• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODAL SOSIAL DAN KETAHANAN EKONOMI OJEK PANGKALAN (Studi Kasus: Ojek Pangkalan Salemba di Salemba Raya Jakarta Pusat)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODAL SOSIAL DAN KETAHANAN EKONOMI OJEK PANGKALAN (Studi Kasus: Ojek Pangkalan Salemba di Salemba Raya Jakarta Pusat)"

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)

MODAL SOSIAL DAN KETAHANAN EKONOMI

OJEK PANGKALAN

(Studi Kasus: Ojek Pangkalan Salemba di Salemba Raya

Jakarta Pusat)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi

Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

RUSYDAN FATHY

NIM: 1112111000001

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

MOI}AL

SOSIAL

DAI\[

KETAHANAI\T

EKONOMI

OJEKPANGKALAN

(Studi Kasus: Ojek Pangkalan Salemba

di Salemba Raya

Jakarta

Pusat)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas IImu sosial dan Ilmu potitik untuk Memenuhi Pemyaraan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

RUSYDA}IFATTry

NIM:

1112111000001

Di

bawah

bimbingan:

RR

SATM SHAKUNTALA, M.SI

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

TAKULTAS

ILMU SOSIAL DAN

ILMU POLITIK

I.]NTVERSIITAS

ISLAM IIEGERI'SYARI}'

HIDAYATT]LLAII

JAKART^A.

1438H

t2017:]M

(3)

PERI{YATAAN

BEBAS

PLAGIARISME

Skripsi yangberjudul :

MODAL

SOSIAL

DAN KETAHANAN EKONOMI OJEK PANGKALAN

(STUDI

KASUS:

OJEK PANGKALAN SALEMBA

DI

SALEMBA RAYA

JAKARTA

PUSAT)

Merupakan

karya

asli

saya

yang

diajukan

untuk memenuhi

salah

satu

persyaratan memperoleh

gelar

Strata

I

di

Universitas Islam

Negeri

(UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan

ini

telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri

(UIN)

Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya

ini

bukan hasil karya asli saya atau merupakan

hasil

jiplakan dari karya

orang

lain,

maka

saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku

di

Universitas

Islam

Negeri

(UIN)

Syarif

Hidayatullah Jakarta. Jakarta

22

Febrvar,2017 1. 2. J. Rusydan

Fathy

(4)

PERSETUJUAIY

PEMBIMBING

SKRIPSI

Dengm ini, Pe,mbimbing Skripsi menyatakm bahwa mahasisra:

Telah menyelesaikm perrulism skripsi dengan judul:

MODAL

SOSIAL

DAIY KETAHANAI{ EKONOIUI OJEK

PANGKAI,AIY

(STIlIx

KA$US:

OJ0K

PAITTGKALAI{

SALBMBA

DI

SALEMBA

RAYA

JAKARTA

PUSAI)

dan telah memenuhi persyaratm untuk diuji.

Nama

NIM

ProgramStudi Mengetatrui,

Kefinhogrm

Studi : RnsydanFathy :1112111000001 : Sosiologi Jakart4

zzfetxt$rLz0l1

Menyetujui, Pe,mbrimbing 111 Ur. Crlcu

ltu*apti,

lvl

Si.

NIP: 1976091 82003 122008

(5)

PENGESAHAN

PATITIIA UJIAN

SKRIPSI

SKRIP$

MODAL

SOSIAL

DAI\I

KETAIIANATI EKONOMI

OJEKPAI\tGKALAN

(STUDI KASUS: OJEK PAI\GKAI,AI\T

SALEMBA

DI

SALEMBA

RAYA

JAKARTA

PUSAT}

oleh

RusydanFathy

t I

t2tl

1000001

telah dipertahankan dalam sidang ujian slaipsi di Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmupolitik

Universitas Islam Negeri

Slarif

Hida)ratullah Jakarta

Fda

tanggal

7 Mad,20l7.

Slaipsi

ini

telah dit€rima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada hogram Strdi Sosiologi.

Penguji

II

Saifidi

NIP:

197719012009121001

Dterima dan diqatakan memeruhi syarat kelulusan pada tanggal 7 Ketua Pnogram Studi Sosiologi,

FISIPIJINJakafia

l'\il

Dr. Cuct Ntirhafati, M.Si

NIP:

197609182ffi3I22W3

lv

(6)

v

ABSTRAK

Skripsi ini menganalisa modal sosial dan ketahanan ekonomi Ojek Pangkalan

Salemba (OPS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan latar belakang

terbentuknya modal sosial OPS serta mendeskripsikan peran modal sosial dalam

menciptakan ketahanan ekonomi yang baik bagi OPS. Pengumpulan data dilakukan

melalui teknik dokumen, observasi dan wawancara. Data diolah dan dianalisa

melalui teknik tiga tahap penyandian data: penyandian terbuka, penyandian aksial

dan penyandian selektif. Argumen dirumuskan melalui analisa dengan

menggunakan teori modal sosial sebagai kerangka berpikir utama.

Dari hasil analisa peneliti menemukan bahwa norma dalam OPS (sistem

antrian, penumpang milik bersama, tawar-menawar, musyawarah, keselamatan dan

kenyamanan penumpang dan ojek online boleh nongkrong tapi jangan ngambil

penumpang sembarangan) terbentuk karena adanya nilai-nilai (kekeluargaan,

persaudaraan, kejujuran, kesabaran, rasa syukur dan toleransi) yang dipegang teguh

bersama. Jaringan (bonding social capital: kesamaan suku, tempat tinggal dan

nasib; bridging social capital: terhadap kepolisian setempat, ojek online, organisasi

sosial keagamaan dan penumpang) OPS terbentuk karena terdapat titik temu

nilai-norma bersama serta adanya kerjasama. Kerja sama tersebut dapat diciptakan

dengan adanya identitas bersama serta norma timbal balik. Kepercayaan dalam OPS

terebentuk secara otomatis beriringan dengan pembentukan norma dan jaringan.

Selanjutnya, norma OPS berperan dalam menumbuhkan kebajikan-kebajikan

sosial (loyalitas, kerukunan, keakraban dan keterbukaan). Bonding social capital

OPS berperan dalam mempererat kerja sama antar anggota. Bridging social capital

berperan dalam memperluas kerja sama antara OPS dengan orang lain di luar

komunitas mereka. Kepercayaan berperan sebagai pelumas yang memuluskan

hubungan dan aktifitas yang dilakukan OPS. Akhirnya peneliti menyimpulkan

bahwa OPS sebagai komunitas ojek pangkalan memiliki ketahanan ekonomi yang

baik di tengah perubahan, persaingan dan keterbatasan. Modal sosial OPS – norma,

jaringan dan kepercayaan – melalui tahapan atau proses pembentukan yang

berlangsung terus-menerus, memiliki manfaat dalam menciptakan ketahanan

ekonomi yang baik bagi mereka.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji dan syukur penulis panjatkan

kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.

Berkat keridhoan-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul: MODAL SOSIAL DAN KETAHANAN EKONOMI OJEK

PANGKALAN (STUDI KASUS: OJEK PANGKALAN SALEMBA DI

SALEMBA RAYA JAKARTA PUSAT). Shalawat serta salam penulis curahkan

kepada junjungan kita, Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para

sahabatnya. Semoga para ummatnya mampu menyambut tongkat estafet

perjuangan yang beliau sampaikan melalui agama Islam.

Untuk yang teristimewa, Abi dan Umi, Ubaydillah Maimun, S.E. dan Siti

Rohimah. Terima kasih telah memberikan segala bentuk dukungan bagi penulis.

Semoga Abi dan Umi senantiasa dimurahkan rezeki dan dilimpahkan nikmat sehat

wal’afiat, amin. Untuk adik-adik tersayang, Syarifah Muthmainnah dan Tafrijiyyah

Hasanah. Terima kasih atas segala dukungannya selama ini. Semoga kalian mampu

melebihi pencapaian penulis, amin.

Skripsi ini dapat diselesaikan oleh penulis juga berkat bantuan dan dukungan

dari berbagai pihak. Untuk itulah dengan segenap kerendahan dan ketulusan hati,

izinkan penulis menyampaikan untaian-untaian terima kasih sebagai bentuk

apresiasi kepada:

(8)

vii

1. Bapak Prof. Dr. Zulkifli, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik (FISIP), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si., selaku Ketua Program Studi Sosiologi FISIP

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Husnul Khitam, M.Si., selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi FISIP

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Rr. Satiti Shakuntala, M.Si., selaku dosen pembimbing penulisan skripsi

ini, berkat ketelitian, kesabaran dan keikhlasannya penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas waktu, tenaga dan pikiran yang

telah beliau berikan.

