• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAS LINGKUNGAN HIDUP SLHD 2015 Buku I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DINAS LINGKUNGAN HIDUP SLHD 2015 Buku I"

Copied!
283
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

v-1 Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

ABSTRAK

Penyusunan status lingkungan hidup daerah Provinsi Jambi ini menggunakan pendekatan atau model P-S-R (Pressure-State-Response) dalam analisanya, dengan didasarkan pada hubungan sebab akibat (kausalitas) antara penyebab permasalahan, kondisi lingkungan hidup, dan upaya mengatasinya, dimana kegiatan manusia memberikan tekanan kepada lingkungan hidup (pressure)dan menyebabkan perubahan pada sumber daya alam dan lingkungan hidup baik secara kualitas maupun kuantitas (state). Selanjutnya pemerintah dan masyarakat (stakeholder) melakukan reaksi terhadap perubahan ini baik melakukan adaptasi maupun mitigasi melalui berbagai kebijakan, program, maupun kegiatan(societal respons).

Isu utama pada tahun 2015 yang perlu mendapat perhatian serius ada 3 (tiga) yaitu : (1). Kebakaran Lahan dan Hutan, (2). Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas, dan (3). Konflik Lahan dan Hutan.

Isu kebakaran lahan dan hutan pada tahun 2015 menjadi perhatian nasional dan dunia. Provinsi Jambi menjadi salah satu provinsi yang kebakaran lahan dan hutannya menyebabkan kabut asap di Sumatera dan sampai ke Negara tetangga Malaysia dan Singapura dan dalam kategori tanggap darurat bencana. Akibat bencana ini maka perekonomian Provinsi Jambi menjadi terhambat dan cenderung menurun. Berdasarkan kajian ekonomi regional oleh Bank Indonesia pertumbuhan ekonomi turun 4,21 % dan ini dibawah pertumbuhan ekonomi nasional 4,79 %.

Isu pertambangan tanpa izin khususnya untuk bahan galian emas telah menyebabkan terjadinya kerusakan lahan. Sehingga lahan-lahan yang di eksploitasi oleh penambang tersebut tidak dapat lagi dimanfaatkan untuk pertanian. Demikian pula dengan kualitas air dari sungai-sungai yang mengalir pada kawasan pertambangan menjadi tercemar sehingga tidak dapat lagi di manfaatkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari rumah tangga.

Isu konflik lahan dan hutan antara masyarakat masih menjadi masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah, baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Konflik tenurial ini sudah terjadi dari tahun ketahun yang proses penyelesaiannya masih dalam pembicaraan dan negosiasi yang difasilitasi oleh pemerintah. Pada tahun 2015 muncul konflik baru yang sebenarnya adalah permasalahan lama yang dapat diselesaikan pada satu kelompok, kemudian terdapat kelompok lain yang menggugat kembali menjadi isu baru.

(2)

v-2 40%. Kondisi ini juga menyebabkan penurunan IKLH, oleh karena berkurangnya tutupan hutan akibat dari kebakaran lahan dan hutan.

(3)

Daftar Isi

DI-ii Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

DAFTAR ISI

C. Pemanfaatan Laporan SLHD ……….. I-11

1. Pemanfaatan Internal ………... I-9 2. Pemanfaatan Eksternal ………... I-12 D. Isu Utama Lingkungan Hidup di Provinsi Jambi Tahun 2015 … I-14 1. Kebakaran Lahan dan Hutan ……….. I-14 a. Status ………... I-15 b. Tekanan ………... I-18 c. Respon ……….... I-23 2. Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas …... I-33 a. Status ………... I-33

E. Indek Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Daerah Provinsi Jambi I-47 1. Indikator dan Parameter IKLH ………... I-48 a. Kualitas Air Sungai ………... I-49 b. Kualitas Udara Ambien ………... I-50 c. Tutupan Hutan ………... I-51 2. Hasil Perhitungan IKLH ………... I-51 a. Indeks Pencemaran Air (IPA) ………... I-53 b. Indeks Pencemaran Udara (IPU) ………... I-54 c. Indeks Tutupan Hutan (ITH) ………... I-55 d. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) ……... I-56 F. Kebijakan Pembangunan Lingkungan Hidup di Provinsi Jambi .. I-58 BAB II. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA.. II-1

(4)
(5)

Daftar Isi

DI-iv Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

f). Nitrit …………... II-54 2. Danau/Waduk/Situ/Embung …………...…………..…... II-80 a. Inventarisasi DanauWaduk/Situ/Embung ……... II-80 b. Pemantauan Kualitas Air Danau/Waduk/Situ/Embung . II-81 3. Air Sumur/Air Tanah .………..…... II-83

D. Udara ……….. II-85

1. Kualitas Udara ………... II-85 a. Parameter Sulfur Dioksida (SO2) ………... II-86 b. Parameter Nitrogen Dioksida (NO2) …………..…... II-88 c. Parameter Oksidan (O3) ………..…... II-90 4. Luas dan Kerapatan Tutupan Mangrove …………... II-96

F. Iklim ………. II-98

(6)

DI-v A. Kependudukan ………... III-2

1. Jumlah Penduduk ………... III-2 2. Pertumbuhan Penduduk ………... III-3 3. Kepadatan Penduduk ………... III-4 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... III-6 5. Pola Migrasi Penduduk …………....………... III-7 6. Pendidikan ……….………... III-8 7. Penduduk di Wilayah Pesisir dan Laut ………….... III-10 B. Permukiman ………... III-11 1. Jumlah Rumah Tangga Miskin ………... III-12 2. Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum ... III-13 3. Jumlah Rumah Tangga dan Fasilitas Tempat Buang

Air Besar ………....………..……... III-15 4. Jumlah Rumah Tangga dan Perkiraan Timbulan Sampah

Per Hari ………... III-15

C. Kesehatan ………... III-17

1. Jenis Penyakit Utama Yang Diderita Penduduk ... III-18 2. Limbah Padat dan Limbah Cair dari Rumah Sakit ... III-19 D. Pertanian ………..…... III-20 1. Lahan Perkebunan ………... III-21 2. Lahan Sawah ………...…... III-26 3. Peternakan ………..…... III-31 a. Hewan Ternak ...…... III-31 b. Hewan Unggas ………..…... III-34

E. Industri ………..…. III-37

1. Industri Minyak Sawit (CPO) ………...…... III-40 2. Industri Karet (CRF) ………... III-41 3. Industri Migas dan Panas Bumi ... III-41 4. Industri Plywood ………...…………... III-41 5. Industri Mie Instan ………..………... III-41 6. Industri Teh ………..……... III-42 7. Industri Pulp and Paper ………... III-42 F. Pertambangan ………...………..…… III-42 G Pariwisata ………...………..… III-46 1. Obyek Wisata ………... III-46 2. Hotel dan Penginapan .………... III-48

H. Limbah B3 ………... III-49

(7)

Daftar Isi

DI-vi Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

BAB IV.UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN ………... IV-1 A. Rehabilitasi Lingkungan ………... IV-1 1. Realisasi Kegiatan Penghijauan ………... IV-2 2. Realisasi Kegiatan Reboisasi ………... IV-4 3. Kegiatan Fisik Lainnya Terhadap Perbaikan Kondisi

Lingkungan ………... IV-6 B. Dokumen Izin Lingkung...……...…...…... IV-1 1. Rekomendasi Dokumen Izin Lingkungan... IV-11 2. Pengawasan Izin Lingkungan ……... IV-12 C. Penegakan Hukum ………...…... IV-11

1. Jenis Pengaduan Masyarakat Terhadap Masalah

Lingkungan ………... IV-13 2. Status Pengaduan Masyarakat ………... IV-15 D. Peran Serta Masyarakat ………... IV-16 1. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ………... IV-16 a. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) ……... IV-17 b. Wahana Pelestarian Alam dan Advokasi Hutan

Sumatera (Walestra) …...……... IV-17 c. Frankfurt Zoological Society (FZL) ………... IV-18 d. Yayasan Setara ………...…... IV-18 e. Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau

Sumatera (PKHS) …………...…... IV-18 f. Yayasan CAPPA-Keadilan Ekologi ... IV-19 g. Gita Buana ………..………... IV-20 h. The Zoological Society of London (ZSL) ………... IV-20 2. Penghargaan Lingkungan Hidup ………... IV-21 3. Kegiatan Sosialisasi Lingkungan Hidup ………... IV-24 E. Kelembagaan ………....…... IV-24 1. Produk Hukum Bidang Lingkungan Hidup ………... IV-25 2. Lembaga Pengelola Lingkungan Hidup ………... IV-26 3. Anggaran Pengelolaan Lingkungan Hidup ………... IV-28 4. Upaya Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan diProvinsi

Jambi ... IV-30

(8)

iv

Nomor Nama Gambar Halaman

Gambar 1.1 Grafik Kajian Ekonomi dan Keuangan RegionalProvinsi Jambi 2009 - 2015

I-7

Gambar 1.2 Fosil fauna yang membatu I-9

Gambar 1.3 Fosil Flora yang membatu I-9

Gambar 1.4 Danau Gunung Tujuh Yang Keberadaannya dikelilingi oleh 7 (tujuh) buah gunung

I-10

Gambar 1.5 Wisata Gunung Tujuh dengan Perahu Kano Masyarakat Setempat

I-10

Gambar 1.6 Pemeluk Agama Budha Sedang Beribadah di Candi Muaro Jambi.

