LAPORAN PENELITIAN
PERILAKU PENJUALAN ANTIBIOTIKA
OLEH PETUGAS APOTEK
DI KOTA DENPASAR
TIM PENELITI
dr. I.G.M.Gde Surya Chandra Trapika, M.Sc dr. Putu Ayu Swandewi Astuti., MPH
dr. Ni Wayan SucindraDewi, S.Ked
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas rahmatnya Tim Peneliti bisa menyelesaikan penelitian yang berjudul “ Perilaku Penjualan Antibiotika Oleh Petugas Apotek di Kota Denpasar” tepat pada waktunya dan telah pula berhasil menyusun laporan penelitian ini. Harapan dari kami agar hasil penelitian ini bisa dipergunakan untuk menambah wawasan tentang perilaku penjualan antibiotika dan dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk pemangku kepentingan terkait dalam upaya meningkatkan rasionalitas penjualan dan penggunaan antibiotika di masyarakat.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini baik dari Unit Penelitian Fakultas Kedokteran Unud, Program Studi Pendidikan Dokter, FK, Unud; Bagian Farmakologi, PSPD, FK, Unud; PS. Kesehatan Masyarakat FK, Unud, apotek dan petugas apotek yang terlibat pelatihan serta petugas pengumpul data.
Tidak lupa pula kami menyampaikan harapan untuk masukan dan saran dari pembaca untuk penyempurnaan laporan dan permohonan maaf bila ada kekeliruan dalam penggunaan tata bahasa dalam laporan ini.
Denpasar, September 2015
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
BAB I Pendahuluan ... 1
BAB II Tinjauan Pustaka ... 4
BAB III Metode Penelitian ... 8
BAB IV Hasil Penelitian ... 12
BAB V Pembahasan ... 17
BAB VI Simpulan dan Saran ... 20
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sejalan dengan meningkat dan berkembangnya penyakit tidak menular dan degeneratif, penyakit infeksi dan menular juga semakin berkembang dan memberikan tantangan dan permasalahan serius bagi dunia kesehatan. Tantangan yang dihadapi tidak saja terhadap perubahan pola transmisi penyebaran, munculnya strain-srain baru dan mutasi kuman pathogen, juga mengenai penanganan dan pengobatannya. Masalah yang sering muncul adalah ketepatan dan rasionalitas pemberian obat dalam menangani suatu kasus, salah satunya adalah pemberian antibiotika (Centres for Disease Control and Prevention: 2013). Penggunaan antibiotika yang tidak tepat, tidak rasional dan cenderung tidak terkontrol berimbas pada menurunnya efektifitas antibiotika akibat meningkatnya resistensi kuman poatogen terhadap antibiotika. Permasalahan ini tidak saja dihadapi negara-negara berkembang, juga terjadi di negara-negara maju (Kardas, P., et al: 2005). Resistensi antibiotika akan menimbulkan permasalahan yang sangat serius dalam penanganan penyakit infeksi. Kesulitan penanganan ini akan berakibat pada kegagalan terapi dan berujung pada meningkatnya morbiditas dan mortalitas (Holloway, K. & Van Dijk, L.: 2011; Centres for Disease Control and Prevention: 2013).
Munculnya resistensi antibiotika kerap dikaitkan dengan perilaku penggunaan antibiotika yang keliru di kalangan petugas medis di pusat-pusat pelayanan kesehatan. Antibiotika kerap diberikan pada kasus-kasus infeksi yang tidak memerlukan antibiotika, seperti infeksi pernafasan atas dan infeksi saluran cerna yang diakibatkan oleh virus akibat dari penggunaan antibiotilka yang tidak tepat dan berlebihan (Muras, M., et al: 2013; Bin Abdulhak, A.A., et al: 2011). Perilaku ini jelas akan berpotensi menimbulkan resistensi antibiotika, tetapi penggunaan antibiotika secara sembarangan jauh lebih besar (80%) terjadi di populasi. Perilaku mengobati diri sendiri sangat jamak dilakukan dengan antibiotika yang diperoleh tanpa resep dokter (Mitsi, G., et al: 2005; Bin Abdulhak, A.A., et al: 2011).