5. Seluruh Jajaran Dosen Program Studi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta. Terima kasih atas pengetahuan yang telah ditransmisikan, baik secara

teori dan metodologi maupun secara motivasi dan inspirasi.

6. Para staff pengurus Bidang Akademik dan Bidang Administrasi FISIP UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta. Terima kasih karena telah mempermudah penulis

dalam kepengurusan administrasi.

7. Pimpinan dan Staff Perpustakaan Utama dan Perpustakaan FISIP UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta. Terimakasih telah menyediakan beragam rujukan yang

bermanfaat.

8. Segenap anggota komunitas Ojek Pangkalan Salemba (OPS). Terima kasih atas

sambutan hangat dan kesediaannya berbagi apa yang dibutuhkan penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

(9)

viii

9. Kawan-Kawan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, para senior maupun

junior yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu. Tanpa

mengurangi rasa bangga penulis mengucapkan terima kasih atas identitas

pertemanan yang kita ciptakan.

10. Kawan-Kawan Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan

2012, Galih, Alby, Ojay, Doyok, Reja, Suki, Lukman, Tegar, Faizal, Arip,

Raka, Runi, Rahmi, Ara, Aul, Ayu Ros, Ayu Fitri, Ella, Yuni, Elita, Divya,

Mega, Neneng, Anisya Bela, Ismi, Irma, Ina, Kiki, Gopay, Reja, Cuplik,

Ichsan, Hanip, Hartadi, Dwi, Fajrul, Embe, Ucok, Roby, Rifki, Fathur, Abun,

Yossy, Dayu, Fala, Anis, Mita, Ratu, dan lain-lain. Terima kasih karena telah

menjadi tandem berjuang yang akan selalu penulis kenang.

11. Kawan-Kawan KKN LENTERA 2015, Dwi, Isti, Eryan, Rahma, Zainal, Jufri,

Qoleb, Lilis, Ziah, Nanda, dan Tia. Sukses terus untuk kalian.

12. Kawan-Kawan Kajian Sosiologi (KASOGI) mulai dari para founding father

sampai angkatan kontemporer yang tidak dapat penulis sebutkan namanya

satu-persatu. Tanpa mengurangi rasa bangga penulis mengucapkan terima

kasih telah menjadi wadah kedua pentransmisian nilai akademis bagi penulis.

13. Kanda-Yunda HMI KOMFISIP Cabang Ciputat yang tidak dapat penulis

sebutkan namanya satu-persatu. Tanpa mengurangi rasa bangga penulis

mengucapkan terima kasih. Semoga kita berjaya, amin.

14. Tanpa maksud membeda-bedakan, untuk para manusia yang bernama Gopay,

Wota, Faisal Asadi, Hanip, Rafly, Aldo, Imam, Hasan, Doddy, Oka dan

teman-teman lain yang merasa dekat dengan penulis. Pokoknya terima kasih.

(10)

ix

15. Tanpa maksud membeda-bedakan, untuk Abangda Ikhsan Fajri, Abangda

Wirawan Muhammad, Abangda Sulaiman, Abangda Ulumudin, Abangda

Egits, Abangda Ali Imron, Abangda Haiqal, Abangda Yusup Aminudin,

Abangda Ali Wafa serta Abangda-Abangda yang lain. Terima kasih arahannya

senior, kalian luar biasa.

16. Tanpa maksud membeda-bedakan, untuk sahabat setia, Muhammad Keissar,

Septian Saputra dan Januar Hasdi. Terima kasih atas loyalitasnya. Semoga

persahabatan kita kekal abadi, amin.

Demikian untaian-untaian terima kasih penulis sampaikan, semoga segala

bentuk perbuatan yang mencerminkan nilai kebaikan dan kebenaran akan

mendapatkan balasan. Akhirnya, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan

manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan keluarga besar civitas akademika

sosiologi pada khususnya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, 22 Februari 2017

(11)

x

DAFTAR ISI

ABSTRAK... v

KATA PENGANTAR... vi

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xiv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Pernyataan Masalah... 1

B. Pertanyaan Penelitian... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 7

D. Tinjauan Pustaka... 9

E. Kerangka Teoritis... 13

F. Metodologi Penelitian... 21

G. Sistematika Penulisan... 27

BAB II OJEK PANGKALAN SALEMBA... 28

A. Letak Geografis Ojek Pangkalan Salemba... 28

B. Sejarah Berdirinya Ojek Pangkalan Salemba... 34

C. Operasional Ojek Pangkalan Salemba... 43

BAB III MODAL SOSIAL DAN KETAHANAN EKONOMI

OJEK PANGKALAN SALEMBA (OPS)... 47

A. Latar Belakang Terbentuknya Modal Sosial OPS... 47

1. Nilai dan Norma... 47

(12)

xi

b. Norma sebagai Pra Kondisi Kepercayaan... 53

2. Jaringan... 56

a. Pada Mulanya Menciptakan Identitas Bersama... 57

b. Norma Timbal Balik... 60

3. Kepercayaan... 65

a. Kepercayaan Diciptakan oleh Norma Bersama... 66

b. Kepercayaan Menciptakan Norma Bersama... 69

B. Peran Modal Sosial bagi Ketahanan Ekonomi OPS... 72

1. Nilai dan Norma... 73

a. Beberapa Bentuk Norma Informal OPS... 73

b. Norma Informal Melahirkan Kebajikan Sosial... 84

2. Jaringan... 88

a. Mempererat Kerja Sama... 89

b. Memperluas Kerja Sama... 92

3. Kepercayaan... 96

a. Kepercayaan Tinggi antar Anggota... 97

b. Kepercayaan Tinggi terhadap Orang Lain... 98

c. Kepercayaan Tinggi dan Implikasinya bagi

Ketahanan Ekonomi OPS... 103

BAB IV PENUTUP... 107

A. Kesimpulan... 107

B. Saran-Saran... 109

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel I.A1 Bentuk Penolakan Ojek Pangkalan terhadap

Ojek Online... 3

Tabel I.D.1 Tinjauan Pustaka... 12

Tabel I.G.2.1 Profil Informan... 23

Tabel II.B.1 Profil Anggota OPS... 39

Tabel III.A.1.a Terbentuknya Norma OPS... 53

Tabel III.A.2.b Terbentuknya Jaringan dan Kerja Sama OPS... 65

Tabel III.B.3.b Peran Modal Sosial OPS bagi Ketahanan

Ekonomi... 106

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar I.D.1 Pemetaan Penelitian Terdahulu... 11

Gambar I.E1.1 Level Modal Sosial Coleman dan Putnam... 15

Gambar I.E.2.1 Jagat Norma... 16

Gambar I.E2.2 Unsur Modal Sosial... 20

Gambar II.A.1 Jalan Salemba Raya... 29

Gambar II.A.2 Sekretariat GMKI... 30

Gambar II.A.3 Pangkalan OPS... 30

Gambar II.A.4 Jalan Salemba Bluntas... 33

Gambar II.B.1 Informan S... 34

Gambar III.B.1.a.1 Coretan Absen dalam Sistem Antrian... 76

Gambar III.B.2.b.1 Kartu Anggota Perhimpunan

Ojek Kamtibnas Polsek Senen... 93

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara... xv

Lampiran 2 Transkrip Wawancara... xvi

Lampiran 3 Matriks Open Coding... xlvii

Lampiran 4 Matriks Axial Coding... xlix

Lampiran 5 Matriks Selectiv Coding... lxxi

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

Skripsi ini secara umum membahas peran modal sosial dengan

mengambil studi pada Ojek Pangkalan Salemba (OPS) di Salemba Raya,

Jakarta Pusat. Secara khusus, skripsi ini mendeskripsikan latar belakang

terbentuknya modal sosial OPS dan perannya bagi ketahanan ekonomi OPS

di Salemba Raya, Jakarta Pusat di tengah-tengah maraknya ojek berbasis

aplikasi – online.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak dapat dielakkan

oleh masyarakat. Masyarakat harus menyesuaikan diri – beradaptasi dengan

kemajuan teknologi. Sementara itu di Indonesia, pemanfaatan teknologi telah

memberikan manfaat pada sektor jasa transportasi. Hal itu kini berimplikasi

pada sektor jasa transportasi ojek di Indonesia. Moda transportasi ojek

berbasis aplikasi (ojek online) telah menggeser moda transportasi ojek

konvensional (ojek pangkalan) dalam hal mendapatkan penumpang.

