• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fiqih Khas Mazhab Hanafi (Puasa-Haji-Pernikahan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Fiqih Khas Mazhab Hanafi (Puasa-Haji-Pernikahan)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.,MA 26 hlm

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Judul Buku

Fiqih Khas Mazhab Hanafi (Puasa-Haji-Pernikahan)

Penulis

Ahmad Sarwat, Lc. MA

Editor

Fatih

Setting & Lay Out

Fayyad & Fawwaz

Desain Cover

Faqih

Penerbit

Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan

(4)
(5)

Daftar Isi

Daftar Isi ... 5

Pendahuluan ... 7

Bab 4 : Puasa ... 9

1. Boleh Puasa Sunnah Meski Punya Hutang ... 9

2. Tidak Wajib Tabyitun-niyah ... 11

3. Boleh Niat Puasa Mutlak Untuk Ramadhan ... 11

4. Istri Tetap Kena Kaffarah Bila Jima’ ... 12

5. Kaffarah Sekali Saja ... 12

6. Sengaja Membatalkan Puasa Kena Kaffarah . 13 7. Wajib Imsak Meski Tidak Puasa ... 13

8. Di Tengah Puasa Kalau Safar Boleh Jima’ ... 14

9. Niat Batalkan Puasa Tidak Batal ... 14

Bab 5 : Haji Umrah ... 16

1. Kewajiban Haji Harus Segera Dilaksanakan ... 16

2. Tawaf Boleh Dalam Keadaan Hadats Besar ... 16

3. Umrah itu Sunnah ... 17

4. Haji Qiran Lebih Utama ... 18

Bab 6. Pernikahan ... 19

1. Wanita Menikahkan Diri Sendiri ... 19

2. Makna Asli Nikah Adalah Jima’ ... 21

3. Rukun Nikah Hanya Satu : jab Kabul ... 21

4. Urutan Wali ... 21

5. Perempuan Bisa Jadi Saksi... 22

(6)
(7)

Pendahuluan

Di tengah masyarakat Indonesia yang bermazhab Syafii, kajian terkait dengan fiqih mazhab lain akan menjadi sangat unik.

Namun muncul pertanyaan, untuk apa kita harus repot-repot mengajarkan fiqih di luar mazhab syafii? Bukankah nanti akan beresiko terjadinya talfiq antara mazhab?

Jawabannya tergantung niatnya. Bisa saja kajian ilmu fiqih dari mazhab lain disalah-gunakan sehingga membuat para pembelajar menjadi ragu-ragu dengan mazhannya sendiri, sehingga pada akhirnya akan melakukan pencampuran atau talfiq antara mazhab. Khususnya bila pengajaran ini diberikan di masa awal dimana kesadaran untuk bermazhab masih sangat lemah.

Namun sebenarnya kajian perbandingan mazhab justru dibutuhkan ketika suatu masyarakat sudah terlanjur mencampur-campur mazhab. Ketika dijelaskan dan didudukkan kembali bagaimana perbedaan pendapat di tiap mazhab, justru tujuannya agar semua kembali lagi menyesuaikan dengan mazhab masing-masing.

(8)

mengembalikan para pemeluk mazhab Asy-Syafii yang terlanjur mencampur-aduk mazhabnya, agar kembali setia kepada mazhabnya yang asli.

Khusus terkait dengan mazhab Hanafi, Penulis menyusun buku kecil ini agar kita bisa melihat dari pendapat mereka yang berbeda dengan pendapat jumhur atau pendapat yang umum berkembang di tengah umat Islam.

Dan ternyata perbedaan mazhab Al-Hanafiyah dengan mazhab lainnya cukup banyak, bahkan sebagian kalangan mengatakan mazhab yang paling berbeda dengan lainnya adalah mazhab Al-Hanafiyah.

Tulisan berikut ini adalah sebagian kecil dari apa yang bisa Penulis catat di antara ciri mazhab ini. Tentu masih ada banyak lagi pendapat mazhab ini yang agak berbeda dengan pendapat yang umumnya digunakan dalam mazhab mayoritas ulama.