terbuka oleh petugas apotek dengan tidak mengindahkan tujuan pembelian dan penggunaan antibiotika itu sendiri. Pembelian antibiotika ini juga tanpa disertai pemberian informasi yang cukup mengenai indikasi dan cara penggunaannya oleh petugas apotek. Jikapun ada, informasi yang disampaikan sangat minim dan tidak jarang informasi yang disampaikan kurang tepat (Bin Abdulhak, A.A., et al: 2011; Puspitasari, H.P., et al : 2011)
Seringkali pembelian obat yang seyogyanya baru bisa dikeluarkan oleh apotek dengan resep dokter ini diberikan kepada masyarakat tanpa resep dokter. Petugas yang bekerja di apotek dan kebijakan pemilik apotik memegang peranan penting dalam situasi ini. Oleh karena itu dalam upaya untuk mencegah penggunaan obat antibiotika secara bebas di masyarakat, eksplorasi tentang pemahaman petugas apotek tentang antibiotika, penggunaannya dan juga pembelian antibiotika secara bebas. Disamping itu untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif, pemahaman dan kebijakan pemilik apotek dan apoteker juga perlu digali. Informan lain yang juga terkait dengan penggunaan dan pengawasan antibiotika perlu juga dieksplorasi meliputi balai pengawasan obat dan minuman (BPOM), Dinas Kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya.
1.2.Perumusan Masalah
Bagaimanakah pemahaman, persepsi dan perilaku penjualan antibiotika oleh petugas apotek di Denpasar serta bagaimanakah kebijakan pemilik apotek serta stakeholder terkait tentang penjualan antibiotika secara bebas?
1.3.Tujuan
a. Mengeksplorasi pemahaman petugas apotek tentang antibiotika dan penjualannya b. Mengekplorasi persepsi petugas apotek tentang penjualan antibiotika secara bebas
kepada masyarakat
c. Mengeksplorasi perilaku penjualan antibiotika secara bebas oleh petugas apotek
1.4.Urgensi (Keutamaan) Penelitian
Penggunaan antibiotika yang tidak rasional ini sangat terkait dengan kemudahan masyarakat untuk mendapatkan antibiotika secara bebas yang sangat mendesak sekali untuk dikendalikan. Dalam upaya pengendalian dan pengawasan penjualan antibiotika secara bebas ini, kami telah melakukan eksplorasi pemahaman masyarakat tentang antibiotika, saat ini masih dalam tahapan analisis data. Hasil eksplorasi ini sangat perlu dilengkapi dengan pandangan dari sisi penyedia layanan dalam hal ini petugas apotek dan pemangku kepentingan terkait untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang pola penggunaan dan penjualan antibiotika di masyarakat.
Petugas apotek memegang peranan penting dalam akses antibiotika oleh masyarakat. Pemahaman petugas apotek tentang antibiotika dan penjualannya sangat penting untuk menjadi kajian. Tentu saja peranan pemilik apotek yang mempunyai kebijakan tentang penjualan obat di apoteknya sangat erat kaitannya dengan perilaku penjualan antibiotika di apotek sehingga pandangan dan kebijakan dari pemilik apotek perlu digali. Disamping itu pemangku kepentingan lainnya seperti Dinas Kesehatan, Asosiasi Apoteker, BPOM juga mempunyai peranan dalam penjualan dan pengawasan penjualan antibiotika di lapangan.
Dengan mendapatkan pandangan dari semua responden diatas diharapkan akan memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang perilaku penggunaan dan penjualan antibiotika di masyarakat. Hal ini akan menjadi bahan kajian dalam meninjau pengawasan penjualan obat antibiotika, menyusun kebijakan penjualan antibiotika serta bahan promosi kesehatan kepada masyarakat tentang penggunaan antibiotika secara rasional guna mencegah terjadinya resistensi.
1.5.Luaran
Hasil penelitian ini akan menjadi bahan kajian akademis dalam upaya mengembangkan kebijakan penjualan obat antibiotika dan pengawasannya. Pada akhir penelitian akan dilakukan diseminasi kepada pemangku kepentingan meliputi Dinas Kesehatan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), asosiasi apoteker, pemilik apotek, perwakilan petugas apotek dan stakeholder lainnya untuk membahas upaya dan kebijakan yang dapat diambil dalam mengurangi penjualan antibiotika secara bebas.
Hasil penelitian ini juga akan dipublikasi dalam pertemuan ilmiah dan jurnal ilmiah sehingga bisa menjadi bahan pustaka buat praktisi dan peneliti lainnya.
