UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PERENCANAAN PAJAK KANTOR KONSULTAN
PAJAK ATAS KEWAJIBAN PERPAJAKAN PERUSAHAAN
PENGGUNA JASA DALAM RANGKA PENGHINDARAN
SANKSI PAJAK
(STUDI KASUS PADA KANTOR KONSULTAN PAJAK X)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
MUHAMMAD RAMDHANI 0706214124
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM EKSTENSI BIDANG ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI FISKAL
Depok,
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Muhammad Ramdhani
NPM : 0706214124
Tanda Tangan :
Skripsi ini diajukan oleh :
Nama : Muhammad Ramdhani
NPM : 0706214124
Program Studi : Ilmu Administrasi Fiskal
Judul Skripsi : Analisis Perencanaan Pajak Kantor Konsultan Pajak X Atas Kewajiban Perpajakan Perusahaan Pengguna Jasa Dalam Rangka Penghindaran Sanksi Pajak ( Studi Kasus Pada Kantor Konsultan Pajak X )
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
DEWAN PENGUJI
Ketua Sidang : Drs. Achmad Lutfi, M.Si ( )
Penguji Ahli : Drs. Adang Hendrawan, M.Si ( )
Pembimbing : Dr. Ning Rahayu, M.Si ( )
Sekretaris Sidang : Rini Ghufraini, S.sos. M,Si ( )
Ditetapkan di : Depok Tanggal : 18 Juni 2009
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas kasih sayang dan rahmat-Nya sehingga laporan hasil penelitian ini dapat terselesaikan. Kuasa-Nya menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin dan indah pada waktunya.
Skripsi yang berjudul “ ANALISIS PERENCANAAN PAJAK KANTOR KONSULTAN PAJAK X ATAS KEWAJIBAN PERPAJAKAN PERUSAHAAN PENGGUNA JASA DALAM RANGKA PENGHINDARAN SANKSI PAJAK (STUDI KASUS PADA KANTOR KONSULTAN PAJAK X) ”. Alasan penulis mengangkat tema ini untuk mengetahui perencanaan pajak yang dilakukan oleh Kantor Konsultan Pajak X terhadap kewajiban perpajakan perusahaan pengguna jasa untuk tujuan penghindaran sanksi pajak melanggar dengan ketentuan undang-undang perpajakan atau tidak, cukup efektifkah dalam meminimalisir sanksi, serta adakah resiko dari dijalankannya perencanaan pajak tersebut. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu prasyarat merah gelar sarjana, khususnya dalam program studi Ilmu Administrasi Fiskal.
Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Ning Rahayu, M.Si selaku Ketua Program Sarjana Ekstensi Departemen Ilmu Administrasi Fiskal serta Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk diskusi dan memberikan bimbingan yang menyeluruh.
2. Orangtuaku tersayang (Alm) Apak’ dan Ibu’ , terima kasih atas doa-doa yang pernah putus sepanjang malam dan senantiasa memberikan dukungan secara moril dan materi kepada penulis.
3. Kakak-Kakakku dan adikku , Ka’Ta dan Bang Dayat, Kak Yuli dan Aa’ Asep, Ka Emah dan Om Fahmi, Bang Ozin dan Mbak Yuni, Happizh, Reza yang selama ini selalu memberikan motivasi agar penulis menjadi orang yang sukses dan juga kepada para keponakanku yang sealu memberikan keceriaan.
mendoakan ku di sepanjang malam.
5. Ibu Ernawati selaku Tax Supervisor KKP X, yang selalu memberikan waktu untuk membantu dalam proses penyusunan skripsi ini, terima kasih juga untuk data-data yang telah diberikan kepada penulis.
6. Prof. Gunadi dan Bpk. Rachmanto Surahmat yang meluangkan waktunya untuk memberikan pendapatnya mengenai kasus-kasus perencanaan perpajakan yang penulis tanyakan.
7. Bapak Fery dan Ibu Afifah yang meluangkan waktunya untuk memberikan pendapatnya mengenai kasus-kasus perencanaan perpajakan yang penulis tanyakan.
8. Teman-Teman ku di PT Partama Konsultan yang selalu memberikan dorongan dan motivasinya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi. 9. Teman-Teman ku di Kantor Konsultan Pajak Santoso Harsokusumo yang
selalu memberikan dorongan dan motivasinya kepada penulis.
10. Hanggi, Eky, Nanda, Fida, Inna, serta teman-teman Program Sarjana Ekstensi Administrasi Fiskal angkatan 2007 dan Firman, Hardi, Aya dan juga teman-teman Program Diploma Administrasi Perpajakan angkatan 2004 yang memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skrpsi.
11. Para Dosen Ilmu Administrasi Fiskal yang memberikan banyak pengetahuan bagi penulis.
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membacanya meskipun penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini.
Jakarta, Juni 2009
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muhammad Ramdhani NPM : 0706214124
Program Studi : Ilmu Administrasi Fiskal Departemen : Ilmu Administrasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jenis Karya : Skripsi
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
ANALISIS PERENCANAAN PAJAK KANTOR KONSULTAN PAJAK X ATAS KEWAJIBAN PERPAJAKAN PERUSAHAAN PENGGUNA JASA DALAM RANGKA PENGHINDARAN SANKSI PAJAK (STUDI KASUS
PADA KANTOR KONSULTAN PAJAK X)
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di :Depok Pada tanggal : 18 Juni 2009
Yang menyatakan
Nama : Muhammad Ramdhani Program Studi : Ilmu Administrasi Fiskal
Judul : Analisis Perencanaan Pajak Kantor Konsultan Pajak Atas Kewajiban Perpajakan Perusahaan Pengguna Jasa Dalam Rangka Penghindaran Sanksi Pajak (Studi Kasus Pada Kantor Konsultan Pajak X)
Sistem Self Assesment menuntut Wajib Pajak untuk menghitung, menyetorkan dan melaporkan pajaknya sendiri. Namun kurangnya pengetahuan Wajib Pajak terhadap peraturan perpajakan serta seringkalinya peraturan perpajakan tersebut mengalami perubahan, sehingga membuat Wajib Pajak menjadi bingung dan lebih memilih menggunakan bantuan pihak ketiga yang mengerti akan peraturan perpajakan untuk membantu perusahaan dalam menjalankan kewajiban perpajakan yaitu pihak konsultan pajak. Persaingan bisnis konsultan pajak yang pesat, membuat konsultan pajak tersebut perlu menjaga pengguna jasanya agak tidak pindah ke konsultan pajak lain. Diantaranya dengan cara menjalankan kewajiban perpajakan kliennya dengan menggunakan perencanaan pajak agar dapat terhindar dari sanksi pajak.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui apakah perencanaan pajak yang dilakukan Kantor Konsultan Pajak X dalam membantu pelaksanaan kewajiban perpajakan klien dalam rangka penghindaran sanksi pajak, apakah sudah memenuhi peraturan perundang-undangan perpajakan, dapat meminimalkan sanksi atau tidak, serta apakah ada resiko yang muncul dari dijalankannya perencanaan pajak tersebut.
Berdasarkan penelitian didapatkan hasil penelitian bahwa perencanaan pajak dari Kantor Konsultan Pajak X tidak semuanya tidak melanggar ketentuan perundang-undangan dan efektif dalam meminimalisir atau menghindari sanksi pajak. Namun ada juga perencanaan pajak yang dilakukan oleh Kantor Konsultan Pajak X yang melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku di Indonesia sehingga dinilai tidak efektif dan menimbulkan resiko jika perencanaan pajak tersebut dilakukan.
Name : Muhammad Ramdhani Study Program : Administrative Science
Title : The Analysis of the Tax Planning done by the Tax Consultant Office towards the Tax Obligation Implementation of the Clients in order to avoid Tax Penalty ( Case study at Tax Consultant X)
The Self Assesment system demanded the Taxpayers to calculate, remit and lodge his individual tax obligation. However, the lack of knowledge in regards of tax regulation as well as excessively tax regulation altered , has made confused the Taxpayers who finally chose to asked the third party who understood comprehensively in regards of tax regulation to help carrying out his tax obligation idest Tax Consultant. The vast competition within the Tax Consultant business, has made the Tax Consultant needs to persuade its clients so that they will not move to the other Tax Consultant. One of the persuasion is by performing tax planning in working the clients tax obligation to avoid tax penalty.
