(STUDI KASUS: YAYASAN QURROTA AYUNI, SERPONG)
Disusun Oleh:
RADEN AULIA RAHMAN 1112093000098
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2019 M / 1440 H
(STUDI KASUS: YAYASAN QURROTA AYUNI, SERPONG)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sistem Informasi
Disusun Oleh:
RADEN AULIA RAHMAN 1112093000098
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2019 M / 1440 H
ii
RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI
PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTU MUSTAHIK DENGAN METODE WEIGHTED PRODUCT BERBASIS WEB
(STUDI KASUS: YAYASAN QURROTA AYUNI, SERPONG)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sistem Informasi
Disusun Oleh:
RADEN AULIA RAHMAN 1112093000098
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2019 M / 1440 H
iii
LEMBAR PENGESAHAN
RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI
PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTU MUSTAHIK DENGAN METODE WEIGHTED PRODUCT BERBASIS WEB
(STUDI KASUS: YAYASAN QURROTA AYUNI, SERPONG)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Sains dan Teknologi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sistem Informasi Oleh:
Raden Aulia Rahman 1112093000098
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Meinarini Catur Utami, M.T. Elvi Fetrina, MIT. NIP. 19780505 201101 2 009 NIP. 19740625 200901 2 005
Mengetahui,
Ketua Program Studi Sistem Informasi
A’ang Subiyakto, Ph.D NIP: 1976021 9200710 1 002
iv
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN
Skripsi berjudul “Rancang Bangun Sistem Informasi Pendukung Keputusan Penentu Mustahik dengan Metode Weighted Product Berbasis Web (Studi Kasus: Yayasan Qurrota Ayuni, Serpong)” yang ditulis oleh Raden Aulia Rahman, NIM 1112093000098 telah diuji dan dinyatakan LULUS dalam sidang Munaqosah Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Hari Jum’at 5 Juli 2019. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Sistem Informasi.
Menyetujui,
Penguji I Penguji II
Nuryasin, M.Kom. Evy Nurmiati, S.Kom. NIP. 19760715 201101 1 005 NIP. 19780215 201411 2 003
Pembimbing I Pembimbing II
Meinarini Catur Utami, M.T. Elvi Fetrina, MIT. NIP. 19780505 201101 2 009 NIP. 19740625 200901 2 005
Mengetahui,
Dekan Ketua Program Studi Fakultas Sains dan Teknologi Sistem Informasi
Prof. Dr. Lily Surraya Eka Putri, M. Env. Stud A’ang Subiyakto, Ph.D NIP. 19690404 200501 2 005 NIP. 1976021 9200710 1 002
v
HALAMAN PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR- BENAR ASLI KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Jakarta, Juli 2019
Raden Aulia Rahman NIM: 1112093000098
vi
ABSTRAK
Raden Aulia Rahman (1112093000098), Rancang Bangun Sistem Informasi Pendukung Keputusan Penentu Mustahik dengan Metode Weighted Product Berbasis Web (Studi Kasus: Yayasan Qurrota Ayuni, Serpong) (Di bawah bimbingan Meinarini Catur Utami dan Elvi Fetrina).
Yayasan Qurrota Ayuni merupakan sebuah yayasan di mana di dalamnya terdapat badan zakat. Dana zakat yang ada harus diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan dan tergolong ke dalam mustahik. Masalah yang sering dijumpai adalah cara dalam pemilihan mustahik yang masih menggunakan cara manual, sehingga sering menimbulkan masalah seperti lamanya proses pemilihan dan terjadinya salah hitung sehingga menimbulkan kurang akuratnya hasil seleksi mustahik. Untuk mendapatkan zakat tersebut maka harus sesuai dengan aturan-aturan dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu tidak semua yang mendaftar sebagai penerima zakat tersebut dapat diterima, hanya yang memenuhi kriteria atau yang diprioritaskan yang dapat menerima zakat. Karena banyaknya jumlah pendaftar untuk penerima zakat maka perlu dibangun suatu sistem pendukung keputusan yang dapat membantu menentukan siapa yang berhak dan diutamakan untuk dapat menerima zakat. Penggunaan metode Weighted Product dirasa mampu untuk menjadi alternatif penentu mustahik karena proses pemilihan dapat dilakukan dengan waktu lebih cepat dan dapat mengurangi kesalahan serta dapat memberikan alternatif terbaik dalam pengambilan keputusan. Metode pengembangan sistem yang digunakan yaitu model Rapid Application Development (RAD) menggunakan Unified Modelling language (UML) sebagai tools-nya. Dalam membangun sistem tersebut, teknologi yang dipakai yaitu PHP sebagai bahasa pemrograman, XAMPP sebagai web server dan MySQL sebagai database. Hasil penelitian ini berupa sistem informasi pendukung keputusan penentu mustahik yang dapat membantu dalam penentuan mustahik siapa yang berhak dan diutamakan untuk dapat menerima zakat.
Kata Kunci : Sistem Informasi Pendukung Keputusan Penentu Mustahik, Yayasan Qurrota Ayuni, Rapid Application Development (RAD), Unified Modelling Language (UML), PHP, MySQL.
xxii Halaman + V BAB + 138 Halaman + 46 Gambar + 34 Tabel + Daftar Pustaka(36, 2002 - 2015) + Lampiran
vii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, dan hidayah kepada hamba-Nya. Shalawat serta salam marilah kita curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya baik di dunia maupun akhirat. Skripsi yang berjudul “Sistem Informasi Pendukung Keputusan Penentu Mustahik dengan Metode Weighted Product Berbasis Web (Studi Kasus: Yayasan Qurrota Ayuni, Serpong)” ini merupakan salah satu bagian penting untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana (S-1) pada bidang Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penyusunan laporan ini banyak sekali pihak yang terlibat untuk membantu penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Maka dengan rasa syukur dan hormat penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang memberikan bantuan, bimbingan, dan pengarahan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env.Stud. selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak A’ang Subiyakto, Ph.D. selaku Ketua Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
viii
3. Ibu Nida’ul Hasanati, S.T., MMSI selaku Sekretaris Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Meinarini Catur Utami, M.T. Selaku Pembimbing I dan ibu Elvi Fetrina, M.IT. selaku pembimbing II yang secara bijaksana dan kooperatif telah memberikan bimbingan, ilmu, pengetahuan, pengarahan, motivasi, dan semangat.
5. Seluruh Dosen Program Studi Sistem Informasi yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Sains dan Teknologi yang telah memberikan ilmunya.
7. Seluruh Karyawan Yayasan Qurrota Ayuni, Serpong yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis selama pelaksanaan penelitian.
8. Ayahanda Baban Misbah Achmad dan Ibunda Hairulnidha yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil serta doa yang tulus ikhlas kepada penulis demi kelanjutan studi penulis hingga saat ini.
9. Kakak dan Adik penulis yang selalu mendukung dan mendoakan.
10. Keluarga Besar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Sistem Informasi Angkatan 2012.
11. Saudara Achmad Taufiqurohman dan Adry Toropanahar Ali, sahabat-sahabat yang selalu ada dalam suka maupun duka.
ix
12. Keluarga SLOWRESPONSIST, Harry Okta Maulana, Irfandi Ade Setiawan, Adib Bimo, Rizky Azhari, Nafar Amani yang telah memberikan ilmu dan bimbingan selama di dalam maupun di luar Universitas.
13. Keluarga HO SIBRO, Terutama Panji Ariestanto Putra, Yusran Ade Putra, Faisal Firdaus yang selalu memberikan tempat dan waktunya untuk menyusun penulisan ini.
14. Pejuang akhir, Muhammad Aulia Akbar, Ibnu Khoiru Dai, Sigit Ergianto, Yuda Masputra, Imam Sandika, Azmi Zulfikar Rasyid, Ilhamsyah Maulana yang selalu berjuang bersama demi kelancaran penulisan ini.
15. Dule, yang selalu memotivasi, membimbing, mendukung, serta mendoakan. 16. Seluruh pihak yang telah banyak berjasa dalam menyelesaikan laporan ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu namun tidak mengurangi sedikit pun rasa terima kasih dari penulis.
