Palestina
Pekan
E d i s i : 0 3 8
J u m’ a t , 0 8 A p r i l 2 0 1 6Edisi : 038/ 2016 | Jum’at, 08 April 2016
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
BERITA UTAmA
Jelang Hari Paskah Yahudi, Zionis Israel Tangkapi Kaum Wanita Penjaga Al-Aqsha
Al-Quds - Aparat penjajah Israel hingga kini terus melakukan aksi penangkapan terhadap para penjaga Masjid Suci Al-Aqsha. Sedikitnya terdapat 5 orang dari kaum wanita penjaga Al-Aqsha yang ditangkap dan ditahan di penjara oleh Israel.
Seperti disebutkan oleh reporter Qudspress.com, para aparat keamanan Israel menyerbu rumah keluarga Ghazawi, salah seorang wanita penjaga Al-Aqsha, pada hari Kamis (7/4/2016) sore kemarin. Dalam kesempatan itu Samah Ghazawi dan pejuang wanita lainnya, Ikram ditangkap aparat Zionis.
Saat ini Israel terus memperketat penjagaan di Al-Aqsha dan melakukan penangkapan terhadap para penjaganya. Hal tersebut dilakukan, bersamaan semakin dekatnya hari Paskah Ibrani yaitu pada tanggal 22 April. Menyambut hari raya Yahudi ini Otoritas Israel mengeluarkan perintah untuk melakukan penangkapan dan mendeportasi para penjaga Al-Aqsha. Kebijakan ini dilakukan agar orang-orang Yahudi leluasa masuk Al-Aqsha tanpa diganggu warga Palestina.
Qudspress.com, (7/4/2016)
AL-QUDS
Yordania Kutuk Serangan Israel ke masjid Al-Aqsa
Amman - Yordania mengajukan surat protes ke keduataan Israel di Amaan, mengutuk aksi tentara Zionis yang kembali menyerang Masjid Al-Aqsa. Begitu bunyi laporan kantor berita Yordania, Petra.
Menteri Negara urusan Media Yordania, Mohammad Momani mengatakan, Yordania mengutuk pelanggaran Israel terhadap situs suci umat Islam itu, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (6/4/2016).
Pemerintah Yordania mendesak Israel untuk menghentikan provokasi dan berhenti melakukan pelanggaran dan melakukan penyerangan. “Yordania mengutuk semua upaya Israel yang berusaha untuk mengubah status quo di Yerusalem,” kata Momani.
Momani juga mengatakan bahwa Yordania akan terus mempertahankan situs suci umat Islam dan Kristen di Yerusalem. Ia juga menambahkan bahwa Yordania akan terus mengerahkan upaya di tingkat internasional untuk mengakhiri pelanggaran Israel.
Sindonews.com (6/4/2016)
Israel Rencana Bangun 1435 Permukiman Baru di Al-Quds
Al-Quds – Infopalestina: Otoritas Tanah Israel dan lembaga perencanaan serta departemen keuangan Israel terus merealisasikan rencana pembangunan 1435 unit permukiman baru sebagai tambahan bagi wilayah zona perdagangan di salah satu perbukikan alami Al-Quds terjajah.
Sebagaiamana rencana mereka yang dipublukasi sejumlah media Israel membidik wilayah Tel berdampingan dengan wilayah Ramot yang berada di zona perbukitan alami yang terakhir di kota Al-Quds terjajah yang memiliki keindahan
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
lingkungannya yang asri. Maka rencana Zionis untuk membangun wilayah rekreasi permukiman, sekaligus permukiman baru.
Rencana pemerintah Israel akan membangun 1435 unit permukiman, disamping zona perdagangan. Walau wilayah tersebut merupakan wilayah lindung yang menampung sejumlah hewan yang dlindungi, seperti rubah, rusa, hyena, landak dan yang lainya.
Di sisi lain, Komisi Penyelenggaran dan Pembangunan Lokal di Pemerintah Desa Zionis di al-Quds, Rabu (30/3), menyetujui pembangunan 18 unit permukiman Yahudi untuk keluarga-keluarga Yahudi di timur al-Quds.
Situs berita Zionis “Israel Voice” menyebutkan bahwa rencana untuk bertujuan untuk membangun 18 unit permukiman bagi keluarga-keluarga Yahudi di kampung Jabal Mukabbir di timur al-Quds.
