• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI AL - GHAZALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II BIOGRAFI AL - GHAZALI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

BIOGRAFI AL - GHAZALI

A. Riwayat Hidup al-Ghazali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta'us Ath-Thusi as-Syafi'i al-Ghazali. Secara singkat dipanggil al-Ghazali atau Abu Hamid al-Ghazali.1 Dan mendapat gelar imam besar Abu Hamid al-Ghazali Hujatul Islam.2

Namanya kadang diucapkan Ghazzali (dua z), artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah beliau adalah tukang pintal benang wol. Sedang yang lazim ialah Ghazali (satu z), diambil dari kata Ghazalah nama kampung kelahirannya.3

Beliau lahir di Thus, Khurasan, Iran,4 dekat Masyhad sekarang, pada tahun 450 H/1058 M. Beliau dan saudaranya, Ahmad, ditinggal yatim pada usia dini. Pendidikannya dimulai di Thus. Lalu, al-Ghazali pergi ke Jurjan. Dan sesudah satu periode lebih lanjut di Thus, beliau ke Naisabur, tempat beliau menjadi murid al-Juwaini Imam al-Haramain hingga meninggalnya yang terakhir pada tahun 478 H/1085 M. Beberapa guru lain juga disebutkan, tapi kebanyakan tidak jelas. Yang terkenal adalah Abu Ali al-Farmadhi.5

Al-Ghazali adalah ahli pikir ulung Islam yang menyandang gelar "Pembela Islam" (Hujjatul Islam), "Hiasan Agama" (Zainuddin), "Samudra yang Menghanyutkan" (Bahrun Mughriq), dan lain-lain.6 Riwayat hidup dan pendapat-pendapat beliau telah banyak diungkap dan dikaji oleh para

pengarang baik dalam bahasa Arab, bahasa Inggris maupun bahasa dunia

1 M. Sholihin, Epistimologi Ilmu Dalam Sudut Pandang al-Ghazali, (Bandung : Pustaka

Setia, 2001), Cet. 1., hlm. 20.

2 Zainuddin, dkk., Seluk Beluk Pendidikan Dari al-Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara,

1991), hlm. 7.

3 Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka

Pelajar, 1998), Cet. 1., hlm. 9.

4 Imam Ghazali Sa'id, Silsilat Al-Muallifat al-Ghazali (2) Matnu Bidayat Al-Hidayat fi

At-Tawassuth Bainal Fiqh wa Tasawuf lil Imam Hujjatul Islam Abi Hamid al-Ghazali, (Surabaya :

Diyantara, T. Th.), hlm. ن

5 M. Amin Abdullah, The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Immanuel

Kant, (Turkiye Diyanet Vakfi : Ankara, 1992), hlm. 9-10.

(2)

lainnya, termasuk bahasa Indonesia. Hal itu sudah selayaknya bagi para pemikir generasi sesudahnya dapat mengkaji hasil pemikiran orang-orang terdahulu sehingga dapat ditemukan dan dikembangkan pemikiran-pemikiran baru.7

Dalam pengantar Ihya' Ulumuddin disebutkan bahwa :

ْﺪَﻗَو

َﺐَﺠْﻧأ

ُنْﺮَﻘﻟْا

ُﺲِﻣﺎَﺨﻟْا

ﱡيِﺮْﺠِﻬﻟْا

ﺎًﻤْﻠِﻋ

ْﻦِﻣ

ِمَﻼْﻋأ

ﱢﻰِﻣَﻼْﺳﻹْاِﺮْﻜِﻔﻟْا

,

َﻮُه

ُﺔﱠﺠُﺣ

ِمَﻼْﺳﻹْا

ْﻮُﺑأ

ْﺪِﻣﺎَﺣ

ُﺪﱠﻤَﺤُﻣ

ُﻦْﺑ

ُﺪﱠﻤَﺤُﻣ

ُﻦْﺑا

ﱠﻤَﺤُﻣ

ْﺪ

ﻰِﻟاَﺰَﻐﻟا

.

8

"Pada abad ke 5 H lahirlah beberapa ilmu dari pemikir Islam, yaitu Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali."

Sebelum meninggal ayah al-Ghazali berwasiat kepada seorang ahli tasawuf temannya, supaya mengasuh dan mendidik al-Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah ayahnya meninggal, maka hiduplah al-Ghazali di bawah asuhan ahli tasawuf itu.9

Harta pusaka yang diterimanya sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu (wol), disamping itu, selalu mengunjungi rumah para alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar uraian para ulama itu maka ayah al-Ghazali menangis tersedu-sedu seraya memohon kepada Allah SWT kiranya beliau dianugerahi seorang putra yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya al-Ghazali mempelajari ilmu Fiqh di negerinya sendiri pada Syeh Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Kemudian pergi ke negeri Jurjan dan belajar pada Imam Ali Nasar al-Ismaili.

