Journal of Management and Business Review Volume 19, Nomor 1 (2022) Hal: 60-79 ISSN: 2503-0736 (Online); ISSN: 1829-8176 (Cetak)
doi : https://doi.org/10.34149/jmbr.v19i1.311
Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen Laba dengan Internal Audit sebagai Variabel Pemoderasi pada Perusahaan Non-Finansial yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2019
Devi Silviana
Program Studi Akuntansi, Universitas Pelita Harapan MH Thamrin Boulevard 1100, Tangerang, Indonesia
Elfina Astrella Sambuaga*
Program Studi Akuntansi, Universitas Pelita Harapan MH Thamrin Boulevard 1100, Tangerang, Indonesia
Diterima: 05-08-2021 Disetujui: 24-12-2021 Dipublikasi: 31-01-2022
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh kesulitan keuangan terhadap manajemen laba dan peran internal audit sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan semua perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2019 dengan total 1.442 observasi. Hasil penelitian menunjukkan Distress1 yang diukur menggunakan z-score dapat menurunkan praktik manajemen laba akrual maupun riil, sedangkan D_Distress2 yang diukur menggunakan modal kerja bersih dapat meningkatkan manajemen laba akrual namun menurunkan manajemen laba riil. Selain itu, ditemukan bahwa internal audit tidak mampu memoderasi hubungan kesulitan keuangan terhadap manajemen laba namun dapat menurunkan praktik manajemen laba akrual dan riil.
Kata Kunci:
Manajemen Laba Akrual; Manajemen Laba Riil; Kesulitan Keuangan; Internal Audit.
ABSTRACT
This study aims to provide empirical evidence regarding the effect of financial distress towards earnings management and the role of internal audit as a moderating variable. This study uses all non-financial companies listed in Indonesia Stock Exchange during 2013-2019, totaling 1,442 observations. The results show that Distress1 proxied by z-score can reduce accrual and real earnings management practices. In contrast, D_Distress2 proxied networking capital can increase accrual earnings management but reduce real earnings management practices. In addition, the internal audit does not have a moderating role in weakening the effect of financial distress on earnings management but can reduce accrual and real earnings management practices.
Keywords:
Accrual Earnings Management; Real Earnings Management; Financial Distress; Internal Audit
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
61
PENDAHULUAN
Agency theory digunakan untuk menjelaskan konflik yang timbul karena adanya pemisahan antara pemilik dan pihak manajer selaku agen yang menjalankan kegiatan operasi perusahaan (Panda dan Leepsa, 2017). Konflik tersebut terjadi karena dalam mengelola operasi perusahaan, agen seringkali mendapatkan informasi yang lebih banyak dibandingkan prinsipal sehingga menyebabkan terjadinya ketimpangan informasi (asymmetric information) dan keadaan ini menjadi faktor pemicu perilaku oportunistik oleh agen (Wagner, 2019), seperti manipulasi informasi laba. Konflik juga dapat menyebabkan adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest) antara manajemen dan pemilik yang berakibat pada timbulnya biaya keagenan yang menjadi tanggungan bagi kedua belah pihak yang terdiri dari beban pengawasan, ikatan, dan kerugian residual.
Earnings management yang dilakukan secara ilegal adalah tindakan yang sengaja dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk memenuhi target pendapatan dengan menyalahgunakan metode dan teknik akuntansi untuk menghasilkan laporan keuangan yang dapat mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara positif (Arens et al, 2017; Ghazali et al, 2015). Manajemen laba terbagi menjadi dua jenis, yaitu manajemen laba berbasis akrual (accrual earnings management) dan manajemen laba berbasis riil (real earnings management). Accrual earnings management meliputi penggunaan standar akuntansi dan tidak mempengaruhi arus kas (cash flow), sedangkan real earnings management berkaitan dengan keputusan nyata yang diambil oleh pihak manajemen yang mempengaruhi arus kas dan laba. Praktik ini dapat dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kesulitan keuangan.
Kesulitan keuangan adalah keadaan yang membuat perusahan menghadapi kesusahan dalam melakukan pelunasan kewajiban yang disebabkan arus kas dan profitabilitas yang buruk (Nagar dan Sen, 2016). Kesulitan keuangan terjadi apabila total aset perusahaan tidak dapat lagi menutupi jumlah kewajiban kepada kreditur yang mana apabila kondisi tersebut dibiarkan maka dapat mengarahkan perusahaan ke arah kebangkrutan sehingga memicu manajemen untuk melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan (Li et al, 2020) sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan praktik tersebut, salah satunya dilakukan dengan meningkatkan efektivitas pengendalian internal yang dapat diwujudkan melalui pembentukan internal audit (Jasman dan Amin, 2017).
The Institute of Internal Auditors (IIA) melalui International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing (IPPF) nomor 2120.A2 menjelaskan bahwa auditor internal bertugas untuk mengevaluasi potensi dan mencari solusi pada risiko kecurangan. Selain itu, auditor internal juga menerapkan due professional care yang meliputi kegiatan manajemen risiko (risk management) dengan melakukan prosedur analitis yang menganalisa hubungan antara data keuangan dan non keuangan melalui rasio, tren, dan lain-lain (International Standard on Auditing (ISA) 520; ASA 315; IPPF 1220) yang diharapkan mampu untuk memitigasi risiko terjadinya kesulitan keuangan dalam perusahaan (Chang, 2017).
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
Adanya kondisi kesulitan keuangan yang dialami perusahaan, dapat memicu manajemen untuk melakukan manajemen laba menjadi menarik untuk dibahas. Hal ini disebabkan, perusahaan akan mengupayakan informasi keuangan yang diterima oleh publik menyajikan berita baik, sehingga tidak mengindikasikan adanya masalah dalam keuangan perusahaan. Namun, penelitian yang menguji peran internal perusahaan pada kondisi keuangan perusahaan, terkait dengan kebijakan yang diambil menunjukkan bahwa manajemen laba merupakan salah satu kebijakan yang digunakan perusahaan pada saat terjadi kondisi kesulitan keuangan. Penelitian Li et al (2020) mendapatkan bahwa kondisi kesulitan keuangan di perusahaan dapat mempengaruhi keputusan manajemen dalam melakukan manajemen laba.
Penelitian tersebut melihat dari sisi efektivitas internal control perusahaan di Cina yang memperoleh bahwa internal control yang efektif mampu mengurangi praktik manajemen laba akrual maupun riil. Di Indonesia, efisiensi pengendalian internal belum memiliki pengukuran seperti di Cina.
Untuk itulah penelitian ini ingin menguji sejauh mana kinerja perusahaan dapat memberikan cerminan atas kebijakan dan kontrol yang berlaku dalam perusahaan. Penelitian ini menggunakan internal audit sebagai pihak bertanggungjawab dalam internal perusahaan yang berfungsi untuk memastikan laporan keuangan yang disajikan sudah sesuai dengan kegiatan perusahaan. Total observasi yang digunakan adalah 1.442 observasi yang meliputi semua perusahaan non-keuangan yang terdaftar pada BEI periode 2013-2019 dengan menggunakan metode regresi linear berganda dalam pengujian hasil.
