• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERUGIAN EKONOMI (ECONOMIC LOSS) AKIBAT MALARIA DI KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2014 TESIS. Oleh IRMA SULASTRI SITOMPUL /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KERUGIAN EKONOMI (ECONOMIC LOSS) AKIBAT MALARIA DI KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2014 TESIS. Oleh IRMA SULASTRI SITOMPUL /IKM"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

KERUGIAN EKONOMI (ECONOMIC LOSS) AKIBAT MALARIA DI KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2014

TESIS

Oleh

IRMA SULASTRI SITOMPUL 137032179/IKM

(2)

KERUGIAN EKONOMI (ECONOMIC LOSS) AKIBAT MALARIA DI KABUPATEN BATU BARA TAHUN 2014

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

IRMA SULASTRI SITOMPUL 137032179 / IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(3)
(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 27 Oktober 2015

PANITIA PENGUJI

Ketua Dr. Dr. Juanita, S.E, M.Kes : Anggota : 1. dr. Heldy BZ, M.P.H

2. Prof. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si 3. Siti Khadijah Nasution, S.K.M, M.Kes

(5)

PERNYATAAN

KERUGIAN EKONOMI (ECONOMIC LOSS) AKIBAT MALARIA DI KABUPATEN BATU BARA TAHUN 2014

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Medan, April 2016 Penulis,

Irma Sulastri Sitompul 137032179/IKM

(6)

ABSTRAK

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Kabupaten Batu bara merupakan daerah endemis malaria, terutama pada kecamatan yang berada pada daerah-daerah dataran rendah yang terletak disepanjang Timur yang tersebar di 21 desa/kelurahan kabupaten Batu Bara. Selama 5 (lima) tahun terakhir Annual Malaria Indeks (AMI) di kabupaten Batubara mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2013 AMI 1,7 per 1000 penduduk, tahun 2014 mengalami peningkatan AMI menjadi 2,9 per 1000 penduduk dan API 5,20 per 1000 penduduk.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui total kerugian akibat Malaria dengan pendekatan cost of illness di kabupaten Batu bara tahun 2014. Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan crossectional.Sampel dalam penelitian ini berjumlah 95 orang penderita malaria usia produktif yang mendapat pelayanan rawat jalan maupun rawat inap di puskesmas di kabupaten Batubara tahun 2014.

Hasil penelitian menunjkkan total biaya langsung yang dikeluarkan oleh penderita sebesar Rp. 550.363.700,- (44%) dari biaya total, total biaya tidak langsung penderita malaria sebesar Rp. 699.350.304,- (56%) dari total biaya. Rata-rata total biaya yang dikeluarkan penderita malaria dalam 1 tahun sebesar Rp. 685.526,-.

Jumlah penderita konfirmasi malaria usia produktif pada tahun 2014 sebanyak 1823, total pengeluaran penderita sebesar Rp. 1.249.714.004,-. Pengeluaran Pemerintah untuk program malaria sebesar Rp. 317.238.500,-

Malaria menyebabkan dampak kerugian ekonomi yang sangat besar tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi pemerintah daerah, oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Batu Bara hendaknya member perhatian serius tehadap berbagai faktor yang mendukung kebijakan dan sumber daya untuk pelaksanaan eliminasi malaria.

Kata Kunci : Malaria, Kerugian Ekonomi, Biaya Langsung, Biaya Tidak Langsung

(7)

ABSTRACT

Malaria is still a transmitted disease which becomes a health problem throughout the world, including Indonesia. Batubara district is an endemic area of malaria, especially the area located along the east coast which consists of 21 villages. In the last five years, Annual Malaria Index (AMI) in Batubara District has increased. In 2013, AMI was 1.7 per 1,000 people, and it increased to 2.9 per 1,000 people and API was 5.20 per 1,000 people.

The objective of the research was to find out the total of loss caused by malaria by using cost of illness approach in Batubara District, in 2015. The research used descriptive explorative method with cross sectional design. The samples were 100 respondents which consisted of patients and their families who receive health care, either outpatient or inpatient at puskesmas in Batubara District.

The result of the research showed that direct cost spent by patients was of Rp.550.363.700. or 44% of the total cost, while indirect cost was Rp. 699.350.304. or 56% of the total cost. The average total cost by the respondents suffered from malaria was Rp.685.526.. The number of clinical malaria on pproductive age cases in 2014 was 1823 respondents so that they had to spend Rp.1.249.714.004. The expenditure of Batubara District Administration in 2014 for malaria case was Rp.317,238,500.

Malaria caused great economic loss not only for people but also for government. It is recommended that Batubara District Administration pay specific attention to various factors of risk for the elimination of malaria.

Keywords: Malaria, Economic Loss, Direct Cost, Indirect Cost

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, hanya oleh anugrah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis ini dengan judul“Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Akibat Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kesehatan (M.Kes) pada program studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat minat studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. Prof.Dr.Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Penguji I (satu)

4. Dr. Juanita, S.E, M.Kes selaku Pembimbing I (satu) yang telah memberikan banyak saran dan masukan demi kesempurnaan tulisan ini.

(9)

5. dr. Heldy BZ, M.P.H selaku Pembimbing II (dua) dan selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM USU yang telah memberikan banyak saran dan masukan.

6. Siti Khadijah Nasution, S.K.M, M.Kes selaku penguji II (dua) yang telah banyak memberikan masukan demi kesempurnaan tulisan ini.

7. dr. Dewi Chaliaty, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Batu Bara yang telah memberi izin penelitian untuk menyelesaikan tulisan ini.

8. Keluarga besar saya, kedua orangtua saya, ibu dan ayah mertua, kakak abang, serta adik-adik saya yang telah memberikan motivasi, semangat, dukungan dan yang selalu mendoakan penulis.

9. Terima kasih kepada suami saya Budi Junarman Sinaga dan kedua buah hatiku Queenara Sharon dan William Jaden yang selalu memberi dukungan dan doa bagi penyelesaian tulisan ini.

10. Buat semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan, dan kerja samanya.

Akhir kata semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, April 2016 Penulis,

(10)

RIWAYAT HIDUP

Irma Sulastri Sitompul, lahir pada tanggal 10 Oktober 1981 di kota

Pematangsiantar, provinsi Sumatera Utara, beragama Kristen Protestan, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Ayahanda S.P. Sitompul, S.H dan IbundaAlm.

Tiambun Butar-Butar. Menikah pada tahun 2009 dengan Budi J. Sinaga, SKM dan dikaruniai satu putri yaitu Queenara Sharon serta satu putra yaitu William Jaden.

Penulis mulai melaksanakan pendidikan dasar di SD Latihan SPG.YP.HKBP di Pematangsiantar (1987-1993), SMP Negeri 3 Pematangsiantar (1993-1996), SMA Negeri 1 Pematangsiantar (1996-1999), D-III Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1999-2002), S-1 Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (2006-2009) dan Tahun 2013 mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat pada minat studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan , Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Pernah bekerja sebagai staf di RS Harapan Pematangsiantar mulai Tahun 2003 - 2004. Sebagai staf di RSU Sarah Medan mulai tahun 2004-2005. Tahun 2005 diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan penempatan tugas di Puskesmas Parsoburan kota Pematangsiantar. Tahun 2006 menempuh pendidkan tugas belajar S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Tahun 2009 kembali bertugas di Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar. Tahun 2013 kembali menempuh tugas belajar Kementerian Kesehatan program S2 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 9

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Manfaat Penelitian ... 10

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Konsep Biaya ... 11

2.2. Jenis-jenis Biaya ... 11

2.2.1. Biaya Eksplisit dan Biaya Implisit ... 11

2.2.2. Biaya Internal dan Biaya Eksternal ... 12

2.2.3. Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung ... 12

2.2.4. Biaya Investasi dan Biaya Operasional ... 12

2.2.5. Biaya Tetap dan Biaya Variabel ... 13

2.2.6. Biaya Kesempatan yang Hilang (Opportunity Cost) .... 13

2.2.7. Pembiayaan Pelayanan Kesehatan ... 13

2.3. Sumber-sumber Pembiayaan Kesehatan ... 14

2.3.1. Pengeluaran Langsung dari Rumah Tangga ... 16

2.3.2. Biaya akibat Sakit (Cost of Illness) ... 17

2.3.3. Perspektif Penilaian (Cost of Illness) ... 18

2.3.4. Years of Life Loss (YLL), Years Lived with Disability (YLD) dan Disability AdjustedLife Years (DALY) ... 20

2.4. Malaria ... 22

2.4.1. Pengertian Malaria ... 22

2.4.2. Penyebab Malaria ... 23

(12)