BAB II
2.1. Antibiotika
Antibiotika merupakan obat yang ditujukan dalam penanganan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Secara garis besarnya antibiotika dibedakan berdasarkan spectrum yang dimilikinya dalam mengatasi bakteri. Antibiotika spectrum luas memiliki kemampuan dalam membunuh bakteri gram positif maupun bakteri gram negative. Sedangkan antibiotika spectrum sempit memiliki kemampuan yang spesifik terhadap satu jenis golongan bakteri saja. Penggolongan umum lainnya adalah berdasarkan kemampuan antibiotika dalam menangani bakteri. Dikenal istilah bakterisidal, yang merupakan kemampuan kerja antibiotika hingga dapat membunuh bakteri. Bakteristatis dalah kemampuan antibiotika yang menjadikan baketri kehilangan kemampuannya dalam melakukan infeksi. Penggolongan lain yang lebih spesifik adalah klasifikasi antibiotika pada tempat dan cara kerjanya dalam mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Golongan β-laktam memiliki 4 gugus cincin laktam dengan membawa amino sekunder. Mekanisme kerja dari golongan β-laktam ini adalah dengan menghambat pembentukan dinding sel bakteri melalui penghambatan reaksi transpeptidasi. Efektifitas golongan β-laktam dalam membunuh bakteri terjadi bila bakteri dalam fase aktif tumbuh dan membentuk dinding sel. Antibiotika yang termasuk ke dalam golonagan ini antara lain: penisilin, aminopenisilin, ampisilin, amoksisilin, sefalosporin, β-laktamase inhibitor (asam klavulanik, sulbaktam), dan carbapenem. Resistensi terhadap penisilin dan β-laktam yang lain melalui beberapa mekanisme, yaitu: (i) hidrolisis gugus β-laktam oleh enzim β-laktamase yang menyebabkan antibiotika kehilangan kemampuan antibakterinya, (ii) modifikasi enzim penicillin binding protein (PBP) sebagai tempat ikatan penisilin), (iii) menghalangi penetrasi antibiotika menuju target ikatannya (PBP), (iv) mengeluarkan antibiotika dari dinding sel (Deck, D.H. & Winston, L.G.: 2012)
ataupun fosforilasi oleh enzim transferase yang diproduksi oleh bakteri, (ii) mutasi maupun delesi dari protein yang membawa aminoglikosida ke dalam sitoplasma bakteri, (iii) mutasi reseptor pada protein sub unit 30S ribosom sebagai tempat ikatan aminoglikosida (Deck, D.H. & Winston, L.G.: 2012).
Golongan antifolat, sulfonamide memiliki struktur yang menyerupai p-aminobenzoic acid (PABA). Keunikan dari bakteri adalah mereka tidak dapat menggunakan folat yang bersumber dari luar. Folat harus diproduksi sendiri melalui PABA. Folat sangat esensial bagi bakteri dalam pembentukan purin dan sintesis asam nukleat. Dengan adanya struktur yang sama dengan PABA, sulfonamide menghambat pembentukan folat dengan cara menghambat kerja enzim dihydropteroate synthase. Kemampuan penghambatan ini akan lebih baik jika sulfonamide dikombinasi dengan trimethoprim atau pyrimetthamine yang memiliki kemampuan dalam menghambat pembentukan folat melalui penghmbatan kerja dari enzim dihydrofolate reductase. Resistensi terhadap golongan ini dapat terjadi melelui beberapa cara, yaitu: (i) mutasi yang menyebabkan produksi PABA yang berlebih, (ii) mutasi dengan memproduksi enzim folic acid-synthesizing yang memilki afinitas yang rendah terhadap sulfonamide, (iii) mutasi yang menurunkan permeabilitas terhadap sulfonamide (Deck, D.H. & Winston, L.G.: 2012).
Golongan fluoroquinolon memiliki kemampuan dalam menghambat sintesis DNA dengan cara menghambat kerja enzim topoisomerase II (DNA gyrase) and topoisomerase IV bakteri. Resistensi terhadap golongan ini terjadi melalui mekanisme mutasi bakteri. Mutasi pada enzim sebagai tempat ikatan quinolon menyebabkan terjadinya penurunan permeabilitas quinolon. Mekanisme lain yaitu dengan pembentukan protein Qnr yang dapat melindungi DNA gyrase dari quinolon(Deck, D.H. & Winston, L.G.: 2012).
Golongan tetrasiklin memiliki kemampuan dalam sintesis protein bakteri melalui ikatan dengan sub unit 30S ribosom. Resistensi terhadap golongan ini terjadi melalui mekanisme sebagai berikut: (i) penghambatan masuknya tertrasiklin ke dalam sitoplasma ataupun peningkatan kemampuan pengeluaran tetrasiklin dari sitoplasma melalui pompa transport aktif protein, (ii) produksi protein yang dapat menghambat ikatan tetrasiklin dengan ribosom, (iii) inaktivasi tetrasiklin oleh enzim (Deck, D.H. & Winston, L.G.: 2012).
