Determinan Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Perkebunan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2017
Harlina Meidiaswati1, Haryati Setyorini2, Erna Desri Afliana Bani3 [email protected]
Universitas Hayam Wuruk Perbanas1,2, Universitas Kartini3
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas terhadap kinerja keuangan perusahaan. Sampel sejumlah 16 perusahaan sektor perkebunan di Bursa Efek Indonesia diambil dengan teknik purposive sampling sesuai tujuan penelitian. Pengujian dilakukan dengan analisis regresi liner berganda dengan uji signifikansi parsial dan simultan. Hasil pengujian menunjukkan solvabilitas yang diukur dengan debt to total asset (DAR) berpengaruh negatif signifikan dan profitabitas yang diukur dengan net profit margin (NPM) berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan return on asset (ROA). Sedangkan likuiditas yang diukur dengan current ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Terdapat inkonsistensi hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang dilakukan di perusahaan manufaktur (Astutik dkk, 2019). Penelitian pada sektor usaha yang sama (perkebunan) menunjukkan hasil yang konsisten dimana NPM berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan (Ramli dkk, 2017). Konsistensi hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu dapat terjadi karena sektor usaha yang diteliti sama yaitu sektor perkebunan meskipun periode penelitiannya berbeda. Peneliti selanjutnya perlu menguji subyek penelitian berbeda untuk mendapat gambaran lebih luas terkait determinan kinerja keuangan.
Kata kunci:Kinerja keuangan, likuiditas, solvabilitas, profitabilitas I. PENDAHULUAN
Kinerja keuangan perusahaan dapat diartikan sebagai prospek atau masa depan, pertumbuhan, dan potensi perkembangan untuk perusahaan. Evaluasi kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai laporan keuangan perusahaan khususnya laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi. Evaluasi kinerja keuangan dapat dilakukan menggunakan analisis common size, analisis komparatif dan analisis rasio. Salah satu ukuran kinerja keuangan yang banyak digunakan adalah return on asset (ROA), yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memberikan pengembalian (return) dari total asetnya.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, antara lain: rasio likuiditas dan rasio solvabilitas (Riyanto, 2008).
Solvabilitas menunjukkan besarnya beban utang perusahaan dibanding total asetnya.
Makin tinggi solvabiltas makin besar hutang perusahan, makin tinggi nilai perusahaan. Utang dapat meningkatkan modal dan memperbesar kapasitas perusahaan untuk berproduksi dan menghasilkan keuntungan. Namun jika biaya hutang lebih tinggi dari pendapatan karena pemanfaatan hutang maka perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan atau insolven.
Likuiditas berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Rasio solvabilitas mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang dan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjang apabilan perusahaan dilikuidasi (Harahap, 2007). Salah satu ukuran solvabilitas adalah debt to asset ratio (DAR), yang mengindikasikan beban bunga dan resiko menyelesaikan kewajiban jangka panjang yang dapat mengarah kepada kesulitan keuangan dan kebangkrutan.
Selain memperhitungkan pemanfaatan hutang, perusahaan harus memonitoring laba yang didapat. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah rasio profit margin, yang membandingkan total penjualan perusahaan terhadap laba bersihnya. Salah satu ukuran rasio profit margin adalah net profit margin yang merupakan laba bersih setelah pajak dibagi penjualan. Net profit Margin (NPM) yang semakin tinggi menunjukkan semakin baik operasi suatu perusahaan (Syamsuddin, 2016). Makin tinggi persentasen laba bersih setelah pajak dibagi penjualan akan semakin baik kinerja keuangan perusahaan tersebut.
Kemampuan perusahaan mengelola sumber daya untuk menghasilkan keuntungan maksimal berlaku bagi semua jenis industri tidak terkecuali industri perkebunan yang memberikan kontribusi penting dalam petumbuhan perekonomian Indonesia. Badan pusat Statistika (BPS) mencatat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional tahun 2018 naik 22,48% dibandingkan dengan kontribusi ditahun 2014. Sedangkan PDB perkebunan 2014 – 2018 sebesar Rp 2.192,9 triliun. Angka sementara, PDB sektor pertanian pada triwulan satu tahun 2019 mencapai Rp 3,7 triliun dimana tanaman perkebunan menyumbang Rp 106,95 miliar (Kementan, 2019).