Jakarta, Juli 2019
Raden Aulia Rahman NIM: 1112093000098
x
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR SIMBOL ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 4
1.3 Rumusan Masalah ... 5
1.4 Batasan masalah ... 5
1.5 Tujuan Dan Manfaat Penelitian... 6
1.6 Manfaat... 6
1.7 Metode Penelitian ... 7
1.7.1 Metode Pengumpulan Data ... 7
1.7.2 Metode Pengembangan Sistem ... 7
1.8 Sistematika Penulisan ... 7
BAB II LANDASAN TEORI ... 9
2.1 Definisi Rancang Bangun... 9
2.1.1 Definisi Perancangan ... 9
2.1.2 Definisi Pembangunan ... 9
xi
2.2 Sistem ... 10
2.3 Konsep Dasar Sistem ... 11
2.4 Konsep Dasar Informasi ... 11
2.5 Konsep Dasar Sistem Informasi ... 12
2.5.1 Definisi Sistem Informasi ... 12
2.5.2 Komponen Sistem Informasi ... 13
2.6 Konsep Dasar Sistem Pendukung Keputusan ... 13
2.6.1 Pengertian Keputusan ... 13
2.6.2 Tahapan Pengambilan Keputusan ... 14
2.6.3 Pengertian SPK ... 15
2.6.4 Tujuan Sistem Pendukung Keputusan ... 18
2.7 Weighted Product (WP) ... 19
2.7.1 Contoh Kasus Weighted Product ... 20
2.8 Zakat ... 24
2.8.1 Pengertian Zakat ... 24
2.8.2 Dasar Hukum Zakat ... 25
2.9 Mustahik ... 25
2.10 Metode Pengumpulan Data ... 27
2.10.1 Observasi ... 27
2.10.2 Wawancara ... 27
2.10.3 Studi Pustaka ... 28
2.10.4 Studi Literatur ... 28
2.11 Metode Pengembangan Sistem ... 28
2.11.1 SDLC ... 28
2.11.2 RAD ... 29
2.11.3 Perbandingan Metode Pengembangan Sistem ... 31
2.12 Konsep UML ... 35
2.12.1 Use Case Diagram ... 35
2.12.2 Activity Diagram ... 36
2.12.2 Sequence Diagram ... 37
xii
2.13 Unsur-Unsur Dalam Perancangan Sistem ... 38
2.13.1 Web Browser ... 38
2.13.2 HTML ... 38
2.13.3 PHP ... 39
2.13.4 MySQL ... 39
2.13.5 XAMPP dan PhpMyAdmin... 40
2.14 Pengujian Perangkat Lunak ... 41
2.14.1 Black Box Testing ... 41
2.14.2 Perbandingan Pengujian Perangkat Lunak ... 42
BAB III METODE PENELITIAN ... 44
3.1 Metode Pengumpulan Data ... 44
3.1.1 Metode Observasi ... 44
3.1.2 Metode Wawancara ... 44
3.1.3 Studi Pustaka ... 45
3.1.4 Studi Literatur Sejenis ... 45
3.2 Metode Pengembangan Sistem ... 47
3.3 Alasan Menggunakan Metode Pengembangan Sistem RAD ... 49
3.4 Alasan Menggunakan Metode Pengujian Sistem Black Box Testing . 50 3.5 Perbandingan Metode Sistem Pendukung Keputusan ... 50
3.6 Kerangka Berpikir Penelitian ... 54
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 55
4.1 Perencanaan Persyaratan ... 55
4.1.1 Gambaran Umum Yayasan Qurrota Ayuni ... 55
4.1.1.1 Logo Yayasan Qurrota Ayuni ... 56
4.1.1.2 Visi dan Misi Yayasan Qurrota Ayuni ... 56
4.1.2 Analisis Sistem Berjalan ... 57
4.1.3 Analisa Sistem Usulan ... 58
4.1.4 Tujuan Perancangan Sistem ... 60
xiii
4.2.1 Perancangan SPK ... 61
4.2.1.1 Perancangan Model WP ... 61
4.2.1.2 Perhitungan Manual WP ... 67
4.2.2 UML ... 70
4.2.2.1 Use Case Diagram ... 71
4.2.2.2 Activity Diagram ... 85 4.2.2.3 Sequence Diagram ... 103 4.2.2.4 Class Diagram ... 123 4.2.3 Perancangan Interface ... 124 4.3 Implementasi ... 133 4.3.1 Pengkodean ... 133 4.3.2 Pengujian Sistem ... 133 4.3.2.1 Arsitektur Hardware ... 134 4.3.2.2 Arsitektur Software ... 134
4.3.2.3 Pengujian Black Box ... 134
BAB V PENUTUP ... 137
5.1 Kesimpulan... 137
5.2 Saran ... 138
DAFTAR PUSTAKA ... 139
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Use Case Diagram (Sumber : (Sugiarti, 2013)) ... 36
Gambar 2. 2 Activity Diagram Pesanan Tiket (Sumber : Sugiarti, 2013) ... 36
Gambar 2. 3 Sequence Diagram Cetak Kwitansi Pembayaran Tiket ... 37
Gambar 2. 4 Class Diagram (Sumber : (Sugiarti, 2013)) ... 38
Gambar 3. 1 Kerangka Berpikir Penelitian ... 54
Gambar 4. 1 Logo Yayasan Qurrota Ayuni ... 56
Gambar 4. 2 Analisis Sistem Berjalan ... 57
Gambar 4. 3 Analisis Sistem Usulan... 59
Gambar 4. 4 Perancangan Model WP ... 62
Gambar 4. 5 Use Case Diagram SPKM ... 74
Gambar 4. 6 Activity Diagram Login ... 86
Gambar 4. 7 Activity Diagram Mengelola Data Mustahik ... 88
Gambar 4. 8 Activity Diagram Mengelola Data Master Kriteria ... 91
Gambar 4. 9 Activity Diagram Mengelola Mengelola Data Nilai Kriteria ... 93
Gambar 4. 10 Activity Diagram Generate Mustahik ... 95
Gambar 4. 11 Activity Diagram Mengelola Data Pengguna ... 97
Gambar 4. 12 Activity Diagram Ubah Profil ... 99
Gambar 4. 13 Activity Diagram Mengelola Data Master Posisi ... 101
Gambar 4. 14 Activity Diagram Logout ... 103
Gambar 4. 15 Sequence Diagram Login ... 104
Gambar 4. 16 Sequence Diagram Data Mustahik ... 106
Gambar 4. 17 Sequence Diagram Data Master Kriteria ... 109
Gambar 4. 18 Sequence Diagram Data Nilai Kriteria ... 112
Gambar 4. 19 Sequence Diagram Data Pengguna ... 115
Gambar 4. 20 Sequence Diagram Generate Mustahik ... 117
xv
Gambar 4. 22 Sequence Diagram Data Master Posisi... 120
Gambar 4. 23 Sequence Diagram Logout ... 122
Gambar 4. 24 Class Diagram SPKM ... 124
Gambar 4. 25 Rancangan Halaman Login ... 125
Gambar 4. 26 Rancangan Halaman Menu Data Mustahik ... 125
Gambar 4. 27 Rancangan Halaman Tambah Data Mustahik ... 126
Gambar 4. 28 Rancangan Halaman Ubah Data Mustahik ... 126
Gambar 4. 29 Rancangan Halaman Persetujuan Mustahik ... 127
Gambar 4. 30 Rancangan Halaman Data Master Kriteria... 127
Gambar 4. 31 Rancangan Halaman Ubah Data Master Kriteria ... 128
Gambar 4. 32 Rancangan Halaman Data Nilai Kriteria ... 128
Gambar 4. 33 Rancangan Halaman Tambah Data Nilai Kriteria ... 129
Gambar 4. 34 Rancangan Halaman Lihat Data Nilai Kriteria ... 129
Gambar 4. 35 Rancangan Halaman Ubah Data Nilai Kriteria ... 130
Gambar 4. 36 Rancangan Halaman Generate Mustahik ... 130
Gambar 4. 37 Rancangan Halaman Hasil Generate Mustahik ... 131
Gambar 4. 38 Rancangan Halaman Master Posisi ... 131
Gambar 4. 39 Rancangan Halaman Ubah Master Posisi ... 132
Gambar 4. 40 Rancangan Halaman Data Pengguna ... 132
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Contoh Kasus Alternatif IPA ... 21
Tabel 2. 2 Contoh Kasus Alternatif IPS ... 21
Tabel 2. 3 Contoh Kasus Kriteria Rangking ... 22
Tabel 2. 4 Contoh kasus bobot kriteria ... 22
Tabel 2. 5 Contoh Kasus Perbaikan Bobot ... 23
Tabel 2. 6 Contoh Kasus Nilai Kriteria Setiap Alternatif ... 23
Tabel 2. 7 Contoh Kasus Hasil Perhitungan ... 24
Tabel 2. 8 Perbandingan Metode Pengembangan Sistem ... 31
Tabel 2. 9 Perbandingan Pengujian Perangkat Lunak ... 42
Tabel 3. 1 Studi Literatur Sejenis ... 46
Tabel 3. 2 Perbandingan Metode Sistem Pendukung Keputusan ... 51