2.2. Penggunaan Antibiotika
Sejak diperkenalkannya antibiotika yang memiliki kemampuan dalam mengatasi berbagai infeksi, kepercayaan dan keyakinan akan kemampuan antibiotika telah membentuk anggapan bahwa antibiotika mampu menangani segala infeksi yang tidak bisa diatasi dengan obat lain. Persepsi ini telah membawa penggunaan antibiotika yang meluas dan cenderung tidak rasional (Holloway, K. & Van Dijk, L.: 2011; Centres for Disease Control and Prevention: 2013).
Penggunaan antibiotika yang rasional adalah penggunaan antibiotika yang tepat indikasi, tepat dosis sesuai dengan kebutuhan individu, tepat waktu / periode pemberian serta ekonomis dengan harga yang terjangkau bagi individu dan masyarakat. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional adalah penggunaan antibiotika yang tidak memenuhi kaidah-kaidah tersebut di atas. Bentuk penggunaan antibiotika yang irasional dapat berupa penggunaan/peresepan antibiotika yang berlebihan pada kasus-kasus yang tidak memerlukan antibiotika, peresepan yang tidak sesuai dengan guidelines yang berlaku, polifarmasi, pengobatan diri sendiri dengan antibiotika. Diperkirakan di seluruh dunia lebih dari duapertiga antibiotika dijual tanpa menggunakan resep dokter. Kepatuhan dalam menggunakan antibiotika sesuai anjuran juga masih rendah (Holloway, K. & Van Dijk, L.: 2011; Centres for Disease Control and Prevention: 2013).
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Denpasar antara Bulan Mei-September 2015
3.3. Bagan Alir (Roadmap Penelitian) Tabel 3.1. Bagan alir penelitian
Tema Riset Sudah
3.4. Populasi dan Sampel:
Populasi target dan populasi terjangkau dari penelitian ini adalah semua petugas apotek yang berada di Kota Denpasar. Jumlah apotek di Kota Denpasar sebanyak 194 buah (Pemkot Denpasar, 2015)
Besar Sampel ditentukan dengan menggunakan rumus besar sampel estimasi 1 proporsi (Lwanga & Lemeshow), dengan proporsi pemahaman tentang alergi terhadap antibiotika di daerah urban sebesar 70% (P) tingkat kemaknaan 95%(1-α) dan presisi absolut 10%. Didapatkan besar sampel minimal sebesar 81 orang, yang dibulatkan menjadi 100 orang. Rumus Perhitungan besar sampel sebagai berikut:
2
Sampel diambil dengan cara multistage cluster sampling dengan unit sampling adalah apotek. Dari daftar apotek di Kota Denpasar akan dipilih 50 apotek secara systematic random sampling; dari masing-masing apotek akan dipilih 2 orang petugas apotek
3.4. Variabel dan Definisi Operasional Variabel: Tabel 3.2 Variabel dan definis operasional variabel
No Variabel Definisi Operasional Skala
Pengukuran Pengelompokan
Pemahaman responden tentang antibiotika meliputi:
- Kegunaan antibiotika
3 Perilaku Penjualan antibiotika secara bebas
Riwayat penjualan antibiotika dalam 1 minggu terakhir
- Jenis yang dijual - Jumlah
- Pakai resep atau dijual bebas
Nominal
4 Umur Usia dari responden yang
didapatkan dari wawancara Kontinyu 5 Jenis
Kelamin Jenis kelamin Nominal 1=Laki-laki 2=Perempuan 6 Pendidikan Tingkat pendidikan formal terakhir Ordinal 1=Tidak pernah
sekolah;
2=Tidak Tamat SD; 3= SD; 4=SMP;5=SMA 6=PT
3.5. Cara Pengumpulan Data
a. Data tentang pemahaman dan perilaku petugas apotek
Data tentang pemahaman petugas apotek tentang antibiotika dan penjualannya dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Kuesioner telah diuji coba terlebih dahulu untuk mendapatkan persamaan persepsi sesuai dengan tujuan penelitian. Sebelum turun ke lapangan, pewawancara telah diberikan pelatihan untuk penyamaan persepsi dan cara penggalian informasi.