B. LITERATUR, HIPOTESIS DAN KERANGKA KONSEP Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan adalah prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut (Sutrisno, 2009:53).
Pengertian lebih luas kinerja keuangan adalah sejauh mana tujuan keuangan sedang atau telah tercapai, yang merujuk pada proses mengukur hasil dari kebijakan dan operasi perusahaan dalam satuan moneter. Menurut Fatihudin et al (2018) kinerja keuangan adalah pencapaian kinerja keuangan perusahaan untuk periode tertentu. Kinerja keuangan, dapat menjadi dasar informasi bagi manajer perusahaan untuk mengambil keputusan.
Menurut Munawir (2011) tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan:
a. Mengetahui tingkat likuiditas
Likuditas menunjukan tingkat kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih.
b. Mengetahui tingkat solvabilitas
Solvabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
c. Mengetahui tingkat rentabilitas
Rentabilitas atau yang sering disebut dengan profibilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
d. Mengetahui tingkat stabilitas
Stabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan pertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya tepat pada waktunya.
Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan bahwa perusahaan melakukan penilaian atas pengolahan aset pada perusahaan oleh manajemen dan manajemen perusahaan akan dituntut supaya melakukan evaluasi dan tindakan perbaikan atas kinerja keuangan perusahaan yang sehat.
Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja keuangan adalah kemampuan dari suatu perusahaan dalam menggunakan modal yang dimiliki secara efektif dan efisien (Munawir, 2011:50). Kinerja keuangan dapat diukur dengan menganalisa dan mengevaluasi laporan keuangan. Informasi posisi keuangan dari kinerja keuangan di masa lalu sering kali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja perusahaan di masa depan dan hal-hal yang langsung menarik perhatian pemakai seperti pembayaran dividen, upah, pergerakan harga, sekuritas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo (Ikatan Akuntan Indonesia, 2002:4). Pengukuran kinerja dapat digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan kegiatan operasional agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Analisis kinerja merupakan proses pengajian secara kritis terhadap review data, mengukur, dan memberikan solusi terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu.
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan terkait erat dengan pengukuran dan penilaian kinerja. Pengukuran kinerja (performing measurement) adalah kualifikasi dan efesiensi dan efektivitas perusahaan dalam mengoperasikan bisnis selama periode akuntansi. Pengukuran kinerja keuangan merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan keuangan suatu perusahaan. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam pengukuran kinerja keuangan misalnya metode economic value added (EVA), Market Value Added (MVA), dan metode rasio keuangan.
Kemampuan perusahaan menghasilkan laba menjadi salah satu tolok ukur yang banyak dipakai untuk menilai kinerja perusahaan. Return on assets (ROA) adalah salah satu ukuran yang sering dipakai oleh banyak pihak untuk mengukur atau menilai kinerja keungan perusahaan. ROA merupakan rasio perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Return on asset (ROA) sering juga disebut sebagai return on investment (ROI), melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan dan investasi tersebut sebenarnya sama dengan aset perusahaan yang ditanamkan.ROA atau ROI dapat dihitung dengan rumus:
% 100 Assets X
Total
Tax After Earning
ROA ---(1)
Semakin tinggi return on assets, maka semakin baik total aktiva yang dipergunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan sehingga kondisi ini efisien bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah return on assets maka semakin kecil total aktiva yang dipergunakan untuk operasi perusahaan memberikan laba bagi perusahaan, sehingga kondisi ini tidak efisien bagi perusahan.
