional dari para pelaku politik, tetapi ditentukan oleh dukungan dan jaringan dari pihak lain. Karena bukan hal asing bahwa fragmentasi kekuataan politik saat ini lebih tersebar dan terhubung dengan banyak pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. (Heryanto & Zarkasy, 2012, h.1) Eksplorasi dan eksploitasi dari berbagai sumber daya politik membuat kontestasi antarkekuatan politik menjadi kian tajam. Artinya, terorganisir dan sistemik menjadi kewajiban yang harus ditangani karena lingkungan politik yang makin kompetitif dan seiring tumbuh pesatnya industri pencitraan mulai dari televisi, radio, surat kabar, majalah, periklanan, dan konsultan politik. (Heryanto & Zarkasy, 2012, h.1) Dewasa ini, public relations dan politik menjadi sebuah entitas yang saling berkaitan atau bertautan. Kegitaan atau aktivitas public relations bukan saja ditemukan di negara – negara maju namun juga menjadi suatu keharusan bagi pelaksanaan pemilu di negara – negara berkembang. Aktor. 1.

(17) politik, organisasi politik menjadi ruang bagi public relations untuk membuktikan diri sebagai ubiquitas entity. (Indrayani, 2014, h.55) Public relations politik kemudian banyak ditemukan di negara – negara barat pada tahun 1970-an, ketika opini publik menjadi sesuatu yang sangat krusial dan media menjadi salah satu aktor dalam kontestasi politik. Kegiatan atau aktivitasnya memang terfokus pada pengelolaan media sehingga mendapati coverage yang besar di media serta bagaimana meminimalisir pemberitaan negatif di media. (Indriyani, 2014, h.55) Era politik saat ini yang didominasi opini publik, pengelolaan citra, dan kemampuan representasi menjadi tidak terelakan. Aktor politik dituntut untuk mampu melakukan persuasi dan engagement dalam menarik partisipasi publik. Model two ways sysmmetric communication dilihat sesuai dan bisa mengakomodir nilai – nilai demokrasi ketika publik terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. Model ini juga menjanjikan adanya kesetaraan hubungan, egaliter, dan interaktif antara aktor politik dengan publiknya. Sebagai contoh sewaktu Jokowi memperkenal ‘blusukan’ dan hal ini membuat sosok Jokowi menjadi representasi bagi perubahan budaya politik Indonesia. Jokowi dengan komunikasi blusukannya merupakan representasi model two ways sysmmetrical communication dalam sudut pandang public relations. Jokowi mampu dan berhasil melakukan pendekatan public relations guna menjawab tantangan politik di Indonesia. (Indrayani, 2014, h.56). 2.

(18) Berbagai masalah yang berkaitan dengan implementasi kebijakan publik dapat diatasi melalui komunikasi atau dialog antara pemimpin dengan publik terkait. Selain blusukan yang menjadi andalan Jokowi sebagai pemimpin politik ialah diplomasi makan siang. (Indrayani, 2014, h.56) Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik bahwa public relations politik menjadi terobosan baru dan mampu membuat aktor politik berhasil berada di puncak karir politik. KPUD DKI Jakarta meresmikan tiga kandidat Gubernur DKI Jakarta 2017. Tiga kandidat ini didukung oleh tiga poros ini merupakan refleksi dari sisa pertarungan pada Pilpres terdahulu. Terbukti bahwa dengan turun gunungnya Megawati, SBY, dan Prabowo yang merupakan para pesaing dari Pilpres 2004, 2009, dan 2014. Kini tiga poros tersebut masing – masing berusaha mendapatkan insentif dari Pilkada DKI Jakarta. DKI Jakarta merupakan daerah strategis, baik dari sisi daya tarik media massa maupun sumber kekuatan ekonomi. (Agustinus, 2016). 3.

(19) Gambar 1.1 Tiga Pasangan Calon Gubernur DKI Jakarta 2017. Sumber: http://www.antaranews .com/berita/586467/tiga-pasangan-calongubernur-dki-tes-narkoba. Ketentuan KPUD Pilkada DKI Jakarta, bahwa ada tiga kandidat pasangan calon yang akan bersaing di Pilkada DKI Jakarta 2017 yaitu petahana Basuki-Djarot yang diusung oleh PDI-P, Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Hanura. Pasangan calon kedua, yaitu Agus-Sylviana yang diusung oleh Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN. Dan yang ketiga, yaitu Anies-Sandi yang diusung oleh Partai Gerindra dan PKS. Jakarta adalah miniature persoalan bangsa yang memberikan tantangan bagi siapapun Gubernurnya dan juga menjadi daya tarik lebih bagi kepentingan politik. Sejak era Jokowi, Pilkada DKI Jakarta kini lebih dikenal dengan sebutan mini Pilpres. Karir politik Jokowi yang sebelumnya adalah Gubernur DKI Jakarta membuat bahwa kursi DKI Jakarta bisa dijadikan tangga politik untuk naik ke kursi Presiden Indonesia. (Agustinus, 2016). 4.

(20) Gambar 1.2 Pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Sumber: Dokumentasi pribadi peneliti Sesuai judul penelitian, peneliti lebih memfokuskan pada pasangan yang diusung oleh Partai Gerindra dan PKS, yaitu Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Sebelumnya seperti kita ketahui bahwa Anies Baswedan merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Kerja JokowiJK. Namun Anies Baswedan hanya mampu duduk di kursi Menteri JokowiJK selama dua tahun. Anies menjadi salah satu Menteri yang di-reshuffle, posisi Calon Gubernur DKI Jakarta dari dua Partai besar Gerindra dan PKS sebelumnya adalah Sandiaga Uno. Gerindra dan PKS membutuhkan waktu sekitar delapan bulan untuk memikirkan siapa yang mereka usung menjadi Calon dan Wakil Gubernur 2017. (Jakartamajubersama, 2016) Setelah Anies di-reshuffle, Sandiaga Uno yang saat itu digadang – gadang akan menjadi Calon Gubernur, meminta kedua partai pengusung untuk menjadikan Anies Baswedan sebagai Calon Gubernur. Sandiaga meminta Anies Baswedan menjadi Calon Gubernur karena menurutnya 5.

(21) mereka akan menjadi pasangan dwi-tunggal dan masing – masing mempunyai kelebihan dan saling melengkapi. (Jakartamajubersama, 2016) Pengelolaan kesan (impression management) dikembangkan oleh Erving Goffman (1956, hlm.8) Impresi atau kesan yang individu perlihatkan untuk pertama kali di depan orang lain akan sangat menentukan bagaimana kualitas hubungan orang lain dengan dirinya. karena menurut Goffman, ketika seseorang individu mempersiapkan dirinya untuk terlihat bagi orang lain, individu tersebut sudah pasti memiliki banyak motif untuk mencoba mengendalikan kesan bagi mereka para penerima atau audience. Konsep Dramaturgi oleh Erving Goffman (1956, h.14) disebutkan bahwa, Individu akan selalu bertindak secara sengaja atau tidak sengaja mengekspresikan dirinya dan orang lain akan terkesan dengan cara ataupun ekspresi tiap – tiap individu tersebut. Sehingga dapat peneliti katakan bahwa, pengelolaan kesan baik yang disengaja ataupun tidak akan menimbulkan atau menciptakan presentasi diri dihadapan audiencenya. Dalam perspektif dramaturgi, Goffman membagi kehidupan sosial menjadi dua bagian yaitu “wilayah depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Saat individu menampilkan dirinya dengan peran tertentu di hadapan audience atau khalayak, maka individu tersebut dianggap seperti sedang berada di depan panggung (frontstage), dan saat individu sedang tidak bermain peran atau sedang mempersiapkan dirinya untuk menjalani peran, maka di wilayah ini merupakan panggung belakang (backstage), serta wilayah dimana individu melakukan persiapan untuk. 6.