Tabel 4. 1 Bobot Kriteria ... 63
Tabel 4. 2 Perbaikan Bobot Kriteria ... 64
Tabel 4. 3 Pilihan Kepemilikan Rumah ... 65
Tabel 4. 4 Pilihan Kepemilikan Kendaraan Bermotor ... 65
Tabel 4. 5 Pilihan Kriteria Ada Tidaknya Penanggung Jawab ... 65
Tabel 4. 6 Pilihan Kriteria Kelengkapan Berkas ... 66
Tabel 4. 7 Nilai Kriteria Calon Mustahik ... 67
Tabel 4. 8 Bobot Nilai Kriteria Calon Mustahik ... 68
Tabel 4. 9 Hasil Perhitungan Mustahik ... 70
Tabel 4. 10 Hasil Perankingan Mustahik ... 70
Tabel 4. 11 Tabel Identifikasi Aktor SPKM ... 71
Tabel 4. 12 Tabel Identifikasi Use Case ... 72
Tabel 4. 13 Use Case Scenario Login ... 74
Tabel 4. 14 Use Case Scenario Mengelola Data Mustahik ... 75
xvii
Tabel 4. 16 Use Case Scenario Mengelola Data Pengguna ... 78
Tabel 4. 17 Use Case Scenario Mengelola Data Master Kriteria ... 79
Tabel 4. 18 Use Case Scenario Mengelola Data Nilai Kriteria ... 80
Tabel 4. 19 Use Case Scenario Generate Mustahik ... 82
Tabel 4. 20 Use Case Scenario Mengelola Data Posisi ... 83
Tabel 4. 21 Use Case Scenario Ubah Profil ... 84
Tabel 4. 22 Use Case Scenario Logout ... 85
xviii
DAFTAR SIMBOL
SIMBOL USE CASE DIAGRAM (Sugiarti, 2013)
Simbol Deskripsi
Fungsionalitas yang disediakan sistem sebagai unit-unit yang saling bertukar pesan antar aktor; biasanya dinyatakan dengan menggunakan kata kerja di awal fase nama use case.
Orang, proses, atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem informasi yang akan dibuat di luar sistem informasi yang akan dibuat itu sendiri, jadi walaupun simbol dari aktor adalah gambar orang, tapi aktor belum tentu merupakan orang; biasanya dinyatakan menggunakan kata benda di awal frase nama aktor.
Asosiasi/ Assosition
Komunikasi antara aktor dan use case yang berpartisipasi pada use case atau use case memiliki interaksi dengan aktor.
<<extend>>
Relasi use case tambahan ke sebuah use case di mana use case yang ditambahkan dapat berdiri sendiri walau tanpa use case tambahan itu; mirip dengan prinsip inheritance pada pemrograman
xix
berorientasi objek, biasanya use case tambah memiliki nama depan dengan use case yang ditambahkan, anak panah menuju pada use case yang dituju.
<<include>>
Relasi use case tambahan ke sebuah use case di mana use case yang ditambahkan memerlukan use case ini untuk menjalankan fungsinya atau sebagai syarat dijalankan use case ini.
SIMBOL ACTIVITY DIAGRAM (Sugiarti, 2013)
Gambar Keterangan
Actifity
Memperlihatkan bagaimana masing-masing kelas antarmuka saling berinteraksi satu sama lain.
Initial Node
Bagaimana objek dibentuk atau diawali.
Actifity Final Node
Bagaimana objek dibentuk dan di akhiri.
Fork Node
Asosiasi percabangan di mana satu aktivitas dicabangkan menjadi beberapa aktivitas.
xx Join Node
Asosiasi Penggabungan di mana lebih dari satu aktivitas digabungkan menjadi satu.
Percabanagan / decision
Asosiasi percabangan di mana jika ada pilihan aktivitas lebih dari satu..
Control flow
Digunakan untuk menghubungkan antara aksi satu dengan aksi yang lain.
Memisahkan organisasi bisnis yang bertanggung jawab terhadap aktivitas yang terjadi.
SIMBOL SEQUENCE DIAGRAM (Sugiarti, 2013)
Simbol Deskripsi
Aktor
Orang, proses, atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem informasi yang akan dibuat di luar sistem informasi yang akan dibuat itu sendiri. Jadi walaupun simbol dari aktor adalah gambar orang, tapi aktor belum tentu merupakan orang; biasanya dinyatakan menggunakan kata benda di awal frase nama aktor.
Garis Hidup Objek
xxi Objek sedang aktif
berinteraksi
Menyatakan objek dalam keadaan aktif dan berinteraksi, semua yang terhubung dengan waktu aktif ini adalah sebuah tahapan yang dilakukan di dalamnya.
Pesan tipe create <<create>>
Menyatakan suatu objek membuat objek yang lain, arah panah mengarah pada objek yang dibuat. Pesan tipe call
1: nama_metode()
Menyatakan suatu objek memanggil operasi atau metode yang ada pada objek lain atau dirinya sendiri.
Pesan tipe call 1: masukan
Menyatakan bahwa suatu objek mengirimkan data atau masukan atau informasi ke objek lainnya, arah panah mengarah pada objek yang dikirimi.
Pesan tipe call 1: masukan
Menyatakan bahwa suatu objek yang telah menjalankan suatu operasi atau metode menghasilkan suatu kembalian ke objek tertentu, arah panah mengarah pada objek yang menerima kembalian.
Pesan tipe destroy
Menyatakan suatu objek mengakhiri hidup objek yang lain, arah panah mengarah pada objek yang diakhiri, sebaliknya jika ada create maka ada destroy.
xxii
SIMBOL CLASS DIAGRAM (Sugiarti, 2014)
Simbol Deskripsi
Kelas pada struktur sistem.
Asosiasi Relasi antar kelas dengan makna umum, asosiasi biasanya juga disertai dengan multiplicity.
Generalisasi Relasi antar kelas dengan makna generalisasi-spesialis (khusus-umum).
Asosiasi Berarah /Directed Asosiasi
Relasi antar kelas dengan makna kelas yang satu digunakan oleh kelas yang lain, asosiasi biasanya juga disertai dengan multiplicity.
Kebergantungan/ Defedency
Relasi antar kelas dengan makna ketergantungan antar kelas.
Agregasi Relasi antar kelas dengan makna semua bagian (whole part).
1 1.1 Latar Belakang
Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam di mana setiap manusia yang memiliki harta kekayaan telah mencapai nisab dan haul (satu tahun kepemilikan) berkewajiban untuk mengeluarkan zakat. Sebagian harta yang kita miliki merupakan hak orang lain, sebab itu kita harus mengeluarkan zakat untuk orang lain menerima haknya kembali. Tujuan zakat yaitu untuk membersihkan harta kita. Mengeluarkan zakat semata-mata bentuk cerminan keimanan kita sebagai orang muslim. Selain itu pemberian zakat ialah untuk membantu meringankan beban para penerima zakat, dan juga sebagai tali persaudaraan antara yang memberi zakat dengan yang menerima zakat.
Zakat merupakan suatu ibadah yang paling penting kerap kali dalam Al-Qur’an, Allah menerangkan zakat beriringan dengan menerangkan Shalat yang berarti mempunyai hubungan yang rapat sekali dalam hal keutamaannya. Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat (QS. Al-Muzammil 73:20), Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna ,dan orang-orang yang mengeluarkan zakat (QS. Al-mu’minun 23:1-4).
Menurut Al -Quran surat At-Taubah ayat 60 yang artinya “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang
dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”.