Kesulitan Keuangan dan Manajemen Laba
Kondisi kesulitan keuangan menyebabkan perusahaan tidak dapat mencapai ekspektasi investor yang dapat mempengaruhi citra perusahaan atau manajer menjadi takut kehilangan bonus mereka yang memicu terjadinya manajemen laba (Li et al, 2020) yang dibagi menjadi akrual dan riil. Manajemen laba akrual dilakukan dengan cara mengubah metode/estimasi akuntansi yang bertujuan untuk menyamarkan performa perusahaan yang sebenarnya dan tidak mempengaruhi arus kas dari perusahaan, sedangkan manajemen laba riil mempengaruhi arus kas perusahaan dengan cara menggunakan transaksi bisnis yang sebenarnya sehingga lebih sulit untuk dideteksi (Braam et al, 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Hassanpour dan Arkadani (2017) memberikan bukti empiris bahwa kesulitan keuangan mampu meningkatkan praktik manajemen laba akrual dan riil. Penelitian Li et al (2020), Tugba et al (2019), Muljono dan Kim (2018), Howe dan Houston (2016), Nagar dan Sen (2016), Bisogno dan De Luca (2015) menemukan bahwa kesulitan keuangan meningkatkan praktik manajemen laba akrual, sedangkan Campa (2019), Qin dan Ren (2017), Campa dan Camacho-Miñano (2015) menemukan bahwa kesulitan keuangan meningkatkan praktik manajemen laba riil. Namun, Agrawal dan Chatterjee (2015) dan Ghazali et al (2015) menemukan bahwa kesulitan keuangan justru tidak meningkatkan praktik manajemen laba. Dengan demikian, perumusan hipotesis yang didapat adalah tingkat kesulitan keuangan yang semakin tinggi akan meningkatkan praktik manajemen laba riil maupun akrual. Hal ini dikarenakan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan akan mencari
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
63
cara untuk menutupi performa perusahaan yang sebenarnya untuk menjaga citra perusahaan agar terkesan mempunyai performa yang baik.
H1 : Perusahaan dengan tingkat financial distress berpengaruh signifikan positif terhadap manajemen laba berbasis akrual
H2: Perusahaan dengan tingkat financial distress berpengaruh signifikan positif terhadap manajemen laba berbasis riil.
Internal Audit dan Manajemen Laba
Informasi laporan keuangan disusun oleh pihak manajemen (ISA 200) yang menyebabkan munculnya ketimpangan informasi (asymmetric information) yang dimanfaatkan oleh pihak manajemen untuk melakukan tindak kecurangan karena pihak pengguna laporan keuangan tidak memiliki sumber daya atau akses yang cukup untuk memastikan kebenaran dari informasi yang didapat dari laporan keuangan (Anzelya & Kurniawati, 2020; Jasman & Amin, 2017) sehingga diperlukan tindakan untuk menangani praktik tersebut, seperti peningkatan pengawasan internal yang dapat berupa pembentukan unit internal audit. Auditor internal berperan sebagai pihak ketiga dalam mengawasi perilaku manajemen untuk meningkatkan kualitas dan keandalan laporan keuangan sehingga berkontribusi dalam mengurangi praktik manajemen laba baik akrual maupun riil (Onumah et al, 2016).
Penelitian Anzelya dan Kurniawati (2020), Alzoubi (2019), Jasman dan Amin (2017), Sepasi et al (2017), Abott et al (2015), Al-Rassas dan Kamardin (2015) menemukan bahwa peran pengawasan oleh internal audit yang efektif dapat menurunkan praktik manajemen laba akrual dan riil. Namun, penelitian Lestari (2017) menemukan bahwa kompetensi auditor internal tidak berpengaruh pada praktik manajemen laba. Oleh karena itu, hipotesis yang dapat disimpulkan adalah kualitas audit internal mempunyai pengaruh dalam meminimalkan praktik manajemen laba akrual maupun riil.
H3 : Internal audit berpengaruh signifikan negatif terhadap manajemen laba akrual H4 : Internal audit berpengaruh signifikan negatif terhadap manajemen laba riil Kesulitan Keuangan, Internal Audit, Manajemen Laba
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) nomor 56 tahun 2015 pasal 3 menyatakan bahwa perusahaan publik wajib untuk melakukan pembentukan unit audit internal. Internal audit yang berkualitas mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan dengan meningkatkan efektivitas manajemen risiko (D’Onza, 2015). Adanya peningkatan manajemen risiko dapat membantu perusahaan menghindari ketidakpastian kondisi ekonomi dan risiko bisnis sehingga dapat mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan ekonomi (Gichaiya et al, 2019) sehingga manajemen dapat memberikan informasi keuangan yang sebenarnya tanpa harus dimanipulasi terlebih dahulu untuk menutupi performa yang sebenarnya.
Penelitian Ghaleb et al (2020) dan Onumah et al (2016) menemukan bahwa internal audit dapat meminimalkan praktik manajemen laba riil dan akrual. Kemudian penelitian Chang (2017) membuktikan secara empiris bahwa unit audit internal yang berkualitas mampu menurunkan kesulitan
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
keuangan perusahaan. Hal ini bertentangan dengan hasil penemuan Setiyono dan Arista (2017) menemukan bahwa fungsi audit internal tidak mempunyai hubungan apapun terhadap kondisi kesulitan keuangan. Dengan demikian, hipotesis yang dapat disimpulkan adalah adanya pembentukan audit internal yang memadai dan berkualitas dapat meningkatkan penilaian risiko sehingga dapat membantu perusahaan menghindari kondisi kesulitan keuangan. Penurunan financial distress menyebabkan berkurangnya alasan pihak manajemen untuk memoles informasi keuangan agar perusahaan terlihat sehat yang menyebabkan penurunan pada praktik manajemen laba berbasis akrual maupun riil.
