41 A. Pengertian Jari>mah
Jarimah (tindak pidana) didefinisikan oleh Imam al-Mawardi sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Djazuli53, sebagai berikut:
ةرٍزحْ عِشحْ مَ ةحْ مَ ةدٍّ مَ عِ ةمَه حْ مَ ةظُ اللّهُ ةمَزمَ مَسة يَّ عِ حْزمَ ةتٌا مَزظُ حْ مَ
“Segala larangan syara’ (melakukan hal-hal yang dilarang dan atau meninggalkan hal-hal yang diwajibkan) yang diancam dengan hukuman had atau ta’zi>r.”
Secara terminologi jarimah adalah larangan-larangan syara‟ yang diancam oleh Allah SWT dengan hukuman had atau ta’zi>r.54 Larangan-larangan tersebut adakalanya berupa mengerjakan perbuatan yang dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan.55
Yang dimaksud dengan larangan adalah mengabaikan perbuatan terlarang atau mengabaikan perbuatan yang diperintahkan, syara‟ suatu ketentuan yang berasal dari nash, hadd adalah ketentuan hukuman yang sudah ditentukan Allah, sedangkan ta’zi>r ialah hukuman atau pengajaran yang besar kecilnya ditetapkan oleh penguasa atau hakim.56
B. Macam-macam Jari>mah
Jarimah dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan berdasarkan berat dan ringannya hukuman sebagaimana ditegaskan atau tidaknya oleh Al-Qur‟an dan hadis. Atas dasar ini, ulama membaginya menjadi tiga macam yaitu:
53 A. Dzajuli, Fiqh Jinayah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 11
54 Abdul Qadir „Audah, Al-Tasyri’ Al-Jina>iy Al-Isla>miy, (Beirut: Darul Katib Al-„Arabi) juz 1, hlm. 66
55 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta:Sinar Grafika, 2005), hlm. 249
56 Abdul Qadir „Audah, Al-Tasyri’ Al-Jina>iy Al-Isla>miy, hlm. 65
1. Jari>mah hudu>d
Kata hudu>d adalah bentuk jamak dari kata had. Pada dasarnya had berarti pemisah antara dua hal atau yeng membedakan anatara sesuatu dengan yang lain. Dalam pengertian ini termasuk juga dinding rumah atau batas-batas tanah. Menurut bahasa had berarti cegahan. Hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku kemaksiatan disebut hudu>d karena hukuman tersebut dimaksudkan untuk mencegah agar orang yang dikenakan hukuman tidak mengulangi perbuatan yang menyebabkannya dihukum.
Jarimah hudu>d adalah suatu jarimah yang bentuknya telah ditentukan syara‟ sehingga terbatas jumlahnya.Selain ditentukan bentuknya (jumlahnya), juga ditentukan hukumannya secara jelas, baik melalui Al-Qur‟an maupun Hadits. Lebih dari itu, jarimah ini termasuk dalam jarimah yang menjadi hak Tuhan. Jarimah-jarimah yang menjadi hak Tuhan, pada prinsipnya adalah jarimah yang menyangkut masyarakat banyak, yaitu untuk memelihara kepentingan, ketentraman, dan keamanan masyarakat.57
Hukuman jarimah ini sangat jelas diperuntukan bagi setiap jarimah. Karena hanya ada satu macam hukuman untuk setiap jarimah, tidak ada pilihan hukuman bagi jarimah ini dan tentu saja tidak mempunyai batas tertinggi maupun terendah seperti layaknya hukuman yang lain. Dalam pelaksanaan hukuman terhadap pelaku yang telah nyata-nyata berbuat jarimah yang masuk ke dalam kelompok hudu>d tentu dengan segala macam pembuktian, hakim tinggal melaksanakannya apa yang telah ditentukan syara‟. Jadi, fungsi hakim terbatas pada penjatuhan hukuman yang telah ditentukan, tidak berijtihad dalam memilih hukum.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jarimah hudu>dadalah jarimah yang diancamdengan hukuman had.
