BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Etika merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari seseorang, tidak terkecuali dalam dunia bisnis. Masyarakat di Indonesia pada dasarnya dibangun atas dasar aturan-aturan etika. Bisnis harus beroperasi dalam suatu tatanan sosial yang dalam beberapa metodenya sama etisnya dengan peraturan perundangan, politik, ekonomi, dan sosial yang melingkupinya. Oleh karena itu, keputusan-keputusan bisnis yang diambil dibatasi dengan lingkungan etikanya dan tidak dapat beroperasi tanpa memperhatikan peraturan yang ditetapkan oleh masyarakat setempat (Chryssides dan Kaler, 1993 dalam Farhan, 2009). Kegiatan akuntansi memiliki hubungan yang sangat erat dengan etika. Hal ini terjadi karena kegiatan akuntansi membutuhkan judgement dari seorang akuntan dan dalam realitanya tidak mudah untuk mengambil judgement. Oleh sebab itu, kesadaran etika dibutuhkan oleh seorang akuntan dalam pengambilan keputusan akuntansi.
Etika adalah nilai-nilai tingkah laku atau aturan tingkah laku yang diterima dan digunakan oleh individu atau suatu golongan tertentu (Farhan, 2009). Dalam Islam terdapat ajaran al akhlaq (ethics) untuk menghindarkan manusia dari kerusakan dan malapetaka (Madjid, 1992 dalam Farhan, 2009). Konsep nilai etika akuntansi dikemukakan oleh Riahi Belkaoui (1992) dan
Francis (1990) dalam Farhan (2009). Belkaoui mengajukan lima nilai etika yaitu, fairness, ethics, honesty, social responsibility, and truth sebagai elemen yang paling penting dalam moralitas akuntansi. Berbeda dari Belkaoui, nilai-nilai etika yang dikemukakan oleh Francis lebih menekankan pada kualitas kemanusiaan (human quality) yang memberikan arti bahwa akuntansi pada hakikatnya adalah praktik sosial. Kualitas kemanusiaan merupakan kualitas yang kepemilikian dan aktualisasinya dapat membantu kita untuk memperoleh sesuatu yang baik dan bersifat internal bagi praktik akuntansi.
Etika telah menjadi isu penting dan menyedot perhatian baik dalam bidang akademik maupun profesi. Banyak kasus yang muncul berkaitan dengan persoalan etika. Sebagai contoh, skandal yang melibatkan beberapa perusahaan besar seperti Enron, KAP Arthur Anderson, dan Worldcom (Angelidis dan Ibrahim, 2004)
Enron melakukan manipulasi laporan keuangan periode 1997 hingga 2000 untuk menaikkan laba pada laporan keuangan dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan pemegang saham sehingga harga saham tetap tinggi. Enron dibantu oleh KAP Arthur Anderson dalam memanipulasi laporan keuangannya. Pada tahun 2002, KAP Arthur Anderson dinyatakan bersalah karena melakukan upaya untuk menutupi kecurangan yang dilakukan Enron dengan menghilangkan semua dokumen termasuk email dan berkas-berkas perusahaan yang berhubungan dengan jasa audit yang diberikan kepada Enron (Comunale et al, 2006). Hal serupa juga terjadi pada Worlcom. Perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia itu terbukti bersalah
di tahun 2003. Worldcom melakukan kecurangan pada laporan keuangannya. Kecurangan itu dilakukan guna menyembunyikan pendapatan Worldcom yang merosot untuk mempertahankan harga saham. Worldcom mencatat beban interkoneksi dengan perusahaan telekomunikasi lain sebagai capital expenditures, sehingga transaksi yang seharusnya dicatat sebagai beban justru dicatat sebagai aset. Hal tersebut mengakibatkan aset perusahaan overvalued (Moberg dan Romar, 2009).
Kasus skandal etika serupa juga banyak terjadi di Indonesia. Salah satunya yaitu perusahaan obat besar di Indonesia yaitu PT Kimia Farma tbk. yang pada tahun 2001 melakukan manipulasi laporan keuangan. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, laba bersih yang dilaporkan oleh manajemen sebesar Rp 132 milyar dengan menggunakan jasa audit Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Pada tanggal 3 Oktober 2002 laporan keuangan disajikan ulang setelah dilakukan audit ulang. Kesalahan penyajian terjadi akibat adanya nilai yang ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. Kesalahan penyajian juga berkaitan dengan penjualan dengan pencatatan ganda atas penjualan (Bapepam, 2002).
