20
A. Pengertian Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
1. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti proses perbuatan, cara, perihal atau segala sesuatu mengenai mengajar.1 Pembelajaran juga berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya mendapatkan pengetahuan.2 Di dalam pembelajaran terdapat proses mengajar, membimbing, melatih, memberi contoh, dan atau mengatur serta memfasilitasi berbagai hal kepada siswa agar bisa belajar sehingga mencapai tujuan pendidikan.3 Proses pembelajaran membutuhkan rangkaian interaksi antara siswa dengan guru.4
Pembelajaran dikatakan merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan siswa.
1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm. 15
2 Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hlm. 72
3
Kelvin Seifert, Manajemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan, (Jogjakarta : Ircisod, 2007), hlm. 5
4 Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 156
Pembelajaran merupakan sebuah upaya untuk belajar dan proses untuk membuat orang lain belajar.5
Lebih jelasnya, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.6 Dalam hal ini manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya. Materi meliputi peralatan sekolah. Fasilitas dan perlengkapan meliputi sarana prasarana sekolah. Prosedur meliputi kurikulum, metode pembelajaran dan lain sebagainya. 2. Pembelajaran Bahasa Arab
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh segolongan masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi.7 Setiap suku dan wilayah mempunyai bahasa masing-masing yang digunakan untuk berinteraksi dengan sesama. Terkadang bahasa tersebut menjadi bahasa persatuan bangsa dan negara. Ada pula bahasa persatuan tersebut dibentuk dengan kesepakatan bersama oleh tim bahasa sebuah negara. Dalam dunia internasional, ada bahasa yang dikenal luas dan menjadi bahasa resmi perserikatan bangsa-bangsa.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang telah diakui sebagai salah satu bahasa resmi perserikatan bangsa-bangsa. Disamping sebagai salah satu bahasa agama, bahasa Arab juga menjadi salah satu bahasa terbesar
5
Muhaimin, et al., Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: CV Citra Media, 1996), hlm. 99
6 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 57 7 Gorys Keraf, Komposisi, (Flores: Nusa Indah, 1989), hlm.1
dan banyak pemakainya. Bahasa Arab telah diajarkan di berbagai negara, termasuk di negara Indonesia.8
Pembelajaran bahasa Arab adalah proses perubahan individu berkaitan dengan kemampuan berbahasa yang diperoleh dari suatu pengalaman melalui berbagai latihan bahasa. Pembelajaran bahasa Arab berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua ataupun bahasa asing, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Sedangkan pemerolehan bahasa Arab berlangsung secara alamiah, tanpa paksaan dan merupakan bahasa ibu.9
Jelas ada perbedaan antara pemerolehan bahasa Arab dengan pembelajaran bahasa Arab. Pemerolehan bahasa Arab berlangsung sejak lahir, sedangkan pembelajaran bahasa umumnya dimulai saat masuk bangku sekolah. Kesempatan untuk mencoba berbahasa pada pemerolehan bahasa Arab sangatlah luas, sedangkan kesempatan mencoba berbahasa pada pembelajaran bahasa Arab cukup sempit dan terbatas pada masa pembelajaran. Dilihat dari segi proses, pemerolehan bahasa Arab berlangsung tanpa paksaan dan tidak terstruktur secara jelas, sedangkan pembelajaran bahasa Arab berlangsung dengan target tertentu dan terstruktur.10
Pembelajaran bahasa Arab di madrasah atau sekolah formal di Indonesia didasarkan pada peraturan dari kementerian agama. Peraturan
8 Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 8-10
9 Abdul Chaer, Psikolinguistik: Kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 85 10 Subyantoro, Psikolinguistik: Kajian Teoritis dan Implementasinya, ( Semarang: Rumah Indonesia, 2012), hlm. 91
Menteri Agama Republik Indonesia nomor 2 tahun 2008 menjelaskan tujuan pembelajaran, standar kompetensi lulusan, standar isi, ruang lingkup dan kuota pembelajaran bahasa Arab dari tingkat madrasah ibtidaiyah sampai madrasah aliyah.11
Pembelajaran bahasa Arab di sekolah diharapkan dapat memenuhi kompetensi bahasa, kompetensi komunikatif dan kompetensi budaya. Kompetensi bahasa meliputi empat keterampilan berbahasa dan tiga unsur bahasa. Empat keterampilan berbahasa yang menjadi standar kompetensi pembelajaran bahasa Arab yaitu al-istimā (menyimak), al-kalām (berbicara), al-qirāah (membaca) dan al-kitābah (menulis), sedangkan tiga unsur bahasanya adalah pengucapan, kosakata dan kaidah bahasa.12 3. Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Mahārah adalah kata yang berasal dari bahasa Arab dari akar kata Mahara yang berarti pandai. Mahārah merupakan isim masdar dari kata Mahara yang berarti kemahiran, keterampilan atau kecakapan.13
sedangkan al-istimā’ berarti mendengarkan dengan baik14. Maka, secara bahasa, mahārah al-istimā’ secara bahasa berarti keterampilan mendengarkan dengan baik (menyimak).
