HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Tatanan Lanskap Situs Ratu Boko5.1.1 Karakteristik Lanskap Alami
Situs Ratu Boko diduga telah dihuni sejak tahun 700 Masehi sampai dengan 1400 Masehi. Secara administratif, kawasan Situs Ratu Boko terletak di antara perbukitan yang merupakan rangkaian pegunungan zona Gunung Kidul dengan ketinggian 110-229 meter di atas permukaan air laut. Di sebelah utara kawasan dibatasi oleh lereng perbukitan, di sebelah barat, timur, dan selatan dibatasi oleh lembah dan bukit-bukit yang merupakan bagian dari zona Gunung Kidul (Gambar 10). Situs Ratu Boko yang dibangun pada abad VIII M mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbeda, yaitu agama Hindu dan agama Budha. Sifat buddhisme yang terkandung dalam situs dapat dilihat dengan temuan arca-arca budha, reruntuhan stupa, dan stupika(stupa dengan ukuran yang lebih kecil dan terbuat dari tanah liat. Digunakan sebagai benda pelengkap upacara), sedangkan sifat Hinduisme dilihat dari penemuan prasasti yang mengandung keterangan tentang pendirian lingga yaitu Lingga Krrtvaso, Lingga Tryambaka, dan Lingga Hara. Lingga merupakan perwujudan Dewa Siwa, yaitu dewa dengan tingkatan tertinggi dalam kepercayaan Trimurti (kepercayaan Hindu dengan arti tiga manifestasi dari Sang Hyang Widhi, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa) di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa Situs Ratu Boko merupakan bangunan yang berfungsi sebagai keraton kuno. Beliau membandingkan unsur-unsur serta bagian-bagian bangunan yang ada di Situs Ratu Boko dengan keraton awal di India (Subroto, 1990). Sebagian besar terdapat kesamaan antara keduanya sehingga dapat disimpulkan bahwa Situs Ratu Boko berfungsi sebagai tempat tinggal.
Letak situs yang berada pada perbukitan diduga karena didasari pada konsep kosmologis. Konsep kosmologis merupakan konsep spiritual yang mendasari kebudayaan di Asia Tenggara. Konsep ini adalah konsep yang mengedepankan kesejajaran atau keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos, yaitu antara alam semesta dan dunia manusia. Diduga alasan dibangunnya situs ini di atas perbukitan selain karena kesakralan dalam melakukan ibadah juga erat kaitannya dengan faktor kekuasaan Di sisi lain situs permukiman yang berupa
keraton ini memilih dibangun di perbukitan karena mengutamakan faktor keamanan dan faktor pencaharian. Bahan yang digunakan dalam pembangunan adalah kayu dan batu karena disesuaikan dengan iklim dan lingkungan. Selain itu bentuk konstruksi bagian atapnya selalu mempunyai sudut kemiringan cukup tajam. Bahan atap yang digunakan pada zaman dahulu diduga adalah ijuk, daun-daunan, dan sirap, sedangkan bagian lantainya ditinggikan dengan batur atau disangga oleh beberapa tiang1.
Apabila diduga sebagai tempat permukiman, seharusnya kondisi lingkungan dapat mendukung kehidupan manusia di dalamnya. Hal yang paling menonjol dari ciri permukiman adalah sumber air yang cukup dan kesuburan tanah. Namun dilihat dari data yang diperoleh serta pengamatan lapang, situs ini berada pada keadaan lingkungan yang tandus dan gersang. Hal tersebut dipengaruhi oleh ketinggian rangkaian perbukitan Boko yang ada pada ketinggian yang cukup rendah, yaitu 229 m di atas permukaan laut. Jika dilihat dari segi jenis tanah yang terkandung, karena susunan tanah terdiri dari lempung abu-abu, lempung abu-abu kerikil putih, lumpur lempung cokelat berlapiskan cadas, lumpur lempung kerikil, dan cadas muda, maka jenis tanah seperti ini cenderung keras dan kurang baik dalam pertanian dan perkebunan.
Situs yang diduga sebagai permukiman ini terletak di perbukitan yang bentukan lahannya sangat rentan terhadap erosi dan tanah longsor, terutama pada kawasan yang minim vegetasi. Hal yang menyebabkan kawasan ini rentan dengan erosi dan tanah longsor adalah lapisan tanahnya yaitu grumosol dan latosol yang memiliki ketebalan yang sangat tipis. Keadaan tanah dengan sifat yang minim akan ketersediaan air tanahnya berakibat kurang baik untuk budidaya tanaman terutama pada musim kemarau.
Dengan kondisi lahan seperti yang dijelaskan sebelumnya menunjukkan secara geografis dan secara geologis kurang memenuhi syarat untuk dijadikan tempat permukiman, terutama dalam kendala kurangnya sumber air sebagai kebutuhan utama manusia. Tanah juga kurang menyerap air hujan dengan baik disebabkan jenis tanah grumosol yang mengandung pasir sehingga air tidak mudah terikat oleh partikel tanah. Selain itu adanya sedimentasi batuan di bawah
permukaan tanah dengan kondisi pelapisan miring, bahkan di beberapa bagian kemiringannya terjal. Keadaan permeabilitas tanahnya juga rendah dan sangat mudah terjadi erosi (Widayati, 1994). Situs Ratu Boko yang terletak di perbukitan dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 10 Bukit dan Lembah yang Mengelilingi Kompleks Situs Ratu Boko
Gambar 11 Situs Ratu Boko dan Kawasan di Sekitarnya (Sumber: Indonesian Heritage, 1996)
Situs Ratu Boko ini diduga dulunya adalah sebagai tempat pemujaan dan sangat terkait dengan letaknya yang berada di perbukitan. Situs ini terletak pada kemiringan yang cukup landai. Dengan keadaan topografi yang seperti ini, masyarakat zaman dahulu kemudian membangunnya sebagai tempat pemujaan agar nilai kesakaralannya tinggi. Selain itu, situs ini juga diduga sebagai tempat berlindung dari musuh dan permukiman sementara. Didukung pula dengan kondisi topografi di luar situs, khususnya di sebelah barat situs (Jalan Raya Piyungan) yang lerengnya bergelombang. Dengan keadaan tanah yang bergelombang mempersulit musuh untuk masuk dan memperkuat pertahanan di dalam keraton. Selain itu, keberadaan Situs Ratu Boko dengan situs-situs di sekitar kawasan saling terkait yang menunjukkan adanya masyarakat Hindu dan
Budha yang pernah tinggal di kawasan tersebut. Candi yang terletak di sekitar kompleks Situs Ratu Boko antara lain, di sebelah timur terdapat Candi Barong dan Candi Miri yang bersifat Hindu, serta stupa Dawangsari yang bersifat Budha (Gambar 12). Sedangkan di sebelah selatan kompleks terdapat Candi Banyunibo yang bersifat Budha dan di atas bukit sebelah selatan Banyunibo terletak Candi Ijo yang bersifat Hindu. Adapula Candi Sojiwan yang bersifat agama Budha terletak di sebelah utara serta Candi Rara Jonggrang (Candi Prambanan) yang bersifat Hindu. Di lembah barat Situs Ratu Boko terdapat Situs Watu Gudig yang belum jelas latar belakang keagamaannya dan Candi Kalasan yang bersifat Budha. Keterkaitan yang paling erat yaitu antara Situs Ratu Boko dengan Candi Prambanan dan Candi Kalasan berdasarkan latar belakang sejarahnya.
Selain dilihat dari tatanan lanskap alami, bentuk lain yang perlu diperhatikan adalah tata ruang, elemen sejarah, dan tata letak elemen yang terdapat dalam kompleks Situs Ratu Boko. Dari tata ruang, elemen sejarah, dan tata letak elemen, kompleks ini mengarah pada sebuah kompleks keraton. Bangunan-bangunan peninggalan zaman Boko memang mengarah pada bangunan keraton, seperti adanya gapura, Pendapa, alun-alun, Keputren, dan lain-lain.
Gambar 12 Candi Barong Terlihat dari Sebelah Timur 5.1.2 Konsep Tatanan Lanskap
a. Karakter Bangunan Situs Ratu Boko
Apabila dibandingkan dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang merupakan bangunan ibadah pada rentang waktu yang tidak terlalu jauh, Situs Ratu Boko tidak memiliki karakter yang menonjol. Candi Borobudur dan Candi Prambanan memiliki bentukan yang meruncing ke atas, sedangkan Situs Ratu Boko hanya batu dan batur-batur yang tertata membentuk suatu pola kerajaan atau
keraton. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan fungsi antara Candi Borobudur dan Candi Prambanan dengan Situs Ratu Boko. Fungsi Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai tempat beribadah, sedangkan Situs Ratu Boko selain berfungsi sebagai tempat beribadah, juga sebagai tempat tinggal. Objek utama bangunan tersebar di perbukitan sebelah barat yang berkontur. Meskipun bentuk bangunan simetris, namun tata letak bangunan pada lahan tidak simetris yang menunjukkan adanya transisi antar satu kelompok bangunan dengan kelompok bangunan lainnya. Bangunan yang memiliki bentuk dominan adalah Gapura Utama. Gapura utama memiliki tinggi yang menjulang dan tidak dalam skala manusia sehingga memberikan kesan megah dan wibawa. Namun terdapat persamaan antara Candi Bororbudur sengan Situs Ratu Boko, yaitu adanya hiasan ratna (sejenis buah Keben) pada gapura utama. Perbedaan bentuk dan karakter bangunan antara Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Ratu Boko dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13 Perbedaan Karakter Bangunan antara Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Ratu Boko
b. Konsep Tatanan Berdasarkan Filosofis dan Fungsi
Menurut Subroto (1989/1990) dalam laporan penelitiannya yang berjudul “Identifikasi Unsur-Unsur Bangunan Pada Situs Ratu Boko”, Situs Ratu Boko merupakan bekas keraton atau bekas suatu kerajaan. Hal ini ditunjukkan dengan bekas-bekas peninggalan yang mendukung pernah dibangunnya sebuah kerajaan seperti batur, lantai bangunan, tembok, pagar, gapura, dan kompleks gua. Diantara peninggalan-peninggalan tersebut terdapat beberapa bangunan yang bersifat profan (hunian/tidak sakral) dan bangunan yang bersifat sakral (suci). Bangunan yang bersifat profan atau hunian yaitu seperti Pendapa, Keputren, dan kolam pemandian. Sedangkan bangunan atau tinggalan yang bersifat sakral atau suci antara lain kompleks gua, minatur candi, beberapa arca, dan peripih. Dalam menentukan konsep tatanan lanskap, terdapat dua dasar, yaitu berdasarkan filosofi atau alur kesejarahannya dan berdasarkan fungsi bangunan dan elemen sejarah.