Setelah mempelajari beberapa ilmu di negeri tersebut, berangkatlah al-Ghazali ke negeri Nisapur dan belajar pada Imam al-Haramain. Disanalah

7 Ibid., hlm. 1.

8 Badawi Thaba'i, Ihya 'Ulumuddin Lil Imam al-Ghazali ma'a Muqaddimah fi al-Tasawuf

al-Islamiyyi wa Dirasati Tahlilihi Lisyahsiyati al-Ghazali wa falasifatihi fi al-Ihya, Juz I, (T.T :

Dar Ihya' al-Kutub al-Arabiyah, T.Th.), hlm. 7.

(3)

mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu, seperti ilmu Mantik (logika), Filsafat dan Fiqh Mazhab Syafi'i.10

Setelah Imam Haramain wafat, lalu Ghazali berangkat ke al-Askar mengunjungi menteri Nizamul Mulk dari pemerintahan Dinasti Saljuk. Beliau disambut dengan kehormatan sebagai seorang ulama besar. Kemudian dipertemukan dengan para alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan. Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian al-Ghazali.11

Pada tahun 484 H/1091 M, beliau diutus oleh Nizamul Mulk untuk menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyah, yang didirikan di Baghdad. Beliau menjadi salah satu orang yang terkenal di Baghdad, dan selama empat tahun beliau memberi kuliah kepada lebih dari 300 mahasiswa. Pada saat yang sama, beliau menekuni kajian Filsafat dengan penuh semangat lewat bacaan pribadi dan menulis sejumlah buku.12

Atas prestasinya yang kian meningkat, pada usia 34 tahun beliau diangkat menjadi pimpinan (rektor) Universitas Nizhamiyah. Selama menjadi rektor, beliau banyak menulis buku yang meliputi beberapa bidang Fiqh, Ilmu Kalam dan buku-buku sanggahan terhadap aliran-aliran Kebatinan, Ismailiyah dan Filsafat.13

Al-Ghazali telah mengarang sejumlah besar kitab pada waktu

mengajar di Baghdad, seperti Al-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz dan Al-Khalasah

Fi Ilmil Fiqh. Seperti juga kitab-kitab Munqil Fi Ilmil Jadl, Ma'khudz Al-Khilaf, Lubab Al-Nadhar, Tahsin Al-Maakhidz dan Mabadi' Wal Ghāyat Fi Fannil Khilaf. Sekalipun mengarang beliau tidak lupa berpikir dan meneliti

hal-hal dibalik hakikat. Beliau tidak ragu-ragu mengikuti ulama yang benar, yang tidak seorangpun berpikir mengenai kekokohan kesahannya atau untuk meneliti sumber pengambilannya. Pada waktu itu beliau juga mempelajari

10 Ibid. 11 Ibid

12 M. Amin Abdullah, Antara al-Ghazali dan Kant : Filsafat Etika Islam, (Terj). Hamzah,

(Bandung : Mizan, 2002), Cet. I, hlm. 29.

(4)

ilmu-ilmu yang lain.14 Hanya 4 tahun al-Ghazali menjadi rektor di Universitas Nizhamiyah. Setelah itu beliau mulai mengalami krisis rohani, krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma'rifat. Secara diam-diam beliau meninggalkan Baghdad menuju Syam, agar tidak ada yang menghalangi kepergiannya baik dari penguasa (khalifah) maupun sahabat dosen seuniversitasnya. Al-Ghazali berdalih akan pergi ke Makkah untuk

melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, amanlah dari tuduhan bahwa kepergiannya untuk mencari pangkat yang lebih tinggi di Syam. Pekerjaan mengajar ditinggalkan dan mulailah beliau hidup jauh dari lingkungan manusia, zuhud yang beliau tempuh.15

Pada tahun 488 H, beliau mengisolasi diri di Makkah lalu ke Damaskus untuk beribadah dan menjalani kehidupan sufi.16 Beliau

menghabiskan waktunya untuk khalwat, ibadah dan i'tikaf di sebuah masjid di Damaskus. Berzikir sepanjang hari di menara. Untuk melanjutkan taqarubnya kepada Allah SWT beliau pindah ke Baitul Maqdis. Dari sinilah beliau tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah SWT untuk menjalankan ibadah haji. Dengan segera beliau pergi ke Makkah, Madinah dan setelah ziarah ke makam Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim A.S., ditinggalkanlah kedua kota tersebut dan menuju ke Hijaz.17

Dari Bait Al-Haram, al-Ghazali menuju ke Damsyik. Al-Maqrizi, dalam Al-Muqaffa, mengatakan :

Ketika di Damsyik, al-Ghazali beri'tikad di sudut menara masjid Al-Umawi dengan memakai baju jelek. Di sini beliau mengurangi makan, minum, pergaulan dan mulai menyusun kitab Ihya' Ulumuddin. Al-Ghazali putar-putar untuk berziarah ke makam-makam para syuhada' dan masjid-masjid. Beliau mengolah diri untuk selalu bermujahadah dan

14 ………, Al-Ghazali dan Plato, (Surabaya : Bina Ilmu, 1986), Cet. I., hlm. 7. 15 Abidin Ibnu Rusn, Op. Cit., hlm. 12.

