12
BAB 2
VALUE PROPOSITION
(DEVELOPMENT & JUSTIFICATION)
2.1
Market & Industri Analysis
2.1.1 Fashion
Membahas mengenai fashion selain merupakan tren mode mengenai pakaian, sepatu dan juga aksesoris, fashion juga tidak bisa di pisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia. Fashion merupakan salah satu gaya yang digunakan masyarakat dalam menunjukkan identitas diri mereka.
Menurut Simmel (1957) dalam jurnal fashion, "dua
kecenderungan sosial yang penting dalam membentuk fashion. Dan bila salah satu kecenderungan itu hilang maka fashion tak akan terbentuk". Kecenderungan yang pertama adalah kebutuhan untuk
menyatu dan yang kedua adalah kebutuhan untuk terisolasi. Menurut Simmel (1957), "individu haruslah memiliki hasrat untuk menjadi
bagian dari sesuatu yang lebih besar, masyarakat dan individu juga harus memiliki hasrat menjadi sesuatu yang terlepas dari bagian itu".
Manusia rupanya perlu untuk menjadi sosial dan individual pada saat yang sama, dan fashion serta pakaian merupakan cara bagi hal itu di
negosiasikan. Dan saat kebutuhan untuk membedakan dirinya atu kelompoknya dari yang lain lebih besar maka fashion akan berkembang lebih cepat. Kebalikannya, bila masyarakat kurang lebih stabil maka fashion kurang memungkinkan untuk berubah.
Menurut Posner, H. (2011), “The fashion market is broken
down into specific sectors so that companies are better able to analyze market data and monitor their business result more effectively”. Dari
informasi pasar mengenai fashion, analisis fashion tersebut dapat menerbitkan laporan pasar dan analisis data pada sebagian besar sektor utama pasar fashion internasional. Informasi ini sangat membantu dalam menilai ukuran relatif pasar tertentu atau memperkirakan pontensial pasar pada masa depan. Misalnya aksesoris, aksesoris berperan penting memberikan kontribusi persentase yang tinggi dari omset penjualan berbagai merek. Penjualan global fashion dan aksesoris kulit barang melintasi merek LVMH, termasuk Louis Vuitton, Fendi, Christian Dior dan Marc Jacobs.
2.1.2 Wayang
Wayang adalah pedalangan dan drama tradisional Indonesia, sejak zaman prasejarah hingga kini. Wayang berasal dari kata bayang, mulai pada zaman purbakala sebagai upacara memanggil arwah dengan memasang lampu minyak kelapa dan menayangkan bayangan pada kain putih yang dibentangkan. Sejalan dengan perputaran waktu, wayang mengalami perkembangan makna dan fungsi, sebagai hiburan,
sarana pendidikan, ajaran moral, norma kehidupan beragama, dan sebagai media informasi.
Sejak abad ke-9 dan ke-10, wayang sebagai media untuk pementasan lakon yang diciptakan bertemakan sastra epos Ramayanadan Mahabharata dan kemudian pada abad pertengahan diciptakan lakon bertemakan Islam.
Wayang juga merupakan seni pertunjukan berupa drama yang khas. Sejak abad ke-19 sampai dengan sekarang, Wayang telah menjadi pokok bahasan serta dideskripsikan oleh para ahli. Macam-macam kajian tentang wayang dapat diketahui dari bibliography beranotasi, dibuat oleh V.M.C Van Groenendael, terbit tahun 1978 berjudul Annotated Bibliography of Wayang Litetarure and the Art of the Dalang. Fungsi dari wayang adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan, menurut Sumaryoto, (1990). Secara umum, pengertian wayang adalah suatu bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang, dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan (Sedyawati; Darmono, 1983).
2.1.3 Pengrajin
Pengrajin ialah orang yang pekerjaannya membuat barang-barang kerajinan. Ada pengrajin pahat, pengrajin batik, pengrajin wayang, pengrajin emas, dan sebagainya. Barang yang dihasilkan tidak dibuat dengan mesin, melainkan dengan tangan. Seni pahat yang ada di Indonesia mula-mula dapat dilihat dari perkembangan seni ukir yang ada di Indonesia. Pengrajin Seni pahat memiliki ciri yang agak sedikit berbeda dengan seni ukir. Memang bahan yang digunakan sama persis dengan yang digunakan oleh seni ukir. Tetapi di dalam seni pahat, bukan hanya sekedar melukis di atas batu, kayu, atau bahan lainnya. Dalam seni pahat dapat membuat suatu bentuk yang sesuai dengan yang diinginkan.
Gambar 2. 1 Pengrajin Pahat
2.1.4 Analisis PESTEL
Analisis PESTEL merupakan analisis eksternal makro-lingkungan yang akan mempengaruhi semua perusahaan. Secara khusus, PESTEL analysis, adalah tool untuk memahami segala resiko
terkait dengan pertumbuhan atau penurunan usaha, dan juga posisi, potensi serta arahan strategis untuk bisnis maupun organisasi.