Pengertian hukuman had adalah hukuman yang telah ditentukan
57 Ahmad Wardi Muslich, Pengantar Dan Asas Hukum Pidana Islam, hlm. 158
oleh syara‟ dan menjadi hak Allah artinya bahwa hukuman tersebut tidak bias dihapuskan oleh perseorangan (orang yang menjadi korban atau keluarganya). Hukumannya tertentu dan terbatas, dalam arti bahwa hukumannya telah ditentukan oleh syara‟ dan tidak ada batas minimal dan maksimal.58
Jumhur fuqaha menetapkan macam-macam jarimah yang diancam dengan hukuman hudud ada tujuh macam, yaitu:59
1. Zina
2. Tuduhan zina 3. Minuman keras 4. Pencurian 5. Perampokan
6. Murtad atau keluar dari agama Islam, dan 7. Pemberontakan.
Adapun salah satu dasar hukum hudud antara lain yaitu berupa perbuatan pencurian dilarang dengan tegas oleh Allah melalui Al- Qur‟an surat Al-Maidah ayat 38:
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ةة
ةةة“ laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Maidah[5]: 38)
58 Abdullah Musthafa, dan Ruben Ahmad, Intisari Hukum Pidana, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), hlm. 64
59 Abdul Qadir „Audah, Al-Tasyri’ Al-Jina>iy Al-Isla>miy, hlm. 79
2. Jari>mah qis}a>s}-diyat
Menurut bahasa kata qis}a>s} adalah bentuk masdar, sedankan bentuk madhinya adalah qas}as}a yang artinya memotong.Atau juga berasal dari kata iqtas}s}a yang artinya “mengikuti”, yakni mengikuti perbuatan si pelaku sebagai balasan atas perbuatannya.
Jarimah qis}a>s} diyat ialah perbuatan-perbuatan yang diancam dengan hukuman qis}a>s} maupun diyat.60 hukuman yang berupa qis}a>s} maupun hukuman yang berupa diyat adalah hukuman- hukuman yang telah ditentukan batasannya dan tidak mempunyai batas terendah maupun batas tertinggi, tetapi menjadi perseorangan (hak manusia), dengan pengertian bahwa korban bisa memaafkan pelaku jarimah dan apabila dimaafkan oleh korban, maka hukumannya menjadi hapus.61
Ciri-ciri jarimah qis}a>s} diyat adalah pertama, hukumannya sudah tertentu dan terbatas, yakni sudah ditentukan oleh syara‟ dan tidak terdapat batas maksimal dan minimal. Kedua, hukuman tersebut merupakan hak perseorangan (individu), dalam arti bahwa, korban atau keluarganya berhak memberikan pengampunan terhadap pelaku.
3. Jari>mah Ta’zi>r
Dalam hal ini peneliti membuat pembahasan khusus tentang jari>mah ta’zi>r.
C. Pengertian Jari>mah ta’zi>r
Jari>mah ta’zi>r adalah jari>mah yang diancam dengan hukuman ta’zi>r. Pengertian ta’zi>r menurut bahasa ialah berasal dari kata
ريَّشمَ
(„azzara) yang sinonimnya
ةاللّهُ يَّز مَ ة ةظُ حْ مَل حْ
ة (al-man’u wa al-raddu) yang berarti mencegah dan menolak, dan pengertian keduaةةظُ حْ عِ حْ يَّل حْ
ة (al-60 Wardi Muslich, Pengantar Dan Asas Hukum Pidana Islam, hlm. 18
61 Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm 8
ta’di>bu) yang berarti mendidik. Pengertian sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Abdul Qadir „Audah dan Wahbah Zuhaili. Ta’zi>r diartikan mencegah dan menolak karena ia dapat mencegah pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya, ta’zi>r diartikan mendidik karena ta’zi>r dimaksudkan untuk mendidik dan memperbaiki pelaku agar ia menyadari perbuatan jarimahnya kemudian menghentikan dan meninggalkannya.62
Adapun pengertian ta’zi>r yang dikemukakan oleh Abdul Qadir
„Audah, yakni:
ةظُ حْ ظُ ظُ حْ ةهمَ حْ عِ ةحْ مَزحْ ظُ ةحْ مَ ةعِ حْ ظُ ظُ ة مَ مَ ة تٌ حْ عِ حْاهمَ ظُزحْ عِشحْ يَّل مَ
ة مَ مَ ةتٌ مَ حْ ظُقظُ مَ ظُهةىمَ ة,
ةتٌ مَرمَ حْقظُ ةتٌ مَ حْ ظُقظُ ةهمَ يُّ مَ عِ ةظُ مَ حْ عِزيَّ ةظُ همَ ظُ ةحْ مَ ةعِ عِا مَزمَ
63
.
