KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah tugas mata kuliah Pembiayaan Pembangunan yang berjudul “Dana Alokasi Khusus”
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses penyelesaian makalah ini, secara khusus kepada:
• Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kami kesehatan serta kesempatan untuk membuat makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai. • Putu Gde Ariastita, ST, MT selaku dosen pengajar sekaligus dosen
pembimbing pembuatan makalah tugas mata kuliah Pembiayaan Pembangunan atas bimbingannya dalam membantu memberikan saran, masukan, maupun kritik selama penyusunan makalah ini sampai selesai.
Penyusunan makalah tugas mata kuliah Pembiayaan Pembangunan ini bertujuan untuk memahami pengertian dan penjelasan lebih dalam lagi dari dana alokasi khusus.
Dalam penyusunan makalah, penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan yang terjadi, baik pada teknis penulisan maupun pembahasan materi. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada khususnya dan dapat memberikan masukan informasi serta pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.
Surabaya, 19 Oktober 2015
Penyusun
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... 1 DAFTAR ISI... 2 DAFTAR GAMBAR... 3 DAFTAR TABEL... 3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 4 1.2 Tujuan... 4 1.3 Sistematika Penulisan...5 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Dana Alokasi Khusus...6
2.2 Dasar Hukum... 6
2.3 Kriteria Dana Alokasi Khusus...6
2.4 Penghitungan Dana Alokasi Khusus...8
2.5 Arah Kegiatan Dana Alokasi Khusus...10
2.6 Dana Pendamping...13
2.7 Dana Reboisasi...13
2.8 Bentuk Dana Alokasi Khusus...14
2.9 Kendala dalam Dana Alokasi Khusus...18
2.10 Penyaluran Dana Alokasi Khusus...19
2.11 Perbedaan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus...22
2.12 Studi Kasus... 23
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan... 25
DAFTAR PUSTAKA... 26
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Alur Penentuan Daerah Penerima DAK...10
Gambar 2 Alur Penentuan Alokasi DAK...11
Gambar 3 Tren Alokasi DAK...18
Gambar 4 Penyaluran Dana Alokasi Khusus...22
DAFTAR TABEL Tabel 1 Reformulasi DAK Tahun 2015...16
Tabel 2 Perbedaan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus...22
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayah teritorialnya tersebar di tiga puluh empat provinsi dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang beragam. Keberagaman tersebut merupakan indicator utama dalam membedakan bagaimana sistem tata kelola pemerintahan dan pembangunan berlaku dalam tiap-tiap daerah. Dalam hal tata kelola pemerintahan dan pembangunan di daerah, Pemerintah Indonesia telah melakukan regulasi secara nasional yang telah berdampak sistemik bagi tata kelola pemerintahan dan pembangunan, khususnya di daerah otonom.
Paradigma politik ketatanegaraan yang semula cenderung bernuansa otoritarian menjadi lebih demokratis. Pola kekuasaan eksekutif yang terpusat dan terlalu dominan diakui sebagai pola yang kurang mendukung dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang merata di tanah air. Perubahan ini khususnya terjadi dalam hal keuangan, dimana pemerintah pusat bertanggung jawab menjaga keseimbangan alokasi dana antar daerah. Untuk itu, pemerintah pusat melakukan transfer dana ke daerah melalui beberapa mekanisme atau yang dikenal dengan dana perimbangan.
Dana perimbangan merupakan dana yang bersumber dari penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah. Dana perimbangan terbagi atas tiga jenis, antara lain Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH). Ketiga jenis tersebut mempunyai tujuan yang berlainan satu sama lain.
Salah satu bentuk hubungan keuangan pusat dan daerah yang terhimpun dalam jenis dana perimbangan adalah DAK, adapun tujuan utama transfer dana tersebut yaitu untuk membiayai kegiatan khusus yang merupakan urusan wajib atau pilihan daerah dan merupakan prioritas nasional, sehingga dapat membantu mengurangi beban biaya kegiatan khsuus yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai penjelasan dari Dana Alokasi Khusus disertai dengan mekanisme dan penggunaan dari Dana Alokasi Khusus tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah yang berjudul “Dana Alokasi Khusus” ini adalah untuk memahami pengertian dan penjelasan lebih dalam lagi dari dana alokasi khusus.
1.3 Sistematika Penulisan
Berikut ini merupakan sistematika dari penulisan makalah yang berjudul “Dana Alokasi Khusus”:
BAB I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang dari makalah ini, tujuan penulisan, serta sistematika penulisan dari materi ini.
