• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Perusahaan saat ini tidak hanya bertanggung jawab pada shareholder, namun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Perusahaan saat ini tidak hanya bertanggung jawab pada shareholder, namun"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

10 2.1 Tinjauan Teoretis

2.1.1 Teori Stakeholder

Perusahaan saat ini tidak hanya bertanggung jawab pada shareholder, namun bertanggung jawab kepada masyarakat (stakeholder) (Hadi, 2011). Purnomosidhi (2006) mengatakan bahwa teori ini mengharapkan aktivitas perusahaan dilaporkan oleh manajemen kepada stakeholder, meskipun nantinya mereka tidak memakai informasi tersebut. Karena akuntabilitas tidak hanya pada kinerja ekonomi atau keuangan saja, namun perusahaan perlu melakukan pengungkapan IC lebih dari yang diharuskan oleh pihak yang berwenang. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengungkapan IC dalam laporan keuangan adalah jika semakin baik kinerja IC dalam suatu perusahaan, maka akan semakin tinggi tingkat pengungkapannya dalam laporan keuangan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan kepercayaan para stakeholder kepada perusahaan (Ulum, 2009).

Manajer jika dapat mengelola organisasi secara maksimal maka penciptaan nilai yang dihasilkan semakin baik. Penciptaan nilai adalah memanfaatkan semua potensi yang terdapat di perusahaan, seperti karyawan, aset fisik, atau structural capital. Pengelolaan yang baik atas potensi perusahaan ini akan mendorong kinerja keuangan perusahaan untuk kepentingan stakeholder (Ulum, 2009).

Namun, tanggung jawab perusahaan tidak hanya terbatas pada kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap masalah sosial dan

(2)

lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas operasional yang dilakukan perusahaan (Cahyono, 2011).

Dalam konteks untuk menjelaskan hubungan VAIC™ dengan kinerja perusahaan, teori stakeholder harus dipandang dari kedua bidangnya, baik bidang etika (moral) maupun bidang manajerial. Bidang etika berargumen bahwa seluruh stakeholder memiliki hak untuk diperlakukan secara adil oleh organisasi, dan manajer harus mengelola organisasi untuk keuntungan seluruh stakeholder. Ketika manajer mampu mengelola organisasi secara maksimal, khususnya dalam upaya penciptaan kinerja perusahan, maka itu artinya manajer telah memenuhi aspek etika dari teori ini.

2.1.2 Teori Legitimasi

Teori legitimasi sebagai dasar untuk menjelaskan pengungkapan sosial lingkungan. Ghozali dan Chariri (2007) berpendapat bahwa teori legitimasi sangat bermanfaat dalam menganalisis perilaku organisasi. Karena legitimasi adalah hal yang penting bagi organisasi, batasan-batasan yang ditekankan oleh norma, nilai sosial, dan reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya analisis perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan. Karena masyarakat akan selalu menilai kinerja lingkungan yang telah dilakukan oleh perusahaan, sehingga aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan harus diselaraskan dengan harapan masyarakat (Dewi, 2011).

Landasan teori legitimasi adalah kontrak sosial yang terjadi antara perusahaan dengan masyarakat dimana perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber ekonomi. Ghozali dan Chariri (2007) mengatakan bahwa kegiatan perusahaan

(3)

dapat menimbulkan dampak sosial dan lingkungan, sehingga pengungkapan sosial dan lingkungan adalah suatu alat manajerial yang dipergunakan untuk menghindari konflik sosial dan lingkungan. Dan sebagai wujud akuntabilitas perusahaan kepada publik untuk menjelaskan berbagai dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan perusahaan baik dalam pengaruh yang baik atau pengaruh yang buruk.

Teori legitimasi dan teori stakeholder merupakan perspektif teori yang berada dalam kerangka teori ekonomi politik. Hal ini disebabkan oleh pengaruh masyarakat dalam menentukan alokasi sumber keuangan dan sumber ekonomi lainnya, perusahaan cenderung menggunakan kinerja berbasis lingkungan dan pengungkapan informasi untuk membenarkan atau melegitimasi aktivitas perusahaan di mata masyarakat.

2.1.3 Intellectual Capital

1. Definisi Intellectual Capital

Sebagai sebuah konsep, merujuk pada modal-modal non fisik atau yang tidak berwujud (intangible asset) atau tidak kasat mata (invisible). Intellectual capital terkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan. Intellectual capital memiliki potensi memajukan organisasi dan masyarakat (Lonqvist dan Mettanen). Society of Management Accountant Canada (SMAC) mendefinisikan intellectual capital sebagai item pengetahuan yang dimiliki oleh manusia, yang kemudian masuk ke dalam perusahaan yang akan menghasilkan keuntungan di masa yang akan datang bagi perusahaan.