16 Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta : Gema Insani Press, 1998), Cet. I, hlm.

34.

(5)

menundukkannya untuk selalu beribadah hingga kesukaran-kesukaran yang dihadapinya menjadi persoalan biasa dan mudah.18

Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan berpuluh-puluh tahun dan setelah memperoleh kebenaran yang hakiki pada akhir hidupnya, beliau meninggalkan dunia di Thus pada 14 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111 M, dihadapan adiknya, Abu Ahmadi Mujidduddin. Beliau meninggalkan tiga orang anak perempuan sedang anak laki-lakinya yang bernama Hamid telah meninggal dunia semenjak kecil sebelum wafatnya (al-Ghazali), karena itulah beliau diberi gelar "Abu Hamid" (Bapak si Hamid).19

B. Karya-Karya Al-Ghazali

Al-Ghazali meninggalkan banyak tulisan. Karya-karya tulis yang ditinggalkan beliau menunjukkan keistimewaannya sebagai seorang pengarang yang produktif. Pada seluruh masa hidupnya, baik sebagai

penasehat kerajaan maupun sebagai guru besar di Baghdad dan sewaktu mulai dalam masa skeptis20 di Naisabur maupun setelah berada dalam keyakinan yang mantap, beliau tetap aktif mengarang.21

Al-Ghazali mulai mengarang saat berusia 20 tahun, ketika itu beliau masih berguru kepada Imam al-Haramain al-Juwaini di Naisabur. Jika beliau meninggal dalam usia 55 tahun sesuai dengan kalender hijriyah, berarti beliau mengarang buku-bukunya selama 35 tahun. Jumlah bukunya mencapai 380 buah, baik yang kecil sampai yang besar seperti Ihya' Ulumuddin.22

Beliau melakukan perjalanan selama 10 hingga 11 tahun dan menghabiskan waktunya untuk membaca, menulis dan mengajar. Selain itu,

18 Thaha Abdul Baqi Surur, Imam Al-Ghazali Hujjatul Islam, (T.T : Pustaka Mantiq, T.

Th.), 54 – 55.

19 Zainuddin, dkk., Op. Cit., hlm. 10.

20 Al-Ghazali memulai mengarang sebagai seorang yang skeptis. Sikap skeptisnya itulah

yang mendorongnya untuk mencari dan mencari ilmu, serta dengan ilmu beliau melakukan petualangan dari keraguan menuju keyakinan sebagaimana dilakukan banyak ilmuwan dari timur maupun barat. Lihat Abdul Ghani Abud, "Wahai Ananda" Wasiat al-Ghazali atas Pengaduan

Seorang Muridnya, (Terj). Gazi Saloom, dari kitab asli Al-Fikr Al-Tarbawi 'Inda Al-Ghazali

Kama Yabdu Min Risalatihi Ayyuhal Walad, (Jakarta : Iiman, 2003), Cet. I., hlm. 43.

21 M. Sholihin, Op. Cit., hlm. 22. 22 Abdul Ghani Abud, Op. Cit., hlm. 42.

(6)

beliau harus menjawab sekitar 2000 pucuk surat yang berasal dari dekat dan jauh untuk meminta fatwa dan putusannya.23

Dr. Abd ar-Rahman badawi mencatat, bahwa karya (kitab) yang telah dikarang oleh sang Hujjah al-Islam al-Ghazali mencapai, setidaknya 457 buah dan berisi kajian dengan ragam pendekatan baik ringan maupun tajam, mendalam atas berbagai tema (topik) yang penting.24

Hamid Dabasyi (1999) menyebut al-Ghazali sebagai manusia yang pertama kali menguasai dan melampaui seluruh diskursus dominant yang otoritatif di zamannya; dari teologi sampai yurisprudensi, filsafat, mistisisme bahkan sampai teori politik, al-Ghazali menguasai hal terbaik dalam sejarah intelektual, melampaui semua yang lain, dan mencapai prestasi yang paling tinggi dalam sejarah intelektual Islam. Teks-teks akhir al-Ghazali dihasilkan setelah melakukan perjalanan soliter menuju ranah kesadaran diri yang sempurna, diantaranya al-Munqidz min ad-Dzalal, Ihya 'Ulumuddin, ataupun

