• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

26

METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian diperlukan tempat penelitian untuk memperoleh data-data yang mendukung tercapainya tujuan penelitian, beberapa tempat diantaranya adalah :

a. Pengambilan terak yang digunakan berasal dari limbah pengecoran logam di Desa Batur, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten.

b. Pengujian bahan berupa agregat halus dilaksanakan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

c. Pengujian bahan berupa agregat kasar dilaksanakan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

d. Pembuatan benda uji berupa beton silinder dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, dilaksanakan di Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

e. Pengujian kuat tarik beton dilaksanakan di Laboratorium Beton PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

f. Pengukuran berat jenis beton dilaksanakan di Laboratorium Beton PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember tahun 2015, seperi pada gambar 3.1. alokasi waktu kegiatan penelitian dilaksanakan :

(2)

Kegiatan Penelitian Bulan

Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun 1. Persiapan Penelitian a. Pengajuan Judul b. Pembuatan Proposal c. Seminar Proposal d. Revisi Proposal 2. Pelaksanaan Penelitian a. Perijinan Penelitian b. Pelaksanaan Penelitian

3. Analisis Data dan Pelaporan

a. Analisis Data b. Menyusun Skripsi c. Ujian dan Revisi d. Penggandaan dan

Pengumpulan Skripsi

Gambar 3.1. Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian B. Desain Penelitian

Penelitian yang digunakan pada laporan akhir ini menggunakan jenis kuantitatif untuk memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh penggantian agregat halus/pasir dengan menggunakan terak yang dihaluskan dengan jumlah variasi persentase tertentu terhadap kuat tarik, dan berat jenis beton dengan metode campuran perbandingan 1:2:3. Gambaran ini dibuat dengan mengadakan eksperimen terhadap sejumlah benda uji untuk membandingkan dan mendapatkan jawaban dari tujuan penelitian.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2013: 61) Sedangkan menurut Efendi (2011: 10) “populasi adalah keseluruhan

(3)

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah populasi terbatas dimana penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel benda uji silinder dengan diameter 150 mm x 300 mm. Dengan terak sebagai pengganti agregat halus pada campuran beton dengan jumlah variasi persentase tertentu.

2. Sampel penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. (Sugiyono, 2010: 62). Sedangkan menurut Efendi (2011: 10) “sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi perhatian”.

Dalam penelitian ini sampel yang digunakan untuk pengujian kuat tarik dan berat jenis beton 4 sampel dari setiap persentase yang digunakan. Sehingga Jumlah sampel penelitian yang digunakan pada penelitian eksperimen ini berjumlah 30 buah benda uji seperti pada tabel 3.1. sebagai berikut :

Tabel 3.1. Jumlah sampel beton yang digunakan

Pengujian Persentase Terak sebagai Pengganti Pasir Jumlah Sampel 0% 20% 40% 60% 80% 100% Berat Jenis 4 bh 4 bh 4 bh 4 bh 4 bh 4 bh 24 bh Kuat Tarik Total Sampel 24 bh

D. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel yang digunakan adalah 30 buah beton yang terdiri dari :

1. 4 buah silinder beton berdimensi 150 mm x 300 mm dengan persentase penggantian terak 0% dari total volume agregat halus (pasir).

2. 4 buah silinder beton berdimensi 150 mm x 300 mm dengan persentase penggantian terak 20% dari total volume agregat halus (pasir).

3. 4 buah silinder beton berdimensi 150 mm x 300 mm dengan persentase penggantian terak 40% dari total volume agregat halus (pasir).

(4)

4. 4 buah silinder beton berdimensi 150 mm x 300 mm dengan persentase penggantian terak 60% dari total volume agregat halus (pasir).

5. 4 buah silinder beton berdimensi 150 mm x 300 mm dengan persentase penggantian terak 80% dari total volume agregat halus (pasir).

6. 4 buah silinder beton berdimensi 150 mm x 300 mm dengan persentase penggantian terak 100% dari total volume agregat halus (pasir).