Gambar 2. 2 Analisis PESTEL
Analisis PESTEL mencakup beberapa faktor , meliputi;
1. Politic (Politik): Faktor-faktor politik pada dasarnya untuk apa gelar campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Secara khusus, faktor-faktor politik meliputi bidang-bidang seperti kebijakan pajak, hukum perburuhan, hukum lingkungan, pembatasan perdagangan, tarif, dan stabilitas politik. Faktor-faktor politik juga dapat mencakup barang dan jasa yang pemerintah ingin menyediakan atau disediakan (barang jasa) dan yang pemerintah tidak ingin diberikan (kekurangan
barang atau jasa). Selain itu, pemerintah memiliki pengaruh besar pada kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur suatu bangsa. Pemerintah mendukung penuh para pengrajin kulit seperti mengadakan pengolahan kulit dan menyediakan alat untuk menjahit kulit kepada para pengrajin tas kulit.
2. Economic (Ekonomi) : Faktor ekonomi meliputi pertumbuhan ekonomi, suku bunga, nilai tukar dan tingkat inflasi. Faktor-faktor ini memiliki dampak besar pada bagaimana bisnis beroperasi dan membuat keputusan. Misalnya, suku bunga mempengaruhi biaya perusahaan modal dan karena itu sejauh mana bisnis tumbuh dan berkembang. Kurs mempengaruhi biaya ekspor barang dan pasokan dan harga barang impor dalam perekonomian. Tidak berpengaruh pada perusahaan karena produk fashion merupakan luxury market.
3. Social (Sosial) : Faktor sosial meliputi aspek budaya dan termasuk kesadaran kesehatan, laju pertumbuhan penduduk, distribusi usia, sikap karir dan penekanan pada keselamatan. Tren faktor sosial mempengaruhi permintaan untuk produk perusahaan dan bagaimana perusahaan yang beroperasi. Sebagai contoh, populasi yang menua dapat diartikan lebih kecil dan kurang bersedia tenaga kerja (sehingga meningkatkan biaya tenaga kerja). Selain itu, perusahaan dapat mengubah berbagai strategi manajemen untuk beradaptasi dengan tren sosial (seperti merekrut pekerja yang lebih tua). Perusahaan harus
mampu lebih mensejahterakan para pengrajin dan karyawan agar perusahaan mendapatkan kesan yang bagus di mata masyrakat.
4. Technology (Tekhnologi) : Faktor teknologi meliputi aspek teknologi seperti R&D kegiatan, otomatisasi, insentif teknologi dan tingkat perubahan teknologi. Mereka dapat menentukan hambatan masuk, minimal tingkat produksi yang efisien dan pengaruh outsourcing keputusan. Selain itu, pergeseran teknologi dapat mempengaruhi biaya, kualitas, dan menyebabkan inovasi. Perusahaan harus mampu menyediakan dana lebih untuk R&D agar dapat mempunyai teknologi baru, bahan mentah baru atau cara pengerjaan baru yang lebih efisien. 5. Legal (Hukum) : Faktor hukum meliputi hukum diskriminasi, hukum
konsumen, hukum anti trust, hukum ketenagakerjaan, dan hukum kesehatan dan keselamatan. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi bagaimana perusahaan beroperasi, biaya, dan permintaan untuk produk-produknya. Perusahaan harus mematenkan semua jenis produk untuk menghindari proses pembajakan mulai dari produk, logo dan simbol produk.
6. Enviromental (Lingkungan) : Faktor lingkungan meliputi aspek ekologi dan lingkungan seperti cuaca, iklim, dan perubahan iklim, yang mungkin terutama mempengaruhi industri seperti pariwisata, pertanian, dan asuransi. Selain itu, kesadaran akan potensi dampak perubahan iklim mempengaruhi bagaimana perusahaan beroperasi dan produk yang mereka tawarkan, baik menciptakan pasar baru dan
mengurangi atau menghancurkan yang sudah ada.Perusahaan dapat terus menyesuaikan produk sesuai tren fashion yang berkembang di pasar
2.1.5 Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi dari kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity), dan ancaman (Threat) dalam suatu spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang lebih spesifik dari spekulasi bisnis dapat mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Menurut Thompson, Strickland dan Gamble (2011), hal-hal yang perlu diidentifikasi, melalui keempat elemen yang berada dalam analisis SWOT adalah :
1 . Kelebihan (Strength): Mengidentifikasi sumber kelebihan dan kapabilitas kompetitif perusahaan tersebut.
2 . Kelemahan (Weakness) : Mengidentifikasi sumber kelemahan dan kekurangan kompetitif dari suatu perusahaan.
3. Peluang(Opportunity): Mengidentifikasi peluang pasar dari suatu perusahaan.
4. Ancaman (Threat): Mengidentifikasi ancaman eksternal yang akan dihadapi oleh perusahaan tersebut.
Analisis yang dilakukan menggunakan SWOT dalam Bisnis ini dapat dilihat sebagai berikut :
Strength :
1. Mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan produk lain. 2. Sebagai pioneer yang menyangkut budaya wayang pada
fashion.
