• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modernisasi dan Rasionalitas dalam Pelaksanaan Upacara Agama di Bali.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Modernisasi dan Rasionalitas dalam Pelaksanaan Upacara Agama di Bali."

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

MODERNISASI DAN RASIONALITAS

DALAM PELAKSANAAN UPACARA AGAMA DI BALI

I Gst. Pt. Bagus Suka Arjawa Program Studi Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Udayana

E-mail: [email protected]

Abstrak: The implementation of religious ceremonies in Balinese Hindu communities is known for its rich symbolic order and the amount of of money, time, and energy devoted to them. However, the rapid social change taking place in Bali, particularly through the influence of globalization, has infused technology with this cultural expression. In this context, the modernization now involves traditional wisdoms, which this paper constructs as form of “new modernization”. There are two main theories used in this article, “rational choice” and “modernization”. Those two theories support each other to explain the implementation of the ceremony. This articles is based on the analysis of the common ceremony in Bali, and by taking samples in certain areas in Bali. To address these issues, long-form interviews were conducted. This article uses qualitative methods that analyize patterns found in the field.

Keywords: modernization, rationality, globalization

1. Pendahuluan

Modernisasi dan rasionalitas merupakan dua konsep yang saling melekat satu sama lain. Modernisasi akan mampu memberikan keuntungan kepada masyarakat dalam melaksanakan kehidupan sosial. Rasionalitas menekankan kepada maksimalisai manfaat yang bisa didapatkan oleh masyarakat dalam melakukan tindakan. Pilihan-pilihan alternatif dimungkinkan di dalam tindakan rasional itu, akan tetapi masyarakat akan memilih yang paling menguntungkan bagi dirinya. Karena itu, dua konsep tersebut sangat berguna dalam tindakan sosial yang dilakukan masyarakat. Max Weber mengungkapkan bahwa rasionalitas merupakan inti dari modernitas yang dipakai masyarakat Barat.

(4)

bahwa modernisasi dalam bentuk pembaruan teknologi, tidak sepenuhnya mampu memberikan hasil maksimal kepada masyarakat. Pembaruan terhadap pupuk yang menggunakan bahan-bahan kimia misalnya justru memberi hasil negatif apabila digunakan secara terus-menerus. Penghasilan dan daya tumbuh dari tanaman akan menurun jika tidak dilakukan perbaikan-perbaikan terhadapnya. Masih banyak contoh lain yang bisa dipakai untuk melihat kelemahan-kelemahan modernisasi seperti yang dipakai oleh masyarakat Barat. Karena itulah kemudian muncul modifikasi terhadap teori modernisasi. Teori modernisasi baru merupakan hasil dari pembaruan ini yang menekankan pada upaya mengaitkan pembaruan tersebut dengan nilai-nilai tradisionil yang ada.

Seperti yang diungkapkan oleh John Scott, Coleman, bahwa manfaat maksimal dalam pilihan rasional itu bisa bermacam-macam, seperti mendapatkan keuntungan ekonomis, meminimalkan biaya, atau mendapaatkan hasil yang paling bagus sesuai dengan kepentingannya sendiri (kelompok maupun individu). Perkembangan sosial di masyarakat, sesungguhnya memungkinkan meluaskan makna dari keuntungan maksimal tersebut. Berbagai kegiatan di masyarakat tidak hanya memberikan penekanan kepada maksimalisasi manfaat yang berhubungan dengan ekonomis akan tetapi juga berhubungan dengan hubungan sosial, keuntungan yang bersifat minimalisir penggunaan energi fisik, dan keuntungan psikologis, seperti perasaan nyaman dan sejenisnya.

Dalam konteks sosial, praktik pelaksanaan ritual keagamaan masyarakat Hindu di Bali memperlihatkan adanya keterpaduan antara modernisasi, dalam arti modernisasi baru, dengan sikap rasional tersebut. Praktik seperti ini merupakan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, sekurang-kurangnya sejak milenieum baru (mulai tahun 2000-an). Pelaksanaan upacara tersebut merupakan strategi untuk menyiasasi perubahan sosial yang terjadi di Bali, terutama setelah pariwisata dipakai sebagai ikon penyumbang devisa terbanyak bagi negara. Konsekuensi dari ditetapkannya Bali sebagai tujuan pariwisata internasional, sejak tahun 1980-an pertumbuhan hotel bertambah banyak. Nusa Dua yang sebelumnya merupakan wilayah tandus disulap menjadi areal hotel internasional. Munculnya banyak hotel yang berskala internasional pada akhirnya etos kerja global yang diterapkan dihotel-hotel, berpengaruh kepada kehidupan sosial. Waktu menjadi sangat berharga. Padahal pada sisi lain, pelaksanaan upacara Hindu Bali sangat kompleks yang mengakibatkan waktu yang terpakai juga banayak. Inilah yang membuat banyak anggota masyarakat Hindu Bali yang kini memilih melaksanakan upacara secara lebih praktis dan lebih mudah.

Tulisan ini mencoba melihat keterkaitan antara rasionalitas dengan modernisasi dalam praktik pelaksanan upacara agama Hindu di Bali kontemporer. Kedua, mencoba melihat konteks sosial dari keterkaitan antara modernisasi dengan rasionalitas tersebut.

2. Kerangka Teoritis

Teori Modernsasi

(5)

sejenisnya untuk mempermudah ruang gerak manusia. Yang kedua adalah teori modernisasi yang diperbaharui. Teori yang kedua ini muncul sebagai akibat dari kritik dari teori modernisasi klasik yang banyak menimbulkan efek negatif dalam penerapannya, terutama di negara berkembang. Penggunaan mesin-mesin industri yang merupakan bentuk dari modernisasi, di negara-negara sedang berkembang justru menimbulkan banyak pengangguran. Atau penggunaan pupuk kimia pada bidang pertanian, memberikan efek samping berupa kehancuran tanah.

Dari konteks inilah kemudian muncul upaya untuk menggali unsur tradisional yang mempunyai dorongan terhadap modernisasi, dan dipakai sebagai sarana legitimasi terhadap modernisasi yang telah berlangsung. Pada pemahaman teori modernisasi baru ini, dimungkinkan adanya eksploitasi tradisi dengan menemukan “tradisi modernisasi” dan memperlakukannya sebagai pelegitimasi upaya modernisasi yang tengah berlanagsung. (Sztompka, 1993: 162). Di sini perhatian diarahkan pada nilai, sikap, makna simbolis dan kode kultural yang mendukung modernisasi. Suwarsono dan Alvin Y. So menyebutkan tentang nilai-nilai tradisionial yang mampu mendukung modernisasi (1991: 89). Michael R. Dove menyebutkan bahwa budaya tradisionil Indonesia sesungguhnya dinamis dan sering mengalami perubahan. Dan karena itu tidak bertentangan dengan pembangunan (Suwasono, So, 1991: 90). Penting juga diperhatikan analisis sejarah yang memberikan inspirasi terhadap pembaharuan yang terjadi. Kepercayaan terhadap pemimpin kharismatis merupakan nilai tradisi yang ada di Indonesia. Munculnya Soekarno sebagai presiden merupakan pilihan berdasarkan nilai kharismatis tersebut yang kemudian mengantar kemerdekaan Indonesia.

