• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAPPING KEGIATAN FARMER MANAGED EXTENTION ACTIVITIES (FMA) DESA PADA PELAKSANAAN FEATI/P3TIP DI PROVINSI JAWA TENGAH ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAPPING KEGIATAN FARMER MANAGED EXTENTION ACTIVITIES (FMA) DESA PADA PELAKSANAAN FEATI/P3TIP DI PROVINSI JAWA TENGAH ABSTRACT"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

MAPPING KEGIATAN FARMER MANAGED EXTENTION ACTIVITIES (FMA) DESA

PADA PELAKSANAAN FEATI/P3TIP DI PROVINSI JAWA TENGAH

Dian Maharso Yuwono, Mastur, dan Sherly Sisca Piay

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Bukit Tegal Lepek, Sidomulyo, Kotak Pos 101 Ungaran 50501

ABSTRACT

Mapping of Farmer Managed Extension Activities (FMA) on the FEATI Execution

in Central Java: Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and

Information (FEATI) facilitate agricultural extension activity through Farmer Managed

Extension (FMA). FMA facilitate farmer to do participatory learning and applying

adaptive technology, and also lead farmer to be market oriented. These activities will

grow agribusiness group based on area superiority. The number of executive FMA in

Central Java are 210, consist of 90 FMA in Magelang, 40 in Temanggung, 40 in Batang

and 40 in Brebes. AIAT Central Java has a mandate to introduce the technology that

suit to farmer’s needs and market thus will be increase the capacity of AIAT. In order to

facilitate mentoring and budget efficiency it is necessary to do FMA mapping. Mapping

was done by grouping the FMA based on kind of learning activities commodity.

Mapping result shown that the dominant commodities in Magelang are goat or sheep

(43.40%), beef cattle (16.04%), chili (11.32%), duck (6.6%) and rice (6.60%). In

Temanggung dominant commodities are goat or sheep (61.5%), chili (11.9%), potato,

mushroom, onions respectively is 4.75%. In Batang dominant commodities are goat or

sheep (42.5%), chicken (17.5%), beef cattle (7.5%), duck and rice respectively is 5%.

In Brebes dominant commodities are rice (35%), post harvest processing (22.5%), for

maize, goat or sheep, waste processing, mushroom, soybean, and cassava the

percentage ranged from 5 to 7.5%. Based on the result, AIAT should facilitate the pilot

activities that dominant. During empowerment activities through demonstrations plots,

others farmer group in village were invited. These technologies that presentation

hoped will be widely accessible (scaling up technology) through the mother baby trial

approach.

Key words: mapping, FMA, FEATI

PENDAHULUAN

Program Pemberdayaan Petani melalui

Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP)

atau

Farmer

Empowerment

Through

Agricultural

Technology

and

Information

(FEATI)

bertujuan

untuk

meningkatkan

produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan

petani melalui pemberdayaan keluarga petani

dan organisasi petani dalam mengakses

informasi, teknologi, modal, dan sarana

produksi

untuk

mengembangkan

usaha

agribisnis dan mengembangkan kemitraan

dengan sektor swasta (Anonim, 2007). Dalam

implementasinya, FEATI/P3TIP memfasilitasi

kegiatan penyuluhan pertanian yang dikelola

oleh petani atau Farmer Managed Extention

Activities (FMA), dimana petani didorong

untuk melakukan pembelajaran partisipatif,

menerapkan teknologi adaptif inovatif, serta

berorientasi pada pasar sehingga berkembang

pengembangan

agribisnis

berkelompok

berbasis keunggulan wilayah. Program FEATI

merupakan program 5 tahunan, yakni mulai

dilaksanakan tahun 2007 sampai dengan

tahun 2011. Provinsi Jawa Tengah merupakan

salah satu dari 18 provinsi di Indonesia

sebagai pelaksana program FEATI. Adapun

kabupaten pelaksananya meliputi Magelang,

Temanggung, Batang, dan Brebes.