“Israel Voice” menyatakan bahwa rencana ini akan disampaikan kepada Komisi Penyelenggaran dan Pembangunan Daerah Zionis di al-Quds.
Mengutip dari pemerintah desa Zionis, pembicaraan ini seputar rencana pembangunan yang diajukan organisasi permukiman berhaluan kanan “Ilaad”. Untuk diketahui bahwa organisasi inilah yang memiliki bangunan yang berdiri di Jabal Mukabbir. Rencana pembangunan baru ini semacam unit-unit rumah tambahan.
Infopalestina.com (31/3/2016)
GAZA
Israel Perluas Area Pencarian Ikan Nelayan Gaza
Gaza - Israel memperpanjang jarak perizinan nelayan Gaza menuju laut di sepanjang wilayah tertentu di garis pantai yang dikuasai oleh kelompok Hamas pada Ahad (3/4). Zona pencarian ikan yang diperpanjang dari 6 mil laut (11 kilometer) menjadi 9 mil laut (16 kilometer) di sepanjang Gaza tengah dan pantai tenggara merupakan satu
kebijakan pihak berwenang Israel yang dianggap dapat membawa hasil penangkapan lebih besar di perairan yang lebih dalam dengan ikan yang lebih melimpah. Israel, dengan alasan keamanan termasuk kekhawatiran atas penyelundupan senjata oleh Hamas, mempertahankan blokade laut Gaza, dan zona tetap pada 6 mil laut di wilayah utara dekat perbatasan Israel.
Warga Palestina komplain atas seringnya pihak keamanan Israel mencegat dan mengamankan nelayan yang berkeliaran dari zona tersebut dengan menyita perahu dan peralatan penangkapan ikan mereka.
Ketua Ikatan Nelayan Gaza Nizar Ayyash, menyebut ekspansi tersebut tidak memadai dengan memperhatikan kesepakatan damai sementara Israel dengan Palestina di Oslo, Norwegia, yang menuntut wilayah 20 mil laut (37 kilometer) di Laut Tengah.
Hamas, yang merebut Jalur Gaza pada 2007 dari rivalnya, gerakan Fatah, dan terakhir berjuang dalam peperangan dengan Israel pada 2014, menolak persetujuan Oslo. Ayyash menyebutkan bahwa di Gaza terdapat 4.000 nelayan, rumah bagi 1,95 juta orang.
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
Gaza Banjir Ikan Segar
Gaza - Ahad (3/4/2016) sore, mulai mengarungi perairan lepas pantai mereka hinga 9 mil, setelah pihak Israel memutuskan untuk perluas wilayah kerja nelayan Gaza di laut Mediterania.
Nazar Ayesh, kepala forum nelayan Palestina di Jalur Gaza mengatakan bahwa para nelayan, mulai berlayar di perairan lepas pantai Gaza sejauh 9 mil dari yang sebelumnya hanya 6 mil. Hal tersebut merupakan pertama kalinya sejak 10 tahun terakhir akibat blokade Israel atas Gaza.
Nizar meyakini para nelayan bisa mendapatkan lebih banyak ikan buruan yang terdapat di laut mediterania dan akan mengubah arah perekonomian mereka yang seblumnya mengalami kerugian besar akibat blokade Israel atas Gaza yang telah berlangsung sejak 2007. Setelah pertempuran terakhir antara militer Israel dengan pejuang palestina tahun 2014 silam, Israel membolehkan para nelayan Gaza untuk berlayar sejauh 6 mil dari bibir pantai, dimana sebelumnya mereka hanya diperbolehkan berlayar sejauh 3 mil.
Selain pembatasan jarak memancing para nelayan, pasukan angkatan laut Israel juga kerap mengintimdasi dan menteror para nelayan Gaza dengan menembak mereka secara sporadis.
Islampos.com (6/4/2016)
TEPI BARAT
Angka Fantastis: 1899 Bocah Palestina Ditangkap Selama 6 Bulan Intifadhah al-Quds
Ramallah – Otoritas penjajah Zionis telah menangkap 1899 bocah Palestina selama intifadhah al-Quds yang meletus di wilayah Palestina sejak awal Oktober 2015 lalu. Demikian menurut siaran pers Badan Urusan Tawanan Palestina pada hari Selasa (5/4), bertepatan dengan Hari Anak Palestina. Badan Urusan Tawanan mengatakan, otoritas penjajah Zionis telah menangkap 1899 bocah Palestina selama
intifadhah al-Quds, laki-laki dan perempuan. “Ini adalah angkat yang besar, belum pernah terjadi sebelumnya. Angka ini merupakan 37% dari total warga Palestina yang ditangkap selama intifadhah al-Quds,” terangnya.