ة
“Ta’zi>r itu adalah hukuman pendidikan atas dosa (tindak pidana) yang belum ditentukan hukumannya oleh syara’ dalam arti hukuman atas jari>mah-jari>mah yang belum ditentukan hukumnya oleh syariat karena ia termasuk hukuman yang diperkirakan (
ة ق ر ق
)”Wahbah Zuhaili memberikan pengertian ta’zi>r sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich, yakni:
ةهً حْزمَ مَ ظُهمَ
همَ حْ عِ ةيَّ مَحةمَلاةرٍ مَ همَ عِ ةحْ مَ ةرٍ مَ عِصحْ مَ ة مَ مَ ةظُ مَ حْ ظُزحْ مَلحْ ةظُ مَ حْ ظُقظُ حْ ة:
ةمَلامَ
ةمَ مَرهيَّ مَ
“Ta’zi>r menurut syara’ adalah hukuman yang ditetapkan atas perbuatan maksiat atau jina>yah yang tidak dikenakan hukuman had dan tidak pula kifarat”.64
Dari pengertian-pengertian di atas jelaslah bahwa ta’zi>r adalah suatu istilah untuk hukuman atas jari>mah-jari>mah yang hukumannya belum ditetapkan syara‟. Inti jari>mah ta’zi>r adalah perbuatan maksiat.
62 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 248
63 Abdul Qadir „Audah, Al-Tasyri’ Al-Jina>iy Al-Isla>miy, hlm. 658
64 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 249
Para fukaha memberikan contoh perbuatan yang dilarang, seperti sumpah palsu, penipuan, riba dan lain sebagainya.65
D. Dasar hukum Jari>mah Ta’zi>r
Dasar hukum disyariatkannya ta’zi>r yang dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich terdapat dalam hadits Nabi saw dan tindakan sahabat.
Hadits-hadits tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Surat Al-Maidah[5] ayat 33
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة ةةةة“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. Al-Maidah[5]: 33)
Dalam ayat 33 surat al-maidah di atas, menjelaskan sanksi-sanksi dalam jari>mah ta’zi>r yang di dalamnya disebutkan empat macam hukuman yaitu: hukuman dibunuh, hukuman salib, hukuman penghilangan anggota badan, dan hukuman pengasingan. Dimana
65 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 250
keempat hukuman tersebut tidak bisa disamaratakan, hakim diberi kewenangan dalam menentukan hukuman. Berat atau ringannya suatu hukuman tentu berdasarkan besar atau kecilnya kemudhorotan yang ditimbulkan oleh pelaku jari>mah.
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim
ةعِ يِّ مَ ة حْ مَ ةعِ حْ عِ مَ ة حْ مَ ةرٍ حْ عِ مَحةعِ حْ عِشحْ مَ ة حْ مَ
ةمَ يَّ مَسمَ ةعِ حْ مَ مَ ةظُ ة يَّ مَصةيَّ عِبيَّ ةيَّنمَأ ة,
ةعِ مَلحْ يُّل ة عِ ة مَسمَبمَح (
ة ق ب ةئهس ةىذ زل ة ر
ه ة ص )
ة
“Dari Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi saw. menahan seorang karena disangka melakukan kejahatan.
(Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa‟i, dan Baihaqi, serta disahihkan oleh Hakim).66
3. Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Burdah
ة يَّ مَصةعِ ةظُل حْ ظُسمَرةمَ عِلمَسةظُ يَّ مَ ةظُ حْ مَ ةظُ ةمَ عِضمَرةىعِرهمَصحْ مَ حْ ةمَ مَ حْزظُ ة عِ مَ ة حْ مَ
ةظُل حْ ظُقمَ ةمَ يَّ مَسمَ ةعِ حْ مَ مَ ةظُ
ة حْ عِ ةدٍّ مَحة عِ ةيَّلاعِإةرٍط مَ حْسمَأةمَ مَزحْ مَ ةمَق حْ مَ ةظُ مَ حْجظُ ةمَلا ة:
ة مَ همَ مَ ةعِ ةعِ حْ ظُ ظُح (
ةق ل )ة
Dari Abi Burdah Al-Anshari ra bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak boleh dijilid di atas sepuluh cambuk kecuali di dalam hukuman yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala”. (HR.