Pemberdayaan dan partisipasi petani

menerapkan dua aspek penting yang menjadi

fokus

pada

FEATI,

yakni

tercapainya

pemberdayaan

dan

peningkatan

kesejahteraan petani miskin merupakan target

yang hendak dicapai melalui berbagai fasilitasi

agar petani dapat meningkat aksesnya

terhadap informasi (teknologi, pasar, jaringan

usaha), meningkat pengetahuannya, dan

(2)

pendapatannya semakin layak. Adapun

partisipasi dicirikan dengan diberikannya

kebebasan petani FMA untuk merencanakan

dan mengelola sendiri kebutuhan belajarnya,

sehingga proses pembelajaran berlangsung

lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan

petani dan pelaku usaha. Budiman (1991)

menyatakan bahwa progam pembangunan

perdesaan yang ditujukan kepada petani

tanpa memperhatikan aspek pemberdayaan

dan partisipasi cenderung bersifat

kontradiktif.

Prasyarat dari kegiatan pembelajaran

agribisnis oleh FMA adalah menerapkan

inovasi teknologi tepat guna sesuai kebutuhan,

dalam rangka meningkatkan kualitas dan

kuantitas

produksi/skala

usaha

guna

memenuhi kebutuhan pasar. Selama ini

terbukti

bahwa

teknologi

mampu

meningkatkan produktivitas (Samuelson dan

Nordhaus, 1992), sehingga peningkatan akses

petani terhadap informasi teknologi pertanian

harus selalu diupayakan guna mendorong

meningkatnya efisiensi dan daya saing

usaha pertanian. Sulit untuk meningkatkan

produksi dan pendapatan petani apabila

hanya mengandalkan luas penguasaan lahan

yang cenderung semakin menurun. Hal ini

dilandasi data empiris bahwa selama satu

dasawarsa terakhir (1993-2003) proporsi

petani kecil, yakni petani dengan tingkat

penguasaan

lahan

di

bawah

0,5

ha,

meningkat dari 52,66% menjadi 56,20% (BPS,

2004).

Terkait dengan penyediaan teknologi

yang dibutuhkan oleh petani di lokasi FEATI,

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

mendapat

mandat

untuk

mengenalkan

teknologi yang sesuai dengan kebutuhan

petani dan pasar, seperti yang disebutkan

pada Komponen C dari FEATI (Anonim,

2007). Dalam rangka memudahkan dalam

pendampingan teknologi dan efisiensi

anggaran pendampingan teknologi oleh BPTP,

maka perlu dilakukan pengelompokan

(mapping) FMA.

METODOLOGI

Metode pengembangan kapasitas pelaku

utama yang diterapkan FEATI adalah melalui

kegiatan penyuluhan yang dikelola oleh

pelaku utama itu sendiri (Farmer Managed

Extension Activities / FMA). Berdasarkan

identifikasi yang dilakukan oleh kabupaten

pada tahun awal pelaksanaan FEATI, telah

ditetapkan jumlah FMA desa pelaksana FEATI

di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 210 FMA

yang mendapatkan Bantuan Hibah Desa,

degan rincian yakni Kabupaten Magelang 90

FMA, Temanggung 40 FMA, Batang 40 FMA,

dan Brebes 40 FMA. Masing-masing FMA tiap

tahunnya mendapatkan bantuan Hibah Desa

selama

kurun

waktu

2007-2011

yang

diperuntukkan bagi terlaksananya kegiatan

penyuluhan yang dikelola dari, oleh dan untuk

petani dalam rangka peningkatan produksi,

pendapatan dan kesejahteraan.

Mekanisme untuk mendapatkan Bantuan

Hibah Desa, setiap tahun FMA mengajukan

proposal untuk dinilai kelayakannya guna

memperoleh rekomendasi persetujuan oleh

tim verifikator di kabupaten. Pada tahun 2010,

telah disetujui proposal pembelajaran, yakni

Kabupaten

Magelang

sejumlah

106,

Kabupaten

Temanggung

sejumlah

42,

Kabupaten

Batang

sejumlah

40,

dan

Kabupaten Brebes sejumlah 40 proposal FMA

Desa. Data untuk kajian ini adalah hasil

inventarisasi proposal tahun 2010. Kajian

dilakukan dengan menelaah hasil mapping

FMA

berdasarkan

muatan

kegiatan

pembelajarannya, dalam hal ini adalah jenis

komoditas. Selanjutnya data dianalisis secara

diskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Menjelang

berakhirnya

pelaksanaan

program FEATI, mulai tahun 2010 kegiatan

pembelajaran FMA Desa ditekankan pada

beberapa

pendekatan,

yakni:

(1)

pembelajaran mengarah pada upaya

pengembangan

agribisnis;

(2)

kegiatan

agribisnis mengarah pada pemenuhan

kebutuhan pasar, dan; (3) diupayakan dapat

meningkatkan nilai tambah produk yang

dihasilkan FMA melalui analisis rantai nilai

(value change analysis/VCA). Hal ini sejalan

dengan yang disampaikan Sudaryanto et al.

(2005), bahwa agribisnis dicirikan berorientasi

pasar dan bersifat rasional dalam arti

bertujuan untuk memperoleh keuntungan

ekonomi yang sebesar-besarnya Efisiensi

ekonomi tercapai apabila petani mampu untuk

mengkombinasikan input-input yang dapat

memaksimumkan keuntungan (Debertin,

1986; Doll dan Orazem, 1992),

Mengingat

penekanan

kegiatan

pembelajaran ke arah agribisnis, sementara

disisi lain agribisnis sulit terbangun dalam 1

tahun, maka untuk tahun 2011 diharapkan

topik pembelajarannya merupakan kelanjutan

tahun 2010. Disamping itu, tahun 2011

(3)

sebagai tahun terakhir pelaksanaan FEATI

ditekankan pada upaya untuk mendukung

peningkatan skala atau scaling up FMA,

yakni peningkatan skala usaha yang dilakukan

oleh FMA dalam menghasilkan suatu produk

pertanian yang dibutuhkan pasar. Scaling

up dicirikan adanya perluasan pasar yang

mendorong berkembangnya skala usaha,

baik melalui pendekatan intergrasi horizontal

maupun vertikal. Selain itu, pada tahapan

scaling up ini kelompok belajar FMA

berkembang menjadi kelembagaan ekonomi

petani yang mampu menjalin kemitraan

dengan berbagai pihak, mengakses

sumber-sumber modal dan teknologi.

Pemilihan FMA contoh yang melakukan

pembelajaran

pada

komoditas

dominan

berdasarkan mapping, mengimplementasikan

teknologi yang telah diperbaiki dijadikan usaha

agribisnis melalui kegiatan demfarm/demplot.

Selama

kegiatan

pemberdayaan

petani

melalui demfarm/demplot, diundang wakil

kelompok tani lain dalam satu kelompok desa

yang homogen. Diharapkan teknologi yang

diperagakan tersebut dapat diakses secara

luas melalui (scaling up teknologi), melalui

pendekatan Mother Baby Trial (MBT). Pada

pendekatan ini perwakilan FMA yang dibina

akan menjadi center of excellent dan menjadi

show window di wilayah tersebut. FMA lain

yang kegiatannya sama dengan FMA yang

dibina bisa melakukan peniruan dengan

berbagai cara, baik melalui kunjungan,

magang, maupun workshop dengan contoh

yang kongkrit.

Dalam hubungan dengan scaling up ini

yang relevan bagi BPTP adalah scaling up

teknologi, karena diseminasi hasil litkaji yang

menjadi tupoksi BPTP dapat juga dimaknai

sebagai upaya scalling up hasil litkaji

(Kasryno, 2006). Untuk itu, pada tahap awal

perlu

dilakukan

pemetaan

kegiatan

pembelajaran

oleh

FMA,

yakni

mengelompokkan FMA berdasarkan suatu

kriteria tertentu. Pengelompokan didasarkan

atas muatan pembelajaran jenis komoditas

dari

salah

satu

sub

sektor.

Dasar

pertimbangan dilakukan pengelompokan FMA

adalah untuk memudahkan dalam

perencanaan

atau

pendampingan

dan

pengawalan teknologi, selain itu juga untuk

efisiensi anggaran pendampingan teknologi.