Masalah yang sering terjadi di dalam masyarakat kita adalah kepada siapa zakat seharusnya diberikan. Apakah lebih utama zakat diberikan langsung kepada orang yang berhak, atau melalui lembaga zakat. Biasanya ada perasaan puas dan tenang jika menyaksikan secara langsung penyaluran zakat kepada mereka yang dianggap berhak menerimanya. Tapi terkadang penyaluran langsung yang dilakukan oleh orang yang ingin memberi zakatnya tidak tepat mengenai sasaran. Terkadang orang sudah merasa memberikan zakatnya kepada mustahik, padahal ternyata yang menerima bukanlah mustahik yang sesungguhnya, hanya karena kedekatan hubungan maka ia memberikan zakatnya. Misalnya saja zakat diberikan kepada kerabatnya, yang menurutnya kerabatnya adalah orang yang pantas mendapatkan zakat dan masuk dalam kategori mustahik, padahal jika dibandingkan dengan orang yang berada di sekitar lingkungannya masih banyak orang yang lebih berhak untuk mendapatkan zakatnya karena lebih menderita, dan tidak mampu dibandingkan dengan kerabatnya tersebut.
Yayasan Qurrota Ayuni merupakan sebuah yayasan di mana di dalamnya terdapat badan zakat yang berdiri pada bulan Oktober 2012. Dana zakat yang ada harus diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan dan tergolong ke dalam mustahik. Masalah yang sering dijumpai adalah cara dalam pemilihan mustahik yang masih menggunakan cara manual, sehingga sering menimbulkan
masalah seperti lamanya proses pemilihan dan terjadinya salah hitung sehingga menimbulkan kurang akuratnya hasil seleksi mustahik. Untuk mendapatkan zakat tersebut maka harus sesuai dengan aturan-aturan dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu tidak semua yang mendaftar sebagai penerima zakat tersebut dapat diterima, hanya yang memenuhi kriteria atau yang diprioritaskan yang dapat menerima zakat. Karena banyaknya jumlah pendaftar untuk penerima zakat maka perlu dibangun suatu sistem pendukung keputusan yang dapat membantu menentukan siapa yang berhak dan diutamakan untuk dapat menerima zakat.
Sistem pendukung keputusan (SPK) dimaksudkan untuk menjadi alat bantu bagi para pengambil keputusan untuk memperluas kapabilitas mereka, namun tidak untuk menggantikan penilaian mereka (Averweg, 2012). Adapun Weighted Product (WP) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah pengambilan keputusan. Metode WP menggunakan perkalian untuk menghubungkan nilai atribut (kriteria), di mana nilai setiap atribut (kriteria) harus dipangkatkan dulu dengan bobot atribut (kriteria) yang bersangkutan. (Sianturi, 2013).
Telah banyak penelitian yang dilakukan dengan memanfaatkan metode Weighted Product (WP) sebagai penyelesaiannya. Seperti yang dilakukan Dian Tri Wiyanti, dalam penelitiannya yang berjudul Implementasi Weighted Product (WP) dalam Penentuan Penerima Bantuan Langsung Masyarakat, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan (2014), dari penelitian ini diambil kesimpulan bahwa dengan metode WP lebih efisien dibandingkan metode
lain yang termasuk dalam penyelesaian masalah MADM (Multi Attibute Decision Making). Alasannya karena proses pemilihan dapat dilakukan dengan waktu lebih cepat dan dapat mengurangi kesalahan serta dapat memberikan alternatif terbaik dalam pengambilan keputusan. Sehingga permasalahan penulis di sini dinilai sangat cocok menggunakan metode WP karena dengan menggunakan metode WP maka diperlukan penentuan kriteria mustahik dan penentuan seberapa pentingnya kriteria serta penggolongan kriteria dengan waktu yang lebih cepat, juga memberikan alternatif terbaik dalam pengambilan keputusan penentu mustahik.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka penulis memutuskan membuat skripsi dengan judul “RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTU MUSTAHIK ZAKAT DENGAN METODE WEIGHTED PRODUCT BERBASIS WEB (STUDI KASUS: YAYASAN QURROTA AYUNI, SERPONG)”.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah yaitu:
1. Bagaimana merancang Sistem Pendukung Keputusan dengan Metode Weighted Product guna menentukan calon Mustahik berdasarkan bobot dan kriteria yang telah ditentukan di Yayasan Qurrota Ayuni.
2. Penyeleksian calon mustahik mana yang diprioritaskan dahulu atau lebih diutamakan untuk menjadi mustahik dan mendapatkan zakat.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu, Bagaimana Rancang Bangun Sistem Informasi Pendukung Keputusan dengan Metode Weighted Product guna menentukan calon mustahik berdasarkan bobot dan kriteria yang telah ditentukan di Yayasan Qurrota Ayuni dan mana yang harus diprioritaskan dahulu atau lebih diutamakan untuk menjadi mustahik dan mendapatkan zakat?.
1.4 Batasan masalah
Mengingat terbatasnya tenaga dan waktu yang ada, serta menjaga dan menghindari pembahasan masalah yang terlalu luas, maka penulis membatasi permasalahan antara lain:
1. Metode pengembangan sistem yang digunakan yaitu Rapid Application Development, dan pengujian sistem menggunakan blackbox testing. Sistem pendukung keputusan dengan metode Weighted Product.
2. Tools yang digunakan dalam pembuatan aplikasi ini mencakup bahasa pemrograman HTML, dan PHP, dengan database MySQL, XAMPP sebagai web server, untuk perancangan sistem. Sistem berbasis web. 3. Penelitian dilakukan di Yayasan Qurrota Ayuni.
4. Tidak membahas protokol jaringan dan jaringan keamanan data.
5. Proses yang dilakukan Sistem Pendukung Keputusan Penentu Mustahik yaitu menentukan mustahik di Yayasan Qurrota Ayuni dengan metode Weighted Product dan mengelola data yang diperlukan untuk menentukan
mustahik seperti data mustahik, kriteria, nilai kriteria, pengguna, dan master data.
1.5 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian skripsi ini yaitu rancang bangun sistem pendukung keputusan penentu mustahik zakat dengan metode Weighted Product pada Yayasan Qurrota Ayuni.
1.6 Manfaat
Manfaat yang didapatkan dalam penulisan skripsi antara lain: a. Bagi Peneliti
1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis melalui perancangan dan pembuatan aplikasi sistem pendukung keputusan dan metode yang di gunakan.
2. Untuk menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah di perkuliahan.
b. Bagi Akademik
Skripsi ini dapat dijadikan sebagai sarana pengenalan atau penambahan informasi serta referensi di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai permasalahan yang terkait dengan sistem tersebut.
c. Bagi Yayasan Qurrota Ayuni
Sebagai alat bantu Yayasan Qurrota Ayuni dalam menentukan mustahik zakat yang akan diberikan zakat.
1.7 Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan pada penelitian skripsi ini meliputi dua bagian yaitu, metode pengumpulan data serta metode pengembangan sistem.
1.7.1 Metode Pengumpulan Data
Dalam menyusun skripsi ini penulis membutuhkan data dan informasi yang terkait dengan topik. Data-data tersebut akan menjadi bahan untuk mendukung materi dan pembahasan yang terdapat dalam skripsi ini. Metode yang digunakan adalah observasi, studi kepustakaan dan wawancara.
1.7.2 Metode Pengembangan Sistem
Dalam pengembangan sistem, digunakan metode Software Development Life Cycle (SDLC) model RAD (Rapid Aplication Development) yang dalam penerapan proses pengembangan sistem memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Tahap Rencana Kebutuhan (Requirement Planning). 2. Proses Desain (Design Workshop).
3. Implementasi (Implementation). 1.8 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini memberikan gambaran umum tentang apa yang penulis bahas dalam setiap bab dari laporan skripsi ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut ini:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini membahas mengenai latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat kegiatan laporan, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisi tentang pengertiandan teori-teori yangdigunakan sebagai landasan atau dasar dari merancang sistem yang berhubungan dengan sistem informasi pendukung keputusan penentu mustahik zakat dengan metode weighted product.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini berisi tentang penjelasan proses penelitian penulis dalam merancang dan membuat sistem pendukung keputusan sesuai dengan metode yang digunakan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas metodologi penelitian, hasil penelitian yang akan dilakukan, dan penjelasan mengenai rancang bangun sistem informasi pendukung keputusan penentu mustahik zakat.