11
Muhammad M. Basyuni, 2008, “Lampiran Peraturan Menteri Agama Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2008” http://Kemenag.go.id/file/dokumen/02/LAMPIRANPermenag.
pdf.html. Diakses, 24 Maret 2014
12 D. Hidayat, Bahasa Arab Madrasah Aliyah, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2009), hlm. ج
13 Ahmad Warson Munawwir, AL-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), hlm. 1363
Mahārah al-istimā‟ dalam arti istilah didefinisikan sebagai
konsentrasi si pendengar kepada lawan bicara dengan tujuan memahami, menganalis dan mengkritisi isinya. Dengan kata lain, al-istimā’ bukan hanya sekedar mendengar dan memperhatikan bunyi suara semata, akan tetapi lebih dari itu dengan mengaitkan antara apa yang didengar dengan makna yang terkandung.15
Para ahli bahasa membedakan antara mendengar dan Memperhatikan (as-simā’, al-istimā’ dan al-inshōt). as-simā’ hanya sebatas telinga menangkap suara tanpa disengaja dan bermaksud memahaminya, seperti mendengar suara gaduh dan suara mobil. Sedangkan al-istimā’ membutuhkan kesadaran dan kesengajaan atas apa yang didengar, seperti mendengarkan arahan guru atau kepala sekolah. Sementara al-inshōt merupakan bentuk mendengar dan memperhatikan yang paling tinggi, di mana dituntut konsentrasi dan kesadaran penuh guna perkataan lawan bicara secara terus-menerus.16
Mendengarkan dengan baik, atau al-istimā’ merupakan kemahiran dasar dalam Pengajaran bahasa mana pun, baik bahasa ibu maupun bahasa asing. Karena itu bagi siswa penyandang tuna rungu tidak bisa belajar bahasa secara maksimal seperti siswa yang mempunyai pendengaran normal.
Al-istimā’ dianggap sebagai kecakapan pertama dalam
pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing. Guru juga harus
15 Acep Hermawan, Op.Cit., hlm. 130
16 Abdullah al-Gali dan Abdul Hamid Abdullah, Menyusun Buku Ajar Bahasa Arab, (Padang: Akademia Permata, 2012), hlm. 32
menyampaikan tujuan dari pembelajaran istima‟ apakah untuk menghafal kosakata dan kalimat seperti mengejarkan kalimat-kalimat bertegur sapa ataukah untuk memahami teks, pikiran utama dari naskah atau yang lain.17
Ketika mengajarkan mahārah al-istimā’, hendaknya guru perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. Mengetahui kemampuan akal dan budaya peserta didik
b. Mengetahui sejauh mana perhatian dan minat mereka terhadap bahasa Arab, serta menentukan tingkat kemampuan berbahasanya
c. Memulai dengan kata dan ungkapan yang dibutuhkan dalam keseharian siswa
d. Guru hendaknya berjiwa besar terutama pada siswa yang tidak bisa memahami ungkapan atau kata dalam bahasa Arab
e. Memanfaatkan media yang dapat digunakan untuk membedakan bunyi suara
f. Memahami dan memiliki keahlian dalam pengajaran bahasa Arab dan menguasai metode sam’iyyah syafahiyah
g. Memperbanyak latihan dan pengulangan kata h. Menggunakan ungkapan yang familier bagi pelajar i. Evaluasi yang berkelanjutan18
17 Wa Muna, Metodologi Pembelajaran Bahasa ArabTeori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 151
B. Urgensi Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Mahārah al-istimā’ Menyimak merupakan satu keterampilan yang
hingga sekarang agak diabaikan dan belum mendapatkan tempat yang sewajarnya dalam pengajaran bahasa Arab. Padahal, menyimak merupakan keterampilan yang cukup penting, diantaranya adalah:
1. Keterampilan menyimak sangat penting bagi siswa karena keterampilan ini dibutuhkan untuk dapat memahami ujaran dalam bahasa Arab. Tanpa belajar mendengar dan menyimak seseorang tidak akan dapat berbicara dalam bahasa Arab. Apalagi bunyi huruf bahasa Arab banyak yang berbeda dengan bunyi huruf latin dalam bahasa Indonesia.19 Beberapa bunyi bahasa Arab yang jarang dijumpai dalam bahasa Indonesia adalah ṣa (ث), ḥa (ح), kha (خ), ẑal (ذ), ṣad (ص), ḍad (ض), ṭa (ط), ẓa (ظ), „ain (ع) dan gain (غ)
2. Beberapa ahli mengatakan bahwa pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek-aspek pendengaran dan pengucapan sebelum membaca dan menulis. Oleh karena itu menyimak merupakan suatu pengalaman belajar yang cukup penting bagi para siswa.20
