• Tidak ada hasil yang ditemukan

Presentasi PTK 2. Group A Daniel11 Vincent S. / Yovita Djojorahardjo / Boby Setia G. /

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Presentasi PTK 2. Group A Daniel11 Vincent S. / Yovita Djojorahardjo / Boby Setia G. /"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Presentasi PTK 2

3. Pembuatan

Bakelite

Kondensasi

Polimerisasi Fenol

dan Formaldehid

Group A

Daniel11 Vincent S.

/ 5203011001

Yovita

Djojorahardjo /

5203011004

Boby Setia G. /

5203011012

(2)

Polimer

Polimer terbentuk melalui suatu proses yang

disebut polimerisasi.

sifat-sifatnya yang ringan, tahan korosi dan

kimia, daya hantar listrik dan panas yang

rendah, kemampuan untuk meredam

kebisingan, kesesuaian desain dan

manufaktur.

Reaksi Polimerisasi dibedakan menjadi 2:

Polimerisasi adisi

(3)

Polimerasi Adisi

 Polimer adisi adalah polimer yang terbentuk dari reaksi

polimerisasi disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomermonomernya yang

membentuk ikatan tunggal.

 monomer-monomer yang mengandung ikatan rangkap dua

saling bergabung, satu monomer masuk ke monomer yang lain, membentuk rantai panjang. Produk yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi adisi mengandung semua atom dari

monomer awal.

 Reaksi ini tidak disertai terbentuknya molekul-molekul kecil

(4)

Mekanisme polimerisasi adisi

Inisiasi

tahap ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul

monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk.

Propagasi

dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer yang terbentuk dalam tahap inisiasi

Terminasi

reaksi antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal mula-mula yang terbentuk dari inisiator atau antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal

polimer lainnya, sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul tinggi. (Madja 2009)

(5)

Polimerisasi Kondensasi

 Pada tiap monomer harus mempunyai dua gugus

fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya dari rantai tersebut. (Madja, 2009)

 Dapat terjadi pada monomer yang sama ataupun yang

berbeda.

 Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi

secara kondensasi adalah monomer-monomer yang

mempunyai gugus fungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan NH₃. (Madja, 2009)

 Terkadang disertai dengan terbentuknya molekul kecil

(6)

Fenol

 Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3

gram/100 ml.

 Fenol didapatkan melalui oksidasi sebagian pada benzena

atau asam benzoat .

 Fenol biasa digunakan sebagai antiseptik  Karakteristik Fenol:

a. Mengandung gugus OH, terikat pada sp2-hibrida b. Mempunyai titik didih yang tinggi

c. Mempunyai rumus molekul R-OH, dimana R adalah gugus aril d. Larut dalam pelarut organik

e. Berupa padatan (kristal) yang tidak berwarna f. Mempunyai massa molar 94,110 g/mol

g. Mempunyai titik didih 181,9°C h. Mempunyai titik lebur 40,9°C

(7)

Formaldehide

 Dapat dioksidasi oleh oksigen atmosfer

 Formaldehida menampilkan sifat kimiawi lebih reaktif daripada

aldehida lainnya.

 Berfungsi sebagai disinfektan,sebagai bahan pengawet dan

pembersih

 Karakteristik Formaldehid:

 Rumus molekul CH2O  Massa Molar 30,03 g/mol  Gas tidak berwarna

 Massa jenis 1 kg/m ^3, gas  Titik lebur -117 °C

 Titik didih -19,3°C

 Bentuk molekul trigonal planar  Mudah terbakar , beracun

(8)

Resin fenol formaldehid

 Resin fenol formaldehid merupakan suatu senyawa dengan struktur rantai yang panjang dan silang yang beraneka ragam. Oleh karena itu, resin fenol formaldehid tidak akan memiliki titik leleh yang tetap melainkan biasanya akan memiliki sebuah kisaran titik leleh atau suhu dekomposisi tertentu yang sangat tinggi(tergantung pada strukturnya masing-masing).

 Berdasarkan perbandingan mol reaktan dan jenis katalis yang digunakan, resin phenol formaldehid dibagi menjadi 2 jenis yaitu novolak dan resol.

 Novolak yang bersifat termoplast dan resol yang bersifat termoset.

 Produk phenol formaldehid ada yang memberikan warna jernih kekuning-kuningan tetapi ada juga yang kecoklatan sampai kemerah-merahan.

(9)

Resin Resol

Resol merupakan hasil reaksi antara phenol

dengan formaldehid ekses oleh adanya

katalis basa. Jenis katalis basa yang sering

digunakan adalah natrium hidroksida dan

ammonium hidroksida pada pH = 8-11.