H5: Internal audit memiliki peran moderasi yang memperlemah hubungan positif kesulitan keuangan dan manajemen laba akrual
H6: Internal audit memiliki peran moderasi yang memperlemah hubungan positif kesulitan keuangan dan manajemen laba riil
METODE RISET
Sampel Penelitian
Penelitian ini menerapkan teknik purposive sampling dalam proses pemilihan sampel dengan total sampel yang digunakan adalah 1.442 observasi. Kriteria yang digunakan diantaranya mengeluarkan perusahaan dengan mata uang asing dalam penyajian pada laporan keuangan untuk menghindari translasi atas kurs yang dilakukan saat tutup buku, yang dapat mempengaruhi angka dalam laporan keuangan. Penelitian ini juga tidak memasukkan BUMN/BUMD dikarenakan kontrol pada perusahaan milik negara dapat berelasi dengan pemerintah, sehingga memiliki kemungkinan mengandung kontrak politik. Berikut ringkasan kriteria yang digunakan:
Tabel 1 Sampel Penelitian
No. Kriteria Sampel Jumlah
Sampel 1. Perusahaan non finansial yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada periode buku 2013-
2019
385 2. Perusahaan dengan laporan tahunan tidak lengkap/tidak menerbitkan laporan tahunan
periode 2013-2019
(58) 3. Perusahaan yang menggunakan mata uang asing dalam penyajian laporan keuangan (77) 4. Perusahaan yang pernah di suspensi oleh Bursa Efek Indonesia pada periode pengamatan
2013-2019
(22)
5. Perusahaan yang termasuk sebagai BUMN/BUMD (16)
6. Perusahaan yang pernah melakukan relisting pada periode pengamatan 2013-2019 (3)
7. Perusahaan dengan data ekstrim (3)
Jumlah sampel penelitian per tahun 206
Jumlah observasi untuk 7 tahun periode pengamatan 1.442
Sumber: Dirancang oleh Peneliti, 2020
Model Empiris Penelitian
Penelitian ini menggunakan model regresi linear berganda dalam menguji model empiris penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
65
AEMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t + β4CFOi,t + β5D_OWNCONi,t + β6MTBi,t +
β7ROAi,t + ei,t (1)
REMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t + β4CFOi,t + β5D_OWNCONi,t + β6MTBi,t +
β7ROAi,t + ei,t (2)
AEMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t + β4Distress1i,t xIAQi,t + β5D_Distress2i,t
xIAQi,t + β6CFOi,t + β7D_OWNCONi,t + β8MTBi,t + β9ROAi,t + ei,t (3) REMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t + β4Distress1i,t xIAQi,t + β5D_Distress2i,t
xIAQi,t + β6CFOi,t + β7D_OWNCONi,t + β8MTBi,t + β9ROAi,t + ei,t (4)
Operasional Variabel Penelitian Kesulitan Keuangan
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesulitan keuangan yang dibagi menjadi 2 jenis pengukuran, yaitu Distress1 dan D_Distress2. Distress1 diukur dengan mengikuti model pada penelitian Li et al (2020) yang menggunakan model Altman’s Z-score yang telah dimodifikasi pada penelitian Zang (2012) untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan:
Z-score = 0.3X1 + 1.0X2 + 1.4X3 + 1.2X4 + 0.6X5
Z-score digunakan untuk mengukur tingkat kesulitan keuangan perusahaan, X1 adalah rasio return on assets, X2 merupakan rasio asset turnover, X3 adalah rasio perbandingan retained earnings terhadap total aset, X4 adalah rasio perbandingan modal kerja terhadap total aset, X5 adalah rasio market capitalization to total liabilities. Semakin besar nilai Z-score maka kondisi perusahaan semakin sehat.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini nilai Z-score dikalikan -1 sehingga menunjukkan semakin besar nilai Z-score maka kondisi perusahaan semakin buruk sesuai dengan metode penelitian Li et al (2020).
Li et al (2020) menambahkan metode pengukuran yang kedua dalam mengukur kondisi keuangan perusahaan dengan mengacu pada Ahsan et al (2013), yaitu menggunakan variabel dummy, dimana
Keterangan:
AEMi,t : Manajemen laba akrual REMi,t : Manajemen laba riil
α : Konstanta
β : Koefisien variabel
Distress1i,t : Z-score dari perusahaan
D_Distress2i,t : Variabel dummy modal kerja (working capital) IAQi,t : Kualitas internal audit perusahaan
CFOi,t : Arus kas dari aktivitas operasi
D_OWNCONi,t : Persentase kepemilikan oleh pemegang saham terbesar MTBi,t : Rasio perbandingan nilai pasar dan nilai buku ekuitas ROAi,t : Tingkat pengembalian aset perusahaan
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
diberi angka 1 apabila modal kerja bersih (net working capital) yang dimiliki perusahaan bernilai negatif, dan diberi angka 0 jika sebaliknya dan diberi label D_Distress2.
Manajemen Laba
Manajemen laba pada penelitian ini digunakan sebagai variabel dependen yang terbagi menjadi 2, yaitu manajemen laba akrual dan riil.
1. Manajemen laba akrual
Pengukuran variabel ini dilakukan dengan menggunakan modifikasi model Jones 1991 dalam penelitian Li et al (2020) yang bertujuan untuk menghitung nilai discretionary accruals sebagai proksi dari manajemen laba akrual dan diberi label AEM. Penelitian ini menggunakan nilai absolut sesuai dengan metode yang digunakan pada penelitian Li et al (2020) dengan formula sebagai berikut:
Accrualsi,t/At-1= α0 + β1 (1/At-1) + β2 ((ΔRevi,t – ΔARi,t)/At-1) + β3 (PPEi,t/At-1) + ei,t
2. Manajemen laba riil
Penelitian ini menggunakan nilai abnormal dari arus kas, biaya produksi, dan beban diskresioner sebagai proksi manajemen laba riil (REM). Model pengukuran manajemen laba riil juga mengacu pada penelitian Li et al (2020) yang berdasarkan pada penelitian Cohen et al (2008) dan Rochowdhury (2006) untuk mengukur tingkat normal arus kas operasi berfungsi sebagai persamaan linier yang mencerminkan penjualan dan perubahan penjualan:
CFOi,t/At-1= α0 + β1 (1/At-1) + β2 (Si,t/At-1) + β3 (ΔSi,t/ At-1) + ei,t (1)
Arus kas operasi abnormal dihitung melalui arus kas operasi perusahaan yang sebenarnya dikurangi tingkat normal arus kas operasi yang berasal dari koefisien regresi diatas. Kemudian hasil yang didapat dikalikan dengan -1 sehingga nilai yang lebih tinggi menunjukkan jumlah CFO yang lebih besar yang diturunkan oleh perusahaan untuk meningkatkan laba yang dilaporkan (Li et al, 2020).
Penelitian Li et al (2020) mengikuti penelitian Rochowdhury (2006) yang digunakan untuk mengestimasi tingkat normal biaya produksi:
PRODi,t/At-1= α0 + β1 (1/At-1) + β2 (Si,t/At-1) + β3 (ΔSi,t/ At-1) + β4 (ΔSi,t-1/ At-1) + ei,t (2) Tingkat normal dari beban diskresioner yang digunakan dalam penelitian Li et al (2020) diukur berdasarkan penelitian Rochowdhury (2006) dan Zang (2012). Hasil regresi yang didapat merupakan
Keterangan:
Accrualsi,t : Pengurangan dari earnings before extraordinary items and discontinued operations dan arus kas operasi
At-1 : Total aset tahun sebelumnya
ΔRevi,t : Selisih pendapatan yang diperoleh dari pendapatan tahun t dikurangi penjualan t-1
ΔARi,t : Selisih nilai piutang usaha tahun t dengan t-1
PPEi,t : Jumlah aset tetap kotor (gross property, plant, and equipment) ei,t : Tingkat kesalahan (error)
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
67
beban diskresioner abnormal yang kemudian dikalikan dengan -1 sehingga nilai yang lebih besar menunjukkan perusahaan melakukan pemotongan beban diskresioner yang lebih besar untuk meningkatkan laba.