(22) panggung depan disebut panggung tengah (middlestage). (Mulyana, 2013, h.114) Perspektif yang digunakan dalam penelitian ini adalah perspektif pertunjukkan teater, prinsip – prinsipnya bersifat dramaturgis. Dimana akan dibahas bagaimana Anies-Sandi menampilkan dirinya dan aktivitasnya kepada orang lain, bagaimana Anies-Sandi memandu dan mengendalikan kesan yang dibentuk orang lain terhadapnya, dan segala hal yang mungkin atau tidak mungkin pasangan Anies-Sandi lakukan untuk menopang pertunjukkan di hadapan orang lain”. (Mulyana, h.107) Peneliti memilih pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Anies-Sandi sebagai subyek penelitiannya, karena kedua latar belakang pasangan ini berbeda dan pasangan calon ini masing – masing bidang profesional yang sudah dijalaninya. Peneliti juga tertarik meneliti pasangan Anies-Sandi, karena masing – masing pernah berseberangan dalam Pilpres 2014 dimana Anies sebagai juru bicara pak Jokowi dan Sandi sebagai juru bicara pak Prabowo namun mereka dipersatukan di pertarungan Pilkada DKI Jakarta 2017. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memerlukan atribut tertentu agar panggung politiknya dapat berhasil. Atribut tersebut diolah dalam, apa yang disebut Goffman (1956, h. 208-210), seni “mengelola kesan” (impression management). Artinya Anies-Sandi dituntut harus menampilkan kesan yang bertanggung jawab. Seperti yang dijelaskan oleh Goffman bahwa tindakan yang kurang berhati – hati, misalnya dengan isyarat – isyarat yang tidak. 7.

(23) diharapkan (unmeant gestures), gangguan yang mengacaukan (inopportune instrusions) atau langkah yang salah (faux pas) akan memberikan ketidakpantasan saat pertunjukan. Dengan pengelolaan kesan yang baik sebagai pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 Anies-Sandi ingin membuktikan bahwa dengan latar belakang yang berbeda mampu memberikan terobosan dalam program kerja yang mampu mempersatukan Jakarta dengan mengkomunikasikan visi misi “Maju Kotanya, Bahagia Warganya”. Artinya. sebagai. penantang. petahana,. pasangan. Anies-Sandi. memaksimalkan pendidikan di Jakarta dengan modal rekam jejak Anies serta meningkatkan kesejahteraan warga Jakarta dengan menghasilkan 200.000 pengusaha baru yang tentunya memiliki tujuan atau harapan tersendiri seperti profesi yang Sandiaga lalui sebelum mencalonkan diri. Pasangan Anies-Sandi mengajak dan menggalang seluruh warga Jakarta untuk memperjuangkan kemajuan Jakarta dengan bekerja dan berjuang bersama.. 8.

(24) 1.2. Perumusan Masalah 1.. Bagaimana pengelolaan kesan pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI?. 2.. Pendekatan public relations politik apa saja yang dilakukan pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI?. 3.. Bagaimana performa komunikatif pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI?. 1.3. Tujuan Penelitian 1.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan kesan pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI.. 2.. Pendekatan public relations politik apa saja yang dilakukan pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI.. 3.. Bagaimana performa komunikatif pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI.. 1.4. Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Penelitian Akademis Kegunaan akademis yang ingin peneliti capai adalah menjadi bahan kajian dan informasi pendahulu guna mengisi keterbatasan yang diharapkan dapat memperkaya keilmuan dan memberikan masukan, khususnya di dalam bagaimana pengelolaan kesan dan performa komunikatif melalui pendekatan public relations politik.. 9.

(25) 1.4.2 Kegunaan Penelitian Praktis Melalui penelitian ini, peneliti juga mencoba membantu praktisi komunikasi khususnya public relations officer dalam memecahkan masalah yang sejenis dan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang bagaimana pengelolaan kesan dan performa komunikatif melalui pendekatan aktivitas persuasi public relations politik guna memaksimalkan hasil yang sesuai dengan apa yang diinginkan.. 10.

(26) BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu ialah penyelidikan awal yang peneliti lakukan. untuk memperoleh sekilas atau sementara informasi pendahuluan tentang obyek penelitian yang menjadi ketertarikan peneliti. (Prastowo, 2011, h.93) Dasar acuan atau tolak ukur yang berupa teori – teori atau temuan – temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung. Penelitian terdahulu merupakan bagian yang sangat penting bagi peneliti di dalam meneliti permasalahan yang sedang peneliti teliti di dalam penelitian ini. Tentu semakin relevan atau mendekatinya penelitian terdahulu yang peneliti temukan maka semakin membantu pula terhadap penelitian yang peneliti lakukan. Dalam hal ini, fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan ialah yang terkait dengan pengelolaan kesan. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti telah mempelajari dua (2) contoh penelitian terdahulu yang memiliki permasalahan dan metode yang kurang lebihnya memiliki kemiripan, dan digunakan sebagai acuan serta referensi peneliti, berikut informasi selengkapnya mengenai dua (2) contoh penelitian terdahulu yang peneliti ambil: a.. Riset tesis Cahyadi Indrananto (2012). b.. Riset skripsi Dikara Kirana (2013). 11.

(27) a.. Cahyadi Indrananto (2012) Riset tesis pascasarjana (S2) jurusan ilmu komunikasi Cahyadi. Indrananto dengan judul “Pemimpin Daerah sebagai Agen: Dramaturgi dalam Komunikasi Politik Walikota Solo Joko Widodo”. Desentralisasi di Indonesia, yang tumbuh seiring gelombang demokratisasi, telah mengubah langgam hubungan pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya, karena kini rakyat berwewenang penuh untuk memilih Kepala Daerahnya sendiri. Namun bersamaan dengan kehadiran wewenang tersebut, timbul permasalahan ketidak-seimbangan informasi, yang diakibatkan oleh ketidak-tahuan masyarakat tentang kompetensi dan prefensi kebijakan pemimpin mereka. Hal ini menegaskan pentingnya seorang pemimpin daerah untuk menciptakan hubungan interaktif dengan masyarakatnya dan membangun kepercayaan mereka. Untuk memahami hal tersebut, penelitian ini meneliti mengenai pengamatan berperan-serta terhadap Walikota Solo, Joko Widodo menggunakan. bingkai. teori. dramaturgi. Erving. Goffman,. yang. memanfaatkan metaphor theater serta metode etnografi. Pemahaman tersebut lalu ditelaah menggunakan konsep Keagenan yang mempelajari tentang hubungan principal-agen dan masalah – masalah di dalamnya. Penelitian ini mendapati bahwa sikap yang tidak selamanya konsisten dengan pemahaman dramaturgi, Jokowi melaksanakan berbagai strategi komunikasi politik untuk memitigasi ketidakseimbangan informasi di Kota Solo.. 12.

(28) TABEL 2.1 Penelitian Terdahulu Pertama Nama, Universitas, Tahun Cahyadi Indrananto, Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia, 2012. Judul Penelitian Pemimpin Daerah sebagai Agen: Dramaturgi dalam Komunikasi Politik Walikota Solo Joko Widodo. Teori yang Digunakan Teori yang digunakan yaitu: 1. Teori dramaturgi.. 2. Konsep komunikasi politik. 3. Konsep Keagenan.. Metode Penelitian 1. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode pendekatan penelitian kualitatif. 2. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yand dimaksud ialah melalui wawancara, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Sedangkan studi pustaka yang dilakukan melalui refrensi buku, penelitian terdahulu. 3. Teknik analisa data melalui pengumpulan data, penyajian data, reduksi datam lalu penarikan kesimpulan. 4. Keabsahan data melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.. 5. Lokasi dan waktu di Kota Solo, penelitian. 13. Masalah dan Hasil Penelitian 1. Desentralisasi di Indonesia, yang tumbuh seiring gelombang demokratitasasi, telah mengubah langgam hubungan pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya, karena kini rakyat berwewenang penuh untuk memilih kepala daerahnya sendiri. Namun bersamaan dengan kehadiran wewenang tersebut, timbul permasalahan ketidak-seimbangan informasi, yang diakibatkan oleh ketidak-tahuan masyarakat tentang kompetensi dan prefensi kebijakan pemimpin mereka. Hal ini menegaskan pentingnya seorang pemimpin daerah untuk menciptakan hubungan interaktif dengan masyarakatnya dan membangun kepercayaan mereka. Untuk memahami hubungan tersebut, penelitian ini melakukan pengamatan berperan-serta terhadap Walikota Surakarta (Solo) Joko Widodo (“Jokowi”). 2. Hasil dari penelitian yang ditemukan ialah:.