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua macam :

a. Data Primer yang diperoleh dari hasil pengujian eksperimen dan pengamatan di laboratorium yaitu melalui pengujian diantaranya :

1) Pengujian untuk semen. 2) Pengujian agregat halus 3) Pengujian terak

4) Pengujian agregat kasar

5) Perhitungan perbandingan 1:2:3

6) Pengujian sampel beton meliputi kuat tarik dan berat jenis.

b. Data sekunder didapat dari literatur/referensi berupa buku-buku relevan yang dapat menunjang penelitian ini.

Data yang digunakan untuk analisis hasil penelitian adalah data primer, sedangkan data sekunder hanya digunakan untuk menunjang analisis data.

2. Teknik Mendapatkan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil uji kuat tarik dan berat jenis beton yang merupakan data primer dari penelitian.

(5)

a. Hasil Uji Kuat Tarik Beton dengan Terak Sebagai Pengganti Agregat Halus.

1) Tujuan

Untuk mengetahui besarnya kuat tarik pada beton. 2) Alat dan Bahan

a) Timbangan b) Alat uji kuat tarik c) Beton

3) Langkah Kerja :

a) Menimbang beton dan mencatatnya.

b) Menyesuaikan arah tarikan pada bidang tarik benda uji.

c) Menguji kuat tarik benda uji menggunakan alat uji tarik hingga terlihat retakan pada beton.

d) Menghitung kuat tarik benda uji dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Ft = T = 2P

πld ... Persamaan (1) Dimana : Ft = T = Kuat tarik beton (MPa)

P = Beban hancur (N) l = panjang spesimen (mm) d = diameter spesimen (mm)

b. Hasil Uji Berat Jenis Beton dengan Terak Sebagai Pengganti Agregat Halus.

1) Tujuan

Untuk mengetahui besarnya berat jenis beton 2) Alat dan Bahan

a) Timbangan b) Beton 3) Langkah Kerja

a) Menimbang beton (m) dan mencatatnya. b) Menghitung volume beton (v)

(6)

c) Menghitung besarnya berat jenis beton dengan rumus sebagai berikut : ρ = m/v ... Persamaan (2) Dimana : ρ = Berat jenis beton (kg/m3)

m = Berat beton (kg) v = Volume beton (m3)

F. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Analisa data yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh variabel bebas (terak) terhadap variabel terikat (kuat tarik beton) dengan metode campuran perbandingan 1:2:3. Namun sebelumnya diadakan pengujian persyaratan analisis berupa uji normalitas, uji linieritas dan keberartian regresi. 1. Uji Persyaratan Analisis

a. Uji Normalitas Data

Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada data-data pada variable penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk membuktikan bahwa data-data pada variabel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal, maka uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16 yaitu dengan uji statistik

Descriptive Statistic dipilih Explore, dengan melihat kriteria di bawah ini :

Ho = Data berdistribusi tidak normal Ha = Data berdistribusi normal Pengambilan keputusan/kriteria :

Jika probabilitas (sig) > 0,05 ;maka Ho di terima Jika probabilitas (sig) < 0,05 ;maka Ho di tolak

(7)

b. Uji Linieritas dan Keberartian Regresi

Pengujian linearitas digunakan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linier atau tidak, sehingga didapatkan gambaran tentang ada tidaknya keterikatan antara variabel bebas dan variabel terikat. Untuk mengetahui linier tidaknya dapat dilihat dengan menggunakan program SPSS 16, yaitu dengan uji statistik menggunakan Tes For Linieritas pada taraf signifikan α = 0,05.

Kriteria:

Ho = hubungan dua variabel tidak linier Ha = hubungan dua variabel linier

Pengambilan keputusan/kriteria adalah sebagai berikut : Jika signifikansi yang diperoleh < 0,05, maka Ho ditolak Jika signifikansi yang diperoleh > 0,05, maka Ho diterima

c. Analisis Regresi

Analisis regresi dalam program SPSS 16 adalah dengan menggunakan regresi (Regression). Analisis data yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh terak sebagai pengganti agregat halus terhadap berat jenis dan kuat tarik beton yaitu dengan analisis regresi. Analisis ini merupakan gambaran dari variabel bebas dalam penelitian yang dilakukan dengan variabel terikat, dimana variabel terikat dipengaruhi oleh variabel bebas yang ada. Dalam penelitian, variabel bebasnya adalah penggantian terak, sedangkan variabel terikatnya adalah kuat tarik beton.

