MATHEdunesa
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 3 No. 5 Tahun 2016
ISSN : 2301-9085
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN SOAL OPEN-ENDED PADA METODE PENUGASAN DISERTAI PEMBERIAN UMPAN BALIK
Imama Sabilah
Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected] Dr. Janet Trineke Manoy, M.Pd
Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected]
Abstrak
Umpan balik merupakan pemberian informasi berupa tanggapan, nilai, dan komentar kepada siswa berkaitan dengan tugas yang diberikan. Tugas yang diberikan melatih siswa secara mandiri untuk memperluas pengetahuan mereka melalui pemberian tugas, pelaksanaan tugas dan pertanggungjawaban tugas dalam metode penugasan. Penugasan yang baik memperhatikan tingkat kesulitan tugas. Tingkat kesulitan tugas terdiri dari tugas yang rendah, sedang, dan tinggi. Tugas berupa soal open-ended termasuk tugas yang tingkat kesulitannya sedang sampai tinggi. Soal open-ended baik untuk melatih pengetahuan siswa agar pembelajaran menjadi efektif.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran oleh guru, aktivitas siswa, hasil belajar siswa, dan respons siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan soal open-ended pada metode penugasan disertai pemberian umpan balik. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru matematika kelas VIII dan siswa kelas VIII-A SMP Negeri 3 Krian tahun ajaran 2015/2016. Rancangan penelitian menggunakan one shot case study.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11 dari 15 aspek yang diamati dalam pengelolaan pembelajaran dilaksanakan dengan sangat baik oleh guru; setiap aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran telah dilaksanakan oleh siswa sehingga aktivitas siswa dikatakan aktif; hasil belajar dari 32 siswa melebihi nilai KKM yang ditentukan sekolah sehingga nilai hasil belajar siswa secara klasikal dikatakan tuntas; dan dari 10 pernyataan hasil respons siswa 5 pernyataan termasuk dalam kategori sangat kuat dan 5 pernyataan termasuk dalam kategori kuat sehingga respons siswa dikatakan positif. Dengan demikian dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan pembelajaran matematika dengan menggunakan soal open-ended pada metode penugasan disertai pemberian umpan balik dikatakan efektif. Kata Kunci: pembelajaran, umpan balik, metode penugasan, open-ended
Abstract
Feedback is giving information to students related their task past through the value of learning outcome, reaction, and commentary. Students can exercise independently in their task and can develop mathematics skill past through giving task, implementation task and accountability task in assignment method. Assignment was good considering the level of difficulty of the task. Task difficulity level consist of low, middle and high. Open-ended questions as task is a task that the diffuculity level is middle to high. Open-ended questions is good for excercise students knowledge.
This research is descriptive research which the aims are to describe learning management by teacher, student’s activity, student’s learning outcome, and student’s response in mathematics learning using by open-ended questions in assignment method with gift feedback. The subjects in this research are mathematics teacher of the eighth class and students of the eighth-A class of SMP Negeri 3 Krian year 2015/2016. Research design used the one shot case study.
The result showed that: eleven of fifteen aspect observed in the learning management has been implemented very well by the teacher;every student’s activity that was relevant to learning has been carried out by students; learning outcome of thirty two students in class had reached completeness, and five of ten student’s response statement included in the category of very strong so that student’s response can be said to be positive. Therefore, it can be concluded that mathematics learning using by open-ended questions in assignment method with gift feedback is effective.
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan proses pemerolehan pengetahuan yang menjadi hak untuk setiap warga negara. Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak”. Pendidikan yang layak dapat diperoleh di sekolah maupun di luar sekolah. Pendidikan di sekolah dipengaruhi oleh berbagai metode pembelajaran yang digunakan dan diharapkan metode pembelajaran bukan hanya sesuai dan menyenangkan, tetapi juga bermakna. Kebermaknaan ini memperbaiki mutu pendidikan dan meningkatkan wawasan siswa terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Arifin(2010), dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi dilahirkan dari matematika sehingga matematika disebut dengan mother of sciences. Jadi, agar suatu negara bisa maju haruslah memiliki masyarakat berkemampuan tinggi dalam bidang matematika.