3. Mahārah al-istimā’ (keterampilan menyimak) merupakan salah satu bagian dari tujuan pembelajaran dan standar kompetensi lulusan dalam pembelajaran bahasa Arab. Sebagaimana kita ketahui bahwa ada empat keterampilan berbahasa yang menjadi kompetensi pembelajaran bahasa
19 Juwariyah Dahlan, Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab, (Surabaya: al-Ikhlas, 1992), hlm. 122
Arab, yaitu al-istimā’ (menyimak), al-kalām (berbicara), al-qirāah (membaca) dan al-kitābah (menulis)21
C. Perencanaan Pembelajaran Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Perencanaan pembelajaran mahārah al-istimā’ diartikan sebagai proses penyusunan materi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan metode pembelajaran dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran mahārah al-istimā’ . Perencanaan pembelajaran tersebut dapat berupa rencana program tahunan, program semester, silabus dan RPP.22
D. Strategi dan Teknik Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
1. Strategi Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Secara bahasa strategi bisa diartikan sebagai “siasat, kiat, trik, atau cara”, sedang secara umum “strategi adalah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan”. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru, anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau dengan kata lain,
21
D. Hidayat, Loc.Cit. 22
Suryadharma Ali, 2013, “Lampiran Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia
Nomor 912 Tahun 2013”
strategi belajar mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.23
Strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran
mahārah al-istimā’ antara lain dengan tujuh langkah sebagai berikut:
a. Guru merencanakan dan mempersiapkan materi pembelajaran.
b. Guru membuka pelajaran dengan menjelaskan materi yang akan diajarkan serta membatasi tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran
c. Menyampaikan materi pelajaran dengan metode yang tepat. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mahārah
al-istimā’, diantaranya adalah metode langsung, metode phonetik,
metode audio-lingual, dan metode campuran.
d. Memberi kesempatan siswa untuk memahami materi pembelajaran. e. Siswa mendiskusikan materi yang telah disampaikan dan dipersilakan
untuk bertanya mengenai materi yang telah disampaikan. f. Siswa membuat ringkasan atas materi yang telah disampaikan.
g. Mengevaluasi pencapaian siswa dengan cara memberikan pertanyaan secara mendalam.24
Selain langkah pembelajaran, guru hendaknya orang yang pendengarannya normal, menyenangkan, kompeten, berjiwa besar, mampu memanfatkan media, tidak terbatas ruang kelas, dan variatif dalam
23
Pupuh Fathurrahman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui
Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2009), hlm.9
24 Abdul Hamid, Mengukur Kemampuan Bahasa Arab utuk Studi Islam, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm. 41-48
berkomunikasi. Pembelajaran hendaknya menggunakan ungkapan yang familier, terencana dengan baik, dan dievaluasi secara berkelanjutan.25 2. Teknik Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Ada beberapa teknik dalam mengajarkan mahārah al-istimā’, diantaranya adalah:
a. Teknik identifikasi
Teknik ini bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi bunyi kosakata dalam bahasa Arab dengan tepat. hal ini dikarenakan sistem tata bunyi bahasa Arab banyak yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Arab juga memiliki kemiripan bunyi yang asing bagi siswa. Oleh karena itu, diharapkan guru dapat memberikan perhatian khusus tehadap pelafalan. Teknik identifikasi ini dilakukan dengan cara:
1) Guru memperdengarkan materi yang berisi rekaman materi oleh penutur asli bahasa Arab kepada siswa. Apabila rekaman tidak tersedia, guru membacakan materi pembelajaran dan siswa mendengarkannya tanpa melihat buku bacaan,
2) Guru memberikan pertanyaan identifikasi kosakata yang telah disampaikan, lalu siswa memilih dan menjawab opsi yang disediakan guru.