BAB II merupakan bab pembahasan yang berisi tentang penjelasan mengenai dana alokasi khusus
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Dana Alokasi Khusus
Dana alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. Daerah tertentu yang dimaksud adalah daerah dengan pertimbangan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Tujuan diberikan DAK adalah membantu daerah tertentu untuk mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat, serta untuk mendorong percepatan pembangunan daerah sehingga tercapainya sasaran prioritas nasional.
2.2 Dasar Hukum
Dasar Hukum mengenai dana Alokasi Khusus diatur dalam:
1. UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
2. PP No.55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. 2.3 Kriteria Dana Alokasi Khusus
Kriteria pengalokasian DAK terdapat 3 macam, yaitu: 1. Kriteria Umum
Dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang tercermin dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah. Kemudian kemampuan keuangan daerah juga dihitung berdasarkan indeks fiscal netto dan ditetapkan setiap tahun. Perhitungan kriteria umum adalah sebagai berikut:
Dimana:
PAD = Pendapatan Asli daerah, DAU = Dana Alokasi Umum, DBH = Dana Bagi Hasil, DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi, PNSD = Pegawai Negeri Sipil Daerah.KU dibawah rata-rata KU secara nasional adalah daerah yang menjadi prioritas mendapatkan DAK.
KU = (PAD + DAU + (DBH – DBHDR)) – Belanja Gaji PNSD
Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal netto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun. Dalam tahun 2011, arah kebijakan umum DAK adalah untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. Hal ini diterjemahkan bahwa DAK dialokasikan untuk daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada di bawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu). Dalam hal ini, rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini.
Selanjutnya, perhitungan IFN dilakukan dengan membagi kemampuan keuangan daerah dengan rata-rata nasional kemampuan keuangan daerah. Jika IFN < 1, atau dengan kata lain daerah tersebut memiliki kemampuan keuangan daerah lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional, maka daerah tersebut mendapatkan prioritas dalam memperoleh DAK.
2. Kriteria Khusus
Dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah. Daerah yang termasuk dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dala 199 kabupaten tertinggal diprioritaskan mendapatkan alokasi DAK, sedangkan karakteristik daerah meliputi:
1. Daerah Tertinggal
2. Daerah Perabatasan dengan Negara lain 3. Daerah Rawan Bencana
4. Daerah Pesisir
5. Daerah Ketahanan Pangan 6. Daerah Potensi Pariwisata 3. Kriteria Teknis
Disusun berdasarkan indicator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana, serta pencapaian teknis pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. Kriteria teknis kegiatan DAK dirumuskan oleh masing-masing menteri teknis terkait, yakni:
- Bidang Pendidikan dirumuskan oleh Menteri Pendidikan - Bidang Kesehatan dirumuskan oleh Menteri Kesehatan;
- Bidang Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Irigasi dan Infrastruktur Air Minum dan Senitasi dirumuskan oleh Menteri Pekerjaan Umum;
- Bidang Prasarana Pemerintahan dirumuskan oleh Menteri Dalam Negeri; - Bidang Kelautan dan Perikanan dirumuskan oleh Menteri Kelautan dan
Perikanan;
- Bidang Pertanian dirumuskan oleh Menteri Pertanian;
- Bidang Lingkungan Hidup dirumuskan oleh Menteri Lingkungan Hidup; - Bidang Keluarga Berencana dirumuskan oleh Kepala Badan Koordinator
Keluarga Berencana Nasional;
- Bidang Kehutanan dirumuskan oleh Menteri Kehutanan;
- Bidang Sarana dan Prasaranan Pedesaan dirumuskan oleh Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal; dan
- Bidang Perdagangan dirumuskan oleh Menteri Perdagangan. 2.4 Penghitungan Dana Alokasi Khusus
Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui dua tahapan yaitu: a. Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK
Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Penentuan daerah ini melalui 4 tahapan yakni:
1. Jika suatu daerah memenuhi kriteria umum yang ditunjukkan dengan IFN < 1, maka daerah tersebut pada proses ini layak mendapat alokasi DAK;
2. Jika pada proses no. 1 di atas daerah tidak memenuhi, maka dilihat kriteria khusus yang pertama yaitu apakah daerah tersebut termasuk dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal. Jika ya, maka daerah tersebut layak memperoleh alokasi DAK; 3. Jika daerah tersebut tidak termasuk dalam kriteria khusus pada butir 2 di
atas, maka lihat kembali kriteria khusus yang kedua yaitu karakteristik wilayah yang ditunjukkan dengan indeks kewilayahan (IKW). Pada proses ini, IFN dan IKW digabungkan sehingga menghasilkan IFW. Dalam hal ini apabila IFW > 1, maka daerah tersebut layak memperoleh DAK;
4. Jika daerah tersebut ternyata masih belum layak untuk mendapatkan DAK pada proses nomor 3 di atas, maka dilihat kriteria teknisnya untuk masing-masing bidang yang didanai dari DAK yang dicerminkan dengan indeks teknis (IT). Pada proses ini, IT digabungkan dengan IFW sehingga menghasilkan IFWT. Jika IFWT > 1, maka daerah tersebut layak mendapat alokasi DAK pada bidang tersebut
Gambar 1 Alur Penentuan Daerah Penerima DAK b. Penentuan besaran alokasi DAK masing masing daerah