3. Memiliki tingkat kesulitan pada pembuatan produk yang tinggi.
4. Memakai sistem perakitan produk yang tidak mudah diikuti oleh kompetitor.
5. Mempunyai produk yang berkualitas tinggi.
Weakness :
1. Mempunyai product life cycle yang panjang.
2. Kurangnya ketersediaan teknologi pada industri kulit membuat kalahnya daya saing dalam segi kualitas kulit lokal dengan kulit import.
Opportunity :
1. Masih jarangnya budaya wayang dimanfaatkan untuk produk-produk aksesoris sepeti tas dan lain sebagainya. 2. Dengan jumlah penduduk 250.000.000 jiwa Indonesia
merupakan pasar yang luas.
3. Pengembangan produk kulit mudah untuk diperkenalkan kepada masyrakat.
Threats :
1. Sudah banyak kompetitor yang bergerak pada industri kulit.
2. Entry barrier pada industr kulit tergolong rendah
2.1.6 Analisis Five Forces Porter
Five Forces Model Porter merupakan salah satu yang paling
sering digunakan dalam strategi bisnis. Model ini telah banyak digunakan dalam berbagai macam kesempatan. Model Porter ini sangat kuat baik dari dalam maupun luar industri. Porter five forces dikembangkan pertama kali oleh Michael porter. Porter five forces adalah suatu tool untuk menganalisis lingkungan yang kompetitif yang berpengaruh pada pemasaran suatu produk. Michael E. Porter merupakan salah satu marketing merupakan salah satu ahli marketing terkenal.
Menurut Porter, Hakikat suatu industri dapat dilihat sebagai kombinasi atas lima kekuatan, yaitu:
1. The Threat of a Substitute Product.
2. The Threat of the Entry of New Competitors. 3. The Bargaining Power of Customers
4. The Bargaining Power of Suppliers 5. The intensity of Competitive Rivalry
Analisis yang dilakukan menggunakan 5 Forces Porter dalam Bisnis ini dapat dilihat sebagai berikut :
1. The Threat of a Substitute Product: Merupakan ancaman dari produk sejenis yang bisa dijadikan sebagai barang substitusi atau barang pengganti. Ancaman produk pengganti kuat Karena, semakin banyak barang pengganti maka akan semakin besar peluang bagi costumer untuk beralih ke produk dari perusahaan lain. Faktor yang memperngaruhi faktor ini antara lain switching cost, kecenderungan untuk substitusi, diferensiasi produk, dan lainnya.
Ancaman dari produk pengganti dalam industri fashion terutama yang berbahan dasar kulit lemah dikarenakan :
a. Produk yang berkualitas sulit di dapat. b. Produk memiliki harga yang relatif mahal.
c. Konsumen belum tentu merasa nyaman apabila menggunakan produk lain.
2. The Threat of the Entry of New Competitors: Banyaknya kemunculan dari perusahaan – perusahaan baru yang menjual atau menghasilkan produk yang sejenis dengan produk yang kita hasilkan. Faktor yang berpengaruh pada force jenis ini adalah ekuitas merek, hambatan masuk, distribusi, skill atau
core competence tertentu, economies of scope, cost advantage,
mempunyai entry barrier yang rendah karena cukup mudah untuk memulai bisnis di bidang ini. Seperti :
a. Banyaknya merek yang ada di pasar sehingga tidak ada suatu merek yang sangat mendominasi pasar.
b. Modal yang dibutuhkan untuk memulai produksi industri
fashion tidaklah tinggi.
c. Tidak adanya aturan pemerintah yang terlalu berpengaruh terhadap industri fashion.
d. Pemain baru dapat dengan mudah memasarkan produk mereka.
e. Pendatang baru dapat dengan mudah mendapatkan keuntungan yang besar seperti adanya barang-barang tiruan yang beredar di pasar.
f. Pada akhirnya para pemain lama kurang termotivasi untuk membuat produk-produk baru karena dapat dengan mudah ditiru oleh para pemain baru atau competitor.
3. The Bargaining Power of Customers: Sebuah produk tentunya akan menjadi sia-sia jika tidak berhasil memikat hati para customer. Maka dari itu, bisa dikatakan bahwa produsen atau perusahaan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi kepada customer. Faktor ini dipengaruhi oleh julah pembeli, konsentrasi pembeli, switching cost pembeli,
ketersediaan barang, besar order pembeli, sensitivitas harga, tingkat diferensiasi, dan sebagainya.
Daya tawar pembeli lemah karena :
a. Reputasi merek dari produk yang dibeli oleh konsumen merupakan hal yang penting bagi mereka.
b. Kualitas produk yang perusahaan berikan merupakan salah satu yang terbaik.
c. Adanya sistem purna jual sehingga pembeli merasa nyaman dan tidak takut produknya mengalami kerusakan karena adanya garansi dan pelayanan perawatan setelah membeli produk.
d. Daya Pembeli dalam industri fashion yang berbahan dasar kulit lemah.
4. The Bargaining Power of Suppliers: Untuk memperoleh bahan baku atau bahan-bahan pendukung lainnya, perusahaan membutuhkan pihak pemasok. Faktor yang mempengaruhi faktor ini adalah switching cost ke pemasok lain, jumlah pemasok, konsentrasi pemasok, ketersediaan substitusi input, tingkat diferensiasi input, hingga tingkat hubungan dengan pemasok.