2.4.8. Pentahapan dan Kegiatan Eliminasi Malaria ... 27

2.4.9. Penilaian Status Eliminasi (Sertifikat Eliminasi Malaria dari Pemerintah) ... 30

2.5. Kerugian Ekonomi akibat Malaria ... 30

2.6. Landasan Teori ... 32

2.7. Kerangka Konsep ... 34

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 35

3.1. Jenis Penelitian ... 35

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35

3.3. Populasi dan Sampel ... 36

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 38

3.5. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 39

3.5.1. Penderita Malaria ... 39

3.5.2. Household Expenditure ... 39

3.5.3. Government Expenditure ... 39

3.5.4. Biaya Pengobatan Sebelum ke Puskesmas ... 39

3.5.5. Variabel Pengobatan Selama di Puskesmas ... 40

3.5.6. Biaya Pengobatan Selama Dirumah ... 40

3.5.7. Opportunity Cost Penderitaa ... 40

3.5.8. Opportunity Cost Keluarga ... 40

3.5.9. Biaya Konsumsi ... 40

3.5.10. Biaya Transportasi ... 40

3.5.11. Total Biaya Pengobatan ... 41

3.5.12. Total Kerugian Penderita ... 41

3.5.13. Kerugian Ekonomi Akibat Malaria ... 41

3.6. Metode Pengukuran Variabel ... 41

3.7. Metode Analisis Data ... 43

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 44

4.1. Gambaran Lokasi Penelitian ... 44

4.2. Karakteristik Responden ... 45

4.3. Pola Pencegahan penyakit Malaria ... 47

4.4. Pola Pengobatan Penyakit Malaria ... 48

4.4.1. Prilaku Mencari pengobatan Penderita Malaria (Health Seeking Behavior) ... 48

4.4.2. Pola Pengobatan Penderita Malaria Selama di Puskesmas ... 49

4.5. Pengeluaran Pemerintah Untuk Penanganan Penyakit Malaria 55 4.6. Model Perhitungan Kerugian Ekonomi ... 56

4.6.1. Kerugian Langsung ... 56

4.6.2. Kerugian Tidak Langsung ... 57

4.7. Total Kerugian Ekonomi Akibat Malaria ... 61

(13)

BAB 5. PEMBAHASAN ... 63

5.1. Karakteristik Responden ... 63

5.2. Pola Pencarian Pengobatan Penderita ... 65

5.2.1. Pola Pengobatan Sebelum ke Puskesmas ... 65

5.2.2. Pola Pengobatan Penderita ... 68

5.3. Opportunity Cost ... 72

5.4. Total Pengeluaran Responden Selama Sakit Malaria ... 74

5.5. Total Kerugian Ekonomi akibat Malaria ... 77

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 79

6.1. Kesimpulan ... 79

6.2. Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

LAMPIRAN ... 84

(14)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1.1. Angka Kesakitan Penyakit Malaria di Kabupaten Batu Bara tahun

2010-2014 ... 5

1.2. Distribusi Alokasi Anggaran Bersumber Dana APBD Bidang Kesehatan di Kabupaten Batubara Tahun 2012-2014 ... 6

2.1. Jenis Biaya Menurut Perspektif ... 20

2.2. Dampak Ekonomi Penyakit Malaria ... 32

2.3. Klasifikasi Biaya Karena Sakit ... 33

3.1. Skala Pengukuran Variabel ... 41

4.1. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kabupaten Batu Bara ... 45

4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan Terakhir, Pekerjaan, Tingkat Penghasilan, Status Pernikahan dan Frekuensi Terkena Malaria ... 45

4.3. Distribusi Metode Pencegahan Malaria pada Penderita Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014 ... 47

4.4. Biaya yang Dikeluarkan untuk Pencegahan Malaria pada Penderita Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014 ... 48

4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Mencari Pengobatan dan Lama Mencari Pengobatan Sebelum ke Puskesmas ... 49

4.6. Distribusi Jenis Plasmodium, Jenis Pelayanan dan Status Pasien Selama di Puskesmas di Kabupaten Batu Bara ... 50

(15)

4.7. Distribusi Pengeluaran Responden Selama Sakit Malaria di Berbagai Fasilitas Kesehatan pada Tahun 2014 ... 51 4.8. Distribusi Jumlah Hari Tidak produktif Penderita Malaria di Kabupaten

Batubara ... 54 4.9. Distribusi Responden Berdasarkan Biaya Selama Rawat Inap di

Pengobatan Swasta Kabupaten Batubara ... 55 4.10. Biaya yang Dikeluarkan oleh Keluarga Selama Rawat Inap ... 56 4.11. Pengeluaran Pemerintah untuk Penanganan Penyakit Malaria

Berdasarkan Jenis Pengeluaran Tahun 2014 ... 57 4.12. Ukuran Parameter yang Dipergunakan untuk Perhitungan Kerugian

Ekonomi Akibat Malaria dalam selama Tahun 2014 ... 59 4.13. Total Kerugian Penderita Malaria Akibat Sakit Malaria di Kabupaten

Batu Bara Tahun 2014 ... 60 4.14. Perhitungan Besarnya Kerugian Ekonomi Akibat Malaria di Kabupaten

Batu Bara Selama Tahun 2014 ... 62 4.15. Total Biaya Langsung Yang Dikeluarkan Karena Sakit Malaria Di

Kabupaten Batu Bara Tahun 2014 ... 75 4.16. Total BiayaTidak Langsung Yang Dikeluarkan Responden Karena

Sakit Malaria Di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014 ... 75

(16)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 34

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 84

2. Lampiran Hasil SPSS ... 90

3. Master Tabel Penelitian ... 101

4. Surat Izin Penelitian ... 103

5. Balasan Surat Izin Penelitian ... 105

(18)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurut Undang Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, bahwa setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara. Derajat kesehatan merupakan investasi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.

Keberhasilan pembangunan Indonesia sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, dimana pembangunan sektor kesehatan merupakan salah satu unsur penentu. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas, masyarakat harus bebas dari berbagai penyakit, termasuk penyakit malaria.

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu hamil. Berdasarkan data WHO, estimasi secara global pada tahun 2011 ada 216 juta kasus malaria, case fatality rate (CFR) malaria di dunia sebesar 3,03 ‰ (655 ribu kematian di seluruh dunia). Pada tahun 2013 terdapat 132.347.600 kasus konfirmasi malaria dan 118.648 kematian.

Afrika merupakan negara dengan angka kematian tertinggi yang diakibatkan oleh

(19)

malaria (90%) dari seluruh angka kematian atau sekitar 103 juta (47%) dari kasus Malaria di seluruh dunia. Sementara itu Asia Tenggara yang tertinggi adalah India (dengan perkiraan 24 juta kasus per tahun) diikuti oleh Indonesia dan Myanmar (WHO, 2013).

Di Indonesia, seperti yang tercantum dalam lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 239/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 terdapat 424 Kabupaten endemis malaria dari 495 kabupaten yang ada, diperkirakan sekitar 45%

penduduk Indonesia berisiko tertular malaria. Jumlah kasus pada tahun 2006 sebanyak 2.000.000 dan pada tahun 2007 menurun menjadi 1.774.845. Jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2008 sebanyak 1.624.930 orang dengan malaria klinis, 266.000 diperiksa dengan konfirmasi dan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 dengan malaria klinis, 200.000 diperiksa dengan konfirmasi. Angka kejadian malaria pada tahun 2011 adalah 1,75 (per 1000 penduduk).

Kerugian ekonomi akibat malaria diperhitungkan sekitar 3 trilyun rupiah.