3) Guru dapat mengevaluasi pembelajaran maharah al-istima‟ dan memberikan tugas tentang kosakata dalam bahasa Arab yang
mempunyai kemiripan antara kosakata satu dengan kosakata lainnya.
b. Teknik mendengarkan dan menirukan
Latihan ini bertujuan melatih keterampilan menyimak dengan melihat pelafalan dan ketepatan pelafalannya siswa. Teknik ini biasa disebut teknik dengar-ucap. Pelaksanaan teknik ini adalah sebagai berikut:
1) Guru menyiapkan materi yang akan disampaikan,
2) Guru memperdengarkan atau membacakan materi pembelajaran, siswa menirukan bacaan yang diperdengarkan. Bacaan yang diperdengarkan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Pada tingkat pemula, dengar-ucap bisa dengan satu kosakata. Pada tingkat pertengahan bisa dengan satu kalimat.
3) Evaluasi bisa dilaksanakan dengan melihat pelafalan setiap siswa. c. Teknik mendengar sambil membaca
Teknik mendengar sambil membaca melibatkan aktifitas menyimak dan membaca diam. Teknik ini tidak hanya bertujuan melatih pendengaran siswa mengenai bunyi kosakata bahasa Arab, tetapi juga mengarahkan siswa agar mengetahui pola tulisan kosakata tersebut. Pelaksanannya teknik ini adalah sebagai berikut:
1) Guru memperdengarkan materi pembelajaran, baik melalui rekaman maupun secara lisan,
2) Siswa diam dan mendengarkan rekaman atau materi yang dibacakan oleh guru, sambil memperhatikan bacaan tertulis yang telah disediakan.
d. Teknik mendengarkan dan memahami
Teknik ini bertujuan agar siswa mampu memahami bentuk dan makna dari apa yang diperdengarkannya itu. Latihan untuk mendengarkan ini dapat dilakukan dengan teknik berikut:
1) Teknik mendengarkan dan melihat
Guru memperdengarkan materi yang sudah direkam, dan pada waktu yang sama memperlihatkan gambar yang mencerminkan arti dan materi yang didengar oleh siswa tadi.
2) Teknik mendengarkan dan memeragakan
Siswa diminta melakukan gerakan sesuai stimulus yang diperdengarkan guru.
3) Mendengarkan dan memperoleh informasi
Siswa mendengarkan bacaan yang diperdengarkan guru kemudian siswa mengungkapkan atau menuliskan bacaan tersebut.26
e. Teknik permainan bahasa
Permainan bahasa dapat dikategorikan sebagai bagian dari metode pembelajaran.27 Permainan juga dapat dikategorikan sebagai
26 Wa Muna, Op.Cit., hlm. 151-156
27 Fathul Mujib dan Nailur Rahmawati, Metode Permainan-Permainan Edukatif dalam
media pembelajaran.28 Permainan berasal dari kata main, yang berarti berbuat untuk menyenangkan hati, baik dengan alat ataupun tidak.29 Permainan bahasa dapat dikelompokkan sesuai dengan kemampuan berbahasa yang akan dicapai dalam proses pembelajaran, termasuk keterampilan menyimak.30 Secara aplikatif, metode permainan dikelompokkan menjadi beberapa teknik permainan yang dapat dilakukan pada kegiatan pembelajaran bahasa Arab, terlebih dalam pencapaian kompetensi menyimak.31
E. Aneka Permainan Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Permainan adalah situasi dan kondisi tertentu saat seseorang mencari kesenangan atau kepuasan melalui suatu aktivitas atau kegiatan bermain. Yang Untuk melatih keterampilan dalam bidang kebahasaan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai permainan bahasa. Permainan bahasa mempunyai tujuan ganda, yakni untuk memperoleh kegembiraan dan untuk melatih keterampilan tertentu dalam bidang kebahasaan. Jenis permainan yang dipilih dan disajikan harus sesuai dengan keterampilan yang dilatihkan. Ada beberapa permainan yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa untuk mencapai standar kompetensi keterampilan menyimak, antara lain:
28 M. Khalilullah, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2010), hlm.49
29 Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 897
30 Abd. Wahab Rosyidi et al., Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN Maliki Press, 2012), h. 131
1. Bisik berantai
Permainan ini terdiri atas dua kelompok. Guru membisikkan kosakata atau kalimat yang diperlihatkan kepada siswa yang paling depan pada masing-masing kelompok, untuk selanjutnya dibisikkan pada siswa dibelakangnya terus hingga sampai pada siswa dibarisan paling akhir.guru membandingkan hasil tiap kelompok dan menentukan kelompok yang menjadi pemenangnya. Pada permainan ini pelajar akan belajar kecepatan menangkap informasi dan ketepatan dalam mengungkapkan informasi tersebut.