Persamaan regresi terdiri dari dua golongan yaitu regresi linier sederhana dan regresi linier ganda (Sugiyono, 2010 : 261)

Regresi linier sederhana

Y = a + b x ... (3) Regresi untuk dua prediktor

Y = a + b1 x1 + b2 x2 ... (4) Regresi untuk tiga prediktor

(8)

Regresi untuk n prediktor

Y = a + b1 x1 + b2 x2 + . . . + bn xn ... (6)

Setelah semua data diteliti untuk masing-masing persamaan regresi telah dilaksanakan, langkah berikutnya adalah menentukan persamaan yang digunakan sebagai persamaan dasar korelasi variabel-variabel yang ada.

Analisis yang digunakan dalam SPSS 16 adalah Regression (Curve

Estimation). Pilihan model pada Curve Estimation terdapat berbagai jenis

model yaitu Linear, Quadratic, Qubic, Logaritmatic, Inverse, Power,

Compound, S, Logistic, Growth dan Exponential.

2. Pengujian Hipotesis a. Hipotesis Pertama

Hipotesis pertama menyatakan ada pengaruh terak sebagai pengganti agregat halus terhadap kuat tarik beton, akan dilakukan pengujian dengan menggunakan persamaan regresi dan harus dicari terlebih dahulu persamaan garis regresinya. Analisa korelasi dan regresi banyak digunakan untuk mencari hubungan atau pengaruh dari dua variabel atau lebih, dimana salah satu variabelnya merupakan dependent variabel dan yang lain merupakan Independent variabel.

Untuk menghitung pengaruh terak sebagai pengganti agregat halus terhadap kuat tarik beton menggunakan persamaan garis regresi, yaitu dengan menggunakan program SPSS 16 dengan uji Regression (Curve Estimation). Pengambilan keputusan pada SPSS 16 adalah sebagai berikut :

Hipotesis :

Ho = tidak ada pengaruh terak Ha = ada pengaruh terak Pengambilan keputusan :

Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak

(9)

b. Hipotesis Kedua

Hipotesis kedua untuk mengetahui berat jenis beton yang dihasilkan masuk dalam kategori beton normal atau tidak, dapat dilihat dari metode deskriptif yaitu tabel, grafik, nilai berat jenis beton pada pengujian berat jenis tiap variasi persentase penggantian terak

c. Hipotesis Ketiga

Hipotesis ketiga terdapat persentase optimal terak yang digunakan sebagai pengganti agregat halus yang menghasilkan kuat tarik beton maksimal, dihitung dengan mendefinisikan persamaan regresi. Jika persamaan regresi berupa persamaan linier maka persentase optimal diperoleh dengan mencari nilai optimal dari grafik atau kurva sehingga diperoleh nilai x (persentase penggantian terak) dan jika persamaan regresi berupa persamaan non linier maka persentase optimal diperoleh dengan menurunkan persamaan regresi yang diperoleh dengan menggunakan persamaan dy/dx = 0, sehingga diperoleh nilai x (persentase penggantian terak).