Biaya ini belum termasuk biaya sosial akibat dari menurunnya kecerdasan anak, rendahnya kualitas sumber daya manusia, serta menurunnya produktivitas kerja dan kunjungan wisatawan. Semua ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan daerah, peningkatan pengeluaran akibat meningkatnya biaya pengobatan yang menjadi beban pemerintah baik pusat maupun daerah, serta menurunnya mutu kesehatan serta

(20)

Perhatian global terhadap malaria juga cukup serius. Diantaranya adalah Roll Back Malaria oleh World Health Assembly (WHA) dan Global Fund to Fight Aids, Tuberculosis and Malaria (GFATM). Pemerintah juga telah mengambil langkah kebijakan untuk pencegahan dan pengendalian malaria, termasuk obat gratis dan distribusi kelambu berinsektisida (ITNs) gratis pada kelompok masyarakat.

Salah satu tujuan yang ingin dicapai Millenium Development Goals (MDGs) dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi malaria, dengan target mengendalikan penyebaran malaria dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria menjadi <1/1000 penduduk berisiko pada tahun 2015. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target MDGs dikumpulkan melalui Riskesdas dengan Annual Paracite Incidence (API). Setiap kasus malaria harus dibuktikan dengan hasil pemeriksaan darah dan semua kasus positif harus diobati dengan pengobatan kombinasi berbasis artemisinin atau ACT (Artemisinin-based Combination Therapies.) API dari tahun 2008-2013 menurun dari 2,47 per 1000 penduduk menjadi 1,38 per 1000 penduduk. Untuk tahun 2013 bila dilihat per provinsi API yang paling tinggi adalah Papua yaitu 42,65 per 1000 penduduk (Kemenkes RI, 2014).

Data WHO (2012) menunjukkan malaria masih terkait erat dengan kemiskinan. Angka kematian Malaria tertinggi terlihat di negara yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi (proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan kurang dari US$ 1,25 per hari). Menurut Gertler dan Gruber tahun 2002, di Indonesia

(21)

akibat sakit malaria mengurangi sekitar Rp. 10.000,- pendapatan rumah tangga per hari dan meningkatkan konsumsi non kesehatan sampai 10%.

Prevalensi nasional malaria berdasarkan data Riskesdas Tahun 2013 adalah 6,0%. Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu dari 15 provinsi dengan prevalensi malaria di atas prevalensi nasional. Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan RI, ada 76,6 ribu kasus malaria klinis terjadi di Sumatera Utara selama tahun 2011 dan 6.358 dinyatakan positif malaria dengan pemeriksaan sediaan darah. Angka Annual Parasite Incidence (API) malaria di Sumatera Utara tahun 2011 adalah 0,5 per 1.000 penduduk. Beberapa kabupaten endemis malaria di Sumatera Utara di antaranya: Kabupaten Batu Bara, Asahan, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias dan Nias Selatan (Kemenkes RI, 2011).

Dalam beberapa tahun terakhir jumlah kasus malaria di Sumatera Utara menunjukkan angka yang relatif menurun. Tahun 2006 terdapat 64.116 kasus klinis malaria dengan 16.525 kasus positif malaria yang dibuktikan dengan pemeriksaan sediaan darah. Tahun 2007 kasus positif malaria berjumlah 15.493 kasus dan terus menurun menjadi 8.796 kasus pada tahun 2010. Walaupun kasus malaria cenderung menurun, namun masih ada wilayah di Sumatera Utara yang merupakan daerah endemis malaria, sehingga membutuhkan penanganan yang intensif (Dinkes Provinsi

(22)

Timur yang tersebar di 21 desa/kelurahan kabupaten Batu Bara. Daerah endemis tersebut berada dalam wilayah kerja Puskesmas Tanjung Tiram, Puskesmas Labuhan Ruku, Puskesmas Ujung Kubu, Puskesmas Kedai Sianam, Puskesmas Sei Suka dan Puskesmas Lalang. Selama 5 (lima) tahun terakhir Annual Malaria Indeks (AMI) di Kabupaten Batu Bara mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2013 AMI 1,7 per 1000 penduduk, tahun 2014 mengalami peningkatan AMI menjadi 2,9 per 1000 penduduk dan API 5,20 per 1000 penduduk.

Angka kesakitan malaria pada 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1.1. Angka Kesakitan Penyakit Malaria di Kabupaten Batu Bara tahun 2010-2014

Tahun Angka Malaria Angka Kesakitan Per 1000 Penduduk

Klinis Konfirmasi Klinis Konfirmasi

2010 3201 1028 8.52 2.73

2011 3201 275 2.91 0.74

2012 3245 1122 8.63 2.98

2013 8103 3540 21.27 9.29

2014 7279 2942 17,6 7,12

Sumber : P2PM Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara

Tingginya AMI di Kabupaten Batu Bara tersebut tidak hanya memberikan dampak terhadap sektor kesehatan saja, tetapi juga berdampak tehadap sektor ekonomi. Tingginya kasus malaria menyebabkan banyak waktu yang hilang kerena seseorang tersebut sakit sehingga tidak produktif dan harus kehilangan penghasilannya. Selain itu penderita malaria juga mengeluarkan biaya untuk

(23)

pengobatan, perawatan, pemeriksaan laboratorium, transportasi dan sebagainya.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tingginya kasus malaria di Kabupaten Batu Bara ini menyebabkan kerugian tidak hanya bagi penderita tetapi juga bagi pemerintah.

Dari perspektif pemerintah, meningkatnya kasus malaria makin memperberat beban ganda pembiayaan kesehatan. Selama ini pemerintah menghadapi masalah alokasi antara program-program promotif dan preventif serta program pemberantasan penyakit menular di satu sisi dan program pelayanan medis di sisi lain. Sumber dana untuk program malaria dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1.2. Distribusi Alokasi Anggaran Bersumber Dana APBD Bidang Kesehatan di Kabupaten Batu Bara Tahun 2012-2014

Alokasi Anggaran

Tahun Anggaran

2012 2013 2014

Rp dan % Rp dan % Rp dan %

APBD Kab. Batu Bara

Belanja tidak 250.762.345.126 40.800.658.178 387.368.009.213

Langsung (49%) (9%) (43%)

Belanja langsung 264.799.843.557 410.970.842.276 514.827.327.865

(51%) (91%) (57%)

Total 515.562.188.683 451.771.500.454 902.195.337.078

(100%) (100%) (100%)

APBD Bidang Kesehatan

Belanja tidak 26.241.935.151 29.575.128.031 34.688.847.618

Langsung (68%) (46%) (73%)

Belanja langsung 12.123.136.714 34.946.832.295 12.642.197.726

(31%) (54%) (27%)

Total 38.365.071.865 64.521.960.326 47.331.045.344

(100%) (100%) (100%)

(24)

Perkiraan biaya untuk program malaria bersumber APBD di Kabupaten Batu Bara pada tahun 2014 sebesar Rp. 317.238.500,- (0,8% dari dana APBD bidang kesehatan). Biaya ini secara umum dikeluarkan untuk biaya pengadaan reagent, biaya operasional penyemprotan dinding rumah, biaya operasional pembagian kelambu, dan biaya operasional manajemen/petugas malaria di lapangan. Jumlah ini belum termasuk biaya untuk pengadaan kelambu berinsektisida (ITNs) sebanyak 14.000 buah yang berasal dari Global Fund yang dihibahkan melalui APBN dan biaya pengadaan obat ACT yang bersumber dari Provinsi Sumatera Utara diperkirakan sebesar Rp. 283 juta rupiah.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, malaria sebetulnya adalah penyakit yang resikonya bisa direduksi. Gaya hidup sehat seperti menggunakan kelambu dan lingkungan yang bersih secara keseluruhan dapat mengurangi risiko terjadinya malaria. Sebagai penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan kebanyakan kematian dan kondisi parah akibat malaria dapat dihindari melalui perawatan yang tepat dan efektif. Namun tantangan yang dihadapi untuk eliminasi malaria masih ada yang diidentifikasikan sebagai faktor ekonomi, geografis serta sistem kesehatan (Suswardany et al, 2015).