Angka anak-anak yang ditangkap naik 338% dibandingkan dengan rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya. Badan Urusan Tawanan mengatakan, otoritas penjajah Zionis masih menahan 450 bocah Palestina yang usianya antara 12-18 tahun, termasuk 16 anak putri, yang paling kecil berusia 12 tahun bernama Dima Alwawi, gadis kecil ini ditahan sejak Februari lalu.
Menurut keterangan Badan Urusan Tawanan, anak-anak Palestina yang ditahan mengalami berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikis. Kebanyakan hukuman yang dijatuhkan pada mereka disertai dengan pembayaran denda yang sangat besar. Puluhan dari mereka telah dijatuhi hukuman “tahanan rumah”.
Jumlah anak-anak Palestina dari total jumlah penduduk, berdasarkan data dari Pusat Data dan Statistik Palestina tahun 2015, sekitar 2.165.288 anak, 1.105.663 laki-laki dan 1.059.625 wanita.
Infopalestina.com, (5/4/2016)
Israel Putus Aliran Listrik ke Palestina
Al-Quds - Perusahaan listrik milik Israel memutus aliran listrik ke sebagian besar wilayah Tepi Barat, Palestina, sejak Senin (4/4). Bahkan, otoritas Israel mengultimatum akan terus melakukan pemutusan serupa dalam dua pekan mendatang.
Dalihnya, warga Palestina masih berutang hingga 460 juta dolar AS terhadap The Israel Electric Corporation. Perusahaan itu sebelumnya telah mengurangi pasokan listrik ke Bethlehem dan Jericho hingga 50 persen. “Manajemen perusahaan menekankan akan melakukan segala cara untuk menagih utang mereka (warga Palestina).
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
Kami tak mau lagi utang bertambah terus,” demikian pernyataan resmi The Israel Electric Corp, seperti dilansir Associated Press, Senin (4/4).
Seperti diketahui, otoritas Israel mengaliri listrik ke wilayah Palestina melalui sejumlah perusahaan listrik yang beroperasi di wilayah Palestina. Tahun lalu, Israel juga telah memutus aliran listrik ke sebagian besar area Tepi Barat dengan alasan yang sama: utang pelanggannya.
Pihak perusahaan listrik yang beroperasi di Palestina menganggap keputusan ini merupakan tekanan politis. “Kami telah berupaya sekuat tenaga agar tidak sampai aliran listrik putus. Tapi jelas-jelas ini (pemutusan aliran listrik) adalah kebijakan politik,” kata salah seorang direktur bagian distribusi The Jerussalem District Electricity, Hisham Omari, kepada AP, Senin (4/4).
Hisham menegaskan, akibat ulah pemutusan listrik ini, sejumlah rumah sakit di Palestina terganggu. Hal yang serupa juga terjadi di wilayah Gaza. Ditambah lagi, penjagaan ketat aparat militer Israel terhadap penduduk lokal.
Zakareya Bakr, sebagai kepala persatuan nelayan Gaza, mengungkapkan kekesalannya. Dia menilai, polisi perairan Israel telah berlaku sewenang-wenang membatasi wilayah tangkapan ikan bagi para nelayan Palestina.
Sesudah perang delapan hari dengan Hamas pada 2012 silam, otoritas Israel mengklaim batas bagi para nelayan lokal untuk beroperasi, yakni tak bisa melebihi enam mil dari bibir pantai. “Mencari ikan di perairan enam mil seperti mengail di kolam renang,” ujar Shaker Salah, nelayan Palestina.
Dari 280 perahu nelayan, ungkap Zakareya, hasil yang ditangkap hanya rata-rata 8 kilogram ikan.
Republika.co.id, (5/4/2016)
77.000 Pemukim Yahudi Berencana mendiami Kota Ramalah Palestina
Ramallah – Kelompok Hak Asasi Manusia, Yesh Din, mengungkapkan Israel memulai rencana pembangunan ilegal baru di wilayah Ma’aleh Mikhmas, Ramalah.
Menurut sebuah laporan pada hari Senin (4/4/2016), rencana pembangunan itu bertujuan untuk mengubah pemukiman Ma’aleh Mikhmas, Rimonim, Kochav Hashahar, dan Psagot di Ramallah timur menjadi pemukiman pinggiran.