I-10

Gambar 1.7 Penemuan Makara oleh Pendeta Budha I-10

Gambar 1.8 Situs BLHD Provinsi Jambi blhd.jambiprov.go.id I-13 Gambar 1.9 Situs BLHD Provinsi Jambi http://jambi.silh.menlh.go.id I-14 Gambar 1.9 Peta sebaran titik api pada tanggal 28 Oktober 2015 I-17 Gambar 1.10 Grafik sebaran Nilai Indeks Standar Pencemar Udara pada

saat bencana asap di Provinsi Jambi bulan September sampai November 2015

I-19

Gambar 1.11 Grafik Komulatif kasus ISPA per Minggu di Provinsi Jambi sampai minggu 44 tahun 2015

I-20

Gambar 1.12 Sebaran Hotspot di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Riau

I-21

Gambar 1.13 Dampak asap pada tanggal 24 Oktober 2015 I-22 Gambar 1.14 Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas

di Wilayah Kabupaten Sarolangun Tahun 2015.

I-35

Gambar 1.15 Dampak Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas di Sungai Batang Merangin Muara Sungai Masumai Kabupaten Merangin Tahun 2015.

I-37

Gambar 1.16 BanyaknyaKonflik Lahan dan Hutan Yang Terjadi di Provinsi Jambi Dari Tahun 1988 Sampai Tahun 2015.

I-42

Gambar 1.17 Sebaran Konflik Lahan dan Hutan Yang Terjadi di Provinsi Jambi Dari Tahun 1988 Sampai Tahun 2015.

I-43

Gambar 1.18 Jenis Konflik Lahan dan Hutan Yang Terjadi di Provinsi JambiDari Tahun 1988 Sampai Tahun 2015.

I-44

Gambar 2.1 Luas Wilayah Kabupaten/Lota di Provinsi Jambi Tahun 2015 II-3 Gambar 2.2 Penggunaan Lahan di Provnsi Jambi Tahun 2015 II-4 Gambar 2.3 Penggunaan Lahan Non Pertanian di Provinsi Jambi Tahun

2015

II-5

Gambar 2.4 Penggunaan Lahan Sawah di Provinsi Jambi Tahun 2015 II-6 Gambar 2.5 Penggunaan Lahan Kering di Provinsi Jambi Tahun 2015 II-7 Gambar 2.6 Lahan Perkebunan di Provinsi Jambi Tahun 2015 II-8 Gambar 2.7 Luasan Hutan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 II-9 Gambar 2.8 Luasan Badan Air di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 II-10 Gambar 2.9 Luasan Kawasan Hutan Menurut Statusnya di Provinsi Jambi

Tahun 2015.

II-12

Gambar 2.10 Kawasan Lindung Berdasarkan RTRW Provinsi Jambi Tahun 2015

II-20

Gambar 2.11 Luas Penutupan Lahan di Dalam dan Luar Kawasan Hutan di Provinsi Jambi Tahun 2015

(9)

Daftar Gambar

v Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

Gambar 2.12 Lausan Kawasan Berhutan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015

II-24

Gambar 2.13 Grafik Luasan Lahan Terdeforestasi di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015

II-25

Gambar 2.14 Luas Lahan Kritis di Provinsi Jambi Tahun 2015 II-26 Gambar 2.15 Flora dan Fauna yang dilindungi yang di Taman Nasional

Kerinci Sebelat

II-35

Gambar 2.16 Flora dan Fauna yang di Lindungi Di Taman Nasional Berbak II-37 Gambar 2.17 Hewan Langka Jenis Gajah Yang Mati di Bunuh Pemburu

Liar di Kawasan Hutan Kabupaten Tebo

II-41

Gambar 2.18 Grafik Konsentrasi TSS Air Sungai Batanghari Tahun 2015 II-49 Gambar 2.19 Grafik Konsentrasi BOD Air Sungai Batanghari Tahun 2015 II-50 Gambar 2.20 Grafik Konsentrasi CL2 Air Sungai Batanghari Tahun 2015 II-51 Gambar 2.21 Grafik Konsentrasi T-P Air Sungai Batanghari Tahun 2015 II-52 Gambar 2.22 Grafik Konsentrasi Fecal Coliform Air Sungai Batanghari

Tahun 2015

II-53

Gambar 2.23 Grafik Konsentrasi Total Coliform Air Sungai Batanghari Tahun 2015

II-54

Gambar 2.24 Grafik Konsentrasi Nitrit Air Sungai Batang Hari Tahun 2015 II-55 Gambar 2.25 GrafikKonsentrasi TSS Air Sungai Batang Merangin Tahun

2015

II-58

Gambar 2.26 GrafikKonsentrasi BOD Air Sungai Batang Merangin Tahun 2015

II-59

Gambar 2.27 GrafikKonsentrasi DO Air Sungai Batang Merangin Tahun 2015

II-60

Gambar 2.28 Grafik Nilai pH Air Sungai Batang Tebo Tahun 2015 II-63 Gambar 2.29 Grafik Nilai TSS Air Sungai Batang Tebo Tahun 2015 II-64 Gambar 2.30 Grafik pH Air Sungi Batang Bungo Tahun 2015 II-67 Gambar 2.31 Grafik TSS Air Sungi Batang Bungo Tahun 2015 II-68 Gambar 2.32 Grafik Nilai pH Sungai Batang Tabir Tahun 2015 II-71 Gambar 2.32 Grafik Nilai DO Sungai Batang Tabir Tahun 2015 II-72 Gambar 2.33 Grafik Nilai TSS Sungai Batang Tabir Tahun 2015 II-73 Gambar 2.34 Grafik Nilai pH Sungai Batang Tembesi Tahun 2015 II-76 Gambar 2.35 Grafik Nilai DO Sungai Batang Tembesi Tahun 2015 II-77 Gambar 2.36 Grafik Konsentrasi TSS Air Sungai Batang Tembesi

Tahun 2015

II-77

Gambar 2.37 Grafik Konsentrasi SO2 di Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2015

II-87

Gambar 2.38 Grafik Konsentrasi SO2 di Beberapa Kawasan di Provinsi Jambi Tahun 2015

II-88

Gambar 2.39 Grafik Konsentrasi NO2 di Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2015.

II-90

Gambar 2.40 Grafik Konsentrasi NO2 di Beberapa Kawasan di Provinsi Jambi Tahun 2015.

II-90

Gambar 2.41 Grafik Konsentrasi O3 di Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2015.

II-91

Gambar 2.42 Grafik Konsentrasi O3 di Beberapa Kawasan di Provinsi Jambi Tahun 2015

II-92

Gambar 2.43 Grafik Curah Hutan Rata-Rata Pada Masing-Masing Stasiun Pengamatan Tahun 2014

II-100

Gambar 2.44 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Bulanan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015

(10)

vi Sultan Thaha Jambi Tahun 2014 dan 2015.

Gambar 2.47 Grafik Suhu Udara Rata-Rata Bulanan Stasiun Bandara Depati Parbo Kerinci Tahun 2014 dan 2015

II-116

Gambar 3.1 Jumlah penduduk dan persebaraannya di Kab/Kota Provinsi Jambi.

III-3

Gambar 3.2 Grafik Pertumbuhan Penduduk Provinsi Jambi Tahun 2015 III-4 Gambar 3.3 Grafik Kepadatan Penduduk Provinsi Jambi Tahun 2015 III-5 Gambar 3.4 Perbandingan Jumlah Penduduk Laki-laki dan Perempuan

Tahun 2015.

III-6

Gambar 3.5 Perbandingan Tingkat Pendidikan di Provinsi Jambi Tahun 2015.

III-10

Gambar 3.6 Angka Kemiskinan Provinsi Jambi diBandingkan Angka Kemiskinan Nasional

III-13

Gambar 3.7 Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum di Provinsi Jambi

III-13

Gambar 3.8 Penggunaan Sumber Air di Provinsi Jambi III-14 Gambar 3.9 Jumlah Timbulan Sampah di Wilayah Provinsi Jambi III-15 Gambar 3.10 Perbandingan Jumlah Penyakit Utama yang Diderita

Penduduk Provinsi Jambi Tahun 2015

III-19

Gambar 3.11 Total Hasil Produksi Dari Komoditi Perkebunan di Provinsi Jambi.