Salah satu cara advokasi pembiayaan kesehatan yang telah dilakukan dan direkomendasikan oleh World Bank adalah dengan pendekatan kerugian ekonomi (Economic Loss) jika suatu masalah kesehatan tidak dapat dicegah dan ditanggulangi secara dini. Pendekatan ini memberikan warning kepada semua stakeholder,

(25)

khususnya eksekutif dan legislatif bahwa kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit jauh lebih besar dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurut Orem et al, (2012), dampak akibat malaria secara umum dapat dibagi atas tiga bagian yaitu dampak terhadap kesehatan, sosial dan ekonomi. Dampak ekonomi akibat malaria dapat dikategorikan ke dalam 3 jenis yaitu dampak langsung (direct), dampak tidak langsung (indirect) dan intangible. Dampak ini dapat diukur secara makro (nasional dan masyarakat) dan mikro (individu dan keluarga).

Hasil penelitian As’ad, dkk (2011), pada pasien malaria usia produktif di RS Mamuju menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 80.621,-/hari, pengeluaran biaya langsung sebesar Rp. 3.410.500,- dengan rata-rata 4 hari rawat. Demikian juga hasil penelitian Saputra (2008), kerugian ekonomi akibat malaria di Kabupaten Aceh Utara sebesar Rp. 3.001.536.710,- . Total kerugian ini hanya mencakup nilai perhitungan dari pasien yang datang ke puskesmas dan pengeluaran pemerintah selama tahun 2007.

Kerugian ekonomi dalam hal ini diartikan sebagai konsekuensi biaya yang terjadi. Sampai saat ini kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit malaria di Kabupaten Batu Bara belum pernah dikaji. Sehingga diharapkan baik legislatif maupun eksekutif memberikan perhatian yang lebih serius kepada upaya-upaya promotif dan preventif sebagai langkah timbulnya penyakit yang dapat menyebabkan

(26)

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana total kerugian ekonomi akibat malaria yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh penderita terkait malaria yang di derita di kabupaten Batu Bara tahun 2014.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui total kerugian akibat Malaria dengan pendekatan cost of illness di kabupaten Batu Bara tahun 2014.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui karakteristik penderita malaria yang berobat ke puskesmas di kabupaten Batu Bara Tahun 2014.

2. Untuk mengetahui biaya langsung yang dikeluarkan oleh penderita untuk mendapatkan pelayanan kesehatan guna mengobati malaria di kabupaten Batu Bara tahun 2014.

3. Untuk mengetahui biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh penderita untuk mendapatkan pelayanan kesehatan guna mengobati malaria di kabupaten Batu Bara tahun 2014.

4. Untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten Batu Bara untuk program penanggulangan malaria tahun 2014.

(27)

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan pertimbangan advokasi bagi Dinas Kesehatan kepada stakeholder dalam mengalokasikan anggaran kesehatan.

2. Sebagai informasi dan perbandingan bagi penelitian selanjutnya

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Biaya

Untuk menghasilkan suatu produk (output), diperlukan sejumlah input. Biaya adalah nilai barang. Biaya adalah nilai dari sejumlah input (faktor produksi) yang dipakai untuk menghasilkan suatu produk (output). Output atau produk jasa bisa berupa jasa pelayanan kesehatan atau berupa pelayanan rawat inap, rawat jalan, laboratorium, radiologi dan lain-lain.

Biaya menurut AAA (America Acounting Association) adalah : merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diukur berdasarkan nilai uang. Hal yang timbul dan mungkin timbul untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Sedangkan menurut Lipsey : biaya bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksi sesuatu berupa harga faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output (Lubis, 2014)

2.2. Jenis-jenis Biaya

2.2.1. Biaya Eksplisit dan Biaya Implisit

Biaya eksplisit adalah biaya yang dikeluarkan dalam usaha mendapatkan faktor-faktor produksi, Sedangkan biaya implisit adalah segala taksiran biaya (tersembunyi), yang memiliki faktor produksi apabila digunakan.

(29)

2.2.2. Biaya Internal dan Biaya Eksternal

Biaya internal adalah keseluruhan biaya yang diperlukan untuk beroperasinya perusahaan. Biaya eksternal adalah biaya yang seharusnya ditanggung oleh perusahaan akibat negatif dari hasil produksi terhadap masyarakat/lingkungan.

2.2.3. Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung

Biaya langsung disebut dengan direct cost merupakan biaya yang manfaatnya langsung merupakan bagian dari produk atau barang-barang yang dihasilkan.

Misalnya biaya obat, biaya reagen, dll.

Sedangkan biaya tidak langsung (Indirect cost) merupakan biaya yang manfaatnya tidak menjadi bagian langsung (melekat) dalam produk, akan tetapi merupakan biaya yang diperlukan untuk menunjang unit-unit produksi. Misalnya biaya administrasi.

2.2.4 Biaya Investasi dan Biaya Operasional

Biaya investasi adalah biaya yang dapat digunakan dalam waktu relative lama (lebih dari satu tahun). Biaya pemeliharaan adalah biaya yang diperlukan untuk memfungsikan atau mengoperasionalkan, mempertahankan dan memperpanjang kapasitas barang investasi, segingga klasifikasinya dapat mengikuti klasifikasi barang investasi. Biaya operasional merupakan biaya yang diperlukan untuk memfungsikan atau mengoperasikan barang investasi.

(30)

2.2.5 Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Biaya tetap (fixed cost) merupakan biaya yang secara relative tidak dipengaruhi oleh besarnya jumlah produksi. Sedangkan biaya variable (variable cost) merupakan biaya yang dipengaruhi secara langsung oleh jumlah produksi. Total cost (biaya total) merupakan jumlah biaya tetap ditambah biaya variable.

2.2.6. Biaya Kesempatan yang Hilang (Opportunity Cost)

Biaya kesempatan yang hilang adalah biaya (pengorbanan) berupa hilangnya kesempatan lain yang bisa dimanfaatkan, karena suatu sumber daya (biaya) dipergunakan untuk hal lain. Dalam praktek, kesempatan yang hilang yang hamper selalu tersedia adalah mendepositokan uang di bank. Jika seseorang mengambil uang depositonya di sebuah bank, dan kemudian membelanjakan uang tersebut untuk sebuah mobil, maka harga mobil tersebut adalah jumlah yang dibayarkan kepada penjual, sedangkan opportunity cost mobil tersebut adalah bunga deposito yang dikorbankan yang tidak lagi dinikmati oleh orang bersangkutan.

Dalam cost of illness. Biaya kesempatan yang hilang disini adalah tidak bisa bekerjanya seseorang karena sakit sehingga tidak menghasilkan pendapatan.

2.2.7. Biaya Pelayanan Kesehatan

Biaya pelayanan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu:

a. Biaya langsung medis (direct medical cost)

Biaya langsung medis adalah biaya yang dikeluarkan oleh pasien terkait dengan jasa pelayanan medis, yang digunakan untuk mencegah atau mendeteksi suatu penyakit seperti kunjungan pasien, obat-obatan yang diresepkan, lama perawatan.

(31)

Kategori biaya-biaya langsung medis antara lain pengobatan, pelayanan untuk mengobati efek samping, pelayanan pencegahan dan penanganan.

b. Biaya langsung non medis (direct nonmedical cost)

Biaya langsung nonmedis adalah biaya yang dikeluarkan pasien tidak terkait langsung dengan pelayanan medis, seperti biaya transportasi, makanan, jasa pelayanan lainnya yang diberikan pihak rumah sakit.

c. Biaya tidak langsung (indirect cost)

Biaya tidak langsung adalah biaya yang dapat mengurangi produktivitas pasien, atau biaya yang hilang akibat waktu produktif yang hilang. Sebagai contoh pasien kehilangan pendapatan karena sakit yang berkepanjangan sehigga tidak dapat memberikan nafkah pada keluarganya, pendapatan berkurang karena kematian yang cepat.

2.3. Sumber-sumber Pembiayaan Kesehatan

Secara garis besar sumber pembiayaan kesehatan berasal dari dua sumber yaitu dari pemerintah dan dari masyarakat atau pihak swasta, seperti yang dijelaskan oleh beberapa tokoh ekonomi kesehatan berikut ini.