[5]

Produk phenol formaldehid yang dihasilkan

dengan katalis natrium hidroksida akan

mempunyai sifat larut dalam air dan apabila

katalis yang digunakan ammonium hidroksida

akan memberikan sifat tidak larut dalam air

yang dikarenakan terbentuk bis dan tris

(10)

Tahap Reaksi Dalam

Pembentukan Resol

[𝟓]

a. Reaksi Adisi (Methylolasi)

Pada tahap pertama, phenol dan formaldehid akan bereaksi secara adisi membentuk monomethylol phenol.

Pada monomethylol phenol ini masih ada 2 gugus reaktif yang dapat bereaksi lagi dengan formaldehid menjadi dimethylol phenol.

(11)

*Lanjutan (Tahap Reaksi Dalam

Pembentukan Resol)

(12)

**Lanjutan (Tahap Reaksi Dalam

Pembentukan Resol)

(13)

Resin Novolak

 Novolak merupakan hasil reaksi antara phenol ekses dengan

formaldehid oleh adanya katalis asam. Jenis katalis asam yang sering digunakan adalah asam sulfat, asam klorida, dan asam oksalat dengan konsentrasi rendah. Hasil reaksi akan membentuk produk yang termoplast dengan berat molekul 500 - 900. [5]

 Agar novolak menjadi bersifat termoset maka membutuhkan

pemanasan dan penambahan crosslinking agent (Frisch, 1967).

 Pada novolak, reaksi polikondensasi dapat berlangsung sempurna

sampai membentuk rantai dengan struktur methylene link dan

phenol terminate tanpa adanya gugus fungsional dan tidak dapat cure dengan sendirinya. Pada suasana asam, raeksi kondensasi (pembentukan jembatan methylene) berjalan cepat dibanding pembentukan gugus methylol (Hesse, 1991).

(14)

Tahap Reaksi dalam

Pembentukan Novolak

[𝟓]

a. Reaksi Adisi (Methylolasi)

Pada tahap pertama, phenol dan formaldehid akan bereaksi membentuk monomethylol phenol.

(15)

* Lanjutan (Tahap Reaksi dalam

Pembentukan Novolak)

b. Reaksi Kondensasi Polimerisasi

(Methylenasi)

Pada tahap ini, gugus methylol akan bereaksi dengan phenol membentuk jembatan methylene dan air.

(16)

Termoplast

Polimer yang bersifat kenyal (liat) atau melunak

jika dipanaskan sehingga polimer jenis ini dapat

dibentuk ulang.

Bahan-bahan yang bersifat termoplastik mudah

untuk diolah kembali karena setiap kali dipanaskan,

bahan-bahan tersebut dapat dituangkan ke dalam

cetakan yang berbeda untuk membuat produk

plastik yang baru.

[𝟒]

Polietilen (PE) dan polivinilklorida (PVC)

merupakan contoh jenis polimer ini.

[𝟒]

(17)

Termoset

Polimer yang tidak melunak jika dipanaskan sehingga

polimer jenis ini tidak dapat dibentuk ulang. (Soelasmono, 2011)

 Plastik-plastik termosetting biasanya bersifat keras karena

mereka mempunyai ikatan-ikatan silang. Plastik termoset menjadi lebih keras ketika dipanaskan karena panas itu menyebabkan ikatan-ikatan silang lebih mudah

terbentuk. [4]

 Sekalipun polimer-polimer termoseting lebih sulit untuk

dipakai ulang daripada termoplastik, namun polimer tersebut lebih tahan lama. Polimer ini banyak digunakan untuk membuat alat-alat rumah tangga yang tahan panas. [4]

 Bakelit, poli(melanin formaldehida) dan poli (urea

(18)

Perbedaan Sifat Plastik

Termoplas dan Plastik

Termoset

Perbedaan sifat-sifat plastik termoplas

dan termoset disimpulkan pada tabel

berikut:

[4]

(19)

Bakelite

 Bakelite merupakan jenis resin fenol formaldehide polar yang bersifat Termoset

(Resol).

 Bakelite merupakan jenis plastik yang hanya dapat dipanaskan satu kali yaitu

hanya pada saat pembuatannya.

 Bakelit merupakan salah satu dari banyak plastik termoset yang tidak memiliki titik

leleh, melainkan memiliki sesuatu titik dekomposisi yang cukup tinggi. Titik dekomposisi adalah suatu kondisi titik suhu tertentu dimana terjadi perubahan reaktan menjadi produk yang rumus molekul yang lebih sederhana. Salah satu contoh, Bakelit Manufactured Jiacheng Chem Enterprises Ltd. memproduksi bakelit dengan titik dekomposisi yang berkisar antara 240-280°𝐶.

