• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lp+ Askep Halisa

N/A
N/A
Ria Agustin

Academic year: 2022

Membagikan "Lp+ Askep Halisa"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. “N” USIA 28 THN DENGAN GASTREONTERITIS (GEA) DIRUANG EDELWEIS RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

H.S SAMSOERI MERTOJOSO SURABAYA

Oleh : Halisa (181141013)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN

INSTITUT KESEHATAN DAN BISNIS SURABAYA

2022

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan, Keperawatan Medikal Bedal (KMB) di RS. Bhayangkara H.S Samsoeri Mertojoso Surabaya. Untuk memenuhi nilai tugas praktik RS pada tanggal 9 Mei 2022 - 05 Juni 2022

Nama : Halisa

Nim : 181141013

Program studi : S1 Ilmu Keperawatan Hari/Tanggal : Minggu, 17 Mei 2022

Surabaya, 17 Mei 2022

(Halisa)

Mengetahui,

Clinical Instructure Kepala Ruangan

(Moh Sadli S.Kep.,Ns.) (Singgih S. Kep., Ns.M.,Tr.,Kep)

Pembimbing akademik

Supervisi Minggu 1 Supervisi Minggu 2 Supervisi Minggu 3 Supervisi Minggu 4

(Alpian Jayadi, S,Kep., (Ariska Putri.H.,S.Kep., (Alpian Jayadi, S,Kep (Putri Pamungkas.

Ns,M.Imun) Ns.,M.Epid) Ns,M.Imun) S.kep.,Ns.,M.KMM)

(3)

A. Latar Belakarang

BAB I Pendahulan

Gastroenteritis merupakan peradangan pada lambung dan usus yang ditandai dengan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh (Suratun,2010). Sedangkan menurut Suharyono, 2003 GEA didefinisikan sebagai buang air besar dengan tinja yang cair atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari. Menurut WHO (1980) gastroenteritis adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.

Gastroenteritis dapat dibagi dalam gastroenteritis akut dan kronis (Setiawan, 2006;Talley,1998). Gastroenteritis Akut (GEA) atau diare sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, yang mengancam nyawa di negara berkembang ataupun negara maju.

Menurut Word Health Organization (WHO), walaupun di Negara maju sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden GEA tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. GEA juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia, karena sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan disertai dengan kematian yang tinggi, terutama di Indonesia Bagian Barat (Phetisya, 2019). GEA didefinisikan sebagai buang air besar dengan tinja yang cair atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari (Suharyono,2003).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah “bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Gastreonteritis (GEA) diruang edewies RS Bhayangkara Surabaya?”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami gastroenteritis (GEA) diruang edelweiss RS Bhayangkara Surabaya

(4)

2. Tujuan khusus

a. Dapat melakukan pengkajian pada pasien terkait penyakit yaitu gastroenteritis (GEA) diruang edelweiss RS Bhayangkara Surabaya

b. Dapat merumuskan diagnisa keperawatan pada pasien terkait penyakit yaitu gatreonteritis (GEA) diruang edelweiss RS Bhayangkara Surabaya

c. Dapat melakukan perencaan tindakan keperawatan pada pasien terkait penyakit yaitu gatreonteritis (GEA) diruang edelweiss RS Bhayangkara Surabaya

d. Dapat mengimplemetasikan tindakan keperawatan pada pasien terkait penyakit yaitu gatreonteritis (GEA) diruang edelweiss RS Bhayangkara Surabaya

e. Dapat melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan pada pasien terkait penyakit yaitu gatreonteritis (GEA) diruang edelweiss RS Bhayangkara Surabaya

D. Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan diharapkan dapat bermaaf dalam dunia pendidikan khusunya dibidang keperawatan mengenai asuhan keperawatan medical bedah dengan gastroenteritis (GEA).

2. Manfaat praktis

a. Bagi profesi keperawatan

Diharapkan dengan adanya tugas ini perawat dapat meningkatkan pelayanan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan lebih baik lagi khusunya dalam masalah gastroenteritis (GEA) serta diharapkan mampu melakukan asuhan dengan standar oprasional prosedur (SOP).

b. Bagi rumah sakit

Diharapkan rumah sakit dapat memberikan pelayanan seoptimal mungkin, mampu menyediakan sarana dan prasana yang emmadai dalam pemeberian asuhan keperawatan pada pasien khusunya pada pasien dengan penyakit gastroenteritis (gea).

(5)

A. Pengertian

BAB II Tinjauan Teori

Gastroenteritis adalah peradangan pada mucosa lambung dan usus halus (Lewis, 2000). Gastroenteritis adalah inflamasi membrane mukosa lambung dan usus halus yang di tandai dengan muntah-muntah dan diare yang berakibat kehilangan cairan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gejala keseimbangan elektrolit (Cecyly, Betz, 2002).

Gastroenteritis atau diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair),dengan atau tanpa darah dan atau tanpa lendir (Sudaryat, 2017). Menurut Ardiansyah (2012) Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh.

jika tidak ditangani segera dapat mengakibatkan kehilangan cairan (dehidrasi) dan gangguan keseimbangan elektrolit sehingga dapat menyebabkan kematian terutama pada anak. Kebanyakan kasus gastroenteritis bersifat infeksius, namun dapat juga terjadi akibat konsumsi obat-obatan dan bahan-bahan toksik. Penularan gastroenteritis dapat melalui rute fekal-oral dari orang ke orang atau melalui air dan makanan yang terkontaminasi.

B. Etiologi

Gastroenteritis akut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, menurut dari World Gastroenterology Organisation, ada beberapa agen yang bisa menyebabkan terjadinya gastroenteritis akut yaitu agen infeksi dan non-infeksi. Lebih dari 90 % diare akut disebabkan karena infeksi, sedangkan sekitar 10 % karena sebab lain. Untuk penyebabnya yaitu :

1. Faktor Infeksi a. Virus

Di negara berkembang dan industrial penyebab tersering dari gastroenteritis akut adalah virus, beberapa virus penyebabnya antara lain :

- Rotavirus

Merupakan salah satu terbanyak penyebab dari kasus rawat inap di rumah sakit dan mengakibatkan 500.000 kematian di dunia tiap tahunnya, biasanya

(6)

diare akibat rotavirus derat keparahannya diatas rerata diare pada umumnya dan menyebabkan dehidrasi. Pada anak-anak sering tidak terdapat gejala dan umur 3 – 5 tahun adalah umur tersering dari infeksi virus ini.