Menurut Mills dan Gilson (1990) sumber pembiayaan kesehatan dapat dibagi dalam dua kelompok sumber yaitu bersumber dari pemerintah atau semi pemerintah dan bersumber dari pihak swasta :

(32)

1. Bersumber dari pemerintah maupun semi pemerintah seperti : pendapatan secara umum, pembiayaan yang defisit, cukai, asuransi sosial dan berasal dari lotre atau undian hadiah.

2. Bersumber dari swasta seperti : asuransi kesehatan swasta, asuransi perusahaan, kontribusi organisasi sosial dan sukarela perorangan, pembiayaan masyarakat dan pengeluaran langsung dari rumah tangga.

Sedangkan menurut Depkes RI (2004), pembiayaan kesehatan juga dapat dibagi dua kelompok yaitu bersumber pemerintah dan sumber masyarakat termasuk swasta. Pembiayaan yang dikeluarkan oleh pemerintah harus diketahui dari segala bentuk dokumen keuangan negara di semua administrasi yang berada pada semua pemerintah sesuai dengan sistim penganggaran yang berlaku pada tahun yang berjalan.

1. Sumber pemerintah

a. Pemerintah Pusat seperti : APBN sektoral atau Dana dekosentrasi

b. Pemerintah Propinsi seperti : dana APBD Propinsi yang diperbantukan ke daerah kabupaten/kota.

c. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

d. Pemerintah daerah kabupaten/kota, yang berasal dari berbagai sumber pendapatan kabupaten/kota yang sah terdiri dari :

1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), seperti : pendapatan dari pajak daerah, retribusi daerah, keuntungan perusahaan daerah dan lain-lain.

2) Dana perimbangan yang terdiri dari :

(33)

i. Dana bagian daerah dari penerimaan pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, serta penerimaan dari sumber daya alam.

ii. Dana Alokasi Umum (DAU), yaitu dana yang berasal dari APBN yang penggunaannya diserahkan kepada daerah, ditujukan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah guna membiayai kebutuhan dan pengeluaran

iii. Dana Alokasi Khusus (DAK), yaitu dana yang berasal dari APBD yang dialokasikan untuk kebutuhan khusus daerah dan program yang merupakan komitmen nasional, yang diberikan kepada daerah untuk membantu kebutuhan biaya tertentu.

2. Sumber Masyarakat termasuk Swasta

1) Pengeluaran langsung dari masyarakat berupa belanja rumah tangga untuk kesehatan (Pembayaran langsung out of pocket)

2) Pengeluaran melalui prinsip asuransi 3) Pengeluaran oleh perusahaan swasta

4) Pengeluaran oleh badan atau lembaga swadaya masyarakat 2.3.1. Pengeluaran Langsung dari Rumah Tangga

Pendapatan rumah tangga pada akhirnya merupakan sumber terbesar bagi

(34)

penyedia pelayanan kesehatan seperti pembayaran atas jasa yang dikonsumsi atau harga yang harus dibayarkan untuk penggunaan barang dan peralatan.

Pengeluaran langsung rumah tangga tidak terpisahkan dari sumber pembiayaan lainnya. Fasilitas pemerintah mungkin saja menarik biaya kepada penggunanya (seringkali tunai) atas penggunaan pelayanan tertentu. Meskipun sudah di dalam cakupan asuransi, masih sering tetap diperlukan adanya pembayaran bersama (copayment) yang sering cenderung meningkatkan jumlah yang harus dibayarkan jika seandainya tidak dilakukan pembayaran bersama tadi. Lebih lanjut, pemanfaatan asuransi kesehatan mungkin saja harus menghadapi suatu tingkat pembayaran tertinggi yang bisa dibiayai oleh asuransi dengan pengertian bahwa rumah tangga sebagai pengguna tetap harus membayar langsung atas keperluan pelayanan kesehatannya yang berada di luar jangkauan perasuransian tadi.

2.3.2. Biaya akibat Sakit (Cost of Illness)

Cost of illness studi sering juga dikenal sebagai studi tentang beban yang ditimbulkan akibat sakit (burden of disease). Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai dan menghitung biaya-biaya yang timbul oleh berbagai masalah kesehatn yang ada. Meskipun studi cost of illness bukanlah sebagai suatu teknik evaluasi ekonomi yang lengkap, tetapi studi ini dapat digunakan untuk memberikan informasi mengenai pemilihan alokasi sumber daya yang akan digunakan dengan mempertimbangkan estimasi dan konsekuensi-konsekuensi dari permasalahan kesehatan yang timbul yang saling berhubungan. Studi ini merupakan dasar bagi

(35)

teknik evaluasi ekonomi yang lebih lengkap seperti Cost Effectivenes Analysis(CEA), Cost Benefit Analysis (CBA), dan Cost Utilyti Analysis (CUA).

Cost of illnesss studi merupakan salah satu dari alat yang ada dalam evaluasi ekonomi. Dalam cost of illness ini dilakukan analisis biaya terhadap masalah-masalah kesehatan yang ada. cost of illness ini tidak mebandingkan antara berbagai program kesehatan yang ada.

Langkah dalam cost of illness ini adalah : pengenalan, identifikasi, listing, pengukuran dan penilaian terhadap biaya-biaya yang timbul karena sakit. Langkah pertama dalam studi cost of illness ini adalah : identifikasi seluruh kasus-kasus penyakit yang ada, biasanya dilihat dari data statistik yang ada atau dengan melakukan ekstrapolasi untuk seluruh populasi dari survey yang sederhana. Langkah ini sangat terbatas sekali karena ketersediaaan data yang sangat terbatas, kesulitan untuk mendefenisikankasus/penyakit,pengetahuan yang kurang terhadap riwayat alamiah penyakit, dan sebagainya.

Langkah kedua dalam studi cost of illness ini adalah identifikasi biaya-biaya yang ditimbulkan oleh suatu penyakit. Identifikasi biaya ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif untuk mendapatkan sumber-sumber biaya yang akan dihitung. Biaya-biaya yang akan dihitung dalam cost of illness ini adalah sebagai berikut :

(36)

2. Indirect cost (biaya tidak langsung), adalah hilangnya produktifitas karena sakit, biaya-biya yang dikeluarkan pasien, masyarakat maupun keluarga pasien atau pemberi kerja.

3. Intangible cost adalah biaya-biaya yang nilainya tidak dapat atau sulit dihitung/dikuantifikasikan, yang biasanya terdiri dari rasa sakit, kesedihan/dukacita dan penderitaan serta hilangnya waktu luang karena sakit.

4. Secara sederhana langkah-langkah dalam melakukan cost of illness adalah sebagai berikut :

1. Definisikan kasus tersebut dengan jelas 2. Identifikasi kasus

3. Identifikasi biaya 4. Pengukuran biaya

5. Kalkulasikan seluruh biaya yang timbul 2.3.3. Perspektif Penilaian (Cost of Illness)

Perspektif Penilaian merupakan hal penting dalam kajian cost of Illness.

Karena perspektif yang dipilih menentukan komponen biaya yang harus disertakan.

sistem pelayanan kesehatan, pihak pembayar (third party payer), pihak swasta, pemerintah dan penderita serta keluarganya. Secara ringkas, jenis biaya yang harus diperhitungkan dan kategori menurut dari tiap perspektif dapat dijelaskan oleh tabel berikut ini :

(37)

Tabel 2.1. Jenis Biaya Menurut Perspektif

Perspektif Biaya Medis Biaya Morbiditas

Biaya Mortalitas

Transportasi/Non Medical Cost

Jenis Pembayaran

Masyarakat Semua biaya Semua biaya Semua biaya Semua biaya - Penyedia Pelayanan

Kesehatan

Semua biaya - - - -

Pihak pembayar (Third Party Payer)

Biaya yang discover

- Biaya yang

discover

- -

Swasta (bisnis) Biaya yang ditanggung

Hilangnya produktivitas (presenteism/

absenteeism)

Hilangnya produktivitas

- -

Pemerintah Biaya yang

dicover (medicare, medicaid)

- - Biaya penegakan

hukum kesehatan

Sesuai jenis penyakit

Pasien dan Keluarga Pembayaran sendiri (Out of pocket

cost)

Hilangnya upah/

produksi rumah tangga

Hilangnya upah/ produksi

rumah tangga

Out of pocket cost Jumlah yang diterima

Sumber : Diadaptasi dari Luce et all, 2002 dalam Cost of Illness Study- A Primer, 2006

Tujuan dari penelitian menentukan jenis penilaian perspektif yang digunakan.