(9)

Bab 4 : Puasa

1. Boleh Puasa Sunnah Meski Punya Hutang

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa dibolehkan bagi orang yang punya hutang puasa Ramadhan untuk mengerjakan puasa sunnah, termasuk puasa enam hari di bulan Syawwal. Dan sifat dari kebolehan ini mutlak tanpa karahah, yaitu tanpa ada hal kurang disukai.

Dasar landasan pendapat ini bahwa kewajiban puasa qadha' bersifat tarakhi (يخارت). Maksudnya boleh ditunda atau diakhirkan, hingga sampai menjelang masuknya bulan Ramadhan tahun berikutnya.

Kewajiban yang bersifat tarakhi ini

membolehkan seseorang untuk menunda

pengerjaannya. Contohnya kewajiban

mengerjakan ibadah haji, dimana Rasulullah SAW dahulu menunda keberangkan ibadah haji hingga tahun kesepuluh hijriyah. Padahal perintah ibadah haji sudah turun sejak tahun keenam hijriyah.

Dan penundaan ibadah haji selama masa empat tahun yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu bukan karena alasan tidak mampu, juga bukan karena faktor keamanan yang menghalangi. Sebab

(10)

kenyataanya justru beliau SAW berkali-kali melakukan umrah ke Baitullah untuk mengerjakan umrah dan bukan haji.

Selama masa empat tahun tidak berhaji, beliau SAW tercatat tiga kali mengunjungi Baitullah. Tahun keenam, ketujuh dan tahun kedelapan. Maka tidak mengapa seseorang menunda kewajiban ibadah yang wajib dan mendahulukan yang sunnah, apabila yang wajib itu bersifat

tarakhi.

Sementara mazhab lainnya seperti mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah. Mereka mengatakan bahwa tidak mengapa seseorang mendahulukan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal dan menunda qadha' puasa Ramadhan yang hukumnya wajib. Namun tindakan seperti ini dalam pandangan mereka diiringi dengan karahah, yaitu kurang disukai atau kurang afdhal.

Dalam pandangan mereka yang utama adalah membayarkan dulu hutang puasa, karena yang utama adalah mendahulukan pekerjaan yang sifatnya wajib. Namun pada dasarnya mereka tidak melarang bila seseorang ingin mendahulukan puasa sunnah dan menunda puasa wajib.

Sedangkan mazhab Al-Hanabilah

mengharamkan puasa sunnah selama masih punya hutang puasa. Mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits nabi berikut ini :

ِه ِضْقَي ْمَل ٌء ْ َشَ َنا َضَمَر ْنِم ِهْيَلَعَو اًعُّو َطَت َما َص ْنَم

(11)

Siapa yang berpuasa sunnah padahal dia punya hutang qadha' puasa Ramadhan yang belum dikerjakan, maka puasa sunnahnya itu tidak sah sampai dia bayarkan dulu puasa qadha'nya. (HR. Ahmad)

2. Tidak Wajib Tabyitun-niyah

Mazhab Hanafi tidak mengharuskan niat sejak malam Ramadhan, sehingga orang yang lupa tidak berniat sejak malamnya, tidak mengapa kalau baru berniat setelah siang.

Sementara mazhab Asy-Syafi’i menegaskan

bahwa niat itu harus sudah dijalankan sejak sebelum masuk waktu shubuh. Dan bila terlupa maka puasanya tidak sah. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW :

َم

ْن

َل

ْم

ُي َب ِي

ِت

ِصلا

َي

َما

َق

ْب

َل

ُط

ُل

ِعو

َفلا

ْج

ِر

َف

َل

ِص

َي

َما

َُل

Dari Hafshah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang tidak berniat

sebelum fajar, maka tidak ada puasa

untuknya.” (HR. Tirmidzy, An-Nasa’i, Ibnu

Majah dan Ahmad).

3. Boleh Niat Puasa Mutlak Untuk Ramadhan

Dalam berniat puasa di bulan Ramadhan, mazhab Hanafi membolehkan niat puasa secara

(12)

Alasannya niat puasa apapun kalau dilakukan di bulan Ramadhan, maka secara otomatis itu adalah puasa Ramadhan.

Sedangkan dalam mazhab As-Syafi’i kalau tidak

ditetapkan niat puasa Ramadhan maka jatuhnya menjadi tidak sah.