Seperti dikutip PIC pada hari Selasa (5/4/2016), berdasarkan program tersebut, 77.000 pemukim Yahudi akan diboyong untuk tinggal dipinggiran kota ini sampai tahun 2040.
Islampos.com (6/4/2016)
ENTITAS ZIONIS
Netanyahu meradang Dengar Seruan Penyelidikan Pembunuhan Warga Palestina
Al-Quds - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan ini mengecam surat yang dikirim oleh beberapa senator AS yang menyerukan penyelidikan mengenai
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
pembunuhan orang Palestina. Surat tersebut dikeluarkan satu pekan setelah seorang tentara Israel direkam di video sedang menembak satu orang Palestina yang melakukan serangan di Al-Khalil (Hebron).
Orang Palestina itu tergeletak tanpa senjata di tanah dalam kondisi cedera, setelah ia ditembak dari jarak dekat. Penyerang tersebut dan satu orang lagi meninggal setelah peristiwa itu. Beberapa anggota parlemen AS mengecam dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh tentara Yahudi di tengah apa yang tampak seperti pembunuhan ekstrajudisial terhadap orang palestina yangmenyerang orang Yahudi.
“IDF (Pasukan Pertahanan Israel) dan polisi Israel tidak terlibat dalam penghukuman mati,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di pernyataan pekan ini dari kantornya, Jumat(1/4) pagi. Pernyataan tersebut adalah reaksi terhadap surat para sentor AS.
“Polisi dan tentara Israel membela diri mereka dan warga sipil tak bersalah dengan standar moral paling tinggi terhadap orang yang haus darah yang datang untuk membunuh mereka,” kata perdana menteri Israel itu. Netanyahu juga mengecam para senator AS tersebut karena menutup mata mengenai “pelanggaran hak asasi manusia orang Yahudi, yang menjadi korban serangan oleh orang Palestina”. 28 orang Yahudi telah tewas karena ditikam, ditabrak mobil dan ditembak sejak gelombang kerusuhan saat ini meletus pada Oktober.
Sementara itu tak kurang dari 190 orang Palestina menemui ajal, sebagian setelah penyerangan. Kelompok hak asasi manusia dan Pemerintah Palestina menyatakan para penyerang tersebut dibunuh di tempat sekalipun mereka tidak lagi menimbulkan ancaman terhadap keselamatan orang Yahudi. Media AS pada Rabu (30/3) melaporkan sekelompok 11 sentor AS, yang dipimpin oleh Senator Demokrat dari Vermont --Patrick Leahy-- meminta Menteri
Luar Negeri AS John Kerry menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia oleh orang Israel.
Republika.co.id, (1/4/2016)
TAWANAN
1700 Tawanan Sakit di Penjara Israel
Ramallah - Badan Urusan Tawanan Palestina menyebutkan bahwa penjajah Zionis menahan sekitar 1700 tawanan Palestina yang sedang sakit di penjara-penjara Zionis. Dalam pernyataan yang dirilis hari Sabtu (2/4), Badan Urusan Tawanan mengatakan bahwa penjajah Zionis melakukan kejahatan medis secara sistematis terhadap para tawanan Palestina yang sakit. Ditegaskan bahwa para dokter penjara Zionis tidak memberikan pengobatan yang sesuai untuk kasus-kasus tawanan yang sakit.
Badan Urusan Tawanan menjelaskan bahwa di antara kasus sakit ini terjadi pada puluhan tawanan yang memiliki kebutuhan khusus, dan banyak tawanan menderita penyakit serius dan akut, mereka ada yang terluka tembak. Pihaknya meminta masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawab terhadap para tawanan Palestina yang sakit di penjara penjajah Zionis. Pihaknya sangat mengkhawatirkan apa yang dialami para tawanan di rumah sakit penjara Zilnis di Ramleh.
Badan Urusan Tawanan menyatakan bahwa rumah sakit penjara Ramleh tidak memiliki semua perangkat kesehatan
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
dan kemanusiaan. Hanya semacam tempat yang tidak layak untuk disebut sebagai klinik berjalan. Dijelaskan bahwa penjajah Zionis masih menahan di dalam penjara 20 tawanan yang menderita sakit sangat akut.