DISXi,t/At-1= α0 + β1 (1/At-1) + β2 (Si,t-1/At-1) + ei,t (3)
Dengan demikian, manajemen laba riil dapat diukur melalui penjumlahan ketiga hasil yang didapat sebelumnya berupa nilai abnormal dari arus kas operasi, biaya produksi, dan beban diskresioner:
REMi,t = AbCFOi,t + AbPRODi,t + AbDISXi,t (4)
Internal Audit
Kualitas internal audit dalam penelitian ini berperan sebagai variabel moderasi yang dapat mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen. Kualitas internal audit mengacu pada penelitian Jasman dan Amin (2017) dengan menggunakan model pengukuran yang dikembangkan oleh Prawitt et al (2009) dengan menggunakan tiga indikator, yaitu sertifikasi professional, pengalaman yang dimiliki oleh auditor internal, serta pelatihan yang diberikan kepada unit audit internal perusahaan.
Setiap indikator akan diukur dengan menggunakan variabel dummy, dimana diberikan skor 1 apabila auditor internal mempunyai salah satu dari sertifikasi profesional Certified Internal Auditor (CIA), Certified Fraud Examiner (CFE), atau Qualified Internal Auditor (QIA), dan diberi skor 0 apabila sebaliknya. Kemudian, apabila auditor internal mengikuti pelatihan paling sedikit dua kali dalam satu tahun maka diberikan skor 1 dan 0 apabila sebaliknya. Terakhir, diberikan skor 1 apabila auditor internal mempunyai pengalaman minimal 3 tahun dibidang akuntansi/keuangan atau bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang akuntansi/keuangan. Selanjutnya, angka tersebut akan digunakan untuk menilai kualitas audit internal dengan menggunakan formula:
IAQi.t= ΣXi,t / 3 (1) Keterangan:
CFOi,t : Arus kas operasi
PRODi,t : Penjumlahan beban pokok penjualan dan selisih jumlah persediaan tahun t dengan tahun t-1
DISXi,t : Beban diskresioner yang terdiri dari beban penelitian dan pengembangan, iklan, penjualan, umum dan administrasi
REMi,t : Manajemen laba riil AbCFOi,t : Abnormal arus kas operasi AbPRODi,t : Abnormal biaya produksi AbDISXi,t : Abnormal beban diskresioner At-1 : Total aset tahun sebelumnya Si,t : Total penjualan tahun t
ΔSi,t : Selisih total penjualan tahun t dengan t-1
ΔSi,t-1 : Selisih total penjualan tahun t-1 dengan t-2
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
Keterangan:
IAQi.t : Nilai dari kualitas audit internal suatu perusahaan, ΣXi,t : Penjumlah skor dari ketiga indikator yang telah diberikan
Variabel Pengendali
Tabel 2 Variabel Pengendali
No Variabel Pengendali Pengukuran
1. Arus kas operasi (CFO) Jumlah arus kas operasi diskala total asset
2. Kepemilikan saham (D_OWNCON)
Variabel dummy
Diberi angka 1 apabila pemegang saham terbesar mempunyai kepemilikan lebih dari 50%; diberi 0 apabila sebaliknya 3. Market to Book value of equity (MTB) Nilai kapitalisasi pasar dibagi nilai buku ekuitas perusahaan 4. Return on assets (ROA) Net profit dibagi total asset
Sumber: Dirancang oleh Peneliti, 2020
HASIL DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Tabel 3 menjabarkan hasil statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini. AEM mempunyai nilai rata-rata 0,078; standar deviasi 0,096; nilai minimum 0,0006; dan nilai maksimum 0,6147. Dari total observasi yang digunakan dalam penelitian ini, terdapat 465 observasi yang mempunyai nilai AEM diatas rata-rata, sedangkan 977 observasi lainnya berada dibawah rata-rata.
Hasil tersebut menandakan bahwa lebih banyak observasi yang mempunyai nilai AEM dibawah rata- ratanya yang berarti sebagian besar dari observasi tidak memanfaatkan kebijakan manajemen yang berkaitan dengan akrual dalam pelaporan laba yang diperoleh.
Tabel 3 Statistik Deskriptif
Variabel Mean Standar Deviasi Min Max
AEM 0,0777813 0,096011 0,000621 0,6146971
REM 0,4431945 0, 257872 0,050050 1,352262
Distress1 -4,170499 6,357611 -47,382 1,024
D_Distress2 0,200416 0, 400451 0 1
IAQ 0,302481 0,258276 0 1
CFO 0.064520 0,105708 -0,773 0,799
D_OWNCON 0,520111 0,499769 0 1
MTB 2,456488 4,506725 0,002 33,454
ROA 0,42534 0,111929 -1,465 0,657
Sumber: Data diolah, 2020
REM mempunyai nilai rata-rata yang diperoleh adalah 0,443; standar deviasi 0,258; nilai minimum 0, 050; dan nilai maksimum 1,352. Dari total 1.442 observasi, terdapat 820 observasi yang memiliki nilai REM dibawah nilai rata-rata sedangkan nilai REM dari 622 observasi yang tersisa berada diatas nilai rata-rata. Hal ini menunjukkan sampel dari penelitian ini lebih cenderung memilih untuk melaporkan laba yang diperoleh sebenarnya dibandingkan merekayasa kegiatan operasional, berupa arus kas, produksi, dan beban diskresioner dalam pelaporan laba.
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
69
Distress1 mempunyai nilai rata-rata -4,170; standar deviasi 6,358; nilai minimum -47,382; dan nilai maksimum 1,024. Semakin besar nilai Distress1 yang didapat menunjukkan semakin besar pula kesulitan keuangan yang dialami. Terdapat 1.056 dari 1.442 observasi yang mempunyai nilai Distress1 lebih besar dari nilai rata-ratanya sehingga dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kriteria Distress1, sampel penelitian ini lebih banyak perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan.
D_Distress2 diukur dengan menggunakan variabel dummy, yaitu 0 jika modal kerja perusahaan positif dan 1 jika modal kerja perusahaan negatif. Hasil yang diperoleh meliputi nilai rata-rata 0,200;
standar deviasi 0,400; nilai minimum 0; dan nilai maksimum 1. Jika dilihat nilai rata-rata dapat disimpulkan bahwa hanya 20% observasi yang mengalami kesulitan keuangan yang berarti dalam sampel penelitian yang digunakan lebih banyak perusahaan yang memiliki nilai modal kerja bersih positif yang mengindikasikan kondisi keuangan yang sehat.
IAQ memperoleh nilai rata-rata 0,302; standar deviasi 0,258; nilai minimum 0; dan nilai maksimum 1. Nilai rata-rata yang semakin mendekati satu menandakan bahwa kualitas internal audit perusahaan semakin baik. Berdasarkan hasil yang diperoleh rata-rata kualitas audit internal pada observasi ini tergolong rendah karena hanya memperoleh 0,302 dari total skor 1 mengindikasikan fungsi pengawasan internal yang ada pada perusahaan masih rendah sehingga berpotensi meningkatkan kesempatan perusahaan melakukan manajemen laba.