III-22

Gambar 3.12 Perbandingan Pemakaian Pupuk Pada Lahan Perkebunan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2014 – 2015.

III-23

Gambar 3.13 Perbandingan Pemakaian Pupuk untuk Tanaman Padi di Provinsi Jambi Tahun 2015

III-27

Gambar 3.14 Perbandingan Pemakaian Pupuk untuk Tanaman Palawija di Provinsi Jambi Tahun 2015

III-27

Gambar 3.15 Perkiraan Emisi CH4 dari Lahan Sawah di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015

III-30

Gambar 3.16 Jenis Hewan Ternak Tercatat di Provinsi Jambi tahun 2015 III-32 Gambar 3.17 Peningkatan pemotongan populasi Ternak di Provinsi Jambi

Tahun 2015.

III-34

Gambar 3.18 Beban Pencemaran Limbah Cair Berdasarkan Jenis Industri di Provinsi Jambi Tahun 2015

III-39

Gambar 3.19 Total Luas Areal Terendam Banjir Tahun 2015 di Wilayah ProvinsiJambi

III-53

Gambar 3.20 Perkiraaan Kerugian Akibat Banjir di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015

III-53

Gambar 3.21 Perkiraan Kerugian akibat Bencana kebakaran Hutan/Lahan di Provinsi Jambi Tahun 2015.

III-55

Gambar 4.1 Jenis Pengaduan Masyarakat Terhadap Masalah Lingkungan Provinsi Jambi Tahun 2015

IV-14

(11)

Daftar Tabel

DT-iii Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

DAFTAR TABEL

Nomor Nama Tabel Halaman

Tabel 1.1 Luas Wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Beserta Jumlah Penduduknya Tahun 2015 ...

I-3

Tabel 1.2 Jumlah Titik Api di Wilayah Provinsi Jambi Periode Tahun

2012-2015 ………...

I-16

Tabel 1.3. Data Indeks Standar Pencemar Udara bulan September sampai

19 November 2015 ...

I-18

Tabel 1.4 Jumlah kasus ISPA per Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi selama masa siaga tanggap darurat 2015 ...

I-20

Tabel 1.5 Peklaksanaan Operasi Darat ... 1. Kabupaten Tanjung Jabung Barat ... 2. Kabupaten Tanjung Jabung Timur ... 3. Kabupaten Muaro Jambi ... 4. Kabupaten Batanghari ... 5. Kabuapten Tebo ... 6. Kabupaten Sarolangun ... 7. Kabupaten Merangin... 8. Kota Jambi ... Tabel 1.7 Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Merangin ... I-34 Tabel 1.8 Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Bungo ... I-34 Tabel 1.9 Aktivitas PETI di Kabupaten Sarolangun ... I-34 Tabel 1.10 PelaksanaanKegiatan Pemberantasan PETI Di Provinsi Jambi I-38 Tabel 1.11 Komponen Penyusun IKLH Provinsi Jambi Tahun 2015 ... I-48 Tabel 1.12 IKLH Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2015 ... I-52 Tabel 1.13 Indeks Pencemaran Air (IPA) Kabupaten/Kota di Provinsi

Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

I-53

Tabel 1.14 Indeks Pencemaran Udara (IPU) Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

I-55

Tabel 1.15 Indeks Tutupan Hutan (ITH) Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

I-56

Tabel 1.16 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

I-57

Tabel 1.17 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

I-58

Tabel 2.1 Luas Penggunaan Lahan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2014-2015 ...

II-3

Tabel 2.2 Luasan Kawasan Hutan Lindung di Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

Tabel 2.5 Luasan Kawasan Hutan Produksi Konversi di Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-19

Tabel 2.6 Luasan Kawasan Hutan Menurut Fungsinya di Wilayah Provinsi Jambi ...

(12)

DT-iv Tabel 2.8 Tutupan Lahan di Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya di

Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

II-22

Tabel 2.9 Kawasan Berhutan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2013 dan 2014 ...

II-24

Tabel 2.10 Lahan Kritis Di Dalam dan Di Luar Kawasan Hutan di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

II-27

Tabel 2.11 Kerusakan Hutan di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ... II-30 Tabel 2.12 Sungai di Wilayah Provinsi Jambi Menurut Kelasnya ... II-44 Tabel 2.13 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Hari yang Tidak

Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-47

Tabel 2.14 Perbandingan Persentase Pemantauan Terhadap Lokasi Pemantauan Parameter yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Hari Tahun 2014 dan 2015 ...

II-55

Tabel 2.15 Perbandingan Konsentrasi Parameter yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Hari Tahun 2013 dan 2014 ...

II-56

Tabel 2.16 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Merangin yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-61

Tabel 2.17 Perbandingan Persentase Pemantauan Terhadap Lokasi Pemantauan Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Merangin Tahun 2014 dan 2015 ...

II-61

Tabel 2.18 Perbandingan Konsentrasi Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Merangin Tahun 2014 dan 2015 ...

II-61

Tabel 2.19 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Tebo Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-62

Tabel 2.20 Perbandingan Persentase Pemantauan Terhadap Lokasi Pemantauan Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Tebo Tahun 2014 dan 2015 ...

II-65

Tabel 2.21 Perbandingan Konsentrasi Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Tebo Tahun 2013 dan 2014 ...

II-65

Tabel 2.22 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Bungo Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2014 ...

II-66

Tabel 2.23 Perbandingan Persentase Pemantauan Terhadap Lokasi Pemantauan Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Bungo Tahun 2014 dan 2015

II-69

Tabel 2.24 Perbandingan Konsentrasi Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Bungo Tahun 2014 dan 2015 ...

II-70

Tabel 2.25 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Tabir Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-70

Tabel 2.26 Perbandingan Persentase Pemantauan Terhadap Lokasi Pemantauan Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Tabir Tahun 2014 dan 2015 ...

II-74

Tabel 2.27 Perbandingan Konsentrasi Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Tabir Tahun 2014 dan 2015 ...

II-74

Tabel 2.28 Parameter Kualitas Air Sungai Batang Tembesi Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-75

Tabel 2.29 Perbandingan Persentase Pemantauan Terhadap Lokasi Pemantauan Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Tembesi Tahun 2014 dan 2015 ...

II-78

Tabel 2.30 Perbandingan Konsentrasi Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Sungai Batang Tembesi Tahun 2013 dan 2014 ...

(13)

Daftar Tabel

DT-v Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015

Tabel 2.31 Sungai-Sungai di Provinsi Jambi dan Parameter Pencemarnya Tahun 2015 ...

II-79

Tabel 2.32 Hasil Pemantauan Kualitas Air Danau Sipin Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-82

Tabel 2.33 Hasil Pemantauan Kualitas Air Danau Kerinci Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Tahun 2015 ...

II-83

Tabel 2.37 Konsentrasi Parameter Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan di Wilayah Provinsi Jambi ...

Tabel 2.41 Kualitas Air Hujan Di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

II-102

Tabel 2.42 Parameter Yang Tidak Memenuhi Baku Mutu Air Laut di Provinsi Jambi Tahun 2014 ...

II-102

Tabel 2.43 Tutupan Vegetasi Mangrove di Wilayah Provinsi Jambi ... II-104 Tabel 2.44 Tabel Analisa Curah Hujan Bulan Januari di Wilayah

Provinsi Jambi Tahun 2014 ...

II-104

Tabel 2.45 Tabel Analisa Curah Hujan Bulan Februari di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-105 Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-108

Tabel 2.52 Tabel Analisa Curah Hujan Bulan September di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-110

Tabel 2.53 Tabel Analisa Curah Hujan Bulan Oktober di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-111

Tabel 2.54 Tabel Analisa Curah Hujan Bulan November di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-112

Tabel 2.55 Tabel Analisa Curah Hujan Bulan Desember di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

II-112

Tabel 2.56 Tabel Analisa Sifat Hujan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2014 ...

II-114

(14)

DT-vi

Tabel 3.4 Status Kepemilikan Rumah Sakit di Wilayah Provinsi Jambi ... III-20 Tabel 3.5 Penggunaan Jenis Pupuk di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan

2015 ...

III-23

Tabel 3.6 Perhitungan Emisi CO2 dari Tanaman Perkebunan di Wilayah . III-25 Tabel 3.7 Pemakaian Pupuk Untuk Tanaman Padi dan Palawija di

Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

III-26

Tabel 3.8 Pemakaian Pupuk Pada Tanaman Padi dan Palawija di Wilayah Provinsi Jambi pada Tahun 2014 dan 2015 ...