(29) dilakukan selama empat minggu antara 13 Februari – 11 Maret 2012. 14. Menggunakan bingkai teori dramaturgi Erving Goffman, yang memanfaatkan metaphor theater untuk menganalisis perilaku manusia. Pemahaman tersebut lalu ditelaah menggunakan Teori Keagenan yang mempelajari tentang hubunga principalagen dan masalah – masalah di dalamnya. Penelitian ini mendapati bahwa melalui sikap yang tidak selamanya konsisten dengan pemahaman dramaturgi, Jokowi melaksanakan berbagai strategi komunikasi politik untuk memitigasi ketidakseimbangan informasi di Kota Solo..

(30) Persamaan yang dimiliki peneliti terdahulu pertama dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah: 1.. Kesamaan pada teori yang digunakan yaitu teori dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman.. 2.. Kesamaan pada pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu pendekatan penelitian kualitatif.. 3.. Kesamaan pada konsep penelitian. yaitu komunikasi. politik,. impression management dan teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan keabsahan data. Sedangkan perbedaan yang dimiliki penelitian terdahulu pertama dengan penelitian yang akan peneliti lakukan ialah: 1.. Perbedaan pada subyek penelitian, jika penelitian terdahulu pertama menggunakan Joko Widodo (Jokowi) sebagai subyek penelitian, sedangkan penelitian ini adalah pasangan Anies-Sandi.. 2.. Perbedaan pada beberapa konsep dan teori.. Kontribusi yang diberikan penelitian terdahulu pertama pada peneliti ialah: 1.. Peneliti menjadi memiliki gambaran bahwa teori dramaturgis yang dikemukakan oleh Erving Goffman memang merupakan teori mendasar yang paling tepat dalam mendukung penelitian yang peneliti lakukan.. 2.. Pendekatan penelitian yang sama membuat peneliti menjadi lebih mengetahui mengenai tahap – tahap studi lapangan dan studi pustaka yang peneliti harus lakukan.. 15.

(31) b.. Dikara Kirana (2013) Riset skripsi S1 Dikara Kirana dengan judul “Pemanfaatan. Weblog. dalam. Membentuk. Citra. Politikus:. Analisis. Impression. Management dalam Sengketa Waduk Pluit pada Weblog Wakit Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ahok.org”. Penelitian ini meneliti mengenai proses impression management yang terjadi dalam blog politikus serta pemanfaatan blok sebagai sarana konstruksi citra politikus. Blog yang diangkat adalah blog ahok.org, blog resmi yang dimiliki oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Secara khusus penelitian ini tentang konstruksi citra Ahok dalam kasus sengketa waduk Pluit yang sempat kontroversi di pertengahan Mei 2013. Dalam penelitian ini digunakan metode framing analysis oleh Gamsin & Modigliani untuk melihat isi konten dari blog ahok.org. selain itu, dilakukan pula wawancara sebagai data pendukung untuk memperkaya hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua artikel yang diunggah dalam blog ahok.org memiliki frame positif kepada Ahok. Terdapat upaya penyeleksian informasi dalam kasus waduk Pluit tersebut. Ini membuktikan adanya proses impression management di dalam blog ahok.org. Selain itu, konten dalam artikel – artikel blog ahok.org juga turut membantu mengukuhkan citra Ahok sebagai pemimpin yang inovatif, berpihak kepada rakyat, serta tegas dalam menyampaikan pendapatnya.. 16.

(32) TABEL 2.2 PENELITIAN TERDAHULU KEDUA Nama, Universitas, Tahun Dikara Kirana, Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia, 2013. Judul Penelitian. Teori yang Digunakan. Pemanfaatan Weblog dalam Membentuk Citra Politikus: Analisis Impression Management dalam Sengketa Waduk Pluit Wakil Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ahok.org. Teori yang digunakan yaitu: 1. Teori Impression Management sebagai apllied theory 2. Framing analysis oleh Gamson & Modigliani. 3. Konsep Political Public Relations, Citra, New Media.. Metode Penelitian. Masalah dan Hasil Penelitian. 1. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode pendekatan penelitian kualitatif.. 1. Penelitian ini meneliti mengenai proses impression management yang terjadi dalam blog politikus serta pemanfaatan blok sebagai sarana konstruksi citra politikus tersebut. Blog yang diangkat adalah blog ahok.org, blog resmi yang dimiliki oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Lebih khusus lagi, penelitian ini meneliti tentang konstruksi citra Ahok dalam kasus Sengketa waduk Pluit yang sempat santer di pertengahan Mei 2013.. 2. Pengumpulan data dilakukan dengan cara (framing analysis)dan studi pustaka. Studi lapangan ialah melalui framing analysis, wawancara, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Sedangkan studi pustaka yang dilakukan melalui refrensi buku, artikel – artikel online penelitian terdahulu. 3. Teknik analisa data melalui pengumpulan data, penyajian data, reduksi datam lalu penarikan kesimpulan.. 17. 2. Hasil dari penelitian yang ditemukan ialah: Penelitian ini menunjukkan bahwa semua artikel yang diunggah dalam blog ahok.org memiliki frame positif kepada Ahok. Hal ini menunjukkan terdapat upaya penyeleksian informasi dalam kasus waduk Pluit tersebut. Ini membuktikan adanya proses impression.

(33) 4. Keabsahan data melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. 5. Lokasi dan waktu di Jakarta Mei – Juli 2013.. 18. management yang dilakukan dalam blog ahok.org. selain itu, konten dalam artikel – artikel blog ahok.org juga turut membantu mengukuhkan citra Ahok sebagai pemimpin yang inovatif, berpihak kepada rakyat, serta tegas dalam menyampaikan pendapatnya..

(34) Persamaan yang dimiliki peneliti terdahulu kedua dengan penelitian yang akan peneliti lakukan ialah: 1.. Kesamaan. pada. konsep. yang. digunakan. yaitu. impression. management. 2.. Kesamaan pada pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu pendekatan penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan keabsahan data.. Sedangkan perbedaan yang dimiliki penelitian terdahulu kedua dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah: 1.. Perbedaan pada subyek penelitian yang dilakukan, jika penelitian terdahulu kedua menggunakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), peneliti melakukan subyek penelitian pada pasangan Anies-Sandi.. 2.. Menggunakan framing analysis artikel – artikel yang diunggah di situs jejaring sosial Weblog.. Kontribusi yang diberikan penelitian terdahulu kedua kepada peneliti adalah: 1.. Peneliti menjadi memiliki gambaran bahwa impression management sangat penting untuk para politisi yang ingin mendapatkan citra positif dalam kehidupan politiknya.. 2.. Pendekatan penelitian yang sama membuat peneliti menjadi lebih mengetahui mengenai tahap – tahap studi lapangan dan studi pustaka yang peneliti harus lakukan.. 19.

(35) 2.2. Teori dan Konsep 2.2.1 Dramaturgi Pendekatan dramaturgi (dramatugical approach) adalah sebuah. mazhab yang dikembangkan oleh sosiolog Erving Goffman. Pendekatan ini berangkat dari pemahamannya mengenai berbagai aspek kajian sosiologi, antropologi, dan komunikasi, terutama yang dirintis oleh George Mead dan Herbert Blumer. Pemahaman mengenai pendekatan dramaturgi Goffman dilandasi oleh konsepsi Mead mengenai makna, bahasa dan pemikiran, yang kemudian dirumuskan oleh Blumer menjadi apa yang ia sebut sebagai interaksionisme simbolik. (Griffin, 2000, h.54) Salah satu premis interaksionisme simbolik adalah bahwa makna muncul dari interaksi sosial yang merupakan proses interpretasi dua-arah, dan fokusnya adalah efek dari interpretasi terhadap orang yang tindakannya sedang diinterpretasikan. (Griffin, 2000, h.55) Oleh karena itu, selain tindakan seseorang adalah produk dari cara mereka menafsirkan perilaku orang lain, interpretasi ini memberikan pengaruh kepada individu yang tindakannya diinterpresaikan tersebut. (Mulyana, 2020, h.105) Dalam hal ini, perhatian Goffman dicurahkan kepada “urutan interaksi” (interaction order) yang melibatkan komponen struktur, prosses dan produk interaksi sosial. Goffman secara khusus memberikan penekanan. 20.