Pembahasan
Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Praktik Manajemen Laba Akrual
Berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis 1, Distress1 mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap praktik manajemen laba akrual yang berarti semakin tinggi kesulitan keuangan yang dialami maka semakin rendah praktik manajemen laba akrual sehingga bertentangan dengan hipotesis yang dikembangkan sehingga hipotesis 1 ditolak pada pengukuran ini. Hal ini disebabkan karena pelaporan laba yang sebenarnya memungkinkan pihak manajemen mencari solusi yang lebih mudah dalam keadaan kesulitan keuangan karena menggambarkan kondisi keuangan nyata dari perusahaan sehingga memungkinkan pihak manajemen untuk melakukan negosiasi kepada pihak kreditur terkait perjanjian pembayaran hutang (Agrawal & Chatterjee, 2015) sehingga dapat meringankan beban perusahaan dalam pemenuhan kewajiban dan perusahaan dapat berfokus pada pengembangan inovasi- inovasi yang mampu meningkatkan performa perusahaan dan mengembalikan kondisi keuangan perusahaan menjadi sehat. Hasil tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Agrawal dan Chatterjee (2015) serta Ghazali et al (2015) yang menyatakan semakin tinggi tingkat kesulitan keuangan maka manajemen laba akrual akan menurun. Namun bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tugba et al (2019), Nagar dan Sen (2016), Howe dan Houston (2016) yang menyatakan manajemen laba akrual akan meningkat seiring dengan peningkatan kesulitan keuangan.
Pengukuran kesulitan keuangan dengan menggunakan D_Distress2 menyimpulkan bahwa kondisi kesulitan keuangan yang tinggi mampu memotivasi pihak manajemen untuk melakukan
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
manajemen laba akrual. Hasil ini sejalan dengan hipotesis yang dikembangkan sehingga hipotesis 1 diterima pada pengukuran ini. Ketika suatu perusahaan mempunyai modal kerja yang terbatas maka kewajiban jangka pendek yang dimiliki berpotensi tidak dapat dipenuhi. Selain itu, modal kerja yang terbatas juga menghambat pembiayaan kegiatan operasional sehari-hari sehingga menurunkan performa perusahaan yang berdampak pula pada pengurangan keunggulan kompetitif perusahaan yang mengakibatkan berkurangnya daya tarik perusahaan di mata investor maupun kreditur. Oleh karena itu, dengan kondisi modal kerja yang terbatas maka pihak manajemen menerapkan manajemen laba akrual agar kondisi keuangan perusahaan seolah-olah terkesan sehat. Penerapan manajemen laba akrual ini dilakukan karena lebih ekonomis karena tidak mengubah arus kas atau aktivitas ekonomi perusahaan dan hanya memanfaatkan perubahan kebijakan ekonomi atau estimasi akuntansi (Li et al, 2020;
Muljono dan Kim, 2018). Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Li et al (2020), Muljono dan Kim (2018), Bisogno dan De Luca (2015) yang menemukan bahwa manajemen cenderung memilih melakukan manajemen laba akrual pada kondisi keuangan yang buruk. Disisi lain, hasil yang diperoleh bertentangan dengan penelitian Agrawal dan Chatterjee (2015) serta Ghazali et al (2015) yang justru menemukan kondisi keuangan yang buruk dapat menurunkan praktik manajemen laba akrual.
Tabel 4 Hasil Pengujian Model 1
AEMi,t= α + β1Distress1i,t+β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t +β4CFOi,t + β5D_OWNCONi,t + β6MTBi,t + β7ROAi,t + ei,t.
Variabel Arah Koefisien p-value
Variabel dependen:
AEM
Variabel independen:
Distress1 (H1) + -0,004 0,000***
D_Distress2 (H1) + 0,015 0,011**
IAQ (H3) - -0,046 0,000***
Variabel kontrol:
CFO ? -0,048 0,091*
D_OWNCON ? 0,005 0,322
MTB ? -0,002 0,005***
ROA ? -0,082 0,001***
N = 1.442 F = 18,06 Prob > F = 0,000 Adjusted R-squared = 0,0765
***Signifikan pada 1%
**Signifikan pada 5%
* Signifikan pada 10%
Sumber: Data diolah, 2020
Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Praktik Manajemen Laba Riil
Hasil pengujian terhadap hipotesis 2 menunjukkan bahwa kesulitan keuangan mempengaruhi manajemen laba riil secara negatif signifikan sehingga semakin tinggi kesulitan keuangan maka semakin rendah praktik manajemen laba riil yang dilakukan sehingga hipotesis 2 ditolak. Hal tersebut terjadi karena praktik manajemen laba riil dilakukan dengan cara merekayasa kegiatan-kegiatan riil yang berhubungan dengan operasi perusahaan, seperti arus kas, kegiatan produksi, dan beban diskresioner sehingga memerlukan sumber daya dan biaya yang lebih besar dalam penerapannya
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
71
sedangkan perusahaan yang dalam kondisi kesulitan keuangan mempunyai sumber daya dan biaya yang terbatas sehingga penerapan manajemen laba riil justru akan lebih memberatkan perusahaan yang sedang berada dalam kondisi kesulitan keuangan.
Hasil ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Li et al (2020) serta Muljono dan Kim (2018) juga menyatakan bahwa semakin tinggi kesulitan keuangan maka manajemen laba riil semakin menurun. Namun, hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Campa (2019) serta Qin dan Ren (2017) yang menyatakan bahwa manajemen laba akan beralih ke praktik manajemen laba riil pada saat perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
Kemudian, diperoleh hasil yang menunjukkan D_Distress2 untuk menjawab hipotesis 2 pada pengukuran ini ditolak. Perusahaan dalam kondisi keuangan yang sulit dapat meningkatkan manajemen laba riil karena praktik tersebut berhubungan dengan kegiatan operasi riil perusahaan sehingga sulit untuk dideteksi. Namun, praktik tersebut menimbulkan biaya yang besar, sedangkan perusahaan memiliki modal kerja yang terbatas sehingga praktik tersebut sulit untuk diterapkan yang menyebabkan praktik manajemen laba riil menurun. Hasil tersebut mendukung penelitian yang dilakukan oleh Nagar dan Sen (2018) yang menemukan kesulitan keuangan tidak berpengaruh terhadap produksi abnormal, kemudian Hassanpour dan Arkadani (2017) menemukan bahwa financial distress tidak berpengaruh terhadap arus kas abnormal. Namun hasil ini bertentangan dengan penelitian Li et al (2020) serta Muljono dan Kim (2018) yang menyatakan kesulitan keuangan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba riil.