Berdasarkan konsep inilah konsep tatanan diambil dari dasar kesejarahan pada umumya, yaitu konsep kosmologis agama Hindu dan agama Budha. Dalam bidang kesejarahan, ada tiga aspek yang mempengaruhi suatu tinggalan arkeologis yaitu waktu (time), ruang (space), dan bentuk (form). Studi arkeologi ruang lebih menitik beratkan perhatiannya kepada sebaran (distribution) benda-benda dan situs arkeologi serta hubungan (relationship) benda dan situs itu dengan lingkungan fisiknya sebagai sumber daya. Secara umum konsep kosmologi agama Hindu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bhurloka (dunia bawah), bwahloka (dunia tengah), dan swahloka (dunia atas). Namun banyak orang yang menyebut konsep pembagian tata ruang ini dengan Tri Hita Kirana atau diartikan sebagai tiga jalan kebajikan. Tiga bagian dalam Tri Hita Kirana ini, antara lain adalah atma (jiwa), sarira (raga), dan trikaya (tenaga/kekuatan). Ada hubungan yang terkait antara bagian-bagian dalam Tri Hita Kirana. Integrasi antara atma dengan sarira akan menghasilkan kreasi yang memiliki tiga kekuatan, yaitu kaya (tenaga fisik), wak (kemampuan berbicara), dan manah (tenaga jiwa/pikir). Di Bali, konsep ini disebut dengan Tri Angga, yang terdiri dari nista yang berarti bagian bawah dan diidentikan dengan kaki dan kotor, madya atau bagian tengah atau balai yang bersifat netral, dan utama yaitu bagian atas atau kepala dan bersifat bersih (Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Direktorat Jendral Pariwisata
Proyek Pengembangan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, 1996). Selain konsep dari agama Hindu, konsep kosmologis dari agama Budha juga secara tersirat pada tatanan Situs Ratu Boko ini. Konsep kosmologis agama Budha di bagi menjadi tiga bagian, yaitu kamadhatu (nafsu rendah), rupadhatu (pembersihan), dan arupadhatu (alam atas) (Anonim, 2012).
Dari konsep dasar yang dijelaskan sebelumnya, konsep yang hampir sama juga diterapkan pada tata ruang kompleks Situs Ratu Boko. Pembagian ruang kompleks Situs Ratu Boko ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu area profan, area transisi, dan area sakral. Di dalam konsep tatanan filosofis ini dibagi lagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan fungsi bangunan. Konsep fungsi bangunan dibagi menurut letak dan fungsi setiap elemen yang ada di dalam kompleks Situs Ratu Boko. Menurut fungsi bangunan-bangunannya, Situs Ratu Boko terbagi menjadi lima kelompok, yaitu Kelompok Gapura Utama, Kelompok Paseban, Kelompok Pendapa, Kelompok Keputren, dan Kelompok Gua.
Konsep tatanan berdasarkan filosofis dijabarkan secara horizontal dan vertikal. Konsep yang dijabarkan secara horizontal, dilihat dari tingkat kesakralan berdasarkan susunan area dari depan ke belakang. Area profan yang merupakan area yang paling depan dan dinilai tidak memiliki nilai kesakralan sama sekali. Lalu area selanjutnya adalah area transisi yang terletak di tengah, setelah area profan. Area ini merupakan area netral antara area profan dan area sakral. Area yang paling belakang adalah area sakral. Area sakral dinilai memiliki kesakralan atau kesucian yang paling tinggi. Area ini merupakan pusat kegiatan masyarakat kerajaan. Kegiatan yang dilakukan yaitu kegiatan pemerintahan, kegiatan pribadi anggota kerajaan, dan kegiatan peribadahan. Pembagian ruang filosofis secara horizontal ini dapat dilihat pada Gambar 14.
Konsep tatanan secara vertikal melihat tingkat kesakralan berdasarkan tinggi area, yaitu dari rendah ke tinggi. Area profan terletak pada susunan terendah karena selain fungsi ruang yang kurang sakral juga letaknya yang berada di paling bawah atau pada teras pertama. Area selanjutnya yaitu area transisi, area ini setingkat lebih tinggi dari area profan, yaitu pada teras kedua dan teras ketiga. Area transisi merupakan area yang bersifat netral dan berfungsi sebagai tempat berkumpul untuk acara-acara penting, seperti acara pembakaran jenazah, dan
lain-lain. Area yang terakhir atau area yang tingkatannya paling tinggi adalah area sakral. Area ini terletak paling belakang di sebelah timur dan pada tatanan yang paling tinggi. Area sakral dibagi ke dalam dua area, yaitu area ibadah dan area pribadi. Area ibadah letaknya di atas bukit dan diduga menjadi area peribadahan yang sangat dijunjung kesucian dan kesakralannya sesuai dengan filosofis agama hindu, yaitu tempat suci berada pada tingkatan yang paling tinggi. Area lainnya pada area sakral yaitu area pribadi. Area pribadi letaknya di teras yang lebih rendah dibandingkan dengan area skaral namun masih dalam garis vertikal yang sama dengan area ibadah. Area pribadi ini termasuk ke dalam area sakral karena merupakan area dengan diduga sebagai pusat kegiatan sehari-hari anggota kerajaan. Pembagian ruang vertikal berdasarkan filosofinya dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 14 Pembagian Ruang Berdasarkan Filosofis Secara Horizontal
Gambar 15 Pembagian Ruang Berdasarkan Filosofis Secara Vertikal
Area profan merupakan halaman yang luas di sebelah barat sebelum kawasan inti situs. Area ini dinilai profan atau tidak sakral karena sifatnya umum dan hanya ada struktur jalan menuju kawasan inti situs. Tidak ada elemen yang sifatnya sakral di area ini. Batas dari area profan dengan area transisi ditandai dengan tangga menuju Gapura Utama.
Area transisi dimulai dari Gapura Utama I pada teras kedua sampai ke halaman sebelah timur di teras ketiga. Area transisi bersifat netral, terletak di antara area profan dan area sakral. Pada area ini terdiri dari kelompok Gapura Utama dan kelompok Paseban. Kelompok Gapura Utama terletak di sebelah barat yang terdiri dari Gapura Utama I dan II, talud, pagar, candi pembakaran dan sisa-sisa reruntuhannya. Fungsi ruang pada kelompok ini umumnya sebagai ruang penerimaan dan sebagai tempat upacara. Seperti Gapura Utama I dan II merupakan akses masuk-keluar kerajaan yang sifatnya bebas dan boleh dilalui oleh siapa saja. Candi Pembakaran yang digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah juga dinilai bersifat netral. Hal ini dikarenakan kegiatan yang dilakukan pada Candi Pembakaran bersifat umum, yaitu ritual pembakaran jenazah yang dilaksanakan oleh semua anggota dan masyarakat kerajaan. Kelompok kedua yaitu Kelompok Paseban. Kelompok ini terdiri dari batur Paseban dua buah, talud, dan pagar Paseban termasuk gapura, dan dua buah lantai di teras ketiga dengan beberapa umpak batu. Diduga dahulu kelompok Paseban difungsikan sebagai ruang berkumpul atau gathering area bagi masyarakat kerajaan. Secara umum dapat disebut juga sebagai alun-alun. Fungsi dari batur Paseban dan lantai pada teras ketiga yang diduga memiliki fungsi sebagai tempat pertemuan.
Area sakral terbagi menjadi dua area, yaitu area ibadah dan area pribadi. Area ibadah terletak di sebelah utara dengan keadaan tanah yang berundak-undak serta ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan dengan area pribadi. Area ibadah dimulai dari jalan setapak menuju ke perbukitan di sebelah utara. Terdapat dua buah gua di perbukitan ini, yaitu Gua Wadon dan Gua Lanang yang termasuk ke dalam kelompok Gua. Kelompok Gua letaknya di teras paling atas sebelah utara kelompok Pendapa. Kelompok ini terdiri dari Gua Lanang, Gua Wadon, bak tandon air, dan tangga batu cadas alam. Gua Lanang dan Gua Ladon terletak pada teras yang berbeda. Gua Wadon berada pada tempat yang lebih rendah dari Gua Lanang dan terletak di sebelah tenggara Gua Wadon. Pada zaman dahulu gua digunakan sebagai tempat bersemedi dan tempat yang paling suci maka letaknya di teras yang paling tinggi di antara kelompok lainnya. Hal ini bertujuan untuk lebih mensakralkan lingkungan peribadahan. Selain itu agar orang yang beribadah atau bersemedi dapat lebih khusyuk dengan keadaan lingkungan yang lebih sunyi
dan tenang. Sampai sekarang masih belum diketahui perbedaan fungsi antara Gua Lanang dan Gua Wadon.