3.6. Analisis Data
Data dari survey terhadap petugas apotik
Data kuantitatif yang didapatkan dari wawancara terhadap petugas apotek akan diolah dan dimasukkan kedalam perangkat statistik. Analisis data akan meliputi analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik demografi, pemahaman, persepsi dan perilaku penjualan antibiotika. Data kemudian disajikan dalam bentuk tabel, angka dan narasi.
3.7. Pertimbangan Etik
BAB IV
Sebanyak 100 orang petugas apotek telah diwawancarai dengan distribusi sampel yang diambil dari apotek di Kec Denpasar utara 32%, Denpasar Timur 14%, Denpasar Barat 26% dan Denpasar Selatan 28%. Apotek yang terpilih sebagai sampel sebagian besar (72%) dengan praktek dokter.
3.1 Karakteristik Responden
Petugas apotek yang diwawancarai rata-rata berumur 32,9 tahun dan sebanyak ¾ adalah perempuan. Tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA/SMK (70%), namun masih ada sebanyak 3% dengan pendidikan SMP kebawah.
Tabel 3.1 Karakteristik Responden Petugas Apotek di Kota Denpasar
Karakteristik
Frekuensi Persentase (%)
Umur (Mean±SD) 32,9±12,5 tahun
Jenis Kelamin
Lama Kerja/hari (Median; IQR) 7; 7-8 jam
*) n=44 Khusus yang tidak berlatar belakang pendidikan farmasi
Dari tabel 1 dapat dilihat sebanyak 56 orang mempunyai pendidikan khusus farmasi dan dari mereka yang tidak memiliki pendidikan farmasi hanya 3 orang (6.8%)yang pernah mendapatkan pelatihan tentang obat. Untuk lama kerja, sebanyak 50% mempunyai masa kerja 5 tahun atau kurang, namun ada 1 orang yang bekerja baru 1 bulan, sedangkan lama kerja per hari berkisar 7-8 jam.
3.2 Perilaku Penjualan Antibiotika
Untuk penjualan antibiotika dieksplorasi penjualan antibiotika dengan resep, dan perilaku petugas apotek dalam penjualan antibiotika
Tabel 3.2 Perilaku Penjualan Antibiotika oleh Petugas Apotek di Kota Denpasar
Perilaku Frekuensi Persentase (%)
Penjualan dengan resep*
- Semua dengan resep
- 3/4
Bila ada yang membeli antibiotika
- Langsung diberikan
Konsumen membeli antibiotika bijian
- Diberikan
Konsumen membeli antibiotika dalam jumlah banyak
- Tidak
Bila konsumen datang dengan keluhan
- Sarankan konsultasi dokter
- Sarankan jenis obat
- Lainnya
Untuk penjelasan kepada pembeli yang dilakukan oleh petugas apotek, sebagian besar (97.1%) memberikan penjelasan tentang dosis, sebanyak 90.4% memberikan penjelasan tentang lama harus konsumsi antibiotika. Disamping itu sebanyak 84% menyatakan menjelaskan tentang waktu yang tepat untuk minum antibiotika dan hanya 26.6% yang memberikan penjelasan tentang kemungkinan terjadinya efek samping.
3.3 Pengetahuan tentang Antibiotika dan Penjualannya
Pengetahuan tentang antibiotika mencakup pengetahuan tentang kegunaan antibiotika, efek samping dan risiko penggunaan antibiotika, pembelian antibiotika, sumber informasi, peranan petugas apotek dan penjualan antibiotika yang tepat.
Tabel 3. Pengetahuan Petugas Apotek tentang antibiotika dan penjualannya
Pengetahuan f (%)
Waktu mendengar tentang antibiotika
- Sebelum kerja di apotek
- Setelah kerja di apotek 89(89.0)
11(11.0)
Sumber informasi tentang antibiotika
- Apoteker
Kapan antibiotika diberikan
- Setiap sakit
- Setiap panas
- Sesuai petunjuk dokter
- Lainnya
7(7.0)
3 (3.0)
23 (23.0)
Yang menentukan pasien dapat antibiotika
- Dokter
- Lainnya 96 (96.0)
4(4.0)
Antibiotika bisa menimbulkan efek samping
- Ya
Antibiotika bisa menimbulkan alergi*
- Ya
Antibiotika bisa menimbulkan resistensi
- Ya
- Warung/lainnya 82(97.6)
2(2.4)
Pembelian antibiotika yang tepat*
- Harus dengan resep
- Bisa tanpa resep 81(81.8)
18(18.2)
Peran petugas antibiotika
- Melayani pembelian dengan resep
- Melayani pembelian tanpa resep
- Memilihkan antibiotika
98(98)
68(68)
51(51)
Sebagian besar (89%) petugas apotek telah mendengar tentang antibiotika sebelum mulai kerja di apotek. Sumber informasi tentang antibiotika terbanyak didapatkan waktu sekolah (53%) dan dari apoteker (40%). Pemahaman petugas antibiotika tentang pemberian antibiotika yang tepat masih kurang dimana hanya 57% yang mengatakan kegunaan untuk membunuh bakteri dan hanya sebanyak 67% mengatakan pemberian harus dengan petunjuk dokter.