Tabel 5 Hasil Pengujian Model 2
REMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t +β4CFOi,t + β5D_OWNCONi,t + β6MTBi,t +β7ROAi,t + ei,t
Variabel Arah Koefisien p-value
Variabel dependen:
REM
Variabel independen:
Distress1 (H2) + -0,002 0,043**
D_Distress2 (H2) + -0,024 0,066*
IAQ (H4) - -0,109 0,000***
Variabel kontrol:
CFO ? 0,503 0,000***
D_OWNCON ? 0,007 0,535
MTB ? 0,011 0,000***
ROA ? 0,423 0,000***
N = 1.442 F = 63.11 Prob > F = 0,0000 Adjusted R-squared = 0,2318
***Signifikan pada 1%
**Signifikan pada 5%
* Signifikan pada 10%
Sumber: Data diolah, 2020
Pengaruh Kualitas Audit Internal terhadap Praktik Manajemen Laba Akrual dan Riil
Pengujian hipotesis 3 dan 4 yang menyatakan bahwa kualitas audit internal mampu menurunkan praktik manajemen laba. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas audit internal maka
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
semakin rendah praktik manajemen laba yang dilakukan, baik akrual maupun riil sehingga hipotesis 3 dan 4 diterima. Investasi lebih pada fungsi audit internal perusahaan, melalui pelatihan, sertifikasi, dan lain-lain membuat auditor internal memiliki semakin banyak pengalaman dan kompetensi dalam melaksanakan tugasnya dapat membantu perusahaan dalam memperkuat tata kelola korporasi melalui audit berbasis risiko yang mampu menyebabkan pengawasan dan pengendalian terhadap aktivitas manajemen menjadi lebih baik sehingga dapat menurunkan asimetri informasi dan mendeteksi praktik manajemen laba yang dilakukan (Anzelya dan Kurniawan, 2020; IIA, 2018). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Lestari (2017), Onumah et al (2016), Abbott et al (2015), serta Al-Rassas dan Kamardin (2015) yang mendapatkan bahwa audit internal mampu menurunkan manajemen laba akrual, sedangkan Ghaleb et al (2020), Alzoubi (2019), Jasman dan Amin (2017), serta Anzelya dan Kurniawan (2020) yang menyatakan bahwa kualitas audit internal mampu menurunkan manajemen laba riil.
Peran Audit Internal dalam Mempengaruhi Hubungan Kesulitan Keuangan terhadap Praktik Manajemen Laba Akrual
Berdasarkan hasil pengujian yang dirangkum dalam tabel 6, hipotesis yang dikembangkan sehingga hipotesis 5 ditolak. Hasil tersebut dapat terjadi karena fungsi audit internal dibentuk oleh perusahaan hanya untuk mematuhi POJK nomor 56 tahun 2015 pasal 3 yang menyatakan semua perusahaan publik wajib membentuk unit audit internal. Pembentukan audit internal yang hanya didasarkan pada regulasi yang berlaku namun tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas audit internal menyebabkan pengetahuan dan pengalaman auditor internal masih kurang sehingga tidak dapat menjamin adanya fungsi pengawasan yang efektif terhadap perilaku manajemen.
Pengujian lain dilakukan dengan menggunakan D_Distress2xIAQ menunjukkan bahwa audit internal tidak mempengaruhi hubungan positif kesulitan keuangan terhadap manajemen laba akrual.
Hal ini secara tidak langsung didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Setiyono dan Arista (2017) yang menemukan bahwa audit internal tidak mempunyai pengaruh terhadap kesulitan keuangan dan penelitian Lestari (2017) yang menemukan bahwa kompetensi audit internal tidak dapat berpengaruh terhadap praktik manajemen laba.
Hal ini terjadi karena fungsi audit internal akan terus berjalan terlepas dari apapun kondisi keuangan perusahaan. Audit internal dalam perusahaan dibentuk sebagai salah satu bagian dari tata kelola korporasi perusahaan yang berperan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku manajemen agar tetap sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan sehingga dapat meminimalkan praktik manajemen laba akrual. Namun, auditor internal juga merupakan pegawai dari perusahaan sehingga jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang sangat parah hingga mendekati kebangkrutan maka akan timbul rasa takut kehilangan pekerjaan sehingga menyebabkan fungsi pengawasan dan pengendalian terhadap perilaku manajemen tidak lagi efektif dan objektif sehingga berujung pada peningkatan praktik manajemen laba akrual.
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
73
Tabel 6 Hasil Pengujian Model 3
AEMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t + β4Distress1i,t xIAQi,t + β5Distress2i,txIAQi,t + β6CFOi,t
+ β7D_OWNCONi,t + β8MTBi,t + β9ROAi,t + ei,t
Variabel Arah Koefisien p-value
Variabel dependen:
AEM
Variabel independen:
Distress1 + -0,005 0,000***
D_Distress2 + 0,015 0,056*
IAQ - -0,023 0,035**
Distress1xIAQ (H5) - 0,005 0,000***
Distress2xIAQ (H5) - -0,003 0,458
Variabel kontrol:
CFO ? -0,036 0,211
D_OWNCON ? 0,005 0,356
MTB ? -0,002 0,009**
ROA ? -0,065 0,013**
N = 1.442 F = 15,35 Prob > F = 0,0000 Adjusted R-squared = 0,0823
***Signifikan pada 1%
**Signifikan pada 5%
* Signifikan pada 10%
Sumber: Data diolah, 2020
Peran Audit Internal dalam Mempengaruhi Hubungan Kesulitan Keuangan terhadap Praktik Manajemen Laba Riil
Berdasarkan hasil pengujian dalam tabel 7, Distress1xIAQ untuk menjawab hipotesis 6, diterima pada pengukuran ini. Internal audit yang berkualitas dalam perusahaan yang mengalami financial distress mampu meningkatkan kinerja perusahaan melalui audit internal berbasis risiko sehingga perusahaan mampu mengelola dan menghindari risiko-risiko bisnis yang ada serta berperan sebagai pihak ketiga yang mampu memperkecil asimetri informasi dengan cara meningkatkan peran pengawasan dan pengendalian terhadap kinerja manajemen menjadi lebih efektif dan efisien yang mampu memperkecil peluang pihak manajemen dalam melakukan real earnings management.
Hasil pengujian terakhir yang diperoleh adalah D_Distress2xIAQ menunjukkan bahwa hipotesis 6 ditolak dalam pengukuran ini. Hal ini terjadi karena audit internal merupakan pihak ketiga yang independen dan objektif yang berperan untuk mengawasi perilaku manajemen perusahaan sehingga dapat menurunkan peluang manajemen dalam melakukan manajemen laba riil. Meskipun melakukan pengawasan terhadap pihak manajemen, auditor internal tidak terlibat langsung dalam kegiatan operasi perusahaan. Kebijakan-kebijakan, seperti jumlah produksi maupun besaran beban yang dikeluarkan ditentukan oleh pihak manajemen sehingga auditor internal akan lebih sulit untuk mendeteksi adanya praktik manajemen laba riil karena tidak mengetahui langsung kebutuhan- kebutuhan perusahaan yang sebenarnya.