III-28

Tabel 3.9 Perhitungan Emisi CO2 dari Tanaman Padi dan Palawija di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

III-29

Tabel 3.10 Peningkatan Jumlah Populasi Ternak dari 2013 – 2015 di Provinsi Jambi ...

III-34

Tabel 3.11 Jumlah Emisi metana dari pengelolaan kotoran Ternak

di Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

III-36

Tabel 3.12 Jumlah Emisi Metana dari Fermentasi Enterik diProvinsi Jambi Tahun 2015 ...

III-37

Tabel 3.13 Jumlah Produksi Industri di Provinsi Jambi Tahun 2015 ... III-38 Tabel 3.14 Total Beban Pencemaran dari Industri di Provinsi Jambi

Tahun 2015 ...

III-40

Tabel 3.15 Luas Areal Pertambangan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

III-42

Tabel 3.16 Lokasi Obyek Wisata, Jumlah Pengunjung dan Luas Kawasan di Provinsi Jambi Tahun 2015 ...

III-47

Tabel 3.17 Sarana Hotel di Provinsi Jambi Tahun 2015 ... III-47 Tabel 3.18 Rekapitulasi Perhitungan Beban Limbah B3 di Provinsi Jambi

2015 ...

III-48

Tabel 4.1 Realisasi Kegiatan Penghijauan Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

IV-4

Tabel 4.2 Realisasi Kegiatan Reboisasi Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Tahun 2014 dan 2015 ...

IV-6

Tabel 4.3 Jumlah Staf Fungsional di Lingkup Pemerintah Provinsi Jambi Tahun 2013 dan 2014 ...

IV-28

(15)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemerintah daerah dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya memiliki landasan hukum yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang ini dengan tegas memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan ke daerah sebagai dasar pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana tersebut dalam Pasal 9 ayat 4. Selanjutnya pada pasal 11 ayat 1 dan ayat 3 dinyatakan bahwa urusan pemerintahan konkuren terdiri atas urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan, dimana urusan pemerintahan wajib terdiri atas urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 12 ayat 2 huruf e merupakan urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.

Selain itu dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, pada Pasal 7 ayat 2 dan ayat 3 dinyatakan bahwa badan publik wajib menyediakan informasi publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan melalui pembangunan dan pengembangan system informasi dan dokumentasi untuk mengelola informasi publik secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah. Lebih lanjut dalam Pasal 8 disebutkan bahwa kewajiban badan publik yang berkaitan dengan kearsipan dan pendokumentasian informasi publik dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(16)

Pasal 62 Bab VIII tentang Sistem Informasi. Dalam Pasal 62 ayat 1 disebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem informasi lingkungan hidup untuk mendukung pelaksanaan dan pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Lebih lanjut pada ayat 3 disebutkan bahwa sistem informasi lingkungan hidup paling sedikit memuat informasi mengenai status lingkungan hidup, peta rawan lingkungan hidup dan informasi lingkungan hidup lain.

Pelaporan status lingkungan hidup sebagai sarana penyediaan data dan informasi lingkungan hidup yang disediakan secara berkala dapat menjadi alat yang berguna dalam menilai, menentukan prioritas masalah, membuat rekomendasi bagi penyusunan kebijakan dan perencanaan untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup, dan menerapkan mandat pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas publik sebagaimana telah diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014, Undang Nomor 14 tahun 2008 dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 di atas, Pemerintah Provinsi Jambi menyusun Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi Tahun 2015 yang memuat informasi tentang isu-isu lingkungan hidup, kondisi lingkungan hidup dan kecenderungannya, tekanan terhadap lingkungan, dan upaya pengelolaan lingkungan di Provinsi Jambi selama tahun 2015, yang dalam penyusunannya di bagi dalam 2 (dua) buah buku yaitu buku I berupa Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi Tahun 2015 dan buku II berupa Buku Data Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi Tahun 2015.

B. Profil Daerah Provinsi Jambi

(17)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 3 Undang-Undang Piagam Pencacahan Kisah Negeri Jambi yang ditulis oleh Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari pada tahun 1937 M.

Pada kitab tersebut tertulis, makna Sepucuk Jambi tersebut adalah Pulau Umak dimana durian di takuk rajo sebelah ulu sialang belantak besi antara dengan tanah Minangkabau. Sedangkan makna dari Sembilan Lurah merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang meliputi 9 (sembilan) lurah yang dialiri oleh anak-anak Sungai Batang Hari yaitu 1). Sungai Batang Asai; 2).Sungai Batang Merangin; 3).Sungai Batang Masurai; 4). Sungai Batang Tabir; 5). Sungai Batang Senamat; 6).Sungai Batang Jujuhan; 7). Sungai Batang Bungo; 8). Sungai Batang Tebo; dan 9). Sungai Batang Tembesi. Wilayah Kesultanan Melayu Jambi tersebut meliputi wilayah pemerintahan Rang Kayo Hitam yaitu VIII-IX Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan.

(18)

Dengan luas wilayah Provinsi Jambi 50.160,05 km2, luasan masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Jambi beserta jumlah penduduknya pada tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. LuasWilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Beserta Jumlah Penduduknya Tahun 2015.

No. Kabupaten/Kota Luas (km2) Jumlah Penduduk

1. Kabupaten Kerinci 3.355,27 234,882

2. Kabupaten Merangin 7.679,00 366,315

3. Kabupaten Sarolangun 6.184,00 278,222

4. Kabupaten Batanghari 5.804,00 260,631

5. Kabupaten Muaro Jambi 5.326,00 399,157

6. Kabupaten Tanjung Jabung Timur 5.445,00 213,670

7. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 4.649,85 310,914

8. Kabupaten Tebo 6.461,00 330,962

9. Kabupaten Bungo 4.659,00 344,100

10. Kota Jambi 205,43 576,067

11. Kota Sungai Penuh 391,50 87,132

Total 50.160,05 3,402,052

Sumber : Data Olahan Tabel DE-1 Buku Data SLHD Provinsi Jambi Tahun 2015.

(19)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 5 1). Daerah dataran rendah 0 - 100 meter, berada di wilayah timur sampai

tengah. Daerah dataran rendah ini terdapat di Kota Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagian Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan kabupaten Merangin.

2). Daerah dataran sedang dengan ketinggian 100 - 500 meter berada di wilayah tengah. Daerah dengan ketinggian sedang ini terdapat di Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin serta sebagian Kabupaten Batanghari.

3). Daerah dataran tinggi dengan ketinggian > 500 meter berada di wilayah barat. Daerah dataran tinggi ini terdapat di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh serta sebagian Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin.

Terdapat sungai-sungai besar yang membentuk 5 (lima) buah Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Provinsi Jambi yaitu DAS Batanghari, DAS Tungkal, DAS Mendahara, DAS Air Hitam dan DAS Air Dikit. Dari kelima DAS tersebut, DAS Batanghari merupakan DAS yang paling besar dibandingkan keempat DAS lainnya. DAS Batanghari dengan sungai utamanya adalah Sungai Batang Hari yang terbagi menjadi 5 (lima) Sub DAS yaitu Sub DAS Batang Merangin dengan sungai utamanya Sungai Batang Merangin, Sub DAS Batang Bungo dengan sungai utamanya Sungai Batang Bungo, Sub DAS Batang Tebo dengan sungai utamanya Sungai Batang Tebo, Sub DAS Batang Tabir dengan sungai utamanya Sungai Batang Tabir, dan Sub DAS Batang Tembesi dengan sungai utamanya Sungai Batang Tembesi.

(20)

hujan/kemarau, dan kenaikan muka air laut, akan mengancam daya dukung lingkungan dan kegiatan seluruh sektor pembangunan. Sepanjang tahun 2015, Provinsi Jambi memiliki karakteristik curah hujan bervariasi mulai dari bawah normal hingga atas normal. Rata-rata curah hujan bulanan pada tahun 2015 berkisar antara 129 - 206 mm. Suhu udara rata-rata mencapai 22,50oC pada daerah dataran tinggi di wilayah barat dan pada daerah lainnya suhu udara berkisar 27oC.

Dengan kondisi wilayah dan kondisi iklim di atas, Provinsi Jambi menjadi kawasan yang mudah ditumbuhi tanaman hutan. Data yang ada menunjukkan luas kawasan hutan di Provinsi Jambi mencapai 2.107.779 Ha yang terdiri dari 686.095 Ha wilayah Kawasan Suaka Alam-Kawasan Pelestarian Alam (KSA-KPA), 179.926 Ha wilayah hutan lindung, 968.889 Ha wilayah hutan produksi, 261.453 Ha wilayah hutan produksi terbatas dan 11.416 Ha wilayah hutan produksi konversi. Pada wilayah KSA-KPA, wilayah Provinsi Jambi 4 (empat) buah Taman Nasional, 4 (empat) buah Cagar Alam, 2 (dua) buah Taman Hutan Raya, dan 1 (satu) Taman Wisata yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Jambi. Keempat Taman Nasional di Provinsi Jambi tersebut meliputi Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) dan Taman Nasional Berbak (TNB). Masing-masing taman nasional tersebut memiliki potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa endemik yang bernilai tinggi. Bahkan TNBD merupakan tempat bermukimnya komunitas Suku Anak Dalam (SAD). Sementara TNB merupakan kawasan konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggara dengan keunikan berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang terbentang luas di pesisir timur Pulau Sumatera.