Besaran alokasi DAK masing-masing daerah ditentukan dengan perhitungan indeks berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Alokasi DAK per daerah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan. Penentuan besaran alokasi DAK ini melalui 3 tahapan yakni:
1. Setelah proses penentuan daerah tertentu dilalui, maka harus dihitung besaran alokasi untuk masing-masing bidang dan masing-masing daerahnya (ADB, alokasi daerah dan bidang);
2. IFWT masing-masing daerah dikalikan dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dan menghasilkan Bobot Daerah (BD) untuk masingmasing daerah;
3. Selanjutnya, BD tersebut dikalikan dengan pagu alokasi DAK masing-masing bidang sehingga dihasilkan alokasi daerah bersangkutan untuk masing-masing bidang.
2.5 Arah Kegiatan Dana Alokasi Khusus Adapun arah kegiatan dari DAK sendiri, yaitu: a) DAK Pendidikan
Diarahkan untuk menunjang pelaksanaan program Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 tahun yang bermutu, yang diperuntukkan bagi SD, baik negeri maupun swasta, yang diprioritaskan pada daerah tertinggal, daerah terpencil, daerah perbatasan, daerah rawan bencana, dan daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.
b) DAK Kesehatan
Diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB); meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin serta masyarakat di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, dan kepulauan, melalui peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya untuk pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas, dan jaringannya termasuk poskesdes, dan rumah sakit provinsi/kabupaten/kota untuk pelayanan kesehatan rujukan, serta penyediaan sarana/prasarana penunjang pelayanan kesehatan di kabupaten/kota.
c) DAK Keluarga Bencana
Diarahkan untuk meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan tenaga lini lapangan Program KB, sarana dan prasarana pelayanan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)/advokasi Program KB; sarana dan prasarana pelayanan di klinik KB; dan sarana pengasuhan dan pembinaan
tumbuh kembang anak dalam rangka menurunkan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk, serta meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga.
d) DAK Infrastruktur Jalan dan Jembatan
Diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana jalan provinsi, kabupaten, dan kota dalam rangka memperlancar distribusi penumpang, barang dan jasa, serta hasil produksi yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian, industri, dan pariwisata sehingga dapat memperlancar pertumbuhan ekonomi regional.
e) DAK Infrastruktur Irigasi
Diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana sistem irigasi termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi urusan kabupaten/kota dan provinsi khususnya di daerah lumbung pangan nasional dan daerah tertinggal dalam rangka mendukung program peningkatan ketahanan pangan.
f) DAK Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi
Diarahkan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air minum dan meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah, persampahan, dan drainase) untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
g) DAK Pertanian
Diarahkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian di tingkat usaha tani, dalam rangka meningkatkan produksi guna mendukung ketahanan pangan nasional.
h) DAK Kelautan dan Perikanan
Diarahkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana produksi, pengolahan, peningkatan mutu, pemasaran, dan pengawasan, serta penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
i) DAK Prasarana Pemerintah Daerah
Diarahkan untuk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan publik di daerah pemekaran, dan diprioritaskan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran tahun 2007-2008, serta digunakan untuk pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor/bupati/walikota, dan pembangunan/perluasan/rehabilitasi total gedung kantor DPRD, dengan tetap memperhatikan kriteria perhitungan alokasi DAK.
j) DAK Lingkungan Hidup
Diarahkan untuk meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang lingkungan hidup melalui peningkatan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan dan sistem informasi pemantauan
kualitas air, pengendalian pencemaran air, serta perlindungan sumber daya air di luar kawasan hutan.
k) DAK Kehutanan
Diarahkan untuk meningkatkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS), meningkatkan fungsi hutan mangrove dan hutan pantai, pemantapan fungsi hutan lindung, Taman Hutan Raya (TAHURA), hutan kota, serta pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan kehutanan termasuk operasional kegiatan penyuluhan kehutanan.
l) DAK Sarana dan Prasarana Perdesaan
Ditujukan khusus untuk daerah tertinggal, dan diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ketersediaan prasarana dan sarana dasar untuk memperlancar arus angkutan penumpang, bahan pokok, dan produk pertanian lainnya dari daerah pusat-pusat produksi di perdesaan ke
daerah pemasaran. m) DAK Perdagangan
Diarahkan untuk menunjang penguatan sistem distribusi nasional melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan yang terutama berupa pasar tradisional di daerah perbatasan, daerah pesisir dan pulau-pulau kecil, daerah tertinggal/terpencil, serta daerah pasca bencana.