Penelitian untuk mengetahui biaya medis dari suatu penyakit dapat menggunakan perspektif system pelayanan kesehatan, sementara suatu penelitian ingin mengetahui biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk penanganan suatu penyakit dapat menggunakan persperktif pemerintah. Suatu penelitian tidak dibatasi oleh satu perspektif. Suatu penelitian bisa saja ingin mengetahui biaya di masyarakat namun juga termasuk pengeluaran pemerintah.

2.3.4. Years of Life Loss (YLL), Years Lived with Disability (YLD) dan Disability AdjustedLife Years (DALY)

Untuk mengkonversikan dampak negatif penyakit terhadap kesehatan ke

(38)

konsep untuk menilai kerugian karena sakit atau mati pada usia sebelum mencapai usia harapan hidup dengan konsep YLL, YLD dan DALY.

2.3.4.1. YLL (Years of Life Loss)

YLL (Years of Life Loss) adalah jumlah tahun yang hilang karena penduduk mati sebelum usia harapan hidup raya-rata (Life expectancy = Le). Misalnya adalah sebelum usis 65 tahun dan seseorang mati pada usia 40 tahun, maka YLL orang tersebut adalah 25 tahun. YLL dapat dihitung dengan menggunakan teknik Lire table dengan rumus sebagai berikut :

YLL = ∑d(L-t)

d = Jumlah kematian karena suatu penyakit dipopulasi L = usia harapan hidup

t = usia pada saat meninggal

2.3.4.2. YLD (Years Lived with Disability)

YLD (Years Lived with Disability) adalah jumlah tahun yang tidak produktif karena seseorang jatuh sakit sehingga tidak dapat melakukan kegiatan sehari-harinya (disable). Bila seseorang tidak produktif oleh karena sakit selama 30 hari dalam setahun, maka YLD orang tersebut adalah 30 hari. Jumlah YLD untuk suatu kelompok penduduk tertentu dalam satu tahun dapat dihitung bila diketahui prevalensi atau insidens penyakit tersebut dan rata-rata lama hari tidak produktif untuk penyakit tersebut.

2.3.4.3. DALY (Disability Adjusted Life Years)

DALY (Disability Adjusted Life Years) adalah jumlah dari YLL dan YLD atau DALY = YLL + YLD

(39)

2.4. Malaria

2.4.1. Pengertian Malaria

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh plasmodium yang hidup dan berkembang dalam sel darah darah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (Depkes RI, 2003).

Menurut Pampana (1969) malaria adalah malaria adalah penyakit yang akut maupun kronis yang disebabkan oleh parasit plasmodium, ditandai dengan gejala demam berkala, menggigil dan sakit kepala, yang disertai dengan anemia dan limpa membesar.

Malaria klinis adalah penderita dengan gejala demam secara berkala, menggigil dan sakit kepala dan juga sering disertai dengan gejala khas daerah (diare pada balita sakit atau sakit otot pada orang dewasa) sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Malaria terkonfirmasi adalah apabila ditemukan parasit malaria dalam darah sudah dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium baik secara mikroskopis maupun Rapid Diagnostic Test (RDT).

2.4.2. Penyebab Malaria

Parasit yang menyebabkan malaria disebut plasmodium. Ada 170 jenis plasmodium, tapi hanya lima yang menyebakan malaria pada manusia :

(40)

3. P. malariae, ditemukan di provinsi Lampung, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Dapat berdiam di aliran darah tanpa menimbulkan gejala apapun untuk beberapa tahun.

4. P. ovale, banyak terdapat di Afrika bagian barat juga pernah ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

5. P. knowlesi, pada tahun 2010 ditemukan di Kalimantan dimana sebelumnya hanya menginfeksi hewan primata.

2.4.3. Pengobatan Malaria

Pengobatan malaria di Indonesia menggunakan Obat Anti Malaria (OAM) kombinasi. Saat ini yang digunakan program nasional adalah derivate artemisinin dengan golongan aminokuinolon, yaitu :

1. Kombinasi tetap (Fixed Dose Combination)

Yang terdiri atas 1 (satu) tablet FDC yang mengandung 40 mg dihydroartemisinin dan 320 mg piperakuin. Obat ini diberikan per oral selama tiga hari.

2. Artesunat-Amodiakuin.

Kemasan artesunat-amodiakuin yang ada pada program pengendalian malaria dengan 3 blister, setiap blister terdiri dari 4 tablet artesunat 50 mg dan 4 tablet amodiakuin 150 mg.

2.4.4. Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi

Lini pertama pengobatan malaria falsiparum dan vivaks saat ini menggunakan ACT ditambah primakuin. Dosis ACT untuk malaria falsifarum sama dengan vivaks

(41)

sedangkan obat primakuin untuk malaria falsifarum hanya diberikan hari pertama saja dan untuk malaria vivaks selama 14 hari. Pengobatan infeksi campur P. falcifarum+

P. vivax dengan ACT selama tiga hari.

Pengobatan lini kedua diberikan jika pengobatan lini pertama tidak efektif, dimana ditemukan gejala klinis tidak memburuk tetapi parasit aseksual tidak berkurang (persisten) atau timbul kembali (rekrudensi)

Lini kedua untuk malaria falciparum adalah dengan Kina ditambah Doksisiklin atau Tetrasiklin ditambah primakuin. Sedangkan lini kedua untuk malaria vivaks adalah dengan Kina ditambah Primakuin. Kombinasi ini digunakan yang tidak respon terhadap pengobatan ACT.

2.4.5. Kriteria Keberhasilan Pengobatan 2.4.5.1. Sembuh

Penderita dikatakan sembuh apabila : gejala klinis hilang dan parasit aseksual tidak ditemukan pada hari ke-4 pengobatan sampai hari ke-28.

2.4.5.2. Gagal pengobatan dini/ Early treatment failure

a. Menjadi malaria berat pada hari ke-1 sampai hari ke-3 dengan parisitemia b. Hitung parasit pada hari ke-2 > dari hari ke-0

c. Hitung parasit pada hari ke-3 ≥ 25% hari ke-0

d. Ditemukan parasit aseksual dalam hari ke-3 disertai demam.

(42)

1. Menjadi malaria berat pada hari ke-1 sampai hari ke-3 dengan parasitemia.

2. Ditemukan kembali parasit aseksual antara hari ke-4 samapi hari ke-28 disertai demam.

b. Gagal kasep parasitologis yaitu ditemukan kembali parasit aseksual dalam hari ke-7, 14, 21, dan 28 tanpa demam.

2.4.5.4. Rekurensi

Rekurensi adalah ditemukan kembali parasit aseksual dalam darah setelah pengobatan selesai. Rekurensi dapat disebabkan oleh :

1. Relaps : rekurens dari parasit aseksual setelah 28 hari pengobatan. Parasit tersebut berasal dari hipnozoit P.vivax atau P. ovale.

2. Rekrudesensi : rekurens dari parasit aseksual selama 28 hari pemantauan pengobatan yang berasal dari parasit sebelumnya.

3. Reinfeksi : rekurens dari parasit aseksual setelah 28 hari pemantauan pengobatan pasien dinyatakan sembuh. Parasit tersebut berasal dari infeksi baru.

2.4.6. Eliminasi Malaria

Eliminasi malaria adalah suatu upaya untuk menghentikan penularan malaria setempat dalam suatu wilayah geografis tertentu, dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada vektor malaria di wilayah tersebut, sehingga tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali.

(43)

Untuk menuju eliminasi malaria ada 4 tahapan, yaitu :

1. Tahap Pemberantasan adalah mengurangi tingkat penularan malaria di satu wilayah minimal kabupaten/kota.

2. Tahap Pra Eliminasi adalah mengurangi jumlah fokus aktif dan mengurangi penularan setempat di satu wilayah minimal Kabupaten/kota.

