74 ISSN 0216 -3128 S;g;t Haryanto, dkk.
SIMULASI ALIll BERKAS PARTlKEL AKSELERATOR J. 2.5
UNTUK EKSPEJUMEN PlXE ENERGI RENDAH
Sigit Hariyanto, Darsono, Djasiman
Pusat Penelitian don Pengetnbangan Teknologi Maju -BA TAN
ABSTRAK
SIMULASI ALIR BERKAS PARTIKEL AKSELERATOR J. 2.5 UNTUK EKSPERIMEN PIXE ENERGI RENDAH. Telah dilakukan simulasi alir berkas ion hidrogen da/am akse/erator J 2.5 dengan program partike/ berkas optik laboratory version 1.1.1. Berkas ion dipercepat dengan tenaga 100 KeV, arus 0,850 mA, sedangkan penguk'llrGrn profile berkas ion diukur dengan menggunakan rotating probe. Hasi/ perhitungan menunjukkan separuh pelebaran berkas ke arah horisonta/ x = 1,923 cm, sudut kemiringan x ' = 0,4712 mRad, a = 0,164, p= 41,356, Emitannce = 8,94/7. Separuhpe/ebaran ke arah yertika/y = 1,973 em, sudut kemiringany' = 0,4538 mRad, a = 0,049, P = 43,529, Emitannce = 8,9427. Ke/uaran berkas ion hidrogen dari tabung pemercepat disimu/asikan dengan program partike/ berkas optik difokuskan o/eh 2 buah kuadrapol elektrostatik doublet ke target. Hasil simulasi menunjukkan bahwa koefisien kuadrapo/ 80,2916 dan -87,317 m-2. Berkas ion dibe/okkan da/am magnit pembe/9k 900 ke arah target, ruji kelengkungan 0,42 m, medan magnit 1,327 kGauss. Sebe/um target diper/ukan /agi /ensa kuadrapo/ e/ektrostatik doublet untuk memfokuskan berkas ion dengan koefisien kuadrapo/ 100 dan -1/9,9998 m-2. Berkas ion hidrogen menca,oai target dengan ukuran setengah pe/ebaran 1,989 mm, a = 1,7248, P = 0,4424 m/rad ke arah horisonta/, sl?dangkan pelebaran ke arah vertika/ 0,909 mm, a = -7,8524, P = 0,0924.
ABSTRACT
SIMULATION PARTICLE: BEAM TRANSPORT ACCELERATOR J2;5 FOR LOW ENERGY PIXE EX{I::RIMENT. Hydrogen ion beam transport in accelerator J2.5 has been simulated by particle beam optics laboratory program version 1.1.1. Ion beam was accelerated by 100kVvoitage, 0,850 mA, and beam profile were measured by using rotating probe. The result of calculation shown half beam extent horizontally X=I,923 cm, half beam divergence X'=O,4712 mRad, a = 0,164, P = 41,356, emitance = 8,917 pi m radian. HaLfbE'am extent vertically are Y = 1,973, haLfbeam divergence Y' = 0,4538 mRad. a = 0,049, P = 43,529, emitam:e = 8,9427 pi m Rad. The output of hydrogen ion beam of accelerator tube was simulated by particle beam optics program, it was focused by two quadrapole electrostatic doublet lenses to target. The result of simulation has shown that the quadrapole koefisient are 80,2916 and -87,31 7 m-2. Ion beam was bend by 900 bel1ding magnet, radius curvature 0,42 m, magnetic field 1,327 kGauss. Before the target is needed quadrapole electrostatic lenses with quadrapole koefisient 100 and 119,99 m-2. Hydrogen ion beam reachedfor the target with half beam extent horizontally X = 1.989 mm, a = 1,7248, P = 0,4424 and half beam extent verti(~alLy Y = 0,909, a = -7,8524, P = 0,0924.
Untuk lebih mengoptimalkan pemakaian akselerator J 2.5 direncanakan dibuat fasilitas baru untuk eksperimen PIXE energi rendah. Fasilitas ini memanfaatkan keluaran tabung pemercepat dibelokkan ke arah chamber untuk eksperimen PIXE, sedangkan pada arah yang lurus tetap digunakan penghasil netron cepat untuk eksperimen PIXE. Fasilitas baru PIXE memerlukan peran-cangan penempatan peralatan alur berkas ion seperti tabung hanyut (drift), pemfokus atau kuadrapole magnit, magnit pembelok, pemantau keadaan berkas, pemantau profil berkas, dan secbagainya. Perencanaan ini memerlukan perhitungan simulasi keadaanlkualitas berkas ion sepanjang alur berkas,
PENDAHULUAN
P
eralatan generator netron j 2.5 di P3TM BA TAN telah dimanfaatkan untuk teknik analisa pengatipan netron cepilt (APNC). Beberapa cuplikan telah dianalisa dengan teknik ini antara lain jenis kacang-kacangan, bera~;, limbah lingkungan bisa berbentuk cair, padatan maupun gas. Salah satu keunggulan pada metoda, APNC ini adalah tak merusak dan dapat mendeteks:i unsur dengan nom oratom rendah. Pada dasamya generator netron
adalah akselerator ion detron yang ditumbukkan pada target tritjum sehingga menghasilkan netron cepat dengan energi 14,5 Me".(')Prosldlng Pertemuan clan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Junl 2002
Sigit Haryanto, dkk.