(36) kepada sifat simbolik interaksi manusia dan pertukaran makna di antara orang – orang melalui simbol. (1959, h.1) Goffman berpandangan bahwa di dalam diri yang sama, terdapat gejolak pertentangan antara diri manusia yang spontan dan tuntutan sosialnya. Pertentangan semacam ini menuntut manusia untuk tidak ragu – ragu dalam melakukan apa yang diharapkan pada kita. (1959, h.10) Untuk memelihara tampilan yang yakin dan tidak ragu, maka manusia dituntut untuk melakukan sebuah “pertunjukan” (performance) di hadapan khalayak. (Goffman, 1959, h.2) Inilah yang menjadi fokus Goffman tatkala mengeplorasi konsepnya menggunakan metaphor dramaturgi: pandangan atas kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan yang mirip dengan pementasan drama di panggung. (Mulyana. 2010, h.106) Inti dari dramaturgi bukanlah menghubungkan perilaku dengan penyebabnya,. namun. menghubungkan. tindakan. dengan. maknanya.. Goffman berpendapat bahwa makna dalam pendekatan dramaturgi bukanlah warisan budaya, sosialisasi/tatanan kelembagaan, atau perwujudan dari potensi psikologis maupun biologis. (Mulyana, 2010, h.107) Namun, makna adalah pencapaian problematic interaksi manusia yang penuh dengan perubahan, kebaruan dan kebingungan. Makna bersifat behavioral, berubah secara berkelanjutan, arbitrer dan merupakan ramuan dari interaksi manusia. (Mulyana, 2010, h.107). 21.

(37) Penjelasan mengenai makna terseut terkait dengan pandangan dramaturgi mengenai konsep diri (self) yang memberi makna, yaitu diri yang tersituasikan secara sosial, berkembang, serta mengatur berbagai interaksi spesifik. Oleh karena itu, diri lebih bersifat sosial daripada psikologis. (Mulyana, 2010, h.109) Untuk menjelaskan interaksi sosial, Goffman (1956) mengibaratkan kehidupan layaknya teater, dengan interaksi sosial yang mirip dengan pertujukan di atas panggung dan menampilkan berbagai peran yang ditampilkan para aktor. Dalam memainkan perannya, aktor harus memusatkan. perhatiannya. dan. manjaga. kendali. diri. agar. dapat. mengekpresikan peran yang sesuai dengan situasi. Maka sebagaimana diungkapkan oleh Mulyana, fokus pendekatan dramaturgi bukanlah kepada apa yang orang lakukan, apa yang ingin meraka lakukan ataupun mengapa mereka melakukannya, melainkan bagaimana mereka melakukannya. Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif manusia yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. (Mulyana, 2010, h.107) Berkat daya ekspresifnya tersebut, manusia mampu menegosiasikan makna dengan orang lain yang juga ekspresif dalam satu situasi. Oleh karena itu, tindakan manusia tidak dipandang sebagai akibat dari berbagai kekuatan luar yang memperngaruhi mereka tetapi ”sebagai tuan dari nasibnya sendiri”. (Mulyana, 2010, h.107). 22.

(38) Keterkaitan elemen – elemen dalam panggung dramatrugi Goffman secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut: GAMBAR 2.1 Model Pendekatan Dramaturgi Erving Goffman. Sumber: Hare & Blumberg, 1988, h.7. Dalam skripsi ini, peneliti menggunakan dua aspek utama yang melandasi pendekatan dramaturgi, sebagaimana diadaptasi dari penjabaran Medlin (2008), Mulyana (2010), dan Arrianie (2010), yaitu: 1.. Panggung Depan dan Panggung Belakang.. 2.. Kontrol Terhadap Informasi.. 3.. Manajemen Impresi.. Bagaimana subyek penelitian pasangan Anies-Sandi mengelola kesan baik sebagai politikus dipersiapkan dengan baik oleh tim di panggung belakang agar hasil yang diinginkan tercapai di panggung depan. 23.

(39) 2.2.1.1. Pertunjukan Panggung Depan dan Panggung Belakang. Bagi Goffman, kehidupan ini ibarat panggung pertunjukan, dengan interaksi sosial yang mirip dengan pertunjukan di atas panggung, dan berisi peran – peran yang dimainkan oleh para aktor. (Mulyana, 2010, h.114) Untuk memulai sebuah pertunjukan, Medlin (2008) melihat bahwa perlu adanya sebuah ide yang bersumber dari satu gambaran atau panduan yang kemudian dapat dielaborasikan lebih lanjut menjadi serangkaian tindakan; atau satu skrip utuh yang terperinci. Goffman juga menunjukkan bahwa panduan lain dapat dipergunakan, seperti tema (arahan mengenai gerakan maupun perangkat yang harus ada) serta plot (peran dan indikasi mengenai langkah – langkah yang harus dituju untuk mencapai tujuannya). (Medlin, 2008, h.35) Komponen lain yang juga penting di tahap awal adalah penciptaan lokasi aksi atau panggung, yang oleh Goffman didefinisikan sebagai “satu area yang terbatasi oleh bentukan persepsi tertentu” (1959, h.66). Pemilihan panggung juga merupakaj tahap yang krusial bagi kesuksesan sebuah pertunjukan dramaturgi, karena lokasi yang tercipta memberikan indikasi mengenai waktu serta suasana pertunjukan. (Medlin, 2008, h.36) Goffman (1959, h.69) membagi wilayah pertunjukan untuk interaksi sosial menjadi panggung depan atau (frontstage) dan panggung belakang atau (backstage). Frontstage merujuk pada peristiwa sosial yang memungkinkan individu bergaya atau menampilkan peran formalnya,. 24.

(40) sebagaimana mereka sedang memainkan satu peran di atas panggung. Sedangkan. backstage. merujuk. pada. tempat. atau. peristiwa. yang. memungkinkan aktor melakukan persiapan peran untuk frontstage. (Mulyana, 2010, h.114) Bila dikaitkan dengan aspek – aspek pertunjukan sang aktor, maka aspek yang ditonjolkan dan tidak disembunyikan oleh aktor disebut Goffman sebagai frontstage, sedangkan aspek yang ingin disembunyikan ia sebut backstage. Dengan kata lain, backstage dapat didefinisikan sebagai kawasan yang tidak menyembunyikan impresi yang dimunculkan oleh aktor, tetapi justru menampilkannya secara terbuka. (Medlin, 2008, h.43) Dalam frontstage, Goffman lebih spesifik membagi menjadi set panggung (setting) dan perangkat pribadi (personal front). Setting adalah atribut fisik atau suasana panggung yang harus ada bagi aktor untuk melakukan pertunjukan. Sedangkang personal front merujuk kepada perangkat ekspresif yang membuat audiens mampu mengidentifikasi aktor, seperti peralatan dan pakaian. (Mulyana, 2010, h.114-115) Personal front juga merujuk kepada hal – hal terkait penampilan, seperti kewajiban sosial dan prestasi sang aktor; dan tingkah laku, yaitu perilaku yang disampaikan aktor kepada audiens, misalnya derajat kesopanan, tata karma, dan sejenisnya. (Mulyana, 2010, h.114-115) Contoh setting dan personal front ini adalah seperti yang ditemukan oleh Arrianie, yaitu bahwa hampir semua individu politisi di DPR RI menggunakan kelengkapan simbol fisik yang nyaris seragam. (2010, h.92). 25.