Muttafaq „alaih)
4. Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a
ةمَلهمَ ةمَ يَّ مَسمَ ةعِ حْ مَ مَ ةظُ ة يَّ مَصةيَّ عِبيَّ ةيَّنمَأةهمَ حْ مَ ةظُ ةمَ عِضمَرةمَ مَ عِاهمَ ة حْ مَ مَ
ة:
ةظُ حْ ظُ ظُ حْ ةيَّلاعِإةحْ عِ عِ مَزمَثمَ ةعِاهمَئحْ مَ حْ ةىعِ مَ ة ظُ حْ عِ مَأ (
ة ة ة لح ة ر
يق ب ةئهس )
ةة
Dari Aisyah ra. bahwa Nabi saw bersabda: “Ringankanlah hukuman bagi orang-orang yang tidak pernah melakukan
66 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 252
kejahatan atas perbuatan mereka kecuali dalam jari>mah-jari>mah hudu>d”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa‟i, dan Baihaqi).67
Menurut Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, bahwa ta’zi>r adalah sanksi disiplin pemukulan, atau penghinaan, atau embargo, atau pengasingan.
Maka tindak pidana ta’zi>r adalah tindak pidana yang apabila dilakukan diancam dengan sanksi disiplin berupa pemukulan, atau penghinaan, atau embargo, atau pengasingan. Hanya saja, sebagian ulama memasukkan hukuman mati bagi kasus tertentu dalam jari>mah ta’zi>r.68
Jari>mah ta’zi>r telah ditetapkan bagi setiap pelanggaran syar‟i, selain dari hudud dan kejahatan jinayat. Semua yang belum ditetapkan kadar sanksinya oleh syar‟i, maka sanksinya diserahkan kepada ulil amri untuk menetapkan jenis dan kadar sanksinya.
Ulama sepakat menetapkan bahwa jari>mah ta’zi>r meliputi semua kejahatan yang tidak diancam dengan hukuman hudud dan bukan juga termasuk jenis jinayat. Hukuman ta’zi>r diterapkan pada dua kejahatan, yaitu kejahatan meninggalkan kewajiban dan kejahatan melanggar larangan.69
Adapun ciri-ciri jari>mah ta’zi>r dibagi menjadi lima ciri, yaitu sebagai berikut:
a. Landasan dan ketentuan hukumnya didasarkan pada ijma’.
b. Mencakup semua bentuk kejahatan atau kemaksiatan selain hudu>d dan qis}as}.
c. Pada umumnya ta’zi>r terjadi pada kasus-kasus yang belum ditetapkan ukuran sanksinya oleh syara‟, meskipun jenis sanksinya telah tersedia.
d. Hukuman ditetapkan oleh penguasa atau qad}i (hakim).
67 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 252-253
68 Assadulloh, Hukum Pidana dalam Sistem Hukum Islam, (Bogor: Ghalia Indonesia,2009), hlm. 54
69 Assadulloh, Hukum Pidana dalam Sistem Hukum Islam, hlm. 54
e. Didasari pada ketentuan umum syariat Islam dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.70
E. Unsur-unsur Jari>mah Ta’zi>r
Suatu perbuatan baru dianggap sebagai tindak pidana apabila telah memenuhi unsur-unsurnya. Unsur-unsur dibagi menjadi dua yaitu unsur umum dan unsur khusus. Adapun unsur-unsur umum adalah sebagai berikut:71
a. Unsur formil (adanya undang-undang atau nash)
Unsur formil adalah nash yang melarang perbuatan dan mengancam hukuman terhadapnya. Suatu perbuatan dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap syara‟ manakala perbuatan tersebut telah ada dalam ketetapan yang ditentukan. Ketentuan tersebut mencakup ketentuan syariat yang ditetapkan oleh Allah maupun ketetapan hukum yang dibuat oleh manusia seperti perundang- undangan. Allah berfirman dalam surat Al-Isra‟ ayat 15:
“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al- Israa‟[17]: 15)
70 Assadulloh, Hukum Pidana dalam Sistem Hukum Islam, hlm. 55
71 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 28
b. Unsur materil (sifat melawan hukum)
Unsur materil adalah adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan-perbuatan nyata atau sikap tidak berbuat. Unsur materil meliputi perbuatan yang melawan hukum.