(10)

G. Prosedur Penelitian

Tahap pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada gambar 3.2 dibawah ini :

H. I.

Gambar 3.2. Alur Penelitian Eksperimen Persiapan dan Penyediaan alat dan bahan

Pemeriksaan bahan Semen : a. Visual Agregat halus, Uji bahan : a. Kandungan kadar lumpur b. Kadar air c. Spesific gravity d. Gradasi pasir e. Kadar Zat Organik Air : a. Tidak berwarna b. Tidak berbau Agregat kasar, Uji bahan : a. Gradasi b. Spesific Gravity c. Abrasi Terak Uji bahan : a. Spesific gravity b. Gradasi

Pencampuran Beton dengan Metode Perbandingan 1:2:3

Dengan variasi penggantian terak sebagai agregat halus 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, 100% dari volume agregat halus yang digunakan

Kesimpulan Analisis data

Uji kuat tarik dan berat jenis beton Perawatan 26 hari

Pembuatan, pencetakan benda uji

Tahap VIII Tahap III Tahap IV Tahap VI Tahap VII Tahap II Tahap V Tahap I

(11)

1. Tahap Penelitian

Tahapan yang ada dalam penelitian ini antara lain: pemilihan bahan, persiapan alat yang digunakan dalam penelitian, pengujian bahan, pembuatan sampel berupa beton dan perawatan beton.

a. Tahap Pertama

Pada tahap pertama ini meliputi pemilihan bahan dan persiapan alat. 1) Pemilihan Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah : a) Semen Tipe I

Semen yang digunakan adalah Semen Portland dengan merek Semen Gresik yang telah memenuhi persyaratan dalam spesifikasi SK-SNI-S-04-1989-F.

b) Agregat Halus (Pasir)

Agregat halus (pasir) yang digunakan adalah pasir Muntilan, Magelang. Pasir yang digunakan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi SK SNI S-04-1989-F.

c) Agregat Kasar (Kerikil)

Kerikil yang digunakan dengan diameter maksimal 20 mm yang berasal dari Kaliworo, Klaten.

d) Air

Air yang digunakan adalah air yang memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi SK SNI S-04-1989-F.Air yang digunakan adalah air Laboratorium PTB FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

e) Terak

Terak yang digunakan berasal dari limbah pengecoran logam di Desa Batur, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Terak yang digunakan memiliki ukuran hingga 4,8 mm.

(12)

2) Alat Pengujian Bahan

Alat yang digunakan untuk menguji beton menggunakan alat-alat yang tersedia di Laboratorium Beton Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, dengan rincian sebagai berikut :

a) Mesin Penggiling Terak

Mesin penggiling terak merk “Dong Feng” digunakan untuk menggiling dan menghaluskan batuan terak menjadi pasir terak.

b) Timbangan, digunakan untuk menimbang bahan-bahan campuran beton.

(1) Timbangan digital merk “METLER TOLEDO” dengan kapasitas mencapai 16 kg, dan memiliki ketelitian sampai 0,1 gram, digunakan untuk mengukur berat material.

(2) Timbangan “Bascule” merk DSN Bola Dunia, dengan kapasitas mencapai 150 kg, dan memiliki ketelitian sampai 0,1 kg, digunakan untuk mengukur benda uji dan material.

c) Corong Conik/Conical Mould

Corong Conik/Conical Mould yang digunakan memiliki ukuran diameter atas 3,8 cm, diameter bawah 8,9 cm, tinggi 7,6 cm, lengkap dengan alat penumbuk. Alat ini digunakan untuk mengukur keadaan SSD (Satured Durface Dry) agregat halus.

d) Ayakan

Ayakan baja yang digunakan adalah merk “Controls”, Italy, bentuk lubang ayakan adalah bujur sangkar. Ukuran ayakan untuk agregat kasar adalah 50 mm, 38,1 mm, 25 mm, 16 mm, 12,5 mm, 9,5 mm, 6,6 mm, 4,75 mm, pan, sedangkan ayakan untuk agregat halus adalah 9,5 mm, 4,75 mm, 2,36 mm, 1,18 mm, 0,6 mm, 0,35 mm, 0,15 mm, pan. e) Mesin Penggetar Ayakan

Mesin penggetar ayakan yang digunakan adalah mesin penggetar dengan merk ”Controls” Italy. Mesin ini berfungsi sebagai dudukan

(13)

pemeriksaan gradasi (Sieve analysis) baik saat pengujian agregat halus maupun saat pengujian agregat kasar.