This research utilized the qualitative research descriptive with the aim to know whether the tax planning that was done by the Tax Consultant X in working the clients tax obligation to avoid the tax penalty has fulfilled the tax regulation, could minimise sanctions or not, also for knowing whether the tax planning taken had any risk might emerged.
Based on the research, the results obtained that not all the tax planning done by the Tax Consultant X are in accordance with the Tax regulation provisions and effective in minimizing or avoiding tax sanctions. However there are also tax planning done by the Tax Consultant X which are not in accordance with the Tax regulation provisions applied in Indonesia which considered ineffective and may caused the risk if the tax planning carried out.
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR SKEMA ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 1
2. Pokok Permasalahan 8
3. Tujuan Penelitian 10
4. Signifikansi Penelitian 10
5. Sistematika Penulisan 11
BAB 2 KERANGKA TEORI DAN METODE PENELITIAN 1. Tinjauan Pustaka 13
2. Kerangka Pemikiran 14
3. Bagan Alur Pemikiran 32
4. Metode Penelitian 4.1. Pendekatan Penelitian 33
4.2. Jenis Penelitian 34
4.3. Teknik Pengumpulan Data 34
4.4. Teknik Analisis Data 35
4.5 Hipotesa Kerja 36
4.6 Narasumber atau Informan 37
4.7 Proses Penelitian 38
4.8 Penentuan Site Penelitian 39
4.9 Batasan Penelitian 39
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAN KETENTUAN MENGENAI SANKSI PERPAJAKAN DI INDONESIA 40
BAB 4 ANALISIS PERENCANAAN PAJAK KONSULTAN PAJAK X ATAS KEWAJIBAN PERPAJAKAN ( TAX COMPLIANCE ) PERUSAHAAN PENGGUNA JASA DALAM RANGKA PENGHINDARAN SANKSI PAJAK 58 4.1. Analisis Pelanggaran Perencanaan Pajak Kantor
4.2. Analisis Keefektifan Perencanaan Pajak Kantor
Konsultan Pajak X Atas Kewajiban Perpajakan Perusahaan Pengguna Jasa dalam Meminimalisir atau Menghindari Sanksi
Pajak 74
4.3 Analisis Timbulnya Resiko terkait Perencanaan Pajak Kantor Konsultan Pajak X Atas Kewajiban Perpajakan
Perusahaan Pengguna Jasa dalam rangka penghindaran
sanksi pajak 82
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 88
DAFTAR REFERENSI LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perbandingan pajak terutang beserta sanksi yang harus dibayar oleh PT Y pada tahun 2007
(sebelum menggunakan konsultan)
dan tahun 2008 (setelah menggunakan jasa konsultan) 6 Tabel 4.1. Perbandingan Sanksi Pajak Terhadap Penyampaian
SPT yang Dilakukan Tanpa Perencanaan Pajak (PP) dengan yang Dilakukan dengan Perencanaan Pajak 73 Tabel 4.2. Perbandingan Sanksi Pajak Terhadap Penyetoran PPh Pasal 21
yang Dilakukan Tanpa Perencanaan Pajak (PP) dengan yang
Dilakukan dengan Perencanaan Pajak 76 Tabel 4.3. Perbandingan Sanksi Pajak Terhadap Pemungutan PPN
yang Dilakukan Tanpa Perencanaan Pajak (PP) dengan yang
Dilakukan dengan Perencanaan Pajak 78 Tabel 4.4 Sanksi Pajak yang Harus Dibayar Sebagai Konsekuensi
Jika perencanaan Pajak Tersebut Terdeteksi Dalam
Pemeriksaan Pajak 84
Tabel 4.5 Matriks kesimpulan kasus-kasus dari Kantor Konsultan Pajak X dikaitkan dengan teori Indikator perencanaan
pajak yang dikemukakan oleh Lumbantoruan 88 Tabel 4.6 Matriks kesimpulan kasus-kasus dari Kantor
Konsultan Pajak X dikaitkan dengan teori Kriteria
Skema 2.1 Tujuan Manajemen Pajak 24
Skema 2.2 Kerangka Pemikiran 32
Skema 3.2 Struktur Organisasi Kantor Konsultan
Pajak X .41
Skema 4.1 Penyampaian SPT / E-SPT Tahunan melalui
Lampiran I Pedoman Wawancara
Lampiran II Transkrip Pedoman Wawancara Lampiran III KMK Nomor 485/KMK.03/2003
Lampiran IV Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor 19/PJ/2009 Lampiran V Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007
Lampiran VI Batas Waktu Penyetoran & Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT)
Nama : MUHAMMAD RAMDHANI Tempat dan Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Mei 1986
Alamat : Jl. D5 No.24 RT 012/004 Kebun Baru, Tebet, Jakarta Selatan 12830
No. Telp/HP : 021- 8351726 / 08388875926 E-mail : dani_loves_Blue @ yahoo.com
Agama : Islam
Nama Orang Tua : Ayah : (Alm) Nachrawi Ibu : Siti Aisyah
Riwayat Pendidikan Formal :
S1 : Administrasi Fiskal FISIP UI 2007- 2009 D3 : Administrasi Perpajakan FISIP UI 2004- 2007 SMA : SMA N 26, Tebet Jakarta Selatan 2001-2004 SMP : SLTP N 265, Tebet Jakarta Selatan 1998-2001 SD : SD N 01 Pagi, Kebon Baru Jakarta Selatan 1992-1998
1.1 Latar Belakang Masalah
Tidak ada satu pun organisasi bisnis yang bergerak dalam kondisi sendiri. Organisasi selalu berinteraksi dengan lingkungan tertentu yang sering diliputi oleh suasana ketidakpastian atau yang berubah dengan sangat cepat. Bahkan tidak sedikit pakar manajemen dan teori organisasi yang meramalkan bahwa jenis, bentuk dan intensitas perubahan lingkungan eksternal itu dimasa depan akan sedemikian rupa sehingga manajemen puncak akan sering dihadapkan kepada berbagai permasalahan. Artinya, manajemen puncak yang masih sibuk melakukan perubahan untuk menghadapi tantangan yang baru saja timbul, sudah terjadi lagi perubahan dengan segala tantangan yang menyertainya.
Tantangan utama yang akan dihadapi oleh manajemen puncak di masa depan berkisar pada menciptakan organisasi yang lebih baik. Yang dimaksud dengan organisasi yang lebih baik adalah organisasi yang tingkat efektivitasnya tinggi karena dengan efektivitas yang tinggi itu organisasi mampu tidak hanya menjamin kelangsungan eksistensinya, akan tetapi berada pada kondisi siap menghadapi berbagai tantangan, menghilangkan berbagai kendala dan memanfaatkan berbagai peluang yang timbul. Berbagai tantangan di masa depan itu, antara lain, ialah globalisasi ekonomi, perubahan geopolitik, pengangguran, tanggung jawab sosial, peningkatan taraf hidup, penyelenggaraan bisnis berdasarkan norma-norma moral dan etika, keanekaragaman tenaga kerja, perkembangan teknologi, masalah demografi dan kemungkinan timbulnya berbagai kejutan yang tidak diperkirakan sebelumnya1.
Dalam keadaan seperti ini, pemimpin organisasi dalam hal ini perusahaan atau biasa disebut manajer perusahaan harus dapat menentukan keputusan serta tujuan dari perusahaan yang dipimpin atau dikendalikannya. Tugas manajer
1
perusahaan adalah mengambil keputusan yang didasarkan pada keterpaduan antara fungsi bisnis yang meliputi bidang pemasaran, produksi, keuangan sumber daya manusia, penelitian serta pengembangan, dan fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan serta pengawasan. 2 Sehingga sasaran ataupun tujuan organisasi dapat tercapai.
Sasaran organisasi adalah suatu keadaan atau kondisi yang ingin dicapai oleh suatu organisasi. Dalam pengertian tersebut, sasaran dapat diartikan sebagai tujuan organisasi, baik tujuan jangka pendek, serta mencakup sasaran dari keseluruhan organisasi ataupun sasaran dari suatu bagian tertentu dari organisasi. Tujuan perusahaan pada umumnya adalah maksimalisasi nilai perusahaan dan efisiensi. Untuk itu setiap perusahaan berkepentingan untuk melakukan maksimalisasi nilai perusahaan dan efisiensi dengan cara menetapkan strategi yang diterapkan di dalam perusahaan, antara lain:
1. Meningkatkan produksi barang yang lebih sesuai dengan pasar. 2. Menurunkan harga jual produk.
3. Efisiensi sumber daya dan biaya produksi, diantaranya dengan: a. Mengurangi jam kerja tenaga kerja.
b. Memperketat kehadiran dari para pekerja.
c. Menghemat penggunaan bahan baku serta bahan penolong. d. Meningkatkan standar mutu perusahaan.
e. Menggunakan bahan substitusi dalam memproduksi.
f. Memperketat pengawasan tenaga kerja dalam proses produksi.
