BAB I PENDAHULUAN. sosial dengan memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Dan dihadapkan dengan suatu

Download (0)

Full text

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia pada hakikatnya merupakan individu yang diciptakan sebagai makhluk sosial dengan memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Dan dihadapkan dengan suatu kebutuhan untuk saling berhubungan atau berinteraksi antar individu satu sama lain. Dalam memenuhi kebutuhan itulah manusia selalu berusaha untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama lainnya untuk bertahan hidup dan mencapai tujuannya.

Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antar orang per orang. Salah satu syarat terjadinya interaksi sosial, selain adanya kontak sosial adalah komunikasi. Dikutip dari buku Liliweri (2011:63) De Vito (1996) mengatakan bahwa komunikasi disebut sebagai suatu cara untuk menekankan sesuatu yang selalu mengalami perubahan atau yang selalu bergerak. “proses”

disini dikonotasikan dengan sebuah “kegiatan” yaitu suatu kegiatan yang memiliki sifat non- static dan dinamis. Sebuah proses merupakan serangkaian tindakan yang memiliki tujuan tertentu.

Sama halnya dengan manusia, sebuah organisasi memerlukan proses perubahan yang bersifat dinamis untuk menjaga organisasi tersebut tetap eksis dan tetap hidup. Didalam sebuah organisasi juga memerlukan struktur-struktur anggota yang potensial dan memiliki hubungan baik antar sesama anggota untuk menjaga iklim komunikasi agar tetap baik.

Mengingat komunikasi merupakan bagian terpenting dalam sebuah organisasi karena memiliki peran sebagai sistem aliran yang menghubungkan dan membangkitkan kinerja

(2)

2

antar bagian dalam organisasi sehingga menghasilkan sebuah sinergi yang utuh (Masmuh, 2010:3).

Lembaga pemerintahan desa pun turut berperan dalam berlangsungnya proses komunikasi. Karena untuk membina, mengayomi, dan melayani masyarakat membutuhkan hubungan komunikasi yang baik agar citra pemerintah desa tetap baik di mata masyarakat.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, kepala desa dibantu oleh perangkat desa yang diangkat langsung oleh kepala desa, BPD (Badan Permusyawaratan Desa), dan beberapa mitra organisasi pemerintah desa seperti: LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa), PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), Karang Taruna, LINMAS, dan beberapa mitra lainnya.

LPMD merupakan salah satu institusi yang dibentuk atas prakarsa masyarakat, dan di fasilitasi pemerintah melalui musyawarah dan mufakat, dan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa. LPMD merupakan mitra pemerintah desa sebagai wadah untuk menampung dan menyalurkan aspirasi kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. Pengurus LPMD biasanya beranggotakan dari pemuka agama, tokoh masyarakat, atau anggota masyarakat yang memiliki pengaruh di wilayah desa tersebut.

Pelayanan LPMD dituangkan melalui program-program pemerintah desa berupa pembinaaan-pembinaan, penyaluran potensi melalui lomba-lomba kemasyarakatan, pelatihan, sosialisasi, serta penyuluhan.

Komunikasi dalam pelayanan masyarakat pemerintah desa tidak semuanya berjalan secara maksimal, karena tidak semua anggota bertindak sebagai penyalur informasi yang aktif. Ada beberapa anggota yang memilih untuk pasif (vakum). Sehingga mengakibatkan terhambatnya penyaluran informasi kepada seluruh lapisan masyarakat dan berdampak pada

(3)

3

kurangnya peran masyarakat dalam membantu melaksanakan program-proram yang telah dirancang.

Menjadi suatu tantangan besar dalam komunikasi organisasi tentang bagaimana menyampaikan dan menerima informasi dari seluruh bagian organisasi hingga lapisan terbawah. Karena memang proses aliran informasi merupakan proses yang rumit dan sesuatu yang disampaikan dalam struktur, bisa saja bukan yang sebenarnya telah terjadi (Masmuh, 2010:54). Aliran informasi yang efisien dapat bergantung pada iklim komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi tersebut. Jika iklim komunikasi membaik, maka kemungkinan terjadinya miss komunikasi (kegagagalan paham) yang terjadi antar anggota sedikit.

