• Tidak ada hasil yang ditemukan

Judul : Pengaruh Audit Tenure dan Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit Delay dengan Financial Distress

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Judul : Pengaruh Audit Tenure dan Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit Delay dengan Financial Distress"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Judul : Pengaruh Audit Tenure dan Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit Delay dengan Financial Distress sebagai Pemoderasi.

Nama : Ni Putu Intan Wulandari NIM : 1306305084

ABSTRAK

Fenomena audit delay merupakan suatu masalah yang paling sering dihadapi oleh suatu perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh antara audit tenure dan ukuran perusahaan klien terhadap audit delay dengan financial distress sebagai pemoderasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia dengan rentang tahun 2012-2015. Pemilihan sampel menggunakan purposive

sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah Moderated Regression Analysis (MRA).

Hasil analisis yang diperoleh menunjukan bahwa audit tenure berpengaruh positif pada audit delay, ukuran perusahaan klien berpengaruh negatif pada audit

delay,financial distress berpengaruh negatif terhadap audit delay, financial distress

tidak mampu memoderasi pengaruh audit tenure pada audit delay dan financial

distress mampu memperlemah pengaruh ukuran perusahaan klien pada audit delay.

Kata Kunci : Audit Delay, Audit Tenure, Ukuran Perusahaan Klien, Financial

(2)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ……… i

HALAMAN PENGESAHAN……….. ii

PERNYATAAN ORISINALITAS……….. iii

KATA PENGANTAR………. iv

ABSTRAK……… vi

DAFTAR ISI……….... vii

DAFTAR TABEL……… x

DAFTAR GAMBAR………... xi

DAFTAR LAMPIRAN……….... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah……… 1

1.2 Rumusan Masalah Penelitian……… 6

1.3 Tujuan Penelitian……….. 7

1.4 Kegunaan Penelitian………. 7

1.5 Sistematika Penulisan……… 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori………. 10

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)………... 10

2.1.2 Teori Sinyal (Signaling Theory)………. 11

2.1.3 Audit Delay………... 12

2.1.4 Audit Tenure……… 14

2.1.5 Ukuran Perusahaan Klien……… 16

2.1.6 Financial Distress………... 17

2.2 Pengembangan Hipotesis………. 19

2.2.1 Pengaruh Audit Tenure terhadap Audit Delay………. 19

2.2.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit Delay………. 20

2.2.3 Pengaruh Financial Distress terhadap Audit Delay ……… 21

2.2.4 Financial Distress memoderasi Audit Tenure terhadap Audit Delay... 22

2.2.5 Financial Distress memoderasi Ukuran Perusahaan klien terhadap Audit Delay………. 23

(3)

BAB III METODE PENELITIAN

1.1 Desain Penelitian……….. 26

1.2 Lokasi dan Ruang Lingkup Penelitian………. 26

1.3 Objek Penelitian………... 26

1.4 Identifikasi Variabel………. 27

1.5 Definisi Operasional Variabel……….. 28

1.6 Jenis dan Sumber Data………. 29

1.6.1 Jenis Data………. 29

1.6.2 Sumber Data………. 30

1.7 Populasi, Sampel dan Metode Pengumpulan Sampel ………. 30

1.8 Metode Pengmpulan Data……… 32

1.9 Teknik Analisis Data……… 32

3.9.1 Analisis Statistik Deskriptif………. 32

3.9.2 Uji Asumsi Klasik……… 33

3.9.3 Uji Kelayakan Model (Uji f)……… 35

3.9.4 Uji Parsial (Uji t)……….. 35

3.9.5 Analisis Koefisien Determinasi ……….. 36

3.9.6 Moderated Regression Analysis (MRA)……….. 36

BAB IV PEMBAHASAN PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Daerah atau Wilayah Penelitian ………. 38

4.2 Hasil Analisis Statistik Deskriptif……… 39

4.3 Hasil Uji Asumsi Klasik………... 41

4.3.1 Hasil Uji Normalitas……… 41

4.3.2 Hasil Uji Multikolinieritas……….. 42

4.3.3 Hasil Uji Heterokedastisitas………. 43

4.3.4 Hasil Uji Autokorelasi…….………. 43

4.4 Hasil Uji Kelayakan Model (Uji f)……… 44

4.5 Hasil Uji Parsial (Uji t)………. 45

4.6 Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R2)……… 47

4.7 Hasil Moderated Regression Analysis (MRA) ………. 48

4.8 Pembahasan Hasil Penelitian………. 50

4.8.1 Pengaruh Audit Tenure tehadap Audit Delay... 50

4.8.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit Delay... 51

4.8.3 Pengaruh Financial Distress terhadap Audit Delay ….……….. 52 4.8.4 Financial Distress memoderasi Audit Tenure terhadap

