• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal SAINSTECH Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : Volume 4 Nomer 2 Desember 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal SAINSTECH Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : Volume 4 Nomer 2 Desember 2017"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

33

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK-PAIR-SHARE (TPS) PADA SISWA

KELAS XII ADMINISTRASI PERKANTORAN 2

SMK NEGERI 2 BLORA SEMESTER 6 TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh : Cicilia Dian Ratnawati, S.Pd SMK Negeri 2 Blora

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share(TPS) siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMKNegeri 2 Blora semester 6 tahun pelajaran 2016/2017.

Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas, yaitu suatu penelitian yang dilakukan kolaboratif antara peneliti, siswa, dan guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia . Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora yang berjumlah 32 orang.Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh peneliti yang direncanakan bersama dengan guru temansejawat. Sumber data penelitian ini adalah informan, tempat, peristiwa dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasidan tes. Proses penelitian dilakukan dalam dua siklus mengingat peneliti adalah guru pengampu mata pelajaran tersebut. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dan analisis dan refleksi. Setiap siklus dilakukan dengan tiga kali pertemuan dan masing-masing pertemuan 2 x 45 menit.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS). Hasil penelitian yang telah dilakukan adalah ada peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa dari 19 siswa (59%) yang tuntas pada pra siklus menjadi 24 siswa (75%) yang tuntas pada siklus I dan meningkat menjadi 30 siswa (94%) yang mencapai batas ketuntasan belajar. Nilai rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia meningkat dari 72,81 pada pra siklus menjadi 79,69 (meningkat 9%) pada siklus I dan menjadi 86,41 (meningkat 19%) pada siklus II.

(2)

34

PENDAHULUAN

Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan di SMK Negeri 2 Blora khususnya siswa kelas XII, dapat dikatakan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa relatif rendah. Hal ini terbukti dengan hanya 19 siswa atau 59% saja yang memenuhi nilai ketuntasan minimal 77 dan 13 siswa atau 41% yang belum memenuhi nilai ketuntasan minimal. Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut dianalisis peneliti sebagai akibat proses pembelajaran yang belum maksimal.

Pada saat pembelajaran bahasa Indonesia aktivitas guru lebih dominan daripada siswa,sehingga seringkali dalam proses pembelajaran, siswa hanya menghafal ilmu pengetahuan yang disampaikan guru, bukan memahaminya. Proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang membosankan dan tak menyenangkan. Ditambah lagi, prestasi melalui proses persaingan antar siswa yaitu perengkingan untuk menentukan siswa terbaik. Seakan-akan pendidikan hanya menjadi tempat mencari nilai tertinggi, bukan sebagai tempat belajar untuk memahami dan menemukan sendiri ilmu pengetahuan. Selain itu keberhasilan pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal materi. Walaupun banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami secara mendalam materinya.

Dengan perbaikan proses pembelajaran yaitu dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif diharapkan akan memperbaiki kualitas pendidikan. Karena dengan penerapan model pembelajaran yang inovatif dankreatif akan memberikan dampak positif. Antara lain, meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar. Proses pembelajaran akan berlangsung menarik dan tidak membosankan sehingga siswa lebih termotivasi dalam belajar. Penerapan model pembelajaran tersebut juga akan membuat siswa lebih aktif dan konsentrasi mereka lebih fokus pada pelajaran. Dengan penerapan pembelajaran yang inovatif dan kreatif diharapkan juga mampu mengatasi masalah-masalah yang muncul karena proses pembelajaran yang buruk.

Berdasarkan uraian sebelumnya, salah satu cara memperbaiki proses pembelajaran

adalah dengan penerapan model pembelajaran inovatif dan kreatif. Model pembelajaran kooperatif sendiri terdiri dari berbagai macam metode, salah satunya adalah metode