BAB V PENUTUP
Bab ini menguraikan tentang kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian dan penyusunan skripsi ini dan saran yang diusulkan untuk pengembangan lebih lanjut agar tercipta hasil yang lebih baik.
9 2.1 Definisi Rancang Bangun
2.1.1 Definisi Perancangan
Perancangan adalah proses mendefinisikan sesuatu yang akan dikerjakan dengan teknik yang bervariasi serta di dalamnya melibatkan deskripsi mengenai arsitektur serta detail komponen dan juga keterbatasan yang akan dialami dalam proses pengerjaannya (Rizky, 2011).
Demikian pula menurut Pressman (2010) Mendefinisikan bahwa perancangan yang sesungguhnya merupakan suatu aktivitas rekayasa perangkat lunak yang dimaksud untuk membuat keputusan-keputusan utama.
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perancangan adalah suatu aktivitas rekayasa perangkat lunak yang di dalamnya mendefinisikan sesuatu yang akan dikerjakan dengan teknik yang bervariasi serta di dalamnya melibatkan deskripsi mengenai arsitektur serta detail komponen dan juga keterbatasan. 2.1.2 Definisi Pembangunan
Pengertian pembangunan perangkat lunak atau software construction adalah pekerjaan detail dari pembuatan perangkat lunak yang meliputi kombinasi pengerjaan pemrograman, verifikasi program, testing unik, testing terintegrasi dan debugging (Rizky, 2011).
Menurut Pressman (2010) pengertian pembangunan atau bangun sistem adalah kegiatan menciptakan sistem baru maupun mengganti atau memperbaiki sistem yang telah ada secara keseluruhan.
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan adalah kegiatan menciptakan sistem baru maupun mengganti atau memperbaiki sistem yang meliputi kombinasi pengerjaan pemrograman, verifikasi program, testing unik, testing terintegrasi dan debugging.
2.1.3 Definisi Rancang Bangun
Perancangan atau rancang bangun merupakan serangkaian prosedur untuk menerjemahkan hasil analisis dari sebuah sistem ke bahasa pemrograman untuk mendeskripsikan dengan detail bagaimana komponen-komponen sistem diimplementasikan (Pressman, 2002).
Rancang bangun adalah membangun sistem dan komponen yang didasarkan pada spesifikasi desain (Ladjamudin, 2013)
Pengertian di atas membantu untuk menarik kesimpulan bahwa rancang bangun adalah serangkaian prosedur untuk menerjemahkan hasil analisis dari sebuah sistem ke bahasa pemrograman untuk mendeskripsikan dengan detail yang didasarkan pada spesifikasi desain.
2.2 Sistem
Pengertian sistem menurut Kenneth E.Kendall dan Julie E.Kendal (2010) Sistem adalah serangkaian sub sistem yang saling terkait dan tergantung satu sama lainnya, bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan sasaran yang sudah
ditetapkan sebelumnya. Sedangkan menurut Rosa & Shalahuddin (2011) Sistem berarti kumpulan komponen-komponen yang saling terkait dan mempunyai satu tujuan yang ingin dicapai.
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem adalah kumpulan elemen-elemen atau sub sistem yang saling terkait dan berhubungan dan tergantung satu sama lain dan saling bekerja sama untuk menyelesaikan sasaran atau tujuan tertentu.
2.3 Konsep Dasar Sistem
Sistem didefinisikan sebagai seperangkat komponen yang saling terkait, dengan batas yang jelas, bekerja sama untuk mencapai seperangkat tujuan dengan menerima input dan menghasilkan output dalam proses transformasi yang terorganisir (O'Brien & Marakas, 2010).
Sistem yaitu suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu (Ladjamudin, 2013).
Dari pengertian di atas sistem dapat diartikan sebagai seperangkat komponen yang saling terkait, dengan batas yang jelas, bekerja sama untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
2.4 Konsep Dasar Informasi
Informasi berasal dari bahasa Perancis kuno, information yang diambil dari bahasa latin informationem yang berarti garis besar, konsep, ide. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam pengetahuan dan komunikasi (Yacub & Vico, 2014).
Sedangkan Sutabri (2009) mengatakan informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang.
Dari pengertian di atas informasi dapat diartikan sebagai data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang lebih berguna bagi penerimanya.
2.5 Konsep Dasar Sistem Informasi 2.5.1 Definisi Sistem Informasi
Sistem Informasi adalah sistem yang sangat penting bagi manajemen, Sistem informasi merupakan komponen dalam sebuah organisasi modern yang berhubungan dengan proses penciptaan dan aliran informasi (O'Brien & Marakas, 2010).
Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan (Supriyanto, 2012).
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi adalah sistem yang sangat penting bagi manajemen, Sistem informasi merupakan komponen dalam sebuah organisasi modern yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi.
2.5.2 Komponen Sistem Informasi
Komponen dari suatu sistem informasi yaitu semua sistem informasi penggunaan orang, hardware, software, data dan sumber daya jaringan untuk melakukan aktivitas input, proses, output, storage, dan kontrol yang mengubah sumber daya data menjadi produk informasi (O'Brien & Marakas, 2009):
1. Manusia, hardware, software, data, dan jaringan adalah lima sumber daya dasar tentang sistem informasi.
2. Sumber daya manusia termasuk pengguna akhir dan Information System Specialist, sumber daya perangkat keras terdiri dari mesin dan media, sumber daya perangkat lunak mencakup program dan prosedur dasar, sumber data yang dapat mencakup data dan basis pengetahuan, dan sumber daya jaringan meliputi media komunikasi dan jaringan.
3. Sumber data yang diubah oleh kegiatan pengolahan informasi ke berbagai produk informasi bagi pengguna akhir.
4. Pengolahan informasi terdiri dari kegiatan sistem input, pengolahan, output, penyimpanan dan control.
2.6 Konsep Dasar Sistem Pendukung Keputusan 2.6.1 Pengertian Keputusan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keputusan adalah perihal yang berkaitan dengan putusan, segala putusan yang telah ditetapkan
(sesudah dipertimbangkan, dipikirkan, dan sebagainya), ketetapan, sikap terakhir (langkah yang harus dijalankan).
Sedangkan menurut Fahmi (2011), keputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, hingga kepada terbentuknya kesimpulan atau rekomendasi. Rekomendasi tersebut yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman basis dalam pengambilan keputusan.
2.6.2 Tahapan Pengambilan Keputusan
Tahapan pengambilan keputusan diperlukan untuk memudahkan dalam pengambilan keputusan supaya tercipta keputusan yang sesuai dengan harapan, Fahmi (2011) dalam buku yang berjudul Manajemen Pengambilan Keputusan: Teori dan Aplikasi, menjelaskan bahwa pengambilan keputusan diperlukan dibuat tahap-tahap yang mendorong kepada terciptanya keputusan yang diinginkan. Tahap-tahap pengambilan keputusan tersebut adalah:
1. Mendefinisikan masalah tersebut secara jelas dan gamblang, atau mudah dimengerti.
2. Membuat daftar masalah yang akan dimunculkan dan menyusunnya secara prioritas dengan maksud agar adanya sistematika yang lebih terarah dan terkendali.
3. Melakukan identifikasi dari setiap masalah tersebut dengan tujuan untuk lebih memberikan gambaran secara lebih tajam dan terarah secara spesifik.
4. Memetakan setiap masalah tersebut berdasarkan kelompoknya masing-masing yang kemudian diikuti dengan menggunakan model atau alat uji yang akan dipakai.
5. Memastikan kembali bahwa alat uji yang digunakan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang berlaku pada umumnya.
2.6.3 Pengertian SPK
Definisi klasik untuk DSS adalah sistem pendukung keputusan berbasis komputer bagi para pengambil keputusan manajemen yang menangani masalah – masalah tidak terstruktur. DSS memadukan sumber daya intelektual dari individu dengan kapabilitas komputer untuk meningkatkan kualitas komputer menurut Kreen dan Scoot Morton yang dikutip oleh (Hizqil, 2014)
Dalam bukunya Kendall & Kendall (2010) menuliskan bahwa sistem pendukung keputusan (SPK) adalah salah satu cara mengorganisir yang dimaksudkan untuk digunakan dalam membuat keputusan. Sistem pendukung keputusan dirancang sedemikian rupa untuk membantu mendukung keputusan-keputusan yang melibatkan masalah-masalah kompleks yang diformulasikan sebagai masalah-masalah semi terstruktur.