2.6 Dana Pendamping
Dana pendamping merupakan dana yang diperuntukkan untuk mendanai kegiatan yang bersifat kegiatan fisik. Untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab pemerintah daerah, daerah penerima DAK wajib mengalokasikan dana pendamping yang berasal dari dana APBD-nya sebesar minimal 10% dari jumlah DAK yang diterimanya. Dana pendamping ini digunakan untuk mendampingi kegiatan yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK). Kewajiban penyediaan dana pendamping ini merupakan wujud komitmen terhadap bentuk kegiatan yang didanai dari DAK yang merupakan salah satu kewenangan daerah. Untuk daerah dengan kemampuan fiscal tertentu tidak diwajibkan menyediakan dana pendamping, yakni untuk daerah yang selisih antara Penerimaan Umum APBD dan belanja pegawainya sama dengan nol atau negatif. Selain itu, daerah penerima DAK juga wajib menyediakan 3% dari nilai DAK yang diterima untuk biaya umum yang diambil dari sumber penerimaan lainnya.
Untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawabnya, daerah penerima wajib mengalokasikan dana pendamping dalam APBD-nya sebesar minimal 10% dari jumlah DAK yang diterimanya. Untuk daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan dana pendamping yakni daerah yang
selisih antara Penerimaan Umum APBD dan belanja pegawainya sama dengan nol atau negatif. Namun dalam pelaksanaannya, tidak ada daerah penerima DAK yang mempunyai selisih antara Penerimaan Umum APBD dan belanja pegawainya sama dengan nol atau negatif.
2.7 Dana Reboisasi
Salah satu penyumbang dana alokasi khusus didapatkan dari Dana Reboisasi yang dikhususkan untuk bidang kehutanan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Dana Reboisasi yang selanjutnya disebut DR merupakan dana yang dipungut dari pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka reboisasi dan rehabilitasi hutan. Penerimaan Negara yang berasal dari dana reboisasi diatur dalam UU No 33 Tahun 2004 Pasal 14 sebagai berikut:
a. 60% (enam puluh persen) bagian Pemerintah Pusat digunakan untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional; dan
b. 40% (empat puluh persen) bagian daerah digunakan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil.
Adapun aturan mengenai Dana Reboisasi meliputi tatacara pengenaan, tatacara pembayaran dan sebagainya diatur dalam Peraturan Pemerintah No 35 Tahun 2000. Peraturan Pemerintah ini telah mengalami perubahan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2007 pada pasal 7 dimana Dana Reboisasi yang harus dibayar disetor dalam mata uang dollar Amerika Serikat (USD) dengan biaya transfer/korespondensi dibebankan pada Wajib Bayar. Hal ini dikarenakan pertimbangan berikut:
a. Bahwa akibat dana reboisasi disetor dengan mata uang rupiah berdasarkan kurs jual dollar Amerika Serikat yang berlaku di Bank Indonesia pada saat pembayaran dengan biaya transfer/korespondensi dibebankan pada wajib bayar sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 tentang Dana Reboisasi terjadi selisih antara mata uang rupiah dengan nilai kurs dollar Amerika Serikat;
b. Bahwa untuk menghindari terjadinya kurang bayar (kurang setor) akibat selisih nilai kurs dollar Amerika Serikat atas penyetoran Dana Reboisasi, perlu mengubah pembayaran atas kewajiban Dana Reboisasi dengan mata uang dollar Amerika Serikat (USD);
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 tentang Dana Reboisasi;
Namun dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 memuat mengenai pengaturan Bagi Hasil penerimaan Pajak Penghasilan (PPh), dana reboisasi yang semula termasuk bagian dari DAK kini dialihkan menjadi Dana Bagi Hasil.