Tabel 1, 2, 3, dan 4 menunjukkan topik

pembelajaran yang dilaksanakan FMA Desa

tahun 2010 masing-masing berturut-turut

untuk kabupaten Magelang, Temanggung,

Batang, dan Brebes. Dari tabel tersebut

terlihat bahwa jumlah proposal untuk

Kabupaten

Magelang

dan

Temanggung

melebihi

jumlah

FMA

Desa.

Hal

ini

dikarenakan terdapat beberapa FMA Desa

yang mengajukan lebih dari satu topik

pembelajaran. Hasil mapping menunjukkan

topik kegiatan pembelajaran yang dominan

di Kabupaten Magelang adalah agribisnis

pada komoditas kambing-domba 43,40%, sapi

potong 16,04%, cabe 11,32%, itik 6,60%, dan

padi 6,60% (Tabel 1). Untuk Kabupaten

Temanggung

yang

menonjol

adalah

pembelajaran pada komoditas

kambing-domba 61,5%, cabe 11,9%, adapun kentang,

jamur, bawang merah, dan itik masing-masing

persentasenya 4,76% (Tabel 2). Kegiatan

pembelajaran yang menonjol di Kabupaten

Batang adalah komoditas kambing-domba

(42,5%), ayam (17,5%), sapi potong (7,5%),

itik dan padi masing-masing 5% (Tabel 3). Di

Kabupaten Brebes jenis pembelajaran yang

dominan adalah pada komoditas padi 35,0%,

pengolahan hasil pertanian 22,5%, sedangkan

jagung, kambing-domba, pengolahan limbah,

jamur,

kedelai,

dan

ketela

pohon

persentasenya berkisar 5-7,5% (Tabel 4).

Tabel 1. Rekapitulasi mapping kegiatan

pembelajaran FMA di Kabupaten

Magelang

No. Komoditas

Jumlah

Kuantitas Persentase

(%)

1.

Sapi potong

17

16,04

2.

Kambing-domba

46

43,40

3.

Itik

7

6,60

4.

Kelinci

1

0,94

5.

Lain-lain (kompos,

agensia hayati)

1

0,94

6.

Brokoli

3

2,83

7.

Tomat

1

0,94

8.

Padi

7

6,60

9.

Cabe

12

11,32

10.

Ketela pohon

4

3,77

11.

Salak

1

0,94

12.

Pepaya

2

1,89

13.

Kapulaga

1

0,94

14.

Kobis

1

0,94

15.

Olahan

2

1,89

Jumlah

106

100,00

(4)

Tabel 2. Rekapitulasi mapping kegiatan

pembelajaran FMA di Kabupaten

Temanggung

No.

Komoditas

Jumlah pembelajaran

Kuantitas Persentase

(%)

1.

Kambing-domba

26

61,90

2.

Itik

2

4,76

3.

Kelinci

2

4,76

4.

Ayam buras

1

2,38

5.

Jamur

2

4,76

6.

Kentang

2

4,76

7.

Bawang merah

2

4,76

8.

Cabe

5

11,90

Jumlah

42

100,00

Tabel 3. Rekapitulasi mapping kegiatan

pembelajaran FMA di Kabupaten

Batang

No.

Komoditas

Jumlah Pembelajaran

Kuantitas Persentase

(%)

1.

Sapi potong

3

7,50

2.

Kambing – domba

17

42,50

3.

Ayam

7

17,50

4.

Itik

2

5,00

5.

Padi

2

5,00

6.

Tomat

1

2,50

7.

Cabai

2

5,00

8.

Jagung

1

2,50

9.

The

1

2,50

10. Pengolahan produk

pertanian

1

2,50

11. Jamur merang

1

2,50

12. Buah-buahan

1

2,50

13. Ketela pohon

1

2,50

Jumlah

40

100,00

Penetapan

lokasi

pendampingan

teknologi dalam bentuk demfarm/demplot

yang difasilitasi BPTP Jawa Tengah selain

berdasarkan mapping kegiatan pembelajaran

FMA, juga didasarkan atas komoditas yang

telah ditetapkan kabupaten untuk dilakukan

scaling up. Hal ini karena komoditas yang

telah ditetapkan kabupaten untuk di-scaling

up

adalah

komoditas

yang

dominan

berdasarkan

mapping.