Seiring dengan kemajuan teknologi lahirlah gagasan baru terkait definisi SPK. Seperti dikutip oleh Averweg (2012) terdapat beberapa definisi SPK menurut para ahli:
1. Little, SPK adalah bentuk permodelan yang ditetapkan berdasarkan prosedur untuk pengolah data dan penilaian untuk membantu seorang manajer dalam mengambil keputusan. 2. Mann dan Watson, SPK adalah sistem interaktif yang
memberikan kemudahan akses bagi pengguna dalam pengambilan keputusan baik secara semi terstruktur maupun tidak terstruktur.
3. Sprague dan Watson, SPK sebagai sistem berbasis komputer yang membantu seorang pengambil keputusan (decision maker) dalam menghadapi permasalahan terstruktur melalui interaksi langsung dengan data dan model analisis.
4. Sauter, SPK adalah sistem berbasis komputer yang menggabungkan informasi dari berbagai sumber, membantu pengorganisasian dan menganalisis informasi, serta mengevaluasi praduga yang mendasari suatu pemodelan sistem. 5. Turban et al., SPK adalah sistem berbasis komputasi yang menggabungkan model dan data dalam upaya untuk memecahkan permasalahan semi-terstruktur dan tidak terstruktur dengan keterlibatan pengguna yang ekstensif.
Keputusan yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah dilihat dari keterstrukturan-nya bisa dibagi menjadi (Gunawan, 2012):
1. Keputusan terstruktur (structured decision), yaitu keputusan yang dilakukan secara berulang-ulang dan bersifat rutin.
Prosedur pengambilan keputusan sanggatlah jelas. Keputusan tersebut terutama dilakukan pada manajemen tingkat bawah. Misalnya, keputusan pemesanan barang dan keputusan penagihan piutang.
2. Keputusan semi terstruktur (semistructured decision), yaitu keputusan yang memiliki dua sifat. Sebagian keputusan bisa ditangani oleh komputer dan yang lain tetap harus dilakukan oleh pengambil keputusan. Prosedur dalam pengambilan keputusan tersebut secara garis besar sudah ada, tetapi ada beberapa hal yang masih memerlukan kebijakan dari pengambil keputusan. Biasanya keputusan semacam ini diambil oleh manajer level menengah dalam suatu organisasi. Misalnya, keputusan pengevaluasian kredit, keputusan penjadwalan produksi, dan keputusan pengendalian persediaan.
3. Keputusan tidak terstruktur (unstructured decision), yaitu keputusan yang penanganannya rumit karena tidak terjadi berulang-ulang atau tidak selalu terjadi. Keputusan tersebut menuntut pengalaman dan berbagai sumber yang bersifat eksternal. Keputusan tersebut umumnya terjadi pada manajemen tingkat atas. Misalnya, keputusan untuk pengembangan teknologi baru, keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain, dan keputusan perekrutan eksekutif.
2.6.4 Tujuan Sistem Pendukung Keputusan
Menurut Turban, dkk (2005) bahwa tujuan dari sistem pendukung keputusan adalah sebagai berikut:
1. Membantu manajer dalam pengambilan keputusan atas masalah semi-terstruktur.
2. Memberikan dukungan atas pertimbangan manajer dan bukannya dimaksudkan untuk menggantikan fungsi manajer. 3. Meningkatkan efektivitas keputusan yang diambil manajer lebih
daripada perbaikan efisiensinya.
4. Kecepatan komputasi. Komputer memungkinkan para pengambil keputusan untuk melakukan banyak komputasi secara cepat dengan biaya yang rendah.
5. Peningkatan produktivitas. Membangun satu kelompok pengambil keputusan, terutama para pakar, bisa sangat mahal. Pendukung terkomputerisasi bisa mengurangi ukuran kelompok dan memungkinkan para anggotanya untuk berada diberbagai lokasi yang berbeda-beda (menghemat biaya perjalanan). Selain itu, produktivitas staf pendukung (misalnya analisis keuangan dan hukum) bisa ditingkatkan. Produktivitas juga bisa ditingkatkan menggunakan peralatan optimalisasi yang menentukan cara terbaik untuk menjalankan sebuah bisnis.
2.7 Weighted Product (WP)
Metode Weighted Product merupakan suatu metode pendukung keputusan dengan cara perkalian untuk menghubungkan rating atribut, di mana rating setiap atribut harus mempunyai bobot atribut yang bersangkutan terlebih dahulu. (Kristiawan, Siswanti, & Laksito YS, 2014).
Metode Weigthed Product merupakan metode MCDM dalam pengambilan keputusan yang sederhana, dan mempunyai beberapa kelebihan dibanding metode yang lain, yaitu terdapat variabel Cost dan Benefit, yang berguna untuk menentukan kriteria yang berpengaruh terhadap keputusan, Metode ini lebih simpel dibandingkan dengan metode MCDM lainya, Perhitungannya tidak begitu kompleks, Lebih mudah dipahami.
Metode Weighted Product (WP) menggunakan perkalian untuk menghubungkan rating atribut, di mana rating setiap atribut harus dipangkatkan dulu dengan bobot atribut yang bersangkutan. Penentuan kriteria apakah merupakan keuntungan atau merupakan biaya. Apabila berupa keuntungan nilai perbaikan bobot akan bernilai positif dan biaya akan bernilai negatif.
Proses ini sama halnya dengan proses normalisasi. Preferensi untuk alternatif Si diberikan sebagai berikut:
dengan i = 1,2,…..,m; j = 1,2,…,n dan ∑wj = 1.
X : nilai kriteria, n : jumlah alternatif,
Wj : bobot kriteria, bernilai positif untuk kriteria keuntungan dan bernilai negatif untuk kriteria biaya.
Secara singkat, algoritma dari model ini adalah sebagai berikut :
1. Melakukan perbaikan bobot terlebih dahulu agar total bobot ∑wj = 1. Caranya dengan membagi nilai bobot dengan penjumlahan seluruh nilai bobot.
2. Mengalikan seluruh atribut untuk sebuah alternatif dengan bobot sebagai pangkat positif untuk atribut keuntungan dan bobot pangkat negatif pada atribut biaya disebut vektor Si.
3. Hasil perkalian dijumlahkan untuk menghasilkan nilai pada setiap alternatif
4. Melakukan pembagian antara Si dan hasil penjumlahan Si (∑Si) yang akan menghasilkan nilai referensi Vi
5. Ditemukan urutan alternatif terbaik yang akan menjadi keputusan. 2.7.1 Contoh Kasus Weighted Product
Berikut merupakan contoh kasus penerapan metode Weighted Product untuk menentukan pemilihan jurusan siswa :
1. Alternatif dan kriteria
Terdapat 2 alternatif yaitu IPA dan IPS, masing-masing alternatif dipertimbangkan dengan kriteria berbeda. Berikut kriteria yang dipertimbangkan setiap alternatifnya :
a. IPA
Tabel 2. 1 Contoh Kasus Alternatif IPA
Alternatif Kriteria IPA Fisika (C1) Biologi (C2) Kimia (C3) Matematika (C4) Ranking (C5)
Pada alternatif IPA, untuk poin kriteria Fisika, Biologi, Kimia dan Matematika, diperoleh dari nilai rapor siswa semester dua.
