1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kinerja keuangan perusahaan adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu (Sutrisno, 2009). Kinerja keuangan menurut Sucipto (2007) kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam menghasilkan laba. Dalam pengukuran kinerja keuangan perusahaan harus didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan dan dibuat sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (Sucipto, 2007). Jika perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik, maka investor akan menanamkan modalnya, karena bisa dipastikan akan memperoleh keuntungan dari penanaman modal tersebut. Seperti Hanafi dan Halim (2012) yang menjelaskan bahwa kinerja keuangan perusahaan yang baik dapat meningkatkan laba yang kemudian dapat digunakan untuk menarik para investor untuk menanamkan modalnya sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Penilaian kinerja perusahaan penting dilakukan baik oleh manajemen perusahaan, pemegang saham (sharesholder), kreditur, regulator, maupun oleh stakeholder yang lain, karena menyangkut distribusi kesejahteraan di antara mereka (Pennman, 2001). Kemudian bagi investor dan calon investor, informasi tentang kinerja suatu unit usaha merupakan jaminan keamanan atas dana yang diinvestasikan, mempertahankan atau menjual saham perusahaan tersebut.
Salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah profitabilitas. Menurut Sudana (2011) profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber- sumber yang dimiliki perusahaan, seperti aset, modal atau penjualan. Rasio profitabilitas ini akan memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas pengelolahan perusahaan (Hanafi dan Halim, 2012). Menurut Dendawijaya (2009) kemampuan bank memperoleh/menghasilkan laba secara efektif dan efisien disebut dengan profitabilitas. Profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (Sudana, 2011, p.22). Semakin
tinggi kemampuan memperoleh laba, maka semakin besar return yang diharapkan investor, sehingga menjadikan nilai perusahaan menjadi lebih baik. Rasio ini mencerminkan seberapa efektif perusahaan dikelola dan mencerminkan hasil bersih dari serangkaian kebijakan pengelolaan aset perusahaan.
Return On Equity (ROE) merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas. Menurut Dendawijaya (2009) Return on Equity (ROE) merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran dividen. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi besarnya Return On Equity adalah pemakaian modal pinjaman yang menimbulkan kewajiban finansial yang bersifat tetap. Semakin besar modal pinjaman semakin besar pula kewajiban yang dimilikinya dan semakin tinggi pula risiko tidak terbayarnya pinjaman tersebut. ROE menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang dimiliki perusahaan (Dendawijaya, 2009). Penelitian Warmana (2015) membuktikan adanya hubungan positif signifikan profitabilitas dengan Cash Conversion Cycle.
Cash Conversion Cycle adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengubah investasi kas perusahaan dalam persediaan kembali ke kas, dalam bentuk koleksi dari penjualan persediaan (Warrad, 2015). Gitman dan Zutter (2012, p.601) mendefinisikan Cash Conversion Cycle sebagai “the length of time required for a company to convert cash invested in its operations to cash received as a result of its operations”. Artinya lamanya waktu yang diperlukan bagi perusahaan untuk mengkonversi kas diinvestasikan dalam operasi untuk kas yang diterima sebagai hasil dari operasi.
Selain profitabilitas, variabel yang berhubungan dengan Cash Conversion Cycle adalah manajemen modal kerja. Strategi modal kerja biasanya merefleksikan suatu usaha untuk mempertahankan hubungan antara kelangsungan aset suatu perusahaan dan jatuh temponya hutang yang digunakan untuk mendanai asset tersebut (Levi and Sarnat dalam Syarief dan Wilujeng (2009)). Menurut
Syarief dan Wilujeng (2009), pernyataan tersebut mengindikasikan adanya hubungan kualitas antara aset dan kewajiban suatu perusahaan dalam menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Modal kerja terdiri dari dua konsep utama yaitu modal kerja bersih dan modal kerja kotor. Modal kerja kotor adalah yang termasuk didalam current assets, sedangkan modal kerja bersih atau Net Working Capital (NWC) adalah selisih antara current assets dan current liabilities.
Beberapa penelitian yang meneliti hubungan Cash Conversion Cycle dengan profitabilitas, ukuran perusahaan dan manajemen modal kerja, antara lain Bhutto et al (2011) menyatakan tidak adanya korelasi yang signifikan antara lamanya CCC dan ukuran perusahaan. Temuan lainnya yaitu adanya hubungan positif yang signifikan antara lamanya CCC dan profitabilitas perusahaan. Attari dan Raza (2012) menyatakan adanya korelasi negatif yang signifikan antara CCC dan ukuran perusahaan dalam hal total aset. Ini berarti semakin besar ukuran perusahaan, semakin pendek CCC dalam hal hari. Dan ditemukan juga hubungan positif yang signifikan antara panjang CCC dan profitabilitas perusahaan dalam hal pengembalian total aset. Penelitian Majeed et al (2013) menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara CCC dengan profitabilitas (ROE).