Kimiya as-Sa'adah.25

Adapun kitab-kitab beliau meliputi Filsafat dan Ilmu Kalam, Fiqh,

Ushul Fiqh, Tafsir, Tasawuf dan Akhlak. Adapun kelompok Filsafat dan Ilmu Kalam meliputi :

1. Maqdshid Al-Falasifah 2. Tahafut Al-Falasifah 3. Al-Iqtishad fi Al-I'tiqad 4. Al-Munqidz min Adz-Dzalal

5. Maqashid Asna fi Ma'ani Asma Al-Husna 6. Faishal At-Tafriqat

7. Qisthas Al-Mustaqim 8. Al-Mustazhiri

9. Hujjat Al-Haqq

10. Munfashil Al-Khilaf fi Ushul Ad-Din 11. Al-Muntahal fi 'Ilm Al-Jadal

12. Al-Madhnun bin Al-Ghair Ahlihi 13. Mahkun Nadhar

14. Ara 'Ilm Ad-Din

23 Imam al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin, (Terj). Purwanto, dari Judul Asli Imam Ghazzali's

Ihya Ulum-id-din, (Bandung : Marja', 2003), Cet. I., hlm. 14 – 15.

24 Kamran As'ad Irsyady, Al-Ghazali Menggapai Hidayah, (Yogyakarta : Pustaka Sufi,

2003), hlm. xiii.

(7)

15. 'Arba'in fi Ushul Ad-Din

16. Iljam Al-'Awam 'An 'Ilm Al-Kalam 17. Mi'yar Al-'Ilm

18. Al-Intishar 19. Isbat An-Nadhar

Kelompok Fiqh dan Ushul Fiqh, meliputi :

20. Al-Basith 21. Al-Wasith 22. Al-Wajiz 23. Al-Khulashah Al-Mukhtashar 24. Al-Mustasyid 25. Al-Mankhul

26. Syifakh Al-'Alil fi Qiyas wa Ta'lil 27. Adz-Dzari'ah Ila Makdrim Asy-Syari'ah

Kelompok Tafsir, meliputi :

28. Yaqut At-Ta'wil fi Tafsir At-Tanzil 29. Jawahir Al-Qur'an

Kelompok Ilmu Tasawuf dan Akhlak, meliputi :

30. Ihya 'Ulum Ad-Din 31. Mizan Al-'Amal 32. Kimiya Sa'adah 33. Misykat Al-Anwar 34. Mukasyafah Al-Qulub 35. Minhaj Al-'Abidin

36. Al-Dar Al-Fakhirat fi Kasyfi 'Ulum Al-Akhirat 37. Al-'Ainis fi Al-Wahdat

38. Al-Qurbat Ila Allah 'Azza Wajalla 39. Akhlaq Al-Abrar wa Najat min Asrar 40. Bidayat Al-Hidayah 41. Al-Mabadi wa Al-Ghayah 42. Nashihat Al-Mulk 43. Tablis Al-Iblis 44. Al-Risalah Al-Qudsiyah 45. Al-Ma'khadz 46. Al-Amali 47. Al-Ma'arij Al-Quds 48. Risalah Al-Laduniyyah26

(8)

Adapun dalam bukunya Ghazali yang berjudul misykaat

al-Anwaar wa misshfaat al-Asraar disebutkan beberapa karangan al-Ghazali,

adalah sebagai berikut :

1. Al-Basiith 2. Al-Wasiith 3. Al-Wajiiz 4. Al-Khalaashah 5. Ihya' Ulumuddin 6. Al-Mustashfa

7. Al-Mankhuulu fi Ushuul al-Fiqh 8. Al-lubaab 9. Bidayat Al-Hidayah 10. Minhaj Al-'Aabidin 11. Kitab al-Firdaus 12. Kimiya' as-Sa'adah 13. Al-Ma-aakhidz 14. Al-Tahshiin 15. Al-Iqtishad fi Al-I'tiqad 16. Iljamu Al-Awwam 17. Kitab Al-Mustadhary

18. Al-Raddu 'ala Ibni syariikh fi Mas'alati Al-Thalaq 19. Al-Fataawa

20. Al-Raddu 'ala Al-Batiniyyah 21. Maqaasid al-Falaasifah 22. Tahaafut Al-Falaasifah 23. Jawaahir Al-Qur'an 24. Al-Ghaayat Al-Quswa 25. Fadhaaikhu al-imamiyyah

26. Gauru Al-Dauur, Hadza Hua Al-Raddu 'ala Ibni syariikh 27. Makhak Al-Nadhar 28. Mi'yaar Al-Ilmi 29. Mizan Al-Amal 30. Al-Siraat Al-Mustaqim 31. Madaarik Al-Uquul 32. Syifaa Al-'Aliil 33. Asaas Al-Qiyas

