BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Anggaran
Anggaran sebagai suatu alat perencanaan dan pengendalian banyak dimanfaatkan oleh perusahaan, berisi informasi yang terinci dan mudah diukur karena dinyatakan secara kuantitatif. Anggaran banyak digunakan sebagai alat bantu bagi manajemen dalam menyusun perencanaan, pengkoordinasian, pengawasan, dan pengevaluasian. Manfaat anggaran tersebut telah banyak dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang telah menggunakan anggaran dalam aktivitas perusahaan, sehingga perusahaan mendapat dukungan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal tersebut jelas menggambarkan bahwa anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan.
Banyak sekali pengertian anggaran yang dikemukakan oleh para ahli yang pada dasranya mempunyai kesamaan, yaitu merupakan suatu rencana yang dinyatakan dalam bentuk satuan uang dan unit mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu perusahaan atau instansi untuk periode waktu tertentu di masa yang akan datang, umumnya periode yang digunakan dalam penyusunan anggaran adalah satu tahun.
Menurut Dharmanegara (2010:2) memberikan batasan bahwa “Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (satuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang”.
Anggaran merupakan hasil kerja (output) terutama berupa taksiran-taksiran yang akan dilaksanakan masa mendatang. Karena anggaran merupakan hasil kerja (output), maka anggaran dituangkan dalam suatu naskah tulisan yang disusun secara teratur dan sistematis. Sedangkan yang dimaksud dengan penganggaran adalah proses kegiatan yang menghasilkan anggaran tersebut sebagai hasil kerja, serta proses kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi anggaran, yaitu fungsi-fungsi pedoman kerja, alat pengkoordinasian kerja dan alat pengawasan kerja.
Menurut Adisaputro (2010:2) memberikan batasan bahwa “Anggaran adalah suatu pendekatan formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi dan pengawasan”.
Anggaran merupakan rencana kerja yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka keuangan baik jangka-angka pendek ataupun jangka-angka panjang. Anggaran yang disusun mencakup semua aktivitas yang akan dilakukan dengan sendirinya juga secara langsung akan melibatkan masing-masing unit atau bagian. Dalam proses penyusunan anggaran melibatkan beberapa bagian, maka sebaiknya sebelum anggaran disusun harus dijelaskan terlebih dahulu arah dan tujuan perusahaan sehingga masing-masing akan membuat rencana kegiatan yang dibuat dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Hasil dari anggaran itu merupakan kesepakatan manajemen yang harus ditaati dan dipatuhi. Jadi apapun yang akan menjalankan perusahaan harus berpedoman pada apa yang sudah menjadi kesepakatan tersebut.
Menurut Nafarin (2013:11) memberikan batasan bahwa “Anggaran adalah rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara
kuantitatif untuk jangka waktu tertentu dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang”
Anggaran adalah suatu rencana kuantitatif (satuan jumlah) periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan. Anggaran atau budget merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitaif untuk jangka waktu tertentu dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan barang atau jasa. Anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan.
Dari pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Anggaran merupakan aktivitas yang tidak terpisahkan dari proses dan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian. Anggaran merupakan rencana yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk masa yang akan datang dalam jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam satuan uang. Anggaran harus didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu untuk pengambilan keputusan. Anggaran merupakan hasil kerja (output) terutama berupa taksiran-taksiran yang akan dilaksanakan masa mendatang. Karena anggaran merupakan hasil kerja (output), maka anggaran dituangkan dalam suatu naskah tulisan yang disusun secara teratur, sistematis dan logis.
2.1.1 Tujuan Anggaran
Tujuan anggaran menurut Nafarin (2013:19), adalah:
1. Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan investasi dana
2. Mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan digunakan 3. Merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana,
sehingga dapat mempermudah pengawasan
4. Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil yang maksimal
5. Menyempurnakan rencana yang telah disusun karena dengan anggaran menjadi lebih jelas dan nyata terlihat
6. Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan dengan keuangan
Tujuan anggaran menurut Haruman dan Rahayu (2007:6), adalah:
1. Untuk menyatakan harapan/sasaran perusahaan secara jelas dan formal 2. Untuk mengkomunikasikan harapan manajer kepada pihak-pihak yang
terkait sehingga anggaran dimengerti, didukung, dan dilaksanakan 3. Untuk menyediakan rencana rinci mengenai aktivitas dengan maksud
mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok upaya mencapai tujuan perusahaan
4. Untuk mengkoordinasikan cara/metode yang akan ditempuh dalam rangka memaksimalkan sumber daya
Berdasarkan definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan anggaran adalah untuk memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan. Menyediakan rencana rinci mengenai aktivitas dengan maksud mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.