Uyar (2009) menyatakan adanya korelasi negatif yang signifikan antara lamanya CCC dan ukuran perusahaan, dimana perusahaan yang lebih besar mempunyai waktu CCC yang lebih pendek. Temuan lainnya yaitu adanya hubungan negatif yang signifikan antara lamanya CCC dan profitabilitas perusahaan. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Zariyawati, Annuar, & Rahim (2009), menemukan adanya pengaruh negatif signifikan antara CCC dan profitabilitas perusahaan. Mansoori dan Muhammad (2012) menunjukkan adanya hubungan yang sangat negatif antara siklus konversi tunai (CCC) dan profitabilitas perusahaan.
Selain itu, ukuran perusahaan menunjukan semakin besar ukuran atau skala perusahaan maka semakin mudah perusahaan untuk memperoleh pendanaan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Sebuah perusahaan itu bisa dikatakan baik jika ukuran perusahaannya semakin besar. Dalam hal ukuran perusahaan dilihat dari total assets yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat
dipergunakan untuk kegiatan operasi perusahaan. Jika perusahaan memiliki total asset yang besar, pihak manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan asset yang ada di perusahaan tersebut. Menurut Niresh (2014, p.57) ukuran perusahaan adalah faktor utama untuk menentukan profitabilitas dari suatu perusahaan dengan konsep yang biasa dikenal dengan skala ekonomi.
Pada perusahaan food and beverage menunjukkan adanya perkembangan yang terbukti semakin banyak tumbuhnya perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage. Perusahaan yang bertumbuh pesat tentu akan menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut, sehingga manajemen modal kerja semakin penting. Hal ini menunjukkan bahwa modal kerja juga dibutuhkan pada perusahaan food and beverage, mengingat realisasi investasi pada industri ini mengalami peningkatan di tengah kelesuan ekonomi, seperti Badan Koordinasi Penanaman Modal yang mencatat bahwa realisasi investasi industri makanan tahun 2014 menduduki posisi tertinggi sebesar US$ 4,5 miliar, atau setara Rp 53,4 triliun. Porsi investasi ini menyumbang 11,5 persen dari jumlah penanaman modal pada 2014 dan pada awal 2015 sudah mencapai US$
151 juta. Pencapaian ini dinilai bisa menempatkan Indonesia sebagai raksasa industri makanan dan minuman di Asia Tenggara (Kemenperin, 2016).
Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali hubungan Cash Conversion Cycle dengan ukuran perusahaan, profitabilitas, dan manajemen modal kerja. Adanya ketidakkonsistenan hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya menyebabkan isu ini menarik untuk diteliti kembali. Berdasarkan fenomena yang ada, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan mengambil judul “Hubungan Cash Conversion Cycle dengan Ukuran Perusahaan, Profitabilitas dan Manajemen Modal Kerja”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat hubungan Cash Conversion Cycle dengan ukuran perusahaan?
2. Apakah terdapat hubungan Cash Conversion Cycle dengan profitabilitas?
3. Apakah terdapat hubungan Cash Conversion Cycle dengan manajemen modal kerja?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah:
1. Untuk mengetahui hubungan Cash Conversion Cycle dengan ukuran perusahaan.
2. Untuk mengetahui hubungan Cash Conversion Cycle dengan profitabilitas.
3. Untuk mengetahui hubungan Cash Conversion Cycle dengan manajemen modal kerja.
1.4. Manfaat Penelitian
Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk beberapa pihak, antara lain:
1. Bagi Perusahaan
Sebagai bahan pertimbangan manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan nilai perusahaan.
2. Bagi Investor
Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam melakukan investasi bagi investor.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang sama dimasa mendatang.
1.5. Batasan Penelitian
Agar lingkup penelitian ini tidak meluas maka dibatasi pada beberapa hal berikut ini:
1. Variabel yang digunakan adalah Cash Conversion Cycle, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Manajemen Modal Kerja.
2. Perusahaan Food and Beverage yang ada di Bursa Efek Indonesia.
3. Mengambil periode tahun 2013-2016.
1.6. Sistematika Penulisan
Untuk lebih mudah memahami isi dan mencari bab-bab yang diperlukan secara cepat, maka pada bagian ini akan diuraikan secara garis besar sistematika penulisan hasil penelitian sebagai berikut:
1. PENDAHULUAN
Bab ini akan mengemukakan mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai, manfaat yang ingin diberikan, batasan penelitian, serta sistematika penulisan.
2. LANDASAN TEORI
Bab ini berisi landasan teori dan kajian penelitian terdahulu yang dapat dijadikan pedoman dalam melakukan kajian atau masalah yang ada.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini akan menguraikan tentang metode penelitian yang digunakan oleh penulis guna menunjang pemecahan masalah secara akurat.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai gambaran umum obyek penelitian, deskripsi data, serta hasil analisis dan kajian penelitian.
5. HASIL PENELITIAN
Bab ini akan berisi kesimpulan yang merupakan rangkuman atau intisari dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan penulis, saran yang merupakan gagasan perbaikan maupun pemecahan masalah yang diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan, serta keterbatasan dalam penelitian.