f) Oven

Oven yang digunakan dengan kemampuan mencapai 2400 C untuk mengeringkan agregat halus dan agregat kasar.

g) Los Angeles dan Bola Baja

Los Angeles dan bola baja digunakan untuk menguji keausan agregat

kasar.

h) Loyang Aluminium

Loyang yang digunakan berbentuk persegi panjang sebagai tempat bahan maupun adukan beton,

i) Cawan dan Piring Aluminium

Cawan dan piring aluminium digunakan sebagai tempat pengujian bahan.

j) Gelas Ukur (volumetric flash)

Gelas ukur (volumetric flash) yang digunakan berukuran 1000cc dan 500cc untuk mengukur volume yang digunakan dan ukuran 250cc yang digunakan untuk meneliti kandungan zat organik dan kadar lumpur dalam agregat halus.

k) Cetok

Cetok digunakan untuk memasukan adukan beton kedalam cetakan beton dan kerucut Abrams

l) Kerucut Abrams dan Pemadat

Kerucut Abrams yang digunakan adalah kerucut yang terbuat dari baja dengan ukuran diameter atas 16 cm, diameter bawah 20 cm, dan tinggi 30 cm yang digunakan untuk mengukur nilai slump pada adukan beton segar. Batang besi pemadat digunakan untuk memadatkan beton didalam kerucut Abrams, maupun saat pembuatan benda uji beton. m) Cetakan Benda Uji

Cetakan benda uji yang digunakan berbentuk silinder yang terbuat dari pelat besi dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.

(14)

n) Kuas dan Pelumas

Kuas dan pelumas digunakan untuk melumuri cetakan benda uji agar beton tidak menempel pada saat pembukaan cetakan.

o) Pipet

Pipet digunakan untuk membantu pengeluaran air dalam jumlah sedikit dan juga digunakan saat pengujian bleeding.

p) Mesin Pengaduk (Molen)

Mesin Pengaduk (Molen) digunakan untuk mencampur bahan-bahan pembuat beton.

q) CTM (Compression Testing Machine)

CTM (Compression Testing Machine) merek Controls dengan kapasitas 1500 KN. digunakan untuk menguji kuat tarik beton.

r) Ember

Ember digunakan untuk tempat penyimpanan air.

b. Tahap Kedua

Tahap kedua pada penelitian ini merupakan pemeriksaan bahan yang akan digunakan. Dalam tahap ini dilakukan pengujian terhadap agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil) dan terak (slag). Hal ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan karakteristik bahan material penyusun beton terak yang digunakan.

1) Pengujian Agregat Halus (Pasir) a) Pengujian kadar lumpur

Pengujian bertujuan untuk mengetahui kandungan lumpur yang terkandung dalam pasir, dan dilaksanakan berdasarkan PBBI (Peraturan Beton Bertulang Indonesia) 1971.

b) Pengujian kadar air

Dalam perancangan campuran, kondisi kadar air untuk agregat harus dalam keadaan SSD ( Saturated Surface Dry ) atau kering permukaan dari agregat tersebut, tetapi jenuh terhadap air walaupun

(15)

campuran beton (fas) tidak diserap oleh agregat, tetapi untuk perekat ( Portland Cement ). Pengujian dilaksanakan berdasarkan SNI-1970-2008.

c) Pengujian gradasi

Gradasi adalah keseragaman diameter pasir sebagai agregat halus lebih diperhitungan dari pada agregat kasar, menentukan sifat pengerjaan dan sifat kohesi campuran beton. Selain itu gradasi pasir sangat menentukan pemakaian semen dalam pembuatan beton. Dilaksanakan berdasarkan SNI 03-1968-1990.

d) Pengujian specific gravity

Mengetahui sifat-sifat bahan bangunan yang akan dipakai dalam suatu konstruksi adalah sangat penting karena dari sifat-sifat tersebut dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengerjakan bangunan tersebut. Berat jenis merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam merencanakan campuran adukan beton karena dengan mengetahui variabel tersebut dapat dihitung volume pasir yang diperlukan. Dilaksanakan berdasarkan SNI 1970-2008.

e) Pengujian kadar zat organik

Pasir umumnya diambil dari sungai, maka kemungkinan pasir kotor sangat besar, misalnya bercampur dengan lumpur maupun zat organik lainnya. Pasir sebagai agregat halus dalam adukan beton tidak boleh mengandung zat organik terlalu banyak karena akan mengurangi kekuatan beton yang dihasilkan. Dilaksanakan berdasarkan PBBI (Peraturan Beton Bertulang Indonesia) 1971.