4. Istri Tetap Kena Kaffarah Bila Jima’

Mazhab Hanafi menegaskan bahwa bila suami istri berjima di siang hari bulan Ramadhan, maka yang terkena kaffarah bukan hanya suami, namun istrinya pun juga terkena kaffarah. Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam beberapa kitab mazhab Hanafi seperti Al-Mabsut1,

Badaius-Shanai’2 dan Fathul Qadir3.

Pandangan ini berbeda 180 derajat dengan

mazhab Syafi’i yang hanya mewajibkan suami

membayar kaffarah dan istrinya tidak terkena kewajiban kaffarah.

5. Kaffarah Sekali Saja

Mazhab Hanafi memandang bahwa suami istri

bila melakukan melakukan jima’ berkali-kali, cukup

sekali saja membayar kaffarahnya untuk semua

jima’ itu. Sama saja apakah pengulangan jima’ itu

dilakukan di hari yang sama atau pun di hari-hari yang berbeda.

Pendeknya selama belum dibayar kaffarahnya,

1 Al-Mabsuth, 3/72-73 2 Badaiush-shanai’, 2/98 3 Fathul Qadir 2/338

(13)

Kira-kira mirip dengan keharusan mandi janabah, biarpun melakukan jima’ berkali-kali, mandi janabahnya cukup sekali saja.

Sedangkan dalam mazhab Asy-Syafi’i hal seperti

itu tidak dibenarkan. Setiap satu kali pelanggaran

jima’ di siang hari bulan Ramadhan, maka terkena

satu kaffarah.

Bila jima’ itu diulangi di hari yang lain, maka

kaffarahnya menjadi dua kali lipat. Namun jima’

diulangi di hari yang sama, memang cukup sekali kaffarah saja.

6. Sengaja Membatalkan Puasa Kena Kaffarah

Mazhab Hanafi memandang bahwa kaffarah itu

berlaku bukan hanya sebatas jima’ di siang hari

bukan Ramadhan saja. Namun segala hal yang membatalkan puasa, kalau dilakukan dengan

sengaja tanpa ada udzur syar’i juga terkena

kaffarah.

Sedangkan dalam mazhab Asy-Syafi’i kaffarah itu hanya berlaku bila pasangan suami istri berjima’

di siang hari bulan Ramadhan. Sedangkan membatalkan puasa dengan makan, minum atau

hal-hal lain selain jima’ tidak mewajibkan kaffarah.

7. Wajib Imsak Meski Tidak Puasa

Mazhab Hanafi mewajibkan orang untuk berimsak, meskipun tidak mengawali harinya dengan puasa. Misalnya anak kecil yang di tengah

(14)

hari tiba-tiba ihtilam dan menjadi baligh, maka dia wajib berimsak seolah-olah dia berpuasa.

Begitu juga orang yang tiba dari safar di tengah hari dalam keadaan tidak puasa, maka dia wajib imsak begitu sudah ada di rumah. Tidak boleh makan dan minum, karena safarnya sudah selesai. Walaupun sejak awal dia tidak memulai harinya dengan puasa, namun dia wajib imsak.

Begitu juga wanita yang mengawali harinya dengan tidak puasa karena haidh, namun di tengah hari haidhnya berhenti, maka dia wajib berimsak sampai maghrib.

Termasuk orang kafir yang tidak berpuasa, kalau di tengah hari tiba-tiba masuk Islam, maka dia langsung wajib berimsak sampai maghrib.

Pandangan seperti ini tidak bisa diterima dalam pandangan mazhab Asy-Syafii. Sebab orang yang awalnya memang tidak puasa, tentu tidak perlu pura-pura berpuasa. Jadi wanita haidh yang suci di tengah hari, silahkan saja tetap makan minum, tidak ada kewajiban harus berimsak.

8. Di Tengah Puasa Kalau Safar Boleh Jima’

Mazhab Hanafi memandang orang yang sedang berpuasa, bila di tengah puasanya memutuskan untuk melakukan safar, maka dia boleh melakukan

jima’ tanpa ada kewajiban membayar kaffarah.