Hasil Ujian Nasional (UN) siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun ajaran 2014/2015 menurun dibandingkan tahun ajaran sebelumnya 2013/2014, menurut Murdaningsih (2015), terjadi penurunan nilai ujian tingkat SMP sebesar 3,40 dari tahun lalu, yaitu dari 65,20 menjadi 61,80, diperkirakan penyebabnya karena 10% bagian dari soal tersebut merupakan soal-soal yang sulit. Hal ini dapat menjadi alasan bahwa siswa belum terbiasa menghadapi berbagai macam soal. Kemungkinan lain penyebabnya karena fokus pembelajaran siswa di kelas yaitu memenuhi kompetensi memperoleh hasil belajar yang standar, akibatnya minat siswa untuk belajar hanya mengarah pada pemenuhan standar hasil belajar yang berlaku sesuai kurikulum yang digunakan.
Soal open-ended merupakan pertanyaan yang dibuat untuk memberikan peluang munculnya berbagai macam jawaban dengan berbagai strategi atau cara masing-masing untuk mengembangkan potensi intelektual dan pengalamannya dalam menemukan sesuatu yang baru(Arifin, 2010). Menurut Atkinson (dalam Budayasa dan Nur, 2010), tingkat kesulitan tugas yang sedang sampai yang sulit lebih baik daripada tugas yang mudah untuk belajar. Hal ini berarti bahwa seseorang belajar dengan lebih baik jika kesulitan tugas yang diberikan juga meningkat. Mahmudi (2008) menyatakan bahwa penggunaan soal open-ended perlu dibudidayakan dalam pembelajaran matematika untuk mengoptimalkan pengembangan potensi siswa. Untuk itu perlu dibiasakan latihan dengan tipe soal yang dapat mengoptimalkan pengembangan potensi siswa, seperti tipe soal open-ended agar siswa dapat terbiasa menghadapi berbagai tipe soal.
Di sekolah, siswa cenderung mendapatkan waktu belajar yang relatif singkat jika digunakan untuk mencerna informasi terkait benda abstrak seperti dalam mata pelajaran matematika. Metode penugasan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih luas dari hasil belajar itu sendiri sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diingat lebih lama (Hamdani, 2011). Pengetahuan yang diingat lebih lama akan mengendap dalam sistem memori dan membentuk informasi yang lebih matang. Hal ini menunjukkan bahwa penting adanya metode penugasan dalam proses belajar siswa untuk membuat aktivitas belajar siswa menjadi lebih baik. Aktivitas belajar yang lebih baik akan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik juga.
Menurut Santrock (2014), penilaian tidak hanya mendokumentasikan yang diketahui dan dapat dilakukan siswa, tetapi mempengaruhi pembelajaran dan minat belajar mereka. Nilai bukan merupakan satu hal yang paling utama, melainkan juga pada bagaimana aktivitas dari pembelajaran itu dimaknai. Menurut Arifin(2010), jalan untuk mendapatkan makna dari pendidikan itu sendiri bukan hanya dengan mengkonstruksi pengetahuan siswa sehingga dapat melakukan aktivitas belajar, melainkan juga membuat siswa dapat mengambil sikap dari hasil usaha mereka setelah aktivitas belajar dilakukan.
Menurut Nur (2010), pemberian umpan balik dalam hal pengenalan hasil belajar siswa penting dilakukan untuk meningkatkan nilai informatif dan motivatif. Siswa perlu mengenali letak kesalahan dari hasil belajarnya untuk diperbaiki dan letak kebenaran dari hasil belajarnya untuk dipertahankan. Permendikbud No. 66 th. 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan menyatakan bahwa pengenalan hasil belajar dilakukan lebih sering untuk dapat mendorong semangat belajar siswa. Penilaian hasil belajar oleh guru yang dilakukan secara berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar siswa serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sejauh ini, pengenalan hasil belajar siswa secara berkelanjutan jarang dilakukan. Menurut Wahidmurni (2012), fungsi penting bagi guru dalam mengevaluasi belajar siswa yaitu memberikan umpan balik kepada siswa dalam mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi dari proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini berarti pemberian umpan balik secara berkelanjutan penting dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
dari ketidaktahuan. Berdasarkan pengalaman saat mengajar PPP di sekolah mitra, berbagai kasus penilaian terjadi. Salah satunya yaitu adanya siswa pandai dalam kesehariannya namun mendapat nilai buruk ketika ujian. Hal ini tentu mengarah pada pembelajaran di kelas yang kurang efektif.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Soal Open-Ended pada Metode Penugasan disertai Pemberian Umpan Balik” yang selanjutnya disingkat SOEMPPU.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran matematika dengan menggunakan soal open-ended pada metode penugasan disertai pemberian umpan balik. Secara khusus untuk mendeskripsikan:
1. Pengelolaan pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU.
3. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU.