ISSN 0216-3128
75Rn
XIX' I YI Y; I t5~ Rxz
XoX' 0 Yo Y~ 10 00x"
x~ Y (I Y~ 1(, 8(1Ryx Ryy Ry:
= R
=
sehingga mencapai target yang diingifikan, Simulasi ini dilakukan dengan menggunakan program partikel berkas optik (PBO) yang memang sudah dikembangkan untuk tujuan tersebut,
Dalam makalah ini akan dilaporkan basil simulasi berkas proton yang telah melewati sistem pemercepat 150 kV dari akselerator J 2,5, Sedangkan beberapa peralatan akselerator lainnya yaitu magnit pembelok dan memanfaatkan yang pemah dan sedang dibuat di P3TM,
R
:x R;y R, R11~I
RJI~I
Rsl~I
RI3~3
R33 R43 Rs3~3
R1S~s
R3S~s
Rss~5
x" x~y"y;,
I" 0"(1)
~
DASAR TEORI
Berkas akselerator disusun dari sejumlah besar kumpulan partikel, dan secara pendekatan digunakan untuk melukiskan berkas pada model komputer. Suatu berkas partikel bergerak ke arah sumbu Z dengan momentum' pz, mempunyai kom-ponen momentum Px ke arah sumbu X dan momen-tum Py ke arah sumbu Y. Dalam hal ini momenmomen-tum pz » Px dan Py. Pada Gambar 1 ditunjukkan mo-mentum melintang berkas ke arah sumbu Z.(2) Pada setiap saat keadaan berkas dapat dilukiskan dengan koordinat posisi x, y, z, dan koordinat momentum Px, Py, pz. Suatu partikel dengan 6 dimensi disebut sebagai ruang phase. Dalam satu dimensi, momentum berkas adalah Px, sudut kemiringan diberikan dengan tanex= Px/pz, untuk sudut kecil x'= ex = Px/pz. Hal ini terjadi pada sumbu Y dan sumbu Z dengan kemiringan y' dan z'.
subskrip 0 dan I menunjukkan masuk dan keluarnya berkas ke masing-masing peralatan. Secara umum matrik R merupakan cara untuk penyelesaian persamaan gerak partikel yang melalui komponen akselerator.
Bagian matrik R dari tabung hanyut ditentukan oleh panjang efektiftabung hanyut L dan energi relatif y. bagian matrik R untuk tabung hanyut sebagai berikut :
[
R.IR.r = ~I
RIZ]
=[
1 Rzz 0 R33 R34 ~3 R44~l
~=
0(2)
x
Rss Rs6~s ~
Llr2
R.:=
0 p::::::::::1
px
pz
Ada dua tipe lensa kuadrapol yaitu lensa kuadrapol magnit dan lensa kuadrapol elktrostatik. Setiap elemen terdiri dari empat pole, pengaruhnya pacta berkas ion yang melewati adalah mem-fokuskan pacta satu bidang X (horisontal) misalnya, tetapi tidak memfokuskan pad a bidang Y (vertikal). Biasanya Sistem lensa kuadrapol terdiri dari dua atau tiga elemen. Sub matrik kuadrapol ditentukan oleh nilai koefisien kuadrapole K. = ~. panjang efektif L dan energi relatif y, Bagian matrik pemfokus adalah :
'"
:.""
"/ /'~
/
/
y
Gambar 1. Momentum
melintan~
berkas
~
~
Penggambaran suatu berkas dituliskan dalam program PBO sebagai fungsi agihan f(x, x", y, y', I, £)), dengan £5 = pergeseran momentum. Perubahan berkas setelah melalui peralatan akselerator atau komponen optik akselerator digambarkan sebagai matrik pengiriman (matrik R) pada orde satu sebagai berikur3.4>:
(3)
RI6~6
R36 R46 = Rs6~
~
~
~
~
~
/
--~:~-~~""
'-
-~ c X -e.-v./p. /' 1 R.. =[
~I ~2
]
=[
cos(kL) ][ llkSin(kL) ] J ~I ~2 -k sin (kL) cos(kL) R. =[
~J ~4
]
=[
cosh(kL) ][ l/kSinh(kL)l , R.J R.4 k sinh(kL) cosh (kL) -'I R,. =[
~~ Rsc.]