2.1.2 Manfaat Anggaran
Manfaat anggaran menurut Nafarin (2013:19), adalah:
1. Semua kegiatan dapat mengarah pada pencapaian tujuan bersama
2. Dapat digunakan sebagai alat menilai kelebihan dan kelemahan karyawan 3. Dapat memotivasi karyawan
4. Menimbulkan tanggung jawab tertentu pada karyawan
5. Menghindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu
6. Sumber daya (seperti tenaga kerja, peralatan, dan dana) dapat dimanfaatkan seefisien mungkin
7. Alat pendidikan bagi para manajer
Manfaat anggaran menurut Nordiawan (2012:5), adalah: 1. Anggaran merupakan alat komunikasi internal
2. Anggaran menyediakan informasi tentang hasil kegiatan yang sesungguhnya
3. Anggaran sebagai alat pengendalian yang mengarah manajemen untuk menentukan bagian organisasi yang kuat dan lemah
4. Anggaran mempengaruhi dan memotivasi manajer dan karyawan untuk bekerja konsisten, efektif, dan efisien
5. Anggaran sebagai alat pengawasan yang baik
Berdasarkan definisi diatas bahwa anggaran memiliki manfaat sebagai alat pengendalian dan perencanaan dalam perusahaan, karena dengan menggunakan anggaran maka perusahaan dapat merencanakan masa depan perusahaan. Anggaran menentukan tujuan dan sasaran yang dapat dijadikan tolak ukur untuk mengevaluasi kinerja selanjutnya.
2.1.3 Fungsi Anggaran
Anggaran merupakan alat manajemen dalam menjalankan fungsinya. Proses dari fugnsi manajemen tersebut dapat diilustrasikan pada gambar
Sumber : Nafarin (2013:28)
Gambar II.1 Proses Fungsi Manajemen
Gambar tersebut menunjukkan bahwa fungsi manajemen dimulai dari fungsi perencanaan, kemudian diadakan pelaksanaan dan perencanaan memberikan proses umpan maju dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, setelah dilakukan pelaksanaan, barulah dilakukan pengawasan dan pengawasan memberikan proses umpan balik dalam perencanaan, artinya pengawasan melakukan evaluasi dengan cara membandingkan rencana dengan realisasi (apakah pekerjaan sudah dilaksanakan sesuai rencana).
Fungsi anggaran menurut Nafarin (2013:28), adalah: 1. Fungsi Perencanaan
2. Fungsi Pelaksanaan 3. Fungsi Pengawasan
Fungsi anggaran menurut Ismatulloh (2010:14), adalah: 1. Fungsi Perencanaan Perencanaan Pelaksanaan Pengawasan Umpa n maju Umpa n balik
2. Fungsi Pengawasan 3. Fungsi Koordinasi
4. Anggaran sebagai alat Pedoman Kerja
Berdasarkan definisi fungsi diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran sebagai alat perencanaan yang harus memperhatikan anggaran yang satu dengan anggaran yang lain. Anggaran sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan. Anggaran merupakan alat pengawasan atau pengendalian, pengawasan berarti mengevaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan pekerjaan dengan cara membandingkan realisasi dengan rencana (anggaran). Anggaran sebagai alat pedoman kerja berdasarkan pengalaman masa lalu dan taksiran-taksiran pada masa yang akan datang.
2.1.4 Syarat-Syarat Penyusunan Anggaran
Syarat-syarat anggaran menurut Adisaputro (2010:7), adalah:
1. Realistis, artinya tidak terlalu optimis dan tidak pula terlalu pesimis 2. Luwes, artinya tidak terlalu kaku, dan mempunyai peluang untuk
disesuaikan, dengan keadaan yang mungkin berubah
3. Kontinyu, artinya membutuhkan perhatian terus-menerus dan tidak merupakan suatu usaha yang insidentil.
Berdasarkan syarat-syarat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa syarat paling utama dalam penyusunan anggaran adalah realistis, luwes, dan kontinyu atau berkelanjutan. Dengan terpenuhinya tiga syarat utama dalam penyusunan anggaran tersebut sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan kegunaan anggaran.
Dalam penyusunan anggaran harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan agar penyusunan anggaran dapat dilaksanakan dengan baik.
Prosedur penyusunan anggaran menurut Nafarin (2013:9), adalah: 1. Tahap Penentuan Pedoman Perencanaan (Anggaran)
2. Tahap Persiapan Anggaran 3. Tahap Penentuan Anggaran 4. Tahap Pelaksanaan Anggaran
Prosedur penyusunan anggaran menurut Stoner dan Freeman (2010:570), antara lain:
1. Top Down Budegeting 2. Bottom-Up Budgeting
Top Down Budegeting, yaitu prosedur penyusunan anggaran yang
ditentukan oleh pimpinan. Bottom-Up Budgeting, yaitu prosedur penyusunan anggaran yang disiapkan oleh pihak yang akan melaksanakan anggaran tersebut.