- Human Caliciviruses (HuCVs)

Termasuk famili Calciviridae, dua bentuk umumnya yaitu Norwalk-like viruses (NLVs) dan Sapporo-like viruses (SLVs) yang sekarang disebut Norovirus dan sapovirus. Norovirus merupakan penyebab utama terbanyak diare pada pasien dewasa dan menyebabkan 21 juta kasus per tahun.

Norovirius merupakan penyebab tersering gastroenteritis pada orang dewasa dan sering menimbulkan wabah dan menginfeksi semua umur. Sapoviruses umumnya menginfeksi anak – anak dan merupakan infeksi virus tersering kedua selain Rotavirus.

- Adenovirus

Umumnya menyerang anak – anak dan menyebabkan penyakit pada system respiratori. adenovirus merupakan family dari Adenoviridae dan merupakan virus DNA tanpa kapsul, diameter 70 nm, dan bentuk icosahedral simetris.

Ada 4 genus yaitu Mastadenovirus, Aviadenovirus, Atadenovirus, dan Siadenovirus.

b. Bakteri

Infeksi bakteri juga menjadi penyebab dari kasus gastroenteritis akut bakteri yang sering menjadi penyebabnya adalah Diarrheagenic Escherichia coli, Shigella species, Vibrio cholera, Salmonella. Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan gastroenteritis akut adalah :

1. Diarrheagenic Escherichia- coli

Penyebarannya berbeda – beda di setiap negara dan paling sering terdapat di Negara yang masih berkembang. Umumnya bakteri jenis ini tidak menimbulkan bahaya jenis dari bakterinya adalah:

-Enterotoxigenic E. coli (ETEC) -Enteropathogenic E. coli (EPEC) -Enteroinvasive E. coli (EIEC) -Enterohemorrhagic E. coli (EHEC)

(7)

2. Campylobacter

Bakteri jenis ini umumnya banyak pada orang yang sering berhubungan dengan perternakan selain itu bisa menginfeksi akibat masakan yang tidak matang dan dapat menimbulkan gejala diare yang sangat cair dan menimbulkan disentri.

3. Shigella species

Gejala dari infeksi bakteri Shigella dapat berupa hipoglikemia dan tingkat kematiannya sangatlah tinggi.

4. Vibrio cholera

Memiliki lebih dari 2000 serotipe dan semuanya bisa menjadi pathogen pada manusia. Hanya serogrup cholera O1 dan O139 yang dapat menyebabkan wabah besar dan epidemic. Gejalanya yang paling sering adalah muntah tidak dengan panas dan feses yang konsistensinya sangat berair. Bila pasien tidak terhidrasi dengan baik bisa menyebabkan syok hipovolemik dalam 12 – 18 jam dari timbulnya gejala awal.

5. Salmonella

Salmonella menyebabkan diare melalui beberapa mekanisme. Beberapa toksin telah diidentifikasi dan prostaglandin yang menstimulasi sekresi aktif cairan dan elektrolit mungkin dihasilkan. Pada onset akut gejalanya dapat berupa mual, muntah dan diare berair dan terkadang disentri pada beberapa kasus.

c. Parasitic agents

Cryptosporidium parvum, Giardia L, Entamoeba histolytica, and Cyclospora cayetanensis infeksi beberapa jenis protozoa tersebut sangatlah jarang terjadi namun sering dihubungkan dengan traveler dan gejalanya sering tak tampak.

Dalam beberapa kasus juga dinyatakan infeksi dari cacing seperti Stongiloide stecoralis, Angiostrongylus C., Schisotoma Mansoni, S. Japonicum juga bisa menyebabkan gastroenteritis akut.

2. Non –Infeksi

a. Malabsorpsi/ maldigesti Kurangnya penyerapan seperti : 1. Karbohidrat : Monosakrida (glukosa), disakarida (sakarosa)

(8)

2. Lemak : Rantai panjang trigliserida 3. Asam amino

4. Protein

5. Vitamin dan mineral b. Imunodefisiensi

Kondisi seseorang dengan imunodefisiensi yaitu hipogamaglobulinemia, panhipogamaglobulinemia (Bruton), penyakit granulomatose kronik, defisiensi IgA dan imunodefisiensi IgA heavycombination.

c. Terapi Obat

Orang yang mengonsumsi obat- obatan antibiotic, antasida dan masih kemoterapi juga bisa menyebabkan gastroenteritis akut.

d. Lain-lain

Tindakan gastrektomi, terapi radiasi dosis tinggi, sindrom Zollinger-Ellison, neuropati diabetes sampai kondisi psikis juga dapat menimbulkan gastroenteritis akut.

C. Patofisiologi

penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter,Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya, parasite (biardia lambia, Cryptosporidium) Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau lytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut.penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ).

selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa

(9)

(asidosis metabolik dan hypokalemia), gangguan gizi(intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

(10)

D. Manifestasi klinis 1. Diare

2. Muntah 3. Demam

4. Nyeri abdomen

5. membran mukosa mulut dan bibir kering 6. kehilangan berat badan

7. tidak nafsu makan 8. Badan terasa lemah E. Pemeriksaan penunjang

Menurut Sudoyo (2009), pemeriksaan penunjang untuk penyakit GEA ada dua yaitu pemeriksaan darah dan pemeriksaan feses pasien, sebagai berikut :

1. Darah

Pada pemeriksaan darah yang perlu diperiksa adalah dara perifer lengkap, serum elektrolit berupa Na+, K+, Cl-, analisa gas darah apabila didapatkan tandatanda gangguan keseimbangan asam basa, immunoassay untuk mengetahui organisme yang menginfeksi mukosa gastrointestinal seperti toksin bakteri (C. difficile), antigen virus (rotavirus), antigen protozoa (Giardia, E. histolytica).

2. Feses

Pemeriksaan feses yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan feses lengkap, pada pemeriksaan ini dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk mengetahui peningkatan jumlah leukosit di feses pada inflammatory diarrhea, parasit, amoeba bentuk trpozit, dan hypa pada jamur. Selain pemeriksaan feses lengkap dilakukan biakan dan resistensi feses atau colok dubur.