b. IPS
Tabel 2. 2 Contoh Kasus Alternatif IPS
Alternatif Kriteria IPS Ekonomi (C1) Sejarah (C2) Geografi (C3) Sosiologi (C4) Rangking (C5)
Pada alternatif IPS, untuk poin kriteria Ekonomi, Sejarah, Geografi dan Sosiologi, diperoleh dari nilai rapor siswa semester dua. Sedangkan poin untuk kriteria rangking dari alternatif IPA dan IPS adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 3 Contoh Kasus Kriteria Rangking
Rangking IPA IPS
1 – 10 10 5
>10 5 10
2. Bobot Kriteria
Tabel 2. 4 Contoh kasus bobot kriteria
Kriteria Bobot C1 5 C2 5 C3 3 C4 3 C5 4
3. Dilakukan penentuan kriteria apakah merupakan keuntungan atau merupakan biaya. Apabila berupa keuntungan nilai perbaikan bobot akan bernilai positif dan biaya akan bernilai negatif. Namun pada contoh kasus penentuan jurusan ini semua kriteria merupakan kriteria keuntungan dan Wj akan bernilai
positif
4. Dilakukan perbaikan bobot untuk setiap kriteria dengan cara sebagai berikut :
Di mana W adalah bobot kriteria yang sebelumnya telah ditentukan sebelumnya. Sehingga hasil dari perbaikan bobot adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 5 Contoh Kasus Perbaikan Bobot
No Nama Kriteria Bobot Perbaikan Bobot
1. C1 5 5/20 = 0.25 2. C2 5 5/20 = 0,25 3. C3 3 3/20 = 0,15 4. C4 3 3/20 = 0,15 5. C5 4 4/20 = 0,2 Jumlah 20 1
5. Didapatkan nilai untuk setiap kriterianya dari alternatif yang ada sebagai berikut :
Tabel 2. 6 Contoh Kasus Nilai Kriteria Setiap Alternatif
Alternatif Kriteria
C1 C2 C3 C4 C5
IPA 85 65 85 90 10
IPS 80 65 70 65 5
6. Menghitung nilai / skor untuk jurusan atau alternatif Ai dengan
cara berikut:
SIPA = (85 0.25)(65 0.25) (85 0.15) (90 0.15) (10 0.20) = 52,26
7. Menghitung perankingan jurusan/ alternatif yang terbaik dari tiap alternatif dengan rumus berikut :
VIPA = 52,26 / 52,26+41,45 = 52,26/93,71 = 0,56
VIPS = 41,45/ 52,26+41,45 = 41,45/93,71 = 0,44
8. Berikut ini adalah hasil skor/nilai dan perankingan yang didapat setiap kriterianya:
Tabel 2. 7 Contoh Kasus Hasil Perhitungan
Alternatif S V
IPA 52.26 0.56
IPS 41.45 0.44
9. Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai VIPA > VIPS. Jadi, alternatif (jurusan) yang terbaik adalah
VIPA (jurusan IPA)
2.8 Zakat
2.8.1 Pengertian Zakat
Menurut UU RI Nomor 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.
Zakat adalah berupa harta yang diberikan oleh seseorang (yang kaya) kepada orang-orang fakir. Harta itu disebut dengan zakat karena di dalamnya terkandung penyucian jiwa, pengembangannya dengan kebaikan dan harapan untuk mendapat berkah. Hal ini dikarenakan asal kata zakat adalah azzakah yang berarti tumbuh, suci dan berkah. (Sayyid Sabiq, 2006) 2.8.2 Dasar Hukum Zakat
Dasar hukum zakat terdapat dalam Al-Qur’an:
1. QS.Al-Baqarah (2):110 yang artinya: “Dan dirikanlah Shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.
2. QS. At-Taubah (9): 60 Yang artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
2.9 Mustahik
Menurut Undang –Undang RI No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, Mustahik adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat. Mustahik delapan ashnaf ialah fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, shabilillah, dan ibnussabil yang di dalam aplikasinya dapat meliputi orang-orang yang paling tidak berdaya secara ekonomi seperti anak yatim, orang jompo, penyandang cacat, orang yang
menuntut ilmu, pondok pesantren, anak terlantar, orang yang terlilit utang, pengungsi yang terlantar dan korban bencana alam.
Menurut Peraturan Gubernur Provinsi Banten nomor 4 tahun 2004 kedelapan golongan tersebut adalah:
1. Fakir
Orang yang tidak memiliki harta dan tidak mempunyai penghasilan layak yang memenuhi kebutuhan makan, pakaian, perumahan dan kebutuhan primer lainnya,
2. Miskin
Orang yang memiliki harta dan mempunyai harta yang layak baginya, tetapi penghasilannya belum cukup untuk keperluan minimum bagi dirinya dan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Amil Zakat
Mereka yang melaksanakan kegiatan pengumpulan dan pendayagunaan zakat termasuk administrasi pengelolaannya.
4. Mualaf
Golongan yang perlu dilunakkan hatinya kepada Islam atau untuk lebih memantapkan keyakinan kepada Islam.
5. Riqab
Pembebasan budak dan usaha menghilangkan segala bentuk perbudakan.
6. Gharimin
Gharimin adalah orang yang mempunyai hutang untuk kemaslahatan umat maupun masyarakat dalam melaksanakan ketaatan dan kebaikan. 7. Fisabilillah
Usaha dan kegiatan perorangan atau badan yang bertujuan untuk menegakkan kepentingan agama atau kemaslahatan umat.
8. Ibnu Sabil
Orang yang kehabisan bekal dalam melakukan perjalanan melintas dari satu daerah ke daerah lain demi kemaslahatan umat dan agama Islam. 2.10 Metode Pengumpulan Data
2.10.1 Observasi
Observasi (observation) merupakan teknik atau pendekatan untuk mendapatkan data primer dengan cara mengamati langsung obyek datanya. Pendekatan observasi dapat dikalsifikasikan ke dalam observasi perilaku (behavioral observation) dan observasi non-perilaku (non-behavioral observation) (Jogiyanto, HM, 2005).
2.10.2 Wawancara
Wawancara (interview) telah diakui sebagai teknik pengumpulan data/ fakta (fact finding Technique) yang penting dan banyak dilakukan dalam pengembangan sistem informasi. Wawancara memungkinkan analis sistem sebagai pewawancara (interviewer) untuk mengumpulkan data secara tatap muka langsung dengan orang yang diwawancarai (interview) (Jogiyanto, 2005).
2.10.3 Studi Pustaka
Menurut Zed (2008) Studi Pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.
2.10.4 Studi Literatur
Studi literatur merupakan salah satu kegiatan memperoleh informasi dari penelitian terdahulu, menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun (Nazir, 2005).
2.11 Metode Pengembangan Sistem 2.11.1 SDLC
SDLC atau Software Development Life Cycle atau sering disebut juga System Development Life Cycle adalah proses mengembangkan atau mengubah suatu sistem perangkat lunak dengan menggunakan model-model dan metodologi yang digunakan orang untuk mengembangkan sistem-sistem perangkat lunak sebelumnya.
SDLC memiliki beberapa model dalam penerapan tahapan prosesnya, antara lain: Model Waterfall, Model Prototype, Model Rapid Application Development (RAD), Model Iteratif, dan Model Spiral. Pada penelitian skripsi ini, penulis menggunakan Model Rapid Application Development sebagai model proses pengembangan perangkat lunaknya (Rosa & Shalahuddin, 2011).
2.11.2 RAD
RAD (Rapid Aplication Development) adalah suatu pendekatan berorientasi objek terhadap pengembangan sistem yang mencakup suatu metode pengembangan perangkat lunak. Pada RAD terdapat tiga fase dalam pengembangan sistem (Kendall & Kendall, 2010).
1. Fase Perencanaan syarat
Pada fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan sistem serta untuk mengidentifikasi syarat-syarat informasi yang ditimbulkan dari tujuan tersebut. Fase ini memerlukan peran aktif baik dari pengguna maupun penganalisis. Orientasi dari fase ini ialah menyelesaikan masalah-masalah perusahaan dan fokusnya akan selalu pada upaya pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.
2. Workshop Desain
Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai workshop. Dalam fase ini penganalisis dan pemrogram dapat bekerja membangun dan menunjukkan representasi visual desain dan pola kerja kepada pengguna. Selama workshop desain, pengguna merespons working prototype yang dan penganalisis memperbaiki modul-modul yang dirancang berdasarkan tanggapan pengguna.
3. Fase Implementasi
Pada fase implementasi, penganalisis bekerja dengan para pengguna secara intens selama workshop untuk merancang aspek-aspek bisnis dari perusahaan. Setelah aspek-aspek-aspek-aspek ini disetujui dan sistem-sistem dibangun dan dikaji kembali, sistem-sistem baru atau bagian dari sistem diuji coba dan kemudian diperkenalkan kepada organisasi.