(4)

Audit Delay………... 53

4.8.5 Financial Distress memoderasi Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit Delay……… 53

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan………... 55

5.2 Saran………. 56

DAFTAR RUJUKAN………... 57

(5)

DAFTAR TABEL

NO TABEL HALAMAN

4.1 Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria……….. 38

4.2 Hasil Analisis Statistik Deskriptif………... 39

4.3 Hasil Uji Normalitas………... 41

4.4 Hasil Uji Multikolinieritas……….. 42

4.5 Hasil Uji Heterokedastisitas……… 43

4.6 Hasil Uji Autokorelasi…….………... 44

4.7 Hasil Uji Kelayakan Model (Uji t)………. 45

4.8 Hasil Uji Parsial (Uji t)……… 46

4.9 Hasil Analisis Koefisien Determinasi (R2)………. 48

(6)

DAFTAR GAMBAR

No Gambar Halaman

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

No Lampiran Halaman

1 Daftar Nama Sampel Perusahaan……….. 62

2 Tabel Tabulasi Data………... 66

3 Hasil Analisis Statistik Deskriptif……….. 77

4 Hasil Regresi Moderasi………. 78

5 Hasil Uji Normalitas……….. 79

6 Hasil Uji Multikolinearitas………. 80

7 Hasil Uji Heterokedastisitas……… 81

(8)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang digunakan sebagai informasi oleh investor, calon investor, manajemen, kreditor, regulator dan para pengguna lainnya untuk mengambil keputusan. Laporan keuangan juga memiliki fungsi sebagai suatu instrumen untuk mengukur kinerja perusahaan. Para pengguna laporan keuangan membutuhkan laporan keuangan yang akurat dan tepat waktu dalam pengambilan keputusan (Prasongkoputra, 2013). Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang go public membuat semakin banyaknya keperluan akan informasi keuangan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang sudah go public memiliki kewajiban untuk mempublikasikan laporan keuangan tahunannya yang telah diaudit sebagai sumber informasi untuk pihak ekstern perusahan, salah satunya adalah investor. Bagi investor, informasi yang terkandung dalam laporan keuangan tersebut sangat penting digunakan sebagai dasar penelitian untuk berinvestasi berikutnya. Untuk mengasilkan laporan keuangan yang memberikan informasi yang relevan, terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah ketepatan waktu. Manfaat suatu laporan keuangan akan berkurang jika laporan tersebut tidak tersedia tepat pada waktunya.

Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor

29/POJK.04/2016 mewajibkan setiap emiten dan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada OJK

(9)

paling lambat bulan keempat setelah tahun buku berakhir. Tujuannya agar setiap pihak yang berkepentingan memiliki informasi terkini mengenai keadaan perusahaan. Perusahaan yang terlambat dalam menyampaikan laporan keuangan akan dikenakan sanksi administratif seperti: peringatan tertulis, denda, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha, pencabutan izin usaha, pembatalan persetujuan dan pembatalan pendaftaran.

Peraturan OJK dan pemberian sanksi tidak membuat perusahaan disiplin dalam pelaporan laporan keuangannya. Dari tahun ke tahun tetap saja masih banyak perusahaan publik yang terlambat dalam menyampaikan laporan keuangannya. Hal ini dibuktikan berdasarkan data penyampaian laporan keuangan auditan yang telah diterbitkan BEI dengan No.: Peng-SPT-00006/BEI.PP3/06-2016 mencatat 18 perusahaan yang terlambat melaporkan keuangan auditan per 31 Desember 2015 dari total perusahaan yang tercatat sebanyak 534 emiten. Faktor yang menyebabkan terlambatnya publikasi laporan keuangan adalah lamanya waktu penyelesaian audit oleh akuntan publik.

Fenomena proses pengauditan yang menghabiskan waktu lama dalam terminologi disebut dengan audit delay. Menurut Wirakusuma (2004), Audit Delay adalah lamanya waktu penyelesaian audit dari akhir tahun fiskal perusahaan sampai tanggal laporan audit dikeluarkan. Dengan demikian, audit delay adalah rentang waktu yang dibutuhkan oleh auditor untuk mengaudit laporan keuangan sejak tanggal penutupan tahun buku sampai tanggal diterbitkannya laporan keuangan audit. Rentang waktu pada penyelesaian laporan keuangan audit dapat mempengaruhi

(10)

ketepatan waktu informasi yang dipublikasikan, sehingga laporan keuangan tersebut akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang berdasarkan informasi yang dipublikasikan.