2.1.6 Kelemahan dan Keunggulan Anggaran 2.1.6.1 Keunggulan Anggaran
Keunggulan anggaran menurut Haruman dan Rahayu (2007:7-8), adalah:
1. Hasil yang diharapkan dari suatu rencana tertentu diproyeksikan sebelum rencana tersebut dilaksanakan.
2. Dalam penyusunan anggaran, diperlukan analisis yang sangat teliti terhadap setiap tindakan yang akan dilakukan.
3. Anggaran merupakan penelitian untuk kerja sehingga dapat dijadikan patokan untuk menilai baik buruknya hasil yang diperoleh.
4. Anggaran memerlukan adanya dukungan organisasi yang baik sehingga setiap manajer mengetahui kekuasaan, wewenang, dan kewajibannya. 5. Mengingat setiap manajer dan penyedia dilibatkan dalam penyusunan
anggaran, maka kemungkinan terciptanya ikut berperan serta (sense of
participation).
2.1.6.2 Kelemahan Anggaran
Kelemahan anggaran menurut Haruman dan Rahayu (2007:7-8), adalah:
1. Karena anggaran disusun berdasarkan estimasi (permintaan efektif, kapasitas produksi dan lain-lain)
2. Anggaran biaya merupakan rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan secara sungguh-sungguh.
3. Anggaran biaya merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugas-tugasnya, bukan menggantikannya.
4. Kondisi yang terjadi tidak selalu seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, sebab itu anggaran perlu memiliki sifat sifat yang luwes.
Kelemahan anggaran menurut Nafarin (2013:20), adalah:
1. Anggaran dibuat berdasarkan taksiran dan anggaran sehingga mengandung unsur ketidak pastian.
2. Menyusun anggaran yang cermat memerlukan waktu, uang, dan tenaga yang tidak sedikit sehingga tidak semua perusahaan mampu menyusun anggaran secara lengkap (komprehensif) dan akurat.
3. Bagi pihak yang merasa dipaksa untuk melaksanakan anggaran dapat mengakibatkan mereka menggerutu dan menentang sehingga anggaran tidak akan efektif.
2.1.7 Karakteristik Penyusunan Anggaran
Anggaran harus disusun secara benar dan sistematis penyusunan anggaran yang telah mengikuti prosedur yang benar tidak menjamin anggaran itu berhasil. Anggaran juga memiliki karakteristik tertentu.
Karakteristik penyusunan anggaran menurut Rudianto (2009:11), adalah: 1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain keuangan. 2. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu satu tahun.
3. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajemen yang berarti bahwa para manajer setuju untuk menerima tanggung jawab untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam anggaran.
4. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi dari penyusunan anggaran.
5. Sekali disetujui, anggaran hanya dapat diubah di bawah kondisi tertentu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik anggaran tidak lebih dari sekedar perkiraan, yang setiap manajer tidak memiliki komitmen untuk mencapai sasaran anggaran, tetapi dalam situasi penyusunan anggaran manajer menengah dan bawah sebagai penyusun anggaran tidak akan memiliki persepsi
yang jelas menganai sasaran anggaran dan menerima alokasi sumber daya yang menurut persepsi mereka tidak memadai untuk mencapai sasaran anggaran.
2.1.8 Siklus PDCA (Plan Do Check Act) dalam Anggaran
Menurut William Edwards dalam buku Nafarin (2013:2) salah seorang tokoh manajemen Amerika Serikat mencetuskan teori siklus PDCA (Plan Do
Check Act) sebagai teori manajemen perbaikan mutu. Siklus ini menjadi sangat
penting diterapkan dalam sebuah organisasi baik pemerintah maupun swasta, sebagai bagian dari usaha untuk memperbaiki sistem maupun kualitas sumber daya. Melalui siklus ini juga organisasi mampu menilai tingkat efektifas dan efisien sikinerja yang dilakukan.
1. Tahap Plan (merencanakan) adalah tahap unuk menetapkan target dan sasaran yang ingin dicapai dalam peningkatan proses permasalahan yang ingin dipecahkan.
2. Tahap Do (melaksanakan) adalah tahap penerapan atau melaksanakan semua yang dicatat dalam plan.
3. Tahap Check (memeriksa) adalah tahap pemeriksaan dan peninjauan ulang serta mempelajari hasil-hasil dari penerapan di tahap do.
4. Tahap Act (menindak) adalah tahap untuk mengambil tindakan yang seperlunya terhadap hasil-hasil dari tahap check.
2.2 Realisasi
Realisasi anggaran merupakan aktivitas dalam menggunakan sumber daya ekonomi yang dikelola dan diukur dalam satuan rupiah, disusun menurut klarifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode.
Menurut Mardiasmo (2009:21) memberikan batasan bahwa “Proses menjadikan nyata, perwujudan, pelaksanaan yang nyata”.