Teori Pilihan Rasional

Teori Pilihan Rasional, mulai dikembangkan dengan berawal dari teori pertukaran pada dekade limapuluhan oleh teoritisi George Caspar Homans. Ia memandang bahwa pertukaran akan terjadi sekurang-kurangnya antar dua individu yang saling berinteraksi. Homans selanjutnya mengatakan bahwa sebuah pertukaran itu tidak akan mungkin terjadi apabila kedua belah pihak tidak merasa mendapatkan keuntungan. Artinya pertukaran akan terjadi jika keduanya merasa mendapat keuntungan.

Dalam melakukan pilihan interaksi tersebut, mereka memilih pilihan yang paling menguntungkan yang mempunyai nilai-nilai berdasarkan pandangan subyektif individu yang bersangkutan.

Peter M. Blau mengembangkan teori pertukaran ini pada tingkat yang lebih besar dari individu, yaitu kolektivitas. Dalam pandangan Blau, munculnya kelompok tidak bisa dilepaskan karena kelompok mendapatkan keuntungan dari individu tertentu, dan individu masuk ke dalam kelompok karena mendapatkan keuntungan dari kelompok ini. Inti dari pendapat ini adalah adanya keuntungan yang memungkinkan adanya interaksi sosial.

(6)

Dalam bidang pilihan rasional, konsep kunci dari Coleman adalah aktor dan sumber daya, interaksi dan pada akhirnya organisasi sosial yang melingkup transaksi antara mereka yang memiliki (sumber daya tersebut) kepada mereka yang mencari sumber daya. Sumber daya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan dapat dikontrol oleh aktor.

Coleman berpendapat bahwa aktor adalah pihak yang mempunyai pengendalian terhadap sumber daya dan peristiwa, kepentingan terhadap sumber daya dan peristiwa dan mempunyai kemampuan mengambil tindakan untuk mencapai kepentingan mereka melalui pengendalian itu (Ritzer, 2004: 399). Baik aktor korporat maupun individu memiliki karakter ini. Bersama dengan Fararo tahun 1992, Coleman menekankan bahwa aktor individual bertindak dalam proses untuk mengoptimalkan tindakannya untuk mendapatkan menfaat yang maksimal dan kadang-kadang untuk meminimalkan biaya. Postulatnya menyebutkan bahwa aktor akan memilih tindakan yang menghasilkan outcome paling baik dengan tujuan kepuasan kepentingannya sendiri (Mellor, 2000: 278-279). Pada akhirnya tindakan yang dilakukan oleh aktor tersebut bertujuan untuk mendapatkan keluaran (hasil) yang paling bagus untuk memuaskan kepentingan pribadinya (Mellor, 1999: 279).

Menurut Coleman, dalam teori pilihan rasional, individu digerakkan oleh tujuan yang

mengekspresikan apa yang diinginkannya. Mereka bertindak secara spesifik berdasarkan

informasi-informasi yang didapatkannya tentang kondisi dimana mereka bertindak. Dalam

pandangan Coleman, individu itu memandang bahwa yang paling baik teori pilihan rasional

tersebut, ada komponen kognifif yang ikut mempengaruhi tindakan. Ia menggabungkan tiga

komponen dalam teori pilihan rasional ini, yaitu kemampuan kognitif seseorang, tindakan dan

keinginan (Elster, 1986: 12). Sehubungan dengan nilai kognitif ini, Stark dan Bainbridge (1987)

menyebutkan bahwa individu mengejar hadiah dan menolak biaya, hal ini memperlihatkan

model kognitif dari individu sebagai sebuah prosesor informasi yang mengidentifikasi masalah

dan kemudian mencari cara untuk memecahkannya. Maksimalisasi kepentingan diri sendiri ini

merefleksikan kemampuan kognisi untuk mengontrol diri, aktor sosial yang memiliki

kemampuan intelektual, dan otonomi individu dalam hubungannya dengan orang lain.

Dalam pandangan Darren Sherkat, berkaitan dengan pilihan rasional, dikatakan, learning atau belajar bukanlah sebuah proses sederhana yang memperlihatkan seseorang berhasil mengumpulkan akumulasi informasi akan tetapi sebuah fenomena sosial yang dipengaruhi oleh teman-teman, keluarga, komunitas dan keterikatan-keterikatan emosional lainnya. (Mellor, 1999: 284). Klaus Eder menyebutkan bahwa rasionalisasi dalam hubungannya dengan pembentukan modernisasi, mengandung makna proses belajar yang berkelanjutan. Dari sinilah modernisasi bisa terbentuk (Eder, 1992: 337).

(7)

3. Konteks Sosial Pelaksanaan Upacara Hindu di Bali

Masyarakat Bali, yang mayoritas beragama Hindu, melaksanakan praktik upacara agamanya hampir setiap hari. Secara sederhana, praktik upacara Hindu di Bali bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian. Pertama adalah sujud bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua adalah berupa persembahan, sebagai ucapan terima kasih atas karuniaNya. Keduanya ini sangat berhubungan. Sujud bakti merupakan pengakuan atas keagungan, kekuasaan dan kebesaran Tuhan sekaligus kelemahan umat manusia. Dalam segala keagungan itu, manusia diberikan rahmat atas hidup dan segala hasil usaha dalam kehidupannya. Karena itulah manusia mengucapkan terima kasih dengan memperlihatkan dan mempersembahkan hasil usahanya di dunia.

Dalam praktik, wujud sujud bakti umat Hindu Bali itu, bisa dilihat dari sikap ketika sembahyang, yakni duduk bersila atau bersimpuh dengan tangan dikatupkan dan menyembah kepada Tuhan. Ini merupakan sikap pengakuan atas keagungan Tuhan. Dan segala sesajian yang dibawa oleh umat Hindu Bali menuju tempat sembahyang merupakan perwujudan persembahan, upacapan terima kasih atas karunia dan peemberian dari Sang Hyang Widhi tersebut. Apabila lebih dirinci, ketika umat Hindu Bali mencakupkan tangan untuk sembahyang itu, sarana yang dipakai adalah kwangen. Di dalam kwangen ada perlengkapan yang disebut dengan porosan. Sarana ini adalah simbolisasi dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) yang merupakan sakti dari Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk pencipta, pemelihara, dan pelebur.