Daya pemasok dalam industri fashion lemah, karena:
a. Bahan baku mudah didapatkan, karena bahan baku yang digunakan adalah kulit sapi yang tersedia banyak di pasar. b. Switching cost untuk berpindah ke pemasok lainnya
rendah, banyaknya pengrajin kulit dan wayang serta perak yang berada di daerah Jogjakarta.
c. Ketersediaan bahan baku yang berlimpah karena bahan mentah yang kita pakai adalah kulit sapi.
d. Daya tawar pemasok dalam industri fashion yang berbahan dasar kulit lemah.
5. The Intensity of Competitive Rivalry: Sebuah produk yang telah mendapatkan tempat di hati masyarakat tentunya akan membuat produsen atau perusahaan lain mengembangkan usaha sejenis dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang terjangkau. Semakin banyak pesaing, maka akan semakin besar pula peluang sebuah perusahaan untuk tersaingi. Force yang kelima ini dipengaruhi oleh jumlah pesaing, perbedaan kualitas, loyalitas pelanggan, diferensiasi produk, perbedaan harga, exit
barriers, dan sebagainya.
Ancaman kompetitor dalam industri fashion kuat karena : a. Para pelaku bisnis secara aktif selalu melakukan langkah
mereka. Seperti mengeluarkan produk-produk baru setiap musim, dan mengadakan event tertentu seperti pameran untuk meningkatkan pangsa pasar mereka.
b. Permintaan konsumen bisa dikatakan mengalami pertumbuhan yang lambat karena intensitas konsumen untuk membeli produk fashion terutama tas tidak sesering permintaan produk seperti bahan pokok sehari-hari.
c. Permintaan konsumen terhadap produk bisa mengalami penurunan drastis apabila produk yang dikeluarkan tidak mengikuti tren fashion yang diminati pasar sehingga apat menimbulkan persediaan strok barang yang berlebih. d. Dalam industri fashion banyak terdapat pesaing yang
mempunyai kekuatan dan daya saing yang berimbang oleh karena itu sangat penting membuat produk yang mempunyai keunikan dibanding kompetitor lainnya.
e. Konsumen dalam industri fashion dapat dengan mudah berpindah dari merek yang satu ke yang lainnya.
f. Kompetitor dapat dengan mudah melakukan langkah agresif seperti mengadakan diskon special, pemotongan harga atau melakukan merger dengan competitor lain untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar.
g. Pelaku bisnis besar yang berasal dari luar industri dapat dengan mudah mengakusisi perusahaan lemah dan
mengubahnya menjadi perusahaan yang jauh lebh kuat dari sebelumnya.
h. Ancaman kompetitor dalam industri fashion berbahan dasar kulit kuat.
2.1.7 Analisis Market Survey
Dalam mengetahui kebutuhan dari masyarakat dan dapat meyakinkan bahwa bisnis ini mendapatkan respon yang baik dari masyarakat, maka dilakukan survei kepada 48 orang melalui kuesioner dan yang disebarkan keberbagai tempat di sekitar Jakarta. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Kuesioner usia Usia
25 – 35 tahun 6 12.5%
35 – 45 tahun 19 39.5%
> 45 tahun 23 48%
Tabel 2.2 Kuesioner pendapatan perbulan Pendapatan Per bulan
<10.000.000 8 16.6% 10.100.000-20.000.000 10 21% 20.100.000-30.000.000 2 4.2% 30.100.000-40.000.000 3 6.2% >40.100.000 25 52% Total 48 100%
Tabel 2.3 Kuesioner pengeluaran perbulan Pengeluaran per bulan
<10.000.000 8 16.6% 10.100.000-20.000.000 8 16.6% 20.100.000-30.000.000 4 8.3% 30.100.000-40.000.000 10 21% >40.100.000 18 37.5% Total 48 100%
Tabel 2.4 Kuesioner pekerjaan Pekerjaan
Pegawai Negeri 7 14.6%
Pegawai swasta 16 33.4%
Ibu Rumah tangga 12 25%
Total 48 100%
Tabel 2.5 Kuesioner minat masyarakat akan fashion Minat masyarakat akan fashion
Tidak suka 0 0%
Biasa saja 4 8.3%
Suka sekali 44 91.7%
Total 48 100%
Tabel 2.6 Kuesioner minat masyarakat akan shooping Minat masyarakat akan shooping
Sebulan sekali 7 14.6%
Weekend 12 25%
Setiap hari 1 2%
Lain-lain 28 58.4%
Total 48 100%
Tabel 2.7 Kuesioner tempat yang biasa untuk membeli produk Tempat yang biasa untuk membeli produk
Rekan 4 8.3%
Ke outlet langsung 30 62.5%
Online 2 4.2%
Total 48 100%
Tabel 2.8 Kuesioner tempat yang biasa untuk membeli produk Produk yang diminati masyarakat