Area sakral lainnya yaitu area pribadi yang terletak pada teras yang lebih rendah di sebelah selatan area ibadah. Di dalam area pribadi ini terdiri dari kelompok Pendapa dan kelompok Keputren. Kelompok Pendapa terdiri dari batur Pendapa dan Pringgitan yang dikelilingi pagar batu. Pendapa ini memiliki tiga gapura sebagai pintu masuk, miniatur candi yang dikelilingi teras-teras segi empat di samping kanan Pendapa, beberapa kolam penampung air yang dikelilingi pagar lengkap dengan gapuranya, dan struktur talud yang diberi pagar dibagian atasnya. Fungsi kelompok Pendapa adalah sebagai pusat kegiatan kerajaan karena diduga Pendapa merupakan tempat tinggal para raja. Kelompok lain yaitu Kelompok Keputren. Kelompok Keputren terdiri dari dua buah batur Keputren dan kompleks kolam pemandian. Fungsi dari Kelompok Keputren adalah sebagai tempat kegiatan para ratu dan putri kerajaan. Keputren diduga memiliki fungsi sebagai tempat tinggal ratu dan putri. Bagian lain yang termasuk dalam kelompok ini adalah kompleks kolam yang letaknya di antara Pendapa dan Keputren. Tepatnya kompleks kolam ini di sebelah timur Pendapa dan di sebelah barat Keputren. Kompleks kolam yang tersedia pun dikhususkan sebagai tempat pemandian para ratu dan putri. Terbagi menjadi dua kompleks, yaitu kompleks kolam bundar dan kompleks kolam persegi. Elemen-elemen yang ada pada area ini bersifat pribadi karena hanya anggota kerajaan saja yang dapat melakukan aktivitas pada area ini. Selain itu juga elemen-elemen yang ada pada area ini memiliki fungsi yang tinggi dalam mendukung kegiatan sehari-hari anggota kerajaan. Dapat dilihat bahwa Pendapa dan Keputren merupakan tempat tinggal raja dan ratu yang sifatnya sangat pribadi. Selain itu, kompleks kolam ini merupakan kolam-kolam yang hanya dapat digunakan oleh anggota kerajaan saja baik itu untuk mandi, maupun untuk kegiatan lainnya. Elemen lainnya yang ada di kelompok Keputren yaitu bak air yang letaknya di utara kompleks kolam. Bak air ini berbentuk persegi dan ukurannya jauh lebih kecil daripada kolam-kolam di kompleks pemandian.
Peta tatanan lanskap berdasarkan filosofis terdapat pada Gambar 16. Peta tatanan kelompok ruang berdasarkan fungsi bangunanya dapat dilihat pada Gambar 17.
5.1.3 Tata Ruang, Orientasi, dan Elemen Lanskap Sejarah
Fungsi Kompleks Situs Ratu Boko sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga ada tiga fungsi kompleks Situs Ratu Boko ini, yaitu sebagai permukiman, sebagai pertahanan, dan sebagai tempat beribadah. Situs ini dibangun di atas bukit dengan kandungan batuan padas yang dominan. Pada bagian depan kawasan Situs Ratu Boko terdiri dari teras-teras yang dibuat oleh masyarakat zaman dahulu untuk menghindari bencana erosi dan longsor. Terdiri dari tiga teras, yaitu teras pertama, teras kedua, dan teras ketiga. Latar belakang pembuatan teras-teras ini yaitu didasari pada kepercayaan tertentu.
Orientasi dari Situs Ratu Boko adalah menghadap ke arah barat. Hal ini mengikuti arah terbenamnya matahari. Situs terbentang memanjang dengan arah barat ke timur-tenggara dengan dibatasi oleh tebing di sekelilingnya. Namun tidak semua elemen yang ada di dalam kawasan Situs Ratu Boko menghadap barat. Elemen-elemen yang menghadap ke arah barat antara lain Gapura Utama, bangunan yang diduga sebagai tempat tinggal seperti Pendapa dan Keputren, bangunan yang diduga sebagai tempat pertemuan seperti batur Paseban dan batur yang terletak di sebelah uatara batur Paseban, dan yang terakhir elemen yang menghadap ke barat adalah Candi Batu Putih, Candi Pembakaran, dan miniatur candi. Sedangkan dua buah gua yang terletak di sebelah timur kawasan situs menghadap ke arah selatan. Hal ini belum diketahui dengan pasti alasan perbedaan orientasi antar beberapa bangunan. Diduga orientasi gua menghadap selatan agar dapat berjaga-jaga dan melihat keadaan ke sebelah selatan gua (Pendapa dan Keputren) yang ketinggiannya lebih rendah dari area kompleks gua.
Pada umumnya bahan dasar yang digunakan pada elemen-elemen sejarah yang ada yaitu batuan andesit, antara lain terdapat pada Gapura Utama, batur yang terdapat di teras ketiga, batur Paseban, batur Pendapa, batur Pringgitan, dan batur Keputren. Bahan lain yang digunakan pada elemen-elemen yang ada di kawasan Situs Ratu Boko ini yaitu batu putih yang digunakan pada elemen Candi Batu Putih, Candi Pembakaran, dan digunakan pula pada dinding Pendapa. Bahan lainnya yaitu batuan induk dan batuan padas yang umumnya digunakan sebagai bahan dasar bak air, kolam, dan beberapa bagian dinding.
Elemen-elemen yang ditinggalkan dari peradaban ini dapat dikelompokan berdasarkan tata ruang filosofinya. Terbagi menjadi tiga area, yaitu Area Profan, Area Transisi, dan Area Sakral (Tabel 16).
Tabel 16 Pengelompokkan Elemen
No. Area Kelompok Fungsi Elemen
1. Profan 1. Struktur Jalan
2. Talud 3. Pagar 4. Saluran Air
2. Transisi Gapura Utama 1. Gapura Utama I
2. Gapura Utama II 3. Candi Batu Putih 4. Pagar 5. Talud 6. Tangga 7. Saluran Air 8. Candi Pembakaran 9. Kolam Paseban 1. Lantai 2. Pagar 3. Paseban 4. Umpak-Umpak 3. Sakral
Area Ibadah Gua 1. Gua Lanang
2. Gua Wadon
Area Pribadi Pendapa 1. Pendapa
2. Paseban 3. Batur 4. Saluran Air 5. Bale-Bale 6. Miniatur candi Keputren 1. Keputren 2. Kolam 3. Batur 4. Pagar 5. Saluran Air a. Area Profan
Area profan terletak di sebelah barat. Area ini merupakan area yang letaknya paling awal dan paling depan. Area profan dimulai dari halaman luas
(pelataran bawah) sampai dengan tangga sebelum Gapura Utama sebelah barat. Ada yang menyebutkan arti dari profan adalah permukiman atau tempat tinggal, tapi maksud profan di sini adalah area yang dinilai kurang suci atau tidak sakral.
Area profan berada di teras pertama. Teras ini memiliki ukuran sekitar 180x80 m dan merupakan teras terendah di antara tiga teras yang ada di kawasan situs ini. Pada sebelah timur dibatasi oleh talud yang merupakan pembatas dari teras pertama dengan teras kedua, sedangkan pada sebelah utara, barat, dan selatan dibatasi oleh lereng-lereng bukit. Keadaan lahan di area profan relatif datar. Elemen-elemen arkeologis yang ada pada teras pertama antara lain, sisa-sisa pagar, struktur jalan, saluran air, dan talud.
a.1 Struktur Jalan
Jalan yang terdapat pada teras pertama ini sebagian besar sudah ditutupi oleh jalan baru. Struktur jalan merupakan lantai yang tertata dari balok-balok batu putih dan memliki lebar kurang lebih 4 meter. Jalan ini berada sebelum Gapura Utama. Terdapat beberapa buah tangga untuk mencapai Gapura Utama karena letak jalan dan gapura yang berbeda teras.
Gambar 18 Jalan Menuju Teras Kedua a.2 Talud
Talud terletak di sebelah timur teras pertama dan merupakan pembatas teras pertama dengan teras kedua. Talud ini disusun dari batu putih sedangkan pada bagian utara dipahat dari batuan induk. Tinggi talud antara 3-4 meter. Sebagian talud dalam keadaan runtuh. Fungsi talud yaitu dalam pengelolaan air dan untuk mencegah terjadinya erosi tanah.
Gambar 19 Talud 1 a.3 Pagar
Pagar yang ada pada teras pertama hanya tinggal sisa-sisanya saja. Pagar ini terbuat dari batu putih dan merupakan pembatas jalan menuju Gapura Utama I. a.4 Saluran Air
Saluran air ini memiliki panjang 95 cm, lebar 34 cm, dan tebal 28 cm. Pada awalnya saluran air ini merupakan sebuah balok batu yang kemudian dipahat sehingga membentuk saluran air. Di bagian tengah balok batu saluran air dipahat dengan lebar 18 cm dan kedalaman 10 cm.
b. Area Transisi
Area kedua atau area transisi terletak di tengah, dimulai dari Gapura Utama sampai alun-alun. Fungsi dari area ini adalah sebagai tempat berkumpul (gathering area), pertemuan dengan raja, dan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya umum. Hal ini terlihat dari elemen yang ada, seperti dua batur Paseban dan dua lantai yang diduga digunakan sebagai tempat pertemuan, lalu Candi Pembakaran yang fungsinya sebagai tempat sesembahan dan pembakaran jenazah. Disebut area transisi karena area ini bersifat netral atau sebagai pembatas antara area yang tidak sakral dengan area yang sakral. Pada area ini kedaan lahannya berteras-teras, yaitu terdiri dari teras kedua dan teras ketiga.
Teras kedua terletak di sebelah timur teras pertama dan memiliki ukuran 170x20 meter. Teras ini dibatasi oleh tebing di sebelah utara, di sebelah barat dibatasi oleh talud atau dinding pembatas teras pertama dengan teras kedua, lereng terletak di sebelah selatan teras kedua, dan di sebelah timur dibatasi oleh talud pembatas teras kedua dan teras ketiga. Dinding di sebelah barat pada teras
kedua terbuat dari batuan induk kecuali ujung utara sepanjang 6 m. Bagian dinding sebelah utara memanfaatkan tebing bukit batu padas yang diratakan. Secara umum, bentukan lahan teras kedua rata dan berada di ketinggian yang sama. Elemen-elemen peninggalan yang tersisa pada teras kedua antara lain, Gapura Utama I, Batur Batu Putih (Batur A), pagar, tangga, lantai, saluran air, dan talud.
Teras yang terakhir yaitu teras ketiga. Teras ketiga memiliki ukuran 160x160 m. Teras ini letaknya di sebelah timur teras kedua dan memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari teras pertama dan teras kedua. Teras ketiga berupa tanah lapang yang cukup luas dan mengarah ke tenggara menuju kompleks bangunan Pendapa. Di sebelah utara dan timur teras ketiga ini merupakan dinding bukit yang beberapa bagiannya disusun dari batu putih, sedangkan pada bagian selatan dan barat terdapat talud pembatas teras kedua dan teras ketiga. Keadaan permukaan tanah dari permulaan halaman di teras ketiga sampai ke Paseban relatif memiliki ketinggian yang sama meskipun tidak rata. Sisa-sisa benda peninggalan yang masih ada di teras ketiga yaitu Candi Pembakaran, kolam kecil, kolam di timur Candi Pembakaran, umpak-umpak, saluran air, kolam di tenggara Gapura Utama II, pagar, dan Paseban.