34. Kitab fi Mas'alat Kulli Mujtahid Mushiib 35. Haqiiqat Al-Qur'an

36. Walmuntakhil fi Al-Jadal 37. Syarkhu Asma Allah Al-Husna 38. Misykaat al-Anwar

39. Al-Munqid Min Adz-Dzalal 40. Kitab Al-Arba'in

41. Kitab Asraru Al-Mu'aamalatiddin 42. Kitab Badaai' Shun'illah

(9)

43. Kitab Maraaqy Al-Zulaf

44. Kitab Al-Mubiin 'an Daqaaiqi Ulumuddin 45. Kitab Al-Tauhid

46. Kitab Al-Nawaadir

47. Kitab Khoshooish Al-Muqarrabin

48. Kitab Al-Kunuz wa Al-'Iddah wa Al-Aniis fi Al-Waahidah 49. Kitab Akhlaq Al-Abraar

50. Kitab Al-Tafarraqat Baina Al-Imaan wa Al-Zindiiqat 51. Kitab Qaanuun Al-Rasul Sallallahu Alaihi Wasallam 52. Kitab Al-Qurubat ila Allah

53. Kitab Al-Nushukh fi Al-Mawaa'idh 54. Kitab Talbiis Ibliis

55. Kitab Sirrul 'Alamin wa Kasyfu maa fi Ad-Darain 56. Kitab Al-Mi'raaj

57. Kitab Nashaaikh Al-Salaathiin 58. Kitab Khuli Al-Auliyaa'

59. Kitab Qaanun Al-Ta'wiil 60. Kitab Mantiq Al-Thoiir

61. Kitab Al-Wasaail Ila Ilmi Al-Wasaail 62. Kitab Al-Imlaa'

63. Kitab Hujjat Al-Haqq fi Taujiih Al-As-ilah 'ala al-A-Immah 64. Kitab Tanbiih Al-Ghafiliin

65. Kitab Asraru Al-Anwari Al-Ilahiyah 66. Kitab Al-Isyraaf 'ala Mathali'i al-Inshaf 67. Kitab Al-Masaail Al-Baghdadiyyah 68. Kitab Ma-aakhidz Al-Adillah 69. Kitab Libab Al-Nadhar 70. Kitab Masaail Al-Khilaaf 71. Kitab Al-Mustarsyidy

72. Kitab Al-Mabaadi' wa Al-Ghaayaat 73. Kitab Qawaashim Al-Baathiniyyah 74. Kitab Ta'liq Al-Ushul

75. Kitab Maqashid Al-Akhlaq

76. Kitab Nihaayat Al-Wushul fi Masaail Al-Ushul 77. Kitab Ifkham Ahl Al-Bid'i

78. Kitab Tahdzib Al-Ushul

79. Kitab Al-Jadaawa Al-Marquumah 80. Kitab Al-Ujuubati

81. Kitab Al-Ta'liq Al-Kabiir 82. Kitab Al-Mufradaat

83. Kitab fi Qatli Al-Muslim Bi Al-Dzimmi 84. Kitab Al-Ihtishaar

85. Kitab Al-Ma-Aakhid (Wahua Al-Ghaayat Al-Qushwa fi Al-Bahtsi) 86. Kitab Al-Nafkhi wa At-Taswiyah

87. Kitab Kasyfi Ulum Al-Akhirat 88. Kitab Al-Fataawa fi Al-Madzaahib

(10)

89. Kitab Khazaain Al-Diin fi Asraar Al-Alamin 90. Kitab Maraasim Al-Islam

91. Kitab Al-Ujuubati Al- Musaktati 92. Kitab Qaanun Al-Ta'wil

93. Risaalat fi Al-Mantiq 94. Al-Risaalat Al-Laduniyyah 95. Aalat Al-Ma'aarif Al-Aqliyyah 96. Wasaail Al-Haajaat

97. Al-Inshaf fi Masaail Al-Khalaf 98. Kitab Al-ta'liiq

99. Kitab Libaab Ihya' Ulumuddin 100. Khalashat Al-Mukhtashar

101. Wajawab 'An Masaaili Mutafarriqat.27

C. Diskripsi Kitab Bidayat Al-Hidayah 1. Latar Belakang Pemikiran Al-Ghazali

Membicarakan pemikiran seorang tokoh senantiasa harus dihubungkan dengan keadaan yang mengelilinginya, sebab al-Ghazali adalah bagian dari sejarah pemikiran Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, situasi dan kondisi yang berkembang ikut menentukan perkembangan arah pemikirannya.