(41) Termasuk di antara kelengkapan simbol – simbol ini adalah jas lengkap berdasi atau pakaian safari harian, serta pin tanda keanggotaan DPR yang hampir tidak pernah lepas dikenakan oleh para anggota dewan, meskipun di hari libur. (2010, h.35&87) Satu hal terpenting dari pendekatan dramaturgi adalah bahwa para aktor umumnya ingin menyajikan diri mereka dalam rupa yang ideal. Oleh karenanya, aktor cenderung merasa perlu untuk menyembunyikan sebagian aspek diri mereka dari audiens saat pertunjukan berlangsung, atau apa yang peneliti sebut sebagai “sisi lain aktor”, yaitu sisi yang hanya muncul saat berada di backstage. Peneliti mengutip beberapa aspek yang dipandang relevan untuk penelitian ini, sebagaimana dipaparkan oleh Mulyana (2010, h.116), yaitu bahwa aktor mungkin ingin menyembunyikan kesenangannya di masa lalu yang tidak kompatibel dengan perannya saat ini, atau menyembunyikan kesalahan yang terjadi pada saat pertunjukan, atau menutupi proses penciptaan pertunjukan yang mereka lakukan dan hanya menunjukkan hasil akhirnya saja. Mulyana mencatat setidaknya ada dua metode idealisasi dalam dramaturgi terkait dengan teknik pertujukan. Metode yang pertama adalah berupaya menyampaikan kesan bahwa mereka punya hubungan yang lebih baik daripada yang sebenarnya kepada audiens, dan menunjukkan bahwa pertunjukan ini adalah satu – satunya atau yang terbaik yang para aktor pernah tampilkan. (2010, h.116-118). 26.

(42) Dalam politik, ini dilakukan antara lain dengan menonjolkan aspek kehidupan atau latar belakang aktor yang relevan dengan audiens yang dituju. Misalnya, calon walikota atau bupati di sebuah daerah cenderung berkampanye di depan para pemilihnya dengan menekankan masa kecilnya selama tinggal di daerah tersebut, padahal mungkin ia tumbuh dewasa di tempat lain. Dengan melakukan hal – hal yang menunjukkan kedekatan semacam. itu,. para. aktor. berupaya. mencapai. satu. tujuan. yang. menguntungkan mereka. (Mulyana, 2010, h.116-118) Kedua yang menjadi teknik idealisasi dalam dramaturgi adalah saat aktor juga menciptakan mistifikasi. Dengan metode ini, aktor menciptakan “jarak sosial” untuk memancing rasa kekaguman atau keterpesonaan dari audiens, yang pada gilirannya membuat audiens tidak lagi meragukan pertunjukan sang aktor. (Mulyana, 2010, h.119) Mulyana mengambil contoh Presiden Soeharto yang telah melakukan mistifikasi untuk menjaga karismanya semasa menjabat, dengan sangat membatasi wawancara oleh wartawan. Contoh mistifikasi lainnya adalah sebagaimana yang ditemukan oleh Arrianie pada para politisi di DPR RI yang memegang status panitia seleksi untuk posisi – posisi penting, seperti pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan hakim agung di Mahkamah Agung. Status semacam ini membuat mereka seolah menjadi orang yang lebih tahu, lebih hebat, dan lebih berkuasa. (2010, h.77) Dalam penampilan seorang aktor di panggung, fokus perhatian Goffman sesungguhnya bukan hanya individu, namun juga sejumlah. 27.

(43) individu lain yang bekerja sama dalam mementaskan satu rutinitas. (Arrianie, 2010, h.36) Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor sosial juga berupaya mengelola kesan orang lain terhadap kelompoknya, dan kesemuannya ini pada gilirannya menjadi apa yang disebut Goffman sebagai tim dalam pertunjukan (performance team) yang mendramatisasi satu. aktivitas.. Mulyana. melihat. bahwa. tim. inilah. yang. harus. mempersiapkan pertunjukan dan jalannya pertunjukan dengan matang, serta saling mendukung satu sama lain agar pertunjukan berjalan mulus. (2010, h.122-124) 2.2.1.2. Kontrol Terhadap Informasi. Medlin (2008, h.47) berpendapat bahwa tujuan utama dari setiap pertunjukan adalah untuk menjaga agar setiap pertunjukan yang dilakukan atau berlangsung sebagaimana aktor mendefinisikannya. Untuk mencapai hal tersebut, maka aktor umumnya melakukan kontrol terhadap frontstage, dan menyembunyikan berbagai elemen yang merusak dari audience. Elemen yang merusak ini menurut Goffman antara lain adalah pada saat aktor “terlalu banyak mengkomunikasikan fakta tertentu, dan kurang mengkomunikasikan fakta yang lain.” Oleh karena itu, kontrol terhadap informasi adalah salah satu cara untuk mencegah munculnya elemen yang merusak tersebut. (Medlin, 2008, h.47) Namun pada kenyataannya, kontrol informasi tidaklah mudah, antara lain karena audience memahami bahwa mereka tidak memiliki akses kepada. 28.

(44) backstage, sehingga mereka menyadari adanya kesan atau impresi yang disalurkan dan upaya penyembunyian informasi tertentu. (Medlin, 2008, h.49) Hal ini menimbulkan adanya sudut pandang yang berkembang selama pertunjukan, yang tidak jarang berwujud satu peran tersendiri menjadi apa yang disebut Goffman sebagai ”peran yang tidak sesuai atau cocok” (discrepant roles). Medlin (2008, h.50-51) mengutip beberapa peran yang tidak sesuai atau cocok untuk dicontohkan Goffman: 1.. Informan (informer), yaitu orang – orang yang bertindak sebagai aktor untuk mendapatkan kepercayaan dari tim dan memperoleh akses ke backstage. Aktor “gadungan” ini lalu menyebarkan informasi yang diperolehnya kepada audience dengan tujuan untuk mengusik pertunjukan.. 2.. Rekanan (shill), yaitu orang yang berada di tengah – tengah audience, namun sebenarnya memiliki hubungan dengan para aktor. Peran rekanan antara lain untuk memancing aksi audience sebagaimana diinginkan oleh aktor, atau menyediakan reaksi yang diperlukan untuk mengembangkan satu adegan tertentu dalam pertunjukan.. 3.. Mediator, ialah orang – orang yang menjadi perantara dan memiliki kesetiaan baik kepada aktor dan audience. Mediator ini mampu mendapatkan keyakinan dan informasi rahasia baik dari. 29.

(45) aktor dari audience, dan dapat dipercaya bahwa informasi tersebut tidak akan bocor ke pihak – pihak yang lain. 2.2.1.3 Dalam. Pengelolaan Kesan. perspektif. dramaturgi,. Goffman. mendefinisikan. seni. manajemen impresi sebagai tindakan menjaga munculnya hal – hal yang tidak diharapkan terjadi, yang dapat berujung pada rasa malu atau pertengkaran. Ada empat macam tindakan yang dapat terjadi di luar rencana, yang disebut oleh Goffman sebagai insiden dramaturgi, dan dirinci oleh Medlin (2008, h.55-57) yaitu: 1.. Gerakan yang tidak diniatkan (unintended gestures). Saat aktor melakukan gerak – gerik yang tidak diniatkan sebelumnya namun ternyata mendiskreditkan jalanya pertunjukan. Intruksi yang tidak pantas (inappropriate intrusion). Ketika audience memasuki backstage dan memergoki aktor dalam situasi yang tidak selaras dengan kesan yang ingin aktor tampilkan di frontstage.. 2.. Intrusi yang tidak pantas (inappropriate intrusion). Ketika audience memasuki backstage dan memergoki aktor dalam situasi yang tidak selaras dengan kesan yang ingin aktor tampilkan di frontstage.. 3.. Kecerobohan (faux pas). Informasi tentang kehidupan aktor yang apabila terungkap kepada audience, akan mengganggu atau melemahkan kesan atau impresi yang disalurkan melalui pertunjukan.. 30.