Bentuk dasar dan ukuran elemen-elemen yang hampir sama pada area transisi mengidentifikasikan bahwa ada dasar tersendiri dari letak bangunan-bangunan tersebut. Yang pertama yaitu bentuk dasar dari kedua Gapura Utama hampir mirip, yang membedakan hanya ketinggian dan jumlah gapura paduraksa. Selain itu ciri khas dari Gapura Utama dan gapura lainnya yang ada di kompleks Situs Ratu Boko yaitu hiasan Ratna (hiasan yang berbentuk seperti buah keben) di bagian atas gapura. Bahan yang digunakan oleh kedua gapura ini adalah batuan andesit kecuali tangganya yang menggunakan bahan dasar batu putih.
Selanjutnya yaitu bentuk dari batur dan lantai yang ada di area transisi. Bentuk yang sama dari dua buah lantai yang terletak di tengah-tengah teras ketiga dengan batur Paseban yang letaknya di sebelah selatannya. Bentuk dari batur dan lantai ini adalah persegi panjang dan tersusun dari bahan yang sama yaitu batu andesit. Yang membedakan adalah orientasinya. Batur Paseban memanjang barat-timur, sedangkan lantai di sebelah utaranya memanjang utara-selatan.
Bentuk lain yang serupa adalah bentuk Candi Pembakaran dan Candi Batu Putih. Kedua bentuk candi ini adalah persegi empat. Meskipun memiliki ukuran yang berbeda, namun keduanya diduga sebagai elemen yang digunakan untuk beribadah. Orientasi keduanya juga sama yaitu menghadap ke arah barat. Hal ini dilihat dari adanya tangga di sebelah barat Candi Pembakaran dan Candi Batu Putih.
Bentuk serta orientasi yang sama pada beberapa elemen diidentifikasi bahwa elemen-elemen tersebut memiliki fungsi yang sama. Selain itu diduga ada dasar filosofis yang digunakan masyarakat zaman dulu yang namun sampai saat ini masih belum diketahui.
b.1 Kelompok Gapura Utama b.1.1 Gapura Utama I
Gapura ini terletak di teras kedua. Yang menghubungkan antara struktur jalan dengan Gapura Utama I adalah sebuah tangga di depan gapura. Gapura yang terdepan terdiri dari tiga buah gapura yang berbentuk paduraksa (Gambar 20). Puncak gapura tersebut berupa hiasan yang berbentuk Ratna. Bahan dasar dari gapura-gapura tersebut adalah batu andesit, namun lantai, tangga, dan pagarnya terbuat dari batu putih (tufa). Gapura yang menghadap ke barat ini terdiri dari tiga buah gapura paduraksa yang tersusun berjajar dan berhimpit mengarah utara ke selatan. Gapura tengah merupakan gapura terbesar karena memiliki ukuran lebar lorong 3,40 m, panjang 4,85 m, dan tinggi 3,40 m. Ukuran pada gapura pengapit yaitu lebar lorong 1,92 m, panjang 3,9 m, dan tinggi 2,5 m.
Bahan yang digunakan dalam pembangunan gapura ini adalah batu andesit, namun yang terlihat sekarang batu-batu penyusun atap gapura dalam sudah tidak lengkap lagi. Bentuk dari atap gapura pengapit yaitu berbentuk sisi genta, tersusun atas tiga bagian yang semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya ada pahatan berbentuk Ratna. Pada gapura ini juga terdapat tangga yang terdiri dari tiga tingkatan dengan lebar masing-masing tangga 1,92 m. Keadaan gapura cukup baik karean sudah beberapa kali dilakukan rekonstruksi. Beberapa bagian batu gapura sudah bukan batu asli dari zaman Boko lagi.
Gambar 20 Gapura Utama I b.1.2 Gapura Utama II
Gapura ini berdiri di atas batur yang tingginya 2 m. Di sisi batur terdapat tangga yang berjumlah tiga buah. Tangga tengah memiliki lebar 3,83 m dengan jumlah tingkatan 17 buah sedangkan tangga pada gapura lainnya memiliki lebar 2,17 m dan terdiri dari 15 tingkatan. Gapura Utama II ini merupakan gapura yang menghubungkan teras kedua dengan teras ketiga. Gapura tersusun dari batu andesit serta terdiri dari lima buah gapura paduraksa yang berjajar dan berdampingan arah utara selatan dan menghadap ke arah barat. Puncak gapura memiliki hiasan berbentuk Ratna. Gapura tengah merupakan gapura yang paling besar diantara dua gapura lainnya. Gapura ini memiliki ukuran lebar lorong 3,85 m, panjang 5,96 m, dan tinggi 3,70 m. Terdapat tangga yang di depan dan di belakang gapura dengan lebar 3,85 m. Gapura pengapit dalam yang mengapit tepat di sisi kanan dan kiri gapura tengah memiliki ukuran lebar lorong 2,17 m, panjang 4,81 m, dan tingginya 2,17 m. Gapura pengapit luar yang mengapit gapura tengah dan gapura dalam berukuran lebar lorong 1,15 m, panjang 2,33 m, dan tinggi 2 m. Sama halnya dengan Gapura Utama II, keadaan gapura ini juga baik dan terlihat masih kokoh. Pengelola sudah melakukan pemugaran beberapa kali untuk membangun gapura ini.
b.1.3 Candi Batu Putih
Batur ini terletak di sisi utara teras kedua. Sesuai dengan namanya, batur ini disusun dari batu putih dan berbentuk bujur sangkar. Belum diketahui fungsinya, namun diperkirakan digunakan sebagai tempat ibadah. Yang tersisa dari bangunan ini hanya tinggal baturnya sampai dengan kaki candi. Ukuran candi ini yaitu 20x20 m.
Gambar 22 Candi Batu Putih b.1.4 Pagar
Terdapat dua buah pagar pada teras kedua. Pagar pertama terletak di sebelah utara dan sebelah selatan Gapura Utama I. Pagar ini merupakan pemisah halaman di teras kedua dan tersusun atas batu putih dengan lebar 1,50 m. Namun yang tersisa hanya pondasinya saja. Pagar yang kedua merupakan pagar pemisah antara dua saluran yang terletak di sebelah timur teras kedua. Pagar ini bersambungan dengan batur Gapura Utara II. Sama halnya dengan pagar yang pertama, pagar ini tersusun dari batu putih namun dengan lebar sekitar 1 m. Kedua pagar ini memanjang arah utara selatan.
b.1.5 Talud
Talud yang terletak di sebelah timur teras kedua ini merupakan elemen yang memisahkan teras kedua dengan teras ketiga. Talud ini memanjang dari arah utara ke selatan. Talud dibuat dengan tujuan mengurangi tingkat erosi lahan dan digunakan dalam pengelolaan air. Talud ini bersambungan dengan talud lain yang terletak di sebelah selatan teras ketiga yang memanjang timur-barat. Bahan utama talud ini merupakan batu putih. Bentukan talud tidak lagi sempurna sejak awal ditemukan.
Gambar 23 Talud 2 b.1.6 Tangga
Tangga ini terletak di sisi selatan Gapura Utama II. Tangga memiliki lebar tangga ini kurang lebih 2 m dan dapat menghubungkan teras kedua dengan teras ketiga. Tangga menghadap ke barat dan tersusun dari batu putih.
b.1.7 Saluran Air
Terdapat beberapa saluran air pada area transisi ini. Saluran pertama terletak di sebelah timur teras kedua, di sisi luar talud. Saluran ini mengarah utara selatan dan terbagi menjadi tiga bagian yaitu di sebelah utara Gapura Utama II dan pada tangga di sebelah selatan. Terdapat dua buah saluran air di sebelah utara Gapura Utama II, yaitu saluran di sebelah timur pagar dan saluran yang terletak di sebelah barat pagar. Saluran yang terletak di sebelah timur pagar mempunyai lebar 1,5 m dan disusun dari batu putih pada lantai dan pada dindingnya. Saluran yang terletak di sebelah barat pagar memiliki ukuran 68 cm dan dipahat langsung di batuan induk. Saluran ini dipisahkan oleh pagar dan terletak sejajar. Kedua saluran ini dihubungkan oleh saluran air tertutup yang terletak di sebelah selatan dan sebelah utara Gapura Utama II.
Hanya terdapat satu saluran air yang terletak di sebelah selatan tangga, yaitu di sebelah timur pagar. Saluran ini memiliki lebar 1,5 m dan berada di sisi luar talud yang mengarah ke utara selatan. Dinding dan lantainya tersusun dari batu putih sedangkan saluran tertutup yang ditemukan di ujung selatan saluran air tersusun dari batu andesit. Saluran air lainnya terletak di sisi luar talud sebelah selatan paseban. Saluran ini memanjang dari timur ke barat dan terletak tepat di depan tangga talud selatan yang merupakan pembatas teras kedua dengan teras ketiga. Di sebelah barat, saluran air ini berhenti pada tanah yang belum digali,
sedangkan di sebelah timur saluran ini berhenti pada bagian yang melebar sehingga membentuk kolam kecil. Saluran air ini dibuat dalam dan sempit dengan lebar sekitar 50 cm dan dipahat langsung pada batuan induk.
Terdapat lagi saluran air di sebelah utara Gapura Utama II dengan jarak 53 cm dari gapura tersebut. Saluran ini mengarah dari teras ketiga ke arah bawah dan berhenti di atas saluran sebelah barat pagar. Saluran ini memiliki lebar 29 cm dan terbuat dari batu putih. Saluran air lain terletak di bagian selatan kolam kecil di tenggara Candi Pembakaran dan di sebelah utara pagar. Saluran ini memanjang dari timur ke barat, di sebelah baratnya terdapat susunan batu yang membentuk saluran air. Saluran ini dipahat langsung di batuan induknya. Saluran yang mengarah ke barat memiliki lebar 40 cm dan kedalaman 16 cm. Di ujungnya berhenti dan menembus talud pembatas teras kedua dengan teras ketiga. Pada saluran yang mengarah ke sisi timur berhubungan dengan kolam besar sebelah timur Candi Pembakaran.
b.1.8 Candi Pembakaran
Candi ini dianggap sebagai tempat pembakaran atau penyimpanan abu jenazah pada masa lampau. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan abu di sumur candi. Selain sebagai tempat penyimpanan abu jenazah, di Candi Pembakaran ini juga dilakukan beberapa ritual keagamaan seperti ritual pembakaran jenazah yang dilakukan oleh semua anggota kerajaan dan masyarakat kerajaan lainnya.