Tas 14 29.2% Sepatu 12 25% Pakaian 22 45.8% Jaket 0 0% Dompet 0 0% Lain-lain 0 0% Total 48 100%
Tabel 2.9 Kuesioner minat masyarakat akan produk kulit Minat masyarakat akan produk kulit
Tidak suka 0 0%
Biasa saja 20 41.7%
Suka 28 58.3%
Total 48 100%
Tabel 2.10 Kuesioner jeniskulit untuk fashion Jenis kulit untuk fashion
Domba 18 37.5%
Ular 3 6.3%
Lain-lain 5 10.4%
Total 48 100%
Tabel 2.11 Kuesioner produk kulit yang cocok dijadikan fashion Produk kulit yang cocok untuk dijadikan fashion
Tas 27 56.3% Ikat pinggang 1 2% Sepatu 18 37.5% Jaket 2 4.2% Lain-lain 0 0% Total 48 100%
Tabel 212 Kuesioner kriteria membeli produk kulit Kriteria membeli produk kulit
Model 25 52% Merek 8 16.7% Jenis kulit 2 4.2% Harga 13 27.1% Lain-lain 0 0% Total 48 100%
Tabel 2.13 Kuesioner harga produk terbuat dari kulit Harga produk terbuat dari kulit
1.500.000 – 3.500.000 36 75%
3.600.000 – 5.000.000 10 20.8%
5.100.000 – 10.000.000 2 4.2%
Total 48 100%
Tabel 2.14 Kuesioner rentan pemakaian Rentan pemakaian
Setiap hari 16 33.3%
Event tertentu 200 41.7%
Tidak sama sekali 0 0%
Lain-lain 12 25%
Total 48 100%
Tabel 2.15 Kuesioner kebudayaan yang disukai Kebudayaan yang disukai
Batik 30 62.5% Wayang 4 8.33% Songket 9 18.75% Ulos 5 10.42% Lain-lain 0 0% Total 48 100%
Tabel 2.16 Kuesioner wayang diaplikasikan ke kulit Wayang diaplikasikan ke kulit
Tidak cocok 25 52.1%
Bagus 5 10.4%
Unik 18 37.5%
Lain-lain 0 0%
Total 48 100%
Tabel 2.17 Kuesioner wayang dijadikan produk tas Wayang di jadikan produk tas
Cocok 21 43.75%
Tidak cocok 27 56.25%
Total 48 100%
Konsumer yang menjadi target survei adalah para sosialita wanita yang memiliki hobi berbelanja, mengoleksi, dan yang suka sekali dengan fashion yang berbeda dari yang lainnya dan unik. Dari hasil survei menyatakan bahwa masyarakat belum tahu adanya produk tas wayang yang dipahat dan berbahan dasarkan kulit.
Maka KULTUR&CO akan membuat suatu produk tas yang unik, elegan, eksekutif, dan memiliki kualitas produk yang bagus yang mempunyai nilai tambah tersendiri di mata pelanggan.
2.2 Business Model Canvas
Menurut buku Business Model Generation (Osterwalder & Pigneur, 2010), model bisnis digunakan untuk menggambarkan dasar pemikiran tentang bagaimana organisasi membuat, memberikan dan menangkap hal-hal seperti ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Proses pembuatan model bisnis adalah bagian dari strategi bisnis yang dipakai dalam membentuk suatu inti dari suatu bisnis untuk membangun berbagai aspek seperti proses operasional, strategi, apa yang bisa ditawarkan, maksud dan tujuannya, infrastuktur dan lainnya.Perusahaan perlu menggambarkan secara detail seperti apa model bisnis yang dimiliki dengan menggunakan framework Business Model Canvas. Framework ini akan mempermudah dalam menggambarkan rumusan dari model bisnis yang dimiliki.
Gambar 2. 3 Business Model Canvas
2.2.1 Customer Segments
Customer segments merupakan pembedaan kelompok manusia atau
organisasi untuk menentukan tujuannya. Untuk memberikan kepuasan kepada para pelanggan dibutuhkan segmentasi agar dapat lebih fokus dalam mengembangkan strategi bisnis untuk segmen pelanggan tertentu sesuai dengan karakteristik, kebiasaan dan kebutuhannya.
Segementasi kelompok pelanggan dapat dibedakan jika :
Memiliki kebutuhan yang berbeda
Mendapatkan nilai melalui Channel yang berbeda
Membutuhkan jenis hubungan dan interaksi yang berbeda Memiliki perbedaan dalam segi pendapatan
Tipe dari segmentasi pelanggan meliputi :
Mass Market
Untuk Mass Market tidak ada segmentasi khusus ataupun value proposition karena dapat mencakup secara umum.
Niche Market
Mempunyai segmentasi dan spesialisasi khusus sesuai dengan karakteristik dari konsumennya.
Segmented
Diperlakukan dengan menambahkan segmentasi khusus ke dalam segmentasi yang sudah ada karena mempunyai kebutuhan dan masalah yang berbeda seperti perbedaan umur, jenis kelamin, pendapatan.
Diversified
Melayani berbagai segmentasi pelanggan dengan kebutuhan dan karakteristik yang berbeda.