Perkembangan lanjutan dari proses persembahyangan umat Hindu di Bali tidak bisa dilepaskan dari konstruksi umat terhadap wujud persembahyangan tersebut, sampai kemudian terlihat seperti apa yang terjadi sekarang ini. Dua konsepsi inti dari persembahyangan itu melebar dan kemudian membentuk aneka ragam bentuk persembahan. Upaya pengakuan atas kebesaran Tuhan, tetap sederhana akan tetapi seremonial upacaranyaa berkembang sangat kompleks.

Salah satu praktik yang terliahat adalah upaya membumikan Tuhan ke dalam bentuk seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan diibaratkan sebagai personifikasi raja, atau pemimpin. Fenomena ini bisa dilihat sebagai upaya membumikan Tuhan, sebuah cara untuk mendekatkan pemahaman Tuhan kepada masyarakat yang tingkat pendidikannya masih sederhana. Akan tetapi secara politis juga bisa bermanfaat sebagai upaya untuk menundukkan rakyat oleh penguasa.

Dari situlah kemudian konsepsi Trimurti itu berkembang menjadi mirip dengan areal pemerintahan atau penguasa. Simbolis Brahma yang diwujudkan dengan pelinggih atau gedong didampingi oleh empat pelinggih simbolis, seperti juru catat (penyarikan), pengawal (Ratu Made Jelawung) dan bendahara (Rambut Sedana atau Taksu). Demikian pula simbolis Wisnu dan Siwa juga dilengkapi dengan tiga bangunan tambahan. Ini mirip dengan model sistem kerajaan di jaman dulu atau pemerintahan di jaman sekarang. Dalam konteks persembahan, perkembangannya tergantung dari kemampuan seseorang. Akibatnya, persembahan ini berkembang sesuai dengan penafsiran dan niat dari pihak yang melaksanakan upacara. Berbagai bentuk banten yang kompleks tersebut, sebagian besar merupakan wujud persembahan dari pihak yang melaksanakan upacara.

(8)

Pelaksanaan ritual upacara agama Hindu di Bali tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan gotong-royong. Pelekatan kebudayaan ini bisa dipertegas karena disebabkan oleh begitu kompleksnya pekerjaan yang mesti dilakukan oleh masyarakat dalam setiap ritual, Kompleksitas ini bisa terlihat dari berbagai jenis pekerjaan seperti, membuat anyaman bambu untuk tempat sarana upacara, membuat anyaman daun kelapa sebagai simbolis upacara serta masakan yang disuguhkan untuk upacara dan disuguhkan kepada anggota masyarakat.

Kebudayaan gotong royong ini tidaklah spesifik hanya betrlaku di Bali saja akan tetapi telah menjadi kebudayaan seluruh masyarakat Indonesia. Hanya saja dalam konteks budaya kehinduan Bali, gotong royong tersebut mendapatkan sentuhan tradisi yang berupa ngayah dan nilai sagilik-saguluk salunglung sabayantaka. Ngayah masuk ke dalam nilai-nilai keagamaan (Purwita, 1993:35). Di dalam konsepsi ngayah itu ada rasa bhakti, yang dimaksudkan ungkapan sujud kepada Tuhan, dan tidak mementingkan nilai-nilai materiil. Ngayah juga adalah sebuah kebersamaan, sehingga pekerjaan yang dilakukan adalah bersama-sama, tanpa imbalan tanpa pamrih. Sedangkan konsepsi sagilik-saguluk salunglung sabayantaka merupakan cerminan nilai kemasyarakatan yang bermakna kebersamaan dalam bekerja dan menghadapi keadaan dalam keadaan bagaimanapun (Purwita, 1993: 37). Kesejahteraan akan bisa didapatkkan melalui kerjasama dalam keadaan bagaimanapun.

Dengan landasan yadnya dan nilai sagilik-saguluk salunglung sabayantaka tersebut, maka setiapp ada upacara keagamaan Hindu yang dilangsungkan, akan terjadi mobilisasi massa untuk pelaksanannya. Terutama, dalam pelaksanaan upacara yang dilangsungkan oleh Desa Pakraman atau banjar, pasti akan terjadi kehadiran massal dalam pelaksanaan upacara tersebut. Inilah yang membuat setiap anggota Desa Pakraman yang berada di berbagai wilayah di Bali akan pulang kampung untuk menghadiri upacara tersebut.

4. Fenomena Kontemporer

Globalisasi kini telah sangat terasa dalam kehidupan masyarakat di Bali. Hotel-hotel berbintang yang dioperasikan oleh jaringan internasional sangat banyak. Pengaruh globalisasi itu sangat terasa karena sebagian besar masyarakat Hindu di Bali bekerja di hotel, dan sebagian besar perusahan-perusahan di Bali mempunyai kaitan sangat erat dengan hotel. Globalisasi ini sangat kelihatan melalui disiplin waktu yang diterapkan. Pegawai kantor kini terikat dengan syarat-syarat yang ketat di kantor. Fenomena ini membuat banyak masyarakat Hindu Bali kini memilih untuk melakukan prosesi upacara agama dengan cara yang lebih ringkas karena mampu menghemat biaya, waktu dan tenaga. Setidak-tidaknya, pembaruan itu bisa dilihat dari pelaksanaan upacara ngaben dan maraknya pedagang sarana upacara agama.

(9)

diselenggrakan dengan biaya besar-besaran. Dengan cara seperti ini anggota keluarga ingin menghormati sanak keluarganya. Sistematika upacara ini membuat pelaksanaannya berlangsung lama. Setiap tahapan sebisanya berlangsung dengan lancar dan hati-hati. Kerabat puri, melaksanakan upacara seperti ini dengan biaya yang sangat besar. Konsekuensi dari pelaksanaan seperti itu, mau tidak mau menghabiskan biaya besar, menyedot keterlibatan massa dan berlangsung lama. Contoh terakhir adalah meninggalnya tetua Puri Kerambitan, Tabanan, yang berlangsung sampai satu bulan lebih.