Likuiditas dan Kinerja Keuangan
Menurut Riyanto (2008:33) likuiditas berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang harus dipenuhi. Terdapat beberapa rasio yang dapat digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan, seperti current ratio, quick rasio, dan cash rasio. Current Ratio adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya (Munawir, 2011). Perhitungan current ratio dilakukan dengan perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar atau rumus berikut:
% Lancar 100
Hutang
Lancar Aktiva
CR x ………(2)
Semakin tinggi Current Ratio menunjukkan makin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, dan sebaliknya. Kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari pemanfaatna aset yang diukur dengan Return on Asset. Beberapa peneliti menunjukkan hubungan positif likuiditas yang diukur dengan Current Ratio dan kinerja perusahaan yang diukur dengan Return on Asset (Jatismara, 2011; Ramli dkk, 2017) Astutik dkk, 2019)
H1: likuiditas berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan Solvabilitas dan Kinerja Keuangan
Menurut Munawir (2011;32) leverage (solvabilitas) adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuiditasi, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Solvabilitas dimaksudkan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar semua hutangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang (Kasmir, 2006:188), dan dapat dihitung dengan rumus:
% Asset 100
Total Hutang Total
DAR x ………(3)
Leverage yang rendah memiliki resiko rugi yang lebih kecil jika kondisi ekonomi sedang menurun, tetapi memiliki hasil pengembalian yang lebih rendah jika kondisi ekonomi membaik. Perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi mengemban resiko rugi yang besar,tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh laba yang tinggi. beberapa penelitian tentang solvabilitas dan kinerja keuangan menunjukkan adanya hubungan positif (Hasanah, Afrianti dan Didit Enggariyanto, 2018).
H2: solvabilitas berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan Profitabilitas dan Kinerja Keuangan
Profitabilitas perusahaan dapat diukur dengan banyak cara, salah satunya dengan net profit margin (NPM) yang merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penjualan, atau dihitung dengan rumus:
% bersih 100
Penjualan
pajak sesudah bersih
NPMLaba x ……….(4)
Menurut hasil penelitian Ramli dkk (2017) NPM berpengaruh positif singnifikan terhadap kinerja keuangan. Artinya semakin tinggi net profit margin, semakin baik operasi
suatu perusahaan. Menurut Syamsuddin (2016) semakin tinggi persentase laba bersih setelah pajak yang dihasilkan terhadap penjualan,akan semakin baik kinerja keuangan perusahaan tersebut.
H3: profitabilitas berpengaruh terhadap kinerja keuangan peerusahaan C. METODE
Pemilihan Sampel
Penelitian kuantitatif ini menggunakan data sekunder yang diambil dengan teknik dokumentasi dari Bursa Efek Indonesia melalui link www.idx.co.id. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling menggunakan kriteria: a) Perusahaan sektor perkebunan yang melakukan IPO sebelum 2014, b) Masih listing sampai periode penelitian dilakukan, yaitu tahun 2017, c) Memiliki laporan keuangan lengkap sebagai bahan analisis sesuai tujuan penelitian. Berdasarkan kriteria diperoleh 16 sampel perusahaan dari 18 populasi perusahaan sektor perkebunan. Dua perushaan sektor perkebunan yang tidak dijadikan sampel adalah Andira Agro Tbk (ANDI) dan Mahkota Group Tbk (MGRO) karena baru melakukan IPO (intial public offering) atau going public pada tahun 2018.
Variabel Dan Pengukuran Variabel
Variabel penelitian meliputi variable terikat (Y): Return on Asset (ROA) yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari total asetnya, yang dihitung dengan rumus (1). Variabel Bebas X1=Current ratio (CR) digunakan untuk menilai kemapuan perushaan memenuhi kewajiabnnya yang segera jatuh tempo, dihitung dengan rumus (2). Variabel bebas (X2) Debt Asset Ratio (DAR) dihitung dengan rumus (3) dan (X3) Net Profit Margin (NPM) dihitung dengan rumus (4)
Teknik analisis dan pengujian
Teknik Analisis Data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Sebelum melakukan uji regresi dilakukan dulu uji asumsi klasik untuk mendapatkan kriteria penelitian yang BLUE (Best, Linear, Unbiased, Estimate). Setidaknya terdapat 4 jenis pengujian asumsi klasik yang harus dilakukan pada data time series yaitu: normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Selain uji regresi dan asumsi klasik akan dilakukan uji hipotesis baik parsial maupun simultan.