Multi-sided Platform / Market
Untuk dapat menjalankan bisnis secara lancar maka diperlukan segmentasi yang saling bergantung dan menguntungkan. Sebagai contoh, kartu kredit yang diberikan bank dapat membantu para pelaku bisnis yang menerima pembayaran melalui kartu kredit.
2.2.2 Value proposition
Kumpulan dari produk dan layanan yang bisa ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pelanggan. Value proposition memberikan nilai lebih yang tercipta dari berbagai elemen seperti sesuatu yang baru, kustomisasi, disain, merek, harga, akses dan kenyamanan. Value proposition terdiri dari Quantitative - price and
efficiency atau Qualitative-overall customer experience and outcome. Value proposition merupakan salah satu alasan pelanggan dapat
pindah ke tempat/toko lain. Contoh dari value proposition adalah peningkatan pelayanan, harga, merek, penampilan ataupun kustomisasi dan kenyamanan.
2.2.3 Channel
Channel merupakan media suatu perusahaan membangun dan menjalin
hubungan untuk mencapai segmentasi pelanggan dalam memberikan
value proposition. Tipe dari Channel adalah sebagai berikut :
Direct – Sales Force Direct – Web sales Direct - Own Stores Indirect – Partners Indirect – Stores Indirect – Wholesaler
Fase dari proses yang terjadi di dalam Channel adalah sebagai berikut:
1. Awareness: Bagaimana cara membuat pelanggan aware terhadap merek dan produk dari perusahaan.
2. Evaluation: Bagaimana cara perusahaan membahas dan mengevaluasi value proposition yang diberikan kepada para pelanggan.
3. Purchase: Bagaimana cara membuat para pelanggan membeli produk dan pelayanan yang disediakan.
4. Delivery: Bagaimana cara perusahaan memberikan value proposition kepada para pelanggan.
5. After sales: Bagaimana perusahaan dapat mendukung dan membuat pelayanan atau promosi untuk para pelanggan agar tetap setia dan datang kembali untuk membeli.
2.2.4 Customer Relationship
Untuk menjamin kelangsungan dan keberhasilan suatu bisnis, perlu diidentifikasikan hubungan yang ingin dibuat sesuai dengan segmentasinya. Terdapat beberapa tipe dari hubungan perusahaan dengan para pelanggan yaitu sebagai berikut :
1. Personal Assistance
Hubungan yang berdasarkan interaksi antar manusia. Pelanggan berinteraksi langsung dengan pegawai toko yang membantu dalam proses pemilihan, pembelian ataupun pembayaran.
2. Dedicated Personal Assistance
Hubungan ini terjadi dengan memberikan atau menyediakan personal assistance khusus untuk pelanggan tertentu. Dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan dapat mengetahui apa saja kebiasaan dan apa yang disuka oleh pelanggan tersebut dan memberikan/memenuhi semua kebutuhannya.
3. Self-services
Pelanggan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari pihak perusahaan. Tentu saja perusahaan memberikan suatu alat, sistem, ataupun fasilitas agar pelanggan dapat melakukannya sendiri secara mudah dan efektif.
4. Automated services
Mirip dengan self service tapi memberikan saran atau rekomendasi secara sistematis kepada pelanggan dengan melihat transaksi sebelumnya apa yang dibeli, apa yang dilihat untuk dapat menghasilkan suatu rekomendasi yang dibutuhkan pelanggan.
5. Communities
Membentuk suatu komunitas yang dimaksudkan untuk mendukung proses bisnis dan memberikan masukan atau saran yang dapat meningkatkan kualitas dari bisnis itu sendiri. Biasanya terbentuk melalui komunitas online ataupun komunitas langsung.
6. Co-creation
Pelanggan dapat memberikan masukan secara langsung apa saja kekurangan dan yang butuh diperbaiki ataupun yang butuh dikembangkan dari bisnis yang sedang berjalan agar dapat memberikan yang terbaik untuk semua pelanggan
2.2.5 Revenue Streams
Cara yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari bisnis yang berjalan sesuai segmentasi pelanggan yang ada dengan menjual produk atau jasa dengan harga yang sesuai ataupun dengan
cara lainnya. Ada beberapa cara untuk mendapatkan revenue streams yaitu :
1. Asset sale
Kebanyakan bisnis menjual produknya sendiri untuk mendapatkan keuntungan bagi perusahaannya.
2. Usage fee
Keuntungan tercipta dari pemakaian jasa yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin sering jasa itu dipakai oleh pelanggan maka semakin besar revenue streams yang didapat.
3. Subscription fee
Tercipta dari penjualan jasa yang berlangsung terus–menerus atau dengan tahapan. Contoh : membership yang harus dibayar setiap bulannya.
4. Lending/Renting/Leasing
Memberikan izin pihak lain untuk menggunakan asset dari perusahaan dan perusahaan mendapatkan bayaran atau keuntungan sebagai gantinya. Contoh : penyewaan mobil.
5. Licensing
Memberikan akses khusus kepada pelanggan ataupun pihak lain untuk menggunakan nama, produk ataupun fasilitas perusahaan
dan sebagai gantinya, pengguna harus membayar biaya untuk mendapatkan izin atau lisensi.