Dari sisi politik dan kenegaraan, ngaben justru merupakan atraksi pariwisata yang sangat menarik. Sebelum pariwisata Bali dilengkapi dengan pariwisata alam, safari, pantai (laut) seperti yang dikenal sekarang, Bali mengandalkan pariwisata budaya murni. Ngaben adalah salah satu atraksi pariwisata yang menarik. Prosesi jalannya jenazah menuju kuburan sering menjadi tontotan turis. Konsekuensinya, pemerintah memandang ngaben ini sebagai pendukung pemasukan devisa. Semakin atraktif ngaben tersebut, semakin menarik bagi wisatawan yang mengunnungi Bali. Pemerintah daerah Bali tidak pernah membuat upaya untuk melakukan pembaharuan atau inisiatif pembaharuan terhadap upacara ngaben ini, meski sesungguhnya dilihat dari tugas, kewenangan dan kewajiban mestinya ada kewajiban pemerintah untuk itu. Ngaben akan menyedot tenaga masyarakat untuk melaksanakannya.

Tradisi upacara ngaben ini juga bisa dilihat dari sisi kebudayaan. Ngaben merupakan hasil dari kebudayaan masyarakat Hindu di Bali. Sebagai sebuah hasil budaya, di Bali persoalan ini menjadi penting. Salah satu unsur budaya Bali yang masih ada sampai sekarang adalah penghormatan kepada leluhur. Dalam konsep Hindu Bali, penghormatan tersebut adalah Pitra Yadnya, yang dimulai dari upacara ngaben itu sendiri. Dengan demikian, upacara ngaben adalah upacara untuk menghormati leluhur yang merupakan kreasi para leluhur. Kenyataan ini membuat tidak banyak masyarakat yang berani melakukan pembaharuan terhadap seremoni upacara ngaben tersebut.

Kebijaksanaan pemerintah yang menetaapkan Bali sebagai daaerah tujuan wisata internasional Indonesia membuat perubahan struktural yang cukup signifikan terhadap dunia kerja di Bali. Pembukaan Nusa Dua, Bukit Jimbaran sebagai destinasi wisata membuat hotel-hotel berbintang di Bali semakin banyak. Hotel-hotel berbintang itu dioperasikan oleh jaringan internasional. Pengoperasian oleh jaringan berstandar demikian, membuat pola kerja juga menyesuaikan dengan standar internasional tersebut. Disamping adanya penyesuaian pola kerja sesuai dengan standar internasional itu, berkembangnya pertumbuhan hotel berbintang ini membuat lapangan kerja semakin bertambah dan pada akhirnya menarik masyarakat yang ada di pedesaan (nota bene pemelihara tradisi yang kuat), untuk bekerja di sektor perhotelan.

Kenyataan inilah yang kemudian secara perlahan-lahan mengubah pola pikir masyarakat untuk mulai membuat pembaharuan terhadap berbagai pelaksanaan upacara keagamaan di Bali. Gejala tersebut dimulai dari sektor perdagangan, yang menjual alat-alat perlengkapan upacara. Ini misalnya terlihat di Pasar Badung dengan munculnya kompleks pedagang alat-alat upacara adat. Ngaben sebagai salah satu upacara yadnya dalam ritual upacara keagamaan Hindu di Bali, tidak lepas dari hal tersebut.

(10)

Bali yang ada di Jawa (terutama di Surabaya dan Jakarta) juga telah menggunakan krematorium dalam pelaksanaan upacara ngaben. Akan tetapi, di Bali hal ini belum pernah ada yang berani melakukan hal seperti itu. Apalagi ada ketentuan di Bali (yang dibuatt oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia Bali, lembaga yang menaungi masyarakat beragama Hindu), untuk tidak membenarkan adanya tempat pembakaran yang permanen pada kuburan-kuburan Hindu di Bali.

Bulan Desember 1981, upaya pembaharuan mendasar ini mulai dilaksanakan untuk pembakaran jenazah Bapak Nuraja di Denpasar. Beliau adalah seorang pengusaha bus yang terkenal di Bali. Jenazah Bapak Nuraja dibakar menggunakan kompor gas di kuburan Badung. Penggunaan kompor ini adalah atas restu dari Pendeta Pemuteran, seorang pendeta pembaharu yang berasal dari desa berdekatan dengan desa Sanur. Pendeta Pemuteran mendapat inspirasi untuk menggunakan kompor gas dalam pelaksanaan pembakaran jenazah ini, justru dari cara orang membakar bata merah di Banjar Temesi, Desa Tulikup, perbatasan antara Kabupaten Gianyar dengan Kabupaten Kelungkung. Inilah yang kemudian diperkenalkan untuk membakar Bapak Nuraja pemilik perusahan otobus Dharma (wawancara dengan Bapak Nengah Merta, 23 Oktober 2009, seorang professional pembakar jenazah. Wawancara dilakukan di Krematorium Peguyangan Kangin).

Dengan menggunakan kompor gas dalam pelaksanaan upacara ngaben ini, waktu yang dipergunakan untuk membakar jenazah, jauh lebih singkat. Pada masa sebelum digunakannya kompor gas ini, pembakaran jenazah memerlukan waktu sampai sekitar enam jam. Pembakaran yang dimulai pukul 08.00 pagi bari bisa selesai pukul 14.00. Tetapi jika menggunakan kompor gas, rata-rata pembakaran jenazah hanya memerlukan waktu satu setengah jam. Yang paling esensial, unsur horor saat pembakaran jenazah bisa ditekan sampai seminimal mungkin. Sebelum penggunaan kompor gas, pembakar jenazah sering menyayat-nyayat atau menonjok-nonjok jenazah agar bisa cepat hancur dan lebih mudah terbakar. Hal ini sangat mengerikan jika dilihat oleh aanggota masyarakat di kuburan. Dalam uapacara ngaben, kerabat dan anggota masyarakat ikut menunggu di kuburan. Penggunaan kompor gas ini sekarang telah meluas dan total di Bali.

Pada dekade yang sama, juga mulai berkembang usaha di bidang penjualan upakara upacara adat. Setiap perlengkapan upakara upacara adat mulai disediakan pasar, terutama di pasr-pasar tradisionil di kota Denpasar. Perkembangan ini kemudian ditindaklanjuti dengan adanya pengusaha yang khsusu menjual perlengkapan ngaben. Usaha ini dimulai dari usaha kelompok, terdiri dari beberapa orang, yang khusus mengerjakan dan menyediakan jasa untuk membuat berbagai sarana upacara. Usaha jenis ini berlangsung musiman yang berlokasi di desa-desa. Usaha ini merupakan respon ekonomi terhadap begitu banyaknya jenis upacara masyarakat Hindu di Bali. Jadi, jika ada upacara tiga bulanan misalnya, kelompok ini akan berkumpul untuk menyediakan jasa bagi keluarga yang akan menyelenggarakan upacara tersebut. Model usaha seperti ini, tidak hanya ada di satu banjar atau desa, tetapi berkembang meluas ke setiap banjar. Saat ini, usaha-usaha seperti itu telah menjamur di setiap banjar di wilayah perkotaan dan pesisir Bali, terutama di Bali Selatan. Kelompok ini beranggotakan anggota masyarakat yang mempunyai keterampilan dalam pembuatan sarana upacara tersebut, yang biasanya muncul pada kerabat-kerabat pemangku, yakni orang yang ddipercaya sebagai pemimpin upacara di pura tertentu.