Secara sederhana, perbuatan dalam unsure materil dapat disebut sebagai tindak pidana (jari>mah) manakala dalam perbuatan yang dilakukannya tersebut terkandung unsur melawan hukum.aspek melawan hukum dalam hukum pidana Islam dapat dinilai dari niat, perbuatan,dan akibat yang dihasilkan dari perbuatannya. Meskipun dalam berbuat untuk mewujudkan niatnya tersebut belum mencapai hasil akhir sesuai niat, tidak selesainya perbuatan, namun jika dalam perbuatan yang belum selesai tersebut telah menimbulkan akibat yang dapat merugikan orang lain, baik karena sengaja maupun tidak sengaja, maka tindakan tersebut sudah cukup untuk disebut sebagai tindakan melawan hukum.72
c. Unsur moril (pelaku seorang mukallaf)
Unsur moril (rukun adabi) yaitu pembuat, adalah seorang mukallaf atau orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap jari>mah yang yang diperbuatnya.73 Perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai tidak pidana adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang mukallaf. Secara garis besar mukallaf adalah orang yang telah mengetahui hukum dan memiliki tanggungjawab hukum. Batasan mengetahui tidak hanya terbatas pada hakikat mengetahui semata namun mencakup kemungkinan untuk mengetahui. Maksudnya adalah apabila seorang telah mukallaf dan tinggal di sebuah wilayah Islam, maka ia tidak dapat mengajukan alasan tidak mengetahui karena adanya kemungkinan untuk mengetahui hukum tersebut.seorang dapat dibebaskan dari pertanggungjawaban dengan sebab tidak mengetahui hukum
72 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 29
73 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 6
manakala ia berada di wilayah pedalaman dan tidak pernah bergaul dengan orang Islam atau seorang yang baru masuk Islam dan baru tinggal di wilayah muslim.
Ketiga unsur di atas tersebut haruslah terdapat pada suatu perbuatan untuk digolongkan pada jari>mah. Di samping unsur umum, pada tiap-tiap jari>mah juga terdapat unsur-unsur khusus untuk dapat dikenakan hukuman, yang dimaksud dengan unsur khusus adalah unsur yang hanya terdapat pada peristiwa pidana tertentu dan berbeda antara unsur khusus pada jenis jari>mah yang satu dengan jari>mah lainnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara unsur umum dan unsur khusus pada jari>mah itu ada perbedaan. Unsur umum jari>mah ancamannya hanya satu dan sama pada setiap jari>mah, sedangkan unsur khusus bermacam-macam serta berbeda-beda pada setiap jenis tindak pidana. Bahwa orang yang melakukan tindak pidana harus memenuhi syarat-syarat yang berakal, cukup umur, dan mempunyai kemampuan.
F. Jenis-jenis Jari>mah Ta’zi>r
a. Jari>mah ta’zi>r yang berkaitan dengan pembunuhan
Pembunuhan diancam dengan hukuman mati. Apabila hukuman mati (qis}as}) dimaafkan maka hukumannya diganti dengan diyat.
Apabila hukuman diyat dimaafkan juga maka ulil amri berhak menjatuhkan hukuman ta’zi>r apabila hal itu dipandang lebih maslahat.
b. Jari>mah ta’zi>r yang berkaitan dengan pelukaan
Menurut Imam Malik hukuman ta’zi>r dapat digabungkan dengan qishash dalam jari>mah pelukaan, karena qis}as} merupakan hak adami. Sedangkan ta’zi>r sebagai imbalan atas hak masyarakat.
Disamping itu, ta’zi>r juga dapat dikenakan terhadap jari>mah pelukaan apabila qis}as}nya dimaafkan atau tidak bisa dilaksanakan
karena suatu sebab yang dibenarkan menurut syara‟. Menurut mazhab Hanafi, Syafi‟i, dan Hambali, ta’zi>r dapat dijatuhkan terhadap orang yang melakukan jari>mah pelukaan dengan berulang-ulang (residivis) disamping dikenakan hukuman qishash.
c. Jari>mah ta’zi>r yang berkaitan dengan kejahatan terhadap kehormatan dan kerusakan akhlaq
Jari>mah ta’zi>r ini berkaitan dengan jari>mah zina, menuduh zina, dan penghinaan. Diantara kasus perzinaan yang diancam dengan ta’zi>r adalah perzinaan yang tidak memenuhi syarat untuk dikenakan hukuman had, seperti percobaan zina.