=[
I L I y2]
I R,,~ ~ 0 I i j .i RI2~
~2
R42 Rs2~2
RI4~4
R34 R44 Rs4~4
~
76 ISSN 0216 -3128 Sigit Haryanto, dkk.
Untuk lensa elektrostatik(5):
METODOLOGIDANTATAKERJA
k = 2/d (n V,'E)I/2
(4)
Sedangkan
untuk lensa elektromagnit
:
k = 1/d(3,2JrIN/Bp)I/2
(5)
Alur berkas yang akan disimulasikan dengan program PBO tata letaknya seperti ditunjukkan pacta Gambar 2. Dalam program ini tidak menggunakan kode seperti pacta program transport, tetapi mengambil slide komponen akselerator yang acta dalam menu program serta mengurutkannya seperti pacta tataletak di atas. Transport berkas untuk tataletak terse but dilakukan dengan program PBO dengan program pacta Lampiran I.
Ukuran diameter berkas ion pacta keluaran tabung pemercepat diukur dengan menggunakan sepasang rotating probe dipasang dengan posisi horisontal dan vertikal pacta jarak 6 cm, sedangkan ruji putaran 2,1 cm seperti ditunjukkan pad a Gambar 3. Pengamatan sinyal dari rotatinK probe digunakan osiloskop Trio CS-1560 A. Pacta saar kawat probe memotong berkas akan diperoleh sinyal pulsa baik pacta potongan horisontal maupun vertikal. Apabila dua kali memotong dan pacta
penampil terlihat tiga sinyal atau lebih, maka akan dapat dicari diameter berkas kearah horisontal (pada sumbu X) atau vertikal (sumbu Y)serta penyebaran berkas yang terjadi. Secara umum diameter berkas
ion dapat dinyatakan sebagai berikut : Dengan d = diameter lubang, V = tegangan
potensial, n = nomor muatan ion, E = energi ion dalam eV, B p = magnetik rigidity, I = arus kumparan, N = jumlah lilitan.
Diantara tipe magnit pembelok, yang paling sederhana adalah sektor magnit, mempunyai medan
magnit yang merata, masuk dan keluamya berkas dengan sudut saling tegak lurus. Matrik transformasi magnit pembelok ditentukan oleh medan gradien indek n, jejari pusat tryektory Po ( = l/h) dan panjang pusat trayektory L dengan k.2=(1-n)h 2, ki = n h2. Bagian matrik lensa magnit pemokus adalah : I Ikxsin(kx L) ] cos(kx L)
~]
-k"sin(k. L)cos(k. L).
R'5
~.
] = [ 0 hlk;ll-COS(k,L)] ] R'5 Rzt. 0 hI k, sin(k, L) R,,= II kysin(ky L) ] cos(ky L) d = 2 R sin 1Z" a/ 2 t(7)
R" R)4]-[
cos(k"L) R., R.. --k"sin(k" L)(6)
Rw=dengan d = diameter berkas, a = waktu perpotongan antara berkas dengan probe, dan t = waktu setengah putaran rotating probe.
= [hI k. S~n(k. L) hI k;[I-OCOS(k. L)]]
Rso
]
=[
' [kzL-Sin(kzL)]/kz+LIY]
R",. 0 I
Gambar 2. Tataletak
akselerator
J2.5 untuk eksperimen
PIXE.
Prosiding Pertemuan dan Presentasilimiah Penelltian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologl Nukllr P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
ISSN 0216-3128 Sigit Haryallto, dkk. 77
x
R
,/
/
//
/_/
/
.,
"
'&l-/'/
y
Gambar 3. Pengukuran
Berkas dengan roatating probe.
Sebelum mencapai chamber berkas ion perlu difokuskan dulu dengan kuadrapol elektrostatik, dimensi ukuran dibuat sarna persis seperti sebelum pembelok. Untuk memperoleh diameterr berkas -2
mm, diperlukan koefisien kuadrapol 100 dan -119,99 mo2.
Parameter awal secara global yang dimasukkan pada program PBO adalah muatan partikel, massa hidrogen dengan Z = I, energi pemercepat berkas 100 ke V, arus berkas 0,850 mA dan loncatan jejak dipasang 0,05 m. Parameter berkas yang dimasukkan dalam program ini ke arab horisontal adalah setengah pelebaran berkas 1,923 cm, sudut kemiringan 0,4712 mRad, sedangkan pada arab vertikal dengan setengah pelebaran be.rkas 1,973 cm dan sudut kemiringan 0,4538 mRad. Data tersebut diperoleh dari basil perhitungan dengan persamaan 7 pada sinyal pengukuran dengan rotating probe dan program akan mefiuing ke dalam parameter twiss.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran profil berkas dengan menggunakan rotating probe pacta keluaran tabung pemercepat ditunjukkan Gambar 4. Bagian atas sinyal tersebut merupakan memayar secara horisontal sedangkan bagian bawah memayar secara vertikal. Karena rotating probe selalu berputar, maka akan memotong berkas dua kali pacta jarak 2 kali ruji petaran R dan kejadian ini terus berulang. Dari hasil pengukuran profil berkas dan dengan memasukkan pacta persamaan 7 dapat dihitung diameter berkas dan sudut kemiringan. Diameter berkas pacta arah horisontal adalah 38.46 mm dan 40,71 rom, sedangkan pacta arah vertikal 39,46 mm
dan 41,48 rom. Seperti pada model tataletak pada Gambar 2,
berkas yang masuk pada sistem pembelok harus cukup kecil supaya keluarannya tidak membentur pada pemandunya, maka perlu pengarah dan pemfokus berkas yaitu kuadrapole elektrostatik doublet. Ukuran kuadrapole adalah panjang efektif elektroda 6 cm terdiri dari empat buah, diameter lubang 5 cm dan kuadrapole lainnya dipisahkan oleh tabung hanyut 2,5 cmo Hasilfitting program supaya berkas tidak menumbuk dinding terhitung koefisien kuadrapol 80,29 dan -87,32om-!.