(11)

pemimpin upacara. Ada tiga faktor alasan masuknya industri sarana upacara ini masuk griya. Yang pertama adalah faktor keseuaian sarana dengan “gaya” keyakinan pendeta dalam menjalankan fungsinya sebagai pemimpin pelaksanaan upacara. Pada masyarakat Hindu Bali, sarana tersebut mendapatkan penafsiran dari pelaksana upacara sehingga dalam menjalankan ritual, kelengkapan upacara tersebut akan sangat dipengaruhi oleh penafsiran sang pemimpin upacara. Karena itu griya sebagai tempat pembuatan banten, akan membuat sarana upacara sesuai dengan penafsiran atau kebiasaan dari pendeta yang akan memimpin upacara tersebut. Cara seperti ini akan memudahkan dan melancarkan jalannya upacara. Apabila sarana tersebut dibuat oleh pihak lain, kemungkinan kelengkapannya akan berbeda sehingga berpotensi mengganggu lancarnya jalan upacara. Apabila ditemukan kekurangan sarana dalam upacara tersebut, upacara akan tersendat bisa sampai berjam-jam, untuk menunggu dibuatkannya sarana tertentu yang dipandang kurang tersebut.

Faktor kedua, mau tidak mau disebutkan faktor ekonomis. Potensi menghasilkan pemasukan dari penjualan alat perlengkapan upacara ini sangat besar. Setiap griya atau Brahmana di Bali, mempunyai sisya yang jumlahnya banyak dan menyebar di berbagai wilayah. Fenomena ini adalah tradisi dan historis. Meski dalam menjalankan upacara sesungguhnya masyarakat Hindu di Bali boleh menggunakan brahmana yang lain, tetapi karena faktor tradisi dan historis, maka sisya yang akan melaksanakan upacara akan meminta brahmana yang menjadi junjungannya untuk memimpin pelaksanaan upacara. Karena itu, hampir setiap hari akan akan kegiatan memimpin upacara keagamaann yang memerlukan sarana upacara yang banyak. Harga satu paket sarana ini macam-macam dan berentang mulai dari satu juta rupiah sampai ratusan juta rupiah. Ini tergantung dari jenis upacara yang diselenggarakan. Hal ini adalah potensi ekonomi yang menggiurkan.

Karena pendeta dari griya ini menjadi pemimpin berbagai macam upacara, termasuk juga upacara besar seperti ngaben, maka potensi untuk membuat segala macam produksi sarana upacara juga amat besar. Griya dengan demikian juga menyediakan berbagai macam bentuk sarana upacara seperti pembuatan wadah, pembuatan lembu dan sebagainya yang digunakan dalam upacara ngaben. Bergabungnya berbagai ahli, dalam sistem pembuatan banten di griya ini juga sangat dimungkinkan. Inilah yang membuat griya seperti shogo sosa, multicorporation yang mempunyai cabang dimana-mana. Atau mempunyai jalinan kerjasama dengan koroprasi-korporasi lain.

Faktor ketiga adalah pembukaan lapangan kerja. Pembuatan sarana upakara memerlukan banyak orang karena didalamnya melibatkan aktivitas seperti memasang perlengkapan (memasangkan satu sarana dengan sarana lainnya), mengolah bahan-bahan makanan (misalnya menyembelih ayam), membentuk wujud tertentu (membuat wujud manusia dari kue, atau dari anyam-anyaman). Ini memerlukan banyak orang untuk membantu. Griya, melalui tradisi sisyanya mempunyai banyak anak buah yang bisa digerakkan untuk membantu pekerjaan di griya, terutama pada sisya yang tidak mmepunyai pekerjaan.

Dalam pandangan Wiana, secara tradisional griyaa sesungguhnya mempunyai tiga fungsi, yaitu fungsi pemimpin pelaksana upacara, fungi edukatif (mengembangkan pengetahuan kleagamaan) dan fungsi ketiga adalah mendidik (membentuk asrama guna mendidik umat). Dengan perkembangan jaman sekarang, griya mempunyai fungsi keempat, yaitu industrialisasi sarana upacara.

(12)

utama untuk pengangktan jenazah pada saat upacara ngaben. Industri ini tidak saja melakukan kerjasama dengan lembaga griya tetapi juga dibuat khusus tersendiri. Upacara ngaben di Bali sebagian besar menggunakan wadah dan sebagian lagi untuk kalangan tertentu, menggunakan lembu sebagai tempat meletakkan jenazah saat dibakar di kuburan. Lembu ini merupakan tiruan bentuk sapi yang olehh masyarakat Hindu dipandang sebagai kendaraan menuju sorga.

Secara ekonomis, industri ini menjanjikan karena harganya mencapai 15 juta rupiah satu unit dan lembu sekitar 10 juta rupiah per unit. Berbagai industri ini yang tumbuh di Bali mampu mengerjakan antara 10 sampai 15 tenaga kerja, dan setiap hari pasti ada pekerjaan. Di Desa Kapal, Jegu, Sangulan, sesetan dan di berbagai pinggir jalan telah mulai berdiri insustri-industri seperti ini.

Modernisasi dan rasionalisasi pada bidang perlengkapan upacara tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan pada bidang sosial. Pengerahan massa dalam pembuatan sarana upakara tersebut menjadi sangat berkurang dan masyarakat bisa memanfaatkan waktunya lebih banyak untuk keperluan-keperluan yang lain, semisal untuk bekerja di kantor atau bekerja di sektor lainnya. Artinya beban sosial pada upacara ngaben lebih ringan dibanding dengan apa yang diselenggarakan sebelumnya. Waktu yang digunakan untuk melaksanakan upacara menjadi lebih irit.