Hal seperti ini kalau pandangan mazhab

Asy-Syafi’i maka mewajibkan kaffarah.

(15)

puasanya, padahal belum melakukan apapun yang membatalkan puasa, maka puasanya belum dianggap batal.

Namun hal ini berbeda hukumnya kalau dilihat dalam pandangan mazhab Asy-Syafii. Siapa pun yang sudah membulatkan niat untuk membatalkan puasa, meski belum sempat makan, minum atau

(16)

Bab 5 : Haji Umrah

1. Kewajiban Haji Harus Segera Dilaksanakan

Mazhab Hanafi atau lebih tepatnya Muhammad bin Hasan Asy-Syabani menegaskan bahwa ketika seseorang telah memiliki segala kemampuan dalam ibadah haji, maka wajib baginya segera melakukan ibadah haji itu dan tidak boleh menundanya. Menunda haji itu berarti berdosa.

Dalam ungkapan para ulama, hal ini disebut dengan istilah al-wujubu alal faur (روفلا ىلع بوجولا)

Pendapat ini berbeda dengan pandangan mazhab Asy-syafii yang tidak mengharuskan orang yang sudah mampu berhaji untuk segera melaksanakan ibadah haji. Dalam pandangan ulama, hal ini diistilahkan dengan al-wujubu alat-tarakhi (يخارتلا ىلع بوجولا)

2. Tawaf Boleh Dalam Keadaan Hadats Besar

Thawaf di Baitullah Al-Haram senilai dengan shalat, sehingga kalau shalat itu terlarang bagi orang yang janabah, otomatis demikian juga hukumnya buat thawaf. Dasar persamaan nilai shalat dengan thawaf adalah sabda Rasulullah SAW berikut :

(17)

Tirmizy Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menshahihkannya) Dengan hadits ini mayoritas (jumhur) ulama sepakat untuk mengharamkan thawaf di seputar ka'bah bagi orang yang janabah sampai dia suci dari hadatsnya.

Kecuali ada satu pendapat menyendiri dari madzhab Al-Hanafiyah yang menyebutkan bahwa suci dari hadats besar bukan syarat sah thawaf melainkan hanya wajib. Sehingga dalam pandangan yang menyendiri ini, seorang yang thawaf dalam keadaan janabah tetap dibenarkan, namun dia wajib membayar dam berupa menyembelih seekor kambing. Pendapat ini didasarkan pada fatwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang menyebutkan bahwa menyembelih kambing wajib bagi seorang yang melakukan ibadah haji dalam dua masalah :

▪ Bila thawaf dalam keadaan janabah

▪ Bila melakukan hubungan seksual setelah wuquf di Arafah.

3. Umrah itu Sunnah

Mahzab Hanafi menegaskan bahwa hukum umrah itu sunnah bukan wajib. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW :

جلحا

داجه

ةرمعلاو

عوطت

(18)

(sunnah).

ل أس

لجر

لوسر

الل

نع

،ةلصلا

،ةكازلاو

جلحاو

بجاو أ

،وه

لاق

:

،معن

ل أسف

نع

ةرمعلا

ةبجاو أ

؟هي

لاق

:

،لا

ن او

رتمعا

يرخ

ل

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat, zakat dan haji. Apakah wajib hukumnya?. Nabi SAW menjawab,”Ya”. Lalu dia

bertanya lagi tentang umrah, apakah wajib?.

Nabi SAW menjawab,”Tidak, tapi kalau kamu umrah itu lebih baik”.

Sedangkan mazhab Asy-syafii mengatakan bahwa hukum umrah itu wajib sebagaimana wajibnya haji, yaitu bagi mereka yang telah mampu berangkat umrah.

4. Haji Qiran Lebih Utama

Mazhab Hanafi menegaskan bahwa haji qiran itu

lebih utama dari pada haji ifrad ataupun tamattu’.

Namun mazhab As-syafii menybutkan bahwa

(19)

Bab 6. Pernikahan

1. Wanita Menikahkan Diri Sendiri

Mazhab Hanafi membolehkan wanita yang sudah baligh, merdeka, dan berakal dibenarkan untuk menikahkan diri sendiri.