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
Tabel 7 Hasil Pengujian Model 4
REMi,t= α + β1Distress1i,t + β2D_Distress2i,t + β3IAQi,t + β4Distress1i,txIAQi,t + β5Distress2i,txIAQi,t + β6CFOi,t
+ β7D_OWNCONi,t + β8MTBi,t + β9ROAi,t + ei,t
Variabel Arah Koefisien p-value
Variabel dependen:
REM
Variabel independen:
Distress1 + -0,000 0,495
Distress2 + -0,040 0,05**
IAQ - -0,164 0,000***
Distress1xIAQ (H6) - -0.011 0,003***
D_Distress2xIAQ (H6) - 0,056 0,181
Variabel kontrol:
CFO ? 0,476 0,000***
D_OWNCON ? 0,008 0,500
MTB ? 0,011 0,000***
ROA ? 0,390 0,000***
N = 1.442 F = 50,17 Prob > F = 0,0000 Adjusted R-squared = 0,2350
***Signifikan pada 1%
**Signifikan pada 5%
* Signifikan pada 10%
Sumber: Data diolah, 2020
Tabel 8 Hasil Pengujian Hipotesis
No Hipotesis Proksi Variabel
Independen Kesimpulan H1 Perusahaan dengan tingkat financial distress berpengaruh positif
terhadap praktik manajemen laba berbasis akrual
Distress1 Ditolak D_Distress2 Diterima H2 Perusahaan dengan tingkat financial distress berpengaruh positif
terhadap praktik manajemen laba berbasis riil
Distress1 Ditolak D_Distress2 Ditolak H3 Internal audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba akrual IAQ Diterima H4 Internal audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba riil IAQ Diterima H5 Internal audit memiliki peran moderasi yang memperlemah
hubungan positif kesulitan keuangan dan manajemen laba akrual
Distress1xIAQ Ditolak D_Distress2xIAQ Ditolak H6 Internal audit memiliki peran moderasi yang memperlemah
hubungan positif kesulitan keuangan dan manajemen laba riil
Distress1xIAQ Diterima D_Distress2xIAQ Ditolak Sumber: Data diolah, 2020
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pengaruh kesulitan keuangan dalam memotivasi terjadinya praktik manajemen laba dalam perusahaan dan peran moderasi dari audit internal dalam memperlemah pengaruh kesulitan keuangan terhadap manajemen laba menjadi fokus dari penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa kesulitan keuangan yang diukur dengan pengukuran yang berbeda mencerminkan pengaruh yang berbeda pula sehingga penulis menarik kesimpulan bahwa kesulitan keuangan tidak memotivasi pihak manajemen dalam melakukan praktik manajemen laba.
2. Peneliti menemukan bahwa praktik manajemen laba tidak didorong oleh kondisi kesulitan keuangan namun disebabkan karena lemahnya kualitas audit internal yang ada pada
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
75
perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bukti empiris yang menjelaskan bahwa praktik manajemen laba, baik akrual maupun riil dapat diminimalkan dengan cara meningkatkan kualitas internal audit sehingga mampu menurunkan informasi asimetri dan membantu perusahaan dalam mengawasi dan mengendalikan aktivitas manajemen sehingga dapat mendeteksi atau memperkecil peluang manajemen dalam melakukan manajemen laba.
3. Selain itu, pengujian terakhir yang dilakukan memperoleh hasil bahwa internal audit tidak dapat memoderasi hubungan kesulitan keuangan terhadap manajemen laba akrual maupun riil.
4. Hasil dari penelitian ini dapat memberikan wawasan kepada para pembaca pentingnya peran internal audit dalam meminimalkan praktik manajemen laba baik akrual maupun riil dalam perusahaan. Dengan adanya fungsi internal audit yang berjalan dengan efektif dan efisien, maka pengawasan terhadap perilaku manajemen juga dapat dilakukan lebih ketat yang dapat mengurangi kesempatan dan memperlemah perilaku agen untuk melakukan manajemen laba sehingga para pengguna laporan keuangan dapat lebih kritis dalam menganalisa laporan keuangan dan tidak hanya berfokus pada kondisi keuangan perusahaan saja melainkan juga dapat lebih fokus pada kualitas pengawasan dalam perusahaan karena jika pengawasan lemah maka kesempatan untuk melakukan praktik manajemen laba akan meningkat.
Saran dari peneliti untuk penelitian selanjutnya:
1. Pengungkapan yang membahas tentang internal audit dalam laporan keuangan yang menjadi data untuk mengukur kualitas audit internal masih sangat terbatas karena tidak semua perusahaan mengungkapkan aktivitas dan pengalaman auditor internal dalam laporan tahunan perusahaan. Untuk itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan proxy lain terkait dengan monitor internal seperti komponen corporate governance sebagai variabel moderasi.
2. Metode yang digunakan untuk mengukur manajemen laba akrual masih terbatas pada model modified Jones 1991 sehingga masih memungkinkan bagi peneliti lainnya yang ingin menguji menggunakan pengukuran manajemen laba lainnya. Peneliti selanjutnya dapat berfokus pada salah satu pengukuran manajemen laba untuk lebih fokus pada hasil yang akan dibahas.
3. Desain penelitian ini juga dapat dikembangkan dengan menggunakan klasifikasi yang melibatkan industri yang terdampak Covid-19 maupun yang tidak terdampak untuk dilihat secara terpisah.
4. Penelitian selanjutnya dapat memfokuskan pada kesulitan keuangan maupun kebijakan perusahaan secara detail untuk dieksplor lebih lanjut.
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
DAFTAR PUSTAKA
Abbott, L.J., Daugherty, B., Parker, S., dan Peters, G.F. (2015). Internal Audit Quality and Financial Reporting Quality: The Joint Importance of Independence and Competence. Journal of Accounting Research, 54(2). DOI: 10.1111/1475-679X.12099.
Agrawal, K. dan Chatterjee, C. (2015). Earnings Management and Financial Distress: Evidence from India. Global Business Review, 16(5S), 140S-154S.
Akbar, J. (2020). Pertumbuhan Ekonomi RI Minus 5,32 Persen, Apa Dampaknya?. Kompas.com.
Diakses 12 Oktober 2020 dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/05/151948365/pertumbuhan-ekonomi-ri-minus- 532-persen-apa-dampaknya?page=all.
Al-Rassas, A.H. dan Kamardin, H. (2015). Director’s Independence, Internal Audit Function, Ownership Concentration, and Earnings Quality in Malaysia. Asian Social Science, 11(15). DOI:
10.5539/ass.v11n15p244.
Alzoubi, E.S.S. (2019). Audit Committee, Internal Audit Function, and Earnings Management:
Evidence from Jordan. Meditari Accountancy Research. DOI: 10.1108/MEDAR-06-2017-0160.
Anzelya, Y. dan Kurniawati. (2020). Pengaruh Efektivitas Komite Audit, Kualitas Internal dan Eksternal Audit terhadap Manajemen Laba Riil. Jurnal Online Insan Akuntan, 5(1).
Arens, A.A., Elder, R.J., dan Beasley, M.S. (2017). Auditing and Assurance Service (Edisi 16). Harlow:
Pearson Education Limited.