Think-Pairs-Share (TPS). Think-Think-Pairs-Share (TPS)

merupakan model pembelajaran kooperatif terstruktur. Dimana dalam pelaksanannya mengandalkan kerja sama antara siswa dalam memecahkan masalah. Dalam pelaksanaan metode Think-Pair-Share (TPS) guru menyajikan materi klasikal, memberikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pair), presentasi kelompok (share), kuis individual, membuat skor perkembangan tiap siswa, dan mengumumkan hasil kuis. Langkah-langkah penerapan metode tersebut dimulai dari guru menyajikan materi klasikal, kemudian menyampaikan permasalahan kepada siswa. Selanjutnya siswa diminta untuk berfikir (think) tentang permasalahan yang disampaikan guru. Siswa diminta berpasangan (pairs) dengan teman sebelahnya dan menggabungkan hasil pemikiran masing-masing. Selanjutnya guru memimpin pleno diskusi kecil, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya (share). Dan terakhir guru memberi kesimpulan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa dan memberikan kuis individual.

Dengan penerapan metode

Think-Pair-Share (TPS) akan dapat meningkatkan

keaktifan siswa di dalam kelas. Karena siswa akan berdiskusi dengan pasanganya (pair) untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, kemudian siswa juga berbagi (share) kepada teman-teman sekelasnya dengan mempresentasikan hasil diskusinya dengan pasangannya. Selain itu dengan penerapan metode ini siswa akan lebih menguasai materi, karena siswa harus berpikir (think) untuk menyelesaikan masalah yang ditugaskan kepadanya. Beberapa dampak positif metode ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas peserta didik. Penerapan metode Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu tindakan memperbaiki proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK-PAIR-SHARE (TPS)

(3)

35 PADA SISWA KELAS XII ADMINISTRASI PERKANTORAN 2 SMK NEGERI 2 BLORA SEMESTER 6 TAHUN PELAJARAN 2016/2017”.

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA

BERPIKIR

Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Menurut Bratanata, dkk dalam Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati (1989: 69) berpendapat bahwa “Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaannya”. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati (1989: 70) sendiri berpendapat bahwa “Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus”.

Definisi pendidikan menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam bab I pasal 1 ayat 1 yaitu:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Ulih Bukit Karo-karo (1981: 3) menyatakan bahwa “pengajaran artinya bahan pelajaran yang disajikan atau proses penyajian bahan pelajaran”. Bahan atau tegasnya bahan pelajaran disini berarti “sesuatu” yang dapat berwujud pengetahuan, kecekatan/keterampilan, aktivitas serta hasil-hasil budaya pada umumnya. Dalam pengajaran, perumusan tujuan adalah yang utama dan setiap proses pengajaran senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu proses pengajaran harus direncanakan.

Menurut Sardiman A.M (2000: 55) “pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan”. Maksudnya bahwa kegiatan belajar mengajar itu suatu peristiwa yang terikat, terarah pada tujuan dan dilaksanakan untuk

mencapai tujuan. Winarno Surakhmad dalam Sardiman A.M (2000: 55) memberikan keterangan bahwa rumusan dan taraf pencapaian tujuan pengajaran adalah merupakan petunjuk praktis tentang sejauh manakah interaksi edukatif itu harus dibawa untuk mencapai tujuan akhir.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran adalah suatu proses mengkoordinasi beberapa komponen seperti tujuan, bahan pelajaran, model dan alat, serta penilaian sehingga satu sama lain saling berhubungan dan saling berpengaruh dalam kegiatan belajar peserta didik menuju terjadinya perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Hasan Alwi (2001:895) prestasi mempunyai pengertian sebagai “hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dsb)”. Sedangkan Winkel (1991: 243) mengatakan bahwa “…. Guru akan menuntut suatu prestasi, sebagai bukti nyata bahwa hasil yang dituju telah tercapai ….”. Sedangkan Zainal Arifin (1990: 3) menyatakan bahwa “prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat perennial dalam sejarah kehidupan manusia karena sepanjang rentang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuannya masing-masing”.

Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar sehingga terdapat proses perubahan dalam pola pemikiran dan pola tingkah laku. Penilaian hasil belajar diusahakan menyeluruh dalam arti meliputi langkah kerja hasil kerja siswa dari soal yang telah diberikan. Demikian pula terhadap penilaian pembelajaran akuntansi harus ditekankan pada proses dan hasil kerja berfikir siswa. Dalam proses berfikir, perlu dilihat tata nalar dan kreatifitas siswa. Proses dan hasil berfikir tesebut dinilai dari segi kelogisan, kecermatan dan ketepatan.

Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar akuntansi yang menunjukkan pada kecakapan siswa dalam menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan guru di sekolah.

Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran adaptif yang diajarkan pada siswa kelas XII semua program

(4)

36 keahlian. Pada penelitian ini materi yang diajarkan pada kegiatan pembelajaran adalah menulis surat dengan memperhatikan jenis surat. Pada materi ini, siswa perlu memahami bagian-bagian surat, tata bahasa dan cara menulis surat dengan baik.

Nilai kriteria ketuntasan minimal siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Blora adalah 77.

Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair

Share (TPS)

Model Think-Pair-Share tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif, model

Think-Pair-Share dapat juga disebut sebagai

model belajar-mengajar berpasangan. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985,

Think-Pair-Share sebagai struktur kegiatan

pembelajaran gotong royong. Model ini memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Sebagai suatu model pembelajaran

Think-Pair-Share memiliki langkah-langkah

tertentu. Menurut Muslimin (2001: 26) langkah-langkah Think-Pair-Share ada tiga yaitu : Berpikir (Thinking), berpasangan (Pair), dan berbagi (Share).

Dalam penelitian ini langkah-langkah pembelajaran kooperatif model Think Pair

Share akan dilakukan dengan jalan :

1. Guru menyampaikan materi pembelajaran 2. Siswa dipasangkan dengan teman sebangku

dan diminta untuk memikirkan materi yang disampaikan guru

3. Siswa mengadakan diskusi inter subyektif dengan pasangannya

4. Siswa mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas

5. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang diajarkan

6. Guru melaksanakan evaluasi untuk penilaian individual

Kerangka Berpikir

Dalam penelitian ini kerangka pemikirannya adalah sebagai berikut:

Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah selalu melibatkan guru sebagai pihak pengajar dan siswa sebagai pihak yang menerima pelajaran. Sebagai pihak pengajar, guru bertugas menyampaikan materi

pelajaran kepada siswa. Dengan demikian gurulah yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pengajaran. Akan tetapi, pengajaran yang dilaksanakan oleh guru tidak selamanya berhasil, terbukti dengan adanya siswa yang masih memperoleh prestasi yang rendah pada materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Keberhasilan proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan ini, diantaranya adalah model mengajar. Penggunaan model mengajar cukup besar pengaruhnya terhadap keberhasilan guru dalam mengajar. Pemilihan model yang kurang tepat justru dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran.

Dengan demikian, model mengajar sangat mempengaruhi prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa. Kenyataan ini terlihat dalam materi-materi pelajaran yang menuntut pola pemikiran yang melibatkan seluruh aspek kognitif dan afektif bahkan psikomotorik. Sehingga untuk mengajarkan pokok bahasan tertentu diperlukan pendekatan tertentu pula. Hal ini disebabkan karena pendekatan yang dianggap baik belum tentu cocok untuk mengajarkan suatu materi tertentu.

Model mengajar yang dipilih secara tepat, hendaknya seorang guru harus mengetahui macam-macam model mengajar dan mengetahui pula untuk topik-topik apa saja model tersebut cocok digunakan. Salah satunya model think pair share, dimana seorang guru harus berusaha melibatkan siswa aktif berdiskusi dan bekerja sama dengan teman pasangannya. Penggunaan model ini akan dapat menghasilkan kegiatan pembelajaran belajar yang efektif untuk menuju hasil yang lebih baik. Hal itu dikarenakan dalam model Think

Pair Share siswa diarahkan untuk lebih aktif

dalam pembelajaran dan Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut di atas, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :

Penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) mampu meningkatkan prestasi belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora semester 6 tahun pelajaran 2016/2017.