Pelanggaran etika bisnis juga dapat berupa perusakan dan pencemaran lingkungan tempat perusahaan itu didirikan. Salah satunya adalah PT Freeport Indonesia yang bergerak di sektor pertambangan emas. Kondisi sekitar pertambangan semakin memburuk, baik lingkungannya maupun
masyarakatnya. Biaya CSR yang diberikan kepada rakyat Papua tidak mencapai 1 persen keuntungan bersih PT Freeport, tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan berupa kerusakan alam di mana banyak pemukiman berbagai suku menjadi lahan tambang, sehingga mereka harus kehilangan lahan tempat mereka tinggal (https://www.kontras.org/home/ index.php?id=1994&module=pers). KontraS mencatat sederet pelanggaran hukum dan HAM yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia yaitu penghancuran tatanan adat, perampasan lahan masyarakat lokal, penangkapan sewenang-wenang masyarakat sipil, perusakan lingkungan hidup, perusakan sendi-sendi ekonomi sampai pengingkaran atas ekistensi masyarakat suku Amungme hingga pelanggaran hak-hak ketenagakerjaan dan setoran ilegal uang keamanan kepada aparat negara sebesar US 5,6 juta dolar. Selain itu hasil temuan JATAM di lapangan yakni limbah tailing PT Freeport Indonesia hingga saat ini setidaknya telah mencapai lebih dari 1,187 miliar ton yang dibuang ke sungai Aghawagon, Otomoa, dan Ajkwa. Pelanggaran yang dilakukan oleh PT Freeport tersebut sangat merugikan negara dan membawa dampak yang buruk pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Kerusakan alam yang diakibatkan oleh PT Freeport serta perampasan hak masyarakat untuk hidup sejahtera di sekitar pertambangan jelas merupakan pelanggaran etika bisnis.
Banyaknya skandal etika yang terjadi dalam dunia akuntansi dan bisnis mengindikasikan pentingnya pengajaran etika bisnis kepada mahasiswa fakultas ekonomika dan bisnis (FEB) khususnya akuntansi sebagai calon
akuntan dan pemimpin bisnis masa depan. Akuntan memegang peranan penting bagi masyarakat. Informasi yang disediakan oleh akuntan melalui laporan keuangan perusahaan sangat penting dan dibutuhkan oleh pihak manajemen, investor, dan pemangku kepentingan lain dalam mengambil keputusan. Pelanggaran etika bisnis yang dilakukan oleh akuntan dapat merugikan masyarakat dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada akuntan.
Cohen et al., (1998) berpendapat bahwa peraturan pemerintah tidak dapat sepenuhnya menjamin perilaku etis, sehingga dibutuhkan adanya pendidikan etika bisnis. Maka dari itu, di tahun 1986, anggota dari AICPA (the American institute of Certified public Accountant) setuju untuk mengadakan pendidikan etika bisnis di program akuntansi. AAA (American Accounting Association) mengeluarkan sebuah pengumuman tentang konten dari pendidikan akuntansi dan pentingnya etika bisnis dalam akuntansi. Pengumuman tersebut menjelaskan bahwa pendidikan profesional harus tidak hanya fokus pada kemampuan dan pengetahuan tetapi juga pada prinsip dan komitmen etika dalam profesi akuntansi. Diharapkan bahwa jika pembelajaran etika ada dalam pendidikan calon akuntan, itu akan berpengaruh pada keputusan etis yang diambil akuntan (Mintz, 1998 dalam Royaee et al., 2012).
Penelitian terdahulu pernah dilakukan oleh Suwardi et al., (2014) dengan judul Student Perception of Business Ethics. Penelitian tersebut membandingkan persepsi antara kelompok mahasiswa berdasarkan tingkat
kedewasaan mereka, pendidikan formal etika bisnis, gender, dan latar belakang profesi spesifik. Mahasiswa yang menjadi sampel adalah mahasiswa S-1 Fakultas Ekonomika dan Bisnis dan mahasiswa S-1 Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Hasil dari penelitian tersebut yaitu terdapat perbedaan persepsi etika bisnis terutama yang bersangkutan dengan profesi masing-masing. Penemuan yang mencengangkan adalah mahasiswa S1 Akuntansi FEB memiliki kesadaran etika bisnis lebih rendah dibanding mahasiswa farmasi. Okleshen dan O’Clock (1993) juga membandingkan persespi etika pada mahasiswa bisnis dan mahasiswa teknik. Dari hasil analisa yang menggunakan two-tail t test dapat disimpulkan bahwa jebakan perceptual (perceptual trap), atau disparitas diri (self) versus yang lain ada untuk seluruh sampel. Kecuali dalam hal “whistle blowing,” mahasiswa teknik lebih sensitif dibandingkan mahasiswa bisnis, dan kedua kelompok mahasiswa merasakan diri mereka lebih etis dibandingkan dengan kelompok lainnya dalam keyakinan dan tindakannya.