Hasil perhitungan program PBO serta plot grafik ditunjukkan pada lampiran 2 dan Gambar 5. Selama melalui tabung hanyut sebelum masuk ke lensa kuadrapol, pelebaran ke arah horisontal maupun vertikal belum begitu besar perubahannya (Lampiran 2). Selain itu pada daerah ini terletak peralatan pengukur profil berkas dan meter vakum serta cabang T ke pompa difusi I rotary.
Magnit pembelok disamping sebagai anali-gator juga membelokkan berkas ion, konstruksinya buatan sendiri dan tinggal menyesuaikan ukuran dimensi untuk dimasukkan dalam program. Sudut belok 90°, ruji kelengkungan 42 cm, jarak pole magnit 3,2 cm, tabung hanyut sebelum clan sesudah pembelok 19 cm. Hasil fitting dari program ini terhitung panjang lintasan 65,97 cm, kuat medan
magnit 1,3277 kGauss clan indek gradien medan 0,1.
---Prosiding Pertemuan dan Presentasi IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
ISSN 0216 -3128
Sigit Haryanto, d/.:k.
Gambar 4. Profil berkas
ion.
Gambar 5. A/ur berkas ion untuk P/XE.
pembelok, maka berkas yang dihasilkan akan menumbuk dinding yang lainnya.
Setelah melewati sistem pembelok dan dikenakan pada cuplikan, berkas terlebih dulu difokuskan dengan lensa kuadrapol elektrostatik. Pelebaran berkas pada saat masuk ke dalam kuadrapol pertama adalah 6,28 mm dan 34,46 mm pacta arah X dan arah Y. Setelah melewati kuadrapol kedua difokuskan pacta chamber dengan ukuran berkas pelebaran 1,99 mm dan 0,91 mm pacta arah X dan arah Y. Pada Gambar 6 ditunjukkan bentuk akhir berkas dalam ruang phase elip antara sudut kemiringan fungsi pelebaran berkas ke arah horisontal dan vertikal. Untuk memperoleh diameter yang cukup kecil tersebut koefisien kuadrapol 100 dan -119,99 cm-2 "':
~'"
Diameter berkas dapat diatur lagi lebih baik denga~. mengatur tegangan elektrostatik pacta elektroda elemennya. Perhitungan dari rumus 4 di atas diperoleh besarnya tegangan pacta kuadrapol Saat masuk ke lensa kuadrapol pertamapelebaran berkas kearah X dan Y adaalah 16,48.mm dan 22,64 mm, setelah keluar lensa kuadrapol kedua 6,30 mm dan 18,85 mm. Hal ini perlu diketahui karena jejari lubang kuadrapol 50 mm, sebetulnya dalam elektrostatik kuadrapol tinggal mengatur besarnya koefisien kuadrapol untuk memperoleh pelebaran berkas lebih kecil. Oalam program ini nilai koefisien kuadrapole adalah 80,29 dan -87,32, kalau dimasukkan pada persamaan 4 di atas akan diperoleh tegangan yang diberikan pada elemen elektroda adalah 5000 Volt dan -5440 Volt.
Berkas yang masuk ke dalam magnit pembelok mempunyai pelebaran berkas 10,26 mm ke arah X dan 15,24 ke arah Y, sedangkan jarak pole magnit 32 mm.. Oari Gambar 5 ditunjukkan terjadi alur berkas ion ke dalam komponen akselerator. Pada pertengahan magnit pembelok terjadil pemfokusan, Oari hasil pengaturan medan magnit apabila fokus terjadi pada bagian tepi magnit
Prosiding Pertemuan dan Presentasi IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
Sigit Haryanto,
dkk.
ISSN 0216 -3128 79pertama adalah 6200 Volt dan pad a kuadrapol kedua adalah -7440 Volt.