2.8 Bentuk Dana Alokasi Khusus
Dana Alokasi Khusus dialokasikan kepada daerah tertentu berdasarkan usulan daerah yang berisi usulan-usulan kegiatan dan sumber-sumber pembiayaannya yang diajukan oleh daerah tersebut. Bentuknya dapat berupa rencana suatu proyek atau kegiatan tertentu atau dapat berbentuk dokumen program rencana pengeluaran tahunan dan multi tahunan untuk sektor-sektor serta sumber-sumber pembiayaannya.
Dalam sektor/kegiatan yang disusulkan oleh daerah termasuk dalam dana alokasi khusus adalah kebutuhan yang tidak dapat diperhitungkan atau tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumus alokasi umum, maka daerah perlu membuktikan bahwa daerah kurang mampu membiayai seluruh pengeluaran usulan kegiatan tersebut dari:
Pendapatan Anggaran Daerah
Bagian Daerah dari Pajak Bumi dan Bangunan
Bagian Daerah dari Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Bagian Daerah dari Penerimaan SDA
Dana Alokasi Umum Pinjaman Daerah
dan lain-lain yang termasuk dalam penerimaan yang sah dimana penggunaannya dapat ditentukan sepenuhnya oleh Daerah.
Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan DAK adalah DAK tidak dapat digunakan untuk mendanai administrasi kegiatan, penyiapan kegiatan fisik, penelitian, pelatihan, dan perjalanan dinas seperti pelaksanaan penyusunan rencana dan program, pelaksanaan tender pengadaan kegiatan fisik, kegiatan penelitian dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan fisik, kegiatan perjalanan pegawai daerah dan kegiatan umum lainnya yang sejenis.
Anggaran alokasi DAK untuk TA. 2015 adalah sebesar Rp. 35.820.675.000.000,-. Jumlah anggaran tersebut kemudian dibagi menjadi 2, yaitu:
a. DAK Reguler sebesar Rp 33.000.000.000.000,- dan b. DAK Tambahan Sebesar Rp
2.820.675.000.000,-DAK Reguler dialokasikan kepada Daerah yang memenuhi kriteria dan untuk mendanai 14 Bidang DAK TA. 2015, sedangkan DAK Tambahan hanya diperuntukkan bagi Daerah Tertinggal dan Daerah Perbatasan serta hanya untuk mendanai DAK Bidang Transportasi (Infrastruktur Jalan dan Transportasi
Perdesaan), Bidang Infrastruktur Irigasi maupun bidang Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum.
Adapun kebijakan yang diterapkan dalam DAK TA. 2015 adalah sebagai berikut:
1. Mendukung pencapaian prioritas nasional dalam RKP, serta melakukan restrukturisasi bidang DAK sehingga lebih fokus dan berdampak signifikan. 2. Membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif
rendah dalam membiayai pelayanan publik untuk mendorong pencapaian standar pelayanan minimal (SPM), melalui penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat, serta meningkatkan efektivitas belanja daerah,dengan lebih memperhatikan daerah tertinggal, perbatasan dan pesisir/kepulauan.
3. Meningkatkan koordinasi penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) sehingga lebih tepat sasaran dan tepat waktu.
4. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan DAK melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan DAK di berbagai tingkatan pemerintahan.
5. Meningkatkan akurasi data-data teknis dan menajamkan indikator pengalokasian DAK;
6. Pengalokasian DAK lebih memprioritaskan daerah-daerah dengan kemampuan fiskal rendah;
7. Memprioritaskan daerah tertinggal, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah pesisir dan kepulauan sebagai kriteria khusus dalam pengalokasian DAK;
8. Meningkatkan koordinasi dan kualitas pemantauan dan evaluasi, baik di tingkat pusat maupun daerah.;
9. Mendorong mekanisme pelaporan dan evaluasi DAK berbasis elektronik (web based system) yang terintegrasi.
2.9 Kendala dalam Dana Alokasi Khusus
Dana alokasi khusus yang merupakan sumber penerimaan dalam APBD di kabupaten/kota maupun provinsi sangat diharapkan oleh daerah untuk percepatan pembangunan pada bidang-bidang/sektor strategis untuk peningkatan infrastruktur, pelayanan masyarakat dibidang kesehatan dan pendidikan dll.
Dalam pelaksanaan di daerah ditemukan banyak kendala, sehingga serapan dana DAK maupun kinerja fisik kegiatan belum dapat dikatakan maksimal. Kendala yang banyak dialami daerah dalam pelaksanaan dana DAK ini, antara lain :
1. Proses Penganggaran di APBD
Sebaiknya perencanaan pembangunan harus sinergis dan mengacu pada kebutuhan daerah dan yang lebih penting mengikuti alur perencanaan dan penganggaran. DAK merupakan sumber pendapatan bagi daerah yang dipergunakan sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini kementerian dan lembaga.