Pemahaman responden tentang efek dari konsumsi antibioitika sudah baik, dimana sebanyak 86 (86.0) mengetahui antibiotika bisa menimbulkan efek samping, 91(91.9) bisa menimbulkan alergi dan 86 (86.0) menyatakan bisa muncul resistensi. Pemahaman tentang peranan petugas apotek sebagian besar menyatakan melayani pembelian dengan resep (98%), namun kontradiktif sebanyak 68% menyatakan berperan juga untuk melayani pembelian tanpa resep dan bahkan sebanyak setengahnya (51%) menyatakan petugas apotek berperanan memilihkan antibiotika.
3.4. Persepsi Petugas Apotek tentang Penjualan Antibiotika
Persepsi petugas apotek yang digali mencakup persepsi tentang pembelian antibiotika secara bebas, kekhawatiran mendapatkan respon negatif dari konsumen dan dampak terhadap pendapatan apotik.
Tabel 4. Persepsi petugas apotek tentang penjualan antibiotika
Persepsi Setuju
(%)
Tidak Setuju
(%)
- Seorang petugas apotek memberikan antibiotika pada pembeli yang
tidak bawa resep 41 59
- Seorang petugas apotek menanyakan resep terlebih dahulu untuk
pembelian antibiotika 78 22
- Bila pembeli bisa menyebutkan nama antibiotika maka langsung
diberikan 58 42
- Seorang petugas apotek memilihkan antibiotika berdasarkan keluhan
pembeli 44 46
- Bila seseorang membeli antibiotika bijian bisa menimbulkan dampak
negatif 77 23
- Bila saya tidak menjual antibiotika secara bebas akan mencegah risiko
resistensi 69 31
- Apotek akan mendapatkan kerugian bila antibiotika harus dibeli
dengan resep 43 57
- Saya khawatir pemilik/supervisor akan marah bila hanya melayani
- Saya khawatir pembeli akan komplain bila tidak dibolehkan membeli
antibiotika tanpa resep 37 63
- Saya khawatir pembeli akan kesal bila saya tidak membantu
memilihkan antibiotika 38 62
Persepsi tentang pembelian antibiotika secara bebas (tanpa resep dokter) masih kurang baik dimana 41% menyatakan setuju memberikan antibiotika pada pembeli yang tidak membawa resep dan 58% menyatakan setuju untuk langsung memberikan antibiotika bila pembeli bisa menyebutkan nama antibiotika serta sebanyak 44% setuju bila petugas apotek memilihkan antibiotika berdasarkan keluahan pembeli.
Sebanyak 77% petugas apotek menyatakan penjualan antibiotika bijian memberikan dampak negatif dan 69% menyatakan setuju bila tidak menjual antibiotika secara bebas akan membantu mencegah resistensi. Disisi lain, kekhawatiran untuk penjualan antibiotika yang harus menggunakan resep antara lain: sebanyak 43% khawatir apotek akan rugi, ada kehawatiran supervisor/pemilik akan marah (34%), pembeli akan komplain (37%) dan pembeli kesal bila tidak dibantu memilihkan antibiotika (38%).
BAB V PEMBAHASAN
dilakukan eksplorasi terkait hal ini maka perlu dilakukan eksplorasi mengenai gambaran perilaku penjualan antibiotika oleh petugas apotek.
Dari hasil penelitian didapatkan masih tingginya perilaku penjualan antibiotika yang tidak rasional oleh petugas apotek, hanya 20 dari 99 orang (20.2%) yang menyatakan menjual antibotika pada pembeli yang semuanya menggunakan resep dokter dan hanya sebanyak 32 (32%) yang menanyakan resep terlebih dahulu sebelum menjual antibiotika. Hal ini menunjukkan sebagian besar penjualan antibiotika masih dilakukan tanpa resep dan berdasarkan permintaan pasien atau berdasarkan anjuran dari penjual (petugas apotek) dimana 46(46%) petugas apotek mengakui menganjurkan jenis obat kepada pembeli berdasarkan keluhan. Situasi ini menunjukkan kemungkinan cukup tingginya pengobatan dengan antibiotika yang tidak tepat sasaran.