4. Meminimalisasi beban pajak yang ditanggung perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang masih berada dalam bingkai peraturan perpajakan sampai dengan yang melanggar peraturan perpajakan. Upaya minimalisasi pajak sering disebut dengan
perencanaan pajak (Tax Planning), yang merupakan bagian dari manajemen pajak.3
Keputusan bisnis merupakan keputusan yang sangat mempengaruhi jalannya suatu roda usaha dan keputusan bisnis sebagian besar dipengaruhi oleh pajak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan yang baik jika berhubungan dengan pajak bisa menjadi keputusan bisnis yang kurang baik, begitu juga sebaliknya4. Walaupun pajak berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan perseorangan dan keputusan bisnis, tidaklah berarti bahwa pajak tersebut tidak dapat dikendalikan. Memahami dengan baik ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan serta perkembangan dan perubahannya, pada hakikatnya pajak tersebut akan dapat dimanajemeni dengan berhasil. Suatu sistem manajemen pajak yang efektif merupakan hal yang vital bagi suatu usaha yang berorientasi kepada keuntungan dan predikat seorang manajer yang sukses kadang-kadang ditentukan pula oleh sukses tidaknya penyusunan suatu tax
planning5.
Bagi seseorang manajer, tugas pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan bagian penting dari pekerjaannya. Beberapa masalah yang tekait dengan pengambilan keputusan berkenaan dengan perpajakan seperti :
Berapa besar pajak yang harus dibayar;
Bagaimana caranya agar pembayaran tersebut efisien;
Bagaimana cara melakukan penghindaran pajak yang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; Bagaimana hasil penghematan pajak yang digunakan dan untuk
apa.
Pada hakikatnya pengambilan keputusan merupakan proses mengevaluasi beberapa alternatif yang tersedia. Ditinjau dari segi perpajakan alternatif tersebut pada umumnya menyangkut masalah keuntungan dan biaya dan oleh karena itu
3 Ibid
4 Erly Suandy, Perencanaan Pajak, ( Jakarta : Salemba Empat,2006), hal 1.
5 Mohammad Zain, Manajemen Perpajakan,( Jurnal Perpajakan Indonesia, Volume 3,
pemilihan alternatif jatuh kepada alternatif yang menjanjikan keuntungan terbesar. Sebagian besar dari tindakan yang diambil dalam rangka perpajakan dapat dikategorikan sebagai keuntungan pajak (tax benefit) atau biaya pajak (tax cost).
Oleh karena itu, seorang pengambil keputusan hendaknya mampu mengidentifikasikan konsekuensi potensi pajak yang terkait dengan alternatif-alternatif yang sedang dipertimbangkan tersebut dan hal ini tidak berarti bahwa alternatif yang dipilih adalah alternatif yang beban pajaknya yang paling efisien yang harus dibayar, akan tetapi lebih cenderung bagaimana memaksimalkan penghasilan setelah pajak (profit after tax). Perbedaan ini adalah penting untuk dipahami, sebab para pengambil keputusan hendaknya merumuskan masalah yang menyangkut biaya setelah pajak (after tax cost) dan keuntungan setelah pajak (after tax profit) secara bersamaan tanpa mengabaikan masalah kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan6.
Perhitungan berapa pajak yang harus dibayar perusahaan oleh seorang manajer perusahaan tentunya sesuai dengan esensi sistem pemungutan pajak di Indonesia di mana masyarakat diberi kepercayaan penuh untuk menghitung dan melaporkan sendiri jumlah pajak terhutangnya, sistem pemungutan pajak ini lebih dikenal dengan sebutan Self Assessment System. Konsekuensi dijalankannya sistem ini adalah bahwa masyarakat harus benar-benar mengetahui tata cara perhitungan pajak dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelunasan pajaknya, seperti kapan harus membayar pajak, kepada siapa pajak dibayarkan, apa yang terjadi jika ada salah perhitungan, apa yang terjadi jika lupa, dan sanksi apa yang diterima bila melanggar ketetapan-ketetapan perpajakan. Untuk mengetahui hal-hal tersebut, masyarakat harus rajin membaca dan berkonsultasi sampai mereka mengerti betul masalah ini. Hal ini perlu dilakukan karena banyak sekali terminology khusus yang digunakan dalam buku-buku panduan perpajakan, sehingga butuh penjelasan khusus untuk memahaminya7.
6 Ibid, hal 14.
7 Rimsky K. Judisseno, Pajak dan Strategi Bisnis: Suatu Tinjauan Tentang Kepastian
Hukum dan Penerapan Akutansi di Indonesia,(Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1999), hal 27
Self Assesment System yang dianut perpajakan Indonesia yang memberikan
kepercayaan kepada wajib pajak untuk melaksanakan pemenuhan kewajiban perpajakannya secara mandiri, pemenuhan kewajiban perpajakan sebagai transfer sumber daya oleh perusahaan harus direncanakan secara baik agar tidak terjadi pemborosan di dalam pembayaran pajak, misalnya, penyediaan dana harus direncanakan supaya pembayaran pajak dapat dilakukan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Selain pembayaran pajak juga terdapat kewajiban pelaporan yang juga harus direncanakan agar dapat selesai dan dilaporkan tepat pada waktunya. Namun begitu banyak dan rumitnya peraturan perpajakan di Indonesia serta keterbatasan pengetahuan dari sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Tidak jarang perusahaan menggunakan jasa pihak lain untuk membantu para manajer tersebut menjalankan tujuan perusahaan, diantaranya dengan menggunakan jasa konsultan pajak untuk membantu meminimalisasi beban pajak yang ditanggung perusahaan.
Keterbatasan pengetahuan perusahaan mengenai perpajakan tentunya membawa angin segar kepada konsultan pajak baik yang berdiri atas nama pribadi maupun perusahaan. Konsultan pajak sendiri menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 485/KMK.03/2003 tertanggal 30 Oktober 2003 mempunyai pengertian yaitu setiap orang yang di dalam lingkungan pekerjaannya secara bebas memberikan jasa profesional kepada Wajib Pajak dalam pelaksanaan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Sebutan professional mengekspresikan bahwa konsultan pajak merupakan sosok yang ideal dan mempunyai kompetensi yang mumpuni pada bidangnya. Kalau kita melihat praktek normal di negara-negara yang telah maju, substansi dari konsultan pajak lebih dari sekedar pemberi jasa konsultasi. Disana konsultan pajak adalah tax Professional yang mungkin saja seorang Tax
Attorneys, Certified Public Accountants, Noncertified Accountants, Enrolled Agents atau Enrolled Actuaries, yang harus tunduk pada kode etik dan praktek
yang dibuat untuk itu. Pekerjaan dari tax Professional luas pula, bisa sekedar untuk hal-hal yang berkenaan dengan tax compliance misalnya dalam hal-hal untuk pengisian laporan pajak, bisa pula memberikan jasa dalam area tax
bagaimana menghemat pajak kedepannya (advising clients on how to save taxes in
future transactions)8.
Sebagai ilustrasi, dapat kita lihat sebuah tabel yang menggambarkan bagaimana peranan konsultan pajak dalam membantu perusahaan pengguna jasanya dalam melakukan perencanaan pajak dalam rangka tax compliance sehingga sanksi pajak yang harus dibayar dapat diminimalisir sekecil mungkin atau bahkan tidak ada sama sekali.
Tabel 1.1.
Tabel Perbandingan pajak terutang beserta sanksi yang harus dibayar oleh PT Y pada tahun 2007 (sebelum menggunakan konsultan) dan tahun 2008
(setelah menggunakan jasa konsultan)
Description Tanpa Konsultan Dengan Konsultan 1. Tax Underpayment (tax base)
Corporate Income Tax 0 0
Income Tax Article 21 45.500.550 45.500.000
Income Tax Article 23 13.876.000 11.237.800
Income Tax Article 26 0 0
Income Tax Article 4 (2) 11.550.000 10.500.000
Income Tax Article 15 0 0
Total Tax Underpayment 70.926.550 67.237.800
2. Adminstrative sanctions
Corporate Income Tax 0 0
Income Tax Article 21 22.750.275 0 Income Tax Article 23 6.938.000 0
Income Tax Article 26 0 0
Income Tax Article 4 (2) 5.775.000 0
Income Tax Article 15 0 0
Total sanctions 35.463.275 0
3. Tax to be paid (1+2)
Corporate Income Tax 0 0
Income Tax Article 21 68.250.825 45.500.000 Income Tax Article 23 20.814.000 11.237.800
Income Tax Article 26 0 0
Income Tax Article 4 (2) 17.325.000 10.500.000
Income Tax Article 15 0 0
Total tax to be paid 106.389.825 67.237.800
Sumber : Data klien kantor konsultan pajak X.