Perolehan kecermatan, ketepatan dan keahlian audit akan semakin diperoleh dengan lamanya masa perikatan audit dengan kliennya. Lamanya masa perikatan kerja auditor dengan kliennya dalam pemeriksaan laporan keuangan disebut audit

tenure. Menurut Lee et al., (2009) menyatakan bahwa semakin meningkat tenure

audit maka pemahaman auditor atas operasi, risiko bisnis serta sistem akuntansi perusahaan akan turut meningkat sehingga menghasilkan proses audit yang lebih efisien. Sebaliknya jika auditor melakukan perikatan audit pada klien baru maka jangka waktu penyelesaian audit akan lebih panjang. Hal ini disebabkan auditor memerlukan waktu lebih lama untuk dapat beradaptasi dengan pencatatan, kegiatan operasional, kendali intern, serta kertas kerja (working paper) periode lalu perusahaan pada awal perikatan, Ashton et al., (1987) dan Lee et al., (2009).

Indikator yang mempengaruhi audit delay yang lainya adalah ukuran perusahan. Ukuran perusahaan menunjukan besar kecilnya suatu perusahaan. Suatu perusahaan dapat dikatakan besar atau kecil dilihat dari beberapa sudut pandang seperti total nilai aset, total penjualan, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Fodio et

al., (2015) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar dianggap menyelesaikan

rekening mereka lebih awal daripada perusahaan kecil karena mereka memiliki pengendalian yang kuat.

(11)

Hal ini juga mengindikasikan bahwa perusahaan besar juga memungkinkan

audit delay yang semakin pendek, namun disisi lain perusahaan yang besar dengan

total aset yang besar pula dapat terjadi audit delay yang panjang. Hal ini dikarenakan proses audit yang lebih kompleks, selain itu membutuhkan sampel yang lebih banyak pula untuk pemeriksaan. Prasongkoputra (2013) menguji faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay. Variabel independen yang digunakan adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan ukuran KAP. Dalam penelitian tersebut menunjukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit delay. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Prameswari dan Yustrianthe (2015), yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada audit

delay.

Financial distress merupakan salah satu kendala yang menyebabkan

terjadinya keterlambatan penerbitan laporan keuangan. Schwartz dan Soo (1996) dalam Kadir (2011) menyatakan bahwa perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan (financial distress) cenderung menyampaikan laporan keuangan tidak tepat waktu dibandingkan perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan. Kondisi

financial distress yang terjadi pada perusahaan dapat meningkatkan risiko audit pada

auditor independen khususnya risiko pengendalian dan risiko deteksi. Dengan meningkatnya risiko itu maka auditor harus melakukan pemeriksaan risiko (risk

assessment) sebelum menjalankan proses audit, tepatnya pada fase perencanaan audit

(audit planning). Hal ini dapat mengakibatkan lamanya proses audit dan berdampak pada bertambahnya audit delay. Dalam penelitian ini, financial distress akan

(12)

diproksikan dengan DER (debt to equity ratio), dimana tingginya rasio debt to equity mencerminkan adanya kemungkinan bahwa perusahaan tersebut tidak mampu melunasi kewajiban atau hutangnya. Kemampuan operasi perusahaan dicerminkan dari aset-aset yang dimiliki oleh perusahaan. Chasanah (2016) sejalan dengan Carslaw dan Kaplan (1991) memperoleh hubungan yang signifikan antara solvabilitas dengan audit delay perusahaan. Semakin tinggi rasio utang terhadap total aktiva, semakin lama rentang waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian audit laporan keuangan tahunan.

Penelitian Halim (2000) menguji faktor-faktor yang mempengaruhi audit

delay pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Halim

memaparkan bahwa faktor ukuran perusahaan, jenis industri, tahun buku yang berakhir 31 desember, opini audit, tingkat profitabilitas, pengumuman rugi dan lama menjadi klien Kantor Akuntan Publik (KAP) berpengaruh secara serentak terhadap

audit delay. Dewi Lestari (2010) menguji analisis faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay studi empiris pada perusahaan costumer goods yang terdaftar di BEI

menunjukan bahwa profitabilitas, solvabilitas dan kualitas auditor yang berpengaruh terhadap audit delay. Sedangkan ukuran perusahan dan opini auditor tidak berpengaruh terhadap audit delay. Hasil penelitian dari Praptika dan Rasmini (2016) yang menguji pengaruh audit tenure, pergantian auditor dan financial distress

Perbedaan hasil pada fenomena-fenomena yang telah dipaparkan sebelumnya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian sejauh mana pengaruh variabel audit