Namun tiga tokoh besar mazhab ini sedikit berbeda pendapat terkiat izin wali. Imam Abu Hanifah menyatakan seorang wanita bisa menikahkan dirinya tanpa harus seizin walinya.

Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad mensyaratkan apabila ada izin dari wali, maka wania bisa menikahkan diri sendiri.

Dasarnya adalah ayat-ayat berikut ini :

ْن

ِ

اَف

اَهَقَّل َط

َلَف

ُّلِ َتَ

َُل

ْنِم

ُدْعَب

ى َّتََّح

َحِكْنَت

اًج ْوَز

ُهَ ْيرَغ

ۗ

ْن

ِ

اَف

اَهَقَّل َط

َلَف

َحاَنُج

اَمِ ْيَْلَع

ْنَأ

اَعَجاَ َتََي

ْن

ِ

ا

اَّن َظ

ْنَأ

اَيمِقُي

َدو ُدُح

َِّللّا

ۗ

َ ْ

لِتَو

ُدو ُدُح

َِّللّا

اَ ُنُِ يَبُي

مْوَقِل

َنوُمَلْعَي

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri)

(20)

untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum-hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 230)

ًةَأَرْماَو

ًةَنِمْؤُم

ْن

ِ

ا

ْتَبَهَو

اَه َسْفَن

ِ ِبَّنلِل

Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi (QS. Al-Ahzab : 50)

َنيِ َّلَّاَو

َن ْوَّفَوَتُي

ُْكْنِم

َنوُرَذَيَو

اًجا َوْزَأ

َن ْصَّبَ َتََي

َّنِه ِسُفْنَأِب

َةَعَبْرَأ

رُه ْشَأ

اً ْشَْعَو

ۖ

اَذ

ِ

اَف

َنْغَلَب

َّنُهَلَجَأ

َلَف

َحاَنُج

ُْكْيَلَع

اَيمِف

َنْلَعَف

ِف

َّنِه ِسُفْنَأ

ِفو ُرْعَمْل ِبِ

ۗ

َُّللّاَو

اَمِب

َنوُلَمْعَت

ٌيرِبَخ

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber´iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ´iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah : 234)

Pandangan mazhab Hanafi ini tidak berlaku dan dianggap tidak sah, kalau dinilai lewat pandangan mazhab lainnya, khususnya mazhab Asy-Syafii. Wanita dalam keadaan apapun tidak bisa menikahkan diri sendiri, baik ada izin dari wali atau pun tidak ada izin. Wanita hanya bisa menikah

(21)

Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa makna asli dari nikah itu adalah hubungan seksual (ءطولا), sedangkan akad adalah makna kiasan.

Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah berpendapat sebaliknya, makna asli nikah itu adalah akad (دقعلا), sedangkan kalau dimaknai sebagai hubungan seksual, itu merupakan makna kiasan saja.

3. Rukun Nikah Hanya Satu : jab Kabul

Dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah, yang termasuk rukun nikah hanya ada satu saja, yaitu ijab qabul atau akad nikah itu sendiri.

Sedangkan Mazhab Asy-Syafi’iyah adalah

mazhab yang paling banyak menyebutkan jumlah rukun nikah, yaitu mepat perkara. Kelimanya adalah : Shighah, Suami dan Istri, Dua orang saksi dan Wali.

4. Urutan Wali

Urutan wali dalam mazhab Hanafi berbeda dibandikan dengan mazhab lainnya. Yang berada paling awal dari urutan wanita justru anak laki-laki, kemudian cucu laki-laki. Diteruskan pada urutan ketiga ayah kandung, lalu kakek. Kemudian saudara seayah-seibu, lalu saudara seayah saja, lalu keponakan atau anak dari keduanya.