8
Dari tabel ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa peranan konsultan dalam membantu pihak wajib pajak dalam melakukan penghematan khususnya yang menyangkut masalah tax cost. Hal ini membuat banyak perusahaan pada akhirnya lebih memilih memakai jasa konsultan pajak sehingga mereka dapat terbantu dalam rangka efisiensi perusahaan. Celah inilah yang menarik minat banyak pengusaha untuk membuat kantor konsultan pajak sehingga bisnis konsultan pajak di Indonesia menjadi menjamur dan persaingan menjadi semakin ketat.
Kondisi bisnis konsultan pajak saat ini memang sedang bagus-bagusnya dan permintaan jasa konsultan terus bertambah. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah untuk menggenjot pendapatan dari pajak9. Persaingan bisnis ini membuat para konsultan pajak berfikir keras bagaimana agar bisnisnya dapat terus berkembang. Seperti dijelaskan di atas, perusahaan menggunakan jasa konsultan pajak agar kewajiban pajak yang dimiliki oleh perusahaan dapat berjalan dengan baik sehingga tidak perlu muncul sanksi pajak, sebagai konsekuensi apabila tidak dijalankannya kewajiban pajak dengan baik. Untuk itulah sangat dibutuhkannya suatu strategi-strategi khusus dari para konsultan pajak atau sering disebut dengan istilah perencanaan pajak agar tax compliance perusahaan-perusahaan pengguna jasa dapat dilakukan dengan baik secara bersamaan dan tanpa dikenakan denda-denda pajak, mengingat tanggal pembayaran pajak dan pelaporan pajak sudah ditentukan oleh Ditjen Pajak.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti ingin mengkaji lebih dalam tentang bagaimana cara konsultan pajak dalam melakukan perencanaan pajak agar kewajiban pajak baik bulanan maupun tahunan perusahaan pengguna jasa dapat terlaksana dengan baik dan tujuan untuk meminimalisasi beban pajak perusahaan dapat tercapai. Dan berdasarkan hal tersebut maka peneliti ingin menetapkan judul penelitian skripsi ini sebagai berikut: “Analisis Perencanaan Pajak Kantor Konsultan Pajak Atas Kewajiban Perpajakan Perusahaan Pengguna Jasa Dalam Rangka Penghindaran Sanksi Pajak (Studi Kasus di Kantor Konsultan Pajak X)”.
9Harris Hadinata, Wahyu Tri R., Novi Diah. Meneropong bisnis konsultan pajak yang
makin mengkilap, 11 juni 2008, http://www.konsultanpajak.net/, diunduh tanggal 7 april 2009 pukul 09.00
1.2 Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas tentunya menjadikan semakin banyak perusahaan yang ingin menggunakan jasa konsultan untuk membantu dalam pelaksanaan kewajiban pajak (Tax Compliance) perusahaan setiap masa pajaknya. Banyaknya kewajiban pajak Pengguna Jasa (Client) yang harus ditangani oleh para konsultan pajak setiap masa pajak baik bulanan maupun tahunan, hal ini tentunya menjadikan bisnis konsultan pajak pada akhir-akhir semakin menjamur, mulai dari yang memiliki Izin Praktek Konsultan Pajak yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak sampai yang tidak memiliki Izin Praktek Konsultan Pajak dari Direktur Jenderal Pajak. Menjamurnya bisnis konsultan pajak ini secara cepat membuat persaingan usaha di bidang usaha ini begitu cepat sehingga diperlukan strategi khusus dari setiap konsultan pajak untuk membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan pajak. Perencanaan perpajakan itu sendiri sesungguhnya merupakan tindakan penstrukturan yang terkait dengan konsekuensi potensi pajaknya, yang tekanannya kepada pengendalian setiap transaksi yang ada konsekuensi pajaknya. Tujuannya adalah bagaimana pengendalian tersebut dapat mengefisienkan jumlah pajak yang akan ditransfer ke Pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai penghindaran pajak (tax avoidance) dan bukan penyelundupan pajak (tax evasion) yang merupakan tindak pidana fiskal yang tidak akan ditoleransi. Walaupun kedua cara tersebut kedengarannya mempunyai konotasi yang sama sebagai tindakan kriminal, namun satu hal yang jelas berbeda disini, bahwa penghindaran pajak adalah perbuatan yang legal yang masih dalam lingkup pemajakan dan tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, sedang penyelundupan pajak jelas-jelas merupakan perbuatan illegal yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan10.
Perencanaan pajak konsultan pajak mempunyai bermacam-macam variasi atau bentuk diantaranya adalah perencanaan pajak dalam rangka pelaksanaan atas kewajiban pajak Pengguna Jasa agar terhindar dari sanksi pajak dan Pengguna Jasa tersebut dapat terbantu dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. perencanaan pajak dari satu konsultan dengan konsultan yang lain tentunya
10
memiliki perbedaan satu sama lain. Oleh karena itu, para konsultan pajak harus mempunyai stategi atau pengetahuan yang luas tentang perencanaan pajak karena hal ini sangat perlu dilakukan oleh para konsultan pajak jika tidak ingin tinggalkan oleh para pengguna jasanya, karena persaingan di dalam bidang usaha ini sangat ketat dan kompetitif.
Dalam melakukan perencanaan pajak kewajiban perpajakan Pengguna Jasa para konsultan pajak sebagai mitra strategis pemerintah seharusnya melakukan perencanaan pajak dengan cara yang legal. Namun pada kenyataannya ada juga konsultan pajak yang menggunakan perencanaan pajak dengan cara yang melanggar ketentuan perundang-undangan. Sebagai pihak yang mengerti akan seluk beluk peraturan perpajakan, konsultan pajak sebelum melakukan perencanaan pajak seharusnya melakukan analisis apakah perencanaan pajak yang nantinya digunakan cukup efektif untuk membantu kewajiban perpajakan dalam rangka meminimalisir sanksi pajak, apakah perencanaan pajak yang digunakan tersebut sesuai dan tidak melanggar peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia, serta adakah resiko yang muncul jika perencanaan pajak tersebut dilakukan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas , terdapat pokok permasalahan yang secara garis besar adalah upaya-upaya apa yang dapat dilakukan oleh para konsultan pajak untuk melakukan perencanaan pajak terhadap kewajiban perpajakan Pengguna Jasa agar kewajiban pajak Pengguna Jasa dapat dilakukan dengan baik secara bersamaan dan terhindar dari sanksi denda. Pokok permasalahan tersebut dapat dijabarkan secara lebih spesifik dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah perencanaan pajak yang digunakan Kantor Konsultan Pajak X dalam rangka pelaksanaan kewajiban perpajakan Perusahaan Pengguna Jasa melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku di Indonesia atau tidak ?
2. Apakah perencanaan pajak yang digunakan oleh Kantor Konsultan Pajak X cukup efektif dalam meminimalkan atau menghindari sanksi pajak atau tidak ?
3. Apakah penerapan perencanaan pajak yang digunakan oleh Kantor Konsultan Pajak X dapat menimbulkan resiko atau tidak ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan penulisan skripsi adalah untuk:
1. Mengetahui perencanaan pajak yang digunakan Kantor Konsultan Pajak X dalam rangka pelaksanaan kewajiban perpajakan Perusahaan Pengguna Jasa melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku di Indonesia atau tidak
2. Mengetahui perencanaan pajak yang digunakan oleh Kantor Konsultan Pajak X cukup efektif dalam meminimalkan atau menghindari sanksi pajak atau tidak.
3. Mengetahui penerapan perencanaan pajak yang digunakan oleh Kantor Konsultan Pajak X dapat menimbulkan resiko atau tidak
1.4 Signifikansi Penelitian
1.4.1 Signifikasi Akademis
Manfaat bagi ilmu pengetahuan agar dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut dalam rangka pengembangan ilmu-ilmu yang sehubungan dengan perpajakan terutama dalam perencanaan perpajakan.