Dari pemikiran yang dituangkan al-Ghazali, orang semakin mengakui bahwa al-Ghazali adalah seorang figur pemikir muslim yang selalu menarik untuk dibicarakan. Banyak karyanya yang diteliti dan dijadikan bahan kajian oleh kalangan muslim maupun non muslim.

Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir yang teliti. Hal itu dapat disaksikan pada keterangan mengenai dirinya dalam bagian pengantar dari Munqidz Min Adz-Dzalal, sebagai berikut :

"Sejak masa mudaku, sejak aku menginjak masa baligh sebelum usia 20 tahun hingga kini dalam usiaku 50 tahun, senantiasa aku

mengarungi gelombang lautan ma'rifat yang maha dalam, aku

mengarunginya sedalam-dalamnya tanpa mengenal lelah, semua kegelapan aku tembus, segala kerumitan aku hadapi dan aku senantiasa menyelidiki

27 Imam Al-Ghazali, Misykat Al-Anwar Wa Mishfat Al-Asraar, (Beirut : Al-mazra'at

(11)

benar-benar setiap akidah dan setiap golongan, aku berusaha sekerasnya untuk mengungkapkan semua rahasia mazhab pada setiap golongan agar dapat kubedakan mana yang benar dan mana yang palsu, mana yang mengikuti sunnah dan mana yang tidak mengikuti sunnah (bid'ah)."

Dan al-Ghazali mengatakan bahwa :

"Tidak aku tinggalkan seorang ahli kebatinan kecuali setelah aku mengetahui tentang kebatinannya."

"Tidak seorangpun ahli dhahir kecuali setelah aku mengetahui kedhahirannya."

"Tidak seorang ahli filsafatpun sebelum aku memahami maksud dari filsafatnya."

"Tidak seorang ahli theologipun kecuali aku berusaha sekerasnya untuk kupelajari ilmu theologinya dan cara berdebatnya sampai sedalam-dalamnya."

"Tidak seorang sufipun kecuali aku selidiki segala rahasia yang ada pada tasawufnya."

"Tidak seorang ahli ibadahpun kecuali harus kucari hasil yang diperoleh dari ibadahnya itu."

"Tidak seorang zindiq (seorang kafir yang pura-pura beriman) pun kecuali setelah aku selidiki dirinya agar aku waspada terhadap sebab-sebab penyelewengan dan kezindiqkannya."28

Atas dasar yang dikatakannya itu, kemudian al-Ghazali diserang keraguan yang tajam atas seluruh pengetahuan yang ada selama ini di dalam diri beliau. Keraguan tersebut bersifat menyeluruh dan umum selama dua bulan. Akan tetapi, keraguan itu akhirnya sirna, tentunya hal itu bukan karena membuat dalil atau pembicaraan, tetapi karena Nur Ilahi yang dipancarkan Allah dalam hatinya.29

Banyak penguasa dan kepala suku datang kepada Imam al-Ghazali untuk mendapatkan fatwa dalam perkara theologi dan soal mengurus negara. Ratusan ulama, pejabat kekhalifahan dan bangsawan yang berkuasa menghadiri perkuliahan beliau yang disampaikan dengan penuh pemikiran, argumen dan alasan. Kebanyakan bahan perkuliahan

28 Imam Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad

al-Ghazali, Munqidz Min Adz-Dzalal, (Beirut, Libanon : Al-Maktabah al-Su'baniyyah, T.Th.), hlm. 24 – 25.

29 Abdul Halim Mahmud, Hal Ihwal Tasawuf Analisa Tentang Al-Munqidz Min

(12)

dicatat oleh Sayyid bin Faris dan Ibn Lubban, keduanya mencatat kira-kira 183 bahan perkuliahan yang lalu dikumpulkan dalam satu kitab yang bernama Majalis-i Ghazzaliyah.30

Pikiran imam besar ini kemudian berpaling kepada usaha untuk meraih ketinggian spiritual. Keadaan dan alasan yang menuntun

pikirannya berpaling kepada usaha tersebut ditulis dalam bukunya

Munqidz Min Adz-Dzalal (lepas dari kesesatan). Beliau adalah pengikut

imam Syafi'i dalam usia mudanya, tetapi di Baghdad beliau bergaul dengan banyak orang dari berbagai mazhab Fiqh, pemikiran, dan gagasan : Syi'i, Sunni, Zindiqi, Majusi, Theolog Skolastik, Kristen, Yahudi, Atheis, penyembah api dan penyembah berhala. Mereka sering bertemu dan adu arumentasi dan berdebat. Ini berpengaruh pada pikiran beliau, sehingga seluruh kehidupannya berubah total dan beliau mulai mencari kebenaran dengan penalaran yang bebas. Gagasan lamanya surut dan beliau mulai hidup dalam keraguan dan kegelisahan. Dan beliau cenderung pada sufisme. Diilhami oleh gagasan tersebut, beliau meninggalkan kedudukan terpandangnya di Baghdad, mengenakan pakaian sufi dan menyelinap meninggalkan Baghdad di suatu malam pada tahun 488 H.31