Jasa transportasi ojek online saat ini lebih diminati ketimbang ojek

pangkalan. Seperti yang diutarakan oleh Direktur Jendral Perhubungan Darat,

Djoko Sasono bahwa ojek online digemari masyarakat karena memenuhi dua

prinsip: biaya murah dan kepastian (Aditiasari, Kemenhub: Masyarakat

Senang Pakai Ojek Digital Meski Rawan Kecelakaan, diakses dari

(17)

http://www.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-3053278/kemenhub-2

masyarakat-senang-pakai-ojek-digital-meski-rawan-kecelakaan).

Pada

dasarnya, ada tiga pilar utama yang membuat ojek online menggeser

keberadaan ojek pangkalan: keamanan, kepastian dan kecepatan (3

Kekurangan dan 4 Kelebihan Dari Jasa Ojek Online, diakses dari

http://www.ojekindonesia.net/2016/10/kekurangan-dan-kelebihan-dari-jasa-ojek.html?=1).

Di sisi lain, banyak ojek pangkalan yang membubarkan dirinya karena

tidak mampu bersaing dengan ojek online. Selain itu, beberapa ojek

pangkalan yang masih bertahan justru tidak menunjukkan hal-hal positif.

Pemberitaan diwarnai dengan perilaku kejahatan berujung kekerasan oleh

tukang ojek pangkalan terhadap pengemudi ojek online (Antara, Lagi

Pengemudi

Go-Jek

Diamuk

Tukang

Ojek,

diakses

dari

http://wartakota.tribunnews.com/2015/10/31/lagi-pengemudi-go-jek-diamuk-tukang-ojek).

(18)

3

Tabel I.A.1. Bentuk Penolakan Ojek Pangkalan terhadap Ojek Online

No

Lokasi

Kasus

Tahun

Sumber

1.

Gambir

(Jakarta Pusat),

Manggarai

(Jakarta

Selatan)

Pengusiran

paksa

ojek

online

yang

menurunkan

penumpang

dekat stasiun

2015

Larasati, Rawan Dijalan,

Driver Ojek Online

Gunakan Siasat Ini, diakses

dari

http://bisnispost.com/news/

megapolitan/2015/08/27/ra

wan-dijalan-driver-ojek-online-gunakan-siasat-ini.

2.

Kelapa Gading

(Jakarta Utara),

Kalibata City

(Jakarta

Selatan)

Memasang

spanduk yang

berisi larangan

bagi

ojek

online

untuk

melintasi

daerah tersebut

2015

Armindya

dan

Siregar,

Gojek Ditolak, Pengemudi

Grab Bike Ini Aman-Aman

Saja,

diakses

dari

http://tempo.co/read/news/2

015/07/10/083682733/goje

k-ditolak-pengemudi-grabbike

-ini-aman-aman-saja

3.

Tebet (Jakarta

Selatan)

Bentrokan

fisik

antara

ojek pangkalan

dengan

ojek

online

2016

Fauzy, Kronologi Bentrok

Grab Bike dengan Ojek

Pangkalan di Tebet, diakses

dari

http://okezone.com/read/20

16/02/04/338/1304899/kron

ologi-bentrok-grabbike-

dengan-ojek-pangkalan-di-tebet

4.

Kebayoran

Lama (Jakarta

Selatan)

Penganiayaan

(pemukulan)

terhadap ojek

online

2016

Ronald, Dituding Ambil

Penumpang, Driver Ojek

Online

Dipukul

Ojek

Pangkalan, diakses dari

http://merdeka.com/tag/p/m

atcont-

penganiayaan/dituding-

ambil-penumpang-

pengemudi-ojek-online-

dipukul-ojek-pangkalan.html

5.

Palembang

Pengeroyokan

terhadap ojek

online

2017

Haryanto,

Tarik

Penumpang,

Pengemudi

Ojek Online Opang, diakses

dari

http://daerah.sindonews.co

m/read/1173853/190/tarik-

penumpang-pengemudi-

ojek-online-dikeroyok-opang-1485264807

(19)

4

Citra ojek pangkalan semakin buruk ditambah dengan permasalahan

sistem pengelolaan mereka, misalnya penetapan tarif. Terdapat perbedaan

tarif yang signifikan antara ojek pangkalan dengan ojek online. Feby seorang

pengguna jasa ojek online mengatakan, “Dari Senayan hingga Jalan Abdul

Muis, Saya bisa cuma bayar 28 ribu, kalau ojek pangkalan pasti nembak

(harga) minimal 40 ribu”. (Yudhistira, Go-Jek: Antara Pangkalan dan Waktu

Luang, diakses dari

http://katadata.co.id/telaah/2015/07/28/go-jek-antara-pangkalan-dan-waktu-luang).

Bertolak belakang dengan hal itu, ternyata masih ada komunitas ojek

pangkalan yang mampu bertahan tanpa harus melakukan

perbuatan-perbuatan seperti dijelaskan di atas. Ojek Pangkalan Salemba (OPS) di

Salemba Raya, Jakarta Pusat, merupakan salah satu ojek pangkalan yang

bertahan di tengah-tengah keberadaan ojek online. Mereka memiliki

penumpang yang tetap percaya menggunakan jasa mereka. Bagaimana

kepercayaan itu tetap ada tidak terlepas dari bagaimana jaringan atau

hubungan dibangun di atas komitmen terhadap norma-norma yang dipegang

teguh bersama. Hal ini menunjukkan bahwa memang diperlukan modal dalam

bentuk lain yang berguna untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang baik

bagi ojek pangkalan.

Beberapa pemberitaan menjadi bukti dan mendukung asumsi peneliti –

bahwa modal sosial berperan bagi ketahanan ekonomi ojek pangkalan.

Misalnya Rahmat, seorang tukang ojek pangkalan di bilangan Rawamangun,

Jakarta Timur, menuturkan, “Saya hanya bisa berdoa dan bersikap ramah

(20)

5

kepada pelanggan”. (Sari, Ini Pesan Tukang Ojek Pangkalan ke Gojek Saat

Ambil Penumpang, diakses dari

http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-pesan-tukang-ojek-pangkalan-ke-gojek-saat-ambil-penumpang.html).

Selanjutnya, ojek pangkalan di Kiaracondong, Bandung, memiliki spanduk

yang bertuliskan, “Pangkalan Ojek Zamov, Jalur Bebas, Semua Jenis Ojek

Silahkan Masuk, Rejeki Sudah Ada Yang Ngatur”. (Wahidi, Pangkalan Ojek

Zamov:

Rejeki

Sudah

Ada

yang

Ngatur,

diakses

dari

http://www.radarempoa.com/2015/09/pangkalan-ojek-zamov-rejeki-sudah-ada-yang-ngatur.html). Ojek pangkalan sejatinya memiliki keunggulan

tersendiri dibandingkan dengan ojek online. Misalnya sebagaimana

dituturkan oleh pengguna jasa ojek pangkalan, Dwi Ayu, “Enakan naik abang

ojek (pangkalan), enak diajak ngobrol dan tahu jalan, kalau Grab Bike,

patokan jalannya suka salah padahal sudah diberitahu arahnya”. (Sari, Celah

Ojek Pangkalan Ungguli Layanan Go-Jek dan Grab Bike, diakses dari

http://www.merdeka.com/jakarta/celah-ojek-pangkalan-ungguli-layanan-go-jek-dan-grabbike.html).

Berangkat dari realitas tersebut, maka peneliti tertarik untuk

mendeskripsikan lebih dalam peran modal sosial OPS di Salemba Raya,

Jakarta Pusat bagi ketahanan ekonomi mereka. Sebagaimana telah dijelaskan,

banyaknya ojek pangkalan yang membubarkan diri juga disebabkan oleh

faktor internal – buruknya sistem pengelolaan mereka. OPS diduga peneliti

memanfaatkan modal sosial terkait dengan sistem pengelolaannya bagi

(21)

6

ketahanan ekonomi mereka. Terlepas dari penurunan jumlah penumpang,

tetapi OPS tetap masih ada sampai saat ini.

Sementara itu, beberapa ojek pangkalan yang dulunya berada di sekitar

kawasan ini tidak memiliki sistem pengelolaan yang baik – dibuktikan dengan

ketidakmampuan mereka untuk bertahan. Terkait hal ini J menceritakan,

“Rebut-rebutan penumpang kaya di opang laen yang pade bubar tuh... Dulu

tuh di Carolus ojeknye berebutan tunjuk-tunjuk.” (Wawancara dengan J,

Jakarta 4 Januari 2017). Beberapa ojek pangkalan memilih membubarkan

diri. Beberapa tukang ojek pangkalan akhirnya bekerja seacara individual

tanpa tergabung dengan komunitas ojek pangkalan. S mengungkapkan,

“Banyak juga... tapi yang bertahan kita doang satu. Sampe Opang Salemba

terdaftar jadi paguyuban nih.” (Wawancara dengan Informan S, Jakarta, 3

Oktober 2016).