1.4.2 Signifikansi Praktis
Manfaat bagi masyarakat dan atau konsultan pajak agar dengan mempelajari skripsi ini diharapkan dapat lebih memahami bagaimana melakukan perencanaan pajak yang baik khususnya dalam meminimalisasi dan atau penghindaran sanksi pajak.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menjabarkan Latar Belakang Permasalahan, Pokok Permasalahan dan Tujuan Penelitian. Selain itu, dalam bab ini juga diuraikan mengenai Signifikansi Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II KERANGKA TEORI DAN METODE PENELITIAN
Dalam bab ini penulis menjabarkan teori dan pemikiran dari literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian, dalam tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran. Teori yang dijabarkan antara lain adalah : Saat timbulnya kewajiban pajak dan mekanisme pemungutan pajak, sistem self assessment, konsep pemeriksaan dan penelahaan pajak, konsep manajemen strategis, teori manajemen pajak dan tax planning, earning management dan juga teori tentang sanksi pajak. Serta menjabarkan mengenai metode penelitian yang digunakan penulis, yang terdiri dari pendekatan penelitian, jenis/tipe penelitian, metode penelitian,tehnik pengumpulan data, tehnik analisis data, hipotesis kerja, narasumber/informan, proses penelitian, penentuan site penelitian, dan batasan penelitian.
BAB III GAMBARAN UMUM KONSULTAN PAJAK X SERTA PERATURAN YANG MENGATUR TENTANG SANKSI PAJAK DI INDONESIA
Bab ini menjelaskan secara singkat tentang gambaran umum Konsultan Pajak X sebagai site penelitian dan juga membahas tentang sanksi pajak yang ada di peraturan perundang-undangan perpajakan di Indonesia. Bab ini akan diuraikan dalam dua sub bab, yaitu : Gambaran Umum Konsultan Pajak X dan Ketentuan yang mengatur tentang sanksi perpajakan di Indonesia.
BAB IV ANALISIS PERENCANAAN PAJAK PERUSAHAAN KONSULTAN PAJAK ATAS KEWAJIBAN PERPAJAKAN
PENGGUNA JASADALAM RANGKA PENGHIDARAN
SANKSI PAJAK.
Bab ini menjelaskan analisis penulis mengenai perencanaan pajak perusahaan konsultan pajak atas pemenuhan kewajiban perpajakan pengguna jasa, strategi-strategi yang digunakan perusahaan serta resiko-resiko yang ada dari strategi yang dijalankan, dalam membantu pengguna jasanya meminimalisir pajak yang harus ditanggung. Bab ini akan diuraikan dalam beberapa sub bab, yakni : analisis kesesuaian perencanaan pajak Kantor Konsultan Pajak X atas kewajiban perpajakan perusahaan pengguna jasa dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan di Indonesia, analisis keefektifan perencanaan pajak Kantor Konsultan Pajak X atas kewajiban perpajakan perusahaan pengguna jasa dalam meminimalisir atau menghindari sanksi pajak, serta analisis timbulnya resiko terkait perencanaan pajak Kantor Konsultan Pajak X atas kewajiban perpajakan perusahaan pengguna jasa dalam rangka penghindaran sanksi pajak.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan kesimpulan atas pembahasan pada bab-bab sebelumnya serta saran-saran yang mungkin dibutuhkan agar perencanaan pajak yang dilakukan oleh perusahaan konsultan pajak dapat berjalan lebih baik lagi. Bab ini akan diuraikan dalam dua sub bab, yakni : Simpulan dan Saran.
2.1. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian ini, peneliti melihat satu hasil penelitian terdahulu. yaitu, mengenai perencanaan pajak di satu perusahaan di Indonesia sebagai unsur penunjang untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut. Penelitian berupa tesis yang dilakukan oleh Effendi Gunawan (Administrasi dan Kebijakan Perpajakan, 2002) dengan judul Perencanaan Pajak Sebagai Unsur Penunjang Untuk Mencapai Tujuan Perusahaan di PT.X.
Tesis ini antara lain menjelaskan tentang ketentuan perundangan perpajakan yang berlaku pada saat itu yang memberi peluang untuk pelaksanaan perencanaan pajak, menguraikan dan menganalisis perencanaan pajak apa saja yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan perpajakan PT X untuk menunjang sustainable growth10. Tujuan dari tesis tersebut adalah
menganalisis upaya-upaya perencanaan pajak yang dapat dilakukan PT.X untuk menunjang tercapainya sustainable growth dengan beban pajak minimal yang tidak melanggar ketentuan undang-undang.
Penelitian yang dilakukan dalam tesis tersebut menggunakan pendekatan penelitian kualitatif serta menggunakan tipe penelitian deskriptif-analisis, dengan menguraikan data dan kemudian dilakukan analisis atas data tersebut untuk memecahkan pokok permasalahan penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu penelitian kepustakaan dan wawancara dengan manager keuangan dan supervisor pajak PT.X serta dua orang pejabat pajak dan satu orang konsultan pajak, terutama mengenai
10 Effendi gunawan, Perencanaan Pajak Sebagai Unsur Penunjang Untuk Mencapai
persepsi pejabat pajak dan konsultan pajak atas perencanaan pajak, khususnya seperti yang sudah dijalankan oleh PT. X.
Berdasarkan hasil pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa perencanaan pajak PT.X dilakukan dengan memanfaatkan seluruh unsur yang ada di perusahaan terutama sumber daya manusia dan informasi, telah cukup baik sehingga member hasil yang optimal dengan meminimalisasi beban pajak yang harus dibayarkan perusahaan.
Perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan sekarang adalah bahwa penelitian yang dilakukan sebelumnya hanya terbatas pada tax planning yang dilakukan perusahaan dalam menunjang tercapainya tujuan perusahaan. Penelitian yang dilakukan peneliti sekarang mengarah pada bagaimana perencanaan pajak yang dipakai kantor konsultan pajak khususnya Kantor Konsultan Pajak X dalam membantu perusahaan pengguna jasa menjalankan kewajiban perpajakan baik bulanan maupun tahunan dalam rangka penghindaran sanksi pajak. Oleh karena itu, diharapkan penelitian ini dapat melengkapi penelitian terdahulu serta dapat menambah khasanah pengetahuan khususnya tentang perencanaan pajak yang dilakukan oleh kantor konsultan Pajak.
2.2. Kerangka Pemikiran
Adapun teori-teori yang akan digunakan dalam penelitian analasis perencanaan pajak kantor konsultan pajak atas kewajiban perpajakan perusahaan pengguna jasa dalam rangka penghindaran sanksi pajak, yaitu :
2.2.1. Saat Timbulnya Kewajiban Pajak dan Mekanisme Pemungutan Pajak
Dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia semua perusahaan mempunyai kewajiban perpajakan. Dalam menjalankan kewajiban perpajakannya setiap Wajib Pajak harus mengetahui dengan baik kapan saat kewajiban pajaknya timbul dan termasuk kelompok mana pajak yang harus
ditanggung tersebut. Secara umum saat timbulnya kewajiban pajak dibagi menjadi 2 jenis yaitu : Kewajiban Pajak Subjektif dan Kewajiban Pajak Objektif. Adapun pengelompokkan pajak berdasarkan mekanisme pemungutannya juga dibagi menjadi 2 jenis yaitu : Pajak langsung dan Pajak tidak langsung.
2.2.1.1. Saat Timbulnya Kewajiban Pajak
Berdasarkan faktor yang sangat dominan untuk menentukan timbulnya kewajiban pajak, menurut Adriani sebagaimana dikutip oleh Sukardji, beliau mengatakan bahwa pajak dibedakan antara Pajak Subjektif dan Pajak Objektif. Adapun yang dimaksud dengan Pajak Subjektif adalah suatu jenis pajak yang kewajiban pajaknya sangat ditentukan pertama-tama oleh keadaan subjektif subjek pajak walaupun untuk menentukan timbulnya kewajiban membayar pajak tergantung pada keadaan objek pajaknya. Pajak penghasilan termasuk kedalam kelompok ini.