(21)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 7 pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,02 %. Namun berdasarkan hasil KER tahun 2015, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi mengalami penurunan menjadi 4,21 % dan tercatat dibawah pertumbuhan ekonomi nasional 4,79 %, halini diakibatkan oleh adanya musim kemarau yang panjang dan menyebabkan kebakaran lahan dan hutan yang berdampak menurunnya aktivitas ekonomi selama 5 (lima) bulan yaitu mulai dari bulan Juli hingga bulan November 2015.

Gambar 1.1 : Grafik Kajian Ekonomi dan Keuangan RegionalProvinsi Jambi 2009 - 2015

Sumber : Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, 2016.

(22)

dikembangkan oleh masyarakat khususnya diwilayah pesisir seluas 118.649 Ha dengan jumlah produksi 108.950 ton.

Selain di sektor perkebunan, Provinsi Jambi juga memiliki potensi di sektor pertambangan, di mana luas wilayah pertambangan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, jenis pertambangan yang telah dieksplorasi maupun dieksploitasi di wilayah Provinsi Jambi adalah minyak bumi, gas bumi, batubara, mangan, emas, dan biji besi dengan jumlah luasan areal pertambangan 398.930 Ha dengan jumlah perusahaan pertambangan yang terdata sebanyak 196 buah perusahaan pertambangan.

Sektor pariwisata pun merupakan potensi unggulan bagi Provinsi Jambi yang belum tereksplorasi dan terekspos lebih mendalam. Provinsi Jambi memiliki potensi wisata yang cukup beragam pada setiap wilayahnya, tersebar mulai dari wisata alam dan agro pada daerah di dataran tinggi, hingga wisata bahari pada wilayah pesisir dan laut di bagian timur. Obyek wisata alam dan agro meliputi kawasan Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Kota, Hutan Adat, danau dan perkebunan teh. Obyek wisata bahari meliputi pantai-pantai di pesisir timur Pulau Sumatera.

Berkembangnya sektor pariwisata di Provinsi Jambi ditunjang oleh sarana dan prasarana hotel dan penginapan dari tingkatan hotel melati hingga hotel berbintang. Bahkan saat ini, telah terbangunnya hotel-hotel berskala nasional di beberapa wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Hal ini mengindikasikan telah banyaknya investor nasional yang telah menanamkan modalnya pada perkembangan pembangunan di Provinsi Jambi.

(23)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 9 Cina. Banyak terdapat fosil kayu, tumbuhan serta kerang-kerangan yang tercetak membatu di batu endapan lava dan abu vulkanik gunung purba sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.2.danGambar 1.3. Menurut para ahli, geopark ini diperkirakan berumur 300 juta tahun. Peneliti-peneliti dunia seperti peneliti dari Eropa, Amerika, Malaysia dan Jepang telah mengunjungi daerah ini untuk mengeksplorasi kekayaan dan meneliti bebatuan yang ada di wilayah geopark ini. Dan saat ini, Geopark Merangin telah dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Gambar 1.2. Fosil fauna yang membatu Gambar 1.3. Fosil Flora yang membatu

Lebih ke arah barat lagi tepatnya di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci, terdapat sebuah danau yang menyimpan pesona yang unik. Danau ini berada di ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut (mdpl) dipuncak Gunung Tujuh dan menjadi salah satu danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara dengan luas sekitar 960 Ha. Danau ini merupakan danau vulkanik nan

(24)

dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.4. dan Gambar 1.5.

Gambar 1.4

Danau Gunung Tujuh Yang Keberadaannya dikelilingi oleh 7 (tujuh)

buah gunung

Gambar 1.5

Wisata Gunung Tujuh dengan Perahu Kano Masyarakat Setempat

Pesona wisata lain yang merupakan kebanggaan Provinsi Jambi adalah kompleks Candi Muaro Jambi yang merupakan situs peningggalan purbakala terluas di Indonesia dengan luas 12 km2. Membentang dari Barat ke Timur sejauh 7.5 km di tepian Sungai Batang Hari tepatnya di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.Candi ini merupakan warisan budaya yang menunjukkan bahwa di lokasi ini pernah menjadi pusat peribadatan agama Budha (Gambar 1.6. dan Gambar 1.7.).

Gambar 1.6.

Pemeluk Agama Budha Sedang Beribadah di Candi Muaro Jambi.

Gambar 1.7.

(25)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 11 Segala potensi yang dimiliki oleh Provinsi Jambi tersebut jika tidak terjaga dan terlestari akan menyebabkan kerusakan lingkungan dan hilangnya identitas daerah. Perlunya pengelolaan yang terorganisir dan terpadu serta mengacu pada upaya pelestarian lingkungan dalam menjaga semua potensi yang ada. Hingga suatu waktu Provinsi Jambi dapat tumbuh dan berkembang tidak hanya dengan percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonominya tapi juga perkembangan budaya dan pariwisatanya disertai dengan pelestarian lingkungan yang semakin membaik.

C. Pemanfaatan Laporan SLHD

Dengan semakin banyaknya data dan informasi mengenai lingkungan baik air, udara, lahan, hutan, pesisir dan laut yang dihimpun dalam SLHD, membuat laporan SLHD Provinsi Jambi Tahun 2015 dan Tahun 2014 menjadi sumber referensi yang selalu ditanyakan oleh para pihak yang membutuhkan data dan informasi tentang kualitas lingkungan hidup di Provinsi Jambi pada saat mengadakan kunjungan ilmiah ke BLHD Provinsi Jambi, baik secara langsung maupun melalui korespondensi surat.

Secara umum pemanfaatan laporan SLHD Provinsi Jambi ini dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian yaitu (1) pemanfaatan internal, dan(2) pemanfaatan eksternal.

1. Pemanfaatan Internal

(26)

Selain itu juga dipergunakan untuk penyampaian ekspose kondisi lingkungan hidup di wilayah Provinsi Jambi pada saat pertemuan Gubernur dalam kunjungan kerja dengan Pejabat/DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota di Indonesia, Pejabat Kementerian, dan Pejabat Negara Tetangga seperti dari Pemerintah Singapura, juga pada saat Gubernur diwawancarai oleh wartawan lokal, wartawan nasional, dan wartawan luar negeri.

2. Pemanfaatan Eksternal

Beberapa pihak eksternal yang membutuhkan data dan informasi yang dihimpun dalam SLHD Provinsi Jambi Tahun 2014 yaitu :

1). Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi membutuhkan data dan informasi SLHD Provinsi Jambi untuk penyusunan Buku Jambi Dalam Angka.

2). Mahasiswa program S1, S2, dan S3 dari perguruan tinggi di Provinsi Jambi, diluar Provinsi Jambi, dan di luar Indonesia membutuhkan data dan informasi SLHD untuk materi penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi.

3). Dosen perguruan tinggi di Provinsi Jambi dan diluar Provinsi Jambi membutuhkan data dan informasi untuk bahan penyusunan laporan penelitian. 4). Konsultan yang bergerak di bidang penyusunan dokumen lingkungan baik

yang bergerak di bidang penyusunan AMDAL maupun di bidang PU, Perikanan, Kehutanan, Pertanian dan Perhubungan.

5). Masyarakat umum baik wartawan, LSM, maupun kelompok pelestari lingkungan.

(27)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 13 dengan telah beroperasinya situs BLHD Provinsi Jambi sebanyak 2 (dua) buah yaitu www.blhdprovjambi.or.iddan blhd.jambiprov.go.id sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.8.

Gambar 1.8.

Situs BLHD Provinsi Jambi blhd.jambiprov.go.id

(28)

Gambar 1.9.

Situs BLHD Provinsi Jambi http://jambi.silh.menlh.go.id

D. Isu Utama Lingkungan Hidup di Provinsi Jambi Tahun 2015

Isu utama lingkungan hidup yang terjadi di wilayah Provinsi Jambi selalu menarik untuk dikaji dari tahun ke tahun.Isu utama ini dapat berupa isu yang terjadi pada tahun sebelumnya dan belum dapat terselesaikan pada tahun berjalan sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut pada tahun berikutnya.Isu utama ini dapat juga berupa isu yang benar-benar baru yang belum timbul pada tahun-tahun sebelumnya.