F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas: rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan, memberikan terapi simptomatik, dan memberikan terapi definitif.

a. Terapi rehidrasi

(11)

Langkah pertama dalam menterapi diare adalah dengan rehidrasi, dimana lebih disarankan dengan rehidrasi oral. Akumulasi kehilangan cairan (dengan penghitungan secara kasar dengan perhitungan berat badan normal pasien dan berat badan saat pasien diare) harus ditangani pertama. Selanjutnya, tangani kehilangan cairan dan cairan untuk pemeliharaan. Hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:

- Jenis cairan

Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran, meskipun jumlah kaliumnya lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar Kalium cairan tinja. Apabila tidak tersedia cairan ini, boleh diberikan cairan NaCl isotonik. Sebaiknya ditambahkan satu ampul Nabikarbonat 7,5% 50 ml pada setiap satu liter infus NaCl isotonik. Asidosis akan dapat diatasi dalam 1-4 jam. Pada keadaan diare akut awal yang ringan, tersedia di pasaran cairan/bubuk oralit, yang dapat diminum sebagai usaha awal agar tidak terjadi dehidrasi dengan berbagai akibatnya. Rehidrasi oral (oralit) harus mengandung garam dan glukosa yang dikombinasikan dengan air (Barr, 2017).

- Jumlah Cairan

Pada prinsipnya jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Rehidrasi cairan dapat diberikan dalam 1-2 jam untuk mencapai kondisi rehidrasi (Amin, 2015)

- Jalur Pemberian Cairan

Rute pemberian cairan pada orang dewasa terbatas pada oral dan intravena.

Untuk pemberian per oral diberikan larutan oralit yang komposisinya berkisar antara 29g glukosa, 3,5g NaCl, 2,5g Na bikarbonat dan 1,5g KCI setiap liternya. Cairan peroral juga digunakan untuk memperlahankan hidrasi setelah rehidrasi inisial (Sudoyo,2009)

b. Terapi simtomatik

Pemberian terapi simtomatik haruslah berhati-hati dan setelah benar-benar dipertimbangkan karena lebih banyak kerugian daripada keuntungannya. Hal yang harus sangat diperhatikan pada pemberian antiemetik, karena Metoklopropamid

(12)

misalnya dapat memberikan kejang pada anak dan remaja akibat rangsangan ekstrapiramidal. Pada diare akut yang ringan kecuali rehidrasi peroral, bila tak ada kontraindikasi dapat dipertimbangkan pemberian Bismuth subsalisilat maupun

loperamid dalam waktu singkat. Pada diare yang berat obat-obat tersebut dapat dipertimbang dalam waktu pemberian yang singkat dikombinasi dengan pemberian obat antimicrobial (Sudoyo, 2009).

c. Terapi antibiotic

Pemberian antibiotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40% kasus diare sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik.

Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi, seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong dan pasien immunocompromised. Pemberian antibiotic dapat secara empiris, tetapi antibiotic spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman (Amin, 2015).

G. Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan benar, gastroenteritis bisa menyebabkan komplikasi berupa:

1. Dehidrasi

2. Kekurangan nutrisi 3. Tubuh lemah 4. Otot lemah H. Pengobatan

Cara mengobati gastroenteritis umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa cara mengobati gastroenteritis yang biasanya disarankan dokter, yaitu:

1. Konsumsi banyak air putih.

2. Minuman rehidrasi oral atau oralit yang tersedia di apotik.

3. Jika gastroenteritis yang Anda rasakan disebabkan oleh bakteri, maka Anda bisa mengonsumsi Antibiotik.

4. Konsumsi obat untuk membunuh parasit, jika gastroenteritis disebabkan oleh parasit.

(13)

5. Menghindari obat antimuntah atau antidiare kecuali jika diresepkan atau direkomendasikan oleh dokter Anda, karena obat-obatan tersebut akan menyebabkan infeksi menjadi sulit sembuh.

I. Pencegahan

Cara mencegah gastroenteritis yang bisa dilakukan meliputi:

1. Rajin mencuci tangan, terutama setelah menggunakan kamar mandi dan sebelum menyiapkan makanan.

2. Jangan berbagi peralatan dapur, piring, atau handuk jika ada anggota keluarga Anda yang sakit.

3. Jangan mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang.

4. Cuci buah dan sayuran secara menyeluruh.

5. Lakukan tindakan pencegahan khusus untuk menghindari air dan makanan yang terkontaminasi saat bepergian. Seperti hindari es batu dan gunakan air kemasan bila memungkinkan.

6. Vaksin untuk mencegah rotavirus.

(14)

A. Konsep Asuhan Keperawatan

Dalam proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang berurutan dan saling berhubungan, yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi (Iyer, etc,dalam Nursalam, 2009).

1. Pengkajian

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,observasi, psikal assesment. Kaji data menurut Ambarwati Fitri Respati dan Nasution Nita (2012) adalah :

a. Identitas

Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, umur,tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua,pekerjaan dan No telpon,no RM,tanggal masuk,tanggal pengkajian dan ruang tempat klien dirawat.

b. Riwayat Kesehatan Klien

Riwayat kesehtan klien dengan gastroenteritis sebagai berikut : a) Keluhan Utama

Px mengalami diare 4x konsistensi cair, disertai demam hari ke4,mual muntah b) Riwayat Kesehatan sekarang

menurut suharyono (1999:59)

 Keadaan umum klien. suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan menurun atau tidak ada.

 Tinja makin cair seperti ampas terjadi berkali-kali

 Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan sifatnya makin lama makin asam.

 Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah GEA.

 Apabila telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi

 Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi dehidrasi c) Riwayat Kesehatan yang lalu

Klien mengatakan belum pernah dirawat dirumah sakit sebelumnya, tidak pernah mengalami diare akut.

(15)

d) Riwayat kesehatan keluarga

Perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit gastroenteritis, px mengatakan tidak ada.

c. Data biologis dan fisiologis Meliputi hal-hal sebagai berikut : 1. Pola nutrisi

Diawali dengan mual,muntah membuat klien menjadi lemas 2. Pola eliminasi

Pada pasien gea pola BAB yang tidak normal yaitu 4x sehari dengan kosistensi cair, BAK sedikit atau jarang.