Sementara itu yang dimaksud dengan Pajak Objektif adalah suatu jenis pajak yang timbulnya kewajiban pajaknya sangat ditentukan pertama-tama oleh objek pajak. Keadaan subjektif subjek pajak tidak relevan, walaupun dalam kasus-kasus tertentu ikut dipertimbangkan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Kendaraan Bermotor, dan lain sebagainya.11
Hampir sama dengan pendapat Adriani, Judisseno juga mengelompokkan timbulnya kewajiban pajak menjadi 2 bagian, yaitu :12
a. Kewajiban Pajak Subjektif
11 Untung Sukarji, Pajak Pertambahan Nilai : Edisi Revisi 2005, (Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada, 2005), hal.3
12
Pengertian kewajiban pajak subjektif adalah kewajiban untuk membayar pajak yang pengenaan dan atau pemotongan pajak harus memperhatikan kondisi subjek pajaknya atau Wajib Pajak yang bersangkutan seperti status, pekerjaan, dan hal lainnya yang berhubungan dengan predikat WP.
b. Kewajiban Pajak Objektif
Pengertian kewajiban pajak objektif adalah kewajiban untuk membayar pajak yang pengenaannya memperhatikan masalah objeknya seperti penerimaan penghasilan, adanya perbuatan dan/atau peristiwa pengalohan kepemilikan dari satu pihak ke pihak lainnya, dan banyak hal lainnya lagi yang berkenaan dengan objek pajak.
2.2.1.2. Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung
Disamping pembagian tersebut berdasarkan saat timbulnya kewajiban pajak, pembagian pajak yang sangat populer adalah yang didasarkan pada mekanisme pemungutannya. Berdasarkan cara pandang ini, menurut Mill seseorang yang mempelopori perbedaan antara pajak langsung dan tidak langsung, sebagaimana dikutip oleh Sukardji. Memberikan pengertian sebagai berikut :
“ A direct tax is one, which is demanded from the very persons, who, it is intended or desired, should pay it. Whereas, indirect taxes are those, which are demanded from one person, in the expectation and intention, that he shall indemnify himself at the expense of another.” 13
Secara ekonomis, untuk membedakan pajak langsung dengan pajak tidak langsung, dapat dilihat adanya 3 (tiga) unsur, yaitu :
1) Penanggung jawab pajak (tax payer), adalah orang yang secara formil yuridis diharuskan melunasi pajak, bila padanya terdapat faktor atau kejadian yang menimbulkan sebab untuk dikenakan pajak.
13
2) Penanggung pajak adalah orang yang dalam faktanya dalam arti ekonomi memikul beban pajak.
3) Pemikul beban pajak adalah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus memikul beban pajak (Destinataris).
Jika ketiga unsur tersebut terdapat pada seseorang atau satu badan, maka pajak tersebut adalah pajak langsung. Dan jika terpisah, artinya unsur-unsur tersebut terdapat pada lebih dari satu orang, maka pajak tersebut adalah pajak tidak langsung.
Dengan demikian yang dimaksud dengan pajak langsung menurut pengertian ilmu ekonomi adalah pajak yang beban pajaknya tidak bisa digeserkan atau dialihkan kepada pihak lain contoh pajak langsung adalah Pajak Penghasilan, sedangkan pajak tidak langsung adalah pajak yang beban pajaknya dapat dipindahkan atau dialihkan kepada pihak lain, contoh dari pajak tidak langsung adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 2.2.2. Sistem Self Assessment
Upaya pemerintah untuk memaksimalkan penerimaan dari sektor pajak dengan merubah sistem pemungutan pajak, dari official assessment menjadi sistem self assessment. Kartasasmita menyatakan bahwa inti dari self
assessment adalah bahwa kegiatan dalam pemungutan pajak sepenuhnya
diserahkan kepada wajib pajak, sedangkan aparatur pajak hanya menjadi pembina, pengawas, dan menerapkan sanksi-sanksi14.
Sementara itu berbeda dengan Kartasasmita, Munawir dalam memberikan definisi terhadap self assessment dapat dibagi dua yaitu:15
1. Semi Self Assessment yaitu suatu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh
14 Hussein Kartasasmita, Ekstensifikasi dan Intensifikasi Dalam Sistem self
Assessment, Berita Pajak Nomor 1454/Tahun XXXIV/ 1 Nov 2001.
15
wajib pajak berada pada dua pihak yaitu pembayar pajak (wajib pajak) dan pemungut pajak (fiskus). Dengan sistem semi self
assessment pada awal tahun pajak wajib pajak menentukan atau
menaksir sendiri besarnya pajak yang terhutang untuk tahun berjalan, dan berdasarkan taksiran tersebut wajib pajak menyetor pajak (yang merupakan angsuran). Pada akhir tahun pajak yang sesungguhnya terhutang ditentukan fiskus melalui Surat Ketetapan Pajak.
2. Full Self assessment yaitu suatu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menetukan besarnya pajak yang terhutang oleh suatu wajib pajak berada pada wajib pajak sendiri. Dalam sistem ini wajib pajak harus dapat menghitung, memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan sendiri pajaknya. Fiskus tidak ikut campur tangan dalam menentukan besarnya pajak yang terhutang (kecuali wajib pajak menyalahi peraturan yang berlaku).
Juddiseno mempunyai pendapat berbeda dengan Kartasasmita dan Munawir, Juddiseno menyatakan bahwa full self assessment system adalah suatu sistem pemungutan pajak di mana wajib pajak boleh menghitung dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus disetorkan.16 Lebih lanjut Juddiseno menyatakan, sistem full self assessment ini diberlakukan untuk memberikan kepercayaan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat dalam menyetorkan pajaknya.
Mempunyai pengertian yang hampir sama dengan pengertian yang diberikan oleh Kartasasmita, Mansury mengatakan bahwa self assessment
system adalah suatu sistem perpajakan yang memberikan kepercayaan
kepada wajib pajak untuk memenuhi dan melaksanakan sendiri kewajiban dan hak perpajakannya, khususnya dalam menghitung sendiri jumlah pajak yang terhutang, menyetor sendiri jumlah pajak yang terhutang ke kas negara
16 Rimsky K. Judisseno, Pajak dan Strategi Bisnis: Suatu Tinjauan Tentang
Kepastian Hukum dan Penerapan Akutansi di Indonesia,(Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal 27
dan melaporkannya kepada fiskus17. Dalam sistem ini wajib pajaklah yang aktif sejak dari mendaftarkan diri sebagai wajib pajak sampai dengan menetapkan sendiri jumlah pajak yang terutang dalam suatu tahun melalui pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Sistem self assessment bertujuan untuk memberikan peranan yang aktif kepada wajib pajak sendiri. Di samping itu, sistem ini bertujuan untuk melepaskan pegawai pajak dari kewajiban-kewajiban menetapkan pajak bagi wajib pajak setiap tahun. Sehingga dia lebih bisa berkonsentrasi kepada pembinaan dan pengawasan.
Selanjutnya Mansury mengemukakan bahwa wajib pajak diberi kepercayaan berdasarkan keyakinan, bahwa bila orang diberi kepercayaan akan lebih bertanggung jawab. Agar wajib pajak sendiri yang menetapkan sendiri pajaknya sehingga dengan sendirinya wajib pajak belajar tentang ketentuan perpajakan. Jika wajib pajak menggunakan hak dengan sebaik-baiknya, maka mereka tidak perlu dihubungi oleh petugas pajak.18
Sebagaimana dikutip dari tesis yang dibuat oleh Muti’ah, beliau lebih menekankan bahwa akibat dari perubahan sistem pemungutan dari official
Assessment system menjadi Self Assessment System, maka fungsi
administrasi perpajakan berubah secara mendasar dari kegiatan menetapkan dan menyelesaikan pajak menjadi kegiatan pembinaan, penelitian dan pengawasan19. Untuk melaksanakan fungsi Self Assessment System tersebut, maka administrasi perpajakan mempunyai 3 (tiga) kegiatan pokok yaitu :
1. Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan masyarakat menjadi suatu hal yang mutlak untuk dilakukan agar masyarakat dapat melaksanakan kewajibannya
17 R. Mansury, Pajak Penghasilan Lanjutan, (Jakarta : Ind-Hill-Co, 1996), hal.60 18 Mansury, Ada Ketidakadilan Dalam Sistem Perpajakan, Momentum, Volume I,
edisi 07/2004.
19
Muti’ah, Pelaksanaan Sistem Self Assesment kaitannya dengan penerimaan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (Studi Kasus pada KPP X), Bidang studi ilmu administrasi program pasca sarjana, UI, Jakarta 2004.
dengan baik. Dengan demikian administrasi perpajakan berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menjelaskan, membimbing, dan membina masyarakat agar mampu dan sadar mau melaksanakan kewajiban pajaknya.