3. Tahap Eliminasi adalah menghilangkan fokus aktif dan menghentikan penularan setempat di satu wilayah, minimal kabupaten/kota, sehingga pada akhir tahap tersebut kasus penularan setempat nol (tidak ditemukan lagi).

4. Tahap Pemeliharaan (Pencegahan Penularan Kembali) adalah mencegah munculnyakembali kasus dengan penularan setempat. Sasaran intervensi kegiatan dalam tahap Pemeliharaan adalah individu kasus positif, khususnya kasus impor.

2.4.7. Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria)

Gebrak Malaria adalah gerakan nasionalseluruh komponen masyarakat untuk memberantas Malaria secara intensif melalui kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat dan badan-badan Internasional serta penyandang dana, mengingat Malaria merupakan masalah yang komplek karena berhubungan dengan berbagai aspek seperti penyebab penyakit (parasit), lingkungan (fisik dan biologis), dan nyamuk sebagai vektor penular.

Dalam merealisasikan Gebrak Malaria ini telah disusun Rencana Kegiatan

(44)

Eliminasi Malaria di Indonesia dengan sasaran wilayah Eliminasi yang dilaksanakan secara bertahap, yaitu :

1. Eliminasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Kepulauan Seribu), Bali dan Batam pada tahun 2010.

2. Eliminasi Jawa, Nangroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau pada tahun 2015 3. Eliminasi Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi pada tahun

2020.

4. Eliminasi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2030 (Kemenkes, 2010).

2.4.8. Pentahapan dan Kegiatan Eliminasi Malaria 2.4.8.1. Pentahapan Eliminasi Malaria

Dalam program malaria Global (Global Malaria Programme) terdapat 4 tahapan menuju eliminasi malaria yaitu: Pemberantasan, Pra Eliminasi,Eliminasi dan Pemeliharaan (pencegahan penularan kembali).

Situasi yang dicapai pada masing-masing tahap Eliminasi Malaria adalah sebagai berikut :

1. Tahap pemberantasan

a. Belum semua unit pelayanan kesehatan mampu memeriksakasus secara laboratorium Mikroskopis).

b. Cakupan pelayanan dan sumber daya terbatas.

c. Bila semua penderita demam di unit pelayanan kesehatan sudah dilakukan pemeriksaan sediaan darah, maka Slide Positif Rate (SPR) masih > 5%.

(45)

d. Adanya upaya pengendalian malaria secara intensif untuk mencapai SPR < 5%.

e. Adanya keterlibatan pemerintah, pemerintah daerah, swasta, LSM, organisasi Profesi, Lembaga Internasional dan lembaga donor lainnya (pembentukan Tim Gebrak Malaria atau forum kerja sama lain yang sudah ada di Provinsi dan Kabupaten/kota).

2. Tahap pra eliminasi

a. Semua unit pelayanan kesehatan sudah mampu memeriksa kasus secara laboratorium (mikroskopis).

b. Semua penderita malaria klinis di unit pelayanan kesehatan sudah dilakukan pemeriksaan sediaan darah dan SPR mencapai < 5%.

c. Adanya peningkatan kualitas dan cakupan upaya pengendalian malaria (Surveilans, penemuan dan pengobatan, pemberantasan vektor) untuk mencapai Annual Parasite Incidence (API) < 1/1000 penduduk berisiko.

d. Adanya peningkatan keterlibatan pemerintah, pemerintah daerah, swasta, LSM, organisasi profesi, lembaga internasional, lembaga donor dan lain-lain (Tim Gebrak Malaria atau forum kerja sama lain yang sudah ada di Provinsi dan Kabupaten/Kota).

e. Tersedianya peraturan perundangan di tingkat Provinsi/ Kabupaten / Kota yang mendukung kebijakan dan sumber daya untuk pelaksanaan eliminasi malaria.

(46)

b. Surveilans sudah berjalan dengan baik termasuk Active Case Detection (ACD).

c. Re-orientasi program menuju Tahap Eliminasi kepada semua petugas kesehatan pemerintah maupun swasta yang terlibat dalam eliminasi sudah dicapai dengan baik.

d. Lintas sektor terkait telah berperan secara penuh dan sinergis mulai dari pemerintah, pemerintah daerah, LSM, organisasi profesi, lembaga internasional, lembaga donor dan lain-lain dalam eliminasi malaria yang tertuang didalam Peraturan Perundangan daerah.

e. Upaya penanggulangan malaria dilakukan secara intensif sehingga kasus dengan penularan setempat (indigenous) tidak ditemukan dalam periode waktu satu tahun terakhir.

4. Tahap pemeliharaan (pencegahan penularan kembali) a. Mempertahankan kasus indigenous tetap nol.

b. Kegiatan surveilans yang baik masih dipertahankan.

c. Re-orientasi program menuju tahap pemeliharaan kepada semua petugas kesehatan, pemerintah maupun swasta yang terlibat dalam eliminasi sudah dicapai dengan baik.

d. Adanya konsistensi tanggung jawab pemerintah daerah dalam tahap pemeliharaan secara berkesinambungan dalam kebijaksanaan, penyediaan sumber daya baik sarana dan prasarana serta sumber daya lainnya yang tertuang dalam peraturan daerah atau peraturan perundangan yang diperlukan di provinsi/kabupaten/kota.

(47)

2.4.9. Penilaian Status Eliminasi (Sertifikat Eliminasi Malaria dari Pemerintah)

Wilayah kabupaten/kota atau provinsi yang sudah tidak ditemukan lagi penderita dengan penularan setempat (kasus indigenous) selama 3 tahun berturut- turut dan dijamin adanya pelaksanaan surveilans yang baik dapat mengusulkan/

mengajukan ke pusat, untuk dinilai apakah sudah layak mendapatkan Sertifikat Eliminasi Malaria dari Pemerintah (Kementerian Kesehatan RI).

2.5. Kerugian Ekonomi akibat Malaria

Menurut Gani (1997), secara teoritis ada 4 jenis kerugian ekonomi yang timbul dari suatu penyakit, termasuk penyakit malaria yaitu sebagai berikut :

1. Akibatnya terhadap konsumsi sehat (Health Consumption Effects)

Seseorang yang sehat biasanya menikmati kesehatannya. Tapi bila seseorang tersebut sakit, misalnya terserang malaria kenikmatan tersebut akan terganggu atau hilang. Ini termasuk rasa sakit (nyeri) dan penderitaan yang dialaminya dan juga termasuk kesedihan yang dialami sanak saudara dan kerabat, terutama apabila penderita malaria tersebut meninggal dunia.kerugian seperti ini hanya dapat diraba-rasakan dan sulit untuk dihitung dalam bentuk uang.

2. Akibatnya terhadap interaksi sosial dan waktu luang (Social Interaction and Leisure Effecs)

(48)

berekreasi. Sekali lagi, meghitung kerugian akibat terganggunya kemampuan berinteraksi social ini dalam nilai moneter juga sulit.

3. Akibatnya terhadap produktivitas jangka pendek (Short Term production Effects).

Berkurangnya produktivitas jangka pendek dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Non market production effect, termasuk menurunnya kegiatan rumah tangga, seperti misalnya mempersiapkan konsumsi rumah tangga

b. Market production effect, yang meliputi pengeluaran biaya untuk pengobatan dan berkurangnya supply tenaga kerja. Berkurangnya supply tenaga kerja tersebut dapat berupa :

1. Kehilangan hari kerja secara temporer karena sakit 2. Kehilangan hari kerja secara permanen karena mati 3. Menurunnya produktivitas karena sakit

4. Akibatnya terhadap produktivitas jangka panjang (Long term production effects) Kerugian ini meliputi akibat penyakit malaria terhadap perkembangan kecerdasan dan kemampuan inovatif penduduk serta dampak demografis terhadap konsumsi serta supply tenaga kerja. Perhitungan ekonomis terhadap dampak kerugian ini memerlukan kalkulasi yang cukup rumit karena dampak atau kerugian tersebut terjadi dalam jangka waktu jangka panjang.