A. PEMBAHASAN
a. Uji regresi linier berganda
Hasil pengujian regresi linier berganda ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 1.
Hasil Pengujian Statistik Model
Unstandardized
Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std.
Error Tolerance VIF
(Constant) 7,713 1,704 4,527 0,000
CR -0,002 0,005 -0,338 0,736 0,863 1,159 DAR -8,993 2,725 -3,300 0,002 0,911 1,097 NPM 0,126 0,009 13,571 0,000 0,921 1,085 R2= 0,788
F= 74,229 Sig F = 0,000
Sumber: hasil uji statistik, diolah
Berdasarkan pengujian regresi diatas dapat diketahui bahwa current ratio (X1) dan debt to total assets ratio (X2) berpengaruh negatif terhadap return on asset (ROA). Koefisien regresi negatif menunjukkan hubungan berlawanan arah antara current ratio (CR) dan debt to total assets ratio (DAR) dengan return on asset (ROA). Sementara net profit margin (X3) berpengaruh positif terhadap return on asset (ROA). Koefisien regresi positif ini mengindikasikan hubungan searah antara net profit margin dan return on asset (ROA). Nilai koefisien regresi current ratio sebesar -0,002 menunjukkan bahwa jika current ratio (CR) naik sebesar satu satuan maka return on asset (ROA) akan turun sebesar 0,002 satuan dengan asumsi variabel lain tetap, begitupun sebaliknya. Nilai koefisien regresi net profit margin (NPM) sebesar 0,126 menunjukkan bahwa jika net profit margin (NPM) naik sebesar satu satuan maka return on asset (ROA) akan naik sebesar 0,126 satuan dengan asumsi variabel yang lain tetap, begitupun sebaliknya.
b. Uji Asumsi klasik
Uji asumsi klasik yang dilakukan meliputi uji normalitas, autokorelasi, multikolinearitas dan heteroskedastisitas sebagaimana ditampilkan tabel 2.
Tabel 2
Ringkasan Hasil Pengujian Asumsi Klasik Jenis
Pengujian Alat Uji IndikatorLolos Hasil Pengujian Kesimpulan Autokorela
si Durbin
Watson sekitar -2
sampai +2 1.933 Lolos
Autokorelasi
Multikolin earitas
Variance Inflation Factor (VIF)
VIF < 10 danTolerace
> 0,1
VIF CR=1,227 VIF DAR =1,007 VIF NPM =1,220
Lolos
Multikolinear itas
Tolerance CR=0.815 Tolerance DAR=0,993 Tolerance NPM=0.820
Heterosked astisitas
RhoSpearma n
Corelatio n Coef
>5%
Correlation Coeff CR = 0,208 Correlation Coeff DAR= 0,50 Correlation Coeff NPM= 0,301
Lolos
Heteroskedas tisitas
Normalitas Kolmogo rovSmirnov
P Value
KS > 5% 0,200 Lolos
Normalitas Sumber: hasil uji statistik, diolah
Hasil pengujian Kolmogorov-Smirnov sebagaimana ditampilkan pada tabel 2, menunjukkan nilai Sig sebesar 0,200, dan nilai ini lebih besar dari 0,05 sehingga data dinyatakan berdistribusi normal. Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan dalam regresi linier berganda yang dihasilkan tidak terdapat autokorelasi. Menurut Santoso (2002:16) bahwa angka DW di sekitar -2 sampai +2 maka tidak terjadi Autokorelasi. Tabel 2 menunjukkan model regresi yang terbentuk tidak terjadi Autokorelasi karena mempunyai angka sebesar 1,93. Pengujian gejala multikolinearitas seperti tampak pada tabel 2 menunjukkan nilai VIF masing-masing variabel bebas < 10 dan toleransi> 0,1, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat gejala multikolinearitas pada model regresi yang dihasilkan. Hasil analisis menunjukkan tidak ada korelasi antara residual dengan variabel bebasnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi antar variabel bebas lebih besar dari taraf signifikansi 5%, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada model regresi yang dihasilkan.
c. Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil pengolahan data sebagaimana ditampilkan pada tabel 1, secara parsial yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA) adalah Solvabilitas yang diukur dengan DAR serta dan Net Profit Margin (NPM). Sedangkan likuiditas yang dihitung dengan current ratio tidak berpengaruh signifikan. Hal ini tampak pada nilai sig.t DAR dan NPM < 0,05. Berdasarkan tabel 1 sig F (0,000) < dari level of significant 0,05 . Hal ini berarti secara simultan CR, DAR dan NPM berpengaruh signifikan terhadap return on assets (ROA). Tabel 1 menunjukkan besarnya koefisien determinasi (R2)=0,788. Artinya variabilitas CR, DAR, dan NPM memepengaruhi variabilitas ROA sebesar 78,8% dan sisanya 21,2% disebabkan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model.
d. Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan maka dapat diketahui bahwa variabel bebas likuditas (CR), Solvabilitas (DAR) dan profitabilitas (NPM) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA) pada taraf signifikansi 5%. Hasil uji determinasi (R2) mendukung hasil uji simultan dimana hampir 80% variasi atau naik turunnya kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi atau dapat dijelaskan oleh likuditas (CR), Solvabilitas (DAR) dan profitabilitas (NPM).
Hasil uji parsial menjukkan solvabiltas (DAR) berpengaruh negatif signifikan dan profitabilitas (NPM) berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahan (ROA). Makin tinggi solvabilitas makin besar beban tetap perusahaan karena utang, sehingga makin kecil laba yang diperoleh perusahaan. Sementara makin besar profitabilitas yang diukur dengan NPM, makin besar kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan bersih dari penjualannya. Semakin besar keuntungan bersih yang dihasilkan dari penjualan kinerja keuangan perusahaan juga akan meningkat. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Ramli dkk (2017). Hasil yang konsisten ini juga
dapat terjadi karena sektor usaha yang diteliti sama meskipun periode penelitiannya berbeda.
Sedangkan likuditas (CR) secara parsial pengaruhnya tidak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA). Hasil pengujian ini tidak mendukung penelitian Astutik dkk (2019) dan Ramli dkk (2017) dimana pada kedua penelitian terdahulu likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil yang yang tidak konsisten ini dapat disebabkan karena obyek penelitian yang berbeda dimana pada penelitian Astutik dkk (2019) dilakukan pada perusahaan manufaktur, sementara penelitian ini pada sektor perkebunan. Pada periode penelitian 2014-2017 sektor perkebunan sedang mengalami kelesuan, bahkan di tahun 2017 menjadi sektor dengan kinerja terburuk di Bursa Efek Indonesia. Hal ini karena masih menghadapi tantangan regulasi pemerintah di tengah prospek harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) yang berpotensi naik (Kontan, 2018). Hal ini dapat menjadi alasan mengapa penurunan likuiditas tidak serta merta mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan secara signifikan.
C. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, disimpulkan:
1. Melalui pengujian statistik secara parsial, likuiditas yang diukur dengan current ratio (CR) berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan return on asset (ROA). Hasil pengujian ini tidak mendukung penelitian Astutik dkk (2019) dan Ramli dkk (2017) dimana pada kedua penelitian terdahulu likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Kondisi ini dapat terjadi karena pada sektor usaha perkebunan kinerja kuangan perusahaan tidak terlalu mengadalkan rasio lancar dan kondisi sektor perkebunan yang sedang lesu pada periode penelitian (Kontan, 2018). Hal ini didukung dengan tidak besarnya rata-rata rasio lancar perusahaan sampel selama periode penelitian.