4. Respons siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2015/2016 di SMP Negeri 3 Krian. Subjek penelitian ini yaitu guru matematika kelas VIII sebagai subjek pengamatan pengelolaan pembelajaran, 4 siswa kelas VIII-A yang dipilih secara acak sebagai subjek pengamatan aktivitas siswa, serta seluruh siswa kelas VIII-A sebagai subjek hasil belajar dan respons. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu “One Shot Case Study” (Arikunto, 2006:85).
Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut.
1. Metode observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU. Observasi dilakukan oleh pengamat yaitu mengamati pengelolaan pembelajaran oleh guru dan aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran. Pengamat aktivitas siswa yaitu rekan peneliti sesama mahasiswa pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang telah berdiskusi mengenai tata cara pengisian lembar observasi. Pengamat aktivitas siswa diamati oleh dua mahasiswa yaitu pengamat 1 dan pengamat 2 yang disimbolkan P1 dan P2.
Pengamat pengelolaan pembelajaran oleh guru diamati oleh peneliti.
2. Metode Tes
Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU. Tes yang digunakan merupakan tes uraian yang dikerjakan siswa secara individu, dan diberikan pada pertemuan ketiga.
3. Metode Angket
Angket digunakan untuk mengetahui bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU. Siswa mengisi lembar angket yang sudah disediakan pada pertemuan ketiga setelah mengerjakan soal tes. Jenis angket yang digunakan merupakan angket tertutup karena berisi pernyataan-pernyataan yang sudah disediakan pilihan jawaban. Pengisian angket tidak berpengaruh pada nilai siswa.
Teknik analisis data yang digunakan sebagai berikut. 1. Analisis Data Pengelolaan Pembelajaran.
Dari hasil observasi diperoleh data pengelolaan pembelajaran yang dianalisis dengan menghitung rata-rata skor setiap aspek pada setiap pertemuan. Tahap-tahap yang dilakukan antara lain sebagai berikut.
a. Menghitung skor rata-rata gabungan pengelolaan pembelajaran dari pertemuan pertama dan kedua untuk tiap aspek.
b. Menghitung skor rata-rata total untuk semua aspek dengan menggunakan rumus yang diadaptasi dari Masriyah(2006) sebagai berikut.
Rata
−
rata Skor Pengelolaan Kelas
=
Jumlah Nilai Keseluruhan
Banyaknya Aspek yang Diamati
c. Menginterpretasikan rata-rata pengelolaanpembelajaran oleh guru pada setiap item pernyataan dengan menggunakan kategori berikut.
Tabel 1. Kriteria Pengelolaan Pembelajaran Skor Rata-rata Total Kategori
1,00
≤ Skor
<
2,00
Tidak Baik2,00
≤ Skor
<
3,00
Kurang Baik3,00
≤ Skor
<
3,50
Baik3,50
≤ Skor ≤
4,00
Sangat Baik(Masriyah, 2006) d. Menentukan kategori pengelolaan pembelajaran
keseluruhan. Kriteria pengelolaan pembelajaran dikatakan baik jika skor rata-rata total yang diperoleh minimal termasuk dalam rentang
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
Dari hasil observasi diperoleh data aktivitas siswa selama proses pembelajaran yang dianalisis dengan menghitung persentase setiap aktivitas siswa pada setiap pertemuan. Menentukan persentase aktivitas siswa digunakan tahap sebagai berikut. a. Menghitung rata-rata persentase aktivitas siswa
untuk setiap kategori aktivitas dari 2 pengamat pada setiap pertemuan dengan rumus yang diadaptasi dari Masriyah(2006) antara lain sebagai berikut.