Perbedaan karakter antara OPS dengan ojek pangkalan lain (yang telah

membubarkan diri) di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, menjadi alasan

khusus dilakukannya penelitian ini. Lebih jauh, langkanya studi-studi

sosiologi yang menjelaskan ketahanan ekonomi ojek pangkalan tentu sangat

disayangkan, mengingat transformasi jasa transportasi ojek di Indonesia

merupakan hal baru. Selain itu, transportasi memiliki dimensi sosial yang

penting untuk dikaji (Usman, 2015). “Faktanya masih sedikit sekali

studi-studi sosiologi terkait hal ini, karena masalah transportasi hanya bagian dari

masalah perkotan di dalam literatur sosiologi” (Usman, 2015: 31).

(22)

7

Dari latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan, maka

penelitian mengenai peran modal sosial bagi ketahanan ekonomi ojek

pangkalan merupakan hal yang menarik dan penting untuk dilakukan. Untuk

itulah skripsi ini berjudul “Modal Sosial dan Ketahanan Ekonomi Ojek

Pangkalan (Studi Kasus: Ojek Pangkalan Salemba di Salemba Raya,

Jakarta Pusat)”.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan pernyataan masalah, pertanyaan penelitian yang

dirumuskan:

1. Bagaimana latar belakang terbentuknya modal sosial Ojek Pangkalan

Salemba di Salemba Raya, Jakarta Pusat?

2. Bagaimana peran modal sosial bagi ketahanan ekonomi Ojek Pangkalan

Salemba di Salemba Raya, Jakarta Pusat?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pertanyaan penelitiannya, maka tujuan penelitian

ini:

a. Untuk mendeskripsikan latar belakang terbentuknya modal sosial

Ojek Pangkalan Salemba di Salemba Raya, Jakarta Pusat.

(23)

8

b. Untuk mendeskripsikan peran modal sosial bagi ketahanan ekonomi

Ojek Pangkalan Salemba di Salemba Raya, Jakarta Pusat.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki nilai guna, baik secara teoritis

maupun praktis.

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur kajian

sosiologi terutama mengenai proses pembentukan dan peran modal

sosial bagi ketahanan ekonomi pelaku ekonomi informal, khususnya

pada sektor jasa transportasi ojek pangkalan.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi perkembangan

permasalahan sosial serupa di waktu mendatang. Serta menjadi evaluasi

bagi pelaku ekonomi informal umumnya dan ojek pangkalan khususnya

dalam mengatasi permasalahan terkait membentuk dan memanfaatkan

modal sosial kelompok. Selain itu, informasi ini diharapkan menjadi

bahan pertimbangan bagi para pembuat kebijakan.

(24)

9

D. Tinjauan Pustaka

Telah banyak penelitian menggunakan modal sosial sebagai kerangka

berpikir utama. Baik menggunakan metode kualitatif (Sila, 2010; Puspitasari,

2012; Asrori, 2014; Utomo, 2015), metode kuantitatif (Thobias, Tungka dan

Rogahang, 2013) maupun metode campuran (Kamarani, 2012).

Penelitian-penelitian di atas menyimpulkan bahwa modal sosial dapat

memberikan manfaat bila digunakan. Modal sosial di antaranya mampu

mengembangkan ekonomi Lembaga Keuangan Mikro (LKM), (Sila, 2010)

dan Pedagang Kaki Lima (PKL) (Utomo, 2015). Modal sosial juga hadir

sebagai solusi pengentasan kemiskinan Rumah Tangga Miskin (RTM)

(Kamarani, 2012). Lebih dari itu, modal sosial juga berguna bagi

pemberdayaan ekonomi perempuan (Puspitasari, 2012) dan pemberdayaan

komunitas perempuan majelis taklim (Asrori, 2014). Terakhir, penelitian

modal sosial yang peneliti temui di atas berpengaruh bagi perilaku pelaku

Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) (Thobias et al, 2013).

Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian di atas. Perbedaan

tersebut dapat dilihat dari subjek penelitiannya. Subjek penelitian ini adalah

ojek pangkalan, sementara penelitian-penelitian di atas tidak ada yang

menjadikan ojek pangkalan sebagai subjek penelitiannya.

Di sisi lain, selain memetakan tinjauan pustaka dari sisi teori (modal

sosial), tinjauan pustaka juga dilakukan dengan memetakan kasus atau subjek

penelitian – ojek pangkalan. Penelitian tentang ojek sepeda motor berhasil

(25)

10

peneliti temui yaitu penelitian yang dilakukan oleh Bahar dan Tamin (2010)

dengan judul “Hubungan Kualitas Pelayanan, Kepuasan dan Loyalitas

Pengguna Ojek Sepeda Motor”. Namun, penelitian tersebut berbeda dengan

penelitian ini – dilihat dari teori, fokus dan metode penelitian yang digunakan.

Selanjutnya, satu penelitian yang paling relevan berhasil peneliti temui.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Antonius Tarigan (2003) dengan judul

“Sektor Informal: Parasitkah Mereka atau A Necessary Evil?” (Studi

Etnografi Tukang Ojek, Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur). Penelitian

tersebut menyimpulkan bahwa efektifitas hukum publik dalam mengatur

kehidupan bersama ditentukan oleh kualitas modal sosial seperti kesepakatan,

ikatan emosional dan kekerabatan, solidaritas, intensitas interaksi yang tinggi

serta saling percaya. Oleh karena itu, Tarigan (2003) berargumen bahwa

pemerintah harus percaya adanya aturan-aturan berbasis lokal yang tidak

dapat diintervensi dan alangkah bijak ketika ia dipercayakan dan dikelola

sepenuhnya oleh kelompok masyarakat terkait.

Penelitian dari Tarigan (2003) mungkin memiliki relevansi yang besar

terhadap penelitian ini. Namun, meskipun menggunakan teori modal sosial,

penelitian Tarigan fokus kepada studi etnografi yang mencoba

membandingkan dua ojek pangkalan dengan menjelaskan persepsi dan

perilakunya, ditambah penelitian tersebut dilakukan dalam konteks sosial

yang berbeda (sebelum berkembangnya ojek online di Indonesia). Lagipula,

hasil penelitiannya dikaitkan dengan peran pemerintah. Dengan kata lain,

fokus dari penelitian tersebut berbeda dengan fokus penelitian ini.

(26)

11

Dapat disimpulkan dari pemetaan yang telah dilakukan, baik secara

teori maupun kasus, penelitian ini berbeda dan memiliki keunikannya sendiri

dengan penelitian-penelitian terdahulu. Perhatikan bagan berikut:

Gambar I.D.1. Pemetaan Penelitian Terdahulu

OJEK SEPEDA MOTOR:

1. Hubungan Kualitas Pelayanan,

Kepuasan dan Loyalitas Pengguna

Ojek Sepeda Motor, (Bahar dan

Tamin, 2010)

MODAL SOSIAL:

1.

LKM

dan

Pengentasan

Kemiskinan (Sila, 2010)

2. Perempuan dan Penguatan

Ekonomi Keluarga (Puspitasari,

2012)

3.

RTM

dan

Pengentasan

Kemiskinan

Kemiskinan

(Kamarani, 2012)

4. Pelaku UMKM (Thobias et al,

2013)

5. Perempuan Majelis Taklim,

(Asrori, 2014)

MODAL

SOSIAL

OJEK

PANGKALAN:

1. Studi Etnografi Ojek Pangkalan

Kel. Cibubur (Tarigan, 2003)

MODAL

SOSIAL

DAN

KETAHANAN

EKONOMI

OJEK PANGKALAN:

1. Studi Kasus Ojek Pangkalan

Salemba, Jakarta Pusat. (Rusydan,

2017)

(27)

12

Sementara itu, tinjauan pustaka yang telah dilakukan dapat dilihat

dengan jelas seperti di bawah ini:

Tabel I.D.1.Tinjauan Pustaka

•Tarigan: "Sektor Informal: Parasitkah Mereka atau A Necessary Evil? (Studi Etnografi Tukang Ojek, Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur)”

•Sila: “Lembaga Keuangan Mikro dan Pengentasan Kemiskinan: Kasus Lumbung Pitih Nagari di Padang”

•Asrori: “Pemberdayaan Perempuan Majlis Taklim Daarunnisa: Analisis Kapital Sosial”

•Utomo: "Peran Modal Sosial Terhadap Perkembangan Pedagang Kaki Lima Asal Daerah Padang di Sandratex Rempoa Ciputat"

•Kamarani: “Analisis Modal Sosial Sebagai Salah Satu Upaya dalam Pengentasan Kemiskinan: Studi Kasus: Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang”