3. Pola istirahat dan tidur

Akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

4. Pola aktivitas

Mengalami gangguan karena kelemahan akibat banyaknya keluar cairan serta demam yang dirasakan membuat aktivitas terganggu.

d. Pemeriksaan fisik

- kepala : tidak ada tanda-tanda - mata : tampak cekung

- mulut dan lidah : kering

- telingan : pasien dengan gea tidak ada gangguan pada telinga - hidung : pasien dengan gea tidak memiliki gangguan pendengaran - leher : pasien dengangea tidak mengalami pembengkakan pada leher - Thorak

 Paru- paru

-Inspeksi :Klien dengan gea dadanya simetris kiri kanan.

-Palpasi : Pada klien dengan gea saat dilakuan palpasi tidak teraba massa.

-Perkusi : Pada klien dengan gea saat diperkusi di atas lapang paru bunyinya normal.

-Auskultasi : klien dengan gea suara nafasnya normal.

(16)

 Jantung

-Inspeksi : Klien dengan batu ginjal ictus cordis tidak terlihat.

-Palpasi : Klien dengan batu ginjal ictus cordis tidak teraba.

-Perkusi : Suara jantung dengan kasus batu ginjal berbunyi normal.

-Auskultasi : Reguler, apakah ada bunyi tambahan atau tidak.

- Abdomen kemungkinan mengalami distensi kram dan bising usus yaitu :

 Inspeksi : melihat permukaan abdomen simetris atau tidak dan tanda lain

 Auskultasi : Terdengar bising usus meningkat > 30 x/ menit

 Perkusi : biasanya Terdengar bunyi tympani / kembung

 Palasi :Ada tidak nyeri tekan epigastrium kadang juga terjadi distensi perut - Ekternitas

Klien dengan gea biasanya ekstremitasnya dalam keadaan normal.

- Genitalia

Pada klien dengan gea klien tidak ada mengalami gangguan pada genitalia.

e. Data Psikologis

Konsep diri terdiri atas lima komponen yaitu :

 Citra tubuh

Sikap ini mencakup persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai.

 Ideal diri

Persepsi klien terhadap tubuh, posisi, status, tugas, peran, lingkungan dan terhadap penyakitnya.

 Harga diri

Penilaian/penghargaan orang lain, hubungan klien dengan orang lain.

 Identitas diri

Status dan posisi klien sebelum dirawat dan kepuasan klien terhadap status dan posisinya.

 Peran

Seperangkat perilaku/tugas yang dilakukan dalam keluarga dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas.

(17)

f. Data Sosial dan Budaya

Dikaji mengenai hubungan atau komunikasi klien dengan keluarga, tetangga, masyarakat dan tim kesehatan termasuk gaya hidup, faktor sosial kultural dan support sistem.

g. Stresor

Setiap faktor yang menentukan stress atau menganggu keseimbangan. Seseorang yang mempunyai stresor akan mempersulit dalam proses suatu penyembuhan penyakit.

h. Koping Mekanisme

Suatu cara bagaimana seseorang untuk mengurangi atau menghilangkan stres yang dihadapi.

i. Harapan dan pemahaman klien tentang kondisi kesehatan Perlu dikaji agar tim kesehatan dapat memberikan bantuan dengan efisien.

j. Data Spiritual

Pada data spiritual ini menyangkut masalah keyakinan terhadap tuhan Yang Maha Esa, sumber kekuatan, sumber kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan dan kegiatan keagamaan yang ingin dilakukan selama sakit serta harapan klien akan kesembuhan penyakitnya.

k. Data Penunjang

Farmakoterapi : Dikaji obat yang diprogramkan serta jadwal pemberian obat.

Prosedur Diagnostik Medik.

Pemeriksaan Laboratorium : berupa tes darah

Pemeriksaan tinja, untuk memeriksa bakteri atau parasite apa yg menyebabkan gea

l. Analisa Data

Proses analisa merupakan kegiatan terakhir dari tahap pengkajian setelah dilakukan pengumpulan data dan validasi data dengan mengidentivikasi pola atau masalah yang mengalami gangguan yang dimulai dari pengkajian pola fungsi kesehatan (Hidayat, 2008:104).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subjektif dan data objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakkan diagnosis keperawatan.

Diagnosis keperawatan melibatkan proses berpikir komplek tentang data yang

(18)

dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi layanan pelayanan kesehatan yang lain. Adapun tahapannya, yaitu :

a. Menganalisis dan menginterpretasi data.

b. Mengidentifikasi masalah klien.

c. Merumuskan diagnosa keperawatan.

d. Mendokumentasikan diagnosa keperawatan

Diagnosa yang sering muncul pada pasien gea antara lain : a. Kekurangan volume cairan b.d mual muntah

b. Diare b.d factor infeksi, makanan,psikologis

c. Resiko kerusakan integritas kulit b.d defekasi yang sering 3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1 :

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntal, tujuan :asupan cairan terpenuhi, dengan kriterial hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien :

a) asupan cairan meningkat b) dehidrasi menurun

c) membrane mukosa membaik d) mata cekung membaik

e) berat badan membaik dengan intervensinya yaitu : a) memonitoring status dehidrasi b) monitoring berat badan

c) status intake output dan hitung cairan selama 24 jam d) berikan asupan cairan sesuai kebutuhan

e) berikan cairan iv jika perlu

f) kolaborasi pemberian deuretik jika perlu Diagnosa 2 :

Diare berhubungan denganfaktor infeksi, makanan, psikologis. Tujuan : Diare dapat teratasi, Kriteria Hasil :setelah dilakukan tindakan keperawaan selama 3x24 jam diharapkan pasien :

(19)

a) control pengeluaran feses b) mengejan saat defekasi c) konsistensi fekal membaik d) peristaltic usus membaik (5) Dengan intervensinya yaitu : a) identifikasi penyebab diare b) berikan asupan cairan oral

c) anjurkna menghindari makanan pembentukan gas, pedas dan mengandung laktosat d) kolaborasi pemberian obat antimoilitis .

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.(Potter&Perry,2011).

