4 BAB II
LANDASAN TEORI 2.1 Risiko
Menurut Liansari et al. (2020) risiko didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang dapat menimbulkan akibat buruk yang sulit diterima atau bahkan tidak dapat diterima. Suparno (2015) mengemukakan bahwa risiko merupakan akibat yang mungkin terjadi secara tidak terduga yang mengandung ketidakpastian dari suatu pkegiatan yang telah direncanakan. Risiko merupakan suatu peristiwa yang tidak diharapkan dan dapat terjadi dari beberapa sumber yang dapat mengakibatkan kerugian. Berdasarkan Spektran (2019) risiko merupakan faktor dimana dapat memberikann suatu dampak buruk karena berpengaruh pada biaya dan waktu untuk tercapainya penyelesaian pekerjaan sehingga hal tersebut harus ditangani.
Risiko berkaitan erat dengan kondisi ketidakpastian yang tidak dapat dihindari dan dalam dunia bisnis dapat merugikan. Risiko dari ketidakpastian ini harus ditanggung oleh perusahaan dalam setiap proses bisnisnya. Menurut Susanty (2015) Risiko merupakan suatu ketidakpastian dalam operasi suatu bisnis yang tidak dapat dihindari dan sebagai bagian dari aktivitas perusahaan. Sasaran dan strategi perusahaan juga merupakan salah satu dampak negatif dari risiko.
Pada umumnya risiko dipandang sebagai sesuatu yang memiliki dampak negatif, seperti bahaya, kehilangan maupun konsekuensi lainnya. Risiko mengarah pada ketidakpastian yang terjadi dalam selang waktu tertentu akibat dari suatu peristiwa yang dapat menyebabkan kerugian baik itu kerugian kecil maupun kerugian besar yang berpengaruh pada kelangsungan hidup perusahaan.
Ketidakpastian yang dapat menyebabkan kerugian ini seharusnya dapat dikelola dan dipahami lebih lanjut sebagai strategi yang dapat menjadi nilai tambah serta mendukung tercapainya tujuan dari organisasi (Lokobal et al, 2014).
2.2 Mitigasi Risiko
Mitigasi atau upaya penanganan merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi ataupun menghilangkan risiko yang telah diidentifikasi. Risiko dapat dikurangi, tetapi tidak dapat dihilangkan sepenuhnya sehingga menimbulkan risiko sisa (Astiti et al, 2015). Mitigasi risiko atau penanganan risiko dapat dilakukan dengan proses wawancara, brainstorming maupun penyebaran kuisioner kepada para ahli dibidangnya sehingga di ketahui penanganan terhadap risiko tersebut. Strategi mitigasi risiko menjadi penting karena perusahaan akan dapat mengidentifikasi strategi yang tepat untuk menghadapi risiko tersebut (Liansari et al., 2020).
Hal yang dapat dilakukan dalam risk mitigation atau penanganan risiko, sebagai berikut (Mamduh, 2014):
1. Menahan Risiko
Tindakan dari menahan risiko atau risk retention dilakukan karena dampak dari risiko tersebut masih dalam batas yang dapat diterima.
2. Mengurangi Risiko
Mengurangi risiko atau risk reduction dilakukan untuk memahami risiko itu sendiri serta melakukan tindakan pencegahan sehingga risiko yang diperkirakan terjadi dapat berkurang. Pengurangan risiko ini memiliki kemungkinan menyisakan risiko tetapi dalam tingkat yang dapat diterima.
3. Memindahkan Risiko
Memindahkan risiko atau risk transfer merupakan tindakan yang dilakukan untuk memindahkan sebagian atau seluruh risiko tersebut kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk mengendalikannya.
4. Menghindari Risiko
Tindakan dari menghindari risiko atau risk avoidance ini dilakukan dengan menghindari atau melakukan penolakan pada aktivitas yang memiliki tingkat kerugian tinggi.
2.3 Supply Chain
Supply Chain atau rantai pasok merupakan jaringan fasilitas dimana dari menyediakan bahan baku lalu diubah menjadi barang setengah jadi kemudian produk akhir dan mengirimkan produk tersebut dengan sistem distribusi kepada pelanggan (Huang et al., 2005). Supply Chain juga dapat diartikan sebagai suatu komponen orgnaisasi yang meliputi antara hulu dan hilir dimana termasuk pada bagian proses kegiatan sehingga mendapatkan hasil yang baik pada produk ataupun jasa yang kemudian dikirimkan ke pelanggan (Mentzer et al., 2001). Dengan kata lain, rantai pasok atau supply chain terdiri dari berbagai pihak yang terlibat dalam memenuuhi permintaan konsumen secara langsung maupun tidak langsung sehingga tidak hanya produsen maupun supplier tetapi terdapat juga pihak pergudangan, transportasi, pengecer dan konsumen itu sendiri.