Dalam perjalanannya, DAK belum dapat dipastikan baik program maupun anggarannya yang harus diprogramkan dalam APBD di daerah. Selalu terjadi keterlambatan atas alokasi dana DAK. Sedangkan proses penyusunan Perencanaan dalam APBD sudah berjalan sesuai tata aturan yang tertuang dalam Permendagri Nomor 54 Tahun 2010.
2. Beban Berat dengan Dana Pendamping
Kewajiban daerah bagi penerima DAK adalah menyediaan dana pendamping dari APBD. Jika daerah dengan Pendapatan Asli Daerah tinggi tentu tidak menjadi masalah. Daerah yang dikategorikan memiliki PAD rendah ini merupakan beban berat yang harus ditampung di pembiayaan daerah
3. Petunjuk Teknis Selalu Terlambat
Seperti uraian di atas, sebaiknya rangkaian perencanaan DAK merupakan satu kesatuan. Sehingga proses perencanaan dan penganggaran di daerah dapat sinkron dan telah berdasarkan analisa sesuai karakteristik daerah. Tetapi dalam kenyataan, petunjuk teknis masih terlambat dan berubah-ubah. 4. Petunjuk Teknis Terlalu Kaku
Petunjuk teknis pemanfaatan DAK merupakan acuan satu-satunya dalam pelaksanaan, daerah tidak memiliki peluang untuk membuat revisi sesuai kebutuhan. Bahkan ironisnya, ada juknis yang tidak bisa dilaksanakan di
daerah tertentu. Misalkan dalam konstruksi bangunan dengan genteng, sementara daerah tersebut tidak ada produksi genteng. Ada indikasi juga para pengelola DAK di SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) memiliki rasa takut berlebihan dalam pemanfaatan DAK karena pemahaman juknis.
5. Program Kegiatan Yang Kurang sinkron, antara DAK, bantuan Pusat dan Dana Dekonstentrasi
Pengalokasian DAK belum maksimal memperhatikan semua program yang ada, belum terkoneksi dengan program-program pusat lainnya. Ada program bantuan hibah dari kementerian/lembaga, Program Urusan Bersama, Tugas Pembantuan dan dana Dekonsentrasi lainnya. Tak tertutup kemungkinan program kegiatan yang dilaksanakan pada objek yang sama.
6. DAK Belum Maksimal Dalam Pengukuran Outcome,
Dalam pengukuran outcome belum maksimal, sehingga masih sering terjadi program kegiatan yang berulang. Sebaiknya, perlu evaluasi pada setiap kegiatan tersebut untuk mencapai sasaran yang sesuai target ketuntasan.
Hal lainnya, program DAK yang terserap, realisasinya rendah dan lambat. Selain keterlambatan juknis juga dipengaruhi oleh prosedur keuangan di APBD. Jika angka DAK mengalami ketidakcocokan yang di APBD dengan alokasi, tentu perlu waktu untuk melakukan perubahan pada peraturan kepala daerah dalam penjabaran APBD atau masuk pada pembahasan APBD perubahan yang terlaksana akhir tahun.
Sehingga dapat dikatakan bahwa DAK merupakan harapan besar bagi daerah dalam percepatan pembangunan. Sangat diharapkan dengan alokasi yang semakin naik dan berkelanjutan sampai memenuhi target tertentu. Daerah dapat menyusun program pembangunan yang lebih fokus, tidak seperti layaknya arisan, sekarang dapat DAK tahun besok belum tahu. Kedua, perlu adanya sinkronisasi semua program kegiatan DAK dengan kegiatan pembangunan lainnya yang relevan dengan bidang DAK, sehingga tidak terjadi penganggaran pada objek yang sama. Ketiga, dana pendamping seharusnya tidak diperlukan, selain memberatkan daerah sulit pula mengevaluasi pemanfaatan dana DAK murni. Keempat, petunjuk teknis pelaksanaan DAK sebaiknya terbit pada awal proses perencanaan agar semua perencanaan terlaksana dengan baik dan sesuai mekanisme dan penjadwalan.
2.10 Penyaluran Dana Alokasi Khusus
Ketentuan tentang penyaluran Dana Alokasi Khusus kepada Daerah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Ketentuan pelaksanaan penyaluran Dana Alokasi Khusus ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan, yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 553/KMK.03/2000 tentang Tata Cara Penyaluran Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus sebagaimana telah diubah dengan keputusan Menteri Keuangan Nomor 655/KMK.02/2000 tanggal 27 Desember 2001 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 553/KMK.03/2000 tentang Tata Cara Penyaluran Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus.