Ludigdo (1998) juga meneliti mengenai persepsi akuntan dan mahasiswa terhadap etika bisnis. Tujuan dari penelitiannya yaitu untuk membandingkan persepsi etika bisnis di antara akuntan pria dan akuntan wanita, serta antara mahasiswa dan mahasiswi akuntansi. Hasil yang diperoleh yaitu akuntan pria maupun akuntan wanita tidak mempunyai persepsi yang berbeda terhadap etika bisnis. Demikian halnya antara mahasiswa dan mahasiswi akuntansi juga tidak mempunyai perbedaan persepsi terhadap etika bisnis.
Berbeda dari penelitain-penelitian yang sebelumnya, variabel yang digunakan sebagai dasar pembanding persepsi etika bisnis adalah pendidikan formal etika bisnis, gender, religiositas, dan performa akademik. Subjek yang digunakan pada penelitian ini adalah mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Persepsi mengenai etika menentukan bagaimana seseorang dapat mengambil keputusan etis. Persepsi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Maka dari itu, dalam penelitian ini variabel religiositas dan performa akademik ditambahkan untuk mengetahui apakah religiositas dan performa akademik berpengaruh signifikan terhadap persepsi etis mahasiswa. Penelitian sebelumnya tidak menggunakan variabel religiositas dan performa akademik dalam meneliti tentang persepsi etis mahasiswa.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan persepsi etis mahasiswa terhadap etika bisnis jika memperhatikan pendidikan formal etika bisnis dan profesi, gender, religiositas, dan peforma akademik. Di samping itu untuk melihat apakah kesadaran terhadap etika bisnis mahasiswa S1 Akuntansi tetap rendah meskipun Fakultas Ekonomika dan Bisnis sudah terakreditasi oleh Advance Collegiate Schools of Busines (AACSB) International yang mewajibkan adanya mata kuliah etika bisnis.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah terdapat perbedaan persepsi etis antara mahasiswa yang sudah atau sedang mengambil mata kuliah Etika Bisnis dan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah Etika Bisnis?
b. Apakah terdapat perbedaan persepsi etis antara mahaiswa laki-laki dan perempuan?
c. Apakah terdapat perbedaan persepsi etis antara mahasiswa yang memiliki tingkat religiositas tinggi dan mahasiswa yang memiliki religiositas rendah?
d. Apakah terdapat perbedaan persepsi etis antara mahasiswa dengan peforma akademik tinggi dan mahasiswa dengan peforma akademik rendah?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah memperoleh bukti empiris mengenai efektifitas pembelajaran etika bisnis di lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada jurusan Akuntansi.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Memberikan bukti empiris mengenai efektifitas pembelajaran etika bisnis di satu-satunya Fakultas Ekonomika dan Bisnis di Indonesia yang diakreditasi AACSB Internasional.
b. Bagi praktisi pendidikan akuntansi diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan bahan evaluasi mengenai kecukupan pendidikan etika bisnis baik dari segi kuantitatif maupun kualitatifnya.
c. Bagi mahasiswa akuntansi, diharapkan penelitian ini akan membantu memberikan gambaran mengenai dilema etika yang mungkin akan dihadapi di dunia kerja di masa datang serta menjadi sebuah evaluasi diri agar berperilaku lebih etis di setiap kehidupan.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN; berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA; berisi landasan teori, penelitian terdahulu, dan pengembangan hipotesis.
BAB III METODE PENELITIAN; berisi deskripsi mengenai populasi dan sampel penelitian, jenis dan metode pengumpulan data, variabel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, model penelitian, dan metode analisis data.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN; berisi deskripsi objek penelitian, analisis data, dan interpretasi hasil.
BAB V PENUTUP; berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran bagi penelitian selanjutnya.