(4)

Di Indonesia definisi dan pengakuan serta pelaporan mengenai aset tak berwujud telah dimuat dalam PSAK No.19. Persamaan antara aset tak berwujud dengan intellectual capital terutama dalam item-item structural capital, sedangkan item human capital dan relational capital terkadang sama. Sampai saat ini di Indonesia belum ada pengaturan yang jelas mengenai aset tak berwujud.

Dari berbagai uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa intellectual capital merupakan suatu konsep yang dapat memberikan sumber daya berbasis pengetahuan baru, dan mendeskripsikan aset tak berwujud yang jika digunakan secara optimal memungkinkan perusahaan untuk menjalankan strateginya dengan efektif dan efisien. Dengan demikian modal intelektual merupakan pengetahuan yang memberikan informasi tentang nilai aset tak berwujud perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan keunggulan kompetitif.

2. Komponen Intellectual Capital

Banyak para praktisi yang menyatakan bahwa intellectual capital terdiri dari tiga elemen utama (Saleh et al., 2008) yaitu:

a. Human Capital (modal manusia)

Human capital merupakan hal utama dalam modal intelektual. Di sinilah sumber inovasi dan pengembangan, karena di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan perusahaan. Human capital dapat meningkat jika perusahaan dapat memanfaatkan dan mengembangkan perusahaan, kompetensi dan keterampilan karyawannya secara efisien. Oleh karena itu, human capital merupakan sumber daya kunci yang dapat

(5)

menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan sehingga perusahaan mampu bersaing dan bertahan di lingkungan bisnis yang dinamis.

b. Structural Capital atau Organizational Capital (modal organisasi) Structural Capital merupakan kemampuan organisasi dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan. Seorang individu dapat memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, tetapi jika organisasi memiliki sistem dan prosedur yang buruk maka intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

c. Customer Capital atau Relational Capital (modal pelanggan)

Elemen ini merupakan komponen intellectual capital yang memberikan nilai

secara nyata. Relational Capital merupakan hubungan yang harmonis yang dimiliki oleh perusahaan dengan para mitranya, baik dari pemasok yang andal dan berkualitas, pelanggan yang loyal, hubungan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar.

3. Tujuan Pengukuran Intellectual Capital

Pengelolaan intellectual capital sangatlah berpengaruh terhadap keberhasilan jangka panjang (Permatasari, 2007). Tujuan perusahaan melakukan pengukuran intellectual capital adalah:

a. Mengarahkan sumber-sumber intellectual capital agar sesuai dengan visi perusahaan secara strategis.

b. Mendukung dan memelihara keunggulan bersaing untuk perusahaan.

(6)

c. Menjembatani keadaan perusahaan saat ini dengan keadaan perusahaan di masa lalu.

d. Mempengaruhi harga saham

e. Memberikan visualisasi pengetahuan karyawan atau perubahan kepada masyarakat.

4. Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™)

Salah satu metode yang digunakan dalam pengukuran intellectual capital adalah Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™). Dalam pandangan Pulic (2000), beban gaji karyawan diperlakukan sebagai aset, bukan sebagai biaya. Firer dan Williams (2003) mengatakan bahwa VAIC™ merupakan prosedur analitis yang dirancang untuk manajemen, pemegang saham, dan stakeholders yang relevan agar dapat melakukan pengawasan dan evaluasi secara efektif terhadap efisiensi nilai tambah perubahan dari sumber daya keseluruhan yang dimiliki perusahaan dan masing-masing komponen utama sumber daya. Metode VAIC™

mengukur dan mengawasi efisiensi penciptaan nilai yang berupa uang dan intellectual dapat ditelusuri secara obyektif berdasarkan harga pasar.