Beliau pergi ke Damaskus, lalu mengasingkan diri dalam sebuah kamar masjid dan dengan penuh kesungguhan melakukan ibadah, tafakur dan zikir. Disini beliau menghabiskan waktu selama dua tahun dalam kesendirian dan kesunyian.32

Masa hidup al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran ditengah-tengah masyarakat Islam. Aliran-aliran itu berpijak dari beraneka ragam permasalahan yang tumbuh ditengah-tengah

majemuknya pemeluk agama Islam. Diantaranya adalah berkembangnya faham rasionalis di kalangan theolog sebagai akibat dimulainya

penterjemahan buku-buku asing (Yunani) dan sebagai dampaknya yang sangat menonjol adalah lahir golongan filosof yang bendera filsafatnya

30 Imam al-Ghazali, Op. Cit., hlm. 12 – 13. 31 Ibid, hlm. 13.

(13)

cenderung mengembangkan teori-teori Plato, Aristoteles dan Neo Platonisme. Dan disisi lain berkembang pula aliran Bathiniyah.33

Ketiga aliran tersebut (Theolog, Filsafat dan Bathiniyah) pada masa al-Ghazali lahir masih sangat dominan, sehingga al-Ghazali sebagai pribadi yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan cenderung

mempelajari ketiga aliran tersebut dengan seluruh ajaran-ajarannya.34 Penguasaannya terhadap ketiga aliran tersebut menyebabkan al-Ghazali ahli di bidang itu dengan memunculkan karya-karyanya pada setiap bidang tentang faham itu yang bersifat kritik dan ventikatif developmental. Finalisasi dari evolusi pemikirannya muncullah

skeptisisme dalam dirinya sebagai dampak penelitiannya terhadap hakekat yang diajarkan oleh ketiga aliran itu. Secara jelas, al-Ghazali menjelaskan dalam karyanya "Al-Munqidz Min Adz-Dzalal" (pembebasan dari

kesesatan).35

Demikianlah hhal yang melatarbelakangi pemikiran al-Ghazali, yang pada akhirnya beliau dengan cermat melakukan suatu

"Sintetik Islami" terhadap aliran-aliran yang muncul pada masanya.

Sehingga beliau mampu tampil dengan teori-teorinya sendiri tentang kebenaran yang selalu dikaitkannya pada ajaran Islam. Puncak

pemikirannya adalah lahirnya karya terbesarnya yakni "Ihya 'Ulumuddin" sebagai suatu upaya besar dalam rangka kritik terhadap aliran-aliran itu adalah "karena terdorong oleh gejala berkecamuknya pikiran bebas waktu itu yang banyak membuat orang meninggalkan ibadah."

Jadi, pemikiran al-Ghazali muncul sebagai usaha untuk mengembangkan aliran-aliran kepangkalnya dengan pemahaman ilmu islami.36

33 M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut al-Ghazali Suatu Tinjauan Psikologik

Pedagogik, (T.T. : Ilmu Jaya, 1991), Cet. I., hlm. 25 – 27.

34 Ibid, hlm. 27. 35 Ibid.

(14)

2. Gambaran Kitab Bidayat Al-Hidayah

Salah satu karya al-Ghazali adalah Bidayat Al-Hidayah yang merupakan sumber primer dan kajian utama dari penelitian ini, yang secara umum akan digambarkan tentang isi kitab Bidayat Al-Hidayah dengan tanpa mengurangi isi yang terkandung didalamnya.

Kitab Bidayat Al-Hidayah ini merupakan kitab yang

mempunyai karakteristik tersendiri. Yang merupakan kitab pengantar ilmu tasawuf berupa bimbingan permulaan sebagai jembatan mentaati

hubungan antara manusia dengan Allah SWT dengan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah SWT. Dan juga membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan sebagai jembatan hubungan dan pergaulan antara sesama manusia.. Dan hal ini adalah sesuatu yang sangat penting dan harus diketahui oleh manusia dalam menjalankan hidupnya di masyarakat.

Latar belakang dari ditulisnya kitab Bidayat Al-Hidayah ini adalah berawal dari Hadits Nabi :

اﺪﻌﺑ ﻻإ ﷲا ﻦﻣ ددﺰﻳ ﻢﻟ ىﺪه ددﺰﻳ ﻢﻟو ﺎﻤﻠﻋ دادزا ﻦﻣ

"Siapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayah (bagi)-nya, maka ia (sebenarnya) tidak mendapat apa-apa dari Allah kecuali kejauhan."