•Thobias, Tungka dan Rogahang: “Pengaruh Modal Sosial Terhadap Perilaku Kewirausahawan: Studi Pada Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud”Bahar, Taslim dan Tamin: “Hubungan Kualitas pelayanan, Kepuasan dan Loyalitas Pengguna Ojek Sepeda Motor”

•Bahar dan Tamim: "Hubungan Kualitas Pelayanan, Kepuasan dan Loyalitas Pengguna Ojek Sepeda Motor"

•Puspitasari: "Modal Sosial Perempuan dalam Penguatan Ekonomi Rumah Tangga"

Judul

•Tarigan : Modal Sosial (Ojek Pangkalan) •Sila : Modal Sosial (Lembaga Kredit Mikro) •Asrori : Modal Sosial (Majelis Taklim) •Utomo : Modal Sosial (PKL)

•Kamarani : Modal Sosial (Rumah Tangga Miskin) •Thobias, Tungka dan Rogahang : Modal Sosial (UMKM)

•Bahar dan Tamin : Kualitas Pelayanan, Kepuasan dan Loyalitas (Ojek Sepeda Motor)

•Puspitasari : Modal Sosial (Perempuan dalam Keluarga)

Teori

(Subjek)

•Tarigan : Etnografi dan Efektifitas Hukum Publik •Sila : Pengentasan Kemiskinan

•Asrori : Pemberdayaan Perempuan •Utomo : Pengembangan Ekonomi •Kamarani : Pengentasan Kemiskinan •Thobias, Tungka dan Rogahang : Perngembangan Ekonomi

•Bahar dan Tamin : Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan dan Loyalitas

•Puspitasari : Pemberdayaan Perempuan dan Pengembangan Ekonomi

(28)

13

Dari tinjauan pustaka yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa

kesimpulan. Meskipun penelitian ini dengan penelitian Tarigan memiliki

kesamaan dari sisi teori dan subjek penelitiannya, akan tetapi berbeda dari sisi

fokus penelitiannya. Dengan demikian, penelitian ini memiliki keunikannya

sendiri dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

E. Kerangka Teoritis

1. Modal Sosial (social capital)

Coleman (1989) melihat modal sosial sebagai keseluruhan sesuatu

yang diarahkan atau diciptakan untuk memudahkan tindakan individu dalam

struktur sosialnya. Sementara itu Putnam mengatakan, “Sedangkan modal

fisik mengacu kepada objek-objek fisik dan modal manusia mengacu

kepada properti individu, modal sosial merujuk kepada hubungan antara

individu, jaringan sosial dan norma-norma timbal balik serta kepercayaan

yang timbul dari mereka” (2000: 19).

Analisa Coleman (1989) terhadap modal sosial memasukkan unsur

hubungan horisontal dan vertikal – dapat dilihat dari keterkaitan antara

ketimpangan sosial dengan prestasi akademik di sekolah. Sementara

gagasan modal sosial dari Putnam (2000) fokus pada hubungan horisontal

yang bersifat resiprokal antara berbagai elemen masyarakat sipil. Putnam

pada gilirannya – berdasarkan definisi modal sosialnya – lebih menitik

beratkan kepada jaringan sebagai unsur modal sosial. Menurut Putnam

(29)

14

(2000), ada dua bentuk modal sosial: bonding social capital (modal sosial

mengikat) dan bridging social capital (modal sosial menjembatani).

Merujuk pada Sila (2010), penjelasan konsep modal sosial Putnam

memang lebih sempit dibandingkan dengan Coleman yang memasukkan

hubungan-hubungan horisontal dan vertikal sekaligus, serta juga perilaku di

dalam dan antara seluruh pihak dalam masyarakat. Dengan demikian, dapat

dikatakan bahwa modal sosial Coleman dan Putnam berada pada level yang

berbeda. Modal sosial Coleman diidentifikasi berada pada analisa level

meso. Gagasan Putnam tentang modal sosial berada pada analisa level

mikro. Hal ini dikarenakan penjelasan Putnam tidak melibatkan unsur

hubungan vertikal di dalamnya.

Modal sosial Putnam menunjukkan relevansinya dengan penelitian ini

karena penelitian ini berada pada tingkat level mikro. Penelitian ini ingin

melihat hubungan horisontal antar sesama anggota OPS, antara anggota

OPS dengan pengemudi ojek online dan penumpang. Penelitian ini

dikatakan bersifat mikro karena tidak memasukkan unsur hubungan

vertikal. Dengan kata lain, peneliti tidak melihat hubungan OPS dengan

pemerintah, kebijakan maupun otoritas tertentu.

(30)

15

Gambar I.E.1.1 Level Modal Sosial Coleman dan Putnam

Terakhir yang juga penting untuk diingat, baik Coleman dan Putnam

sama-sama mengakui bahwa modal sosial dapat bertambah maupun

berkurang dari waktu ke waktu (Field, 2010). Sama halnya Coleman dan

Putnam, Fukuyama (2002) menjelaskan bahwa setiap kelompok memiliki

potensi modal sosial – sejauh mana ia dimanfaatkan berkenaan dengan

radius kepercayaan. Penelitian ini diarahkan kepada deskripsi tentang

bagaimana

Ojek

Pangkalan

Salemba

(OPS)

menciptakan

dan

memanfaatkan modal sosialnya sehingga memiliki ketahanan ekonomi yang

baik.

2. Unsur-Unsur Modal Sosial (Norma, Jaringan dan Kepercayaan)

Unsur yang pertama yaitu norma-norma sosial (social norms). Secara

umum norma merupakan nilai yang bersifat kongkret. Diciptakan untuk

Meso: Hubungan Horisontal

dan Vertikal

• Coleman

Mikro: Hubungan

Horisontal

• Putnam

Social

Caiptal

(31)

16

menjadi panduan bagi setiap individu untuk berperilaku sesuai dengan

aturan yang berlaku di masyarakat. Terkait hal ini, Putnam (2000)

menjelaskan bahwa nilai-nilai terkandung di dalam suatu jaringan sosial.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa posisi nilai-nilai menjadi penting

sebagai pengikat atau perekat – kohesifitas – mempersatukan dalam

menjalin hubungan.

Sementara itu menurut Fukuyama:

Pada umumnya norma yang terbentuk secara spontan cenderung bersifat

informal, dalam arti tidak dituliskan dan diumumkan. Selain merentangkan

norma-norma sosial, mulai dari norma sosial hierarkis hingga norma

spontan, kita juga dapat merentangkan norma lainnya hasil pilihan rasional,

serta norma turun menurun dan arasional. (2005: 179).

Gambar I.E.2.1. Jagat Norma

Rasional

Arasional

(Sumber: Fukuyama, 2005: 180)

Fukuyama (2005) menjelaskan lebih lanjut, bahwa akan terbentuk 4

macam norma dengan 4 sifat yang berbeda: spontan-arasional (alami teratur

sendiri), spontan rasional (tertata sukarela), hierarkis-arasional (keagamaan)

dan hierarkis-rasional (politis). Kemudian, Putnam (2000) menjelaskan

Terbentuk Secara Hierarkis

(32)

17

bahwa nilai dan norma yang terkandung dalam jaringan sosial akan

memunculkan kepercayaan. Sama halnya Putnam, bagi Fukuyama (2002)

nilai dan norma merupakan pra kondisi – pondasi yang melandasi timbulnya

kepercayaan.

Fukuyama (2005) meyakini bahwa “norma-norma informal tidak akan

hilang dari kehidupan masyarakat modern dan sepertinya akan tetap

demikian di kemudian hari” (h. 230). Lebih penting lagi, norma-norma ini

menciptakan – meminjam istilah Fukuyama (2002) – kebajikan sosial

(social virtues). Kebajikan-kebajikan sosial:

Beberapa rangkaian kebajikan individu yang bersifat sosial di antaranya

adalah kejujuran, keterandalan, kesediaan untuk bekerja sama dengan orang

lain, kekompakkan dan sense of duty terhadap orang lain... Modal sosial

memerlukan pembiasaan terhadap norma-norma yang berlaku, dan dalam

konteksnya termanifestasikan dalam kebajikan-kebajikan sosial umum –

kesetiaan, kejujuran, kekompakkan dan dependability. (Fukuyama, 2002:

65).

Unsur modal sosial selanjutnya adalah jaringan sosial (social

networking). Definisi jaringan sebagai unsur modal sosial adalah

“Sekelompok orang yang memiliki norma-norma atau nilai-nilai informal

di samping norma-norma atau nilai-nilai yang diperlukan untuk transaksi

biasa di pasar” (Fukuyama, 2005: 245). Pertukaran informasi yang diwadahi

oleh jaringan untuk berinteraksi akhirnya berkontribusi memunculkan

kepercayaan di antara mereka (Fukuyama, 2002).