(5)

37

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 2 Blora yang terletak di jalan Rajawali No. 11 Blora. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama enam bulan mulai bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2017. Kegiatan penelitian dijabarkan melalui tabel berikut ini:

Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah siswa 32 siswa.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau sekolah tempatnya mengajar yang bertujuan untuk menyempurnakan kegiatan pembelajaran. PTK dilaksanakan dengan strategi siklus yang berangkat dari identifikasi masalah yang dihadapi oleh guru, penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Observasi, 2. Tes,

3. Dokumentasi

Validasi Data

Pada penelitian ini uji validitas yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data adalah triangulasi, yaitu dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Pada penelitian ini, peneliti memakai teknik triangulasi data dan triangulasi metode.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisa deskriptif komparatif.

Indikator Kinerja

Indikator ketercapaian siklus I dan II dinilai dari beberapa komponen dan target yang diharapkan dapat dicapai. Indikator ketercapaian dalam penelitian ini adalah pencapaian prestasi belajar bahasa Indonesia siswa yang memperoleh nilai sama dengan atau di atas KKM 77 sebanyak minimal 26 orang atau 80%.

HASIL TINDAKAN

Deskripsi Siklus Awal

Observasi awal dilakukan pada hari Selasa tanggal 3 Januari 2017 di kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora. Dari observasi awal yang dilakukan diperoleh hasil bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia masih banyak yang berada dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 77. Berdasarkan hasil nilai pra siklus tersebut menunjukkan bahwa hanya sebanyak 19 siswa telah memenuhi KKM sedangkan sisanya sebanyak 13 siswa belum memenuhi KKM. Berdasarkan hasil pengamatan pra siklus di atas diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 2. Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Pra Siklus

No Kriteria Jumlah Prosentase

1 Tuntas 19 59

2 Tidak Tuntas 13 41

Jumlah 32 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa penyebab kurang efektifnya kegiatan pembelajaran tersebut antara lain adalah: 1. Ditinjau dari Segi Siswa

a. Siswa kurang bersemangat dan merasa jenuh mengikuti kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia, terbukti mereka lebih senang bersenda gurau dengan temannya atau tidur-tiduran secara sembunyi-sembunyi.

b. Siswa cenderung mengabaikan pelajaran dan pasif dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia, terbukti mereka tidak memperhatikan pelajaran dari guru. c. Siswa kurang teliti saat mengerjakan

latihan dan tugas yang diberikan oleh guru.

2. Ditinjau dari Segi Guru

a. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa maupun materi pelajaran, terbukti dengan rendahnya semangat siswa mengikuti kegiatan pembelajaran. b. Guru masih menganggap siswa hanya

sebagai obyek belajar, terbukti mereka hanya diminta mendengarkan dan melaksanakan instruksi selama kegiatan pembelajaran yang berlangsung.

Deskripsi Hasil Siklus I Perencanaan Tindakan

(6)

38 Kegiatan perencanaan tindakan 1 dilaksanakan pada hari Jumát tanggal 6 Januari 2017 di ruang guru SMK Negeri 2 Blora. Peneliti membuat rancangan tindakan yang akan dilakukan dalam proses penelitian pada siklus I. Pelaksanaan tindakan pada siklus I direncanakan akan dilaksanakan selama tiga kali pertemuan, yakni pada hari Selasa tanggal 10, 17 dan 24 Januari 2017.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan selama tiga kali pertemuan sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Masing-masing pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45 menit (dua jam pelajaran). Materi pembelajaran bahasa Indonesia pada pelaksanaan tindakan I ini adalah bentuk-bentuk surat.

Observasi dan Interpretasi

Berdasarkan hasil evaluasi belajar siklus I yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 3. Hasil Nilai Evaluasi Siklus I No Siklus 1 Jumlah Prosentase

1 Tuntas 24 75

2 Tidak Tuntas 8 25

Jumlah 32 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Dari tabel di atas, pada siklus I terdapat 24 siswa (75%) yang sudah mampu mendapatkan nilai sama dengan atau di atas KKM, sedangkan 8 siswa lainnya (28%) belum mampu mencapai batas KKM. Nilai rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia pada siklus I ini adalah 79,69 meningkat 9% dari nilai rata-rata pra siklus. Hasil evaluasi belajar bahasa Indonesia siswa selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

Refleksi Tindakan Siklus I

Berdasarkan observasi dan analisis diatas, maka tindakan refleksi yang dapat dilakukan untuk mencapai target keberhasilan penelitian adalah:

1. Sebaiknya guru memperhatikan tingkat kesiapan belajar siswa agar konsentrasi mereka dapat terpusat pada materi yang akan disampaikan.