2. Perintah bersyarat
Guru memberikan perintah kepada pelajar yang ditunjuk, akan tetapi perintah tersebut dilaksanakan harus dengan mengawalinya dengan kata yang telah disepakati bersama. Permainan ini memberikan gambaran tingkat konsentrasi pelajar dalam menyimak informasi yang disampaikan guru.
3. Siapa yang berbicara
Guru memperdengarkan sebuah percakapan sederhana beberapa kali, kemudian siswa diperintah untuk menebak siapa yang berbicara atau tempat terjadinya pembicaraan. Permainan ini dapat dilakukan tiap siswa maupun secara berkelompok.
4. Bagaimana saya akan pergi
Guru memberikan instruksi pada siswa untuk menunjukkan rute perjalanan sebuah tempat, baik menggunakan media gambar ataupun
tidak.32 Misalnya siswa diminta menceritakan rute perjalanannya dari rumah menuju sekolah.
5. Tebak-tebakan
Permainan ini biasanya untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap sesuatu yang telah didefinisikan oleh guru dalam bahasa Arab. Contohnya yaitu menebak nama benda yang telah disebutkan cirri-cirinya terlebih dahulu.
6. Menuruti perintah
Guru memerintahkan melakukan sesuatu dalam bahasa Arab. Apabila siswa salah mengerjakan perintah yang dimaksud, maka guru akan menyuruh siswa lain untuk melakukannya atau untuk memberikan konsekuensi sebagai hiburan.33
7. Dengarkan dan bedakan
Permainan ini membutuhkan tape recorder sebagai alat bantu dengan mendengarkan suara guru. Setiap siswa diberikan satu lembar jawaban yang harus diberi garis bawah atau lingkaran pada jawaban yang benar.
8. Dengarkan dan jawab
Permaianan ini hampir sama dengan permainan dengarkan dan bedakan, hanya saja siswa diberikan satu lembar kertas kosong untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan.
32
Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN Malang Press, 2012), hlm. 86-88
33 Imam Ma‟ruf, Strategi Pembelajaran Aktif, (Semarang: Need‟s Press, 2009), hlm. 134-136
9. Langkah kiri-kanan
Tujuan dari permaianan ini adalah untuk melatih siswa mendengarkan dan memahami suara tertentu. Alat yang diperlukan dalam permainan ini adalah tulisan shohih atau khata‟ di lantai. Guru memperdengarkan bacaan, jika apa yang dibacakan guru adalah tepat, maka siswa bergerak ke lantai yang telah diberi tulisan shohih, dan jika salah maka siswa bergerak ke tulisan khatta‟
10. Dengar lagu
Tujuan dari permainan ini adalah untuk melatih siswa belajar mendengar dan mengadaptasi sebuah lagu. Dan alat yang dibutuhkan dalam permainan ini adalah teks lagu. Siswa mendengar lagu dalam bahasa Arab, kemudian menirukan dan menyanyikan lagu tersebut. Lagu dapat berupa lagu kosakata materi pelajaran.
11. Dengar cerita
Permainan ini bertujuan melatih siswa mendengar bacaan cerita atau film kemudian bertanya jawab berkenaan cerita yang telah diperdengarkan.