2) Pengujian Terak a) Pengujian kadar air

Dalam perancangan campuran, kondisi kadar air untuk agregat harus dalam keadaan SSD ( Saturated Surface Dry ) atau kering permukaan dari agregat tersebut, tetapi jenuh terhadap air walaupun

(16)

direndam berat tidak akan bertambah. Sehingga air yang dipakai dalam campuran beton (fas) tidak diserap oleh agregat, tetapi untuk perekat ( Portland Cement ). Pengujian dilaksanakan berdasarkan SNI-1970-2008.

b) Pengujian gradasi terak

Gradasi adalah keseragaman diameter pasir sebagai agregat halus lebih diperhitungan dari pada agregat kasar, menentukan sifat pengerjaan dan sifat kohesi campuran beton. Selain itu gradasi pasir sangat menentukan pemakaian semen dalam pembuatan beton. Dilaksanakan berdasarkan SNI 03-1968-1990.

c) Pengujian specific gravity

Mengetahui sifat-sifat bahan bangunan yang akan dipakai dalam suatu konstruksi adalah sangat penting karena dari sifat-sifat tersebut dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengerjakan bangunan tersebut. Berat jenis merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam merencanakan campuran adukan beton karena dengan mengetahui variabel tersebut dapat dihitung volume pasir yang diperlukan. Dilaksanakan berdasarkan SNI 1970-2008.

3) Agregat Kasar (Kerikil) a) Pengujian Gradasi

Pengujian ini untuk mengetahui gradasi dan keseragaman diameter agregat kasar, yang menentukan sifat pengerjaan dan sifat kohesif campuran adukan beton. Dilaksanakan berdasarkan SNI 03-1968-1990.

b) Pengujian Abrasi

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan ketahanan agregat kasar terhadap keausan dengan menggunakan mesin Los

(17)

berat bahan aus lewat saringan (2,00 mm) terhadap berat semula. Dilaksanakan berdasarkan SNI-2417-2008.

c) Pengujian specific gravity

Mengetahui sifat-sifat bahan bangunan yang akan dipakai dalam suatu konstruksi adalah sangat penting karena dari sifat-sifat tersebut dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengerjakan bangunan tersebut. Berat jenis merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam merencanakan campuran adukan beton karena dengan mengetahui variabel tersebut dapat dihitung volume kerikil yang diperlukan. Dilaksanakan berdasarkan SNI 1969-2008.

c. Tahap Ketiga

Pada ketiga tahap ini dilakukan perancangan campuran beton dengan menggunakan perbandingan 1:2:3 terhadap volume beton, perencanaan campuran adukan beton pada agregat halus (pasir) diganti sebagian atau seluruhnya menggunakan terak (slag) dengan variasi tambah 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% dari volume benda uji.

d. Tahap Keempat

Pada tahap keempat ini merupakan tahap pembuatan benda uji. Langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan SNI 03-4810-1998 sebagai berikut :

1) Menyiapkan bahan penyusun beton

Menyiapkan bahan dan mengukur volume bahan penyusun beton dengan menggunakan gelas ukur 500cc atau 1000cc sesuai dengan rancangan. 2) Menyiapkan cetakan

Menyiapkan cetakan benda uji dengan membersihkan cetakan, merakit cetakan, dan mengolesi oli pada bagian dalam cetakan menggunakan kuas untuk mempermudah proses pelepasan beton dari cetakan.