Kerap kali suatu keputusan atau kebijakan tertentu dalam sebuah organisasi tidak menggambarkan tujuan dan kepentingan organisasi. Hal ini menjelaskan bahwa dalam organisasi dapat terjadi sebuah tindakan atau kegiatan yang berbeda dari rasionalitas organisasi. Terkadang, organisasi pernah dihadapkan dengan beberapa masalah dalam menjalankan aktivitas menuju tujuan atau target yang hendak dicapainya secara bersama, pasti memerlukan jalan keluar yang dianggapnya rasional. Sementara di sisi lain, dalam sebuah organisasi tidak dipungkiri bahwa selalu memiliki kelompok-kelompok kepentingan (interest group) yang selalu diusahakan mencapai target dengan caranya sendiri. Maka dari itu, aktivitas dan keputusan yang dipilih dalam sebuah organisasi bisa saja mempresentasikan dua hal tersebut. Hal ini dipertegas oleh sejumlah studi tentang kehidupan organisasi yang melihat bahwa terdapat kelompok-kelompok individu dalam sebuah organisasi yang berusaha melindungi dan mengembangkan atau membangun kepentingan- kepentingan mereka pribadi dengan cara informal seperti; menjaga posisi yang telah dicapai, mengejar posisi yang lebih tinggi, mengejar sumber daya atau reward, dsb (Agusyanto,

(4)

4

2007:57). Sehingga terdapat kemungkinan adanya jaringan informal diluar struktur pemerintahan (kelompok-kelompok kepentingan) untuk menyelamatkan posisi mereka ketika terjadi suatu permasalahan.

Dalam buku Pace & Faules (1998:48) dituliskan bahwa setiap organisasi yang terbentuk secara formal, maka tidak dapat dipungkiri akan muncul pula kelompok-kelompok informal. Karena hubungan informal tercipta sebagai alasan terhadap berbagai kesempatan yang dibentuk oleh latar belakang masing-masing kelompok. Organisasi formal merupakan lingkungan kelompok yang lebih jelas mempengaruhi kuantitas (jumlah) pelaksanaan hubungan informal dalam organisasi. Dan ditemukan juga para ahli mengatakan bahwa suatu kelompok atau organisasi mempunyai kehidupannya sendiri, lengkap dengan adat kebiasaan, norma, dan kontrol sosial yang efektif atas anggota-anggotanya. Dan harus diakui bahwa suatu struktur informal hubungan sosial memang ada dibalik struktur organisasi yang formal (Pace & faules, 1998:61).

Terkait dengan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa, sejak memasuki periode ketiga (2015-2019) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) negara terfokuskan kepada kebijakan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Menurut Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2015, tugas Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan, pemberdayaan masyarakat desa, percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas itu, salah satu fungsi yang dijalankan oleh Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi adalah

(5)

5

perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan desa dna kawasan perdesaan, serta pemberdayaan masyarakat desa.

Perkembangan desa menurut data Indeks Desa Membangun (IDM) yang dipublish dari Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) pada tahun 2019 tercatat total desa maju bertambah menjadi 4.784 desa (6,92%), desa berkembang sebanyak 30.293 desa (43,83%), dan desa sangat tertinggal jauh berkurang menjadi 6.633 desa (9,6%). Berkembang pesat dari tahun 2015 yang tercatat masih terdapat 14.107 kategori desa sangat tertinggal.

Kondisi Pembangunan Desa dalam pemerintah desa Kedung Pedaringan dalam kurun waktu 2 tahun terakhir berjalan lebih baik. Terbukti dengan perawatan bangunan milik desa seperti Balai desa, Bank sampah, masjid, dan bangunan lainnya menjadi lebih baik. Pengaspalan jalan-jalan kecil di dalam kompleks desa Kedung Pedaringan, dan masyarakat lebih aware terhadap kebersihan lingkungan masing-masing. Namun sedikit berbeda dengan kondisi pemberdayaan masyarakatnya di desa Kedung Pedaringan. Karena belum terjadi pemerataan dalam sistem pemberdayaan mereka. Ada beberapa kader PKK yang tidak aktif atau vakum, sehingga terdapat beberapa wilayah atau RT yang tidak pernah mendapatkan pelatihan. Seperti; sulam pita, membuat kue kering, hantaran, dan lain sebagainya.

Dari uraian tersebut menjadi alasan peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana jaringan komunikasi yang terbentuk dalam pemerintah desa Kedung Pedaringan dalam program pemberdayaan masyarakat. Dan dengan menggunakan analisis jaringan komunikasi, peneliti mengharapkan bisa melihat kualitas hubungan yang terjadi dalam pemerintah desa dalam merealisasikan program pemberdayaan masyarakat.

(6)

6 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, bagaimanakah jaringan komunikasi yang terbentuk di Pemerintah Desa Kedung Pedaringan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dalam program pemberdayaan masyarakat pada tahun 2018?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian tersebut adalah, untuk mengetahui jaringan komunikasi yang terbentuk di Pemerintah Desa Kedung Pedaringan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dalam program pemberdayaan masyarakat pada tahun 2018.

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Akademis

Penelitian ini diharapkan berguna untuk menambah pengetahuan dan memberikan referensi baru tentang jaringan komunikasi dalam organisasi. Dan dapat menjadi bahan masukan dalam mengkaji Ilmu Komunikasi organisasi.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan evaluasi mengenai efektifitas jaringan komunikasi bagi Pemerintah Desa Kedung Pedaringan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dalam menyampaikan informasi.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in