12. Dengar dan bedakan yang asing
Permainan ini bertujuan melatih kecermatan siswa dalam mengenali berbagai klasifikasi atau jenis kata. Siswa mendengarkan dari kaset atau dari suara guru kemudian siswa memilih, menulis atau
menyilang kata yang paling asing berdasarkan teks yang dibacakan guru atau dari kaset.34
F. Buku Ajar dan Sumber Belajar Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
1. Buku ajar
Buku ajar yang dilakukan untuk pembelajaran mahārah al-istimā’ bahasa Arab adalah buku bahasa Arab dari kementerian Agama republik Indonesia 2014 ةغللا ةيبرعلا سورد Bahasa Arab Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Madrasah Aliyah.35 Sedangkan untuk kurikulum KTSP dapat menggunakan buku yang sesuai dengan kurikulum KTSP.36 Diantaranya seperti buku bahasa Arab ةيبرعلا ةغللاب رهام /Terampil bahasa Arab karya Minanul Aziz dan Aswan Yunan terbitan Tiga Serangkai dan atau dapat menggunakan buku ةماعلا ةيوناثلا ةيبرعلا سردملل ةيبرعلا ةغللا karya Zakiyah Arifa dan Nadia Af‟idati terbitan Misykat.
2. Sumber belajar
Sumber belajar untuk pembelajaran mahārah al-istimā’ bahasa Arab adalah buku teks yang relevan, CD / DVD pembelajaran, Internet, dan sebagainya.37
34 Fathul Mujib dan Nailul Rahmawati, Permainan Edukatif Pendukung Pembelajaran
Bahasa Arab, (Jogjakarta: Diva Press, 2012,) hlm. 138-158
35 Kementerian Agama Republik Indonesia 2014, ةيبرعلا ةغللا سورد Bahasa Arab
Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Madrasah Aliyah, (Jakarta: Kementerian Agama, 2014),
hlm. ii-vi
36 Muhammad M. Basyuni, Loc. Cit.,
G. Media Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
1. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.38 Media juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga dapat terdorong terlibat dal;am proses pembelajaran.39
Alat pembelajaran dan media pembelajaran sering dianggap sama. Wajar hal itu terjadi karena kadang-kadang wujudnya sama. Sebenarnya tidaklah sama, alat pembelajaran adalah alat yang dipakai untuk menunjang berlangsungnya kegiatan pembelajaran, yang mana semata-mata dipandang dari segi hardware-nya saja. Sementara itu, media pembelajaran merupakan paduan antara hardware dan software yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Dalam bahasa Arab, media pembelajaran diistilahkan dengan
wasāil al-idhah yang berarti penjelas materi pembelajaran.40
Pendek kata,
38 Acep Hermawan, Op. Cit., hlm. 223 39
Yoto dan Saiful Rahman, Manajemen Pembelajaran, (Malang: Yanizar Group, 2001), hlm. 57
40 Abdul „Alim Ibrahim. Al-Muwajjih al-Fanni li Mudarrisi al-Lughah al-‘Arabiyyah. (Mesir:1978), h. 423
media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mempermudah penyampaian pembelajaran.41
2. Urgensi Media Pembelajaran
a. Fungsi media pembelajaran antara lain:
1) Membantu memudahkan belajar bagi siswa 2) Memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata 3) Menarik perhatian siswa
4) Semua indera murid dapat diaktifkan42 5) Mengatasi keterbatasan ruang kelas43 b. Manfaat media pembelajaran antara lain:
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian sehingga dapat membangkitkan motivasi siswa
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih mudah dipahami
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi.44 3. Ragam Media Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Mahārah Al-Istimā’ (keterampilan menyimak) merupakan
kemampuan yang memungkinkan seseorang dapat memahami bahasa yang digunakan secara lisan. Kemampuan menyimak merupakan bagian yang penting dan tidak dapat diabaikan dalam pembelajaran bahasa. Pembelajaran mahārah al-istimā’ berkaitan erat dengan media
41 Acep Hermawan, Op.Cit., h. 224 42
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h.11
43 Yoto dan Saiful Rahman, Op. Cit., hlm. 60
pembelajaran mahārah al-istimā’. Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut antara lain:
a. Media radio
Radio adalah media audio yang penyampaiannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar. Kelebihan media ini dalm pembelajaran adalah memiliki program banyak, sifatnya mudah dibawa, jangkauannya luas, dan harganya relatif murah. Adapun kelemahannya adalah sifat komunikasinya satu arah.45 b. Kaset dan tape recorder
Kaset dan tape recorder adalah media yang penyajian pesannya melalui proses perekaman kaset audio yang berbentuk pita magnetic. Media ini mempunyai kelebihan dapat diulang-ulang, efektif untuk pembelajaran bahasa, dapat dihapus dan dapat digunakan kembali untuk merekam. Sedangkan kelemahan dari media ini adalah daya jangkau terbatas.46
c. Film
Film adalah serangkaian gambar diam yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Kelebihan dari media ini adalah lebih realistis dan dapat diulang-ulang, pesan dapat disampaikan secara merata, serta memberikan kesan yang mendalam.47 Adapun kelemahannya adalah
45 Rudi susilana, Media Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2007), hlm. 23 46 Ibid., hlm. 24
harus diatur derajat kesukaran bahasanya dan tidak baik untuk pembelajaran individual.48
d. Televisi
Televisi merupakan media yang dapat menampilkan pesan secara audio-visual dan gerak yang penyampaian pesannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari satu stasiun, yang kemudian dapat diterima melalui pesawat televisi. Kelebihan dari media ini adalah lebih actual, jangkauannya luas, mengatasi keterbatasan ruang, dan memberikan kesan yang mendalam. Sdangkan kelemahannya adalah sifat komunikasinya hanya satu arah, gambarnya relatif kecil dan kadang terjadi distorsi gambar.49
e. Video Compact Disk (VCD) dan Compact Disk (CD)
Video Compact Disk (VCD) adalah sistem penyimpanan dan
rekaman video di mana signal audio-visual direkam pada disket plastik, bukan pada pita magnetik. Sementara Compact Disk (CD) adalah sistem penyimpanan dan rekaman audio yang direkam pada disket. Perbedaan antara keduanya terletak pada pemprogramannya.