2.11.3 Perbandingan Metode Pengembangan Sistem
Tabel 2. 8 Perbandingan Metode Pengembangan Sistem
Metode Penjelasan Kelebihan Kekurangan
1. Agile software development
Metode dari beberapa kumpulan prinsip untuk pengembangan software di mana persyaratan dan solusi melalui upaya kolaboratif dari antar tim fungsional dan klien Ini sebagai pendukung
perencanaan adaptif,
perkembangan evolusi, awal pengiriman, dan perbaikan terus-menerus, dan itu mendorong respons yang cepat dan fleksibel untuk diubah.
1. Meningkatkan kepuasan kepada klien.
2. Pembangunan sistem dibuat lebih cepat.
3. Mengurangi risiko kegagalan implementasi software dari segi non-teknis.
4. Jika pada saat pembangunan sistem terjadi kegagalan, kerugian dar segi materi relatif kecil.
1. Developer harus selalu siap dengan perubahan karena perubahan akan selalu diterima.
2. Total lama pengembangan menjadi lebih lama.
3. Proses pengembangan menjadi agak kurang terorganisir.
4. Meningkatkan risiko kesalahan teknis.
2. Dynamic Systems Development Methodology
Merupakan pengembangan tahap lanjut dari metode Rapid Application Development (RAD) yang sangat menerapkan metode inkremental dan interaktif. metode ini sangat ideal digunakan ketika suatu software dituntut untuk sangat fokus dan mementingkan tampilan yang mudah dan aspek kegunaan yang baik dari produk tersebut.
1. Menyajikan kerangka kerja
(framework) untuk
membangun dan memelihara sistem dalam waktu yang terbatas melalui penggunaan prototyping yang inkremental dalam lingkungan yang terkondisikan.
2. Membangun software dengan cepat.
3. DSDM dapat dikombinasikan dengan XP menghasilkan kombinasi model proses yang mengikuti DSDM dan praktik yang sejalan dengan XP.
1. Setiap iterasi bergantung pada prototype sebelumnya. 2. Menentukan scope dari
suatu prototype proyek tidak pernah selesai.
3. Dokumentasi sering kali tidak lengkap fokus pada pembuatan prototype.
4. Isu-isu mengenai system backupand recovery, system performance dan system security kurang/tidak
diperhatikan dan sering terlupakan.
3. Extreme
Programming (XP)
Merupakan salah satu metodologi dalam rekayasa perangkat lunak dan juga merupakan satu dari beberapa
1. Meningkatkan kepuasan kepada klien
2. Pembangunan sistem dibuat lebih cepat
1. Cerita-cerita yang menunjukkan requirements dari pelanggan kemungkinan besar tidak lengkap sehingga
agile software development methodologies yang berfokus pada coding sebagai aktivitas utama disemua tahap pada siklus pengembangan perangkat lunak (software development lifecycle). Metodologi ini mengedepankan proses pengembangan yang lebih responsif terhadap kebutuhan customer (”agile”) dibandingkan
dengan metode-metode
tradisional sambil membangun suatu software dengan kualitas yang lebih baik.
3. Menjalin komunikasi yang baik dengan klien.
4. Meningkatkan komunikasi dan sifat saling menghargai antar developer.
Developer harus selalu siap dengan perubahan karena perubahan akan selalu diterima.
2. Tidak bisa membuat kode yang detail di awal (prinsip simplicity dan juga anjuran untuk melakukan apa yang diperlukan hari itu juga). 3. XP tidak memiliki
dokumentasi formal yang
dibuat selama
pengembangan. Satu-satunya
dokumentasi adalah
dokumentasi awal yang dilakukan oleh user.
4. SCRUM Metode yang mengatur (manage) proses pembuatan software. Scrum merupakan suatu kerangka kerja. Jadi, bukannya menyediakan deskripsi rinci tentang bagaimana segala sesuatu yang harus dilakukan pada proyek seperti diserahkan kepada tim pengembangan perangkat lunak pada umumnya.
1. Keperluan berubah dengan cepat.
2. Tim berukuran kecil sehingga melancarkan komunikasi, mengurangi biaya dan memberdayakan satu sama lain.
3. Pekerjaan terbagi-bagi sehingga dapat diselesaikan dengan cepat.
4. Dokumentasi dan pengujian terus menerus dilakukan setelah software dibangun. 5. Proses Scrum mampu
menyatakan bahwa produk selesai kapan pun diperlukan.
1. Developer harus selalu siap dengan perubahan karena perubahan akan selalu diterima.
2.12 Konsep UML
UML (Unified Modelling Language) adalah ‘bahasa’ permodelan untuk sistem atau perangkat lunak yang berparadigma ‘berorientasi objek’. Permodelan sesungguhnya digunakan untuk penyederhanaan permasalahan-permasalahan yang kompleks sedemikian rupa sehingga lebih mudah dipelajari dan dipahami (Nugroho, 2009). UML (Unified Modelling Language) adalah salah satu standar bahasa yang banyak digunakan di dunia industri untuk mendefinisikan requirement, membuat analisis & desain, serta menggambarkan arsitektur dalam pemrograman berorientasi objek (Rosa & Shalahuddin, 2014).
Sedangkan menurut (Sugiarti, 2013) UML adalah sebuah bahasa yang menjadi standar dalam industri visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem piranti lunak. UML menawarkan sebuah standar untuk merancang model sebuah sistem.
Beberapa diagram UML yang peneliti gunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:
2.12.1 Use Case Diagram
Use Case diagram merupakan permodelan untuk menggambarkan kelakuan (behavior) sistem yang akan dibuat. Diagram use case mendeskripsikan sebuah interaksi antara satu atau lebih aktor dengan sistem yang akan dibuat, seperti contoh gambar 2.1. Diagram use case digunakan untuk mengetahui fungsi apa saja yang ada di dalam sebuah sistem dan siapa saja yang berhak menggunakan fungsi-fungsi tersebut (Sugiarti, 2013).
Gambar 2. 1 Use Case Diagram (Sumber : (Sugiarti, 2013)) 2.12.2 Activity Diagram
Dengan aktivitas atau activity diagram menggambarkan workflow (aliran kerja) atau aktivitas dari sebuah sistem atau proses bisnis, seperti contoh gambar 2.2 Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa diagram aktivitas menggambarkan aktivitas sistem bukan apa yang dilakukan aktor, jadi aktivitas yang dapat dilakukan oleh sistem.
2.12.2 Sequence Diagram
Diagram sequence menggambarkan kelakuan objek pada use case dengan mendeskripsikan waktu objek dan message yang dikirimkan dan diterima antar objek. Oleh karena itu, untuk menggambarkan diagram sequence maka harus diketahui objek-objek yang terlibat dalam sebuah use case beserta metode-metode yang dimiliki kelas yang diinstansiasi menjadi objek itu, seperti contoh gambar 2.3 (Rosa & Shalahuddin, 2014).
Gambar 2. 3 Sequence Diagram Cetak Kwitansi Pembayaran Tiket
2.12.3 Class Diagram
Diagram kelas atau class diagram menggambarkan struktur sistem dari segi pendefinisian kelas-kelas yang akan dibuat dalam membangun sistem. Diagram kelas mendeskripsikan jenis-jenis objek dalam sistem dan berbagai hubungan statis yang terdapat di antara mereka. Diagram kelas juga menunjukkan property dan operasi sebuah kelas dan batasan-batasan
yang terdapat dalam hubungan-hubungan objek tersebut, seperti contoh gambar 2.4 (Sugiarti, 2013).
Gambar 2. 4 Class Diagram (Sumber : (Sugiarti, 2013)) 2.13 Unsur-Unsur Dalam Perancangan Sistem
2.13.1 Web Browser
Web browser merupakan program yang berfungsi untuk menampilkan dokumen-dokumen web dalam format HTML. Bagaimana halaman web yang dibuat ditampilkan sangat tergantung pada web engine yang digunakan oleh masing-masing browser. Semua jenis web browser yang ada saat ini mengikuti standarisasi yang dibuat oleh World Wide Web Consortium (W3C) yang merupakan badan independen yang mengurus semua hal yang berkaitan dengan web di dunia (Arief, 2011).
2.13.2 HTML
HTML atau HyperText Markup Language merupakan salah satu format yang digunakan dalam pembuatan dokumen dan aplikasi yang berjalan di halaman web. Dokumen ini dikenal sebagai webpage. Dokumen HTML merupakan dokumen yang disajikan pada webbrowser (Arief, 2011).