(13)

pemoderasi. Objek penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015 yang dipandang cukup mewakili kondisi perusahaan di Indonesia. Alasan menggunakan perusahaan manufaktur adalah karena perusahaan manufaktur mempunyai operasi yang lebih komplek dibandingkan dengan kelompok perusahaan lain yang dapat mempengaruhi audit delay. Periode penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah tahun 2012-2015. Alasan dipilihnya periode penelitian tahun 2012-2015 ini adalah dikarenakan periode tersebut merupakan periode terbaru dibandingkan dengan penelitian sebelumnya dan memberikan gambaran terkini mengenai audit delay dari suatu perusahaan agar lebih akurat. Dari berbagai alasan dan penjelasan di atas, peneliti mengambil judul “Pengaruh Audit tenur dan Ukuran Perusahaan Klien terhadap Audit delay dengan Financial distress sebagai Pemoderasi”

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Dari latar belakang diatas dapat ditemukan beberapa rumusan masalah untuk penelitian ini adalah :

1) Apakah pengaruh audit tenure terhadap audit delay ?

2) Apakah pengaruh ukuran perusahaan klien terhadap audit delay ? 3) Apakah pengaruh financial distress terhadap audit delay ?

(14)

4) Apakah financial distress memoderasi pengaruh audit tenure pada audit delay ?

5) Apakah financial distress memoderasi pengaruh ukuran perusahaan klien pada audit delay ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan yang telah diuraikan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1) Untuk menguji secara empiris pengaruh audit tenure terhadap audit delay. 2) Untuk menguji secara empiris pengaruh ukuran perusahaan klien terhadap

audit delay.

3) Untuk menguji secara empiris pengaruh financial distress terhadap audit delay.

4) Untuk menguji secara empiris pengaruh financial distress memoderasi audit tenure terhadap audit delay.

5) Untuk menguji secara empiris pengaruh financial distress memoderasi ukuran perusahaan klien terhadap audit delay.

1.4 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan dari penelitian, peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

(15)

1) Kegunaan teoritis

Secara teoritis dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai hubungan audit tenure dan ukuran perusahaan klien terhadap audit delay dengan financial distress sebagai pemoderasi. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi refrensi mengenai audit delay bagi pihak yang berkepentingan.

2) Kegunaan praktis

Secara praktis hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagi acuan dalam melakukan pekerjaan audit dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay sehingga mampu memotivasi perusahaan untuk meningkatkan ketepatan waktu publikasi laporan keuangan auditan.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab, yaitu sebagai berikut.

BAB I : Pendahuluan.

Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan.

(16)

BAB II : Kajian Pustaka dan Hipotesis Penelitian.

Bab ini menguraikan teori-teori yang mendukung pembahasan masalah penelitian, yaitu teori mengenai teori keagenan, teori sinyal,

audit delay, audit tenure, ukuran perusahaan klien, dan financial distress, serta pembahasan hasil penelitian sebelumnya yang diakhiri

dengan perumusan hipotesis penelitian. BAB III : Metode Penelitian

Bab ini menjelaskan mengenai desain penelitian, lokasi atau ruang lingkup wilayah penelitian, objek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, populasi, sampel, dan metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, serta teknik analisis data.

BAB IV : Data dan Pembahasan Hasil Penelitian.

Bab ini menguraikan gambaran umum atau wilayah penelitian dan pembahasan hasil penelitian berupa pengujian statistik yang disertai dengan intepretasi dari hasil penelitian.

BAB V : Simpulan dan Saran.

Pada bab ini dikemukakan simpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan pada bab sebelumnya serta memuat saran-saran yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi penelitian selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, kecepatan publikasi laporan keuangan dapat dikatakan sangat penting dan faktor-faktor yang diindikasikan dapat mempengaruhi kecepatan publikasi laporan

Pra Kondisi Sebelum masuk ke halaman utama kepala lab terlebih dahulu melakukan login kemudian pilih menu users lalu pilih login activity setelah itu kepala lab dapat

Fisiologi sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya

Jenis pohon yang berada di 5 kawasan jalur hijau kota Pematangsiantar didominasi oleh jenis Mahoni, yang terbanyak kedua adalah jenis Tanjung kemudian jenis Glodokan

Salah satu hak asasi yang dimiliki setiap orang sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai instrumen hukum nasional dan internasional mengenai hak asasi manusia

Dalam kaitannya dengan perancangan, tata hijau atau planting design merupakan satu hal pokok yang menjadi dasar dalam pembentukan ruang luar. Penataan dan

Dalam kegiatan belajar mengajar, terjadi interaksi yang baik antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya. Peran

1) Banyaknya prosedur ± prosedur atau aturan yang berlaku dipasar juga menjadi masalah dalam pemasaran produk kerupuk amplang ,karena dari hasil penelitian dapat