2. Guru perlu menambah waktu pada saat memberikan contoh mengerjakan dan tanya jawab dengan siswa agar kesulitan yang dialami mereka dapat segera diatasi

3. Guru memasangkan siswa dengan lebih tepat sesuai kemampuan masing-masing

agar terjadi keseimbangan antar pasangan dan dapat saling melengkapi.

4. Guru lebih sering berkeliling ke pasangan yang masih suka bercanda pada saat siswa berdiskusi untuk menjaga kondisi konsentrasi mereka pada saat bekerja kelompok.

Deskripsi Hasil Siklus II

Perencanaan Tindakan Siklus II

Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 27 Januari 2017 di ruang guru SMK Negeri 2 Blora. Penelitian dilaksanakan selama tiga kali pertemuan yakni pada hari Selasa tanggal 31 Januari, 7 dan 14 Februari 2017.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan II dilaksanakan selama tiga kali pertemuan sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Masing-masing pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45 menit (dua jam pelajaran). Materi yang disampaikan pada pelaksanaan tindakan II adalah membuat surat lamaran pekerjaan dan menulis curriculum vitae yang merupakan kelanjutan dari materi pada pelaksanaan tindakan I.

Observasi dan Interprestasi

Hasil nilai evaluasi siswa pada siklus I terdapat 30 siswa (94 %) yang mampu mendapatkan nilai di atas batas KKM, sedangkan 2 siswa lainnya (6%) belum mampu mencapai batas KKM. Nilai rata-rata hasil evaluasi siklus II adalah 86,41 naik 19% dari nilai rata-rata hasil evaluasi pra siklus.Hasil nilai evaluasi bahasa Indonesia pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4. Hasil Nilai Evaluasi Siklus II

No Keterangan Jumlah Prosentase

1 Tuntas 30 94

2 Tidak Tuntas 2 6

Jumlah 32 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Refleksi Tindakan Siklus II

Tindakan refleksi yang dapat diambil berdasarkan pengamatan dan analisis yang telah dilakukan adalah:

1. Untuk materi bentuk-bentuk surat, guru perlu menerangkan lebih pelan dan lebih jelas agar pemahaman siswa terhadap bentuk surat sampai ke detail-detailnya.

2. Guru masih perlu mengadakan pendekatan personal untuk mengatasi perbedaan

(7)

39 kemampuan yang dimiliki masing-masing siswa.

3. Guru harus lebih sering menggunakan berbagai media pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam membuatnya untuk menambah semangatnya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Pembahasan

Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dari siklus satu ke siklus berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel berikut ini: Tabel 5. Ketuntasan Hasil Evaluasi Siklus I

dan Siklus II

Kriteria Siklus I Siklus II Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Tuntas 24 75 30 94

Tidak Tuntas 8 25 2 6

Jumlah 32 100 32 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah digunakannya model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) membawa perubahan yang positif dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Perubahan yang terlihat adalah:

1. Siswa menjadi lebih perhatian dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia 2. Siswa menjadi lebih bersemangat dan aktif

pada saat diskusi dengan pasangan

3. Siswa menjadi lebih mudah memahami materi pembelajaran karena guru dan pasangannya mau membantu mengatasi kesulitan belajar yang dialami.

Dari hasil pengamatan pelaksanaan siklus II terlihat bahwa masalah yang dihadapi pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas XII Administrasi Perkantoran 2 sudah dapat teratasi dengan penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS).