Bila kita review kembali isu utama lingkungan hidup yang terjadi di wilayah Provinsi Jambi pada 3 (tiga) tahun terakhir yaitu pada tahun 2013, 2014 dan tahun 2015, maka terdapat isu yang berulang dan isu baru. Pada tahun2013 isu utama yaitu (1). Kerusakan Lahan dan Hutan, (2). Bencana Banjir, dan (3). Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas.

(29)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 15 permasalahannya dari isu utama urutan ketiga pada tahun 2013 menjadi isu utama urutan kedua pada tahun 2014. Sementara 2 (dua) isu lainnya pada tahun 2014 adalah isu baru yaitu Konflik Lahan dan Hutan yang langsung menempati urutan pertama, dan isu Kebakaran Lahan dan Hutan yang menempati urutan ketiga.

Isu utama pada tahun 2015 adalah isu-isu dari tahun 2014 yang masih terjadi dan perlu mendapat perhatian serius ada 3 (tiga) yaitu : (1). Kebakaran Lahan dan Hutan, (2). Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas, dan (3).Konflik Lahan dan Hutan.

1. Kebakaran Lahan dan Hutan

a. Status

Isu kebakaran lahan dan hutan merupakan isu yang selalu diangkat ke permukaan setiap tahun oleh semua pihak, namun tidak pernah diselesaikan secara tuntas. Isu ini akan ramai dibicarakan pada saat kondisi kualitas udara di wilayah Provinsi Jambi memburuk sebagai akibat dari kegiatan pembakaran lahan dan hutan atau terbakarnya lahan dan hutan, dan akan menghilang seketika apabila hujan turun selama beberapa hari yang menyebabkan hilangnya kabut asap yang ditimbulkan oleh kegiatan pembakaran lahan dan hutan atau terbakarnya lahan dan hutan tersebut.

(30)

Selama 3 (tiga) tahun terakhir jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Provinsi Jambi mengalami kenaikan.Pada tahun 2013 titik panas (hotspot) yang terpantau mencapai 1.135 titik panas.Selanjutnya pada tahun 2014

menjadi 1.226 titik panas dan meningkat kembali pada tahun 2015 sebanyak 1.654 titik panas sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.2. Peningkatan titik panas yang terjadi di tahun 2015 disebabkan oleh kondisi iklim yang terjadi sehingga menyebabkan kemarau yang lebih panjang atau biasa disebut dengan El Nino.Hal ini mengakibatkan bulan kering yang terjadi di tahun 2015 lebih panjang dan kondisi ini menjadikan kemarau yang panjang pula.

Tabel 1.2. Jumlah Titik Panas di Wilayah Provinsi Jambi Periode Tahun 2012-2015.

No. Bulan Tahun

2013 2014 2015

1. Januari 20 11 88

2. Februari 55 124 21

3. Maret 136 171 9

4. April 42 14 8

5. Mei 37 38 44

6. Juni 209 111 58

7. Juli 113 227 366

8. Agustus 322 97 341

9. September 165 293 523

10. Oktober 28 92 174

11. November 6 43 21

12. Desember 2 5 1

Jumlah 1.135 1.226 1.654

(31)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 17 Dari Tabel 1.2 di atas dapat dilihat bahwa bulan-bulan di mana kualitas udara di wilayah Provinsi Jambi memburuk terjadi pada saat jumlah titik panas yang terpantau pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September serta Oktober. Pada bulan-bulan tersebut kondisi iklim di wilayah Provinsi Jambi memasuki musim kering yang ditandai dengan intensitas curah hujan yang rendah dan ketersediaan air tanah yang berkurang. Pembakaran lahan dan hutan baik untuk kegiatan pertanian atau kegiatan lainnya sangat tidak dianjurkan pada kondisi seperti ini, karena asap yang ditimbulkannyatidak akan mampu dinetralisir secara alamidanpadaakhirnyaberdampakpadatimbulnya kabut asap. Pada tahun 2015, kondisi cuaca yang sangat ekstrim menyebabkan terjadinya titik-titik api yang diakibatkan oleh aktivitas yang secara sengaja maupun tidak sengaja menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan. Sebaran titik api yang terjadi di Provinsi Jambi terutama pada tanggal 28 Oktober 2015 dapat terlihat pada Gambar 1.10.

Gambar 1.10. Peta sebaran titik api pada tanggal 28 Oktober 2015

(32)

b. Tekanan

Kabut asap yang ditimbulkan dari kegiatan pembakaran lahan dan hutan atau terbakarnya lahan dan hutan di wilayah Provinsi Jambi berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan di wilayah Provinsi Jambi, di wilayah-wilayah tetangga Provinsi Jambi dan di negara tetangga di mana kabut asap tersebut terbawa angin.Berdasarkan data pemantauan kualitas udara yang dilakukan oleh BLHD Provinsi Jambi dengan menggunakan alat Air Quality Monitoring System (AQMS). Alat AQMS ini merupakan pinjaman dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera (P3ES) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia di Pekanbaru Riau, yang di kembalikan pada tanggal 20 November 2015. Berdasarkan pemantauan alat AQMS tersebut, terlihat bahwa pada saat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi, kualitas lingkungan telah masuk dalam kategori berbahaya dengan indeks lebih dari 300.Kondisi ini terjadi pada bulan September dan Oktober 2015 seperti terlihat pada tabel 1.3.

Kondisi dengan nilai ISPU dalam kategori sangat tidak sehat dan berbahaya, mengarahkan pemerintah Provinsi Jambi mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan anak-anak sekolah, dan himbauan bagi kegiatan lain diupayakan untuk dikerjakan di dalam ruangan, dan apabila tidak memungkinkan maka aktivitas di luar ruangan memanfaatkan pelindung pernapasan berupa masker.

Tabel.1.3. Data Indeks Standar Pencemar Udara bulan September sampai 19 November 2015

BULAN SEPTEMBER 2015

TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU

01 125 06 211 11 360 16 149 21 141 26 193

02 138 07 216 12 409 17 130 22 67 27 162

03 162 08 291 13 323 18 145 23 187 28 162

04 211 09 324 14 193 19 184 24 228 29 315

(33)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 19

BULAN OKTOBER 2015

TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU

01 344 06 390 11 191 16 494 21 407 26 257

02 514 07 309 12 205 17 355 22 268 27 354

03 378 08 158 13 219 18 300 23 433 28 174

04 355 09 161 14 139 19 329 24 210 29 127

05 405 10 147 15 184 20 233 25 152 30 80

31 74

BULAN NOVEMBER

TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU TGL ISPU

01 66 06 20 11 22 16 7 21 26

02 57 07 38 12 52 17 8 22 27

03 78 08 24 13 48 18 8 23 28

04 75 09 55 14 48 19 7 24 29

05 60 10 21 15 22 20 25 30

Gambar 1.11. Grafik sebaran Nilai Indeks Standar Pencemar Udara pada saat bencana asap di Provinsi Jambi bulan September sampai November 2015

Dengan berkurangnya kualitas udara di wilayah Provinsi Jambi, menyebabkan meningkatnya masyarakat yang menderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) terutama bagi anak-anak dan orang lanjut usia. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi pada saat kabut asap menunjukkan kasus ISPA lebih tinggi dari kabupaten lainnya, seperti terlihat pada data dalam tabel 1.4. Selanjutnya Grafik 1.12 menunjukkan peningkatan angka penderita ISPA saat

(34)

kondisi terjadi kebakaran lahan dan hutan bila dibandingkan dengan minggu 33 tahun 2015 dan sebelumnya diangka 6000an meningkat 8.717 kasus di minggu ke 34, di masa kondisi siaga tanggap darurat.

Tabel 1.4. Jumlah kasus ISPA per Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi selama masa siaga tanggap darurat 2015

Sumber. Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. 2015

(35)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 21

JAN

MAR

MEI

JUL

SEPT

NOV

JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEPT OKT NOV DES

JAMBI 88 21 9 8 44 58 366 341 523 174 21 1

SUMSEL 31 12 14 8 54 92 381 443 1250 779 173 7

RIAU 126 180 186 47 78 141 480 199 355 89 3 3

Di samping itu kabut asap juga menyebabkan berkurangnya jarak pandang pada landasan pacu Bandara Sultan Thaha Jambi yang berakibat pada tertundanya penerbangan beberapa maskapai yang menghubungkan Kota Jambi dengan Kota Jakarta atau kota-kota lainnya, sehingga untuk melakukan perjalanan ke luar daerah dengan menggunakan pesawat terbang harus melalui Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan dan Bandara Internasional Minangkabau di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat.