Candi yang berada di sebelah timur laut Gapura Utama II dan di sebelah utara pagar pemisah halaman ini memiliki bentuk tapak segi empat dengan ukuran 26 x 26 cm dan tinggi 3 m. Di tengah candi terdapat perigi atau sumur yang berukuran 4x4 m dengan kedalaman 2,30 m dan terbuat dari batu andesit. Candi ini dilengkapi dengan tangga yang lebarnya 2 m dan terdiri dari 15 anak tangga. Bentuk Candi Pembakaran menyerupai piramida yang terpotong bagian atasnya. Saat ditemukan, candi ini tidak memiliki tubuh dan atap. Batu putih dan batu andesit merupakan bahan yang digunakan dalam pembuatan Candi Pembakaran. Saat ini sedang dilakukan pemugaran terhadap Candi Pembakaran.
Gambar 24 Candi Pembakaran b.1.9 Kolam dan Bak Air
Bak dan kolam ini berfungsi untuk menampung air. Bak air pertama yaitu bak yang terletak di sebelah tenggara Candi Pembakaran. Bak air ini terlihat dari adanya pemahatan pada batuan induk di sisi barat dan selatan kolam sehingga membentuk dinding. Sedangkan bibir kolamnya terbuat dari batuan andesit. Bak air ini dulunya dimanfaatkan untuk menanam padi oleh masyarakat sekitar namun pada bulan Maret 1993 mulai dilakukan pemugaran dan pemeliharaan agar identitasnya tidak hilang (Soenarto, Subroto, dan Santoso, 1993). Bak air yang berukuran 1 x 1 m ini merupakan sebuah mata air dulunya dan sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Bak ini memiliki kedalaman air 2,7 m di bawah permukaan tanah. Air yang tertampung di bak air ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat agama Hindu dalam ritual keagamaan perayaan hari raya Nyepi dan di bawa ke Candi Pembakaran untuk dilakukan ritual selanjutnya.
Kolam ketiga yang ada pada teras ketiga ini yaitu kolam yang terletak di barat alun-alun atau di sebelah tenggara Gapura Utama II. Kolam yang berbentuk segi empat dan berukuran 3 x 4 m ini sangat mendukung sistem drainase di alun-alun. Kolam ini juga dibuat dengan cara memahat langsung batuan induknya.
b.2 Kelompok Paseban b.2.1 Pagar
Ada dua buah pagar yang terletak di teras ketiga ini. Pagar yang pertama adalah pagar yang memisahkan halaman 1 (Candi Pembakaran, kolam kecil, dan kolam sebelah timur Candi Pembakaran) dengan halaman lainnya yang berada di sebelah selatan, sering disebut alun-alun. Pagar lainnya adalah pagar yang mengelilingi teras ketiga. Pagar ini hanya tersisa sebagian kecil yang letaknya di sebelah utara Gapura. Pagar ini merupakan pahatan yang langsung dipahat di batuan induk dan dibentuk menjadi pagar.
b.2.2 Lantai
Lantai pada teras ketiga ini hanya ditemukan sebagian kecil, yaitu di sebelah timur laut Gapura Utama II. lantai yang letaknya di area transisi ini memanjang dari timur ke barat. Lantai ini tersusun atas balok-balok batu putih.
Diduga dahulunya lantai ini merupakan dasar sebuah bangunan yang terdiri dari dari tiang-tiang dan dinding. Bukti adanya tiang-tiang yaitu adanya umpak-umpak di dasar yang tertanam di tanah. Fungsi umpak-umpak-umpak-umpak yaitu sebagai landasan tiang penyangga. Umpak-umpak yang tersusun dari batuan andesit ini terletak di sebelah utara Paseban dan di bagian timur teras ketiga. Elemen ini berbentuk persegi panjang dengan susunan tiga deretan ke timur barat. Masing-masing deretan umpak terdiri dari sembilan buah. Umpak-umpak memiliki ukuran 32 x 32 cm.
Gambar 26 Lantai di Teras Ketiga b.2.3 Paseban
Paseban ini terdiri dari dua buah batur yang terletak secara berdampingan. Paseban berada pada bagian selatan teras ketiga dan terletak 175 m di sebelah
tenggara Gapura Utama II. Terdapat tangga sebagai penghubung antara teras kedua dan teras ketiga di sebelah selatan Paseban. Fungsi dan penggunaannya sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga dulunya Paseban berfungsi sebagai tempat pertemuan dengan para raja. Hal ini dikarenakan yang tersisa dari paseban ini hanya batur-batur dan susunan batuan yang tidak teratur. Bahan dasar dari paseban adalah batu andesit. Lantai yang berada di sebelah timur memiliki ukuran panjang 25 m, lebar 12 m, dan tinggi 0,33 m. Pada sebelah barat terdapat pula lantai dengan ukuran yang berbeda, yaitu panjang 15 m, lebar 12 m, dan tinggi 0,33 m. Dalam Miksic (1996) diduga Paseban dulunya digunakan sebagai tempat penerimaan tamu.
Gambar 27 Paseban c. Area Sakral
Bagian terakhir yaitu bagian yang letaknya di atas atau di sebelah timur sampai tenggara kawasan situs. Area ini adalah area sakral. Pada area sakral keadaan lahannya berlereng-lereng dan cukup curam di sebelah utara meskipun permukaan di sebelah selatan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan area di sebelah utaranya. Batas dari area ini, yaitu pada sebelah selatan, barat, dan timur dibatasi oleh lereng-lereng, sedangkan pada sebelah utara dibatasi oleh perbukitan.
Area sakral letaknya paling atas dan paling belakang. Pada area sakral kegiatan lebih banyak dilakukan karena area ini berfungsi sebagai permukiman dan peribadahan. Area sakral dimulai dari Pendapa, Keputren, sampai dengan gua. Area ini dibagi dua, yaitu area ibadah dan area pribadi yang letaknya turun ke bawah tepatnya di bagian tenggara. Area ibadah terletak di sebelah timur dan naik ke atas. Pada area ini hanya terdapat gua yang digunakan oleh masyarakat
zaman dahulu untuk beribadah dan bertapa. Dua buah gua yang ada di area sakral ini yaitu Gua Lanang dan Gua Wadon. Area yang kedua adalah area pribadi. Di area ini terdapat bangunan-bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal dan sarana untuk mendukung kehidupan sehari-hari. Di area pribadi, elemen yang ada di dalamnya antara lain, Pendapa, Keputren, kolam, miniatur candi, dan lain-lain. c.1 Area Ibadah (Kelompok Gua)
Area ibadah terletak di sebelah utara area pribadi. Untuk mencapai kawasan ini perlu berjalan melewati jalan yang curam. Bentuk tatanan dari kelompok timur ini yaitu tebing bukit yang permukaannya tidak rata karena tapaknya yang berteras. Tapak ini dikelilingi oleh lereng di sebelah timur, selatan, dan barat. Sedangkan di sebelah utara dibatasi oleh tebing. Di bagian ini tidak banyak sisa peninggalan yang ada, hanya terdapat dua buah gua, yaitu Gua Lanang dan Gua Wadon. Dari area ini, kawasan di sebelah selatannya atau area pribadi dapat terlihat jelas. Maka diduga selain untuk kesakralan, dibangunnya gua di tempat yang tinggi juga untuk dapat memantau keadaan di daerah pribadi.
Keadaan pada area ibadah ini cenderung gersang. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya vegetasi yang ada serta keadaan suhu sekitar yang kurang nyaman, yaitu sekitar 29°C.
Bentuk kedua gua relatif sama, namun yang membedakan hanya jumlah relung serta peletakannya yang berada pada ketinggian yang berbeda. Belum diketahui alasan pembangunan kedua gua yang memiliki perbedaan ketinggian dan perbedaan jumlah relung. Kedua gua ini juga dibuat oleh manusia zaman dulu dan dipahat langsung di batuan induk.
c.1.1 Gua Lanang
Dua gua yang terdapat di kelompok Timur ini, yaitu Gua Lanang dan Gua Wadon. Gua Lanang terletak lebih tinggi dari Gua Wadon. Gua ini memiliki ukuran pada pintu masuknya, yaitu lebar 1,5 m, tinggi 1,15 m, dan kedalaman gua 1,5 m. Di dalam gua terdapat lagi sebuah relung dengan lebar 50 cm, panjang, 2,15 m, dan tinggi 60 cm. Gua Lanang ini mengahadap ke arah selatan. Ukuran dari Gua Lanang lebih kecil dibandingkan dengan Gua Wadon. Selain itu, hanya terdiri dari sebuah relung maka diperkirakan Gua Lanang hanya dapat digunakan oleh satu orang saja.
Gambar 28 Gua Lanang c.1.2 Gua Wadon
Gua lainnya terletak di sebelah tenggara Gua Lanang. Gua ini dinamakan Gua Wadon. Gua Wadon juga mengahadap ke arah selatan. Gua yang memiliki empat buah relung di dalamnya berukuran lebar 3 m, kedalaman gua 3,5 m, dan tinggi 1,5 m. Empat buah relung ini terletak di sisi yang berberda. Dua buah relung terletak di dinding utara gua dan terletak berjajar. Relung ini berukuran masing-masing lebar 1 m, panjang 1,5 m, dan tinggi 60 cm. Sebuah relung dipahatkan di dinding sebelah barat dengan lebar 59 cm, panjang 1,5 m, dan tinggi 86 cm. sedangkan relung lainnya dipahat di sisi timur dinding gua dengan lebar 57 cm, panjang 1,2 m, dan tinggi 65 cm.
Ada bagian lain yang merupakan sisa peninggalan dari kerajaan Boko, yaitu sebuah undakan atau tangga dan dinding. Undakan ini terletak di sebalah barat gua dan menghadap ke arah selatan. Keduanya dipahat langsung di batuan induk.