Komponen utama dari VAIC™ yang dikembangkan Pulic (2000) tersebut dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu:

a. Value Added Capital Employed (VACA)

Hubungan VA yang pertama adalah menggunakan modal fisik yang bekerja (Capital Employed / CA), (VACA). Hal ini merupakan indikator bahwa VA (value added) diciptakan oleh satu unit modal fisik (physical capital). Capital Employed menunjukkan keharmonisan hubungan antara perusahaan dengan

(7)

mitranya. Keharmonisan hubungan ini dapat berasal dari pemasok yang berkualitas, loyalitas pelanggan dan kepuasan pelanggan dengan pelayanan perusahaan, serta hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar (Belkaoui, 2003). Dengan demikian, pemanfaatan CA (capital employed) yang lebih baik adalah bagian dari IC perusahaan. Bila dibandingkan lebih dari sekelompok perusahaan, VACA menjadi indikator dari kemampuan intelektual perusahaan untuk lebih memanfaatkan modal fisik.

b. Value Added Human Capital (VAHU)

VAHU menunjukkan berapa banyak VA (value added) diciptakan oleh satu rupiah yang diinvestasikan dalam karyawan. Hubungan antara VA (value added) dan HC (human capital) menunjukkan kemampuan untuk menciptakan nilai HC (human capital) dalam sebuah perusahaan. Konsisten dengan pandangan penulis IC terkemuka lainnya (Tan et al., 2007) mengatakan bahwa total biaya gaji dan upah merupakan indikator perusahaan HC (human capital). Pulic berpendapat bahwa sejak pasar menentukan gaji sebagai akibat dari kinerja, secara logis dapat disimpulkan bahwa keberhasilan HC (human capital) harus dinyatakan dengan kriteria yang sama. Dengan demikian, hubungan antara VA dan HC menunjukkan kemampuan untuk menciptakan nilai HC dalam sebuah perusahaan.

c. Structural Capital Value Added (STVA)

Hubungan ketiga adalah ”Structural Capital Value Added” (STVA), yang menunjukkan kontribusi modal struktural/structural capital (SC) dalam penciptaan nilai. Dalam model Pulic, SC (structural capital) adalah VA (value added) dikurangi HC (human capital). Apabila kontribusi dalam penciptaan nilai

(8)

HC kurang, maka semakin besar kontribusi dari SC (structural capital). Hal ini telah diverifikasi oleh penelitian empiris yang menunjukkan sektor industri tradisional (Tan et al., 2007). Dalam industri berat dan pertambangan misalnya, VA hanya sedikit lebih besar dari HC (human capital), dengan komponen SC (structural capital) yang tidak signifikan.

Di sisi lain, dalam industri farmasi dan sektor perangkat lunak, situasi yang sama sekali berbeda diamati. HC (human capital) menciptakan hanya 25% dari seluruh VA dan kontribusi besar disebabkan oleh SC (structural capital). Oleh karena itu, hubungan antara ketiga VA dan SC yang digunakan dihitung dengan cara yang berbeda karena HC dan SC berada dalam proporsi terbalik sejauh menyangkut penciptaan nilai. STVA mengukur jumlah SC yang diperlukan untuk menghasilkan rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana SC sukses dalam penciptaan nilai. Tidak seperti VACA dan VAHU, VA adalah pada penyebut untuk STVA.

2.1.4 Corporate Social Responsibility

1. Definisi Corporate Social Responsibility

Isu lingkungan yang berkembang akhir-akhir ini membuat para perusahaan harus melaporkan segala aktivitas tentang perusahaannya, tidak hanya laporan operasionalnya saja tetapi laporan tentang kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya. Laporan tersebut bersifat non keuangan, dan sukarela dalam menginformasikannya kepada stakeholder. Sehingga perusahaan pada sekarang ini tidak hanya untuk mengejar keuntungan yang dapat merugikan pihak-pihak lain, namun bertanggung jawab atas aktivitas yang dilakukannya.

(9)

CSR merupakan bentuk regulasi perusahaan yang diintegrasikan dalam suatu model bisnis, dan sebagai pertanggungjawaban perusahaan sebagai dampak dari aktivitas yang dilakukan pada lingkungan, pelanggan, pekerja, stakeholders, dan pemakai lainnya (Hadi, 2011).

David (2008) menyatakan bahwa CSR adalah perhatian terhadap atau hubungan antara perusahaan global, pemerintahan, dan masyarakat. Secara rinci definisi CSR adalah perhatian tentang hubungan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar perusahaan itu beroperasi. Dari definisi CSR di atas, dapat disimpulkan bahwa pada saat ini perusahaan tidak hanya mementingkan keuntungan dalam menjalankan bisnisnya, tetapi juga berhubungan baik dengan stakeholder agar perusahaan dapat menjaga kelangsungan hidup usahanya.

Eksistensi perusahaan dapat merubah masyarakat, baik ke arah positif maupun negatif. Sehingga, perusahaan harus mencegah hal negatif terjadi. Karena dapat memicu terjadinya klaim (legitimasi) masyarakat (Hadi, 2011).