 Biasa digunakan untuk instalasi listrik dan alat-alat yang tahan suhu tinggi.  Karakteristik Bakelit:

 Bersifat termoset

 Merupakan plastik padatan keras, kuat, tahan panas  titik dekomposisinya sangat tinggi

 Jenis polimer yang memiliki ikatan silang  Tahan terhadap asam lemah dan basa

 Terurai oleh asam pengoksidasi dan basa kuat

 Pada suhu diatas 300°C bakelit akan terbakar tanpa melalui proses pelelehan  Berwarna, umumnya warna gelap (hitam , coklat)

(20)

Penggolongan Produk Hasil Proses

Pembuatan Bakelit

[𝟕]

 Produk hasil pembuatan bakelit terdiri dari 3 fase produk:

- Bakelite "A" merupakan produk awal kondensasi. Dalam suhu normal, bakelit A berbentuk cairan kental, pucat ataupun juga dapat berbentuk padat. Padatan Bakelite "A" dengan suhu normal bersifat sangat rapuh. Bakelit ini dapat larut dalam alkohol, aseton, gliserin, larutan hidroksida fenol dan natrium, dengan campuran dallam berbagai proporsi. Bakelite "A" adalah produk awal bakelit yang cenderung berwarna kuning.

- Jika bakelite dipanaskan lebih lanjut, maka akan terbentuk Bakelite "B", yang merupakan produk setengah jadi untuk produk infusible dan bersifat tidak larut dalam pelarut pada Bakelit A. Dalam kondisi normal, Bakelite "B“ bersifat keras dan rapuh, walau memiliki kepadatan lebih keras daripada Bakelite "A". Dalam aseton, fenol dan terpeneole bakelit “B” hanya akan membengkak/mengembung. Ketika dipanaskan lebih lanjut, bakelit tidak akan meleleh, tapi justru akan semakin melunak, berubah menjadi plastik karet, yang ketika didinginkan lagi menjadi keras dan rapuh. Saat dipanaskan, dengan pemanasan lanjut, dalam kondisi tertentu, bakelit akan mengeras lagi, dan mencapai tingkat akhir dari kondensasi, membentuk produk infusible yang tidak larut dalam pelarutnya.

- Bakelite "C" merupakan produk akhir polimerisasi kondensasi bakelit, bersifat infusible, dan tidak larut dalam semua jenis pelarut. Jika produk kondensasi primer dipanaskan sampai 100 °, reaksi pengerasan akan terjadi dengan pembebasan produk gas dan Bakelite "C" yang dihasilkan akan berbentuk spons atau gelembung massa. Oleh karena itu, pemanasan harus dilakukan hati-hati.

(21)
(22)

Tahap reaksi pembuatan

Bakelit (Nukman, 2011)

(23)

Fungsi Penambahan Amonia

dalam Pembuatan Bakelit

Bakelit merupakan Resin Fenol Formaldehid

yang tergolong dalam jenis Resin Resol yang

bersifat termoset. Amonia pekat

ditambahkan pada proses pembuatan

Bakelit karena resol sendiri hanya dapat

dibuat dengan adanya katalis basa. Pada

suasana basa reaksi addisi berjalan dengan

cepat sedangkan reaksi kondensasi

(pembentukan jembatan methylen) berjalan

lambat sehingga produk yang terbentuk

(24)

Fungsi Penambahan Asam Asetat

dalam Proses Pembuatan Bakelite

Proses polimerisasi berlangsung secara terus

menerus sampai tidak ada lagi gugus fungsi yang

dapat membentuk polimer. Namun demikian,

proses polimmerisasi dapat dihentikan dengan

menggunakan proses penghentian ujung .

Penambahan asam asetat dapat digunakan

untuk proses penghentian ujung. Asam asetat

memiliki gugus fungsional tunggal, sekali asam

asetat bereaksi dengan ujung rantai polimer yang

sedang tumbuh, maka tidak akan terjadi lagi

(25)

Penggunaan Aseton dalam Proses

Pembilasan Bakelite

Aseton digunakan untuk membilas peralatan

percobaan karena aseton sangat baik digunakan

untuk mengencerkan resin kaca serat,

membersihkan peralatan kacagelas, dan

melarutkan resin epoksi dan lem super sebelum

mengeras.

Dalam percobaan, aseton digunakan karena aseton

merupakan senyawa yang bersifat sebagai pelarut

aportik polar dalam kebanyakan reaksi organik ,

seperti reaksi SN

2

. Oleh karena polaritas aseton yang

menengah, ia dapat melarutkan berbagai macam

senyawa. Sehingga seringkali aseton ditampung

dalam botol cuci dan digunakan sebagai untuk

membilas peralatan laboratorium.