Kelebihan dari kedua media ini adalah dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, dapat diulang-ulang dan dapat mengembangkan pikiran serta imajinasi siswa. Selain itu, siswa pandai dan kurang pandai dapat sama-sama belajar dari video. Adapun kelemahan media ini adalah sering menekankan materi dari pada
48 Ahmad Muhtadi Anshor, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metode-metodenya, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 43-46
pengembangan materi tersebut. Di samping itu, video mengenai materi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran masih sedikit yang dijual di pasaran.50
f. Internet
Jaringan internet dapat memungkinkan akitifitas belajar keterampilan menyimak bagi siswa. Ada beberapa situs yang dapat dikunjungi, antara lain:
1) http://www.iiu.edu.my/Arabic/rusli/ ( untuk mendengarkan lagu , puisi, pidato, dan juga percakapan bahasa Arab),
2) http://www.omkolthoum.com/ (untuk mendengarkan lagu),
3) http://www.muslimtents.com/muslimguide/11-Audio_Lectures.html (untuk mendengarkan pidato) dan masih banyak lagi.51
g. Permainan
Permainan bahasa dapat dikategorikan sebagai media pembelajaran.52 Permainan bahasa dapat dikelompokkan sesuai dengan kemampuan berbahasa yang akan dicapai dalam proses pembelajaran, termasuk keterampilan menyimak.53
h. Laboratorium bahasa
Laboratorium bahasa merupakan seperangkat alat elektronik audio video yang terdiri atas instructor console sebagai mesin utama, dilengkapi dengan repeater language learning machine, tape recorder,
50
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 36 51 M. Khalilullah, Op.Cit., hlm. 48
52 Ibid., hlm. 49
DVD player, video monitor, headset dan students booth. Selain itu ada
pula komponen komputer multimedia sebagai komponen tambahan yang dapat dikombinasikan dengan semua itu. Masing-masing peralatan mempunyai fungsi masing-masing yang bervariasi.
Penggunaan laboratorium bahasa didasarkan atas asumsi bahwa pembelajaran keterampilan mendengar dan berbicara yang diberikan di dalam kelas sangatlah terbatas, hanya bertumpu pada guru dan murid.54
i. Multimedia
Multimedia merupakan suatu sistem penyampaian dengan menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu unit atau paket. Contohnya, modul belajar yang terdiri atas bahan cetak, bahan audio dan bahan audio visual.