Dalam studi literatur yang dilakukan oleh Dahlia dan Siregar (2008) bahwa motivasi perusahaan menggunakan sustainability reporting framework adalah untuk mengkomunikasikan kinerja manajemen dalam mencapai keuntungan jangka panjang perusahaan kepada para stakeholder, seperti perbaikan kinerja keuangan, kenaikan dalam competitive advantage, maksimalisasi profit, serta kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang.

2. Konsep Triple Bottom Line

Sebagaimana pendapat yang menyatakan bahwa tujuan ekonomi dan sosial adalah terpisah dan bertentangan adalah pandangan yang keliru. Perusahaan tidak

(10)

berfungsi secara terpisah dari masyarakat sekitarnya. Faktanya kemampuan perusahaan untuk bersaing sangat tergantung pada keadaan lokasi dimana perusahaan itu beroperasi. Oleh karena itu, piramida CSR yang dikembangkan (Tanudjaja, 2006) harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebab, CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah triple bottom line, yaitu profit, people, dan planet (3p).

3. Manfaat Corporate Social Responsibility

Banyak sekali manfaat yang akan diterima dari pelaksana CSR ini, baik bagi perusahaan, masyarakat, lingkungan, maupun Negara. Menurut Ambadar (2008) mengemukakan beberapa motivasi dan mafaat yang diharapkan perusahaan dengan melakukan tanggung jawab sosial perusahaan meliputi:

a. Perusahaan terhindar dari reputasi negatif perusak lingkungan yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memperdulikan akibat dari perilaku buruk perusahaan.

b. Kerangka kerja etis yang kokoh dapat membantu para manajer dan karyawan menghadapi masalah seperti permintaan laporan kerja di lingkungan dimana perusahaan bekerja.

c. Perusahaan mendapat rasa hormat dari kelompok inti masyarakat yang membutuhkan keberadaan perusahaan khususnya dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan.

d. Perilaku etis perusahaan aman dari gangguan lingkungan sekitar sehingga dapat beroperasi secara lancar.

(11)

4. Prinsip Corporate Social Responsibility

Menurut Alyson, seperti yang dikutip oleh (Wibisono, 2007:39). Prinsip- prinsip CSR meliputi:

a. Prioritas Korporat

Mengetahui bertanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi korporat dan penentu utama pembangunan berkelanjutan, sehingga korporat bisa membuat kebijakan program dan praktek dalam menjalankan operasi bisnisnya dengan cara yang bertanggung jawab sosial.

b. Manajemen Terpadu

Mengintegrasikan kebijakan, program dan praktek ke dalam setiap kegiatan bisnis sebagai suatu unsur manajemen dalam semua fungsi manajemen.

c. Proses Perbaikan

Secara berkesinambungan memperbaiki kebijakan, program, dan kinerja sosial korporat berdasarkan temuan riset mutakhir dan memahami kebutuhan sosial serta menerapkan kinerja sosial tersebut secara Internasional.

d. Pendidikan Karyawan

Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta motivasi karyawan.

e. Pengkajian

Melakukan kajian dampak sosial sebelum memulai kegiatan atau proyek baru dan sebelum satu fasilitas atau meninggalkan lokasi pabrik.

(12)

f. Produk dan jasa

Mengembangkan produk dan jasa yang tidak berdampak negatif secara sosial.

g. Informasi Publik

Memberi informasi dan mendidik pelanggan, distributor dan publik tentang penggunaan yang aman, transportasi, penyimpanan, pembuangan produk/jasa.

h. Fasilitas dan Operasi

Mengembangkan, merancang, dan mengoperasikan fasilitas serta menjalankan kegiatan yang mempertimbangkan temuan kajian dampak sosial.

i. Penelitian

Melakukan dan mendukung penelitian dampak sosial bahan baku, produk, proses, emisi, dan limbah yang terkait dengan kegiatan usaha dan penelitian yang menjadi saran untuk mengurangi dampak negatif yang muncul.

j. Prinsip Pencegahan

Memodifikasi manufaktur, pemasaran atau penggunaan produk dan jasa sejalan dengan penelitian mutakhir, untuk mencegah dampak sosial yang bersifat negatif.

k. Kontraktor dan Pemasok

Mendorong penggunaan prinsip-prinsip tanggung jawab korporat yang dijalankan dengan karangan korporat dan pemasok, disamping itu bila

(13)

diperlukan mensyaratkan perbaikan dalam praktik bisnis yang dilakukan kontraktor dan pemasok.