Modernisasi pada bidang pengadaan sarana upakara ini kemudian diikuti dengan modernisasi teknis. Saat kritis pada upacara ngaben sesungguhnya ada pada saat pengusungan jenazah menuju kuburan. Saat-saat kritis tersebut bisa dikelompokkann menjadi dua. Yang pertama adalah sifat kritis sosial yang didasarkan atas upaya untuk merusak citra pelaksanaan upacara ngaben yang idasarkan atas sentiment pribadi maupun atas kekeliruan subyektif yang dipandang telah dilakukan oleh ia yang meninggal dunia semasa masih hidup. Inilah yang membuat jalannya pengusungan jenazah menuju kuburan diganggu, baik dengan cara memperlambat jalannya prosesi, atau menggoyang jalannya prosesi tersebut. Kedua adalah susahnya mengkoorninir jalannya prosesi sebagai akibat terlalu banyaknya pihak yang mengusung jenazah tersebut. Ketidakkoordinasian ini membuat pengusungan terasa berat.

Masalah ini kemudian dijawab dengan cara menambah roda pada bade yang dipakai mengusung jenazah. Penambahan roda ini merupakan hal yang baru yang belum pernah terjadi di masa-masa sebelumnya. Dan ini dipelopori oleh masyarakat yang ada di Sanur, Jimbaran, dan di Kuta. Dengan adanya penambahan roda pada bade yang digunakan mengusung jenazah tersebut, prinsip utama pengangutan bade bukan lagi mengusung secara bersama-sama tetapi mendorong secara bersama-sama yang membuat tenaga jauh lebih bisa diirit. Dengan mendorong seperti ini, upaya mengarahkan bade menjadi lebih mudah dan lebih mudah mengontrol prosesi upacara. Di Desa Sanur malah dalam satu kasus, telah ada pengontrolan jalannya bade ini dilakukan dengan alat elektronik. Karena pengontrolan lebih mudah dilakukan, maka gangguan terhadap prosesi menuju kuburan ini bisa ditekan menjadi seminimal mungkin.

(13)

Modernisasi-modernisasi tersebut selanjutnya berkembang menuju industri yang terkait dengan upacara ngaben. Misalnya industri catering mencoba masuk untuk memberikan pelayanan kepada para tamu yang hadir. Industri tenda dan penywaan kursi masuk dengan upaya menggantikan pembikinan salon yang dipakai di rumah yang mempunyai hajat. Dua industri ini telah jamak dipakai oleh pihak-pihak yang mempunyai hajatan ngaben, terutama di kota, tidak saja di Denpasar tetapi juga di kota-kota yang lain. Saat ini, industri penitipan jenazah juga telah berkembang, terutama dilakukan oleh rumah sakit seperti Rumah Sakit Sanglah dan Wangaya di Denpasar. Jasa swasta baru ada satu, yakni Kertha Semadi yang ada di Denpasar. Industri ini ada untuk merespon berbagai adat dan tradisi ketat yang tidak membolehkan adanya jenazah yang masuk menunju banjar atau lingkungan jika dilingkungan itu ada upacara agama yang berlangsung.

5. Analisis

Dalam pelaksanaan upacara ngaben, baik ngaben tradisional maupun ngaben yang dilaksanakan di krematorium, faktor modernisasi sangat kelihatan. Dalam pandangan Stompka, yang mengutip Comte (2007:82) modernisasi itu adalah upaya pelibatan ilmu dan teknologi dalam proses produksi. Unsur modern dalam kedua pelaksanaan upacara ngaben tersebut cukup signifikan. Apabila dibawa menujuu ranah produksi, ngaben pun sebenarnya memperlihatkan unsur prosuksi. Mengubah jenazah menjadi abu adalah sebuah produk baru. Untuk membuat produk ini, kompor gas merupakan hasil teknologi baru yang merupakan hasil kreatifitas manusia. Sebelumnya, dalam proses pembakaran jenazah di Bali, masyarakat menggunakan bahan-bahan tradisionial yang kebanyakan berasal dari alam, misalnyaa menggunakan tempurung kelapa, kayu bakar, atau bambu sebagai bahan utama pembakaran. Meskipun demikian, modernisasi pun sebenarnya telah mulai ddiperkenalkan pada cara ngaben tradisionil ini, sebelum penggunaan kompor gas, yakni dengan memakai ban bekasn dan penggunaan pisau untuk menghancurkan jenazah agar proses pembakaran lebih cepat. Ban bekas merupakan hasi teknologi dan pisau merupakan hasil pembaharuan sederhana dari peralatan manusia.

Proses pembakaran pada upacara ngaben yang dilaksanakan di krematorium, menggunakan sarana yang lebih baru lagi, yaitu krematorium dimana jenazah langsung dimasukkan menuju lorong pembakaran dan tertutup. Proses pembakaran jenazah tidak terlihat secara langsung oleh manusia dan baru diperlihatkan setelah menjadi abu. Teknologi yang digunakan disini lebih maju dibanding dengan kompor gas karena telah melibatkan lorong pembakaran dan tempat pembakaran yang permenan. Pembakaran inii tidak dihancurkan setelah upacara dilaksanakan. Berbeda dengan ngaben konvensional yang ada di Bali, tempat pembakaran jenazah itu tidak permanen dan langsung dihancurkan begitu pelaksanaan upacara selesai.

(14)

pengabenan juga merupakan penerapan teknologi modern. Bahkan mengunakan es sebagai sarana untuk mengawetkan jenazah dii rumah duka juga merupakan modernisasi sebab es adalah produk teknologi modern, yang digunakan untuk mengawetkan jenazah.

Keberanian masyarakat Hindu untuk memasukkan unsur-unsur modern ke dalam ritual upacaranya, bisa dilihat dari konteks teori modernisasi baru. Sztopmpka menyebutkan bahwa modernisasi yang diperkenalkan Barat tetap mempunyai kelemahan-kelemahan, yang berupa efek negatif kepada masyarakat. Misalnya pemakaian minyak sebagai bahan bakar tetap mempunyai dampak negatif berupa pencemaran udara. Karena itulah teori modernisasi kemudian mendapat modifikasi, yaitu teori modernisasi baru. Modernisasi sering disebutkan sebagai anti-tradisi. Padahal dalam konsep tradisi, dimungkinkan adanya unsur-unsur yang mendukung modernisasi. Dalam konteks demikian, tradisi Bali mempunyai unsur-unsur yang mendukung modernisasi, yaitu kearifan lokal yang disebut desa, kala, patra. Konsepsi ini memungkinkan masyarakat untuk memformat upacaranya sesuai dengan keadaan, ruang dan waktu. Pemilihan memasukkan teknologi ke dalam proses pelaksaan upacara ngaben, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan desa, kala, patra, tersebut. Mengusung jenazah dengan cara memakai roda akan sangat membantu mengirit tenaga sosial untuk mengompilasi masyarakat yang melaksanakan upacara ngaben mungkin telah lelah bekerja berhari-hari. Membawa jenazah dengan ambulans, adalah solusi untuk menghindai macet di kota dan juga jauhnya jarak rumah dengan kuburan. Memilih melaksanakan upacara ngeben di krematorium, merupakan solusi terhadap mereka yang kontak dengan kampungnya telah jarang, dimana aspek gotong royongnya telah hilang.