Putnam membagi dua jenis modal sosial dilihat dari sisi jaringan.

Menurut Putnam (2000) ada dua jenis modal sosial yang didasarkan pada

kemampuan kelompok mengasosiasikan dirinya dengan kelompok lain:

(33)

18

bonding social capital (modal sosial mengikat) dan bridging social capital

(modal sosial menjembatani). Sila menjelaskan terkait hal ini:

Yang pertama mengacu pada modal sosial yang berasal dari

identitas-identitas bersifat eksklusif seperti persekutuan yang berbasis suku atau

agama. Yang kedua bersifat inklusif karena mengacu pada jaringan

persekutuan yang lebih luas melewati basis kesukuan atau keagamaan yang

cenderung homogen. (Sila, 2010: 6).

Modal sosial mengikat cenderung mendorong identitas eksklusif dan

mempertahankan homogenitas sedangkan modal sosial menjembatani

cenderung menyatukan dari beragam ranah sosial (Putnam, 2000).

Masing-masing bentuk tersebut mampu menyatukan kebutuhan yang berbeda.

Modal sosial yang mengikat adalah sesuatu yang jadi perekat dan

memperkuat identitas spesifik (Putnam, 2000). Modal sosial yang

menjembatani merupakan hubungan-hubungan yang menjembatani lebih

baik dalam menghubungkan aset eksternal dan bagi persebaran informasi

dan dapat membangun identitas dan timbal balik yang lebih luas (Putnam,

2000).

Putnam (2000) dalam Asrori (2014) dijelaskan:

Bridging ditandai oleh hubungan sosial yang bersifat terbuka (inklusif), para

anggotanya mempunyai latar belakang yang heterogen. Orientasi kelompok

ini lebih ditekankan upaya-upaya bersama dalam mencari jawaban atas

permasalahan bersama, serta mempunyai cara pandangan keluar outward

looking. Sedangkan bonding yaitu kapital sosial bersifat eksklusif,

keanggotannya biasanya didasarkan atas berbagai kesamaan, seperti

kesamaan suku, etnis dan agama, hubungan antar individu bersifat tertutup,

lebih mengutamakan solidaritas dan kepentingan kelompok. (h. 761).

(34)

19

Dalam pembahasan Putnam, dapat disimpulkan bahwa jaringan dan

kerja sama tidak dapat dipisahkan. Bonding social capital berperan dalam

menciptakan identitas bersama yang kuat. Hal ini penting sebagai salah satu

syarat menumbuhkan kerja sama internal kelompok. Dalam proses

pembentukan jaringan, menumbuhkan iklim kerja sama adalah syarat lain

selain nilai dan norma bersama (Fukuyama, 2005). Bridging social capital

pada gilirannya berperan penting bagi kelompok untuk menciptakan

perluasan kerja sama terhadap kelompok lain.

Mengembangkan jaringan-jaringan yang didasarkan pada

norma-norma bersama dan iklim kerja sama akan membuat modal sosial yang

dimiliki berkembang. Jaringan sosial, bagaimanapun memfasilitasi

sekumpulan orang yang diikat oleh norma-norma atau nilai-nilai bersama –

saling berhubungan timbal balik. Oleh karena itu, simpul ikatan tersebut

tidak mudah dipisahkan ketika setiap orang memiliki kebutuhan dan tujuan

bersama.

Unsur yang terakhir adalah kepercayaan. Putnam (2000) telah

menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan akibat yang ditimbulkan dari

hubungan-hubungan yang dibangun berlandaskan norma-norma timbal

balik. Pembangunan kepercayaan dengan demikian dapat dikatakan

berlangsung beriringan dengan proses pembentukan jaringan dan norma.

Jelas bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang dipertukarkan dengan

berlandaskan norma-norma bersama demi kepentingan orang banyak.

(35)

20

Kepercayaan menyangkut hubungan timbal balik. Bila masing-masing

pihak memiliki pengharapan yang sama-sama dipenuhi oleh kedua belah

pihak, maka tingkat kepercayaan yang tinggi akan terwujud. Menurut

Fukuyama (2002), kepercayaan adalah efek samping yang sangat penting

dari norma-norma sosial yang kooperatif yang memunculkan modal sosial.

Sebagaimana penjelasan Field (2010), Coleman, Putnam dan Fukuyama

sama-sama mengakui bahwa setiap orang atau kelompok memiliki

persediaan atau potensi modal sosial. Meminjam istilah Fukuyama (2002) –

tergantung pada apa yang disebut sebagai radius kepercayaan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa ketiga unsur pembentuk modal

sosial tersebut merupakan indikator dalam mengukur modal sosial.

Ketiganya merupakan proses pembentukkan yang saling terkait. Intinya,

ketiga unsur modal sosial tidak berdiri sendiri-sendiri. Mereka merupakan

satu kesatuan yang saling mempengaruhi.

Gambar I.E.2.2. Unsur Modal Sosial

Modal Sosial

(36)

21

F. Metodologi Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. “Pendekatan

penelitian ini berusaha menjelaskan fenomena sosial terutama terkait

dengan pertanyaan mengapa, bagaimana dan dengan cara apa” (Hancock,

1998: 2). Sejalan dengan pendekatan penelitiannya, maka penelitian ini

tergolong dilakukan dengan cara studi kasus. “Penelitian studi kasus

merupakan strategi riset yang bersandarkan pada investigasi empiris secara

mendalam terhadap satu atau sejumlah kecil fenomena untuk menguraikan

konfigurasi dari tiap kasus” (Ragin, 2000: 68). Secara khusus, penelitian ini

merupakan jenis penelitian studi kasus deskriftif.

Berkenaan dengan hal di atas, penelitian ini berangkat dari fenomena

sosial mengenai OPS di Salemba Raya, Jakarta Pusat, yang masih bertahan

di tengah-tengah keberadaan ojek online. Penelitian ini berusaha

mendeskripsikan mengapa dan bagaimana atau dengan cara apa OPS

mampu bertahan – memiliki ketahanan ekonomi. Tujuan dilakukannya

penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan data berupa kata-kata tentang

“apa” (what) – apa yang dialami oleh OPS dan “bagaimana” (how) –

bagaimana dialaminya sehingga OPS mampu bertahan – memiliki

ketahanan ekonomi yang baik di tengah-tengah keberadaan ojek online.

(37)

22

2. Penentuan Informan

Dalam menentukan informan, peneliti tidak memperhitungkan jumlah

banyaknya populasi, melainkan melakukan pertimbangan dan tujuan

tertentu berkenaan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini –

sesuai dengan tujuan dan pertanyaan penelitiannya. Dengan memperhatikan

tujuan dan pertimbangan tertentu dalam menentukan informan, data yang

terkumpul diharapkan bertahap dan terakumulasi.

Kriteria dalam menentukan informan bagi penelitian ini adalah

mereka yang hendak ditelurusuri modal sosialnya – Ojek Pangkalan

Salemba. Dengan kata lain, informan dalam penelitian ini merupakan

anggota OPS. Berkenaan dengan hal tersebut, pertama-tama peneliti

mendatangi pangkalan OPS dan mencari informasi tentang siapa yang dapat

dijadikan informan kunci. Dari situ dapat diketahui bahwa informan tersebut

merupakan informan S. S merupakan pelopor OPS yang sudah 15 tahun

mengojek. Dari informan S, peneliti mendapat saran tentang siapa yang

dapat memberikan informasi – berguna untuk mengklarifikasi atau

menguatkan data.

Data yang terkumpul di setiap tahapannya mengalami progresifitas

dan kedalaman data – berguna untuk menjawab pertanyaan penelitian

secara mendalam. Teknik ini dihentikan ketika data telah mengalami titik

jenuh. Dengan kata lain, data yang dikumpulkan dirasa penulis tidak lagi

mengalami variasi atau telah mampu menjawab pertanyan-pertanyaan

penelitian ini.

(38)

23

Tabel I.G.2.1 Profil Informan

No

Nama

Usia

Pendidikan

Terakhir

Jenis

Kelamin

Pekerjaan

Formal

Lamanya

Menjadi

Tukang

Ojek

1.

S

51

Tamat SMA

Laki-Laki

Tidak Ada

15 Tahun

2.

En

52

S1

Laki-Laki

Tidak Ada

12 Tahun

3.

J

45

Tamat SMA

Laki-Laki

Tidak Ada

8 Tahun

4.

E

48

Tamat SMA

Laki-Laki

Tidak Ada

5 tahun

5.