Adapun

topik

pembelajaran yang menjadi percontohan

scaling up untuk Kabupaten Magelang adalah

penggemukan domba dan padi semi organik

(ramah

lingkungan),

sedangkan

untuk

Kabupaten Temanggung adalah perbibitan

domba dan perbenihan kentang. Dalam

rangka mencapai target yang ditetapkan untuk

Komponen C, maka pendampingan teknologi

tidak sebatas pada kegiatan demfarm/demplot,

tapi juga melalui narasumber pada berbagai

pelatihan yang diadakan FMA maupun melalui

penyebaran informasi bermedia, baik tercetak

maupun media elektronik.

Tabel 4. Rekapitulasi mapping kegiatan

pembelajaran FMA di Kabupaten

Brebes

No.

Komoditas

Jumlah pembelajaran

Kuantitas Persentase

(%)

1.

Kambing – domba

2

5,00

2.

Pengolahan limbah

ternak

2

5,00

3.

Sapi

1

2,50

4.

Padi

14

35,00

5.

Jagung

3

7,50

6.

Pengolahan hasil

pertanian

9

22,50

7.

Jamur

2

5,00

8.

Kedelai

2

5,00

9.

Gadung

1

2,50

10. Ketela pohon

2

5,00

11. Bawang merah

1

2,50

12. Terong

1

2,50

Jumlah

40

100,00

Hal penting untuk diperhatikan adalah

teknologi hendaknya memenuhi beberapa

persyaratan,

diantaranya

memberikan

keuntungan ekonomi, dapat mengatasi

faktor-faktor pembatas, dapat mendayagunakan

sumberdaya lokal, (Bunch, 2001), serta

mudah diterapkan Soekartawi (1988). Untuk

memberdayakannya,

inovasi

teknologi

usahatani saja tidaklah cukup, sehingga

dalam

pendampingan

teknologi

perlu

dilakukan secara terpadu dengan unsur yang

lainnya,

seperti

fasilitasi

dalam

hal

permodalan dan pemasaran. Pakpahan et al.

(1995)

menyatakan

bahwa

penyediaan

infrastruktur yang memadai dan prosedur

bantuan permodalan yang terjangkau (kredit

lunak) merupakan salah satu upaya yang

dapat dikembangkan terhadap para petani

(5)

untuk

menolong

dirinya

sendiri

dan

mendorong mereka agar mampu mandiri.

Peningkatan nilai tambah ditempuh melalui

upaya fasilitasi pada aspek pemasaran hasil

maupun inovasi teknologi pada budidaya.

Untuk itu telah dilakukan identifikasi budidaya,

identifikasi rantai pasar yang terlibat dalam

pemasaran dari rantai produsen hingga ke

pedagang pengumpul maupun pedagang

antar provinsi. Analisis rantai pasar yang

mampu memberikan nilai tambah optimal di

tingkat petani, dan fasilitasi pertemuan petani

dengan

pedagang

telah

dilaksanakan.

Pembangunan pertanian hendaknya merubah

paradigma dari pendekatan komoditas ke

pendekatan sistem usaha pertanian yang lebih

mengedepankan

efisiensi,

dimana

dimungkinkan melibatkan berbagai komoditas

yang saling berintegrasi, misalnya sistem

integrasi

tanaman

dan

ternak,

yang

melibatkan komoditi tanaman dan ternak

(Sudaryanto et al. 2005).

KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil mapping menunjukkan kegiatan

yang menonjol di kabupaten Magelang

adalah pembelajaran pada komoditas

kambing-domba 43,40%, sapi potong

16,04%, cabe 11,32%, itik 6,60%, dan

padi

6,60%.

Untuk

kabupaten

Temanggung

yang

menonjol

adalah

pembelajaran pada komoditas

kambing-domba 61,5%, cabe 11,9%, adapun

kentang, jamur, bawang merah, dan itik

masing-masing

persentasenya

4,76%.