l. Siaga Menghadapi Darurat

Menyusun dan merumuskan rencana menghadapi keadaan darurat, dan bila terjadi keadaan berbahaya bekerja, sama dengan layanan gawat darurat, instansi berwenang, dan komunitas lokal, sekaligus mengenali potensi bahaya yang muncul.

m. Transfer Best Practice

Berkontribusi pada pengembangan dan transfer praktik bisnis yang bertanggung jawab sosial pada semua industri dan sektor publik.

n. Memberi Sumbangan

Sumbangan untuk usaha bersama, pengembangan kebijakan publik dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen pemerintah, serta lembaga pendidikan yang akan meningkatkan kesadaran tentang tanggung jawab sosial.

o. Keterbukaan

Menumbuhkembangkan keterbukaan dengan pekerja dan publik, mengantisipasi dan memberi respon terhadap potential hazard, dan dampak operasi, produk, limbah, atau jasa.

p. Pencapaian dan Pelaporan

Mengevaluasi kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secara berkala dan mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria korporat dan peraturan

(14)

perundang-undangan dan menyampaikan informasi tersebut pada dewan direksi, pemegang saham, pekerja dan publik.

5. Program Kerja Corporate Social Responsibility

Anaran (2005) mengatakan bahwa perusahaan memiliki empat tanggung jawab utama yaitu terhadap karyawan, konsumen, masyarakat, dan lingkungan.

Keempat hal tersebut bisa menjadi dasar pertimbangan bagi perusahaan untuk menetapkan program inti dalam melaksanakan CSR secara spesifik.

Terdapat sembilan program kerja yang dapat dilakukan perusahaan dalam melaksanakan kegiatan CSR yaitu:

1. Employees Programs

Karyawan merupakan aset berharga bagi perusahaan, sehingga tidak mengejutkan jika perusahaan sangat memperhatikan pengembangan kompetensi dan kesejahteraan karyawan. Perhatian terhadap kesejahteraan karyawan perlu diperluas bukan hanya dari sisi jaminan kesehatan dan keselamatan tetapi perlu adanya perluasan program seperti work life balance program and decision making empowerment program.

2. Community and Broader Society

Mayoritas perusahaan memiliki aktivitas dalam area ini, salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat yang intinya adalah bagaimana individu, kelompok atau komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan usaha membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka (Ambadar, 2008). Implementasi pemberdayaan masyarakat melalui:

(15)

1) Proyek-proyek pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhan.

2) Kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggung jawab.

3. Environtment Programs

Program yang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan misalnya dengan menghasilkan produk yang aman, tidak berbahaya bagi kesehatan, dan ramah lingkungan: membuat sumur resapan, dan penyaluran limbah dengan baik.

4. Reporting and Communications Programs

Perusahaan mengeluarkan atau melaporkan hasil kegiatan CSRnya melalui annual CSR report sehingga terdapat bukti riil partisipasi perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya.

5. Governance or Code of Conduct Programs

Perusahaan menitikberatkan kegiatan sosial yang dilakukan berdasarkan sistem yang diatur oleh pemerintah. Hal utama yang harus diperhatikan adalah bagaimana stakeholder, pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dapat membuat regulasi atau ketentuan yang disepakati bersama untuk mengefektifkan program CSR. Hal ini berarti diperlukan UU untuk mengatur CSR pada level makro seperti sasaran program CSR standar penilaian keberhasilan program dan koordinasi dengan pihak terkait.

(16)

6. Stakeholder Engagement Programs

Upaya menciptakan effective engagement program sebagai kunci utama untuk mencapai kesuksesan strategi CSR dan sustainability strategy.

7. Supplier Programs

Pembinaan hubungan yang baik atas dasar kepercayaan, komitmen, pembagian informasi antara perusahaan dengan mitra bisnisnya misalnya melalui pengelolaan rantai pasokan atau jejaring bisnis.

8. Customer/Product Stewardship Programs

Perlunya perhatian perusahaan terhadap keruhan konsumen dan jaminan kualitas produk yang dihasilkan perusahaan.

9. Shareholder Programs

Program peningkatan “share value” bagi shareholder, karena shareholder merupakan prioritas bagi perusahaan. Penerapan CSR harus berada dalam koridor strategi perusahaan untuk mencapai tujuan dasar bisnis perusahaan. Pengembangan CSR memerlukan tahapan yang sistematis dan kompleks. Tahap pertama, dimulai dengan upaya melihat dan menilai kebutuhan masyarakat dengan cara mengidentifikasi masalah yang terjadi dan mencari solusi yang tepat. Tahap kedua, perlu dibuat rencana aksi beserta anggaran, jadwal indikator, evaluasi, clan sumber daya yang diperlukan bagi perusahaan. Tahap ketiga, melakukan monitoring kegiatan melalui kunjungan langsung atau melalui survey. Tahap keempat, melakukan evaluasi secara regular dan melakukan pelaporan untuk dijadikan panduan strategi dan pengembangan program selanjutnya.