D

45

D3

Laki-Laki

Tidak Ada

4 Bulan

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa informan seluruhnya

berjenis kelamin laki-laki. Dari tabel tersebut juga diketahui bahwa seluruh

informan tidak memiliki pekerjaan lain (sektor formal) selain menjadi

tukang ojek. Terakhir, informan En memiliki pendidikan terakhir S1,

informan D memiliki pendidikan terakhir D3 dan informan S, E dan J

memiliki pendidikan terakhir sekolah menengah atas atau sederajat.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di pangkalan OPS yang terletak di Jalan

Salemba Raya, Jakarta Pusat. Sedangkan waktu penelitian yang dibutuhkan

dalam mengumpulkan data melalui teknik dokumen, wawancara dan

observasi serta mengolah, menganalisis dan menyajikan data yang berkaitan

dengan penelitian ini adalah terhitung mulai dari bulan April 2016 sampai

bulan Februari 2017.

(39)

24

4. Jenis dan Sumber Data

Menurut Suyanto (2007) jenis data berdasarkan sumbernya dibagi

menjadi dua, yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh

langsung dari hasil observasi dan wawancara di lapangan penelitian.

Dalam penelitian ini, data primer didapat melalui observasi di

pangkalan ojek sebagai lokasi penellitian dan melalui wawancara dengan

anggota OPS. Sementara data sekunder didapat melalui studi kepustakaan

atau teknik dokumen – bersumber dari jurnal cetak maupun elektronik,

karya-karya ilmiah seperti skripsi atau tesis dan buku-buku. Dalam

penelitian ini, data sekunder didapat melalui literatur yang relevan dengan

tema penelitian ini.

5. Teknik Pengumpulan Data

Pertama, peneliti melakukan observasi langsung. Nasution (1988)

menjelaskan bahwa observasi merupakan proses memberikan deskripsi –

analitik dan memberikan label – sintetik dari apa yang diamati. Dalam hal

ini, peneliti melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian –

pangkalan OPS untuk melihat dan mendengar informasi yang diperoleh dari

informan berkaitan dengan objek penelitiannya. Untuk memudahkan

prosesnya, maka hasil observasi diabadikan melalui catatan lapangan atau

secara visual (foto penelitian) dengan alat bantu kamera.

(40)

25

Kedua, peneliti melakukan wawancara tak terstruktur secara terbuka.

Wawancara seperti ini dilakukan bertujuan untuk memberikan kondisi

informal dan santai serta kebebasan kepada informan untuk mengutarakan

apa yang ada dipikirannya tanpa terikat oleh peneliti (Nasution, 1988).

Dalam hal ini peneliti tidak mengikat informan secara kaku terhadap

susunan pertanyaan yang begitu rinci, tetapi tetap mengarahkannya kepada

pedoman wawancara yang telah dibuat. Hal itu bertujuan agar peneliti dapat

mengembangkan apa yang ditanyakan nantinya. Namun, pedoman

wawancara yang dibuat tetaplah berdasarkan pada kerangka berpikir teoritis

yang digunakan guna memperoleh informasi akurat mengenai peran modal

sosial bagi ketahanan ekonomi OPS. Untuk memudahkan prosesnya,

peneliti menggunakan alat bantu perekam suara.

Terkahir, teknik dokumen diperlukan oleh peneliti sebagai pondasi

dan atau melengkapi data primer (observasi dan wawancara) yang

diperoleh. Data tersebut diharapkan memperkuat data primer yang diperoleh

penulis. Dalam hal ini, data diperoleh dari literatur (buku, artikel, jurnal,

tesis skripsi) yang relevan dengan tema penelitian ini.

6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data mentah yang terkumpul melalui teknik pengumpulan data yang

telah disebutkan, selanjutnya akan diolah dan dianalisis. Dengan kata lain,

data tersebut akan diklasifikasikan – dikategorikan, yaitu melakukan

(41)

26

penyandian (coding) sesuai dengan pertanyaan dan tujuan penelitian.

Setelah diklasifikasikan, akhirnya data tersebut akan disajikan dalam bentuk

laporan ilmiah.

Newman (2013) membagi proses pengkategorian atau penyandian ke

dalam tiga tahap, yaitu penyandian terbuka, penyandian aksial dan

penyandian selektif. Artinya, data mentah yang diperoleh pertama-tama

akan diringkas menjadi konsep atau kode analitis awal. Selanjutnya, kode

analitis awal tersebut akan disusun serta menautkannya satu sama sama lain

untuk menemukan kategori analitis utama. Terkahir, kode-kode analitis

tersebut diperiksa untuk mengidentifikasi dan memilih data yang akan

mendukung kategori penyandian konseptual yang telah dilakukan.

Dalam penelitian ini, pada prosesnya, dalam tahap awal dilakukan

penyandian terbuka (open coding) terhadap data mentah hasil wawancara.

Dari situ muncul tiga belas kategori atau kode analitis awal. Selanjutnya,

pada tahap kedua dilakukan penyandian aksial (axial coding) – menautkan

ketiga belas kategori atau kode analitis tadi ke dalam tiga kelompok kategori

analitis utama: Norma, Jaringan dan Kepercayaan. Terakhir, dilakukan

penyandian selektif (selectiv coding) – memilih data yang akan mendukung

kategori penyandian konseptual yang telah dilakukan – menautkan data ke

dalam dua kelompok atau tema utama sesuai dengan pertanyaan

penelitiannya. Matriks penyandian data terlampir.

(42)

27

G. Sistematika Penulisan

Guna memudahkan pembahasan, maka dalam penulisan skripsi ini

dibagi menjadi empat bab yang terdiri dari:

BAB I Pendahuluan: Membahas Pernyataan Masalah, Pertanyaan

Penelitian, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka,

Kerangka Teoritis, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II Ojek Pangkalan Salemba: Membahas Letak Geografis,

Sejarah Berdirinya dan Operasional OPS.

BAB III Modal Sosial dan Ketahanan Ekonomi Ojek Pangkalan

Salemba: Membahas Latar Belakang Terbentuknya Modal Sosial OPS dan

Peran Modal Sosial bagi Ketahanan Ekonomi OPS.

BAB IV Penutup: Berisi kesimpulan penelitian disertai dengan

saran-saran.

Daftar Pustaka: Merupakan daftar kepustakaan atau rujukan bacaan

yang digunakan dalam penulisan ini. Baik yang berasal dari media cetak

maupun media elektronik. Selain itu, bagian ini juga memuat daftar

wawancara yang telah dilakukan penulis demi menjawab pertanyaan

penelitian.

Lampiran

Penelitian:

Merupakan

daftar

lampiran-lampiran

keterangan pada saat melakukan penelitian

(43)

28

BAB II

OJEK PANGKALAN SALEMBA (OPS)

A. Letak Geografis Ojek Pangkalan Salemba

Secara geografis Ojek Pangkalan Salemba (OPS) terletak di jalan

Salemba Raya. Jalan ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Senen dan

melintasi dua Kelurahan, yaitu Kelurahan Paseban dan Kelurahan Kenari,

Jakarta Pusat. Berikut ini dapat dilihat profil jalan Salemba Raya:

a. Berada di antara dua jalan: Jalan Kramat Raya dan Jalan Matraman Raya.

b. Memiliki dua persimpangan: Persimpangan Jalan Diponegoro dan

Persimpangan Jalan Matraman Raya dan Jalan Pramuka Raya.

c. Dilalui oleh transportasi: Busway koridor 5, Metromini P15 Metromini

P17, PPD NE02, PPD P02, PPD 916, Mayasari Bakti P91, Mayasari Bakti

AC62, Mayasari Bakti AC63, Mayasari Bakti AC122 dan Bianglala

AC76.

d. Bangunan: Sentra Salemba, Graha Gunebo Indonesia, Kemensos,

Perpusnas RI, Hotel Atlantik, Kompleks Pendidikan Salemba, Ditjen

Pertahanan Publik, Lembaga Al-Kitab Indonesia, FK UI dan FKG UI,

Masjid Arif Rahman Hakim UI, Pasar Kenari, RS Ridwan Meuraksa,

Departemen Perdagangan, Kantor Pegadaian Kramat, Abdi Karya, Bank

Mayapada, Jamsostek Salemba, Optik Melawai, Universitas Gunadarma

Kampus C, Yayasan SD-SMP Advent, RS St.Carolus, Centre Cultirel

Francais, Seven Eleven, Universitas Persada YAI, Menara Salemba, Plaza

(44)

29

Kenari Mas, SMK Negeri 34, STIH Iblam Kampus B, Hotel The Acacia

Jakarta.

Gambar II.A.1. Jalan Salemba Raya

(Sumber: https://www.google.co.id)

OPS sendiri memiliki pangkalan dekat dengan Rumah Sakit St.Carolus

dan lebih tepatnya berlokasi di depan sekretariat Gerakan Mahasiswa Kristen

Indonesia (GMKI) yang beralamat di jalan Salemba Raya No.49, Jakarta Pusat.