2. Variabel solvabilitas yang diukur dengan debt to total asset ratio (DAR) dan profitabilitas yang diukur dengan net profit margin (NPM) berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan (return on asset). Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Astutik dkk (2019) yang menunjukkan DAR tidak berpengaruh signfikan terhadap ROA. Hasil yang tidak konsisten ini dapat terjadi karena perbedaan sektor usaha yang diteliti. Pada periode penelitian sektor perkebunan sedang terpuruk sehingga kebijakan pendanaan akan sangat mempengaruhi pengembalian yang akan diperoleh. Sementara NPM berpengaruh signifikan terhadap ROA, konsisten dengan hasil penelitian Ramli dkk (2017). Hasil yang konsisten ini dapat terjadi karena sektor usaha yang diteliti sama yaitu sektor perkebunan meski periode penelitian berbeda.
3. Secara bersama-sama likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Hasil uji determinasi mendukung uji simultan, dimana variabilitas CR, DAR, dan NPM mempengaruhi variabilitas ROA sebesar 78,8% dan sisanya 21,2% disebabkan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model.
IMPLIKASI
Implikasi dari hasil penelitian ini adalah
1. Perusahaan yang go publik sebaiknya memperhatikan indikator-indikator keuangan khususnya yang berdasarkan hasil penelitian signifikan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan seperti: debt to total asset dan net profit margin.
2. Para investor sebaiknya mempertimbangkan determinan kinerja keuangan dalam keputusan investasinya agar mendapatkan hasil yang optimal.
3. Peneliti selanjutnya perlu menguji determinan kinerja keuangan dengan menggunakan ukuran yang berbeda serta subyek penelitian yang berbeda agar dapat diperoleh gambaran yang lebih luas terkait determinan dari kinerja keuangan.
D. RUJUKAN
Agnes, Sawir. 2005. Analisa Kinerja Keuangan dan Perencanaan keuangan Perusahaan.
Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Astutik, Erni Puji; Retnosari; Nilasari, Ayunda Putri; Hutajalu, Dinar Melani. 2019. Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabiltas Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Manufaktur. Prosiding Seminar Nasional Dan Call For Papers Fakultas Ekonomi Universitas Tidar
Bambang, Riyanto. 2008. Dasar-dasar Pembelajaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta.
Brigham, Eugene F., Joel F. Houston. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan ed.11 buku 1.
Jakarta: Salemba Empat.
Fatihudin, Didin; Jasni; Mochklas, Mochamad. 2018. How Measuring Financial Performance. International. Journal of Civil Engineering and Technology (IJCIET) Volume 9, Issue 6, June 2018, pp. 553–557riyan
Hasanah, Afrianti dan Didit Enggariyanto. 2018. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return on Asset Pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal of Applied Managerial Accounting. Vol 2. No.1. Maret 2018. Hal.15-25
Harahap, Sofyan Syafri. 2007. Analisa Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Irham, Fahmi. 2011. Analisis Laporan
Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Kasmir. 2010. Pengantar Manajemen Keuangan, Edisi pertama, Cetakan Kedua, Jakarta:
Kencana.
Kasmir. 2014. Analisis Laporan Keuangan. Cetakan VII. Penerbit PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta
Kementerian Pertanian Republik Indonesia.2019. Sektor Perkebunan Andalan Devisa dan Kesejahteraan Petani.
https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=4062
Munawir. 2011. Analisis Laporan Keuangan; Edisi Kelima, Yogyakarta: Liberty
Ramli, Harsi Romli; Munandar, Aris; Yamin, M. Ari; Susanto, Yohanes. 2017. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Return on Asset Perusahaan Sektor Perkebunan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2016. Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya Vol.15 (4),
Sawir, Agnes. 2001. Analisis Kinerja Keuangan & Perencanaan Keuangan Perusahaan.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sugiyono.2011. Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif; R&D. Bandung: Alfabeta.
Sutrisno. 2009. Analisa Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.
Syamsuddin, Lukman. 2016. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: Rajawali Pers.