(18)

3) Pembuatan adukan

Pembuatan adukan dilakukan dengan mencampurkan bahan penyusun beton yang sudah disediakan dan diukur volumenya. Pengadukan dilakukan menggunakan mesin untuk mempermudah pekerjaan dan lebih merata.

4) Pengujian slump

Pengujian dilakukan menggunakan kerucut Abrams dan batang baja sebagai penumbuk, pengujian dilaksanakan untuk mengetahui perubahan kadar air bila material dan gradasi seragam.

5) Pengecoran

Pengecoran dilakukan dengan cara menuangkan adukan beton segar kedalam cetakan dengan ketinggian sedekat mungkin untuk menghindari

segregasi. Saat menuangkan adukan beton segar dilakukan pemadatan

dengan ditusuk-tusuk agar tidak ada celah pada beton yang dapat menyebabkan rongga.

6) Pelepasan cetakan

Cetakan dibongkar dengan dengan hati-hati agar tidak merusak benda uji.

(19)

e. Tahap Kelima

Tahap kelima ini merupakan tahap perawatan benda uji. Tahap ini dimulai setelah benda uji dilepas dari cetakan. Benda uji direndam didalam air yang mempunyai suhu normal, ruangan penyimpanan harus bebas dari getaran terutama pada 48 jam pertama setelah benda uji disimpan. Perendaman ini dilakukan 26 hari.

f. Tahap Keenam

Tahap keenam ini merupakan tahap pengujian, beton yang sudah berumur 28 hari dan sudah dikeluarkan dari air kemudian diuji kuat tarik dan berat jenisnya, pengujian kuat tarik menggunakan alat CTM (Compression

Testing Machine). Benda uji berupa beton berbentuk silinder dengan diameter

15 cm x 30 cm. metode pengujian kuat tarik beton berdasarkan SNI 03-2491-2002.

g. Tahap Ketujuh

Tahap ketujuh ini merupakan tahap analisis data. Analisis data digunakan untuk mengetahui hasil pengujian yang telah dilaksanakan. Analisis data hasil pengujian menggunakan bantuan progam komputer SPSS 16.0 (Statistical Package for the Social Science 16.0).

h. Tahap Kedelapan

Tahap ini merupakan penarikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. Kesimpulan ini berdasarkan dari analisa data pada tahap sebelumnya, sebagai jawaban dari masalah yang telah dirumuskan.

Gambar

Gambar 3.1. Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian  B.  Desain Penelitian
Gambar 3.2. Alur Penelitian Eksperimen
Gambar 3.3. Sampel Benda Uji

Referensi

Dokumen terkait

Definisi laporan keuangan dalam akuntansi bank syariah adalah laporan keuangan yang menggambarkan fungsi bank Islam sebagai investor, hak dan kewajibannya, dengan

gambaran data tentang efektivitas Pembinaan dan Pengembangan kinerja Tim Seleksi Peserta Diklat dalam menunjang keberhasilan penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Pegawai

Kami mencatat lokasinya dengan hati-hati, dan keesokan harinya aku menggambar empat buah peta, untuk kami masing-masing satu, dan menuliskan tanda kami berempat di bagian

Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yang digunakan dapat mengevaluasi sebuah pusat laba, sama halnya dalam mengevaluasi perusahaan secara keseluruhan. Pertama adalah

Pada  pemeriksaan darah penderita Kanker  Hati  ternyata  diketahui  65%  di antaranyamengandungpetandaterkenainfeksiHepatitisB.Sebagianbesardari

Katekismus Heidelberg menegaskan bahwa penghiburan sejati berupa pengharapan yang pasti dan tidak berubah hanya di dalam Kristus yang telah menebus orang percaya

Disamping itu, manfaat atau pentingnya pembuatan neraca awal yaitu dapat memberikan informasi yang jelas kepada Pemerintah Kabupaten Belu (Manajemen Pemerinatah

Dengan an sele selesain sainya ya lap laporan oran Tug Tugas as Bes Besar ar ini ini tida tidak k terl terlepas dari epas dari bant bantuan uan banyak pihak yang