Persentase aktivitas ke
−
i
=
Frekuensi Aktivitas ke
−
i
Total Seluruh Aktivitas
×
100
Keterangan:Frekuensi aktivitas ke – i diperoleh dari rata-rata frekuensi aktivitas ke – i yang diamati oleh 2 pengamat
Total aktivitas dari 4 siswa yang dipilih secara acak selama mengikuti pembelajaran.
Pengamatan pada 4 siswa yang dipilih secara acak oleh pengamat dilakukan dari awal sampai akhir pembelajaran. Pembelajaran yang dilaksanakan baik pertemuan pertama maupun kedua jenjang Sekolah Menengah Pertama masing-masing membutuhkan waktu 2x40 menit, sehingga apabila aktivitas siswa dibagi setiap interval 5 menit maka akan mendapatkan 16 bagian per siswa. Oleh karena terdapat 4 siswa yang diamati, maka total aktivitas siswa yang yang terpilih secara acak yaitu 64 aktivitas. b. Menghitung rata-rata persentase aktivitas siswa
pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua untuk setiap kategori aktivitas.
c. Menghitung jumlah aktivitas yang relevan dengan pembelajaran pada kategori aktivitas 1 sampai aktivitas 7.
d. Menentukan kriteria aktivitas siswa sesuai indikator yang telah ditetapkan. Jika jumlah dari rata-rata persentase pertemuan pertama hingga kedua dari semua aktivitas lebih dari atau sama dengan 60%, maka aktivitas siswa selama pembelajaran dapat dikatakan aktif. Sebaliknya apabila kurang dari 60%, maka aktivitas siswa dikatakan pasif. Penentuan persentase ini diadopsi dari Fatmawati (2014). Kesimpulan diambil berdasarkan jumlah persentase yang diperoleh dari seluruh aktivitas kecuali aktivitas yang tidak relevan. Aktivitas yang paling tinggi persentasenya menunjukkan kecenderungan aktivitas siswa.
3. Analisis Hasil Belajar Siswa.
Ketuntasan belajar siswa dalam penelitian ini berdasarkan nilai hasil belajar siswa. Berdasarkan
kriteria ketuntasan minimal yang berlaku di sekolah tempat penelitian berlangsung yaitu siswa dikatakan tuntas jika mendapatkan nilai ≥75. Menentukan hasil belajar siswa secara individu digunakan tahap sebagai berikut.
a. Menghitung nilai LKS I dan LKS II melalui jumlah skor yang diperoleh siswa pada masing-masing langkah.
b. Menghitung rata-rata nilai LKS I dan LKS II. c. Menghitung nilai tes melalui jumlah skor yang
diperoleh siswa pada masing-masing langkah. d. Menghitung nilai hasil belajar siswa melalui
rumus yang diadopsi dari Aditama (2014) berikut.
Hasil Belajar Siswa
=
(
2
× Nilai rata
−
rata LKS
)+(
3
× Nilai HasilTes
)
5
Dengan hasil belajar siswa ≥75 dikatakan tuntas. e. Menghitung ketercapaian ketuntasan belajar siswa
secara klasikal dengan rumus berikut.
ketuntasan belajar secaraklasikal
=
banyaknya siswa yang tuntas
banyak siswa seluruhnya
×
100
Dengan ketuntasan belajar klasikal tercapai jikaminimal 80% siswa tuntas secara individu. Penentuan persentase ini diadopsi dari Asih(2013). 4. Analisis Respons Siswa.
Pembelajaran dengan menggunakan SOEMPPU dikatakan efektif jika perolehan respons siswa termasuk dalam kategori positif. Siswa diberikan angket respons terhadap pembelajaran yang didesain terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan positif (favorable) dan pernyataan negatif (unfavourable). Setiap pilihan jawaban diberikan skor dengan rentang sangat setuju (SS), Setuju(S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Berikut pedoman penskoran angket respons siswa.
Tabel 2. Pedoman Penskoran Angket Respons Siswa Pilihan
Jawaban FavourableSkor untuk butir(+) Unfavourable(−)
STS 0 3
TS 1 2
S 2 1
SS 3 0
(Masriyah, 2006)
Langkah-langkah untuk menganalisis data respons siswa disajikan sebagai berikut.
a. Menghitung jumlah responden (siswa) yang memilih setiap pilihan jawaban pada setiap butir pernyataan.