2. Pelayanan
Setiap aparat pajak harus tanggap terhadap segala permasalahan yang timbul dalam masyarakat dan terampil dalam memberikan pelayanan serta pembinaan sehingga wajib pajak merasa puas.
3. Pemeriksaan
Pemeriksaan merupakan pilar penyangga dalam sistem self
assessment untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam
membayar pajak. Pemeriksaan yang optimal, efektif, dan efisien hanya dapat dilakukan melalui upaya penegakan hukum dengan benar.
2.2.3. Pemeriksaan Pajak dan Penelaahan Pajak
Konsekuensi logis yang timbul dari diberlakukannya system Self
Assessment ini adalah timbulnya pemeriksaaan pajak yang dilakukan oleh
aparat pajak sedangkan pihak internal dapat melakukan penelahaan pajak untuk mengetahui posisi perusahaan dalam masalah kepatuhan pajak.
2.2.3.1 Pemeriksaan Pajak (Tax Audit)
Dengan dijalankannya Self Assessment System maka untuk menguji kebenaran dan kepatuhan wajib pajak terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan di Indonesia maka fiskus berhak untuk melakukan pemeriksaan pajak. Secara umum yang dimaksud dengan pemeriksaaan pajak dapat diketahui dari pengertian sebagaimana dijelaskan oleh Suandy, Pemeriksaaan (auditing) merupakan suatu proses menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti dari keterangan-keterangan yang terukur dari suatu kesatuan ekonomi dengan tujuan untuk mempertimbangkan
dan melaporkan tingkat kesesuaian dari keterangan-keterangan yang terukur tersebut berdasarkan criteria-kriteria yang telah ditetapkan. Pemeriksaan pajak adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data dan / atau keterangan lainnya dalam rangka melaksanankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.20
Lebih lanjut Suandy mengatakan dalam literatur yang berbeda bahwa tujuan utama dari pemeriksaan pajak, dimaksudkan untuk menguji tingkat kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan atas dasar sistem self assessment, yang secara operasional dilaksanakan melalui upaya :21
a. Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat wajib pajak, dalam hal Surat Pemberitahuan wajib pajak menyatakan lebih bayar.
b. Mengawasi dan membina kepatuhan pemenuhan kewajiban pajak dalam memenuhi ketentuan perundang-undangan perpajakan.
c. Menguji kelengkapan dan kebenaran material dari pengisian surat pemberitahuan.
d. Menentukan kepastian tentang keadaan wajib pajak yang sebenarnya baik dari segi administrasi maupun potensi fiskalnya.
Pemeriksaan pajak merupakan instrument pelaksanaan penegakan hukum (law enforcement), agar peraturan yang diterbitkan dapat dilaksanakan dengan baik.
2.2.3.2 Penelahaan Pajak (Tax Review)
Secara umum pengertian tax review adalah kegiatan penelahaan terhadap seluruh kewajiban perpajakan yang ada dalam suatu perusahaan dan pelaksanaan pemenuhan kewajiban-kewajiban perpajakan tersebut baik dari cara perhitungan, pemotongan, penyetoran, pelunasan maupun pelaporannya untuk menilai kepatuhan pajak (tax compliance) yang telah
20 Erly Suandy, Hukum Pajak,(Jakarta : Salemba Empat, 2000), hal 127. 21
dilakukan22. Tax review mencakup seluruh aspek perpajakan yang ada dalam perusahaan yang sedang direview. Dalam hal ini petugas yang melaksanakan harus mengenal betul jenis dan karakteristik perusahaan yang sedang direview untuk menentukan kewajiban pajak apa saja yang terkait. Aspek perpajakan yang umum dalam perusahaan meliputi :
a) Pajak Penghasilan Badan b) Pajak Penghasilan Pasal 21
c) Pajak Penghasilan Pasal 22, 23, 26 dan, Pajak Penghasilan Final d) Pajak Penghasilan Pasal 24
e) PPN dan PPnBM
Dalam pelaksanaannya pihak yang melakukan tax review akan melakukan identifikasi sebuah aspek perpajakan yang ada dalam perusahaan tersebut termasuk hak dan kewajiban yang ada di dalamnya. Selanjutnya dilakukan review atas kewajiban-kewajiban yang telah dilaksanakan. Dari kedua hal tersebut kita akan mengetahui posisi perusahaan telah melaksanakan seluruh kewajiban pajak dengan benar (full comply), ada kewajiban yang belum atau kurang dilaksanakan (under comply) atau telah terjadi pemenuhan kewajiban pajak yang berlebih (over comply).23
Baik under comply maupun over comply, keduanya mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Under comply menyebabkan perusahaan dan penanggung jawabnya (Wajib Pajak dan Penanggung Pajak) akan dikenakan sanksi berupa bunga, denda maupun sanksi pidana, sedangkan
over comply merugikan perusahaan karena telah terjadi alokasi sumber
daya perusahaan kepada ha-hal yang tidak perlu.
2.2.4. Manajemen Strategis
22 Erly Suandy, Perencanaan Pajak,(Jakarta : Salemba Empat, 2001), hal 136 23
Manajemen strategis adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut24. Pengertian ini menunjukan bahwa dalam konsep manajemen strategis meliputi hal-hal sebagai berikut :
Manajemen strategis merupakan suatu proses.
Karena merupakan suatu proses maka manajemen strategis senantiasa berkesinambungan.
Karena lingkungan organisasi senantiasa berubah maka organisasi pun harus terus menerus dimodifikasi untuk memastikan bahwa tujuan yang diinginkan tercapai.
Manajemen strategis dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan tujuan perusahaan dengan arah yang hendak ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut kepada para stakeholders. Dengan demikian para stakeholders dapat lebih memahami peluang dan tantangan bisnis yang dihadapi. Dalam hal ini manajemen strategis yang dilakukan oleh kantor konsultan pajak adalah melakukan perencanaan pajak dalam membantuF pelaksanaan kewajiban perusahaan perusahaan pengguna jasa (client) agar
client tersebut dapat terbantu dalam rangka penghindaran sanksi pajak.
2.2.5. Pengertian dan Tujuan Manajemen Pajak
Upaya dalam melakukan penghematan pajak secara legal dapat dilakukan melalui manajemen pajak. Namun perlu diingat bahwa legalitas manajemen pajak tergantung dari instrumen yang dipakai. Legalitas baru dapat diketahui secara pasti setelah ada putusan pengadilan. Menurut Lumbatoruan sebagaimana dikutip oleh Suandy, secara umum manajemen pajak dapat didefinisikan sebagai sarana memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba dan
likuiditas yang diharapkan.25 Tujuan manajemen pajak dibagi menjadi 2, yaitu : menerapkan peraturan perpajakan secara benar dan usaha efisiensi untuk mencapai laba dan likuiditas yang seharusnya. Tujuan perencanaan pajak dapat digambarkan dengan skema strategi penghematan pajak sebagai berikut.26
Skema 2.1. Tujuan Manajemen Pajak
Sumber: Sophar Lumbantoruan, Akuntansi Pajak, edisi revisi (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1999), hal. 484.
Dari uraian di atas dapatlah dikemukakan bahwa tujuan dari manajemen pajak dapat dicapai melalui fungsi-fungsi manajemen pajak yang terdiri dari :
(1) perencanaan pajak (tax planning);
(2) pelaksanaan kewajiban perpajakan (tax implementation); (3) pengendalian pajak (tax control).