(46) 4.. Kejadian. (scene).. Ketika. seorang. aktor. mendiskreditkan. pertunjukan secara umum. Meskipun upaya pendiskreditan ini mungkin saja tidak sengaja terjadi, hasilnya akan nampak dan tetap menimbulkan konflik. Di sisi lain, mungkin pula salah satu audience merasa tidak mampu menolerir pertunjukan yang sedang dimainkan, dan mengkonfrontir aktor dengan ucapan atau tindakan ekspresif yang tidak dapat diterima. Ada pula kemungkinan di mana aktor begitu yakin dengan apa yang ia pertunjukan, namun tenyata hal tersebut ditolak oleh audience, dan ini menyebabkan aktor tidak mampu meralat apa yang telah ia lakukan sehingga berujung pada rasa malu. Untuk mencegah terjadinya insiden semacam itu, Goffman memandang perlunya para aktor menguasai dan mampu menerapkan berbagai teknik untuk menyelamatkan pertunjukan. Goffman menjabarkan beberapa teknik tersebut sebagai berikut (Medlin, 2008, h.58-61): 1.. Pendekatan defensif, yaitu aktor melakukan persiapan yang matang terhadap pertunjukannya. Ini dapat dilakukan dengan meningkatkan loyalitas tim; memastikan tim berkonsentrasi penuh dan memegang teguh bagian yang telah ditetapkan; serta melakukan antisipasi, terhadap setiap kemungkinan yang dapat terjadi.. 2.. Pendekatan protektif, yaitu audience menerapkan kehati – hatian agar tidak memasuki wilayah backstage. Dalam hal ini, audience. 31.

(47) memiliki berbagai pertimbangan sebelum melakukan ucapan atau tindakan ekpresif terhadap aktor atas dasar pertimbangan etika sebagai audience. Misalnya dengan pura – pura mengabaikan beberapa hal yang dilakukan aktor. 3.. Pendekatan timbal – balik, yaitu aktor bersikap reseptif terhadap petunjuk yang mungkin diberikan oleh audience mengenai hal – hal yang tidak sesuai yang baru dilakukan oleh sang aktor. Selain itu, apabila sang aktor harus berbohong maupun memutar – balikan fakta yang ada, ia harus melakukannya dengan cara yang dapat diterima oleh audience.. 2.2.2 Teori Performa Komunikatif Performa komunikatif merupakan konsep yang terdapat di Teori Budaya Organisasi. Sedangkan teori budaya organisasi sendiri merupakan sebuah teori komunikasi yang mencakup semua simbol komunikasi (tindakan, rutinitas, percakapan) dan makna yang dilekatkan seseorang kepada simbol tersebut. (West & Turner, 2008, h.325) Performa komunikatif ialah salah satu dari faktor terciptanya budaya organisasi. Dimana dapat dikatakan bahwa masing – masing anggota organisasi tentu memiliki performa komunikatif yang berbeda – beda dan tiap – tiap anggota organisasi membawa performa komunikatifnya untuk memberi warna kepada budaya organisasi. Hal tersebut tidak terlepas dari ketiga asumsi dasar tentang teori ilmu budaya organisasi (West & Turner, 2008, h.319), yaitu:. 32.

(48) 1.. Anggota – anggota organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama mengenai realitas organisasi, yang berakibat pada pemahaman yang lebih baik mengenai nilai – nilai sebuah organisasi.. 2.. Penggunaan dan interpretasi simbol sangat penting dalam budaya organisasi.. 3.. Budaya bermacam – macam dalam organisasi yang berbeda, dan interpretasi tindakan dalam budaya ini juga beragam.. Performa terkait dengan sikap dan tindakan dari seseorang yang berada di dalam organisasi. Sikap dan tindakan ini memberi peran pada setiap anggota organisasi. Performa tentu tidak bisa didapatkan secara instan tetapi didapatkan melalui perjalanan karir atas pemahaman dan pengalaman selama beraktivitas. Performa lahir atas kesadaran seseorang terhadap pengetahuan yang dimilikinya dengan diimplementasikan. Performa itu sendiri merupakan metafora yang menggambarkan proses simbolik pemahaman akan perilaku manusia dalam sebuah organisasi. Tidak cukup setahun atau tiga tahun untuk melahirkan suatu performa terbaik dalam beraktivitas di organisasi. (West & Turner, 2008, h.325) Performa terbaik bisa didapatkan oleh seseorang atau siapa saja dalam organisasi atau instansi. Melalui penjelasan mengenai lima performa komunikatif, seseorang bisa dilihat apakah berada di performa terbaiknya atau tidak, yaitu:. 33.

(49) 1.. Performa Ritual. Performa ritual (West & Turner, 2008, h.325) dijabarkan bagaimana seseorang melakukan akivitas hariannya yang terjadi secara teratur dan berulang – ulang. Ritual terdiri atas empat jenis, yakni 1) Personal, 2) Tugas, 3) Sosial, 4) Organisasi. Ritual personal merupakan rutinitas yang dilakukan di tempat kerja setiap hari. Ritual tugas merupakan rutinitas yang dilakukan dengan pekerjaan tertentu di tempat kerja. Ritual sosial merupakan rutinitas yang melibatkan hubungan dengan orang lain di tempat kerja. Ritual organisasi merupakan rutinitas yang berkaitan dengan organisasi secara keseluruhan. Dalam kaitan penelitian ini performa ritual untuk menggamati dan mencari tahu kegiatan sehari – hari subyek penelitian yaitu pasangan AniesSandi dalam kerutinan melakukan tugas, kegiatan, menjalin hubungan dan komunikasi sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.. 2.. Performa Hasrat. Performa hasrat (West & Turner, 2008, h.325) merupakan berbagai cerita, kisah, metafora, yang berlebihan tentang seseorang dalam menjalankan aktivitasnya, baik di organisasi maupun di institusi tempat seseorang beraktivitas. Dalam performa ini peneliti meneliti, kebijakan atau kebiasaan subyek penelitian yang berlebihan secara negatif. Seperti contoh kebijakan, pernyataan yang membuat kontroversi di media mainstream.. 34.

(50) 3.. Performa Sosial. (West & Turner, 2008, h.326) Berbanding terbalik dengan performa hasrat, dalam performa ini sikap santun, kesopanan, dan sikap – sikap lainnya tentang cerita keseharian aktivitas seseorang akan terungkap pada performa ini. Kaitan dengan penelitian ini performa sosial akan melihat keseharian pasangan Anies-Sandi yang berlatar belakang berbeda dan pernah bersebrangan dalam Pilpres 2014 namun mampu melakukan tugas sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur dengan sangaat profesional.. 4.. Performa Politis. Performa politis (West & Turner, 2008, h.326) merupakan. perilaku. organisasi. yang. mendemonstrasikan. kekuasaan atau kontrol. Gaya dan perilaku kepemimpinan seseorang dideskripsikan dalam performa ini. Dalam performa politis ini, peneliti akan mengamati gaya kepemimpinan pasangan Anies-Sandi sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur serta mendeskripsikan. 5.. Performa enkulturasi. Performa enkulturasi (West & Turner, 2008, h.327) mencakup perilaku organisasi yang membantu para karyawan dalam menemukan makna dari menjadi anggota suatu organisasi. Sudah tentu, apa yang didapatkan oleh seorang pemimpin adalah karena latar belakang organisasi yang dijalaninya selama ini, artinya pada performa enkulturasi berbicara seberapa penting peran Tim Sosialisasi Kampanye yang. 35.

(51) merupakan sahabat atau teman terdekat pasangan Anies-Sandi yang dalam perjalanan karir atau rekam jejaknya membantu Anies di bidang pendidikan dan Sandi di bidang wirausaha untuk memenangkan kompetisi Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017. 2.2.3 Konseptualisasi Komunikasi Komunikasi atau Communication berasal dari kata lain communicates yang berarti menjadi milik bersama atau berbagi. Kata sifatnya communis yang bermakna umum atau bersama – sama. Sehingga dengan demikian komunikasi menurut seorang ahli kamus bahasa, menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. (Fajar, 2009, h.31) Komunikasi menurut SCharamm tampak lebih cenderung mengarah pada sejauh mana keefektifan proses berbagi antar pelaku komunikasi. Schramm melihat sebuah komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang berhasil melahirkan kebersamaan (commonness), kesepahaman antar sumber (source) dengan penerimanya (audience). Komunikasi akan benar – benar efektif apabila audience menerima pesan, pengertian dan lain – lain persis sama seperti apa yang dikehendaki oleh penyampai. (Suprapto, 2006, h.2-3) Sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang diciptakan lebih dibandingkan mahluk hidup lainnya, manusia adalah mahluk sosial, yang artinya manusia tidak dapat terlepas dari individu lainnya. Untuk mendekung jalannya interaksi tersebut maka diperlukan komunikasi sebagai media atau jembatan antara seseorang dengan individu lainnya. Komunikasi yang sering 36.