Gambar 29 Gua Wadon
c.2 Area Pribadi (Kelompok Pendapa dan Kelompok Keputren)
Area pribadi terletak di sebelah selatan. Ketinggian area pribadi relatif lebih rendah dibandingkan area ibadah. Namun ketinggian kompleks kolam dan Keputren lebih rendah dibandingkan dengan Kelompok Pendapa. Selain itu,
permukaan tanahnya relatif rata. Elemen sejarah yang terdapat di area pribadi antara lain, Pendapa, batur Pringgitan, miniatur candi, kompleks kolam, dan Keputren.
Jika dilihat dengan seksama, bentuk dari elemen-elemen yang ada pada area pribadi ini juga hampir sama, antara lain bentuk dari batur Pendapa dan batur Pringgitan. Bentuknya yaitu persegi panjang dan memanjang dari utara ke selatan. Bangunan Pendapa ini diduga mengahadap ke arah barat dilihat dari gapura masuknya yang ada di sebelah barat berjumlah dua buah berbeda dengan gapura yang terletak di sisi lainnya yang hanya berjumlah satu. Selain itu, pada gapura masuk Pendapa ini terdapat hiasan Ratna yang juga ada pada Gapura Utama di area transisi. Berbeda dengan bentuk batur pada kompleks Pendapa, bentuk batur Keputren yaitu persegi empat yang berjumlah dua buah dan berdampingan utara-selatan. Diduga orientasi dari bangunan Keputren ini juga menghadap ke arah barat.
c.2.1.Pendapa
Pendapa adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal raja. Adapula yang mengatakan bahwa Pendapa adalah tempat berkumpulnya anggota kerajaan (Miksic,1994). Pendapa ini terletak di bagian barat Kelompok Tenggara dengan batas dinding bukit pada utara, lalu lereng di sebelah barat dan selatan, dan di sebelah timur dibatasi oleh talud yang membatasi kompleks Pendapa dengan kolam. Pendapa terletak di teras yang paling tinggi di antara kompleks Keputren dan kolam. Bangunan Pendapa disusun dari batuan andesit pada bagian baturnya, sedangkan pada bagian atasnya tersusun dari batu putih. Tinggi batur ini sekitar 1,5 m dan dikelilingi oleh tembok yang memiliki hiasan berbentuk ratna di bagian atasnya. Bangunan Pendapa dapat dilihat di Gambar 30. Tembok yang mengelilingi Pendapa mempunyai bentuk persegi panjang dengan ukuran 3,6 x 40 m. Bahan dasar pembangunan tembok ini adalah batu andesit, tetapi pada bagian tengah terdapat susunan batu putih. Pada bagian atas tembok dihiasi dengan kemuncak yang yang mengelilingi tembok. Pada tembok ini juga terdapat tiga buah gapura masuk (Gambar 31), yaitu terletak di sebelah utara (Gapura 1), barat (Gapura 2), dan selatan (Gapura 3). Gapura masuk yang terletak di dalam tembok juga terbuat dari batuan andesit dan berbentuk paduraksa. Gapura yang terletak di
sebelah barat tembok keliling Pendapa berjumlah dua buah. Kedua gapura menghadap ke arah barat. Pada saat ini, sebagian besar bentukan gapura sudah runtuh, yang tersisa hanya pondasi dan sebagian kecil tubuh gapura. Lebar lorong gapura ini kurang lebih 2 m. Pada masing-masing gapura dilengkapi tangga naik dan terdapat hiasan kalamakara di bagian tangan tangga. Konstruksi pembuatan tangga ini dibuat dengan konstruksi tempel, yaitu tidak menyatu dengan baturnya. Selain itu, ditemukan juga saluran air berbentuk jaladwara yang terletak di dasar tembok dan mengelilingi tembok tersebut. Ada enam buah saluran air di sebelah selatan, lima buah di sebelah barat, dan empat buah di sebelah utara. Pada masing-masing ujung tembok ditemukan saluran air semu, yaitu saluran air yang tidak memiliki lubang saluran.
Elemen lain yang ditemukan adalah tiga buah batur, yaitu batur Pendapa, batur pringgitan, dan bale-bale. Kedua batur ini terletak di dalam tembok keliling Pendapa. Batur Pendapa terbuat dari batu andesit dan berdenah bujur sangkar (Gambar 32). Ukuran dari batur ini adalah 20 x 20 m dan tinggi 1,25 m. Batur ini juga memiliki tangga yang di sisi barat, utara, dan timurnya dengan lebar masing-masing tangga 1,25 m. Di dalam kompleks Pendapa ini juga ditemukan sejumlah umpak yang diperkirakan berfungsi sebagai landasan tiang penyangga. Jumlah umpak-umpak ini sekitar 20 buah dengan susunan berderet mengikuti denah batur.
Batur lainnya atau yang disebut dengan pringgitan, terletak di sebelah selatan batur Pendapa. Pringgitan adalah ruang antara Pendapa dan bagian rumah utama (http://www.artikata.com/, 14 juli 2011). Pringgitan ini berdenah persegi panjang dan memiliki ukuran 20 x 6 m dengan tinggi 1,25 m. Tersusun dari batu andesit dan bentuknya memanjang arah timur barat. Yang menghubungkan antara batur Pendapa dengan pringgitan adalah semacam selasar yang memiliki panjang 4 m dan lebar 2 m. Di sisi kanan dan kiri selasar terdapat tangga.
Bale-bale merupakan salah satu bentukan batur lainnya. Bale-bale ini terletak di sebelah timur tembok keliling Pendapa. Bangunan yang berdenah persegi panjang ini mengarah utara selatan dengan ukuran 38 x 7 m dan tinggi 1,15 m. Batur ini memiliki tangga di bagian barat dengan lebar 1,25 m. Ada
beberapa bekas sekat di lantai batur yang mencirikan bahwa pernah ada ruang yang bersekat-sekat di atas batur ini.
Terdapat beberapa batur lain dengan ukuran yang lebih kecil dan letaknya di sebelah selatan bale-bale. Salah satu baturnya terdapat candi kecil atau miniatur candi (Gambar 33). Miniatur candi ini terletak di sebelah selatan bale-bale atau di bagian tenggara tembok keliling Pendapa. Berjumlah tiga buah dan masing-masing candi memiliki tangga masuk pada sisi barat. Miniatur candi utama memiliki ukuran 1,30 x 1,30 m dengan tinggi 1,48 m. Bagian atap candi utama ini sudah hilang. Sedangkan ukuran dua candi lainnya yaitu 1 x 1 m dengan tinggi 1,58 m. Puncak atap candi ini juga sudah hilang. Di depan miniatur candi terdapat bak air. Bak air ini memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran 1,90 x 1,26 m dan kedalaman 1,25 m. Batuan andesit merupakan bahan yang digunakan dalam membuat bak air ini.
Di sebelah utara bale-bale, terdapat sebuah kolam yang berbentuk bujur sangkar. Kolam ini langsung dipahat pada batuan induk, tetapi bagian atasnya diperkuat dengan batuan putih. Kolam lain terdapat di sebelah utara tembok keliling Pendapa. Berbeda dengan kolam di atas, kolam ini berbentuk bulat dan masih tertimbun tanah. Kolam ini juga dibuat dengan langsung memahat batuan induk.
Kompleks Pendapa ini dilengkapi dengan saluran air. Saluran air ini berada di sepanjang sisi luar sebelah barat dasar talud dan di sebelah selatan Pendapa. Saluran air yang terletak di sebelah utara dan sebelah selatan Gapura 1 memiliki sistem saluran terbuka. Saluran ini mempunyai lebar 60 cm dan dibuat dengan cara langsung memahat pada batuan induk. Saluran ini juga diperkuat dengan batu putih pada dinding dan lantai saluran. Saluran lainnya, yaitu yang terletak di sebelah selatan Gapura 2. Saluran ini memiliki sistem saluran tertutup dan merupakan kelanjutan saluran air tertutup yang berada di sebelah barat Pendapa. Di sebelah barat saluran air ini terdapat sebuah pagar. Namun, disayangkan pagar ini sudah runtuh dan yang tersisa hanya pondasinya saja. Pagar ini memanjang dari utara ke selatan, sejajar dengan saluran air.
Gambar 30 Pendapa Gambar 31 Gapura Masuk
Gambar 32 Batur Pendapa Gambar 33 Miniatur Candi c.2.2 Keputren
Keputren adalah tempat tinggal para putri dan ratu (Gambar 34). Bangunan ini terletak di sebelah timur kompleks kolam. Batas dari Keputren ini adalah pada bagian utara, timur, dan selatan dibatasi oleh lereng, sedangkan di sebelah barat dibatasi oleh talud yang membatasi Keputren dengan kompleks kolam. Beberapa elemen peninggalan yang tersisa di kompleks Keputren antara lain, dua buah batur, pagar, kolam, dan saluran air.
Batur Keputren terdiri dari dua buah batur yang disusun dari batu andesit. Sebagian batur sudah rusak, namun batur lainnya masih cukup lengkap. Batur ini memiliki denah segi empat dengan ukuran 20 x 20 m. Terdapat umpak-umpak yang berjumlah 28 buah dengan ukuran 32 x 32 cm. Umpak ini disusun berderet mengikuti denah batur, yaitu persegi empat.
c.2.3 Kompleks Kolam
Disebelah barat Keputren atau disebelah timur Pendapa terdapat kompleks kolam (Gambar 35). Kompleks kolam ini berada pada lahan yang lebih rendah dari pada Pendapa dan sejajar dengan Keputren. Kolam ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kolam bundar dan kelompok kolam persegi. Dari hasil pengamatan dan literatur kelompok kolam bundar terdiri dari 14 buah kolam bundar berukuran besar dan 14 kolam bundar berukuran kecil. Namun menurut pengelola situs, kolam bundar ini terdiri dari 17 kolam besar dan 23 kolam kecil. Kolam bundar besar memiliki diameter 2,5 m dan kolam bundar kecil berukuran 1,5 m. Pola kolam bundar ini teratur dan membentuk pola huruf L. Kolam-kolam ini dihubungkan dengan saluran air dengan tujuan air dapat saling mengalir antar kolam dan tidak adanya pengahamburan air. Kolam ini dibuat dengan cara langsung memahat pada batuan induknya. Kelompok kolam lainnya yaitu kelompok kolam persegi. Letak dari kelompok kolam persegi ini yaitu di sebelah utara kelompok kolam bundar. Kelompok kolam persegi terdiri dari lima buah kolam persegi besar dan dua buah kolam persegi kecil. Kolam terbesar memiliki ukuran 9x5 m dan kolam terkecil berukuran 1x1 m. Sama halnya dengan kelompok kolam bundar, kolam-kolam persegi ini juga dihungkan dengan saluran air utama. Saluran air ini mengarah dari uatar ke selatan. Di ujung selatan, saluran air menembus pagar dan dihubungkan dengan kelompok kolam bundar. Di sekeliling pinggir kolam terdapat lubang-lubang pada batuan induk dan letaknya tidak teratur. Rata-rata lubang ini berdiameter 20 cm.