2.2.6 Key Resources
Sumber daya yang diperlukan agar dapat memberikan nilai tambah kepada pelanggan dan juga dianggap sebagai sebagai asset perusahaan untuk mendukung bisnis yang berjalan. Sumber daya yang dibutuhkan ditentukan sesuai dengan model bisnis yang dilakukan. Sumber daya ini meliputi:
1. Physical: Meliputi asset yang bersifat fisikal seperi bangunan,
kendaraan, mesin, POS (Point of Sale) dan jaringan distribusi.
2. Human: Sumber daya manusia adalah yang pasti akan
dibutuhkan untuk semua perusahaan dan bisnis.
3. Intellectua: Meliputi mereks, pengetahuan, hak cipta lisensi,
dikembangkan tetapi jika berhasil akan menciptakan nilai yang penting.
4. Finance: Untuk membangun suatu bisnis tentu saja membutuhkan uang dan modal untuk sebagai pondasi utama. Bisa diperoleh dari pemilik bisnis ataupun dari pinjaman bank.
2.2.7 Key Activities
Berisikan berbagai aktivitas utama yang dilakukan dalam suatu perusahaan atau organisasi. Aktivitas pada bagian ini tentunya adalah aktivitas yang dapat menjadi nilai lebih dan menguntungkan. Sebagai contoh: pembentukan supply chain yang lebih efisien. Key Activities dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Production: Aktivitas ini berhubungan dengan merancang,
membuat dan mengirim suatu produk dengan kuantitas yang lebih besar dan kualiatas yang lebih baik.
2. Problem Solving: Aktivitas ini memberikan solusi dari masalah
yang dimiliki pelanggan. Biasanya berhubungan dengan pelayanan, produk ataupun kenyamanan.
3. Platform / Network: Bisnis dirancang dan dibuat sesuai dengan
landasan ataupun jaringan yang berhubungan dengan key activities seperti mereks ataupun perangkat lunak yang digunakan.
2.2.8 Key Partnerships
Untuk dapat mengoptimalkan proses operasional dan mengurangi resiko yang ada, perusahaan atau organisasi biasanya membentuk hubungan pembeli dengan supplier. Terdapat empat macam tipe partnership yaitu :
1. Strategi aliansi antara non-competitor 2. Strategi bisnis dengan competitor
3. Joint-ventures untuk membangun bisnis yang baru
2.2.9 Cost Structure
Menggambarkan pengeluaran atau biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu bisnis. Pengeluaran tersebut dapat dengan mudah dianalisis dan dihitung setelah menentukan key resources, key activities dan key partners. Pengeluaran tersebut mempunyai dua kelas bisnis yaitu:
1. Cost-driven: Menciptakan proses operasional yang efisien
dan meminimalisasikan pengeluaran yang ada.
2. Value-driven: Tidak terlalu memperhatikan pengeluaran
tetapi lebih fokus pada menciptakan dan memberikan nilai lebih kepada para pelanggannya.
Cost structure memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
1. Fixed-Costs: Pengeluaran tetap yang tidak berubah-ubah sesuai dengan sistem yang berjalan. Contoh : gaji pegawai dan sewa tempat.
2. Variable-Costs: Pengeluaran yang berubah–ubah sesuai dengan jumlah penjualan dan produksi.
3. Economics of Scales: Pengeluaran berkurang sesuai dengan meningkatnya permintaan dan produksi.
4. Economics of Scope: Pengeluaran berkurang karena adanya kerjasama dengan bisnis lain yang berhubungan langsung dengan produk yang dihasilkan.
2.3
Implementation Plan
KULTUR&CO adalah perusahaan yang bergerak dibidang fashion. Dimana KULTUR&CO mempunyai lokasi kantor di daerah kemang. KULTUR&CO selain menjual tas, perusahaan pun dapat menerima service tas baik dari merek KULTUR&CO sendiri maupun merek lain yang berbahan kulit juga. Dari hasil survei banyak masyarakat yang berpendapat tidak cocok kebudayaan wayang di aplikasikan ke dalam kulit. Namun disini penulis ingin membuat suatu produk tas yang mengimplementasikan kebudayaan wayang kedalam kulit dan menggunakan tehnik pahat. Dimana produk ini akan memberikan value yang lebih dari tas-tas pada umumnya.
2.4 Marketing Mix
Menurut Kotler (2010), marketing mix merupakan suatu kumpulan alat-alat yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi penjualan. Komponen dari bauran pemasaran yang paling sering digunakan
dikenal dengan 4P yaitu produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion). Berikut ini adalah penjelasan dari keempat komponen bauran tersebut :
2.4.1 Produk (Product)
Produk adalah suatu benda atau jasa yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan atau bisnis kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari konsumen tersebut. Sebuah produk harus dapat memenuhi keperluan dan kebutuhan dari konsumen. Faktor-faktor seperti desain, merek, kualitas, banyaknya pilihan, fungsi penggunaan, positioning, dan pengembangan dari sebuah produk harus sangat diperhatikan untuk menarik perhatian pelanggan.