HASIL TINDAKAN

Berdasarkan data penelitian diperoleh nilai tes awal pra siklus, hanya 19 siswa yang tuntas yaitu nilai memenuhi KKM dengan persetase 59% dan sisanya 13 siswa atau 41% belum tuntas. Kemudian ketuntasan belajar yang tercapai pada siklus I adalah sebanyak 24 siswa dengan persentase sebesar 75% telah memenuhi KKM dan 8 siswa atau 25% yang belum memenuhi KKM. Pada siklus I sudah terlihat peningkatan persentase meskipun belum

mencapai target tujuan yang ditetapkan sehingga perlu melakukan tindakan siklus II . Kemudian untuk siklus II, ketuntasan prestasi belajar yang tercapai sebanyak 30 siswa dengan persentase sebesar 94 % dan hanya 2 siswa yang dinyatakan belum tuntas yaitu sekitar 6%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 6. Ketuntasan Prestasi belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I dan II

Kriteria

Indikator Keberhasilan 80% Pra Siklus Siklus I

Jumlah Siswa Persen tase Jumlah Siswa Persen tase Jumlah Siswa Tuntas 19 59 24 73 Tidak Tuntas 13 41 8 27 Jumlah 32 100 32 100

Sumber :(Sumber : Data Hasil Penelitian) Berdasarkan data penelitian diperoleh hasil bahwa nilai rata-rata evaluasi prestasi belajar juga mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada pra siklus adalah 72,81 kemudian pada setelah dilaksanakan tindakan siklus I meningkat menjadi 79,69 naik 9% dari rata-rata semula. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 86,41 naik 19% dari rata-rata pra siklus. Kenaikan nilai rata-rata siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 7. Nilai Rata-Rata Per Siklus No Keterangan Nilai 1 Pra Siklus 72,81 2 Siklus 1 79,69 3 Siklus 2 86,41 (Sumber : Data Hasil Penelitian)

Setelah dilaksanakannya tindakan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajarBahasa Indonesia pada siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair

Share (TPS) semester 6 tahun pelajaran

2016/2017.

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan

Penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi empat tahap yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3)

(8)

40 observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi tindakan.

Berdasarkan hipotesis tindakan yang telah dikemukakan dan tindakan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh simpulan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar bahasa Indonesia dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Think Pair

Share (TPS) pada kelas XII Administrasi

Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora tahun pelajaran 2016/2017. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan sebagai berikut: 1. Prestasi belajar bahasa Indonesia kondisi

awal hanya 19 siswa (59%) yang sudah tuntas, setelah dilakukan tindakan siklus I naik menjadi 24 siswa (75%) mencapai ketuntasan belajar, kemudian setelah tindakan siklus II naik menjadi 30 siswa (94%) yang mencapai ketuntasan belajar. 2. Nilai rata-rata prestasi belajar bahasa Indonesia 72,81 pada kondisi awal naik menjadi 79,69 (9%) setelah dilakukan tindakan pada siklus I, kemudian naik 86,41 (19%) setelah dilakukan tindakan pada siklus II.

Kesimpulan penelitian tindakan kelas ini adalah ada peningkatan prestasi belajar bahasa Indonesia melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas XII Administrasi Perkantoran 2 SMK Negeri 2 Blora tahun pelajaran 2016/2017.

Implikasi

Implikasi dari penelitian tindakan kelas ini adalah:

Faktor- faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yaitu berasal dan pihak guru maupun siswa. Faktor dari guru di antaranya adalah kemampuan guru dalam mengembangkan materi, kemampuan guru dalam menyampaikan materi dengan berbagai media pembelajaran, kemampuan guru dalam mengelola kelas, dan metode yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Faktor dari siswa di antaranya adalah tingkat intelegensi, motivasi belajar dan minat belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Faktor-faktor tersebut saling mendukung satu sama lain, sehingga harus diupayakan secara maksimal agar semua faktor tersebut dapat dimiliki oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Apabila guru memiliki kemampuan baik, maka

guru dapat menyampaikan materi dengan baik. Materi tersebut akan diterima siswa dengan baik apabila siswa juga memiliki minat dan motivasi yang tinggi untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisiensehingga prestasi belajar yang diraih siswa dapat maksimal.

Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan kualitas proses dan hasilnya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pilihan dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Dengan penerapan model pembelajaran ini diharapkan dapat menjadikan kegiatan pembelajaran bahasa Indoneia lebih menarik dan menyenangkan.

Pemberian tindakan dan siklus I sampai siklus II memberikan deskripsi bahwa terdapatnya kekurangan dan kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan pada siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair

Share (TPS) dapat mengatasi rendahnya

prestasi belajar bahasa Indonesia siswa.