(17)

Evaluasi dilakukan pula dengan membandingkan hasil evaluasi dari internal perusahaan dan eksternal perusahaan.

2.1.5 Pengungkapan Intellectual Capital

Dari literalur-literatur yang berhasil dikumpulkan, kebanyakan para penulis membahas tentang pengukuran intellectual capital. Sedangkan bagaimana pelaporan intellectual capital dibuat masih jarang dibahas. Seperti halnya dengan pengukuran intellectual capital, pelaporan aktiva ini belum dibuatkan sebuah standar tertentu. Suwarjuwono dan Kadir (2003) menunjukkan bahwa:

1. Pengungkapan intellectual capital lebih banyak (95%) disajikan secara terpisah dan tidak ada yang disajikan dalam angka atau kuantitatif. Hal ini mendukung pandangan yang selama ini kuat yaitu aktiva tidak berwujud atau intellectual capital sulit untuk dikuantifikasikan.

2. Pengungkapan mengenai modal eksternal lebih banyak dilakukan oleh perusahaan. Tidak terdapat pola tertentu dalam laporan-laporan tersebut.

Hal-hal yang banyak diungkapkan menyebar diantara ketiga elemen intellectual capital.

3. Pelaporan dan pengungkapan intellectual capital dilakukan masih secara sebagian dan belum menyeluruh.

4. Secara keseluruhan perusahaan menekankan bahwa intellectual capital merupakan hal penting untuk menuju sukses dalam menghadapi persaingan masa depan. Namun hal itu belum dapat diterjemahkan dalam suatu pesan yang solid dan koheren dalam laporan tahunan.

(18)

Pengungkapan intellectual capital telah menjadi suatu bentuk komunikasi yang baru yang mengendalikan “kontrak” antara manajemen dan pekerja. Bagi seorang manajer memungkinkan dapat membuat strategi-strategi untuk mencapai permintaan stakeholder seperti investor dan untuk meyakinkan stakeholder atas keunggulan atau manfaat kebijakan perusahaan.

2.1.6 Pelaporan Corporate Social Responsibility

Ghozali dan Chariri (2007) mengatakan bahwa pengungkapan mengandung arti bahwa laporan keuangan harus memberikan informasi dan penjelasan yang cukup mengenai hasil aktivitas suatu unit usaha. Pengungkapan tanggung jawab perusahaan merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi perusahaan terhadap masyarakat (Rustiarini, 2010).

Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dapat didefinisikan sebagai ketentuan informasi finansial dan non finansial yang berhubungan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan sosial dan fisik organisasi tersebut.

Kewajiban atas CSR diatur dalam UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungannya.

Perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan (Rustiarini, 2010). Ada berbagai motivasi yang mendorong manajer secara sukarela mengungkapkan informasi sosial dan lingkungan. Alasannya yaitu:

(19)

a. Keinginan untuk mematuhi persyaratan yang terdapat dalam undang- undang.

b. Pertimbangan rasionalitas ekonomi, atas dasar alasan ini, praktik pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan memberikan keuntungan bisnis karena perusahaan melakukan “hal yang benar” dan alasan ini dipandang sebagai motivasi utama.

c. Keyakinan dalam proses akuntabilitas untuk melaporkan, yaitu manajer berkeyakinan bahwa orang memiliki hak yang tidak dapat dihindari dalam memperoleh informasi dan manajer tidak peduli akan cost yang dibutuhkan untuk menyajikan informasi tersebut.

d. Keinginan untuk memenuhi persyaratan peminjaman. Lembaga pemberi pinjaman sebagai bagian dari kebijakan manajemen risiko, menginginkan agar manajer memberikan informasi tentang kinerja dan kebijakan sosial serta lingkungan secara periodik.

e. Pemenuhan kebutuhan masyarakat atas refleksi dari “kontrak sosial”

tergantung pada penyediaan informasi yang berkaitan dengan kinerja sosial dan lingkungan.

f. Sebagai konsekuensi atas ancaman terhadap legitimasi perusahaan.

g. Untuk dapat mengatur kelompok stakeholder yang mempunyai pengaruh yang kuat.

h. Untuk mematuhi persyaratan industri tertentu.

i. Untuk mendapatkan penghargaan pelaporan tertentu.