NRS
=
∑
R × skor pilihan jawaban
Keterangan:
NRS = Nilai Respons Siswa
R
=
¿
∑
¿
Jumlah responden yang memilihjawaban
Rumus untuk menghitung nilai respons siswa sebagai berikut.
1) Untuk pernyataan positif(favourable)
NRS SS
=
∑
R ×
3
NRS S
=
∑
R ×
2
NRSTS
=
∑
R ×
1
NRS STS
=
∑
R×
0
2) Untuk pernyataan negatif(unfavourable)
NRS SS
=
∑
R ×
0
NRS S
=
∑
R ×
1
NRSTS
=
∑
R ×
2
NRS STS
=
∑
R×
3
Keterangan:
NRS SS = Nilai respons siswa untuk jawaban sangat setuju
NRS S = Nilai respons siswa untuk jawaban setuju
NRS TS = Nilai respons siswa untuk jawaban tidak setuju
NRS STS = Nilai respons siswa untuk jawaban sangat tidak setuju
c. Menghitung jumlah nilai respons siswa untuk setiap butir pernyataan dengan rumus berikut.
NRS
=
∑
NRS ke
−
i
¿
NRS SS
+
NRS S
+
NRSTS
+
NRS STS
Keterangan:NRS =
NRS ke
−
i
=
¿
∑
¿
jumlah nilairespons siswa pada butir pernyataan ke
−
i , dengan
i
= nomor pernyataan (1
−
10
)d. Menghitung persentase nilai respons siswa dari setiap butir pernyataan dengan menggunakan rumus yang diadaptasi dari Sudjana (2010) sebagai berikut.
NRS
=
NRS
NRS Maksimum
×
100
Keterangan:
NRS
=%NRS ke
−
i
= Persentase nilairespons siswa pada
butir pernyataan ke
−
i , dengani
= nomor pernyataan(
1
−
10
)
NRS =
∑
NRS ke
−
i
= Jumlah nilairespons siswa pada
butir pernyataan ke
−
i , dengani
= nomor pernyataan(
1
−
10
)
NRS Maksimum
=∑
R × skor pilihan terbaik
(dengan∑
R
= Jumlah seluruh responden)e. Menentukan kriteria persentase nilai respons siswa
untuk setiap butir pernyataan (diadaptasi dari Masriyah, 2006).
0
≤ NRS
<
20
: sangat lemah20
≤ NRS
<
40
: lemah40
≤ NRS
<
60
: cukup60
≤ NRS
<
80
: kuat80
≤ NRS≤
100
: sangat kuat f. Menghitung banyaknya kriteria sangat lemah,lemah, cukup, kuat, dan sangat kuat dari seluruh butir pertanyaan. Kemudian menentukan kategori untuk seluruh butir pertanyaan sebagai berikut.
1) Jika ≥ 50% dari seluruh butir pernyataan termasuk dalam kategori sangat kuat atau kuat maka respons siswa dikatakan positif.
2) Jika
¿
50
dari seluruh butir pernyataan termasuk dalam kategori sangat kuat atau kuat maka respons siswa dikatakan negatif.HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIIA SMP Negeri 3 Krian selama tiga pertemuan, yaitu pada tanggal 23 Februari 2016, 26 Februari 2016, dan 1 Maret 2016.
Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru
Hasil pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran oleh guru selama dua kali pertemuan dihitung rata-ratanya untuk setiap pernyataan agar dapat menentukan kategori secara keseluruhan yang sesuai.
Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru
No Aspek yang Diamati Rata-rata Kategori I. PENDAHULUAN
1 Penyampaian apersepsi. 3,5 Sangatbaik
2 Penyampaian motivasipada siswa. 2,5 Kurangbaik
II. KEGIATAN INTI
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
No Aspek yang Diamati Rata-rata Kategori
2
3 Membimbinguntuk berpikir terbuka.siswa 3,5 Sangatbaik
4 Penyampaian tugas. 4 Sangatbaik
5 Membimbing kelompokbelajar dalam mengerjakan tugas.
3,5 Sangatbaik
6 Memberikan bantuanapabila siswa mengalami
kesulitan. 4,0
Sangat baik
7 Membimbingdalam proses penarikansiswa
kesimpulan. 3,5
Sangat baik
8 Menanggapi diskusidalam presentasi. 3,0 Baik
9 Mengevaluasidiskusi dalam presentasi.hasil 3,0 Sangatbaik
10
Memberikan umpan balik melalui tanggapan terhadap aktivitas siswa saat pembelajaran.