Selain itu pacta Gambar 7 ditunjukkan akumulasi berkas sepanjang garis akselearator. Grafik tersebut menggambarkan pelebaran berkas dan sudut kemiringan ke arah horisontal maupun vertikal sepanjang garis akselerator 2,48 meter. Oari gambar
tersebut terlihat bahwa, pengaruh tabung hanyut tidak begitu terasa perubahannya, tetapi pacta saat
melewati kuadrapol maupun bending magnit terjadi perubahan mencolok pacta sudut kemiringan berkas maupun pacta pelebaran berkas. Hal ini sangat dipengaruhi oleh medan listrik maupun medan magnit yang diberikan pad a masing-masing komponen akselerator.
Karektiristik berkas ion yang melewati komponen akselerator untuk eksperimen PIXE mulai dari tabung hanyut, kuadrapol dobler, tabung hanyut, pembelok magnit, tabung hanyut, kuadrapol doblet, tabung hanyut lagi, akan selalu mengalami perubahan arahnya karena pengaruh medan magnit maupun medan listrik.
Pada Lampiran 3 ditunjukkan basil program PBO yang menghitung parameter twiss berkas, pada setiap posisi berkas masing-masing komponen.
93,4 (mRod) 46,7 0 -46,7 -93,4 (rim)
Gambar 6. Ruang
phase ellip berkas
ion.
Hasil pengukuran berkas dengan rolalinK probe disimulasikan pemokus kuadrapol elektrostatik menuju magnit pembelok 900 diperoleh koefisien kuadrapol 80,2916 dan -87,317 m-2 dapat digunakan untuk memperhitungkan tegangan pada elek-trodanya.
KESIMPULAN
Simulasi berkas pad a alur berkas pada komponen akselerator kuadrapol elektrostatik doublet, magnit pembelok, dan pemokus eleketro-statik untuk eksperimen fIXE dilakukan pad a tegangan pemercepat 100KV, arus ion 0,850 mA.
Prosiding Pertemuan dan presentasl IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta. 27 Juni 2002
ISSN 0216 -3128 Sigit Haryanto, dkk.
80
Magnit pembelok yang mengarahkan berkas ion hidrogen ke target dengan ruji kelengkungan 0,42 m terhitung oleh simulasi program, medan magnitnya
1,327 Kgauss.
Pemfokusan ke arah target PIXE dengan setengah pelebaran horisontal 1,989 mm dan setengah pe-lebaran vertikal 0,909 mm dilakukan menggunakan lensa kuadrapole elktrostatik kembali ke target chamber dengan koefisien "kuadrapol 100.dan
-119,999 m-2.
Data hasil simulasi dapat dipakai sebagai pedoman untuk membuat masukan peralatan komponen lainnya, seperti tegangan untuk sistem kuadrapol elektrostatik maupun arus pada bending magnit.
UCAP AN TERIMA KASIH
Dengan selesainya makalah ini, kami ucapkan terima kasih kepada Suraji, Supriyanto atas partisipasi dan bantuan dalam penelitian sam,pai selesai.
DAFTAR PUSTAKA
.,
.:;":.
1. Manual for Troubleshooting and Upgrading of Neutron Generators, IAEA -TECDOC -93, Vienna Austria 1996.
2. KG STEPHENS, Ion Source Fundamentals, Handbook of Ion Implantation Technology, IBM -Research, Yorktown Height, New York USA, 1992.
3. GEORGE GILLESPIE, dkk., Outline of Particle Beam Optics Laboratory Tutorial
Version 1.1.1, G.H. Gillespie Associates Inc.
1998.
4. BROWN, KL., dkk., Transport a Computer Program for Designing Charged Particle Beam Transport Systems, CERN Report 73-16, Geneva (1973).
5. Shiroh KIKUCHI, Suehiro TAKEUCHI, A Computer Code" Beam" for the Ion Optics Calculation of the JAER/ Accelerator System, JAERll987.
Lampiran 1.
'Transport Modell'
0, NOUST UMAD ORDER I I ; SPEC, PMASS = 0.931480 ; PRINT,NARROW; PRINT BEAM, ON ; PRINT CENTROID, OFF;PLOT, L, XBEAM, YBEAM, XPBEAM, YPBEAM ; UNIT I. 'mm' I.OE-03, BEAM;
UNIT 2. 'mr' I.OE-03 , BEAM;
BEAM, EPSX=8.941730, ALPHAX=O.164000, BETAX=4I.3SS900, & EPSY*=8.935040, ALPHA Y=O.049000, BETA Y=43.492000, & PO=O.016717, 'BEAMOOOO';
DRFT :DRIFT, L=0.450000 ;
QUAD :QUADRUPOLE, L=O.060000, KI=80.291594; DRFT :DRIFT, L=0.025000;
QUAI!> :QUADRUPOLE, L=O.060000, KI=-87.317073; DRFT :DRIFT, L=0.200000;
DRrt :DRIFT, L=O.190000;
SBEND :SBEND, ANGLE=I.570796, RADlUS=O.420000, N=O.IOOOOO, & 1~INT=O.450000, HGAP=0.016000, &
EI=O.OOOOOO, HI=O.OOOOOO, E2=O.000000, H2=O.000000; DRFT :DRIFT, L=0.190000 ;
QUAD :QUADRUPOLE, L=0.060000, KI=100.000092; DRFi :DRIFT, L=O.025000 ;
QUAD :QUADRUPOLE, L=O.060000, KI=-119.999823; DRFT :DRIFT, L=O.500000 ; PRINT, BEAM; PRINT BEAM: PRINT 30 ;
SENTINEL
.