(20)

Tujuan pengungkapan yang berkaitan dengan akuntansi pertanggungjawaban sosial ialah untuk menyediakan informasi yang berfungsi sebagai evaluasi pengaruh perusahaan terhadap masyarakat. Kategori pelaporan CSR menurut Titisari et al. (2010) meliputi lima tema, yaitu: environment, energy, human resources and management, product and customer, and community.

2.1.7 Kinerja Perusahaan

Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang serta tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Listianingsih dan Mardiyah, 2005).

Perusahaan harus terus melakukan peningkatan terhadap kualitas dan kinerja perusahaan, agar tujuan perusahaan tercapai. Laporan tahunan perusahaan merupakan informasi yang memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan yang diberikan oleh manajemen perusahaan kepada stakeholder. Menurut Fiori et al. (2007) konsep pengukuran kinerja perusahaan tradisional terdiri dari:

profitabilitas, solvency, financial efficiency, dan repayment capacity. Akuntansi berdasarkan ukuran kinerja keuangan digunakan untuk menilai perubahan potensi sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan.

Fiori et al. (2007) mengatakan bahwa harga pasar saham merefleksikan nilai fundamental saham, sehingga harga pasar saham menggambarkan kinerja perusahaan. Penelitian ini melakukan penilaian terhadap kinerja dengan menggunakan analisis rasio keuangan, karena analisis ini dapat menjelaskan secara rinci tentang kinerja yang telah dicapai perusahaan serta keadaan tentang kondisi keuangan perusahaan. Salah satu dari analisis rasio keuangan adalah rasio

(21)

modal saham. Noviyanti (2010) menjelaskan bahwa rasio modal saham atau disebut juga dengan rasio pasar merupakan pertimbangan keuangan yang digunakan oleh para investor untuk mengevaluasi kinerja perusahaan go public.

Rasio modal saham terdiri dari empat jenis, yaitu Return on Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), rasio tingkat kapitalisasi, dan rasio pendapatan deviden.

2.1.8 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang meneliti mengenai Pengungkapan Intellectual Capital, pelaporan CSR telah banyak dilakukan di beberapa Negara, yaitu Amerika Serikat oleh Abdolmuhammadi (2005), Australia oleh Tan et al. (2007), dan di Indonesia oleh Kuryanto et al. (2007), Ulum (2009), Fitria Ayuning (2012), Ahmad Husnan et al. (2013). Berikut penjelasan penelitian terdahulu disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini.

No Nama dan

Tahun Judul Metodologi Hasil

1 Abdolmuham madi (2005)

Kapitalisasi Pasar dengan Pengungkapan Intellectual Capital.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.

Pengungkapan Intellectual Capital berpengaruh pada kapitalisasi pasar.

2 Tan et al.

(2007)

Hubungan Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan Perusahaan.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana.

1. Hubungan positif antara IC

perusahaan dengan kinerja 2. Hubungan positif

antara

peningkatan nilai IC perusahaan dengan kinerja

(22)

perusahaan di masa datang 3. Hubungan positif

antara tingkat pertumbuhan perusahaan dengan kinerja perusahaan di masa datang, kontribusi IC untuk kinerja perusahaan akan berbeda sesuai dengan

industrinya.

3 Kuryanto et al. (2007)

Pengaruh Modal Intelektual terhadap Kinerja Perusahaan.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana.

Intellectual Capital tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

4 Ulum (2009)

Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan Perusahaan.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.

1. IC berpengaruh positif terhadap kinerja

perusahaan di masa datang, 2. Tingkat

pertumbuhan IC perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan

perusahaan masa datang.

5

Fitria Ayuning

(2012)

Pengaruh CSR terhadap Kinerja Perusahaan.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi

CSR berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan.

(23)

berganda.

6

Ahmad Husnan et al.

(2013)

Pengaruh CSR terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.

CSR tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Sumber: Kumpulan berbagai jurnal yang diolah.

(24)

2.2 Rerangka Pemikiran

Gambar 1

Rerangka Pemikiran Teoritis

Stakeholder Theory Legitimasi Theory

Pelaporan Aktivitas

Manajemen

Strategi Bisnis

Stakeholder

Pengungkapan Intellectual Capital

Manajemen Stakeholder

Konflik

Aktivitas perusahaan menimbulkan dampak sosial

dan lingkungan

Diantisipasi

Kontrak sosial

Pelaporan CSR

Kinerja Perusahaan

(25)

2.3 Perumusan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh Pengungkapan IC terhadap Kinerja Perusahaan

Ulum (2009) menjelaskan bahwa praktik akuntansi konservatisme menekankan bahwa investasi perusahaan dalam IC yang disajikan dalam laporan keuangan, dihasilkan dari peningkatan selisih antara nilai pasar dan nilai buku.