Realisasi adalah untuk mencapai sesuatu yang direncanakan atau diharapkan. Untuk mewujudkan harapan tersebut perlu perencanaan terlebih dahulu. Akan tetapi rencana tidak akan bergerak kemana-mana jika tidak dijalankan atau direalisasikan.
Menurut Nordiawan (2010:105) memberikan batasan bahwa “Proses yang harus diwujudkan untuk menjadi kenyataan dan pelaksanaan yang nyata agar sesuai dengan harapan yang diinginkan”.
Semua tindakan atau proses untuk mewujudkan apa yang sudah direncanakan, dimulai dari cita-cita sehingga organisasi dapat menetapkan target yang ingin dicapai dengan batas waktu tertentu, kemudian dibuat rencana untuk mewujudkannya. Kemudian rencana tersebut direalisasikan atau dilaksanakan dalam bentuk tindakan nyata.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa realisasi suatu proses yang harus diwujudkan untuk menjadi kenyataan dan dalam proses tersebut diperlukan adanya tindakan dan pelaksanaan yang nyata agar realisasi tersebut dapat sesuai dengan harapan yang diinginkan. Realisasi anggaran digunakan untuk memberikan informasi. Informasi akuntansi pertanggungjawaban merupakan informasi yang penting dalam proses perencanaan, pengawasan, dan pengendalian.
2.3 Laporan Realisasi Anggaran
Laporan realisasi anggaran adalah laporan yang disusun untuk memberikan informasi tentang realisasi dan anggaran etintas laporan secara tersanding, penyandingan antara anggaran dan realisasinya menunjukkan tingkat ketercapaian target-target yang telah disepakati sesuai peraturan perundang-undangan.
Menurut Nordiawan (2010:122) memberikan batasan bahwa “Laporan yang menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah (pusat atau daerah), dalam satu periode pelaporan”.
Laporan realiasi anggaran merupakan suatu serangkaian aktivitas dalam menggunakan sumber daya ekonomi yang dikelola. Secara sederhana laporan realisasi anggaran merupakan salah satu komponen laporan keuangan pemerintah yang menyimpan informasi tentang realisasi dan anggaran entitas pelaporan. Laporan realisasi anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat atau daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN dan APBD.
Menurut Rudianto (2009:19) memberikan batasan bahwa “Rencana kegiatan yang berisi perkiraan belanja yang diusulkan dalam satu periode dan sumber pendapatan yang diusulkan untuk membiayai belanja tersebut”.
Melalui laporan realisasi anggaran dapat diketahui mengenai jumlah biaya, sumber pendapatan dan perkiraan belanja suatu organisasi dalam satu periode tertentu. Dalam laporan realisasi anggaran juga berisi informasi mengenai sumber pendapatan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan organisasi tersebut.
Berdasarkan definisi diatas disimpulkan bahwa laporan realisasi anggaran adalah suatu serangkaian aktivitas dalam menggunakan sumber daya ekonomi yang dikelola dalam satu periode pelaporan.
2.3.1 Manfaat Informasi Laporan Realisasi Anggaran
Laporan realisasi anggaran menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas, dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran dengan:
1. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;
2. Menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran.
Laporan realisasi anggaran menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi sumber daya ekonomi yang akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam periode mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komperatif. Laporan realisasi anggaran dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi:
1. Telah dilaksanakan secara efisien, efektif, dan hemat; 2. Telah dilaksanakan sesuai dengan anggarannya; dan
3. Telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2.3.2 Struktur Laporan Realisasi Anggaran
Laporan realisasi anggaran menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit dan pembiayanaa yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.
Dalam laporan realisasi anggaran harus diidentifikasikan secara jelas, dan diulang dalam setiap halaman pelaporan, informasi berikut:
1. Nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lainnya; 2. Cakupan etintas pelaporan;
3. Periode yang dicakup; 4. Mata uang pelaporan; dan 5. Satuan angka yang digunakan.
2.3.3 Isi Laporan Realisasi Anggaran
Laporan realisasi anggaran disajikan sedemikian rupa sehingga menonjolkan berbagai unsur pendapatan, belanja, transfer, surplus/deficit, dan pembiayaan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. Laporan realisasi anggaran menyandingkan realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/drfisit, dan pembiayaan dengan anggarannya. Laporan realisasi anggaran dijelaskna lebih lanjut dalam catatan atas laporan keuangan yang memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran seperti kebijakan fiskla dan moneter, sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara anggaran dan realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka-angka yang dianggap perlu dijelaskan.
Laporan realisasi anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos sebagai berikut: 1. Pendapatan 2. Belanja 3. Tranfer 4. Surplus/deficit 5. Penerimaan pembiayaan 6. Pengeluaran pembiayaan