Tingkatan rantai pasok dibagi menjadi tiga yaitu rantai pasok langsung yang terdiri dari supplier, perusahaan dan konsumen yang terlibat dalam aktivitas hulu dan hilir, rantai pasok diperpanjang dimana supplier dari supplier langsung dan konsumen dari konsumen langsung yang terlibat dalam aktivitas hulu dan hilir, sedangkan rantai pasok utama yaitu rantai pasok yang mencakup semua pihak yang terlibat dalam semua aktivitas hulu dan hilir dari produk, layanan, keuangan maupun informasi dari supplier hingga konsumen akhir. Pada gambar 2.1 dibawah dapat dilihat ketiga tingkatan kompleksitas rantai pasok tersebut .
Gambar 2. 1 Tiga tingkatan kompleksitas rantai pasok
2.4 Supply Chain Operation Reference (SCOR)
Supply Chain Operation Reference (SCOR) dikembangkan oleh Supply Chain Council (SSC) pada tahun 1996 dengan didukung oleh lebih dari 650 organisasi anggota di seluruh dunia. Menurut Hwang, et al (2008) model SCOR adalah standar untuk model evaluasi kinerja rantai pasok yang banyak dianut oleh organisasi modern. Model SCOR ini memungkinkan perusahaan untuk mmenganalisis kinerja rantai pasok secara sistematis untuk meningkatkan komunikasi antara anggota dalam rantai pasok dan untuk merancang jaringan rantai pasok yang lebih baik. Natalia and Astuario (2015), mendefinisikan Suply Chain Operation Reference (SCOR) merupakan suatu kerangka dimana menggambarkan antara aktivitas bisnis dan komponen dari supply chain yang bertujuan untuk permintaan pelanggan mulai dari hulu yaitu pemasok hingga ke hilir yaitu pelanggan.
Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010) Pada model SCOR proses dalam rantai pasok dibagi menjadi 5 bagian yaitu plan, source, make, deliver dan return yang dijelaskan lebih lanjut dibawah ini:
1. Plan
Plan merupakan suatu proses dimana antara peermintaan dan perencanaan mengenai kebutuhan pengadaan, produksi maupun pengiriman diseimbangkan. Pada proses plan terdapat beberapa aktivitas seperti perencanaan dan pengendalian bahan baku, produksi, kapasitas, persediaan, distribusi serta menyesuaikan antara perencanaan rantai pasok dengan rencana keuangan.
2. Source
Pengadaan barang ataupun jasa dalam memenuhi permintaan disebut dengan source. Adapun proses pada source seperti penjadwalan pengiriman dari pemasok, menerima, mengecek dan pembayaran mengenai barang yang dikirim oleh pemasok, mengevaluasi kinerja dari pemasok dan lain sebagainya.
3. Make
Make adalah proses mengubah bahan baku atau mentah menjadi produk jadi. kegiatan yang terjadi pada proses make meliputi penjadwalan produksi, pembuatan produk, pengelolaan barang setengah jadi, uji kualitas, pengemasan dan sebagainya.
4. Deliver
Deliver adalah suatu proses untuk memenuhi permintaan pelanggan terhadap barang ataupun jasa . proses yang terlibat seperti menangani pesanan konsumen, pemilihan jasa pengiriman, menangani aktivitas pergudangan kemudian mengirimkan tagihan ke konsumen.
5. Return
Pada proses ini barang atau produk yang telah dikirim dikembalikan karena berbagai alasan. Proses yang terlibat seperti mengidentifikasi kondisi produk, meminta otorisasi pengembalian produk reject, penjadwalan pengembalian produk dan melakukan pengembalian produk.
2.5 Probability Impact Matrix (PIM)
Menurut Association for Project Management (2008) Probability Impact Matrix adalah suatu metode yang bertujuan untuk menganalisis risiko secara kualitatif berdasarkan probabilitas dan impact dari setiap risiko yang ada dan dampak yang ditimbulkan dengan melakukan penilaian menggunakan skala indeks.