Kegiatan pembelajaran yang menonjol di

kabupaten Batang adalah komoditas

kambing-domba (42,5%), ayam (17,5%),

sapi potong (7,5%), itik dan padi

masing-masing 5%. Di kabupaten Brebes jenis

pembelajaran yang dominan adalah pada

komoditas padi 35,0%, pengolahan hasil

pertanian 22,5%. sedangkan jagung,

kambing-domba,

pengolahan

limbah,

jamur,

kedelai,

dan

ketela

pohon

persentasenya berkisar 5-7,5%.

Berdasarkan hasil mapping tersebut maka

kegiatan percontohan teknologi yang

difasilitasi BPTP Jawa Tengah hendaknya

pada

komoditas

yang

dominan

berdasarkan mapping. Selama kegiatan

pemberdayaan

petani

melalui

demfarm/demplot,

diundang

wakil

kelompok tani lain dalam satu kelompok

desa homogen. Diharapkan teknologi

yang diperagakan tersebut dapat diakses

secara luas (scaling up teknologi),

melalui pendekatan Mother Baby Trial .

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Peraturan Menteri Pertanian

No: 29/Permentan/ OT.140/3/2007).

BPS. Pusdatin-BPS. 2004. Survei Pendapatan

Petani

(SPP).

Sensus

Pertanian.

Pendapatan Rumah Tangga Pertanian.

Kerjasama Pusat Data dan Informasi

Pertanian, Departemen Pertanian dengan

Direktorat Statisktik Pertanian, Badan

Pusat Statistik. BPS.

Budiman, A. 1991. Model Pembangunan

Teknokrat kita. Yayasan Paramadina dan

LP3ES. Jakarta.

Bunch, Roland. 2001. Tongkol Jagung :

Pedoman

Pengembangan

Pertanian

Berpangkal pada Rakyat. Edisi ke Dua.

Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Debertin, D. L. 1986. Agricultural Production

Management.

McMillan

Publishing

Company, Third Avenue. New York.

Doll, J. P. dan F. Orazem. 1992. Production

Economic : Theory with Application.

Krieger Publishing Company, Malabar,

Florida. 2nd Ed.

Kasryno, F. 2006. Balai Pengkajian Teknologi

Pertanian (BPTP) ujung tombak diseminasi

teknologi pertanian berkelanjutan. Makalah

disampaikan pada Lokakarya Revitalisasi

Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Cisarua, 21 Nopember 2006.

Pakpahan,

A.,

dkk.

1995.

Prosiding

Kemiskinan di Pedesaan. PSE. Bogor.

Samuelson, P. A., dan W. D. Nordhaus. 1992.

Microeconomics. McGraw-Hill, Inc.

Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar : Komunikasi

Pertanian. UI Press. Jakarta.

Sudaryanto, T., P. Simuatupang, dan K.

Kariyasa. 2005. Konsep sistem usaha

pertanian serta peranan BPTP dalam

rekayasa

teknologi

pertanian

spesifik

lokasi. Jurnal Analisis Kebijakan, Vol. 3

Nomor 3, Desember 2005. PSE.

Referensi

Dokumen terkait

kondisi yang dihadapi oleh masing-masing perusahaan. 31 Mekanisme penerapan CSR berlanjut pada perencanaan, persiapan, pembiayaan, pelaksanaan, pendokumentasian,

Saran untuk penelitian ini adalah adanya penelitian lebih lanjut dengan MTMS-nanosilika-nanotitania yang dilapiskan pada batu andesit dengan variasi pelapisan

Hasil jawaban dari angket dianalisis untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa semester 4 Pendidikan Fisika Universitas Jember mengenai pembangkit listrik tenaga

Tingkat kerusakan daun sawi terbanyak pada dosis 0% karena tidak ada kandungan ekstrak daun kembang bulan yang menyebabkan gangguan aktivitas memakan pada larva

Sulaeman (2016) menambahkan terdapat beberapa alasan mengapa penerapan ISO 22000 dianggap perlu untuk daya saing dalam perdagangan internasional karena 1)

bahwa berdasarkan ketentuan pasal 32 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Rancangan Peraturan Desa tentang

produksehinggapadaakhirnyapenelitianini bertujuanuntukmemperkenalkanprodukclothing Yards.co melalui media promosi yang efektif,efisien serta komunikatif dan menghasilkan