4,0 Sangatbaik
11 Memberikan umpanbalik berupa nilai dan
komentar pada tugas. 3,0 Baik
III. PENUTUP
1 Melakukanbersama dengan siswa.refleksi 3,5 Sangatbaik
2 Membimbinguntuk mempelajarisiswa materi selanjutnya.
3,0 Baik
Rata-rata 3,47 Baik
Berdasarkan Tabel 3, secara keseluruhan pengelolaan pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU oleh guru termasuk dalam kategori baik dengan skor rata-rata sebesar 3,47.
Aktivitas Siswa
Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa selama dua kali pertemuan dihitung rata-rata frekuensinya dari dua orang pengamat untuk setiap kategori aktivitas serta persentase untuk setiap kategori aktivitas.
Tabel 4. Data Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa
No Kategori Aktivitas Siswa
Rata-rata(%
)
1 Mendengarkan/ memperhatikanpenjelasan guru. 23,43 2 Mengajukan pertanyaan 3,13
No Kategori Aktivitas Siswa rata(% Rata-)
mengenai materi/tugas yang disampaikan, soal yang diberikan atau penjelasan guru.
3 Mengutarakan pendapat. 6,25 4 Mengerjakan tugas yangdiberikan. 15,62 5 Berdiskusi dengan teman. 28,91 6 Mempresentasikan hasil diskusi tugas kelompok. 5,47
7 relevan dengan pembelajaran, misalnya tidur, makan, pembelajaran matematika menggunakan SOEMPPU) mencapai lebih dari 60%, yaitu 95,31%. Dengan demikian, aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat dikatakan aktif.
Hasil Belajar Siswa
Hasil analisis data hasil belajar siswa merupakan akumulasi dari rata-rata nilai LKS selama dua pertemuan dan nilai tes pada pertemuan ketiga setelah dilaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU. Hasil belajar siswa disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 5. Rekapitulasi Data Hasil Belajar Siswa
No. KodeSisw
2 ARE 87,5 100 95 Tuntas
3 AR 85 80 82 Tuntas
4 ADM 92,5 100 97 Tuntas
5 APS 92,5 100 97 Tuntas
6 BDP 80 90 86 Tuntas
7 BRWP 75 80 78 Tuntas
8 CAA 85 100 94 Tuntas
9 CDA 87,5 100 95 Tuntas
10 DR 87,5 70 77 Tuntas
11 DFA 92,5 80 85 Tuntas
12 FDC 80 90 86 Tuntas
13 FER 80 100 92 Tuntas
14 HAA 92,5 90 91 Tuntas
No. KodeSisw
17 MA 75 70 72 TuntasTidak
18 MRR 80 100 92 Tuntas
19 NM 85 100 94 Tuntas
20 NFG 75 90 84 Tuntas
21 NSR 90 95 93 Tuntas
22 NH 92,5 70 79 Tuntas
23 NHWL 85 100 94 Tuntas
24 QS 90 80 84 Tuntas
25 RDO 90 95 93 Tuntas
26 SAK 85 90 88 Tuntas
27 SNQ 92,5 70 79 Tuntas
28 SA 80 100 92 Tuntas
29 TAF 87,5 100 95 Tuntas
30 TPH 80 80 80 Tuntas
31 TJ 80 80 80 Tuntas
32 VR 57,5 70 65 TuntasTidak
33 WH 90 90 90 Tuntas
34 YDD 75 90 84 Tuntas
Berdasarkan Tabel 5 didapat persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 94,12% (32 siswa mendapat nilai hasil belajar ≥75). Jadi dapat disimpulkan ketuntasan belajar klasikal tercapai.
Respons Siswa
Data respons siswa diperoleh dari angket yang diberikan kepada siswa pada pertemuan ketiga setelah tes hasil belajar selesai dilakukan. Hasil analisis data hasil respons siswa disajikan sebagai berikut.