Saran

Berkaitan dengan simpulan di atas, maka peneliti mengajukan saran- saran yang dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Bagi Kepala Sekolah

a. Alangkah baiknya selalu mendorong guru untuk berani berinovasi menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada siswa untuk meningkatkan mutu pembelajaran. b. Sebaiknya mengusahakan tercukupinya

sarana dan prasarana pendukung kegiatan pembelajaran.

2. Bagi Guru

a. Sebaiknya lebih intensif mengembangkan pembelajaran yang berbasis PAIKEM (aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan) dengan menyesuaikan karakteristik materi dan siswa yang diampunya.

b. Hendaknya bersedia meluangkan waktu untuk mengadakan pendekatan kepada

(9)

41 siswa yang mengalami kesulitan belajar agar dapat segera teratasi.

3. Bagi Siswa

a. Sebaiknya mampu memanfaatkan kegiatan diskusi kelompok untuk membentuk karakter yang bertanggung jawab, toleransi dan kerja keras.

b. Sebaiknya mampu memanfaatkan pembelajaran yang kooperatif ini untuk meningkatkan pemahamannya pada materi yang diajarkan guru.

(10)

42

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. 2009. Cooperative Learning

Teori dan Aplikasi Paikem. Surabaya :

Pustaka Pelajar.

Akhmad Sudrajat. 2008. Model Pembelajaran

Inovatif.http://akhmad

sudrajat.wordpress.comJ2008/0 1/21 / Model-Pembelajaran-Inovatif.

Anita. Lie. 2002. Mempraktikkan Coopertive

Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta

: Gramedia.

Arnie Fajar, dkk. 2005. Portofolio dalam

pembelajaran IPS. Bandung : PT Remaja

Rosdakarya.

Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi

Mahasatya.

Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Indra Bastian. 2006, Akuntansi Pendidikan. Yogyakarta : Erlangga.

Kalhani Kasholah. 2001 .Penelitian Tindakan

Kelas Untuk Guru. Malang : Universitas

Negeri Malang.

Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan

Dengan Pendekatan. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya.

Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 2001.

Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT

RemajaRosdakarya.

Nana Sudjana. 2008. Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja

Rosdakarya.

Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Rini Budiharti. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta : UNS Press.

Sardiman,AM. 2007. Interaksi dan Motivasi

Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka

Cipta.

Sudjana dan Rivai. (2009). Media Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru

Algensindo.

Sudjana, Nana. (2010). Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar. (Cet. XV). Bandung:

PT. Ramaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto,dkk. 2007. Penelitian

Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi

Aksara.

Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003.

Winataputra, U.S., dkk. (2008). Teori Belajar

dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas

Gambar

Tabel 2.  Prestasi  Belajar  Bahasa  Indonesia   Pra Siklus
Tabel 5.  Ketuntasan  Hasil  Evaluasi  Siklus  I  dan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan jenis analisis data yang digunakan adalah kuanlitatif dengan teknik prosentase.Untuk mengukur Sikap Keberagamaan Mahasiwa Fakultas Agama Islam Setelah Mengikuti

Lokasi terminal model nearside coba diterapkan dengan adanya permasalahan arus pergerakan dalam kota dengan adanya terminal terpadu (terminal lama). Pemindahan terminal lama

Merupakan jenis kemiskinan dimana seorang individu atau masyarakat memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok

Desain form ini berfungsi untuk meng-input data-data dari karyawan yang akan menjadi objek penilaian.

Sterilisator Non Listrik, Stethoscope dan Tensimeter dimasukkan ke dalam utility tray.. Untuk tensimeter dan stethoscope dimasukkan ke dalam sterilisator

Metode penentuan responden untuk Lembaga Pemasaran dengan menggunakan metode snowball sampling yaitu penelusuran saluran pemasaran produk madu yang ada di Kecamatan

PLTS adalah suatu pembangkit listrik yang menggunakan sinar matahari melalui sel surya (fotovoltaik) untuk mengkoversikan radiasi sinar foton matahari menjadi energi