2.4.2 Harga (Price)
Harga merupakan sebuah patokan dasar seberapa besar jumlah yang harus dikeluarkan konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa. Strategi dalam penetapan harga sangat penting karena faktor harga dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli suatu produk. Harga juga merupakan faktor yang menunjukan bagaimana posisi sebuah produk didalam pasar, dan mempengaruhi dalam memaksimalkan penjualan atau laba.
2.4.3 Tempat (Place)
Pemilihan tempat sangat penting dalam strategi penyampaian sebuah produk atau jasa kepada konsumen. Strategi ini meliputi letak tempat yang strategis, transportasi, distribusi produk atau jasa, sampai dengan dekorasi ruang yang dapat mempengaruhi daya beli dari konsumen.
2.4.4 Promosi (Promotion)
Promosi adalah cara yang dilakukan perusahaan untuk memperkenalkan produk atau jasa kepada konsumen beserta upaya-upaya dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli. Terdapat berbagai cara untuk melakukan promosi seperti melalui media cetak, media elektronik, media letak, media luar ruang, personal selling,
direct selling, word of mouth, dan sebagainya. Dalam melakukan
promosi, perusahaan harus bisa mengidentifikasi segmen pasar dan memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pasar, sehingga daya beli dari konsumen dapat lebih mudah didapat.
2.5 Segmenting, Targeting, dan Positioning
2.5.1 Segmenting
Menurut Kotler (2008) Sebuah pasar yang terdiri dari konsumen yang beranekaragam (heterogen), sehingga untuk dapat melakukan kegiatan pemasaran dengan baik dan mencapai tujuan
perusahaan, perlu dilakukan pengelompokkan menjadi konsumen yang homogen dengan berbagai cara. Pembagian pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen dapat disegmentasikan berdasarkan kesamaan variabel Kotler, (2008), antara lain:
1. Geographic: Pembagian pasar berdasarkan kesamaan variabel seperti negara, kota, dan iklim.
2. Demographic: Pembagian pasar berdasarkan kesamaan variabel seperti kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.
3. Behavioral: Pembagian pasar berdasarkan kesamaan variabel seperti respon konsumen terhadap produk, pemakaian produk dan pengetahuan konsumen akan produk.
2.5.2 Targeting
Menurut Kotler (2008) target pasar adalah “a set of buyer
sharing common needs or characteristics that the company decided to serves”. Setiap konsumen memiliki keinginan dan karakter yang
berbeda. Oleh karena itu, setelah membagi konsumen menjadi kelompok-kelompok yang lebih homogen (segmenting), perusahaan perlu memilih segmen pasar mana yang akan dimasuki (targeting). Hal ini berguna untuk mempermudah penyusunan strategi pemasaran yang akan digunakan.
2.5.3 Positioning
Menurut Kotler (2008, hal191), product positioning adalah “the way the product is defined by consumers on important attributes–
the place occupies in consumers’s mind relative to competing product”. Setelah perusahaan menetapkan target pasar dan mengetahui
apa yang dibutuhkan oleh para konsumennya, maka perusahaan dapat menyesuaikan serta menetapkan posisi produknya di pasar (market positioning). Tujuan dari positioning yaitu untuk menanamkan suatu citra produk di benak konsumen sehingga produk tersebut terlihat menonjol dibandingkan dengan produk pesaing.
2.6 Analisis Keuangan dan Ratio
Menurut Stephen, et al,(2002) Analisis keuangan merupakan prediksi dari kelangsungan hidup, stabilitas dan profitabilitas dari suatu bisnis. Rasio keuangan merupakan indikator yang sangat berguna untuk mengetahui kinerja dan keadaan keuangan perusahaan. Kebanyakan rasio keuangan dapat dihitung berdasarkan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan.
Menurut Titman, Keown, dan Martin (2011) terdapat 5 klasifikasi rasio keuangan yang umumnya dipakai dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja perusahaan, yang salah satunya sebagai berikut:
Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba/profit dibandingkan dengan penjualannya
a. Marjin Laba Kotor (Gross Margin)
Rasio ini digunakan untuk membandingkan antara laba kotor (gross profit) dengan penjualan. Sehingga dapat diketahui berapakah laba kotor yang diterima perusahaan per satu rupiah penjualan
b. Marjin Laba Usaha (Operating Margin)
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa banyak laba usaha (operating income) yang dihasilkan oleh perusahaan dibandingkan dengan setiap penjualan yang terjadi.
c. Marjin Laba Bersih (Profit Margin)
Profit margin merupakan ukuran dari laba bersih yang didapat
perusahaan dari setiap penjualan yang terjadi. d. Pengembalian atas Aktiva (Return on Assets)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menperoleh laba bersih dengan memberdayakan aset yang dimilikinya.
e. Return On Equity
Merupakan salah satu dari rasio profitabilitas dimana rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal
sendiri. Rasio profitabilitas ini sangat diperhatikan oleh calon maupun pemegang saham karena akan berkaitan dengan harga saham serta dividen yang akan diterima. Oleh sebab itu, Return