Skala indeks dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.1 skala indeks
SCALE PROBABILITY +/- IMPACT ON PROJECT OBJECTIVES
WAKTU BIAYA QUALITY
VHI >70% >4 months >£250k Very significant impact on overall functionality HI 51%-70% 2–4months £101k-£250k Significant impact on
overall functionally
MED 21%-50% 1-2 months £51k-£100k Some impact in key
functional areas LO 5%-20% 1–4 weeks £10k-£50k Minor impact on overall
functionality VLO <5% <1 weeks <£10k Minor impact on secondary
functions
Dari tabel 2.1 diatas diketahui terdapat 5 tingkatan skala indeks yaitu VHI atau sangat tinggi, HI atau tinggi, MED atau sedang, LO atau rendah dan VLO atau
sangat rendah. Setelah mengetahui nilai dari skala indeks tersebut langkah selanjutnya adalah menghitung nilai dari risk score dengan rumus dibawah ini:
Risk score = Probability x Impact 2.1
Keterangan
Risk score = tingkat kepentingan risiko Probability = peluang terjadi risiko Impact = dampak terjadi risiko
Setelah mengetahui nilai dari risk score maka langkah selanjutnya yaitu melakukan pemetaan terhadap nilai tersebut kedalam matriks sepertii pada tabel berikut.
Tabel 2. 1 Matriks Probability Impact
Tabel diatas merupakan hasil dari pengelompokkan risiko menggunakan matriks. Dari matriks tersebut dapat diketahui risiko-risiko yang memiliki dampak yang signifikan, peluang atau kemungkinan terjadinya besar serta risiko yang perlu penanganan lebih lanjut.
2.6 House of Risk (HOR)
Metode House of Risk yaitu suatu metode yang dikembangkan oleh Pujawan dan Geraldin pada tahun 2009 dengan menggabungkan antar model Failure Modes
Probability
0.9 VHI 0.045 0.09 0.18 0.36 0.72
0.7 HI 0.035 0.07 0.14 0.28 0.56
0.5 MED 0.025 0.05 0.10 0.20 0.40
0.3 LO 0.015 0.03 0.06 0.12 0.24
0.1 VLO 0.005 0.01 0.02 0.04 0.08
VLO LO MED HI VHI
0.05 0.1 0.2 0.4 0.8
Impact
and Effect of Analysis (FMEA) dan House of Quality (HOQ). Pada metode House of Risk (HOR) ini, pada FMEA digunakasn untuk menganalisis risiko yang dilakukan dengan menghitung probabilitas dari risiko tersebut (occurrence), dampak yang ditimbulkaan (severity) dan probabilitas deteksi risiko (detection) untuk mendapatkan nilai dari Risk Potential Number (RPN) dari ketiga faktor tersebut. Sedangkan untuk menganalisis dan menyusun strategi mitigasi atau upaya penanganan dalam meminimalisir terjadinya risiko-risiko yang telah teridentifikasi menggunakan House of Quality (HOQ) (Rizqiah et al., 2017).
Dalam metode HOR ini terdapat dua tahapan yaitu HOR fase 1 dan HOR fase 2 dimana dilakukan perhitungan nilai Aggregate Risk Potential (ARP) yang digunakan untuk perankingan dalam risk agent pada HOR fase 1 sedangkan pada HOR fase 2 dilakukan dengan menentukan strategi penanganan yang dianggap ideal dari agen risiko prioritas. Menurut (Pujawan and Geraldin, 2009) pada satu kejadian risiko dapat menyebabkan agen risiko sehingga dilakukan perhitungan ARP dari risk agent dengan menggunakan rumus dibawah ini:
ARPj = Oj I Si Rij 2.2
Keterangan:
Oj = Peluang terjadinya risiko pada agen risiko(occurance) Si = Dampak terjadinya risiko pada kejadian risiko (severity) Rij = Korelai antara agen risiko dan kejadian risiko
2.6.1 HOR Fase 1
Pada HOR 1, yang harus dilakukan yaitu melakukan pemetaan pada aktivitas bisnis dan melakukan identifikasi risiko apa saja yang dapat muncul pada setiap prosesnya dengan kata lain pada fase ini berfokus pada mengidentifikasi kejadian risiko dan penyebab risiko. Pada HOR fase 1 output yang dihasilkan berupa perankingan risk agent prioritas berdasarkan nilai ARP. Langkah penerapan model HOR 1 adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pemetaan proses bisnis kemudian melakukan identifikasi terhadap risk event
2. Penilaian terhadap severity atau dampak pada kejadian risiko berdasarkan skala penilaian
3. Melakukan identifikasi terhadap agen risiko serta memberikan penilaian mengenai probabilitas terjadinya agen risiko tersebut berdasarkan skala penilaiann.