Tanda merah di gambar menunjukkan lokasi pangkalan OPS.

(45)

30

Gambar II.A.2. Sekretariat GMKI

(Sumber: Dokmentasi Pribadi)

OPS mengambil tempat persis di depan sekretariat GMKI sebagai

pangkalan ojek mereka. Dari berdirinya hingga sekarang, OPS tidak pernah

berpindah-pindah tempat. Tidak terjadi perselisihan antara pihak GMKI

dengan pihak OPS terkait letak pangkalan OPS. (Hasil Observasi, 3 Oktober

2016).

Gambar II.A.3. Pangkalan OPS

(Sumber: Dokmentasi Pribadi)

Gambar di atas menunjukkan suasana anggota OPS ketika menunggu

penumpang. Menunggu penumpang dijadikan oleh anggota OPS untuk

(46)

31

meningkatkan interaksi antar anggota. Kegiatan yang mereka lakukan ketika

menunggu penumpang adalah saling berkomunikasi satu sama lain –

membicarakan apa saja yang bisa menjadi topik perbincangan.

Terkait hal di atas, S menjelaskan, “Nunggu penumpang aje sambil

ngobrol ngopi, ngobrol ngopi, abisnye kesitu doang. Dapet 10 rebu nih, udeh

kesini larinye. Kopi ada, rokok ada, penumpang belom ada, yaudeh kita

banyak-banyak ngobrol aje sama temen-temen di pangkalan.” (Wawancara

dengan S, Jakarta, 3 Oktober 2016). D menjelaskan, “Ye nunggu aje paling

ngerokok ngopi sambil nunggu, ngobrol-ngobrol. Macem-macem lah ye

politik, rumah tangga, ape aje.” (Wawancara dengan D, Jakarta, 17 Oktober

2016). Lebih jauh D menjelaskan:

Selama masih ada temen mah masih bisa tersalurkan lah, cerita curhat gitu kan.

Ya curhat apa aja lah, kadang-kadang ada masalah baru, Ahok, ya kita

cerita-cerita gitu kan, masalah Kanjeng Dimas ya kita cerita-cerita, jadi kita gabeku untuk

diem gitu. Kadang-kadang ya namanya orang diem menyendiri, itu akan timbul

cepet sensi kan, ada apa-apa cepet marah. Makanya kita terbuka, ya nanyain

masalah apa lah yang terbaru apa jadi ngga terlalu, kadang-kadang waktu jadi

cepet wah padahal kita belom dapet nih, tapi sering terbuka, sering mengadakan

misalnye diskusi ama temen masalah apa aja lah kaya Dimas Kanjeng, masalah

ini masalah itu jadi ngga terbebankan walaupun begitu jadi ngga terlalu sensitif

bener.

Kalo kite diem pasti. Kalo kita di sini juga kan letaknya deket, dalam

artian kemana-mana deket, minum tinggal kesitu, makan ya tinggal makan

gimana ntar aja bayarnya, dapet sewa baru bayar gitu. Kalo kita jauh dari tempat

makan misalnye kan, sialan gue mau makan jauh lagi, duh aus lagi musti kesono

dulu, kan kesel. Kalo di sini kan mau minum tingga ambil aje situ. Ye minimal

diajak enjoy aja lah. (Wawancara dengan D, Jakarta, 17 Oktober 2016).

Dapat dikatakan bahwa antar anggota OPS terjalin komunikasi yang baik

– interaksi yang terus dijaga intensitasnya. Hal ini sangat penting dalam

menumbuhkan perasaan atau identitas bersama. Pada akhirnya hal itu

berimplikasi pada munculnya iklim kerjasama yang baik antar anggota. Selain

(47)

32

itu, nilai-nilai, norma-norma informal dan loyalitas yang terebentuk di OPS

juga merupakan hasil akumulasi dari kualitas interaksi yang baik di antara

mereka.

Dari gambar II.A.3 – pangkalan OPS, dapat dilihat bahwa di pangkalan

OPS terdapat motor-motor anggota OPS yang terparkir rapih beserta

kelengkapan berkendara seperti helm dan jaket. Dengan kata lain, OPS

memperhatikan keselamatan dan kenyamanan penumpangnya. D menjelaskan:

Utamakanlah keselamatan, siapa sih yang mau kecelakaan kan, saya sekarang

lebih hati-hati. Apelagi bawa perempuan, ngeri, saya gamau kenceng, 40-50,

kalo dulu mah 60-70 set set set set gitu. Kemaren aje 60 ngerem mendadak

banting kanan nabrak jatoh. Sekarang sih ngga, safety lah kalo bawa

perempuan, konsentrasi bener, ya 40-50 penting sampe lah. Kecuali ada

pesenan minta, baru tuh. (Wawancara dengan D, Jakarta, 17 Oktober 2016).

Dari penjelasan tersebut, penumpang diperlakukan oleh anggota OPS

sebagai konsumen yang berdaulat. Hubungan yang terjalin antara anggota OPS

dengan penumpang tidak bersifat transaksional ekonomis semata. Lebih dari

itu, tukang ojek yang tergabung dalam OPS memperlakukan penumpang

sebagai sesama manusia – tercipta hubungan yang bersifat sosial.

Jalan menuju perumahan masyarakat terdekat dengan OPS ialah jalan

Salemba Bluntas. Letak jalan Salemba Bluntas bersebelahan dengan pangkalan

OPS. Jalan Salemba Bluntas menjadi akses utama keluar masuk masyarakat

sekitar OPS untuk beraktifitas serta menjadi tumpuan utama OPS untuk

mendapatkan penumpang. (Hasil Observasi, 3 Oktober 2016).

(48)

33

Gambar II.A.4. Jalan Salemba Bluntas

(Sumber: Dokmentasi Pribadi)

OPS sama sekali tidak menyekat akses bagi ojek online manapun. Semua

ojek onlne bebas keluar masuk jalan Salemba Bluntas (Hasil Observasi, 3

Oktober 2016). Terlepas dari persaingan antara ojek pangkalan dengan ojek

online, OPS meyakini bahwa yang terpenting persaingan tersebut harus dijalani

di atas prinsip sportifitas. S menuturkan, “Kalo kepengen rame lagi sih emang

dihapus, atau die pake plat kuning jadi nggak begini doang, cuman kan

namanye udeh begini mau diapain lagi, yang penting ngga saling sikut-sikutan.

Ye kepengen kalo online tuh jangan jangan sampe ngambil di pangkalan,

kayanye bikin sakit hati.” (Wawancara dengan S, Jakarta, 10 Oktober 2016).

Dari apa yang disampaikan oleh S, peneliti memaknai beberapa hal.

Dalam menghadapi persaingan dengan ojek online, yang pertama, harus

dilakukan secara sehat. Artinya persaingan dilakukan dalam koridor-koridor

yang berlaku. Dalam hal ini berarti kedua belah pihak tidak boleh saling

melanggar aturan-aturan yang dipegang oleh masing-masing pihak. Yang

Gambar

Tabel I.A.1. Bentuk Penolakan Ojek Pangkalan terhadap Ojek Online
Gambar I.D.1. Pemetaan Penelitian Terdahulu
Tabel I.D.1.Tinjauan Pustaka
Gambar I.E.1.1 Level Modal Sosial Coleman dan Putnam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Orang-orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mempunyai rasa tanggungjawab yang tinggi mengenai tingkah laku diri peribadinya sendiri dan masyarakat yang berhubungan

Untuk hasil pengamatan pasang surut dapat diperoleh bahwa ketiga dusun mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari atau disebut juga dengan tipe

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI BERBASIS WEBSITE PADA PD MIE BERKAH PALEMBANG..

Pengaruh Suhu Penyimpanan Minuman Susu Fermentasi “Y” Terhadap Aktivitas Antibakteri Pada Kuman Salmonella typhi. Minuman susu fermentasi “Y” merupakan minuman yang

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Memberi gambaran tentang peta bisnis gedung perkantoran di Jakarta saat ini dan posisi bisnis tersebut dalam perekonomian Indonesia,

Sekiranya murid itu memberi keterangan yang memuaskan dan dia dapat membebaskan dirinya dari tuduhan, maka guru besar boleh membuat keputusan bahawa tuduhan itu tidak ada bukti

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk membuat kode program solusi numerik Persamaan difusi neutron pada teras reaktor nuklir dengan metode iterasi Jacobi paralel

Dokumentasi digunakan karena dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pokok penelitian berupa proses dan hasil yang dicapai dari pengembangan seni melukis jari