(52) digunakan dalam aktivitas lingkungan, sebagian besar tentu menggunakan komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Interkasi yang baik dapat berjalan seiring dengan individu dapat mengkomunikasikan pesan secara baik, sehingga komunikan dapat mengerti pesar yang disampaikan oleh komunikator. Namun tidak sedikit dari individu yang sulit berkomunikasi, sehingga kesalahpahaman informasi menjadi dampak dari lemahnya komunikasi. Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner sehingga definisi komunikasi pun menjadi banyak dan beragam. Masing – masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lainya, tetapi pada dasarnya berbagai definisi komunikasi. yang. ada. sesungguhnya. saling. melengkapi. dan. menyempurnakan sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri. 2.2.3.1. Tujuan Komunikasi. Komunikasi dilakukan untuk mencapai kesamaan makna antar pelaku komunikasi. Schramm dalam Sendjaja (2004) menjelaskan, tujuan komunikasi dapat dilihat dari dua perspektif kepentingan, yaitu kepentingan komunikator dan kepentingan komunikan.. 37.

(53) Tujuan komunikasi dilihat dari sudut pandang kepentingan sumber atau komunikator antara lain: 1.. Memberikan informasi.. 2.. Mendidik.. 3.. Menghibur.. 4.. Menganjurkan suatu tindakan.. Sedangkan tujuan komunikasi dilihat dari sudut pandang kepentingan penerima atau komunikan antara lain: (Sendjaja, 2004, h.219) 1.. Memahami informasi.. 2.. Mempelajari.. 3.. Menikmati.. 4.. Menerima atau menolak anjuran. 2.2.3.2. Proses Komunikasi. Setiap komunikator atau orang yang menyampaikan pesan melakukan penyampaian pesan melalui simbol – simbol secara verbal yang berarti semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih, dimana Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Dimana Bahasa verbal cenderung lebih menggunakan kata – kata yang mempresentasikan berbagai aspek realitas individual. (Fajar, 2009, h.52) 38.

(54) Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yaitu: 1. Proses komunikasi secara primer, proses penyampaian pikiran oleh dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan suatu lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi ialah bahasa, syarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikan. 2. Proses komunikasi secara sekunder, proses penyampaian pesan. oleh. seseorang. kepada. orang. lain. dengan. menggunakan alat atau sarana media kedua (surat, telephone, surat kabar, majalah, radio, TV, film, dan lain – lain) setelah memakai lambing sebagai media pertama proses komunikasi sekunder merupakan sambungan proses komunikasi primer untuk menembus ruang dan waktu. Dalam menata lambing – lambing untuk memformulasikan isi. pesan. komunikasi,. mempertimbangkan sifat. –. komunikator sifat. media. yang. harus akan. digunakan. (Effendy, 2003. h.33) 2.2.3.3. Komunikasi Verbal. Symbol atau pesan verbal adalah semua symbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua stimulant wicara yang kita sadari. 39.

(55) termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha – usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. (Mulyana, 2013, h.260) Suatu system kode verbal disebut bahasa, dapat didefiiskan sebagai seperangkat symbol dengan aturan untuk mengkombinaskan symbol – symbol tersebut yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud. tujuan.. Bahasa. verbal. menggunakan. kata. –. kata. yang. merepresentasikan berbagai aspek realitas individual. Konsekuensinya, abstraksi realitas yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata – kata tersebut. Contohnya pada kata rumah, kursi, dan mobil. Ketika kita mendengar kata rumah, maka yang terpikir adalah beraneka ragam macam rumah. Terdapat rumah satu lantai maupun rumah bertingkat, rumah dengan taman atau dengan kolam renang. Begitu pula dengan kursi, kita dapat mengartikannya ruang tamu, kursi roda, dan lain – lain. (Mulyana, 2013, h.261) 2.2.3.4. Komunikasi Nonverbal. Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya; bagaimana bahasa (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing, dan sebagainya) namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Pentingnya. 40.

(56) komunikasi nonverbal ini bukan apa yang seseorang katakana, melainkan bagaimana seseorang mengatakannya. (Mulyana, 2013, h.342) Melalui perilaku nonverbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah seseorang sedang bahagia, binggung, atau sedih.. Kesan. awal. kepada. seseorang. sering. didasarkan. perilaku. nonverbalnya, yang mendorong untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Menurut Knapp dan Hall, isyarat nonverbal sebagaimana symbol verbal jarang mempunyai makna denotative yang tunggal. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah konteks tempat perilaku berlangsung. (Mulyana, 201, h.342) Secara sederhana pesan nonverbal ialah semua isyarat yang bukan berupa kata – kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua stimulan (kecual stimulan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh seseorang dalam penggunaan lingkungan, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi komunikator dan komunikanl jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja dan tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan. (Mulyana, 2013, h.343) Secara. teoritis. komunikasi. nonverbal. dapat. dipisahkan. dari. komunikasi verbal, namun dalam kenyataannya kedua jenis komunikasi ini saling melengkapi dalam komunikasi tatap muka sehari – hari. Nonverbal digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata – kata. 41.

(57) terucap dan tertulis. Pada saat yang sama, seseorang harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui symbol – symbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh – sungguh bersifat nonverbal. (Mulyana, 2013, h.347) Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi – fungsi sebagai berikut: (Mulyana, 2013, h.304-305) 1.. Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misalnya pada saat kita menganggukan kepala ketika mengatakan “Ya”.. 2.. Memperteguh, menekankan, atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya saat kita melambaikan tangan seraya mengucapkan “selamat jalan” atau “sampai jumpa lagi”.. 3.. Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, berdiri sendri. Misalnya ketika kita mengacungkan telapak tangan ke depan ketika ada pengamen yang tidak ingin kita berikan uang kecil.. 4.. Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya pada saat mahasiswa yang cepat – cepat memakai jaket, membereskan buku, melihat jam tangan menjelang kuliah. berakhir,. sehingga. perkuliahannya.. 42. dosen. segera. menutup.

(58) 5.. Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal. Misalnya ketika suami mengatakan “Bagus! Bagus!” ketika sang istri meminta saran atau komentar mengenai gaun baru yang dikenakannya, yang pada saat itu suami sedang asik melakukan kegiatan lainnya.. 2.2.4 Komunkikasi Politik Pengertian komunikasi politik menurut Nimmo, politik berasal dari kata “polis” yang berarti negara, kota, yaitu secara totalitas merupakan kesatuan antara negara dan masyarakatnya. Kata “polis” ini berkembang menjadi “politicos” yang artinya kewarganegaraan. Dari kata “politicos” menjadi “politera” yang berarti hak – hak kewarganegaraan. (Nimmo, 1989, h.108) Nimmo mengartikan politik sebagai kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial. Dalam berbagai hal individu berbeda satu dengan lainnya seperti, jasmani, bakat, emosi, kebutuhan, cita – cita, inisiatif, perilaku, dan sebagainya. Perbedaan tersebut merangsang argumen, perselisihan. Jika perselisihan dianggap serius,. perhatian. individu. dengan. memperkenalkan. masalah. yang. bertentangan itu dan diselesaikan; inilah kegiatan politik. (Novel, 1999, h.120) David Easton (1999, h.120) mengatakan, bahwa politik itu sebagai suatu proses di mana dalam perkembangan proses tersebut individu atau. 43.

(59) seseorang menerima orientasi politik tertentu dan tingkah laku atau perilaku. Apabila definisi komunikasi dan definisi politik kita kaitkan dengan komunikasi politik, maka akan terdapat suatu rumusan sebagai berikut: komunikasi politik adalah komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini dapat mengikat semua warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga – lembaga politik. Nimmo dalam Arrianie (2010, h.18) mencatat ada berbagai perspektif mengenai komunikasi politik, yaitu: 1.. Perspektif aksi diri, bahwa di dalam diri manusia terdapat kekuatan berupa motif, sikap, dorongan, rangsangan, maupun kapasitas, yang menentukan perbuatannya.. 2.. Perpektif interaksi, bahwa terdapat berbagai kekuatan di luar manusia yang menetukan kelakuan manusia tersebut, yang mengimbangkan sesuatu dengan yang lain, dan terjadinya hubungan sebab – akibat. Kekuatan tersebut antara lain ialah kedudukan sosial dan ekonomi, peran sosial, tuntutan kelompok, ketentuan larangan budaya, kebiasaan, dan hukum.. 3.. Perspektif transaksi, bahwa untuk memahami perbuatan manusia, dapat dipandang dari makna yang diberikan manusia terhadap hal – hal fisik. Hal ini karena makna diturunkan melalui transaksi yang dimiliki seseorang dengan sesamanya.. 44.