Modernisasi tidaka harus dilihat dari sisi penggunaan teknologi saja. Wilbert Moore menyebutkan bahwa modernisasi itu bisa berupa trnsformasi total menuju masyarakat teknologi atau organisasi sosial yang menyerupai masyarakat Barat (Sztompka, 2007: 152). Harus dulihat juga bahwa munculnya pengorganisasian itu akan diikuti oleh spesialisasi-spesialisasi pekerjaan. Dalam masyarakat Hindu di Bali, bade yang dipakaii untuk mengangkut jenazah ke kuburan, kini bisa dibeli dan di pesan di perusahan. Perusahan yang membuat bade tersebut sebenarnya telah melaksanakan praktik modernisasi karena disamping membentuk organisasi, mereka juga membentuk unit spesialisasi. Perusahan pembuat bade adalah sebuah organisasi, yang mempunyai unit-unit tersendiri dengan anggota tersendiri untuk membuat lembu, badan dari bade, atau atap dari bade bade yang bersangkutan.

Spesialisasi dalam bentuk yang lebih besar juga ada. Griya sebagai sebuah unit pelaksana upacara agama Hindu, juga mempunyai unit-unit spesialisasi untuk membuat perlengkapan upacara. Misalnya unit khusus yang membuat bade dan unit khsus yang membuat alat-alat perlengkapan ucakara (banten).

(15)

Pemilihan melaksanakan upacara ngaben di krematorium merupakan pilihan yang rasional. Dengan cara seperti itu keluarga duka akan mendapatkan manfaat yang maksimal. Pelaksanaan upacara dengan mekanisme seperti ini tidak merepotkan keluarga dan banjar karena telah ada lembaga yang mengaturnya. Cara demikian mampu mengirit tenaga dari tuan rumah yang pada upacara biasa harus mengurusi banyak orang yang terlibat dalam upacara. Dari sisi biaya, upacara ngaben di krematorium tidak memerlukan biaya besar. Maksimal pembiayaan upacara ini adalah 19 juta rupiah, jauh lebih murah dibanding dengan melaksanakan ngaben konvensional. Disamping itu, keuntungan maksimal lain yang didapatkan bisa berupa perasaan nyaman. Di masa lalu, dalam pelaksanaan upacara ngaben tradisionil banyak gangguan-gangguan yang mengancam, terutama kepada pihak yang dipandang kurang aktif di lingkungan banjar. Dengan melaksanakan ngaben di krematorium, ancaman seperti itu tidak akan ada. Pengangkutan jenazah dengan memakai ambulans boleh dikatakan steril dari ancaman gangguan, misalnya gangguan merusak prosesi jalannya jenazah menuju kuburan.

Pembelian banten dan perlengkapan upacara lain, termasuk juga pemakaian roda pada bade, adalah sebuah pilihan rasional. Masyarakat menggunakan pengetahuan kognitifnya untuk melakukan pilihan dengan tujuan manfaat yang maksimal. Dengan membeli banten dan perlengkapan upacara, mereka akan mampu mengirit waktu untuk membuat berbagai sarana upacara tersebut. Penggunaan roda dalam pengangkutan bade akan mampu mengirit tenaga dan lebih mudah mengkoordinasi jalannya prosesi pengangkutan jenazah. Jika menggunakan prosesi tradisionil yang menggunakan tenaga manusia, disamping menghabiskan banyak tenaga juga mengalami kesukaran dalam mengkoordinasi perjalanan.

6. Kesimpulan dan Saran

Dari uraian diatas dapat disimpulkan dua hal. Yang pertama, secara teoritis teoritis dalam konteks sosial pekasanaan ritual masyarakat Hindu di Bali, teori modernisasi baru mampu bersinergi dengan teori pilihan rasional. Dalam hal ini, output dari teori modernisasi baru tersebut dipakai sebagai sarana untuk mendapatkan tindakan yang rasional. Munculnya pedagang banten untuk pelaksanaan upacara adalah praktik modernisasi baru karena memakai sistem manajemen modern dalam pengorganisasiannya. Sistematika dan spesialisasi pembuatan banten adalah model manajemen yang merupakan kreasi dari modernisasi. Demikian pula dengan pemakaian roda dalam membantu menjalankan bade menuju kuburan atau pemanfaatn kompor gas untuk melaksanakan pembakaran jenazah. Filosofi yang dipakai sebagai legitimasi pelaksanaan upacara ini adalah kearifan loka, yaitu desa kala patra. Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa karena itu membolehkan upacara demikian, disesuaikan dengan keadaan, tempat dan waktu.

(16)

Kedua, dalam konteks sosial, tulisan ini menyimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran sosial yang cukup berarti dalam melaksanakan upacara keagamaan. Otonomi pribadi dalam memilih upacara berdasarkan keyakinan praktisnya. Perubahan sosial itu lebih memilih teknologi modern dibandingkan dengan manusia. Artinya nilai-nilai gotong royong tersebut mulai terancam sebagai akibat adanya perubahan sosial yang ddipengaruhi oleh praktik globalisasi di Bali.

Tersinerginya teori modernisasi baru dengan teori pilihan rasional dalam praktik pelaksanaan upacara dalam masyarakat Hindu Bali, harus mendapatkan peratian dari tiga pihak. Dari sisi Parisadha Hindu Dharma Indonesia mesti melihat pembaruan ini sebagai langkah yang mampu meringankan beban hidup masyarakat. Karena itu, parisadha harus memilih pendeta-pendeta untuk semakin mendalami pembaruan-pembaruan tersebut. Tujuan pendalaman ini adalah menggali makna keagamaan sehingga upacara yang besar bisa disederhanakan. Pendeta menjadi pelegitimasi dari pelaksanaan upacara ini.

Kedua, bagi desa pakraman, terutama Majelis Desa Pakraman, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun propinsi harus melihat pembaruan ini sebagai sumbangan sosial. Karena itu mesti mengkaji secara lebih mendalam, mengapresiasinya dan tidak memandang secara sinis. Jika bisa dilihat secara bersih dan jujur, maka harus ada awig-awig yang memberikan legitimasi lebih kuat kepada pembaruan ini.

(17)

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan, 2008, “Teori dan Metodologi Studi Agama: Menuju Penelitian Agama yang Kontekstual”, dalam Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, Volume VIII, Nomor 1.

Agung Gde Agung, 1987, Bali Abad Kesembilan Belas, Jakarta; Gunung Agung.