Kelebihan dari media ini adalah siswa memiliki pengalaman yang beragam dengan segala media, sehingga rasa bosan menjadi berkurang. Disamping itu, media ini dikatakan sangat baik untuk kegiatan belajar mandiri. Sedangkan kelemahan dari media ini adalah biayanya yang mahal dan memerlukan perencanaan matang serta tenaga professional.55
54 M. Khalilullah, Op. Cit., hlm. 61-78 55 Rudi Susilana, Op.Cit., hlm. 26
H. Evaluasi Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
1. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi menurut bahasa berasal dari kata to evaluate, yang berarti menilai.56 Menurut istilah, evaluasi merupakan proses perencanaan, pengumpulan data, verifikasi data, analisis data dan interpretasi data yang dapat digunakan untuk menentukan kebijakan selanjutnya. Dalam bidang pendidikan, evaluasi pembelajaran merupakan proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang berhubungan dengan keberhasilan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi sering disebut dengan penilaian. Evaluasi pembelajaran dilaksanakan ketika proses pembelajaran berlangsung, setiap selesai satu pokok bahasan, setiap tengah dan akhir semester, serta evaluasi akhir rentang waktu satu jenjang pendidikan.57 2. Teknik dan instrument evaluasi
Teknik evaluasi yang digunakan untuk menilai pengetahuan dan pemahaman konsep (PPK), keterampilan (praktek), sikap yaitu:
a. Penilaian pengetahuan dan konsep (PPK)
Guru melakukan penilaian PPK peserta didik melalui tes tulis, tes lisan dan penugasan. Instrument tes tulis menggunakan lembar soal. Instrument tes lisan menggunakan daftar pertanyaan langsung. Sedangkan instrument penugasan dapat menggunakan pekerjaan rumah.
56 Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 196
57 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi aksara, 1997), hlm. 3
b. Penilaian keterampilan (praktek)
Untuk mengetahui kompetensi keterampilan, guru dapat melakukan penilaian melalui penilaian kinerja. Instrument penilaian kinerja yang dapat digunakan dalam pembelajaran mahārah al-istimā’ adalah tes praktik.
c. Penilaian sikap
Guru melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri dan teman sejawat, dan melalui jurnal. Instrument yang digunakan untuk mengobservasi adalah indikator perilaku. Penilaian diri dan teman sejawat menggunakan skala penilaian. Sedangkan untuk jurnal instrumennya adalah catatan pendidik.58
3. Bentuk-bentuk Tes Mahārah Al-Istimā’
Beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan keterampilan menyimak antara lain:
a. Mendengar dan membaca
Guru membacakan pertanyaan dan siswa mendengarkannya, kemudian siswa diminta menjawabnya dengan cara memilih satu jawaban yang benar dari beberapa jawaban benar yang telah disediakan pada lembar jawab.
b. Dikte dan mendengarkan
Siswa mendengarkan dan menuliskan kata yang telah dibacakan oleh guru.
c. Menyimak dan mengingat
Siswa diminta untuk mendengarkan dan mengidentifikasi bunyi bahasa tertentu yang ditentukan. Teknik lain adalah siswa diminta untuk mendengarkan bacaan, kemudian menuliskan atau mengungkapkan satu kalimat dari bacaan yang diperdengarkan.
d. Mengidentifikasi bunyi
Siswa diminta untuk mendengarkan rangkaian kalimat atau paragraph kemudian diminta untuk membedakan dua kata atau lebih yang memiliki bunyi mirip. Biasanya diberikan opsi jawaban.
e. Mengungkapkan kembali
Siswa diminta untuk mendengarkan teks tertentu kemudian diminta untuk mengungkapkan kembali apa yang telah diperdengarkan dengan bahasa mereka sendiri.59
I. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
1. Faktor Pendukung Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Pembelajaran mahārah al-istimā’ dapat didukung oleh: a. Metode dan teknik yang tepat.
b. Tersedianya fasilitas dan media pembelajaran yang memadai.
c. Tenaga pengajar berkompeten dalam pembelajaran bahasa Arab dan berpengalaman.
d. Terdapat lingkungan berbahasa Arab.
59 Abdul Hamid, Mengukur Kemampuan Bahasa Arab utuk Studi Islam, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm. 41-48
e. Motivasi dan minat siswa tinggi.
f. Kondisi fisik siswa sehat dan tidak tuli.60
2. Faktor Penghambat Pembelajaran Mahārah Al-Istimā’
Pembelajaran mahārah al-istimā’ dapat terhambat oleh beberapa hal berikut:
a. Metode dan teknik tidak tepat dan tidak variatif. b. Media pembelajaran yang terbatas.
c. Tenaga pengajarnya bukan dari jurusan pendidikan bahasa Arab, tidak memiliki keterampilan bahasa Arab yang memadai dan tidak bisa mengelola kelas.
d. Waktu pembelajaran di sekolah terbatas. e. Motivasi dan minat siswa sangat rendah.
f. Sistem tata tulis dan tata bunyi bahasa Arab berbeda dengan bahasa Indonesia.61
60 Wa Muna, Op.Cit., hlm. 51 61 Ibid., hlm. 55