Untuk wilayah-wilayah tetangga Provinsi Jambi kabut asap belum dapat dipastikan secara nyata mencapai wilayah mana saja. Informasi yang didasarkan pada data arah angin dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi menyebutkan bahwa wilayah Provinsi Jambi diapit oleh 2 (dua) wilayah sumber arah angin yaitu Provinsi Sumatera Selatan dari arah tenggara dan Provinsi Riau dari arah utara. Kedua wilayah provinsi ini merupakan sumber titik panas (hotspot) tertinggi di Pulau Sumatera dan secara bergantian selalu menempati peringkat pertama dan peringkat kedua dari jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di Pulau Sumatera.

(36)

Pada tahun 2015, titik panas yang terpantau oleh satelit NOAA di Provinsi Jambi terdapat sebanyak 1.654 titik. Bila dibandingkan dengan Provinsi tetangga yaitu Provinsi Riau sebanyak 1.887 titik dan Sumatera Selatan sebanyak 3.353 titik. Kondisi ini menyebabkan sebahagian wilayah di Pulau Sumatera tertutup oleh kabut asap. Dilihat trajektori arah angin pada bulan Juli sampai bulan November 2015 yang bergerak dari arah tenggara menuju barat laut dan beralih kearah timur, maka wilayah Jambi tertutup oleh asap yang ditimbulkan dari Provinsi Sumatera Selatan, selain dari wilayah Provinsi Jambi sendiri. Hal ini juga menyebabkan wilayah Provinsi Riau dan Provinsi lain di wilayah utara mengalami kondisi tertutup oleh asap pula, dan juga mengarah ke Negara tetangga Malaysia wilayah semenanjung dan Singapura.

Kondisi seperti ini yang membuat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura sering memanas dan Singapura sudah beberapa kali melakukan protes kepada Indonesia atas terjadinya kiriman kabut asap dari wilayah Provinsi Jambi khususnya dan wilayah Pulau Sumatera umumnya ke dalam wilayah negara Singapura, seperti terlihat pada Gambar. 1.14 berikut.

Gambar 1.14. Dampak asap pada tanggal 24 Oktober 2015

(37)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 23 c. Respon

Dalam upaya mencegah timbulnya kabut asap dan menanggulangi kabut asap yang terjadi di wilayah Provinsi Jambi, maka Pemerintah Provinsi Jambi telah melakukan upaya-upaya yang meliputi :

1. Deteksi dini melalui pemantauan titik panas (hotspot) dilakukan setiap hari. 2. Memberikan informasititikpanas (hotspot) kepada Posko Dalkarlahut

Kabupaten/Kota.

3. Sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat pengguna lahan. 4. Patroli kebakaran lahan dan hutan.

5. Gelar regu dalam rangka kesiapsiagaan kebakaran lahan dan hutan. 6. Menyiapkan peralatan kebakaran lahan dan hutan.

7. Monitoring peralatan pada perusahaan bidang perkebunan, kehutanan dan pertambangan.

8. Membuat pengumuman Gubernur Jambi tentang pencegahan kebakaran lahan dan hutan.

9. Pembuatan leaflet/booklet untuk kampanye pencegahan kebakaran lahan dan hutan.

10. Melaksanakan pencegahan dan pemadaman dengan kegiatan :

(38)

sesuai dengan Keputusan Gubernur Jambi Nomor :442/KEP.GUB/BPBD-2.2/IX/2015 tanggal 13 Oktober 2015 tentang Penetapan Perpanjangan Masa Status Tanggap Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Provinsi Jambi Tahun 2015 Dan Keputusan Gubernur Jambi Nomor: 443 /KEP.GUB/BPBD-2.2/IX/2015 tanggal 13 Oktober 2015 Tentang Penetapan Personil Dan Organisasi Pos Komando (POSKO) Satgas Tanggap Darurat Pengendalian Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Provinsi Jambi tahun 2015.

Pos komando melakukan tugas dan fungsi :

1. Poskomando di BPBD Provinsi Jambi terus melakukan koordinasi dengan pos lapangan dan seluruh instansi terkait.

2. Membuat laporan harian tertulis dilakukan setiap hari. 3. PUSDALOPS Provinsi Jambi beroperasi 24 jam setiap hari.

4. Pos Komando merupakan sumber informasi penanganan Bencana Asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Jambi.

5. Pos komando mendapat pendampingan dari BNPB.

b. Operasi Pemadaman

1) Operasi Darat

(39)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 25 Tabel 1.5. Pelaksanaan Operasi Darat

1. KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO

LOKASI LUAS

LAHAN PERSONIL

PERALATAN KENDALA KET

1 Desa Mandala Jaya,

PERALATAN KENDALA KET

(40)

3 Parit v Kel. Teluk

PERALATAN KENDALA KET

(41)
(42)

4. KABUPATEN BATANGHARI

NO

LOKASI LUAS

LAHAN PERSONIL

PERALATAN KENDALA KET

(43)

Pendahuluan

PERALATAN KENDALA KET

(44)

6. KABUPATEN SAROLANGUN

NO LUAS

LAHAN PERSONIL

PERALATAN KENDALA KET

1. Kel. Aur Gading TNI

PERALATAN KENDALA KET

(45)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 31 8. KOTA JAMBI

NO LUAS

LAHAN PERSONIL

PERALATAN KENDALA KET

1 Kel. Tanjung Johor Kec. Pelayangan

5 Ha TNI Polri Damkar Masyarakat

: 12 Org : 8 Org : 10 Org : 40 Org

Mbl Damkar : 4 unit

Operasi darat dilakukan dengan melibatkan seluruh personil yang tergabung dalam satgas berdasarkan tugas dalam kelompok kerja pemadaman. Kelompok kerja ini terdiri atas unsur TNI, Kepolisian, Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, BPBD, Perusahaan, dan masyarakat. Berdasarkan tabel diatas terlihat upaya yang dilakukan oleh tim pokja dalam upaya pencegaan dengan melakukan patroli serta melakukan upaya pemadaman apabila ditemukan titik api.

2) Operasi Udara

Selain operasi darat juga dilakukan operasi udara dengan melakukan water bombing melalui pesawat udara berupa truck air dan helicopter yang dibantu dari BNPB dan BPPT. Jenis pesawat yaitu 1 unit Hercules A-1328 dari BPPT, pesawat helicopter Bolco 2 unit dan helli puma 1 unit.Operasi udara dilakukan pada wilayah yang sulit dimasuki melalui jalur darat.

c. Pembuatan Kanal, Embung dan Sekat Kanal

(46)

dengan melakukan pembasahan kembali (rewetting). Upaya ini dilakukan dengan menaikkan air ke lahan-lahan gambut tersebut melalui kanal atau saluran yang dialirkan ke wilayah yang mengalami kebakaran, selanjutnya dengan membuat sekat kanal untuk menahan air dari saluran agar tidak mengalir ke hilir.Upaya upaya ini dapat terlihat pada tabel 1.6.

Tabel 1.6. Lokasi pembuatan Kanal dan Embung.

NO LOKASI PANJANG KANAL PERSONIL PERALATAN KET

(47)

Pendahuluan

2. Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas

a. Status

Pada tahun 2014 kegiatan pertambangan tanpa izin (PETI) bahan galian emas berlangsung secara intensif di wilayah Provinsi Jambi dengan lokasi kegiatan berada pada 4 (empat) kabupaten yaitu Kabupaten Bungo, Kabupaten Merangin, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Sarolangun. Pelaksanaan penambangan dilakukan di sepanjang aliran anak-anak sungai maupun sungai Batanghari.Selain itu penambangan juga sudah merambah ke areal pertanian baik sawah maupun lahan kebun.

(48)

Tabel 1.7. Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Merangin

No Lokasi Kecamatan Luas Areal (Ha)

1. Pangkalan Jambu 655

2. Sungai Manau 260

3. Renah Pembarap 2

4. Tabir Lintas 125

5. Tabir Barat 185

Jumlah 1.227

Di wilayah Kabupaten Bungo terdapat 208titik pertambangan tanpa izin bahan galian emas yang tersebar pada 8 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Jujuhan, Kecamatan Bathin III, Kecamatan Rantau Pandan, Kecamatan Muko-Muko Bathin VII, Kecamatan Pelepat, Kecamatan Rimbo Tengah, Kecamatan Tanah Sepenggal, dan Kecamatan Pelepat Ilir seperti terlihat pada tabel 1.8.

Tabel 1.8. Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Bungo.