SENtiNEL
Proslding Pertemuan dan Presentasilimiah Penelltian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nukllr P3TM-BATAN Yogyakarta. 27 Juni 2002
ISSN 0216-3128
81
Sigit Hary(mto, (lkk.Lampiran 2.
TRANSPORT1
*lST ORDER*
.93148E+00
PSIX
PSIY
ETAY
DETAX
.01672 GEV
*PMASS *
3)BETAX
DETAY
ALPHAY
ETAX
"BEAMOO"
ALPHAX * BEAM *BETAY
000 M 000 000 000 000 000 000 19.230 rom .471 mr 19.713 rom .454 mr .000 M ..000 R162
000 000 000 .000 000 000 .000 -.049 .000 .000ooc
0041.3559
43.4S
0000 .0000 0000 .0000 .45000 M 0000"
0000 "DRFT .0490*DRIFT*
64(9.197 mm
.471 mr9.704 mm
.454 mr.000 M
.000 R
000 000 000 000 000 000 -.151 .000 .000 .000 .000 000 000 000 .000 u.: DC 000 .000 000 0000016
.0000
4l".2,13343.4526
0017
.0000
0000 J .0386 .0000 *TRANSFORM 1 * 1.00000 .45000 .00000 1.00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .0000013)
*QUAD*
.21792 M ) 510 M1528
.00000 .00000 .00000 .00000 .45000 .00000 1.00000 .00000 .00000 1.00000 .00000 .00000 .06000 M .00000 .00000 1.00000 .00000 .00000 .00000 "QUAD" .00000 .00000 .00000 .00000 .44986 1.00000 80.29160 M**-2
16.485 rom 88.151 mr 22.620 rom 99.545 mr .000 M .000 R 000 000 000 000 ,000.000 -1.000 .000 .000 .000 .000 000 000 0001.000
.000
ooc
0004943
30.4005 00000018
0020 0000 0000 0000162.5642 -253.0164
-Prosiding Pertemuan dan Presentasillmiah Penelitlan Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Junl 2002
82 ISSN 0216 -3128 Sigit Haryanto, dkk.
Lanjutan Lampiran 2
* TRANS FORM 1 * .85892 .44367 -4.58874 -1.20601 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .0.0000 .00000 .0000014)
*DRIFT*
.00000 .000001.14804
5.05296
.00000 .00000 "DRFT ff .00000 .00000.57955
3.42187
.00000 .00000 .02500 M .00000 .00000 .00000 .000001.00000 .00000 .00 .00 ..00 ..00 .501.00
535 M .000 .000 .000 .000 .000 .000 14.281 rom88.151 mr
25.109 rom99.545 mr
.000 M .000 R -1.000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 1.000 .000 .000 000 .000 000 .0021 .00000019
22.8357
000070.3874
0000 0000 140 48 -279.0549 . *TRANSFORM 1* .74420 .41352 -4.58874 -1.20601 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 ( 1) *QUAD* ( .18123 M ) 595 M .00000 .000001.27436
5.05296 .00000 .00000 "QUAD " .00000 .00000 .00000 .00000 .66510 .00000 3.42187 .00000 .00000 1.00000 .00000 .00000 .06000 M .00000 .00000 ..00000 .00000 .53483 .1.00000 -87.3.1707 M .000 .000 .000 .000 .000 .000 1.1.014 mm23.582 mr
26.929 mm
40.457 mr
.000 M .000 R -.999 .000 .000 .000 .000 .000 .000 -1.000 .000 .000 .000 .000 000 ..000 000 00270020
.000013.5671
81.2516
29.03p4 122.0639 .' *TRANSFORM 1* .57429 .40402 -1.22265 .88114 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 *DRIFT* 0000 0000 .0000 .00000 .00000 1.36680 -2.05273 .00000 .00000 "DRFT II .00000 .00000 .75800 -.40676 .00000 .00000 .20000 M .00000 .00000 .00000 .000001.00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .59481 1.00000 116) 795 M 6.303 rom 23.582 mr 18.838 rom 40.457 mr .000 M .000 R000
000
000
000
000
,000 -.998 .000 .000 .000 .000 .000 .000 -1.000 .000 .000 .000 .000 000 '1" .0 o,(ij 00039.7277
0068 .0026 .00004.4428
0000 .000016.5~26
85.3135
0000Prosiding Pertemuan dan Presentasi IImlah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
000000
000 000
984
000Lanjutan Lampiran 2
* TRANS FORM 1 * .32976 .58025 -1.22265 .88114 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .0000017) *DRIFT* .00000 .00000 .95626 -2.05273 .00000 .00000"DRFT
"