Paman berada pada urutan sesudahnya, diawali dengan paman yang seayah dan seibu dengan

(22)

ayah, lalu paman yang seayah saja dengan ayah, lalu anak-anak laki-laki mereka. Kurang lebih diagramnya seperti berikut ini :

5. Perempuan Bisa Jadi Saksi

Mazhab Hanafiyah mengatakan bahwa bila jumlah wanita itu dua orang, maka bisa menggantikan posisi seorang laki-laki seperti yang disebutkan dalam Al-Quran :1

ْمَّل ن

اَف

ِ

َنوُكَي

َنِم َن ْو َضْرَت نَّمِم ِن َتََأَرْماَو ٌلُجَرَف ِ ْيَْلُجَر

ءا َدَه ُّشلا

ىَرْخُلأا اَ ُهُاَدْح

ا َرِ كَذُتَف اَ ُهُاَدْحْ ا َّل ِضَت نَأ

ِ

Jika tak ada dua oang lelaki, maka seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya....(QS. Al-Baqarah : 282)

(23)

syarat yang ketiga dari seorang saksi harus kedua-duanya berjenis kelamin laki-laki.

Maka kesaksian wanita dalam pernikahan tidak sah. Bahkan meski dengan dua wanita untuk penguat, khusus dalam persaksian pernikahan, kedudukan laki-laki dalam sebuah persaksian tidak bisa digantikan dengan dua wanita. Abu Ubaid meriwayatkan dari Az-Zuhri berkata,

Telah menjadi sunnah Rasulullah SAW bahwa tidak diperkenankan persaksian wanita dalam masalah hudud, nikah dan talak.

6. Mahar Harus Berupa Harta Bernilai Nyata

Mazhab Al-Hanafiyah mensyaratkan mahar itu harus berbentuk mal mutaqiwwim (موقتم لام), yaitu harta yang punya nilai tertentu dan diakui oleh khalayak. Berarti bila tidak dianggap sebagai harta, maka tidak sah untuk dijadikan mahar.1

Sedangkan jumhur ulama yaitu mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa hal-hal apa saya yang saya dijadikan tsaman (نَمَث), mutsamman (نَّمَثُم) atau ujrah (ة َرْجُأ), maka sah juga untuk dijadikan mahar.

Yang dimaksud dengan istilah tsaman (نَمَث) adalah uang sebagai pembeli sesuatu, sedangkan mutsamman (نَّمَثُم) adalah benda atau barang yang bisa dibeli. Dan ujrah (ة َرْجُأ) adalah upah atau honor

(24)
(25)

Penutup

Apa yang tertuang dalam buku kecil ini masih perlu dikembangkan dan diperluas lagi. Namun sekedar untuk kebutuhan informasi yang bersifat instan, memang Penulis merasa cukup beberapa contoh fatwa khas mazhan Hanafi.

Akhirnya Penulis berharap semoga karya kecil ini bisa menjadi ladang dalam menjaring pahala keilmuan dan dilipat-gandakan oleh Allah SWT.

Amin ya rabbal ’alamin

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Alasan Bank Muamalat Indonesia Cabang Pembantu Mojokerto menggunakan alternatif akad pertama selain sesuai dengan prinsip syariah, pembiayaan yang diberikan kepada

Diperlukannya rekonstruksi dalam upaya mengungkap tindak pidana pembunuhan berencana adalah untuk mendapat gambaran yang jelas tentang terjadinya suatu tindak pidana

Noodweer digunakan sebagai alasan pembenar, tetapi bukan alasan yang membenarkan perbuatan melanggar hukum, melainkan seseorang yang terpaksa melakukan tindak pidana

Setelah terbentuk matrik perbandingan maka dilihat bobot prioritas untuk perbandingan kriteria. Dengan cara membagi isi matriks perbandingan dengan jumlah kolom yang

Yang dimaksudkan dengan masyarakat plural dalam tulisan ini, adalah masyarakat majemuk yang ditandai adanya beragam suku bangsa, agama, budaya atau adat istiadat.. Kondisi masyarakat

berencana untuk revisi target kredit ke atas menjadi sekitar 16% di semester II 2016 dari target pertumbuhan kredit13%-15% di semester I 2016 apabila terjadi ekses

Artinya, setiap perubahan yang terjadi pada variabel independen ( tangible asset , profitabilitas dan risiko bisnis) bersama-sama akan mempengaruhi perubahan terhadap

ii. Peraturan Kepala BPPT tentang SIKURJA; dan iii. Dokumen data kinerja terkini. Peningkatan kompetensi pegawai yang terlibat secara aktif dalam pengelolaan kinerja