Andrain, Charles, F., 1992, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Basset, Caterine, 1990, Bali Abianbase, Jakarta, Total

Berger, Peter L., Hartono (Terj.), 1991, Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial, Jakarta, LP3ES.

Bellah, Robert. M., 1983, “Cultural Identity and Asian Modernization”, dalam Identity and Asian Modernization in Asian Countries, Institute for Japanese Culture and Classics, kokugakuin University.

Bungin, Burhan, 2001, Metodologi Penelitian Sosial: Format-Format Kuantitatif dan Kualitatif, Surabaya: Airlangga University Press.

Coser, Lewis A., Rosenberg, Bernard, 1976, Sociological Theory, New York: Fouth Edition, McMillan Publishing.

Couteau, Jean, et al, 2005, Bali 2Day Modernity, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Covarrubias, Miguel 1973, Island of Bali, Hongkong: Periplus.

Della Porta, Donatella, Mario Diani, 2004, Social Movement: An Introduction, Australia, Blackwall Publishing.

Duverger, Maurice, Dhakidae, Daniel (terj.), 2003, Sosiologi Politik, Jakarta, Raja Grafindo Persada.

Eder, Klaus 1992, “Contradictions and Social Evolution: A Theory of the Social Evolution of Modernity”, dalam Haferkampp, Hans, Smelser, J. Neil (Ed), 1992, Social Change and Modernity, California: The Regents of The University of California.

Eiseman Jr., Fred B., 1988, Skala Niskala, Hongkong: Periplus Editions.

________________ , 1990, Bali Skala dan Niskala (II), HK. Periplus Editions.

Elster, Jon, 1986, “Introduction”, dalam Elster, Jon, (ed.) Rational Choice, New York: New York University Press.

(18)

Geriya, I Wayan, 2008, Transformasi Kebudayaan Bali: Memasuki Abad XXI, Surabaya: Paramita

Haverkamp, Hans, Smelser, Neil J., (Ed.), 1993, Social Change and Modernity, California, The Regens of The University of California.

Hendropuspito, 1983, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius.

Kaler, I Gusti Ketut, 1993, Ngaben: Mengapa Mayat Dibakar?, Denpasar: Yayasan Dharma Naradha

Lauer, Robert H., Alimandan (terj.), 2001, Perspektif tentang Perubahan Sosial, Jakarta: Rineka Cipta.

Mabbett, Hugh, 2001, People in Paradise: The Balinese, Singapura: Paper Publications.

Maswinara, I Wayan, 1996, Konsep Panca Sraddha, Surabaya: Paramita

Marshall, Peter, Kelder, Jo-Anne, “Social Constructionism with a Twist of Pragmatism: a Suitable Coctail for information Systems Research”, Paper in Australian Conference on Information Systems, 29 Nov.-2 dec, 2005.

Pasek Swastika, I Ketut, 2005, Suputra: Bhakti Kepada Leluhur, Denpasar, Kayumas Agung.

Paloma, Margaret M., 2004, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers.

Ritzer, George, Goodman, Douglas, J., 2007, Teori Sosiologi Modern (terj.), Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. Pent. Sigit Jatmiko)

Scharf, Betty R., 1995, Kajian Sosiologi Agama, Yogya; Tiara Wacana.

Singarimbun, Masri, Sofian Effendi, 1985, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES.

Singgin Wikarman, I Nyoman, 1999, Ngaben Sederhana, Surabaya; Paramitra.

____________________, 2002, Ngaben: Upacara dari Tingkat Sederhana Sampai Utama, Surabaya, Paramita.

Soekanto, Soerjono, 2003, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soeka Gde, 1989, Tri Rnam, Denpasar: Kayu Mas

Spybey, Tony, 1996, Social Change, Development and Dependency: Modernity, Colonialism and the Development of the West, Great Britain, Polity Press.

(19)

Denpasar, Upada Sastra.

Sumarta, Ketut, Sucipta, wayan, 2005, “Bersitegang Meraih Setra,‟‟, dalam Sarad, 68.

Susan, Novri, 2008, Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer, Jakarta: Prenada Media Grup.

Suwarsono, So, Alvin Y., 1991, Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia: Teori-Teori Modernisasi, Dependensi dan Sistem Dunia, Jakarta, LP3ES.

Sztompka, Piotr, 1993, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada Media Group.

Taneko, Soleman B., 1984, Struktur dan Proses Sosial: Suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan, Jakarta: CV. Rajawali.

Tari Puspa, Ida Ayu, 2008, “Krematorium Jaman Modern”, dalam Raditya, 126, Januari 2008

Titib, I Made, 2000, Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu, Surabaya, Paramita.

Triguna, Yudha I B G, 2004, “Perubahan Karakter dan Penurunan „Social Kapital‟ Masyarakat Bali, Orasi Ilmiah, Denpasar.

Ramseyer, Urs, 1977, The Art And Culture of Bali, Oxford University Press.

Warren Carrol, 1993, Adat and Dinas: Balinese Communities in The Indonesian State, Oxford University Press.

Wiasti, Ni Made, 2000, Ngaben: Upacara Kematian di Bali (Analisis Struktur Dan Makna), Universitas Udayana.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kelemahan siswa dalam menulis puisi khususnya puisi tentang keindahan alam. Hal itu dipengaruhi oleh ketidaktepatan penggunaan

Bentuk dari penyiapan tersebut berupa pendidikan yang dimandatkan untuk menjadikan sumber daya manusia sebagai praktisi yang profesional. Makna pendidikan memiliki

Nilai tambah bruto atas harga konstan diperoleh dengan cara ekstrapolasi yaitu mengalikan perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan pada tahun dasar dengan

Unit ini merupakan unit yang bertanggungjawab dalam urusan yang berkaitan dengan penyebaran maklumat kepada masyarakat. Unit ini akan bertindak merangka strategi dalam

permasalahan yang dihadapi oleh STIE-STMIK Insan Pembangunan Tangerang. Hal ini dilakukan peneliti agar dapat memahami kondisi dan proses bisnis pada bagian perpustakaan yang

Hasil penerimaan pembayaran dibuatkan kas bon penerimaan dengan mengisi nomor faktur, nama customer yang membayar, jumlah pembayaran, tanggal pembayaran, dan

Guru sebagai tenaga pendidik memiliki peranan penting dalam mengembangkan proses berpikir anak. Pengembangan kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam pendidikan

Dalam matematika (dan, khususnya, analisis fungsional) konvolusi adalah operasi matematika pada dua fungsi (f dan g); Itu menghasilkan fungsi ketiga, yang biasanya