Infopalestina.com (3/4/2016)
PENGUNGSI
Tuntut Perbaikan Pelayanan, 35 Ribu Pengungsi Palestina Ajukan Petisi PBB
Beirut – Pusat Informasi Palestina: Unit Krisis Badan Bantuan dan Pemberdayaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Libanon mengumumkan hasil kampanye tanda tangan petisi yang diajukan ke PBB yang berisi tentang tuntutan-tuntutan kemanusiaan para pengungsi Palestina di Libanon.
Wakil pejabat politik gerakan Hamas di Libanon, Ahmad Abdul Hadi, mengatakan jumlah tanda tangan mencapai 35500 tanda tangan dari berbagai kamp pengungsi dan komunitas Palestina di Libanon.
Petisi ini berisi tuntutan penyediaan layanan kesehatan, pendidikan dan disetujuinya program darurat bagi warga kamp pengungsi Nahr Barid, serta pembetian bantuan penuh kepada para pengungsi Palestina dari Suriah. Petisi ini juga berisi tuntutan kepada Sekjen PBB Ban Ki-mon untuk berusaha menjamin kebutuhan wajib bagi para pengungsi Palestina dan penyediaan dana anggaran. Unit Krisis UNRWA ini terdiri dari perwakilan pantai-pantai dan lembaga-lembaga Palestina yang mewakili para pengungsi Palestina di Libanon. Lembaga ini dibentuk setelah terjadi pemangkasan pelayanan kemanusiaan yang diberikan UNRWA untuk para pengungsi di kamp-kamp pengungsi Palestina. Lembaga ini meminta pelayanan kemanusiaan untuk para pengungsi Palestina segera ditunaikan kembali. Karena itu mereka terus menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor UNRWA untuk
menunjukkan besarnya penderitaan para pengungsi. Infopalestina.com (6/4/2016)
INTERNASIONAL
Bela Israel, AS Kutuk Pendataan PBB atas Perusahaan Yahudi di Wilayah Pendudukan
Washington - Amerika Serikat pada Rabu (30/3) mengutuk resolusi Dewan Hak Asasi PBB yang menyerukan untuk mendata perusahaan beroperasi di wilayah pendudukan di Tepi Barat. Langkah PBB tersebut menurut Israel merupakan kampanye hitam.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby mengkritik seruan itu pada pertemuan harian dengan wartawan.
“Kami terus menentang dengan tegas agenda mengenai item dan setiap resolusi terkait itu,” ujar Kirby yang menuduh PBB bias dalam melawan Israel.
Kirby menambahkan, pendataan perusahaan yang beroperasi di Tepi Barat merupakan langkah yang belum pernah dilakukan PBB. Hal itu menurutnya melampaui kewenangan dewan.
Tapi Kirby juga mengulangi pandangan AS mengenai penolakan pembangunan permukiman ilegal lebih lanjut oleh Israel. Pembangunan itu dapat mengancam perdamaian dengan Palestina.
Palestina
Pekan
Berita Utama Al-Quds Gaza Tepi Barat Zionis Tawanan Pengungsi Internasional
Penanggung Jawab: Dr. H. Saiful Bahri, MA. (Ketua ASPAC for Palestine). Pemimpin Umum: Agus Purwanto. Pemimpin Redaksi: Muhammad
Syarief. Keuangan: Maulany. Redaksi: Ahmad Yani, Salman Alfarisy, Dina Fitria. Bagian Sirkulasi & Distribusi: Iskandar Samaullah, Djoko.
Design dan Tata Letak: Ardy. Donasi: Rekening Bank Syariah Mandiri Cab. Saharjo 704 575 2121 atas nama ASPAC FOR PALESTINE.
AS saat ini bukan merupakan anggota Dewan Hak Asasi PBB sehingga tak bisa ikut menyumbang suara. Ada 47 negara anggota yang telah dipilih untuk masa jabatan tiga tahun oleh Sidang Umum PBB.
Sebelumya Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengeluarkan resolusi yang diprakarsai oleh Palestina. Resolusi itu mewajibkan PBB menyusun daftar semua perusahaan Israel maupun internasional yang beroperasi secara langsung atau tidak di wilayah pendudukan seperti Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan.
Resolusi disahkan pada Kamis (24/3) malam di Jenewa. Resolusi didukung oleh 32 negara, 15 abstain, dan tak ada satu pun negara yang menentangnya. Pada Kamis sore, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menelepon Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Langkah tersebut dilakukan dalam upaya memblokir resolusi atau setidaknya melunakkan resolusi.