.0001 .0001 .6761 -.406' .0001 .0001 .191 .00000 .00000 .00000 .000001.00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .794741.00000
985 M .000 .000 .000 .000 .000 .000 1.850 nun 23.582 mr 11.152 rom 40.457 mr .000 M .000 R -.979 .000 .000 .000 .000 000 000 -1..000 000 .000 .000 .000 000 .000 0000301
0039 .0000 .382813.9189
4.7756
50.4836 .0000 * TRANS FORM 1 * .09746 .74766 -1.22265 .88114 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 ( 18) * ROTAT * ( 18) *BEND * 10000 ( 18) .0000 0000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .00000 .56624 .59936 ;00000 -2.05273 -.40676 .00000 .00000 .00000 1.00000 .00000 .00000 .00000 "SBEND " .00000 R "SBEND " .65973 M 1.57080 R ) .00000 R .00000 .00000 .00000 .00000 .98468 1.000001.32766
KG
.420 M
,
* ROTAT* "SBEND "1.645 M
000 000 000 000 000 000 10.261 rom6.036 mr
15.229 rom40.011 mr
.008 M
.000 R
.990 .000 .000 -.999 .000 .000 .000 -.982 .0001.000
.000 .ooc000
'0001 000 .4968.0000 1050.6700
.4986.000011.7741
25~9516 -6.8542 -68.1734 429.0901 *TRANSFORM 1* -.53168 .44903 .00000 -.31787 -1.61236 .00000 .00000 .00000 -.77219 .00000 .00000 -2.03022 .00042 -.00116 .00000 .00000 .00000 .00000 *DRIFT* "DRFT ff 1.835 M .00000 .00000 .30044 -.50512 .00000 .00000 .19000 M .00000 .000001 .00000 .000001.00000 .00000 9) 000 000 000 000 000 00011.397 mm
6.036 mr
22.831 mm
40.011 mr
.008 M .000 R .992 .000 .000 -.998 .000 .000 .000 -.982 .0001.000
.000
..OQO 000 .000 000 .49910000 1050.6700
.499414.5258
58.3347 -7.6285 -102.2264628.7174
0000Prosiding Pertemuan dan Presentasi IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
I I
,
II 10 M9.09010
:>.67000
.00000.000001.40148
1.00000
ISSN 0216 -3128 Sigit HUrjlullto. dkk.
Lanjutan Lampiran 2
* TRANS FORM 1 * -.59208 .14268 -.31787 -1.61236 .00000 .00000 .00000 .00000 .00042 -.00116 .00000 .00000*QUAD*
17710 M ) .00000 .00000 -1.15793 -2.03022 .00000 .00000 "QUAD " .00000 .00000 628.71740 .00000 .000001050.67000 .20446 .00000 .00000 -.50512 .00000 .00000 .00000 1.00000 1.59142 .00000 .00000 1.00000 .06000 M 100.00010 M~O)
895 M000
9.744 mm
000
59.415 mr
000
29.613 mm
000 192.785 mr
000
.008 M
000
.000 R
-1.000 .000 .000 -.998 .000 .000 .000 .999 .0001.000
.000
.000 000 000 .49980000-2682.8530
4995
.000010.6171
9 64.7 93 -636.8430 578.2280 * TRANS FORM .1 * -.50661 .02672 .00000 3.08078 -2.13639 .00000 .00000 .00000 -1.50194 .00000 .00000 -9.77876 .00042 -.00116 .00000 .00000 .00000 .00000 ( ) *DRIFT* "DRFT II 1.920 M00000
00000
21023
70293
00000
00000
.02500 M
.00000 5 .00000** .00000 .000001.00000 .00000 000 8.259 IIUt\ 000 59.415 mr 000 34.432 IIUt\ 000 192.785 mr 000 .008 M 000 .000 R -1.000 .000 .000 -.998 .000 000 000 999 .0001.000
.000
.000
000 .000 0004995
.0000130
6283 54.8 84 -732.0374 511.1567 *TRANSFORM 1* -.42959 -.02669 .00000 3.08078 -2.13639 .00000 ..00000 .00000 -1.74641 .00000 .00000 -9.77876 .00042 -.00116 .00000 .00000 .0.0000 .00000 (. 22) *QUAD* "QUAD " (. -.12937 M ) .5002 0000-2682.8530 .00000 .00000 511.15670 .00000 .00000********** .22780 .00000 .00000 .70293 .00000 .00000 .00000 1.00000 1.67639 .00000 .00000 1.00000 .06000 M -119.99980 M**-2
1.980 M
000 000 000 000 000 000 .6.282 rom 8.963 mr 38.011 rom 77.823 mr .008 M .000 R -.987 .000 .000 -.997 .000 000 000 -1.000 997 .000 .000 .000 000 .090 00<)161.2011
4996 .00004.4134
5020 667.5755452.7848
00006.2~74
330.0395
Prosiding Pertemuan dan Presentasi IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
.22800
******
.00000 .00000 .65140 .00000Sigit Haryanto, dkk.