Dibawah ini merupakan 9 tahap penyaluran DAK, 1. RKUD
Penyaluran DAK dilakukan dengan cara pemindah bukuan dari RKUN ke RKUD. Prinsip penyaluran adalah untuk pengisian Kasda, bukan belanja. 2. Bertahap
Penyaluran dilakukan secara bertahap : Tahap 1 : 30% dari total pagu DAK Tahap 2 : 45% dari total pagu DAK Tahap 3 : 25% dari total pagu DAK 3. Tidak Sekaligus
Penyaluran DAK tidak dapat dilakukan secara sekaligus dan tidak melampaui tahun anggaran berjalan.
4. Persyaratan
Penyaluran DAK tersebut dapat dilakukan setelah dokumen persyaratan diterima oleh DJPK. Penyaluran DAK Tahap 1 paling vepat dilakukan pada bulan Februari.
5. Tahap I
Dokumen persyaratan penyaluran DAK Tahap 1 : Perda tentang APDB tahap berjalan
Laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun sebelumnya Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap III tahun sebelumnya Rekapitulasi SP2D untuk DAK Tahap III tahun sebelumnya Surat Pernyataan Dana Pendamping DAK tahun berjalan 6. Tahap II
Dokumen persyaratan penyaluran DAK Tahap 2 :
Laporan Realiasi Penyerapan DAK Tahap I tahun berjalan Rekapitulasi SP2D untuk DAK Tahap I tahun berjalan 7. Tahap III
Laporan Realiasi Penyerapan DAK Tahap II tahun berjalan Rekapitulasi SP2D untuk DAK Tahap II tahun berjalan 8. Syarat 90%
Laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap I atau II dapat dibuat setelah penggunaan/penyerapan DAK di daerah ≥90% dari DAK yang diterima Kasda. (0≤Sisa DAK di Kasda ≤10%)
9. Batas Akhir
Laporan Realisasi Penyerapan DAK diterima paling lambat 7(tujuh) hari kerja sebelum tahun anggaran berjalan berakhir. Bila melampaui batas waktu tersebut maka DAK tidak dapat dicairkan.
Gambar 4 Penyaluran Dana Alokasi Khusus TRIWULAN I
Sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pagu alokasi;
Paling cepat pada bulan Februari dan Paling lambat tanggal 31 Juli , setelah kepala Daerah menyampaikan:
- Perda APBD tahun berjalan;
- Laporan realisasi penyerapan DAK dan/atau DAK Tambahan triwulan IV tahun anggaran sebelumnya;
- Laporan penyerapan penggunaan DAK dan/atau DAK Tambahan tahun anggaran sebelumnya;
- Surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping. TRIWULAN II
Sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pagu alokasi;
Setelah Daerah menyampaikan Laporan realisasi penyerapan DAK dan/atau DAK Tambahan Tw I tahun anggaran berjalan.
TRIWULAN III
Setelah Daerah menyampaikan Laporan realisasi penyerapan DAK dan/atau DAK Tambahan sampai dengan Tw II tahun anggaran berjalan.
TRIWULAN IV
Sebesar 20% (dua puluh persen) dari pagu alokasi;
Setelah Daerah menyampaikan Laporan realisasi penyerapan DAK dan/atau DAK Tambahan sampai dengan Tw III tahun anggaran berjalan.
2.11 Perbedaan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Berikut merupakan perbedaan dari Dana Alokasi Umum (DAU) dengan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Tabel 2 Perbedaan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus
DANA ALOKASI UMUM DANA ALOKASI KHUSUS Dana Alokasi Umum (DAU)
merupakan salah satu transfer dana Pemerintah kepada pemerintah daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang berasal dari APBN, yang dialokasikan kepada daerah untuk membantu membiayai kebutuhan tertentu. Dana Alokasi Khusus dapat dialokasikan dari APBN kepada Daerah tertentu untuk membiayai dana dalam APBN, yang dimaksud sebagai daerah tertentu adalah daerah-daerah yang mempunyai kebutuhan yang bersifat khusus.
DAU bersifat hibah umum ( block grant ); oleh karenanya, pemda memiliki kebebasan dalam memanfaatkannya tanpa campur tangan Pemerintah Pusat.