Dalam menafsirkan hadits ini, al-Ghazali menjelaskan, bahwa hidayah adalah buah (efek) ilmu. Orang yang tidak berilmu, tidak tekun menuntut pengetahuan, jangan harap bisa menggapai hidayah Tuhan. Namun, demikian al-Ghazali, hidayah ada awal dan akhirnya, ada (aspek) lahir dan batinnya. Seseorang tidak akan bisa mencapai hidayah final kecuali setelah mengetahui hikmah pada permulaan (awal)-nya. Mustahil, seseorang akan menggapai aspek batin hidayah sebelum merasakan aspek lahirnya.37

(15)

Tajuk asal kitab ini adalah Bidayat Al-Hidayah, menjelaskan secara detail, apa dan bagaimana fase-fase, tahapan-tahapan baik lahir maupun batin, yang harus ditempuh hamba demi mengapai hidayah Sang Khalik. Ini merupakan karya utama al-Ghazali yang merefleksikan pemikiran fiqh – sufistiknya. Benar-benar karya yang menarik, karena akan membawa kita kepada pengetahuan tentang berbagai makna dan filosofi yang terkandung dibalik ritus keseharian yang kita amalkan sebagai Muslim yang taat (saleh).

Kitab Bidayat Al-Hidayah ini tergolong kitab yang berisi tentang ilmu fiqh dan ilmu tasawuf yang ditulis oleh al-Ghazali pada sekiktar abad ke -5 H. yang di dalamnya terbagi menjadi tiga dimensi, yaitu : pertama; dimensi tata krama menjalankan ketaatan, kedua; dimensi tata krama dalam menjalankan kemaksiatan, ketiga; dimensi tata krama dalam pergaulan dengan manusia. Ini adalah penjelasan umum yang mencakup tata krama interaksi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta sekaligus dengan makhluk (manusia).

Sehingga kitab ini diharapkan dapat dijadikan pegangan bagi manusia dalam beretika, bergaul dan berhubungan, baik dengan Allah dan sesama makhluk. Adapun kitab Bidayat Al-Hidayah ini disusun dalam dua bagian, yang masing-masing bagian tersusun oleh beberapa bab, sebagai berikut :

Bagian Pertama : Al-Qismu Al-Awwal Al-Tha'at

Bab 1 : Fasal fi Adab Al-Istiiqadh min An-Naum

Bab 2 : Adab Dukhul Al-Khala'

Bab 3 : Adab Wudlu

Bab 4 : Adab Al-Guslu

Bab 5 : Adab At-Tayammum

Bab 6 : Adab Al-Khuruj Ila Al-Masjid

Bab 7 : Adab Dukhul Al-MAsjid

Bab 8 : Adab Mā Ba'du Tulu' Al-Syamsi Ila Al-Zawal Bab 9 : Adab Al-Isti'dad Lisāiti Al-Shalawat

(16)

Bab 10 : Adab Al-Naum

Bab 11 : Adab Al-Shalat

Bab 12 : Adab Al-Imāmah wal Qudwah

Bab 13 : Adab Al-Jum'at

Bab 14 : Adab Al-Shiyam

Bagian Kedua : Al-Qismu Al-Tsani Al-Qaulu wi Ijtinābi Al-Ma'āshi Bab 15 : Al-Qaulu fi Ma'āshi Al-Qalbi

Bab 16 :Al-Qaulu fi Adābi Al-Shuhbah wa Al-Mu'āsyarah Ma'a Al-Khāliq Subhanahu wa Ta'ala wa Ma'a Al-Khuluq.

Referensi

Dokumen terkait

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 18 ayat (1) huruf b terdapat pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti

Untuk itu penulis mengemukakan bahwa langkah keempat dalam ringi seido — yakni sesuai dengan pernyataan Fukuda (2010: 43) yang menyatakan bahwa proses ringi , yang berarti sirkulasi

Dengan adanya Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional Sadar Gizi Dalam Rangka Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 Hari

Adapun kriteria tersebut adalah Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tepatnya pada saham LQ-45 sejak awal periode penelitian yakni Januari 2014- Maret 2015 dan masuk

Kita bisa menengok sejarah, bagaimana sikap para imam yang telah disebutkan di atas terhadap para penentang dan ulama-ulama lain yang berbeda pendapat

Berdasarkan bentuk, yang dimaksud dengan arsitektur kontemporer adalah arsitektur yang mengambil bentuk suatu bangunan monumental yang pada masanya dikenal sebagai arsitektur

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b Peraturan Walikota Probolinggo Nomor 14 Tahun 2019 tentang Tambahan Penghasilan

Bagi penonton dan pelakon, songket memiliki makna tidak hanya sebagai pakaian dalam sebuah pertunjukan teater bangsawan, akan tetapi juga sebagai simbol budaya