(26)

Tes Uji Kelarutan Bakelit

Menggunakan Aseton, Toluene,

dan Methanol

 Saat sejumlah bakelit hasil percobaan (dalam sejumlah

massa tertentu) dapat larut dalam pelarut methanol

ataupun pelarut aseton, maka dapat disimpulkan bahwa bakelit tersebut masih tergolong bakelit pada fase A.

Toluene tidak dapat digunakan sebagai pelarut untuk bakelite.

 Saat sejumlah bakelit hasil percobaan (dalam sejumlah

massa tertentu) tidak larut oleh pelarutnya, namun justru membengkak/ mengembung saat diberi aseton, maka dapat disimpulkan bakelit tersebut telah berada dalam kondisi fase B.

 Saat sejumlah bakelit hasil percobaan (dalam sejumlah

massa tertentu) tidak larut ataupun tidak terjadi

perubahan saat diberi pelarut, maka dapat dikatakan

(27)

Daftar Pustaka

[1] Madja. 2009. Polimerisasi [Online]; Available:

http://smk3ae.wordpress.com/2009/05/28/polimerisasi/.

[2] Soelasmono. 2011. Polimer [Online]; Available: http://www.soelasmono.com/?p=55. [3] Nukman. 2011. Kimia Polimer [Online]; Available:

megakimiapascaunp.files.wordpress.com/2011/05/bab-8-polimer2.ppt.

[4] Azizah, U. 2009. Polimer Berdasarkan Sifat Thermalnya [Online]; Available :

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-polimer/klasifikasi-polimer/polimer-berdasarkan-sifat-thermalnya/

[5] Rhokati, N. & Prasetyaningrum, Aji. 2008. Pembuatan Resin Phennol Formaldehid

Terhadap Aplikasinya Sebagai Vernis. Semarang, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik

UNDIP.

[6] Anonim. 2012. Sifat Aseton, Etanol, Etilen [Online]; Available :

file:///E:/Sifat%20Aseton,%20Etanol,%20Etilen%5D.htm

 [7] Anonim. 2011. I need to dissolve Bakelite [Online]; Available :

http://www.sciencemadness.org/talk/viewthread.php?tid=16240

[8] Setiabudi, Agus. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Kimia, hal.226 [Online]; Available

:http://books.google.co.id/books?id=DO6HtXScvnAC&pg=PA226&lpg=PA226&dq=fungsi+p

enambahan+asam+asetat+dalam+polimerisasi&source=bl&ots=B01bn929Tr&sig=1V2tqgLpIF rXqhKF26S7jiBGgsE&hl=id#v=onepage&q=fungsi%20penambahan%20asam%20asetat%20d alam%20polimerisasi&f=false . PT. Setia Purna Inves.

[9] Anonim. 2012. Wiki Answer “ Melting Point of Phenol Formaldehide ?” [Online]; Available :

http://wiki.answers.com/Q/Melting_point_of _Phenol_formaldehyde#ixzz25wezJZko.

Referensi

Dokumen terkait

Kepadatan arus listrik pada suatu media yang dialiri arus listrik searah merupakan fungsi bernilai vektor dari suatu vektor posisi, sehingga dapat

diharapkan setelah mempelajari modul ini adalah para siswa dapat mengerti tentang cuti dan kedepannya bila menjadi pegawai dapat memanfaatkan cuti dengan

Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah dengan metode penelitian hukum yuridis normatif yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam

Pada tahap ini dilakukan revisi produk utama untuk menghasilkan produk oprasional yang akan digunakan dalam pembelajaran IPS siswa kelas VIII.. Kegiatan revisi modul bertujuan

Pemeriksaan mata untuk tanda-tanda klinis dari trakoma meliputi pemeriksaan yang teliti terhadap bulu mata, kornea dan limbus, kemudian eversi palpebra atas, dan inspeksi

Tujuh artikel tersebut meliputi: Biologi reproduksi ikan sumpit (Toxotes microlepis, Gunther 1860) di perairan Sungai Musi Sumatera Selatan; Pendugaan parameter pertumbuhan,

Kitab-kitab Imam Al Ghazāli tersebut meliputi bidang-bidang ilmu pada zaman itu seperti: al-Qur’an, aqidah, ilmu kalam, ushul fiqh, tasawuf, mantiq, filsafat, tafsir, fiqh

Hasil yang didapat pada penelitian ini ialah perhitungan metode SAW pada sistem dapat memberikan rekomendasi berupa daftar calon siswa baru dari urutan rangking