Untuk jumlah pembelian antibiotika yang tidak rasional yaitu pembelian bijian maupun pembelian dalam jumlah banyak diberikan oleh sebanyak 16% dan 24% petugas apotek. Pemberian pembelian antibiotika bijian ini menunjukkan kemungkinan terapi yang tidak adekuat yang akan memiliki kecenderungan lebih tinggi menimbulkan resistensi. Hal ini tentunya akan mempersulit pengendalian penyakit infeksi ke depannya. Kondisi ini dimungkinkan karena saat ini pengawasan terhadap penjualan obat termasuk antibiotika belum berlangsung secara baik. Sehingga pengawasan dan kontrol terhadap penjualan antibiotika yang tidak rasional ini kedepannya perlu ditingkatkan oleh instansi terkait seperti Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Asosiasi Apoteker.
Disisi lain, pengetahuan petugas apotek dan paparan informasi tentang antibiotika juga masih minimal. Sebanyak 44 (44%) petugas apotek tidak pernah memiliki riwayat pendidikan farmasi dan hanya 3 (6.8%) dari mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan farmasi pernah mendapatkan pelatihan tentang obat sebelum atau pada saat mereka bekerja sebagai petugas apotek. Hal ini menunjukkan cukup banyak petugas apotek yang hanya berbekal pengetahuan awam tanpa mendapatkan pembekalan khusus tentang obat-obatan. Kondisi ini sangat mungkin mempengaruhi pemahaman petugas tentang antibioitika dan penjualannya. Oleh karena itu dianjurkan agar dilakukan pelatihan dasar tentang obat dan pengelolaanya yang bisa dilakukan oleh asosiasi apoteker berkoordinasi dengan BPOM dan Dinkes untuk memberikan pengetahuan dasar kepada petugas apotek.
antibiotika untuk penurun panas dan untuk membunuh virus, sehingga pelatihan atau penyegaran sangat diperlukan.
Persepsi tentang pembelian antibiotika secara bebas (tanpa resep dokter) yang keliru juga masih banyak ditemui dimana 41% menyatakan setuju memberikan antibiotika pada pembeli yang tidak membawa resep dan 58% menyatakan setuju untuk langsung memberikan antibiotika bila pembeli bisa menyebutkan nama antibiotika serta sebanyak 44% setuju bila petugas apotek memilihkan antibiotika berdasarkan keluahan pembeli. Disisi lain persepsi tentang dampak penjualan antibiotika secara irasional sudah cukup baik dimana Sebanyak 77% petugas apotek menyatakan penjualan antibiotika bijian memberikan dampak negatif dan 69% menyatakan setuju bila tidak menjual antibiotika secara bebas akan membantu mencegah resistensi. Petugas apotek juga mempunyai kekhawatiran pembeli akan komplain (37%) dan pembeli kesal bila tidak dibantu memilihkan antibiotika (38%).
Bila dilihat dari pemahaman dan persepsi petugas apotek masih banyak yang harus ditingkatkan dalam upaya meningkatkan rasionalisasi penjualan antibiotika. Dukungan dan kebijakan dari pihak pengelola apotek tentunya sangat penting dalam hal ini. Disamping itu pelatihan tetap sangat dibutuhkan dan untuk meningkatkan partisipasi dalam kegiatan pelatihan dan memastikan pengetahuan yang lebih baik bagi petugas apotek, sertifikat pelatihan untuk petugas apotek ini bisa juga dijadikan prasyarat bagi pemilik apotek pada saat pengurusan ijin atau perpanjangan ijin apotek.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
1. Perilaku penjualan antibiotika oleh petugas apotek masih banyak yang tidak rasional dimana hanya 20% yang pembelinya semua pakai resep, masih banyak yang menjual bijian dan memilihkan antibiotika untuk pembeli berdasarkan keluhan.