Diagnosa 1 :

a. Memonitoring status dehidrasi b. Memonitoring berat badan

c. Mencatat intake output dan hitung balance cairan 24 jam d. Memberikan asupan cairan sesuai kebutuhan

e. Memberikan cairan iv juka perlu

f. Mengkolaborasikan pemebrian diuretic jika perlu Diagnosa 2 :

a) Mengidentifikasi penyebab diare b) Berikan asupan cairan oral

c) Anjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas dan mengandung laktosa d) Mengkolaborasi memberian obat antimotilitas

5. Evaluasi

Menurut (Craven & Hirlne, 2011) evaluasi didefinisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku klien yang tampil. Tujuan dari evaluasi antara lain:

a. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.

b. Untuk menilai efektifitas, efisiensi, dan produktifitas dari tindakan

(20)

c. keperawatan yang telah diberikan.

d. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.

e. Mendapatkan umpan balik.

f. Sebagai tangguang jawab dan tanggunggugat dalam pelaksanaan g. pelayanan keperawatan.

(21)

Daftar Isi

Amin L. Tatalaksana Diare Akut. Continuing Medical Education.2015;42(7):504-8 Dennis L., Anthony S., Stephen H., Dan L., Larry J., Joseph L. 2016. Harrison's Gastroenterology and Hepatology. 3rd Edition. Philadelphia: McGraw Hill.

How, C. (2010). Acute gastroenteritis: from guidelines to real life. Clinical and Experimental Gastroenterology, p.97.

Smeltzer and Bare C, 2000, Buku Ajar medikal Bedah Brunner and Suddarth, Edisi8, Volume 2, EGC, Jakarta

Smeltzer, Suzunne C.2001. keperawatan Medikal Bedah volume1.Jakarta: EGC

(22)

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tanggal MRS :09-05-2022 Jam Masuk : 20.32 wib

Tanggal Pengkajian : 10-05-1022 No. RM : 0010619xxx

Jam Pengkajian : 19.00 Diagnosa Masuk : GEA

Hari Rawat ke : 2 IDENTITAS

1. Nama Pasien : Nn. N 2. Umur : 28 thn 3. Suku/ Bangsa : indonesia 4. Agama : islam 5. Pendidikan : SLTA 6. Pekerjaan : IRT

7. Alamat : Jln. Dukuh M 8. Sumber Biaya : suami

KELUHAN UTAMA 1. Keluhan Utama:

Mual muntah 4x/hari, diare 5x/hari RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Px masuk IGD senin 9 mei 2022 jam 20.32 wib dengan keluhan panas naik turun sudah 4 hari disertai mual muntah 4x/hari dengan mukosa kering, wajah tampak pucat,mata cekung.

Diare 5x/hari dengan konsistensi cair berampas dengan ttv di IGD 09 mei 2022 TD: 102/80 N : 120 S: 38,6 RR: 20 SPO : 98 diserahkan keruangan jam 22.12 wib dengan TTV TD : 137/90 N : 90 S : 37,4 RR: 20 SPO : 96.

(23)

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

1. Pernah dirawat : ya tidak kapan: diagnosa:

2. Riwayat penyakit kronik dan menular: ya tidak jenis: ...

Riwayat kontrol : tidak ada Riwayat penggunaan obat : tidak ada 3. Riwayat alergi : tidak ada

Obat ya tidak jenis : ...

Makanan ya tidak jenis : ...

Lain-lain ya tidak jenis : ...

4. Riwayat Operasi : ya tidak

- Kapan : tidak ada...

- Jenis Operasi : tidak ada...

5. Lain-lain :

Tidakada...

...

RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

Ya Tidak

- Jenis : - Genogram :

keterangan : : pria : wanita : Meninggal : pasien

PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN Perilaku sebelum sakit yang mempengatuhi kesehatan :

Alkohol ya tidak

Merekok ya tidak

Keterangan ...

Obat ya tidak

Keterangan ...

Olah Raga ya tidak

Keterangan ...

(24)

OBSERVASI DA PEMERIKSAAN FISIK 1. Tanda tanda vital

S: 37,4 N: 90 TD: 137/90 RR: 20

Kesadaran Compos Mentis Apatis Somnolen Sopor Koma 2. Sistem Pernapasan (B1)

a. RR : 20

b. Keluhan :tidak ada Sesak Nyeri waktu nafas Orthopnea Batuk:baik Produktif Tidak Produktif

Sekret: tidak ada Konsentrasi : tidak ada

Warna: tidak ada Bau:

c. Penggunaan otot bantu nafas: tidak ada

d. PCH ya tidak

e. Irama nafas teratur tidak teratur f. Pleural Friction rub:

g. Pola nafas normal Dispoe Ksmaul Cheyne Stroke h. Suara nafas normal Cracles Ronki Wheezing

i. Alat bantu nafas ya tidak

Jenis: tidak ada j. Penggunaan WSD

- Jenis : tidak ada - Jumlah cairan : normal - Undulasi : normal - Tekanan : normal

k. Tracheostomy : ya tidak

l. Lain-lain : tidak ada

...

...

3. Sistem Kardio Vaskuler (B2) a. TD : 137/90

b. N : 123

c. Keluhan nyeri dada : ya tidak P : .tidak ada penyebab nyeri

Q : tidak ada kuantitas nyeri dada R : tidak ada penyebab nyeri dada S : tidak ada skala nyeri

T : tidak ada waktu nyeri

d. Irama jantung : reguler ireguler

e. Suara jantung : normal (S1/S2 tunggal) murmur

Gallop lain-lain

f. Ictus Cordis : tidak dikaji...

g. CRT : kurang dari 2 deik

h. Akral : hangat kering merah basah Pucat panas dingin

i. Sirkulasi perifer : normal menurun j. JVP : tidak ada

k. CVP : tidak ada

Masalah Keperawatan:

Masalah Keperawatan:

Gangguan rasa nyaman

(25)

l. CTR : tidak ada

m. ECG & Interprestasinya: irama sinustakikardi 123/menit terlampir

n. Lain-lain : tidak ada 4. Sistem Pesyarafan (B3)

a. GCS: e:4 v:5 m:6

b. Refleks Fisiologis patella triceps biceps c. Refleks Patologis babinsky brudznsky kernig

Lain-lain

d. Keluhan pusing ya tidak P : tidak ada

Q : tidak ada R : tidak ada S : tidak ada T : tidak ada

e. Pemeriksaan saraf kranial:

N1 : normal tidak Ket:

N2 : normal tidak Ket:

N3 : normal tidak Ket:

N4 : normal tidak Ket:

N5 : normal tidak Ket:

N6 : normal tidak Ket:

N7 : normal tidak Ket:

N8 : normal tidak Ket:

N9 : normal tidak Ket:

N10 : normal tidak Ket:

N11 : normal tidak Ket:

N12 : normal tidak Ket:

f. Pupil anisokor isokor Diameter: 3 mm g. Scelera anikterus ikterus

h. Konjunctiva ananemis anemis

i. Istirahat/ tidur: 8 jam Gangguan tidur: tidak ada gangguan j. Lain: tidak ada

5. Sistem Perkemihan (B4)

a. Kebersihan genetalia: bersih kotor

b. Sekret: ada tidak

c. Ulkus: ada tidak

d. Kebersihan meutus uretra bersih kotor

e. Keluhan kencing ada tidak

Bila ada, jelaskan: tidak ada

Masalah Keperawatan:

Masalah Keperawatan:

Kekurangan volume cairan

(26)

f. Kemampuan berkemih:

Spontan alat bantu, sebutkan Jenis : tidak ada

Ukuran : tidak ada Hari ke : tidak ada g. Produksi urine:

Warna : agak kekuningan Bau : khas

h. Kandung kemih: Membesar ya tidak i. Nyeri tekan ya tidak

j. Intake cairan oral: 600 cc/hari parental : 1500/24 jam k. Balance cairan: -100

Input :2100 cc = infus ,obat oral, minuman/24 jam Output : 2200 cc = urine , muntal,diare/24 jam l. Lain-lain :

6. Sistem Pencernaan (B5)

a. TB : 160 BB: 56

b. IMT : 56/1,6x 1,6= 21,8 Interpretasi : tidak ada

c. Mulut: bersih kotor berbau

d. Membran mukosa lembab kering stomatitis e. Tenggorokan: kering

Sakit menelan kesulitan menelan Pembesaran tonsil nyeri tekan

f. Abdomen: tegang kembung ascites

g. Nyeri tekan: ya tidak h. Luka operasi: ada tidak

Tanggal operasi : tidak ada Jenis operasi : tidak ada Lokasi : tidak ada Keadaan : tidak ada

Drain : ada tidak

- Jumlah : tidak ada

- Warna : tidak ada

- Kondisi area sekitar inseri : tidak ada i. Peristaltik : 36x/ menit

j. BAB : 5x/24 jam Terakhir tanggal: 11 mei 2022

k. Konsistensi : keras lunak cair lendir/darah l. Diet : padat lunak cair

m. Diet Khusus : rendah serat, nasi tim

n. Nafsu makan : baik menurun Frekuensi : 2 x/hari o. Porsi makan : habis tidak Keterangan : separuh porsi p. Lain-lain : tidak ada

Masalah Keperawatan:

diare

(27)

7. Sistem penglihatan

a. Pengkajian segmen anterior dan posterior OD

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Virus Palpebra Conjunctiva

Kornea BMD

Pupil Iris Lensa

TIO

OS Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal b. Keluhan nyeri ya tidak

P : tidak ada Q : tidak ada R : tidak ada S : tidak ada T : tidak ada

c. Luka operasi ada tidak Tanggal operasi : tidak ada

Jenis operasi : tidak ada Lokasi : tidak ada Keadaan : tidak ada

d. Pemeriksaan penunjang lain : tidak dilakukan pemeriksaan penunjang e. Lain-lain

8. Sistem penglihatan

a. Pengkajian segmen anterior dan posterior OD

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Aurcicula MAE Membran Tymphani

Rinne Weber Swabach

OS Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal b. tes Audiometri

tidak ada

c. Keluhan nyeri ya tidak P : tidak ada

Q : tidak ada R : tidak ada S : tidak ada T : tidak ada

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

(28)

d. Luka operasi ada tidak Tanggal operasi : tidak ada

Jenis operasi : tidak ada Lokasi : tidak ada Keadaan : tidak ada e. Alat bantu dengar : tidak ada f. Lain-lain : tidak ada

9. Sistem muskuloskeletal (B6)

a. Pergerakan sendi : bebas terbatas b. Kekuatan otot :

c. Kelainan ekstremitas : ya tidak d. Kelainan tulang belakang : ya tidak

Frankel : normal

e. Fraktur : ya tidak

- Jenis :

f. Traksi ya tidak - Jenis : tidak ada - Beban : tidak ada - Lama pemasagan : tidak ada

g. Penggunaan spalk/gips: ya tidak h. Keluhan nyeri ya tidak

P : tidak ada Q : tidak ada R : tidak ada S : tidak ada T : tidak ada

i. Sirkulasi perifer : normal

j. Kompartemen syndrome ya tidak

k. Kulit : ikterik sianosis kemerahan hiperpigmentasi l. Tugor baik kurang jelek

m. Luka operasi ada tidak Tanggal operasi : tidak ada

Jenis operasi : tidak ada Lokasi : tidak ada Keadaan : tidak ada

Drain : ada tidak

- Jumlah : tidak ada

- Warna : tidak ada

- Kondisi area sekitar insersi : tidak ada

n. ROM : penuh

o. Cardinal Sign : normal p. Lain-lain : normal

5-5-5-5 5-5-5-5

5-5-5-5 5-5-5-5

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

(29)

10. Sistem Integumen

a. Penilaian resiko decubitus Aspek yang

dinilai

Kriteria penilaian

Nilai

1 2 3 4

Persepsi Sesoris

Terbatas Sepenuhnya

Sangat Terbatas

Keterbatasan Ringan

Tidak ada

Gangguan 4 Kelembaban Terus

Menerus basah

Sangat Lembab

Kadang2 Basah

Jarang Basah 4 Aktifitas Bedfast Chairfast Kadang2

Jalan

Lebih Sering

Jalan 4

Mobilitas Immobile Sepenuhnya

Sangat Terbatas

Keterbatasa Ringan

Tidak ada

Keterbatasan 4 Nutrisi Sangat

Buruk

Kemungkinan Tidak Adekuat

Adekuat Sangat baik 3 Gesekan &

Pergeseran

Bermasalah Potensial Bermasalah

Tidak Menimbulkan

Masalah

3 NOTE: Pasien dengan nilai total <16 maka dapat dikatakan

bahwa pasien berisiko mengalami decubitus (passure ulcers)

(15 or 16 = low risk, 13 or 14 -= moderate risk, 12 or less

= high risk)

Total Nilai

22

b. Warna : sawo matang c. Pitting edema : +/- grade:

d. Ekskoriasis : ya tidak e. Psoriasis : ya tidak f. Pruritus : ya tidak g. Urtikaria : ya tidak h. Lain-lain :

