• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum Kesehatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum Kesehatan"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

MENTERI (ESEHAIAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor H a l

Jakarta, 28 Juli2009

Perkembangan Kasus Influenza A : 578/MenkesA,/11i2009

: Langkah-langkah KesiapanMenghadapi B a r u ( H 1 N l ) .

Yang terhormat, Gubernur

d i . .

Seluruh lndonesia

Menindaklanjuti surat kami No.422lN4enkes^,/l/2o09 tanggal 12 Juni 2009 perihal Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza A Baru (H'1N1) fase 6, dengan ini kami beritahukan bahwa:

1. Kasus Influenza A Baru (H1Nl) telah berkembang demikian cepat. Sampai dengan tanggal 6 Juli 2009 kasus tersebut telah dilaporkan oleh 122 negara dengan jumlah penderita seluruhnya 94.512 orang dengan 144 kematian (Case Fatality Rab A,45 %)

2. Kasus influenza A Baru (HlN1) tersebut di Indonesia juga dilaporkan oteh'10 provinsi (Bali, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Dl Yogyakada, Jawa Timu., Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara) dengan jumlah penderita se uruhnya 172 orang dan tidak ada kematian. Sebanyak 37% kasus memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, 19 % merupakan kontak kasus bepefgian ke luar negeri dan 44 % tidak diketahui faktor risiko penularannya.

3. Penyakit ini merupakan penyakit yang menular dengan mudah sepedi halnya flu biasa. Oleh karena itu, jumlah dan penyebaran kasus ini kemungkinan besar akan meningkat dalam waktu relatif cepat.

Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon perhatian Gubernur atas hal-hal sebagai bedkut:

1. Pembatasan penyebaran kasus di bandar udara dengan tetap menggunakan pemindai suhu dan Health Alert Card.

2. Tatalaksana kasus dengan rawat inap hanya pada penderita dengan klasifikasi berat ataupun penderita yang memiliki faktor rislko influenza (kehamilan, kegemukan, kelompok umur <5 tahun dan >65 iahun, memiliki dwayat penyakit metabolik, kafdiovaskular, hati, neurologi, hematologi, TBC, PPOK, dan imunosupresi). Penderita dapat dipulangkan ketika hasil laboratorium PCR sudah negatif atau te ah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan kebijakan klinis.

Tatalaksana kasus klasiflkasi dngan tidak perlu dirawat, tetap tinggal di rurnah dan menghindari tempaFtempat umum, dapat diberikan antiviral sesuai pedimbangan k lnis, dan konseling agar tidak menularkan kepada,€nggota serumah.

Klasifikasi berat dan ringan. berdasarkan justifikasi/kebijakan klinis.

(2)

MENTERI KESEHATATI REPUBLIX INDON€SIA

Antiviral dosis profilaksis diberikan kepada tenaga kesehatan yang kontak dengan kasus Influenza A baru (Hl Nl ).

4. Pemeriksaan spesimen klinik konfirmatif/penentu dllakukan oleh Badan Litbangkes Departemen Kesehatan Rl. .

Pemeriksaan spesimen klinik konfirmatif difokuskan kepada kasus yang dirawat, kasus beravkasus dengan faktor risiko maupun pada petugas kesehatan yang menunjukkan gejala lLl pasca kontak kasus positif Hl Nl konfirmalif sebelumnya.

Pemeriksaan laboratorium diagnostik juga dilakqkan pada kondisi awal KLB di suatu wilayah serta padakeadaan khusus seperti adanya cluster besar dan lainJain.

5. Perlu ditingkatkan kegiatan Surveilans berupa intensifikasi pengamatan kasus Pneumonia di fasilitas kesehatan, pengamatan kontak kasus, dan kegiatan surveilans lLl berbasis masyarakat yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas.

6. Peningkatan KIE pada masyarakat dengan menghimbau masyarakat agar:

a. Melapor kepada Puskesmasjika menderita Influenza

b. Jika sakit Influenza maka ietap tinggal di rumah menghindarl tempat-tempat umum selama 7 hari, menerapkan etika batuk, memakai masker, higiene dirj dengan selalu mencuci tangan dengan sabun, ventilasi dan sirkulasi udara yang baik, PHBS, minum obal sesuaj anjuran, makanan bergizi dan cairan yang cukup.

7. Menyiapkan rumah sakit daefah di tjngkat propinsi maupun kabupaten/kota untuk merawat pasien Intluenza A baru (HlN'1).

Atas perhatian dan perkenan Gubernur kami sampaikan terimakasih.

Tembusan:

'1. Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyai; 2. Menteri Dalam Negeri;

3. l\,4entefj Luar Negeri; 4. Menteri Keuangan; 5. MenteriPerhubungan; 6, MenteriPerdaganganl 7. lMenteri Pertaniani

8. Menteri Komunikasi dan Informasi: 1.. 9. l\.4enten Hukum dan HAl'4,

'10. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi diseluruh Inddnesia;

11. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia; '12. DireKur Rumah Sakit Vertikal dan Provinsi:

13. Para Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhani 14, Pata Kepala BTKL PPM;

15. Para Kepala Balai Laboratorium Kesehatan.

Referensi

Dokumen terkait

Tahap 2 diberikan kepada pasien dengan sakit kronis jika pengobatan pada tahap pertama tidak berespon maka diberikan pengobatan tunggal dengan Antipsikotik Generasi Kedua (AGK)

f. Berkoordinasi dengan lGntor Kesehatan Pelabuhan, Balai Besar Laboratorium Kesehahn dan Balai Besar Tehnik Kesehatan Lingkungan.. Berkoordinasi dengan Rumah Sakit Umum

Tujuan khususnya adalah mengetahui hubungan jenis kelamin dengan pola pencarian pengobatan ke pelayanan kesehatan alternatif suspek TB di komunitas, mengetahui hubungan

Melakukan asuhan keperawatan dan mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah diberikan pada bayi dengan risiko tinggi / sakit dan keluarganya (minimal 1

Penanganan pasien dengan penyakit menular/suspek sebagai berikut: 1) Terapkan dan lakukan pengawasan terhadap kewaspadaan standar. Untuk kasus/dugaan kasus penyakit menular

Dari beberapa bahasan di atas dapatlah disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a) Pasien Jamkesmas yang dirawat di 10 rumah sakit dengan kasus penyakit katastropik bulqn

Khalili juga menjelaskan bahwa salah satu faktor risiko yang menyebabkan pasien diare dirawat di rumah sakit di negara berkembang adalah tingkat pendidikan dan tingkat

Menemukan hal-hal yang baru pada klien pre dan post tiroidektomi dengan struma nodusa non toksik yang dirawat Di Ruang Mangga lantai 5 RSUD Cengkareng Jakarta Barat.. Bagi