2. Pemahaman petugas apotek tentang antibiotika masih kurang terutama terkait keguanaan antibiotika
3. Persepsi petugas apotek masih cukup banyak yang keliru terutama tentang penjualan antibiotika secara bebas dan adanya barier rasa khawatir akan respon dari pembeli yang tidak baik bila tidak melayani pembelian dengan antibiotika
SARAN
1. Perlunya pelatihan tentang obat bagi petugas apotek dalam upaya peningkatan pemahaman dan persepsi petugas apotek. Sertifikat pelatihan petugas apotek ini bisa dijadikan prasyarat bagi pemilik/pengelola apotek pada saat mengurus atau memperpanjang ijin apotek.
2. Perlu peningkatan monitoring dan pengawasan oleh pemangku kepentingan terkait seperti BPOM, Dinas Kesehatan dan berkoordinasi dengan asosisasi apoteker untuk meningkatkan perilaku penjualan antibiotika oleh petugas apotek dan kepatuhan pengelola apotek
3. Perlunya sosialasi dengan menggunakan berbagai media untuk meningkatkan pemahaman petugas apotek dan juga masyarakat mengenai pembelian antibiotika dn penggunaannya secara rasional.
BAB VII DAFTAR PUSTAKA
Bin Abdulhak, A.A., Altannir, M.A., Almansor, M.A., Almohaya, M.S., Onazi, A.S., Marei, M.A., Aldossary, O.F., Obeidat, S.A., Obeidat, M.A., Riaz, M.S. & Tleyjeh, I.M. 2011. Non Prescribed Sale of Antibiotics in Riyadh, Saudi Arabia: A Cross Sectional Study. BMC Public Health, 11, 538
Centres for Disease Control and Prevention. 2013. Antibiotic Resistance Threats in The United States, 2013. U.S. Department of Health and Human Services
Deck, D.H. & Winston, L.G. 2012. Chemotherapeutic Drugs. In: Basic & Clinical Pharmacology. Katzung, B.G., et.al (Ed). McGraw-Hills Companies, Inc., New York.
Elmasry, A.A.G., Bakr, A.S.M., Kolkailah, D.A.A.A., Khaskia, M.A.I., Mohammed, M.E.E., Riad, O.H.M.A.R. & Abdelrahman, S.A.K. 2013. Pattern of Antibiotic Abuse- A Population Based Study in Cairo. Egyptian Journal of Chest Diseases and Tuberculosis, 62, pp189-195 Hawkings, N.J., Butler, C.C. & Wood, F. 2008. Antibiotics in The Community: A Typology of User Behaviours. Patient Education and Counseling, 73, pp 146-152
Holloway, K. & Van Dijk, L. 2011. The World Medicines Situation 2011 3rd Edition. WHO
press, World Health Organization, Geneva.
Kardas, P., Devine, S., Golembesky, A. & Roberts, C. 2005. A Systematic Review and Meta-analysis of Misuse of Antibiotic Therapies in The Community. International Journal of Antimicrobial Agents, 26, pp 106-113
Lwanga S.K. dan Lameshow S., 1997, Sample Size Determination in Health Studies: A Practical Manual, WHO, Geneva.
Mitsi, G., Jelastopulu, Basiaris, H., Skoutelis, A. & Gogos, S. 2005. Patterns of Antibiotic Use among Adults and Parents in The Community: A Questionnaire-based Survey in a Greek Urban Population. International Journal of Antimicrobial Agents, 25, pp 439-443
Muras, M., Krajewski, J., Nocun, M. & Godycki-Cwirko, M. 2013. A Survey of Patient Behaviours and Beliefs Regarding Antibiotic Self-medication for Respiratory Tract Infections in Poland. Arch. Med. Sci, pp854-857
Napolitano, F., Izzo, M.T.,Giuseppe, G.D. & Angelillo, I.F. 2013. Public Knowledge, Attitudes and Experience Regarding the Use of Antibiotics in Italy. PLoSONE, 8(12)
Puspitasari, A.P., Faturrohmah, A. & Hermansyah, A. 2011. Do Indonesian Community Pharmacy Workers Respond to Antibiotics Request Appropriately? Tropical Medicine and International Health, 16:7, pp 840-846
Shehadeh, M., Suaifan, G., Darwish, R.M., Wazaify, M., Zaru, L. & Alja’fari, S. 2011. Knowledge, Attitudes and Behaviour Regarding Antibiotics Use and Misuse among Adults in The Community of Jordan. A Pilot Study. Saudi Pharmaceutical Journal, 20, pp 125-133 Widayati, A., Suryawati, S., Crespigny, C. & Hiller, J.E. 2011. Self Medication with Antibiotics in Yogyakarta City Indonesia: a cross sectional population-based survey. BMC Research Notes, 4:491