11. Sistem Endokrin

a. Pembesaran tyroid : ya tidak

b. Pembesaran kelenjar getah bening : ya tidak

c. Hipoglikemia : ya tidak

d. hiperglikemia : ya tidak

e. Kondisi kaki DM

- Luka gangren ya tidak Jenis : normal

- Lama luka : tidak ada - Kedalaman : tidak ada - Kulit kaki :normal

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

(30)

- Kuku kaki : kuku kaki bersih - Telapak kaki : tampak bersih normal - Jari kaki : lengkap

- Infeksi ya tidak

- Riwayat luka sebelumnya ya tidak Jika ya :

- Tahun : tidak ada - Jenis Luka : tidak ada - Lokasi : tidak ada

- Riwayat amputasi sebelumnya ya tidak Jika ya :

- Tahun : tidak ada - Lokasi : tidak ada f. ABI : tidak ada

g. Lain-lain : tidak ada

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL

a. Persepsi klien terhadap peyakitnya:

Px mengatakana cemas karena sering BAB dan muntah mual takut Penyakitnya bertatapi px menerima dan sabar

b. Ekspresi klien terhadap penyakitnya

Murung/diam gelisah tegang marah/menangis

c. Reaksi saat interaksi koorperatif tidak kooperatif curiga d. Gangguan konsep diri : tidak ada gangguan konsep diri

e. Lain-lain: tidak ada

PENGKAJIAN HYGIENE & KEBIASAAN Jelaskan:

Px mengatakan selama dirumh teratur mandi 3x sehari saat dirumah sakit Px Mandi 2x sehari

PENGKAJIANSPIRITUAL a. Kebiasaan beribadah

- Sebelum sakit sering kadang-kadang tidak pernah

- Selama sakit sering kadang-kadang tidak pernah

b. Batuan yang diperlukan klien untuk memenuhi kebutuhan beribadah:

Px beribadah dengan cara duduk PENGKAJIAN SPIRITUAL Jelaskan :

Px mengatakan sebelum sakit ibadahnya lancer setelah sakit jadi jarang Dan kadang-kadang saja

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

Masalah Keperawatan:

Tidak ada masalah keperawatan

(31)

TERAPI

- Infus asering 500 cc kcl 12,5 meg/6 jam diulang 4x - inf. Ciprofloxacin 2x400 mg

- inj. Omz 2x1 - inj. Ondan 3x8 mg - p.o lodia 1x6 tiap diare DATA TAMBAHAN LAIN 10/05/22

Laboratorium :

 Monella typhi o negative jam 10.02

 monella typhi h negative jam 10.02

 monella paratyphi AO negative jam 10.02

 monella paratyphi BO negative jam 10.02 darah lengkap :

Tes darah hasil

Hematologi lengkap

 haemoglobin

 hematokrit

 eritrikrit

14,4 44,0 H 6,25 Indeks entrosit

 mcv

 mch

 mpv

 rdw-cv

 trombosit

 leukosit

L 70,4 L 23,0 9,6 14,3 363 H 10.10 Hitung jenis leukosit

 basufil

 eosinophil

 eutrofil

 limposil

 mosiosil

0,2 2,0 H 75,3 L 15,1 7,4

(32)

 NLR

 Jumlah limfosit

H 5.0 1,53 Kimia darah

 Gula darah acak stik

 Gpt (alt)

 Kreatinin darah

91,0 13 L 0,60

ECG :

Sinus takikardi 123/menit

Surabaya, 2022

(...)

(33)

B. ANALISA DATA

No DATA ETIOLOGI MASALAH

1.

2.

3.

DS: px mengatakan mual muntah 4x/hari

DO : -wajah tampak pucat - Mukosa kering -Mata cekung Ttv :

td :137/90, N : 123, S: 37,4, RR: 20, SPO: 96

BB : 58-56 kg

Balance cairan : -100/24 jam Input- output = 2100-2200 = -100

DS : px mengatakan diare sudah 5x/hari dengan konsistensi cair dan ampas

DO: px tampak lemas Ttv:

Td: 137/90 , N : 123, S: 37,4 , RR: 20, SPO : 96

BB: 56 kg

-paristaltik usus: 36x/menit -BAB 5X/hari

-akral hangat -mukosa kering

-turgor kulit tidak terlalu elastis

DS : px mengatakan anus perih dan gatal

DO :

-kemerahan didaerah parineal -turgor kulit jelek

BAB sering konsistensi encer Cairan yang keluar banyak Kekurangan volume cairan

BAB sering konsistensi cair Frekuensi defekasi BAB encer dengan atau tanpa darah

BAB sering dengan

konsisitensi encer Kulit disekitar anaus lecet dan

Kekurangan volume cairan

Diare

Resiko kerusakan integritas kulit dan jaringan

(34)

Infeksi

Kemerahan dan gatal

Resiko kerusakan integritas kulit dan jaringan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah ditandai dengan wajah tampak pucat, mukosa kering, mata cekung

2. Diare berhubungan dengan infeksi, makanan, psikilogis ditandai dengan badan tampak lemas

3. Resiko kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan kemerahan didaerah parineal ditandani dengan panas disekitar daerah anus

(35)

C. INTERVENSI NO

DX

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN DAN

KRITERIA HASIL INTERVENSI 1.

2.

Kekurangan volume cairan b.d mual muntah d.d wajah tampak pucat , mukosa kering, mata cekung

Diare b.d factor

infeksi,makanan,psikolo gis d.d badan tampak lemas

Setelah dialkukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam

diharapkan asupan cairan terpenuhi dengan kriteria hasil :

1.asupan cairan mneingkat (5) 2.dehidrasi menurun (5) 3.membran mukosa

membaik (5)

4.mata cekung membaik (5)

5. ttv :

Td : 37/90, N: 123, S;

37,4 , RR: 20, SPO: 96

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam

diharapkan px membaik dengan kriteria hasil : 1.kontrol pengeluaran feses

2.mengejan saat defekasi 3.konsistensi feses membaik

4.paristaltik usus (5)

1.monitor status dehidrasi

2.monitoring berat badan

3.catat intek output input dan hitung balance cairan 24 jam 4. berikan asupan cairan

sesuai kebutuhan 5.berika cairan iv jika perlu

6.anjurkan makan sedikit tapi sering

1.identifikasi penyebab diare

2.berikan asupan cairan oral

3.anjurkan menghindari makanan pembentik gas,pedas,

mengandung laktosa 4.anjurkan makan

sedikit tapi sering 5.hindari makanan

(36)