ISSN 0216-3128
85Lanjutan Lampiran 2
.00000 .00000 -1.92796 3.94664 .00000 .OOOQO "DRFT " .00000 .00000 .21955 -.96811 .00000 .00000 .50000 M .00000 452.78480 .00000 667.57550 .00000 .00000 .00000 .00000 1.00000 1.73637 .00000 1.00000 23) * TRANS FORM 1 * -.32733 -.17028 .44991 -2.&2100 .00000 .00000 .00000 .00000 .00042 -.00116 .00000 .00000*DRIFT*
2.480 M 000 000 000 000 .000 .000 1.989 rom 8.963 mr .908 rom '7.823 mr .008 M .000 R -.865 .000 .000 -.903 .000 000 000 997 .000 992 000 .000 0 00 000 9789.oooc
4424
09 .5602 667.5755 -7.8457 786.5725 * TRANS FORM 1* 10237 -1.58078 44991 -2.82100 00000 .00000 00000 .00000 00042 -.00116 00000 .0'0000*LENGTH*
00007248
00000 786.57250 00000 667.57550 00'000 .00000 .00000 .00000 -.26451 -.96811 .00000 .00000 .00000 .00000 .04536 3.94664 .00000 .00000 2.47973 M .Ouuuu1.00000
.00000
23621
00000Lampiran 3
YBEAM
19.71301
19.70407
22.61998
25.10859
26.92919
18.83819
11.15227
15.22942
22.83101
29.61258
34.43219
38.01082
.90808
XPBEAM
.47120
.47120
88.15141
88.15141
23.58226
23.58226
23.58226
6.03642
6.03642
59.41471
59.41471
8.96347
8.96347
XBEAM
19.23001
19.19683
16.48456
14.28082
11.01440
6.30284
1.85006
10.26065
11.39676
9.74420
8.25904
6.28201.
1.98885
LENGTH
.00000.45000
.51000
.53500
.59500
.79500
.98500
1.64473
1.83473
1.89473
1.91973
1.97973
2.47973
---Prosiding Pertemuan dan Presentasl IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002
YPBEAM
.45380
.45380
99.54506
99.54506
40.45695
40.45695
40.45695
40.01122
40.01122
192.78470
192.78470
77.82288
77.82288
ISSN 0216-3128
Sigit Haryanto, dkk.86
program Fitting. sedangkan profit berkas tidak
dapat simetris masih dilakukan secara manual.
TANYAJAWAB
Sunardi
-Mengapa parameter k pacta kuadrupol doublet berbeda satu dengan yang lain.
-Bagaimana jika kuadrupol yang dipakai adalah kuadrupol magnet.
Widdi Usada
-Berapa jarak tabung pemercepat akselerator J25? -Berapa kira-kira besar efisiensi berkas seteiah
sampai di target?
-Bila ion yang dipercepat lebih berat, misalnya ion karbon untuk mendapatkan berkas yang baik,
parameter apa yang diubah?
-Apakah yang menarik dari program PBO dibanding program lainnya.
Sigit Hariyanto
-Parameter k memang berbeda satu soma lain,
karena tergantung dari tegangan elektroda pada
sistem kuadrupol elektrostatik.
-Kalau yang digunakan kuadrupol magnet yang
harus divariasikan medan magnet (arus) untuk
memfokuskan
berkas partikel.
Sigit Hariyanto
-Jarak tabung pemercepat sampai ke target 2,48 In.
Suprapto
-Dalam pengukuran profil berkas dengan rotating probe berapa tegangan lensa kuadrupol dan berapa profil berkas tidak dapat simetris. Mohon penjelasan.
Sigit Hariyanto
-Tegangan kuadrupol sebelum pembelok 5000 volt dun -5440 volt. Tegangan kuadrupol sesudah pembelok 6200 volt don -7440 volt. Untuk melnperoleh berkas yafJg simetris menggunakan
-Berkas awal mempunyai pelebaran ke X don Y sebesar J 9,2 mm don 19,7 mm, sedangkan sampai di target berkas dengan pelebaran ke X don Yadalah 1,98 mm don 0.9 mm.
-Bila ion yang dipercepat lebih berat. parameter yang dirubah adalah tegangan eleklroda (koefisien Quadrupol) untuk kuadrupol elektrostatik. Dan kuat medan magnet pada sistem pembeloknya.
-Yang menarik dari program PRO dibandingkan dengan program transpot lainnya antara lain .-tidak ban yak menghafal kode-kade, pial gambar yang dihasilkan lebih bervariasi.
Prosiding Pertemuan dan Presentasi IImiah Penelitian Dasar IImu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir P3TM-BATAN Yogyakarta, 27 Juni 2002