Adapun penghinaan, contohnya panggilan-panggilan wahai kafir, wahai munafik, wahai fasik, dan semacamnya.
d. Jari>mah ta’zi>r yang berkaitan dengan harta
Jari>mah ini adalah jari>mah pencurian dan perampokan. Apabila kedua jari>mah tersebut syarat-syaratnya telah terpenuhi maka dikenakan hukuman had. Jika syarat tidak terpenuhi maka dikenai ta’zi>r.
e. Jari>mah ta’zi>r yang berkaitan dengan individu
Jari>mah ta’zi>r dalam kelompok ini antara lain seperti saksi palsu, berbohong (tidak memberikan keterangan yang benar), menyakiti hewan, dan melanggar hak individual orang lain (misal masuk rumah tanpa izin).
f. Jari>mah ta’zi>r yang berkaitan dengan kemaslahatan umum
Jari>mah dalam kelompok ini adalah jari>mah yang mengganggu keamanan Negara atau pemerintah.74
G. Jenis-jenis Sanksi Jari>mah Ta’zi>r
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa sanksi ta’zi>r merupakan sanksi atau hukuman yang belum ditetapkan jenis dan
74 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 256-257
ukurannya dalam syari‟at, yang kemudian diserahkan kepada ulil amri untuk menetapkan hukuman tersebut. Adapun hukuman bagi jari>mah ta’zi>r ini beragam, secara garis besar terbagi menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut:
1. Hukuman ta’zi>r yang mengenai badan, seperti hukuman mati dan jilid (dera).
2. Hukuman yang berkaitan dengan kemerdekaan seseorang, seperti hukuman penjara dan pengasingan.
3. Hukuman ta’zi>r yang berkaitan dengan harta, seperti denda, penyitaan, perampasan harta, dan penghancuran barang.
4. Hukuman-hukuman lain yang ditentukan oleh ulil amri demi kemaslahatan umum. Hukuman-hukuman tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Peringatan keras.
b. Dihadirkan dihadapan sidang.
c. Nasihat.
d. Celaan.
e. Pengucilan.
f. Pemecatan.
g. Pengumuman kesalahan secara terbuka.75
Adapun dalam penjatuhan hukuman seorang hakim berhak dalam penjatuhan hukuman terhadap pelaku ta’zi>r. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdul Qadir „Audah, sebagai berikut:
همَ حْ عِ ةرٍزمَثحْ مَ عِ ةحْ مَأةرٍ مَ عِح مَ ةرٍ مَ حْ ظُقظُ عِ ة مَ عِ همَ ظُ ة حْنمَأة عِضهمَقحْ عِ مَ
ة مَفيِّ مَخظُ ة حْنمَأةةظُ مَ مَ ة,
حْ يِّ مَحة مَا مَ ةظُ مَ حْ ظُقظُ حْ ة حْتمَ همَ ة حْنعِ ةهمَهظُ يِّ مَ ظُ حْ مَأةمَ مَ حْ ظُقظُ حْ
ةمَذحْ عِ حْ مَ ة مَفمَ حْ ظُ ة حْنمَأةظُ مَ مَ ة,
عِ همَجحْ ةعِ حْ عِ حْ مَلعِ ة عِ حْ مَ ةهمَ ةمَكعِ مَ ة عِ ةىمَأمَرة حْنعِ ةعِ مَ حْ ظُقظُ حْ
.
76
75 Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hlm. 268
76 Abdul Qadir „Audah, Al-Tasyri’ Al-Jina>iy Al-Isla>miy, hlm. 686
“Seorang qad}i (hakim) berhak menjatuhkan satu hukuman atau lebih dan ia pun berhak meringankan hukuman atau memberatkannya jika hukuman tersebut terdapat beberapa kesalahan (termasuk madhorot yang diakibatkan), dan dia berhak menghentikan hukuman jika proses pendidikan dianggap cukup untuk pelaku”.
H. Pemalsuan dalam Hukum Islam
Pemalsuan termasuk ke dalam tindakan al-Kiz|b yang berarti berbohong atau dusta, dalam Islam berbohong merupakan salah satu sifat kemunafikan. Tindakan pemalsuan juga termasuk ke dalam dosa besar karena dapat merugikan dan mengancam kemaslahatan manusia.
Larangan tindakan pemalsuan ini terdapat dalam firman Allah SWT dalam al-Qur‟an sebagai berikut:
1. QS. An-Nisa>[4]: ayat 40
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة ةةةة“Sesungguhnya Allah tidak Menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”.
2. QS. Al-Maidah[5]: ayat 41
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة“Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang- orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami telah beriman", Padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) Amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan Amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini Maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”.
3. QS. Al-An‟am[6]: ayat 93
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.
4. QS. Al-A’ra>f [7]: ayat 37
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة ةةةة“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat- buat Dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya?
orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: "Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?" orang- orang musyrik itu menjawab: "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir”.
5. QS. Al-‘Ankabu>t[29]: ayat 68
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ةةةة“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?”
6. QS. An-Nahl[16]: ayat 105
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة
ة ة
ة“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta”.77
77 Al-Qur’an in Word