No Lokasi Kecamatan Jumlah Titik lokasi

1. Jujuhan 47

2. Bathin III 30

3. Rantau Pandan 9

4. Muko-Muko Bathin VII 9

5. Pelepat 3

6. Rimbo Tengah 40

7. Tanah Sepenggal 67

8. Pelepat Ilir 3

Jumlah 208

(49)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 35 Tabel 1.9. Kawasan Aktivitas PETI di Kabupaten Sarolangun

No Lokasi Kecamatan Jumlah Titik lokasi

1. Cermin Nan Gedang 26

2. Limun 27

3. Pauh 11

4. Mandiangin 9

5. Pelawan 14

6. Sarolangun 13

7. Bathin VIII 12

Jumlah 112

Gambar 1.15.Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas di Wilayah Kabupaten Sarolangun Tahun 2015.

(50)

melakukan penambangan pada lahan sempadan sungai dan juga lahan perkebunan masyarakat.Selain itu juga telah mulai masuk ke wilayah hutan lindung yang beradadi Dusun Manggis Desa Napal Melintang Kecamatan Limun, teridentifikasi sebanyak 94 unit yang beroperasi.

b. Tekanan

Kegiatan ini menyebabkan terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan secara bersamaan. Kerusakan lingkungan terjadi pada wilayah kegiatan dimana lahan pertanian produktif dan lahan pekarangan produktif beralih fungsi menjadi kubangan-kubangan yang menghilangkan sama sekali lapisan tanah dan hanya menyisakan batu-batu koral dan kerikil. Sementara pencemaran lingkungan terjadi pada wilayah kegiatan dan wilayah hilir dari kegiatan tersebut. Sumber daya alam yang mengalami pencemaran berat adalah air tanah dan air sungai sehingga menyebabkan masyarakat mengalami kekurangan air bersih.

(51)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 37 Gambar 1.16.Dampak Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Bahan Galian Emas

di Sungai Batang Merangin Muara SungaiMasumai Kabupaten Merangin Tahun 2015.

C. Respon

Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah provinsi jambi dan pemerintah kabupaten dalam mengatasi kegiatan ini pada tahun 2015 adalah dengan melanjutkan upaya-upaya yang telah dilakukan pada tahun 2014 yaitu melalui cara-cara persuasif dan represif.

(52)

Masyarakat, Tokoh-Tokoh Pemuda/Organisasi Kepemudaan Serta LSM. Kepada para penambang dihimbau agar beralih profesi menjadi penambang pasir atau usaha lainnya.

Secara represif dilakukan melalui operasi penertiban oleh tim terpadu tingkat provinsi maupun tim terpadu tingkat kabupaten yang melibatkan pihak kepolisian dari tingkat polres sampai Polda Dan Pol PP Kabupaten. Sasaran operasi mulai dari lokasi penambangan, pengangkutan, penimbunan sampai kepada penjualan. Cara lain yaitu dengan memutuskan mata rantai kegiatan dengan cara memanggil para pemilik SPBU yang menyalurkan BBM solar agar tidak melayani pembelian solar dalam partai besar serta memanggil pimpinan beberapa toko yang diduga menjual mesin penambangan emas agar tidak menjual mesin dompengserta peralatan pertambangan lainnya termasuk air raksa. upaya represif dengan melakukan operasi dapat dilihat pada Tabel 1.10.

Tabel1.10. PelaksanaanKegiatan Pemberantasan PETI Di Provinsi Jambi

NO KEGIATAN LOKASI JENIS DAN

JUMLAH ALAT

-51 Unit Dompeng Melakukan Pembakaran

51 Unit

(53)

Pendahuluan

-30 Unit Dompeng Melakukan Pembakaran Hari Senin 27 April 2015

Areal Aliran Sungai

- 3 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 3

- 4 Unit Dompeng Melakukan

(54)

10 Razia Operasi Rutin Pada

11 Razia Operasi Rutin Pada

Tanggal 18 Maret 2015

12 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Senin Tanggal 13 April 2015

C2 Kec. Bangko Kab. Merangin

- 9 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 9

13 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Selasa Tanggal 14 April 2015

A2 Renah Pamenang Kab.

Merangin

- 2 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 2

14 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Sabtu Tanggal 18 April 2015

Jalur 2 Kodim Kab. Merangin

- 4 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 4

15 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Senin Tanggal 20 April 2015

Jalur 2 Kodim Kab. Merangin

- 3 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 3

16 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Rabu Tanggal 22

Lubuk Gaung Kec. Batang Mesumai

- 5 Unit Dompeng Melakukan

(55)

-Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 41

April 2015 Kab. Merangin Unit Dompeng

17 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Sabtu Tanggal 24 April 2015

Desa Ngaol Kec. Tabir Barat Kab.

Merangin

- 4 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 4

18 Razia Operasi Rutin Pada

Hari Kamis Tanggal 10

- 4 Unit Dompeng Melakukan

Pembakaran 4

Hari Rabu 15 April 2015

Desa Betung Bedarah Timur Dan

Desa Betung Bedarah Barat Kec. Tebo Ilir Kab. Tebo

- 5 Unit Dompeng Melakukan

Perusakan Dan

- 8 Unit Dompeng Melakukan

Perusakan Dan

(56)

1 1 saat mencapai titik jenuh maka akan timbul konflik memperebutkan sumber daya alam yang tersisa.

Konflik memperebutkan lahan baik lahan yang berada dalam kawasan hutan maupun lahan yang berada di luar kawasan hutan di wilayah Provinsi Jambi tercatat pada tahun 1988 sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.10. menunjukkan banyaknya konflik lahan dan hutan yang terjadi di Provinsi Jambi dari tahun 1988 sampai tahun 2015.

Gambar 1.17.BanyaknyaKonflik Lahan dan Hutan Yang Terjadi di Provinsi Jambi Dari Tahun 1988 Sampai Tahun 2015.

(57)

Pendahuluan

Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jambi 2015 I- 43 timbul konflik sebanyak 11 buah yaitu pada tahun 2014 sebanyak 4 buah dan pada tahun 2015 sebanyak 5 buah.

Bila dilihat dari wilayah timbulnya konflik seperti pada Gambar 1.11., maka konflik terjadi di luar wilayah kota dan hanya pada kabupaten-kabupaten yang masih memiliki areal hutan yang luas. Kota Jambi, Kota Sungai Penuh, dan Kabupaten Kerinci merupakan wilayah yang tidak memiliki konflik lahan dan hutan, karena pada ketiga wilayah tersebut tidak lagi memiliki areal hutan yang luas. Berbeda dengan kedelapan wilayah kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Bungo, di manakedelapan wilayah kabupaten ini masih memiliki kawasan hutan yang luas, baik jenis kawasan hutan produksi maupun jenis-jenis kawasan hutan lainnya.

Gambar 1.18.Sebaran Konflik Lahan dan Hutan Yang Terjadi di Provinsi Jambi Dari Tahun 1988 Sampai Tahun 2015.

Memperhatikan Gambar 1.11. di atas maka Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan wilayah yang mengalami konflik lahan dan hutan terbanyak yaitu 13 buah, disusul oleh Kabupaten Muaro Jambi sebanyak 11 buah, kemudian Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Batanghari masing-masing sebanyak 10 buah, Kabupaten Merangin dan Kabupaten Bungo masing-masing sebanyak 8

Gambar

Gambar 1.11.  Grafik sebaran Nilai Indeks Standar Pencemar Udara pada saat
Tabel 1.4. Jumlah kasus ISPA per Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi
Gambar 1.13. Sebaran Hotspot di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Riau
Tabel 1.6. Lokasi pembuatan Kanal dan Embung.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan tata guna lahan dan perubahan penutupan lahan melalui konversi hutan dan semakin banyaknya industri-industri berat membuat lingkungan iklim global

Upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat maupun oleh masyarakat setempat dilakukan terhadap lingkungan hutan, air, udara,

Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (DIKPLHD) Kabupaten Karanganyar 2021 memuat gambaran 6 kondisi lingkungan : tataguna lahan, kualitas

Adapun hasil perhitungan kualitas udara model EU dan IKLH tahun 2016 di Provinsi Banten menunjukkan angka 56,234 yang berarti bahwa kualitas udara di Provinsi Banten

 Penetapan Status Keadaan Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera Selatan berlangsung sejak ditetapkannya keputusan ini tanggal

Luas Penutupan Lahan dalam Kawasan Hutan dan Luar Kawasan Hutan Kota : Yogyakarta Tahun Data : 2013 NO Kabupaten/Kota KAWASAN HUTAN APL JUMLAH HUTAN TETAP HPK JUMLAH KSA-

Persentase Jumlah usaha dan / atau kegiatan sumber tidak bergerak yang memenuhi persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran udara Persentase lahan kritis

0274 774638 2.11.03.2.01.01 Koordinasi, Sinkronisasi, dan Pelaksanaan Pencegahan Pencemaran Lingkungan Hidup Dilaksanakan terhadap Media Tanah, Air, Udara, dan Laut 2.11.06 PROGRAM