(60) Berdasarkan perspektif tersebut, maka perlu suatu pemahaman terhadap hal – hal yang dilakukan para komunikator politik dalam melakukan peran politiknya di panggung depan dan panggung belakang kehidupan politik, lengkap dengan segala atribut yang melekat padanya sebagai konsekuensi peran politik yang diembannya. (Arrianie, 2008, h.18) 2.2.4.1 Ciri Komunikator Politik Menurut Nimmo, salah satu ciiri komunikasi ialah bahwa seseorang jarang dapat menghindari dan keturutsertaan. Hanya dihadiri dan diperhitungkan oleh seseorang memiliki nilai pesan. Dalam arti yang paling umum kita semua adalah komunikator, begitu pula siapa pun yang dalam setting politik adalah komunikator politik. (Nimmo, 1989, h.25) Meskipun mengakui bahwa setiap orang boleh berkomunikasi tentang politik, kita mengakui bahwa sedikit yang berbuat demikian, setidak – tidaknya yang melakukannya serta tetap dan sinambung. Mereka yang sedikit ini tidak hanya bertukar pesan politik; mereka adalah pemimpin dalam proses opini. Para komunikator politik ini, dibandingkan dengan warga negara pada umumnya, ditanggapi dengan lebih bersungguh – sungguh bila mereka berbicara dan berbuat. Sebagai pendukung pengertian besar terhadap peran komunikator politik dalam proses opini, Leonard W. Dood (2012, h.24) menyarankan jenis – jenis hal yang patut diketahui mengenai mereka. Seseorang sendiri lah yang memiliki kemampuan – kemampuan tertentu yang dapat di konseptualkan sesuai dengan kemampuan akalnya, pengalamannya sebagai. 45.

(61) komunikator dengan khalayak yang serupa atau yang tak serupa, dan peran yang dimainkan di dalam kepribadiannya oleh motif untuk berkomunikasi. Berdasarkan. anjuran. Dood,. jelas. bahwa. komunikator. harus. diidentifikasi dan kedudukan mereka di dalam masyarakat harus ditetapkan. Untuk keperluan ini Nimmo mengindentifikasi tiga kategori politikus, yaitu yang bertindak sebagai komunikator politik, komunikator professional dalam politik, dan aktivis atau komunikator paruh waktu. 2.2.4.2 Politikus sebagai Komunikator Politik Kelompok ini adalah seseorang yang bercita – cita untuk memegang jabatan pemerintah dan memegang pemerintah yang harus berkomunikasi tentang politik dan disebut dengan politikus, tak peduli apakah mereka dipilih, ditunjuk, atau jabatan karir, baik jabatan eksekutif, legislatif, atau yudikatif. Pekerjaan mereka adalah aspek – aspek utama dalam kegiatan ini. Meskipun politikus melayani beraneka tujuan dengan berkomunikasi, ada dua hal yang menonjol. Daniel Katz dalam Henri (2012, h.24) mengatakan pemimpin. politik. mengarahkan. pengaruhnya. ke. dua. arah,. yaitu. mempengaruhi alokasi ganjaran dan mengubah struktur sosial yang ada atau mencegah perubahan. Dalam kewenangannya yang pertama politikus itu berkomunikasi sebagai perwakilan suatu kelompok; pesan – pesan politikus itu mengajukan dan melindungi tujuan kepentingan politik, artinya komunikator politik mewakili kepentingan kelompoknya. Sebaliknya, politikus yang bertindak sebagai ideologi tidak begitu terpusat perhatiannya kepada memaksakan. 46.

(62) tuntutan kelompoknya, ia lebih menyibukkan diri untuk menetapkan tujuan kebijakan yang lebih luas, mengusahakan reformasi dan bahkan mendukung perubahan revolusioner. Jenis politikus yang bertindak sebagai komunikator politik, namun untuk mudahnya kita klasifikasikan mereka sebagai politikus: (Henri, 2012, h.25) 1. Berada di dalam atau di luar jabatan pemerintah. 2. Berpandangan nasional atau sub nasional. 3. Berurusan dengan masalah berganda atau masalah tunggal. 2.2.5 Public Relations Politik Public relations merupakan aktivitas yang harus ada dan dibutuhkan oleh seluruh organisasi, baik komersial maupun nonkomersial. Aktivitas komunikasi membangun good will (niat baik) dan understanding (pemahaman) merupakan tugas pokok public relations. Pemahaman dasar tentang public relations dapat dipahami dalam beberapa karakteristik yang membuat public relations memiliki posisi sangat strategis dalam sebuah eksistensi organisasi, baik organisasi pemerintah, perusahaan maupun organisasi politik, yaitu (Heryanto & Zarkasy, 2012, h.3): 1. Membuat kerangka kerja yang direncanakan, artinya desain, konsep, kerja teknis. dan tujuan. yang sebelumnya. telat. dipersiapkan. 2. Berupaya membangun good will dan understanding baik dari publik internal maupun publik eksternal organisasi.. 47.

(63) 3. Menganalisis berbagai kecenderungan dari dinamika yang mengiringi perjalanan organisasi, sehingga selalu diperoleh penemuan – penemuan , penyimpulan dan rekomendasi yang diperlukan untuk membangun dan menjaga komunikasi yang efektif antara organisasi dan publik. 4. Tujuan spesifik yang ingin dicapai oleh organisasi dengan mengembangkan. proses. pemahaman. bersama. (mutual. understanding) di antara organisasi dan publik. Sedangkan menurut Romy Frohlich (2012, h.7-8) Public relations politik adalah sebuah kerja melayani publik dengan membawa sejumlah isu untuk menjadi perhatian publik. Public relations politik diindetifikasi dalam buku tersebut, antara lain : 1. Public relations politik terkait dengan proses melayani publik internal dan publik eksternal dari sebuah institusi atau organisasi politik, seperti partai. 2. Public relations politik biasanya terkait sejumlah isu dan dinamika khusus yang dikelola guna mendapatkan perhatian para pemilih (voters). 3. Public relations politik memiliki orientasi pada pengumpulan dukungan seluas mungkin terhadap khalayak melalui berbagai saluran yang bisa dimanfaatkan mulai saluran formal hingga saluran informal.. 48.

Referensi

Dokumen terkait

kiai yang memmiliki pengaruh kuat di Pamekasdan dan bahkandi luar Pamekasan, seperti KHR. As’ad Syamsul arifin, pengasuh Pondok Pesantren As Salafiyah Asy

Pemberdayaan guru merupakan salah satu bentuk layanan prima yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikannya, di antara layanan yang diberikan adalah: (1)

Jika tanah tersebut dijual dengan harga Rp200.000,00 per meter persegi maka uang yang diperoleh Bu Indri dari hasil penjualan tanah tersebut adalah …... Luas belah ketupat

1) Expert Priceber Communication. 2) Petugas PR dianggap sebagai orang yang ahli. Dia menasehati pimpinan perusahaan/organisasi. Hubungan mereka diibaratkan seperti

Ketika ia bernilai nol, maka itu berarti tidak terdapat penurunan amplitudo sama sekali, akan tetapi jika ia bernilai cukup besar, maka penurunan amplitudo akan

Dari uraian di atas, maka penulis merencanakan suatu penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar spike bola voli siswa yang dirumuskan ke dalam judul

Hasil karakterisasi sensor menunjukkan serat optik pada jari-jari bending 2,5 cm adalah yang optimal untuk pengukuran kadar albumin urin dengan sensitivitas sensor

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2012. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah, sebagian besar peserta didik SD Negeri Grogol Dukuhturi Tegal