4. Penilaian korelasi atau hubungan antara risk agent dan risk event menggunakan skala 0 menunjukkan tidak ada korelasi, skala 1 korelasi rendah, skala 3 korelasi sedang dan skala 9 korelasi tinggi.
5. Menghitung nilai ARP berdasarkan persamaan 2.2
6. Mengurutkan nilai ARP dengan diagram pareto untuk dilakukan perankingan agen risiko.
Tabel 2.3 Model HOR 1 Risk agents (Aj) Business
processes
Risk event (Ei)
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 Severity
of risk event I (Si)
Plan E1 R11 R12 R13 S1
E2 R21 R22 S2
Source E3 R31 S3
E4 R41 S4
Make E5 S5
E6 S6
Deliver E7 S7
E8 S8
Return E9 S9
Occurrence of agent j
O1 O2 O3 O4 O5 O6 O7
Aggregate risk potential j
ARP1 ARP2 ARP3 ARP4 ARP5 ARP6 ARP7
(Sumber : Pujawan and Geraldin, 2009) 2.6.2 HOR Fase 2
Setelah didapatkan urutan peringkat ARP yang diprioritaskan, langkah selanjutnya yaitu HOR fase 2 yang berfokus pada penyusunan dan menentukan
strategi mitigasi atau upaya penanganan yang tepat untuk meminimalisir terjadinya risiko. Langkah penerapan model HOR fase 2 yaitu:
1. Melakukan pemilihan terhadap risk agent prioritas berdasarkan perhitungan nilai ARP yang kemudian dilakukan perankingan menggunakan diagram pareto.
2. Mengidentifikasi strategi mitigasi yang tepat dan efektif dalam menangani risk agent prioritas. Dalam satu risk agent dapat dilakukan satu maupun lebih upaya mitigasi.
7. Melakukan penilaian hubungan pada upaya penanganan dan risk agent dengan skala penilaian 0,1,3 dan 9 dimana skala 0 artinya antara risk event dengan risk agent tidak terdapat hubungan, skala 1 korelasi rendah, skala 3 korelasi sedang dan skala 9 korelasi tinggi.
3. Menghitung nilai total efektif dari upaya penanganan dengan rumus sebagai berikut:
Tek = Ʃj ARPj Ejk 2.3
Dimana:
ARPj = nilai Aggregate Risk Potential Tek = Total efektifitas Tindakan pencegahan
Ejk = korelasi atau hubungan antara agen risiko dan tindakan pencegahan 4. Menentukan tingkat kesulitan atau degree of dificulty yang dinotasikan
dengan Dk dari strategi mitigasi tersebut. Skala penilaian menggunakan skor 3,4, dan 5 dimana nilai 3 merupakan strategi yang mudah untuk diterapkan, nilai 4 cukup sulit diterapkan dan 5 strategi penanganan sulit untuk diterapkan.
5. Menghitung nilai total rasio tingkat kesulitan dengan rumus berikut:
ETDk = Tek / Dk 2.4
Keterangan:
ETDk = total rasio tingkat kesulitan
Tek = total efektivitas tindakan pencegahan
Dk = tingkat kesulitan penerapan tindakan pencegahan
6. Melakukan perankingan dari nilai total rasio tingkat kesulitan tersebut.
Tabel 2.4 Model HOR 2 To be tread risk agents
(Aj)
Preventive action (PAk) Aggregate risk potentials (ARPj)
PA1 PA2 PA3 PA4 PA5
A1 E11 ARP1
A2 ARP2
A3 ARP3
A4 ARP4
Total effectiveness of action k
TE1 TE2 TE3 TE4 TE5
Degree of difficulty performing action k
D1 D2 D3 D4 D5
Effectiveness to difficulty ratio
ETD1 ETD2 ETD3 ETD4 ETD5
Rank of priority R1 R2 R3 R4 R5
(Sumber : Pujawan and Geraldin, 2009)