Bak air pada kompleks Keputren ini letaknya di sebelah barat batur pendapa (Gambar 36). Bak air ini memiliki bentuk persegi panjang. Terdapat tangga menuju dasar kolam yang berjumlah 9 tingkat.
Elemen lain yang ditemukan di Keputren ini adalah pagar. Sebagian besar pagarnya sudah runtuh. Dari sisa-sisa pada bagian bawahnya, peneliti memperkirakan bahwa bangunan ini adalah sebuah pagar. Diduga pagar ini dibangun mengelilingi Keputren. Elemen yang paling penting yang ada di Keputren ini yaitu saluran air. Saluran air ini terletak di sebelah utara kolam Keputren. Saluran mengarah ke bawah dan menempel pada talud. Saluran lain yang ditemukan yaitu saluran yang terletak di timur pagar yang memisahkan
kolam dengan batur. Saluran ini dimanfaatkan untuk mengalirkan air hujan dari sebelah selatan pagar ke luar pagar. Selain itu juga ditemukan bak air di sebelah utara kompleks pemandian. Fungsinya adalah untuk menampung air hujan.
Gambar 35 Kompleks Kolam Pemandian
Gambar 36 Bak Air
5.1.4 Strategi Pemanfaatan Lahan dan Pengelolaan Air pada Zaman Dahulu Dengan keadaan lahan yang berlereng dan berteras-teras, masyarakat Boko pada zaman dulu mengantisipasinya dengan beberapa hal. Hal tersebut membuat kerajaan ini dapat berdiri kokoh di atas kedaan lahan yang kurang baik. Strategi yang dilakukan masyarakat Ratu Boko untuk bertahan dalam lingkungan yang seperti ini yaitu dengan ditemukannya beberapa bukti, seperti talud, bekas penambangan tanah, dan sisa pemangkasan lapisan batuan induk. Talud adalah salah satu elemen yang khas di Situs Ratu Boko. Talud dibuat dari tatanan batu dan pemangkasan batuan induk. Talud-talud tersebut secara fungsional terkait dengan masalah keadaan tanah yang tidak rata.
Tanah yang tidak rata ini juga menjadi salah satu masalah dalam pendirian bangunan. Masyarakat Ratu Boko menyikapinya dengan strategi pengurugan. Mereka mengurug tanah dari bagian lain kompleks situs dan hingga saat ini masih ada bekas penggaliannya. Tanah urug ini memiliki sifat yang sama yaitu mudah
tererosi dan lahan yang di urug terdiri dari lereng-lereng yang curam. Untuk menanggulangi masalah ini maka dibuatlah talud-talud tersebut. Tujuannya adalah agar tanah tidak longsor yang disebabkan oleh aliran air yang tidak terkendali. Dari pengelolaan lahan yang baik inilah maka terbentuk lahan yang rata dan sesuai dalam perencanaan pendirian bangunan.
Untuk bertahan hidup, diduga masyarakat Kerajaan Boko memanfaatkan air hujan dan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut dilihat dari penemuan-penemuan kolam dan saluran air yang tertanam di dalam tanah. Kolam-kolam tersebut digunakan untuk menampung air hujan dan dihubungkan dengan saluran-saluran air antar satu kolam dengan kolam lainnya. Lapisan batuan induk semen yang menjadi bahan dasar kolam memiliki sifat tidak mudah meloloskan dan menyerap air.
Air di dalam kompleks situs ini selain dimanfaatkan sebagai kebutuhan memasak, minum, dan mandi, juga dimanfaatkan dalam ritual keagamaan. Hal itu terlihat dari kolam-kolam dan saluran air yang ditemukan di sekitar Candi Pembakaran. Selain itu pemanfaatan air untuk ritual keagamaan juga terlihat di Miniatur Candi. Diduga air yang digunakan untuk membasuh candi dapat ditampung di bak air yang letaknya di depan Miniatur Candi untuk digunakan dalam ritual selanjutnya. Pengelolaan air dengan baik juga diterapkan di kompleks kolam yang terletak di sebelah timur Keputren. Antara satu kolam dengan kolam lainnya dihubungkan oleh saluran. Dengan saluran ini maka apabila air yang tertampung di satu kolam penuh, akan teralirkan ke kolam lainnya. Hal ini menyebabkan tidak akan ada air yang terbuang dengan percuma. Masalah terakhir yang menjadi perhatian adalah jenis tanah di kawasan ini yang sebagian besar berupa lapisan padas yang ditutupi tanah. Lapisan tanah yang menutupi batu padas kesuburannya rendah dan tidak cocok untuk penanaman. Namun untuk masalah ini belum diketahui strategi penanggulangan masalahanya.
5.2 Analisis Pemanfaatan Wisata dan Pengelolaan 5.2.1 Aktivitas Wisata dan Dampaknya Terhadap Objek
Situs Ratu Boko yang dikenal sebagai peninggalan sejarah yang telah dijadikan sebagai tempat wisata. Ada banyak aktivitas wisata yang dapat dilakukan di sini, antara lain rekreasi situs sejarah, menikmati pemandangan alam
yang terdiri dari hamparan bukit-bukit, Gunung Merapi, Candi Prambanan, sunrise dan sunset; berkemah, tracking, dan lain-lain. Untuk masuk ke dalam kompleks Situs Ratu Boko, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp. 10.000,- untuk hari biasa dan Rp. 15.000,- untuk hari libur (pada tahun 2011). Berikut adalah kegiatan yang biasa dilakukan oleh pengunjung di Situs Ratu Boko:
a. Wisata Sejarah Situs Ratu Boko
Kawasan yang memiliki karakter unik dan berbeda ini memiliki beberapa bangunan yang bernilai sejarah tinggi. Peninggalan-peninggalan sejarah ini banyak terdapat di bukit timur Boko. Bangunan-bangunan ini terdiri dari, Gapura Utama, Candi Batu Putih, Candi Pembakaran, Alun-alun, Paseban, Pendapa, Keputren, dan Kelompok Gua.
b. Bersemedi dan Ritual Keagamaan
Beberapa masyarakat yang masih memiliki kepercayaan bersemedi di gua menjadikan Gua Lanang dan Gua Wadon sebagai tempat bersemedi yang baik. Namun, kegiatan bersemedi saat ini sudah jarang dilakukan. Selain bersemedi, beberapa pengunjung/masyarakat, khusunya masyarakat Hindu, juga melakukan ritual. Ritual yang biasa dilakukan adalah pengambilan air di bak air yang letaknya di depan Candi Pembakaran sehari sebelum hari raya Nyepi. Air ini dibawa ke Candi Prambanan untuk upacara tawur agung (hari raya Nyepi). Sebelum dibawa ke Candi Prambanan, dilakukan ritual terlebih dahulu di batur Paseban.
c. Berkemah
Area yang digunakan untuk berkemah terletak di area Boko Barat dekat dengan pintu masuk utama. Disediakan pula perlengkapan yang memadai sehingga mempermudah dan dapat menambah kenyamanan pengunjung. Area yang berbukit dengan nuansa alam yang asri sangat cocok untuk melakukan kemping. Lokasi perkemahan berada di lahan yang berkontur landai dan sudah dikeraskan untuk penempatan tenda.
d. Tracking
Kegiatan ini yaitu kegiatan menyusuri bukit-bukit dan kawasan di sekitar Situs Ratu Boko.
e. Menikmati pemandangan sekitar
Pemandangan di sekitar kawasan situs yang sangat indah, dapat dijadikan alternatif aktivitas wisata lainnya. Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam kawasan antara lain Candi Prambanan dan Gunung Merapi di sebelah utara kawasan. Pemandangan bukit Boko yang mengelilingi situs dapat terlihat dengan jelas dari sebelah barat di sepanjang jalan menuju Gapura Utama dan di sebelah timur. Dari sebelah timur kawasan, juga dapat terlihat matahari terbit dan dari sebelah barat kawasan pengunjung disuguhkan pemandangan matahari terbenam.
Dari aktivitas wisata yang disebutkan sebelumnya, pengelola PT. Taman Wisata juga mengembangkan atraksi wisata dalam beberapa paket wisata untuk wisatawan (Hartono, 2004). Tujuan disediakannya paket wisata adalah untuk menarik pengunjung dan juga untuk lebih mengeksplore kegiatan wisata yang biasa dilakukan di Situs Ratu Boko. Paket wisata yang tersedia antara lain:
a. Paket Boko Sunset Dinner and Performance, yaitu paket menikmati panorama keindahan matahari tenggelam dan makan malam untuk umum.
b. Paket Camping, yaitu kegiatan perkemahan untuk pelajar, mahasiswa, atau pengunjung lainnya yang letaknya di bagian bukit Boko barat. Selain itu juga ada fasilitas kamar mandi yang cukup bersih, air, listrik, tenda kemah biasa, tenda kemah eksklusif (ekstra kasur, bantal, selimut), serta disediakan pula perlengkapan memasak dan bahan mentahnya. Keunggulan dari paket ini adalah pengunjung dapat melihat langsung pemandangan yang alami, menikmati sunrise dan sunset, dan suasana pedesaan yang alami.
c. Paket Camping & Tracking, yaitu paket untuk wisatawan mancanegara dan lokal. Kegiatannya yaitu menyusuri jejak pedesaan dan peninggalan purbakala di kawasan perbukitan Boko sambil menikmati keindahan matahari terbit dari bukit Pegat. Kegiatan tracking dimulai pada pukul 03.00 WIB dini hari dan berakhir pukul 09.00 WIB. Fasilitas yang disediakan yaitu tongkat, senter, air mineral, snack, sarapan pagi, pemandu, dan souvenir. Keunggulan paket ini adalah pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang sangat indah serta melihat dengan jelas saat matahari terbit.
d. Paket Boko Ritual, yaitu paket kegiatan mengikuti ritual dan kegiatan para psikologi menyusuri keganjilan –keganjilan alam gaib Situs Ratu Boko.
e. Paket Desa Wisata dan Sunset, yaitu paket kegiatan menikmati keindahan desa-desa di sekitar Situs Ratu Boko dengan menggunakan andong yang diakhiri dengan menimati keindahan matahari terbenam.