(49)

Tabel 2.2. Dampak Ekonomi Penyakit Malaria

No. Jenis Dampak Ekonomi

1. Efek Terhadap Konsumsi Sehat :

Mengurangi konsumsi untuk menikmati kesehatannya karena sakit 2. Efek Terhadap Interaksi sosial :

Membatasi interaksi sosial

Mengurangi konsumsi tertentu waktu luang dan rekreasi 3. Efek Produktivitas Jangka Pendek :

Non market production effect Market production effects :

1. Pengeluaran untuk pengobatan

2. Pengeluaran untuk supply tenaga kerja a. Kehilangan hari secara temporer

b. Kehilangan hari kerja secara permanen karena meninggal c. Menurunnya produktivitas karena sakit

4. Efek Konsumsi Jangka Panjang :

Dampak demografis terhadap konsumsi

Keterbatasan perkembangan kecerdasan dan inovatif penduduk

Sumber : Tabel diatas adalah modifikasi dari Implikasi Ekonomi Penyakit Tuberkulosis, Gani, 2002

Dari keempat jenis kerugian tersebut yang paling sering dihitung adalah kerugian jangka pendek, terutama karena metodologinya lebih mudah dan pasti.

Misalnya relative mudah untuk menghitung biaya pengobatan seperti biaya pemeriksaan medis, tindakan medis, obat jasa dokter dan transportasi. Sedangkan untuk menghitung berkurangnya atau hilangnya hari produktif memerlukan jumlah perhitungan tentang hari produktif yang hilang akibat sakit maupun karena meninggal.

2.6. Landasan Teori

(50)

maupun tidak langsung karena menderita malaria dan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka penanganan malaria pada tahun 2014.

Biaya-biaya yang ditimbulkan oleh malaria ini dapat dibedakan atas biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost) dari pasien dan provider. Biaya langsung adalah biaya-biaya yang dikeluarkan penderita untuk mencari pengobatan. Biaya tidak langsung adalah biaya tambahan, biaya tersebut diakibatkan oleh : transportasi, kehilangan pendapatan karena sakit/hilangnya waktu produktif, biaya yang dikeluarkan keluarga yang menjaga pasien dan konsumsi selama perawatan di rumah sakit.

Secara skematis, biaya yang akan dihitung dalam kerugian karena penyakit dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 2.3. Klasifikasi Biaya Karena Sakit Klasifikasi Biaya

(Cost Classification)

Biaya Penderita Malaria (Patient Cost)

Biaya Pusat Pelayanan Kesehatan (Provider) Biaya langsung (Direct

Cost)

Laboratorium Konsultasi Obat

Perawatan di rumah sakit

Transportasi Modifikasi

rumah/Lingkungan

Biaya pelaksanaan Program

Pemberantasan Penyediaan

Laboratorium Obat

Perawatan Penderita Biaya Tidak Langsung

(Indirect Cost)

Kehilangan waktu produktif (secara temporer /sakit dan permanen /meninggal) Biaya Intangibel/Psikis

Sumber : Cost of Tuberculosis for household and health care providerin Dar Es Saalam, Tanzania, Tropical Medicine and International Health Volume 6, 2001.

(51)

2.7. Kerangka Konsep

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian Biaya Tidak langsung

(Indirect Cost) :

- Opportunity cost penderita - Opportunity cost keluarga

Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Penderita

Malaria

Total Biaya Pengobatan Biaya langsung (Direct cost) :

- Biaya pengobatan sebelum ke Puskesmas

- Biaya pengobatan selama di puskesmas

- Biaya pengobatan selama di rumah

Government Expenditure Household Expenditure

Total Kerugian Penderita

(52)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan crossectional.

Yang diamati adalah biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost) dengan menggunakan pendekatan Cost of Illness yaitu dari perspektif penderita dan keluarga selama satu tahun terakhir yaitu periode Januari 2014 sampai dengan Desember 2014, yang didapatkan dengan melakukan wawancara kepada penderita/keluarga yang pernah mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas akibat malaria. Selain itu juga dihitung biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah selama tahun 2014 dalam rangka penanganan penyakit malaria baik anggaran rutin maupun bantuan yang diperuntukkan pada penanganan penyakit malaria.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Batu Bara pada 6 puskesmas wilayah yang tersebar di 21 desa/kelurahan. Dengan alasan bahwa di kabupaten tersebut adalah daerah yang endemik malaria dan belum pernah dilaksanakan penelitian yang sejenis.

Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Tanjung Tiram, Puskesmas Labuhan Ruku, Puskesmas Ujung Kubu, Puskesmas Kedaisianam, Puskesmas Lalang dan Puskesmas Sei Suka.

(53)

Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari s/d Agustus 2015 meliputi tahap persiapan penelitian, pengumpulan data, analisis dan penyajian data.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita malaria konfirmasi berjumlah 2942 orang (data tahun 2014) yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

Metode pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Stratified Random Sampling dengan besar sampel ditentukan dengan rumus Slovin (Notoatmodjo, 2003), yaitu:

n = Keterangan : n = besar sampel

d = presisi (derajat kesalahan yang digunakan = 10%) N = besar populasi

Maka :

n = n =

n = 94,79 = 95

(54)

(Probably Proporsi Size) yaitu, bagi puskesmas yang mempunyai angka kasus malaria yang lebih tinggi akan mendapatkan jumlah sampel lebih tinggi pula dibandingkan dengan puskesmas yang mempunyai angka kasus yang rendah. Ini berarti pengambilan sampel didasari pada besar kontribusi puskesmas terhadap jumlah populasi penderita malaria. Proporsi setiap wilayah puskesmas Kabupaten Batu Bara sebagai berikut :

Puskesmas Kedai Sianam = x 95 = 29 orang Puskesmas Tanjung Tiram = x 95 = 15 orang Puskesmas Labuhan Ruku = x 95 = 19 orang Puskesmas Ujung Kubu = x 95 = 23 orang Puskesmas Sei Suka = x 95 = 6 orang

Puskesmas Lalang = x 95 = 3 orang

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah penderita malaria yang pernah berobat ke puskesmas baik rawat inap maupun rawat jalan selama pada tahun 2014. Dengan kriteria inklusi penderita malaria usia produktif yaitu usia 15-64 tahun, berdomisili di kabupaten Batu Bara minimal 1 tahun dan bersedia untuk dilakukan wawancara. Sedangkan kriteria eksklusi adalah penderita malaria yang bukan usia produktif, jika responden meninggal atau pindah, dan menetap di Batu Bara kurang dari satu tahun terakhir. Dengan demikian 95 penderita malaria usia produktif diambil sebagai sampel.

(55)

3.4. Metode Pengumpulan Data

Data primer diperoleh dari wawancara pada penderita/keluarga malaria yang pernah mendapat pelayanan kesehatan baik rawat jalan maupun rawat inap pada tahun 2014. Data yang dikumpulkan adalah data yang menyangkut aspek-aspek biaya yang dikeluarkan oleh pasien penderita malaria dan keluarganya untuk mencari/mendapatkan pengobatan malaria, selain itu juga dikumpulkan data dasar lainnya yang menyangkut pasien seperti umur, pendapatan/penghasilan, pendidikan responden.

Data sekunder diperoleh dari laporan kasus malaria dari setiap puskesmas, catatan hasil pemeriksaan laboratorium juga dari pengelola program pemberantasan penyakit malaria tahun anggaran 2014 yang diambil dari dokumen keuangan yang berhubungan dengan pembiayaan Program penyakit malaria baik itu anggaran rutin maupun bantuan yang diperuntukkan pada penanganan penyakit malaria.

Format pertanyaan Responden pertama-tama diinformasikan tentang prevelensi malaria di Batu Bara dan resiko jangka pendek maupun jangka panjang, serta biaya untuk program malaria. Kemudian responden diminta mengingat kembali pengeluaran untuk pengobatan dan pencegahan malaria, waktu yang hilang ketika sakit. Biaya meliputi biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk mendapat pelayanan kesehatan.

Gambar

Tabel 2.3. Klasifikasi Biaya Karena Sakit   Klasifikasi Biaya
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian  Biaya Tidak langsung

Referensi

Dokumen terkait