Tabel 6. Data Hasil Respons Siswa
No. Pernyataan %NRS Kategori
7. Guru tidak membantu saya selama pembelajaran. banyaknya respons siswa yang termasuk dalam kategori sangat kuat mencapai 50%. Sesuai indikator yang ditetapkan yaitu jika ≥ 50% dari seluruh butir pernyataan termasuk dalam kategori sangat kuat atau kuat maka respons siswa dikatakan positif, sehingga dapat dikatakan respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU termasuk positif.
Pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat dikatakan efektif karena telah disimpulkan deskripsi efektivitas pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU ditinjau dari empat aspeksebagai berikut.
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
Sehingga pengelolaan pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU tergolong baik dengan skor rata-rata sebesar 3,47.
2. Setiap kategori aktivitas yang relevan dengan pembelajaran telah dilaksanakan oleh siswa seperti mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, mengajukan pertanyaan, mengutarakan pendapat, mengerjakan tugas, berdiskusi dengan teman, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, dan menanggapi hasil presentasi. Sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat dikatakan aktif
dengan jumlah persentase aktivitas yang relevan mencapai lebih dari 60%, yaitu 95,31%.
3. Hasil belajar dari 32 siswa melebihi nilai KKM yang ditentukan sekolah sehingga nilai hasil belajar siswa secara klasikal dikatakan tuntas. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat dikatakan tercapai dengan lebih dari 80%, yaitu 94,12% siswa tuntas secara klasikal.
4. Dari 10 pernyataan hasil respons siswa 5 pernyataan termasuk dalam kategori sangat kuat dan 5 pernyataan termasuk dalam kategori kuat sehingga respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU di kelas VIIIA SMP Negeri 3 Krian dikatakan positif.
Berdasarkan kesepakatan awal dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat dikatakan efektif. Hal ini berarti pembelajaran ini dapat diterapkan dan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran.
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut.
1. Bagi guru supaya menerapkan pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dengan persiapan pembelajaran yang baik terutama pemberian atensi yang kuat saat pembelajaran agar siswa tetap terkondisi walau terdapat kejadian yang tidak diinginkan sehingga setiap langkah-langkah pembelajaran matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat berjalan secara maksimal.
2. Bagi para peneliti yang hendak melakukan penelitian serupa, disarankan untuk meminimalkan kelemahan yang ada pada penelitian ini, seperti membuat pernyataan angket respons sehingga bahasanya dapat mudah diserap oleh siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, Firman. 2014. Efektivitas Pembelajaran Induktif berbantuan Geogebra pada Materi Garis Singgung Persekutuan Dua Lingkaran di Kelas VIII SMP Negeri 1 Surabaya.
Arifin, Zaenal. 2010. Membangun Kompetensi Pedagogis Guru Matematika. Surabaya: Lentera Cendikia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi V. Jakarta: Rineka
Asih, Siti Surya. 2013. Efektivitas Strategi Quick On The Draw pada Materi Tabung dan Kerucut di Kelas IX SMP Negeri 31 Surabaya. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Dirjen Dikti. 2013. Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan (Lampiran). Jakarta: Depdiknas.
Fatmawati, Anisa. 2014. Penerapan Pendekatan Auditory Intellectually Repetition(AIR) pada Materi Pertidaksamaan di Kelas X-C SMAN 1 Kauman Tulungagung. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia.
Masriyah. 2006. Modul 9 Penyusunan Non Tes. Surabaya: Universitas Terbuka.
Mahmudi, Ali. 2008. Mengembangkan Soal Terbuka(Open-Ended Problem) dalam Pembelajaran Matematika, (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Ali%20Mahmudi,%20S.Pd,%20M.Pd,
%20Dr./Makalah%2002%20PIPM%202008%20_Mengembangkan%20Soal%20Terbuka_.pdf, diunduh 2 Oktober
2015).
Murdaningsih, Dwi. 11 juni 2015. Nilai UN SMP Menurun, Ada Apa?,(Online),
(http://m.republika.co.id/berita/pendidikan/education/15/06/11/nprxlv-nilai-un-smp-menurun-ada-apa, diakses 27 November 2015)
Nur, Mohamad dan Budayasa, I Ketut. 2010. Teori Pembelajaran Perilaku. Surabaya: UNIPRESS. Nur, Mohamad. 2010. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya: UNIPRESS.
Santrock, John W. Terjemahan oleh Harya Bhimasena. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika. Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tim Redaksi Pustaka Baru Press. 2015. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.