2.2.5.1. Pengertian Perencanaan Pajak
Pengertian perencanaan pajak relatif berbeda antara tokoh yang satu dengan tokoh lainnya. Beberapa pengertian perencanaan pajak
25 Erly Suandy, Op.Cit, hal. 7 26
Sophar Lumbantoruan, op cit., hal. 484 Tugas manajemen keuangan: a. mencap ai laba b. likuiditas Tujuan manajemen pajak: a. melakukan kewajiban perpajakan
b. usaha efisiensi untuk mencap ai laba
Fungsi manajemen pajak: a. Perencanaan
b. Pelaksanaan c. Pembay aran
Cara M encapai
diantaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Lumbantoruan, menurut beliau perencanaan pajak (tax planning) adalah suatu rencana kebijaksanaan keuangan perusahaan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. kewajiban pembayaran pajak; b. peraturan pembayaran pajak; c. kapasitas badan usaha; d. faktor eksternal.27
Lebih lanjut beliau juga mengemukakan bahwa tax planning adalah upaya legal yang bisa dilakukan Wajib Pajak. Tindakan tersebut legal karena penghematan pajak hanya dilakukan dengan memanfaatkan hal-hal yang tidak diatur (loopholes).28 Menurut Siegel dan Shim seperti diterjemahkan oleh Kurdi, Tax Planning adalah suatu analisis sistematik dalam membedakan kebebasan pajak yang ditujukan untuk meminimalkan kewajiban pajak dalam periode perpajakan yang berjalan di masa depannya.29
Berbeda dengan pendapat-pendapat sebelumnya menurut Spritz, dalam bukunya International Tax Planning (London: Butlerworths, 1983), yang dikutip Gunadi, tax planning adalah suatu proses yang memperhatikan perpajakan, tanpa mengesampingkan pertimbangan aspek non-pajak yang siginifikan dengan maksud menentukan apakah, kapan, bagaimana, dan dengan siapa melakukan transaksi, kegiatan, dan hubungan dengan tujuan mengoptimalkan beban pajak atas objek pajak dan subjek pajak dalam rangka mengamankan tujuan-tujuan perusahaan.30
27 Sophar Lumbantoruan, Ensiklopedi Perpajakan Indonesia, edisi ke-2 (Jakarta:
Penerbit Erlangga, 1990) hal. 453
28 Sophar Lumbantoruan, Akuntansi Pajak, edisi revisi (Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia, 1999), hal. 485
29 Joel K. Siegel dan Jae K. Shim, Kamus Istilah Akuntansi, penerjemah Drs. Moh.
Kurdi (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1994), hal. 461
30 Gunadi, Persepsi Etika dalam Manajemen Pajak. Berita Pajak, No. 1406, Tahun
Dari beberapa pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa perencanan pajak merupakan suatu upaya yang dilakukan perusahaan untuk dapat mengurangi biaya pajak dan meningkatkan penghematan pajak dalam rangka memaksimalkan nilai perusahaan secara keseluruhan, dengan memanfaatkan fasilitas dan keuntungan yang disediakan Undang-Undang dan karenanya menegaskan semangat yang melatarbelakangi ketentuan yang diatur dalam hukum.
2.2.5.2. Fungsi Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak bukanlah ditujukan untuk mengurangi atau menghindari kewajiban pajak yang harus dibayar, melainkan merupakan sesuatu yang secara sadar dilakukan perusahaan untuk menghindari tax
shocks atau tax attacks akibat beban pajak yang tidak diantisipasi
sebelumnya, dengan merencanakan secara sistematis pengambilan keputusan keuangan dan manajerial dengan sepenuhnya memperhatikan konsekuensi perpajakan yang mungkin timbul dari keputusan yang akan diambil tersebut. Menurut Lumbantoruan, Adapun sistematis perencanaan pajak yang baik adalah sebagai berikut 31:
a. Perencanaan Pajak
Strategi perencanaan pajak disusun pada tahap perencanaan dimana penelitian dan pengumpulan ketentuan peraturan perpajakan dilakukan. Dari penelitian tersebut dapat diketahui jenis tindakan penghematan pajak melalui pengelakan pajak yang dapat ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari ketentuan mengenai pengecualian dan potongan atau pengurangan yang diperkenankan
31
2. Mengambil keuntungan dari pemilihan bentuk-bentuk perusahaan yang tepat. Dilihat dari segi perpajakan bentuk usaha perseorangan, firma, dan kongsi lebih menguntungkan daripada perseroan terbatas. 3. Mendirikan perusahaan dalam satu jalur usaha sehingga dapat diatur
secara keseluruhan penggunaan tarif pajak, potensi penghasilan, kerugian, dan aktiva yang bisa dihapus.
4. Menyebarkan penghasilan menjadi pendapatan dari beberapa Wajib Pajak.
5. Menyebarkan penghasilan menjadi beberapa tahun yang mencegah penghasilan tersebut ke dalam kategori pendapatan yang tarifnya tinggi.32
b. Alat Manajemen Pajak
Ada beberapa hal yang perlu dikuasai dan dikerjakan jika tujuan manajemen hendak tercapai, antara lain :
1) Memahami ketentuan peraturan perpajakan
2) Menyelenggarakan pembukuan yang memenuhi syarat.
c. Cara-cara Pengelakan Pajak
Ada enam cara pengelakan pajak yang biasa dipraktekkan dimana-mana yaitu : penggeseran, kapitalisasi, transformasi, penyelendupan (evasion), penghindaran (avoidance), dan pengecualian. Adapun jenis-jenis pengelakan pajak, antara lain :
1. Penggeseran pajak, yaitu pemindahan atau transfer beban pajak dari subjek pajak kepada pihak lain.
2. Kapitalisasi, adalah pengurangan harga objek sama dengan jumlah pajak yang akan dibayarkan kemudian oleh pembeli.
3. Transformasi, adalah cara pengelakan pajak yang dilakukan oleh pabrikan dengan cara menanggung beban pajak yang dikenakan terhadapnya. Tujuannya adalah agar kenaikan harga jual tidak
32
menurunkan pangsa pasar dengan cara menanggung sebagian beban pajak yang seharusnya ditransfer kepada konsumen melalui kompensasi efisiensi perusahaan.
4. Penyelundupan pajak (tax evasion), yaitu pengelakan dengan cara penghindaran tanpa melanggar peraturan-peraturan perpajakan yang berlaku.
5. Penghindaran pajak (tax avoidance), yaitu pengelakan dengan cara penghindaran tanpa melanggar peraturan perpajakan yang berlaku.
Tax avoidance menurut Christine dibagi menjadi dua macam yaitu 33: a. Acceptable Tax Avoidance,dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Memiliki tujuan usaha yang baik
Bukan semata-mata untuk menghindari pajak
Sesuai dengan spirit & intention of parliament (pembuat UU) Tidak melakukan transaksi yang direkayasa
b. Unacceptable Tax Avoidance,dengan ciri-ciri sebagai berikut : Tidak memiliki tujuan usaha yang baik
Semata-mata untuk menghindari pajak
Tidak sesuai dengan spirit & intention of parliament (pembuat UU)
Adanya transaksi yang direkayasa dengan tujuan untuk menimbulkan kerugian atau biaya-biaya
6. Pengecualian pajak (tax exemption), yaitu adanya pemberian pengecualian pembebanan pajak kepada Wajib Pajak Orang Pribadi atau Beban berdasarkan keputusan peraturan perpajakan yang berlaku.34
d. Konsep Strategi Perencanaan Pajak yang Efektif dan Efisien
Suatu strategi perencanaan pajak penghasilan yang tepat, efektif dan efisien untuk pencapaian tujuan keseluruhan perusahaan dapat ditunjukkan oleh indikator-indikator berikut ini, yaitu :
33www.slideshare.net, (Christine:Basic Concept of Tax Management), diunduh
tanggal 23 maret 2009 pukul 10.00.
34
1. Biaya pajak (tax cost) menurun dan arus kas (cash flow) meningkat, jika penghasilan dihasilkan oleh subjek pajak yang dikenakan tarif pajak rendah.
2. Dari segi nilai sekarang (present value terms), tax cost menurun dan
cash flow meningkat, jika kewajiban pajak ditangguhkan saat
pengenaan pajaknya.
3. Tax cost menurun dan cash flow meningkat, jika penghasilan dihasilkan dalam yurisdiksi atau ketentuan perpajakan yang mengenakan tarif pajak terendah.
4. Tax cost menurun dan cash flow meningkat, jika perusahaan dikenakan pajak yang lebih menguntungkan dikarenakan karakter ataupun hakikat penghasilan itu sendiri.
Lebih Lanjut Lumbantoruan berpendapat sebagaimana dikutip oleh Suandy setidak-tidaknya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam suatu perencanaan pajak, yaitu35 :
1. Tidak melanggar ketentuan perpajakan. Bila suatu perencanaan pajak dipaksakan dengan melanggar ketentuan perpajakan, bagi Wajib Pajak merupakan resiko pajak yang sangat berbahaya dan justru mengancam keberhasilan perencanaan pajak tersebut. 2. Secara bisnis masuk akal, karena perencanaan pajak merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan menyeluruh (global strategy) perusahaan, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Oleh karena itu, perencanaan pajak yang tidak masuk akal akan memperlemah perencanaan itu sendiri.
3. Bukti-bukti pendukungnya memadai, contoh: agreement, invoice, serta accounting treatment.
35