5.ttv :

Td: 137/90,N: 123,S :37,4, RR: 20, SPO: 96

6.kolaborasi dengan dokter

Tinggi serat

6.kolaborasi dengan dokter

(37)

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI TGL/JAM NO

DX

IMPLEMENTASI EVALUASI TTD

10/05/22 10.00

11/05/22 15.00

1. 1.memonitor status dehidrasi -Px tergolong dehidrasi

sedang

2.memonitoring berat badan Bb: 56kg

3.mencatat intek output input dan hitung balance cairan 24 jam

Input-output 2100-2200= -100 Balance cairan : -100cc

4. memberikan asupan cairan sesuai kebutuhan

5.memberika cairan iv jika perlu Inf. Ciprofloxacin 2x4

6.menganjurkan makan sedikit tapi sering

Ttv :

Td: 137/90, N : 123, RR: 20, S:

37,4 SPO: 96

1. memonitor status dehidrasi -Px mulai memasuki fase

dehidrasi ringan

2.memonitoring berat badan Bb: 56kg

3.mencatat intek output input dan hitung balance cairan 24 jam

S: px mengatakan mual muntah 4x/hari O:-wajah tampak pucat -mukosa kering -mata cekung Ttv :

Td: 137/90, N: 123, S:

37, RR: 20, SPO: 96 Input –output

2100-2200=-100 Balance cairan :-100 A: masalah

keperawatan belum teratasi

P: intervensi dilanjutkan 1-6

S: PX mengatakan masih mual muntah tapi berkurang 3x/hari O: -wajah tampak

tidak terlalu pucat -mukosa agak

lembab

-mata tidak terlalu

(38)

Tgl/Jam No DX

Implementasi Evaluasi TTD

12/05/22 08.00

Input-output 2000-2050=50

Balance cairan : -50cc 4. memberikan asupan cairan sesuai kebutuhan

5.memberikam cairan iv jika perlu

Inj. Omz, inj ondan, inj cefxon

6.menganjurkan makan sedikit tapi sering

Ttv :

Td: 125/80, N : 115, RR: 20, S:

36,9 , SPO: 98

1. memonitor status dehidrasi -Px dehidrasi ringan

2.memonitoring berat badan Bb: 56kg

3.mencatat intek output input dan hitung balance cairan 24 jam

Input-output 2300-2100= +200 Balance cairan : +200cc 4. memberikan asupan cairan sesuai kebutuhan

5.memberika cairan iv jika perlu -ondan 3x8

Cekung A: masasalah

keperawatan teratasi sebagian

P: intervensi 1-6

S: px mengatakan sudah tidak mual muntah

O: -wajh tidak pucat -mukosa lembab -mata tidak cekung A: masalah

keperawatan teratasi P: intervensi

dihentikan

(39)

10/05/22 10.00

11/05/22 15.00

2.

6.anjurkan makan sedikit tapi sering

1.mengidentifikasi penyebab diare

2.memberikan asupan cairan oral -minum air putih

3.menganjurkan menghindari makanan pembentik gas,pedas, mengandung laktosa

4.menganjurkan makan sedikit tapi sering

5.menghindari makanan Tinggi serat

6.mengkolaborasikan dengan dokter

-obat oral : lodia 1 tab

1.mengidentifikasi penyebab diare

2.memberikan asupan cairan oral -minum air putih

3.menganjurkan menghindari makanan pembentik gas,pedas, mengandung laktosa

4.menganjurkan makan sedikit tapi sering

5.menghindari makanan Tinggi serat

6.mengkolaborasikan dengan dokter

S: px mengatakan diare sudah 5x/hari dengan konsistensi cair

O:px tampak lemas -paristaltik usus:

36x/menit Ttv:

Td: 137/90, N: 123, S:

37,4, RR: 20, SPO: 96 A: masalah

keerawatan belum teratasi

P: intervensi 1-6 dilanjutkan

S: px mengatakan diare berkurang 2x/hari

O: px tampak lebih sehat

-paristaltik usus : 34x/menit

Ttv:

Td: 125/80. N:115, S:

36,9, RR: 20, SPO: 98 A: masalah

keperawatan teratasi sebagian

(40)

12/05/22 08.00

-lodia 1 tab

1.mengidentifikasi penyebab diare

2.memberikan asupan cairan oral -minum air putih

3.menganjurkan menghindari makanan pembentik gas,pedas, mengandung laktosa

4.menganjurkan makan sedikit tapi sering

5.menghindari makanan Tinggi serat

6.mengkolaborasikan dengan dokter

- lodia 1 tab

P: intervensi 2-6 dilanjutkan S: px mengatakan sudah tidak diare lagi, feses normal

O: px tampak lebih sehat

-paristaltik usus : 30x/menit

Ttv:

Td: 110/80, N: 98,S:

36, RR: 20, SPO: 96 A: masalah

keperawatan teratasi P: intervensi

dihentikan px pulang

(41)

Referensi

Dokumen terkait

Difraksi Fresnel/difraksi jarak pendek yang terjadi pada celah dengan lebar empat kali panjang gelombang, cahaya dari sumber titik pada ujung atas celah akan

47/BPDAS.PP-1/2013 tanggal 1 Maret 2013, telah melaksanakan Acara Evaluasi Dokumen Penawaran pada Seleksi Sederhana dengan Prakualifikasi Jasa Konsultansi

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Mekanisme perubahan warna yang terjadi pada titrasi alkalimetri yang dilakukan adalah pada larutan sampel yang bersifat asam yang telah ditambahkan indikator fenolftalein

Dalam hal terdapat perbedaan data antara DIPA Petikan dengan database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan maka yang berlaku adalah data yang terdapat di dalam database

Pengisian evaluasi dalam rekam medis adalah hasil dari evaluasi perencanaan dan implementasi yang sudah dilakukan oleh masing-masing profesi dan ditanyakan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh perceived ease to use dan subjective norm terhadap intention to use dengan perceived usefulness

(2012) melakukan pengembangan material untuk 3D Printer konstruksi dengan komposisi berupa sand-binder dengan rasio 3:2, yang terdiri dari 70% semen, 20% fly ash dan