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Abdolmuhammadi (2005) menunjukkan bahwa pengungkapan intellectual capital berpengaruh pada kapitalisasi pasar, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Tan et al. (2007) juga menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara intellectual capital perusahaan dengan kinerja perusahaan.

Pelaporan keuangan yang berfokus pada kinerja keuangan perusahaan saat ini dirasa kurang memadai sebagai suatu pelaporan kinerja keuangan. Karena terdapat sesuatu yang masih perlu disampaikan kepada pengguna laporan keuangan, yaitu nilai lebih yang dimiliki oleh perusahaan. Pengungkapan IC dilakukan oleh perusahaan agar mempunyai karakteristik atau keunggulan kompetitif untuk pesaingnya (Widjanarko, 2006). Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri, namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder (Ghozali dan Chariri, 2007).

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis pertama yang akan diuji dalam penelitian, yaitu:

H1: Pengungkapan IC berpengaruh positif terhadap Kinerja Perusahaan

(26)

2.3.2 Pengaruh Pelaporan CSR terhadap Kinerja Perusahaan

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ahmad Husnan et al. (2013) menunjukkan bahwa tidak menemukan hubungan yang signifikan antara pelaporan CSR terhadap kinerja keuangan perusahaan. CSR dilakukan karena keberadaan perusahaan di tengah lingkungan yang dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak terhadap lingkungan eksternalnya. Eksistensi perusahaan dapat mengubah masyarakat, baik ke arah positif maupun negatif. CSR adalah klaim agar perusahaan tidak hanya beroperasi untuk kepentingan para pemegang saham (shareholder), tapi juga terhadap pihak stakeholder. Tujuan bisnis saat ini tidak hanya mengacu pada laba perusahaan (profit), tetapi juga kesejahteraan masyarakat (people) serta kelestarian lingkungan (planet).

Sembiring (2005) menjelaskan bahwa tekanan dari berbagai pihak memaksa perusahaan untuk menerima tanggung jawab atas aktivitas bisnisnya terhadap masyarakat. Pelaporan CSR dalam teori legitimasi dapat dijadikan sebagai suatu alat manajerial yang digunakan perusahaan untuk menghindari konflik sosial dan lingkungan (Ghozali dan Chariri, 2007). Penelitian Dahlia dan Siregar (2008) menunjukkan bahwa aktivitas CSR dapat menjadi elemen yang menguntungkan sebagai strategi perusahaan, memberikan kontribusi kepada manajemen risiko dan memelihara hubungan yang dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan. Basamalah et al. (2005) mengatakan bahwa dari perspektif ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut akan meningkatkan nilai perusahaan.

(27)

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis kedua yang akan diuji dalam penelitian yaitu:

H2: Pelaporan CSR berpengaruh positif terhadap Kinerja Perusahaan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berat hati, dia mau diajak melakukan perbuatan maksiat dan dosa yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.. Untung saja, perbuatan buruk yang dilakukan masih

Semakin jauh jarak pelanggan dari sentral, maka akan semakin kecil nilai SNR (Signal to Noise Ratio) yang dihasilkan. Hal ini membuktikan bahwa jarak berbanding

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau hukum- hukum, rumus,

dalam rangkaian acara yang digelar hingga 12 Februari ini juga terdapat prosesi pengangkatan jabatan yang dilakukan langsung oleh Dirut Sumber Daya Manusia

Perbedaan antara volume dan besar arus yaitu, volume adalah jumlah kendaraan yang melewati suatu penampang tertentu pada suatu ruas jalan tertentu per satuan waktu

Dari hasil kajian dapat disimpulkasn sebagai berikut : (1) Di lihat dari gambaran pembangunan di Kabupaten Pandeglang, dilihat dari tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan

Dapat mengetahui dan menguraikan dasar-dasar onkologi bedah mulai dari cara menegakkan diagnosis klinis onkologi, diagnosis dengan sarana bantu yang canggih sampai

Sosialisasi/Penyuluhan dan Pelatihan terhadap Mitra Sosialisasi atau penyuluhan terhadap kelompok tani jeruk siam tentang teknologi pasca panen tepat guna, artinya