Auditing and Assurance Standards Board. (2015). Auditing Standard ASA 315 – Identifying and Assessing the Risks of Material Misstatement through Understanding the Entity and Its
Environment. Diakses 9 Oktober 2020 dari
https://www.auasb.gov.au/Pronouncements/Australian-Auditing-Standards.aspx.
Bisogno, M., dan De Luca, R. (2015). Financial Distress and Earnings Manipulation: Evidence from Italian SMEs. Journal of Accounting and Finance, 4(1), 42-51.
Braam, G., Weitzel, U., Nandy, M., dan Lodh, S. (2015). Accrual-based and Real Earnings Management and Political Connections. International Journal of Accounting, 50( 2), June 2015, pp. 111–141.
Campa, D. (2019). Earnings Managemednt Strategies during Financial Difficulties: A Comparison
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
77
between Listed and Unlisted French Companies. Research in International Business and Finance, 50, 457-471.
Campa, D. dan Camacho-Miñano, M.M. (2015). The Impact of SME’s Pre-bankruptcy Financial Distress on Earnings Management Tools. International Review of Financial Analysis, 42, 222- 234.
Chang, K.H. (2017). Internal Audit Quality and Its Association with Financial Distress: An Australian Context. Doctor of Philosophy Thesis. Australia: Curtin University. Diakses 9 Oktober 2020 dari http://hdl.handle.net/20.500.11937/57147.
D’Onza, G., Allegrini, M., Selim, G.M., dan Melville, R. (2015). A Study on Internal Auditor Perceptions of the Function Ability to Add Value. International Journal of Auditing, 19, 182-194.
DOI: 10.1111/ijau.12048.
Fajrian, H. (2020). TPS Food Sajikan Ulang Lapkeu 2017, Rugi Membengkak jadi Rp 5 Triliun.
Katadata.co.id. Diakses 9 Oktober 2020 dari
https://katadata.co.id/happyfajrian/finansial/5e9a495cb39ca/tps-food-sajikan-ulang-lapkeu- 2017-rugi-membengkak-jadi-rp-5-triliun.
Ghaleb, B.A.A, Kamardin, H., dan Al-Qadasi, A.A. (2020). Internal Audit Function and Real Earnings Management Practices in An Emerging Market. Meditari Accountancy Research. DOI:
10.1108/MEDAR-02-2020-0713.
Ghazali, A.W., Shafie, N.A., dan Zuraidah, M.S. (2015). Earnings Management: An Analysis of Opportunistic Behaviour, Monitoring Mechanicsm and Financial Distress. Procedia Economics and Finance, 28, 190-201.
Gichaiya, M.W., Muchina, S., Macharia, S. (2019). Corporate Risk, Firm Size and Financial Distress:
Evidence from Non-Financial Firms Listed in Kenya. IOSR Journal of Economics and Finance (IOSR-JEF), 10(4), 75-86.
Hassanpour, S. dan Ardakani, M.N. (2017). The Effect of Pre-bankruptcy Financial Distress on Earnings Management Tools. International Review of Management and Marketing, 27(3), 213- 219.
Howe, J.S. dan Houston, R. (2015). Earnings Management, Earnings Surprises, and Distressed Firms.
Accounting and Finance Research, 5(1). DOI: 10.5430/afr.v5n1p64.
Silviana, D. & Sambuaga, E.S. (2022). Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Manajemen ….
Idris, M. (2020). Jejak Hitam PT Hanson International, Manipulasi Laporan Keuangan 2016.
Kompas.com. Diakses 9 Oktober 2020 dari
https://money.kompas.com/read/2020/01/15/160600526/jejak-hitam-pt-hanson-international- manipulasi-laporan-keuangan-2016?page=all.
Jasman dan Amin, M.N. (2017). Internal Audit Role on Information Asymmetry and Real Earnings Management. Jurnal Akuntansi & Auditing Indonesia, 21(2).
Lestari, P. (2017). Pengaruh Motivasi Manajemen dan Kompetensi Internal Auditor Terhadap Praktik Pengelolaan Laba: Studi pada BUMN di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VII, Purwokerto: 17-18 November 2017.
Li, Y., Li, X., Xiang, E., dan Djajadikerta, H.G. (2020). Financial Distress, Internal Control, and Earnings Management. Journal of Contemporary Accounting and Economics, 16.
Muljono, D.R., Kim, S.S. (2018). Impacts of Financial Distress on Real and Accrual Earnings Management. Jurnal Akuntansi, 22(2), 222-238.
Nagar, N., dan Sen, K. (2016). Earnings Management Strategies During Financial Distress. The IUP Journal of Accounting Research & Audit Practices, 17(3).
Onumah, J.M., Amidu, M., dan Donkor, A. (2016). The Effect of Internal Audit Quality on Earnings Management of Listed Firms in Ghana. Contemporary Issues in Management Development in Africa, 1(1), pp 15
Panda, B., & Leepsa, N.M. (2017). Agency theory: Review of Theory and Evidence on Problems and Perspectives. India Journal of Corporation Governance, 10(1), 74-95.
DOI:10.1177/0974686217701467.
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor. (2015). 56/POJK.04/2015 Tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan Piagam Audit Internal. Diakses 24 Oktober 2020 dari https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/128760/peraturan-ojk-no-56-pojk042015-tahun-2015.
Qin, Z. dan Ren, X. (2017). Distress Risk and Earnings Management. Diakses 24 Oktober 2020 dari http://www.fmaconferences.org/Boston/Distress_Earnings_Management_Qin_Ren_SP17.pdf.
Sepasi, S., Deilami, Z.D., dan Tavakoli, S.M. (2017). Internal Audit, Board of Directors and Financial Reporting Quality. International Journal of Finance and Managerial Accounting, 2(8).
Journal of Management and Business Review, 19 (1), 2022, 60-79
79
Setiyono, W.P. dan Arista, Y. (2017). Risk Management and Financial Distress in Emerging Market.
Universitas Muhammdiyah Yogyakarta: The 2017 International Conference on Management Science (ICoMS 2017).
The Institute of Internal Auditors. (2016). International Standards for The Professional Practice of Internal Auditing. Diakses 9 Oktober 2020 dari https://na.theiia.org/standards- guidance/mandatory-guidance/Pages/Standards.aspx.
The Institute of Internal Auditors. (2018). Internal Auditing’s Role in Corporate Governance. Diakses 24 Oktober 2020 dari https://na.theiia.org/Pages/IIAHome.aspx.
Tugba, K., Temur, K., dan Yarbasi, E. (2019). Profit Management in The Case of Financial Distress and Global Volatile Market Behaviour: Evidence from Borsa Istanbul Stock Exchange.
Theoretical and Applied Economics, 26(3), 179-192.
Wagner, D.N. (2019). The Opportunistic Principal. Kyklos, 72(4), 637-657.
Wareza, M. (2019). Tiga Pilar dan Drama Penggelembungan Dana. CNBC Indonesia. Diakses 9 Oktober 2020 dari https://www.cnbcindonesia.com/market/20190329075353-17-63576/tiga- pilar-dan-drama-penggelembungan-dana.
Wells, J.T. (2018). International Fraud Handbook. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.