DAK harus mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
Berdasarkan studi kasus diatas diketahui bahwa penggunaan DAK di Kota Manado telah tepat sasaran dimana penggunaan DAK ini digunakan untuk membiayai pembangunan Jembatan Dendengan agar cepat selesai. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa dana alokasi khusus diberikan kepada daerah apabila daerah tersebut tidak mampu dalam pendanaan daerah yang didapat dari DAU maupun PAD. Adapun salah satu bentuk dari penyaluran DAK yaitu digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu dengan adanya DAK untuk pembangunan infrastruktur Jembatan Dendengan diharapkan proses pembangunan dapat cepat terselesaikan sehingga nantinya dapat menyejahterakan masyarakat setempat dan pemerataan pembangunan infrastruktur yang diharapkan pemerintah pusat dapat terealisasikan.
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Dana alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Daerah tertentu yang dimaksud di sini adalah daerah dengan pertimbangan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang tercermin dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah. Sedangkan kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana, serta pencapaian teknis pelaksanaan kegiatan DAK di daerah.
Adapun arah kegiatan dari DAK sendiri, yaitu: a. DAK Pendidikan
b. DAK Kesehatan
c. DAK Keluarga Berencana
d. DAK Infrastruktur Jalan dan Jembatan e. DAK Infrastruktur Irigasi
f. DAK Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi g. DAK Pertanian
h. DAK Kelautan dan Perikanan
i. DAK Prasarana Pemerintah Daerah j. DAK Lingkungan Hidup
k. DAK Kehutanan
l. DAK Sarana dan Prasarana Perdesaan m. DAK Perdagangan
Salah satu penyumbang dana alokasi khusus didapatkan dari dana pendamping maupun dana reboisasi. Dana pendamping merupakan dana yang diperuntukkan untuk mendanai kegiatan yang bersifat kegiatan fisik. Untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab pemerintah daerah, daerah penerima DAK wajib mengalokasikan dana pendamping yang berasal dari dana APBD-nya sebesar minimal 10% dari jumlah DAK yang diterimanya. Dana pendamping ini digunakan untuk mendampingi kegiatan yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK).
Sedangkan dana reboisasi merupakan dana alokasi khusus yang dikhususkan untuk bidang kehutanan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Dana Reboisasi merupakan dana yang
dipungut dari pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka reboisasi dan rehabilitasi hutan. Penerimaan Negara yang berasal dari dana reboisasi diatur dalam UU No 33 Tahun 2004 Pasal 14, 60% bagian Pemerintah Pusat digunakan untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional sedangkan 40% bagian daerah digunakan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil.
Dana alokasi khusus yang merupakan sumber penerimaan dalam APBD di kabupaten/kota maupun provinsi sangat diharapkan oleh daerah untuk percepatan pembangunan pada bidang-bidang/sektor strategis untuk peningkatan infrastruktur, pelayanan masyarakat dibidang kesehatan dan pendidikan dll. Namun dalam pelaksanaan di daerah ditemukan banyak kendala, sehingga serapan dana DAK maupun kinerja fisik kegiatan belum dapat dikatakan maksimal. Kendala yang banyak dialami daerah dalam pelaksanaan dana DAK ini, antara lain :
1. Proses Penganggaran di APBD
2. Beban Berat dengan Dana Pendamping 3. Petunjuk Teknis Selalu Terlambat
4. Petunjuk Teknis Terlalu Kaku
5. Program Kegiatan Yang Kurang sinkron, antara DAK, bantuan Pusat dan Dana Dekonstentrasi
6. DAK Belum Maksimal Dalam Pengukuran Outcome,
Ketentuan tentang penyaluran Dana Alokasi Khusus kepada Daerah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Ketentuan pelaksanaan penyaluran Dana Alokasi Khusus ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan, yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 553/KMK.03/2000 tentang Tata Cara Penyaluran Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus sebagaimana telah diubah dengan keputusan Menteri Keuangan Nomor 655/KMK.02/2000 tanggal 27 Desember 2001 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 553/KMK.03/2000 tentang Tata Cara Penyaluran Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat. (2014). Femonena Pengelolaan Dana Alokasi Khusus (DAK).
http://www.solselkab.go.id/post/read/706/fenomena-pengelolaan-dana-alokasi-khusus-dak.html (Diakses pada 15 Oktober 2015).
Leaflet Dana Alokasi Khusus Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Direktorat Dana Perimbangan. (2015). Modul Pengalokasian Dana Alokasi Khusus Tahun 2015. Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 tentang Dana Reboisasi.
Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2002 Tentang Dana Reboisasi.
UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
Manado Express. (2015). Walikota Manado Alokasikan Dan DAK untuk Jembatan Dendal. www.manadoexpress.co/berita-8884-walikota-manado-alokasikan-dana-dak-untuk-jembatan-dendal.html (Diakses pada 15 Oktober 2015).