Fasilitas-fasilitas yang disediakan pengelola untuk mendukung aktivitas wisata, antara lain :
a. Gardu Pandang
Gardu pandang yang disediakan pengelola berjumlah empat buah. Letak gardu pandang ini yaitu tiga buah berada di Bukit Boko Barat dan sebuah gardu terletak di sebelah utara Candi Pembakaran. Fungsi gardu pandang adalah untuk melihat pemandangan bukit-bukit, Gunung Merapi, pemandangan ke candi-candi lain yang ada di sekitar Kawasan Situs Ratu Boko, dan menikmati sunrise (matahari terbit) dan sunset (matahari tenggelam). Tiga buah gardu yang terletak di Bukit Boko Barat digunakan untuk melihat pemandangan kawasan sekitar Ratu Boko. Gardu yang terletak di utara Candi Pembakaran atau di bagian timur-utara bukit digunakan untuk melihat pemandangan ke arah Gunung Merapi dan Candi Prambanan (Gambar 37). Keadaan gardu pandang ini sangat memprihatinkan karena kurangnya perawatan. Kondisi yang kurang layak menyebabkan gardu jarang digunakan oleh pengunjung. Bagian dalam gardu pandang dapat dilihat pada Gambar 38. Di dalam gardu terdapat sebuah arca Hindu (Gambar 39).
Gambar 37 Gardu Pandang
Gambar 39 Arca Hindu yang Tterletak di dalam Salah Satu Gardu Pandang b. Plaza Andrawina
Plaza Andrawina terdiri dari sebuah restoran dan fasilitas karaoke yang terletak di dekat pintu masuk utama, tepatnya di lereng bukit. Dari plaza ini, pengunjung dapat melihat dengan jelas pemandangan alam yang indah dari Candi Prambanan dan Candi Sewu dengan latar belakang Gunung Merapi. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat indahnya pemandangan matahari terbenam dan pegunungan yang mengelilingi kawasan Situs Ratu Boko.
c. Toko Cinderamata
Toko ini menyediakan beberapa hasil kerajinan dari desa-desa wisata di sekitar kompleks Situs Ratu Boko dan souvenir. Toko cinderamata ini terletak di parkiran bus.
d. Fasilitas Informasi
Fasilitas informasi yang disediakan pengelola masih minim, khusunya yang terletak di dalam kawasan Ratu Boko. Fasilitas informasi yang disediakan untuk mendukung kegiatan wisata terdiri dari beberapa jenis, antara lain papan peta kompleks Situs Ratu Boko yang terletak di tangga setelah loket karcis (Gambar 40), papan informasi elemen sejarah yang diletakkan di spot-spot tertentu (Gambar 41), signage (Gambar 42), dan kantor informasi.
Gambar 41 Papan Informasi
Gambar 42 Signage
e. Fasilitas Pengelolaan, Pelayanan, dan Pengembangan
Dalam aspek wisata, pihak yang mengelola adalah PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. PT. Taman Wisata menyediakan sebuah kantor pengelola di Kompleks Situs Ratu Boko dan kantor pusat pengelola terletak di Jl. Raya Jogja-Solo. Sedangkan untuk kantor pengelola BP3 berada di luar kawasan situs yaitu di sebelah barat pintu gerbang utama.
Pengelola juga menyediakan fasilitas pelayanan dan pengembangan seperti gardu penjagaan, loket karcis, toilet, musholla, tempat sampah, tempat parkir, dan warung-warung makanan kecil. Warung-warung kecil ini terletak di dalam kompleks sehingga memudahkan pengunjung untuk membeli makanan dan minuman (Gambar 43). Warung yang dikelola oleh PT. Taman Wisata dan masyarakat sekitar ini memiliki bangunan non permanen dan ada beberapa warung yang merupakan tempat tinggal masyarakat. Fasilitas lain yang cukup baik keadaannya yaitu tempat sampah (Gambar 44). Namun di dalam kompleks situs penyediaan tempat sampah masih kurang.
Gambar 43 Warung Makanan dan Minuman di dalam Kawasan Situs
Gambar 44 Fasilitas Tempat Sampah f. Fasilitas Akomodasi
Pengelola PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menyediakan fasilitas mini bus untuk pengunjung. Fasilitas ini dapat digunakan oleh pengunjung yang mengambil paket wisata Candi Prambanan dan Situs Ratu Boko dengan biaya Rp. 25.000,-. Kapasitas minibus ini untuk delapan sampai sepuluh orang.
Setelah dilakukan pengamatan dan analisis dari data yang diperoleh, aktivitas wisata yang dilakukan di kawasan ini bukan hanya kegiatan rekreasi situs sejarah saja, tetapi juga pemandangan sekitar kawasan. Kawasan Situs Ratu Boko yang berada pada lanskap yang berbukit menyuguhkan atraksi lain yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Dengan banyaknya potensi yang dimiliki, Kompleks Situs Ratu Boko cukup banyak dikunjungi. Dari data pengunjung pada Situs Ratu Boko dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terus meningkat. Yang paling signifikan peningkatannya adalah dari tahun 2008 dengan 2009 yaitu mencapai 100%. Kejadian letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 kemarin tidak berpengaruh pada jumlah pengunjung yang datang ke kawasan. PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko bekerja sama dengan DISBUDPAR untuk meningkatkan sosialisasi kawasan wisata Situs Ratu Boko.
Jumlah pengunjung Situs Ratu Boko dari tahun 2005-2010 dapat dilihat pada Gambar 45, sedangkan tabel jumlah pengunjung ada pada Lampiran 3.
Gambar 45 Diagram Jumlah Pengunjung Tahun 2005-2010
Dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan di dalam kawasan Situs Ratu Boko menghasilkan beberapa dampak terhadap situs, antara lain vandalisme atau perusakan situs, pelestarian situs, dan pemeliharaan lingkungan. Perusakan situs terlihat jelas pada elemen gua yaitu ada beberapa coretan di beberapa bagian dinding. Dibalik itu ada dampak positif yang didapatkan. Kegiatan alam seperti perkemahan dan tracking memberikan dampak baik dalam pemeliharaan lingkungan. Secara tidak langsung pengunjung diajarkan untuk menjaga sumber daya alam dan keindahan yang dimiliki alam Situs Ratu Boko.
Dengan dimanfaatkannya tinggalan sejarah ini sebagai kawasan wisata maka meningkatnya pemasukan sehingga dapat meningkatkan kualitas pengelolaan fasilitas. Beberapa fasilitas tampak kurang pemeliharaannya. Restoran yang dijadikan sebagai salah satu spot untuk menikmati keindahan pemandangan sekitar terlihat kumuh. Seharusnya pengelola senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan wisata dan pelestarian situs selaras dengan kenaikan pengunjung dan peningkatan pendapatan.
5.2.2 Persepsi Pengunjung
Untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap Situs Ratu Boko serta pengaruh kegiatan-kegiatan yang dilakukan pengunjung, maka dilakukan penyebaran kuisioner dengan jumlah responden sebanyak 30 responden. Pada
umumnya pengunjung datang ke Situs Ratu Boko untuk melakukan rekreasi, sedikit pengunjung yang datang untuk melakukan kegiatan lain seperti penelitian. Hasil dari sebaran kuisioner pengunjung dapat dilihat pada Gambar 46.
Gambar 46 Diagram Hasil Penyebaran Kuisioner Pengunjung
Dilihat dari hasil penyebaran kuisioner secara acak, pengunjung paling banyak mengetahui informasi tentang kompleks Situs Ratu Boko dari teman dan kerabat. Jumlah pengunjung yang mengetahui informasi kompleks Situs Ratu Boko dari teman sebanyak 19 orang atau sekitar 63,3%. Pengelola sendiri telah menyebarkan informasi mengenai wisata Situs Ratu Boko ini melalui media cetak dan juga media elektronik2. Selain itu dari segi pengetahuan sejarah dan karakter Situs Ratu Boko, pengunjung yang mengetahui karakter dan identitas situs sebanyak 60%, sedangkan yang tidak mengetahui berkisar 40%. Dari pengunjung yang mengetahui karakter situs, perbandingannya hampir sama antara pengunjung yang mengenal situs ini sebagai candi dan sebagai keraton. Perbandingannya yaitu antara 50% yang menganggap Situs Ratu Boko sebagai candi dan 44,4% yang mengidentifikasikannya sebagai keraton, sedangkan sisanya yang menilai bahwa identitas situs ini tidak termasuk keduanya, baik candi maupun keraton. Kurangnya pengembangan penelitian tentang kawasan ini serta media interpetasi yang minim dari pengelola menyebabkan sampai saat ini belum diketahui secara pasti identitasnya. Banyaknya pengunjung yang mengetahui bahwa identitas kompleks Situs Ratu Boko sebagai candi karena pada umumnya masyarakat menyebut Situs Ratu Boko dengan nama Candi Ratu Boko.
Hal lain yang diperhatikan dalam penelitian ini adalah persepsi pengunjung tentang tatanan lanskap yang mempengaruhi situs. Meskipun sebanyak 70% pengunjung kurang mengetahui tentang tatanan lanskap, namun semua responden, yaitu 100%, mengatakan bahwa lanskap sekitar merupakan satu kesatuan dengan situs di dalamnya. Letak Situs boko yang berada di tanah yang berbukit
2 Sumber: Wawancara dengan pengelola swasta dan pemerintah dari Dinas Kebudayaan dan